Anda di halaman 1dari 14

1

MAKALAH

Subyektivitas dalam Naturalisme Biologis Searle


OLEH: BAGUS TAKWIN

Seorang lelaki Inggris bernama Sydney Carton mengorbankan dirinya untuk dieksekusi dengan guillotine menggantikan lelaki lain, Charles Darnay, yang mirip dengannya. Darnay adalah suami Lucie Manette, perempuan yang dicintai Carton tetapi memilih Darnay untuk jadi pasangan hidupnya. Meski ditolak, Carton tetap bertahan mencintai Lucie dan berjanji akan melakukan apapun untuk Lucie, mengorbankan nyawanya, sekalipun.
Di pagi sehari sebelum rencana eksekusi Darnay dilaksanakan, Carton mengunjungi Darnay di penjara. Carton membius Darnay. Dengan bantuan John Barsad, nama samaran Solomon Pross, Darnay dibawa keluar dari penjara. Carton yang mengetahui penyamaran Barsad dan mengancamnya akan membuka kedok Barsad, membeberkan identitasnya sebagai Briton dan mata-mata oportunis untuk Inggris dan Perancis, jika ia tak mau membantu. Karena takut dihukum mati jika identitas aslinya terbongkar, Barsad mau membantu Carton. Carton menggantikan Darnay di penjara dan memutuskan berpura-pura menjadi Darnay, siap untuk diesksekusi. Ia melakukan itu demi cintanya pada Lucie, sekaligus memenuhi janjinya untuk mengorbankan apapun demi Lucie. Mengikuti instruksi Carton terdahulu, keluarga Darnay kabur dari Perancis. Sesuai rencana Carton, tanpa sadar, Darnay menggunakan suratsurat identitas Carton. Dengan surat-surat itu mereka berhasil keluar dari Perancis dengan selamat. Sydney Carton akhirnya dihukum mati. Kematian yang dipilihnya. Sejak bertemu Lucie, makna hidupnya adalah untuk Lucie, dan akhirnya makna itu menjelma kenyataan. Baginya, kematian yang dihadapinya bermakna karena
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

2
dua alasan. Pertama, itu mengakhiri hidup yang menyakitkan tanpa Lucie. Kedua, kematiannya bermakna karena menyelamatkan apa yang berharga bagi Lucie, Darnay, suaminya. Menyelamatkan Darnay membahagiakan Lucie. Dan mencintai Lucie berarti membahagiakannya, apapun harganya. Carton memandang apa yang ia lakukan untuk Lucie sebagai hal yang baik. Dalam katakatanya:
It is a far, far better thing that I do, than I have ever done; it is a far, far better rest that I go to, than I have ever known.

Kisah Carton dituturkan Charles Dickens dalam novel A Tale of Two Cities (1859). Dickens menggambarkan putusan subyektif manusia lewat karakter Carton. Manusia bisa memilih untuk berkomitmen pada satu hal dan mampu menjaga komitmennya, memenuhi janji seberat apapun. Dalam paparan Dickens, manusia digambarkan sebagai makhluk yang memberi makna bagi dunianya. Pemaknaan itu subyektif, sesuatu yang khas dan tak terumuskan oleh aturan tentang obyekobyek. Hidup Carton, juga kematiannya, adalah hasil putusan subyektifnya yang unik. Ketika orang-orang lain sibuk menyelamatkan diri, bahkan berpura-pura agar terbebas dari guillotine, Carton justru menyediakan dirinya untuk dieksekusi. Pilihan itu subyektif, bahkan jika kita katakan itu digerakkan oleh cintanya pada Lucie. Pilihan mencintai Lucie juga subyektif. Tak ada alasan obyektif yang bisa menjelaskan mengapa Carton mencintai Lucie. Pilihan subyektif Carton seperti membuatnya lahir kembali, bangkit dari hidup yang kusam dan depresi. Carton yang sebelumnya menjalani hidup dengan mabuk-mabukan, tak punya rencana, dan tanpa arah, seperti tiba-tiba meloncat penuh semangat, bersungguh-sungguh menjalankan putusannya untuk menyelamatkan Darnay, untuk membahagiakan Lucie. Carton menjelma menjadi subyek, mengikuti panggilan hidupnya. Ia menjadi martir untuk sebuah keluarga, untuk kehidupan yang lebih luas. Beberapa hari sebelum kematiannya, ia tampak menemukan panggilan hidupnya, menemukan dirinya yang baru, I am the resurrection and the life. Carton memilih kematian dan kelahiran kembali kepada sebuah kehidupan yang lebih baik dari yang pernah dikenalnya. Orangorang yang melihatnya dihukum mati mengatakan, it was the peacefullest mans face ever beheld there ... he looked sublime and prophetic. Dalam pencermatan saya, subyektivitas yang dipaparkan Dickens melalui karakter Carton bukan hanya ada dalam ksi yang dikarangnya. Fenomena itu tampil juga dalam dunia nyata. Dalam keseharian kita, juga dalam catatan sejarah, bisa kita temukan orang-orang yang menampilkan putusan dan tindakan subyektif, seperti Gandhi, Einstein, dan Mandela, meskipun persoalan yang mereka hadapi berbeda-beda dengan tujuan berbeda pula. Kesamaan di antara mereka adalah putusan-putusan subyektif mereka masing-masing punya efek nyata terhadap dunia nyata, meskipun secara kuantitatif derajat pengaruhnya bisa berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Tetapi tentu ada juga yang menyangsikan dan mempertanyakan: Apakah yang ditampilkan Carton, atau orang-orang seperti Carton dalam dunia nyata, apakah itu sungguh-sungguh digerakkan oleh daya dan putusan subyektif? Apakah bukan karena keadaan menderita, bisa karena sik yang rusak oleh alkohol dan saraf yang tegang, ia menjadi nekad? Atau karena frustrasi dan depresi akibat keinginannya hidup bersama Lucie tak tercapai, menyebabkan ia tergerak
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

