Anda di halaman 1dari 6

Lab.

Bersama Lewikopo

Selasa, 07 Mei 2013

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK PENGOLAHAN PANGAN

PROSES PENGGILINGAN GABAH

Oleh :

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN DAN BIOSISTEM FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

PENDAHULUAN Latar Belakang Kemajuan

teknologi

pascapanen di

Indonesia menuntut

tersedianya

bahan baku yang bermutu tinggi untuk industri pengolahan hasil pertanian. Produkproduk pertanian yang berbentuk butiran, seperti: jagung, padi, kacang-kacangan, kopi, dan lain-lain memerlukan perhatian yang lebih serius, terutama pada proses pasca panen produk. Salah satu dari proses pasca panen itu sendiri yaitu penggilingan. Dengan penggilingan yang diberikan pada produk maka kualitas dari produk akan lebih meningkat. Hal ini juga berklaku untuk gabah yang digiling menjadi beras. Penggilingan akan menurunkan bobot dan memperkecil volume pangan sehingga biaya pengangkutan dan penyimpanan. Di Indonesia, penggilingan butiran pada umumnya masih dilakukan dengan mesin sederhana untuk ukuran masyarakt kecil. Proses penggilingan dengan mesin sederhana ini sangat berpengaruh pada waktu penggilingan dan tenaga kerja yang banyak. Dimana sebelum dilakukan penggilingan gabah perlu dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan butiran yang berkadar air tinggi, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengeringan dalam jangka waktu lama pada suhu udara pengering yang rendah atau pengeringan dalam jangka waktu yang lebih pendek pada suhu yang lebih tinggi. Akan tetapi, jika pengeringan dilakukan terhadap suatu bahan berlangsung terlalu lama pada suhu yang rendah, maka aktivitas mikroorganisme yang berupa tumbuhnya jamur atau pembusukan menjadi sangat cepat. Sebaliknya, pengeringan yang dilakukan pada suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada komponen-komponen bahan yang dikeringkan, baik secara fisik maupun kimia. Oleh karena itu, perlu dipilih cara pengeringan yang efektif dan efisien agar tidak terjadi kerusakan pada produk-produk pertanian. Sehingga akan dihasilkan gabah kering giling (GKG) yang berkualitas baik. Hal ini berpengaruh pada kualitas beras yang dihasilkan dari proses penggilingan.

1.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum ini yaitu : a. Mengetahui proses penggilingan gabah dengan unit penggiling padi (Rice Milling Unit) skala laboratorium. b. Mengamati dan menghitung rendemen serta mutu hasil penggilingan gabah. Membandingkan hasil penggilingan gabah dengan 1 dan 2 lintasan pecah kulit, serta mempelajari pengaruh lama penyosohan terhadap mutu hasil penggilingan c. Membandingkan rendemen serta mutu hasil penggilingan dengan standar mutu beras menurut SNI

METODOLOGI 1. Waktu dan Tempat Percobaan Praktikum dilakukan di Laboraturium Pemutuan Biji-bijian Leuwikopo pada pukul 14.00 17.00. 2. Alat dan bahan 2.1 Alat: - Paddy huster (pemecah kulit) - whitener/polisher (penyosoh) - Cylinder separator (pemutuan) - Timbangan / neraca 2.2 Bahan: - GKG (Gabah Kering Giling) 3. Prosedur Percobaan 1. Sebelum digiling diukur terlebih dahulu kadar air awal, dengan menggunakan moisture tester sebanyak 3 kali ulangan 2. Setiap kelompok mengambil sampel sebanyak kurang lebih 1 kg kemudian dibersihkan. 3. Sampel tersebut digiling dengan menggunakan paddy husker dengan lintasan giling 1 dan 2 (menurut kelompok), timbang gabah pecah kulit yang diperoleh. 4. Diambil 200 gram gabah pecah kulit dan dilakukan penyosohan dengan waktu penyosohan yang berbeda-beda (2, 3, 4 menit menurut kelompok). Timbang berat akhir beras yang dihasilkan dari penyosohan.

- Baki penampung - Stopwatch - Grain Moisture Tester

5. Dilakukan pemutuan dengan mengambil masing-masing sampel sebanyak 100 gram secara acak dan dimasukkan ke dalam cylinder separator. Timbang beras menir, beras patah dan beras kepala. 6. Diambil sampel dari hasil gilingan yang tersisa secukupnya dan lakukan pengukuran kadar air akhir.

