Anda di halaman 1dari 12

Nama : Ahmad Hidayat NIM : 3332101418

Tugas Paper Sistem Distribusi

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Perkembangan beban listrik khususnya di Perumahan sudah cukup tinggi. Kondisi demikian, mendorong untuk dilakukan pengaturan beban yang lebih baik. Untuk mencapai pengaturan beban yang lebih baik, perlu dilakukan pemerataan beban ditiap fasa agar beban seimbang. Ketidakseimbangan beban suatu system distribusi tenaga listrik selalu terjadi. Penyambungan beban yang dilakukan disaluran distribusi sekunder di Perumahan banyak cenderung kurang memperhatikan pola penyebaran beban antara ketiga fasa. Penyambungan yang dilakukan tidak memperhitungkan besar beban di masing-masing fasa. Keadaan demikian tentu saja akan berakibat penyebaran beban yang tidak seimbang antara ke tiga fasa pada system distribusi sekunder di Perumahan. Ketidakseimbangan antara tiga fasa mengakibatkan arus mengalir pada kabel netral trafo. Karena pada kabel netral. Trafo mengalir arus, maka rugi daya yang terjadi pada jaringan distribusi sekunder akan makin meningkat. Kerugian yang terjadi akibat beban yang tidak seimbang akan berdampak besar pada pihak konsumen maupun pihak PLN. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka disusunlah paper ini. Perkembangan beban listrik khususnya di Perumahan sudah cukup tinggi. Kondisi demikian, mendorong untuk dilakukan pengaturan beban yang lebih baik. Untuk mencapai pengaturan beban yang lebih baik, perlu dilakukan pemerataan beban ditiap fasa agar beban seimbang. Ketidakseimbangan beban suatu sistem distribusi tenaga listrik selalu terjadi. Penyambungan beban yang dilakukan di saluran distribusi sekunder di cenderung kurang memperhatikan pola penyebaran beban antara ketiga fasa. Penyambungan yang dilakukan tidak memperhitungkan besar beban di masingmasing fasa. Keadaan demikian tentu saja akan berakibat penyebaran beban yang tidak seimbang antara ke tiga fasa pada sistem distribusi sekunder di Perumahan. Ketidakseimbangan antara tiga fasa mengakibatkan arus mengalir pada kabel netral trafo. Karena pada kabel netral trafo mengalir arus, maka rugi daya yang terjadi pada jaringan distribusi sekunder akan makin

meningkat. Kerugian yang terjadi akibat beban yang tidak seimbang akan berdampak besar pada pihak konsumen maupun pihak PLN. Sistem distribusi daya listrik ke pelanggan, mulai dari Gardu Induk melalui jaringan listrik 3 phasa 20 KV (feeder primer) menuju trafo distribusi pada sistem primer. Tegangan diturunkan menjadi 220 volt pada trafo sisi sekunder melalui jaringan sekunder 3 phasa, energi listrik disalurkan ke pelanggan. Penyambungan ke pelanggan tanpa adanya perencanaan yang jelas akan mempengaruhi kualitas daya listrik. Penurunan kualitas daya disebabkan oleh Rugi daya dan drop tegangan pada saluran. Standar PLN no 72 menyatakan bahwa Rugi daya pada saluran (JTR) tidak boleh melebihi 0.7% dari daya total yang disalurkan dan drop tegangan pada saluran (JTR) tidak boleh lebih dari 4 %. Pada penelitian pendahuluan dilaksanakan pengukuran beban puncak (Mei 2005) pada Jaringan distribusi Tegangan Rendah (JTR) DT 174 penyulang Sedap Malam, menunjukkan pembagian beban 3 phasa sangat tak seimbang. Hal ini bisa disebabkan pada saat penyambungan lebih berdasarkan pada jarak terdekat sambungan atau pembagian beban berdasarkan pada beban terpasang. Hasil simulasi aliran daya 3 phasa metode Newton Raphson diperoleh Rugi daya sebesar 652 Watt atau 1.5%. Ada beberapa faktor yang bisa dilakukan untuk mengurangi Rugi daya meliputi keseimbangan beban 3 phasa, pemilihan kawat saluran dan penentuan letak trafo. Pada

