Anda di halaman 1dari 10

d i s u s u n Oleh;

Kelompok 2
Cut Ismanilla Sukma Rizky Nanda Salwikah

ANTIPIRETIK I. Tujuan Praktikum Mengenal suatu cara untuk mengevaluasi secara eksperimental efek antipiretik dari suatu obat Mampu membedakan potensi suatu antipiretik dengan berbagai dosis Menyadari pendekatan yang sebaik-baiknya untuk mengatasi demam

II.

Landasan Teori Demam adalah suatu bagian penting dari mekanisme pertahanan tubuh melawan infeksi.

Kebanyakan bakteri dan virus yang menyebabkan infeksi pada manusia hidup subur pada suhu 37 derajat C. Meningkatnya suhu tubuh beberapa derajat dapat membantu tubuh melawan infeksi. Demam akan mengaktifkan system kekebalan tubuh untuk membuat lebih banyak sel darah putih, membuat lebih banyak antibodi dan membuat lebih banyak zat-zat lainn untuk melawan infeksi. Suhu tubuh normal bervariasi tergantung masing-masing orang, usia dan aktivitas. Rata-rata suhu tubuh normal adalah 37 derajat C. Suhu tubuh kita biasanya paling tinggi pada sore hari. Suhu tubuh dapat meningkat disebabkan oleh aktivitasfisik, emosi yang kuat, makan, berpakaian tebal, obat-obatan, suhu kamar yang panas,dan kelembaban yang tinggi. Ini terutama pada anakanak. Suhu tubuh orang dewasa kurang bervariasi. Tetapi pada seorang wanita siklus menstruasi dapat meningkatkan suhu tubuh satu derajat atau lebih. Yang mengatur suhu tubuh kita adalah hipotalamus yang terletak di otak.Hipotalamus ini berperan sebagai thermostat. Thermostat adalah alat untuk menyetel suhu seperti yang terdapat pada AC. Hipotalamus kita mengetahui berapa suhu tubuh kita yang seharusnya dan akan mengirim pesan ke tubuh kita untuk menjaga suhu tersebut tetap stabil. Pada saat kuman masuk ke tubuh dan membuat kita sakit, mereka sering kali menyebabkan beberapa zat kimiawi tertentu beredar dalam darah kita dan mencapai hipotalamus. Pada saat hipotalamus tahu bahwa ada kuman, maka secara otomatis akan mengeset thermostat tubuh kita lebih tinggi.

Misalnya suhu tubuh kita harusnya 37 derajat C, thermostat akan berkata bahwa karena ada kuman maka suhu tubuh kita harusnya 38,9 derajat C. Ternyata dengan suhu tubuh yang lebih tinggi adalah cara tubuh kita berperang dalam melawan kuman dan membuat tubuh kita menjadi tempat yang tidak nyaman bagi kuman. Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh dalam keadaan demam. Namun, hal itu tidak mempengaruhi suhu tubuh normal jika ada demam. Antipiretik bertindak atas hipotalamus untuk mengurangi kenaikan suhu telah diluncurkan oleh interleukin. Setelah itu, tubuh akan beroperasi pada suhu yang lebih rendah, yang mengakibatkan pengurangan demam. Antipiretik yang umum digunakan sepertiaspirin, parasetamol, dan lain-lain.Antipiretika adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh pada keadaan demam. Antipiretik mempunyai suatu efek pada termostat hipotalamus yang berlawanan dengan zat pirogen. Penurunan demam oleh antipiretik seringkali melalui pengurangan pembuangan panas daripada pengurangan produksi

panas.Sintesis PGE tergantung pada peran enzim siklooksigenase. Asamarakhidonat merupakan substrat siklooksigenase yang dikeluarkan oleh membran sel.Antipiretik berperan sebagai inhibitor yang poten terhadap siklooksigenase. Potensi bermacam-macam obat secara langsung berkaitan dengan inhibisi siklooksigenaseotak. Asetominophen merupakan penghambat siklooksigenase yang lemah di jaringan perifer dan aktivitas antiinflamasinya tidak begitu berarti. Di otak, asetominofendioksidasi oleh sistem sitokrom p450 dan bentuk teroksidasinya menghambat enzimsiklooksigenase.Penggunaan klinik: Pada antipiretik dan analgesic: Natrium salisilat, kolin salisilat (dalam formulaliquid), kolin magnesium salisilat dan aspirin digunakan sebagai antipiretik dananalgesic pada pengobatan gout, demam rematik, dan atritis rematoid. Umumnyamengobati kondisi-kondisi ini memerlukan analgesia termasuk nyeri kepala, artralgia,dan mialgia. Setelah hipotalamus mengeset suhu baru untuk tubuh kita, maka tubuh kita akan bereaksi dan mulai melakukan pemanasan. Jadi setelah hipotalamus mengeset pada suhu 38,9 derajat C misalnya, maka suhu tubuh kita yang tadinya 37 derajat C,oleh tubuh kita akan dinaikkan menjadi 38,9 derajat C. Pada saat tubuh menuju kesuhu baru kita akan merasa menggigil. Kita dapat pula merasa sangat dingin meskipun ruangan tidak dingin dan bahkan meskipun kita sudah memakai baju tebal dan selimut. Jika tubuh sudah mencapai suhu barunya, katakanlah 38,9 derajat C maka kita tidak akan merasa dingin lagi.

Antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan demam ( suhu tubuh yang tinggi) .pada umumnya (sekitar 90%) obat analgesic mempunyai efek antipiretik. Salah satu diantaranya adalah parasetamol ( nama lainnya asetaminofen/ acetaminophen) dan beberapa obat-obat golongan NSAID(nonsteroid anti-inflammatory drugs).parasetamol adalah derivate p-aminofenol yang mempunyai efek antipiretik atau analgesic. Parasetamol utamanya digunakan untuk menurunkan panas suhu tubuh yang di sebabkan oleh karena infeksi atau sebab yang lainnya. Di samping itu, parassetamol juga dapat digunakan untuk meringankan gejala nyeri dengan intensitas ringan sampai sedang. Obat yang mempunyai nama generic acethamoniphen ini mempunya ratusan nama dagang yang diantaranya adalah : sanmol, pamol, fasidol, panadol, itramol, dan lain-lain. Sifat antipiretiknya di sebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Parasetamol memiliki sebuah cincin benzene, tersubtitusi oleh suatu gugus hidroksil dan atom nitrogen dari gugus amida pada posisi para. Senyawa ini dapat disentesis dari senyawa asal fenol yang dinitrasikan menggunakan asam sulfat dan natrium nitrat. Parasetamol dapat pula terbentuk apabila senyawa 4-aminofenol direaksikan dengan senyawa asetat anhidrat. Metabolisme parasetamol berkaitan dengan sulfat dan glukoronida terjadi dihati. Metabolisme utama nya meliputi senyawa sulfat yang tidak aktif dan konjugat glukoronida yang dikeluarkan lewat ginjal. Sedangkan sebagian kecil, dimetabolismekan dengan bantuan enzim sitikrom p450. Hanya sedikit jumlah parasetamol yang bertanggung jawab terhadap efek toksik yang diakibatkan oleh metaboloit NAPQI .bila pasien mengkonsumsi parasetamol pada dosis normal, metabolit toksik NAPQI ini segara didetoksifikasi menjadi konjugat yang tidak toksik dan segera dikeluarkan melalui ginjal. Mekanisme reaksi parasetamol bekerja dengan mengurangi produksi prostaglandin dengan menggangu enzim cyclooksigenase (COX) . parasetamol menghambat COX pada

system saraf pusat yang tidak efektif dan sel endothelia dan bukan pada sel kekebalan dengan peroksida tinggi . kemampuan menghambat kerja enzim COX yang dihasilkan otak inilah yang membuat parasetamol dapat mengurangi rasa sakit kepala dan menurunkan demam tanpa menyebabkan efek samping. Direkomendasikan pemberian antipiretik dimulai dengan asetaminofen/ parasetamol adalah 10-15 kg/berat badan setiap 4-6 jam. Proses resobsinya dari usus cepat dan praktis tuntas,

secara rectal lebih lambat. PP-nya ca25%, plasma t1/2-nya 1-4 jam. Antarakadar plasma dan efeknya tidak ada hubungannya. Dalam hati zat ini diuraikan menjadi metabolit-metabolit toksik yang diekskresikan denga kemih sebagai konyugat-glukoronida dan sulfat.

III.

Metode Kerja a) Alat dan bahan Alat yang digunakan: Apuit injeksi dan jarum 1 ml Sonde oral Sarung tangan Timbangan hewan Thermometer rectal Alat- alat gelas

Bahan yang diunakan : Suspense parasetamol dosis 240, 480, dan 960mg, larutan diberikan dengan kadar yang direncanakan sehingga volume penyuntikan mendekati 0,5 ml/gr BB berat badan mencit per oral. Larutan pepton 5% 125ml/gr BB , subkutan Larutan tragakan 0,5% dalam air ( sebagai control) Hewan uji : mencit b) Prosedur Kerja Dibagi kelompok sebanyak 4 kelompok Masingmasing kelompok di acak untuk mengerjakan percobaan

subkutan(larutan pepton), dan oral dengan sampel parasetamol dengan berbagai dosis dan larutan tragakan ( control) Di timbang mencit dan diperhitungkan volume sampel yang akan di berikan .larutan diberikan dengan kadar yang direncanakan sehingga penyuntikan mendekati 125ml/gr berat badan per oral Di periksa suhu tubuh awal mencit sebelum praktikum

Di suntikkan larutan pepton 5 % 125 mg/ kg BB Di cek suhu rectal mencit setiap 30 menit selama 3 jam Di berikan sediaan parasetamol dengan berbagai dosis dan larutan tragakan sebagai control( 0,5% tragakan) Di catat suhu tubuh mencit selang 30, 40, 60,90, dan 120 menit( selama 2 jam)

IV.

