Anda di halaman 1dari 15

Waktu Hari, tanggal Kelompok

: 10.00-12.30 WIB : Kamis, 30 Maret 2011 : 4 Siang

LAPORAN PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK URINALISIS

KELOMPOK 4 : Moh. Miftahurrohman Desrayni Hanadhita Rika Febri A Hamdanah Ayip Fadil Ruri Indrian B04080139 B04080141 B04080147 B04080149 B04080151 B04080152

DEPARTEMEN KLINIK, REPRODUKSI DAN PATOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

Pendahuluan Sistem urinaria terdiri atas ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. `Sistem ini membantu mempertahankan homeostasis dengan menghasilkan urin yang merupakan hasil sisa metabolisme (soewolo, 2003). Dalam keadaan normal, manusia memiliki 2 ginjal. Setiap ginjal memiliki sebuah ureter, yang mengalirkan air kemih dari pelvis renalis (bagian ginjal yang merupakan pusat pengumpulan air kemih) ke dalam kandung kemih. Air kemih mengalir

melalui uretra, meninggalkan tubuh melalui penis (jantan) dan vulva (betina). Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang kotor. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urin berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea (wells 1965). Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum (Anonim 2011).

Metodologi

Pemeriksaan makroskopik Alat dan bahan : urin, tabung reaksi, gelas ukur, thermometer, urinometer dan tabung urinometer. Cara kerja Volume urine yang ditampung selama 24 jam tersebut diukur dengan gelas ukur. Pemeriksaan warna dilakukan dengan cara memasukkan urine kedalam tabung reaksi yang bening dan bersih kemudian diarahkan pada datangnya cahaya dan diperhatikan warnanya. Pemeriksaan kejernihan urin dengan cara memasukkan urin kedalam tabung reaksi yang bersih dan jernih, kemudian diperhatikan kejernihannya. Pemeriksaan BJ urin diukur dengan cara memeriksa suhu urinometer apakah dalam C atau dalam F, kalau suhu yang tertera dalam F

konversi dulu menjadi C. Kemudian urin dituangkan kedalam tabung urinometer sampai terisi kira-kira tiga perempatnya. Urinometer dicelupkan dengan hati-hati jangan sampai membentur dasar tabung ketika dilepaskan, dan urinometer diperhatikan jangan sampai menempel pada dinding tabung. Suhu urin diukur dengan thermometer. Kemudian BJ dibaca pada skala, angka terdapat pada batas antara bagian urinometer yang tenggelam dan yang muncul diatas permukaan urin.

Pemeriksaan mikroskopis Aat dan bahan : tabung reaksi, sentrifuse, mikroskop, urin, objek glass dan cover glass. Cara kerja Urin sebanyak 2 ml dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian disentrifuse. Setelah di sentrifuse bag atas urin dibuang yang tinggal hanya bagian bawahnya saja. Urin tersebut diamati dibawah mikroskop dan dilihat bentukan yang ada.

Pemeriksaan kimiawi Pemeriksaan Protein : 1. Uji Heller Alat dan bahan : urin, tabung reaksi, pipet, asam nitrat pekat. Cara kerja Asam nitrat dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 2ml. Kemudian 2ml urin ditambahkan kedalam pereaksi dengan cara memiringkan tabung dan mengalirkan urin pakai pipet melalui dinding tabung secara perlahan-lahan Kemudian diamati perubahan yang terjadi berupa cincin putih pada perbatasan dua cairan. 2. Uji Asam Sulfosalisilat Alat dan bahan : urin, tabung reaksi, pipet, larutan asam sulfosalisilat 20% Cara kerja Urin dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 2ml. Kemudian ditambahkan 8 tetes asam sulfosalisilat. Perubahan warna yang terjadi diamati, apabila timbul kekeruhan yang merata maka reaksi tersebut adalah positif. Pemeriksaan Keton Uji Rothera

Alat dan bahan : Tabung reaksi, urin, pipet, larutan Na Nitroprusida 5%, larutan Amonium likuid 10%, larutan Ammonium sulfat jenuh. Cara kerja Urin sebanyak 3 ml dimasukkan kedalam tabung reaksi. Ditambahkan 3 tetes larutan Na Nitroprusid 5%, kemudian ditambahkan 3 ml larutan Ammonium likuid 10%. Ditambahkan lagi 3 ml larutan ammonium sulfat jenuh. Perubahan warna yang terjadi diamati, apabila warna ungu seperti warna kalium permanganate maka reaksi tersebut adalah positif.

