Anda di halaman 1dari 91

BAB 1. PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Bank merupakan perusahaan yang menjual jasa keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat, baik kepada pemerintah, dunia usaha dan perorangan. Bank merupakan lembaga intermediasi yang memiliki peran dalam membiayai proyekproyek pembangunan yang bertujuan menggairahkan industri baru maupun yang sedang berkembang, dalam wujud menyediakan dana atau pemberian kredit menjadikan bank atau lembaga keuangan memiliki struktur modal yang berbeda dengan perusahaan lainnya (Jumingan, 2009:239). Fungsi utama bank adalah menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat, sedangkan fungsi pendukung bank adalah memberikan jasa-jasa bank lainnya. Dana yang dihimpun adalah berupa giro, deposito maupun tabungan, kemudian disalurkan kembali berupa pinjaman kredit, surat berharga, penempatan pada bank lain dan lain sebagainya. Faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank adalah kepercayaan dari masyarakat, apabila bank bisa menjaga kepercayaan tersebut maka para nasabah akan bersimpati dan akan menggunakan jasa bank tersebut (Kasmir, 2000:3).

Tabel 1 Perkembangan Aset Bank Umum (dalam Milyar Rupiah)


Kelompok Bank Bank Persero BUSN Devisa BUSN Non Devisa BPD Bank Campuran Bank Asing Total Aset 2006 621.212 663.002 29.657 159.476 64.421 156.083 1.693.850 2007 741.988 768.730 39.012 170.012 90.480 176.083 1.986.501 2008 847.563 883.470 42.467 185.252 118.131 233.674 2.310.557 2009 979.078 958.549 55.762 200.542 135.675 204.502 2.534.106 2010 1.115.519 1.203.370 78.485 239.141 149.990 222.347 3.008.853 2011 1.328.168 1.464.007 107.085 304.003 181.088 268.482 3.652.832 2012 1.264.866 1.459.221 106.740 307.452 185.475 274.961 3.598.715

Sumber: Statistik Perbankan Indonesia, data diolah. Bank umum yang dimaksud dalam tabel 1 tersebut adalah semua bank konvensional maupun syariah yang berada di Indonesia (Bank Indonesia, 2013). Berdasarkan tabel diatas bisa dilihat bahwa setiap tahunnya yaitu mulai dari tahun 2006 hingga 2012 perkembangan aset yang dimiliki bank selalu mengalami
1 1

peningkatan. Ini berarti dana yang disalurkan oleh bank kepada masyarakat semakin bertambah setiap tahunnya, dengan kata lain himpunan dana yang diperoleh bank melalui nasabahnya dan melalui bank lain juga mengalami peningkatan. Pada setiap penyaluran kredit, bank membutuhkan pembiayaan yang cukup besar, karena itulah bank membutuhkan adanya tambahan dana, bila tidak maka akan berdampak pada menurunnya kecukupan modal minimum yang harus dimiliki bank. Perolehan dana tersebut bisa diperoleh dari simpanan masyarakat atau dari lembaga keuangan lainnya. Sedangkan untuk membiayai kegiatan operasionalnya bank bisa memperoleh dari modal sendiri, berupa penjualan saham. Kegiatan bank dalam memilih dana segar bisa mempengaruhi besar kecilnya biaya yang akan ditanggung nantinya, sehingga bank harus bisa dengan tepat memilih struktur modal yang sesuai dengan tujuannya (Kasmir, 2000:46). Menurut Siringoringo (2012) penting bagi manajemen bank untuk menentukan kebijakan struktur modal dalam mendukung kegiatan operasional bank, khususnya dalam penyaluran kredit. Pemenuhan sumber dana untuk kegiatan utama bank akan berbeda apabila bank ingin mencari dana untuk melakukan investasi baru atau perluasan usahanya. Karena, pemenuhan dana untuk kegiatan utama bank berupa penyaluran kredit kepada masyarakat diperoleh dari simpanan, sedangkan modal sendiri digunakan untuk pemenuhan kebutuhan investasi baru atau perluasan usaha. Kebijakan struktur modal merupakan suatu kebijakan yang menyangkut kombinasi yang optimal dari penggunaan berbagai sumber dana yang akan dipakai untuk membiayai suatu investasi dan juga untuk mendukung operasional perusahaan dalam usaha meningkatkan laba perusahaan dan pencapaian nilai perusahaan yang tinggi (Gitman, 2009). Struktur modal yang kuat sangat penting bagi sebuah bank, karena dengan struktur modal yang kuat bank akan bisa menghadapi persaingan global dan krisis ekonomi yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Untuk bisa mencapainya, bank harus memperhatikan berbagai hal penting diantaranya profitabilitas, likuiditas, risiko bisnis, dividen, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan umur bank.

Bank

bisa

memiliki

struktur

modal

yang

optimal

bila

bisa

menyeimbangakan antara risiko pemberian kredit yang disalurkan terhadap manfaat yang diperoleh dari pemberian kredit tersebut. Bank akan bisa meningkatkan profitabilitasnya dan bisa memenuhi kebutuhan operasionalnya dengan dana internalnya tersebut. Kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya terhadap para nasabah berkaitan erat dengan likuiditas bank. Semakin banyak pengajuan kredit yang akan dipenuhi oleh bank semakin besar pula dana yang dibutuhkan bank untuk memenuhinya. Sehingga, bank juga harus memperhatikan kelancaran likuiditasnya agar kepercayaan nasabahnya tidak berkurang karena bank tidak bisa menyediakan cukup dana atas penarikan dana yang dilakukan nasabah sewaktuwaktu. Bank merupakan lembaga keuangan yang menjual jasa keuangan berupa pemberian kredit, sehingga bank dihadapkan dengan risiko bisnis yaitu risiko kredit. Dimana bila risiko kredit bank tinggi, nasabah akan enggan menanamkan dananya pada bank tersebut dan menurunkan kepercayaan nasabah terhadapnya. Setiap perusahaan yang memperoleh laba akan membagikan bagian laba tersebut dalam bentuk dividen, begitu juga dengan bank. Pembagian dividen akan memberikan sinyal kepada investor tentang keadaan perusahaan, bank yang membagikan dividen dianggap memiliki dana internal memadai untuk kegiatan operasionalnya, sehingga tidak perlu melakukan pendanaan eksternal. Masalah agensi yang menyangkut perbedaan kepentingan antara pemegang saham dengan pihak manajemen bisa dikurangi dengan pemberian saham kepada manajemen maupun kepemilikan saham oleh institusi, diharapkan dengan kepemilikan manajerial maupun institusional akan membuat manajemen berhati-hati dalam keputusan pendanaan yang akan dilakukannya. Semakin bertambahnya umur bank, maka bank akan mengalami setiap siklus hidupnya. Dimana pada masing-masing siklus tersebut akan membutuhkan pendanaan yang berbeda-beda, sehingga bank harus bisa menyeimbangkan keputusan pendanaannya dengan kebutuhan dananya.

Berdasarkan latar belakang tersebut maka akan menjadi sangat menarik untuk meneliti determinan struktur modal bank yang ada di Indonesia. Penelitian lain pernah dilakukan oleh Suko (2006), Yuhasril (2006), Tri (2007), Solfidan dan Maryani (2007), Masud (2008), Erkaningrum (2008), Sri (2009), Joni dan Lina (2010), Supratiningrum (2010), Margaretha dan Aditya (2010) dan Seftianne dan Ratih (2011).

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Faktor apakah yang menjadi penentu struktur modal bank? Faktor yang dimaksud untuk dikaji antara lain profitabilitas, likuiditas, risiko bisnis, dividen, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan umur bank.

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah : Untuk mengkaji faktor apakah yang menjadi penentu struktur modal bank. Faktor yang dimaksud untuk dikaji antara lain profitabilitas, likuiditas, risiko bisnis, dividen, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan umur bank.

1.3.2 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat diantaranya bagi:
1. Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumber referensi untuk dikritisi lebih lanjut, terutama yang menyangkut struktur modal bank.

2. Manajemen Bank

Penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan pertimbangan bagi manajemen bank yang menyangkut mengenai struktur modal.
3. Regulator Perbankan

Penelitian ini diharapkan bisa digunakan untuk menentukan kebijakan struktur modal bank dengan mempertimbangkan faktor-faktor dalam penelitian ini.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Teori Struktur Modal Teori-teori struktur modal yang telah berkembang diantaranya (Tri, 2007): 1. Pendekatan Tradisional Pada pendekatan tradisional diasumsikan bahwa dalam pasar modal yang sempurna dan tidak ada pajak, nilai perusahaan (atau biaya modal perusahaan) dapat diubah dengan merubah struktur modalnya. Menurut Husnan (1998) berdasarkan pendekatan tradisional ini, terdapat struktur modal optimal untuk setiap perusahaan yaitu pada saat nilai perusahaan maksimum atau struktur modal yang mengakibatkan biaya modal rata-rata tertimbang minimum. 2. Pendekatan Miller dan Modigliani Menurut teori M&M (1958) keputusan keuangan tidak akan merubah nilai perusahaan dan pendapatan pemegang saham dengan asumsi tidak ada pajak, tidak ada asimetri informasi dan tidak ada biaya transaksi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Berger et al. (1995) menguji mengapa pasar tidak terpengaruh oleh: a) pajak dan biaya kesulitan keuangan, b) biaya transaksi dan asimetri informasi, entah itu diperusahaan keuangan maupun tidak semua faktor tersebut valid. 3. Pendekatan Laba Bersih atau Net Income Pendekatan laba bersih mengasumsikan bahwa investor memiliki reaksi yang berbeda terhadap penggunaan hutang oleh perusahaan (Sartono, 1990), pada pendekatan ini biaya modal rata-rata tertimbang konstan berapapun tingkat hutang yang digunakan oleh perusahaan. Asumsi pertama dalam pendekatan ini adalah biaya hutang konstan sama seperti dalam pendekatan laba bersih, asumsi kedua bahwa penggunaan hutang yang semakin besar mengakibatkan peningkatan risiko perusahaan. Karena itulah tingkat keuntungan yang diminta oleh pemilik modal akan meningkat dengan semakin tingginya risiko perusahaan. Akibatnya biaya modal rata-rata tertimbang tidak mengalami perubahan dan keputusan struktur modal menjadi tidak berarti.

4. Pendekatan Balanced Theory dan Pecking Order Theory Pendekatan balanced theory menyatakan bahwa untuk mencapai nilai maksimum pasar perusahaan akan mempertahankan struktur modal yang telah ditargetkan. Teori ini kemudian lebih dikenal dengan trade off theory. Kebijakan mengenai struktur modal melibatkan trade-off antara risiko dan tingkat pengembalian penambahan hutang memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Perusahaan akan memiliki struktur modal yang optimal berdasarkan adanya keseimbangan (trade-off) antara manfaat dan biaya yang diperoleh dari penggunaan utang. Pada industri keuangan seperti bank, proses pengambilan keputusan yang menyangkut struktur modal yang paling penting diperhatikan adalah trade-off antara insentif dengan tata kelola (governance), serta struktur kepemilikan bank sebagai kontrol terhadap pengalokasian ekuitas dan utang (Marques dan Santos, 2003). Pecking Order Theory menjelaskan bahwa perusahaan cenderung menggunakan dana internalnya terlebih dahulu, yaitu laba ditahan dan depresiasi daripada menggunakan sumber dana eksternal. Namun bila perusahaan mengalami keterbatasan dengan dana internalnya, maka perusahaan akan lebih memilih menggunakan hutang daripada ekuitas (Siregar, 2005).

2.1.2 Teori Keagenan (Agency Theory) Faktor khusus yang hanya dimiliki oleh bank adalah jaringan pengaman. Bank dibawah perlindungan jaringan pengaman, seperti sistem asuransi deposito, jaminan pembayaran, cadangan kewajiban dan lain-lain. Selain itu jaringan pengaman yang membedakan bank dengan perusahaan non keuangan lainnya, dan merupakan determinan stuktur modal bank adalah peraturan mengenai kecukupan modal minimum bank atau CAR (Asarkaya dan Serkan, 2007). Bank merupakan lembaga yang memiliki peran fital terhadap

perekonomian suatu negara, karena itulah mengapa bank memiliki perlindungan baik dengan jaringan pengaman dan juga yang diperoleh dari pemerintah. Ini menyebabkan bank lebih berani dalam mengambil risiko. Penelitian yang

dilakukan oleh Merton (1977) dan Karekan dan Wallace (1978) dalam Prescott (2001) menyimpulkan adanya keterkaitan antara perlindungan tersebut dengan teori agensi di dalam struktur modal.

2.1.3 Signaling Theory Teori ini menjelaskan bahwa tindakan yang dibuat oleh manajemen perusahaan merupakan isyarat bagi investor tentang prospek perusahaan. Perusahaan dengan prospek baik cenderung lebih memilih untuk berhutang daripada menjual saham untuk pemenuhan modal baru, karena penerbitan saham baru dinilai memberikan isyarat negatif karena perusahaan mencari investor baru untuk berbagi kerugian (Brigham dan Houston, 2001). Perusahaan dengan prospek kurang menguntungkan akan cenderung menjual sahamnya untuk berbagi kerugian dengan investor, dan pengumuman emisi saham menandakan bahwa manajemen memandang prospek perusahaan suram. Begitu pula dengan perusahaan yang menerbitkan saham lebih sering dari biasanya, isyarat negatif yang ditanggap investor adalah penurunan harga saham sekalipun prospek perusahaan cerah.

2.1.4 Kebijakan Struktur modal Sumber dana yang bisa diperoleh bank ada dua yaitu sumber dana internal dan sumber dana eksternal. Sumber dana internal berasal dari laba ditahan yang terkumpul selama berjalannya kegiatan perusahaan, sedangkan sumber dana eksternal ada yang berasal dari pemilik yaitu modal sendiri dan ada yang berasal dari pihak ketiga yaitu simpanan masyarakat (berupa tabungan, giro, deposito) maupun lembaga keuangan lainnya. Modal merupakan motor penggerak operasional perusahaan, sehingga perusahaan harus mampu menjaga keseimbangan finansialnya. Pada masingmasing pembiayaan yang dipilih oleh perusahaan akan menimbulkan biaya modal. Untuk pembiyaan dengan hutang akan muncul biaya modal berupa biaya bunga, pada bank adalah beban bunga yang harus dibayarkan kepada deposan atas dana

simpanan yang dipercayakan kepada bank tersebut. Sedangkan pembiayaan dengan ekuitas, akan menimbulkan biaya modal berupa dividen. Pada bank, semakin besar dana yang dipercayakan nasabah kepada bank tersebut itu berarti rasio hutangnya akan lebih besar dibandingkan dengan modalnya. Bank harus mampu mengoptimalkan dana yang dihimpunnya dari masyarakat dengan menyalurkannya kembali berupa pinjaman kredit kepada masyarakat. Dalam penelitian ini struktur modal diukur dengan menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), karena DER dapat mencerminkan besarnya proporsi antara total hutang dan total modal sendiri. Total hutang terdiri dari hutang jangka pendek dan jangka panjang, sedangkan total modal sendiri terdiri dari modal saham disetor dan laba ditahan yang dimiliki perusahaan. Dengan kata lain semakin tinggi DER semakin besar komposisi hutang dibandingkan dengan total modal sendiri, sehingga semakin besar pula kewajiban yang ditanggung oleh bank terhadap nasabah maupun lembaga keuangan lainnya yang menyimpan dana di bank tersebut.

2.2 Relational Struktur Modal dan Kinerja Keuangan Terdapat tiga ukuran kinerja keuangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Profitabilitas, Likuiditas dan Risiko Kredit. 1. Profitabilitas Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia rasio rentabilitas yang bisa digunakan dalam mengukur profitabilitas suatu bank adalah rasio ROA (Return on Assets) dan BOPO (Beban Operasi dibandingkan dengan Pendapatan Operasi). Pada penelitian ini rasio yang digunakan untuk mengukur profitabilitas bank adalah ROA yaitu perbandingan antara laba sebelum pajak setahun dengan total aset yang dimiliki oleh bank. Berdasarkan kegiatan utama bank, yaitu menyalurkan dana kepada para debitur maka besarnya jumlah kredit yang disalurkan akan menentukan keuntungan bank tersebut. Sesuai dengan teori trade off, untuk bisa menjaga struktur modal, bank harus bisa memadukan keseimbangan antara risiko

pemberian pinjaman dengan manfaat atau keuntungan yang diperoleh atas pinjaman tersebut (Siringoringo, 2012). 2. Likuiditas Menurut Weston dan Thomas (1997) likuiditas merupakan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya yang akan jatuh tempo, semakin tinggi tingkat likuiditasnya berarti perusahaan itu mampu memenuhi tuntutan kreditur jangka pendek dengan aktiva yang diperkirakan menjadi uang tunai dalam periode yang sama dengan jatuh tempo hutang. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia rasio likuiditas yang dapat digunakan adalah Loan to Deposit Ratio (LDR). Rasio LDR merupakan rasio yang membandingkan seluruh jumlah kredit yang diberikan bank dengan dana yang diterima oleh bank (Dendawijaya, 2003). Semakin banyak pengajuan kredit yang harus dipenuhi oleh bank, maka bank akan berusaha untuk mencari sumber dana baru. Pemenuhan dana tersebut bisa mempengaruhi likuiditas bank dalam memenuhi kewajibannya kepada para deposan. Bank yang meningkatkan sumber dananya melalui simpanan atau pinjaman kepada lembaga keuangan lain demi menutupi jumlah pinjaman kreditnya tanpa menyeimbangkan dengan modal yang dimilikinya akan berdampak terhadap menurunnya CAR bank. Sesuai dengan teori trade-off bank harus bisa menyeimbangkan antara insentif yang diperolehnya melalui pinjaman kredit dengan tata kelola pemerintah, dalam hal ini kecukupan modal minimum bank yang harus terpenuhi. 3. Risiko Bisnis Risiko bisnis yang dihadapi bank adalah risiko kredit, yaitu risiko yang timbul sebagai kegagalan counterparty memenuhi kewajiban (PBI, 2003). Sedangkan menurut Susilo, et al (1999) risiko kredit yang dihadapi bank merupakan akibat dari tidak dipenuhinya kewajiban debitur kepada bank, seperti pembayaran pokok pinjaman, pembayaran bunga dan lain-lain. Tidak

dibayarkannya pinjaman tersebut kepada bank akan menyebabkan bank mengalami kerugian karena tidak bisa memperoleh pendapatan dari pembayaran piutang tersebut.

