Anda di halaman 1dari 80

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA


KANTOR WIL AYAH JAWA TIMUR
1. KPKNL Surabaya
2. KPKNL Sidoarjo
3. KPKNL Malang
4. KPKNL Madiun
5. KPKNL Jember
6. KPKNL Pamekasan

2
OVERVIEW
1. Salah satu unit eselon I di lingkungan Kementerian Keuangan. Organisasi vertikal
DJKN Wilayah Jawa Timur di Surabaya dan KPKNL
2. Tugas
a. Memastikan kualitas informasi dalam LKPP, LKKL, dan LK Pemda
b. Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah
c. Penilaian Barang Milik Negara/ Daerah/Aset Perusahaan Daerah
d. Pengurusan Piutang Negara/Daerah
e. Pelayanan Lelang Barang Milik Negara/Daerah /BUMN/BUMD/PD
f. Pengelolaan Kekayaan Negara/Daerah yang dipisahkan (BUMN/Perusahaan
Daerah/BUMD): PMN ,Restrukturisasi, buka/tutup/merger/konsolidasi /Holding BUMN dll
g. Pengelolaan Kekayaan Negara Lain-Lain: Asets KKKS, Eks BDL/BBKO, ABMAC, Barang
Rampasan, Gratifikasi, Sitaan Bea Cukai, Barang Muatan Kapal Tenggelam dll.
h. Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah di BLU/BLU-D
i. Penguatan Kualitas SDM K/L dan Pemda di bidang Manajemen Barang Milik Daerah,
Piutang Daerah, Lelang Barang Milik Negara/ Daerah/BUMN/BUMD dan Penilaian
Barang Milik Negara/Daerah.

3
HIGHLIGHTS
Selesaikan kegiatan pengelolaan Barang Milik
Negara/Daerah, saya dukung penuh. Sejak merdeka kita
belum mempunyai daftar kekayaan negara dengan nilainya
yang baik. Apabila data nilai kekayaan negara seluruhnya
sudah tersedia agar dipublikasikan kepada masyarakat
sebagai penyeimbang jumlah kewajiban negara kita.

Sejauh ini Barang Milik Negara/Daerah belum ditata secara


tertib serta nilainya belum wajar, pastikan dalam
kepemilikannya. Agar dilaksanakan inventarisasi secara
sinergi , tuntaskan aset-aset milik yayasan, serta selesaikan
sengketa aset, termasuk aset cina. Dibicarakan dengan pihak
Badan Pemeriksa Keuangan agar yang kita lakukan sesuai
dengan SAP.

(Dikutip dari Pengarahan Presiden RI pada tanggal


22 Februari 2008 di Departemen Keuangan, Jakarta)
4
OUTLINE

5 5
2.Perbendaharaan
1.Keuangan UU 17/2003 Negara
Negara
UU 1/2004

PP 6/2006
PP 38/2008
3. Pengelolaan
PMK 96/2007
BMN/BMD

PMK 33/2012 5. Tata Cara Pelaksanaan


4. Tata cara sewa BMN
Penggunaan, Pemanfaatan,
Penghapusan, &
Pemindahtanganan BMN
6 6
Barang Milik Negara:
1. barang yg dibeli/diperoleh atas beban APBN
2. barang yg berasal dari perolehan lain yg sah.
Perolehan lainnya yg sah:
hibah/sumbangan atau yg sejenis.
pelaksanaan perjanjian/ kontrak;
berdasarkan ketentuan undang-undang;
berdasarkan putusan pengadilan berkekuatan
hukum tetap.
7 7
DIREKTORAT JENDERAL
KEKAYAAN NEGARA

PENGELOLAAN BMN
8
ALUR PENGELOLAAN BMN
Menteri/Pimp Lembaga Menteri Keuangan
Selaku Selaku Pengguna Barang Pihak Lain (Selain
Pengguna Barang Pengelola Barang Lainnya Kementerian/
Lembaga)
Perolehan Penggunaan sebatas
BMN Penetapan Pemanfaatan:
penyelenggaraan Sewa
Status Penggunaan
Tugas & fungsi KSP
BMN
Penyelesaian
BSG/BGS
Dok. Kepemilikan
Pinjam pakai

Penggunaan sebatas
untuk penyelenggaraan Fungsi
Pelayanan
Pemindahtanganan:
tupoksi Tanah / bangunan
yg telah diserahkan Jual
Tukar menukar
Hibah
Barang Milik Negara: PMPP
Tindak Lanjut:
Tidak sesuai Tupoksi Pengalihan Status
Berlebih Penggunaan
Pemanfaatan
Pemindahtanganan
Tanah/bangunan idle
wajib diserahkan kpd
Pengelola Barang
Persetujuan
Non tanah dan bangunan Fungsi
pemanfaatan dan Budgeter
pemindahtanganan
9
9
DEFINISI PEMANFAATAN
Pemanfaatan adalah pendayagunaan
Barang Milik Negara yang tidak
dipergunakan sesuai dengan tugas
pokok dan fungsi kementerian
negara/lembaga, dalam bentuk sewa,
pinjam pakai, kerjasama
pemanfaatan, dan bangun serah
guna/bangun guna serah dengan
YA TIDAK
tidak Digunakan
mengubah status BMN kepemilikan
Idle
Sesuai TUSI BMN Idle

11
12 12
I. SEWA
BARANG MILIK NEGARA

13
PERATURAN MENTERI KEUANGAN
NOMOR 33/PMK.06/2012

TATACARA PELAKSANAAN SEWA


BARANG MILIK NEGARA

DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA


KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Slide 14
AGENDA

Ketentuan Umum .

