Anda di halaman 1dari 4

Rekomendasi untuk Indonesia: Memperbaiki pengumpulan, analisa, dan pelaporan publik akan data menyeluruh tentang proses hukum

melawan para pelaku perdagangan manusia yang dilakukan sesuai Undang-undang tahun 2007; melaksanakan upaya yang lebih besar untuk menuntut dan menghukum secara pidana para badan dan perusahaan pengerah tenaga kerja yang terlibat dalam perdagangan manusia; meningkatkan upaya menuntut serta menghukum para pejabat publik yang terlibat dalam perdagangan manusia; melakukan upaya untuk menuntut dan menghukum pihak yang menerima layanan seks komersial anak-anak; menciptakan suatu protokol nasional yang memperjelas peran dan tanggungjawab dalam penuntutan kasus-kasus perdagangan manusia ketika tindak pidana tersebut terjadi di luar wilayah provinsi asal korban, khususnya yang terkait dengan tanggungjawab anggaran untuk keterlibatan korban sebagai saksi dalam proses hukum; meningkatkan anggaran pemerintah untuk mendukung keikutsertaan para korban perdagangan manusia dalam proses hukum; meningkatkan upaya untuk memerangi perdagangan manusia melalui kampanye-kampanye yang menyasar para aparat publik dan penegak hukum di semua tingkat pemerintahan di wilayah-wilayah yang menjadi sumber utama perdagangan manusia; dan mempertimbangkan untuk mengamendemen Undang-undang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri Tahun 2004 dalam rangka memberikan perlindungan yang efektif kapada para tenaga kerja Indonesia yang direkrut untuk bekerja di luar negeri khususnya para pekerja rumah tangga wanita, sebagai suatu cara pencegahan akan potensi perdagangan terhadap para pekerja migran ini. Penuntutan Pemerintah Indonesia melakukan upaya yang berkelanjutan dalam penegakan undangundang anti perdagangan manusia selama periode pelaporan, walaupun adanya hambatan kemampuan dalam pengumpulan dan pelaporan upaya-upaya penegakan hukum melawan perdagangan manusia secara nasional mengakibatkan turunnya jumlah penuntutan dan pemberian hukuman terhadap para pelaku perdagangan manusia selama dua tahun berturutturut. Melalui undang-undang anti perdagangan manusia yang menyeluruh, yang disahkan tahun 2007 dan diberlakukan tahun 2009, Indonesia melarang semua jenis perdagangan manusia yang diancam dengan hukuman penjara tiga hingga 15 tahun. Hukuman ini cukup ketat dan setara dengan ancaman hukuman yang diberikan untuk kejahatan-kejahatan berat lainnya, seperti pemerkosaan. Jika para penyidik dari POLRI telah menggunakan undangundang tahun 2007 dalam mempersiapkan penuntutan kasus, maka sejumlah jaksa dan hakim masih menggunakan undang-undang lainnya yang lebih familier dalam menyidangkan para pelaku perdagangan orang. Kepolisian dan para petugas penegak hukum lainnya mengeluh tentang sulitnya koordinasi antara para petugas kepolisian, jaksa, saksi, dan pengadilan untuk membuat vonis yang berhasil. Pemerintah tidak melakukan penggabungan catatan secara nasional terhadap penuntutan kasus perdagangan manusia. Data statistik mengenai penuntutan dan vonis kasuskasus perdagangan manusia hanya tersedia secara eksklusif pada tingkat kabupaten dan provinsi. Hanya kepolisian yang menggabungkan data secara nasional untuk penyidikan kasus-kasus perdagangan manusia; selama tahun 2011, POLRI melaporkan penyidikan 133 kasus baru terkait perdagangan manusia yang melibatkan 179 tersangka pelaku. POLRI juga melaporkan penyerahan 50 berkas perkara kepada para jaksa setempat, dimana 41 dari antaranya diterima untuk dilanjutkan ke tahap penuntutan. Berdasarkan laporan yang tidak lengkap, disepanjang tahun di empat provinsi dari 33 provinsi yang ada di Indonesia - Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sulawesi Utara - 16 pelaku dijatuhi vonis di pengadilan tingkat provinsi dan kabupaten. Hal ini dibandingkan dengan laporan tidak lengkap mengenai vonis terhadap 25 pelaku perdagangan orang pada tahun 2010. Satuan Tugas Kejahatan Transnasional kantor Kejaksaaan Agung melaporkan satu tambahan penuntutan terhadap delapan orang pelaku perdagangan manusia tahun 2011, tetapi tidak ada vonis. Pemerintah

