Anda di halaman 1dari 41

DAFTAR ISI

A. LATAR BELAKANG . . . . . . . . . . . . . . 1 B. TUJUAN . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1 C. MANFAAT . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2 1. . . . . ARSITEKTUR DI IKLIM TROPIS 3


B. PADA DATARAN TINGGI

Rumah Adat Mbaru Niang (Wae Rebo), Flores . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4

Rumah Adat Suku Karo . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6

Rumah Adat Suku Gayo, Aceh Tengah . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8

Rumah Suku Honai, Papua . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 9

Rumah Adat Tongkonan, Toraja . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 11

Ubud Hanging Garden . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12

Rumah Adat Bali . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14

Rumah Suku Baduy, Banten . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16

C. DI DAERAH PANTAI

17

Rumah Adat Nias . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 17

Fish House, Singapore . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 18

D. DI ATAS PERAIRAN

19

Rumah Suku Bajau . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 19

Rumah di Danau Tempe . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20

Kabang Moken, Rumah Perahu . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 21

Rumah di Danau Deriza . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 22

2. . . . ARSITEKTUR IKLIM SUBTROPIS 23

E. PADA DATARAN TINGGI


23

Log House, Alaska . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 23

Yoshinogari Dwellings . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 24

Rumah di Alpen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25

Longjie Dragon Terrace . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 25

High Hills House, Stowe . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 26

Highlands House . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 27

Rumah di Limekiln Line, oleh Studio Moffit . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28

F. PADA DATARAN RENDAH


30

Rumah Modern di South Coast . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30

Rumah Elysium 154 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30

G. DI PERAIRAN

31

Rumah Apung oleh Dymitr Malcew . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 31

Floating House oleh Vandeventer Carlander Architects . . . . . . . . . . . . . . . 32

Rumah Apung di Alaska . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 33

3. . . . . . . . . . . . . . . . . DI DAERAH KUTUB 34
H. ARKTIK

34

Igloo / Snowhouse . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 34

4. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . KESIMPULAN 36 5. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . SARAN 36

BAB I

PeNDAhULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perkembangan teknologi yang begitu pesat dan penyebaran informasi yang serba cepat sekarang ini bisa dirasakan memang ada beberapa dampak buruknya bila tidak digunakan secara bijaksana, salah satu permasalahannya yang berdampak dalam bidang arsitektur adalah munculnya bangunan atau lingkungan buatan yang tidak harmonis dengan lingkungan alamiahnya. Ini dikarenakan dalam perancangannya hanya memperhatikan unsur estetika dan kurang memperdulikan situasi lingkungan, ide yang diambil dari karya-karya arsitektur populer di dunia diterapkan langsung tanpa adanya transformasi untuk menyesuaikan lingkungan sekitarnya. Misalnya pada bentuk-bentuk bangunan di Eropa yang sebenarnya diciptakan untuk iklim subtropis seringkali langsung diikutidibuat sama padahal lokasi pembangunannya di Indonesia. Hal ini selain merusak tampilan lingkungan juga gagal menciptakan rasa aman dan nyaman karena tidak sesuai untuk daerah tropis yang suhu dan curah hujannya tinggi. Maka dari itu diperlukan pemahaman lebih mendalam sebelum menerapkan teknologi ataupun gaya rancangan dari tempat lain.

1.

TUJUAN & MANFAAT

Tujuan penulisan tugas ini tidak lain adalah untuk memperkaya wawasan tentang ragam arsitektur di berbagai tempat, ini juga diharapkan memberikan inspirasi baru untuk menciptakan karya arsitektur yang sustainable dengan mempertimbangkan tempat / lokasi dan kondisi dimana merancangan.

BAB II
1.

PemBAhASAN
ARSITEKTUR DI IKLIM TROPIS

Arsitektur Tropis adalah suatu konsep bangunan yang mengadaptasi kondisi iklim tropis. Letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat Indonesia memiliki dua iklim, yakni kemarau dan penghujan. Pada musim kemarau suhu udara sangat tinggi dan sinar matahari memancar sangat panas. Dalam kondisi ikim yang panas inilah muncul ide untuk menyesuaikannya dengan arsitektur bangunan gedung maupun rumah yang dapat memberikan kenyamanan bagi penghuninya.

b. PADA DATARAN TINGGI


Rumah Adat Mbaru Niang (Wae Rebo), Flores

umah Adat Mbaru Niang merupakan rumah tradisional salah satu suku Manggarai yang mempunyai bentuk seperti topi kerucut yang hanya dapat kita temui di desa Wae Rebo. Kampung Di Atas Awan, merupakan julukan dusun tradisional Wae Rebo, sebuah dusun tradisional/perkampungan/desa unik nan eksotis yang letaknya di atas ketinggian dan jauh dari keramaian. Desa Wae Rebo terletak ditas lembah dan di kelilingi pegunungan dengan hutan yang sangat lebat dan cukup sangat terpencil jauh dari desa-desa lainnya, desa tersebut terletak pada ketinggian 1100 m diatas permukaan air laut, tentunya daerah berhawa dingin. Desa ini berada di daerah terpencil di Pedalaman Manggarai, tepatnya di desa Satar Lenda, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai Barat Flores, Nusa Tenggara Timur, bertetangga langsung ke Taman Nasional Komodo. Perjalanan menuju kampung ini dapat ditempuh selama 4 jam perjalanan dari Ruteng (desa yang terdekat), dengan berjalan kaki (mendaki bukit). Saking terpencilnya perkampungan ini, hampir tidak semua perkampungan tetangga mengetahui

keberadaannya karena lokasi yang sangat berjahuan. Dan rupanya lebih banyak tourist atau wisatawan asing lebih dulu mengetahui dan lebih sering menyinggahinya dari pada wisatawan Indonesia. Tidak seperti dusun tradisional lainnya yang memiliki lebih dari satu klan (marga), di dusun tradisional Wae Rebo ini hanya memiliki satu klan (marga) saja. Masyarakat Desa Wae Rebo merupakan masyarakat yang taat kepada adat tradisi warisan leluhur mereka, hal ini terlihat dari pola hidup dan semua aktivitas tidak banyak berubah, masih seperti pola hidup leluhur mereka walau jaman telah maju. Salah satu contoh bentuk dari kekuatan tradisi penduduk desa Wae Rebo adalah arsitektur rumah tinggal mereka yang masih berbentuk sama dengan rumah nenek moyang mereka, tanpa ada perubahan sedikitpun. Rumahnya berbentuk kerucut dengan tinggi sekitar 15 meter, atapnya menjuntai sampai hampir menyentuh tanah terbuat dari daun lontar atau rumbia, lantai tidak menyentuh tanah, alias panggung. Uniknya, dari pertama kali ada hanya terdapat 7 rumah, tidak lebih dan kurang. Kontruksi bangunan rumah adat Mbaru Niang ini hanya menggunakan sistem pasak dan pen lalu diikat dengan rotan sebagai penguat setiap tulang fondasinya. Rumah adat Mbaru Niang ini merupakan bangunan terdiri dari 5 lantai dengan bentuk mengerucut keatas. Rumah Adat Flores Mbaru Niang Mendapatkan Penghargaan dari UNESCO sebagai salah satu cagar budaya dunia yang selalu terjaga dengan baik.
Sumber : http://chaonechoan.blogspot.com/2013/12/melihat-keunikankampung-wae-rebo.html ; http://rumahadat.blog.com/2012/09/09/ rumah-adat-mbaru-niang-flores/

Urutan dan fungsi dari tiap susunan lantai rumah

adat Mabru Niang:

Lutur atau tenda lantai dasar, digunakan sebagai tempat tinggal sang penghuni. Lobo berfungsi sebagai gudang tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Lentar berfungsi untuk menyimpan benih tanaman untuk bercocok tanam. Lempa Rae berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan stok cadangan makanan yang berguna disaat paceklik atau gagal panen. Hekang Kode berfungsi sebagai tempat sesajen untuk para leluhur mereka.

