Anda di halaman 1dari 9

PERTUMBUHAN IKAN TETENGEK (MEGALASPIS CORDYLA)

LISDA ANDRIANA C24120098

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014

PENDAHULUAN

Latar Belakang Biologi Perikanan merupakan mata kuliah lanjutan dari Ikhtiologi yang sebelumnya lebih menjelaskan tentang ciri-ciri ikan, sistem organ, sistem saraf, peredaran darah dll. Sedangkan matakuliah Biologi perikanan lebih mempelajari teknik-teknik yang digunakan untuk penelitian mahasiswa. Salah satunya berkaitan dengan pertumbuhan, hubungan panjang dan berat, reproduksi dan juga kebiasaan makan. Panjang tubuh sangat berhubungan dengan panjang dan berat ikan dan juga memiliki pengaruh saat ingin menentukan pertumbuhan ikan. Namun, hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-beda. Pertumbuhan merupakan suatu akumulasi dari pertumbuhan jaringan somatik atau tubuh yang tergantung kepada kelebihan dari energi yang dikonsumsi. Faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan yaitu suhu, hormon, oksigen terlarut (DO), amonia, salinitas, kompetisi, makanan, pencahayaan, umur dan kematangan. Dengan mempelajari pertumbuhan ini kita dapat mengetahui kondisi ikan dan habitat (lingkungan akuatik),dapat melakukan manipulasi lingkungan perairan dan menduga umur, menentukan habitat ikan, mengetahui struktur populasi dan untuk pengelolaan. Ikan tetengkek (Megalaspis cordyla, Linnaeus 1758) merupakan kelompok ikan pelagis dan jenis ikan lepas pantai. Meningkatnya kebutuhan manusia menyebabkan permintaan yang tinggi terhadap sumber daya ikan tetengkek karena harga jualnya terjangkau oleh berbagai kalangan masyarakat. Ikan tetengkek ini dipasarkan dalam bentuk segar maupun olahan.

Tujuan

Tujuan praktikum ini adalah mengetahui pertumbuhan, perkembangan, hubungan panjang-bobot, serta faktor kondisi dan faktor lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan dari ikan tetengkek (Megalaspis cordyla) dan dapat menentukan pola pertumbuhan dari ikan tetengkek (Megalaspis cordyla). Perumusan Masalah

Masalah yang akan dipecahkan dalam penulisan laporan penelitian ini adalah pertumbuhan pada ikan tetengkek (Megalaspis cordyla) melalui analisa ukuran panjang dan hubungan antara panjang dengan bobot ikan yang merupakan informasi dasar yang sangat penting untuk melihat laju pertumbuhan, faktor kondisi dan juga faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.

Tujuan Penelitian

Laporan ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan, perkembangan, hubungan panjang-bobot, serta faktor kondisi dan faktor lainnya yang mempengaruhi pertumbuhan dari ikan tetengkek (Megalaspis cordyla) dan dapat menentukan pola pertumbuhan dari ikan tetengkek (Megalaspis cordyla). Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan beberapa informasi terkait pertumbuhan yang dialami oleh ikan tetengkek (Megalaspis cordyla), hubungan panjang dan bobot untuk mengetahui seberapa besar pertumbuhan yang terjadi, serta faktor kondisi dari ikan tetengkek (Megalaspis cordyla)

TINJAUAN PUSTAKA

Ikan tetengek (Megalaspis Cordyla) Menurut www.fishbase.org (2012) taksonomi ikan tetengkek dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom Filum Subfilum Kelas Sub kelas Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Chordata : Vertebrata : Pisces : Actinopterygii : Perciformes : Carangidae : Megalaspis : Megalaspis cordyla (Linnaeus,1758)

Nama Umum : Torpedo scad, Finny scad Nama Lokal : Tetengkek (Banten)

Menurut Carpenter (1999) Ikan tetengek (Megalaspis cordyla) memiliki bentuk tubuh yang bulat dan memanjang, bagian belakang tubuh sedikit pipih. Di belakang sirip punggung kedua dan di belakang sirip dubur atau anal terdapat 710 finlet yang terpisah satu sama lain. Mulut dan rahang bawah tirus, bagian rahang atas berbentuk posterior yang memanjang sampai pada tengah mata. Rahang atas memiliki gigi viliform yang kecil, gigi terluar yang tidak terlalu membesar. Garis lateral atau gurat sisi membentuk lengkungan dari anterior tubuh, dengan pertemuan dari garis yang melengkung dengan bagian yang lulur secara vertikal dari bagian ke-empat atau ke-lima dari sirip dorsal. Bagian kepala dan punggung berwarna abu kebiruan sampai hijau, terdapat bulatan berwarna hitam dibagian operculum, bagian sirip anal dan dorsal berwarna putih pucat sampai kekuningan, bagia perut berwarna keperakan.

