Anda di halaman 1dari 18

KARAKTERISTIK EKOSISTEM PERAIRAN MENGALIR

(Studi Kasus : Sungai Ciapus, Desa Cangkurawok)

WahyuAzizi (*), NurulMusyariafahYahya (**), M. Yusuf Fikri (***), HestiPratiwi (****), Endang Sri Wahyuni (*****), LisdaAndriana (******)
Asisten Pendamping FitriantiSofyan (C54100042)

Abstrak

Praktikum tentang perairan mengalir ini dilakukan pada tanggal 07 Oktober 2013 di Sungai Ciapus Kec. Cangkurawok Dramaga. Ekosistem perairan mengalir merupakan perairan terbuka yang dicirikan dengan adanya arus dan perbedaan gradien lingkungan serta interaksi antara faktor biotik dan abiotik. Salah satu bentuk dari perairan mengalir adalah sungai. Sungai memiliki beberapa ciri antara lain : memiliki arus, resident time (waktu tinggal arus) cepat, organisme yang ada memiliki adaptasi biota khusus, substrat umumnya berupa batu, kerikil, pasir, dan lumpur, tidak terdapat stratifikasi suhu dan oksigen, serta sangat mudah mengalami pencemaran dan mudah pula menghilangkannya. Faktor yang diamati adalah parameter fisika yang diukur meliputi suhu, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus dan konduktivitas. Sedangkan parameter kimia yang digunakan yaitu pH yang diukur dengan menggunakan pH meter. Hal-hal yang mempengaruhi ekosistem perairan adalah faktor fisika dan kimia, faktor kimia dan faktor fisika akan mempengaruhi jumlah, komposisi, keanekaragaman jenis, produktivitas perairan. Tujuan dari praktikum ini untuk mengenal dan mengetahui karakteristik serta komponenkomponen ekosistem perairan mengalir. Hasil yang didapatkan yaitu dapat mengetahui warna dari perairan mengalir adalah bening, kedalaman yang didapat adalah 15,5 61, kecerahan antara 8 53,5, tipe substrat adalah batu, arus sebesar 2,06 2,98, pH sebesar 7. Fitolankton yang paling banyak adalah jenis Mougeutia. Jenis zooplankton yang paling banyak adalah Ceratium. Jenis perifiton yang paling banyak adalah Tabellaria. Jenis benthos yang paling banyak adalah Goniobasis. Kata kunci : Ekosistem mengalir, ciri-ciri, parameter, komponen

PENDAHULUAN

Dua pertiga dari luas bumi yang kita tempati merupakan perairan. Pada ekosistem perairan dikenal dua macam ekosistem yang lebih spesifik yaitu ekosistem perairan menggenang (lentik) dan ekosistem perairan mengalir (lotik). Perairan mengalir merupakan perairan terbuka yang dicirikan dengan adanya arus. Perbedaan gradien lingkungan dan interaksi antara komponen biotik dan abiotik yang ada di dalamnya. Perairan mengalir memiliki kriteria atau ciri-ciri, yaitu mengalir searah, debit air yang fluktuasi, bentuk yang memanjang dasar dan tepian yang tidak stabil dan kedalamannya yang realtif dangkal. Pada ekosistem air mengalir (habitat lotik) memiliki berbagai macam contohnya mata air, aliran air atau sungai, selokan dan sebagainya. Sungai merupakan salah satu contoh dari perairan mengali, sungai terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian hulu,bagian tengah sungai dan bagian hilir, yang meimiliki ciri tersendiri. Berbagai macam fungsi sungai yaitu, mencukupi kebutuhan sehari hari,sebagai sumber tenaga listrik,sebagai sumber air minum untuk masyarakat, sebagai perairan (irigasi), dan sebagai sarana rekreasi dan olahraga. Pada ekosistem perairan mengalir dasar perairan merupakan suatu hal yang penting sekaligus menentukan sifat komunitas serta kerapatan populasi dari komunitas.