Rumah Adat Suku Karo

ndonesia kaya akan suku dan ragam budayanya, salah satunya adalah suku Karo. Ternyata satu rumah adat karo itu tidak hanya ditempati oleh satu keluarga saja melainkan ada 8, 12, dan bahkan 16 keluarga. Lokasi ini terletak di Desa Lingga Kabanjahe, Rumah Adat Karo juga terkenal dengan seni arsitekturnya yang khas, gagah dan kokoh, tidak hanya itu rumah adat karo juga dihiasi dengan ornamen-ornamen yang kaya akan nilai-nilai filosofis. Makna dari rumah adat karo sendiri menggambarkan hubungan yang erat antara masyarakat karo dengan sesama manusia dengan alam lingkungannya, bahan bangunan yang digunakan untuk membangun rumah adat karo ini tidak menggunakan beton, paku, dan kawat, melainkan menggunakan pasak dan tali ijuk, inilah yang menjadikan rumah adat karo semakin unik. Pembangunan Rumah Adat Karo tidak terlepas dari jiwa masyarakat Karo yang bersifat kekeluargaan dan gotong-royong. Rumah Adat menggambarkan kebesaran suatu Kuta (kampung), karena dalam pembangunan sebuah Rumah Adat membutuhkan tenaga yang besar dan memakan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu pembangunan Rumah Adat dilakukan secara

bertahap dan gotong royon. Ke-

(pendiri kampung), Ginemgem (masyarakat yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Simantek Kuta) dan Rayat Derip (penduduk biasa). Pembangunan sebuah Rumah Adat pada jaman dahulu harus mengikuti ketentuan adat dan tradisi masyarakat Karo yang telah ada secara turun-

giatan gotong-royong ini terutama digerakkan oleh Sangkep Sitelu (sukut, kalimbubu dan anak beru) yang dibantu oleh Anak Kuta (masyarakat kampung setempat). Hal ini tidak terlepas dari sistem pemerintahan sebuah Kuta menggambarkan struktur sosial dan tatanan organisasi yang tinggi pada masyarakat Karo, yang terdiri dari pihak Simantek Kuta

temurun. Sebelum membangun Rumah Adat diawali dengan Runggu (musyawarah) dalam menentukan hari baik untuk memulai pembangunan, pada hari pembangunan diadakan sebuah upacara untuk meletakkan pondasi rumah dan meminta petunjuk dan perlindungan dari para leluhur orang Karo agar pelaksanaan pembangunan berjalan dengan baik. Demikian juga ketika Rumah Adat telah selesai dibangun, maka diadakan lagi upacara Mengket Rumah Mbaru (memasuki rumah baru). Upacara ini juga diawali dengan Runggu,

untuk menentukan hari baik untuk mengketi (mendiami) rumah baru tersebut. Pada hari yang ditentukan diadakan upacara pengucapan syukur kepada leluhur, dan memohon agar rumah yang telah selesai dibangun dapat bertahan lama dan para penghuninya hidup harmonis serta menjadi berkat dan dijauhkan dari bencana. Rumah adat karo disebut rumah waluh jabu karena dihuni oleh delapan keluarga, namun ada juga yang dihuni oleh 12, dan 16 keluarga, rumah adat karo yang paling besar adalah sepuluhenem jabu atau 16 keluarga, namun sekarang rumah adat sepuluh enem jabu sudah tidak ada lagi. Setiap Jabu (keluarga) menempati posisi di Rumah Adat sesuai dengan struktur sosialnya dalam keluarga. Letak Rumah Adat Karo selalu disesuaikan dari arah Timur ke Barat yang disebur Desa Nggeluh, di sebelah Timur disebut Bena Kayu (pangkal kayu) dan sebelah barat disebut Ujung Kayu. Sistem Jabu dalam Rumah Adat mencercerminkan kesatuan organisasi, dimana terdapat pembagian tugas yang tegas dan teratur untuk mencapai keharmonisan bersama yang dipimpin Jabu Bena Kayu/ Jabu Raja.
Sumber : http://palingindonesia.com/rumahadat-karo-dan-fungsinya/ ; http://sejarahsukukaro.blogspot.com/2013/09/asal-usul-sukukaro.html

Rumah Adat Suku Gayo, Aceh Tengah

abupaten Aceh Tengah secara geografis terletak ditengah tengah wilayah Provinsi Aceh, dengan posisi berada pada 40 45 40Lu 45 -960 55. Bt dan memiliki topograpi berbukit dan bergunung. Daerah bersuhu sejuk dengan elevasi antara 100 2.600 meter diatas permukaan laut. Umah Pitu Ruang merupakan Rumah Adat Suku Gayo memiliki arsitektur khas dengan berbagi ukiran dan pahatan bermotif kerawang Gayo sarat dengan makna dan simbol simbol adat istiadat Suku Gayo. Rumah adat ini memiliki tujuh ruangan, setiap ruangan dihuni oleh satu Kepala Keluarga. Di kabupaten Aceh Tengah terdapat dua unit Umah Pitu Ruang yang merupakan replika bentuk asli Umah Pitu Ruang, satu berada di Kampung Kemili Kecamatan Bebesen berjarak 1,5 km dari Kota Takengon dan satu lagi berada di Desa Linge Kecamatan Linge berjarak + 103 dengan jarak tempuh 2 jam perjalanan dengan kendaraan. Rumah adat Umah Pitu Ruang Toweren dibuat dari kayu pilihan. Diameter 27 tiang penyangganya pun seukuran dekapan dewasa. Semua sam-

bungan memakai ciri khas tersendiri menggunakan pasak kayu. Hampir semua bagian sisi dipakai ukiran kerawang yang dipahat, dengan berbagai motif, seperti puter tali dan sebagainya. Di tengah ukiran kerawang terdapat ukiran berbentuk ayam dan ikan yang melambangkan kemuliaan dan kesejahteraan. Sementara ukiran naga merupakan lambang kekuatan, kekuasaan dan kharisma. Peninggalan Raja Baluntara, bukan hanya bangunan tua yang bertengger usang di Kampung Toweren Uken, tetapi aset bersejarah lain masih tersimpan rapi oleh pihak keluarga seperti Bawar. Bawar adalah sebuah tanda kerajaan yang diberikan oleh Sultan Aceh kepada Raja Baluntara. Luas Umah Edet Pitu Ruang itu, panjangnya 9 meter dengan lebar 12 meter. Berbentuk rumah panggung dengan lima anak tangga, menghadap utara. Sementara di dalamnya terdapat empat buah kamar. Selain empat kamar, ada dua lepo atau ruang bebas di arah timur dan

barat. Rumah adat Pitu Ruang Gayo tersebut tidak mengunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu dan bermacam-macam ukiran di setiap kayu. Ukiran tersebut bentuk nya berbedabeda, ada yang berbentuk hewan dan ada yang berbetuk seni kerawang Gayo yang di pahat khusus. Walaupun tidak mengunakan paku tapi kekuatan rumah adat pitu ruang tersebut sangatlah kuat apalagi bahan kayu yang sangat bermutu pada zaman duhulu, tetapi bagaimana pun kuatnya tanpa adanya perawatan bangunan tersebut akan roboh dengan sendirinya di makan zaman.
Sumber : https://www.facebook.com/note.php?note_ id=338708097010 ; http://www.wisataacehtengah.com/profil-pariwisataaceh-tengah.html

