Anda di halaman 1dari 10

1

MAKALAH

Suwarsih Djojopuspito: Menciptakan Subjek Feminis Nasionalis Melalui Narasi Autobiogras1


2 AQUARINI PRIYATNA

Suwarsih Djojopuspito: Menciptakan Subjek Feminis Nasionalis Melalui Narasi Autobiogras1 Aquarini Priyatna2

Autobiography makes trouble: it is difcult to dene as a distinct genre, and the borderline between fact and ction, the personal and the social, the popular and the academic, the everyday and the literary.
(Cosslett, Lury, & Summereld, 2000; Marcus, 1994)

Sudah lama saya tertarik pada karya autobiogras perempuan, baik oleh perempuan yang termasuk ke dalam tokoh publik maupun autobiogra oleh perempuan dari kalangan biasa. Buku-buku Nh. Dini, misalnya, adalah buku-buku yang pertama kali membuat saya semakin merasa yakin bahwa menulis secara autobiogras adalah strategi penting dalam menulis persoalan perempuan. Lebih dari itu, sebagai tulisan feminis. Ketertarikan akademik saya pada auto/biogra membuat saya juga cenderung untuk menulis secara autobiogras yang saya rasa dapat membantu mendekatkan wacana yang saya bicarakan dengan keseharian perempuan, paling tidak dalam konteks keseharian saya sendiri. Saya berpendapat hal itu penting untuk menunjukkan fragmentasi dan koherensi diri saya sebagai seorang perempuan yang akademisi, sebagai feminis, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai orang Sunda/Jawa/Banten dan sebagai perempuan yang tubuhnya mengalami menstruasi, kehamilan, menyusui, dan mungkin segera, menopause, serta banyak konteks lain yang mengerangkai diri saya. Fragmentasi dan pada saat yang sama koherensi yang sama dan/tetapi berbeda dapat dialami oleh banyak perempuan lain. Dalam paper sederhana ini saya akan membahas Suwarsih Djojopuspito sebagai penulis narasi dan narasi Suwarsih dalam tiga karyanya, novel Manusia Bebas3 dan
Makalah untuk diskusi Perempuan Pencipta Narasi, Serambi Salihara, Selasa, 09 April 2013, 19:00 WIB. Makalah ini telah disunting. 2 Aquarini Priyatna adalah dosen Sastra Inggris di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Bukunya, antara lain, adalah Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra dan Budaya Pop (Yogyakarta: Jalasutra, 2006) dan Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Femininitas dan Globalitas dalam Iklan Sabun (Yogyakarta: Jalasutra, 2003). 3 Pada mulanya novel ini ditulis dalam bahasa Belanda dengan judul Buiten het Gareel dan diterbitkan di Belanda pada 1940. Buiten het Gareel kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Manusia Bebas (Jakarta: Jambatan, 1975). Manusia Bebas yang diterbitkan atas bantuan Carles Edgar du Perron membuktikan bahwa Suwarsih lebih dulu go international sebelum kepenulisannya diakui di dalam negeri.
1

Makalah Diskusi | April 2013

2
Marjanah serta kumpulan cerpen Empat Serangkai. Seperti Nh. Dini yang menulis untuk menjadi wakil wanita pada umumnya,6 Suwarsih yang menulis pada periode 1940-1970an juga menulis dengan kesadaran untuk menjadi representasi perempuan. Dalam catatan kenangannya untuk du Perron, Suwarsih menggambarkan dirinya sebagai seorang penulis karangan-karangan kecil tentang emansipasi wanita.7 Manusia Bebas adalah novel pertama Suwarsih, dan dapat juga dikatakan sebagai novel yang paling banyak dibicarakan, terutama dalam konteksnya sebagai novel autobiogras, atau yang disebut Shackford-Bradley sebagai ksi autobiogras.8 Karena itu, saya akan membicarakan Suwarsih dengan melihat bagaimana referensi dalam Manusia Bebas secara jelas mengacu kepada Suwarsih Djojopuspito sebagai subjek historis dan bukan semata-mata sebagai Sulastri yang adalah subjek autobiogras di dalam narasi.
4 5

