Anda di halaman 1dari 13

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

ECON 11100
MATEMATIKA EKONOMI DAN BISNIS
BAHAN KULIAH KE-2:
(Kelas Hadi Susanto)

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

Kuliah Ke-2: Analisis Keseimbangan Statis & Arti Keseimbangan


EQUILIBRIUM
Definisi [Fritz Machlup /1958; AC/p.30]:
Adalah (1) konstelasi dari beberapa variabel terpilih yang saling (2) berhubungan dan menyesuaikan diri, antara
satu dan yang lain sedemikian rupa sehingga (3) tidak ada tendensi tertentu untuk berubah dalam model yang
dibentuk (secara khas).

(1) Konstelasi dari beberapa variabel terpilih.


a). Contoh: Misalkan diketahui variable berikut
Qdx
= jumlah permintaan terhadap barang X;
Px
= harga barang X;
Psub = harga substitusi barang X
Pkom = harga komplementer barang X
Pexp = price axpectation dari sudut kepentingan konsumen.
M
= Income = pendapatan konsumen (Flow var);
W
= Wealth = kekayaan yang dimiliki konsumen (stock var.
Tx
= sistim perpajakan yang berlaku saat ini bagi konsumen,
Taste = selera konsumen,
Maka dapat dibuat Fungsi Permintaan di bawah ini:

Qdx = f ( Px, Psub, Pkom, Pexp, M, W, Tx, Taste, dst, ad invinitum)


Dependent Variable

Independent variables

Delapan buah independent variables di atas hanyalah sebagian dari begitu banyak variable yg mempengaruhi permintaan
akan barang X. Walau demikian, dari fungsi di atas, dapat dipilih satu independent variable saja, sehingga:

Qdx = F (Px, ceteris paribus) atau Qdx = F (Px) saja.


ceteris paribus = hal-hal lainnya diasumsikan tidak berubah. Disingkat: cet. Par.
Sehingga dianggap hanya Px yg mempengaruhi Qdx.
b). Hal yg sama juga dapat dilakukan terhadap: Fungsi Penawaran:
Qsx
= Jumlah barang X yang ditawarkan.
Pl
= price of labor (atau wages) harga input.
Pk
= harga kapital i, r, dsb.
Pexp
= idem kepentingan produsen.
Tx
= idem bagi produsen
Techno = Teknologi untuk memproduksi barang X

Sebenarnya, terdapat banyak sekali mungkin tak terhingga jumlahnya- variabel yang dapat
menjelaskan perubahan penawaran dan permintaan. Namun kita memilih variabel harga sebagai
explanatory variable. Bukan berarti variabel lain tidak penting. Bukan pula berarti semuanya kecuali
harga benar-benar dalam keadaan ceteris paribus. Sehingga:
Qsx = g ( Px, Psub, Pkom, Pexp, Pl, Pk, Tx, Techno ... dst )
Qsx = G (Px, cet. par)

Qsx = G(Px)
Quiz: Menurut hukum permintaan, hubungan antara Qdx dan Px adalah negatip. Jika harga cabai merah meningkat dan
permintaannya juga meningkat, apakah ini merupakan indikasi bahwa hukum permintaan salah ?

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

(2). Yang saling berhubungan dan menyesuaikan diri,


Y
Gambar
Bukan Hubungan Fungsional
dari X terhadap Y.
Y =/= F(X).

Antara jumlah dan harga memiliki hubungan fungsional bukan hanya relasi tetapi yang satu mempengaruhi yang lain.
Pada kurva di atas tampak bahwa variable Y tak memiliki hubungan fungsional dengan X, atau Y =/= Y(X).

