Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH PBL BLOK 10

TRAKTUS UROGENTALIS; KESEIMBANGAN CAIRAN TUBUH

Ayu anas silvya* 10 2010 072 A-4


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Pendahuluan
Sistem urogenital terdiri dari organ-organ yang berfungsi memproduksi urine dan mengeluarkannya dari dalam tubuh. Sistem urogenital merupakan salah satu sistem dalam tubuh yang berperan dalam mempertahankan homeostatis (kekonstanan lingkungan internal). Ginjal merupakan organ pada tubuh manusia yang menjalankan banyak fungsi untuk homestatis, yang terutama adalah sebagai organ ekskresi dan pengatur kesetimbangan cairan dan asam basa dalam tubuh. Terdapat sepasang ginjal pada manusia, masing-masing di sisi kiri dan kanan (lateral) tulang vertebra dan terletak retroperitoneal (di belakang peritoneum). Selain itu sepasang ginjal tersebut dilengkapi juga dengan sepasang ureter, sebuah vesika urinaria (buli-buli/ kandung kemih) dan uretra yang membawa urine ke lingkungan luar tubuh.

*Alamat Korespondensi : Ayu Anas Silvya, Fakulltas Kedokteran Universitas Krida Wacana, Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat, 11510 E-mail : yafonaso@yahoo.com

1|Problem Based Learning

Skenario A
Seorang laki-laki usia 58 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan bengkak pada kedua kaki sejak sekitar 4 bulan yang lalu. Sejak 2 minggu terakhir bengkak dirasakan semakin parah, dan perutnya mulai membuncit. Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah 150/90 mmHg, pitting oedem dan asites.

Identifikasi Istilah yang tidak diketahui


1. Asites : Keadaan patologis berupa terkumpulnya cairan dalam rongga peritoneal abdomen. 2. Pitting Oedem : Pembengkakan yang dapat diamati dari akumulasi cairan dalam jaringanjaringan tubuh.

Rumusan masalah
Bengkak pada kedua kaki sejak 4 bulan yang lalu serta perut mulai membuncit sekitar 2 minggu yang lalu.

Analisis Masalah
Bengkak pada kedua kaki, serta perut membuncit 1. Keseimbangan asam basa 2. Mekanisme Kerja Ginjal & Faktor yang mempengaruhi 3. Proses Filtrasi, Reabsorbsi, & Sekersi 4. Struktur Makroskopik Ginjal 5. Struktur Mikroskopik Ginjal

2|Problem Based Learning

Hipotesis
Bengkak pada kedua kaki dan perut membuncit disebabkan karena gangguan keimbangan cairan tubuh pada organ ginjal.

Sasaran Pembelajaran
Bengkak pada kedua kaki, serta perut membuncit

1. Keseimbangan asam basa.1


Ginjal mengontrol pH tubuh dengan mengontrol keseimbangan asam basa melalui pengeluaran urin yang asam atau basa. Pengeluaran urin asam akan mengurangi jumlah asam dalam cairan ekstraseluler, sedangkan pengeluaran urin yang basa berarti menghilangkan basa dari cairan ekstraseluler. Keseluruhan mekanisme ekskresi urin asam atau basa oleh ginjal adalah sebagai berikut : Sejumlah besar ion bikarbonat disaring secara terus menerus ke dalam tubulus, dan bila ion bikarbonat diekskresikan kedalam urin, keadaan ini menghilangkan basa dari darah. Sebaliknya, sejumlah besar ion hidrogen juga disekresikan ke dalam lumen tubulus oleh selsel epitel tubulus, jadi menghilangkan asam dari darah. Bila lebih banyak ion hidrogen disekresikan dibandingkan ion bikarbonat yang disaring, akan terdapat kehilangan asam dari cairan ekstraseluler. Sebaliknya, bila lebih banyak ion bikarbonat yang disaring daripada ion hidrogen yang diekskresikan, akan kehilangan basa. Fungsi Ginjal terdiri dari : 1. Mempertahankan keseimbangan air. 2. Regulasi jumlah dan konsentrasi elektrolit cairan: Na+,K+,Cl-,HCO3-, Mg++,H+, SO4-, PO43. Mempertahankan volume plasma: tekanan darah, Na+, H2O 4. Mempertahankan keseimbangan asam basa : H+, HCO35. Mempertahankan osmolaritas cairan tubuh: air dan elektrolit 6. Ekskresi sisa metabolisme: urea, asam urat, kreatinin. 7. Ekskresi senyawa asing: obat, bahan aditif, peptisida, bahan non-nutritif
3|Problem Based Learning