10

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia, rasio keuangan yang bisa digunakan untuk mengukur nilai suatu risiko kredit adalah Non Performing Loan (NPL). Bila rasio NPL tinggi maka akan berpengaruh terhadap CAR bank, bank dengan CAR dibawah yang disyaratkan pemerintah adalah bank yang tidak sehat. Nasabah akan enggan menyimpan dananya di bank yang tidak sehat, karena perasaan was-was bila terjadi sesuatu terhadap bank tersebut.

2.3 Relasional Struktur Modal dan Dividen Dividen adalah bagian dari laba yang dibagikan kepada pemegang saham dari laba yang diperoleh perusahaan, dividen ini yang dibagikan kepada pemegang saham biasa. Rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) merupakan alat yang digunakan untuk menentukan jumlah laba ditahan serta memaksimalkan nilai perusahaan. Menurut Hasnawati (2008) dividen dianggap memberikan informasi mengenai tingkat pengembalian yang diberikan oleh emiten serta memberikan gambaran kondisi keuangannya. Bank yang membayarkan dividennya dianggap mendapatkan laba dan memiliki modal yang memadai untuk mencukupi kebutuhan operasionalnya. Namun, bisa saja bank membagikan dividen padahal bank tersebut mengalami kerugian, hal ini dilakukan guna meningkatkan nilai bank dimata investor.

2.4 Relasional Struktur Modal dan Struktur Kepemilikan Terdapat dua jenis struktur kepemilikan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu kepemilikan manajerial dan kepemilikan institusional. 1. Kepemilikan Manajerial Perilaku manajemen yang cenderung menggunakan hutang yang tinggi bukan untuk memaksimalkan nilai perusahaan, tetapi untuk kepentingan pribadi mereka akan menyebabkan risiko kebangkrutan perusahaan meningkat. Masalah ini timbul karena tidak seimbangnya informasi (asymmetric information) yang didapat oleh manajemen dengan pemegang saham atau pemilik.

11

Untuk mengatasi masalah tersebut pihak pemegang saham mengeluarkan biaya pengawasan yang dinamakan biaya keagenan (Horne dan Wachowick, dalam Seftianne, 2011). Kepemilikan manajerial salah satu cara mengurangi biaya keagenan, dengan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen dan selain itu manajer merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan juga keputusan yang diambil menimbulkan kerugian dia akan merasakan dampaknya. 2. Kepemilikan Institusional Menurut Mohd et al (1998, dalam Wihidahwati, 2002) kepemilikan institusional berfungsi sebagai monitoring agents, dimana distribusi kepemilikan saham dari luar yaitu investor institusi dapat mengurangi biaya keagenan, karena kepemilikan memiliki suatu sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap keberadaan manajemen. Kepemilikan saham oleh institusi memainkan peranan penting yaitu secara aktif dan konsisten dalam melindungi investasi saham yang dipertaruhkan di dalam perusahaan, mekanisme ini menjamin peningkatan kemakmuran pemegang saham (Bathala et al, 1994). Pada bank kepemilikan institusional tidak hanya dimiliki oleh pemerintah, namun juga bisa dimiliki oleh swasta baik domestik maupun asing.

2.5 Relasional Struktur Modal dan Umur Bank Setiap perusahaan akan mengalami lima tahap siklus kehidupan yaitu pendirian, ekspansi, pertumbuhan tinggi, kedewasaan dan penurunan. Pada setiap tahap siklus kehidupan ini kebutuhan akan besarnya modal akan berbeda. Guna memenuhi kebutuhan tersebut perusahaan akan menggunakan pendanaan yang berbeda pula. Damodaran (1997) dalam teori analisis kehidupan pendanaan menggambarkan kerangka strategi pendanaan yang dipilih perusahaan

dihubungkan dengan tahap siklus hidup perusahaan.

12

Lima tahap tersebut adalah: a. Tahap Pendirian Tahap ini adalah tahap permulaan bagi setiap perusahaan baru. Segala sesuatu yang mendukung operasi perusahaan bersifat baru. Biasanya perusahaan yang baru didirikan berbentuk perusahaan perorangan dimana kebutuhan modalnya dipenuhi oleh pemilik (pendiri) ditambah dana pinjaman dari bank. Sifat dari perusahaan yang baru berdiri adalah keengganan mereka untuk

mengandalkan pinjaman dana dari

pihak luar karena kemampuan

infrastruktur masih belum memungkinkan. b. Tahap Ekspansi Pada tahap ini perusahaan sudah memiliki pelanggan dan cukup mampu memposisikan keberadaannya di pasar. Manajemen termotivasi untuk melakukan pengembangan, untuk itu dibutuhkan dana eksternal sangat tinggi karena aliran kas masuk relatif kecil. Pilihan awal biasanya berasal dari dana perorangan dan modal ventura. Tidak jarang perusahaan akan mengambil keputusan untuk menjadi perusahaan publik. c. Tahap Pertumbuhan Begitu memasuki masa transisi untuk menjadi perusahaan publik, pilihan sumber pendanaan menjadi semakin terbuka. Pada tahap ini, kebutuhan dana eksternal bersifat moderat relatif terhadap nilai perusahaan. Kecenderungan perilaku aliran kas pada tahap ini masih tidak jauh berbeda dengan tahap kedua dimana laba yang diperoleh masih belum seimbang dibandingkan dengan pendapatan usaha (penjualan dan aliran kas yang masuk juga belum banyak sementara kebutuhan investasi relatif tinggi. Biasanya perusahaan yang sudah menjadi perusahaan publik dan berada pada tahap pertumbuhan akan mencari alternatif pendanaan lain selain menambah saham yang ditawarkan ke publik melalui mekanisme right issue atau opsi ekuitas. Bila perusahaan memilih menggunakan sumber dana hutang, ada kecenderungan untuk memilih bentuk hutang yang dapat dikonversi.

13

d. Tahap Kedewasaan Perusahaan yang memasuki tahap ini mempunyai dua ciri yaitu: 1. Peningkatan laba dan aliran kas yang cepat sebagai cermin dari keberhasilan investasi masa lalu. 2. Kebutuhan dana untuk investasi ada produk dan proyek baru akan mulai menurun. Tingkat pertumbuhan akan mulai mendatar. Pada tahap ini kebutuhan dana eksternal mulai menurun dan sebagai gantinya, karena perusahaan telah mampu mencukupi kebutuhan dari dana dalam, dana internal akan lebih menarik untuk dijadikan alternatif pendanaan. Jenis kebutuhan dana di luar mulai berubah. Perusahaan akan lebih menyukai dana hutang, khususnya dari bank atau dengan menerbitkan obligasi. e. Penurunan Pada tahap ini ciri utama yang ditemui adalah penurunan yang stabil terhadap pendapatan dan laba sebagai konsekuensi dari kedewasaan perusahaan dan masuknya pesaing-pesaing baru. Walaupun investasi yang ada masih mampu menghasilkan aliran kas, tetapi jumlahnya relatif tidak banyak. Disamping itu, kebutuhan perusahaan untuk investasi baru mulai menurun. Pada tahap ini kebutuhan dana eksternal menurun drastis karena proyek-proyek atau investasi baru juga menurun dan jumlah dana internal yang tersedia di perusahaan sangat besar. Perusahaan berfikir bahwa penjualan saham atau obligasi sudah bukan alternatif yang menarik lagi bahkan dengan kelebihan dana internal perusahaan mulai berfikir untuk melunasi semua kewajibannya atau membeli kembali sahamnya. Pada tahap ini dapat dikatakan bahwa perusahaan secara bertahap mengalami apa yang dinamakan sebagai melikuidasi diri sendiri.

14

2.6 Kajian Empirik Beberapa penelitian empiris tentang struktur modal telah dilakukan beberapa peneliti di Indonesia, diantaranya: Tabel 2 Tabel Ringkasan Penelitian Terdahulu
Peneliti Suko (2006) Alat Uji Uji Regeresi Linier Berganda Variabel Operating Leverage, Current Ratio, Growth, Price Earnings Ratio, Struktur Aktiva dan Return on Assets. ROI, DPR dan Struktur Aktiva (rasio aset tetap) Size, tangibility, non debt tax, profitability dan depresiasi. Managerial Ownership, Institutional Investor, Return on Asset, Business Risk dan Ukuran perusahaan Profitability, Size, Growth Opportunity, Asset Structure, Cost of Financial Distress, Tax Shields Effects. Dividend payout ratio, investasi, profitability, size, struktur aset, variability of earnings. Ukuran perusahaan, risiko bisnis, tingkat pertumbuhan, struktur aktiva dan profitabilitas Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Dividen, Pertumbuhan Perusahaan, Free Cash Flow dan Profitabilitas Pertumbuhan aset, profitability, struktur aset, ukuran Hasil Penelitian Operating Leverage (-), CR (+), Growth (+), PER (+), ROA (-)

Yuhasril (2006)

Sofilda dan Maryani (2007) Tri (2007)

Uji Regeresi Linier Berganda Uji Regeresi Linier Berganda Uji Regeresi Linier Berganda

ROI (-) dan Struktur aktiva (-) Profitability (-)

Managerial Ownership (-), Institutional Investor (-), Return on Asset (+) dan Business Risk (-)

Masud (2008)

SEM (Structural Equation Modelling) Uji Regeresi Linier Berganda Uji Regeresi Linier Berganda

Erkaningrum (2008)

Sri (2009)

Profitability (+), Size (+), Growth Opportunity (+), Asset Structure (+), Financial Distress (+). DPR (-), Profitability (-), variability of earnings (-), size (+), struktur aset (+). Struktur aktiva dan profitabilitas

Putri dan Ratih (2009)

Uji Regeresi Linier Berganda

Kepemilikan institusional (+), Profitabilitas (-) dan Free Cash Flow (+)

Joni dan Lina (2010)

Uji Regeresi Linier Berganda

Pertumbuhan aktiva (+), struktur aktiva (+) dan profitabilitas (-)

15

Margaretha dan Aditya (2010)

Uji Regeresi Linier Berganda

perusahaan, dividen, risiko bisnis. Size, tangibility, profitability, liquidity, growth, non-debt tax shield, age dan investment

Seftianne dan Ratih (2011)

Uji Regeresi Linier Berganda

Growth opportunity, managerial ownership, business risk, profitability, liquidity, struktur aktiva dan ukuran perusahaan. Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Kebijakan Dividen, Profitabiliatas

Size (long term), tangibility (short, long term), profitability (total, short), liquidity (total, short), growth (total, short), age (short). Growth opportunity (+) dan ukuran perusahaan (-)

Saktiawan dan Emrinaldi (2012)

Uji Regeresi Linier Berganda

Kepemilikan Institusional (-) dan kebijakan dividen (-).

Sumber: Berbagai Artikel Penelitian sebelumnya yang dilakukan untuk menganalisis determinan struktur modal, ternyata banyak terdapat ketidakkonsistenan hasil, sehingga peneliti tertarik untuk meneliti kembali pada kurun waktu terkini dari variabel profitabilitas, likuiditas, risiko bisnis, dividen, kepemilikan manajerial,

kepemilikan institusional dan umur bank. Penelitian ini menggunakan ukuran kinerja keuangan yang digunakan khusus pada bank, yaitu Loan to Deposit Ratio (LDR) untuk mengukur likuiditas bank dan Non Performing Loan (NPL) untuk mengukur risiko bisnis bank yaitu risiko kredit. Populasi penelitian ini adalah bank di Indonesia selama tahun 2006 hingga 2011.

2.7 Pengembangan Hipotesis 2.7.1 Variabel Profitabilitas sebagai Determinan Struktur Modal Bank Profitabilitas pada bank sesuai dengan SE No. 6/23/DPNP tahun 2004 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, diukur dengan menggunakan ROA (Return On Assets), rasio ini menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba selama periode tertentu.

16

Berdasarkan kegiatan utama bank, yaitu menyalurkan dana kepada para debitur maka laba yang diperoleh bank berasal dari pendapatan bunga pinjaman kredit tersebut. Sesuai dengan teori trade off, untuk bisa menjaga struktur modal, bank harus bisa memadukan keseimbangan antara risiko pemberian pinjaman dengan manfaat atau keuntungan yang diperoleh atas pinjaman tersebut (Siringoringo, 2012). Ketentuan Bank Indonesia menetapkan bahwa rasio ROA yang baik atau sehat adalah 2%. Itu artinya semakin tinggi nilai ROA maka bank semakin efektif dalam penggunaan aktiva untuk menghasilkan keuntungan. (Siringoringo, 2012). Apabila ROA meningkat maka bank dikatakan sehat, itu berarti nilai CAR sebagai kecukupan modal minimum yang harus dimiliki oleh bank, mampu memenuhi kebutuhan operasionalnya tanpa menggunakan pendanaan dari hutang maupun ekuitas. Penelitian-penelitian yang mendukung profitabilitas sebagai determinan struktur modal dengan arah hubungan yang negatif diantaranya Suko (2006), Solfida dan Maryani (2007), Joni dan Lina (2010), Andry (2010),

Suprantiningrum (2010), Erkaningrum (2010) dan Dian (2012). Penelitian yang dilakukan oleh Yuhasril (2006), Tri (2007) dan Masud (2008) menguji hubungan antara profitabilitas dengan struktur modal di perusahaan. Berdasarkan penelitian tersebut ditemukan bahwa meningkatnya profitabilitas akan meningkatkan daya tarik pihak eksternal (investor dan kreditor) untuk menanamkan dananya ke dalam perusahaan, dimungkinkan tingkat hutang perusahaan juga akan meningkat. Ha1 = Profitabilitas sebagai determinan struktur modal bank 2.7.2 Variabel Likuiditas sebagai Determinan Struktur Modal Bank Sesuai dengan SE No. 6/23/DPNP tahun 2004 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia likuiditas suatu bank diukur dengan menggunakan rasio LDR (Loan to Deposito Ratio) yang mengukur total kredit yang disalurkan dengan jumlah dana yang dimiliki.

17

Bank dengan tingkat LDR tinggi menandakan bahwa kredit yang dibiayai lebih banyak dari pada dana yang tersedia untuk dipinjamkan, bank menjadi tidak likuid. Hal ini akan menyebabkan bank tidak bisa memenuhi kewajiban jangka pendeknya kepada para nasabahnya, apabila nasabah menarik dananya dari bank tersebut. Menurut Pecking Order Theory, perusahaan yang mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi, memiliki dana internal yang memadai untuk aktivitas operasionalnya (Seftianne, 2011). Dalam penelitian yang dilakukan Ozkan (2001) dalam Seftianne (2011) diketahui bahwa perusahaan dengan aset liquid yang besar dapat menggunakan aset ini untuk berinvestasi. Penelitian yang mendukung adanya hubungan negatif antara tingkat likuiditas dengan keputusan pendanaan perusahaan adalah Kusumawati (2004), Setiawan (2006), Husein (2008), Margaretha dan Aditya (2010) dan Dian (2012). Suko (2006) dalam penelitiannya menemukan bahwa tingkat likuiditas yang diukur dengan Current Ratio memiliki hubungan positif terhadap struktur modal, artinya bahwa dengan peningkatan likuiditas akan menambah keyakinan investor akan likuiditas perusahaan, sehingga mempermudah manajemen menambah pinjaman dari luar. Ha2 = Likuiditas sebagai determinan struktur modal bank 2.7.3 Variabel Risiko Bisnis sebagai Determinan Struktur Modal Bank Risiko kredit pada bank menggunakan rasio Non Performing Loan (NPL) yaitu untuk mengukur kredit dalam kualitas kurang lancar, diragukan dan macet dibandingkan dengan total kredit yang diberikan (SE No. 6/23/DPNP, 2004). Rasio NPL yang dinyatakan baik oleh Bank Indonesia yaitu sebesar 5%, apabila bank memiliki rasio NPL yang tinggi itu menandakan risiko kredit macetnya tinggi. Sesuai dengan teori Pecking Order, tingginya risiko kredit dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat, sehingga bank akan mengalami kesulitan dalam menghimpun dana dari simpanan nasabah maupun lembaga keuangan lainnya (Siringoringo, 2012).

18

Weston dan Brighan (1994), Husnan (1998), Setiawan (2006) dan Tri (2007) menyatakan bahwa risiko bisnis yang tinggi justru mngurangi keputusan perusahaan menggunakan dana eksternal berupa hutang. Hasil yang bertentangan ditunjukkan melalui penelitian yang dilakukan Masud (2008) dan Andry (2010) bahwa risiko bisnis berhubungan positif dengan keputusan perusahaan untuk berhutang, dimana manajemen perusahaan tetap meningkatkan hutangnya dalam jumlah besar meskipun risiko yang dimilikinya cukup tinggi, hal ini menunjukkan bahwa investor tidak berhenti untuk memberikan pinjaman dana kepada perusahaan, karena dengan risiko yang tinggi maka return yang diperoleh investor juga semakin tinggi. Ha3 = Risiko bisnis sebagai determinan struktur modal bank 2.7.4 Variabel Dividen sebagai Determinan Struktur Modal Bank Dividen merupakan bagian laba yang akan dibagikan kepada pemegang saham biasa, dividen merupakan sinyal yang menunjukkan mengenai tingkat pengembalian yang diberikan oleh emiten serta gambarang mengenai kondisi keuangannya (Hasnawati, 2008). Kondisi keuangan perusahaan dapat dilihat dari pembayaran dividen, akrena perusahaan diasumsikan akan membayarkan dividen hanya jika perusahaan mendapatkan laba dan dimiliki dana internal yang memadai. Namun bisa jadi perusahaan membagikan dividen walaupun perusahaan sedang mengalami kerugian, untuk meningkatkan nilai perusahaan (Joni dan Lina, 2010). Secara tidak langsung, kebijakan dividen akan mempengaruhi tingkat penggunaan hutang suatu perusahaan. Pembayaran dividen akan mengurangi dana internal perusahaan (Mayangsari, 2001). Bila dana internal yang digunakan untuk pembayaran dividen tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional perusahaan, maka perusahaan akan mencari pendanaan eksternal berupa hutang. Siregar (2005) menyatakan dalam penelitiannya bahwa dividen berpengaruh positif terhadap struktur modal perusahaan.