Manusia Merdeka atau Manusia di Luar Jalur: Perlintasan Naratif dan Autobiogras Suwarsih Djojopuspito
Suwarsih Djojopuspito dapat dikatakan sebagai pelopor perempuan penulis/novelis Indonesia karena ia adalah satu dari sedikit perempuan Indonesia, selain Selasih (Kalau Tak Untung, 1933) dan Hamidah (Kehilangan Mestika, 1935), yang novel mereka diterbitkan oleh Balai Pustaka, sebuah otoritas sastra pada masa sebelum kemerdekaan.9 Seperti dibahas oleh Suryaman dan kawan-kawan, sedikitnya jumlah perempuan penulis berhubungan dengan rendahnya tingkat pendidikan perempuan pada masa itu. Dalam konteks ini, dapat dikatakan bahwa Suwarsih adalah sebagian kecil perempuan Indonesia yang beruntung mendapat pendidikan tinggi. Sebagaimana ditulis Korrie Layun Rampan,10 Suwarsih mengenyam pendidikan Belanda di Sekolah Kartini, MULO (setara SMP) dan Europeesche Kweekschool (setara SGA). Ia juga bekerja sebagai guru di berbagai tempat, termasuk Perguruan Rakyat, Taman Siswa, Pasundan Istri, dan HIS. Dengan pendidikan tingginya, Suwarsih terekspos dengan Bahasa Belanda, yang kemudian menjadi bahasa yang digunakannya untuk menulis ulang novel pertamanya, setelah novel yang semula ditulis dalam Bahasa Sunda itu ditolak oleh Balai Pustaka.11 Lebih dari sekadar berpendidikan tinggi, Suwarsih adalah juga seorang poliglot dan menguasai bahasa Prancis, Belanda, Jerman, dan Inggris, selain Indonesia dan Sunda. Kemampuan berbahasa asing, nasional dan daerah itu ia gunakan juga untuk bekerja sebagai penerjemah buku. Dengan kapasitas seperti itu dapat terlihat bagaimana ia dapat bergerak di antara berbagai kebudayaan melalui bahasa yang dikuasainya, dan buku-buku yang dibacanya, seperti yang terlihat baik dalam Manusia Bebas, Marjanah maupun Empat Serangkai. Pada kedua novel tersebut tokoh utamanya Marjanah dan Sulastri sama-sama
Suwarsih Djojopuspito, Marjanah (Jakarta: Balai Pustaka, 1959). Selanjutnya ditulis Marjanah. Suwarsih Djojopuspito, Empat Serangkai (Jakarta: Pustaka Rakjat N.V., 1954). Selanjutnya ditulis Empat Serangkai. 6 Nh. Dini, Sekayu (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), 76. Cetak tebal dari saya. 7 Suwarsih Djojopuspito, Sahabat yang tidak pernah mati dalam Charles Edgar du Perron at al., Kian Kemari: Indonesia dan Belanda dalam Sastra (Jakarta: Penerbit Djambatan), 102-112. Cetak tebal dari saya. 8 Julie Shackford-Bradley, Autobiographical Fictions: Indonesian Womens Writing from the Nationalist Period (Berkeley: University of California, Berkeley, 2000). Selanjutnya ditulis Autobiographical Fictions. 9 Maman Suryaman, Wiyatmi, Nurhadi B.W., Else Liliani, Sejarah Sastra Indonesia Berperspektif Gender (2011), 13; diunduh dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/les/pendidikan/Dr.%20Wiyatmi,%20M.Hum./Buku%20 Sejarah%20Sastra-Gender.pdf. 10 Korrie Layun Rampan, Leksikon Susastra Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2000). 11 Melani Budianta, Diverse Voices: Indonesian Literature and Nation Building dalam Lee Hock Guan & Leo Suryadinata, ed., Language, Nation, and Development in Southeast Asia (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2007), 51-73.
4 5

