Anda di halaman 1dari 12

BAB I PEBDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Ikan adalah hewan vertebrata yang hidup di air, berdarah dingin (poikilotermal) yang umumnya bernafas dengan insang dan memiliki sirip sebagai alat gerak dan keseimbangan (Rahardjo 2011). Perolehan data ikan Fishbase hingga tahun 2004 sebanyak 4.161 jenis ikan yang dilaporkan telah ditemukan diwilayah perairan Indonesia dan dari jumlah tersebut 3.240 jenis adalah ikan laut dan sebagian yang lain adalah ikan air tawar dan payau. Ikan dikenal sebagai bahan makanan terutama oleh masyarakat yang tinggal didaerah dekat perairan, baik sungai, danau, rawa maupun laut. Perairan merupakan bagian permukaan bumi yang permanen tergenang oleh air, bak air tawar, air laut atau pun air payau, mulai garis pasang surut terendah kedaratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami maupun buatan (Supangat 2013), begitu pula sungai yaitu kawasan aliran air yang pada umumnya berasal dari gunung dan berakhir dilaut. Perairan yang dapat dihuni sebagian besar jenis ikan tidak hanya berada di sungai akan tetapi terdapat di danau. Danau adalah suatu kawasan yang berkubang yang dimana kubangan tersebut terisi dengan air dan air didalamnya tidak mengalir keluar untuk bersirkulasi. Rawa hampir menyerupai danau akan tetapi rawa terbentuk dari aliran sungai yang terhambat dan air didalam kawasan tersebut tidak dapat bersirkulasi sehingga membentuk daerah berair dan juga berlumpur. Indonesia memiliki beranekaragam ikan air laut dan ikan air tawar yang dimana laut merupakan kawasan perairan terbesar dimuka bumi yang juga tempat habitat terbesar ikan. Habitat ikan selain di air laut dan air tawar terdapat daerah pertemuan antara keduanya yang disebut dengan air payau yaitu kawsan perairan yang memiliki salinitas lebih kecil dari air laut dan lebih besar dibandingkan air tawar dan ikan yang terdapat pada air payau salah satunya adalah ikan kuro (Eleutheronema tetradactylum). Ikan kuro (Eleutheronema tetradactylum) merupakan ikan perairan payau yang memiliki ukuran cukup besar sekitar 87,2 mgfkg, berpijah di air payau pula akan tetapi larva ikan kuro sering menuju ke sungai, seringkali dimanfaatkan sebagai salah satu ikan yang memiliki potensi

besar untuk dikonsumsi. Habitat alamiah ikan kuro adalah di perairan pesisir sampai kedalaman 23 meter (Balitbang bengkalis, 2006). Ikan ini memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sebagai ikan konsumsi dan ikan yang dapat diekspor keluar negeri dengan harga lokal Rp 30.000/kg sehingga para nelayan yang menangkap ikan ini cenderung mengeksploitasi dalam jumlah besar dan untuk mengatasi tingginya eksploitasi dari para nelayan terhadap ikan kuro maka perlu dilakukan upaya pengelolaan sumberdaya ikan ini agar terjaga kelestariannya (Simanjuntak 2002).

1.2 Tujuan Tujuan pembuatan makalah tentang ikan kuro (Eleutheronema

tetradactylum) yaitu sebagai bahan pembelajaran untuk mengetahui bagaimana taksonomi ikan, habitus ikan, ekologi dengan biologi ikan, persebaran geografis ikan serta mengetahui potensi dan pemanfaat dari ikan tersebut.