Rumah Suku Honai, Papua

ebutan rumah adat / rumah tradisional asli suku-suku yang ada di provinsi Papua adalah Rumah Honai. Rumah Hanoi dapat banyak kita temui di lembah dan pegunungan dibagian tengah pada pulau Papua, disana terdapat suku Dani tinggal di bagian lembah Baliem atau Wamena, suku Lani, Yali di pegunungan Toli dan suku-suku asli Papua lainnya. Daerah pegunungan dan lembah disana mempunyai hawa yang cukup dingin pada umumnya terletak diketinggian 2500 meter dari permukaan laut. Maka dari itu bentuk rumah Honai yang bulat dirancang untuk bisa meredam hawa dingin ataupun tiupan angin yang kencang.Rumah Honai memiliki bentuk atap bulat kerucut terbuat dari jerami atau ilalang, bentuk atap ini berfungsi untuk melindungi seluruh permukaan dinding agar tidak terkena air hujan dan dapat meredam hawa dingin untuk tidak masuk kedalam rumah. Dinding rumah terbuat dari kayu dengan satu pintu pendek tanpa jendela. Rumah Hanoi terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan aktivitas keluarga lainnya. Rumah Honai memiliki

tinggi kurang lebih 2,5 meter. Dimalam hari menggunakan penerangan kayu bakar. Di dalam rumah Honai tepat dibagian tengah pada lantai terdapat galian tanah yang berfungsi sebagai tungku selain sebagai penerangan, bara api juga bermanfaat untuk menghangatkan tubuh. Jika tidur mereka tidak menggunakan dipan atau kasur, mereka beralas rerumputan kering yang dibawa dari kebun atau ladang. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki (disebut Honai), wanita (disebut Ebei), dan kand a n g b a b i (disebut Wamai). Fungsi Rumah Honai selain sebagai tempat tinggal juga mempunyai fungsi lainnya seperti: 1. Tempat penyimpanan alat-alat perang dan berburu 2. Tempat mengembleng anak lelaki agar bisa menjadi orang yang kuat waktu dewasanya nanti dan berguna bagi sukunya. 3. Tempat untuk menyusun strategi perang, jika terjadi peperangan. 4. Tempat menyimpan alat-alat atau simbol dari adat suku yang sudah ditekuni sejak dulu Filosofi bangunan Honai, melingkar atau bulat mempunyai artian : 1. Menjaga kesatuan dan persatuan yang paling tinggi sesama suku serta mempertahankan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur untuk selamanya. 2. Dengan tinggal dalam satu honai maka kita sehati, sepikir dan satu tujuan dalam menyelesaikan suatu pekerjaan 3. Honai merupakan symbol dari kepribadian dan merupakan martabat dan harga diri dari orang suku yang harus dijaga oleh keturunan atau anak cucu mereka di kemudian hari.
Sumber : http://rumahadat.blog.com/2012/05/27/rumah-adat-papua/ ; http://images.detik.com

10

Rumah Adat Tongkonan, Toraja


ongkonan adalah rumah adat masyarakat Toraja. Atapnya melengkung menyerupai perahu, terdiri atas susunan bambu (saat ini sebagian tongkonan menggunakan atap seng). Di bagian depan terdapat deretan tanduk kerbau. Bagian dalam ruangan dijadikan tempat tidur dan dapur. Tongkonan digunakan juga sebagai tempat untuk menyimpan mayat. Tongkonan berasal dari kata tongkon (artinya duduk bersama-sama). Tongkonan dibagi berdasarkan tingkatan atau peran dalam masyarakat (stara sosial Masyarakat Toraja). Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut alang. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem (banga) saat ini sebagian sudah dicor. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari (disebut pabare allo), yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara. Khususnya di Sillanan-Pemanukan (Tallu Lembangna) yang dikenal dengan istilah Maduangtondok terdapat tongkonan yaitu Tongkonan Karua (delapan rumah tongkonan) dan Tongkonan Apa(empat rumah tongkonan) yang memegang peranan dalam masyarakat sekitar. Tongkonan karua terdiri dari: 1. Tongkonan Pangrapa(Kabarasan) 2. Tongkonan Sangtanete Jioan 3. Tongkonan Nosu (To intoi masakkana) 4. Tongkonan Sissarean 5. Tongkonan Karampa Panglawa padang 6. Tongkonan Tomentaun 7. Tongkonan Tolole Jaoan 8. Tongkonan To Barana Tongkonan Apa terdiri dari: 1. Tongkonan Peanna Sangka 2. Tongkonan Toinduk 3. Tongkonan Karorrong 4. Tongkonan Tondok Bangla (Pemanukan) Banyak rumah adat yang konon dikatakan tongkonan di Sillanan, tetapi menurut masyarakat setempat, bahwa yang dikatakan tongkonan hanya 12 seperti tercatat di atas. Rumah adat yang lain disebut banua parapuan. Yang dikatakan tongkonan di Sillanan adalah rumah adat di mana turunannya memegang peranan dalam masyarakat adat setempat. Keturunan dari tongkonan menggambarkan strata sosial masyarakat di Sillanan. Contoh Tongkonan Pangrapa (Kabarasan)/ pemegang kekuasaan pemerintahan. Bila ada orang yang meninggal dan dipotongkan 2 ekor kerbau, satu kepala kerbau dibawa ke Tongkonan Pangrapa untuk dibagi-bagi turunannya.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tongkonan

11

Ubud Hanging Garden

erletak di lereng bukit dan sawah curam, Ubud Hanging Garden menawarkan pemandangan lembah Sungai Ayung. Ubud Hanging Garden adalah hotel boutique mewah yang dikelilingi oleh hutan alam dan keindahan alam. Setiap vila pribadi mewah bergaya Bali menyediakan lokasi yang sempurna untuk beristirahat dan bersantai. Dengan 38 villa mewah yang dirancang oleh arsitek Perancis Anglo Gordon Shaw, masing-masing dengan kolam renang pribadi yang menghadap ke Sungai Ayung, untuk menghilangkan stres dan bersantai dan menikmati pemandangan sensasional dari kebun hijau di sekitarnya. Vila ini terdiri dari hutan hujan yang rimbun dengan kolam renang tanpa batas dengan pemandangan spektakuler. Dibangun dengan cara tradisional, dengan atap jerami dan kamar mandi outdoor. pakaian dari seluruh kepulauan Indonesia.
Sumber : http://goesholiday.com/ubud-hanging-gardens-tourism-bali. html