Makalah Diskusi | April 2013

3
digambarkan sebagai perempuan yang kritis dan cerdas, yang membaca dengan rakus dan tidak segan mendiskusikan bacaan-bacaan mereka dengan orang-orang yang dapat mengimbangi mereka, seperti tokoh Soetrisna pada Marjanah dan kelompok persahabatan pada Manusia Bebas. Pada cerpen Perempuan Djahat, tokoh Hersini digambarkan membaca Slauerhoff, Rilke dan Pusjkin (Empat Serangkai, 58-101). Point of reference terhadap Suwarsih juga dikuatkan oleh narator Aku liris yang digunakan pada Manusia Bebas dan tiga dari empat cerpen dalam Empat Serangkai. Lebih dari itu, seperti tokoh Sulastri dalam Manusia Bebas yang mendokumentasikan hidupnya dengan menulis novel, tokoh Marjanah juga menulis buku harian yang disimpan rapi di dalam lemari kamarnya. Dengan referensi ini, dapat diargumentasikan lebih dari sekadar menggambarkan perempuan pada umumnya, seperti kedua tokohnya, Suwarsih mendokumentasikan hidupnya melalui tulisan-tulisannya, yang meski ditulis sederhana dan menuliskan hal-hal yang sepele dan cetek-cetek (Manusia Bebas, viii). Sebagaimana seseorang menulis buku harian yang mendokumentasikan perjalanan hidupnya, baik buku harian dan novel yang sedang ditulis sang tokoh maupun tulisan yang ditulis oleh Suwarsih mempunyai nilai sejarah dan yang penting bukan saja dalam konteks kenegaraan dan pergerakan nasional, melainkan juga sebagai potret kehidupan perempuan intelektuil yang harus bermanuver dalam kondisi pergerakan nasionalis dan/di dalam ruang domestiknya. Dalam Kata Pengantar untuk Buiten het Gareel, du Perron menulis kesederhanaannya, yang acapkali menyerupai dokumen, adalah harapan yang paling besar bagi bukunya, untuk dibaca lagi sebagai buku yang belum usang [dan] berharga sebagai saksi dari zaman tertentu (Manusia Bebas, xiv). Hal yang sama dikatakan oleh Toeti Heraty yang menilai Manusia Bebas berkontribusi terhadap penggambaran pergerakan nasionalis selama tiga puluhan tahun melalui perjalanan panjang pengantin baru.... [yang] menjalani kekecewaan bertubi-tubi, mengatasi badai pernikahan dan kembali pada kemampuan mencatat kenangan, menulis dengan cita-cita suatu negeri Indonesia.12 Suwarsih lahir pada 20 April 1912, dan ia baru berusia 28 tahun ketika novel pertamanya terbit. Meski dari sisi tema atau topik tulisan, Suwarsih dapat dibandingkan dengan Kartini, tetapi seperti disebut du Perron, kita harus mencatat bahwa tidak seperti Kartini yang lahir dari kalangan ningrat, Suwarsih adalah anak rakyat biasa. Dengan konteks itu, dapat dikatakan perjalanan pendidikan dan literasinya sangat luar biasa. Latar belakang pendidikan, pergaulannya dengan berbagai bahasa serta perjalanan novel pertamanya bukan saja menunjukkan kapasitas dirinya, beragam bentuk perlintasan yang dilakukannya, tetapi juga pelbagai ruang yang ditempatinya sebagai perempuan yang hidup selama masa kolonial dan sesudahnya. Dalam hal ini, seperti diargumentasikan oleh Shackford-Bradley, Suwarsih berfungsi sebagai penerjemah, baik secara literal maupun guratif, dan menciptakan hubungan antara berbagai celah kultural dan linguistik (Autobiographical Fictions, 189). Pergerakan dan perlintasan seperti yang dilakukan oleh Suwarsih membutuhkan kecerdasan yang luar biasa karena di satu sisi ia telah menginjak peradaban maju tetapi di sisi lain ia masih hidup di dalam masyarakat yang mempercayai takhayul, mengiyakan poligami dan memandang perempuan sebagai warga negara kelas dua yang intelektualitasnya tidak sepenuhnya diakui sebagai bagian penting dari dirinya, seperti terlihat dalam tokoh Sulastri yang sering harus menerima cemooh suaminya sebagai terlalu borjuis karena menyukai keindahan dan tetek bengek yang tidak penting. Sulastri, sebagaimana saya pikir Suwarsih juga, menghadapi kebingungan dalam posisinya
12

Toeti Heraty, Kata Pengantar dalam Suwarsih Djojopuspito, Manusia Bebas (Jakarta: Penerbit Djambatan, edisi kedua, 2000), xvii.
Makalah Diskusi | April 2013