Pemeriksaan Glukosa Alat dan bahan : Penangas air (mendidih) atau nyala api kecil (lampu spiritus, Bunsen),

beberapa tabung reaksi, rak tabung, penjepit tabung, urin dan reagen Benedict. Cara kerja : Pereaksi benedict dimasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 5 ml. Kemudian ditambahkan 0.5 ml urin. Larutan dikocok dengan hati-hati dan dididihkan selama 2 menit dalam penangas air atau langsung diatas nyala api kecil. Perubahan warna yang terjadi diamati. Reaksi positif adanya glukosa ditandai dengan timbulnya warna hijau sampai merah dan bila terus dibiarkan akan terbentuk endapan merah bata (Cu2O). Jika tidak terjadi perubahan warna berarti tidak ada glukosa.

Pemeriksaan Strip test Alat dan bahan : Urin, kertas strips test Cara kerja Kertas strips test ditetesi dengan urin kemudian diamati leukosit, nitrat, urobilinogen, protein, pH, darah, SG (Serum gravity), keton, bilirubin dan Glukosa.

Tinjauan Pustaka Pemeriksaan Makroskopik Urinalisis dimulai dengan mengamati penampakan makroskopik : warna dan kekeruhan. Urine normal yang baru dikeluarkan tampak jernih sampai sedikit berkabut dan berwarna kuning oleh pigmen urokrom dan urobilin. Intensitas warna sesuai dengan konsentrasi urine; urine encer hampir tidakberwarna, urine pekat berwarna kuning tua

atau sawo matang. Kekeruhanbiasanya terjadi karena kristalisasi atau pengendapan urat (dalam urineasam) atau fosfat (dalam urine basa). Kekeruhan juga bisa disebabkan olehbahan selular berlebihan atau protein dalam urin. Volume urine normal adalah 750-2.000 ml/24hr. Pengukuran volume inipada pengambilan acak (random) tidak relevan. Karena itu pengukuran volume harus dilakukan secara berjangka selama 24 jam untuk memperolehhasil yang akurat.Kelainan pada warna, kejernihan, dan kekeruhan dapat mengindikasikankemungkinan adanya infeksi, dehidrasi, darah di urin (hematuria), penyakithati, kerusakan otot atau eritrosit dalam tubuh. Obat-obatan tertentu juga dapat mengubah warna urin. Beberapa keadaan yang menyebabkan warna urine adalah : -Merah: Penyebab patologik : hemoglobin, mioglobin, porfobilinogen,porfirin. Penyebab nonpatologik : banyak macam obat dan zat warna, bit,rhubab (kelembak), senna. -Oranye : Penyebab patologik : pigmen empedu. Penyebab nonpatologik :obat untuk infeksi saliran kemih (piridium), obat lain termasuk fenotiazin. -Kuning : Penyebab patologik : urine yang sangat pekat, bilirubin, urobilin.Penyebab nonpatologik : wotel, fenasetin, cascara, nitrofurantoin. -Hijau : Penyebab patologik : biliverdin, bakteri (terutama Pseudomonas).Penyebab nonpatologik : preparat vitamin, obat psikoaktif, diuretik. -Biru: tidak ada penyebab patologik. Pengaruh obat : diuretik, nitrofuran. -Coklat : Penyebab patologik : hematin asam, mioglobin, pigmen empedu