19

Penelitian yang dilakukan Erkaningrum (2008) menemukan bahwa dividen memiliki hubungan negatif terhadap struktur modal, menurutnya dividend payout ratio yang kecil akan membuat perusahaan melakukan pinjaman yang besar, dan sebaliknya. Penelitian dengan hasil yang sama juga dilakukan oleh Mohd et al. (1998) dalam Putri dan Ratih (2009) dan Murni dan Andriana (2007). Ha4 = Dividen sebagai determinan struktur modal bank 2.7.5 Variabel Kepemilikan Manajerial sebagai Determinan Struktur Modal Bank Kepemilikan manajerial bisa menjadi salah satu cara mengurangi biaya keagenan yang ditimbulkan dari perbedaan kepentingan antara manajemen dengan pemilik. Dengan kepemilikan manajerial akan menyejajarkan kepentingan manajemen dengan pemegang saham (Jensen dan Meckling, dalam Wahidawati, 2002). Istilah struktur kepemilikan digunakan untuk menunjukkan bahwa variabel-variabel yang penting dalam struktur modal tidak hanya ditentukan dengan jumlah hutang dan ekuitas, tetapi juga oleh prosentase kepemilikan oleh manajer dan institusional. Kepemilikan manajerial menjadi sebuah pengawasan eksplisit bagi manajemen, agar berhati-hati dalam kaitannya penggunaan dana eksternal. Karena, kepemilikan manajerial meningkatkan kepemilikan saham perusahaan oleh manajemen sehingga manajemen akan merasakan dampak dari keputusan yang akan diambil, bila keputusan itu salah maka dia juga akan menanggung kerugiannya. Menurut Tri (2007) kepemilikan saham oleh manajemen cenderung akan membuat manajemen berhati-hati dalam menggunakan kebijakan hutang, meningkatnya kepemilikan saham oleh manajemen akan menurunkan jumlah hutang, sehingga kepemilikan manajerial diharapkan berhubungan negatif terhadap kebijakan hutang perusahaan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahidawati (2002), Masdupi (2005) dan Tri (2007) menemukan bahwa kepemilikan manajerial semakin besar rasio kepemilikan saham oleh manajemen akan mengurangi pendanaan ekternal yang dilakukan oleh perusahaan, baik menggunakan hutang maupun ekuitas.

20

Penelitian lain yang dilakukan oleh Agrawal dan Mendelker (1987) dalam Putri dan Ratih (2009), menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kepemilikan manajerial terhadap struktur modal. Terlihat bahwa kepemilikan manajerial pada perusahaan yang varian pengembaliannya meningkat lebih besar daripada yang varian pengembaliannya rendah. Ha5 = Kepemilikan manajerial sebagai determinan struktur modal bank 2.7.6 Variabel Kepemilikan Institusional sebagai Determinan Struktur Modal Bank Kepemilikan mewakili suatu sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau sebaliknya terhadap keberadaan manajemen maka konsentrasi atau penyebaran kekuasaan menjadi suatu hal yang relevan. Adanya kepemilikan oleh investor-investor institutional seperti perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi dan kepemilikan oleh institusi lain dalam bentuk perusahaan akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal terhadap kinerja insider (Mohd et al, 1998 dalam Tri 2007). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Chaganti dan Damanpour (1991) (dalam Tri, 2007) menyimpulkan bahwa kepemilikan institusional yang rendah akan meningkatkan struktur modal perusahaan, sama seperti yang dinyatakan oleh Wihidahwati (2002), Masdupi (2005) dan Tri (2007). Hasil penelitian tersebut berbeda dengan yang dilakukan oleh Ismiyanti dan Mahmud (2003) dan Murni dan Andriana (2007), yang menyatakan bahwa semakin besar kepemilikan institusional maka semakin besar pula dana ekternal yang digunakan perusahaan untuk memenuhi kegiatan investasi maupun operasionalnya. Hasil ini menunjukkan bahwa wewenang yang dimiliki oleh institusi lebih besar daripada kelompok pemegang saham lain cenderung akan memilih proyek berisiko tinggi untuk dibiayai dengan pinjaman demi memperkecil risiko yang ditanggung dan memperoleh pengembalian yang besar. Ha6 = Kepemilikan institusional sebagai determinan struktur modal bank

21

2.7.7

Variabel Umur Bank sebagai Determinan Struktur Modal Bank Perusahaan yang telah memasuki fase maturity menandakan umur

perusahaan tersebut telah cukup lama, sehingga dia telah mampu mengelolah aktivitas operasionalnya dan tidak membutuhkan banyak hutang lagi. Menurut Bhaduri (2002) umur perusahaan merupakan salah satu faktor penentu bagi struktur modal, perusahaan kecil yang berumur relatif muda akan menggunakan hutang yang lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan ekuitas sebagai struktur modal. Berbeda dengan Bhaduri, Ramlall (2009) menyatakan bahwa perusahaan yang berumur lebih tua akan menggunakan hutang yang lebih kecil, karena perusahaan besar yang umurnya relatif tua dapat mengelola cash flow lebih baik dari pada perusahaan yang lebih muda. Penelitian yang dilakukan oleh Margaretha dan Aditya (2010) menyimpulkan bahwa umur perusahaan merupakan determinan struktur modal dengan menggunakan ukuran short term leverage. Ha7 = Umur bank sebagai determinan struktur modal bank

2.8

Kerangka Konseptual Penelitian Kerangka konseptual yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu faktor-

faktor

yang

menjadi

penentu

struktur

modal.

Faktor-faktor

tersebut

diimplementasikan ke dalam bentuk regresi untuk mengetahui pengaruh masingmasing variabel secara parsial. Faktor-faktor tersebut adalah profitabilitas, likuiditas, risiko bisnis, dividen, kepemilikan manajerial, kepemilikan

institusional dan umur bank.

22

Bank Keputusan pendanaan

Utang

Modal / Ekuitas

Profitabilitas (X1) Likuiditas (X2) Risiko Bisnis (X3) Dividen (X4) Kepemilikan Manajerial (X5) Kepemilikan Institusional (X6) Umur Bank (X7)

Struktur Modal Bank (Y)

Gambar 1 Kerangka Konseptual

23

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Metode Analisis 3.1.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksplanatori yang menguji hipotesis dengan aplikasi teori dalam memecahkan masalah dan mengadakan interprestasi antar kelompok dari faktor dalam obyek yang diteliti (Sularso, 2003:30). 3.1.2 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan tahunan yang telah dipublikasikan oleh bank. Sedangkan sumber data penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan yang diperoleh dari situs masing-masing bank dan Direktori Perbankan Indonesia di Bank Indonesia periode 2006 hingga 2011. Penelitian ini menggunakan pooling data yaitu penggabungan data cross section dan time series. 3.1.3 Populasi dan Sampel Penelitian ini mengambil populasi semua bank umum yang ada di Indonesia. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive sampling dimana populasi yang akan dijadikan sampel penelitian adalah populasi yang memenuhi kriteria sampel tertentu sesuai dengan yang dikehendaki oleh peneliti dan sampel yang dipilih dengan cermat sehingga relevan dengan rancangan penelitian, peneliti akan berusaha agar dalam sampel terdapat wakil-wakil segala lapisan populasi. Sampel tersebut diusahakan memiliki ciri-ciri yang esensial, strata apa yang harus diwakili, tergantung pada penilaian atau pertimbangan dari peneliti. Teknik ini dipilih dengan maksud agar hasil yang diperoleh lebih akurat. Adapun kriteria dalam pengambilan sampel adalah perusahaan tersebut diantaranya adalah tidak melakukan corporate action yaitu marger dan akuisisi selama tahun pengamatan 2006 sampai 2011, karena kondisi dan posisi keuangan perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi berbeda dengan yang tidak melakukan, sehingga dapat memberikan hasil yang bias.

24

24

3.2 Definisi Operasional Variabel Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Struktur Modal sebagai variabel terikat (variabel dependen), sedangkan variabel bebasnya (variabel independen) adalah Profitabilitas (X1), Likuiditas (X2), Risiko Bisnis (X3), Dividen (X4), Kepemilikan Manajerial (X5), Kepemilikan Institusional (X6) dan Umur Bank (X7). Definisi operasionalnya adalah sebagai berikut: 1. Struktur Modal Struktur modal adalah mencerminkan komponen modal yang digunakan oleh bank. Dalam penelitian ini pendekatan DER (Debt to Equity Ratio) digunakan sebagai parameter struktur modal. 2. Profitabilitas Profitabilitas merupakan laba yang diperoleh bank, hasil yang diperoleh atas kegiatan operasional yang dilakukannya. Pendekatan ROA (Return On Assets) digunakan sebagai parameter dari profitabilitas pada penelitian ini. 3. Likuiditas Likuiditas merupakan dana yang dimiliki bank untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya kepada para deposan. Likuiditas dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan suatu bank dalam menyediakan dana kepada debiturnya dengan dana yang dikumpulkan dari masyarakat. 4. Risiko Bisnis Risiko Bisnis yang dipakai dalam penelitian ini adalah risiko kredit. Risiko kredit ini dapat diukur dengan menggunakan Non Performing Loan (NPL) yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelolah kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. 5. Dividen Dividen di dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan Dividend Payout Ratio, untuk mengetahui seberapa banyak dividen tunai yang dibayarkan bank dengan menggunakan pendapatan bersih.

25

6. Kepemilikan Manajerial Kepemilikan Manajerial menunjukkan bahwa bank yang bersangkutan memiliki saham yang dikuasai oleh manajemen atau tidak. 7. Kepemilikan Institusional Porsi kepemilikan saham oleh lembaga pemerintahan,swasta domestik dan swasta asing. 8. Umur Bank Umur bank adalah lamanya usia bank terhitung sejak bank berdiri hingga tahun penelitian dilakukan. 3.3 Teknik Analisis Data Untuk menjelaskan kekuatan dan arah pengaruh beberapa variabel bebas atau variabel penjelas (independent / explanatory variable) terhadap satu variabel terikat (dependent variable), teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan model regresi berganda atau multiple regression dengan menggunakan variabel dummy. Hubungan antara variabel dependen (Y) dengan variabel independen (X) dijelaskan dalam model regresi berganda sebagai berikut:

DER = a + b1 ROA + b2 LDR + b3 NPL + b4 DPR + b5 DKM + b6 KI + b7 AGE +e (3.1)


Dimana :

DER a b1,b2,b3,b4,b5,b6,b7 ROA LDR NPL DPR DKM KI AGE e

= Debt to Equity Ratio = Konstanta = Koefisien regresi variabel ROA, LDR, NPL, DPR, DKM, KI, AGE = Return On Assets = Loan to Deposit Ratio = Non Performing Loan = Dividen Payout Ratio = Kepemilikan Manajerial = Kepemilikan Institusional = Umur Bank = Variabel residual

26

Cara menghitung masing-masing variabel digunakan rumus sebagai berikut: DER = Hutang Modal Sendiri (3.2)

ROA = Laba sebelum pajak disetahunkan Rata-rata Total Aset LDR = Kredit Dana Pihak Ketiga

(3.3)

(3.4)

Kredit merupakan total kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk antar bank, sedangkan dana pihak ketiga mencakup giro, tabungan dan deposito (tidak termasuk antar bank) (SE No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004). NPL = Kredit dalam kualitas kurang lancar, diragukan dan macet Total Kredit (3.5)

DPR = Cash Dividend Net Income

(3.6)

Kepemilikan Manajerial= 1, bila observasi ada kepemilikan manajerial 0, bila observasi tidak ada kepemilikan manajerial (3.7) Kepemilikan Institusional = Kepemilikan Saham Institusional Total Kepemilikan Saham (3.8)

AGE = Tahun penelitian Tahun pendirian bank 3.4 Uji Asumsi Klasik

(3.9)

3.4.1 Uji Multikolinieritas Uji multikolinieritas menunjukkan apakah pada model regresi terdapat korelasi di antara beberapa atau semua variabel independen. Jika dalam model terdapat multikolinieritas maka model tersebut memiliki kesalahan standar yang besar sehingga koefisien tidak dapat ditafsirkan dengan ketepatan tinggi. Masalah
27

multikolinieritas juga akan menyebabkan kesulitan dalam melihat pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. Deteksi multikolinieritas pada suatu model dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain (Agung, 58:2005): 1. Jika nilai Variance Inflation Factor (VIF) tidak lebih dari 10 dan nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1, maka model dapat dikatakan terbebas dari multikolinieritas VIF = 1 / Tolerance, jika VIF = 10 maka Tolerance = 1/10 = 0,1. Semakin tinggi VIF maka semakin rendah Tolerance. 2. Jika nilai koefisien korelasi antar masing-masinh variabel independen kurang dari 0,70, maka model dapat dinyatakan bebas dari asumsi klasik multikolinieritas. Jika lebih dari 0,7 maka diasumsikan terjadi korelasi yang sangat kuat antar variabel independen sehingga terjadi multikolinieritas. 3. Jika nilai koefisien determinan, baik dilihat dari R2 maupun R-Square di atas 0,60 namun tidak ada variabel independen yang berpengaruh terhadap variabel dependen. Maka ditengarai model terkena multikolinieritas.

Cara mengatasi apabila terjadi multikolinieritas adalah sebagai berikut (Ghozali, 95 : 2006): 1. Menggabungkan data cross section dan time series (polling data) 2. Mengeluarkan satu atau lebih variabel independen yang memiliki korelasi tinggi dengan model regresi dan diidentifikasi dengan variabel lain untuk membantu prediksi. 3. Transformasi variabel dalam bentuk log natural dan bentuk first difference atau delta. 4. Menggunakan model dengan variabel independen yang mempunyai korelasi tinggi hanya semata-mata untuk memprediksi (dengan tidak menginterprestasi koefisien regresi). 5. Menggunakan model analisis yang lebih canggih seperti baynesian regression atau dalam kasus khusus ridge regression.

28

3.4.2

Uji Autokorelasi Menguji autokorelasi dalam suatu model berjutuan untuk mengetahui ada

tidaknya korelasi antara variabel pengganggu (et). Autokorelasi sering terjadi pada sampel dengan data time series dengan n-sampel adalah periode waktu. Sedangkan untuk sampel data crossection dengan n-sampel item seperti perusahaan, orang, wilayah, dan lain sebagainya jarang terjadi, karena pengganggu item sampel yang satu berbeda dengan yang lain (Agung, 2005:59). Cara mudah untuk mendeteksi autokorelasi dapat dilakukan dengan uji Durbin Watson. Model regresi linier berganda terbebas dari autokorelasi jika nilai Durbin Watson hitung terletak di daerah No Autocorelasi. Untuk mempercepat proses ada tidaknya autokorelasi dalam suatu model dapat digunakan patokan nilai Durbin Watson hitung mendekati angka 2. Jika nilai Durbin Watson hitung mendekati atau di sekilas angka 2 maka model tersebut terbebas dari asumsi klasik autokorelasi, karena angka 2 pada uji Durbin Watson terletak di daerah No Autocorelasi (Agung, 2005:60). Menurut Ghozali (2006:96) bila nilai Durbin-Watson tidak dapat memberikan kesimpulan apakah data yang digunakan terbebas dari autokorelasi atau tidak, maka perlu dilakukan Run-Test. Pengambilan keputusan didasarkan pada acak atau tidaknya data, apabila bersifat acak maka dapat diambil kesimpulan bahwa data tidak terkena autokorekasi.

3.4.3 Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi yang dipakai dalam penelitian ini terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dalam satu residual dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap maka disebut homokedastisitas, dan jika varians berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi

heteroskedastisitas (Ghozali, 2007:105).

29

Menurut

Agung

(2005:62)

cara

memprediksi

ada

tidaknya

heteroskedastisitas pada suatu model dapat dilihat dari pola gambar Scatterplot model tersebut. Analisis pada gambar Scatterplot yang menyatakan model regresi linier berganda tidak terdapat heteroskedastisitas jika: 1. Titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau di sekitar angka 0. 2. Titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja. 3. Penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali. 4. Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola. Cara memperbaiki apabila pada model regresi terjadi heteroskedastisitas adalah sebagai berikut (Ghozali, 2006:109): 1. Melakukan transformasi dalam bentuk model regresi dengan membagi model regresi dengan salah satu variabel independen yang digunakan dalam model tersebut. 2. Melakukan trasformasi logaritma, sehingga model persamaan regresi menjadi Log Y = b0 + bi log Xi (3.10)

3.5 Deskripsi Statistik Mengulas tentang data-data statistik dari masing-masing variabel seperti: 1. Mean, yaitu rata-rata dari nilai data penelitian 2. Nilai minimal, yaitu nilai terendah dalam data penelitian 3. Nilai maksimal, yaitu nilai tertinggi dalam data penelitian

3.6 Pengujian Hipotesis Uji t Uji parsial ini digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel tersebut memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel dependen atau tidak. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan rumus: T hitung = i Si (3.11)

30

Keterangan: T : koefisien t hitung i : koefisien regresi Si : standar deviasi bebas Langkah-langkah (Gujarati, 2004) sebagai berikut: 1. Menentukan formulasi pengujian hipotesis dengan menggunakan dua sisi. Ho1 Ha1 Ho2 Ha2 Ho3 Ha3 Ho4 Ha4 Ho5 Ha5 Ho6 Ha6 Ho7 Ha7 : Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap struktur modal bank : Profitabilitas berpengaruh terhadap struktur modal bank : Likuiditas tidak berpengaruh terhadap struktur modal bank : Likuiditas berpengaruh terhadap struktur modal bank : Risiko bisnis tidak berpengaruh terhadap struktur modal bank : Risiko bisnis berpengaruh terhadap struktur modal bank : Dividen tidak berpengaruh terhadap struktur modal bank : Dividen berpengaruh terhadap struktur modal bank : Kepemilikan Manajerial tidak berpengaruh terhadap struktur modal bank : Kepemilikan Manajerial berpengaruh terhadap struktur modal bank : Kepemilikan Institusional tidak berpengaruh terhadap struktur modal bank : Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap struktur modal bank : Umur bank tidak berpengaruh terhadap struktur modal bank : Umur bank berpengaruh terhadap struktur modal bank

2. Menentukan level of significant (). 3. Kriteria Pengujian a. Bila nilai P-value > , = 10% maka Ho: bi = 0 diterima, artinya secara individual variabel independen Xi tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. b. Sebaliknya bila nilai P-value < , = 10% maka Ho : bi = 0 ditolak, artinya secara individual variabel independen Xi berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.