BAB II DESKRIPSI IKAN 2.1 Klasifikasi dan Taksonomi Ikan Beberapa ilmu digunakan dalam kegiatan untuk mengetahui suatu jenis ikan kedalam suatu kelompok dan ilmu-ilmu tersebut adalah klasifikasi ikan, identifikasi ikan, dan ilmu taksonomi ikan. Klasifikasi adalah kegiatan mengelompokan suatu benda kedalam grup atau kategori dan klasifikasi mendapatkan hasil yang tersusun menurut takson (Nelson 2006). Klasifikasi digunakan untuk mengetahui tingkatan atau jenis suatu ikan. Taksonomi atau sistematika ialah suatu ilmu mengenai klasifikasi jasad. Istilah taksonomi berasal dari perkataan Junani taxis yang berarti susunan atau pengaturan, dan nomos berarti hukum. Menurut bahasa latin systema untuk system klasifikasi yang disusun oleh para ahli pengetahuan alam pada zaman silam, terutama oleh Linnaeus (Saanin 1984). Ikan-ikan yang berada didunia sebagian besar memiliki klasifikasi dan telah diklasifikasi oleh para ilmuwan, salah satu ikan yang mempunyai klasifikasi yaitu ikan Kuro yang diklasifikasikan dalam beberapa tingkatan yaitu kingdom, filum, kelas, subkelas, ordo, subordo, famili, genus, dan spesies (Shaw 1804, fishbase ?tahun berapa?).

Gambar 1. Ikan Kurau (E. tetradactylum)

Klasisfikasi ikan kuro menurut Motomura et al. (2004) : Kingdom Filum Kelas Subkelas Ordo Subordo Famili Genus Spesies : Animalia : Chordata : Actinopterigii : Teleostei : Perciformes : Pecoidei : Polynemidae : Eleutheronema : Eleutheronema tetradactylum
[kasih kalimat penutup]

2.2 Habitus Ikan kuro memiliki nama umum fourfinger threadfin dengan nama lokal yang berbeda di setiap daerah dan di pantai timur Sumatera dikenal dengan nama ikan senangin sedangkan di pantai utara Jawa dikenal dengan ikan kuro (Genisa 2001). Ikan kuro memiliki tubuh yang memanjang dan agak pipih. Mata ditutupi oleh membran gelap. Bentuk mulut sangat besar dan tidak mempunyai bibir, kecuali bibir bagian bawah yang terdapat pada sudut mulut (Weber & Beaufort 1922 dalam Fahmi 2000). Sirip dada terdiri atas dua bagian, bagian atas dengan satu buah duri keras dan jari-jari sirip lemah berjumlah 17; sedangkan bagian bawah terdiri atas empat buah sirip berfilamen dengan bagian paling atas memiliki filamen yang paling panjang hingga mencapai dasar sirip perut. Filamen yang berbentuk seperti cambuk ini berfungsi sebagai alat peraba yang memungkinkan ikan mencari makanan di air yang berlumpur (Motomura 2004). Ikan kuro memiliki panjang maksimal kurang lebih 160 cm, pada umumnya ikan ini memiliki panjang tubuh standar kurang lebih 59 cm dan pertumbuhan ikan ini sangat cepat, di Queenland panjang standar ikan ini 95 cm dan di Australia panjang standar ikan ini dalam setahun berkembang lebih cepat 30 cm dibandingkan di Queensland (Carpenter et al. 1999).

Ikan kuro dicirikan dengan tubuh yang berwarna hijau keperakan di bagian dorsal dan bagian ventral berwarna putih kecoklatan. Sirip punggung dan ekor berwarna abu-abu dan sedikit gelap pada bagian pinggirnya. Sirip ventral dan anal berwarna orange; sedangkan sirip pektoral berfilamen berwarna putih (Motomura 2004) serta mempunyai ruas tulang belakang dengan jumlah 24-25. Panjang maksimum ikan kurau dapat mencapai 1.8m. Berdasarkan perhitungan meristik didapatkan rumus sirip dorsal D1. VIII; D2. I-II 13-17; A. II 13-17; P 14 -21 + 4 sirip filamen ; V I. 5; L.l 43-75 (Lula 2010) (fishbase.org).