Pemeriksaan Mikroskopik Endapan pertama kali diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran rendah menggunakan lensa obyektif 10X, disebut lapangpandang lemah (LPL) atau low power field (LPF) untuk mengidentifikasi benda-benda besar seperti silinder dan kristal. Selanjutnya, pemeriksaandilakukan dengan kekuatan tinggi menggunakan lensa obyektif 40X, disebutlapang pandang kuat (LPK) atau high power field (HPF) untukmengidentifikasi sel (eritrosit, lekosit, epitel), ragi, bakteri, Trichomonas,filamen lendir, sel sperma. Jika identifikasi silinder atau kristal belum jelas,pengamatan dengan lapang pandang kuat juga dapat dilakukan. Karenajumlah elemen yang ditemukan dalam setiap bidang dapat berbeda dari satubidang ke bidang lainnya, beberapa bidang dirata-rata. Berbagai jenis selyang biasanya digambarkan sebagai jumlah tiap jenis ditemukan per rata-ratadilaporkan sebagai jumlah tiap jenis yang ditemukan per lapang pandang lemah Eritrosit dalam air seni dapat berasal daribagian manapun dari saluran kemih. Secarateoritis, harusnya tidak dapat ditemukanadanya eritrosit, namun dalam urine normaldapat ditemukan 0 3 sel/LPK. Hematuria adalah adanya

peningkatanjumlah eritrosit dalam urin karena: kerusakan glomerular, tumor yangmengikis saluran kemih, trauma ginjal, batu saluran kemih, infeksi, inflamasi,infark ginjal, nekrosis tubular akut, infeksi saluran kemih atas dan bawah,nefrotoksin, dll Sel epitel tubulus ginjal berbentuk bulat atauoval, lebih besar dari leukosit, mengandung intibulat atau oval besar, bergranula dan biasanyaterbawa ke urin dalam jumlah kecil. Namun,pada sindrom nefrotik dan dalam kondisi yang mengarah ke degenerasisaluran kemih, jumlahnya bisa meningkat. Jumlah sel tubulus 13 / LPK ataupenemuan fragmen sel tubulus dapat menunjukkan adanya penyakit ginjalyang aktif atau luka pada tubulus, seperti pada nefritis, nekrosis tubuler akut,infeksi virus pada ginjal, penolakantransplnatasi ginjal, keracunan salisilat.Sel epitel tubulus dapat terisi oleh banyaktetesan lemak yang berada dalam lumentubulus (lipoprotein yang menembusglomerulus), sel-sel seperti ini disebut oval fat bodies/ renal tubular fat / renal tubular fat bodies Silinder (cast) adalah massa protein berbentuk silindris yang terbentuk ditubulus ginjal dan dibilas masuk ke dalam urine. Silinder terbentuk hanyadalam tubulus distal yang rumit atau saluran pengumpul (nefron distal). Tubulus proksimal dan lengkung Henle bukanlokasi untuk pembentukan silinder. Silinder dibagi-bagi berdasarkan gambaran morfologik dan komposisinya. Faktor-faktor yang mendukung pembentukan silinder adalah laju aliran yang rendah,konsentrasi garam tinggi, volume urine yang rendah, dan pH rendah (asam)yang menyebabkan denaturasi dan precipitasi protein, terutama mukoproteinTamm-Horsfall. Mukoprotein Tamm-Horsfall adalah matriks protein yang lengket yang terdiri dari glikoprotein yang dihasilkan oleh sel epitel ginjal.Semua benda berupa partikel atau sel yang terdapat dalam tubulus yangabnormal mudah melekat pada matriks protein yang lengket. Kristal yang sering dijumpai adalah kristal calcium oxallate, triplephosphate, asam urat. Penemuan kristalkristal tersebut tidak mempunyai artiklinik yang penting. Namun, dalam jumlah berlebih dan adanya predisposisiantara lain infeksi, memungkinkan timbulnya penyakit "kencing batu", yaitu terbentuknya batu ginjal-saluran kemih (lithiasis) di sepanjang ginjal saluran kemih, menimbulkan jejas, dan dapat menyebabkan fragmen sel epitel terkelupas. Pembentukan batu dapat disertai kristaluria, dan penemuankristaluria tidak harus disertai pembentukan batu Kristal oksalat umum dijumpai pada spesimen urine bahkan pada pasien yang sehat. Mereka dapat terjadi pada urin dari setiap pH, terutama pada pH yang asam. Kristal bervariasi dalam ukuran dari cukup besar untuk sangat kecil. Kristal ca-oxallate bervariasi dalam ukuran, tak berwarna, dan bebentuk amplop atau halter. Kristal dapat muncul dalam specimen urine setelah konsumsi makanan tertentu (mis. asparagus, kubis, dll) dan keracunan ethylene glycol. Adanya 1 5 ( + ) kristal Ca-oxallate per LPL masih dinyatakan normal, tetapi jika dijumpai lebih dari 5 ( ++ atau +++ ) sudah dinyatakan abnormal.