3
untuk melakukan tindakan-tindakan tersebut; memilih mati karena tak tahan oleh pukulan-pukulan hidup? Bisa saja subjektivitasnya hanya efek samping dari kondisi siknya yang memburuk? Atau karena tekanan sosial yang tak tertahankan atau tak memberi pilihan lain kepadanya? Tetapi, jika tindakan-tindakan Carton bukan hasil putusan subyektifnya, melainkan efek dari hal-hal lain di luar kendalinya, mengapa tindakan-tindakan itu khas? Mengapa orang lain yang mengalami tekanan-tekanan hidup sepertinya tidak menampilkan tindakan-tindakan yang sama? Jika itu adalah tekanan sosial, mengapa ia justru bertindak secara berbeda dengan kebanyakan orang? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan menjelaskan kemungkinan mana yang paling memadai menjelaskan tindakan-tindakan Carton, kita memerlukan penjelasan tentang subyektivitas. Istilah subyektivitas secara umum merujuk kepada penafsiran khusus yang unik pada setiap orang terhadap aspek apapun dari pengalaman. Perincian tentang fenomena ini akan dibahas di bagian tersendiri dalam tulisan ini. Untuk mempersempit pembahasan, saya memilih mengajukan hipotesis bahwa apa yang ditampilkan Carton merupakan tindakan-tindakan yang didasari putusan subyektif, digerakkan oleh subyektivitas. Subyektivitas ada pada manusia, bagian alamiah manusia meskipun tak setiap orang menampilkannya secara optimal. Subjektivitas, secara sadar atau tak sadar, selalu bekerja dalam setiap pengalaman manusia di dunia, meskipun tak selalu tampak jelas dari luar. Untuk membangun argumen yang mendukung hipotesis yang saya ajukan, saya akan menggunakan pemikiran dari John Rogers Searle yang menegaskan bahwa fenomena mental, seperti kesadaran dan subyektivitas, adalah fenomena nyata di dunia nyata.

Mempersoalkan Subyektivitas
Kita bisa baca beberapa lsuf mempersoalkan dan menjelaskan subyektivitas. Sebagian menempatkan subyektivitas sebagai aspek terpenting dari manusia seperti S.K. Kierkegaard, J.P. Sartre, dan J.R. Searle. Kierkegard bahkan menegaskan bahwa kebenaran adalah subyektivitas; hasil lompatan iman yang didasari oleh putusan subyektif. Sartre menegaskan, satu-satunya yang obyektif pada manusia adalah subyektivitasnya. Sebagian lain membantah keberadaan subyektivitas, di antaranya pelopor behaviorisme B.F. Skinner dan lsuf kognitivistik Daniel C. Dennet. Skinner memandang manusia sebagai hasil pengkondisian stimulus-respons, kumpulan reeks yang dibiasakan tampil agar sesuai dengan lingkungan. Manusia tidak memiliki kesadaran, subyektivitas, tidak juga kreativitas. Dennet menyimpulkan subyektivitas tidak ada karena bukan obyek sains dan tak dapat dikenali dan dijelaskan oleh sains. Menurutnya, jika sains adalah bagaimana kita mengenal kenyataan, dan tur subyek dari pikiran tidak muncul untuk sains, maka menurutnya kita harus menyimpulkan bahwa tur subyektif dari pikiran tak ada. Pandangan menarik yang tak umum tentang subyektivitas dikemukakan Searle yang menempatkan subyektivitas, kesadaran dan fenomena mental lainnya sebagai fenomena alamiah, tepatnya sebagai bawaan biologis manusia. Filsuf kelahiran Denver pada 31 Juli 1932 ini mendapat banyak penghargaan dan pemikirannya dibicarakan secara khusus di banyak konferensi lsafat internasional. Eksperimen pikirannya tentang Chinese Room dianggap sebagai
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

4
argumen terbaik melawan kemungkinan diciptakannya mesin sepintar atau lebih pintar dari manusia yang ia sebut Strong AI (Strong Articial Intelligence). Searle menulis buku-buku tentang bahasa, rasionalitas dan kesadaran, di antaranya The Rediscovery of the Mind (1992), The Mystery of Consciousness (1997), dan Mind: A brief introduction (2004). Terakhir ia menduduki jabatan profesor lsafat di University of California, Berkeley, tempat ia mengajar dan meneliti sejak tahun 1959. Penjelasan Searle tentang pikiran dan tur-turnya berbeda baik dengan pemikiran materialisme maupun dualisme. Ia mengkritik materialisme yang berkembang dari behaviorisme mengabaikan fenomena mental termasuk subyektivitas. Jika pun ada pembahasan tentang fenomena mental, itu dijelaskan sebagai ilusi atau gejala yang tak nyata. Searle menentang dualisme yang tak mampu menjelaskan bagaimana tubuh dan pikiran sebagai dua substansi yang berbeda dapat bersama-sama menghasil tingkahlaku, serta bertentangan dengan temuan-temuan sika, khususnya tak sejalan dengan hukum kekekalan dan konservasi energi. Dalam Mind, A Brief Introduction, Searle (2004) mengajukan penjelasan tentang pikiran yang menempatkan fenomena mental sebagai bagian dari dunia alamiah. Penjelasannya itu mencakup seluruh aspek pikiran, kesadaran, intensionalitas, kehendak bebas, sebab-sebab mental, persepsi, tindakan intensional, dan sebagainya. Semua itu dipahami sebagai gejala alamiah. Mulai dari penjelasan fenomena mental sebagai bagian dari alam dengan kesadaran dan intensionalitas sebagai turnya sebagaimana gejala fotosintesis dan pencernaan. Lalu, menurutnya, piranti yang digunakan untuk membuat penjelasan tentang sebabsebab fenomena mental ada di level biologis ketimbang level partikel atau sika subatomik. Kesadaran dan fenomena mental lainnya, bagi Searle, adalah fenomena biologis, dihasilkan oleh proses-proses biologis dan khusus untuk organisme biologis tertentu. Menanggapi Dennet, Searle (1997) menyatakan bahwa masalah kesadaran baik dalam lsafat maupun ilmu alam adalah menjelaskan perasaan subyektif ini. Tidak semua dari perasaan subyektif adalah sensasi jasmaniah seperti sakit. Arus pikiran sadar bukan sensasi jasmaniah dibandingkan dengan perasaan mengepal dan bukan juga pengalaman visual. Keduanya memiliki kualitas subyektivitas ontologis. Perasaan subyektif merupakan data yang harus dijelaskan oleh teori kesadaran. Dengan dasar ini, ia menyebutkan kejanggalan pendapat Dennet: ia menolak keberadaan data itu. Dennet berpikir tidak ada hal yang merupakan entitas yang membuat orang memiliki pengalaman subyektif; perasaan sakit tampaknya tidak dianggap sebagai hal yang nyata oleh Dennet, yang ada adalah kondisi sik yang luka. Dennet menganggap tidak ada hal yang disebut qualia, pengalaman subyektif, fenomena orang-pertama, atau hal-hal lain semacam itu. Dennett setuju bahwa buat kita ada hal yang dikenal sebagai qualia tetapi itu hanya soal kita salah membuat putusan tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Searle (1984, 1992, 2004) mengkritik materialisme dan dualisme. Materialisme adalah pandangan bahwa dunia sikal mencukupi untuk segala sesuatu yang ada di dunia. Pandangan ini salah karena mengabaikan tur kualitatif subjektif dari pengalaman manusia; mereka mengabaikan ontologi dari keadaan subyektif. Padahal, menurutnya, menerima fakta sika, bahwa dunia secara keseluruhan merupakan partikel sikal dalam medan gaya, tidak berarti menolak atau mengeksklusikan fenomena biologis seperti keadaan kualitatif dari kesadaran dan intensionalitas.
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