Prosedur Tata Cara .

Masa Pelaksanaan Sewa .

Besaran Nilai Sewa .

Pengawasan dan Pengendalian .

Ketentuan Lain-lain .

15
Ketentuan Umum SESI 1

Paparan ini membahas secara umum


mengenai ketentuan umum dalam
pelaksanaan sewa barang milik
negara. Pembahasan dimulai dengan
menceritakan mengenai landasan
filosofis dan landasan yuridis dalam
pelaksanaan sewa barang milik
negara. Disamping itu, dipaparkan
mengenai lingkup pengaturan serta
maksud dan tujuan dari pengaturan
yang ada dalam Peraturan Menteri
Keuangan. Nomor 33/PMK.06/2012
tentang Tatacara Pelaksanaan Sewa
Barang Milik Negara. Selanjutnya,
dijelaskan mengenai prinsip umum,
subjek dan objek dalam pelaksanaan
sewa barang milik negara.

16
LATAR BELAKANG

17
Slide 18

Surat Menteri Keuangan No. S-420/MK.02/2011 tgl 25 Juli 2011

PRINSIP DASAR

PP 6/2006
PP JENIS DAN
TARIF PNBP
Pemanfaatan aset yang tidak terkait atau
tidak dalam rangka mendukung
Pemanfaatan aset dalam rangka pelaksanaan tupoksi antara lain
kelancaran tupoksi seperti pemanfaatan pemanfaatan gedung untuk kegiatan
gedung asrama untuk kegiatan diklat pernikahan dan sejenisnya
Pemanfaatan aset dalam rangka kelancaran
tupoksi, tetapi dalam pelaksanaan
kegiatannya tidak terdapat peran atau tidak
melibatkan kuasa pengguna barang
LINGKUP PENGATURAN
SEWA BMN

MAKSUD
Memberikan pedoman bagi Pengelola Barang dan
Pengguna/Kuasa Pengguna Barang dalam penyewaan BMN

TUJUAN
Terselenggaranya penyewaan BMN yang tertib, terarah,
adil, dan akuntabel guna mewujudkan pengelolaan BMN
yang efektif, efisien, dan optimal.
LINGKUP
Tatacara pelaksanaan sewa atas BMN yang berada pada
Pengelola Barang dan Pengguna/Kuasa Pengguna Barang
Subjek pelaksana dan objek sewa
Jangka waktu sewa
Besaran sewa
Tata cara pelaksanaan sewa
Pengamanan dan pemeliharaan objek
sewa
Penatausahaan
Pembinaan, pengawasan dan
pengendalian sewa 19
Ganti rugi dan denda
KETENTUAN UMUM
SEWA BMN
pemanfaatan BMN oleh pihak lain dalam jangka waktu tertentu dan menerima imbalan uang tunai.

PIHAK YANG DAPAT MENYEWA


Optimalisasi Optimalisasi pemanfaatan BMN
yg belum/ tidak dipergunakan
dalam pelaksanaan tupoksi

Penunjang Memperoleh fasilitas yang diperlukan


dalam rangka menunjang tugas dan
fungsi instansi Pengguna Barang

Pengamanan Mencegah penggunaan BMN oleh


pihak lain secara tidak sah.

PIHAK YANG DAPAT


MENYEWAKAN

Sebagian T/B Tanah/bangunan.


Selain T/B

20
Prosedur Sewa SESI 2
BMN pada Pengelola
Paparan ini membahas secara Barang
umum mengenai prosedur
pelaksanaan sewa barang milik
negara. Pembahasan dimulai
dengan menceritakan bagan alir
pengajuan permohonan
penyewaan Barang Milik Negara
berupa tanah dan/atau bangunan
pada Pengelola Barang; sebagian
BMN pada Pengguna
tanah dan/atau bangunan dan
Barang
selain tanah dan/atau bangunan
pada Pengguna Barang. Di
samping itu, dipaparkan juga
mengenai kelengkapan dokumen
usulan permohonan penyewaan
barang milik negara.

21
Permohon
BAGAN ALIR UMUM
an sewa TANAH DAN/ATAU BANGUNAN

Pengguna
Barang Pengelola
Pengelola Barang melakukan Penilai
menyerahkan menerbitkan
penelitian atas kelayakan melakukan
kepada persetujuan
permohonan penilaian
Pengelola sewa
Barang

Nilai Sewa Pasar dh


Pengelola Barang yakin
nilai wajar tidak dpt Nilai Wajar Penyewa
digunakan utk
menentukan besaran nilai
membayar
sewa wajar biaya sewa

Tarif Pokok
Sewa

Pengelola dan
Penyewa
menandatang
ani perjanjian
sewa
usula Penyewa mengamankan
Pengelola dan Pengelola n dan memelihara BMN
Penyewa melakukan perpa
menandatang pengecekan n- Pengelola melakukan
ani BAST BMN janga pengawasan dan
n? pengendalian BMN
22
PERMOHONAN SEWA
BMN PADA PENGELOLA BARANG