Glukosa Kurang dari 0,1% dari glukosa normal disaring oleh glomerulus muncul dalam urin (kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalamurin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. Namun, glukosuria dapat terjadi tidak sejalan dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, oleh karena itu glukosuria tidak selalu dapat dipakai untuk menunjang diagnosis diabetes mellitus. Untuk pengukuran glukosa urine, reagen strip diberi enzim glukosaoksidase (GOD), peroksidase (POD) dan zat warna. Keton Badan keton (aseton, asam aseotasetat, dan asam -hidroksibutirat) diproduksi untuk menghasilkan energi saat karbohidrat tidak dapat digunakan. Asam as eotasetat dan asam hidroksibutirat merupakan bahan bakar respirasi normal dan sumber energi penting terutama untuk otot jantung dan korteks ginjal. Apabila kapasitas jaringan untuk menggunakan keton sudah mencukupi maka akan diekskresi ke dalam urine, dan apabila kemampuan ginjal untuk mengekskresi keton telah melampaui batas, maka terjadi ketonemia. Benda keton yang terutama dijumpai di urine adalah aseton dan asam asetoasetat. Peningkatan kadar keton dalam darah akan menimbulkan ketosis sehingga dapat menghabiskan cadangan basa (mis. bikarbonat, HCO3) dalam tubuh dan menyebabkan asidosis. Pada ketoasidosis diabetik, keton serum meningkat hingga mencapai lebih dari 50 mg/dl. Keton memiliki struktur yang kecil dan dapat diekskresikan ke dalam urin. Namun, kenaikan kadarnya pertama kali tampak pada plasma atu serum, kemudian baru urin. Ketonuria (keton dalam urin) terjadi akibat ketosis. Ketonuria disebabkan oleh kurangnya intake karbohidrat (kelaparan, tidak seimbangnya diet tinggi lemak dengan rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidra (kelainan gastrointestinal), gangguan metabolisme karbohidrat (diabetes), sehingga tubuh mengambil kekurangan energi dari lemak atau protein. Protein Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan peningkatan ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel. Sebagian kecil protein plasma disaring di glomerulus dan diserap oleh tubulus ginjal kemudian diekskresikan ke dalam urin. Normal ekskresi protein biasanya tidak melebihi 150

mg/24 jam atau 10 mg/dl urin. Lebih dari 10 mg/dl didefinisikan sebagai proteinuria. Pengukuran proteinuria dapat dipakai untuk membedakan antara penderita yang memiliki risiko tinggi menderita penyakit ginjal kronik yang asimptomatik dengan yang sehat. Proteinuria yang persistent (tetap +1, dievaluasi 2-3x / 3 bulan) biasanya menunjukkan adanya kerusakan ginjal. Proteinuria persistent juga akan memberi hasil +1 yang terdeteksi baik pada sp esimen urine pagi maupun urine sewaktu setelah melakukan aktivitas. Proteinuria positif perlu dipertimbangkan untuk analisis kuantitatif protein dengan menggunakan sampel urine tampung 24 jam. Jumlah proteinuria dalam 24 jam digunakan sebagai indikator untuk menilai tingkat keparahan ginjal (Ronald & Richard,2002). . Proteinuria rendah (kurang dari 500mg/24jam), berkaitan dengan pngaruh obat dari penisilin, gentamisin, sulfonamide, sefalosporin, media kontras, tolbutamid (Orinase), asetazolamid. Proteinuria sedang (500-4000 mg/24 jam) dapat berkaitan dengan