5
Di sisi lain, dualisme, pandangan yang membedakan badan dari pikiran, tubuh dari jiwa, tidak memiliki penjelasan dan bukti yang menunjukkan bagaimana dua hal itu berinteraksi. Postulasi adanya dua substansi dengan wilayahnya masingmasing itu juga dalam kenyataan tidak diperlukan sebab seseorang dapat dipahami baik sebagai fakta orang-pertama (hanya dapat dikenali oleh orangpertama) maupun fakta orang-ketiga (dapat dikenali oleh orang-ketika; obyektif) tanpa perlu melibatkan konsep mengenai dua substansi.

Naturalisme Biologis: Solusi Untuk Masalah Pikiran-Tubuh


Dalam konstelasi lsafat pikiran kontemporer, kedudukan Searle berada di pihak yang menerima premis-premis materialistik, tetapi berusaha menghindari kesimpulan-kesimpulan reduksionistik yang umumnya dikemukakan oleh materialisme. Pandangannya yang ia sebut naturalisme biologis menyatakan bahwa kesadaran adalah pengalaman subyektif nyata yang disebabkan oleh proses sikal otak. Gagasan dasar naturalisme biologis adalah keadaan mental, meski tidak identik dengan pengapian neuron-neuron atau proses otak lainnya, disebabkan oleh proses-proses yang analog dengan cara mengerasnya sebuah es yang disebabkan oleh keadaan molekul-molekul air yang dikandungnya. Kesadaran dan fenomena mental lainnya adalah tur pengaturan-lebih-tinggi dari otak, sebagaimana soliditas merupakan tur pengaturan-lebih-tinggi dari sistem molekul air yang membentuk es. Tetapi seperti halnya soliditas merupakan properti sikal dari sistem molekul air, kesadaran adalah properti sikal dan sistem neuron yang membentuk otak. Pandangan ini berlawanan dengan dualisme yang menempatkan kesadaran melampaui tubuh, termasuk otak, juga bertentangan materialisme yang mereduksi kesadaran kepada aktivitas neuron. Singkatnya, Searle tidak menerima pandangan dualisme yang membedakan tubuh dari pikiran, serta tidak setuju dengan materialisme yang melihat kesadaran dan fenomena mental lainnya sebagai efek dari aktivitas neuron dan proses otak lainnya. Baginya, fenomena mental termasuk kesadaran merupakan fenomena nyata di dunia nyata. Dengan naturalisme biologis, Searle mengklaim telah memberikan solusi memadai bagi masalah tradisional mengenai pikirantubuh (mind-body problem). Searle berhasrat menjadikan kajian tentang fenomena mental sebagai sains. Dalam pemahamannya, ilmu bukan nama untuk ranah ontologis, melainkan nama yang menandai satu set metode untuk menemukan segala sesuatu yang dikenali melalui penelitian sistematis. Dengan demikian, piranti penjelasan (explanatory apparatus) yang digunakan untuk memahami alam secara umum, yang biasa digunakan dalam ilmu empirik, harus digunakan untuk meneliti pikiran jika kita ingin mengenalinya secara saintik. Pendekatan khas Searle terhadap lsafat pikiran memegang dua prinsip berikut dalam tegangan: (1) bahwa tur pikiran yang digunakan pemikiran losos tradisional, seperti kesadaran, kehendak bebas, dan intensionalitas adalah hal nyata di dunia yang menuntut penjelasan; (2) ilmu empirik adalah satu-satunya cara untuk mengeksplor alam, oleh karenanya ilmu empirik (khususnya biologi) harus memberi perhatian terhadap fenomena yang dirujuk dalam prinsip no. 1.

Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

6
Merujuk Searle (1992), pemahaman tentang fenomena mental sebagai fenomena alamiah tidak tampak dalam kajian-kajian saintik dan losos terhadap pikiran terdahulu. Ia melihat sejauh ini dalam sains dan lsafat pikiran, terutama yang menganut materialisme, ada tujuh pernyataan utama yang menjadi asumsi yang mendasari kajian tentang pikiran: (1) Sejauh studi ilmiah terhadap pikiran dilakukan, kesadaran dan tur-tur khususnya tidak penting; (2) Sains bersifat obyektif; (3) Oleh karena kenyataan bersifat obyektif, metode terbaik dalam mempelajari pikiran adalah mengadopsi pandangan obyektif atau sudut pandang orang-ketiga; (4) Dari sudut pandang obyektif atau orang-ketiga, satu-satunya jawaban yang tersedia bagi pertanyaan epostemologis Bagaimana kita dapat mengetahui fenomena mental dari sistem yang lain? adalah: Kita mengetahuinya dengan mencermati tingkahlaku; (5) Tingkahlaku cerdas dan hubungan sebab-akibat yang berkenaan dengan tingkahlaku cerdas merupakan esensi dari mental; (6) Setiap fakta di alam semesta pada prinsipnya dapat diketahui dan dimengerti oleh manusia yang menyelidiki; dan (7) Hal yang ada di dunia pada hakikatnya bersifat sikal, dalam pengertian sikal dalam konsepsi tradisional, yang diperlawankan dengan yang mental. Asumsi-asumsi tersebut ditentang oleh Searle. Dengan dasar dua prinsip yang dipegangnya tersebut, Searle mengajukan pokok-pokok pikiran yang menurutnya dapat mengarahkan studi terhadap pikiran lebih memadai sebagai ilmu empirik dengan tetap menaruh respek pada tur-tur pikiran yang bersifat mental. Studi tentang kesadaran, contohnya, perlu didasari oleh pemahaman bahwa kesadaran memiliki tur esensial yang menghasilkan sebuah sudut pandang dari pusat dunia, sudut pandang subyektif. Cara pandang arus utama sains dewasa ini yang mengabaikan aspek subyektif cenderung membuat kesadaran, juga pikiran dan fenomena mental secara umum, cenderung dianggap tak ada atau kalau pun dikaji direduksi kepada tingkahlaku atau aktivitas neuron. Akibatnya ada yang luput dalam tangkapan mereka, bahwa pikiran yang memiliki tur subyektif ikut berperan dalam menentukan pemahaman dan penjelasan fenomena. Searle menekankan, sudut pandang subyektif dalam sains adalah saintis; manusia yang berkesadaran dengan tur intensionalitas dan subyektivitas. Tetapi, dalam arus utama pendekatan saintik sudut pandang dari subyek diperlakukan sebagai elemen obyektif. Para saintis dengan tidak diperlakukan sebagai subyek di pusatnya. Sudut pandang subyek, oleh karena itu, tampil dalam dunia saintik sebagai sesuatu yang bukan dirinya, atau tidak tampil sama sekali. Padahal ada kesadaran dalam sains, dan tentu saja itu kesadaran dari saintis, bukan yang lain. Jika kesadaran mereka dengan subyektivitasnya memilih mengabaikan kesadaran dan subyektivitas, maka hasil-hasil yang mereka peroleh akan memperkuat pilihan itu karena dengan subyektivitasnya mereka dapat bertahan dengan pilihan mereka. Sebaliknya, jika ada saintis yang memilih mengindahkan kesadaran dan subyektivitas, mereka juga akan cenderung menguatkan pilihan mereka. Untuk menghindari kecenderungan yang ada di kedua belah pihak itu, Searle berpegang pada dua prinsip tersebut dan menjaga tegangan di antara keduanya: di satu sisi ia menaruh respek pada tur-tur pikiran dan fenomena mental, di sisi lain ia tetap memegang prinsip-prinsip ilmu empirik seperti hukum sebab-akibat dan penjelasan yang didasari fakta. Dalam bukunya The Rediscovery of the Mind, Searle memberikan mengajukan usulan-usulan tentang bagaimana penelitian terhadap pikiran yang memadai dilakukan. Dimulai dengan bentuk dasar dari pandangan-dunianya berikut ini.
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

7
All the big and middle-sized entities in the world such as planets, galaxies, cars, and overcoats, are made up of smaller entities that are in turn made up of yet smaller entities until nally we reach the level of molecules, themselves composed of atoms, themselves composed of subatomic particles. (Searle, 1992: 85)

Sebutlah koleksi partikel yang menempati ruang dan waktu sebagai sistem hubungan sebab-akibat. Anjing, pohon kelapan, mobil, dan mesin pengapian merupakan contoh dari sistem itu. Dengan menggunakan metafor semesta yang bertataran-ganda (multi-layered universe), setiap sistem terdiri dari subsistem yang juga dibangun dari sistem-sistem lebih kecil. Organisme, sebagai contoh, tersusun dari subsistem yang disebut sel. Beberapa jenis organisme selular mengembangkan sel-sel syaraf. Dalam penegasan Searle, beberapa sistem syaraf yang kompleks mampu menyebabkan dan mempertahankan dalam waktu lama keadaan sadar. Pertanyaan yang perlu diajukan terhadap model alam semesta yang bertataran-ganda adalah: oleh karena entitas atau sistem dari satu tataran dapat diurai menjadi bagian-bagian dan sistem-sistem yang ada di tataran lebih rendah, maka properti hubungan apa pada tataran lebih tinggi yang berkesesuaian dengan properti hubungan pada tataran lebih rendah? Satu jawaban yang dipegang oleh kebanyakan ilmuwan dan lsuf tentang pikiran menyatakan bahwa hubungan itu adalah hubungan reduksibilitas. Artinya, kompleksitas dan dinamika sistem di tataran lebih rendah dapat direduksi kepada sistem di tataran lebih tinggi. Bisa juga dipahami bahwa sistem di tataran lebih rendah merupakan situasi atau gejala khusus dari sistem di tataran yang lebih tinggi. Tetapi, Searle (1992) secara eksplisit menolak jawaban ini. Ia memegang satu bentuk emergentism (emergence = kemunculan begitu saja; lompatan) yang disebutnya causal supervenience (kemunculan tak galib yang bersifat kausal). Gagasan umum yang mewujud dalam paduan ide emergence dan supervenience dapat dijelaskan sebagai berikut. Ada beberapa tur dari sistem atau entitas keseluruhan yang tidak atau tidak niscaya menjadi tur dari bagian-bagian yang menjadi komponennya. Ini mengingatkan kepada himpunan generik dalam terminologi teori himpunan dalam matematika, yaitu himpunan bagian yang tidak/belum terjelaskan dengan bahasa yang ada atau belum dipresentasikan sebagai bagian dari himpunan induknya. Himpunan generik seperti muncul dari kekosongan di antara himpunan-himpunan bagian tetapi padahal itu adalah bagian yang ada dalam himpunan induk namun belum dipresentasikan atau dinamai karena belum dikenali. Sebagai ilustrasi untuk menjelaskan gagasan itu, saya ambil contoh perbandingan antara sebuah jam dinding berbentuk lingkaran di kamar saya dan sifat cari dari air. Bentuk lingkaran dari jam dinding di kamar saya adalah tur dari jam dinding itu tetapi bagian pembentuknya secara individual tidak atau tidak niscaya berbentuk lingkaran. Jarumnya tidak berbentuk lingkaran, begitu juga angka-angkanya. Tidak seperti bentuk lingkaran dari jam dinding, properti atau tur-tur sistem lain, contohnya kecairan air, tidak dapat dimengerti dengan memanfaatkan penataan atau kongurasi dari konstituen bagian mikrosikal saja. Di sini kita harus meminta bantuan kepada penjelasan tentang interaksi sebab-akibat yang berlangsung di antara bagian-bagian komponen. Diperlukan penjelasan tambahan untuk memahami hubungan antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya. Fitur seperti itu oleh Searle disebut tur sistem yang
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