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

Komponen biotik yang ada di sungai antara lain benthos, neuston, nekton, perifiton, dan plankton. Sedangkan komponen abiotiknya antaralain substrat, air, oksigen dll. Dasar perairan yang memiliki materi seperti batu merupakan habitat yang baik bagi organisme untuk melekat atau menempel (Odum 1998). Banyak faktor pembatas yang cukup penting pada habitat air tawar, yaitu suhu, kecerahan, arus dan lain lain. Dalam perairan mengalir memiliki suhu yang rendah karena terdapat degradasi suhu dimana semakin ke tengah maka suhunya akan semakin dingin. Memiliki kejernihan air yang baik dibandingkan dengan perairan menggenang tetapi tergantung dari sumber limbah yang mencemarinya, jika terdapat limbah yang banyak di dalam sungai tersebut maka akan semakin keruh perairannya, mempunyai arus dan biasanya organismenya yang menempati mempunyai adaptasi khusus dalam mempertahankan diri dalam melewari arus. Beberapa diantaranya adalah melekat permanen pada substrat yang kokoh seperti batu, batang kayu atau massa daun. Jadi, praktikum ini perlu dilakukan dalam rangka mengenal lebih jauh mengenai komponen-komponen penyusun ekosistem perairan mengalir beserta interaksinya, dilakukanlah observasi lebih lanjut, observasi pada praktikum kali ini dilakukan di daerah desa Cangkurawok dilakukan dengan cara mengambil sampel fisika, biologi dan kimia. Parameter biologis, kimia, dan fisika bisa menunjukkan seperti apa hubungan yang terjadi antara factor biotic dan abiotik di sungai tersebut. Ekosistem tidak lepas dari hubungan antara faktor biotik dan abiotik.Di dalamnya terdapat hubungan timbal balik antara komponen biotik dan abiotiknya. Tujuan praktikum ini adalah mengenal karakteristik dan komponen-komponen penyusun ekosistem perairan mengalir dengan parameter fisika, kimia dan biologi. Dalam kehidupan makhluk hidup sungai dapat berfungsi sebagai irigasi, pemenuhan kebutuhan air minum, sebagai media transportasi, sebagai media perairan(irigasi) dan lain-lain.

METEDOLOGI

Praktikum pengambilan samel dilaksanakan pada tanggal 07 Oktober 2013 yang bertempat di Sungai Ciapus, Desa Cangkurawok, Bogor Jawa Barat.

Gambar 1. Lokasi Desa Cangkurawok Koordinat : 6 33' 11"S 106 43' 50" Sumber : Google maps (2013)

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

Alat-alat yang digunakan dalam pengambilan sampel sebagai berikut, transek kuadrat, secchi disk, pipa paralon 3 inchi, termometer, sikat gigi, plastik berukuran 1 kg, ember berukuran 10 liter, botol film, karet gelang, kertas label,alat tulis, serok, cutter, kamera, plankton net,teli rafia sepanjang 30 meter untuk mengihitung lebar sungai, surber dan bola pingpong yang sudah diikat dengan tali kasur untuk mengetahui arus yang terdapat di sungai tersebut. Bahan yang digunakan adalah larutan lugol, formalin, serta akuades.

Metode Pengambilan Sampel Pengambilan sampel dibagi atas 3 stasiun dan setiap stasiun diambil parameter fisika, kimia, serta biologinya. Parameter fisika yang di perhatikan adalah warna perairan, tingkat kecerahan, suhu, kedalaman tipe substrat, kecepatan arus di dalam area transek kuadrat, lebar sungai dan badan sungai. Warna perairan diamati dengan meliat lingkungan di sekitar sungai, tingkat kecerahan sungai dapat diukur dengan menggunakan secchi disk. secchi disk diikat dengan tali tambang dan di bagian bawah secchi disk dikat sebuah batu lalu secchi disk diturunkan kedalam air hingga secchi disk tidak terlihat maka didapat data 1 (d1) kemudian sechhi disk perlahan dinaikan tepat pertama kali secchi disk terlihat saat dinaikan maka didapatkan data 2 (d2). Mengukur kedalaman perairan dengan memasukan paralon yang sudah di beri skala. Pengamatan suhu perairan pada 3 stasiun dengan menaruh termometer ke dalam daerah transek kuadrat, pengulangan dilakukan secara diagonal dalam daerah transek kuadrat tersebut. Kecepatan arus diukur menggunakan bola pingpong yang diisi air sebanyak setengah dari volume bola pingpong yang bertujuan untuk menyesuaikan aliran arus sungai dan bola pingpong di ikat dengan tali kasur, lalu dihitung menggunakan stopwatch. Parameter kimia dalam praktikum ini adalah pH. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter yang di celupkan kedalam air samle per substasiun lalu cocokan dengan warna yang terdapat di kotak pH meter tersebut. Parameter Biologis yaitu meliputi bentos, perifiton, nekton, plankton dan neuston. Untuk pengambilan bentos yaitu dengan menggunakan surber dengan cara dimasukkan ke dasar perairan dengan bukaan alat berlawanan dengan arah arus, kemudian dasar permukaan sungai yang ada di wilayah persegi surber tersebut diaduk-aduk agar bentos tersaring dalam surber. Pengambilan perifiton yaitu dengan cara mencari substrat seperti batu atau batang kayu kemudian batu atau batang kayu yang ditemukan menggunakan tarnsek kecil dari tutup kaleng berukuran 2x2 cm substrat dikerik menggunakan sikat gigi kemudian dimasukan ke dalam botol sampel. Pengambilan plankton menggunakan plankton net dengan menyaring air kedalam plankton net, air yang disaring sebanyak 10 liter sebanyak 10 kali sehingga didapat sampel plankton dan dimasukan kedalam botol sample. Pengambilan sampel nekton menggunakan saringan lalu dimasukkan kedalam botol sampel.