glomerulonefritis akut atau kronis, nefropati toksik (toksisitas obat aminoglikosida, toksisitas bahan kimia), myeloma multiple, penyakit jantung, penyakit infeksius akut, preeklampsia. Proteinuria tinggi (lebih dari 4000 mg/24 jam) dapat berkaitan dengan sindrom nefrotik, glomerulonefritis akut atau kronis, nefritis lupus, penyakit amiloid. Striptest Strip test (dipstick) adalah strip reagen berupa strip plastik tipis yang ditempeli kertas seluloid yang mengandung bahan kimia tertentu sesuai jenis parameter yang akan diperiksa. Strip reagen (dipstick) tersedia dengan bagian bagian yang multiple. Di sebagian besar laboratorium, pemeriksaan yang dilakukan dalam striptest ini adalah pemeriksaan berat jenis, pH, glukosa, protein, darah, keton, bilirubin, urobilinogen, nitrit dan leukosit esterase. Strip reagen sangat menyederhanakan urinalisis, tetapi pemakaiannya harus dilkakukan secara hati hati. Strip harus disimpan dalam wadah tertutup rapat dilingkungan yang dingin dan terlindung dari kelembaban, sinar dan uap kimia (Ronald & Richard,2002). Setiap strip harus diamati sebelum digunakan untuk memastikan bahwa tidak terjadi perubahan warna yang tidak diinginkan. Perubahan warna yang diinterpretasikan yaitu dengan membandingkannya dengan bagian warna rujukan, biasanya pada label wadah. Hasil yang tidak akurat terjadi apabila perubahan warna dibaca terlalu cepat atau terlalu lambat. Pembacaan striptest dengan instrument lebih dianjurkan daripada pembacaan secara visual, hal ini untuk memperkecil kesalahan dan mendapatkan hasil yang paling akurat dan sensitif. Hasil

pemeriksaan strip biasanya dilaporkan sebagai satu kesatuan. Untuk hasil yang abnormal, perlu dilakukan uji kuantitatif konfirmatorik. Semua hasil harus diteliti dalam hal konsistensi internalnya untuk menghindari kesalahan interpretasi. Spesimen urin dengan peningkatan kandungan glukosa akan memiliki berat jenis yang tinggi, kemudian apabila terdapat keton, pH harusnya asam. Spesimen dengan urin yang coklat, merah, atau kabut harus diperiksa untuk melihat ada tidaknya bilirubin dan hemoglobin. Pada beberapa keadaan, ketidakcocokan temuan temuan menunjukkan proses klinis dan teknis dipstick yang kurang baik (Ronald & Richard,2002).

Hasil dan Pembahasan Hasil 1. Uji Fisik a. Makroskopis Berdasarkan pengamatan makroskopis urin sampel dari sapi, urin memiliki volume sebesar 160 ml, berwarna kuning cerah, jernih dan memiliki berat jenis sebesar 1,0067. Hasil makroskopis secara keseluruhan dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Hasil pengamatan mikroskopis urin pada sapi Pengamatan Volume Warna Hasil 160 ml Kuning cerah Kejernihan Berat Jenis Jernih 1,0067

b. Mikroskopis Pada pengamatan mikrokopis urin sampel pada sapi ditemukan suatu masa kristal berbentuk kotak dan ada juga yang runcing. Saat dilakukan uji pH pada urin urin menunjukkan pH asam yaitu sebesar 6,5.