8. Fungsi Hormon: Sekresi eritropoietin Sekresi Renin Sekresi Calcitriol

2. Mekanisme Kerja Ginjal & Faktor yang mempengaruhi.1-5

Ginjal bekerja untuk menyaring darah sebanyak kurang lebih 200 liter tiap hari nya dan juga membuang susa-sisa metabolism serta kelebihan cairan tubuh melalui urine. Selain membuang sisa-sisa metabolism tubuh melalui urine, ginjal juga berfungsi dalam : 1. Melakukan control terhadap sekresi hormone-hormone aldosteron dan anti diuretic hormone (ADH). 2. Mengatur metabolism ion kalsium dan vitamin D. 3. Menghasilkan hormone, antara lain: eritropoetin yang berperan dalam pembentukan sel darah merah, rennin yang berperan dalam mengatur tekanan darah, kalsitriol atau vitamin

4|Problem Based Learning

D3, yaitu bentuk yang aktif dari vitamin D yang juga memiliki fungsi mengatur tekanan darah dengan cara mengatur keseimbangan kadar kalsium, dan hormone prostaglandin.

Ginjal memproduksi urine yang mengandung zat sisa metabolic dan mengatur komposisi cairan tubuh melalui tiga proses utama, yaitu filtrsi glomelorus, reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus. Filtrasi Glomelorus.2 Filtrasi glomerular adalah perpindahan cairan dan zat terlarut dari kapiler gromerular ke dalam kapsula bowman dalam gradient tekanan tertentu. Filtrasi di glomerular dapat terjadi karena membrane kapiler gromelural lebih permeable dibandingkan kapiler lain dalam tubuh sehingga filtrasi dapat berjalan dengan sangat cepat dan tekanan darah dalam kapiler glomerular lebih tinggi dibandingkan tekanan darah dalam kapiler lain karena diameter arteriol eferen lebih kecil dibandingkan diameter arteriol aferen. mekanisme filtrasi di glomelorus terjadi karena adanya tekanan hidrostatik glomelural yang mendorong cairan dan zat terlarut keluar dari darah dan masuk keruang kapsula bowman. Dua tekanan yang berlawanan dengan tekanan hidrostatik glomelural, yaitu: Tekanan hidrostatis yang dihasilkan oleh cairan dalam kapsula bowman. Tekanan ini cenderung berfungsi untuk menggerakkan cairan keluar dari kapsula menuju ke glomelorus. Tekanan osmotic koloid dalam glomelorus yang dihasilkan oleh protein plasma adalah tekanan yang menarik cairan dari kapsula bowman untuk memasuki glomelorus. Tekanan filtrasi efektif (EFP) adalah tekanan dorongan netto. Tekanan ini adalah selisih antara tekanan yang cenderung mendorong cairan keluar dari glomelorus menuju kapsula bowman dan tekanan yang cenderung menggerakkan cairan ke dalam glomelorus dari kapsula bowman. Laju filtrasi glomelural ( GFR ) adalah jumlah filtrate yang terbentuk per menit pada semua nefron dari kedua ginjal. Pada laki-laki, laju filtrasi ini sekitar 125 ml/menit atau 180 L dalam 24 jam, pada perempuan sekitar 110 ml/menit. Faktor faktor yang mempengaruhi GFR: 1. Tekanan filtrasi efektif. GFR berbanding lurus dengan EFP dan perubahan tekanan yang terjadi akan mempengaruhi GFR. Derajat kontriksi arteriol aferen dan eferen menentukan aliran darah ginjal dan juga tekanan hidristatik glomelural. Kontriksi arteriol aferen menurunkan
5|Problem Based Learning