Indonesia bekerjasama dengan otoritas Selandia Baru untuk menyelidiki sejumlah tuduhan yang dipublikasikan di media internasional, mengenai sejumlah nelayan Indonesia yang direkrut oleh PJTKI resmi untuk bekerja di atas kapal ikan Korea yang beroperasi di perairan Selandia Baru, dan menjadi korban kerja paksa, termasuk perikatan hutang, diatas kapalkapal tersebut. Akan tetapi Pihak otoritas Indonesia belum memulai penyidikan atau penuntutan pidana terhadap para perekrut yang terbetik di dalam tuduhan tersebut. Menurut sejumlah lembaga non-pemerintah dan pejabat pemerintah, korupsi endemis di antara para anggota satuan keamanan Indonesia dan para pejabat pemerintah tetap menjadi penghalang untuk peningkatan efektivitas upaya-upaya penegakan hukum anti perdagangan manusia. Korupsi terjadi di sejumlah tingkatan: pengeluaran dokumen palsu untuk para calon korban; pengawasan perbatasan yang longgar padahal jika pengawasan diperketat maka perdagangan manusia akan dapat terdeteksi; toleransi dan perolehan keuntungan dari situssitus seks komersial yang tidak sah; dan kompromi dalam proses penyidikan oleh penegakan hukum dan peradilan.

Perlindungan Pemerintah Indonesia masih terus memberikan upaya pelayanan dan koordinasi yang minim dan tidak seimbang dalam melindungi para korban perdagangan manusia disepanjang tahun. Pusat -pusat Layanan Terpadu untuk Pemberdayaan Wanita dan Anak yang dijalankan oleh pemerintah memberikan tempat berlindung dan klinik bagi para korban melalui 172 pusat pelayanan yang tersebar di tingkat provinsi dan kabupaten. Pemerintah menyediakan anggaran yang terbatas untuk organisasi-organisasi lainnya dalam pemberian layanan kepada para korban, akan tetapi sejak tahun 2005 pemerintah terus meningkatkan penyaluran bantuan melalui Pusat-pusat Layanan Terpadu. Pusat-pusat Layanan Terpadu juga menerima bantuan dana dari swasta. POLRI mengoperasikan 306 unit Layanan Perempuan dan Anak di kantorkantor polisi di seluruh negeri, yang menyediakan perlindungan darurat dan layanan medis kepada para korban kekerasan, yang juga bisa digunakan oleh para korban perdagangan manusia. Pemerintah masih terus bertumpu secara signifikan kepada organisasi-organisasi internasional dan lembaga-lembaga non-pemerintah dalam memberikan layanan kepada para korban, khususnya kepada warga negara Indonesia yang menjadi korban perdagangan manusia di luar negeri dan telah dipulangkan ke Indonesia, walaupun pemerintah telah meningkatkan peran Pusat-pusat Layanan Terpadu disepanjang tahun 2011, dengan menambah 51 Pusat Layanan sehingga mencapai keseluruhan 172 lokasi di seluruh Indonesia. Walaupun pemerintah tidak mengumpulkan atau membuat laporan data menyeluruh mengenai korban yang diidentifikasi di seluruh negeri, Kementerian Pemberdayaan Perempuan melaporkan adanya 358 korban di tahun 2011, termasuk 111 orang wanita dan tidak ada anak-anak; kebanyakan dari korban ini (53 persen) berasal dari Jawa Barat. IOM telah melaporkan telah memberikan bantuan terhadap 227 korban di tahun 2011, termasuk 120 warga negara Indonesia, 65 pria asal Kamboja, yang melarikan diri dari kapal ikan Thailand, 35 orang pria warga negara Birma yang melarikan diri dari kondisi pemaksaan kerja yang sama, dan enam orang warga negara Kolombia yang menjadi korban prostitusi paksa di Jakarta. Pemerintah pusat memberikan anggaran, sebagian besar dalam bentuk dana-dana hibah, kepada pemerintah daerah tingkat provinsi, dan provinsi-provinsi tersebut memiliki wewenang untuk membuat kebijakan yang signifikan dalam penggunaan dana-dana tersebut, termasuk keputusan mengenai program-program yang terkait dengan perdagangan manusia. Sebagai akibatnya, jumlah anggaran untuk layanan-layanan perlindungan korban yang diberikan oleh pemerintah-pemerintah daerah tingkat provinsi sangatlah bervariasi. Di Jawa