penelitian ini, hanya digunakan parameter keseimbangan beban dalam mengurang rugi daya. Untuk mendapatkan beban 3 phasa yang seimbang, digunakan metode optimasi pada jaringan distribusi. Metode optimasi pada jaringan distribusi seperti metode single-period dan multi period, digunakan dalam penelitian S.K. Khator dan L.Cheung [2]. Kedua model tersebut sangat baik digunakan untuk sistem linier. Permasalahan optimasi pada kondisi riil lebih banyak ditemukan sistem tak linier, sehingga penggunaan metode single period dan multi period memberikan hasil yang kurang valid. Metode optimasi kemudian berkembang sesuai dengan perkembangan metode Intelligent Computation meliputi Fuzzy Logic, Simulasi Annealing, Tabu Search, Genetic Algorithm dan Imune System. Metode komputasi Genetic Algorithm telah banyak digunakan dalam menyelesaikan permasalahan optimasi tak linier. D.E. Golberg [3] dalam bukunya menggunakan metode Genetic Algorithm dalam menyelesaikan permasalahan optimasi di Industri. Metode GA kemudian berkembang penggunaanya ke berbagai bidang ilmu, salah satunya diaplikasikan dalam optimasi disain jaringan distribusi. Ramirez-Rosado [4] dalam penelitiannya menggunakan metode Algoritma Genetika kode biner untuk mendisain Sistem Distribusi yang optimal. Kode biner GA sangat baik digunakan untuk mendapatkan penelitan

dengan hasil yang memerlukan ketelitian atau setiap nilai dikodekan dalam satu kromosom. Kode biner GA kurang baik digunakan untuk setiap kromosom terdapat lebih dari satu parameter karena susunan kromosom menjadi sangat panjang. Metode GA kode non-biner telah dipilih [5] karena kesederhanaan dan kemampuannya untuk memasukkan informasi lebih dari bilangan biner. Algoritma ini telah diterapkan dalam system distribusi yang besar, diperoleh penyelesaian global optimal atau penyelesaian yang sangat mendekati pada titik optimal sebenarnya. T-H Chen dan T.Cheng [6] mengaplikasikan metode GA dalam optimasi jaringan distribusi dengan cara mengoptimalkan susunan phasa trafo distribusi feeder primer untuk sistem yang tak

seimbang sehingga rugi daya dapat dikurangi. A.M. Cossi, at.al [10] dalam penelitiannya, menggunakan Agoritma Genetika. Kelebihan dari GA kode desimal yaitu susunan gen dalam satu kromosom bisa mewakili lebih dari satu parameter. II. SISTEM DISTRIBUSI

2.1. Saluran Distribusi Sistem distribusi dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: 1. Distribusi Primer 1.1 Sistem Loop 1.2 Sistem Radial 1.3 Sistem Mesh 1.4 Sistem Spindel 2. Distribusi Sekunder Saluran distribusi primer (tegangan menengah) menghubungkan antara gardu induk dengan saluran distribusi sekunder (tegangan rendah). Dari distribusi sekunder listrik disuplai ke konsumen. Atau bisa saja distribusi primer mensuplai langsung ke konsumen yang biasanya berupa industri. Saluran distribusi primer mempunyai rating tegangan 20 kV. Sedangkan distribusi sekunder mempunyai rating 380/220 V. Tipe jaringan distribusi primer yang sering digunakan adalah topologi radial. 2.2. Jaringan Distribusi Primer

Jaringan distribusi primer merupakan awal penyaluran tenaga listrik dari Gardu Induk ( GI ) ke konsumen untuk sistem pendistribusian langsung. Sedangkan untuk sistem pendistribusian tak langsung merupakan tahap berikutnya dari jaringan transmisi dalam upaya menyalurkan tenaga listrik ke konsumen. Jaringan distribusi primer atau jaringan distribusi tegangan menengah memiliki tegangan sistem sebesar 20 kV. Untuk wilayah kota tegangan diatas 20 kV tidak diperkenankan, mengingat pada tegangan 30 kV akan terjadi gejala-gejala korona yang dapat mengganggu frekuensi radio, TV, telekomunikasi, dan telepon. Sifat pelayanan sistem distribusi sangat luas dan kompleks, karena konsumen yang harus dilayani mempunyai lokasi dan karakteristik yang berbeda. Sistem distribusi harus dapat melayani konsumen yang terkonsentrasi di kota, pinggiran kota dan konsumen di daerah terpencil. Sedangkan dari karakteristiknya, terdapat konsumen perumahan dan konsumen dunia industri. Sistem konstruksi saluran distribusi terdiri dari saluran udara dan saluran bawah tanah. Pemilihan konstruksi tersebut didasarkan pada pertimbangan sebagai berikut: alasan teknis yaitu berupa persyaratan teknis, alasan ekonomis, alasan estetika dan alasan pelayanan yaitu kontinuitas pelayanan sesuai jenis konsumen. Pada jaringan distribusi primer terdapat 4 jenis dasar yaitu : 1. Sistem radial 2. Sistem hantaran penghubung (tie line) 3. Sistem loop 4. Sistem spindel 2.2.1 Sistem Radial Sistem distribusi dengan pola radial seperti Gambar 2.2 adalah system distribusi yang paling sederhana dan ekonomis. Pada sistem ini terdapat beberapa penyulang yang menyuplai beberapa gardu distribusi secara radial.