Badan
Perorang
DATA / DOKUMEN Hukum/
an
Usaha
Data Usulan Latar belakang permohonan
Sewa
Jangka waktu penyewaan, termasuk periodesitas sewa
Peruntukan sewa
Data BMN Data BMN yang ingin disewa
Data Calon Nama
Penyewa
Alamat
NPWP
Surat permohonan sewa dari calon penyewa
Bentuk kelembagaan
Jenis kegiatan usaha
Fotokopi Surat Izin Usaha/Tanda Izin Usaha atau yang
sejenis

Surat Pernyataan/persetujuan dari pemilik/pengurus,


Pernyataan/ perwakilan pemilik/pengurus, atau kuasa
Persetujuan pemilik/pengurus
Pernyataan kesediaan dari calon penyewa untuk menjaga
dan memelihara BMN serta mengikuti ketentuan yang 23
berlaku selama jangka waktu sewa
PERMOHONAN SEWA
BMN PADA PENGGUNA BARANG 1
Peroranga Badan Hukum/
DATA / DOKUMEN
n Usaha
Data Usulan Dasar pertimbangan dilakukan sewa
Sewa
Usulan jangka waktu penyewaan, termasuk periodesitas
sewa
Surat usulan sewa dari calon penyewa kepada Pengguna
Barang
Usulan besaran sewa sesuai hasil perhitungan Pengguna
Barang
Formula sewa berdasarkan hasil kajian Pengguna Barang
Data BMN Foto/gambar BMN
Gambar lokasi dan/atau siteplan tanah dan/atau
bangunan
Foto bangunan dan bagian bangunan yang akan
disewakan
Foto BMN selain tanah dan/atau bangunan yang akan
disewakan
Kuantitas BMN
Luas tanah dan/atau bangunan keseluruhan dan yang
akan disewakan
Jumlah atau kapasitas BMN selain tanah dan/atau
bangunan
Nilai BMN yang akan disewakan
Nilai tanah dan/atau bangunan keseluruhan dan yang 24
akan disewakan
PERMOHONAN SEWA
BMN PADA PENGGUNA BARANG 1
Badan
Perorang
DATA / DOKUMEN Hukum/
an
Usaha
Data Calon Nama
Penyewa
Alamat
Bentuk kelembagaan
Jenis kegiatan usaha
NPWP
Fotokopi Surat Izin Usaha/Tanda Izin Usaha atau
yang sejenis untuk calon penyewa yang berbadan
hukum
Data transaksi Data barang yang Dapat berupa transaksi
sewa yg ditransaksikan yang sebanding dan
sebanding dan sejenis atau penawaran
sejenis Nilai transaksi umum
Surat Pernyataan/ Pernyataan dari Pengguna Barang:
Persetujuan
BMN yang akan disewakan tidak sedang
digunakan dalam rangka penyelenggaraan tugas
dan fungsi K/L
Penyewaan BMN tidak akan mengganggu
pelaksanaan tugas dan fungsi K/L
Pernyataan kesediaan dari calon penyewa untuk 25
menjaga dan memelihara BMN serta mengikuti
BAGAN ALIR UMUM
Dapat membentuk SEBAGIAN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN
Tim

Pengguna
Barang
Pengelola Penguna
menyampaika Pengelola Barang Penilai
menerbitkan menerbitkan
n usulan sewa melakukan penelitian atas melakukan
persetujuan keputusan
kepada kelayakan usulan sewa penilaian
sewa sewa
Pengelola
Barang
Nilai Sewa Pasar dh
Pengelola Barang yakin
Pengguna nilai wajar tidak dpt
digunakan utk Nilai Wajar Penyewa
Barang menentukan besaran nilai membayar
(mengkaji sewa wajar
biaya sewa
permohon
an sewa) Tarif Pokok
Catatan: Sewa
Dlm hal nilai buku BMN yang diusulkan
untuk disewakan sampai dengan Pengguna dan
Permohon Rp500.000.000,00, perhitungan nilai Penyewa
an sewa wajar dan besaran Sewa BMN dilakukan menandatang
oleh Pengguna Barang dalam usulan ani perjanjian
Sewa Ya sewa
usula Penyewa mengamankan
Pengguna dan Pengguna n dan memelihara BMN
Penyewa melakukan Tdk perpa
menandatang pengecekan n- Pengguna/Pengelola
ani BAST BMN janga melakukan pengawasan
n? dan pengendalian
26
Disertai usulan besaran
sewa berupa formula
BAGAN ALIR UMUM
sewa hasil kajian SELAIN TANAH DAN/ATAU BANGUNAN
pengguna atau nilai
sewa
Pengguna Pengelola
Barang Barang
Pengelola Barang Pengelola Pengguna
menyampaika melkukan
melakukan penelitian atas menerbitkan menerbitkan
n usulan sewa penelitian
formula sewa yg diusulkan persetujuan keputusan
kepada atas
pengguna barang sewa sewa
Pengelola kelayakan
Barang penyewaan