2. Uji Kimia

a. Glukosa (Uji Benedict) Hasil perlakuan adalah urin berwarna lebih keruh b. Keton (Uji Rothera) Hasil perlakuan adalah negatif c. Protein ( Uji Asam Sulfosalisilat). Hasil percobaan adalah terjadi perubahan warna menjadi putih keruh Uji Heller Hasil percobaan adalah terbentuk cincin coklat 3. Strip test Uji dengan strip test mendapatkan hasil urinalisis yang lengkap. Berdasarkan pengujian dengan strip test hasil yang diperoleh adalah jumlah leukosit sebesar 15 leu/l, tidak ada kadar nitrat, tidak ada urobilinogen, kadar protein sebesar 30 (0,3) mg/dl, pH sebesar 6,5, tidak ada darah, berat jenis uris sebesar 1000, tidak ditemukan keton dan bilirubin, kadar glukosa sebesar 100 (5) mg/dl. Hasil pengujian urin dengan strip test dapat dilihat pada table berikut.

Tabel 2. Hasil pengujian sampel urin sapi dengan menggunakan strip test Indikator Kadar dalam Urin Leukosit Nitrat Urobilinogen Protein pH Darah Berat Jenis Keton Bilirubin Glukosa 15 leu / l 30 (0,3) mg/dl 6,5 1000 100 (5) mg/dl

Pembahasan 1. Uji Fisik a. Makroskopis Berdasarkan hasil yang diperoleh pada pengamatan makroskopis urin sapi, urin menunjukkan penampakan fisik yang normal yaitu berwarna kuning cerah dan tidak keruh (Sharp Merck, 2011). Tetapi berat jenis sapi berada diatas kisaran normalnya yaitu sebesar 1,0067. Berat jenis urin normal pada hewan berada pada kisaran 1,025-1,040, tergantung pada spesies (Sharp Merck, 2011). Interpretasi yang dapat diambil dari berat jenis urin yang dibawah normal adalah kemungkinan adanya suatu senyawa yang tidak lazim ditemukan dalam urin, ikut dieksresikan. Senyawa itu dapat berupa protein, keton, glukosa, nitrat, leukosit, eritrosit, urobilinogen, dan bilirubin. Dugaan terjadinya hematuria dan bilirubinemia bisa dihilangkan karena warna urin normal, tidak berwarna merah. Jadi kelainan yang dapat ditemukan dalam kenaikan nilai berat jenis urin adalah proteinuria, ketonuria, pyuria, glukosuria dan kadar nitrat yang tinggi dalam urin. Proteinuria dapat terjadi saat ada inflamasi hemoragi, atau penyakit glomerular. Glukosuria dapat terjadi sebagai akibat dari hiperglikemia (pada kasus diabetes mellitus, hipercorticodismus, atau stress) atau pada gangguan tubulus proksimal ginjal. Ketonuria berhubungungan dengan ketosis primer (pada ruminant), ketosis sekunder pada diabetes mellitus (hewan kecil) dan umumnya karena kelaparan yang lama (Sharp Merck, 2011).

b. Mikroskopis Bentukan kristal yang ditemukan dalam uji mikroskopis urin dapat membantu identifikasi kelainan pada komponen urin. Berdasarkan bentuk yang diperoleh, kemungkinan kristal terbentuk dari asam urat atau cystine. Tipe Kristal yang muncul bergantung pada pH urin, konsentrasi urin, suhu urin, dan lama antara koleksi sampel urin dan pemeriksaan (Sharp Merck, 2011).