Analisis Laboratorium dan Analisis Data Analisis laboratorium dan analisis data dilakukan dengan cara perhitungan manual melalui rumus-rumus yang telah ditentukan dan juga dilakukan pengamatan baik secara langsung maupun

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

menggunakan alat yaitu mikroskop terhadap organisme yang didapatkan dari lapangan. Rumus yang digunakan yaitu :

a. RumusKelimpahan Plankton (N) = b. RumusKelimpahanPerifiton (N) = c. RumusKelimpahanBentos (X) = d. RumusKecerahan ( ) Keterangan: N n A x X M n d d1 d2 Vt Vcg Vs Vp = Kelimpahan plankton danperifiton = Jumlahplankton,perifiton yang tercacah (ind) = Luasbidangkerikan (cm) = Lumlahindividupersatuanalat (ind) = Kepadatanbentos (ind/m) = Luasbukaanmulut (0,0045 m ) = Jumlahpengulangan = Kecerahan (cm) = Kedalamansecchi disksaattidakterlihat (cm) = Kedalamansecchi disksaatterlihat (cm) = Volume terkonsentrasi (ml) = Volume dibawahcofer glass (ml) = Volume air yang disaring (ml) = Volume sampelperifiton(ml)
2

Hasil dan pembahassan Lingkungan Perairan Parameter fisika menunjukan warna, suhu, kedalaman, kecerahan, dan tipe substrat yang terdapat pada situ, sedangkan parameter kimia terdapat pH. Berikut ini adalah data parameter fisika dan kimia dari zona I, II, III.

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

Parameter Warna Fisika Suhu Kedalaman Kecerahan Tipe Substrat Arus Lebar sungai Lebar badan sungai pH