Barat, Dewan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana melaporkan bahwa di tahun 2011 pemerintah provinsi melipatgandakan anggarannya untuk membantu para korban perdagangan manusia hingga mencapai nilai setara 1.111 dolar AS per korban. Pusat Layanan Terpadu untuk Pemberdayaan Perempuan dan Anak Provinsi Jawa Barat, yang menerima sebagian besar anggarannya dari pemprov, melaporkan bahwa di tahun 2011 anggaran lembaga tersebut untuk bantuan kepada korban perdagangan manusia telah meningkat dari 833,000 dolar AS menjadi 2,2 juta dolar AS. Di provinsi Kepulauan Riau, Komisi Kesejahteraan Anak melaporkan adanya peningkatan dalam anggarannya sebesar 50 persen untuk layanan perlindungan korban di tahun 2011. Sejumlah provinsi belum membentuk satuan-satuan tugas anti perdagangan orang dan hanya memberikan anggaran yang minim untuk perlindungan terhadap para korban perdagangan orang. POLDA Kepulauan Riau melaporkan bahwa lembaga tersebut tidak memiliki anggaran untuk perlindungan para korban perdagangan manusia atau untuk penyelidikan atas tuduhan-tuduhan terkait masalah ini. POLRI, Kejaksaan Agung, Kementerian Hukum dan HAM, Dirjen Imigrasi, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, Komisi Nasional Perempuan, dan sejumlah lembaga nonpemerintah bekerjasama secara aktif dalam satuan tugas yang dipimpin oleh IOM untuk merevisi Panduan untuk Penegakan Hukum dan Perlindungan terhadap Para Korban didalam Menangani Kasus-Kasus Perdagangan Orang edisi tahun 2007. Konsep akhir telah selesai dan masih menunggu anggaran untuk penerbitannya. Tahun 2011, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengeluarkan Keputusan Menteri No. 9/2011 tentang Indikator Peringatan Dini Perdagangan Manusia sebagai panduan bagi kantor-kantor cabangnya dan organisasi non-pemerintah yang memberikan bantuan kepada para korban. Kementerian juga mengeluarkan Keputusan Menteri No. 7/2011 tentang Kebijakan untuk Meningkatkan Ketahanan Keluarga Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus. Keputusan ini sebagai upaya untuk mengidentifikasi masalah anak-anak yang rentan, termasuk anak-anak yang diperdagangkan, sebagai suatu prioritas nasional, dan menuntun suatu upaya antar lembaga untuk mengatasi masalah tersebut dengan memperkuat keluarga-keluarga yang rentan. Juga di bulan Februari 2011, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan IOM untuk membuat suatu buku pegangan untuk pelatihan Pemulihan, Pengembalian dan Penyatuan Kembali kepada para penyedia layanan penanganan korban perdagangan manusia. Kementerian tersebut juga menerbitkan satu panduan pelatihan yang berjudul Panduan Pelatihan: Pendamping Saksi Dan/Atau Korban Perdagangan Manusia dan pada tahun 2011 melaksanakan pelatihan yang memfasilitasi para korban sebagai saksi pidana untuk 87 orang pekerja garis depan dalam anti perdagangan orang yang berasal dari sejumlah lembaga-lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan perorangan yang berminat dalam memberikan pendampingan bagi para saksi dan korban perdagangan orang dari Nusa Tenggara Timur, Bali dan Kepulauan Riau. Di awal tahun 2012, IOM melakukan pelatihan untuk 205 peserta dari Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan Yogyakarta. Kementerian telah menerbitkan suatu program yang disebut " sistem peringatan dini, yang menyasar sejumlah komunitas di lima provinsi : Jawa Timur, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara yang memiliki populasi yang rentan terhadap kejahatan perdagangan manusia. Komunitas-komunitas ini juga telah memiliki program kesadaran yang berbasis dan dikendalikan secara lokal. Kementerian PP & PA membuat suatu hotline telepon dan pos untuk pelaporan dugaan kasus-kasus perdagangan orang; dimana diterima 250 laporan keluhan pada tahun 2011. Pada bulan Juni 2011, BNP2TKI juga mengimplementasikan satu hotline nasional untuk perdagangan orang yang disebarkan secara luas kepada para pekerja yang akan bekerja di luar negeri dan kepada keluarga mereka. Datanya dilaporkan secara rutin sebulan sekali kepada presiden, disaat yang sama BNP2TKI bekerja bersama kedutaankedutaan untuk menindaklanjuti kasus-kasus dugaan perdagangan manusia di luar negeri.