12

13

Rumah Adat Bali

Rumah Adat Bali yang sekarang ini memiliki banyak massa bangunan terpisah menurut beberapa merupakan perkembangan dari rumah adat bali yang sebelumnya bermassa tunggal yang terletak di pegunungan, dikarenakan perpindah tempat dan situasi yang berbeda, rumah ini pun berkembang-terpecah menjadi beberapa massa karena di dataran rendah udara sudah dirasakan panas. Dengan banyaknya massa akan memberikan banyak ruang terbuka untuk memberi hawa sejuk. Rumah adat Bali biasanya penuh dengan hiasan ukiran bermotif yang tersebar di bagian dinding bangunannya. Selain sebagai hiasan pada arsitektur khas bernuansa Bali, ukiran bermotif tumbuhan biasanya ditujukan untuk penghormatan kepada keindahan dan kelestarian lingkungan atau sebagai simbol filosofi tertentu. Terkadang ukiran tersebut ditujukan sebagai corak magis yang diwarnai dengan huruf simbol mantra-mantra, contohnya adalah ukiran karang boma yang berbentuk seperti kepala raksasa. Rumah adat Bali dibangun sesuai aturan dari bagian kitab Weda, Asta Kosala Kosali, Asta Bumi dan lain lain yang fungsinya mengatur tata letak ruang dan bangunan. Menurut filosofi masyarakat Bali, keseimbangan dalam hidup akan tercapai apabila terwujud hubungan harmonis antara aspek pawongan (penghuni rumah), dengan palemahan (lingkungan) dan parahyangan (Tuhan). Intinya pembangunan rumah haruslah memperhati-

14

kan keseimbangan antara hubungan penghuni rumah dengan kelestarian lingkungannya dan hubungannya dengan Tuhan. Untuk arah bangunan sendiri, jika bangunan yang dibangun merupakan tempat suci atau keramat (pura, tempat peribadatan) biasanya akan bangunan tersebut akan dibuat menghadap ke gunung, karena pegunungan dianggap sebagai tempat suci oleh masyarakat Bali. Untuk dinding, warga biasa menggunakan rangkaian dinding kayu atau terbuat dari popolan (lumpur tanah liat), sedangkan warga berada seperti kalangan raja menggunakan dinding batubata. Rumah keluarga bangsawan biasanya disebut juga dengan puri. Umumnya satu bangunan rumah adat Bali terpisah-pisah menjadi banyak bangunan-bangunan kecil yang fungsinya berbeda-beda. Semua bangunan kecil tersebut dibatasi oleh satu pagar melingkar sebagai penanda batas antara rumah satu dengan yang lain. Contoh ruang-ruangnya antara lain adalah bale daja untuk ruang tidur atau menerima tamu penting, bale dauh untuk ruang tidur atau menerima tamu dari kalangan biasa, bale dangin untuk pengadaan upacara, dapur

untuk memasak, jineng untuk tempat lumbung padi, dan satu tempat suci untuk pemujaan. Namun kini seiring perkembangan zaman, satu rumah adat juga ada yang tidak lagi terpisah-pisah antara ruang satu dengan yang lain seperti halnya rumah modern yang umum dijumpai di masa kini.
Sumber : http://butikrumah. com/uniknya-arsitekturr u m a h - a d at - i n d o n e s i a bagian-1-rumah-adat-balirumah-adat-minangkabaudan-r umah-adat-sunda/ ; http://imadewira.com/ musim-hujan-dan-rumahmodel-bali/

15

Rumah Suku Baduy, Banten

arah barat juga timur dianggap tak baik dalam kehidupan orang Kanekes. Hal lain yang cukup mencolok dari pemukiman orang Baduy adalah harmonisasi antara lingkungan dan masyarakat. Mereka tak mengubah alam sesuai dengan anten merupakan salah kepentingan mereka. Justru sesatu provinsi muda di baliknya, mereka menyesuaikan Indonesia. Awalnya ia masuk ke dalam wilayah administrative Provinsi Jawa Barat. Banyak hal menarik di daerah ini, salah satunya adalah suku Baduy atau yang juga lazim dikenal dengan nama Urang Kanekes. Suku ini mengisolasi diri mereka dari dunia luar. hidup dengan apa yang ada di Meski demikian, pemerintah alam. Hasilnya adalah harmonmenetapkan rumah adat Banten isasi hidup yang terlihat jelas. adalah rumah adat suku Baduy/ Hal ini menjadi keunggulan Badui. Rumah tradisional ini tersendiri dari Urang Kanekes. berupa panggung dengan be- Berbicara mengenai rumah, ratapkan daun dan lantai dari suku Baduy dikenal dengan kepelepah bambu yang telah di- sederhanannya. Jika Anda cerbelah. mati, rumah mereka dibangun Sama seperti rumah adat di dengan tiang yang tidak sama wilayah lain, rumah tradisional rata. Tiang-tiang ini menyeBanten ini juga sarat akan ni- suaikan dengan kontur tanah. lai filosofis. Rumah khas suku Di daerah lain, tanah untuk peBaduy ini dibangun mengha- rumahan diratakan. Namun hal dap ke utara dan selatan sebab ini tak berlaku di tanah Baduy.

Tiang rumahlah yang menyesuaikan dengan permukaan tanah. Karena itu jangan heran jika Anda menjumpai rumah adat dengan tiang yang tingginya tidak sama. Hal lain yang menjadi signatur rumah orang Baduy adalah ketiadaan jendela di rumah. Untuk menikmati udara segar cukup dari lubang lantai yang memang terbuat dari susunan bambu atau dikenal juga dengan nama palupuh. Sama seperti rumah lainnya, rumah adat Banten ini juga dibagi ke dalam beberapa bagian utama antara lain bagian depan, tengah dan dapur atau bagian belakang. Bagian depan rumah suku Baduy dikenal dengan istilah Sosoro. Tempat ini lazim digunakan sebagai tempat untuk menerima tetamu. Dalam adat Urang Kanekes, tamu dilarang keras masuk ke dalam rumah bagian tengah. Hal ini dipengaruhi kepercayaan bahwa setiap orang luar yang datang selalu membawa pengaruh buruk. Karena itu, ia hanya boleh ada di wilayah netral yakni di depan rumah. Adapun tamu yang hendak menginap biasanya dibawa ke rumah kepala adat. Bagian lain dari rumah suku Baduy adalah dapur. Oleh karena lantai yang berupa bambu, maka tungku di dapur ini ditimbuni dengan tanah lengkap dengan sekat dari kayu. Hal ini dimaksudkan agar api tidak

16

mudah menjilat lantai dari bambu tadi. Di bagian dapur ini terdapat bagian bernama goa. Ia difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan beras maupun padi. Rumah adat Banten ini memang tepat diwakili oleh rumah suku Baduy. Kesederhanaan dan kearifan lokal yang mereka perlihatkan menjadi pegangan bagi masyarakat Banten yang dikenal religius. Rumah adat ini bukan sekedar simbol tetapi juga medium pengajaran bagi generasi muda di Banten khususnya dan Indonesia umumnya.
Sumber : http://kebudayaan1.blogspot. com/2013/11/mengenal-rumah-adat-banten. html

tiang berpondasi besar, ditopang lagi dengan tiang yang dipasang diagonal yang sama besar. Teknik ini merupakan bentuk penyesuaian terhadap gempa bumi yang selalu melanda daerah ini dengan kegiatan seismik Rumah Adat Nias yang tetap, dan juga menjadi ada beberapa daerah di ciri khas dari rumah tradisional Indonesia, tiang-tiang Nias. Di beberapa suku yang rumah tidak didirikan di masih mengenal peperangan atas umpak, namun langsung dengan suku lain yang tinggal di ditancapkan ke dalam tanah dengan tujuan memberikan keleluasaan pada bangunan saat terjadi gempa bumi. Pada rumah tinggal masyarakat Nias,

c. DI DAERAH PANTAI

sekitarnya, penggunaan rumah panggung juga berguna sebagai bentuk pertahanan suatu kampung akan adanya bahaya serangan musuh. Membangun rumah dengan pondasi yang ditinggikan membantu mer-

eka untuk mendeteksi bahaya serangan lebih dini sehingga mereka dapat mempersiapkan perlindungan ataupun perlawanan terhadap musuh yang akan menyerang. Rumah panggung juga melindungi manusia yang tinggal di wilayah dengan ancaman serangan binatang buas yang tinggi. Penggunaan teknik rumah panggung tidak hanya digunakan pada rumah tinggal, tetapi juga dapat dilihat pada lumbung-lumbung padi tradisional Indonesia. Tiang-tiang yang tinggi dan penutup dari piringan kayu membantu un-