Permohon Penyewa
an sewa membayar
biaya sewa

Pengguna dan
Penyewa
menandatang
ani perjanjian
Ya sewa
usula Penyewa mengamankan
Pengguna dan Pengguna n dan memelihara BMN
Penyewa melakukan Tdk perpa
menandatang pengecekan n- Pengguna/Pengelola
ani BAST BMN janga melakukan pengawasan
n? dan pengendalian
27
Aspek Optimalisasi
Biaya dan Manfaat Penilaian

BMN Sebagian Tanah dan/atau


Bangunan
Penilaian
Nilai
Nilai Buku
Buku Tidak perlu Penaksiran
sampai oleh
sampai dengan
dengan dilakukan
Pengguna
Rp500.000.000,- penilaian oleh
Rp500.000.000,- Penilai DJKN Barang dgn
Formula Tarif
Sewa

Syarat

1. Nilai Buku tercatat dlm Daftar/Laporan Barang


Pengguna/Kuasa Pengguna sepanjang nilai wajar
atas tanah tidak ada; atau
2. Indikasi nilai yg mencerminkan perkiraan nilai tanah
sepanjang nilai wajar dan nilai buku tidak ada.

28 28
Masa Sewa SESI 3

Paparan ini membahas secara umum


mengenai ketentuan atas hal-hal yang
berlangsung dan terjadi selama masa
pelaksanaan sewa barang milik negara.
Pembahasan dimulai dengan menceritakan
mengenai jangka waktu sewa, termasuk
mengenai periodesitas sewa dan
perpanjangan jangka waktu sewa.
Kemudian, dibahas dan didiskusikan
mengenai perjanjian sewa dan tatacara dan
mekanisme pembayaran sewa. Berikutnya,
dijelaskan mengenai penatausahaan atas
pelaksanaan sewa, baik pada Pengelola
Barang maupun pada Pengguna Barang.
Selanjutnya, dijelaskan mengenai
pengamanan dan pemeliharaan barang
milik negara yang disewakan, termasuk
kemungkinan terjadinya perubahan bentuk
selama masa sewa. Terakhir, dipaparkan
mengenai tatacara dan mekanisme
pengakhiran sewa.

29
JANGKA WAKTU SEWA
PERIODESITAS SEWA

JANGKA WAKTU SEWA: PERIODESITAS


Paling lama 5 (lima) tahun SEWA:
sejak ditandatanganinya perjanjian

PENETAPAN JK WAKTU
SEWA

Sebagian T/B Tanah/


Selain T/B bangunan

PERPANJANGAN SEWA
Per Tahun Per Bulan Per Hari Per Jam
3 (tiga) bulan 10 (sepuluh) hari - -
Sebelum berakhirnya jangka waktu sewa sebagaimana permohonan
sewa pertama kali
30
PERJANJIAN
SEWA BMN

Penyewaan BMN dituangkan dalam perjanjian sewa


menyewa:
ditandatangani oleh pihak penyewa dan dilakukan di kertas bermaterai cukup
sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan (UU 13 Tahun 1985 dan PP 42
Sebagian T/B Tanah/ Tahun 2000)
Selain T/B bangunan
Rp6.000,-
Pasal 12 PP42/2000

Salinan perjanjian sewa disampaikan kepada Pengelola Barang paling lambat 7 (tujuh) hari
kerja sejak ditandatangani.
Seluruh biaya yang timbul dalam rangka pembuatan perjanjian ditanggung oleh Penyewa.
Perjanjian sewa-menyewa paling kurang memuat:
dasar perjanjian;
para pihak yang terikat dalam perjanjian;
jenis, luas atau jumlah barang;
besaran sewa, dan jangka waktu, termasuk periodesitas sewa;
peruntukan sewa termasuk kelompok jenis kegiatan usaha dan kategori bentuk
kelembagaan penyewa
tanggung jawab penyewa atas biaya operasional dan pemeliharaan selama jangka waktu
penyewaan;
hak dan kewajiban para pihak; dan
hal lain yang diatur dalam persetujuan Pengelola Barang dan keputusan Pengguna Barang.
31
PEMBAYARAN SEWA
SEWA BMN

32
PENGAMANAN DAN
PEMELIHARAAN
SEWA BMN
PENGAMANAN
Penyewa wajib melakukan pengamanan atas BMN yang disewa, baik untuk
mencegah terjadinya penurunan fungsi barang, penurunan jumlah barang
maupun hilangnya barang.
Penyewa dilarang menggunakan BMN yang disewakan diluar peruntukan sewa.