31

3.7 Kerangka Pemecahan Masalah START

Bank Indonesia

DATA SEKUNDER: Laporan Keuangan Tahunan Bank (2006-2011)

Variabel Dependen : Struktur Modal

Analisis Regresi Berganda

Variabel Independen : Profitabilitas, Likuiditas, Risiko Bisnis, Dividen, Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional dan Umur Bank

Uji Asumsi Klasik

TIDAK

YA Uji Hipotesis

Hasil

Kesimpulan

STOP Gambar 2 Kerangka Pemecahan Masalah

32

Keterangan: 1. START adalah tahap dimulainya penelitian. 2. Penelitian ini meneliti mengenai struktur modal bank umum di Indonesia dan memperoleh datanya melalui Bank Indonesia. 3. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa laporan keuangan tahunan bank periode 2006 hingga 2011. 4. Langkah selanjutnya melakukan uji regresi berganda untuk mengetahui dari variabel Profitabilitas, Likuiditas, Risiko Bisnis, Dividen,

Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional dan Umur Bank (variabel independen) manakah yang merupakan determinan Struktur Modal Bank (variabel dependen) 5. Kemudian dilakukan uji asumsi klasik (multikolinieritas, autokorelasi dan heteroskedastisitas). 6. Apabila lolos uji asumsi klasik (YA) maka bisa dilanjutkan ke langkah uji t, apabila tidak lolos (TIDAK) maka akan dilakukan langkah-langkah untuk memperbaiki model regresi tersebut. 7. Uji t dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini. 8. Hasil penelitian yang diperoleh kemudian diimplementasikan. 9. Peneliti bisa memperoleh kesimpulan dari hasil penelitian tersebut. 10. STOP adalah tahap diakhirinya penelitian.

33

BAB 4. PEMBAHASAN MASALAH

4.1 Proses Seleksi Sampel Perusahaan Proses penyeleksian sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling dimana populasi yang dipakai adalah bank umum yang ada di Indonesia. Tabel 3 Pemilihan Sampel Keterangan Bank umum yang ada di Indonesia: Bank Pemerintah Bank Umum Swasta Nasional Devisa Bank Umum Swasta Nasional Non Devisa Bank Pemerintah Daerah Bank Campuran Bank Asing Total Bank yang melakukan merger dan akuisisi selama periode 2006-2011 Bank yang tidak melakukan merger dan akuisisi selama periode 2006-2011 Terpilih sebagai sampel Sumber: Lampiran 1 Jumlah Perusahaan 4 39 26 6 25 11 111 (41) 70 70

Penelitian ini mengambil obyek penelitian yang mengkhususkan sampel penelitian pada bank umum di Indonesia pada tahun 2006 sampai dengan 2011. Total populasi bank yang ada di Bank Indonesia sebanyak 111 bank. Dari 111 bank diambil 70 bank yang memenuhi kriteria penelitian yaitu tidak melakukan corporate action yaitu marger dan akuisisi selama tahun penelitian.

4.2

Menentukan Variabel Penelitian Variabel dependen di dalam penelitian ini adalah struktur modal dimana

menggunakan pendekatan DER (Debt to Equity Ratio), dengan rumus sebagai berikut: DER = Hutang Modal Sendiri (3.2)

34

34

Perhitungan DER Bank Mandiri tahun 2006 dilakukan sebagai berikut: DER Bank Mandiri, 2006 = 241.171.346 26.340.670 = 9,15 atau 951% Selanjutnya DER untuk tahun 2007 sampai 2011 beserta DER untuk bank yang lainnya dihitung dengan cara yang sama dan rekapitulasinya disajikan pada Lampiran 2. Kemudian, perhitungan DPR untuk Bank Danamon tahun 2006 dilakukan sebagai berikut: DPR Bank Danamon, 2006 = 1.001.922 1.325.332 = 75,60% Selanjutnya DPR untuk tahun 2007 sampai 2011 beserta DPR untuk bank yang lainnya dihitung dengan cara yang sama dan rekapitulasinya disajikan pada Lampiran 6. Perhitungan variabel lain sudah diperoleh dari laporan keuangan bank bersangkutan dan rekapitulasinya disajikan pada Lampiran 3 sampai dengan Lampiran 9.

4.3

Membangun Model Regresi Linier Berganda dengan Variabel Dummy Setelah menentukan variabel penelitian, langkah selanjutnya adalah

mengolah data untuk masing-masing variabel tersebut. Selanjutnya membangun model regresi linier berganda dengan variabel dummy dapat diformulasikan seperti terlihat pada persamaan (4.1).

35

Tabel 4 Model Regresi Linier Berganda dengan Variabel Dummy


Coefficients(a) Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) ROA (%) LDR (%) NPL (%) DPR (%) KM KI (%) AGE B 6,259 -0,160 -0,340 -8,084 0,172 6,380 0,593 0,211 Std. Error 26,248 3,773 0,153 5,591 0,248 14,130 0,252 0,320 -0,005 -0,265 -0,179 0,088 0,058 0,280 0,079 Standardized Coefficients Beta 0,238 -0,043 -2,218 -1,446 0,692 0,452 2,350 0,659 0,812 0,966 0,030 0,153 0,491 0,653 0,022 0,512 0,884 0,929 0,860 0,826 0,793 0,932 0,913 1,131 1,076 1,163 1,211 1,261 1,072 1,095

Sig.

Collinearity Statistics Tolerance VIF

a Dependent Variable: DER

Sumber: Lampiran 10 Berdasarkan tabel 4 yaitu model regresi linier berganda dengan variabel dummy, maka model analisis regresi yang diperoleh berdasarkan tabel 4 adalah sebagai berikut: DER = 6,26 0,16 ROA 0,34 LDR - 8,08 NPL + 0,17 DPR + 6,38 KM + 0,59 KI + 0,21 AGE (4.1)

4.4 4.4.1

Uji Asumsi Klasik Uji Multikolinearitas Multikolinearitas berarti terjadi interkorelasi antara variabel independen

yang menunjukkan adanya lebih dari satu linier yang signifikan. Apabila koefisien korelasi variabel yang bersangkutan nilainya terletak diluar batas-batas penerimaan (critical value) maka koefisien korelasi bermakna dan terjadi multikolinearitas. Tetapi jika sebaliknya, apabila koefisien korelasi variabel yang bersangkutan nilainya terletak di dalam batas-batas penerimaan, maka koefisien korelasi tidak bermakna dan tidak terjadi multikolinearitas. Cara yang digunakan dalam mendeteksi ada tidaknya mulitikolinieritas pada model (4.1) di dalam penelitian ini adalah dengan cara melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF), jika tidak lebih dari 10 dan nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1, maka model dapat dikatakan terbebas dari multikolinieritas VIF =

36

1 / Tolerance, jika VIF = 10 maka Tolerance = 1/10 = 0,1. Semakin tinggi VIF maka semakin rendah Tolerance (Agung, 58:2005). Pada tabel 5 dapat diketahui bahwa variabel independen dalam penelitian ini mempunyai nilai VIF kurang dari 10. Hal ini berarti bahwa variabel independen dalam penelitian ini bersifat non multikolinearitas atau tidak terjadi multikolinearitas. Tabel 5 Collinearity Statistic terhadap Struktur Modal (DER) Variabel ROA LDR NPL DPR KM KI AGE Sumber: Lampiran 10 VIF 1,131 1,076 1,163 1,211 1,261 1,072 1,095 VIF < 10 maka tidak ada multikolinearitas Keterangan

4.4.2

Uji Autokorelasi Cara mudah untuk mendeteksi autokorelasi dapat dilakukan dengan uji

Durbin Watson. Model regresi linier berganda terbebas dari autokorelasi jika nilai Durbin Watson hitung terletak di daerah No Autocorelasi. Untuk mendekteksi dengan cepat ada tidaknya autokorelasi dalam suatu model dapat digunakan patokan nilai Durbin Watson hitung mendekati angka 2. Jika nilai Durbin Watson hitung mendekati atau di sekilas angka 2 maka model tersebut terbebas dari asumsi klasik autokorelasi, karena angka 2 pada uji Durbin Watson terletak di daerah No Autocorelasi (Agung, 60:2005). Tabel 6 Hasil Uji Autokorelasi
Model Summary(b) Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 49,45288

0,424(a) 0,180 0,087 a Predictors: (Constant), AGE, LDR, NPL, KI, DPR, ROA, KM

Model 1

R Square

Durbin-Watson 2,041

37

b Dependent Variable: DER

Sumber: Lampiran 11 Berdasarkan hasil perhitungan di atas maka diketahui bahwa nilai Durbin Watson hitung adalah 2,041 atau mendekati angka 2, ini berarti tidak terjadi autokorelasi pada model regresi (4.1).

4.4.3

Uji Heteroskedastisitas Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model regresi (4.1) tidak

terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi

heteroskedastisitas. Menurut Ghozali (2006:108), beberapa cara untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas adalah dapat dilihat dari Grafik Plot antara nilai prediksi variabel terikat (dependen) yaitu ZPRED dengan nilai residualnya SRESID. Deteksi ada tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada gambar Scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi Y sesungguhnya) yang telah di-studentized.

38

Gambar 3 Scatterplot Sumber: Lampiran 12 Terlihat dari gambar 3 bahwa penyebaran titik-titik data membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali dan penyebaran titik-titik data berpola. Maka dapat disimpulkan bahwa telah terjadi heteroskedastisitas pada model regresi (4.1), sehingga perlu dilakukan perbaikan pada model regresi (4.1) dengan cara sebagai berikut: 1. Melakukan transformasi dalam bentuk model regresi dengan membagi model regresi dengan salah satu variabel independen yang digunakan dalam model tersebut 2. Melakukan transformasi logaritma, sehingga model persamaan regresi menjadi Log Y = b0 + bi log Xi (3.10)

Pada penelitian ini, untuk memperbaiki model regresi digunakan cara yang kedua, yaitu melakukan transformasi logaritma. DER = a + b1 ROA + b2 LDR + b3 NPL + b4 DPR + b5 DKM + b6 KI + b7 AGE +e Menjadi: Log DER = a + b1 log ROA + b2 log LDR + b3 log NPL + b4 log DPR + b5 DKM + b6 log KI + b7 log AGE +e (4.2) (3.1)

Setelah dilakukan pengolahan data dengan menggunakan transformasi model regresi (4.2), diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel 7 Model Transformsi Regresi Linier Berganda dengan Variabel Dummy
Coefficients(a) Unstandardized Coefficients B 1 (Constant) ROA (%) LDR (%) 2,311 0,117 -1,536 Std. Error 0,761 0,137 0,297 0,096 -0,550 Standardized Coefficients Beta 3,038 0,859 -5,177 0,003 0,394 0,000

Model

Sig.

39

NPL (%) DPR (%) KM KI (%) AGE a Dependent Variable: DER

0,139 -0,094 -0,030 0,487 0,442

0,109 0,081 0,119 0,252 0,214

0,142 -0,163 -0,034 0,201 0,232

1,274 -1,160 -0,250 1,931 2,065

0,207 0,250 0,803 0,058 0,043

Sumber : Lampiran 13 Berdasarkan tabel 7 yaitu model tranformasi regresi linier berganda dengan variabel dummy, maka model analisis regresi yang diperoleh berdasarkan tabel 7 adalah sebagai berikut:
Log DER = 2,31 + 0,12 log ROA 1,54 log LDR + 0,14 log NPL 0,09 log DPR 0,03 KM + 0,49 log KI + 0,44 log AGE (4.3)

4.5

Deskripsi Statistik Deskripsi statistik dalam penelitian pada dasarnya merupakan proses

transformasi data penelitian dalam bentuk tabulasi yang menyajikan ringkasan, pengukuran atau penyusunan data dalam bentuk tabel numerik dan grafik sehingga mudah dipahami dan diinterprestasikan (Indriantoro, 1999:170). Tujuan penggunaan adalah untuk mengetahui gambaran umum mengenai data penelitian dan hubungan yang ada atntara variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian. Tabel 8 berikut ini menyajikan gambaran statistik variabel-variabel yang diteliti pada 70 bank periode 2006-2011.

Tabel 8 Deskripsi Statistik


Descriptive Statistics N DER (%) ROA (%) LDR (%) NPL (%) DPR (%) KM KI (%) AGE Valid N (listwise) 70 70 70 70 70 70 70 70 70 Minimum 1,28 -0,05 31,86 0,00 0,00 0,00 23,57 10,00 Maximum 407,67 6,80 335,08 4,77 152,83 1,00 100,00 116,00 Mean 18,0521 2,5572 86,3677 1,5101 14,7679 0,3286 70,2144 35,4143 Std. Deviation 51,75430 1,67821 40,30664 1,14860 26,38670 0,47309 24,42297 19,49693

40

Sumber: Lampiran 14

Berdasarkan tabel 8 maka dapat diketahui nilai minimum, nilai maksimum dan mean (rata-rata) untuk masing-masing variabel sebagai berikut: Deskripsi umum keseluruhan diketahui bahwa nilai rata-rata untuk struktur modal adalah 18,05% dengan nilai terendah 1,28% dimiliki oleh PT Liman International Bank dan nilai tertinggi dimiliki oleh Bank of American sebesar 407,67%. Variabel profitabilitas mencapai nilai rata-rata 2,56% dengan nilai terendah sebesar -0,05% dimiliki oleh PT ICB Bumiputera Indonesia, Tbk dan nilai profitabilitas tertinggi yang diukur dengan menggunakan ROA dimiliki oleh Bank Mayapada Internasional yaitu sebesar 6,80%. Variabel likuiditas memiliki nilai rata-rata 86,37%, dengan tingkat likuiditas terendah sebesar 31,86% dimiliki oleh Bank of America dan The Bangkok Bank Comp. memiliki tingkat likuiditas tertinggi yaitu 335,08%, kedua bank tersebut merupakan bank asing. Variabel risiko bisnis memiliki nilai rata-rata sebesar 1,51%, dengan risiko bisnis terendah sebesar 0% dimiliki oleh Bank of America dan JP Morgan Chase Bank, bisa dikatakan hampir tidak ada kredit macet yang dimiliki oleh keuda bank tersebut. Sedangkan, bank yang memiliki risiko bisnis tertinggi yaitu Bank Mestika Dharma dengan nilai sebesar 4,77%. Variabel dividen memiliki nilai rata-rata sebesar 14,77%, dengan nilai terendah sebesar 0% menandakan bank tersebut tidak pernah membayarkan dividen kepada pemegang sahamnya, ada 33 bank tidak membayarkan dividennya diantaranya adalah Bank Artha Graha Internasional, Bank Centratama Nasional, Bank Royal Indonesia dan lain sebagainya, sedangkan Bank Multi Arta Sentosa menjadi bank yang selalu membayarkan dividennya selama periode penelitian yaitu sebesar 152,83%. Variabel kepemilikan manajerial dengan nilai rata-rata 0,33 ini menandakan bahwa bank yang menjadi observasi banyak yang tidak memiliki kepemilikan manajerial. Nilai terendah adalah nilai 0 yang memiliki arti bank tersebut tidak

41

memiliki kepemilikan manajerial, yaitu sebanyak 47 bank, sedangkan 23 bank lainnya memiliki nilai sebesar 1 yang artinya memiliki kepemilikan manajerial. Variabel kepemilikan institusional memiliki nilai rata-rata sebesar 70,22%, dengan nilai terendah sebesar 23,57% dimiliki oleh Bank Centratama Nasional, sedangkan nilai kepemilikan institusional tertinggi dimiliki oleh 10 bank dimana 9 diantaranya adalah bank asing dan sisanya adalah Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa yaitu Bank Metro Express dengan kepemilikan institusional sebesar 100%. Variabel terakhir adalah umur bank dengan umur rata-rata 35 tahun, dimana umur termuda yaitu 10 tahun dimiliki oleh Bank of China Limited, sedangkan umur bank tertua yaitu 116 tahun dimiliki oleh PT Bank Tabungan Negara.

4.6

Pengujian Hipotesis Analisis yang selanjutnya dilakukan adalah analisis terhadap hipotesis

yang telah diajukan dalam penelitian ini. Pengujian hipotesis terhadap hipotesis dilakukan dengan menggunakan Uji t. Uji t Uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen. Apabila signifikansi dari P-Value lebih besar dari pada = 10%, maka H0 : bi = 0 diterima, artinya secara individual variabel independen Xi tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Rekapitulasi hasil uji regresi parsial (uji t) dapat dilihat dalam tabel 9 berikut ini: Tabel 9 Rekapitulasi Hasil Uji Hipotesis ( = 10%) Variabel Independen Profitabilitas Likuditas Risiko Bisnis Dividen Kepemilikan Manajerial Kepemilikan Institusional Umur Bank Variabel Dependen : Struktur Modal P-Value 0,394 0,000 0,207 0,250 0,803 0,058 0,043 Hasil Uji Hipotesis H0 diterima H0 ditolak H0 diterima H0 diterima H0 diterima H0 ditolak H0 ditolak

42

Sumber: Lampiran 13 Hasil uji hipotesis tersebut dapat dimaknai sebagai berikut: 1. Apabila seluruh variabel profitabilitas, likuiditas, risiko bisnis, dividen, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional dan umur bank tidak mengalami perubahan (konstan) maka struktur modal bank yang diukur dengan menggunakan DER akan semakin meningkat sebesar 204,17% (antilog dari 2,31). 2. Jika profitabilitas bank yang diukur dengan ROA mengalami peningkatan, maka tidak akan berdampak terhadap DER bank. Ini terjadi karena nilai P-Value variabel profitabilitas adalah 0,394 atau tidak signifikan. 3. Likuiditas mempunyai koefisien regresi dengan arah negatif sebesar -34,67. Hal ini berarti apabila likuiditas bank yang diukur dengan LDR (Loan to Deposit Ratio) mengalami peningkatan sebesar 1% akan menyebabkan hutang bank yang diukur menggunakan DER mengalami penurunan sebesar 34,67% (antilog dari 1,54). 4. Jika risiko bisnis bank yang diukur dengan Non Performing Loan menurun, maka tidak akan berdampak terhadap struktur modal bank. Ini terjadi karena nilai P-Value variabel risiko bisnis adalah 0,207 atau tidak signifikan. 5. Meskipun bank tidak membagikan dividen kepada investornya setiap tahun, yang diukur dengan Dividend Payout Ratio (DPR), tidak akan mempengaruhi struktur modal bank. Ini terjadi karena nilai P-Value variabel dividen adalah 0,250 atau tidak signifikan. 6. Tidak ada perbedaan antara bank yang memiliki kepemilikan manajerial dengan bank yang tidak memiliki kepemilikan manajerial terhadap keputusan pendanaan bank. Ini terjadi karena nilai P-Value variabel kepemilikan manajerial adalah 0,830 atau tidak signifikan. 7. Kepemilikan institusional memiliki koefisien regresi dengan arah positf sebesar 3,09. Artinya, jika kepemilikan institusional bank mengalami peningkatan sebesar 1% maka variabel struktur modal akan mengalami peningkatan sebesar 3,09% (antilog dari 0,49).

