Anda di halaman 1dari 15

Mencermati Naratif Novel Pulang1

Oleh Bagus Takwin

1 Saya membaca novel Pulang dan tertarik untuk terus membacanya sampai akhir, terpikat dan terhibur. Saya mendapatkan apa yang selayaknya diperoleh dari cerita: naratif Pulang membantu saya memaknai sebuah bagian hidup bernama Indonesia dan memeriksa kembali keyakinan dan konstruk saya tentang Indonesia. Kini saya ingin tahu lebih banyak apa yang membuat Pulang memikat dan membantu saya memaknai kembali Indonesia. Saya menduga, kekuatan naratif novel ini yang berperan besar menghasikan daya pikat dan daya gugahnya. Maka, saya menelusuri unsur-unsur naratif novel karya Leila S. Chudori itu. Naratif adalah tindakan simbolik yang melibatkan bahasa atau penampilan lain yang memiliki alur dan makna bagi mereka yang menghayati, menciptakan atau menafsirkannya. Secara singkat, nararif dapat didefinisikan sebagai paparan kejadian dalam rentang atau lingkar waktu tertentu. Novel Pulang adalah sebuah teks naratif, dalam pengertian teks yang di dalamnya agen menghubungkan (menuturkan) sebuah cerita dengan medium tertentu. Medium yang digunakan dalam novel ini adalah bahasa dengan tambahan ilustrasi gambar (tetapi saya hanya akan menganalisis bahasanya). Seperti yang dapat kita pelajari dari naratologi, teks adalah sebuah lapisan terluar dari teks naratif. Ada dua lapisan lainnya: cerita dan fabula. Cerita adalah fabula yang ditampilkan dengan cara tertentu. Fabula adalah satu seri kejadian yang terhubung secara logis dan kronologis yang disebabkan atau dialami oleh aktor. Kejadian adalah transisi dari satu keadaan ke keadaan lain. Aktor adalah agen yang menampilkan tindakan (tidak mesti

Makalah ini disampaikan dalam acara Musyawarah Buku Pulang, karya Leila S. Chudori, di Serambi Salihara, 29 Januari 2013.

manusia). Bertindak di sini didefinisikan sebagai menyebabkan atau mengalami sebuah kejadian. Dengan kerangka naratologi ini saya menelusuri novel Pulang.

2 Dalam sinopsis cover belakangnya disebutkan Pulang adalah sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965; Prancis Mei 1968 dan Indonesia Mei 1998. Ringkasan ini mengindikasikan kompleksitas cerita yang tinggi. Keluarga, cinta dan pengkhianatan, meski dalam kenyataan memang seringkali berkaitan, adalah tiga tema besar. Lalu tiga peristiwa yang melatarbelakanginya pun tak kalah kompleks. Apalagi peristiwa 30 September 1965 di Indonesia bisa dibilang masih kabur dalam sejarah Indonesia. Leila telah memilih tema dan peristiwa yang tak mudah diurai dan diceritakan. Namun, sejauh pembacaan saya, ia dapat mengatasi kompleksitas itu. Ia berhasil meramu unsur-unsur naratif secara meyakinkan dan menyajikannya secara apik dalam Pulang. Rangkaian kejadian yang terhubung secara logis dan kronologis yang disebabkan atau dialami oleh aktor dapat kita kenali di situ. Rangkaian itu memberi membawa saya kepada penafsiran yang secara ringkas saya ungkapkan dalam resensi novel ini di majalah Tempo (18 Desember 2012): Novel Pulang adalah paparan mengenai kesadaran orang-orang Indonesia yang tidak dihitung masuk dalam himpunan Indonesia semasa Orde Baru. Karakter utamanya Dimas Suryo, Risjaf, Nugroho Dewantoro, dan Tjai Sin Soe, juga Surti, Lintang dan Segara Alam, adalah orang-orang yang terus menerus berjuang untuk menjadi orang Indonesia di tengah penolakan rezim Suharto dan Orde Baru-nya. Fabula yang dikandung novel ini, meski ditampilkan dengan plot yang membentuk jejaring dengan melibatkan flashback dan kombinasi perspektif narator orang pertama dan orang ketiga, dapat tertangkap jelas. Kejadian-kejadian sebelum peristiwa 30 September 1965 dapat kita kenali dengan jelas sebagai bagian awal dari rentang kronologis cerita. Lalu kejadiankejadian setelah itu dapat kita urutkan dengan mudah: Dimas Suryo, Risjaf, Nugroho Dewantoro, dan Tjai Sin Soe tak bisa pulang, mereka ke Cina lalu ke Paris dan menetap di sana. Sementara di Indonesia, Surti, istri Hananto Prawiro, diinterograsi oleh tentara selama

