Anda di halaman 1dari 3

Hari/ Tanggal : Senin/10 Maret 2014

Mata Kuliah Iklim dan Lingkungan Kelompok 12

Nama

: Galuh Ardiansyah (G24110062) Alfi Wardah F Aditya Setiadi Alvin Gustomy Ikrom Mustofa Nihayatuz Zulfa (G24110063) (G24110064) (G24110065) (G24110066) (G24110067)

PENGARUH MUSIM DAN TOPOGRAFI TERHADAP KUALITAS UDARA AMBIEN

Pengaruh Musim (Hujan dan Kemarau) terhadap Kualitas Udara Ambien Temperatur yang tinggi dapat menyebabkan polusi udara semakin berbahaya dan akan menyebabkan peningkatan polusi semakin bertambah sehingga akan memberikan banyak dampak negatif bagi makhluk hidup, terutama manusia untuk bernapas. Selain itu, bahaya dari penyebaran polusi pada suhu yang tinggi dapat berbahaya bagi orang yang mempunyai penyakit asma. Polusi yang berinteraksi dengan panas dan cahaya matahari akan menyebabkan percepatan proses terjadinya peningkatan gas CO2. Pada daerah kering, ketika temperatur tinggi dapat menyebabkan terjadinya kebakaran yang menyebabkan bertambahnya polusi yang ada (Adityawarman 2007). Menurut Ruslinda et al. (2010), ketika suhu tubuh tinggi akan mengeluarkan keringat dan meyebabkan jantung dan pernapasan menjadi cepat, sehingga menyebabkan polusi udara banyak terhirup masuk ke dalam tubuh. Setiap musim, polusi akan berbeda-beda dan pada suhu tinggi polusi udara yang berbahaya cenderung lebih banyak dibandingkan musim dengan suhu rendah (Peng 2005). Udara ambien merupakan udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang dibutuhkan dan mempengaruhi kesehatan manusia, makhluk hidup, dan unsur lingkungan hidup lainnya (BMKG 2012). Seiring pesatnya kemajuan

Fb: Alvin Gustomy

Email: alvingustomy@live.com

teknologi industri , udara ambien yang diperlukan makhluk hidup dapat rusak oleh polutan yang setiap hari diemisikan. Pada musim penghujan kualitas udara ambien akan sedikit mengalami perubahan akibat penurunan konsentrasi partikular di udara. Penurunan konsentrasi tersebut terjadi akibat adanya proses pencucian atau washout and rainout (Ruslinda 2010). Efek dari proses tersebut adalah udara pada musim penghujan relatif lebih bersih dibandingkan pada saat musim kemarau. Hubungan topografi dengan kualitas udara Topografi atau bentuk permukaan lahan mempunyai pengaruh terhadap kualitas udara, terutama udara ambien. Bentuk permukaan lahan dapat berupa lahan datar, lahan miring (slope), dan dataran tinggi atau dataran rendah (cekungan). Kondisi lahan yang berkontur (slope) akan memberikan pengaruh iklim mikro yang berbeda terhadap lokasi tersebut (Adityawarman 2007). Atmosfer merupakan lapisan udara yang menyelimuti bumi yang memiliki sifat lentur dan bisa dimampatkan. Akibat adanya pengaruh gaya gravitasi bumi, setiap lapisan udara akan menindih lapisan udara di bawahnya. Sehingga, udara yang posisinya lebih rendah akan lebih mampat daripada udara yang posisinya lebih tinggi. Jika udara termampatkan, artinya kerapatannya membesar. Jika udara memampat, tekanannya akan membesar, sehingga udara di dataran rendah lebih mampat daripada udara di dataran tinggi. Jika udara semakin mampat, maka jumlah partikel udara semakin banyak per satuan volumenya. Dengan demikian, jumlah partikel udara di dataran rendah lebih banyak daripada jumlah partikel udara di dataran tinggi. Radiasi matahari yang masuk ke dalam bumi akan memberi energi pada makhluk hidup, maupun mengisi massa pada partikel udara. Masing-masing partikel udara tersebut menerima energi radiasi matahari yang relatif sama. Dengan demikian, semakin banyak partikel udara maka semakin banyak pula energi radiasi matahari yang diterima. Energi yang diserap tersebut kemudian akan perubahan wujud menjadi panas. Sehingga, suhu udara di dataran rendah akan cenderung lebih tinggi daripada dataran tinggi.

Fb: Alvin Gustomy

Email: alvingustomy@live.com

Sebagian besar masyarakat melakukan aktivitas, seperti industri dan transportasi di wilayah dataran rendah. Banyak polutan yang dikeluarkan dari aktivitas tersebut di dataran rendah. Pada siang hari ketika kondisi atmosfer tidak stabil, polutan akan tersebar baik secara horizontal maupun vertikal. Sedangkan pada malam hari, dimana kondisi atmosfer stabil polutan akan cenderung terkonsentrasi pada satu tempat khususnya di wilayah cekungan. Hal ini disebabkan, wilayah dataran rendah dan cekungan cenderung memiliki suhu udara yang lebih tinggi daripada dataran tinggi sehingga tekanan pada dataran rendah akan semakin kecil dan memicu angin untuk berpindah menuju daerah dataran rendah dan cekungan. Perpindahan angin ini dapat membawa partikel polutan. Oleh sebab itu, kualitas udara pada wilayah cekungan memiliki kualitas yang bururk ketika malam hari. Selain itu, dengan adanya gaya gravitasi yang menarik partikel polutan ke bawah maka wilayah cekungan cenderung akan memiliki konsentrasi polutan yang lebih tinggi daripada wilayah lain.

DAFTAR PUSTAKA

Adityawarman, Yoshida. 2007. Analisa Penyebaran Polutan di Atas Cekungan Bandung dengan Menggunakan Model Kualitas Udara. Skripsi. Program studi Meteorologi. FITB ITB. Bandung. BMKG. 2012. Informasi Perubahan Iklim dan Kualitas Udara di Indonesia. Jakarta: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Peng, R.D et al.2005.Seasonal analyses of air pollution and mortality in 100 US cities. American Journal of Epidemiology. 161:58594. Ruslinda et al. 2010. Karteristik Fisik dan Kimia Partikulat di Udara Ambien Daerah Urban dan Non Urban Kota Padang. Paper. Padang: Universitas Andalas.

Fb: Alvin Gustomy

Email: alvingustomy@live.com