Anda di halaman 1dari 35

CLASSROOM MANAGEMENT

MATERI KULIAH ORIENTASI BARU DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN PASCASARJANA UNJ

Duke (1990) ,mendefinisikan classroom management sebagai provisions and procedures necesarry to establish and maintain an environment in wich instruction and learning can occur. Upaya penyediaan seperangkat kelengkapan atau prosedur yang diperlukan untuk menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi lingkungan kelas yang dapat memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar.

Pengelolaan kelas meliputi 3 kegiatan utama: Pengaturan ruang dan sarana belajar, Mengembangkan aturan dan kebiasaan, (mencegah gangguan prilaku) Tindakan mengatasi prilaku siswa yang tidak produktif.

Depdikbud (1996) mengartikan pengelolaan kelas sebagai segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuannya.

M. Entang (1981) menyatakan bahwa pengelolaan kelas menunjuk kepada berbagai jenis kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.

John I. Bolla (1985): pengelolaan kelas sebagai keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal apabila terdapat gangguan dalam proses belajar mengajar, baik yang bersifat gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan.

Dirjen Dikdasmen (1996): manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan.

KESIMPULAN
MANAJEMEN KELAS: Adalah proses atau upaya yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan dan mempertahankan suatu situasi kelas yang kondusif yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar secara efektif.

TUJUAN MANAJEMEN KELAS


Terciptanya suatu situasi atau kondisi kelas yang kondusif yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar yang optimal, sehingga tujuan-tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efisien dan efektif.

LINGKUP MANAJEMEN KELAS


1. Manajemen fisik (ruang, sarana dan peralatan belajar. 2. Manajemen instruction /pembelajaran (penataan rencana pembelajaran, penataan materi, penugasan siswa, cara berkomunikasi, penatan evaluasi dll) 3. Manajemen prilaku (mencegah dan mengatasi gangguan prilaku dalam kelas)

LINGKUP MANAJEMEN KELAS


FISIK
1. 2. 3. 4. 1. 2. 3. Penatan ruang kelas: Penataan sarana belajar: Penataan peralatan belajar: Penataan media pembelajaran: Mencegah prilaku buruk Mempertahankan prilaku baik. Mengatasi prilaku buruk.

PRILAKU
1. 2. 3. 4.

INSTRUCTION

Pengelolaan kelompok. Strategi penugasan Strategi komunikasi Pencataan kemajuan siswa.

MANAJEMEN FISIK
1. Penatan ruang kelas: luas, bentuk, sifat, warna, udara, penerangan. Penataan sarana belajar: bentuk dan formasi kursi, meja, lemari, perpustakaan kelas, kelengkapan administrasi kelas dll) Penataan peralatan belajar: papan tulis, komputer, LCD, dll.

2.

3.

4.

Penataan media pembelajaran: alat peraga (media pembelajaran), display media, display karya siswa dll.

TEMPAT DUDUK
1. 2. 3. 4. posisi berbaris atau berderet ke belakang; posisi tempat duduk berkelompok-kelompok. posisi tapal kuda atau setengah lingkaran dan posisi lingkaran atau persegi.

BEBERAPA CATATAN
Memungkinkan guru untuk mengawasi (melihat) semua siswa secara mudah. Guru dapat melakukan komunikasi (interaksi) secara mudah dengan semua siswa. Sedapat mungkin siswa dapat saling melihat dan dan berkomunikasi secara mudah.

SARANA/PERALATAN BELAJAR
Papan tulis dan penghapus Kapur/spidol Kursi dan meja (guru dan siswa) Lemari (rak) Jadwal pelajaran Daftar piket. Kalender akademik. Papan atau buku absensi. Gambar-gambar kenegaraan. Tempat sampah dan alat kebersihan lainnya. Tempat cuci tangan. Alat peraga. Rautan pinsil Display (karya siswa, prosedur tugas dll.).

MANAJEMEN PEMBELAJARAN
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Persiapan mengajar. Pengelolaan materi. Pengelolaan media. Pengelolaan sumber belajar. Pengelolaan kelompok. Pengelolaan/strategi penugasan Pengelolaan/strategi evaluasi Pelaporan hasil belajar. Pencataan kemajuan siswa.

MANAJEMEN PRILAKU
1. Pencegahan prilaku buruk 2. Pemeliharaan prilaku baik/kondusif 3. Penanganan prilaku buruk.

MENGEMBANGKAN PRILAKU SISWA YANG KONDUSIF/POSITIF

INDIKATOR siswa memberi perhatian serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar, kelas terbebas dari prilaku-prilaku yang tidak produktif,

SUMBER GANGGUAN
(1) gangguan yang bersumber dari guru (2) gangguan yang bersumber dari siswa dan (3) gangguan yang bersumber dari lingkungan.

PENDEKATAN PENANGANAN PRILAKU


Modifikasi prilaku (behavior modification). Konsekuensi logis (logical consequences). Displin ketat (Assertive discipline).

Behavior Modification
Merubah prilaku melalui cara-cara dan langkah-langkah yang terencana. Dua alat yang dapat digunakan dalam modifikasi prilaku (menurut teori behavioristik) yaitu: - PENGHARGAAN (REWARD) dan - HUKUMAN (PUNISHMENT)

Penghargaan diberikan kepada mereka yang menunjukkan prilaku positif, sehingga dengan demikian siswa diharapkan dapat terus mempertahankan prilakunya di masa mendatang (penguatan positif). Hukuman diberikan kepada mereka yang menunjukkan prilaku negatif, sehingga diharapkan siswa tidak akan mengulang kembali prilakunya.