8
berkembang secara kausal (causally emergent system features). Dengan dasar dan kerangka pemikiran itu Searle menjelaskan kesadaran dan fenomena mental lainnya. Menurutnya kesadaran adalah:
a causally emergent property of systems. It is an emergent feature of certain systems of neurons in the same way that solidity and liquidity are emergent features of systems of molecules. The existence of consciousness can be explained by the causal interactions between elements of the brain at themicro level, but consciousness cannot itself be deduced or calculated from the sheer physical structure of the neurons without some additional account of the causal relations between them. (Searle, 1992: 112)

Bagi Searle, keberadaan kesadaran bukan hanya dapat dijelaskan dengan interaksi sebab-akibat antara unsur-unsur otak di tataran mikro, melainkan kesadaran secara keseluruhan disebabkan oleh tingkahlaku dari fenomena biologi tataran-rendah (bedakan fenomena ini dengan entitas atau sistem di tataran lebih rendah). Sebagai sistem, mentalitas adalah tataran biologis yang lebih tinggi, yang tampil tidak dengan properti hubungan yang sama dengan properti hubungan dari tataran biologis yang lebih rendah. Mental secara kausal tampil dengan cara yang tak galib (tak sama dengan yang lain; tidak umum; khas) jika dibandingkan dengan komponen-komponen bagian otak lainnya. Meski fenomena mental merupakan bagian dari otak secara keseluruhan, Searle menolak pernyataan materialisme bahwa tur tataran lebih tinggi dari otak (properti-properti mental) dapat direduksi atau identik dengan properti tataran yang lebih rendah (neuron-neuron). Properti mental seperti sakit memiliki sebuah mode keberadaan subyektif yang kontras dengan mode keberadaan obyektif yang dialami oleh entitas dan proses neural. Keberadaan kesadaran adalah sebuah keberadaan orang-pertama. Bagi Searle, penting untuk menegaskan bahwa keadaan mental secara kausal memiliki efek. Keadaan mental tidak hanya menyebabkan keadaan mental lain, misalnya lapar menyebabkan hasrat untuk makan, melainkan juga menghasilkan efek pada sik, misalnya hasrat menyebabkan kejadian siologis. Contoh hasrat untuk makan menyebabkan produksi asam lambung meningkat dan konstraksi pada lambung. Contoh lain, kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan penyakit kulit atau menegangnya urat syaraf. Gejala-gejala psikosomatis juga merupakan contoh dari pengaruh keadaan mental terhadap keadan sik. Persoalannya, otak manusia secara keseluruhan masih merupakan misteri, sehingga tak bisa memastikan apakah benar kesadaran merupakan tur dari otak. Riset-riset tentang otak masih belum bisa menghasilkan penjelasan yang memadai tentang otak manusia. Tetapi, justru di situ tantangannya. Searle mengajak para saintis dan lsuf tentang pikiran untuk bergerak lebih jauh dalam mengkaji pikiran dan otak manusia. Buat Searle ketakmemadaian sains dan lsafat pikiran menjelaskan pikiran dan otak manusia disebabkan oleh kesalahan memahami fenomena mental, termasuk kesadaran dan subyektivitas. Justru Searle, dengan naturalisme biologisnya, bertujuan mengajukan solusi konseptual yang dapat membawa pada penelitian-penelitian empirik yang memberikan solusi yang nyata. Pemecahan masalah pikiran-tubuh, menurutnya, dapat dilakukan dengan hasil yang jauh lebih baik dengan naturalisme biologis. Namun, sejauh ini lebih banyak muncul tentangan dan sanggahan terhadap
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

9
pandangan ini ketimbang usaha untuk memikirkan dan mengkajinya lebih jauh secara positif. Secara singkat, naturalisme biologis Searle dapat diringkas sebagai berikut: 1. Kesadaran nyata, tur mental dunia yang tak dapat direduksi; 2. Kesadaran bersifat biologis, merupakan tur sikal dari otak; 3. Kesadaran secara keseluruhan disebabkan oleh dan dapat dijelaskan melalui tingkahlaku dari fenomena biologis di tataran lebih rendah; 4. Keadaan mental secara kausal memiliki efek, yaitu efek terhadap keadaan mental yang lain, juga menyebabkan kejadian siologis.