aliran darah dan mengurangi laju filtrasi glomelural, sedangkan kontriksi arteriol eferen menyebabkan terjadinya tekanan darah tambahan dalam glomelorus dan meningkatkan GFR. 2. Autoregulasi ginjal Mekanisme autoregulasi intrinsic ginjal mencegah perubahan aliran darah ginjal dan GFR akibat variasi fisiologis rata-rata tekanan darah arteri. Autoregulasi seperti ini berlangsung pada rentang tekanan darah yang lebar (antara 80 mmHg 180 mmHg). Jika tekanan darah sistemik meningkat maka arteriol aferen berkontriksi untuk menurunkan aliran darah ginjal dan mengurangi GFR. Jika tekanan darah sistemik menurun, maka arteriol aferen akan bervasodilatasi untuk meningkatkan GFR. 5 Autoregulasi melibatkan mekanisme umpan balik dari reseptor-reseptor peregang dalam dinding arteriol dan dari apparatus juxtaglomelorus. 3. Stimulasi simpatis Stimulasi simpatis merupakan suatu peningkatan impuls simpatis seperti yang terjadi saat stress, yang akan menyebabkan kontriksi arteriol aferen, menurunkan aliran darah kedalam glomelorus, dan menyebabkan penurunan GFR. 4. Obstruksi aliran urinaria Obstruksi dapat disebabkan oleh batu ginjal atau batu dalam ureter yang akan meningkatkan tekanan hidrostatik dalam kapsula bowman dan menurunkan GFR. 5 5. Kelaparan, diet sangat rendah protein, atau penyakit hati akan menurunkan tekanan osmotic koloid darah sehingga meningkatkan GFR. 6. Berbagai penyakit ginjal dapat meningkatkan permeabilitas kapiler glomelural dan meningkatkan GFR. Filtrate alam kapsula bowman identik dengan filtrate plasma dalam hal air dan zat terlarut dengan berat molekul rendah, seperti glukosa, klorida, kalium, fosfat, urea, asam urat, dan kreatinin. Sejumlah kecil albumin plasma dapat terfiltrasi, tetapi sebagian besar diabsorpsi kembali dan secara normal tidak tampak pada urine. Sel darah merah dan protein tidak di filtrasi. Penampakannya dalam urine menandakan suatu abnormalitas. Penampakan sel darah putih biasanya menandakan adanya infeksi bakteri pada traktus urinaria bagian bawah.

6|Problem Based Learning

Reabsorpsi Tubulus.3 Sebagian besar filtrate (99%) secara selektif direabsorpsi dalam tubulus ginjal melalui difusi pasif gradient kimia atau listrik, transport aktif terhadap gradien tersebut, atau difusi terfasilitasi. Sekitar 85% natrium klorida dan air serta semua glukosa dan asam amino pada filtrate glomelorus di reabsorpsi dalam tubulus kontortus proximal, walaupun reabsorpsi berlangsung pada semua bagian nefron. 1. Reabsorpsi ion natrium Ion-ion natrium di transport secara pasif melalui difusi terfasilitasi (dengan carier) melalui lumen tubulus kontortus proximal ke dalam sel epitel tubulus yang konsentrasi ion natriumnya lebih rendah. Ion-ion natrium yang di transport secara aktif dengan pompa natrium kalium, akan keluar dari sel-sel epitel untuk masuk ke cairan interstisial di dekat kapiler peritubular. 2. Reabsorpsi ion klor dan ion negative lain Karena ion natrium positif bergerak secara pasif dari cairan tubulus ke sel dan secara aktif dari sel ke cairan interstisial peritubular, akan terbentuk ketidak seimbangan listrik yang justru membantu pergerakan pasif ion-ion negative. Dengan demikian, ion klor dan bikarbonat negative secara pasif berdifusi ke dalam sel-sel epitel dari lumen dan mengikuti pergerakan natrium yang keluar menuju cairan peritubular dan kapiler tubular. 3. Reabsorpsi glukosa, fruktosa, dan asam amino Carrier glukosa dan asam amino sama dengan carrier ino natrium dan digerakan menlalui kotranspor. Carrier pada membrane sel tubulus memiliki kapasitas reabsorpsi maksimum untuk glukosa, berbagai jenis asam dalam maksium transport (Tm). Maksimum transport untuk glukosa adalah jumlah maksimum yang dapat ditranspor (reabsorpsi) per menit, yaitu sekitar 200mg glukosa/100 ml plasma. Jika kadar glukosa darah melebihi nilai Tm nya, berarti melewati ambang plasma ginjal sehingga glukosa muncul di urine (glikosuria). 4. Reansorpsi air Air bergerak bersama ion natrium melalui osmosis. Ion natrium berpindah dari area berkonsentrasi air tinggi dalam lumen tubulus kontortus proximal ke area berkonsentrasi air rendah dalam cairan interstisial dan kapiler peritubular.