(3). Tak ada tendensi tertentu untuk berubah


Memiliki arti bahwa keseimbangan yang terjadi adalah melulu tergantung dari endogenous variables. Dengan kata lain,
exogenous variables & parameter dapat diasumsikan konstan. Hal ini berarti pula bahwa analisa yang dilakukan adalah
keadaan statis. Catatan: keadaan statis belum tentu merupakan keadaan yang diinginkan. Misalnya, statis dalam
situasi harga pasar yang memberikan maksimum profit, adalah benar diinginkan. Statis dalam pengertian satu
perusahaan memiliki
kekuatan sedemikian rupa hingga dapat mencegah entry atau exit bagi perusahaan lain ke dan dari pasar, tentu
mendorong persaingan tak sehat merugikan banyak pihak dan sudang barang tentu, tidak diinginkan. Statis dalam
keadaan pertumbuhan perekonomian nasional yang tinggi, benar diinginkan. Statis dalam keadaan stagnasi & inflasi
yang tinggi, tentu tidak diinginkan.
Partial Market Equilibrium: Linear & Interior Equilibrium.

Contoh: Diketahui:

Fungsi Permintaan:
Fungsi Penawaran:
Syarat Keseimbangan:

Skedul penawaran dan permintaan:

Qdx: X = 200 4 Px;


Qsx: X = -20 + 2 Px;
Qdx = Qsx.
Px
Qdx
Qsx

10
160
0

Px
50
Pada titik keseimbangan:
200 4 Px = -20 + 2 Px,
6 Px = 220
Px = 36,67
Qsx = Qdx = 53,34

20
120
20

30
80
40

36,7 40
53,3 40
53,3 60

50
0
80

Sx
36,7

E (53,34; 36,67)

10

Dx
53,3

Qx
3

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

Gambar: Kurva Sx dan Dx

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

Secara umum, jika diketahui:

maka,

a). Fungsi permintaan:


b). Fungsi Penawaran:
c). Syarat Keseimbangan:

Qd = a b P
Qs = -c + d P
Qd = Qs

P* = (a + c) / (b + d)
Qd = Qs = Q* = (ad bc) / (b + d).

dan
Ref.: Baca ACWK p.33

Latihan:
#1
Diketahui:

Fungsi Pendapatan
Fungsi Biaya
Jika fungsi keuntungan

(TR = Total Revenue):


(TC = Total Cost):
( = Profit)

TR(x) = -4 x2 + 72 x
TC(x) = 16 x + 180.
(x) = TR(x) TC(x),

Pertanyaan: a). Carilah fungsi (x).


b). Carilah besarnya output ketika terjadi BEP = Break Even Point.
( = titik impas = tidak untung dan tidak rugi)
c). Gambarkan TR(x), TC(x), dan (x).
Jawab: Lihat ED(1993) no.: 4.7.
a). (x) = TR(x) TC (x) = (-4 x2 + 72 x) (16 x + 180) = - 4 X2 + 56 X - 180
b). BEP terjadi ketika (x) = 0 - 4 X2 + 56 X 180 = 0
X2 14 X + 45 = 0 (X-5)(X-9) = 0 X1 = 5; X2 = 9.
X1 = 5 TR = TC = 260;
X2 = 9 TR = TC = 324.
c).Sebagai latihan, gambarlah persoalan di atas. Periksalah apakah hasilnya seperti di bawah ini:

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

#2

Variasi soal: Kurva Transformasi:

Diketahui, sebuah perusahaan yang memproduksi Roti tawar (= X) dan/atau roti manis (= Y)
mempunyai Fungsi Produksi: X2 + Y2 10.000 = 0
Pertanyaan: a). Gambarkan, pada ke-empat kwadran.
b). Apakah yg dimaksud dengan kurva transformsi (production possibility curve) ?
Berapakah output yg optimal ?
Dijelaskan di kelas
c). Jika perusahaan menghendaki besarnya produksi X
dua kali dari produksi Y, berapakah produksi masing2 ?
Jawab:
X2 = - Y2 + 10.000

Y= 0, X1 = 100; X2 = - 100;
X= 0, Y1 = 100; Y2 = - 100
Y+
+100
X-

X+

A
PPC
B

-100

0
X2 + Y2 = 10.000

(2Y)2 + Y2 = 10.000
Y2 = 2000 Y = 44,721.
X2 = 10.000 2.000 = 8.000 X = 89, 443

5Y2 = 10.000

Cross check: (44,721) 2 + (89,443) 2 = 10.000 ????