4
sebagai intelektuil proletar dan sebagai istri, dua ruang yang sering terpisah dengan jelas. Penggambaran tokoh Sulastri yang harus mondar-mandir di antara dua ruang tadi secara metaforis juga menggambarkan perlintasan ruang intelektual dan domestik yang harus terus- menerus dilakukannya. Bagaimanapun Suwarsih sebagaimana juga Sulastri terus-menerus membentuk formasi diri yang memang ada di antara kedua hal tersebut, sebagai bagian dari kelompok intelektual dalam pergerakan nasional, tetapi juga bagian dari kelompok intelektual feminis yang berjuang untuk memperbaiki kondisi hidup perempuan yang sering tersingkirkan tidak saja pada ruang domestik (poligami, kekerasan, pelecehan oleh suami), melainkan juga pada tingkat pergerakan nasional ketika kepentingan perempuan dan pribadi juga terpaksa dinomorduakan untuk pergerakan. Kompleksnya jalinan antara pergerakan nasional, pergerakan perempuan/feminis, identitas diri dan kebebasan untuk perempuan feminin terlihat misalnya dalam penggambaran ketika Sulastri melepaskan kepenatannya dengan membaca buku-buku roman yang segera dikomentari kakaknya yang aktivis gerakan perempuan sebagai kegiatan tidak berguna, Selalu roman-roman. Bacalah buku yang lebih baik, apa yang berguna untuk pergerakan wanita kita (Manusia Bebas, 195). Di sini terlihat bagaimana kenikmatan feminin menikmati karya roman dinegasikan sebagai tidak berguna dibandingkan pergerakan feminis yang dimaknai sebagai kegiatan yang lebih bermakna. Dalam konteks ini, Sulastri dianggap sebagai tidak nasionalis dan tidak feminis. Ironisnya, di antara keduanya, Sulastri lebih keras menentang poligami yang dilakukan oleh Bapak mereka dibandingkan kakaknya. Suwarsih, seperti juga, Sulastri bersikap kritis terhadap posisi gerakan perempuan pada waktu itu yang masih ambigu dan belum menemukan titik pijakan yang lebih ajek. Secara bergurau di akhir novel, ketika Sulastri sudah menemukan lagi sebentuk kebahagiaan dengan suaminya, ia mengatakan, Lalu apa dong yang harus kubikin, kalau aku sedang girang, Dar? Kueh untuk Rustini? Apakah PID dan pergerakan wanita akan mengizinkannya, kalau aku sekarang membuat kue untuk Rustini? (Manusia Bebas, 292). Dengan perkataan lain, apakah jika aku menjadi ibu yang memperhatikan anaknya aku berada di luar jalur [gerakan perempuan]? Di luar jalur menjadi penting untuk dimaknai ulang, sebagaimana ditunjukkan oleh Toeti Heraty, karena judul asli dalam Bahasa Belanda berarti di luar jalur dan bukan manusia bebas. Pertanyaanya kemudian apakah menjadi bebas memang menuntut kita untuk keluar jalur? Baik Sulastri, maupun Soedarmo, suaminya, sama-sama tokoh yang keluar jalur, yang menginginkan kebebasan dalam mencapai cita-cita ideologisnya dengan tidak mengambil jalan sebagaimana yang berlaku pada masa itu. Seperti Suwarsih dan suaminya, Sulastri dan Soedarmo memilih mengajar di sekolah liar yang bukan dan tidak disetujui oleh pemerintah Belanda. Mereka ada di luar jalur karena itu mereka bebas, atau kebebasan yang mereka inginkan menuntut mereka untuk berada di luar jalur. Bagaimanapun, kebebasan tidak pernah gratis. Selalu ada harga yang harus dibayar. Untuk Sulastri, harga itu termasuk ambiguitas yang dideritanya sebagai seorang perempuan terdidik yang tidak sepenuhnya diterima di kalangan perempuan biasa yang ibu rumah tangga, sebagai feminis dengan karakteristik yang kritis, ia juga tidak selalu diterima di dalam pergerakan perempuan arus utama, dan sebagai intelektual proletar yang nasionalis, ia juga tidak selalu mendapat tempat di dalam pergerakan nasional. Dalam narasi autobiogras seperti ini, relasi dan tegangan di antara yang berbeda dan yang serupa, yang berterima dan tidak, serta segala sesuatu di antaranya dapat dikatakan membentuk subjektivitas diri yang dibangun di atas berbagai konteks yang melingkupinya. Seperti ditulis Chanfrault-Duchet,
Makalah Diskusi | April 2013

5
The autobiographical process uses not only facts and events, but also social representations and cultural values. A tension exists between self and society, which is resolved by the narrative presentation of unique self which can also be recognized by society.13

Suwarsih dan Sulastri sama-sama menulis proses hidupnya, mendokumentasikan fakta dan peristiwa serta nilai nilai yang menjadi konteks peristiwa itu. Keduanya menjalani hidup, menuliskan pengalaman mereka dan melabelinya sebagai bentuk emansipasi wanita dengan tidak melepaskan diri dari konteks pergerakan nasional yang menjadi bagian dari sejarah diri mereka.

Perempuan-Perempuan di Luar Jalur


Sudah lama saya tidak membaca novel dalam Bahasa Sunda. Ketika saya memulai membaca Marjanah, saya tidak punya ekspektasi apa-apa kecuali membaca sebagaimana narasi membawa saya. Marjanah tidak saja ditulis dalam bahasa Sunda, melainkan dengan menggunakan ejaan lama sehingga tantangannya terasa sedikit berlipat di awal. Seperti orang yang sudah lama tidak mengendarai sepeda, saya terseok-seok membacanya pada halaman-halaman awal, tetapi kemudian tanpa sadar saya telah larut di dalamnya, membayangkan perempuan Sunda cantik, bertubuh lenjang, dengan sanggul dan bunga besar menghiasinya. Perempuan yang menarik bukan saja karena dia digambarkan manis budinya melainkan juga karena dia dilukiskan sebagai perempuan yang rakus membaca dan menulis. Mengetahui sedikit cerita mengenai Suwarsih, saya langsung mengasosiakan Marjanah, tokoh utama novel ini, dengan Suwarsih. Meski acuan biogras antara Marjanah dan Suwarsih tidak sekuat Suwarsih dan Sulastri, dan memang itu bukan masalah, tetapi penggambaran karakter perempuan yang mempunyai referensi terhadap kehidupan penulisnya selalu menarik perhatian saya. Marjanah diterbitkan pada 1959, tetapi latar dalam novel adalah masa 1920-an hingga 1935. Ditulis dengan alur yang kronologis dari Marjanah kecil umur dua belas tahun hingga dewasa dan akhirnya menikah dengan laki-laki yang dicintainya. Marjanah lahir dari keluarga cukup berada. Secara sik, sejak awal Marjanah digambarkan cantik dan menarik.
Beungeutna buleud, tarangna rubak, halis melengkung hideung, ari imut pipina kempot seabeulah, panon seukeut, buringhas hurung . Dina pasemona katembong parangi manis, berag matak hegar anu ningal. Rupana seger siga kembang nu tas kahudjanan. Saparipolahna rikat, singer, henteu matak djengkel hate. Buukna pondok, dibeungkeut ku pita beureum...[...] (Marjanah, 7).