Unit C cm cm m/s
0

Kimia

Zona I Tidak berwarna 30-31 15,5-20,5 8 Batu 2,06 33 m 31 m 7

Zona II Tidak berwarna 28-30 54-61 53,5 Batu 2,09

Zona III Tidak berwarna 29-30 39-43 32 Batu 2,98

Tabel 1. Parameter Fisikadan Kimia Ekosistem Perairan Sungai Ciapus

Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, hasil yang di peroleh menunjukkan bahwa terdapat kesamaan pada warna sungai pada setiap stasiun. Kesamaan warna pada perairan sungai dikarenakan substrat pada perairan sungai hampir sama dan materi yang terbawa oleh arus tidak jauh berbeda. Selain itu, letak setiap stasiun berdekatan satu sama lain sehingga warna tidak memiliki perbedaan. Suhu memiliki perbedaan sekitar 1-2 C karena adanya arus air yang tidak sama dan keadaan cuaca di sekitar sungai. Suhu baik bagi organisme untuk suhu yang berkisar antara 23-35 C (Odum 1971). Untuk kedalaman terlihat di dalam data bahwa kedalaman memiliki beragam nilai pada setiap zonanya, pada zona I terlihat kedalaman berkisar antara 15,5-20,5 cm , pada zona II berkisar antara 54-61 cm, serta zona III berkisar antara 39-43 cm. Kecepatan arus pada data memiliki nilai yang berbeda, pada zona I yaitu 2,06m/s, zona II 2,09m/s, dan zona II 2,98m/s. Kecepatan arus ditentukan oleh kemiringan, kekasaran, kedalaman, dan kelebaran dasar sungai (Odum,1998). Lebar sungai yaitu 33 meter dan lebar badan sungai yaitu 31 meter. Kecerahan suatu perairan dapat dilihat dari seberapa dalam cahaya dapat masuk ke dalam air. Berdasarkan hasil sampling menunjukan tingkat kecerahan pada zona I yaitu berkisar antara 8 cm, pada zona II berkisar antara 53,5 cm, dan pada zona III yaitu berkisar antara 32 cm. Data tersebut menunjukan kisaran kecerahan pada perairan mengalir dan pada setiap zona bervariasi sehinngga menyebabkan perbedaan yang signifikan terhadap keberadaan organisme baik plankton maupun ikan yang ada pada zona tersebut. Selain itu pengukuran kecerahan juga diperlukan untuk menentukan besarnya produktifitas primer dalam perairan.(Odum 1998).
0 0

BIOLOGI Plankton Plankton adalah organisme yang umumnya melayang dalam air memiliki kemampuan ruang yang sangat lemah dan distribusinya dipengaruhi oleh gerakan massa air. Keragaman jenis plankton merupakan parameter yang digunakan dalam mengetahui suatu komunitas. Parameter ini mencirikan kekayaan jenis dan keseimbangan dalam suatu komunitas, akhir-akhir ini terjadi penurunan yang menjadikan keragaman fitoplankton rendah. Ekosistem dengan keragaman rendah adalah tidak stabil dan rentan terhadap pengaruh tekanan dari luar dibandingkan dengan ekosistem yang memiliki keragaman tinggi (Boyd 1999). Fitoplankton selain berfungsi dalam keseimbangan ekosistem perairan budidaya, juga berfungsi sebagai pakan alami di dalam usaha budidaya.

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

Spesies Mougeutia Gonatozygon Plosterium Cynedra Nitzschia Ankistrodesmus Aphanizomenon Closterium

zona I (ind/L) 24, 791 5,667 5,667 5 2,333 18,667

zona II (ind/L) 2 2 4 6 2 12 8 8 16 2 62

zona III (ind/L) 6,667 140 106,6667 13,333 26,667 6,667 13,333 53,333 6,667 373,3337

Plankton

Navicula Netrium Pormidium Tabelaria Bulbochaete Caetophora Gamphonema Mesotaenium Spirulina

TOTAL

Spesies Ceratium Chilodonela Epistilis Hartmanela Mayorella Spirostomum Thecamoeba Varticella Notholca Paranema Pleodorina Trinema

zona I (ind/L) -

zona II (ind/L) 4 2 2 2 2 2 2 2 18

zona III (ind/L) 6,666667 66,66667 6,666667 80 160

zooplankton

Total

Tabel 2. Kelimpahan fitoplankton dan zooplankton di Perairan Sungai Ciapus

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

Zona 1
0% 13% 27% 30% 30% Mougeutia Gonatozygon Plosterium Cynedra Nitzschia

Zona 2
43% 14% 14% 29% Gonatozygon Cynedra Nitzschia ankistrodesmus

Zona 3
5% 3% Cynedra 40% 52% Nitzschia ankistrodesmus Tabelaria

Gambar 1. Kelimpahan fitoplankton zona I , II , III di Sungai Ciapus

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

Zona 2
Ceratium 11% 11% 11% 11% 11% 11% 23% 11% Chilodonela Epistilis Hartmanela Mayorella Spirostomum Thecamoeba Varticella