43

8. Umur bank mempunyai koefisien regresi dengan arah positif sebesar 2,75. Artinya, apabila umur bank bertambah sebanyak satu tahun, maka akan mempengaruhi struktur modal bank sebesar 2,75% (antilog dari 0,44).

4.7 4.7.1

Pembahasan Variabel Profitabilitas sebagai Determinan Struktur Modal Bank Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa ROA sebagai ukuran profitabilitas

bukan merupakan determinan struktur modal bank. Berdasarkan hasil temuan ini, profitabilitas tidak bisa dipakai untuk menjelaskan perubahan struktur modal. Peningkatan profitabilitas tidak berdampak pada struktur modal bank yang mengandalkan kemampuan modal sendiri untuk membentuk struktur modal, karena berdasarkan karakteristik usaha bank sendiri adalah menghimpun dana dari deposan yang kemudian disalurkan berupa pinjaman kredit. Profitabilitas bank diperoleh dari bunga pinjaman yang dihasilkan atas pinjaman kredit tersebut. Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap struktur modal karena pendapatan bunga pinjaman digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan pinjaman kredit yang diajukan oleh masyarakat. Penelitian ini tidak sesuai dengan Pecking Order Theory yang menyatakan bahwa perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi cenderung menggunakan dana internalnya terlebih dahulu dibandingkan dengan mencari dana eksternal. Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Seftianne dan Ratih (2011) dan Saktiawan dan Emrinaldi (2012) dan tidak mendukung penelitian yang dilakukan oleh Suko (2006), Yuhasril (2006), Sofilda dan Masyani (2007), Masud (2008), Sri (2009), Putri dan Ratih (2009), Suprantiningrum (2009) dan Joni dan Lina (2010).

4.7.2

Variabel Likuiditas sebagai Determinan Struktur Modal Bank

44

LDR sebagai ukuran likuiditas secara signifikan menjadi determinan struktur modal bank dengan arah pengaruh yang negatif. Rasio LDR mengukur kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan oleh deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber

likuiditasnya (Gagah, 2009). Bank yang likuid adalah bank yang bisa memenuhi kewajiban jangka pendeknya kepada para nasabah, karena hal tersebut akan menciptakan rasa aman terhadap nasabahnya. Apabila pinjaman kredit yang disalurkan oleh bank mengalami macet, maka likuiditas bank akan terganggu, sehingga bank akan mencari dana pinjaman agar bisa menutupi risiko disaat deposan menarik dananya. Kondisi lainnya adalah bila pinjaman kredit yang diajukan kepada bank lebih besar daripada dana yang dimiliki bank, bank akan mencari tambahan dana berupa peningkatan simpanan dari nasabah. Saat simpanan dari nasabah tidak lagi bisa menutupi kekurangan dana tersebut, maka bank bisa meminjam dari bank lain, menggunakan fasilitas jangka pendek Bank Indonesia, maupun

menggunakan pinjaman subordinasi. Karena itulah, likuiditas merupakan determinan struktur modal bank dengan menggunakan pendekatan DER. Hasil dari penelitian ini sesuai dengan teori Pecking Order dimana perusahaan dengan tingkat likuiditas yang rendah tidak memiliki dana internal yang memadai untuk kegiatan operasionalnya, sehingga cenderung meningkatkan rasio hutang mereka. Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Margaretha dan Aditya (2010) Dian (2012) dan Masidonda et al (2013), namun tidak mendukung penelitian yang pernah dilakukan oleh Seftianne dan Ratih (2011).

4.7.3

Variabel Risiko Bisnis sebagai Determinan Struktur Modal Bank Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa NPL sebagai ukuran risiko bisnis

bukan merupakan faktor penentu dari DER sebagai ukuran struktur modal bank. Semakin tinggi risiko bisnis yang diukur dengan NPL maupun semakin rendah risiko bisnis yang dimiliki suatu bank tidak mempengaruhi keputusan pendanaan bank, karena bila bank tersebut dinyatakan sehat oleh pemerintah dengan mampu

45

memenuhi kecukupan modal minimum maka bank akan terus bisa menghimpun dana dari masyarakat maupun lembaga keuangan lainnya. Itulah mengapa risiko bisnis selama periode penelitian tidak menjadi determinan dari struktur modal bank. Teori Pecking Order yang menyatakan bahwa perusahaan akan mengurangi hutangnya apabila risiko bisnisnya tinggi tidak terbukti dalam penelitian ini, karena meskipun risiko bisnis bank tinggi, bank tetap meningkatkan pendanaan dari hutang (baik simpanan dari nasabah maupun lembaga keuangan lainnya). Mengingat fungsi utama bank sebagai lembaga intermediasi, yaitu menghimpun dana dari seluruh lapisan masyarakat dan menyalurkannya kembali berupa pinjaman kredit. Hasil penelitian ini tidak sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Tri (2007), namun mendukung hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh Sri (2009), Joni dan Lina (2010) dan Seftianne dan Ratih (2011) yang menyatakan bahwa risiko bisnis bukan faktor penentu dalam keputusan pendanaan perusahaan.

4.7.4

Variabel Dividen sebagai Determinan Struktur Modal Bank Variabel dividen yang diukur dengan menggunakan Dividend Payout

Ratio bukan merupakan determinan struktur modal bank. Artinya, apabila bank memperoleh laba dan membagikan dividen tunai kepada pemegang saham, laba yang dibagikan tersebut merupakan laba tahun berjalan dan bukan laba ditahan sehingga tidak mengurangi struktur modal bank. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Erkaningrum (2008) dan Saktiawan dan Emrinaldi (2012) yang menyatakan bahwa ada pengaruh kebijakan dividen dengan struktur modal, namun penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Yuhasril (2006), Putri dan Ratih (2009) dan Joni dan Lina (2010).

4.7.5

Variabel Kepemilikan Manajerial sebagai Determinan Struktur Modal Bank

46

Kepemilikan manajerial bukan merupakan faktor penentu dari struktur modal bank. Bank yang sahamnya dimiliki oleh manajemen bank yang bersangkutan maupun tidak, tidak berpengaruh terhadap rasio struktur modal bank, karena tujuan utama kepemilikan oleh manajemen adalah mengurangi biaya keagenan yang ditimbulkan dari perbedaan kepentingan antara manajemen dengan pemilik. Sehingga, pemilik berharap agar manajemen bisa lebih berhati-hati dalam memutuskan pendanaan eksternal yang akan diambilnya. Namun demikian, karakteristik bank sebagai perusahaan keuangan berbeda dengan perusahaan lainnya, yaitu mengelola dana yang dipercayakan masyarakat kepadanya. Apabila manajemen bank memperoleh dana dari investor kemudian dihadapkan dengan pilihan antara memasukkan dana tersebut ke dalam modal disetor didalam modal sendiri ataukah memasukkannya ke dalam modal pinjaman didalam liabilitas maka yang akan dilakukan manajemen bank adalah memasukkannya ke dalam modal pinjaman, karena dana tersebut akan bisa disalurkan kembali sebagai pinjaman kredit dan akan meningkatkan kesempatan bank memperoleh keuntungan dari perputaran dana tersebut. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Tri (2007) dan sekaligus menolak teori agensi yang mengatakan bahwa dengan kepemilikan manajerial meningkatkan pengawasan terhadap manajemen atas keputusan pendanaan yang akan mereka ambil dan mengurangi biaya keagenan. Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Ratih (2009) dan Saktiawan dan Emrinaldi (2012) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial bukan merupakan determinan struktur modal perusahaan.

4.7.6

Variabel Kepemilikan Institusional sebagai Determinan Struktur Modal Bank Kepemilikan institusional secara signifikan dengan arah positif merupakan

determinan struktur modal bank, ini berarti hasil penelitian mendukung teori yang menyatakan bahwa dengan semakin besarnya prosentase saham yang dimiliki oleh kepemilikan institusional akan menyebabkan usaha pengawasan menjadi semakin

47

efektif karena dapat mengendalikan perilaku oportunistik yang dilakukan para manajer (Putri dan Ratih, 2009). Dapat disimpulkan bahwa apabila kepemilikan bank oleh institusi, baik oleh pemerintah, swasta domestik maupun swasta asing mengalami peningkatan maka akan meningkatkan struktur modal bank. Alasannya adalah pada saat bank akan melakukan investasi ataupun perluasan usaha melalui sebuah proyek, kepemilikan institusional yang memiliki wewenang lebih besar dibandingkan dengan pemegang saham lainnya akan cenderung memilih pembiyaan proyek dengan menggunakan dana eksternal berupa pinjaman. Menurut Faisal (2000) pendanaan melalui pinjaman adalah pengalihan risiko kepada pihak kreditor dan apabila proyek investasi tersebut berhasil perusahaan hanya akan membayar sesuai dengan pokok dan bunganya. Penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Ratih (2009) dan Saktiawan dan Emrinaldi (2012) yang menyatakan bahwa determinan struktur modal perusahaan adalah kepemilikan institusional.

4.7.7

Variabel Umur Bank merupakan Determinan Struktur Modal Bank Pada pengujian selanjutnya, dilakukan pada variabel umur bank, dimana

hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel ini merupakan determinan struktur modal bank yang bisa diukur dengan menggunakan pendekatan Debt to Equity Ratio. Artinya, semakin lama bank tersebut beroperasi di Indonesia akan mempengaruhi DER bank, karena bank yang telah lama beroperasi pasti telah banyak memiliki nasabah dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Selain itu, bank yang telah lama beroperasi telah memiliki struktur modal yang mapan dan kuat. Sehingga, bank tersebut akan mampu melaksanakan fungsi utamanya yaitu menghimpun dana dari pemerintah, industri maupun perorangan. Penelitian ini mendukung penelitian yang pernah dilakukan oleh Bhaduri (2002), Ramlall (2009) dan Margaretha dan Aditya (2010).

48

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Hasil penelitian ini menganalisis manakah dari variabel profitabilitas, likuiditas, risiko bisnis, dividen, kepemilikan manajerial, kepemilikan

institusional dan umur bank yang merupakan determinan struktur modal bank yang ada di Indonesia pada periode 2006 hingga 2011. Dari penelitian ini, menemukan bahwa faktor yang merupakan penentu struktur modal bank adalah likuiditas, kepemilikan institusional dan umur bank, sedangkan faktor yang bukan merupakan penentu struktur modal bank adalah profitabilitas, risiko bisnis, dividen dan kepemilikan manajerial. Jadi determinan struktur modal bank adalah likuiditas, kepemilikan institusional dan umur bank.

5.2 Keterbatasan Berdasarkan penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan sebagai berikut: 1. Keberadaan bank yang membagikan dividen ataupun tidak membagikan dividen perlu dipertimbangkan dalam analisis dan eksekusi statistiknya. 2. Penelitian ini hanya menggunakan dua ukuran kinerja keuangan yang digunakan oleh bank sesuai dengan peraturan Bank Indonesia, yaitu LDR dan NPL. Sedangkan variabel lainnya yang digunakan secara umum oleh perusahaan non keuangan, karena peneliti ingin tahu apakah variabel tersebut bisa digunakan pada karakteristik perusahaan seperti bank.

49

5.3 Saran Berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan yang diuraikan di atas, maka 49 peneliti memberikan saran antara lain: 1. Bagi Peneliti Selanjutnya a. Variabel dividen bisa dijadikan variabel dummy, karena banyak bank yang tidak membagikan dividen. b. Peneliti selanjutnya bisa menambahkan variabel lain yang digunakan dalam bank seperti tingkat suku bunga pinjaman maupun suku bunga simpanan. 2. Bagi Manajemen Bank Manajemen bank sebaiknya lebih memperhatikan likuiditas, kepemilikan institusional dan umur bank dalam kaitannya struktur modal bank, karena struktur modal bank yang kuat bisa menjadikan bank siap menghadapi persaingan global dan krisis ekonomi yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan juga mengingat peran fital bank dalam perekonomian suatu negara. 3. Bagi Regulator Perbankan Struktur modal bank sangat penting untuk diperhatikan, karena bukan hanya sebagai persyaratan kecukupan modal yang menyangkut kesehatan bank, struktur modal yang kuat bisa menjadikan bank mampu bersaing secara global dan bisa menjadikannya bertahan dari krisis yang bisa sewaktu-waktu terjadi.

50

DAFTAR PUSTAKA Buku Agung, Bhuono Nugroho. 2005. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Jakarta: Penerbit ANDI. Amelia, et al. 2005. Analisis Rasio Keuangan Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia, Vol. 7, No. 2. Andry. 2010. Analsis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal pada Perusahaan Otomotif yang Terdaftar di BEI Periode 2005-2010. Thesis: Universitas Esa Unggul. Asarkaya, Yakup., and Serkan Ozcan. 2007. Determinants of Capital Structure in Financial Institusions: The Case of Turkey. Bathala, C.T., K.R. Moon and R.P Rao. 1994. Managerial Ownership, Debt Policy, and The Impact of Institutional Holding: An Agency Perspective. Financial Management, 23: page 38-50. Berger, A. N., Herring, R. J., and Szego, G. P. 1995. The Role of Capital Financial Institutions. Wharthon Working Paper, No. 95-01. Bhaduri, S.N. 2002. Determinants of Corporate Borrowing: Some Evidence from the Indian Corporate Structure. Journal of Economics and Finance, Vol. 26, No. 2, page 200-215.

51

Brigham, Eugene F. 1983. Fundamentals of Financial Management. Third Edition. Holt-Saunders Japan: The Dryden Press. Brigham, E.F dan Joel F Houston. 2001. Manajemen Keuangan. Jilid 2. Edisi 8. Terjemahan Staf Editor. Jakarta: Erlangga. Damodaran, Aswath. 1997. Corporate Finance, Theory and Practice. New York: John Wiley & Sons, Inc. Dendawijaya, Lukman. 2003. Manajemen Perbankan. Jakarta: Ghalia Indonesia. Dian, Ratri. 2012. Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Struktur Modal Perusahaan Pemanufakturan yang Terdaftar pada Bursa Efek Indonesia. Diponegoro Journal of Accounting, Vol. 1, No. 1, Tahun 2012 Hal. 2. Erkaningrum, Indri. 2008. Faktor-Faktor Penentu Financial Leverage dalam Struktur Modal. Jurnal Bisnis dan Akuntansi Analisis, Vol. 01, No. 02, Mei 2008, hal. 164. Program Studi Manajemen Perusahaan ASMI Santa Maria Yogyakarta. Faisal. 2004. Analisis Agency Cost, Struktur Kepemilikan dan Mekanisme Corporate Governance. Simposium Nasional Akuntansi Indonesia VII, Hal. 197-208. Gagah, Edward. 2009. Analisis Pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Loan to Deposit Ratio (LDR), Size, BOPO terhadap Profitabilitas (Studi Perbandingan pada Bank Domestik dan Bank Asing Januari 2003 Desember 2007). Thesis: Universitas Diponegoro. Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Universitas Diponegoro. _____________. 2007. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi 4. Semarang: Universitas Diponegoro. Gitman, Lawrence. 2003. Principles of Managerial Finance 10th Edition. Prentice Hall. ______________.2009. Principles of Managerial Finance, Twelfth Edition. The Addison Wesley Publising.

52

Gujarati, Damodar N. 2004. Ekonometrika Dasar. Terjemahan oleh Sumarno Zain. Jakarta: Erlangga.
Hasnawati, Sri. 2008. Analisis Dampak Kebijakan Dividen terhadap Nilai Perusahaan Publik di BEJ. Jurnal Akuntansi dan Manajemen. Vol. 13, No. 2, hal. 312-322. Husein, M. 2008. Penerapan Pendekatan Kointegrasi dan Model Koreksi Kesalahan dalam Uji Pengaruh Likuiditas dan Laba terhadap Struktur Modal Perusahaan. Modus, Vol. 20 (2), hal. 114-125. Husnan, Suad. 1998. Manajemen Keuangan-Teori dan Penerapan (keputusan jangka panjang). Buku 1, Edisi 4, BPFE.