PEMELIHARAAN
Penyewa wajib melakukan pemeliharaan atas BMN yang disewa untuk menjaga
kondisi dan memperbaiki barang agar selalu dalam keadaan baik dan siap
untuk digunakan secara berdaya guna dan berhasil guna, termasuk biaya yang
timbul dari pemakaian dan pemanfaatan BMN sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Penyewa wajib memperbaiki seluruh kerusakan yang terjadi atas BMN yang
disewakan yang terjadi selama masa sewa hingga kembali ke kondisi pada saat
awal sewa.
PERUBAHAN BENTUK
Selama masa sewa, pihak penyewa atas persetujuan Pengelola/Pengguna
Barang hanya dapat mengubah bentuk BMN tanpa mengubah konstruksi
dasar bangunan, dengan ketentuan bagian yang ditambahkan pada bangunan
tersebut menjadi BMN

33
PENATAUSAHAAN
SEWA BMN
Penatausahaan pelaksanaan sewa dilakukan oleh:
Sebagian T/B Tanah/
Selain T/B bangunan

Pengguna/Kuasa Pengguna Barang menyampaikan laporan


perkembangan pelaksanaan sewa BMN kepada Pengelola Barang
paling lambat 1 (satu) bulan sebelum perhitungan 1 (satu) tahun
sejak diterbitkannya persetujuan Sewa oleh Pengelola Barang.
Pengguna/Kuasa Pengguna Barang melaporkan berakhirnya
pelaksanaan sewa BMN kepada Pengelola Barang pada akhir masa
sewa dengan dilampiri BAST Barang.
Pengguna/Kuasa Pengguna Barang mengungkapkan informasi
mengenai BMN yang disewakan ke dalam Laporan Barang
Pengguna/Kuasa Pengguna, sesuai dengan kewenangannya.

34
PENGAKHIRAN
SEWA BMN

Penyewa wajib menyerahkan BMN pada saat berakhirnya sewa


dalam keadaan baik dan layak digunakan secara optimal sesuai
fungsi dan peruntukannya, dan dituangkan dalam BAST
Pengelola/Pengguna melakukan pengecekan BMN yang disewakan
sebelum BAST ditandatangani guna memastikan kelayakan kondisi
BMN
Penandatanganan BAST dilakukan setelah semua kewajiban
penyewa dipenuhi
35
Besaran Sewa SESI 4

Paparan ini membahas secara umum


mengenai besaran nilai sewa barang
milik negara. Pembahasan dimulai
dengan menceritakan mengenai
formula dasar tarif sewa beserta
komponennya berikut penggunaan dan
penetapannya. Kemudian, dijelaskan
mengenai tarif sewa pokok sewa baik
untuk tanah, bangunan, tanah dan
bangunan, dan selain tanah dan
bangunan. Selain itu, juga dibahas
mengenai pengenaan dan perhitungan
tarif sewa atas prasarana pada
bangunan yang disewakan.
Selanjutnya, dipaparkan mengenai
faktor penyesuai sewa dan diuraikan
satu persatu mulai dari bentuk
kelembagaan, jenis kegiatan usaha,
dan periodesitas sewa. Terakhir,
diuraikan mengenai perkecualian
perlakukan dalam menggunakan
formula tarif sewa.

36
BESARAN TARIF SEWA
FORMULA DASAR

TARIF DASAR SEWA:

TARIF TARIF FAKTOR


SEWA POKOK PENYESUAI
BMN SEWA BMN SEWA

PENETAPAN OLEH:
DIGUNAKAN OLEH:

Sebagian T/B Tanah/


Selain T/B bangunan Sebagian T/B dgn Tanah/bangunan
nilai buku < Rp500 Sebagian T/B dgn nilai
juta buku > Rp500 juta
Selain T/B Mengkaji usulan sewa
Surat
Perjanjia dari Pengguna
Keputusan persetuju ata n Sewa
Sewa an u

Perhitungan, pengajuan usulan, persetujuan, penetapan, perjanjian dan


pembayaran besaran tarif sewa menggunakan mata uang setempat
37
BESARAN TARIF SEWA
FORMULA DASAR

TARIF TARIF FAKTOR


SEWA POKOK PENYESUAI
BMN SEWA BMN SEWA

Jenis Kegiatan
Tarif Pokok Tarif Pokok Tarif Pokok Tarif Pokok Usaha
Sewa Sewa Prasarana Sewa Bisnis
Tanah Bangunan Bangunan Selain T/B Non-Bisnis
Faktor Sosial
Faktor Faktor Formula
variabel Bentuk
variabel variabel sewa
sewa Kelembagaan
sewa tanah prasarana ata
bangunan Kategori I
(3,33%) bangunan u
(6,64%)
Luas Nilai sewa
Dihitung
Luas tanah (6,64%) Kategori II
bangunan Luas dan
Nilai Kategori III
Nilai tanah bangunan ditetapkan
bangunan oleh Periodesitas
Pengguna
Tarif Pokok Sewa Tanah berkoordina Per Tahun
dan Bangunan si dgn Per Bulan
instansi Per Hari
Tarif Pokok Sewa T/B berikut Prasarana terkait Per Jam
NS = (3,33% x Lt x Nt) +(6,64% x Lb x
Nb) + (6,64% x Hp x Np)
38
PENGGUNAAN NILAI BMN
FORMULA TARIF SEWA BMN
Nilai tanah dan/atau bangunan merupakan nilai wajar atas tanah dan/atau
bangunan.
Penggunaan nilai dalam pengajuan usulan sewa BMN berupa tanah yang dilakukan
oleh Pengguna Barang:
Dapat menggunakan nilai buku yang tercatat dalam DBP/KP atau LBP/KP,
sepanjang nilai wajar atas tanah tidak ada; atau
Dapat digunakan indikasi nilai yang mencerminkan perkiraan nilai tanah,
sepanjang nilai wajar dan nilai buku tidak ada.
Penggunaan nilai dalam pengajuan usulan sewa BMN berupa bangunan yang
dilakukan oleh Pengguna Barang:
a. Dapat digunakan harga satuan bangunan, sepanjang nilai wajar atas bangunan
tidak ada;
b. Dapat digunakan nilai buku yang tercatat dalam DBP/KP atau LBP/KP, sepanjang
nilai wajar dan harga standar bangunan tidak ada; atau
c. Dapat digunakan indikasi nilai yang mencerminkan perkiraan nilai bangunan,
sepanjang nilai wajar, harga standar bangunan dan nilai buku tidak ada.
Penilaian dilaksanakan dengan estimasi paling rendah sebesar Nilai Jual Objek
Pajak (NJOP).
Pasal 39 PP Nomor 6 Tahun 2006