7|Problem Based Learning

5. Reabsorpsi urea Seluruh urea yang terbentuk setiap hari di filtrasi oleh glomelorus. Sekitar 50% urea direabsorpsi secara pasif akibat gradient difusi yang terbentuk saat air direabsorpsi. Dengan demikian, 50% urea yang difiltrasi akan di ekskresikan dalam urine. 6. Reabsorpsi ion anorganik lain Seperti kalium, kalsium, fosfat, dan sulfat, serta sejumlah ion organik adalah melalui transport aktif. Untuk reabsorbsi tubulus Hormon 1. Aldosteron Target Efek reabsorbsi NaCl, H2O&sekresi K+ Tubulus distal s/d duktus koligentes 2. angiotensin II reabsorbsi NaCl, Tubulus proximal 3. ADH H2O&sekresi H+

Tubulus distal/duktus koligentes

reabsorbsi H2O

4. Peptide natriuretik atrium (ANP) Tubulus distal/duktus koligentes reabsorbsi NaCl

5. Paratiroid

Tubulus proximal,segmen tebal ascenden ansa henle/tubulus distal

reabsorbsi Ca2+, pembuangan PO4-

8|Problem Based Learning

Sekresi Tubular.3 Mekanisme sekresi tubular adalah proses aktif yang memindahkan zat keluar dari darah dalam kapiler peritubular melewati sel-sel tubular menuju cairan tubular untuk dikeluarkan dalam urine. Zat-zat seperti ion hydrogen, kalium, dan ammonium, produk akhir metabolic kreatinin dan asam hipurat serta obat-obatan tertentu (penisilin) secara aktif diekskresi ke dalam tubulus. Ion hydrogen dan ammonium diganti dengan ion natrium dalam tubulus kontortus distal dan ductus koligentes. Sekresi tubular yang selektif terhadap ion hydrogen dan ammonium membantu dalam pengaturan pH plasma dan keseimbangan asam basa cairan tubuh. Sekresi tubular merupakan suatu mekanisme yang penting untuk mengeluarkan zat kimia asing atau tidak diinginkan.

Peran Hormon dalam proses dasar ginjal.4 Hormon Aldosteron.

Fungsi fisiologis hormon aldosteron yaitu mengatur unsur-unsur mineral (mineralo kottikoid / dihasilkan oleh bagian korteks glandula suprarenalis / adrenalis ) Antara lain Na+ dan K+, yakni terutama mengatur reabsorpsi Na+ dan sekresi K+. Dalam hal ini apabila aldosteron meningkat, menyebabkan reabsorpsi Na+ bertambah dan sekresi K+ bertambah pula. Aldosteron membantu ginjal mengatur volume plasma atau cairan ekstra sel. Anti Diuretic Hormon (ADH) Vasopresin.

Hormon ini mempuyai fungsi fisiologi sebagai anti diuretik dengan pekerjaan utama untuk retensi cairan. Terutama untuk pengaturan volume cairan ekstra sel dan konsentrasi Na+ dan membantu ginjal mengatur tekanan osmotik plasma. Mekanisme pengaturan sekresi ADH dipengaruhi oleh : 1. Penurunan volume cairan ekstra sel. 2. Peningkatan osmolaritas CES ( terutama bila kadar Na+ meningkat ).