Dalam penyulang tersebut dipasang gardu-gardu distribusi untuk konsumen. Gardu distribusi adalah tempat dimana trafo untuk konsumen dipasang. Bisa dalam bangunan beton atau diletakan diatas tiang. Keuntungan dari sistem ini adalah sistem ini tidak rumit dan lebih murah dibanding dengan system yang lain. Namun keandalan sistem ini lebih rendah dibanding dengan system lainnya. Kurangnya keandalan disebabkan karena hanya terdapat satu jalur utama yang menyuplai gardu distribusi, sehingga apabila jalur utama tersebut mengalami gangguan, maka seluruh gardu akan ikut padam. Kerugian lain yaitu mutu tegangan pada gardu distribusi yang paling ujung kurang baik, hal ini dikarenakan jatuh tegangan terbesar ada diujung saluran. 2.2.2 Sistem Hantaran Penghubung ( Tie Line ) Sistem distribusi Tie Line seperti Gambar 2.3. umumnya digunakan untuk pelanggan penting yang tidak boleh padam (Bandar Udara, Rumah Sakit, dan lain-lain).

Sistem ini memiliki minimal dua penyulang sekaligus dengan tambahan Automatic Change Over Switch / Automatic Transfer Switch, dan setiap penyulang terkoneksi ke gardu pelanggan khusus tersebut sehingga bila salah satu penyulang mengalami gangguan maka pasokan listrik akan di pindah ke penyulang lain. 2.2.3 Sistem Loop Pada Jaringan Tegangan Menengah Struktur Lingkaran (Loop) seperti Gambar 2.4. dimungkinkan pemasokannya dari beberapa gardu induk, sehingga dengan demikian tingkat keandalannya relatif lebih baik.

2.2.4 Sistem Spindel Sistem Spindel seperti pada Gambar 5. adalah suatu pola kombinasi jaringan dari pola Radial dan Ring. Spindel terdiri dari beberapa penyulang (feeder) yang tegangannya diberikan dari Gardu Induk dan tegangan tersebut berakhir pada sebuah Gardu Hubung (GH).

Pada sebuah sistem spindel biasanya terdiri dari beberapa penyulang aktif dan sebuah penyulang cadangan (express) yang akan dihubungkan melalui gardu hubung. Pola spindel biasanya digunakan pada jaringan tegangan menengah (JTM) yang menggunakan kabel tanah/saluran kabel tanah tegangan menengah (SKTM). Namun pada pengoperasiannya, sistem spindel berfungsi sebagai system radial. Di dalam sebuah penyulang aktif terdiri dari gardu distribusi yang berfungsi untuk mendistribusikan tegangan kepada konsumen baik konsumen tegangan rendah (TR) atau tegangan menengah (TM). 2.3 Gardu Distribusi atau Trafo Distribusi Gardu distribusi ( Trafo distribusi ) berfungsi merubah tegangan listrik dari jaringan distribusi primer menjadi tegangan terpakai yang digunakan untuk konsumen dan disebut sebagai jaringan distribusi sekunder. Kapasitas transformator yang digunakan pada transformator distribusi ini

tergantung pada jumlah beban yang akan dilayani dan luas daerah pelayanan beban. Gardu distribusi ( trafo distribusi ) dapat berupa transformator satu fasa dan juga berupa transformator tiga fasa. 2.4 Jaringan Distribusi Sekunder Jaringan distribusi sekunder atau jaringan distribusi tegangan rendah merupakan jaringan tenaga listrik yang langsung berhubungan dengan konsumen. Oleh karena itu besarnya tegangan untuk jaringan distribusi sekunder ini adalah 130/230 V dan 130/400 V untuk sistem lama, atau 380/220 V untuk sistem baru. Tegangan 130 V dan 220 V merupakan tegangan antara fasa dengan netral, sedangkan tegangan 400 atau 380 V merupakan tegangan fasa dengan fasa. III. Tegangan Distribusi