Zona 3
4% Notholca Paranema Pleodorina 4% Trinema

50%

42%

Gambar 1. Kelimpahan zooplankton zona II , III di Sungai Ciapus

Berdasarkan data kelimpahan fitoplankton di sungai Ciapus, terlihat bahwa kepadatan spesies fitoplankton yang terdapat pada zona I sebanyak 18,667. Fitoplankton pada zona II sebanyak 62 dan pada zona III kepadatan plankton sebanyak 373,3337. Zona III memiliki kepadatan fitoplankton yang paling padat diantara zona I dan zona II. Semakin dalam suatu perairan dan semakin cerah, kepadatan bentos semakin banyak. Hal tersebut menjadikan kepadatan plankton yang paling banyak pada zona III. Walaupun kedalaman pada zona III tidak tertingggi namun fitoplankton yang didapat paling banyak. Berdasarkan literatur kepadatan organisme fitoplankton yang paling banyak seharusnya berada pada zona II karena pada zona tersebut memiliki kedalaman yang paling tinggi. Hal tersebut dapat terjadi karena dalam pengambilan sampel yang acak dan tidak sama tempatnya sehingga menjadikan kepadatan plankton terpusat pada zona III. Berdasarkan jenis spesies fitoplankton yang paling banyak pada zona I adalah Mougeutia. Fitoplankton pada zona II yang paling banyak adalah Pormidium. Zona III kepadatan fitoplankton yang paling banyak adalah

ankistrodesmus. Berdasarkan data kelimpahan zooplankton, terlihat bahwa kelimpahan zooplankton yang terdapat pada zona I sebanyak 0 atau dengan kata lain tidak ditemukan jenis zooplankton pada zona

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

I. Hal tersebut dapat terjadi karena sifat plankton yang mengikuti arus, pada saat pengambilan sampel zooplankton tidak terambil dalam plankton net. Kepadatan plankton pada zona II sebesar 18. Zona III mempunyai kepadatan plankton sebesar 160. Jenis zooplankton yang paling banyak pada zona II adalah jenis Ceratium. Jenis zooplankton pada zona III adalah Trinema.

PERIFITON Perifiton adalah organisme yang tumbuh dan menempel pada suatu objek yang tenggelam. perifiton merupakan hewan yang ukurannya sangal kecil (mikroskopis). Oleh karena itu, perifiton tidak dapat dilihat oleh mata tanpa alat bantu penglihatan yaitu biasanya menggunakan mikroskop. Semakin banyak kadar sinar matahari yang masuk ke dalam perairan, maka kegiatan produksi akan semakin banyak (Sugiarto Suwingyo, et al, 2005). Dalam perairan mengalir perifiton melekat pada substrat yang kokoh yang ada di sungai seperti batu, batang kayu, atau masa daun.

Spesies Plosterium Mougeutia Gyrosigma Volvox Perifiton Aphanizomenom Characium Cycloleila Gonatozygon Mesotaeneum Navicula Oedogonium Phormidium pleurotamedium protococius Synedra Tabellaria Diatoma TOTAL

zona I (ind/cm ) 29 18,33333 19 3 -

zona II (ind/cm ) 150 100 50 100 50 50 50 50 100 50 300

zona III (ind/cm ) 73,667 181 43

69,33333

1050

297,001

tabel 3. Kelimpahan perifiton di perairan Sungai Ciapus

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

Zona 1
4% 27% 42% Plosterium Mougeutia 27% Gyrosigma Volvox

Zona 2
Aphanizomenom Characium 29% 14% 9% 5% 9% 5% 9% 5% 5% 5% 5% Cycloleila Gonatozygon Mesotaeneum Navicula Oedogonium Phormidium