Gambar 1. Kristal asam urat

Gambar 2. Kristal cystine

2. Uji Kimia a. Glukosa (Uji Benedict) Darah disaring oleh jutaan nefron, sebuah unit fungsional dalam ginjal. Hasil penyaringan (filtrat) berisi produk-produk limbah (mis. urea), elektrolit (mis. natrium, kalium, klorida), asam amino, dan glukosa. Filtrat kemudian dialirkan ke tubulus ginjal untuk direabsorbsi dan diekskresikan; zat-zat yang diperlukan (termasuk glukosa) diserap kembali dan zat-zat yang tidak diperlukan kembali diekskresikan ke dalam urin. Kurang dari 0,1% glukosa yang disaring oleh glomerulus terdapat dalam urin (kurang dari 130 mg/24 jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui (kadar glukosa darah melebihi 160-180 mg/dl atau 8,9-10 mmol/l), atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Hasil percobaan kali ini adalah urin berwarna lebih keruh. Hal itu berarti bahwa di dalam urin terdapat glukosa dalam jumlah yang sedikit., meskipun dalam jumlah yang sedikit, glukosa tidak boleh ada dalam urin. Bila glukosa terdapat dalam urin, berarti terjadi

glukosuria. Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui (kadar glukosa darah melebihi 160-180 mg/dl atau 8,9-10 mmol/l), atau daya reabsorbsi tubulus yang menurun. Glukosuria umumnya berarti diabetes mellitus. b. Keton (Uji Rothera)

Hasil perlakuan adalah negatif, ini berarti hewan tidak kekurangan glukosa. Badan keton diproduksi ketika karbohidrat tidak dapat digunakan untuk menghasilkan energi yang disebabkan oleh : gangguan metabolisme karbohidrat (mis. diabetes mellitus yang tidak terkontrol), kurangnya asupan karbohidrat (kelaparan, diet tidak seimbang : tinggi lemak rendah karbohidrat), gangguan absorbsi karbohidrat (kelainan gastrointestinal), atau gangguan mobilisasi glukosa, sehingga tubuh mengambil simpanan asam lemak untuk dibakar. Badan keton terdiri dari 3 senyawa, yaitu aseton, asam aseotasetat, dan asam -hidroksibutirat, yang merupakan produk metabolisme lemak dan asam lemak yang berlebihan. Peningkatan kadar keton dalam darah akan menimbulkan ketosis sehingga dapat menghabiskan cadangan basa (mis. bikarbonat, HCO3) dalam tubuh dan menyebabkan asidosis. Pada ketoasidosis diabetik, keton serum meningkat hingga mencapai lebih dari 50 mg/dl. Keton memiliki struktur yang kecil dan dapat diekskresikan ke dalam urin. Namun, kenaikan kadarnya pertama kali tampak pada plasma atu serum, kemudian baru urin. Ketonuria (keton dalam urin) terjadi akibat ketosis. Benda keton yang dijumpai di urine terutama adalah aseton dan asam asetoasetat. Uji keton positif dapat dijumpai pada : Asidosis diabetic (ketoasidosis), kelaparan atau malnutrisi, diet rendah karbohidrat, berpuasa, muntah yang berat, pingsan akibat panas, kematian janin. Pengaruh obat : asam askorbat, senyawa levodopa, insulin, isopropil alkohol, paraldehida, piridium, zat warna yang digunakan untuk berbagai uji (bromsulfoftalein dan fenosulfonftalein). Faktor yang Dapat Mempengaruhi Hasil Laboratorium: Diet rendah karbohidrat atau tinggi lemak dapat menyebabkan temuan positif palsu. Obat tertentu (Lihat pengaruh obat). Urin disimpan pada temperature ruangan dalam waktu yang lama dapat menyebabkan hasil uji negaif palsu. Adanya bakteri dalam urin dapat menyebabkan kehilangan asam asetoasetat. Anak penderita diabetes cenderung mengalami ketonuria daripada penderita dewasa. c. Protein ( Uji Asam Sulfosalisilat). Hasil percobaan adalah terjadi perubahan warna menjadi putih keruh dan pada Uji Heller hasil percobaan adalah terbentuk cincin coklat. Kedua uji ini berarti terjadi proteinuria. Pengukuran proteinuria dapat dipakai untuk membedakan antara penderita yang memiliki risiko tinggi menderita penyakit ginjal kronik yang asimptomatik dengan yang sehat. Proteinuria yang persistent (tetap +1, dievaluasi 2-3x / 3 bulan) biasanya