suaminya jadi buronan politik. Lalu Hananto tertangkap, Dimas bertemu dengan Viviene Deveraux, menikah dan punya anak perempuan yang diberi nama Lintang. Selanjutnya empat serangkai eksil politik teman Hananto berjuang hidup di Paris sambil tetap berusaha menampilkan Indonesia dengan membuka Restoran Tanah Air. Begitu juga kejadian-kejadian yang dialami oleh Surti dan anak-anaknya, juga Bimo anak Nugroho dan Aji Suryo, adik Dimas, beserta keluarganya, dapat dikenali dengan jelas dalam novel ini. Secara kronologis, kejadiankejadian yang diceritakan dalam novel ini mudah untuk diurutkan. Pulang memiliki fabula yang jelas dan masuk akal. Dengan fabula yang jelas dan masuk akal saya dapat memberikan penafsiran lebih jauh terhadap novel ini dan mendapatkan pelajaran, seperti yang saya tulis dalam resensi di majalah Tempo: Dimas Suryo, Risjaf, Nugroho Dewantoro, dan Tjai Sin Soe adalah eksil politik Indonesia di Paris yang terus berjuang menjadi orang Indonesia di mana pun mereka berada. Mereka bertahan meski terbuang jauh di negeri orang, diburu dan dicabut paspor Indonesianya karena dekat dengan orang-orang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Di Paris mereka tetap mencintai Indonesia, bertahan hidup layak sambil memberi manfaat bagi Indonesia dengan mengelola Restoran Tanah Air, sebuah restoran Rue Vaugirard di pinggir Paris yang menyediakan makanan dan kegiatan yang mempromosikan Indonesia. Saya juga menambahkan di sana: Kisah tokoh-tokoh yang dimuat di dalamnya memberikan pemahaman kepada kita bahwa ke-Indonesia-an merupakan sebuah ikhtiar yang intensional. Dia tidak ditentukan oleh tempat kelahiran atau penerimaan pemerintah. KeIndonesia-an tak hilang ketika kita meninggalkan wilayah Indonesia. Sebenarnya cara Leila menampilkan fabula dalam novel Pulang tidak sederhana dan tidak linier. Ceritanya kompleks dan mengambil alur yang berliku-liku. Tetapi di situlah letak kekuatannya, dengan pola penceritaan yang kompleks pembaca tetap dapat memahami fabula secara jernih. Dalam Pulang, kisah tokoh-tokohnya yang kompleks disajikan menggunakan berbagai perspektif dan saling menjalin membangun sebuah plot berbentuk jejaring. Penggunaan bentuk plot itu merupakan salah satu kekuatan utama Pulang. Alur kisahnya mencegah cerita dari kemungkinan jadi basi dan membosankan. Plot semacam itu memungkinkan penulisnya mengambil banyak bentuk, mulai dari sekadar beralih antara

protagonis dengan alur cerita terpisah, pergantian antara perspektif orang pertama dan orang ketiga, hingga akhirnya menenun bersama-sama cerita keseluruhan. Ketika penjalinan plot itu dilakukan dengan tepat, itu dapat menghasilkan novel baik yang memikat, dan saya menilai itu yang terjadi dalam Pulang. Leila berhasil memanfaatkan plot jenis dalam Pulang dan menghindar dari bahaya fragmentasi dan keruwetan yang sangat mungkin menimpa cerita dengan plot yang berbentuk jejaring. Meski berpindah-pindah aktor dan rangkaian kejadian, pembaca dapat terhindar dari kesulitan mengingat kisah yang telah dibaca sebelumnya karena ada jejak-jejak ingatan yang dibagi bersama pada kisah setiap tokoh. Jejak-jejak itu disebar sedemikian rupa dalam rentang cerita sehingga memudahkan pembaca mempertahankan kenangan dari kisah yang dibacanya terdahulu, bahkan dapat memperkuat penghayatan pembaca sehingga semakin mudah menyelami cerita. Otak pembaca tetap digugah untuk terus mengikuti kisah beragam tokoh sambil tetap mempertahankan alur besar cerita. Keterampilan naratif Leila tampil optimal dalam bangunan cerita yang ditatanya. Berbagai gaya bahasa digunakan secara memadai menghasilkan citra-citra yang berkesan dalam benak saya. Flashback dimanfaatkan secara optimal dan menjadi salah satu kekuatan utama novel ini. Kisah masa lalu dan masa kini dibangun dan dijalin koheren. Gerakan bolak-balik di antara masa lalu dan masa kini memperkuat pemahaman rangkaian kejadian dan tindakan aktor dalam cerita. Saya juga mengemukakan kekuatan ini dalam resensi saya di majalah Tempo: Apa yang terjadi di masa lalu dimaknai di masa kini sekaligus juga apa yang ada di masa kini dimaknai oleh masa lalu. Masalalu dan masa kini ditata ulang dalam alur pemaknaan terhadap stimulus yang diterima tokoh dalam kesehariannya. Saya memaknai dinamika novel ini analog dengan dinamika ingatan, terutama ingatan episodik. Apa yang terjadi di masa kini bisa jadi stimulus bagi aktifnya ingatan tentang yang terjadi di masa lalu. Apa yang diingat dari masa lalu menjadi stimulus bagi konstruksi pikiran di masa kini dan antisipasi masa depan. Kelebihan lain yang potensial dikandung plot yang saling menjalin membentuk jejaring adalah daya tarik yang kuat bagi pembaca untuk menyelesaikan cerita dan terhindar dari kebosanan. Potensi ini diaktualisasi oleh Leila. Cerita yang dijalin menampilkan peristiwa yang tertata secara dinamis dan menggerakan pembaca untuk berpindah dengan mulus dari satu