Tegangan untuk jaringan distribusi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain : 3.1. Tegangan Menengah (TM) Tegangan menengah adalah tegangan dengan rentang 1 kV sampai dengan 30 kV. Untuk negara Indonesia menggunakan tegangan menengah sebesar 20 kV. Tegangan menengah dipakai untuk penyaluran energi listrik dari GI menuju gardu-gardu distribusi atau langsung menuju pelanggan tegangan menengah. 3.2. Tegangan Rendah (TR) Tegangan rendah adalah tegangan dengan nilai di bawah 1 kV yang digunakan untuk penyaluran daya dari gardu distribusi menuju pelanggan tegangan rendah. Penyalurannya dilakukan dengan menggunakan sistem tiga fasa empat kawat yang dilengkapi netral. Indonesia sendiri menggunakan tegangan rendah 380/220 V dimana tegangan 380 V merupakan besar tegangan antar fasa dan tegangan 220 V merupakan tegangan fasa-netral.

IV.

Penyusutan Energi pada Jaringan Distribusi

Dalam proses transmisi dan distribusi tenaga listrik seringkali mengalami rugi-rugi daya yang cukup besar yang diakibatkan oleh rugi-rugi pada saluran dan juga rugi-rugi pada trafo yang digunakan. Kedua jenis rugi-rugi daya tersebut memberi pengaruh yang besar terhadap kualitas

daya serta tegangan yang dikirimkan ke sisi pelanggan. Nilai tegangan yang melebihi batas toleransi akan menyebabkan tidak optimalnya kerja dari peralatan listrik pada sisi konsumen. Selain itu, rugi-rugi daya yang besar akan menimbulkan kerugian finansial di sisi pengelola energi listrik. Daya total (kVA) yang dikirimkan dalam jaringan distribusi terdiri dari daya aktif (kW) dan daya reaktif (kVar). Daya aktif adalah daya listrik yang dapat diubah ke bentuk energi yang lain seperti cahaya dan lain-lain. Daya reaktif adalah daya yang pembentukan medan magnet. kVA2 = kW2 + kVar2..........................................................(2.1) kW = kVA Cos ..............................................................(2.2) kVar = kVA Sin ...............................................................(2.3) Daya listrik pada sistem 3 fasa dapat dirumuskan sebagai berikut : Daya aktif ( P ) = V . I Cos ( kW)............................(2.4) Daya reaktif ( Q ) = V . I Sin ( kVar )........................ (2.5) Daya total ( S ) = P + jQ ( kVA )........................ (2.6) S = V . I Cos + j V . I Sin .............. (2.7) 4.1. Rugi Rugi Saluran Jika suatu arus mengalir pada suatu penghantar, maka pada penghantar tersebut akan terjadi rugirugi energi menjadi panas karena pada penghantar tersebut terdapat resistansi. Rugi-rugi dengan beban terpusat pada ujung saluran distribusi primer dirumuskan sebagai berikut : V = I ( R cos + X sin ) L ........................ (2.8) P = 3 I2x R x L ........................................... (2.9) Sedangkan jika beban terdistribusi di sepanjang saluran distribusi primer, maka rugi-rugi energi yang timbul adalah : V = (I/2) P = 3 ( I/2)2 I ( R cos + X sin ) L............... (2.10) 2 x R x L ................................... (2.11) dimana I = Arus yang mengalir per fasa (Ampere) R = Resistansi saluran per fasa (Ohm/km) diperlukan untuk

