Anda di halaman 1dari 8

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Manajemen Risiko ini tepat pada waktunya. Penyusunan makalah ini bukanlah tanpa hambatan, kami merasa banyak hambatan yang kami hadapi. Namun, atas bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak,hambatanhambatan tersebut dapat kami hadapi sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada: Bapak Ir. Heri Supomo.,M.Sc sebagai Dosen Mata Kuliah Manajemen Risiko Mas Ichan sebagai Asisten Dosen Manajemen Risiko Pihak lain yang telah membantu penyusunan makalah ini Kami menyadari bahwa tiada sesuatu yang sempurna, begitupun dengan makalah ini. Oleh karena itu,kami memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan,dan kami senantiasa mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca. Akhir kata, kami mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat agi para pembaca. Surabaya, April 2013

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ....................................................................................................................... 1 DAFTAR ISI....................................................................................................................................... 2 BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................................................ 3 BAB II METODE PENGIDENTIFIKASIAN RISIKO.................................................................. 4 2.1. 2.2. 2.3. Konsep Risiko ............................................................................................................ 4 Metode Pengidentifikasian Risiko ................................................................... 4 Contoh Pengidentifikasian Risiko ................................................................... 5

BAB III PENUTUP........................................................................................................................... 7 3.1. 3.2. Kesimpulan................................................................................................................. 7 Saran ............................................................................................................................. 7

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................ 8

BAB 1 PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata Risiko dan sudah biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari oleh kebanyakan orang. Risiko merupakan bagian dari kehidupan kerja individual maupun organisasi. Berbagai macam risiko, seperti risiko kebakaran, tertabrak kendaraan lain di jalan, risiko terkena banjir di musim hujan dan sebagainya, dapat menyebabkan kita menanggung kerugian jika risiko-risiko tersebut tidak kita antisipasi dari awal. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Sebagaimana kita pahami dan sepakati bersama bahwa tujuan perusahaan adalah membangun dan memperluas keuntungan kompetitif organisasi. Risiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi. Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan. Menurut Wideman, ketidakpastian yang menimbulkan kemungkinan menguntungkan dikenal dengan istilah peluang (opportunity), sedangkan ketidakpastian yang menimbulkan akibat yang merugikan disebut dengan istilah risiko (risk). Dalam beberapa tahun terakhir, manajemen risiko menjadi trend utama baik dalam perbincangan, praktik, maupun pelatihan kerja. Hal ini secara konkret menunjukkan pentingnya manajemen risiko dalam bisnis pada masa kini. Dalam manajemen risiko terdapat tahapan yang dinamakan identifikasi risiko. Tahapan ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko yang harus dikelola suatu lembaga atau pihak terkait melalui proses yang sistematis dan terstruktur. Proses ini sangat penting karena risiko yang tidak teridentifikasi pada proses ini tidak akan ditangani pada proses-proses selanjutnya. Proses ini juga harus mengupayakan untuk mengidentifikasi risiko-risiko baik yang berupa kendali organisasi maupun luar kendali. Proses tersebut dimulai dengan mengidentifikasikan secara komprehensif, ekstensif dan intensif mengenai risiko apa saja yang akan terjadi. Setelah memperoleh daftar risiko yang dapat terjadi maka dimulai analisis mengapa hal tersebut dapat terjadi dan bagaimana terjadinya. Sasaran identifikasi risiko adalah mengembangkan daftar sumber risiko dan kejadian komprehensif serta memiliki dampak terhadap pencapaian sasaran dan target yang teridentifikasi dari konteks. Dokumen utama yang dihasilkan dalam proses ini adalah daftar risiko.

BAB II METODE PENGIDENTIFIKASIAN RISIKO


2.1. Konsep Risiko

Risiko berhubungan dengan ketidakpastian ini terjadi oleh karena kurang atau tidak tersedianya cukup informasi tentang apa yang akan terjadi. Sesuatu yang tidak pasti (uncertain) dapat berakibat menguntungkan atau merugikan. Istilah risiko memiliki beberapa definisi. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian, atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Menurut Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut. Yang pertama adalah Risk is the chance of loss (risiko adalah kans kerugian). Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada. Kemudian Risk is the possibility of loss (risiko adalah kemungkinan kerugian). Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada di antara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif. Selanjutnya adalah Risk is uncertainty (risiko adalah ketidakpastian). Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi risiko berikut. Setelah itu Risk is the dispersion of actual from expected results (risiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan). Ahli statistik mendefinisikan risiko sebagai derajat penyimpangan sesuatu nilai di sekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata. Dan yang terakhir adalah Risk is the probability of any outcome different from the one expected (risiko adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan) Menurut definisi di atas, risiko bukan probabilitas dari suatu kejadian tunggal, tetapi probabilitas dari beberapa outcome yang berbeda dari yang diharapkan. Dari berbagai definisi di atas, risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Dengan kata lain, kemungkinan itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian. Konsep lain yang berkaitan dengan risiko adalah peril dan hazard. Peril merupakan suatu peristiwa yang dapat menimbulkan terjadinya suatu kerugian. Sedangkan hazard merupakan keadaan dan kondisi yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya peril.