Subyektivitas dan Putusan Subyektif Sebagai Fenomena Nyata


Kesadaran adalah hidup kita. Pernyataan ini adalah jawaban singkat Searle ketika ditanya Susan Blackmore (2005) apa yang istimewa dari kajian tentang kesadaran. Kenangan tentang hidup kita, hal-hal yang penting buat kita setelah kita lahir dan sebelum mati, adalah bentukan kesadaran. Kesadaran menjadi berbagai hal penting bagi kita. Kita merasa senang ketika mendapat uang karena kesadaran kita menjadikan uang penting. Kita puas mengerjakan suatu tugas karena kesadaran kita menjadikan tugas itu penting. Kita merasa tertekan hidup dalam rejim totalitarian karena kesadaran kita memberikan penghayatan ketaknyamanan terhadap situasi itu. Apa yang kita hayati, apa yang kita maknai, semua dipengaruhi oleh kesadaran. Dan bahkan mengapa kesadaran penting dan istimewa karena kesadaran kita menjadikan itu penting. Pertanyaan yang lebih penting bukan mengapa kesadaran penting, melainkan mengapa hal-hal lain penting dan jawabannya adalah kesadaran kita menjadikan semua itu penting. Keadaan sadar, sebagai fenomena nyata dalam dunia nyata dengan sifat subyektifnya, merupakan ontologi orang-pertama. Ia tidak dapat direduksi menjadi sekedar efek dari hal lain atau semacam ilusi, tidak dapat juga direduksi kepada basis neurobiologisnya, sebab reduksi akan menghilangkan ontologi orang-pertama dari kesadaran. Keadaan sadar secara keseluruhan disebabkan oleh level lebih rendah dari proses-proses neurobiologis dalam otak. Keadaan sadar, dengan demikian, secara kausal dapat disebabkan proses-proses neurobiologis, meskipun hubungan kausal itu tidak seperti hubungan otak dengan neuron-neuron yang menyusunnya. Dengan begitu, kesadaran bukan sesuatu yang melampaui dan mengatasi proses-proses neurobiologis. Tetapi, sekali lagi, mereka bukan hasil dari aktivitas neuron. Subyektivitas adalah tur khusus dari keadaan mental yang sadar dan hanya dimiliki manusia. Dengan demikian, subyektivitas pun bersifat ontologis, dalam arti ia memiliki ontologi orang-pertama. Memahami ontologi mental sebagai ontologi orang-pertama yang tak dapat direduksi, bagi Searle, merupakan kunci untuk mengatasi kemandegan karya-karya lsafat pikiran. Tentang ini, Searle memaparkan:
Conscious mental states and processes have a special feature not possessed by other natural phenomena, namely subjectivity.....[M]uch of the bankruptcy of most work in the philosophy of mind and a great deal of the sterility of academic psychoanalysis over the past fty years,... have come from a persistent failure to
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

10
recognize and come to terms with the fact that the ontology of the mental is an irreducibly rst-person ontology. (Searle 1992: 93,95).

Kedasaran ada hanya ketika mereka disadari oleh subyek manusia atau hewan, memiliki rasa kualitatif tertentu, sesuatu yang membuat individu organisme merasakan keadaan tertentu yang tak dirasakan individu lain, memiliki pengalaman sadar. Dalam pengertian itu, kesadaran secara esensial subyektif. Ke-kualitatif-an mensyaratkan subyektivitas karena agar sebuah pengalaman mental bisa bersifat kualitatif, harus ada subyek yang mengalaminya kejadian itu. Tanpa subyektivitas, tak ada pengalaman. Bahkan jika lebih dari subyek mengalami fenomena yang sama, seperti mendengarkan musik yang sama atau memakan kue yang sama, pengalaman kualitatif bisa ada hanya sebagaimana dialami oleh subyek. Keadaan sadar adalah subyektif, hanya dialami oleh subyek. Searle (2000) menyebut ini sebagai ontologi orang-pertama, yang diperlawankan dengan ontologi orang ketiga dari obyek-obyek sik, seperti molekul, batu, dan gunung yang bisa ada meskipun tak makhluk hidup. Keadaan sadar subjektif memiliki ontologi orang-pertama karena mereka ada hanya ketika mereka dialami oleh beberapa agen manusia atau hewan. Ontologi di sini berarti mode keberadaan (mode of existence). Mereka dialami oleh beberapa Aku yang memiliki pengalaman dan dalam hal ini mereka memiliki ontologi orang pertama. Keadaan sadar subjektif memiliki ontologi orang-pertama inilah yang dimaksud Searle sebagai subyektivitas ontologis, dalam arti keberadaan subyektivitas adalah fenomena nyata yang dialami orang-pertama dan hanya dapat dialami oleh orang-pertama. Dengan kata lain, subyektivitas merupakan mode keberadaan dari sebagian makhluk hidup tertentu. Pada manusia, kesadaran subyektif memiliki intensionalitas (intentionality) yang oleh Searle (1983) diartikan sebagai pengarahan untuk mencapai kesesuaian (direction to t) baik dari keadaan mental terhadap dunia maupun dari dunia terhadap keadaan mental. Dengan intensionalitas, kesadaran selalu diarahkan untuk memaknai, dalam arti memberikan struktur kepada dunia, juga kepada diri sendiri. Intensionalitas merupakan syarat niscaya bagi subyektivitas. Dengan demikian, intensionalitas adalah struktur dari diri yang memberi makna kepada pengalaman dan meleluasakan diri untuk membuat keputusan tentang masa depan. Intensionalitas merupakan properti mental yang mengarahkan diri kepada obyek dan rangkaian peristiwa di dalam dan luarnya. Putusan subyektif niscaya melibatkan intensionalitas. Putusan semacam ini memungkinkan manusia memberikan makna dan bentuk baru kepada diri dan dunianya. Kebaruan itu yang akan membentuk masa depan; sesuatu yang belum ada di masa kini dan ingin diwujudkan di masa depan. Perlu dipahami, subyektivitas ontologis tidak mengimplikasikan subyektivitas epistemik. Secara epistemik, Searle mengambil pandangan opistemologi obyektif. Ini yang menjadikan sains tentang pikiran dan fenomena mental menjadi mungkin dengan menggunakan piranti penjelasan ilmu empirik, mencakup metode dan teknik-teknik pengenalan dan pembuktian obyektif. Ini juga menjelaskan bagaimana putusan subyektif yang didasari oleh subyektivitas ontologis dapat memberikan efek yang nyata pada dunia, juga pada diri sendiri dan orang lain.
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