zona 3
14%

25% Synedra Tabellaria

61%

Diatoma

Gambar 3. Kelimpahan Perifiton zona I, II, III di Sungai Ciapus

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

Berdasarkan data kepadatan perifiton diketahui pada zona I sebanyak 69,33333 , pada zona II kepadatan perifiton sebanyak 1050 dan pada zona III kepadatan perifiton sebanyak 297,001. Zona II mempunyai kepadatan yang lebih besar dibandingkan pada zona I dan zona III. Zona II mempunyai kepadatan perifiton yang paling tinggi karena pada zona II merupakan wilayah yang paling tinggi dengan penetrasi cahaya mencapai maksimal sampai dasar perairan terlihat dari kecerahan pada zona II yang paling tinggi sehingga organisme perifiton dapat berkembang dengan baik. Perifiton merupakan organisme yang menempel pada substrat. Berdasarkan literatur kelimpahan perifiton seharusnya terdapat pada zona I dikarenakan arus di zona I paling kecil. Sehingga kecenderungan resident time perairan zona I lebih besar daripada zona lain maka pertumbuhan perifiton paling besar di zona I. Namun terjadi ketidaksamaan antara literatur dengan data yang didapat yang menunjukkan kelimpahan perifiton terbesar terdapat di zona II. Jenis spesies yang paling banyak terdapat zona I adalah Jenis Plosterium, spesies yang paling banyak pada zona II adalah Synedra. Jenis spesies perifiton yang paling banyak terdapat pada zona III adalah jenis Tabellaria. BENTOS Bentos merupakan organisme yang melekat pada substrat. Bentos hidup relative menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk kehabitatnya. Bentos biasanya hidup di substrat seperti lumpur maupun pasir. Diantara hewan bentos yang relative mudah di identifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis yang termasuk dalam kelompok invertebrate makro. Kelompok ini lebih dikena dengan makrozoobentos (Rosenberg dan Resh, 1993). Faktor abiotik (fisika dan kimia) yang mempengaruhi komunitas bentos antara lain kecepatan arus, pada perairan yang relatif tenang biasanya banyak ditemukan benthos jenis molusca. (Sastrawidjaya, 1991).

Spesies Mysis Campeloma Bentos Pleurocera Goniobasis Bythinia Viviparis Total

zona I 73 66,6 73 219,394 -

zona II 673 1029 618 -

zona III 483 161 644

438,394 2320 Tabel 4. Kelimpahan Bentos di perairan itu Gede

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

Zona 1
16% 50% 17% 17% Mysis Campeloma Pleurocera Goniobasis

Zona 2
27% 29% Pleurocera Goniobasis 44% Bythinia

Zona 3
25% Goniobasis 75% Viviparis

Gambar 1. Kelimpahan Bentos zona I, II, III di Sungai Ciapus

Berdasarkan data benthos yang diperoleh, terlihat bahwa pada zona I sebesar 438,394. Kepadatan benthos pada zona II sebesar 2320. Kepadatan pada zona III sebesar 644. Zona II mempunyai kepadatan benthos yang paling tinggi. Berdasarkan literatur kelimpahan bentos dipengaruhi oleh kecepatan arus, benthos pada jenis molusca melimpah pada arus yang renang atau pada perairan tenang, data menunjukkan pada zona 1 memiliki arus yang lebih rendah daripada

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

kedua zona, oleh karena itu kepadatan bentos yang paling banyak seharusnya terdapat pada zona I. Namun, pada data yang diperoleh kepadatan bentos yang paling banyak adalah pada zona II. Hal tersebut menunjukkan ketidaksamaan antara data yang diperoleh dengan literatur. Berdasarkan data jenis spesies bentos yang paling banyak ditemukan pada zona I adalah Goniobasis. jenis spesies yang paling banyak ditemukan pada zona II adalah Goniobasis. Jenis spesies yang paling banyak ditemukan pada zona adalah Goniobasis. Hal tersebut menunjukkan jenis Goniobasis menjadi spesies yang mendominasi pada setiap zona.

NEKTON DAN NEUSTON Nekton adalah organisme yang hidup di kolom air sedangkan neuston adalah organisme yang hidupnya berada di atas permukaan air. Banyaknya speises nekton di suatu perairan dapat memberikan gambaran tentang komunitas nekton yang kompleks diperairan tersebut. Keragaman spesies nekton di perairan, termasuk sungai dapat mendeskripsikan tingkat kompleksitas suatu komunitas nekton diperairan tersebut (Sinaga 1995). Beradasarkan praktikum yang telah dilakukan disungai Ciapus tidak di temukan jenis spesies neuston dan nekton. TUMBUHAN AIR Tumbuhan Air Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggak di sekitar air dan di dalam air yang memiliki fungsi sebagai produsen penghasil energi. Tumbuhan air dapat dikelompokkan menjadi terrestial plants yaitu tumbuhan air yang seluruh organ tubuhnya belum tertutup oleh air, emerged plants yaitu tumbuhan air yang akarnya berada dalam air dan bagian lain berada pada permukaan air, floating plant yaitu tumbuhan air yang bagian akarnya dan batangnya berada dalam air, sedangkan daunnya mencuat ke permukaan air dan submerged plants adalah tumbuhan air yang seluruhnya berada dalam air (Odum 1971). INTERAKSI KOMPONEN ABIOTIK DAN BIOTIK Interaksi antara komponen abiotik dengan biotik Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik membentuk ekosistem. Hubungan antara organisme dengan lingkungannya menyebabkan terjadinya aliran energi dalam sistem itu. Selain aliran energi, di dalam ekosistem terdapat juga struktur atau tingkat trofik, keanekaragaman biotik, serta siklus materi. Dengan adanya interaksi-interaksi tersebut, suatu ekosistem dapat