2. 3 Ekologi dan Biologi 2.3.1 Ekologi Ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang interaksi antara organisme dengan lingkungannya serta hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ikan dimasukan sebagai nekton atau organisasi yang memiliki kemampuan bergerak dan tergantung pada arus laut. Nekton biasanya diwakili oleh hewan vertebrata dan ikan merupakan golongan nekton terbanyak baik dari segi jenis dan jumlah. (Kuncoro 2004) Lingkungan perairan yang disenangi jenis ikan kuro adalah perairan yang memiliki arus pada laut tropis, neritik kebawah dengan dasarnya berlumpur atau berpasir pada daerah pesisir sampai kedalaman 33 meter serta daerah teluk dan estuaria atau laguna, tetapi disaat musim dingin ikan kurau bias berpindah sampai masuk ke daerah perairan sungai. Anak-anak ikan kuro banyak ditemukan di perairan estuaria. Kisaran suhu perairan tempat tumbuh ikan kuro antara 22-30 C dengan kisaran salinitas yang relatif rendah antara 27-39 permil. Ikan kuro sering berenang soliter ataupun secara berpasangan dan sekali-kali ada juga bergerombol namun jarang terjadi (Syaifuddin, 2008). Menurut Widodo (1980), ikan kurau sangat jarang tertangkap pada kedalaman lebih dari 41 m, umumnya ikan ini hidup diperairan dangkal dan muara sungai (Burhanuddin et al. 1984) 2.3.2 Sistem Tubuh Sistem tubuh ikan kuro sama dengan ikan ikan pada umumnya dan ikan ini termasuk jenis ikan karnivora yaitu memiliki beberapa sistem tubuh
5

yaitu sistem intergumen, sistem otot, sistem rangka, sistem respirasi, sistem sirkulasi, sistem pencernaan makanan, sistem reproduksi, sistem ekskresi, sistem saraf, dan sistem hormon. Ikan kuro memiliki sistem intergumen, otot, dan rangka yang sama seperti ikan bandeng (Chanos chanos), serta memiliki system pencernaan yaitu mulut sebagai tempat masuknya makanan, esophagus sebagai pintu makanan menuju ke lambung, lambung sebagai tempat menggerus makanan atau mencerna makanan, dan nutrisi diserap oleh pilorik caeca yang membantu fungsi usus kemudian usus sebagai tempat penyerapan nutrisi makanan yang akan diedarkan keseluruh tubuh ikan melalui darah, dan anus sebagai pintu ekskresi makanan yang tidak diperlukan lagi oleh tubuh serta ikan ini tidak memiliki gelembung renang ketika ikan ini telah menjadi dewasa (Carpenter et al. 1999). Sistem ekskresi ikan kuro meliputi Ginjal sebagai tempat menyaring urin yang akan disekresikan, hati berperan menetralkan racun yang masuk kedalam tubuh, dan empedu yang berfungsi menghasilkan getah empedu untuk pencernaan. Sistem reproduksi yang dimiliki oleh ikan kuro dapat berubah seiring dengan pertumbuhan ikan tersebut yaitu ikan kuro berkelamin jantan ketika ikan tersebut kecil dan berubah menjadi betina ketika ikan tersebut berkembang menjadi dewasa dan ikan tersebut termasuk dalam golongan ikan hermaprodit protoandri (Carpenter et al. 1999).

2.3.3 Kebiasaan makan Jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh suatu jenis ikan biasanya bergantung kepada umur ikan, ketersediaan makanan dan waktu (Effendie 1979), sehingga walaupun ikan tersebut satu spesies, namun jika umurnya berbeda maka makanannya pun akan berbeda. Perbedaan ketersedian dan kelimpahan organisme makanan akan bervariasi berdasarkan musim dan akhirnya akan mengakibatkan perbedaan komposisi makanan suatu jenis ikan antara musim yang satu dengan musim yang lain (Rahadjo 2007 dalam Rahadjo et al. 2011). Komposisi makanan jenis ikan berukuran