11
Di tataran ontologi, putusan subyek dan subyektivitas yang mendasarinya adalah ontologi orang-pertama, hanya dikenali secara utuh oleh orang yang mengalaminya. Tetapi efek dan implikasi putusan subyektif sebagai fenomena nyata bisa merupakan kenyataan yang memiliki ontologi orang-ketiga. Putusan subyektif dapat menyebabkan munculnya hal-hal (obyek, tindakan, situasi) yang dapat dikenali keberadaannya oleh siapa saja, diterima sebagai kenyataan oleh siapa saja, sebagai yang universal. Dari sini juga kebenaran dapat dipahami dan dirumuskan sebagai kongkretisasi putusan-putusan subyek dalam kenyataan sehingga menjadi bagian dunia nyata yang dapat memiliki ontologi orang-ketiga atau dapat dikenali secara obyektif. Kebenaran yang dimulai dengan putusan subyektif dalam suatu situasi yang menggugah mental, khususnya pikiran, diikuti oleh usaha perwujudan putusan itu dalam kenyataan sehingga wujudnya tampil dan dikenali oleh beberapa orang lain di dunia, kemudian wujud itu diperluas dan makin dikenal luas di dunia. Ketika wujud kongkret dari putusan subyektif, sebuah kenyataan baru, menjadi universal, kebenaran tampil. Universal dan kebenaran di sini adalah dua hal yang sama. Tetapi dengan menyadari ketakterbatasan dunia, kebenaran di sini perlu dipahami sebagai proses kebenaran. Perluasan wujud kebenaran dan pertambahan pengenalan orang terhadapnya pada prakteknya berlangsung terus menerus. Artinya, kebenaran selalu tidak nal, selalu dalam proses meski tidak relatif.

Implikasi Subyektivitas Ontologis


Kita kembali ke kisah Carton. Dari karakter Carton kita mengenali putusanputusan subyektif dan efeknya terhadap dunia nyata, setidaknya pada situasi dan orang-orang tertentu. Pertama, pilihan untuk mencintai Lucie. Cinta merupakan pilihan subyektif karena tak ada penjelasan obyektif tentang mengapa seseorang mencintai orang lain. Penafsiran terhadap orang lain yang dicintai, hubungan yang mencintai dan yang dicintai, dan apa yang perlu dilakukan dalam hubungan cinta adalah penafsiran unik pada setiap orang. Pengalaman bertemu dengan orang lain, berinteraksi dan memutuskan jatuh cinta merupakan pengalaman yang dijalani banyak orang. Jika kita melihatnya dari luar, itu semua tampak sebagai hal yang umum terjadi. Tetapi, jika kita mencermati isi dari pengalaman itu, kita temukan bahwa penghayatan setiap orang yang mengalaminya unik. Orang menafsirkan pengalaman itu secara khas, tak dapat direduksikan menjadi penjelasan umum. Kedua, pemakanaan Carton tentang hidup di dunia yang berharga karena adanya Lucie, karena ia mencintai Lucie. Dunia dipahami melalui kerangka putusan subyektifnya mencintai Lucie. Hidup yang berharga adalah hidup yang membahagiakan Lucie. Pandangan hidup semacam ini merupakan hasil pilihan subyektif. Kebermaknaannya didasari oleh keberadaan subyektivitas Carton. Penjelasan atau kerangka pikir di luar subyektivitas itu tak dapat menjelaskan pandangan hidup semacam itu. Hanya dari sudut pandang Carton sebagai orang pertama, pemahaman tentang pandangan hidup itu dapat diperoleh. Subyektivitas tak dapat direduksi oleh penjelasan orang ketiga. Ketiga, tindakan berjanji untuk terus mencintai dan berkorban untuk Lucie yang dikemukakan Carton. Tak ada dasar obyektif dan penjelasan umum untuk janji semacam itu. Kata-kata yang diajukan tak dapat langsung diuji kebenarannya
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

12
melalui perbandingan dengan obyek-obyek di dunia. Ketika Carton mengucap janji, dunia tidak mengandung apa yang dijanjikannya. Kata-katanya menjadi semacam proyeksi dunia ke masa depan. Bukan hanya dunia dalam penghayatan Carton saja, tetapi dunia nyata yang ditempati oleh setiap orang. Perwujudan janji merupakan perwujudan hal baru di dunia dan wujud yang ditampilkan itu dapat dikenali dan diarmasi oleh siapa pun. Komitmen untuk mengubah diri, sekaligus mengubah dunia sekecil apapun, melalui janji adalah putusan sekaligus tindakan subyektif. Keempat, pilihan tindakan yang menjadi perwujudan janji. Carton memilih mewujudkan janji dengan tindakan menyelamatkan Lucie dan keluarganya. Lebih dari itu, ia memilih untuk mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan Darnay, orang yang dicintai Lucie. Pilihan ini bisa dipahami sebagai turunan dari putusan-putusannya terdahulu, oleh karena ia mencintai Lucie dan ingin Lucie bahagia maka ia berkorban demi Lucie. Tetapi, pilihan-pilihan sebelumnya itu subyektif dan pilihan tindakan khususnya pun subyektif. Pilihan mengorbankan nyawa menggantikan Darnay agar Lucie bahagia hanya dapat dipahami dalam kerangka pikir subyektif Carton. Akhirnya, Carton dapat menampilkan hal-hal yang tadinya tak terjadi di dunia. Tindakan-tindakannya dan efeknya terhadap orang lain menunjukkan bahwa pilihan-pilihan subyektifnya merupakan hal nyata dengan efek yang nyata pula. Orang lain dapat menyaksikan tindakan-tindakan Carton yang merupakan hasil dari pilihan-pilihan subyektifnya. Subyektivitasnya adalah sebuah hal yang nyata di dunia nyata dengan efek-efek yang nyata pula. Tanpa keberadaan subyektivitas Carton, pilihan-pilihannya tak dapat dijelaskan, tak dapat dipahami. Dari sini, kita dapat menarik implikasi bahwa subyektivitas merupakan pengada (being) yang mendasari beberapa pengada lain. Subyektivitas merupakan pengada yang hanya dapat secara lengkap dikenali dan dipahami oleh orang-pertama, oleh pemiliknya sendiri. Dengan kata lain subyektivitas merupakan ontologi orang-pertama. Tetapi efek-efeknya yang nyata dapat menghasilkan hal-hal yang nyata dan memiliki ontologi orang-ketiga. Lebih jauh, kita dapat memahami implikasi dari subyektivitas ontologis terhadap perubahan dunia dan perkembangan dunia. Perubahan-perubahan di dunia membutuhkan subyektivitas untuk dapat menghasilkan keberadaankeberadaan yang baru di dunia. Tentu saja subyektivitas yang dapat mendorong terjadiny perubahan-perubahan di dunia bukan subyektivitas yang biasa muncul dalam keseharian, melainkan subyektivitas optimal dengan daya dorong besar, semacam hasrat yang memotivasi orang mempertahankan subyektivitasnya dan mewujudkannya dalam kenyataan. Subyektivitas sebagai fenomena yang disebabkan proses-proses otak tetapi dengan cara yang tak sama dengan cara neuron-neuron dipengaruhi tak selalu tampil optimal. Dalam keseharian, subyektivitas umumnya muncul sebagai kesadaran orang memahami obyekobyek di lingkungannya dengan caranya sendiri. Tetapi, ada saat-saat subyektivitas tidak hanya sebagai kesadaran menikmati dunia, melainkan lebih dari itu sebagai kesadaran mengubah dunia. Jika dengan subyektivitasnya orang bertahan pada kesadaran mengubah dunia dan menggerakkan tindakannya untuk mewujudkan kesadaran itu maka perubahan dunia menjadi mungkin. Dengan dasar ini, kekuatan politik revolusioner atau pergerakan sosial yang ingin mengubah keadaan masyarakat mensyaratkan subyektivitas dalam derajatnya yang optimal.
Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