Hasil dan Pembahasan a) Data hasil percobaan Perhitungan data kelompok 2 ( parasetamol 480 mg) Berat badan mencit : 21,10 gr Larutan pepton 5 % 125 mg/gr BB mencit

Volume pemberian untuk BB mencit 20gr :

= 0,05 ml/20 gr BB mencit

Volume pemberian untuk BB mencit 21,10 gr :

parasetamol yang diberikan 480 mg 480 mg x 0,0026 = 1,248 mg

Volume untuk BB mencit 21,10 gr

Table 1 : hasil percobaan Kelompok pemberian


Suhu Awal

Suhu setelah pemberian

Larutan pepton
30 60 31,8

Larutan antipiretik
120 35,9 150 35,8 180 32,3 30 32,1 40 33,2 60 39,3 90 36,1 120 36,4

90
32,6

KONTROL (KEL ) PCT 480 (KEL ) PCT 960 (KEL ) PCT 240 (KEL )

32,7 37,4 34,1 33,7

32,7

33,2

34,2

36,2

37,0

37,7

38,0

37,8

37,6

37,1

36,6

36,3

36,6

37,1

37,6

37,7

37,1

35,0

35,0

34,9

34,7

34,0

33,5

35,3

34,4

32,4

35,9

36,2

34,5

35,4

35,2

35,6

35,3

34,3

Grafik 1 : suhu vs waktu


39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 28 Awal 30 Menit 60 Menit 90 Menit 120 Menit 150 Menit menit kontrol mencit pct 480 mencit pct 960 mencit pct 240 Column1

Grafik 2: dosis vs efek antipiretik


39 38 37 36 35 34 33 32 31 30 29 Kontrol Pct 480 Pct 960 Pct 240 30 Menit 40 Menit 60 Menit 90 Menit 120 Menit

b). Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan

untuk mengetahui suatu efek antipiretik yang

merupakan suatu obat yang dapat menurun kan suhu tubuh (demam).obat antipiretik yang digunakan untuk mengetahui efek antipiretik ini yaitu sediaan obat parasetamol atau asetaminofen dengan beberapa dosis yang berbeda yaitu 240 mg, 480 mg, dan 960 mg serta perlakuan control yang di berikan larutan tragakan. Pada praktikum pengujian efek antipiretik, menggunakan 4 hewan coba(mencit), 1 mencit untuk kelompok control dan 3 mencit lainnya diberikan perlakuan yaitu di berikan parasetamol sebagai antipiretik. hal pertama yang dilakukan pada percobaan antipiretik yaitu mengukur suhu hewan percobaan untuk mengetahui suhu normal tubuhnya. sebelum di lakukan percobaan untuk

mengetahui efek antipiretik, dilakukanlah pemberian larutan pepton pada hewan percobaan. pepton ialah suatu senyawa organik yang digunakan untuk meningkatkan suhu panas.di cek suhu badan mencit setiap 30 sekali selama 3 jam,setelah itu diberikan sampel paracetamol yang digunakan sebagai obat antipiretik. Dari tabel 1 dapat kita lihat : jika dilihat dari kelompok control suhu tubuh mencit meningkat pada menit ke 30 dan 60,pada menit ke 90 mulai menurun dan sedikit meningkat pada menit ke120.sedangkan pada kelompok mencit yang diberi perlakuan dengan memberikan parasetamol sebagai antipiretik, suhu tubuh mencit jika dilihat pada menit ke 30,60,90 dan 120 suhu tubuh mencit sudah bisa menurun dengan cepat.Perbedaan penurunan suhu tubuh mencit pada kelompok control dengan kelompok mencit yang diberikan parasetamol adalah, jika mencit diberikan parasetamol sebagai antipiretik suhu tubuhnya cenderung lebih cepat menurun dari pada kelompok control, Hal ini dikarenakan parasetamol mempunyai efek analgesic dan antipiretik, sehingga mencit yang mendapatkan perlakuan dengan diberikannya parasetamol, penurunnan suhu tubuhnya akan lebih cepat, dari pada kelompok mencit control yang tidak diberikan parasetamol sebagai antipiretik.

V.

Kesimpulan dan Saran a). kesimpulan Pada pengujian efek parasetamol sebagai antipiretik, dengan menggunakan mencit

sebagai hewan coba, setelah dilakukannya percobaan menunjukkan parasetamol mempunyai efek sebagai antipiretik, pemberian paracetamol yang dosisnya 960 mg memiliki efek yang sangat efektif dalam menurunkan suhu tubuh.hal ini terjadi karena dosis yang diberikan dalam dosis yang besar dari pada dosis lainnya sehingga efek antipiretiknya lebih cepat.

b). Saran Pada pelaksanaan praktikum diharapkan praktikan teliti pada saat perhitungan, pemberian, dan penyuntikan terhadap hewan uji. hal ini bertujuan untuk menghasilkan efek farmakologi yang diinginkan dari perlakuan hewan uji mencit .