Horne, Van dan Wachowicz. 1998. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan. Buku 2. Jakarta: Salempa Empar. Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat. Ismiyati, Fitri dan Mahmud. 2003. Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Risiko Kebijakan Hutang dan Kebijakan Dividen: Analisis Persamaan Simultan. Simposium Nasional Akuntansi VI. Hal. 820-849. Jumingan. 2009. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: Bumi Aksara. Joni dan Lina. 2010. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal. Junal Bisnis dan Akuntansi. Vol. 12, No 2, Agustus 2010, Hal. 81-96. Kartadinata, Abas. 1999. Pembelanjaan. Jakarta: Rineka Cipta Kasmir. 2005. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Edisi 6. Jakarta: PT Raja Grafindo Perkasa. Kusumawati, Dini. 2004. Pengaruh Karakteristik Perusahaan terhadap Struktur Modal pada Perusahaan Publik yang Tercatat di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Ekonomi STEI, No. 04 / Thn. XIII, hal. 22-48. Madura, Jeff. 2001. Manajemen Keuangan Internasional. Jidil 2. Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga.
53

Margaretha dan Aditya. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal pada Industri Manufaktur di BEI. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 12, No. 2, Agustus 2010, Hal. 119-130. Marques, Manuel O dan Santos, Mario C. 2003. Capital Structure and Determinants : Evidence from the Portuguese Banking Industry. November, 2003. Masud, Masdar. 2008. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal dan Hubungannya terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Manajemen dan Bisnis, Vol. 7, No. 1, Maret 2008. Masdupi, E. 2005. Analisis Dampak Struktur Kepemilikan pada Kebijakan Hutang dalam Mengontrol Konflik Keagenan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol. 20, No. 1, hal. 57-69. Masidonda, Jaelani dkk. 2013. Determinants of Capital Structure and Impact Capital Structure on Firm Value. IOSR Journali of Business and Management (IOSR-JBM) Vol. 7, Issue 3 (Jan-Feb 2013) Hal. 22-30. Mayangsari, Sekar. 2001. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pendanaan Perusahaan: Pengujian Pecking Order Hypothesis. Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi. Vol. 1, No. 3, hal 1-26. Modigliani, F. dan Miller, M.H. 1958. The Cost of Capital, Corporation Finance and The Theory of Investment. American Economic Review, Vol. 48, pp. 261-276. Murni, Sri dan Andriana. 2007. Pengaruh Insider Ownership, Institutional Investor, Dividend Payments dan Firm Growth terhadap Kebijakan Hutang Perusahaan (Studi Kasus pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta). Jurnal Akuntansi dan Bisnis, Vol. 7, No. 1, Februari, Hal. 15-24. Prescott, Edward S. 2001. Regulating Bank Capital Structure to Control Risk. Federal Reserve Bank of Richmond Economic Quartely, Vol. 87/3. Putri, Rizka dan Ratih. 2009. Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional, Dividen, Pertumbuhan Perusahaan, Free Cash Flow dan

54

Profitabilitas terhadap Kebijakan Hutang Perusahaan. Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 11, No. 3, Desember 2009, Hal. 189-207. Ramlall, Indranarain. 2009. Determinants of Capital Structure Among NonQuoted Mauritian Firms Under Specificity of Leverage: Looking for a Modified Pecking Order Theory. International Research Journal of Finance and Economics, Vol. 31, page 83-92. Riyanto, Bambang. 1990. Dasar-Dasar Pembelanjaan. Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada. Saktiawan, Robby dan Emrinaldi. 2012. Pengaruh Kepemilikan Manajerian, Kepemilikan Institusional, Kebijakan Dividen, Profitabilitas terhadap Kebijakan Hutang pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Sartono, Agus R. 1990. Manajemen Keuangan, Edisi Ketiga, Yogyakarta: BPFE. Seftianne dan Ratih. 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Perusahaan Manufaktur pada Tahun 2007-2009. Jurnal Bisnis dan Akuntansi. Vol. 13, No 1, April 2011, Hal. 39-56. Seitz, Neil. 1984. Financial Analysis: A Programmed Approach, Third Edition. New Jersey: A Reston Book Prentice-Hall, Inc. Setiawan, Rahmat. 2006. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal dalam Perspective Pecking Order Theory Studi pada Industri Makanan dan Minuman di Bursa Efek Jakarta. Majalah Ekonomi, Thn. XVI, No. 3, hal. 318-333. Siregar, Baldric. 2005. Hubungan Antara Dividen, Leverage Keuangan, dan Investasi. Jurnal Akuntansi dan Bisnis, Vol. 6 No. 1, Hal 1-12. Siringoringo, Renniwaty. 2012. Karatketristik dan Fungsi Intermediasi Perbankan di Indonesia. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan, Juli 2012. Sofilda dan Maryani. 2007. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal di Perusahaan Perbankan Indonesia. Media Riset, Auditing dan Informasi. Vol. 7, No. 3, Desember 2007, Hal. 351-366. Sri, Endang. 2009. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI pada Tahun 2003-2006. Jurnal: Fenomena. Maret 2009, hal 39-47.

55

Suko, Asih. 2006. Analsis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Perusahaan Properti yang Go-Public di BEJ untuk Periode Tahun 19942004. Thesis: Universitas Diponegoro. Sularso, Sri. 2003. Metode Penelitian Akuntansi: Sebuah Pendekatan Replikasi. Cetakan pertama. Yogyakarta: BPFE. Sundjaja, Ridwan., dan Inge Barlian. 2003. Manajemen Keuangan, Edisi Kedua. Jakarta: Literata Lintas Media. Suprantiningrum. 2010. Pengaruh Struktur Kepemilikan, Profitabilitas terhadap Struktur Modal pada Perusahaan Perbankan. Media Ekonomi dan Manajemen, Vol. 21, No. 1 Januari 2010. Taswan. 2010. Manajemen Perbankan: Konsep, Teknik dan Aplikasi. Edisi II. Yogyakarta: UPP STIM YKPN. Tri, Endang. 2007. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal (Studi Empiris pada Industri Manufaktur yang Terdaftar di BEJ Periode tahun 2000-2004). Thesis: Universitas Diponegoro. Wahidahwati. 2002. Pengaruh Kepemilikan Manajerial dan Kepemilikan Institusional pada Kebijakan Hutang Perusahaan: Sebuah Perspektif Theory Agency. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 5, No. 1, Januari: 116. Weston, J. Freed dan Brigham. 1990. Manajemen Keuangan. Edisi Sembilan. Jakarta: Erlangga. Weston, J Freed dan Copeland, Thomas E. 1997. Manajemen Keuangan. Jilid 2. Edisi Kesembilan. Jakarta: Binarupa Aksara. Yusril. 2006. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal Perusahaan Farmasi yang Telah Go Public Di Bursa Efek Jakarta. BULLETIN Penelitian, No. 9 Tahun 2006. Peraturan Perundang-Undangan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992. Undang-Undang No. 10 tahun 1998. Undang-Undang No. 23 Tahun 1999.

56

Peraturan Bank Indonesia. No. 5 Tahun 2003 Peraturan Bank Indonesia. 2012. PBI, Nomor 14/18/PBI/2012 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum Peraturan Bank Indonesia. SE No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004

57

Lampiran 1 Daftar Nama Bank


NO. Jenis Bank Nama Bank Merger Akuisisi Keterangan

BANK PEMERINTAHAN 1 2 3 4 BUSN DEVISA 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

PT Bank Negara Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Tabungan Negara PT Bank Mandiri PT Artamedia Bank PT Bank Antar Daerah (ANDA) PT Bank Arta Niaga Kencana PT Bank Artha Graha Internasional PT Bank Bukopin PT Bank Central Asia PT Bank CIMB Niaga PT Bank Bumi Arta PT Bank Danamon Indonesia PT Bank Ekonomi Raharja PT Bank Ganesha PT Bank Hagakita PT Bank Hana PT Bank Himpunan Saudara 1906 2002 2007 Bank Permata Commant Wealth

2008

Lippo dan Niaga

2008 2008

Rabobank dan Hagabank Bintang Manunggal

58

19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43

PT Bank ICB Bumiputera PT Bank ICBC Indonesia Bank Index Selindo Bank Internasional Indonesia Bank Lippo Bank Masphion Indonesia Bank Mayapada Internasional Bank Mega Bank Mestika Dharma Bank Metro Express Bank Mutiara Bank Nusantara Parahyangan OCBC NISP Bank of India Indonesia Bank Permata Bank Pikko Bank Rakyat Indonesia Argoniaga SBI Indonesia Bank Sinarmas PAN Indonesia Bank UOB Indonesia (UOB Buana) Bank Buana Indonesia Bank Prima Express QNB Bank Kesawan PT Bank Dipo Internasional

2007 2008 2008

Bank Halin Indonesia Harmoni CIMB Niaga

2009 2008 2007 2004 2011 2009

Bank Century NISP Bank Swadesi Bank Century BRI Bank Indo Monex

2010 2010 2002 2011 2010

UOB Buana UOB Indonesia Permata Bank Kesawan Bank Sahabat Sampoerna

59

BUSN NON DEVISA 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67

Bank Anglomas Internasional Bank Andara Bank Artos Indonesia Bank Bisnis Internasional Bank Centratama Nasional Bank Danpac Bank Fama Internasional Bank Harda Internasional Bank Harmoni Internasional Bank Ina Perdana Bank Jasa Jakarta Bank Kesejahteraan Ekonomi Bank Mayora Bank Mitraniaga Bank Multi Arta Sentosa Bank Patriot Bank Pundi Indonesia Bank Royal Indonesia Bank Sahabat Purba Danarta Bank Sahabat Sampoerna Bank Sinar Harapan Bali Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank Victoria Internasional Bank Yudha Bhakti

2009

Bank Sri Partha

2004

Century

2008

2002 2010

Permata Bank Eksekutif Internasional

2010

Bank Dipo Internasional

60

68 69 BPD 70 71 72 73 74 75 BANK CAMPURAN 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90

Bank Nationalnobu Bank Prima Master DKI Aceh Jambi Bengkulu Jateng Bali Commantwealth Agris ANZ Indonesia ANZ Panin Bank BNP Paribas Indonesia Capital Indonesia Dai-Chi Kanggo Indonesia DBS Indonesia IBJ Indonesia Mizuho Indonesia OCBC Indonesia Paribas BBD Indonesia Rabobank Duta Rabobank Internasiona Indonesia Resona Perdania

2008

Bank Alfindo Sejahtera

2007 2008 2010

PT Bank Arta Wiaga Kencana Bank Finconesia BBD-Ind Paribas

2007 2007 2008 1999 2008 2008

B. Mizuho Ind B. Mizuho Ind NISP Mandiri Bank Haga Bank Haga dan Hagakita

61

91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 BANK ASING 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111

Sakura Swadharma UOB Indonesia Windu Kentjana Internasional Woori Indonesia Tokai Lippo China Trust Indonesia Sumitimo Mitsui Indonesia UFJ Indonesia Keppel Tat Lee Buana PT Bank KEB Indonesia Bank of America ABN Amro Bank Bank of China Limited Citibank Duetsche JP Morgan Chase Bank Standard Chartered The Bangkok Bank Comp. Bank of Tokyo Mitshubishi Hongkong & Shanghai Banking Royal Bank of Scotland

2001 2008 2008 2006

B. Sumitomo Mitsui Ind. Buana Bank Multicor Bank Tokyo Mitsubisi UFJ

2006

Bank Tokyo Mitsubisi UFJ OCBC NISP

2011

ABN AMRO

62

Lampiran 2 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Struktur Modal


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama Bank PT Bank Negara Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Tabungan Negara PT Bank Mandiri PT Bank Antar Daerah (ANDA) Bank Artha Graha Internasional PT Bank Bukopin PT Bank Central Asia PT Bank Bumi Arta PT Bank Danamon Indonesia PT Bank Ekonomi Raharja PT Bank Ganesha PT Bank Himpunan Saudara 1906 ICB Bumi Putera Bank Internasional Indonesia Bank Masphion Indonesia Bank Mayapada Internasional Bank Mega Bank Mestika Dharma Bank Metro Express Bank Nusantara Parahyangan DER 2009 10,88 10,63 9,84 10,21 8,39 15,05 13,56 9,14 4,80 5,23 9,75 9,75 8,48 11,98 10,56 3,31 5,47 10,66 3,38 2,16 9,55

2006 10,45 8,17 17,51 9,16 9,03 19,04 17,92 8,79 3,88 7,67 15,10 4,92 5,99 9,44 9,04 4,47 8,97 15,01 3,73 1,61 10,98

2007 9,65 9,48 12,16 9,91 9,14 16,86 17,45 9,66 4,26 7,22 12,96 9,85 7,14 10,82 9,29 4,36 3,75 10,88 3,58 1,66 11,11

2008 12,07 10,01 13,62 10,75 7,51 12,97 14,08 9,55 4,20 9,09 10,18 10,18 8,86 11,45 10,47 4,18 3,66 11,15 3,48 1,29 9,87

2010 6,50 10,02 9,61 10,87 9,15 15,18 15,41 8,50 5,04 5,35 8,35 8,35 7,25 11,14 9,07 7,08 5,81 10,82 3,23 2,08 9,17

2011 6,90 8,43 11,17 7,20 10,28 15,62 12,07 8,07 5,22 4,49 8,50 8,50 9,75 10,72 10,93 7,79 6,79 11,70 3,55 2,09 10,27

RATA-RATA 9,41 9,46 12,32 9,68 8,92 15,79 15,08 8,95 4,57 6,51 10,81 8,59 7,91 10,92 9,89 5,20 5,74 11,70 3,49 1,81 10,16

63

22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Bank Permata Bank Sinarmas PAN Indonesia Bank Bank Anglomas Internasional Bank Artos Indonesia Bank Bisnis Internasional Bank Centratama Nasional Bank Fama Internasional Bank Harda Internasional Bank Ina Perdana Bank Jasa Jakarta Bank Kesejahteraan Ekonomi PT Liman Internasional Bank Bank Mayora Bank Mitraniaga Bank Multi Arta Sentosa Bank Royal Indonesia Bank Sahabat Purba Danarta Bank Sinar Harapan Bali Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank Victoria Internasional Bank Yudha Bhakti PT Prima Master Bank DKI Aceh

9,04 35,85 5,05 2,54 7,89 9,10 6,15 5,31 12,56 9,18 5,83 2,63 1,41 5,33 16,70 8,01 3,53 2,21 6,77 6,15 8,41 11,67 17,57 13,91 20,70

9,05 19,32 6,02 2,87 2,29 9,44 5,66 3,06 12,00 6,09 5,53 5,89 1,29 3,91 3,15 4,71 1,35 0,62 11,03 7,54 12,06 11,75 6,05 14,84 12,38

11,59 19,32 7,02 1,65 2,23 10,42 4,89 3,00 8,61 5,73 5,40 7,43 1,18 3,71 2,60 4,14 1,71 0,70 2,67 7,47 9,65 11,93 6,08 15,68 15,12

10,57 13,52 5,60 2,09 3,13 10,56 5,66 3,27 10,31 6,57 4,95 7,86 1,19 5,28 4,10 3,09 2,26 1,26 4,38 9,83 10,69 13,40 8,77 15,91 9,15

8,21 11,32 7,08 1,08 2,93 9,36 5,88 3,33 10,45 7,03 4,84 8,76 1,26 5,40 4,33 3,41 2,61 3,08 5,48 7,19 12,88 9,30 7,48 11,34 8,34

10,09 11,86 6,85 0,62 3,22 10,93 6,91 3,67 9,19 10,95 7,01 9,87 1,39 5,94 4,76 3,75 2,88 3,39 6,02 7,90 8,74 9,51 8,22 8,46 7,52

9,76 18,53 6,27 1,81 3,61 9,97 5,86 3,61 10,52 7,59 5,59 7,07 1,28 4,93 5,94 4,52 2,39 1,88 6,06 7,68 10,40 11,26 9,03 13,36 12,20

64

47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Jambi Bengkulu Jateng Bali ANZ Panin Bank BNP Paribas Indonesia Capital Indonesia DBS Indonesia Mizuho Indonesia Resona Perdania Woori Indonesia China Trust Indonesia Sumitimo Mitsui Indonesia PT Bank KEB Indonesia Bank of America ABN Amro Bank Bank of China Limited Citibank Duetsche JP Morgan Chase Bank Standard Chartered The Bangkok Bank Comp. Bank of Tokyo Mitshubishi Hongkong & Shanghai Banking

9,19 10,92 11,75 5,09 4,17 1,75 3,74 6,55 4,29 3,52 3,23 3,37 2,60 1,85 5,30 14,29 157,87 8,00 9,04 -157,33 156,81 9,97 4,42 213,63

8,20 10,92 9,96 6,38 4,71 1,92 5,65 10,54 4,71 3,58 2,80 3,20 3,98 2,17 5,72 12,37 42,99 13,65 6,65 3,11 126,92 15,02 4,26 103,29

5,73 9,91 9,11 7,02 6,49 2,14 7,83 7,26 5,86 5,09 2,63 2,88 5,78 2,94 1,46 11,32 46,47 12,01 6,10 3,39 147,15 3,87 5,89 74,52

5,54 8,19 8,69 7,77 9,66 0,56 5,86 7,89 4,69 4,09 2,16 2,26 7,09 2,47 1342,10 10,45 0,58 7,26 5,79 148,44 98,90 3,01 5,76 45,42

11,20 6,24 10,21 10,98 6,07 1,55 6,76 7,43 5,23 4,12 2,35 2,39 7,60 2,04 519,72 4,37 34,93 7,85 10,35 331,49 79,67 2,67 6,00 38,05

6,31 8,97 10,32 8,70 6,85 1,71 6,71 8,97 5,75 5,07 2,58 2,39 3,39 2,24 571,70 4,81 38,42 7,19 11,39 364,64 87,64 2,85 6,83 34,88

7,69 9,19 10,01 7,66 6,32 1,60 6,09 8,11 5,09 4,24 2,63 2,75 5,07 2,29 407,67 9,60 53,54 9,33 8,22 115,62 116,18 6,23 5,53 84,96

65

Lampiran 3 Rekapitulasi Data Profitabilitas


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Nama Bank PT Bank Negara Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Tabungan Negara PT Bank Mandiri PT Bank Antar Daerah (ANDA) Bank Artha Graha Internasional PT Bank Bukopin PT Bank Central Asia PT Bank Bumi Arta PT Bank Danamon Indonesia PT Bank Ekonomi Raharja PT Bank Ganesha PT Bank Himpunan Saudara 1906 ICB Bumi Putera Bank Internasional Indonesia Bank Masphion Indonesia Bank Mayapada Internasional Bank Mega Bank Mestika Dharma Bank Metro Express ROA 2009 1,72 3,73 1,47 3,13 0,57 0,44 0,97 3,5 2 1,5 2,21 0,6 2,41 0,18 -0,05 1,1 0,7 1,77 4,9 2,64

2006 1,85 4,36 1,78 0,47 0,86 0,4 1 3,8 2,61 1,8 1,62 -0,16 2,2 0,26 1,43 1,22 1,55 0,88 6,6 6,24

2007 0,85 2,61 1,92 2,4 0,59 0,29 1,09 3,3 1,68 2,4 1,87 0,21 3,37 0,57 1,43 1,15 1,46 2,33 5,53 3,64

2008 1,12 4,18 1,8 2,69 0,6 0,34 1,13 3,4 2,07 1,5 2,26 0,18 3 0,09 1,23 1,07 2 1,98 5,16 2,72

2010 2,49 4,64 2,05 3,63 12,63 0,76 1,04 3,51 1,47 2,79 1,78 1,71 2,78 0,24 1,01 1,35 20,4 2,45 3,93 1,73

2011 2 3,26 2,03 2,3 11,87 0,8 1,3 2,6 2,11 2,6 1,49 0,78 3 -1,64 1,11 1,42 14,68 1,54 4,36 1,91