17

tuk mencegah tikus untuk masuk ke dalam lumbung tersebut. Atap yang dibuat memanjang juga merupakan salah satu usaha manusia yang hidup di wilayah tropis untuk mendapatkan udara yang segar sehingga rumah terasa lebih nyaman untuk dihuni. Atap yang rendah seperti yang ada pada arsitektur rumah di Eropa akan membuat udara di dalam rumah terasa pengap dan menjadikannya tidak nyaman untuk dihuni. Di wilayah pesisir, rumah panggung didirikan sebagai bentuk adaptasi mereka yang tinggal di daerah berair. Rumah dengan pondasi yang ditinggikan ini melindungi mereka dari bahaya luapan air saat terjadi pasang, ataupun banjir.
Sumber : http://gudangarkeologi.blogspot.com/2013/05/rumah-panggung-bentuk-adaptasi-manusia.html

Fish House, Singapore

ungalow yang tropis-modern ini merangkum esensi hidup Guz Architects di iklim panas dan lembab Architects: Location: Singapore dari Singapura dengan menciptakan MSE Engineers: C&S Engineers Engineers: Herizal Fitri Consultants ruang terbuka yang mendorong ven- M&E Area: 726 sqm tilasi alami dan menawarkan peman- Gross Floor Area: 540 sqm Project Year: 2009 dangan penghuni ke laut. Photographs: Patrick Bingham Hall Konsep desain utamanya adalah untuk menciptakan sebuah rumah yang memiliki hubungan dekat dengan alam dan ini dicapai dengan memiliki kolam-kolam renang yang menghubungkan rumah dengan lanskap dan koneksi visual dengan laut. Atap yang melengkung, yang melambangkan gelombang laut, juga menekankan ide laut di dekatnya.
Sumber : http://www.archdaily.com/68115/fish-house-guz-architects/

18

d. DI ATAS PERAIRAN
Rumah Suku Bajau
umah Bajau terkenal dengan teknik menyambung kayu pada keduadua ujung punggungan . Selain itu, ada juga hiasan ukiran yang dikenal sebagai layang - layang . Biasanya rumah ini dibangun mengunakan kayu yang bulat untuk gelagar dan tiangnya , sedangkan lantainya terbuat dari bambu dan nibong ( kayu nipah ) . Dinding dan atap pula terbuat dari daun nipah yang telah disusun. Rumah ini terbagi dua yaitu keoyon dan serudung ( dapur ). Indung terdiri dariruang yang berfungsi sebagai tempat bersanding , tempat tidur anak lelaki , tamu dan turi adalah tempat tidur anak gadis dara yang dipisahkan dengan kain atau kadang kala tidak . Parapara berfungsi sebagai tempat menyimpan barang berharga seperti peralatan musik , senjata dan barang tembaga . Dapur dipisahkan dengan indung yang hanya dihubungkan menggunakan serambi yang dapat terhubung pantaran ( balkon ) . Tambak yang berbentuk rak yang terbuat dari tanah liat dan bagian atasnya disebut salaian untuk memanggang ikan dan juga untuk mengeringkan kayu api . Bagian ruang bawah rumah pula disebut diak tambak untuk menyimpan kayu bakar .

Sumber : bajau

http://www.scribd.com/doc/67209664/rumah-

19

Rumah di Danau Tempe


Kabupaten Wajo dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan sumberdaya perairan daratan yaitu Danau Tempe. Danau Tempe merupakan salah satu danau yang mempunyai potensi yang cukup besar di Propinsi Sulawesi Selatan. Secara administratif terletak dalam 3 wilayah administratif kabupaten yang berbeda, yaitu Kabupaten Wajo, Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Soppeng. Besarnya potensi tersebut menjadi modal utama dalam sistem ekonomi masyarakat setempat, terutama terhadap masyarakat nelayan tradisional yang menggantungkan hidup dari keberadaan danau. Danau Tempe adalah landmark pariwisata Kabupaten Wajo dan Branding Equator Of Asia yang dinyatakan pada pertemuan tingkat tinggi 4 negara di Asia timur (Brunei, Philipina, Malaysia dan Indonesia) yang tergabung dalam Forum East Asia Growth Area (EAGA) pada tgl 26 Maret 1994 di Dava City Philipina, melalui penandatanganan Agred Minutes. Sebagai tujuan wisata, Danau Tempe menyajikan beragam keunikan alam yang dikelilingi oleh jajaran gunung dan bukit, keunikan budaya komunitas nelayan tradisional dengan rumah terapung dan teknik pemanfaatan danau Tempe secara tradisional, serta tempat persinggahan sekelompok unggas/pelikan yang melintas dari Australia-Afrika ketika negara tersebut dalam musim gugur. Selain sebagai destinasi tujuan pariwisata danau Tempe, juga memegang peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan sebagai laboratorium alam yang tidak pernah habis untuk dikaji secara mendalam. Ditinjau dari segi sosial budaya, danau Tempe merupakan kebanggan masyarakat di sekitarnya. Bagi masyarakat nelayan tradisional, danau Tempe merupakan sumber mata pencaharian bagi nelayan setempat. Karakter khas yang dimiliki oleh masyarakat nelayan tradisional ditandai dengan teknik pemanfaatan danau Tempe secara tradisional yang hingga sekarang masih dipertahankan. Sesuai aturan adat setempat pemanfaatan Danau Tempe terbagi atas beberapa zona/kawasan yang berlaku setiap pergantian musim yaitu kawasan penangkapan ikan yaitu zona Cappeang-Palawang, Bungka dan Makkajalla, kawasan perlindungan yaitu zona Pacco Balanda dan zona keramat, kawasan bermukim terapung, dan kawasan vegetasi apung. Pembagian zona tersebut merupakan bagian dari pranata lokal masyarakat setempat. Selain itu masyarakat nelayan tradisional tersebut juga memahami secara personal tentang sistem adat dan larangan tertentu dalam memanfaatkan danau Tempe. Kekayaan tradisi juga tercermin dari upacara adat maccera tappareng sebagai momentum kebersamaan masyarakat setempat. Kearifan lokal tersebut menjadi keunikan yang menyatu dengan keberadaan danau Tempe. Keunikan tersebut masih dapat ditemui

20

di Desa Pallimae Kecamatan Sabbangparu. Karakter khas rumah terapung (kalampang) dan kekayaan tradisi menjadi daya tarik tersendiri Desa Pallimae sehingga menjadi desa tujuan wisata di Kabupaten Wajo baik lokal maupun mancanegara.
Sumber : http://fadhilplano07.blogspot.com/2012/03/danau-tempe-dulu-dan-sekarang.html