Pertumbuhan Setiap organisme ataupun makhluk hidup pasti akan mengalami suatu proses pertumbuhan. Dimana menurut Effendi (1997) Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran panjang atau berat suatu organisme dalam suatu waktu. Ikan akan terus mengalami pertumbuhan, sehingga dapat dikatakan bahwa ikan tersebut mempunyai sifat pertumbuhan yang tak terbatas . Hal ini berbeda dengan vertebrata lain, seperti mamalia dan burung yang mempunyai batas pertumbuhan ketika mencapai umur tertentu. Ikan akan mencapai panjang maksimum sesuai dengan potensi genetiknya bila berada dalam lingkungan yang sangat nyaman (Rahardjo et al, 2011). Banyak faktor-faktor yang dapat memengaruhi suatu proses pertumbuhan. Faktor yang dapat mempengaruhi proses pertumbuhan terbagi kedalam 2 bagian yaitu faktor luar dan faktor dalam. Menurut Effendie (1997) menyebutkan bahwa faktor luar yang utama akan sangat berpengaruh terhadap makan dan suhu perairan, selain itu faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan adalah kecerahan, oksigen terlarut, karbondioksida, hidrogen sulfida, dan alkalinitas. Sedangkan untuk faktor dalamnya Effendie (1997) mengatakan bahwa faktor dalam akan berpengaruh terhadap faktor yang sulit dikontrol, diantaranya keturunan, jenis kelamin, umur, parasit dan faktor lainnya.

Faktor Kondisi Faktor kondisi adalah keadaan yang menyatakan kemontokan ikan secara kualitas, dimana perhitungannya didasarkan pada panjang dan berat ikan. Faktor kondisi sering disebut faktor K yang merupakan hal yang penting dari pertumbuhan ikan, karena faktor kondisi ini dapat digunakan untuk menganalisis populasi. Beragamnya faktor kondisi disebabkan oleh pengaruh makanan, umur, jenis kelamin dan kematangan gonadnya, faktor kondisi ini menunjukkan keadaan baik dari ikan dilihat dari segi kapasitas fisik untuk survival dan reproduksi (Effendie,2002). Faktor kondisi pada pertumbuhan ikan alometrik dicari dengan metode yang berbeda dengan pertumbuhan ikan isometrik. Jika pertumbuhan ikan isometrik, maka digunakan rumus:

Sementara jika pertumbuhan ikan alometrik maka rumus yang yaitu:

METODE

Waktu dan Tempat Kegiatan praktikum tentang pertumbuhan ikan tetengkek (Megalaspis cordyla) dilakukan pada hari Jumat. Praktikum dimulai dari pukul 13.00 sampai pukul 16.00 WIB. Kegiatan dilakukan di Laboratorium Biologi Perikanan , Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam praktikum adalah alat tulis dan penggaris, timbangan digital, kertas lap dan tissue, kertas label, jarum pentul,benang, botol film, trashbag, 1 set alat bedah, spidol permanen, data sheet, dan baki . sedangkan bahan yang digunakan adalah ikan dan formalin. Penggaris digunakan sebagai alat untuk mengukur panjang total dari ikan dan juga mengukur panjang usus ikan. Timbangan digital digunakan untuk

mengukur berat ikan dan gonad ikan. Kertas label digunakan untuk menomori ikan. Benang digunakan untuk mengikat usu yang diawetkan sehingga tidak terjadi pembusukan. Botol film digunakan sebagai media penyimpanan untuk gonad dan usus ikan yang diawetkan. Trashbag digunakan sebagai alas saat melakukan pembedahan. 1 set alat bedah digunakan untuk membedah ikan. Fromalin digunakan sebagai bahan untuk mengawetkan ikan.