karakter ke karakter lainnya, dari satu periode waktu ke periode lainnya, dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu penghayatan ke penghayatan lain. Pulang menyajikan variasi tema yang kaya, rincian yang menggugah visual, dan karakter-karakter yang berbeda tetapi membentuk komposisi cerita yang padu. Kekuatan lain dari Pulang adalah penataan adegan dengan kesan visual yang kuat. Membaca Pulang seperti menonton film: kita mendapatkan citra-citra yang jelas dalam benak. Bahkan lebih dari sekadar menonton, membaca Pulang juga membuat pikiran kita digugah terus oleh rangsangan verbal dari rangkaian kata yang dipancarkannya. Saya kutipkan contoh bagian-bagian yang punya kesan visual yang kuat dan gaya bahasa yang menggerakkan cerita. Malam sudah turun, tanpa gerutu dan tanpa siasat. Seperti jala hitam yang mengepung kota; seperti segalon tinta yang ditumpahkan seekor cumi raksasa ke seluruh permukaan Jakarta. Seperti juga warna masa depan yang tak bisa kuraba. (Halaman 1) Tapi angin bulan Mei kembali mengoyak-ngoyak rambutnya. Cahaya matahari musim semi memang mencoba bertanding dengan sisa angin Paris. Dengan jengkel dia menepis rambutnya itu, tidak dengan gerakan lentik seorang penari; tidak pula dengan gaya seorang perempuan kenes yang bergeliat untuk mencoba menarik perhatian lelaki. Ini gerakan perempuan yang tak sabar dengan gangguan kecil. Tubuhnya teguh dan matanya tak mudah luluh. (Hamalan 9-10) Warna kuning pada pipinya masih bersisa. Aku menciumnya. Kuambil dagunya dan kubenamkan bibirku selama-lamanya. Sukar untuk menahan ketegangan tubuh ini. Bibir Surti begitu empuk dan manis seperti es krim Baltik. Sulit pula untuk berhenti menanamkan lidahku ke segala lekuk tubuhnya. Ke lekuk dadanya. Ke putingnya yang tegang. Ketika Surti mengeluarkan suara nafas tertahan, aku tak ingin dan tak bisa berhenti. Jika Risyaf menuntut pindang serani pelipur lara itu, aku akan mengatakan ada guncangan gempa bumi yang merontokkan d apur kami. (Halaman 61) Dari jendela Metro, aku melihat Paris di musim semi yang murung. Hitam dan kelabu berkelebatan seperti bayang-bayang. Ke mana warna ungu membiru, kuning kunyit, dan merah kesumba itu? (Halaman 133) Monsieur Wilde, pentingkah kita mencari akar jika sudah menjadi sebatang pohon yang kokoh? Oscar Wilde dan tulang-tulangnya tak menjawab. Makam Wilde megah dan

penuh lekuk persis sosok yang selalu digambarkan dalam biografinya: flamboyan dan kenes. Nisannya yang cantik itu sama sekali tak berupaya menjawab pertanyaanku. (Halaman 155) Dan hanya dalam beberapa detik, semua bangunan itu menjelma menjadi barisan makam kecil, berderet, berbaris. Lintang memicingkan matanya. Tepat di tengah deretan makam itu, Lintang melihat sebuah gundukan tanah segar yang belum dibungkus semen, dengan papan dan nama sederhana: Dimas Suryo, 1930-1998. (Halaman 284) Ini adalah sejarah. Mereka meniupkan kisah yang membuat masa kecilku berantakan, kumuh, dan berisik. (Halaman 288) Ketika aroma kopi toraja sudah menabrak pagi, Aji Suryo memutuskan untuk mengisi akhir pekan itu dengan kesunyian yang menenangkan. (Halaman 329) Sebuah naratif adalah gambar bergerak yang terpapar ke pemirsa. Meski rangsangan yang diberikan bukan medium visual, gerakan benda-benda terpapar pada pemirsanya. Untuk itu, diperlukan tekstur rincian yang kaya sehingga pemirsa dapat melihat, mendengar, mencium dan menyentuh. Begitu pula dalam sebuah novel. Pembaca harus mengalami cerita, bukan hanya membaca huruf atau mendengar ketika itu dibacakan. Malam yang turun, matahari yang bertanding dengan sisa angin, lidah yang ditanam di lekuk tubuh, hitam dan kelabu yang berkelebatan, nisan yang tak berupaya menjawab, sejarah yang meniup kisah, dan aroma kopi yang menabrak pagi merupakan unsur deskripsi yang menghidupkan. Dalam Pulang kita temukan banyak unsur-unsur semacam ini menggerakkan cerita, menjadikannya sebagai himpunan gambar yang bergerak. Membacanya saya ikut bergerak bersama para aktor dan benda-benda yang dipaparkan, ikut mengalami kejadian-kejadian dalam cerita.