kecil akan berbeda dengan ikan yang berukuran lebih besar. Beberapa penyebab perbedaan ini terkait dengan adanya perbedaan dalam lebar bukaan mulut dan juga perbedaan dalam kemampuan ikan mendapatkan makanan (Rahardjo et al. 2011). Ikan kuro pada umumnya adalah pemakan crustacea kecil dan juga ikan. Ikan ini memakan plankton ketika pada masa kecil, namun seiring dengan bertambahnya ukuran tubuhnya, makanan ikan kuro pun berubah menjadi krustasea kecil dan ikan. Ikan kuro juga termasuk ikan demersal yang hidup di dasar perairan yang dangkal dan berlumpur, di daerah pantai, dan terkadang masuk ke perairan tawar (Motomura 2004). Ikan kuro merupakan ikan yang aktif pada kondisi gelap atau pada malam hari (nokturnal) karena ikan ini memiliki ciri khusus yaitu memiliki sungut yang berfungsi untuk meraba makanan pada kondisi gelap.

2.3.4 Reproduksi Ikan kuro tergolong ke dalam ikan hermafrodit protandri yang dicirikan pada saat ikan kuro kecil atau remaja berjenis kelamin jantan dan hidup di daerah payau; sedangkan saat dewasa ikan kuro berkelamin betina dan hidup di perairan laut (Motomura 2004). Siklus hidup ikan kuro tergolong panjang (Gambar 3). Ikan kuro akan mengalami perubahan jenis kelamin menjadi betina ketika ikan kuro memiliki panjang lebih dari 400 mm dan berumur sekitar dua tahun. Ikan kuro sendiri dapat mencapai ukuran 2000 mm, tetapi ukuran yang biasa ditemukan antara 450-500 mm (Carpenter et al. 1999). Gambar : Siklus hidup ikan kuro (E. tetradactylum). (1-3) tahap perkembangan telur; (4-11) tahap perkembangan larva; (12) ikan kuro remaja; (13) ikan kuro berumur dua tahun dan pada ukuran tersebut terjadi perubahan jenis kelamin menjadi betina; (14) ikan kuro dewasa berumur kurang lebih empat tahun dan berjenis kelamin betina.

Gambar 2. Siklus Reproduksi Ikan Kurau

2. 4 Sebaran Geografis Penyebaran ikan kuro (Eleutheronema tetradactylum) adalah di perairan tropis antara 26 LU sampai 29 LS mulai dari Teluk Persia, Samudera Hindia, Indo-Pasifik Barat sampai perairan Australia Utara.Ikan kurau di temukan pada benua Eropa yaitu di Ingris, Amerika, Ausrtalia, serta tersebar luas pada benua Asia diantaranya India, Indonesia, Vietnam, Malaysia, Myanmar, Pilipina, Bangladesh,Sri Lanka serta Taiwan. Indonesia ikan kurau hidup pada daerah yang bagian pesisirnya terdapat lumpur dan ditumbuhi hutan mangrove juga terdapat sungai-sungai seperti di bagian Timur Sumatera. Persebaran ikan kurau tersebut karena ikan kurau yang melakukan migrasi. Sebaran ikan kuro di Indonesia meliputi perairan pantai Laut Jawa, Sumatera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Arafuru. Ikan ini juga ditemukan di Teluk Benggal, Teluk Siam, Pantai Laut Cina Selatan, dan Queensland (Australia) (Genisa 1999). Nikolsky (1963) mengatakan bahwa ada tiga alasan utama yang menyebabkan beberapa jenis ikan melakukan migrasi yaitu mencari daerah yang banyak akan makanan, mencari tempat untuk berpijah (spawning) dan adanya perubahan beberapa faktor lingkungan, seperti temperature, salinitas dan arus.

Gambar 3. Peta persebaran Ikan Kuro (E. tetradactylum)

2.5 Potensi dan Pemanfaatan Potensi yang dimiliki oleh ikan kurau diperoleh hasil perhitungan sumberdaya ikan kurau mencapai 1676 ton / tahun di bagian utara Jawa dan tingkat pemanfaatan ikan kurau mencapai 98 % terhadap potensi lestarinya, yang dapat dimanfaatkan sebagai ikan tangkap dan konsumsi, akan tetapi ikan ini belum dapat dibudidayakan (Marzuki dan Djamal 1994) dan ikan ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi seperti di perairan utara Australia (Ballagh et al. 2012). Ikan kuro juga dapat dijadikan ikan beku yang dapat diekspor dan dikeringkan atau diasinkan (Carpenter et al. 1999).