mempertahankan keseimbangannya. Pengaturan untuk menjamin terjadinya keseimbangan ini merupakan ciri khas suatu ekosistem. Apabila keseimbangan ini tidak diperoleh maka akan mendorong terjadinya dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan baru. Interaksi antara komponen biotik dengan abiotik akan membentuk sebuah ekosistem. Ekosistem adalah salah satu pembahasan dari ekologi dan faktor penyusun dari ekosistem yaitu, faktor biotik dan faktor abiotik. Faktor biotik adalah faktor yang sifatnya hidup seperti sampel pada parameter biologi (plankton, perifiton, benthos, neuston, dan nekton), sedangkan faktor abiotik adalah

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

faktor yang bersifat tak hidup, seperti pada parameter fisika dan kimia (suhu, kedalaman, kecerahan, tipe substrat, warna, dan pH). Hubungan komponen biotik dengan abiotik (lingkungan) akan menyebabkan terjadinya aliran energi, tingkat trofik, serta siklus materi. Contoh interaksi komponen biotik dan abiotik adalah penggunaan cahaya matahari oleh fitoplankton untuk memproduksi makanan. Interaksi antara komponen biotik penyusun ekosistem perairan Hubungan yang terjadi antara komponen biotik untuk menyusun ekosistem lingkungan akan menyebabkan adanya aliran energi dalam suatu ekosistem tersebut, Dalam ekosistem itu juga dapat timbul suatu struktur, tingkat trofik dan keanekaragaman biotik pada ekosistem yang ada pada lingkungan tersebut. Sehingga dengan adanya interaksi-interaksi yang ada pada lingkungan itu akan menimbulkan suatu keseimbangan antara komponen-komponen yang ada dalam ekosistem tersebut. Dan apabila suatu ekosistem tidak bisa melakukan keseimbangan maka ekosistem tersebut akan terjadi dinamika perubahan ekosistem untuk mencapai keseimbangan yang baru. Interaksi biotik dan abiotik. Pada interaksi initer dapat beberapa siklus. Karena siklus merupakan kombinasi antara lingkungan abiotik dan biotik. Adapun siklus yang dimaksud ialah siklus air, karbon, dan oksigen. Semua interaksi ini tentunya amat penting karena mendukung sekali keterlangsungan hidup di bumi. Interaksi yang terjadi antara organism dan komponen abiotiknya adalah saling bergantung satu sama lain. Sedangkan interaksi negatif terjadi apabila terpengaruh limbah pertanian atau limbah domestik (Poltek IPB, 2009).Organisme dapat digunakan sebagai indikator lingkungan karena kehidupan organism mempunyai daya tahan dan adapatasi yang berbedabeda antarajenis yang satu dan jenis lainnya. Di antaranya ada beberapa jenis yang tahan dan ada yang tidak tahan terhadap kondisi lingkungan, sehingga jenis-jenis yang mempunyai toleransi tinggi meningkat populasinya. Adanya toleransi menyebabkan adanya kehadiran dan ketidakhadiran organisme, yang dapat digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan (Odum 1998). Interaksi antar komponen biotik penyusun ekosistem perairan daoat berbentuk sebuah kompetisi. Kompetisi ini dapat terjadi antar organisme, antar populasi bahkan antar komunitas. Kepentingan yang sama membuat mereka saling bersaing untuk mendapatkannya, seperti persaingan antar populasi antara plankton dan perifiton untuk mendapatkan cahaya matahari atau persaingan antar spesies antara nekton untuk mendapatkan fitoplankton sebagai bahan makanan. Selain berkompetisi, interaksi yang terjadi juga dapat berupa interaksi yang saling menguntungkan (mutualisme) dan komensalisme. Contoh interaksi komensalisme adalah perifiton yang hidup menempell pada bentos. Akhirnya, apapun jenis interaksi yang terjadi, interaksi-interaksi tersebut akan menyusun ekosistem peraiaran.