3 Kita temukan tiga bagian utama novel Pulang. Bagian pertama diberi judul Dimas Suryo, bagian dua Lintang Utara, dan bagian tiga Segara Alam. Di luar tiga bagian itu ada juga Prolog dan Epilog yang tergolong pendek dibandingkan dengan tiga bagian besar tersebut. Dari

penggunaan nama tiga aktor dalam cerita yang menjadi judul bagian besarnya, kita bisa menduga, tiga aktor itu menjadi tokoh utama dalam Pulang. Tokoh utama pertama adalah Dimas Suryo. Sejak awal ia paling banyak mendapat sorotan dalam novel ini. Dilema eksistensial yang dihadapi diurai secara rinci. Meski tak tegas dituliskan, dari tuturan-tuturannya kita dapat kenali adanya konflik identitas pada diri Dimas. Ia mendefinisikan dirinya sebagai orang Indonesia yang ingin kembali ke Indonesia dan mati di Indonesia tetapi ia tak dapat menginjak tanah airnya. Setiap tahun dia mengajukan permohonan visa untuk bisa masuk ke Indonesia, tetapi gagal dan gagal terus. Kerinduan pada Indonesia, kenangan cinta dengan Surti, pernikahannya dengan Viviene yang rentan putus dan akhirnya cerai, serta kecemasan tak bisa pulang dan dikubur di Indonesia membelitnya. Di sisi lain, ia juga harus bertahan hidup layak dan merawat Lintang, anak perempuannya yang jadi penyemangat hidup. Tetapi keinginan akhirnya adalah dikuburkan di tanah airnya, seperti yang sering ia ujarkan: di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin. Petikan dari puisi Yang Terampas dan Yang Putus Chairil Anwar ini menjadi indeks dari kisah Dimas Suryo dalam novel Pulang. Saya mengingat baris-baris selanjutnya: aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu; tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang Dengan baris-baris ini, saya menafsirkan apa yang didamba Dimas. Keinginannya bukan semata dikubur di Karet, melainkan juga mempertahankan dirinya sebagai orang Indonesia dan memiliki wewenang untuk mewariskan Indonesia. Karakter Dimas cukup menonjol, bahkan menyedot karakter-karakter lainnya. Saya sempat mendapat kesan bahwa cerita dalam novel ini dibangun untuk dapat menampilkan tokoh Dimas dan mewujudkan dambaan-dambaannya. Dimas Suryo, dalam pembacaan saya, adalah aktor yang paling mengesankan, mudah diingat dan paling dramatis. Dalam sekali pembacaan, Dimas tampaknya menjadi karakter sentral. Perkembangan dan resolusi konflik cerita berputar mengelilingi tokoh ini. Ia juga tokoh yang paling kompleks. Dari perspektif Dimas kita tahu banyak karakter lainnya dalam Pulang. Surti, Risjaf, Nugroho Dewantoro, Tjai Sin Soe, Aji Suryo dan Viviene diperkenalkan pertama kali oleh Dimas. Kisah Lintang, anak Dimas yang lahir di Paris, kemudian ke Jakarta bertemu dengan Alam dan Bimo, sepertinya juga