39
JENIS KEGIATAN USAHA
FAKTOR PENYESUAI SEWA

SOSIAL

BISNIS
Kegiatan yang tidak menarik imbalan atas
barang atau jasa yang diberikan dan/atau
Kegiatan yang tidak berorientasi mencari keuntungan, a/l:
berorientasi semata- -pelayanan kepentingan umum tanpa
mata mencari pungutan
keuntungan, seperti : -kegiatan sosial, keagamaan, kemanusiaan
perdagangan, jasa JENIS -kegiatan penunjang penyelenggaraan
KEGIATAN kegiatan pemerintahan/negara
USAHA -Kegiatan lain yang memenuhi kriteria
sosial
NON
BISNIS Kegiatan yang menarik imbalan atas barang atau jasa
yang diberikan namun tidak semata-mata mencari
keuntungan , a/l :
pelayanan kepentingan umum dgn pungutan
penyelenggaraan pendidikan nasional
upaya pemenuhan kebutuhan pegawai atau fasilitas
yang diperlukan dalam menunjang tusi
kegiatan lain yang memenuhi kriteria non bisnis 40
BENTUK KELEMBAGAAN
FAKTOR PENYESUAI SEWA
Kategori I Ruang lingkup Kategori
Ruang Lingkup
II
a. Swasta/ Perorangan
Perorangan Persekutuan Perdata a. Yayasan UU 16 /2001 jo. UU 28/2004
Persekutuan Firma
Persekutuan Komanditer b. Koperasi Koperasi primer (UU 25/1992)
Perseroan Terbatas Koperasi sekunder
Lembaga/organisasi internasional/asing
c. Lembaga Lembaga pendidikan anak usia
Pendidik dini formal
an Lembaga pendidikan dasar
Formal Lembaga pendidikan menengah
b. BUMN/D Badan Usaha Milik Negara Lembaga pendidikan tinggi
Badan Usaha Milik Daerah
d. Lembaga Lembaga kursus
c. Badan hukum Bank Indonesia Pendidik Lembaga pelatihan
milik negara Lembaga Penjamin Simpanan an Non Kelompok belajar
Badan hukum yang dimiliki negara
Badan hukum internasional asing Formal Pusat kegiatan belajar

masyarakat
d. Lembaga pen- Lembaga pendidikan asing yang Majelis taklim
didikan asing menyelenggarakan pendidikan di Indonesia Satuan pendidikan yang sejenis

Kategori III Ruang Lingkup

a. Lembaga Sosial
Termasuk lembaga internasional/asing yang
b. Lembaga Kemanusiaan menyelenggarakan kegiatan sosial, kemanusiaan
dan/atau keagamaan di Indonesia
c. Lembaga Keagamaan
d. Unit Penunjang Kegiatan Persatuan/perhimpunan PNS/TNI/POLRI
Penyelenggaraan Negara Persatuan/perhimpunan istri PNS/TNI/POLRI
Unit penunjang lainnya 41
BESARAN
FAKTOR PENYESUAI SEWA

NON
BISNIS SOSIAL
Kategori BISNIS
(A) (C) 100
(B)
%
TAH
I 100% 50% 10% UN

190 130
II 100% 40% 5% % %
BUL
JAM
AN
III 100% 30% 5%
PERIODES
ITAS
160
%
HAR
HAR
I

42
PERKECUALIAN
FORMULA TARIF SEWA
Sepanjang terdapat usulan nilai sewa yang diajukan oleh calon penyewa dan/atau
Pengguna Barang dan nilai usulan tersebut lebih besar dari hasil perhitungan
sebagaimana dimaksud pada ayat (6), besaran Sewa yang dicantumkan dalam
surat persetujuan Sewa untuk BMN berupa sebagian tanah dan/atau bangunan
adalah sebesar usulan besara
BMN pada Pengelola Barang:
Pengelola Barang dapat menugaskan Penilai untuk melakukan Penilaian guna
menghitung nilai wajar atas nilai Sewa pasar dalam hal Pengelola Barang
memiliki keyakinan bahwa nilai wajar BMN tidak dapat digunakan untuk
menentukan besaran nilai sewa yang wajar.
BMN pada Pengguna Barang:
Pengelola Barang dapat menugaskan Penilai untuk melakukan Penilaian guna
menghitung nilai wajar atas nilai Sewa pasar dalam hal Pengelola Barang
memiliki keyakinan yang memadai bahwa:
Luas tanah dan/atau bangunan yang disewakan tidak mencerminkan kondisi
peruntukan sewa; atau
Estimasi perhitungan tarif dasar sewa dengan menggunakan formula sewa
dianggap sangat jauh berbeda dengan kondisi pasar.
Hasil penilaian berupa nilai wajar atas nilai Sewa pasar dimaksud diperlakukan
sebagai tarif pokok Sewa dalam penghitungan besaran Sewa.