2.2.

Metode Pengidentifikasian Risiko

Pengidentifikasian risiko merupakan proses analisa untuk menemukan secara sistematis dan berkesinambungan atas risiko (kerugian yang potensial) yang dihadapi perusahaan. Oleh karena itu, diperlukan checklist untuk pendekatan yang sistematis

dalam menentukan kerugian potensial. Salah satu alternatif sistem pengklasifikasian kerugian dalam suatu checklist adalah; kerugian hak milik (property losses), kewajiban mengganti kerugian orang lain (liability losses) dan kerugian personalia (personnel losses). Checklist yang dibangun sebelumnya untuk menemukan risiko dan menjelaskan jenis-jenis kerugian yang dihadapi oleh suatu perusahaan. Perusahaan yang sifat operasinya kompleks, berdiversifikasi dan dinamis, maka diperlukan metode yang lebih sistematis untuk mengeksplorasi semua segi. Metode yang dianjurkan adalah sebagai berikut: 1. Questioner analisis risiko (risk analysis questionnaire) 2. Metode laporan Keuangan (financial statement method) 3. Metode peta aliran (flow-chart) 4. Inspeksi langsung pada objek 5. Interaksi yang terencana dengan bagian-bagian perusahaan 6. Catatan statistik dari kerugian masa lalu 7. Analisis lingkungan Dengan mengamati langsung jalannya operasi, bekerjanya mesin, peralatan, lingkungan kerja, kebiasaan pegawai dan seterusnya, manajer risiko dapat mempelajari kemungkinan tentang hazard. Oleh karena itu, keberhasilannya dalam mengidentifikasi risiko tergantung pada kerja sama yang erat dengan bagian-bagian lain yang terkait dalam perusahaan. Manajer risiko dapat menggunakan tenaga pihak luar untuk proses mengidentifikasikan risiko, yaitu agen asuransi, broker, atau konsultan manajemen risiko. Hal ini tentunya memiliki kelemahan, di mana mereka membatasi proses hanya pada risiko yang diasuransikan saja. Dalam hal ini diperlukan strategi manajemen untuk menentukan metode atau kombinasi metode yang cocok dengan situasi yang dihadapi. 2.3. Contoh Pengidentifikasian Risiko Dalam proses manajemen risiko meliputi beberapa tahapan yaitu, identifikasi risiko, menganalisa risiko, mengevaluasi risiko, menanggulangi risiko dan memantau risiko. Dalam makalah ini hanya akan membahas mengenai proses identifikasi risiko, yang dalam hal ini adalah proses identifikasi mengenai perusahaan air minum. Proses pengidentifikasiannya adalah sebagai berikut. Air bersih atau air minum sangat penting artinya bagi kehidupan manusia. Kajian global kondisi air di dunia yang disampaikan pada World Water Forum II di Denhaag, Belanda tahun 2000, memproyeksikan bahwa pada tahun 2025 akan terjadi krisis air di beberapa negara. Krisis air dapat saja terjadi di Indonesia apabila pemerintah dan perusahaan air minum tidak dapat secara maksimal mengelola asset utamanya. Berbagai permasalahan yang dihadapi perusahaan air minum saat ini, seperti: tingginya tingkat kebocoran air yang diproduksi, kapasitas produksi yang belum terpakai, biaya operasional/pemeliharaan untuk menghasilkan air bersih setiap meter kubiknya masih lebih tinggi atau sama dengan harga jual air setiap meter kubiknya, belum dapat terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan air minum bersih, baik secara