Simpulan dan saran Sungai dibagi menjadi dua zona berdasarkan aliran sungainya yaitu zona air deras danzona air tenang. Zona air deras adalah daerah yang dangkal dimana kecepatan arusnya cukup tinggi sehingga menyebabkan dasar sungai bersih dari endapan dan materi lain yang lepas sehingga dasarnya padat. Perairan sungai Ciapus memiliki arus sebesar 2,08 m/s berdasarkan rata rata tiap zona. Hal tersebut menunjukkan perairan Ciapus memiliki aliran arus cukup deras. Sungai Ciapus

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

merupakan salah satu tipe ekosistem perairan mengalir. Komponen komponen yang terdapat pada perairan sungai Ciapus yaitu berdasarkan parameter fisika terlihat warna perairan bening dengan tipe substrat bebatuan . tingkat kecerahan pada perairan sungai Ciapus menunjukkan bahwa semakin dalam perairan sungai penetrasi cahaya matahari yang dapat masuk ke dalam perairan semakin dalam. Suhu yang rata - rata didapat pada sungai Ciapus adalah 30. Kedalaman sungai Ciapus berkisar antara 15,5 sampai 61 cm. Berdasarkan parameter kimia yaitu pH menunjukkan sungai Ciapus mempunyai pH 7. Berdasarkan parameter biologi komponen biota adalah fitoplankton, zooplankton, perifiton, benthos, neuston, dan nekton. Spesies fitoplankton yang paling banyak adalah Mougeutia. Jenis zooplankton yang paling banyak adalah jenis Ceratium. Jenis spesies perifiton yang paling banyak adalah jenis Tabellaria.jenis benthos yang paling banyak ditemukan pada sungai Ciapus adalah Goniobasis. Agar lingkungan ekosistem sungai tetap baik, sebaiknya tidak dipadati oleh kegiatan yang bersifat buruk pada ekosistem sungai. Seperti pembuangan limbah rumah tangga.

Daftar pustaka Odum, E.p.1998. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. Gajah Mada University press : Yogyakarta Odum, E.P.1971. Fundamental Of Ecology third Edicion. W.B. Saunders Company. Philadelphia. 574p Suwigyo, S. Et,al. 2005. Avertebrata Air. 1 ed. Penebar Swadaya : Jakarta Sinaga, T. P. 1995. Bioekologi Komunitas Ikan di Sungai Banjaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.Tesis.Fakultas Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor (tidak dipublikasikan).
st

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

LAMPIRAN

Contoh perhitungan

Plankton Jenis Ankistrodesmus (N) = (N) = =6

Perifiton Jenis Aphanizomenom (N) = (N) = = 150

Benthos Jenis Campeloma (X) = (X) = = 66,6

Pertanyaan

1. Jelaskan yang dimaksud dengan ekosistem Perairan mengalir! Jawab = Ekosistem perairan mengalir merupakan bagian dari habitat air tawar. Air mengalir atau habitat lotik memiliki contoh yaitu, sungai. 2. Sebutkan macam-macam organisme yang ada di perairan mengalir ! Jawab : Plankton, perifiton, benthos, nekton, dan neuston 3. Apa hubungan antara kecerahan parameter fisik dengan plankton sebagai organisme perairan? Jawab : Semakin cerah suatu pearaian , maka semakin baik pertumbuhan plankton. Hal ini dikarenakn penetrasi cahaya pada perairan yang cerah memiliki kecerahan yang besar untuk pertumbuhan suatu organisme. 4. Bagaimana cara mendapatkan organisme plankton di perairan menggalir? Jawab: Pengambilan plankton dilakukan dengan menggunakan plankton net dengan penyaringan air sebanyak 100liter. Kemudian plankton dimasukkan ke dalam botol film yang berukuran 30 m. 5. Apakah organisme-oprganisme di perairan menjadi bioindikator kesuburan perairan ?

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

Jawab : Iya. Hal ini dikarenakan besarnya pertumbuhan dan perkembangan organisme disuatu perairan diartikan dengan banyaknya nutrien-nutrien yang biak bagi kehidupan organisme tersebut.

Dokumentasi

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098

*C24100081 **C24120021 ***C24120039 ****C24120058 *****C24120084 ******C24120098