RATA-RATA 1,67 3,80 1,84 2,44 4,52 0,505 1,09 3,35 1,99 2,10 1,87 0,55 2,79 -0,05 1,03 1,22 6,80 1,83 5,08 3,15

66

21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45

Bank Nusantara Parahyangan Bank Permata Bank Sinarmas PAN Indonesia Bank Bank Anglomas Internasional Bank Artos Indonesia Bank Bisnis Internasional Bank Centratama Nasional Bank Fama Internasional Bank Harda Internasional Bank Ina Perdana Bank Jasa Jakarta Bank Kesejahteraan Ekonomi PT Liman Internasional Bank Bank Mayora Bank Mitraniaga Bank Multi Arta Sentosa Bank Royal Indonesia Bank Sahabat Purba Danarta Bank Sinar Harapan Bali Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank Victoria Internasional Bank Yudha Bhakti PT Prima Master Bank DKI

1,44 0,82 0,98 1,61 0,84 0,22 0,79 1,69 1,3 0,27 1,42 2,71 4,55 8,79 0,48 0,81 1,66 0,89 3,53 1,72 4,57 1,76 0,89 0,68 1,65

1,29 1,27 0,33 1,59 0,5 0,32 0,79 0,67 2,11 -0,68 1,94 3,04 3,86 6,89 0,46 0,12 2,16 0,47 1,64 2 6,14 1,64 1,4 0,81 1,39

1,17 0,84 0,34 1,09 1,17 0,4 15,04 1,52 2,33 0,29 2,08 2,58 2,83 2,47 0,52 0,22 1,48 1,74 3,37 4 4,48 0,88 0,92 0,59 1,41

1,02 0,86 0,93 1,18 1,42 0,34 3 1,52 4 0,77 2,57 3,1 2,14 2,12 0,71 0,46 0,88 2,61 2,6 3,56 4,48 1,1 0,77 0,75 1,41

1,5 1,37 1,44 1,15 -1,08 -0,24 3 1,69 4 1,34 1,1 2,92 2,66 1,5 1,04 0,54 2,06 1,25 -1,15 2,49 3,42 1,71 1,7 0,46 2,24

1,53 1,14 1,07 1,65 -0,69 -0,12 3 2,16 3,1 1,3 0,32 2,8 2,59 1,5 1,12 0,55 1,54 1,3 -1 2,3 4,16 1,86 1,3 0,5 2,57

1,33 1,05 0,85 1,38 0,36 0,15 4,27 1,54 2,81 0,55 1,57 2,86 3,11 3,88 0,72 0,45 1,63 1,38 1,50 2,68 4,54 1,49 1,16 0,63 1,78

67

46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Aceh Jambi Bengkulu Jateng Bali ANZ Panin Bank BNP Paribas Indonesia Capital Indonesia DBS Indonesia Mizuho Indonesia Resona Perdania Woori Indonesia China Trust Indonesia Sumitimo Mitsui Indonesia PT Bank KEB Indonesia Bank of America ABN Amro Bank Bank of China Limited Citibank Duetsche JP Morgan Chase Bank Standard Chartered The Bangkok Bank Comp. Bank of Tokyo Mitshubishi Hongkong & Shanghai Banking

3,06 3,56 3,01 3,72 4,78 4,61 4,32 2,95 1,56 2,68 3,81 1,1 7,5 5,65 8,81 4 2,18 3,01 4,53 6,75 7,54 4,85 2,02 4,41 2

3,07 3,44 3,01 3,8 4,33 4,59 4,85 2,13 1,62 2,98 3,37 1 4,98 3,46 7,65 3 1,55 5 5,68 3,31 7,23 3,6 1,37 3,44 3,39

3,09 4,87 2,31 4,55 4,32 4,61 7,8 1,14 1,56 2,72 3,14 0,11 5,97 3,67 6,34 1,4 1,53 5 5,64 5,96 6,6 2,52 2,05 3,16 3,18

3,06 5,16 3,14 4,04 4,26 1,44 11,12 1,42 0,91 2,53 3,3 0,41 5,83 3,44 5,4 1,4 -0,01 2 5,74 5,68 11,06 2,14 3,93 2,8 5,74

1,8 5,21 4,6 2,83 3,98 0,29 5,07 0,74 1,02 2,78 4,07 0,49 4,62 3,3 4,26 1,8 -0,62 2 5,41 2,75 5,69 1,49 4,17 1,72 5,41

2,8 5,67 4,91 2,81 3,91 0,3 4,8 0,84 1,74 1,83 3,57 0,59 4,37 3,12 4,4 2,1 -0,7 1,17 4,3 3,19 0,86 1,21 3,77 2,66 3,85

2,81 4,65 3,50 3,63 4,26 2,64 6,33 1,54 1,40 2,59 3,54 0,62 5,55 3,77 6,14 2,28 0,66 3,03 5,22 4,61 6,50 2,64 2,89 3,03 3,93

68

Lampiran 4 Rekapitulasi Data Likuiditas


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama Bank PT Bank Negara Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Tabungan Negara PT Bank Mandiri PT Bank Antar Daerah (ANDA) Bank Artha Graha Internasional PT Bank Bukopin PT Bank Central Asia PT Bank Bumi Arta PT Bank Danamon Indonesia PT Bank Ekonomi Raharja PT Bank Ganesha PT Bank Himpunan Saudara 1906 ICB Bumi Putera Bank Internasional Indonesia Bank Masphion Indonesia Bank Mayapada Internasional Bank Mega Bank Mestika Dharma Bank Metro Express Bank Nusantara Parahyangan LDR 2009 64,06 80,88 101,29 59,15 71,41 84,04 75,99 50,3 50,58 88,8 45,54 63,41 94,94 89,64 78,11 56,26 86,87 56,82 92,26 71,24 73,64

2006 48,98 72,53 83,75 49,97 64,67 79,52 58,86 40,3 45,45 75,5 42,4 80,02 84,57 87,42 57,22 67,83 85,35 42,7 91,64 76,4 54,83

2007 60,56 68,8 92,38 52,02 64,22 82,22 65,26 43,6 45,45 88,1 52,05 69,57 93,87 84,5 57,22 67,46 103,88 46,74 89,36 81,13 49,39

2008 68,61 79,93 101,83 56,89 77,79 93,47 83,6 53,8 59,86 86,4 61,42 76,3 102,2 90,44 76,17 78,92 120,65 64,67 97,82 83,28 66,12

2010 70,15 75,17 108,42 65,44 70,48 76,13 71,85 55,2 54,18 93,82 62,44 62,79 100,2 84,96 83,18 75,99 1,22 56,03 84,75 85,04 80,41

2011 70,7 74,27 102,57 71,61 70,87 75 83,15 78 67,53 98,33 70,06 65,59 81,7 84,93 95,07 76,56 2,07 63,08 82,87 89,1 84,92

RATA-RATA 63,84 75,26 98,37 59,18 69,91 81,73 73,12 53,53 53,84 88,49 55,65 69,61 92,91 86,98 74,50 70,50 66,67 55,01 89,78 81,03 68,22

69

22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Bank Permata Bank Sinarmas PAN Indonesia Bank Bank Anglomas Internasional Bank Artos Indonesia Bank Bisnis Internasional Bank Centratama Nasional Bank Fama Internasional Bank Harda Internasional Bank Ina Perdana Bank Jasa Jakarta Bank Kesejahteraan Ekonomi PT Liman Internasional Bank Bank Mayora Bank Mitraniaga Bank Multi Arta Sentosa Bank Royal Indonesia Bank Sahabat Purba Danarta Bank Sinar Harapan Bali Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank Victoria Internasional Bank Yudha Bhakti PT Prima Master Bank DKI Aceh

79,35 52,73 75,15 87,12 73,24 73 79,33 84,55 66,8 81,15 80,26 121,96 67,27 47,11 55,21 93,13 40,03 23,72 90,98 96,43 51,94 49,17 78,78 52,4 19,88

83,73 62,18 90,66 69,51 94,72 72,91 82,83 90,01 65,52 72,4 85,23 94,12 145,89 59,04 64,37 81,44 66,83 26,26 102 89,18 55,92 52,6 88,45 68,58 30,54

77,97 83,31 76,63 82,3 97,63 106,07 88,36 96,26 68,52 87,84 83,55 103,35 128,25 67,77 82,57 95,14 79,64 220,97 109 91,61 53,46 67,54 83,54 66,98 39,05

86,24 79,01 71,07 73,41 85,29 115 87,53 94 71,31 81,33 85 102,38 85,87 49,19 56,47 85,29 72,21 166,89 97,45 91,61 50,43 59,38 88,32 57,25 61,79

86,42 73,64 73,97 73,22 107,89 127 86,53 99 66,18 73,74 84,61 94,31 93,68 58,7 51,79 84,25 50,18 158,81 83,16 84,92 40,22 79,1 87,81 70,48 81,74

82,49 69,5 80,56 99,5 110,89 129 81,58 99,6 76,32 87,92 85,67 89,06 90 59,07 52,09 87,19 51,2 156 81 87,65 63,62 79,63 85 78,14 82,59

82,70 70,06 78,01 80,84 94,94 103,83 84,36 93,90 69,11 80,73 84,05 100,86 101,83 56,81 60,42 87,74 60,02 125,44 93,93 90,23 52,60 64,57 85,32 65,64 52,60

70

47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Jambi Bengkulu Jateng Bali ANZ Panin Bank BNP Paribas Indonesia Capital Indonesia DBS Indonesia Mizuho Indonesia Resona Perdania Woori Indonesia China Trust Indonesia Sumitimo Mitsui Indonesia PT Bank KEB Indonesia Bank of America ABN Amro Bank Bank of China Limited Citibank Duetsche JP Morgan Chase Bank Standard Chartered The Bangkok Bank Comp. Bank of Tokyo Mitshubishi Hongkong & Shanghai Banking

37,34 53,19 58,98 67,54 77,6 120,33 84,26 71,68 139,8 112,14 141,5 119,36 125,69 133,38 4 85,71 24,77 77,08 59,52 44,67 79,94 238,88 131,74 65

60,41 53,19 77,09 80,56 66,21 198,16 73,26 98,98 147,24 164,27 211,4 133,25 86,13 88,9 5 73,65 21 70,21 68,82 54,01 60,96 256,32 116,19 65,92

89,08 69,12 102,12 90,4 87,56 120,55 67,72 77,78 198,64 141,31 144,1 116,07 109,06 75,02 62 72,79 22 79,47 68,03 86,78 84,69 334,97 178,44 67,29

97,64 129,59 89,18 103,75 81,86 35,03 49,65 65,61 128,93 124,23 170 108,57 98,68 57,33 36,5 64,87 51 73,63 65,43 56,39 84,27 313,45 162,58 73,63

84,09 89,2 74,13 93,31 88,61 202,05 50,6 95,75 147,47 148,68 168,1 103,86 116,64 87,91 41,2 98,74 71,72 69,16 52,37 56,35 101,76 306,89 171,49 69,16

85,99 90,1 76,71 92,18 87 201,8 44,24 101,08 181,26 144,14 175,7 127,85 189,48 89 42,44 98 68,77 66,7 60,71 51,1 97,68 559,97 231,38 77,85

75,76 80,73 79,70 87,96 81,47 146,32 61,62 85,15 157,22 139,13 168,47 118,16 120,95 88,59 31,86 82,29 43,21 72,71 62,48 58,22 84,88 335,08 165,30 69,81

71

Lampiran 5 Rekapitulasi Data Risiko Bisnis


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama Bank PT Bank Negara Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Tabungan Negara PT Bank Mandiri PT Bank Antar Daerah (ANDA) Bank Artha Graha Internasional PT Bank Bukopin PT Bank Central Asia PT Bank Bumi Arta PT Bank Danamon Indonesia PT Bank Ekonomi Raharja PT Bank Ganesha PT Bank Himpunan Saudara 1906 ICB Bumi Putera Bank Internasional Indonesia Bank Masphion Indonesia Bank Mayapada Internasional Bank Mega Bank Mestika Dharma Bank Metro Express Bank Nusantara Parahyangan NPL 2009 0,84 3,52 3,36 0,32 0,97 2,83 2,37 0,7 1,71 4,47 0,9 1,62 0,7 3,89 1,57 0,43 1,9 1,7 10,78 0 1,18

2006 6,55 4,81 1,77 16,14 1,29 4,85 2,51 1,3 1,82 3,3 2,52 1,8 0,9 4,74 3,85 1,25 0,21 1,68 2,75 0 3,03

2007 4,01 3,44 2,81 1,32 1,05 2,55 2,49 0,8 1,78 2,2 2,45 1,34 0,45 4,56 3,85 1,58 0,14 1,53 3,96 0 1,89

2008 1,74 2,8 2,66 0,97 1,25 2,7 4,12 0,6 1,46 2,3 1,07 1,14 0,56 4,25 2,37 0,93 0,16 1,18 2,06 0 1,12

2010 1,11 0,75 2,66 0,54 0,28 2 2,52 0,6 1,83 3,02 0,12 0,81 0,84 3,24 1,78 0,17 2,01 0,9 5,48 0 0,63

2011 RATA-RATA 0,51 2,46 0,51 2,64 2,23 2,58 0,5 3,30 0,37 0,87 2 2,82 2,11 2,69 1 0,83 0,5 1,52 2,45 2,96 0,45 1,25 0,79 1,25 1,08 0,76 6,25 4,49 1,1 2,42 0,12 0,75 1,51 0,99 0,98 1,33 3,56 4,77 0 0,00 0,78 1,44

72

22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Bank Permata Bank Sinarmas PAN Indonesia Bank Bank Anglomas Internasional Bank Artos Indonesia Bank Bisnis Internasional Bank Centratama Nasional Bank Fama Internasional Bank Harda Internasional Bank Ina Perdana Bank Jasa Jakarta Bank Kesejahteraan Ekonomi PT Liman Internasional Bank Bank Mayora Bank Mitraniaga Bank Multi Arta Sentosa Bank Royal Indonesia Bank Sahabat Purba Danarta Bank Sinar Harapan Bali Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank Victoria Internasional Bank Yudha Bhakti PT Prima Master Bank DKI Aceh

3,33 0,16 8,53 12,11 1,46 0,03 4,25 4,39 3,93 0,72 0,8 0,47 3,88 4,65 2,22 1,49 0 0 0,29 0,19 0 4,3 0,79 1,08 0,45

1,53 0 1,76 8,06 2,14 0,03 4,9 5,06 0,62 0,66 0,87 0,48 1,34 0 1,32 2,36 0 0 1 0,16 0,2 4,3 2,47 0,74 0,07

1,06 1,72 2,15 0 2,56 0,35 3,28 0,43 1,51 0,88 0,78 0,43 4,99 1,94 0,62 3,22 0 0 1 0,09 0,44 1,83 1,85 2,05 0,21

1,46 1,65 1,6 0 4,58 1 3,01 1 3,3 0,3 0,18 0,45 2,05 0,3 0,1 3,5 0,04 0 0,55 0,09 0 2,54 0,77 3,26 1,04

0,74 1,11 2,68 2,88 1,46 1 2,07 5 1,88 1,98 0,06 0 0,47 0,01 0,1 3,34 0,06 0,58 1,16 0,07 0 3,44 1,59 3,21 2,19

0,55 0,79 0,92 4,28 1,34 1 1,91 5,1 1,3 0,97 0,31 0,02 0,3 0 0,11 3,45 0,05 1 1 0,06 0,22 4,17 1 3,1 1,97

1,45 0,91 2,94 4,56 2,26 0,57 3,24 3,50 2,09 0,92 0,50 0,31 2,17 1,15 0,75 2,89 0,03 0,26 0,83 0,11 0,14 3,43 1,41 2,24 0,99

73

47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Jambi Bengkulu Jateng Bali ANZ Panin Bank BNP Paribas Indonesia Capital Indonesia DBS Indonesia Mizuho Indonesia Resona Perdania Woori Indonesia China Trust Indonesia Sumitimo Mitsui Indonesia PT Bank KEB Indonesia Bank of America ABN Amro Bank Bank of China Limited Citibank Duetsche JP Morgan Chase Bank Standard Chartered The Bangkok Bank Comp. Bank of Tokyo Mitshubishi Hongkong & Shanghai Banking

0,38 1,31 0,33 0,32 2,39 2,99 0 0 0,12 3,21 1,1 2,07 2,12 3,25 0 0,84 0 0 2,2 0 0,55 -0,96 1,5 1

0,01 1,31 0,17 0,56 2,09 1,97 0 0,62 0,29 1,12 0,63 1,74 0,52 0,42 0 0,65 3,12 0,99 0,13 0 2,39 4,45 1,5 0,79

0,02 0,7 0,06 0,04 0,99 2,68 0,82 1,79 1,29 2,55 1,19 2,3 0,55 0,11 0 0,42 2,65 2,35 1,94 0 1,96 2,16 0,05 1,33

0,04 0,75 0 0,1 1,25 0 0,24 1,81 2,77 1,72 1,6 3,67 1,04 0 0 0,99 1,52 1,52 1,95 0 2,18 1,96 0,39 1,52

0,01 0,29 0 0,17 1,29 0 0,99 0,74 2,09 1,22 3,34 2,9 0,61 0,42 0 0 1,1 2,03 0,57 0 0,68 0,41 0,99 2,03

0,02 0,41 0,09 0,19 1 0 0,69 1,08 1,58 0,63 1,65 1,17 0,46 0,5 0 0 1 0,6 1,25 0 1,97 0,51 1,29 0,44

0,08 0,80 0,11 0,23 1,50 1,27 0,46 1,01 1,36 1,74 1,59 2,31 0,88 0,78 0,00 0,48 1,57 1,25 1,34 0,00 1,62 1,42 0,95 1,19

74

Lampiran 6 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Dividen


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama Bank PT Bank Negara Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Tabungan Negara PT Bank Mandiri PT Bank Antar Daerah (ANDA) Bank Artha Graha Internasional PT Bank Bukopin PT Bank Central Asia PT Bank Bumi Arta PT Bank Danamon Indonesia PT Bank Ekonomi Raharja PT Bank Ganesha PT Bank Himpunan Saudara 1906 ICB Bumi Putera Bank Internasional Indonesia Bank Masphion Indonesia Bank Mayapada Internasional Bank Mega Bank Mestika Dharma Bank Metro Express Bank Nusantara Parahyangan DPR 2009 0 36,25 0 0 0 0 30,55 35,29 0 49,92 0 0 36,84 45 0 0 0 19,38 36,92 63,92 0