Pemerintah terus bermitra dengan organisasi-organisasi non-pemerintah dan organisasi-organisasi internasional untuk meningkatkan kesadaran publik akan perdagangan manusia. The International Catholic Migration Commission (ICMC) mengorganisir suatu pertemuan pertukaran lintas-batas pada bulan September 2011 di perlintasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Nunukan, Kalimantan Timur. Delapanpuluh-delapan perwakilan dari pemerintah daerah Indonesia dan Malaysia, badan-badan penegakan hukum, organisasi nonpemerintah, dan konsulat Indonesia di Tawau, Malaysia saling berbagi keahlian dan pengalaman mereka yang berfokus kepada peningkatan penangkapan, penuntutan serta pemberian vonis kepada para pelaku perdagangan manusia. Pada bulan Desember 2011, pemerintah Indonesia menyelesaikan negosiasi yang telah berjalan selama dua tahun dengan Malaysia mengenai perubahan Nota Kesepahaman tahun 2006 tentang Perekrutan dan Penempatan Penata Laksana Rumah Tangga asal Indonesia. Revisi tersebut, disetujui oleh kedua pemerintah, membentuk suatu satuan tugas gabungan untuk menyediakan solusi yang layak atas hal-hal yang terkait dengan penata laksana rumah tangga asal Indonesia dan memberikan hak kepada para pekerja Indonesia untuk memegang paspor mereka sewaktu bekerja di Malaysia. Untuk meningkatkan koordinasi dalam program anti perdagangan manusia, sejumlah provinsi telah menandatangani Nota Kesepahaman antar provinsi pada tahun 2011 yang mencakup panduan dalam kerjasama untuk pemberian layanan kepada para korban perdagangan manusia yang berada diluar provinsi asal mereka. Jawa Barat telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan provinsi Kepulauan Riau, Bangka, Kalimantan Barat, dan Kalimntan Timur. Kepulauan Riau telah menandatangani enam Nota Kesepahaman dengan provinsi Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Lampung. Sumatera Utara telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Jawa Tengah. Terdapat laporan bahwa sejumlah pribadi dari Australia, Kanada, China, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, Taiwan, Timur Tengah, Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat datang ke Indonesia untuk wisata seks anak. Seorang warga negara Inggris ditahan di kota Batam, provinsi Kepulauan Riau, pada bulan November 2011 karena mengeksploitasi sejumlah anak secara seksual dan sekarang sedang dipenjara menunggu persidangan. Tidak ada laporan mengenai keterlibatan Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia dalam pelanggaran yang terkait perdagangan manusia. Pemerintah memberikan pelatihan anti perdagangan manusia kepada para personil militer Indonesia sebelum penugasan mereka ke luar negeri dalam misi penjaga perdamaian internasional. Pemerintah tidak mengeluarkan laporan tentang upaya untuk mengurangi permintaan akan tenaga kerja paksa atau permintaan akan tindakan seks komersil selama tahun ini.

Sumber: http://indonesian.jakarta.usembassy.gov/news/tip-report_2012.html [21 April 2013]