43
Pengawasan Pengendalian SESI 5

Paparan ini membahas


mengenai pembinaan,
pengawasan, dan
pembinaan yang
dilakukan oleh
Pengelola Barang dan
Pengguna Barang atas
pelaksanaan
sewa/perjanjian sewa
Barang Milik Negara.

44
PENGAWASAN DAN
PENGENDALIAN
SEWA BMN

PEMBINAAN & PENGAWASAN


Pengelola Barang melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Pengguna
Barang/Kuasa Pengguna Barang atas pelaksanaan Sewa BMN
Pengguna Barang melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Kuasa
Pengguna Barang yang berada di wilayah kerjanya atas pelaksanaan Sewa BMN
Pengelola Barang/Pengguna Barang dapat meminta bantuan aparat pengawas
fungsional dalam melakukan pembinaan dan pengawasan
Pengelola Barang/Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan perjanjian Sewa BMN yang berada di bawah
penguasaannya masing-masing sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani
Pengelola Barang/Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang menerbitkan surat
peringatan/teguran kepada penyewa atas dilakukannya pelanggaran terhadap
perjanjian Sewa dan ketentuan peraturan perundang-undangan
Pengelola Barang/Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang dapat
menghentikan kegiatan Sewa apabila surat peringatan/teguran tersebut tidak
diindahkan oleh Penyewa
Pengelola Barang/Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang dapat meminta
bantuan aparat pengawas fungsional dalam melakukan pengawasan
45
PENGAWASAN DAN
PENGENDALIAN
SEWA BMN

PENGENDALIAN
Pengelola Barang melakukan evaluasi secara berkala atas besaran tarif
Sewa setiap tahun berdasarkan laporan perkembangan pelaksanaan Sewa
dari Pengguna Barang
Pelaksanaan evaluasi besaran tarif Sewa dilakukan untuk periodesitas Sewa
per jam, per hari, atau per bulan
Hasil pelaksanaan evaluasi penghitungan besaran tarif Sewa dimaksud
ditetapkan oleh Pengguna Barang berdasarkan surat Pengelola Barang
Dalam rangka pengendalian pelaksanaan Sewa BMN, Pengelola Barang
berwenang melakukan pemantauan dan investigasi atas pelaksanaan Sewa
BMN pada Pengguna Barang/Kuasa Pengguna Barang, dalam rangka
penertiban pemanfaatan BMN sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan
Sebagai tindak lanjut dari pemantauan dan investigasi dimaksud, Pengelola
Barang dapat meminta aparat pengawas fungsional untuk melakukan audit
atas pelaksanaan Sewa BMN
Hasil audit dimaksud disampaikan kepada Pengelola Barang untuk
ditindaklanjuti sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
46
GANTI RUGI DAN DENDA
SEWA BMN
GANTI RUGI
BMN selain tanah dan/atau bangunan yang disewakan hilang selama jangka waktu
Sewa, penyewa wajib mengganti barang yang disewakan dengan barang yang sejenis
Kecuali hilang karena force majeur
Pembayaran ganti rugi dapat dilakukan secara tunai dalam hal penggantian dengan
barang sejenis tidak dapat dilakukan
DENDA
Penyewa dikenakan sanksi administratif berupa surat teguran dalam hal:
penyewa belum menyerahkan BMN yang disewakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18
ayat (1);
perbaikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (4) belum dilakukan atau diperkirakan
belum selesai dilaksanakan paling lambat sebelum berakhirnya jangka waktu Sewa; dan/atau
penggantian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) belum dilakukan atau diperkirakan
belum selesai dilaksanakan paling lambat sebelum berakhirnya jangka waktu Sewa.
Dalam hal penyerahan, perbaikan, dan/atau penggantian BMN belum dilakukan
terhitung 1 (satu) bulan sejak diterbitkannya surat teguran sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), penyewa dikenakan sanksi administratif berupa surat peringatan.
Dalam hal penyerahan, perbaikan, dan/atau penggantian BMN belum dilakukan
terhitung 1 (bulan) sejak diterbitkannya surat peringatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (2), penyewa dikenakan sanksi administratif berupa denda.

47
KETENTUAN LAIN-LAIN
SEWA BMN

Rumah negara golongan I dan golongan II yang disewakan kepada


pejabat negara/ pegawai negeri, pelaksanaannya berpedoman
pada ketentuan yang mengatur mengenai rumah negara.
Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor
373/KPTS/2001 Tentang Sewa Rumah Negara
Besaran tarif sewa BMN di lingkungan Tentara Nasional Indonesia
berpedoman pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor
23/PMK.06/2010 tentang Penataan Pemanfaatan Barang Milik
Negara di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia dan
perubahannya Nomor 207/PMK.06/2010.