Lebih dari itu, baik melalui narator maupun melalui tokoh lain, Marjanah digambarkan pintar, santun dan penuh perhatian pada orang-orang di sekitarnya, seperti diceritakan oleh salah satu tokoh, Neng Marjanah mah ku koloteun, so resep tunja tanja ka nu keur nandang kanjeri... (Marjanah, 11). Penggambaran yang positif terhadap sosoknya berlangsung secara konsisten sepanjang novel. Bahkan dapat dikatakan, Marjanah digambarkan sebagai sosok perempuan yang sempurna. Penderitaan beruntun yang dialaminya sejak kecil ditambah godaan karena mencintai laki-laki yang sudah beristri
13

Marie-Franoise Chanfrault-Duchet, Textualisation of the self and gender identity in the life-story dalam T. Cosslett, Celia Lury & Penny Summereld, ed., Feminism and Autobiography: Texts, Theories, Methods (London dan New York: Routledge, 2000), 61.
Makalah Diskusi | April 2013

6
hanya membuat penggambaran sosoknya sebagai perempuan semakin sempurna, yang penyabar dan dapat menahan diri. Di sisi lain, yang menarik bagi saya adalah bahwa novel ini dipenuhi berbagai jenis perempuan yang dapat dianggap sebagai representasi dari berbagai tipe perempuan di dalam masyarakat. Ada Sulaeha, ibunda Marjanah, seorang istri yang cantik dan setia, tapi ditinggalkan suaminya untuk perempuan lain, Nji Sumarni, yang lebih menarik [secara seksual] bagi suaminya. Dalam kategori perempuan seksual ada juga Nji Sati, anak tukang kebun Marjanah yang kemudian menjadi perempuan simpanan seorang pedagang keturunan Cina, dan belakangan menjadi istri simpanan Tuan Belanda. Kemudian ada Martilah, istri Sutrisna, yang membaca majalah semi erotis La Vie Parisienne. Martilah juga digambarkan sebagai seorang pesolek yang mencintai hidup bebas termasuk mencari hiburan malam dengan laki-laki lain yang dihasratinya.Tokoh perempuan lain adalah Pinuk, yang dianggap gila oleh masyarakat sekitar, tetapi dialah yang kemudian menjadi penyelamat Marjanah ketika ia hampir tenggelam di sungai. Dalam kategori perempuan baik-baik ada juga eyang istri (nenek maternal Marjanah) dan Ma Supi, istri Mang Supi, si tukang kebun. Secara keseluruhan novel ini dibangun oleh plot sederhana, semacam bildungsroman, yang merupakan plot normatif autobiogra, yang protagonisnya mengalami kejatuhan sehingga dipaksa untuk berjuang keras mengatasi kondisi dan situasinya, melawan kesulitan dan hambatan dan akhirnya berhasil memperoleh kemenangan. Marjanah lahir dari keluarga cukup berada hingga Bapaknya kecanduan judi dan tergoda Nji Sumarni yang kasohor bisa ngabengbat pameget (terkenal dapat menggoda setiap laki-laki) hingga Henteu tolih ka istrina nu satia. Henteu emut ka Marjanah (Tidak peduli pada istrinya yang setia. Tidak ingat pada Marjanah) (Marjanah, 17). Setelah Bapaknya menceraikan ibunya, Marjanah tinggal di kota untuk bersekolah sementara ibunya tinggal bersama kakek dan neneknya hingga ketiga orang itu pun meninggal dunia dan meninggalkannya sendiri. Kebahagiaan kecil sempat ia cicipi ketika ia tertarik pada Sutrisna, teman sahabatnya, tetapi tak lama kebahagiaan itu berubah menjadi penderitaan karena Sutrisna sudah beristri. Di sini cerita menjadi menarik karena istri Sutrisna sebenarnya tertarik pada Jacky, sahabat Marjanah. Jacky sendiri mencintai Marjanah meski ia sering menikmati hiburan malam bersama Martilah, istri sahabatnya. Dalam satu kesempatan, Martilah bahkan secara terang-terangan menunjukkan hasrat birahinya pada Jacky,

Jacky, Martilah njusup kana harigu Jack. Jacky... [...] ulah sieun njeseup kembang nu ragrag kana lahunan! [...] Lungas-lengis Martilah njarita teh, panon hurung ku birahi nu teu kalaksanakeun kahajang..[...] Jacky, kasukaan nu kudu diwudjudken ku urang teh! Keun kuring anu siga seuneu ngentab2 ngarerab djasmani andjeun! Urang suka! Urang Bungah! Hirup mah ngan sakali! (Marjanah, 101-103).