9|Problem Based Learning

Fungsi ginjal sebagai alat endokrin : 1. Mengahasilkan renin. 2. Menghasilkan eritropoetin 3. Membentuk prostaglandin 4. Turut berperan dalam degradasi insulin 5. Berperan dalam metbolisme vitamin D menjadi bentuk aktifnya. Sebagai alat endokrin ginjal menghasilkan: 1. Renin.5 Renin dihasilkan oleh sel-sel aparatus juxtaglomerularis pada waktu : 1. Konstriksi arteria renalis ( iskhemia ginjal ) 2. Terdapat perdarahan ( iskhemia ginjal ) 3. Uncapsulated ren (ginjal dibungkus dengan karet atau sutra ) 4. Innervasi ginjal dihilangkan 5. Transplantasi ginjal ( iskhemia ginjal ) Sel aparatus juxtaglomerularis merupakan regangan yang apabila regangannya turun akan mengeluarkan renin. Renin mengakibatkan hipertensi ginjal, sebab renin mengakibatkan aktifnya angiotensinogen menjadi angiotensin I, yg oleh enzim lain diubah menjadi angiotensin II; dan ini efeknya menaikkan tekanan darah . Renin cepat menghilang di dalam sirkulasi, karena mempunyai half life 30 menit, dalam sirkulasi dirusak oleh angiotensinase ; sedang angiotensinogen berasal dari plasma protein yaitu dari fraksi alfa-2 globulin. 2. Erythropoietin.5 Erythropoietin adalah glikoprotein. Hormon ini bekerja pada sumsum tulang untuk meningkatkan produksi sel darah merah. Stimuli seperti pendarahan atau pergi ke tempat ketinggian (dimana oksigen tipis) memicu pelepasan EPO. Orang yang mengalami gagal
10 | P r o b l e m B a s e d L e a r n i n g

ginjal dapat tetap hidup dengan dialisis. Tetapi dialisis hanya membersihkan darah dari limbah. Tanpa sumber EPO, orang ini akan menderita anemia. Sekarang, berkat teknologi rekombinan DNA, rekombinan EPO manusia telah tersedia untuk mengobati pasien ini. Karena EPO meningkatkan hematocrit, ini menyebabkan lebih banyak oksigen mengalir ke otot kerangka. Sebagian pembalap sepeda dan pelari jarak jauh menggunakan rekombinan EPO untuk meningkatkan performa mereka. Walau rekombinan EPO memiliki sekuen yang persis sama dengan asam amino sebagai hormon alami, zat gula yang dilekatkan oleh sel yang digunakan oleh industri farmasi berbeda dengan yang dilekatkan oleh sel pada ginjal manusia. Perbedaan ini dapat dideteksi pada urin atlet. Kekurangan oksigen dalam jangka waktu lama (seperti hidup di pegunungan) menyebabkan meningkatnya sintesis EPO. Pada tikus, dan mungkin pada manusia, efek ini dipicu oleh kulit. Sel kulit tikus dapat mendeteksi kadar oksigen yang rendah (hypoxia) dan jika hal ini berlangsung terus, darah yang mengalir ke ginjal akan semakin berkurang dan menyebabkan meningkatnya sintesa EPO oleh ginjal. Belum lama ini ditemukan bahwa EPO juga disintesa oleh otak ketika terjadi kekurangan oksigen di otak (seperti terkena stroke), dan membantu melindungi neuron dari kerusakan. Mungkin rekombinan EPO manusia dapat berguna untuk korban stroke juga. 3. Calcitriol.5 Calcitriol adalah 1,25[OH]2 Vitamin D3, bentuk aktif dari vitamin D. Calcitriol diperoleh dari calciferol (vitamin D3) dari makanan yang dikonsumsi, yang kemudian disintesa oleh kulit yang terkena sinar ultraviolet dari cahaya matahari pagi hari. Calciferol dalam darah dirubah menjadi vitamin aktif dalam dua langkah: a. Calciferol dirubah dalam liver menjadi 25[OH] vitamin D3 kemudian dibawa ke ginjal (terikat ke serum globulin) dimana selanjutnya dirubah menjadi calcitriol. b. Langkah terakhir ini dibantu oleh hormon parathyroid (PTH)

11 | P r o b l e m B a s e d L e a r n i n g

Calcitriol bekerja dalam sel usus untuk membantu penyerapan kalsium dalam makanan. Calcitriol bekerja pula dalam tulang untuk memobilisasi calcium dari tulang kedalam darah. Calcitriol masuk kedalam sel, jika sel tersebut mengandung reseptor untuknya (sel usus memiliki reseptor tersebut), hormon ini kemudian terikat pada reseptor tersebut. Reseptor Calcitriol merupakan faktor transkripsi zinc-finger (lipatan berbentuk jari dari asam amino dan ion zinc, yang ditemukan di bagian molekul protein yang terikat pada DNA dan RNA) a finger-shaped fold of amino acids plus a zinc ion that is found in regions of protein molecules that bind to DNA and RNA.