kuantitas maupun kualitas, konflik perebutan air baku yang melintasi dua atau lebih pemerintah daerah, adanya daerah yang tidak menyediakan pengaturan air baku, adanya penggundulan hutan di kawasan daerah aliran sungai, kesulitan keuangan, terbelit hutang yang cukup besar dan tidak mampu membayar hutang sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, bahkan tidak sedikit dari perusahaan air minum yang ada, jika ditinjau dari posisi keuangan perusahaan sudah dalam keadaan pailit mencerminkan belum maksimalnya pengelolaan asset utama perusahaan air minum. Bagi perusahaan air minum, infrastruktur air minum merupakan asset utama yang nilainya signifikan. Oleh karena itu, harus dikelola secara baik mulai sejak perencanaan kebutuhan, penyediaan dana, pengadaan asset, pengoperasian, pemeliharaan, hingga pada pemusnahan asset. Risiko merupakan peristiwa yang menghambat pencapaian tujuan perusahaan. Seluruh risiko yang mungkin terjadi dan berdampak negative bagi perusahaan secara signifikan harus terlebih dahulu diidentifikasi. Pada perusahaan air minum risiko yang mungkin terjadi adalah (proses identifikasi risiko): 1. Ketidaktersediaan air di sumber air dapat terjadi karena kegagalan pada struktur sumber air, kekeliruan dalam memperkirakan hasil/kapasitas penyimpanan, kualitas sumber air yang tidak memenuhi syarat, dan kegiatan operasional yang tidak tepat. 2. Kehilangan air yang sebenarnya (real loss) dapat terjadi karena adanya penguapan air di tempat penyimpanan (storage evaporation), dan kebocoran (leakage) seperti kebocoran pada pipa jaringan distribusi, dan tempat penyimpanan air/reservoir. 3. Kehilangan air yang jelas terlihat (apparent loss) dapat terjadi karena adanya pengukuran meteran yang tidak akurat (inaccurate metering) seperti alat kalibrasi meteran yang tidak akurat, alat meteran yang sudah tua, alat meteran yang berputar rendah, dan adanya pemakaian air yang tidak terukur dengan meteran (unmetered usage) seperti pemakaian yang tidak dibenarkan (pemakaian untuk irigasi yang tidak illegal, pemakaian hidran yang tidak illegal, sambungan pipa yang tidak illegal) dan pemakaian yang dibenarkan (pemadam kebakaran, pekerjaan jalan, dan taman). 4. Pencemaran lingkungan dapat terjadi karena pembuangan air limbah yang tidak terkendali dari kegiatan pemeliharaan atau kegagalan jaringan pipa. 5. Terganggunya keselamatan dan kesehatan masyarakat pengguna air minum dapat terjadi karena kerusakan peralatan dan tercemarnya sumber air minum/produksi air minum selama pembangunan, pemeliharaan, atau pengoperasian infrastruktur penyedia air. 6. Kenaikan harga asset infrastruktur penyedia air dapat terjadi karena kenaikan tingkat inflasi, kenaikan nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah, dan kenaikan harga bahan bakar minyak. 7. Kenaikan tingkat suku bunga pinjaman dapat terjadi karena kondisi perekonomian nasional yang tidak baik.

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan

Pada pembahasan diatas adalah menganai proses pengidentifikasian risko. Dengan mengambil studi kasus mengenai perusahaan air minum. Dari hasil identifikasi tersebut terdapat berbagai macam risiko yang dapat menghambat tujuan perusahaan tersebut. Manajemen asset berbasis resiko adalah salah satu yang dapat menjadi salah satu solusi dalam rangka memaksimalkan pengelolaan asset perusahaan air minum. Walaupun penerapan manajemen resiko pada perusahaan air minum di Indonesia khususnya perusahaan daerah air minum belum ada peraturan hukumnya, namun karena manajemen resiko merupakan praktik terbaik (best practice) maka seyogyanya sudah mulai dapat diterapkan secara sistematis, terintegrasi, dan melekat pada setiap aktivitas bisnis perusahaan air minum, khususnya pada aktivitas manajemen asset sehingga tujuan manajemen asset dapat tercapai.

3.2.

Saran
Penulis sadar bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari kata sempurna dan

penulis sadar masih banyak kekeliruan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun untuk penulis.

DAFTAR PUSTAKA
Artikel Sumber Daya Air, Website Bappenas. (diakses pada 08 April 2013 pukul 19.00 WIB) Artikel Water Infrastucture, Website GAO, Maret 2004. (diakses pada 08 April 2013 pukul 19.05 WIB) http://bppk.depkeu.go.id (diakses pada 08 April 2013 pukul 19.07 WIB) http://wikipedia.org (di akses pada 08 April 2013 pukul 19.10 WIB) Slide Pengantar Pengelolaan Asset (Infrastruktur), Gary Mc Lay, Website, 2 Juni 2006. (diakses pada 08 April 2013 pukul 20.00 WIB) Darmawi, Herman. Manajemen Resiko. Bumi Aksara, 2005. (di akses pada 08 April 2013 pukul 20.15 WIB)

Anda mungkin juga menyukai