#3
Partial Market Equilibrium: A Non Linear Model.
Diketahui,

Fungsi permintaan:
Qd = 4 P2
Fungsi Penawaran: Qs = 4P - 1
Syarat Keseimbangan: Qd = Qs

(1)
(2)
(3)

(Seperti soal yang telah dibahas di atas)


di mana P adalah harga barang tsb.

Pertanyaan: a). Berapakah koordinat ketika titik equilibrium tercapai ?


b). Gambarkan dengan menggunakan var P pada sumbu datar.

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

(1), (2) dan (3) menghasilkan: P2 + 4P -5 =0 dengan menggunakan rumus untuk mencari akar
kwadrat, P1,2 = ( -b +/- (b2-4ac)0,5)/2a diperoleh nilai:
P1 = +1 Qd = Qs = 3 (di kwadran I).
dan P2 = -5 Qd = Qs = -21 (di kwadran 3, non-economic region)
P
Qs
Qd

-2

-1
-5
3

0
-1
3

1
3
0

#4.
Diketahui: sebuah Fungsi: P2 8 X -4 = 0 di mana X adalah jenis barang sedangkan P adalah harga barang tersebut.
Pertanyaan:
a). Gambarkan fungsi di atas dengan menggunakan P pada sumbu tegak.
b). Jika fungsi tadi hendak digunakan sebagai fungsi penawaran, pada nilai P dan X berapakah fungsi ini berlaku secara
ekonomi ?
JAWAB:

a).

- 0,5

+/- 2 +/- 6,63


0

+/-9,16

+/-11,14

+10

+15

+5

+/- 12,81
+20

P+
- 0,5

+2

X0

-2

P-

b). Sebagai fungsi penawaran, P2 8 X -4 = 0 berlaku untuk P >= +2 dan X >= 0.

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

#5

General Market Equilibrium.

Pada contoh di atas, analisanya dilakukan terhadap satu macam barang saja dan diasumsikan pasar tersebut dalam
keadaan terisolasi. Sesungguhnya, hal ini sangat jauh dari kenyataan. Karena tidak ada satu macam barang (atau jasa)
pun yang tidak mempunyai substitusi atau komplementer. Di bawah ini adalah sebuah contoh tentang keseimbangan
pada pasar barang berjumlah 3 buah. Walaupun tetap masih jauh dari kenyataan, namun jumlah barang yg dianalisa
telah bertambah dari satu buah menjadi tiga buah.

Contoh:

Keseimbangan Pasar 3 macam barang.

REF: Lihat ED(1993); no: 4.14


Diketahui:
Fungsi Penawaran: (1). Qsx1 = 6 Px1 8.
(2).Qsx2 = 3 Px2 11.
(3).Qsx3 = 3 Px3 5.
Fungsi Permintaan: (4). Qdx1 = -5 Px1 + Px2 + Px3 + 23.
(5). Qdx2 = Px1 3 Px2 + 2 Px3 + 15
(6). Qdx3 = Px1 + 2 Px2 4 Px3 + 19.
Syarat Keseimbangan:
(7). Qsx1 = Qdx1. (8). Qsx2 = Qdx2 (9). Qsx3 = Qdx3.
Pertanyaan: Hitung besarnya Sx1, Sx2, Sx3, Dx1, Dx2, Dx3, Px1, Px2, Px3 pada saat equilibrium.
(1) & ((4) & (7) direduksi menjadi: 11 P1 P2 P3 = 31
(2) & (5) & (8) direduksi menjadi: -P1 + 6 P2 2 P3 = 26
(3) & (6) & (9) direduksi menjadi: - P1 2 P2 +7 P3 = 24
(10) & (11) direduksi menjadi: -23 P1 + 9 P3 = 38
(11) & (12) direduksi menjadi: -4 P1 + 19 P3 = 98

(10)
(11)
(12)

(13)
(14)

Dari ke dua persamaan terakhir diperoleh: P1 = 4; P2 = 7 dan P3 = 6.