Dalam episode tersebut, Jacky menolak tawaran Martilah karena Sutrisna adalah sahabatnya dan karena ia telah berjanji kepada Marjanah akan menjadi djelema bener (orang yang benar, orang baik). Jacky juga mengingatkan Martilah bahwa yang mereka alami pada waktu itu adalah semata-mata birahi yang hanya akan berlangsung sekejap dan bukan cinta.

Marti, ulah kitu, eulis! Karunja, Sutrisna ! Djeung deui kuring mah henteu mikatjinta ka andjeun teh, sabab ieu rarasaan surser kieu, lain anu disebut katresnaan tea! Lain, Marti! Ajuena asa mani seunggah ku kahayang, tapi isuk? (Marjanah, 102)

Makalah Diskusi | April 2013

7
Yang akan saya garis bawahi adalah novel ini tidak menghukum hasrat Martilah, dan tidak diceritakan mengenai sanksi sosial dan budaya yang ditimpakan kepadanya, kecuali bahwa Martilah sendiri yang menyadari bahwa hidup dengan suaminya yang tidak lagi dihasratinya bukanlah hidup yang diinginkannya. Martilah sendiri yang meninggalkan suaminya, dan bukan karena diceraikan suami. Di akhir cerita Martilah akhirnya menemui Jacky dan menjadi pasangannya, sementara Sutrisna, suaminya, akhirnya bersatu bersama Marjanah, perempuan yang lebih diinginkannya. Jika Martilah keluar jalur, ia sedirilah yang memilih benar-benar pindah jalur dan bukan karena didesak untuk keluar. Dengan perkataan lain, tokoh Martilah mengabjekan dirinya, karena Sutrisna, suaminya, tidak mau melepaskan dia. Ada dua hal yang bisa ditarik dari proses melepaskan diri Martilah dari suaminya. Pertama, karena Martilah menginginkan kehangatan dan gaya hidup yang tidak ditawarkan suaminya, maka alih-alih menunggu suaminya mengambil keputusan untuknya (dengan menceraikannya), ia mengambil keputusan untuk melepaskan diri dari perkawinan yang tidak membahagiakannya. Dalam konteks ini, Martilah berlaku sebagai agen bagi kebahagiaannya sendiri. Kedua, dapat juga diargumentasikan bahwa Martilah telah melakukan transgresi seksual yang sangat berisiko, tetapi alih-alih menghukumnya, novel ini mengganjar Martilah dengan kebahagiaan baru bersama orang yang lebih sesuai dengannya. Pada karyanya yang lain dari kumpulan cerpen Empat Serangkai, terutama dalam Seruling di Malam Sepi, Badju Merah, dan Perempuan Djahat, Suwarsih menggambarkan hasrat seksual seorang perempuan sebagai suatu hal yang normal dan biasa saja. Ini terlihat dari penggambaran adegan seks yang cukup nyata, apalagi jika kita mempertimbangkan fakta bahwa buku ini terbit pada 1950-an. Misalnya dalam Seruling di Malam Sepi, tokoh Aku, seorang istri yang ditinggalkan suaminya bekerja di luar negeri dalam waktu yang lama menyerah pada hasrat dan kebutuhan birahinya pada laki-laki yang digambarkan menarik hatinya,
... aku tiba2 merasa lesu, tak mempunyai kekuatan lagi? Ia tinggal bermalam. Di kamar gelap aku membiarkan dia me-raba2 tubuhku dengan tangan jang hangat dan penuh keinginan. Aku membiarkan bibirnja menutup bibirku rapat. Dan aku menjerah. Aku hanya wanita ketjil sadja, lemah dan tak mempunyai tudjuan lagi. Aku merasa kalah (Empat Serangkai, 12).