3. Struktur Makroskopik Ginjal.6


Ginjal 1. Tampilan Ginjal adalah organ berbentuk seperti kacang berwarna merah tua, panjangnya sekitar 12,5 cm dan tebalnya 2,5 cm (kurang lebih sebesar kealan tangan). Setiap ginjal memiliki berat antara 125 sampai 175 g pada laki-laki dan 115 sampai 155 g pada perempuan.

2. Lokasi a. Ginjal terletak di area yang tinggi, yaitu pada dinding abdomen posterior yang berdekatan dengan dua pasang iga terakhir. Organ ini meruupakan organ retroperitoneal dan terletak di antara otot-otot punggung dan peritoneum rongga abdomen atas. Tiap-tiap ginjal memiliki sebuah kelenjar adrenal di atasnya. b. Ginjal kanan terletak agak di bawah dibandingkan ginjal kiri karena ada hati pada sisi kanan.

12 | P r o b l e m B a s e d L e a r n i n g

Gambar 1 (letak ginjal)

Gambar 2 (Struktur Ginjal)

3. Jaringan ikat pembungkus. Setiap ginjal diselubungi tiga lapisan jaringan ikat. a. Fascia renal adalah pembungkus terluar. Pembuungkus ini melabuhkan ginjal pada struktur di sekitarnya dan mempertahankan posisi organ. b. Lemak perirenal adalah jaaringan adiposa yang terbungkus fascia ginjal. Jaringan ini membantali ginjal dan membantu organ tetap pada posisinya. c. Kapsul fibrosa (ginjal) adalah membran halus transparan yang langsung membungkus ginjal dan dapat dengan mudah dilepas.

Struktur Internal Ginjal

Korteks, yaitu bagian ginjal di mana di dalamnya terdapat/terdiri dari korpus renalis/Malpighi (glomerulus dan kapsul Bowman), tubulus kontortus proksimal dan tubulus kontortus distalis.

Medula, yang terdiri dari 9-14 pyiramid. Di dalamnya terdiri dari tubulus rektus, lengkung Henle dan tubukus pengumpul (ductus colligent).

Columna renalis, yaitu bagian korteks di antara pyramid ginjal Processus renalis, yaitu bagian pyramid/medula yang menonjol ke arah korteks

13 | P r o b l e m B a s e d L e a r n i n g

Hilus renalis, yaitu suatu bagian/area di mana pembuluh darah, serabut saraf atau duktus memasuki/meninggalkan ginjal.

Papilla renalis, yaitu bagian yang menghubungkan antara duktus pengumpul dan calix minor.

Calix minor, yaitu percabangan dari calix major. Calix major, yaitu percabangan dari pelvis renalis. Pelvis renalis, disebut juga piala ginjal, yaitu bagian yang menghubungkan antara calix major dan ureter.

Ureter, yaitu saluran yang membawa urine menuju vesica urinaria.

4. Struktur Mikroskopik Ginjal.7

Struktur Nefron Satu ginjal mengandung satu 1 sampai 4 juta nefron yang merupakan unit pembentuk urine. Setiap nefron memiliki satu komponen vaskular (kapiler) dan satu komponen tubular. 1. Glomerulus adalah gulungan kapilar yang dikelilingi kapsul epitel berdinding ganda disebut kapsul Bowman. Glomerulus dan kapsul Bowman bersam-sama membentuk sebuah korpuskel ginjal. a. Lapisan viseral kapsul Bowman adalah lapisan internal epitelium. Sel-sel lapisan viseral dimodifikasi menjadi podosit (sel seperti kaki), yaitu sel-sel epitel khusus di sekitar kapilar glomerular.