Dan pada gilirannya, diperoleh nilai2 Qsx1 = Qdx1 = 16; Qdx2 = Qsx2 = 10; Qdx3 = Qsx3 = 13.

#6
a)

Keseimbangan Pasar & Pajak / Subsidi.


Diketahui: Fungsi Permintaan Qd: X = 20 2 P; Fungsi Penawaran Qs: X = - 5 + 3 P.
Syarat keseimbangan: Qs = Qd. Carilah harga & jumlah dalam keseimbangan E1.

b) Dari situasi a), penjual dikenai pajak Rp.4/unit.


Pertanyaan:
Tuliskan fungsi penawaran & permintaan yg baru.
Carilah harga & jumlah dlm keseimbangan yg baru.
Berapakah besarnya pajak yang ditanggung produsen, konsumen & yg didapatkan pemerintah ?
Gambarkan dg menggunakan P sbg sumbu tegak
c)

Dari situasi a), penjual dikenai pajak 20%.

Jawablah kembali pertanyaan di atas.

d) Dari situasi a), pembeli dikenai pajak Rp.4/unit. Jawablah kembali pertanyaan di atas.
e)

Dari situasi a), pembeli dikenai pajak 20%.

Jawablah kembali pertanyaan di atas.

Catatan: Untuk Referensi, lihat misalnya, Soeheroe Tjokroprajitno, Matematika Ekonomi (Lembaga Penerbit FEUI), atau
Sofjan Assauri, Matematika Ekonomi (Penerbit Rajawali).

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

JAWAB:
a.

Diketahui: Fungsi Permintaan Qd: X = 20 2 P; Fungsi Penawaran Qs: X = - 5 + 3 P.


harga & jumlah dalam keseimbangan E1 ?.

Qd: X = 20 2 P
Qs: X = - 5 + 3 P
8,33 0,83 X = 0
b.

P = 10 0,5 X.
P = 1,67 + 0,33 X

E1 = (10 unit; Rp.5)

Dikenakan Pajak Rp4/unit Thd Penjual:


Qd: P = 10 0,5 X. (Tak berubah)
Qs : P = 1,67 + 0,33 X + 4

P = 5,67 + 0,33 X
10 0,5 X = 5,67 + 0,33 X
4,33 0,83 X = 0

E2 = (5,20 unit ; Rp.7,40)


Harga jual tak termasuk pajak = Rp.7,40 Rp.4,00
Ditanggung konsumen
= (Rp.7,40 Rp.5) x 5,2 unit
Ditanggung produsen
= [Rp.5 Rp.3,40) x 5,2 unit
Perolehan Pajak Pemerintah
=
Cross Check: Rp.4 x 5,2 unit = Rp.20,80

c.

1,67 + 0,33 X = 10 0,5 X

Dikenakan Pajak 20% Terhadap Penjual:


Qd: P = 10 0,5 X. (Tak berubah)
Qs: P = (1,67 + 0,33 X) 1,2
P = 2 + 0,4 X
8 0,9 X = 0
E3 = (8,89 unit; Rp.5,56)

=
=
=

Rp. 3,40
Rp.12,48
Rp. 8,32
Rp.20,80

2 + 0,4 X = 10 0,5 X

Harga jual tak termasuk pajak = Rp.5,56 : Rp.1,20


Ditanggung Konsumen
= (Rp.5,56 Rp.5,00) x 8,89 unit
Ditanggung Produsen
= (Rp.5,00 Rp.4,63) x 8,89 unit
Perolehan Pajak Pemerintah
Cross Check: 20% x 8,89 unit x Rp.4,63 = Rp.8,23.