Pembahasan Gabah kering giling(GKG) meruapakan gabah kering panen yang telah diturunkan kadar airnya dan siap untuk digiling. Pada praktikum kali ini, dilakukan pengolahan gabah kering giling menjadi beras yang siap untuk dikonsumsi(dimasak) yaitu berupa beras sosoh. Penggilingan awal dilakukan dengan mengupas kulit gabah kering giling. Untuk melakukan tahap awal ini digunakan paddy huster(pemecah kulit) untuk memisahkan kulit gabah dari bernasnya dan menjadi beras. Penggunaan pemecah kulit (paddy huster) ini harus dilakukan dengan prosedur standar agar pemecahan kulit yang dilakukan harus maksimal. Dimana gabah kering giling(GKG) dimasukkan kedalam tempat penampungan pada paddy huster) kemudian ditutup. Sebelum proses pemecahan kulit dilakukan maka perlu dilakukan pembukaan sekat untuk pengambilan beras pecah kulit. Pembukaan sekat ini dilakukan dengan perlahan agar gabah yang turun ke bagian penggilingan tidak terjadi penumpukan sehingga dapat membuat jalannya penggilingan terhambat/macet. Kemudian paddy huster dinyalakan dan gabahpun turun dari penyimpanan gabah. Gabah yang melewati bagian pemecahan kulit tersebut, gabah akan menjadi terpisahkan antara kulit dan berasnya. Setelah terpisahkan, kedua bagian gabah ini bersama-sama menuju wadah penyimpanan Dalam paddy huster ini terdapat wadah untuk penyimpanan beras pecah kulit dan ada juga wadah untuk menampung kulit yang telah terpisahkan. Gabah yang telah pecah kulit akan melewati blower. Dimana blower berfungsi untuk mendorong kulit yang terkelupas untuk terhempas menuju wadahnya, tidak dapat mendorong beras pecah kulit, sehingga beras pecah kulit akan jatuh kebawah karena gaya gravitasi. Dimana wadah beras pecah kulit berada tepat di bawah pengeluaran beras pecah kulit. Beras pecah kulit hasil prosesyang telah melewati paddy huster ini dilakukan penggilingan lanjutan menggunakan polisher. Polisher(penyosoh) ini berfungsi untuk mengubah beras pecah kulit menjadi beras putih yang siap untuk dimasak. Dalam polisher ini, bekatul yang masih menempel pada beras pecah kulit akan dibersihkan. Polisher ini menggunakan mekanisme penggilingan dalam pembersihan bekatul yang menempel pada beras pecah kulit. Polisher bekerja dengan transmisi putaran dari motor yang ada di sampingnya yang ditransmisikan dengan mekanisme pulley dan belt. Selanjutnya, dilakukan pemutuan beras dengan menggunakan mesin cylinder separator. Mesin ini akan memberikan pemutuan berbeda-beda, sesuai dengan besarnya sudut yang diatur didalam silinder yang digunakan. Silinder dapat diganti-ganti sesuai dengan yang diinginkan. Dapat memisahkan beras menir (cekungan paling kecil), dengan beras patah ataupun beras kepala. Dimana lama pemutaran cylinder separator juga dapat diatur sesuai dengan waktu yang dibutuhkan dalam perlakuan. Bahan praktikum yang tersedia diberikan tiga perlakuan yang berbeda dari segi lintasan gilingnya, maupun lama penyosohannya. Dari perbedaan lintasan giling yang dapat dilihat di Tabel 5, bisa diketahui bahwa semakin abnyak lintasan giling maka jumlah rendemen akan berkurang. Hal ini terjadi dikarenakan pada proses pemisahan kulit dari gabah , beras pecah yang dihasilkan berpatahan, sehingga pada saat pemisahan dengan blower, beras yang patah akan terbuang ke wadah untuk kulit gabah.

Dari perbedaan lama penyosohan, yang masing-masing terdiri dari 1.5 menit, 1 menit, dan 2 menit. Bisa diketahui bahwa beras pecah kulit yang disosoh dengan waktu terlama memiliki warna yang lebih putih dibadingkan dengan beras pecah kulit yang disosoh denagan waktu yang tidak lama. Hal ini bisa disimpulkan bahwa semakin banyak bekatul yang terpisahkan bila penggerusan pada beras pecah kulit.semakin lama dilakukan. Sedangkan untuk proses pemutuan dapat dilihat pada Tabel 4. KESIMPULAN Dari praktikum yang telah dilakukan dapat dikathui bahwa semakin banyaknya lintasan giling, membuat randemen yang dihasilkan menjadi lebih sedikit. Lama dari penyosohan akan berpengaruh pada kualitas beras yaitu putih beras. Bila dibandingkan dengan standar yang dimiliki Badan Standarisasi Nasional, maka beras beras dengan perlakuan 1 lintasan giling dan lama penyosohan 1.5 menit tidak termasuk dalam penggolongan mutu yang telah ditetapkan Badan Standarisasi Nasional. Dengan kata lain beras tidak memenuhi standar. Sedangkan beras dengan perlakuan selain beras dengan perlakuan 1 lintasan giling dan lama penyosohan 1.5 menit termasuk dalam mutu V.

Daftar Pustaka Anonim.2008.Pengeringan.[terhubungberkala].(http://jut3x.multiply.com/journal/ item/5).(diakses pada 30 April 2013). Anonim.2008. Persyaratan mutu beras menurut SNI 6128: 2008. [terhubung berkala] http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/bt152102.pdf (diakses pada 14 Mei 2013)