merupakan perpanjangan dari kisah Dimas. Meski Hananto Prawiro adalah tokoh yang pertama kali diperkenalkan dalam Pulang dan sering disebut di sepanjang cerita, ia bukan karakter sentral. Kisah Hananto lebih semacam bagian latar belakang bagi tindakan-tindakan Dimas selanjutnya. Tetapi, setelah membaca lebih rinci lagi, mencermati kaitan para aktor dengan konteks dan kejadian, terutama peristiwa 30 September 1965 dan Mei 1998 di Indonesia, ada indikasi aktor-aktor lain dalam Pulang juga merupakan karakter sentral. Setidaknya Lintang dan Alam juga dapat digolongkan sebagai karakter sentral, dan kalau kita mau membaca dengan perspektif lain, bisa jadi kita temukan aktor lain yang menjadi karakter sentral. Dengan plot yang membentuk jejaring, Pulang membuat pembaca bisa menilai penting semua karakter dan mempersepsi mereka masing-masing sebagai karakter sentral. Relasi antarkarakter menjadi sangat penting dalam memahami novel ini. Setiap karakter punya kaitan erat dengan karakter lain. Tindakan satu aktor menyebabkan tindakan aktor lain. Pengalaman satu aktor berhubungan dengan pengalaman aktor lain. Dimas yang berteman dengan Hananto dan Nugroho ikut menjadi orang buronan pemerintah Orde Baru. Surti, istri sahabat Dimas Suryo, Hananto Prawiro yang sempat menghilang lalu dihukum mati, ikut terpinggirkan karena suaminya aktivis yang terlibat banyak kegiatan di Lekra. Sebelum menikah dengan Hananto, Surti adalah kekasih Dimas dan cinta mereka seperti tak pernah hilang. Lintang, anak perempuan Dimas Suryo dari perkawinannya dengan Vivienne Devereaux, perempuan Prancis yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya, merasa terpanggil untuk mengenal Indonesia karena terusik oleh keinginan ayahnya kembali ke Indonesia. Aji Suryo, adik Dimas, menjalin hubungan baik dengan Surti dan anak-anaknya sebagai bentuk simpati, juga sebagai perpanjangan tangan Dimas yang terus peduli pada Surti. Anak laki-laki Aji, Rama, mendapat beban sosial dan kesulitan dalam menerima dirinya ikut terpinggirkan karena sepak terjang kakak Ayahnya. Alam, anak Surti dan Hananto Prawiro, mempertahankan dirinya sebagai orang Indonesia dengan melakukan advokasi, bersama Bimo anak Nugroho Dewantoro, bagi orangorang Indonesia yang terpinggirkan. Alam dan Bimo berteman karena ayah mereka berteman dan mereka sama-sama korban. Alam dan Lintang juga adalah sepasang kekasih. Hubungan antara para tokoh yang kompleks itu dipaparkan dalam Pulang membentuk jejaring kompleks.

Penggunaan perspektif orang-pertama dan orang ketiga sekaligus dalam Pulang memperkaya penghayatan dan pemahaman terhadap kejadian. Perspektif orang-pertama membuat pembaca sadar bahwa cerita dituturkan dari sudut pandang tertentu sehingga perhatiannya beralih fokus dari plot ke narator dan hubungannya dengan cerita. Motif, harapan, dambaan, kecemasan, dan kepercayaan aktor sebagai narator menjadi transparan. Perpektif orang-pertama memungkinkan dunia batin aktor tampil dan dikenali pembaca. Kita kenal apa yang dibatinkan Dimas atau Lintang atau Alam dari cerita yang dituturkan dengan perspektif orang-pertama. Perspektif orang-ketiga umumnya digunakan agar pengembangan cerita lebih leluasa sehingga cerita dapat menjadi lebih kaya dan kompleks. Dengan perspektif ini, narator dapat memilih membuat deskripsi obyektif atau personal. Dalam Pulang, perspektif orang-ketiga lebih banyak digunakan untuk menghasilkan deskripsi personal tetapi terbatas pada satu atau dua yang menjadi karakter utama. Sebagai contoh, dalam bagian awal bab Surat-surat Berdarah (halaman 225-241) yang menggunakan perspektif orang-ketiga, hanya karakter Lintang dan Dimas yang pikiran dan perasaannya diketahui oleh narator. Begitu dalam bab Flneur (halaman 253-284), tetapi dalam penilaian saya di situ narator tampaknya lebih memahami pikiran dan perasaan dengan Lintang daripada Dimas. Dalam pembacaan saya lebih jauh, saya menemukan indikasi yang membawa pada dugaan bahwa penggunaan perspektif orang-ketiga dalam Pulang dimanfaatkan untuk mengalihkan perhatian pembaca dari fokus karakter tertentu ke karakter lain, juga untuk mengalihkan fokus dari rangkaian peristiwa tertentu ke rangkaian peristiwa lain sekaligus mengupayakan keterhubungan logis dan kronologis dari rangkaian peristiwa yang berbeda itu. Dengan strategi ini Pulang memadukan bagian-bagian cerita, menyajikan paparan yang merajut berbagai kisah dari para aktornya. Ini bisa dipahami sebagai sebuah kesimpulan atau resolusi dari persoalan-persoalan yang muncul terdahulu, tentu tetap disampaikan dengan naratif yang membuka kemungkinan pembaca mengalami dan memaknai cerita. Bukan kebetulan, saya kira, penggunaan perspektif orang-ketiga lebih banyak muncul di bagian akhir novel ini. Dalam Pulang, narator berganti-ganti, hampir semuanya terlibat dalam cerita dengan menggunakan perspektif orang pertama. Saat satu aktor menjadi narator, aktor lain menjadi