menunjukkan adanya kerusakan ginjal. Proteinuria persistent juga akan memberi hasil +1 yang terdeteksi baik pada spesimen urine pagi maupun urine sewaktu setelah melakukan aktivitas. Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena penyakit glomeruler, diabetes mellitus, dan hipertensi. Sedangkan peningkatan ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel. Proteinuria positif perlu dipertimbangkan untuk analisis kuantitatif protein dengan menggunakan sampel urine tampung 24 jam. Jumlah proteinuria dalam 24 jam digunakan sebagai indikator untuk menilai tingkat keparahan ginjal. Proteinuria rendah (kurang dari 500mg/24jam). Pengaruh obat : penisilin, gentamisin, sulfonamide, sefalosporin, media kontras, tolbutamid (Orinase), asetazolamid (Diamox), natrium bikarbonat. Proteinuria sedang (500-4000 mg/24 jam) dapat berkaitan dengan glomerulonefritis akut atau kronis, nefropati toksik (toksisitas obat aminoglikosida, toksisitas bahan kimia), myeloma multiple, penyakit jantung, penyakit infeksius akut, preeklampsia. Proteinuria tinggi (lebih dari 4000 mg/24 jam) dapat berkaitan dengan sindrom nefrotik, glomerulonefritis akut atau kronis, nefritis lupus, penyakit amiloid. d. Strip Test Leukosit dapat berada dalam urin normal dengan jumlah <5 WBC/ lapang pandang dalam perbesaran 400x10 (Sharp Merck, 2011). Peningkatan jumlah leukosit dalam urin (pyuria) dapat terjadi karena inflamasi infeksi trauma atau neoplasia. Jika terjadi proteinuria maka signifikansi dapat dihitung dengan membagi konsentrasi protein dan konsentrasi keratin urin (UP:UC). Intrepretasi UP:UC seperti berikut : <05:1 normal, 0,51,0:1,0 dipertanyakan, dan >1,0-1,0 adalah abnormal (Sharp Merck, 2011). Angka pH urin umumnya bersifat asam pada anjing dan kucing, serta bersifat basa pada kuda dan ruminansia. Tetapi pH juga dipengaruhi oleh pakan, obat-obatan, atau keberadaan suatu penyakit. Pada hasil pengamatan pH cenderung asam. Hal ini merupakan pH abnormal pada ruminansia. Berdasarkan hasil uji ditemukan adanya kadar glukosa dalam urin. Glukosuria merupakan peristiwa yang tidak normal karena kemampuan ginjal menahan glukosa > 180 mg/dl pada kebanyakan spesies . Glukosuria dapat terjadi sebagai akibat dari

hiperglikemia (pada kasus diabetes mellitus, hiperkortikodismus, atau stress) atau pada gangguan tubulus proksimal ginjal (Sharp Merck, 2011).

Daftar Pustaka . Rabiyah. 2011. Pemeriksaan Makroskopis. (www.scribd.com/doc/51301025/.../II-2Pemeriksaan-Makroskopik) Ronald, A. & Richard, A. 2002. Widmans clinical interpretation of laboratory test 11ed. F.A Davis Company: ECG. Sharp Merck & Corp Dohme. 2011. Urinalysis. [terhubung berkala]. Soewoko, 2003. Fisiologi Manusia. Malang: Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negri Malang Wella, B, B. 1965. Clinic Pathology Application and Interpretasion Third Edition. USA : WB Saunders Company. http://iqbalali.com/2008/02/10/urinalisis-analisis-kemih/ Diakses tanggal 20 April 2011. http://www.merckvetmanual.com/mvm/index.jsp?cfile=htm/bc/150218.htm. [20 April 2011]