Salah satu hasil penelitian penting dalam bidang modifikasi prilaku, memperlihatkan bahwa dalam upaya untuk menciptakan ketertiban kelas, guru-guru lebih disarankan untuk menggunakan penguatan terhadap prilaku positif daripada memberlakukan hukuman terhadap prilaku yang melanggar.

Misalnya dalam kasus siswa yang selalu meninggalkan tempat duduknya ketika pelajaran sedang berlangsung atau ketika guru sedang menjelaskan. Dalam mengatasi kasus ini, guru menciptakan suatu sistem dimana siswa akan mendapatkan satu karta biru (kartu penghargaan yang dapat ditukar dengan hadiah tertentu), ketika dia berhasil tetap berada di tempat duduk setiap kurun waktu 10 menit. Jika siswa berhasil tertib dalam waktu 30 menit, maka dia akan mendapatkan 3 buah kartu, yang selanjutnya dapat ditukarkan dengan hadiah yang sudah diaipkan guru pada jam istirahat.

BEBERAPA HASIL PENELITIAN TENTANG PUNISHMENT


Hukuman secara fisik mengajari siswa kekerasan (Bandura, 1986). Hukuman dapat menyebabkan efek prilaku negatif yang lebih besar. Siswa yang menentang otoritas, akan menjadi lebih menentang setelah hukuman (Nilsson & Acher, 1989) Hukuman hanya mengatasi masalah untuk sementara waktu, kecuali jika dilaksanakan secara kontinue dan konsekuen (Walters & Grusec, 1977).

Hukuman menyebabkan seseorang menghindari punisher dan juga orang yang memberi hukuman (Cressey, 1978).

Hukuman dapat menyebabkan emosi negatif (Baldwin & Baldwin, 1998).

Konsekuensi logis (logical consequences).


pendekatan Rudolf Dreikur (Rudolf Dreikurs Approach), anak yang melakukan prilaku negatif harus dibuat sadar terhadap apa yang dilakukannya serta merasakan akibat dari perbuatannya. seorang siswa yang mengotori atau melakukan pengrusakan terhadap barang milik sekolah, maka dia harus bertanggung jawab terhadap (menerima konsekuensi dari ) perbuatannya dengan cara membersihkan atau memperbaiki kerusakan yang dibuatnya.

Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk membangun suatu sikap bertanggung jawab yang mandiri pada diri siswa, dengan cara belajar menerima akibat dari setiap kesalahan yang dilakukannya.

BEBERAPA CATATAN
Dalam pendekatan Dreikur, siswa harus dilibatkan dalam penyusunan peraturan kelas, sehingga memungkinkan siswa untuk merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap setiap peraturan yang ada. Pendekatan Dreikur didasarkan kepada asumsi bahwa setiap prilaku siswa adalah selalu bertujuan (ada sesuatu yang ingin dicapai melalui perbuatannya). guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengidentifikasi motifmotif atau tujuan-tujuan yang mungkin ada dibalik perbuatan yang dilakukan oleh siswa, sehingga hal ini dapat menjadi dasar untuk memberikan tindakan bantuan (treatmen) yang relevan.

Disiplin asertif (Assertive Discipline).


Lee Carter: Pendekatan ini menekankan perlunya siswa untuk menjalankan suatu sikap atau prilaku disiplin yang dikondisikan oleh guru. Disiplin adalah suatu keadaan patuh atau taat secara konsisten terhadap suatu peraturan atau nilai yang berlaku. Oleh karena itu, langkah pertama dalam pendekatan Carter (cartertechniques) adalah mengembangkan seperangkat peraturan kelas yang diperlukan untuk menjamin kelangsungan proses belajar mengajar.

LANGKAH-LANGKAH
Kembangkan peratuan dengan melibatkan siswa. Siswa diberi penjelasan secara clear mengenai setiap aturan yang akan diberlakukan serta konsekuensi yang akan diterima bila melanggar peraturan. Siswa yang melanggar peraturan, diberi peringatan serta beberapa penjelasan singkat tentang peraturan yang ada serta prilaku bagimana yang sebaiknya dilakukan oleh siswa.

Siswa yang secara konsisten cenderung tidak displin (melanggar peraturan) mulai dipertimbangkan untuk mendapatkan sangsi. Misalnya, ketika siswa satu kali melakukan pelanggaran, dia akan mendapatkan tanda ceklis pada namanya yang dipajang di papan tulis. Satu tanda cek berarti hukuman penahanan selama 10 menit, dua tanda cek selama 20 menit dan seterusnya. Pendekatan ini memungkinkan guru untuk mengembangkan suatu prilaku disiplin tanpa harus bersikap otoriter, sebab didalamnya terdapat unsur pengembangan sikap tanggung jawab siswa terhadap suatu aturan yang telah diketahui sebelumnya.

KRITIK
dalam pendekatan ini guru mengganggap sama semua bentuk pelanggaran, tanpa melihat latar di balik perbuatan melanggar peraturan. Tidak ada upaya yang intensif dari guru untuk mencoba memahami latar belakang dari suatu pelanggaran dan tidak juga berusaha memikirkan/ melakukan treatmen yang tepat.

SEKIAN TERIMA KASIH