10

=
=
=
=

Dx

Rp.4,36.
Rp.4,98
Rp.3,29
Rp.8,27

Sx (Sx + t1)
Sx

7,4

E2(5,2; 7,4)

-10

-5

E1(10; 5)

10

20

+X

Gambar: Dikenakan pajak lump sum (konstan) Rp4/unit thd Penjual.

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

10

Dx
Sx (Sx +t2)
E3(8,89; 5,56)

5,56
5

-10

-5

Sx

E1(10; 5)

8,89

10

20

+X

Gambar: Dikenakan pajak ad Valorem (prosentasi) 20% thd Penjual.

d.

Dikenakan Pajak Rp.4/unit terhadap Pembeli.


Qd:

P = 10 0,5 X 4

Qs :

P = 1,67 + 0,33 X

(Tak berubah)

4,33 0,83 X = 0

P = 6 - 0,5 X. [perhatikan: dikurangi, bukan ditambah]

1,67 + 0,33 X = 6 0,5 X

E4 = (5,22 unit ; Rp.3,39)

Harga beli X termasuk pajak = Rp.3,39 + 4

= Rp. 7,39.

Ditanggung konsumen = (Rp.7,39 Rp.5,00) x 5,22 unit = Rp.12,48


Ditanggung produsen = [Rp.5,00 Rp.3,39] x 5,22 unit

= Rp. 8,40

Perolehan Pajak pemerintah =Rp.4,00 x 5,22 unit = Rp.20,88 = Rp.12,48 + Rp.8,40

e.

Pembeli dikenai pajak 20 %


Qd: P = (10 0,5 X) / (1,2)

P = 8,33 0,42 X

Qs: P = (1,67 + 0,33 X

(Tak berubah)

6,66 0,75 X = 0

[perhatikan: dibagi, bukan dikalikan]


1,67 + 0,33 X = 8,33 0,42 X

E5 = (8,88 unit; Rp.4,60)

Harga beli X termasuk pajak = 1,2 x Rp4,60

= Rp.5,52.

Ditanggung Konsumen = (Rp.5,52 Rp.5,00) x 8,88 unit

= Rp.4,62

Ditanggung Produsen = [Rp.5,00 Rp.4,60] x 8,88 unit

= Rp.3,55

Perolehan pajak pemerintah: = 20% x Rp.4,60 x 8,88 unit = Rp.8,17 = Rp.4,62 + Rp.3,55 = Rp.8,17

10

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

P
10

Dx
Sx

7,39

E4 (5,22; 3,39)

Dx (Dx t1)
5

E1(10; 5)

3,39

-10

-5

10

20

+X

Gambar: Dikenakan pajak lump sum (konstan) Rp4/unit thd Pembeli.

10

Dx

8,33

Dx (Dx t2)
5,52
5
4,6

Sx
E1(10; 5)

E 5 (8,88; 4,6)
-10

-5

8,88

10

20

+X

Gambar: Dikenakan pajak ad Valorem (prosentasi) 20% thd Penjual .

11

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

Income Determination Model


REF: [ACKW/3.5; ED(1993)4.6]

Pada Model Makroekonomi Keynes sederhana, digunakan variabel2 sbb:


Y = pendapatan (nasional)
C = Konsumsi I = Investasi
S = Tabungan (Saving)
X = Ekspor,
M = Impor;
(X M) sektor perdagangan internasional; G (= government). = sektor pemerintah
pengeluaran pemerintah. T = Pajak, penerimaan pemerintah.
Jika diketahui sebuah model sangat sederhana yg hanya terdiri dari dua sektor::

(1). Y = C + I

(2). C = Co +b.Y

(4) = (1) + (2) + (3)


Y* = (1/(1-b)) (Co + Io)

(3). I = Io

Y = Co + bY + Io

(Y bY) = Co + Io

Reduced-form equation

CATATAN:
(i)
Reduced form equation menggambarkan besarnya Endogenous Var (atau dependent var, dlm hal ini adalah Y),
sebagai fungsi eksplisit dari Exogenous Var (atau Independent Var, dlm hal ini Co dan Io dan parameter b).
(ii)

Diingatkan, pada fungsi eksplisit, Endo var berada di sisi kiri tanda sama dengan dan seluruh exo var termasuk
parameter berada di sisi kanan tanda sama dengan.