Kabang Moken, Rumah Perahu


rang Moken telah orang nomaden di laut selama setidaknya dua abad, sehingga mereka secara alami adalah pelaut dan pembuat perahu yang terampil. Beberapa dekade yang lalu, papan kayu dan mesin secara bertahap layar. The Moken-Kabang sekarang lebih tahan lama, tetapi pada saat yang sama, lebih sulit untuk dibuat dan lebih mahal untuk melengkapi dan menjalankan mesin.
Sumber : http://tc.revues.org/310

21

Rumah di Danau Deriza

i Danau Dariza, banyak rumah adat dari berbagai daerah yang bisa menjadi tempat menginap. Namanya Danau Dariza Hotel & resort di Cipanas, Garut. Tempat ini merupakan sebuah kawasan wisata keluarga berupa danau. Objek wisata yang hanya berjarak tempuh tiga jam dari Jakarta ini menawarkan penginapan dengan konsep pondok berbentuk rumah adat, seperti rumah Gadang dari Padang, rumah adat Kesepuhan Sunda, rumah Toba Batak, Nusa Tenggara dan Bali. Lokasi sempurna untuk liburan akhir minggu Anda. Panorama indah, alam yang segar dan kesejukan Gunung Guntur yang terkenal dengan pemandian air panas belerangnya, Gunung Hijau dan Gunung Puteri yang melingkupi adalah nilai plus yang dapat Anda nikmati selama berkunjung di Danau Dariza Hotel & resort. Ketika menyusuri aliran danau buatan dengan perahu kecil, mungkin kenangan Anda akan terbawa ke kota Venesia, tempat air dan bangunan begitu menyatu dalam jalinanan kanal dan perahu. Fasilitas di kawasan wisata Danau Dariza memang tidak jauh-jauh dari aktivitas air, seperti kegiatan memancing, kolam renang dengan water boom, jacuzzi, sepeda air, perahu dayung. Namun ada juga lahan yang tidak basah yang dapat Anda manfaatkan untuk berolahraga kecil seperti jogging atau sebagai taman bermain si kecil.

Sumber : http://manismanja.wordpress.com/2011/02/25/nyaman-nginap-di-rumah-adat-danau-deriza/

22

2.

ARSITEKTUR IKLIM SUBTROPIS

sdasdsadadsadasdasdasdasdasdsa sdasdasdasdasdasdas asda sdassa ds as das dss d adasd sdasdsadadsadasdasdasdasdasdsa sdasdasdasdasdasdas asda sdassa ds as das dss d adasd sdasdsadadsadasdasdasdasdasdsa sdasdasdasdasdasdas asda sdassa ds as das dss d adasd sdasdsadadsadasdasdasdasdasdsa sdasdasdasdasdasdas asda sdassa ds as das dss d adasd

e. PADA DATARAN TINGGI


Log House, Alaska

Log House / Rumah Kayu Batang bukanlah suatu kemewahan, tapi adalah gaya hidup bagi orang yang tinggal di tempat dingin seperti alaska. Rumah ini memungkinkan Anda untuk dikelilingi oleh alam. Log house adalah hasil dari buatan tangan (handicraft), ini menjadi keunikan tersendiri. Material utama yang digunakan adalah kayu gelondongan, selain karena mudah didapat di daerah tersebut, penggunaan material kayu membantu memberikan kehangatan pada suhu dingin.
Sumber : http://www.huskylogwork.com/

23

Yoshinogari Dwellings

oshinogari terletak di bagian utara dari Saga Prefecture. Sekitar 10 kilometer (6,2 mil) utara dari Saga City dan sekitar 30 kilometer (19 mil) selatan dari Fukuoka. Wilayah Yoshinogari sangat sempit dari utara ke selatan. Bagian selatan terdapat ujung utara Chikushi Plains (bagian dari Saga Plains), dan di sebelah utara Nagasaki Expressway adalah ujung selatan Gunung Sefuri. Pada tahun 1986, sisa-sisa masa parit-dikelilingi desa Yayoi ditemukan di Bukit Yoshinogari di lokasi yang direncanakan menjadi kompleks pabrik. Daerah itu bernama situs Yoshinogari dan nama kota berasal dari sini. Perumahan Yoshinogari ini dikenal dengan nama Pit-Dwelling yang berarti rumah lubang atau rumah lorong. Dilihat dari bentuknya, rumah ini mirip dengan rumah-rumah tradisional lain yang terletak di dataran tinggi. Sejarah : April 1, 1889 - Sistem modern kota didirikan, dan wilayah kota terdiri dari Mitagawa Village dan Higashi-Sefuri Village. April 1, 1965 - Desa Mitagawa menjadi Mitagawa Town. 1 Maret 2006 - Mitagawa Kota dan Higashi-Sefuri merge desa untuk membentuk Kota Yoshinogari
Sumber : http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Yoshinogari.jpg, http://en.wikipedia.org/wiki/Yoshinogari,_Saga

24

Longjie Dragon Terrace

ongjie adalah sebuah dataran tinggi di wlayah Quangxi China... Arti Longjie sendiri adalah Tulang Belakang Naga (Dragon Backbone) sering disebut juga Dragon Backbone Terrace, mungkin karena di Longjie adalah dataran tinggi yang disemua sisinya adalah sawah teras siring yang membentuk lapisan lapisan dan melengkung seperti bentuk tulang punggung naga.... Dataran tinggi Longjie sendiri berada pada sekitar 1500 meter dari permukaan laut, sayangnya saat saya mengunjungi Longjie pada medio akhir Oktober 2011, disana sedang musim panas, dan sehabis panen padi... mungkin saat saat terbaik untuk mengabadikan teras siring di Longjie adalah saat muasim hujan, mungkin sekitar bulan Juni.. sehingga sawah sawah di Longjie sedang ada airnya... saya melihat beberapa foto di buku buku fotografi, sangat luar biasa pemandangan di Longjie saat musim tanam padi.. refleksi matahari diatas air di setiap teras siring tampak sangat indah sekali....
Sumber : http://imamfauzi.com/berita-141-longjie-dragon-terrace.html

Rumah di Alpen
Rumah yang terletak di sekitar pegunungan, menghadapi suhu dingin rumah ini memiliki temboktembok yang tebal yang dikombinasikan dengan pemakaian kayu, tentu saja ada fireplace untuk menghangatkan diri. Tidak ada yang begitu unik atau perbedaan pada rumah ini, dibanding dengan arsitektur dataran tinggi lainnya. Sumber : http://kiwisineurope.wordpress.com/2013/04/04/day-ninety-one-23-03-13/

25

High Hills House, Stowe

empat yang tenang dan nyaman hanya dua menit berkendara dari Desa Stowe. Luas dan penuh cahaya, ada perapian pembakaran kayu . Terlihat dari interiornya, pemilihan warna ditujukan untuk memberikan suasana hangat.

area pintu masuk yang terpisah . 3 . Dapur - blok counter, bar tempat duduk untuk 2 orang. 4 . Ruang Keluarga- ruang terang yang indah dengan jendela pada tiga sisi , perapian pembakaran kayu , pintu gaya Perancis, dek dan tempat duduk yang nyaman untuk 4 +. 5 . Ruang Makan - tempat duduk yang luas untuk 4 + , pemandangan taman belakang dan pintu ke belakang dek 6 . lantai bawah - Ruang TV besar dengan dengan sofa queen pullout 7 . Bathroom 8 . Kamar tidur - High Hills memiliki dua kamar tidur terpisah , di lantai utama ada kamar tidur queen yang memiliki akses terdekat ke kamar mandi dan lantai atas adalah kamar tidur utama dengan queen bed dan kamar mandi lengkap . ( Ada juga dua sofa , satu bawah & satu di ruang tamu ) .
Sumber : http://www.beckwithrentals.com/html/vacation_rentals/Stowe/1Guest/HighHills. htm