2006 36,73 50 41,91 12,46 0 0 40 42,06 0 75,6 0 0 0 0 40,05 0 0 84,29 89,2 0 0

2007 107,24 50 5,7 33,43 0 0 33,6 46,5 33,31 31,3 0 0 0 25 96,7 0 71,05 0 0 0 0

2008 36,73 50 5,48 73,63 0 0 50 41,59 18,82 69,18 14,79 0 39,83 0 68,02 51,09 0 0 144,86 0 0

2010 21,2 19,13 0 0 0 0 36,76 30,17 0 26,58 0 0 25,11 13 0 0 0 0 0 100 0

2011 RATA-RATA 23,28 37,53 11,3 36,11 0 8,85 0 19,92 0 0,00 0 0 23,25 35,69 25,68 36,88 16,26 11,40 31,16 47,29 0 2,47 0 0,00 20,96 20,46 0 13,83 0 34,13 0 8,52 0 11,84 46,59 25,04 0 45,16 0 27,32 0 0,00

75

22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Bank Permata Bank Sinarmas PAN Indonesia Bank Bank Anglomas Internasional Bank Artos Indonesia Bank Bisnis Internasional Bank Centratama Nasional Bank Fama Internasional Bank Harda Internasional Bank Ina Perdana Bank Jasa Jakarta Bank Kesejahteraan Ekonomi PT Liman Internasional Bank Bank Mayora Bank Mitraniaga Bank Multi Arta Sentosa Bank Royal Indonesia Bank Sahabat Purba Danarta Bank Sinar Harapan Bali Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank Victoria Internasional Bank Yudha Bhakti PT Prima Master Bank DKI Aceh

0 0 1,65 0 0 0 0 0 0 0 105,47 97,79 0 0 0 0 0 0 0 0 0 119,12 0 37,96 0

0 0 0,77 0 0 90,59 0 0 0 4,54 91,41 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 29,56 0 58,12 0

0 0 3,54 74,08 0 0 0 0 0 0 100,9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 84,46 0 43,89 0

0 0 0,65 26,4 0 0 0 0 0 0 128,92 56,08 0 0 0 916,95 0 0 0 0 54,12 4,33 0 0 0

0 0 1,43 0 0 0 0 0 0 0 157,6 36,11 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4,92 0 0 0

0 0 1,47 0 0 0 0 0 0 0 158,9 45,15 0 0 0 0 0 0 0 0 0 12,43 0 0 0

0,00 0,00 1,59 16,75 0,00 15,10 0,00 0,00 0,00 0,76 123,87 39,19 0,00 0,00 0,00 152,83 0,00 0,00 0,00 0,00 9,02 42,47 0,00 23,33 0,00

76

47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Jambi Bengkulu Jateng Bali ANZ Panin Bank BNP Paribas Indonesia Capital Indonesia DBS Indonesia Mizuho Indonesia Resona Perdania Woori Indonesia China Trust Indonesia Sumitimo Mitsui Indonesia PT Bank KEB Indonesia Bank of America ABN Amro Bank Bank of China Limited Citibank Duetsche JP Morgan Chase Bank Standard Chartered The Bangkok Bank Comp. Bank of Tokyo Mitshubishi Hongkong & Shanghai Banking

0 0 0 0 0 0 0 0 0 26,86 0 0 0 0 93,74 0 0 40,71 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 23,45 25,15 0 63,26 0 100,81 0 0 163,99 83,43 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 5,19 28,59 85,62 0 33,35 0 122,73 0 0 28,13 31,83 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 35,35 0,86 0 0 0 0 11,86 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 27,4 25,83 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 0 0 0 0 33,74 26,46 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,87 29,23 27,32 0,00 16,10 0,00 52,88 1,98 0,00 38,81 19,21 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00

77

Lampiran 7 Rekapitulasi Data Kepemilikan Manajerial


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama Bank PT Bank Negara Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Tabungan Negara PT Bank Mandiri PT Bank Antar Daerah (ANDA) Bank Artha Graha Internasional PT Bank Bukopin PT Bank Central Asia PT Bank Bumi Arta PT Bank Danamon Indonesia PT Bank Ekonomi Raharja PT Bank Ganesha PT Bank Himpunan Saudara 1906 ICB Bumi Putera Bank Internasional Indonesia Bank Masphion Indonesia Bank Mayapada Internasional Bank Mega Bank Mestika Dharma Bank Metro Express Bank Nusantara Parahyangan KM 2006 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 2007 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 2008 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 2009 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 2010 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 2011 1 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0

78

22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Bank Permata Bank Sinarmas PAN Indonesia Bank Bank Anglomas Internasional Bank Artos Indonesia Bank Bisnis Internasional Bank Centratama Nasional Bank Fama Internasional Bank Harda Internasional Bank Ina Perdana Bank Jasa Jakarta Bank Kesejahteraan Ekonomi PT Liman Internasional Bank Bank Mayora Bank Mitraniaga Bank Multi Arta Sentosa Bank Royal Indonesia Bank Sahabat Purba Danarta Bank Sinar Harapan Bali Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank Victoria Internasional Bank Yudha Bhakti PT Prima Master Bank DKI Aceh

0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0

0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0

0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0

0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0

0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0

0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0

79

47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Jambi Bengkulu Jateng Bali ANZ Panin Bank BNP Paribas Indonesia Capital Indonesia DBS Indonesia Mizuho Indonesia Resona Perdania Woori Indonesia China Trust Indonesia Sumitimo Mitsui Indonesia PT Bank KEB Indonesia Bank of America ABN Amro Bank Bank of China Limited Citibank Duetsche JP Morgan Chase Bank Standard Chartered The Bangkok Bank Comp. Bank of Tokyo Mitshubishi Hongkong & Shanghai Banking

0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0

0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0

80

Lampiran 8 Rekapitulasi Data Kepemilikan Institusional


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama Bank PT Bank Negara Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Tabungan Negara PT Bank Mandiri PT Bank Antar Daerah (ANDA) Bank Artha Graha Internasional PT Bank Bukopin PT Bank Central Asia PT Bank Bumi Arta PT Bank Danamon Indonesia PT Bank Ekonomi Raharja PT Bank Ganesha PT Bank Himpunan Saudara 1906 ICB Bumi Putera Bank Internasional Indonesia Bank Masphion Indonesia Bank Mayapada Internasional Bank Mega Bank Mestika Dharma Bank Metro Express Bank Nusantara Parahyangan KI 2009 76,36 56,77 72,92 66,76 50 47,38 39,54 49,62 45,45 67,63 98,96 58,37 52,92 67,07 54,33 77,81 25,31 57,82 99,95 99,998 55,68

2006 99,12 56,97 100 67,86 50 30,24 39,57 51,15 45,45 69,25 51,84 63,21 54,48 67,07 56,33 85,59 24,43 52,2 99,95 99,998 55,02

2007 76,36 56,97 100 67,86 50 47,38 39,57 51,15 45,45 68,05 38,84 63,21 54,48 67,07 55,85 85,59 24,43 55,22 99,95 99,998 55,68

2008 76,36 56,79 100 66,97 50 47,38 40,74 47,9 45,45 67,86 38,84 58,37 49,89 67,07 54,33 77,81 25,31 57,82 99,95 99,998 55,68

2010 60 56,77 72,92 66,77 50 47,38 39,54 49,91 45,45 67,42 98,94 58,37 54,84 69,99 54,33 84,6 25,31 57,82 99,95 99,998 55,68

2011 RATA-RATA 58,84 74,51 56,75 56,84 72,92 86,46 60 66,04 50 50,00 47,38 44,52 31,97 38,49 49,64 49,90 45,45 45,45 67,37 67,93 98,94 71,06 54,22 59,29 52,92 53,26 69,9 68,03 54,33 54,92 84,6 82,67 25,31 25,02 57,82 56,45 99,95 99,95 99,998 100,00 55,68 55,57

81

22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Bank Permata Bank Sinarmas PAN Indonesia Bank Bank Anglomas Internasional Bank Artos Indonesia Bank Bisnis Internasional Bank Centratama Nasional Bank Fama Internasional Bank Harda Internasional Bank Ina Perdana Bank Jasa Jakarta Bank Kesejahteraan Ekonomi PT Liman Internasional Bank Bank Mayora Bank Mitraniaga Bank Multi Arta Sentosa Bank Royal Indonesia Bank Sahabat Purba Danarta Bank Sinar Harapan Bali Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank Victoria Internasional Bank Yudha Bhakti PT Prima Master Bank DKI Aceh

44,505 59,11 45,1 41,5 40 49 23,57 60 83 55 70,9 59,9 24 98,73 97,14 70 30 99,8 20,62 28,39 35 37,88 50 99,82 58,53

44,505 59,11 44,85 90 40 39,42 23,57 60 83 55 70,9 59,9 24 99,24 97,14 70 86,42 99,8 20,62 71,61 34,66 37,88 50 99,82 64,29

44,505 87,97 44,82 90 40 39,42 23,57 60 83 65,2 70,9 59,9 24 99,32 98,88 70 86,42 87,5 19,32 71,61 35,33 40,84 50 99,82 64,29

44,505 90,26 45,92 90 40 32,51 23,57 60 83 96,02 70,9 58,92 24 99,32 99,07 70 86,49 75,01 80 71,61 43,73 40,84 50 99,83 65,73

44,505 99 44,68 90 40 41,88 23,57 60 87,52 99 70,91 59,63 23,35 99,32 99,08 70 87,5 95 81,46 71,61 43,73 48,01 50 99,84 64,85

44,505 56,48 45,46 90 40 41,88 23,57 60 87,52 99 70,91 61,74 23,35 99,32 99,08 70 87,5 95 81,46 71,61 38,01 48,01 50 99,84 64,85

44,51 75,32 45,14 81,92 40,00 40,69 23,57 60,00 84,51 78,20 70,90 60,00 23,78 99,21 98,40 70,00 77,39 92,02 50,58 64,41 38,41 42,24 50,00 99,83 63,76

82

47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Jambi Bengkulu Jateng Bali ANZ Panin Bank BNP Paribas Indonesia Capital Indonesia DBS Indonesia Mizuho Indonesia Resona Perdania Woori Indonesia China Trust Indonesia Sumitimo Mitsui Indonesia PT Bank KEB Indonesia Bank of America ABN Amro Bank Bank of China Limited Citibank Duetsche JP Morgan Chase Bank Standard Chartered The Bangkok Bank Comp. Bank of Tokyo Mitshubishi Hongkong & Shanghai Banking

29,34 54,31 67,08 52,74 85 99 65,1 99 99 43,42 95,2 99 99 86,98 70 15,69 52,97 23,67 54,99 53,35 18,02 31,08 34,94 16,09

24,7 42,88 66,05 48,62 85 99 65,1 99 99 43,42 95,2 99 99 77,61 63 17,83 72 23,32 57,21 97,03 16,04 21,85 36,19 16,35

24,7 42,88 66,05 48,62 85 99 65,1 99 99 43,42 95,2 99 99 48,12 94 16,66 49 25,56 46,94 63 14,19 47,88 36,37 12,72

24,7 42,46 64,9 47,71 85 99 21,7 99 99 43,42 95,2 99 99 68,92 103,5 28,65 83 30,46 40,46 41,18 11,9 55,67 39,31 30,46

26,26 40,65 65,92 46,54 85 99 19,86 99 99 43,42 95,2 99 98,49 65,12 89,1 36,89 32 22,63 25,54 36,44 14,36 46,56 34,21 22,63

26,26 40,65 65,92 46,54 85 99 16,83 99 99 43,42 95,2 99 98,48 66 78 37 12,97 25,3 23,17 15,4 13,7 52,75 39,96 17,56

25,99 43,97 65,99 48,46 85,00 99,00 42,28 99,00 99,00 43,42 95,20 99,00 98,83 99,00 100,00 89,72 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

83

Lampiran 8 Rekapitulasi Data Umur Bank


No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 Nama Bank PT Bank Negara Indonesia PT Bank Rakyat Indonesia PT Bank Tabungan Negara PT Bank Mandiri PT Bank Antar Daerah (ANDA) Bank Artha Graha Internasional PT Bank Bukopin PT Bank Central Asia PT Bank Bumi Arta PT Bank Danamon Indonesia PT Bank Ekonomi Raharja PT Bank Ganesha PT Bank Himpunan Saudara 1906 ICB Bumi Putera Bank Internasional Indonesia Bank Masphion Indonesia Bank Mayapada Internasional Bank Mega Bank Mestika Dharma Bank Metro Express Bank Nusantara Parahyangan AGE 2006 62 38 111 9 38 6 38 51 41 51 19 18 102 8 49 19 19 39 53 40 36 2007 63 39 112 10 39 7 39 52 42 52 20 19 103 9 50 20 20 40 54 41 37 2008 64 40 113 11 40 8 40 53 43 53 21 20 104 10 51 21 21 41 55 42 38 2009 65 41 114 12 41 9 41 54 44 54 22 21 105 11 52 22 22 42 56 43 39 2010 66 42 115 13 42 10 42 55 45 55 23 22 106 12 53 23 23 43 57 44 40 2011 67 43 116 14 43 11 43 56 46 56 24 23 107 13 54 24 24 44 58 45 41

84

22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46

Bank Permata Bank Sinarmas PAN Indonesia Bank Bank Anglomas Internasional Bank Artos Indonesia Bank Bisnis Internasional Bank Centratama Nasional Bank Fama Internasional Bank Harda Internasional Bank Ina Perdana Bank Jasa Jakarta Bank Kesejahteraan Ekonomi PT Liman Internasional Bank Bank Mayora Bank Mitraniaga Bank Multi Arta Sentosa Bank Royal Indonesia Bank Sahabat Purba Danarta Bank Sinar Harapan Bali Bank Tabungan Pensiunan Nasional Bank Victoria Internasional Bank Yudha Bhakti PT Prima Master Bank DKI Aceh

54 19 37 17 16 51 16 15 15 18 24 17 17 15 19 16 18 17 16 23 16 19 19 47 35

55 20 38 18 17 52 17 16 16 19 25 18 18 16 20 17 19 18 17 24 17 20 20 48 36

56 21 39 19 18 53 18 17 17 20 26 19 19 17 21 18 20 19 18 25 18 21 21 49 37

57 22 40 20 19 54 19 18 18 21 27 20 20 18 22 19 21 20 19 26 19 22 22 50 38

58 23 41 21 20 55 20 19 19 22 28 21 21 19 23 20 22 21 20 27 20 23 23 51 39

59 24 42 22 21 56 21 20 20 23 29 22 22 20 24 21 23 22 21 28 21 24 24 52 40

85

47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70

Jambi Bengkulu Jateng Bali ANZ Panin Bank BNP Paribas Indonesia Capital Indonesia DBS Indonesia Mizuho Indonesia Resona Perdania Woori Indonesia China Trust Indonesia Sumitimo Mitsui Indonesia PT Bank KEB Indonesia Bank of America ABN Amro Bank Bank of China Limited Citibank Duetsche JP Morgan Chase Bank Standard Chartered The Bangkok Bank Comp. Bank of Tokyo Mitshubishi Hongkong & Shanghai Banking

49 37 15 46 19 19 19 19 7 50 16 11 19 18 40 39 5 40 39 40 39 40 40 40

50 38 16 47 20 20 20 20 8 51 17 12 20 19 41 40 6 41 40 41 40 41 41 41

51 39 17 48 21 21 21 21 9 52 18 13 21 20 42 41 7 42 41 42 41 42 42 42

52 40 18 49 22 22 22 22 10 53 19 14 22 21 43 42 8 43 42 43 42 43 43 43

53 41 19 50 23 23 23 23 11 54 20 15 23 22 44 43 9 44 43 44 43 44 44 44

54 42 20 51 24 24 24 24 12 55 21 16 24 23 45 44 10 45 44 45 44 45 45 45

86

Lampiran 10 Model Regresi Linier Berganda dengan Variabel Dummy


Coefficients(a) Unstandardized Coefficients Model 1 (Constant) ROA LDR NPL DPR KM KI AGE B 6,259 -,160 -,340 -8,084 ,172 6,380 ,593 Std. Error 26,248 3,773 ,153 5,591 ,248 14,130 ,252 ,320 -,005 -,265 -,179 ,088 ,058 ,280 ,079 Standardized Coefficients Beta ,238 -,043 -2,218 -1,446 ,692 ,452 2,350 ,659 ,812 ,966 ,030 ,153 ,491 ,653 ,022 ,512 ,884 ,929 ,860 ,826 ,793 ,932 ,913 1,131 1,076 1,163 1,211 1,261 1,072 1,095 Collinearity Statistics Tolerance VIF

Sig.

,211 a Dependent Variable: DER

87

Lampiran 11 Hasil Uji Autokorelasi


Model Summary(b) Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 49,45288

,424(a) ,180 ,087 a Predictors: (Constant), AGE, LDR, NPL, KI, DPR, ROA, KM b Dependent Variable: DER

Model 1

R Square

Durbin-Watson 2,041

88

Lampiran 12 Hasil Uji Heteroskedastisitas

89

Lampiran 13 Model Transformasi Regresi Linier Berganda dengan Variabel Dummy


Coefficients(a) Unstandardized Coefficients Model 1 B 2,311 ,117 -1,536 ,139 -,094 -,030 ,487 ,442 Std. Error ,761 ,137 ,297 ,109 ,081 ,119 ,252 ,214 Standardized Coefficients Beta ,096 -,550 ,142 -,163 -,034 ,201 ,232 t 3,038 ,859 -5,177 1,274 -1,160 -,250 1,931 2,065 Sig. ,003 ,394 ,000 ,207 ,250 ,803 ,058 ,043

(Constant) ROA LDR NPL DPR KM KI AGE

a Dependent Variable: DER

90

Lampiran 14 Deskripsi Statistik


Descriptive Statistics N DER ROA LDR NPL DPR KM KI AGE Valid N (listwise) 70 70 70 70 70 70 70 70 70 Minimum 1,28 -,05 31,86 ,00 ,00 ,00 23,57 10,00 Maximum 407,67 6,80 335,08 4,77 152,83 1,00 100,00 116,00 Mean 18,0521 2,5572 86,3677 1,5101 14,7679 ,3286 70,2144 35,4143 Std. Deviation 51,75430 1,67821 40,30664 1,14860 26,38670 ,47309 24,42297 19,49693

91