14 | P r o b l e m B a s e d L e a r n i n g

(1) setiap sel podosit melekat pada permukaan luar kapilar glomerular melalui beberapa prosessus primer panjang yang mengandung prossesus kaki atau pedikel (kaki kecil). (2) pedikel berinterdigitasi (saling mengunci) dengan prosesus yang sama dari podosit tetangga. Ruang sempit antar pedikel-pedikel yang berinterdigitasi disebut filtration slits (pori-pori dari celah) yang lebanya sekitar 25 nm. Setiap pori dilapisi selapis membran tipis yang memungkinkan aliran beberapa molekul dan menahan aliran molekul lainnya. (3) Barier filtrasi glomerular adalah barier jaringan yang memisahkan darah dalam kapilar glomerulr dari ruang dalam kapsul Bowman. Barier ini terdiri dari

endotelium kapilar, membran dasar (lamina basalis) kapilar, dan filtration slit. 2. Tubulus kontortus proksimal, panjangnya mencapai 15 mm dan sangat berliku. Pada permukaan yang menghadap lumen tubulus ini terdapat sel-sel epitelial kuboid yang kaya akan mikrovilus (brush border) dan memperuas area permukaan lumen. 3. Ansa Henle. Tubulus kontortus proksimal mengarah ke tungkai desenden ansa Henle yang masuk ke dalam medula, membentuk lengkngan jepit yang tajam (lekukan), dan membalik ke atas membentuk tungkai asenden ansa Henle. a. Nefron korteks terletak di bagian terluar korteks. Nefron ini memiliki lekukan pendek yang memanjang ke sepertiga bagian atas medula. b. Nefron jukstaglomerular terletak di dekat medula. Nefron ini memiliki lekukan panjang yang menjulur ke dalam piramida medula. 4. Tubulus kontortus distal juga sangat berliku, panjanggnya sekItar 5 mm dan membentuk segmen terakhir nefron. a. Di sepanjang jalurnya, tubulus ini bersentuhan dengan dinding arteriol aferen. Bagian tubulus yang bersentuhan dengan arteriol mengandung sel-sel termodifikasi yang disebut makula densa. Makula densa berfungsi sebagai suatu kemoreseptor dan distimulasi oleh penurunan ion natrium.

15 | P r o b l e m B a s e d L e a r n i n g

b. Dinding arteriol aferen yang bersebelahan dengan makula densa mengandung sel-sel otot polos termodifikasi yang disebut sel jukstaglomerular. Sel ini distimulasi melalui penurunan tekanan darah untuk memproduksi renin. c. Makula densa, sel jukstaglomerular, dansel mesangium saling bkerja sama untuk membentuk aparatus jukstaglomerular yang pentin dalam pengaturan tekanan darah. 5. tubulus dan duktus pengumpul. Karena setiap tubulus pengumpul berdesenden di korteks, makan tubulus tersebut akan mengalir ke sejumlah tubulus kontortus distal. Tubulus pengumpul membentuk duktus pengumpul besar yang lurus. Duktus pengumpul membentuk tuba yang lebih besar yang mengalirkan urine ke dalam kaliks minor. Kaliks minor bermuara ke dalam pelvis ginjal melalui kaliks mayor. Dari pelvis ginjal, urine dialirkan ke ureter yang mengarah ke kandung kemih.

Kesimpulan
Dari Pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Ginjal adalah sepasang organ dengan fungsi homeostasis tubuh dalam mempertahankan keseimbangan. Ginjal memproduksi urine yang mengandung zat sisa metabolic dan mengatur komposisi cairan tubuh melalui tiga proses utama, yaitu filtrsi glomelorus, reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus.

Dari kesimpulan diatas hipotesis dapat diterima.

16 | P r o b l e m B a s e d L e a r n i n g

Daftar Pustaka
1. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta : EGC . 2005 .h. 318-23. 2. Rasjidi I. Panduan pelayanan medic: model interdisiplin penatalaksanaan kanker serviks dengan gangguan ginjal. Jakarta: EGC; 2008. h. 30. 3. Corwin EJ. Patofisiologi. Edisi ke-3. Jakarta: EGC; 2009. h. 685-92. 4. Sacher, RA. Tinjauan klinis hasil pemeriksaan laboratorium. Edisi ke-11. Jakarta: EGC; 2004. h. 590-1. 5. Asmadi. Teknik procedural keperawatan. Jakarta: Salemba Medika; 2008. h. 91-2. 6. Faiz O, Moffat D.Anatomy at a glance.Jakarta:Penerbit Erlangga.2003.h.50-5. 7. Sherwood, L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: EGC; 2001

17 | P r o b l e m B a s e d L e a r n i n g