1 . Terletak di daerah perbukitan tinggi, 2 . Pintu masuk - teras tertutup, masuk ke

4 3

8 7

26

Highlands House
Tim Desain Tom Kundig, Design Principal Les Eerkes, Staff Lokasi & Tahun Highlands, NC, 2008 Tipe Bangunan Houses/Apartments

Rumah untuk liburan keluarga ini berlokasi di areal berhutan di daerah pedesaan North Carolina. Menangkap pengalaman menyenangkan dari rumah pohon, struktur dibangkitkan dari tanah untuk meningkatkan pandangan dan mengurangi potensi banjir. Dibangun di atas struktur baja, rumah menggunakan batu tulis lokal, penutup dinding kayu horizontal dan atap logam untuk membuat kesan informal.
Sumber : http://www.olsonkundigarchitects.com/Projects/157/ Highlands-House#

27

Rumah di Limekiln Line, oleh Studio Moffit

umah dengan atap segitiga yang dikelilingi oleh tanaman ini adalah rumah pertanian mandiri di Ontario yang dirancang oleh Studio Moffitt . Dikelilingi pada setiap sisi dengan jagung , gandum , barley dan jerami. Ini adalah sebuah rumah dua lantai di perkebunan dengan luas sepuluh hektar di Huron County. Studio Moffit menggunakan cladding baja galvanis untuk menciptakan hubungan ke agrikultural vernakular . Deck kayu diposisikan pada tiga dari empat lantai dan termasuk salah satu yang cabangnya keluar seperti dermaga . Rumah selesai pada kontrak desain - dan - membangun , yang melibatkan desainer Lisa Moffitt tinggal di lokasi selama proses konstruksi .

rada di 25 hektar daerah pertaKediaman sepenuhnya off-grid nian di Huron County, Ontario dan dengan mandiri menghasil- . Situs ini dalam fluks konstan karena pergeseran kondisi diurnal dan tahunan terkait dengan cuaca , budidaya dan pekerjaan . Rumah duduk ringan di tanah saat mendaftar dan memperkuat kondisi spesifik lanskap produktif ini luas : ia frame pemandangan menghadap selimut tanaman pergeseran berdekatan dengan rumah dan bertindak sebagai datum untuk pergeseran topografi yang ada di situs. Rumah dikalibrasi untuk memungkinkan pandangan ke dalam dan melalui rumah , memfasilitasi ekspansi visual spasial interior . Dek selatan diperpanjang dan dek yang digunakan untuk berjalan menawarkan ruang ambang batas barat yang memperpanjang pengalaman eksterior di lokasi Rumah adalah off-grid dan bertemakan sustainability . Langkah-langkah ini mengurangi baik konsumsi energi operasional dan diwujudkan , dan diintegrasikan ke dalam desain kohesif . Tapak dan orientasi memfasilitasi pemanasan dan pendinginan pasif . Sebuah dek selatan dermawan blok overhang matahari musim panas sementara memungkinkan matahari musim dingin untuk memanaskan lantai massa termal beton . Meriam windows merata memfasilitasi musim panas ventilasi silang dan efek tumpukan membersihkan panas . Jendela kaca tiga , amplop sangat terisolasi rinci untuk mengurangi panas menjembatani , dan penggunaan peralatan efisiensi tinggi memastikan bahwa konsumsi energi yang dibutuhkan

kan listrik sendiri menggunakan panel surya di atap . Material jendela adalah triple-glazed untuk mencegah kehilangan panas, sedangkan lantai beton bertindak sebagai massa termal . Pada musim panas yang hangat kanopi membantu menghalangi bagian selatan dari sinar matahari langsung , sedangkan jendela pada setiap elevasi dapat dibuka untuk memberikan ventilasi silang . Air bersumber dari sebuah sumur di samping rumah . The House on Limekiln Line be-

28

untuk melayani rumah rendah . Rumah menawarkan kembali ke lanskap budaya di lahannya . Bahasa arsitektur eksterior, monolitik dengan baja galvanis , diinformasikan oleh vernakular pertanian lokal untuk memastikan koherensi visual dalam lanskap dan untuk memfasilitasi konstruksi dengan bahan lokal. Sebagai proyek rancang-bangun , konstruksi diselesaikan terutama oleh petani loka. Para petani dengan pengrajin setempat memastikan bahwa rumah berakar pada praktek-praktek pembangunan yang inovatif dan penghematan. Sumber:
http://www.dezeen.com/2013/02/20/house-onlimekiln-line-by-studio-moffitt/

29

f. PADA DATARAN RENDAH


Rumah Modern di South Coast

odd Cooper dan Giuseppe Sironi telah membangun rumah bergaya modernis dibagian dari sebuah rumah pantai tahun 1970-an di West Sussex

Sumber : http://www.homebuilding.co.uk/design/ houseplan/a-moderniststyle-home-on-the-southcoast

Rumah Elysium 154

pangan tenis , spa, fasilitas air ) taman utara. Finishing dindtaman dan cagar alam yang terletak di pedalaman dari pantai Noosa berdekatan dengan Danau Weyba. Pemandangan indah dari situs mempertahankan kantong besar vegetasi yang ada dan diberikan pandangan jauh ke Sunshine Coast hinterland di luar . Rumah ini memiliki site yang benar-benar indah , perlahan melandai dari jalan di sebelah selatan menuju sebuah taman kecil dan ruang terbuka ke utara. Dinding melengkung dan bentuk yang mengidentifikasi rumah ini dihasilkan oleh respon intuitif untuk mencapai kedua aspek utara - timur dan pemandangan ke daerah

BVN Arsitektur telah merancang Elysium 154 Rumah di Noosa , Queensland , Australia. The Elysium 154, Proyek Noosa , adalah pembangunan perumahan untuk sub - divisi terakhir dalam daerah yang sangat diminati Noosa. Situs besar yang terdiri dari 189 rumah , fasilitas rekreasi komunal ( la-

30

Se-

ing bertekstur melipat kembali ke dalam interior hunian di sepanjang dinding dan langitlangit di mana tepi bertransisi dengan dinding dengan halus, memungkinkan ambang antara dalam dan luar terdistorsi . Suasana ruang taman dan kolam renang luar ke dalam gedung diperkuat dengan pengalaman subtropis mewah .

g. DI PERAIRAN
Rumah Apung oleh Dymitr Malcew
Dengan mudah di dermaga marina, rumah terapung yang dirancang oleh Dymitr Malcew ini merupakan struktur mobile house yang dapat diangkut ke lokasi yang berbeda-beda. Rancangan proyek ini berbasis gagasan hunian mungil di lokasi perairan yang tenang. Rancangan ini menawarkan pengalaman luar biasa menikmati hunian pribadi di tengah laut. Dibuat untuk selalu bisa terapung, rumah unik ini menyediakan mentara itu, atap koneksi visual yang maksimal ke sekelilingnya. Interior semua kamar pun memiliki akses langsung ke teras di sekelilingnya. Hal ini setidaknya memungkinkan dunia luar berbaur masuk ke dalam bangunan dari platform terapung yang lembut bergerak dari satu tempat ke tempat lain. rumah ini dibuat dengan kolom yang dipisahkan dari dinding tirai kaca. Solusi ini memungkinkan untuk menahan gerakan-gerakan kecil yang disebabkan oleh permukaan air tidak merata. Yang pasti, cahaya alami dapat menembus leluasa ke dalamnya sehingga selalu menyegarkan sirkulasi udara.
Terapung.untuk.Perairan.Tenang.