X = Reaktansi saluran per fasa (Ohm/km) Cos = Faktor daya beban L = Panjang saluran (km) Pemilihan jenis kabel yang akan digunakan pada jaringan distribusi merupakan faktor penting yang harus diperhatikan dalam perencanaan dari suatu sistem tenaga listrik karena dapat memperkecil rugi-rugi daya. 4.2 Rugi Rugi Transformator Dalam unjuk kerjanya, trafo memiliki rugi-rugi yang harus diperhatikan. Rugi - rugi tersebut adalah : 1. Rugi-rugi Tembaga Rugi-rugi tembaga merupakan rugi-rugi yang diakibatkan oleh adanya tahanan resistif yang dimiliki oleh tembaga pada bagian kumparan trafo, baik pada bagian primer maupun sekunder. Rugi-rugi tembaga dirumuskan sebagai berikut : Pcu= I2R ................................................................ (2.12) Dimana: I = arus yang mengalir (Ampere) R = resistansi pada kumparan primer atau sekunder (ohm) 2. Eddy Current (Arus Eddy) Rugi-rugi arus eddy merupakan rugi-rugi panas yang terjadi pada bagian inti trafo. Perubahan fluks yang dihasilkan tegangan induksi pada inti trafo (besi) menyebabkan arus berputar pada bagian inti trafo. Arus eddy akan mengalir pada bagian inti trafo dan akan mendisipasikan energi ke dalam inti besi trafo yang kemudian menimbulkan panas. Rugi-rugi arus eddy dapat dirumuskan sebagai berikut : Pe = Ke.f2. BM2..................................................... ( 2.13)

Dimana: Ke = konstanta arus eddy, tergantung pada volume inti f = frekuensi jala-jala (Hz) B M = kerapatan fluks maksimum ( /A = Maxwell/ m 3. Rugi-rugi Hysterisis Rugi-rugi hysterisis merupakan rugi-rugi yang berhubungan dengan pengaturan daerah magnetik pada bagian inti trafo. Dalam pengaturan daerah magnetik tersebut dibutuhkan energi. Akibatnya akan menimbulkan rugi-rugi terhadap daya yang melalui trafo. Rugi-rugi tersebut menimbulkan panas pada bagian inti trafo. Ph= Kh. f2. BM2..................................................... ( 2.14) Dimana : Ph= konstanta histerysis, tergantung pada bahan inti f = frekuensi jala-jala (Hz) BM= kerapatan fluks maksimum ( /A = Maxwell/ m 2.5 Keandalan Sistem Distribusi Fungsi jaringan distribusi ialah menyalurkan dan mendistribusikan tenaga listrik dari gardu induk distribusi (distribution substation) kepada pelanggan listrik dengan mutu pelayanan yang memadai. Salah satu unsur dari mutu pelayanan adalah kontinuitas pelayanan yang tergantung pada topologi dan konstruksi jaringan serta peralatan tegangan menengah. Masalah utama dalam menjalankan fungsi jaringan distribusi tersebut adalah mengatasi gangguan dengan cepat mengingat gangguan yang terbanyak dalam sistem tenaga listrik terdapat dalam jaringan distribusi, khususnya jaringan tegangan menengah 20 KV. Istilah keandalan jaringan distribusi menggambarkan keamanan jaringan distribusi dalam menghindarkan atau meminimalisasi gangguan-gangguan yang menyebabkan pemadaman jaringan distribusi. Penyebab gangguangangguan pada jaringan distribusi khususnya jaringan tengangan menengah 20 KV adalah

1. Gangguan akibat alam (petir, angin, hujan) 2. Gangguan peralatan (hubung singkat atau human error) Keandalan adalah penampilan unjuk kerja suatu peralatan atau system sesuai dengan fungsinya dalam periode waktu dan kondisi operasi tertentu. 2.6 Usaha Peningkatan Kualitas Sistem Distribusi dengan Distributed Generation (DG) Sistem tenaga listrik konvensional membangkitkan listrik dengan skala besar (>100 MW) dan terletak jauh dari pusat beban sehingga memerlukan saluran tenaga listrik yang panjang. Distributed Generation dapat didefenisikan sebagai sistem pembangkitan skala kecil (< 10 MW) yang diletakkan dekat dengan pusat beban dan dapat diinterkoneksikan dengan jaringan distribusi atau dioperasikan secara terpisah . Hal ini membuat DG tidak memerlukan saluransaluran transmisi yang panjang dan gardu induk -gardu induk berkapasitas besar sehingga dapat mencegah pengeluaran modal investasi untuk pembangunan dan pemeliharaan saluran transmisi dan gardu induk tersebut. Selain dapat mencegah rugi-rugi di sepanjang saluran transmisi dan gardu induk (GI), maka kemungkinan terjadinya gangguan di sepanjang saluran transmisi dan gardu induk tersebut dapat ditiadakan sehingga dapat meningkatkan pelayanan jaringan tenaga listrik. Disamping itu, pembangunan DG memerlukan waktu yang relatif lebih singkat apabila dibandingkan dengan waktu yang diperlukan membangun pembangkit listrik konvensional (seperti PLTU atau PLTA).