13
Implikasi lain, terkait dengan kemungkinan menghasilkan yang baru di dunia yang sumbernya ada di dunia pula, bukan dari kekuatan suci tertentu dari luar dunia. Dari Searle kita tahu subyektivitas yang seperti fenomena mental lainnya merupakan tur dari otak manusia. Mereka tak melampaui tataran biologis, tetapi tercakup di dalamnya. Dengan demikian, kehendak bebas, spiritualitas dan kemampuan memaknai dunia melampaui batas-batas siknya adalah hasil-hasil dari proses-proses biologis. Begitu juga hal dengan kehidupan sosial dan politik, itu semua merupakan proses-proses alamiah yang didasari oleh tindakantindakan manusia dengan subyektivitasnya sebagai tur dari otak. Dalam esai Social Ontology and Political Power, contohnya, Searle (2007) berargumen bahwa secara logis, bahasa merupakan prasyarat dari keberadaan institusi sosial dan kekuasaan politik. Ia mengklaim bahwa kekuasan yang memiliki daya untuk mewajibkan orang pada intinya berdasar pada ontologi sosial yang mensyaratkan bahasa. Dan bahasa mensyaratkan intensionalitas yang merupakan tur esensial dari kesadaran. Pertanyaan yang diajukan Searle adalah: Bagaimana kesadaran, intensionalitan, bahasa, rasionalitas, kehendak bebas, institusi sosial, politik, dan etika mungkin dalan dunia sikal yang tertutup? Menurutnya ke-delapan ide itu secara logis berhubungan. Penjelasan Searle (2007) dapat disingkat sebagai berikut: intensionalitas mensyaratkan kesadaran; bahasa mensyaratkan intensionalitas; rasionalitas adalah faktor pembentuk secara struktural bahasa dan intensionalitas; kehendak bebas berkoeksistensi dengan rasionalitas; institusi sosial mensyaratkan bahasa; lalu politik serta etika mensyaratkan semua kategori tersebut. Pandangan Searle menaturalisasi yang psikologis dan sosial dengan mereduksinya kepada yang natural. Tetapi bagi Searle, ini adalah satu-satunya jalan untuk kita dapat memperoleh solusi empirik dari persoalan-persoalan kebebasan, hubungan intersubyektif, dan menjadikan ilmu sosial dan politik sebagai ilmu empirik. Banyak kritik, sanggahan, dan tentangan yang diajukan kepada naturalisme biologis, bahkan yang melecehkan dan merendahkannya. Tetapi, saya menilainya sebagai sebuah tawaran yang menjanjikan karena mengupayakan cara pandang baru dalam memahami fenomena mental serta implikasinya dalam kehidupan sosial-politik. Pemikiran-pemikiran Searle layak dan berharga untuk dipelajari, lepas dari apakah nanti kita akan menerima atau menolaknya. Setidaknya, dengan mempelajarinya pikiran kita tergugah untuk memikirkan fenomena mental yang amat dekat dengan kita; tergugah untuk ikut berusaha mengenali diri sendiri.

Disampaikan dalam Kuliah Umum Filsafat Salihara Subyektivitas Menurur John Searle, Sabtu 5 Februari 2011. Makalah ini milik Kalam dan tidak untuk diterbitkan di mana pun.

Makalah Kuliah Umum | Februari 2011

14

Daftar Pustaka
Blackmore, S. (2005) Conversation on Consciousness, Oxford University Press. Dickens, C. (1859). A Tale of Two Cities, Penguins Books. Searle, J.R. (1983) Intentionality: An Essay in the Philosophy of Mind, Cambridge University Press. Searle, J.R. (1992) The Rediscovery of the Mind, MIT Press, Cambridge, MA. Searle, J.R. (1993) The Myth of Non-Reductive Materialism, reprinted in Supervenience and Mind, Cambridge University Press. Searle, J.R. (1995) Consciousness, the Brain and the Connection Principle: A Reply, Philosophy and Phenomenological Research 55, 217232. Searle, J.R. (2000) Consciousness, Annual Review Neuroscience, 23:557578. Searle, J.R. (2004) Mind: A Brief Introduction, Oxford University Press Searle, J.R. (2007) Freedom and Neurobiology: Reections on Free Will, Language, and Political Power, Columbia University Press.

Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520 Indonesia t: +62 21 7891202 f:+62 21 7818849 www.salihara.org Makalah Kuliah Umum | Februari 2011