Sumber : http://properti.kompas.com/ read/2013/11/22/1138017/Mengintip.Rumah.

31

Floating House oleh Vandeventer Carlander Architects


Floating House didesain oelh Vandeventer + Carlander Architects. Berlokasi di Lake Union, Seattle, Washington. Material eksterior dipilih berdasarkan pertimbangan kualitas estetika dan perawatan. Jendela pada bagian depan, ketinggian diatas air menggunakan panel aluminium, dan oanel slat-escape extreme bercampur dengan jendela Alaskan Yellow Ceder pada lantai dua. Bagian eksterior merefleksikan langsung pengembangan interiornya
Sumber : http://worldhousedesign.com/modern-house-design/floating-house-design-byvandeventer-carlander-architects/

32

Rumah Apung di Alaska


Di daerah Alaska juga terdapat rumah-rumah apung yang pada umumnya juga dipakai sebagai tempat berdagang, ada beberapa rumah yang bisa dijadikan sebagai canoe juga.

33

3. DI DAERAH KUTUB

h. ARKTIK
Ciri-ciri arsitektur iklim dingin: Radiasi panas tidak pernah tegak lurus Jumlahnya minim walau di musim panas. Di belahan utara matahari hanya tampak di selatan, terbit di timur, tapi tidak-pernah tinggi dan sudah turun lagi. Pada musim panas matahari tidak pernah tenggelam (kadang-kadang) dan pada musim dingin matahari kadang-kadang tidak muncul, dan angin dingin kencang sekali. Terang langit sedikit sekali dan iluminansinya rendah matahari tidak seterang di khatulistiwa. Kelembaban tinggi karena adanya penguapan es Strategi Kinerja Bangunan: Membatasi pertukaran udara dalam dan luar, karena pertukaran udara membawa serta energi panasnya. Bentuk bangunan rendah, tahan angin, stream line, dan tidak menahan angin dingin Bukaan-bukaan untuk menangkap cahaya matahari sudah tidak layak, karena terlalu kecil pengaruhnya. Bahan-bahan yang dipakai mempunyai berat jenis besar, time lag panjang, konduktivitas panas kecil, masif dan tebal Bangunan cenderung membulat untuk mencegah pengeluaran panas.

Masa-masa bangunan cenderung disusun kompak menjadi satu dan padat, dengan bukaan-bukaan tersembunyi dan kecil.

Igloo / Snowhouse
Igloo merupakan rumah atau tempat tinggal sementara orang-orang Inuit (penduduk asli Amerika). Igloo bentuknya seperti kubah dan terbuat dari es yang sudah mengeras, selain itu juga ditambahkan kerangka-kerangka binatang sperti kerangka ikan paus dan juga kulit hewan sebagai pelapis. Saat ini, kalau mau nyari Igloo, datang aja ke daerah Arktik Tengah, Kanada atau di Thule, Greenland. Nama Igloo sendiri sebenarnya mempunyai arti rumah dalam berbagai bentuk. Namun, barubaru ini orang-orang disana sering menyebutnya menjadi Igluvigaq yang berarti rumah dari salju. Untuk membuat sebuah Igloo, kita memerlukan salju yang sudah mengeras. Salju yang keras ini bukan berarti susah juga untuk dipotong. Salju yang baik untuk membuat Igloo adalah keras namun lunak untuk dipotong. Blok-blok salju nantinya dipotong dan dibuat untuk menopang satu sama lain. Susunan blok nantinya akan mengikuti arah jarum jam dan tiap blok semakin lama semakin tinggi bentuknya. Bila dibangun dengan benar, bagian atap kubah igloo sanggup menahan berat satu orang yang berdiri di atasnya. Panas dari lampu tradisional Inuit yang disebut qulliq bisa melumer-

kan es pada bagian dalam igloo, tapi bagian es yang mencair bisa segera beku kembali dan membentuk lembaran es baru yang menambah kekuatan bangunan igloo. Ruang tidur terletak di bagian dalam rumah yang lebih tinggi daripada ruangan yang ada di dekat pintu masuk. Bagian dalam igloo yang lebih rendah merupakan ruangan tempat udara dingin berkumpul, karena udara dingin yang mempunyai berat jenis tinggi mengalir ke bawah. Sebaliknya, udara panas yang mempunyai berat jenis rendah mengalir ke atas, sehingga ruang tidur tetap hangat bila dipasang pemanas, lampu, atau tidur dengan hanya memakai selimut. Jangan sangka kalau di dalam Igloo itu dingin. Di dalam Igloo suhunya malah menjadi panas. Kenapa bisa??? Panas di dalam Igloo disebabkan karena rumah Igloo yang terbuat dari es atau salju memi-

34

liki sifat yang tidak mudah menghantarkan panas (isolator). Panas itu sendiri berasal dari dalam tubuh kita sehingga panas tubuh kita tetap tertahan didalam iglo dan kita merasa hangat didalam iglo,sama halnya mengapa kita merasa hangat kalau pakai selimut saat udara dingin. Selain itu, panas tersebut juga dapat berasal dari lampu yang dinyalakan di dalam Igloo. Untuk meningkatkan panas, dapat juga digunakan kulit binatang supaya di dalam Igloo lebih hangat lagi. Kulit hewan ini dapat meningkatkan suhu lebih hangat 10oC

35

BAB III
4.

PeNUtUp
kebutuhan dari aktivitas manusia sendiri.

KESIMPULAN

Perbedaan geografis menciptakan beragam tempat dan iklim yang berbeda-beda, dalam perkembangannya ini membuat manusia yang tinggal pada daerahnya masing-masing memiliki gaya arsitektur atau lingkungan buatan yang berbeda-beda untuk menyesuaikan dengan lingkungan. Ini juga berpengaruh kepada pengetahuan dan teknologi arsitektur pada masing-masing daerah, di daerah subtropis misalnya, iklim yang menyulitkan ini justru memaksa orang-orang subtropis untuk mencari cara menyesuaikan diri atau bahkan menciptakan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungannya. Ini membuat orang-orang di daerah subtropis cenderung lebih maju. Walaupun demikian orang-orang di daerah lain seperti daerah tropis maupun arktik tetap memiliki keunikan sendiri dalam arsitekturnya. Pada dasarnya memang arsitektur diciptakan untuk mewadahi aktivitas, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan maka kedepan seharusnya rancangan arsitektur semakin bijaksana dalam menangani masalah lingkungan maupun

5.

SARAN

Memang sudah seharusnya perancangan arsitektur mempertimbangkan iklim dan sumber daya ataupun kearifan lokal, kesuksesan perancangan arsitektur dengan memperhatikan lokalitas ini sudah dibuktikan oleh keberadaan arsitektur vernakular, namun di era modern ini penggunaan bahan-bahan memang tidak sepenuhnya harus menggunakan bahan tradisional, setidaknya dalam perancangan arsitektur diterapkan konsep ramah lingkungan.

37