orang ketiga yang diceritakan. Para aktor yang menjadi narator dalam cerita sedikit-banyak saling mengenal satu sama lain sehingga mereka masing-masing dapat memperkenalkan aktor lain kepada pembaca. Saya pikir ini juga satu strategi yang menguatkan Pulang sebagai novel karena dengan begitu para aktornya menjadi lebih dikenal oleh pembaca dan bisa saling terhubung secara meyakinkan. Logika kejadian juga terbangun melalui tuturan para narator yang saling menguatkan dan memberi alasan bagi tindakan aktor dan berlangsungnya kejadian dalam fabula novel ini. Berganti-gantinya narator bisa jadi dimaksudkan untuk memberikan deskripsi komprehensif mengenai kejadian dan aktor yang diceritakan. Saya menangkap kesan persuasif dari penggunaan banyak narator, penulis seperti hendak meyakinkan sekaligus memberi penguatan pada ingatan pembaca mengenai rangkaian peristiwa dan tindakan yang dipaparkan dalam novel ini. Meski ada beberapa pengulangan yang kadang mengganggu, saya menilai strategi persuasif itu berhasil. Seperti yang sudah saya singgung, strategi itu berhasil memberi gambaran komprehensif mengenai fabula dan memperkuat kesan dalam benak pembaca. Sempat terpikir dalam benak saya, Leila menggunakan beragam narator untuk dapat mencakup semua perspektif seperti ketika membuat reportase untuk berita. Apakah itu karena kebiasaannya sebagai wartawan untuk selalu cover both-side? Lepas dari kebiasaanya itu, penggunaan beragam narator sangat berguna untuk menjadikan Pulang lebih hidup, lebih menggugah dan menarik untuk dibaca. Saya bayangkan pembaca seperti diajak melihat rangkaian kejadian dari berbagai sisi. Penataan berbagai kejadian dalam alur novel ini menampilkan efek multi-dimensi. Pembaca bisa mengenali mereka seperti mengenali benda yang memiliki dimensi panjang, lebar, tinggi, bau, tektur, bunyi, dan sebagainya.

4 Dari naratologi saya mendapat pelajaran tentang apa yang membuat fabula masuk akal dan cerita tentangnya menjadi bermakna. Kejadian, aktor, waktu dan lokasi bersama-sama membentuk material fabula. Unsur-unsur fabula ditata dengan cara tertentu dalam sebuah cerita. Penataan mereka dalam hubungan satu dan lainnya sedemikian rupa dapat

menghasilkan efek yang diinginkan, menjadi meyakinkan, menggerakkan, menjijikkan, atau estetik. Berbagai proses terlibat dalam mengatur beragam unsur menjadi cerita. Bagaimana unsur-unsur naratif itu diorganisasi dalam cerita Pulang? Jelas dapat dikenali oleh pembaca, kejadian yang ditata dalam alur cerita Pulang berbeda dengan alur kronologis. Plot berbentuk jejaring, penggunaan flashback, pemanfaatan perspektif orang-pertama dan orang-ketiga, penampilan berbagai suara, pengungkapan rincian benda-benda dan suasana, serta penguatan kisah oleh banyak narator menghasilkan alur cerita yang tidak kronologis, meski kita tetap dapat memahami dan merekonstruksi alur kronologisnya. Paduan unsur fabula menghasilkan sebuah kesatuan cerita yang tidak mengabaikan keaneka-ragaman kejadian yang ditatanya. Rincian kecil yang memberi perbedaan kesan pada keseluruhan secara berarti banyak ditebar dalam Pulang sehingga menghasilkan cerita yang berwarna, kaya bunyi dan gerak, bahkan berbagai bau semerbak yang menggugah. Dalam resensi di majalah Tempo, saya menuliskan: Mulai dari penangkapan Hananto di Jl. Sabang hingga pemakaman Dimas Suryo di Karet, adegan-adegannya ditampilkan dengan komposisi polyphony. Secara keseluruhan novel ini juga membentuk polyphony; ada banyak, tema, peristiwa, benda-benda, lintasan pikiran, dan lain-lain yang independen antara satu dan lainnya tetapi membentuk satu komposisi yang padu. Meski bagian-bagian mengisahkan peristiwa yang terjadi pada waktu yang berbeda dan ada banyak suara yang dimunculkan, tetapi jalinannya membentuk keseluruhan yang utuh. Ini mengingatkan saya pada musik barouqe. Sambil membaca, saya seperti mendengarkan nyanyian melatari kisah dalam novel itu. Tetapi, perlu saya beri tambahan penjelasan mengenai keragaman suara dalam Pulang. Penekanan polyphony dalam Pulang lebih menonjol pada diri setiap aktornya, ketimbang pada perbedaan antar-aktor. Pulang menampilkan keragaman suara pada setiap tokohnya. Pikiran dan tindakan para aktornya mengindikasikan kepada pembaca adanya beragam suara dalam diri mereka masing-masing. Jika kita melihat menggunakan lensa lebar untuk menangkap para tokoh Pulang dan interaksi mereka, maka kita temukan suara korban mendominasi. Sedangkan suara yang lain hanya sayup-sayup terdengar. Secara keseluruhan novel ini melantangkan suara para korban dan keluarganya. Tetapi, jika kita melihat lebih rinci kepada setiap aktornya, kita temukan pada mereka masing-masing beragam suara yang jalin menjalin, tabrak-menabrak,