Prosedur Kerja

Pertumbuhan Siapkan Ikan yang akan diamati kemudian ikan tersebut dibersikan lendirlendirnya dengan tisu dan diberi nomor dengan menggunakan kertas label. Lalu ukur panjang total ikan dengan menggunakan pengaris lalu Ikan ditimbang dan dicatat beratnya (gram) dengan menggunakan timbangan digital. Selanjutnya, ikan dibedah dengan menggunakan gunting yang ujungnya runcing terlebih dahulu pembedahan dimulai dari anus ikan sampai tutup insang. Perhatikan letak gonad ikan lalu tentukan jenis kelamin dan TKG-nya. Gonad diangkat dan dipisahkan dari usus, jangan sampai ada bagian gonad dan usus yang putus. Gonad yang sudah dipisahkan dikeringkan dengan tisu, kemudian ditimbang dan dicatat berat gonad tersebut. Gonad yang sudah ditimbang diawetkan dengan formalin 4-5%. Usus diurai dengan hati-hati, jangan sampai ada yang putus jika terputus ikat ujungnya dengan menggunakan benang sebelum diawetkan agar tidak mengalami pembusukan. Ukur panjang usus (cm). Sampel usus diawetkan dengan formalin 45%. Sampel usus dianalisa pada praktikum kebiasaan makan. Analisis Data Distribusi Frekuensi Panjang Pengolahan data mengenai distribusi frekuensi dilakukan dengan cara Regresi Non Linier dengan menentukan terlebih dahulu nilai maksimum, nilai minimum kemudian menentukan :

( )

Sebelum menentukan distribusi frekuensi pada data panjang praktikan harus menentukan JK atau banyaknya kelas dari data, kemudian menentukan LK

atau lebar kelas (selang kelas) yag ditentukan dari nilai yang paling maksimum dengan nilai yang paling minimum dan dapat ditentukan CP atau nilai selang kelas dijumlahkan dengan nilai standar terkecil dari suatu bilangan data. Sehingga dapat terbentuk tabel distribusi frekuensi data panjang dengan nilai selang kelas (atas dan bawah), batas kelas (atas dan bawah), nilai rata-rata (xi) dan frekuensi atau banyaknya data (fi).
SKB Min Min + CP SKA Min + LK SK BKB BKA xi fi

Pola Pertumbuhan Pola pertumbuhan dapat dilihat dengan menghubungkan pertumbuhan panjang dan pertumbuhan berat. Hubungan parameter panjang dan berat dapat ditetukan dengan rumus berikut: W = aLb Model pertumbuhan ini mengikuti pola hukum kubik dari 2 parameter yang dijadikan dasar analisis. Nilai b digunakan untuk menduga laju pertumbuhan kedua parameter yang dianalisis. Asumsi hukum kubik ini adalah bahwa idealnya seluruh ikan dimana setiap pertambahan panjang akan menyebabkan pertambahan berat dengan kuantitas tiga kali lipatnya, namun kenyataan ini berbeda dari setiap ikan karena pengaruh musim dan jenis kelamin. ( ) ( ) ( Berdasarkan pola hubungan linier, dapat dilihat bahwa: Log W = Log a + b Log L atau Y = a + bx Korelasi parameter dari hubungan panjang dan berat dapat dilihat dari nilai konstanta b (sebagai penduga tingkat kedekatan hubungan kedua parameter) yaitu dengan hipotesis: 1. Bila b = 3, dikatakan hubungan isometrik (pola pertumbuhan panjang sama dengan pola pertumbuhan berat). 2. Bila b = 3, dikatakan memiliki hubungan allometrik yaitu: a) Bila b > 3, allometrik positif (pertambahan berat lebih dominan). b) Bila b < 3, allometrik negatif (pertambahan panjang lebih dominan). ( ) ( ) )

Faktor Kondisi Faktor kondisi adalah keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan dalam angka-angka berdasarkan pada data dan berat. Pengamatan kondisi ikan dapat dilihat dari tiga model pengamatan yaitu: Kt = kondisi yang diamati berdasarkan panjang total Ks = kondisi yang diamati berdasarkan data panjang standar (baku) Kf = kondisi yang diamati berdasarkan data panjang cagak

Jika pertumbuhan yang ditemukan isometrik (b=3) atau setelah dilakukan uji t didapat bahwa hipotesis nol adalah 3, maka model yang dipakai adalah:
( )

Sedangkan jika pola pertumbuhan yang ditemukan allometrik setelah dilakukan uji t, maka model yang dipakai adalah:
( )

DAFTAR PUSTAKA Effendie M I. 1997. Biologi perikanan. Jakarta: Yayasan Pustaka Nusantara. __________. 2002. Biologi perikanan. Jakarta: Yayasan Pustaka Nusantara.

Carpenter KE and Niem VH. 1998. The Living Marine Resources of The Western Central Pacific Vol.4. FAO Species Identification Guide for Fishery Purposes. Rome : FAO Fisheries Department. Rahardjo et al. 2011. Iktiologi. Bandung: Lubuk Agung