Dalam penggambaran ini terlihat bahwa seksualitas perempuan di luar jalur tidak mudah diterima bahkan oleh perempuan itu sendiri. Kata menyerah, kecil kalah semua mengimplikasikan perasaan tokoh Aku bahwa ia gagal dalam menguasai dirinya. Seksualitas perempuan lebih dianggap sebagai persoalan konstruksi sosial budaya, dan bukan sesuatu yang alamiah. Lebih dari itu, seksualitas perempuan sering digambarkan sebagai bentuk kotoran atau polusi,14 sehingga perempuan keluar jalur yang berhubungan seks di luar perkawinan kemudian harus menerima sanksi sosial/marital. Tokoh Aku dalam Seruling di Malam Sepi, diceraikan oleh suaminya, meski suaminya sendiri berhubungan seks dengan perempuan lain. Tetapi, alih-alih berharap suaminya akan berubah pikiran, atau kekasihnya akan mengawininya, tokoh Aku memutuskan bahwa hidup mandiri akan membuatnya lebih bahagia,

Ah, mengapa aku bermimpi me-nanti2 barang jang tak mungkin terdjadi. Lebih njata aku pergi sadja ke Harjadi sebagai isterinja jang kedua. Tidak, tidak. Lebih baik aku mendjadi tukang tjutji. Tjinta tak dapat di-bagi2 (Empat Serangkai, 17).
14

Feona Attwood, Sluts and Riot Grrrls: Female Identity and Sexual Agency, Journal of Gender Studies, 16 (3), 2007, 234.
Makalah Diskusi | April 2013

8
Sanksi terhadap perempuan di luar jalur ini adalah konsekuensi yang harus diterima oleh tiga dari empat tokoh protagonis perempuan di Empat Serangkai. Hal yang sama tidak berlaku pada suami-suami mereka yang melakukan hubungan seks di luar perkawinan. Resistensi terhadap standar ganda atas seksualitas yang melabeli perempuan dalam dikotomi perempuan baik dan perempuan jalang juga terlihat melalui tokoh Aku di dalam cerpen Badju Merah yang memutuskan akan memaksakan mantan suaminya untuk menerimanya kembali karena ia menyukai hubungan seksnya bersama mantan suaminya tersebut. Yang menarik, tokoh dalam cerita ini, Hartati, alih-alih ketakutan disebut binatang jalang malah merangkul pelabelan itu, Aku sendiri terikat olehnja dan hanja mempunyai satu keinginan sadja: berdekatan dengan dia, merasakan tubuhnja, dipeluk kembali. Ah, aku ini binatang djalang (Empat Serangkai, 57, cetak tebal dari saya). Juga pada tokoh Hersini, dalam Perempuan Djahat, yang rela hidup bersama di luar nikah dengan laki-laki yang diinginkannya. Ia dihukum karena hamil di luar nikah kemudian mati setelah melahirkan. Tetapi kemudian bukan Hersini yang terhukum, melainkan suaminya sendiri yang didera perasaan bersalah karena telah memperlakukan istrinya sedemikian buruk, baik selama masa perkawinannya maupun setelah Hersini melarikan diri darinya untuk hidup bersama Iskandar, laki-laki yang digambarkan lebih memahami dirinya, lebih sesuai, baik dalam hal minatnya maupun kesesuaian secara intelektual dan seksual. Dalam ketiga cerpen yang sudah saya bicarakan terlihat bagaimana Suwarsih melakukan resistensi terhadap konstruksi sosial yang menakan dan diskriminatif terhadap seksualitas perempuan tidak semata-mata dengan menujukkan bahwa perempuan adalah manusia dengan seksualitas tetapi juga dengan menunjukkan bahwa perempuan adalah agen bagi kebahagiaannya sendiri. Lebih dari itu, cerpen-cerpen ini menawarkan perempuan suatu ruang bagi resistensi terhadap konstruksi itu meski itu mengimplikasikan risiko sosial-kultural. Perempuan-perempuan di dalam kumpulan cerpen ini melihat keluar jalur mungkin adalah jawaban. Sebagai seorang perempuan yang menulis tentang emansipasi wanita, di dalam kumpulan cerpen ini tampak jelas bahwa, lebih dari sekadar protes terhadap standar ganda, Suwarsih juga melakukan protes terhadap [kecenderungan] institusi perkawinan yang mereduksi perempuan. Cerita pendek yang lain, Artinah, tidak menggambarkan Artinah sebagai seorang perempuan yang mempunyai hasrat seksual yang dapat dikatakan transgresif, tetapi bahkan perempuan baik-baik tidak dapat melepaskan diri dari relasi seksual yang menindas di dalam perkawinan. Suami Artinah, seperti juga suami-suami di ketiga cerpen lain dalam kumpulan ini, berselingkuh dan berhubungan seksual dengan perempuan lain selain melakukan tindak kekerasan terhadap istrinya. Di dalam perkawinannya perempuan sehebat Artinah, yang digambarkan sebagai seorang aktivis, pemimpin dan orator perempuan yang memesona, menjadi perempuan yang laksana tikus di pojok kamar, kecil dan ketakutan. Suara Suwarsih sebagai seorang aktivis perempuan/feminis tampak jelas dalam percakapan tokoh aku (Suwarsih?) dengan temannya Rukajah (Rukiah?) dalam cerpen Artinah.