(iii)

B adalah MPC atau marginal propensity to consume, yakni, besarnya peningkatan konsumsi sebagai akibat
meningkatnya pendapatan.

(iv)

(1/(1-b)) disebut autonomous expenditure multiplier yakni: mengukur besarnya efek penggandaan (= multiple
effect) yg didapat tingkat keseimbangan pendapatan sebagai akibat dari rupiah yang dibelanjakan autonomous
spending.

Contoh Soal (1):

REF: AC/p.46-7; ED-2005/p.95-6;4.16;4.19;4.20.

Diketahui: Co = 95;
b = 0,8;
Io = 75.
Berapakah Y* = ?
Jawab: Y* = (1/(1-0,8)). (95 + 85) = (1/0,2).(170) = 850.
Contoh Soal (2): (Ditambahkan variabel pengeluaran pemerintah)
Diketahui: Y = C + I + G; C = Co + b Y;
I = Io;
di mana C = 125 + 8Y;
I = 45;
G = 90
Pertanyaan: a). Carilah reduced form equation
b). Hitunglah Y pada keseimbangan.
a). Reduced form equation:

Y = Co + bY + Io + Go
(1-b) Y = Co + Io + Go

G = Go

Y bY = Co + Io + Go
Y = (1/(1-b))( Co + Io + Go)

b). Y* = (1/(1- 0,8)).(125 + 45 + 90) = (5)(260) = 1300.

12

MATEKON HADISUSANTO - FEUI.

Contoh Soal (3): (ditambahkan masalah pajak)

Diketahui: Y = C + I;
C = Co + b.Yd;
Di mana, Co = 85; Io = 30;
To = 20;

Yd = Y T; T = To + t.Y;
b = 0,75;
t = 0,2

Pertanyaan:

a). Carilah reduced form equation


b). Hitunglah Y pada keseimbangan.

Jawab:

a).

Y = C + I = Co + b Yd + Io
Y = Co + b (Y To t Y) + Io
(1 b +bt) Y = Co b To + Io

b).

Y* = (1 / (1 b + b.t)( Co b.To + Io)

I = Io.

Y = Co + b (Y T) + Io

Y = Co + bY bTo b.t.Y + Io

Y* = (1 / (1 b + b.t)( Co b.To + Io).

Y* = (1 / (1 - 0,75+ (0,75)(0,2))) x (85 (0,75)(20) + 30) = (1 / 0,4)(100) = 250.


CATATAN: Pada soal ini, besarnya multiplier berubah, dari (1 / (1 - b)) menjadi (1 / (1 - b + b.t))
Atau dari (1 / (1 0,75)) = 4x menjadi (1 / (1 0,75 + 0,2)) = 2,5x.
Contoh Soal (4):
Diketahui:
Y

(ditambahkan sektor perdagangan luar negeri.)

= C + I + G + (X M);
I = Io;
G = Go;

a). Y = C + I + G + (X M)

C = Co + b.Y;
X = Xo.

M = Mo + mY;

.........

.
.
Y* = (1 / (1 b + m)) x (Co + Io + Go + Xo Mo)
b) Jika diketahui bahwa

Co = 70, Io = 90, Go = 65, Xo = 80, Mo = 40; b = 0,9 dan m = 0,15.

Y* = (1 / (1 0,9 + 0,15) x (70 +90 + 65 + 80 40) = (1 / 0,25) ( 265) = 1060


c). dengan masuknya m (= marginal propensity to import) maka besarnya multiplier:

(1 / (1-0,9)) = 10x menjadi: (1 / (1 - 0,9 + 0,15)) = 4x

13