bantah-membantah, saling menyiasati, dan seakan masing-masing berasal dari diri yang berbeda. Sadar atau tak sadar, penulis novel ini memilih untuk lebih memperinci keragaman suara dalam setiap diri aktornya ketimbang perbedaan antar aktor. Perspektif aktor yang bersebrangan dengan para korban tidak dirinci dan dibuat sayup-sayup. Barangkali karena di Indonesia kita bisa lebih mudah menemukan banyak cerita dari perspektif pihak-pihak yang bersebrangan dengan para korban. Orde Baru selama lebih dari 30 tahun menceritakan suara yang berbeda dengan suara para korban itu. Dalam Pulang, indikasi keberpihakan Leila kepada para korban tampak jelas. Sebuah pilihan subyektif tentunya dan ia mempertanggungjawabkan pilihannya dengan menghasilkan cerita berwarna dan hidup. Meski ada kemungkinan novel ini akan lebih berwarna, kaya bunyi dan gerak jika suara yang bersebrangan dengan korban diperbanyak dan dilantangkan, ada juga kemungkinan sebaliknya karena memaksakan lebih banyak suara masuk sehingga tak terkendalikan. Memperbanyak dan memperlantang suara lain berarti juga memberi tambahan perhatian kepada aktor lain. Dan ini butuh tenaga dan pikiran ekstra: Apa fungsi aktor lain itu dalam cerita? Apakah struktur cerita perlu berubah atau tidak? Saya tidak mau berandai-andai Leila mengubah novel ini. Saat ini, saya terima Pulang sebagaimana adanya. Barangkali di novel selanjutnya, suara-suara lain yang berbeda dari para protagonis bisa dipertimbangkan. Dalam Pulang, Leila tampak lebih fokus pada rincian kecil dalam sebuah kejadian atau seorang aktor. Di dalam Pulang tidak dipaparkan pertentangan ideologi yang tegas, juga tak ada suara yang bertentangan secara frontal dari dua atau lebih kubu yang bersebrangan. Kita lebih banyak menemukan perbedaan-perbedaan kecil yang justru membentuk keseluruhan, konflikkonflik batin kecil yang membangun kesadaran pribadi, dan beberapa konfrontasi kecil yang membangun kesadaran kelompok. Organisasi unsur-unsur fabula dalam cerita Pulang dilakukan juga dengan penataan waktu dalam cerita yang mempertimbangkan jumlah waktu yang dipakai unsur-unsur dalam fabula. Krisis, konflik, masalah dan kemalangan dipaparkan dalam waktu singkat. Sedangkan proses perkembangan, pengelolaan, perubahan kesadaran diri, refleksi diri dan pembinaan hubungan mendapat porsi waktu yang lebih panjang. Sebagai contoh, terbuangnya Dimas dan

kawan-kawan dari Indonesia dan penangkapan Hananto diceritakan dalam waktu singkat, sedangkan proses mereka dapat menemukan solusi bagi masalah sebagai eksil politik diceritakan lebih panjang. Leila dengan piawai menata dan memainkan waktu sehingga menghasilkan dinamika cerita yang menarik pembaca mengikutinya. Ritme cerita menggugah pembaca untuk mengikuti irama cerita, bergerak mengikuti ketukan dan pola yang dibangun dari tekanan-tekanan pada kejadian yang diceritakan. Perubahan pola ketukan irama penceritaan, perubahan tekanan, pengaturan panjang-pendeknya waktu kejadian, dan kuatlemahnya penegasan kejadian memberikan bentuk cerita yang dapat melarutkan pembaca dalam
gerakan cerita.

Deskripsi lokasi tempat kejadian berlangsung juga memberi karakteristik khas kepada Pulang. Pilihan rincian lokasi yang dipaparkan selaras dengan kejadian dan tindakan aktor. Lokasi tempat kejadian berinteraksi dengan pikiran dan tindakan tokoh sehingga menjadi bagian kejadian dan sekaligus menghubungkan aktor satu dengan aktor lainnya. Ini dua contohnya: Aku menyalakan lampu merah untuk mengecek beberapa film yang tengah digantung. Mungkin ini sudah jam enam, karena aku bisa mendengar sayup suara adzan Magrib yang menyelip melalui kisi pintu. Aku membayangkan suasana sepanjang jalan Sabang, suara bemo yang cerewet, opelet yang bergerak dengan malas, derit becak dan kelenengan sepeda yang simpang siur menyeberang serta penjual roti yang menyerukan dagangannya. Aku bahkan bisa membayangkan betapa angin meniupkan aroma sate kambing yang sedang dibakar pak Heri di pojok jalan Sabang dan Asem Lama. Aku bisa membayangkan dia tengah mengulek kacang tanah dan mencampurkannya dengan kecap manis dan irisan bawang merah. Dan aku masih ingat betapa sahabatku, Dimas Suryo akan mempelajari dan membahas bumbu kacang tanah pak Heri sama intensnya seperti dia membicarakan bait-bait puisi Rivai Apin. (Halaman 1-2) VIVIENNE Devereaux dan aku, dengan cepat menjadi dua titik yang melekat menjadi satu garis yang merayap, menyusuri pori-pori tubuh Paris. Hanya beberapa pekan setelah pertemuan pertama kami yang sekejap malam itu, alam mempertemukan kami kembali di di Rue de Seine. Aku tengah menatap deretan poster penuh warna dan format yang menyelimuti Rive Gauche. Aku kembali terlempar pada semangat kawankawan pelukis di Indonesia yang gemar menggunakan warna-warni yang mencolok: kuning kunyit, merah kesumba atau ungu kebiruan dengan corak yang beragam. Tetapi ada juga pelukis-pelukis yang bertahan dengan lukisan teknik cukil kayu yang segera saja