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Ikan kuro memiliki nama umum fourfinger threadfin dengan nama latin (Eleutheronema tetradactylum) yang termasuk ikan demersal yang hidup di dasar perairan yang dangkal dan berlumpur, di daerah pantai, dan terkadang masuk ke perairan tawar. Sebaran ikan kuro di Indonesia meliputi perairan pantai Laut Jawa, Sumatera bagian timur, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Arafuru. Ikan ini juga ditemukan di Teluk Benggal, Teluk Siam, Pantai Laut Cina Selatan, dan Queensland (Australia). 3.2 Saran Ikan kurau merupakan ikan bernilai ekonomi yang cukup tinggi dan dapat diekspor ke luar negeri serta pelestarian ikan ini sangat dibutuhkan karena tingginya ekplotasi terhadap ikan ini agar dapat bertahan dari kepunahan.

10

DAFTAR PUSTAKA Ballagh AC, Welch DJ, Newman SJ, Allsop Q, & Stapley JM. 2012. Stock structure of the blue threadfin (Eleutheronema tetradactylum) across Northern Australia derived from life-history characteristics. Fisheries Research 121-122: 63-72. Carpenter KE and Niem VH. 1998. The Living Marine Resources of The Western Central Pacific Vol.2. FAO Species Identification Guide for Fishery Purposes. Rome : FAO Fisheries Department. Saanin, H. 1984. Taksonomi dan Kunci Indentifikasi Ikan I. Bogor: Binacipta. Nelson, JS. 2006. Fishes of the World fourth edotion. USA: Wiley. Simanjuntak CPH. 2002. Kebiasaan makanan beberapa jenis ikan di perairan mangrove Pantai Mayangan, Pamanukan, Jawa Barat [skripsi]. Bogor : Institut Pertanian Bogor Syaifuddin. 2008. Pendugaan Potensi dan Pola Musim Penangkapan Ikan Kurau (Eleutheronema tetradactylum) di sekitar Pulau Bengkalis,Riau. Riau: Universitas Riau. Genisa AS. 2001. Kelimpahan, Sebaran dan Kekayaan Jenis Ikan Dasar di Perairan Muara Sungai Digul dan Arafura, Irian Jaya. Puslit OseanografiLIPI: 89-108. Krebs CJ. 1989. Ecological methodology. Part three. University of British. Colombia. 407 p. Lula SM. 1999. Fourfinger Treadfin. Diacu dari http://www.Fishbase.com (12 Mei 2013). Rahardjo MF. 2007. Perubahan musiman makanan ikan tiga waja Otolithes ruber Bl. Sch. (Pisces: Sciaenidae) di perairan Pantai Mayangan, Jawa Barat. Ichthyos 6(2): 59-62. Rahardjo MF, Simanjuntak CPH, & Zahid A. 2009. Food Habits of Greater Lizardfish, Saurida tumbil Bloch, 1795 in Mayangan Coastal Waters, West Java. Jurnal Kelautan Nasional 2: 68-76. Rahadjo MF, Sjafei DS, Affandi R, & Sulistiono. 2011. Iktiology. Lubuk Agung. Bandung.

11

Marzuki S. et al.1994. Kelimpahan dan status pengusahaan ikan kuro (Polynemidae) dan ikan kuwe (Carangidae) di perairan utara Jawa, timur Sumatra, dan barat Kalimantan. Jurnal Pen. Perikanan No. 88 : 1-13. Motomura H. 2004. Threadfins of the world (Family Polynemidae): An annotated and illustrated catalogue of Polynemid species known to date. FAO Species Catalogue for Fishery Purpose No.3. Rome.

12