Apa gunanya aku mengeluh. Aku merasa bahagia djuga hidup seorang diri, malah rasaku lebih bahagia dari pada kawan2ku jang telah kawin. Sebetulnya orang Indonesia itu lutju sekali. Mereka memandang wanita jang belum kawin tjelaka atau bernasib malang. Mereka lebih senang melihat kami kawin dengan seorang duda, bertjutju banjak atau dengan seorang lelaki yang rupanja sebagus hantu. Kami dianggap belum sempurna, djika belum kawin itu, biarkan untuk setahun, sebulan
Makalah Diskusi | April 2013

9
atau beberapa hari sadja. Mereka tak sedikitpun menginsja pendirian kami, bahwa kami mungkin djuga lebih seorang diri dari pada kawin dan menderita karena suami buruk (Empat Serangkai, 19-20).

Membaca empat cerpen itu seperti membaca potret buram perkawinan, dan memilih berada di luar perkawinan tidak juga lebih mudah daripada mereka yang berada di dalam perkawinan. Reeksi Suwarsih di era 1950-an mungkin masih cukup berharga untuk dipikirkan bahkan kini lebih dari setengah abad sesudahnya.

[Bukan] Penutup
Saya tidak berhasil menutup tulisan ini karena masih banyak celah yang seharusnya dijelajahi, masih banyak hal menarik yang ingin saya bicarakan karena Suwarsih Djojopuspito berhasil menyedot perhatian saya dalam beberapa minggu belakangan. Melaluinya saya semakin yakin bahwa banyak karya sastra perempuan dulu [dan sekarang] yang berhak ditelisik lebih teliti dan lebih dalam. Narasi perempuan dan perempuan yang bernarasi menciptakan sejarah bukan saja dalam konteks nasional tetapi juga pada konteks pribadi. Narasi autobiogras seperti yang ditulis Suwarsih membuka ruang bagi perempuan juga untuk mereeksikan hidupnya dengan narasi yang disampaikannya. Itu barangkali yang sudah saya lakukan. Mereeksikan narasi Suwarsih ke dalam narasi hidup saya sendiri. Seperti Suwarsih yang membangun formasi dirinya melalui bacaan dan tulisan, saya juga selalu dalam proses membangun formasi diri melalui bacaan dan tulisan, dan kini saya tahu bagian dari itu adalah Suwarsih Djojopuspito. Terimakasih.

Daftar Pustaka
Attwood, Feona, Sluts and Riot Grrrls: Female Identity and Sexual Agency, Journal of Gender Studies, 16(3), 2007. Budianta, Melani, Diverse Voices: Indonesian Literature and Nation Building dalam Lee Hock Guan & Leo Suryadinata, ed., Language, Nation, and Development in Southeast Asia (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2007). Chanfrault-Duchet, Marie-Franoise., Textualisation of the self and gender identity in the life-story dalam T. Cosslett, Celia Lury & Penny Summereld, ed., Feminism and Autobiography: Texts, Theories, Methods (London dan New York: Routledge, 2000). Cosslett, Tess, Celia Lury, Penny Summereld, ed., Feminism and Autobiography: Text, Theories, Methods (London dan New York: Routledge, 2000). Dini, Nh., Sekayu (Jakarta: Gramedia, 2000). Djojopuspito, Suwarsih, Empat Serangkai (Jakarta: Pustaka Rakyat N.V, 1954). Djojopuspito, Suwarsih, Marjanah (Jakarta: Balai Pustaka, 1959). du Perron, Carles Edgar at al., Kian Kemari: Indonesia dan Belanda dalam Sastra (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1973). Djojopuspito, Suwarsih, Manusia Bebas (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1975). Djojopuspito, Suwarsih, Manusia Bebas (Jakarta: Penerbit Djambatan, edisi kedua, 2000). Marcus, L., Auto/Biographical Discourses (Manchester dan New York: Manchester University Press, 1994).
Makalah Diskusi | April 2013

10
Rampan, Korrie Layun, Leksikon Susastra Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2000). Shackford-Bradley, Julie, Autobiographical Fictions: Indonesian Womens Writing from the Nationalist Period (Berkeley: University of California, Berkeley, 2000). Suryaman, Mamam, Wiyatmi, Nurhadi B.W., Else Liliani, Sejarah Sastra Indonesia Berperspektif Gender (2011) diunduh dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/les/ pendidikan/Dr.%20Wiyatmi,%20M.Hum./Buku%20Sejarah%20Sastra-Gender.pdf 02 April 2013, 14:15 WIB.

Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 Indonesia t: +62 21 7891202 f:+62 21 7818849 www.salihara.org Makalah Diskusi | April 2013