mengingatkan aku pada beberapa karya seniman Eropa Timur. Poster-poster ini terasa galak dan membentak, meski aku harus menerjemahkan artinya untuk beberapa saat. Toute la Presse est Toxique; La Lutte Continue.... (Halaman 12-13) Dalam Pulang, lokasi juga dimanfaatkan untuk membangun karakter dan hubungan antara karakter. Kita mendapatkan pemahaman mengenai karakter Dimas dan Vivienne dari deskripsi lokasi berikut. Aku tak tahu apakah Paris menjadi sebuah perayaan yang senantiasa bergerak seperti yang diutarakan Hemingway. Untuk kami, pertama-tama, Paris adalah Terre DAsile. Selebihnya, sungai Seine, toko Shakespeare & Co atau bahkan bangku panjang di Il St Louise tempat pertamakali kami berciuman begitu panjang, adalah suatu pengalaman yang datang secara tak terduga. Jika Paris sebagai Terre dAsile adalah sebuah kebutuhan, maka hal-hal yang kemudian terseret bersama tubuh dan jiwa Paris lantas menjadi bagian dari tubuh kami. Aku sudah sering menyusuri sebelah kanan sungai Seine, yang dianggap orang sebagai sisi yang populer dan disukai turis. Kami berempat mas Nug, Tjai, Risyaf dan aku-pernah saling berjanji ingin menikmati seluruh Prancis sebelum kami bisa pulang ke tanah air (entah kapan). Tetapi Vivienne malah memperlihatkan bagian menarik di sebelah kiri sungai Seine yang terdiri dari deretan warung buku bekas. Vivienne bahkan memperkenalkan aku pada Monsieur Antoine Durand seorang pensiunan polisi yang mencintai sastra sedemikian dalamnya, hingga dia duduk di warungnya membacakan beberapa penggal novel Alain Robbe-Grillet dan , Marguerite Duras atau puisi karya Ren Char. Pertunjukan kecilkecilan itu berhasil menarik pengunjung untuk membeli buku-buku bekas yang dijualnya dengan harga yang cukup murah. (Halaman 18) Saya menilai Pulang menampilkan hubungan antara para aktor, kejadian, lokasi dan waktu secara konstruktif dalam cerita, baik secara fisikal, simbolik, maupun alusif. Paparan setiap unsur fabula dalam cerita terkait dengan unsur lainnya secara padu dan saling menjalin. Satu gangguan yang temukan setelah membaca kembali Pulang untuk menganalisis komponen naratifnya adalah kurang tegasnya perbedaan sifat-sifat para aktor sehingga beberapa aktor tampak punya karakter yang sama. Karakter Dimas dan Hananto cukup berbeda, tetapi aktor-aktor lainnya belum menampilkan keunikan karakternya masing-masing secara tegas. Barangkali profesi Leila sebagai wartawan mempengaruhi kecenderungannya

membangun naratif yang lebih memberi penekanan pada peristiwa, alur, pengelolaan waktu, dan lokasi ketimbang pada perbedaan sifat-sifat individual aktor yang membentuk karakter. Tetapi gangguan itu kecil saja. Novel ini tetap menghasilkan cerita unik meski karakterkarakternya tidak sangat berbeda antara satu dan lainnya. Dari berbagai aspek kita dapat membedakan cerita novel ini dari cerita lainnya yang memiliki fabula sama. 5 Jika penelusuran saya perlu disimpulkan, maka kesimpulannya adalah novel Pulang memiliki kekuatan naratif yang terletak pada (1) penataan kejadian dalam alur waktu yang membentuk jejaring, (2) penataan waktu yang piawai sehingga menghasilkan dinamika cerita yang menggerakkan, (3) deskripsi lokasi tempat kejadian berlangsung juga menghasilkan karakteristik khas, dan (4) penataan adegan dengan kesan visual yang kuat. Empat kekuatan ini berperan besar menghasikan daya pikat dan daya gugahnya. Sebagai teks naratif, Pulang membantu kita memberi makna kepada apa yang dialami para korban peristiwa 30 September 1965 dan keluarganya. Lebih jauh lagi bahkan Pulang dapat membantu kita memaknai kembali apa itu menjadi orang Indonesia. Dari kajian psikologi naratif saya mendapat pemahaman bahwa naratif adalah cara utama manusia membuat hidup masuk akal, membuat hidup bermakna. Pulang menjalankan fungsi naratif itu.