48
49 49
Pinjam Pakai:
penyerahan penggunaan BMN antara
Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah
dalam jangka waktu tertentu tanpa menerima
imbalan dan setelah jangka waktu berakhir,
BMN diserahkan kembali kepada Pemerintah
Pusat.

50 50
Optimalisasi BMN yg belum/tidak dipergunakan
Optimalisasi dalam pelaksanaan tupoksi penyelenggaraan
pemerintahan pusat.

Menunjang pelaksanaan
Penunjang penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.

51 51
1. Sebagian tanah/
bangunan yg status
Tanah/bangunan yang
penggunaannya ada pada berada pada Pengelola
Pengguna Barang;
Barang
2. Selain tanah/bangunan.

52
52
Pihak peminjam: Pemerintah Daerah.
BMN dalam kondisi belum atau tidak
digunakan Pengguna Barang atau Pengelola
Barang untuk tugas pokok dan fungsi.
Jangka waktu pinjam pakai paling lama 2
(tahun) dan dapat diperpanjang.
Dalam hal akan diperpanjang, permintaan
perpanjangan diajukan paling lambat 3 (tiga)
bulan sebelum berakhir.
53
53
Tanah dan/atau bangunan yang dipinjam
pakaikan, harus dipergunakan sesuai
perjanjian dan tidak diperkenankan
mengubah/menambah/mengurangi bentuk
bangunan.
Pemeliharaan dan biaya yang timbul selama
masa pinjam pakai,menjadi tanggungjawab
peminjam.
Setelah masa pinjam pakai berakhir,
peminjam harus mengembalikan Barang Milik
Negara yang dipinjam dalam kondisi sesuai
dengan perjanjian. 54
54
Prosedur Pinjam Pakai oleh Pengelola Barang
PEMERINTAH DAERAH PENGELOLA BARANG

PERMINTAAN PENGKAJIAN

PERESETUJUAN

PERJANJIAN PERJANJIAN

PELAKSANAAN PINJAM
PAKAI

PINJAM PENYERAHAN BMN


PAKAI KE PENGELOLA
BERAKHIR

55 55
Prosedur Pinjam Pakai oleh Pengguna Barang
PENGELOLA BARANG PENGGUNA BARANG PEMERINTAH DAERAH

PENGKAJIAN PERMOHONAN

PERSETUJUAN PERJANJIAN PERJANJIAN

PELAKSANAAN PINJAM
LAPORAN
PAKAI

PINJAM
PAKAI
BERAKHIR

PENYERAHAN BMN
KEMBALI

56 56
Dokumen Pendukung
Untuk sebagian tanah dan bangunan:

1. Usulan pinjam pakai yang memuat


pertimbangan yang mendasari diajukannya
permintaan.

2. Jenis dan spesifikasi barang.

3. Detil peruntukan dan jangka waktu pinjam


pakai.
57
57
Naskah Perjanjian memuat:

1. Subyek & obyek.

2. Jangka waktu peminjaman.

3. Hak & Kewajiban para pihak.

4. Persyaratan lain yg dianggap perlu.

58
58
59 59
Kerjasama Pemanfaatan adalah
pendayagunaan BMN oleh pihak lain
dalam jangka waktu tertentu dalam rangka
peningkatan Penerimaan Negara Bukan
Pajak (PNBP) dan sumber pembiayaan
lainnya.

60
60
Optimalisasi BMN yg belum/tidak
Optimalisasi dipergunakan dalam pelaksanaan tupoksi
penyelenggaraan pemerintahan.

PNBP Meningkatkan penerimaan


negara.

Mencegah penggunaan
Pengamanan tanpa didasarkan pada
ketentuan yg berlaku.

61
61
1. Sebagian tanah/
bangunan yg berlebih Tanah/bangunan
dari tanah/bangunan yg yang berada
digunakan Pengguna pada Pengelola
Barang utk pelaksanaan Barang
tupoksi;
2. Selain tanah/bangunan.

62
62
BUMN BUMD

Badan Hukum
Lainnya

63
63
KSP tidak mengubah status BMN.
Sarana dan prasarana yang menjadi bagian
dari pelaksanaan KSP adalah BMN sejak
pengadaannya.
Jangka waktu KSP paling lama 30 tahun
khusus infrastruktur 50 tahun dan dapat
diperpanjang.
Penerimaan Negara yang wajib disetorkan
mitra terdiri:
Kontribusi tetap.
Pembagian keuntungan hasil pendapatan
KSP. 64
64
Penghitungan nilai BMN dilakukan oleh
penilai yang ditugaskan Pengelola Barang.
Mitra KSP ditentukan melalui tender, kecuali
BMN yang bersifat khusus.
Seluruh biaya yang timbul dalam tahap
persiapan dan pelaksanaan KSP menjadi
beban Mitra KSP.
IMB harus atas nama Pemerintah RI.

65
65
Prosedur KSP Tanah/Bangunan pada Pengelola
Barang
PENGELOLA BARANG PIHAK KETIGA
PEMBENTUKAN TIM
PERJANJIAN
PENILAIAN

PELAKSANAAN KSP
PENETAPAN
KONTRIBUSI TETAP
DAN PEMBAGIAN
KEUNTUNGAN PERPANJANGAN

TENDER
KSP SELESAI
PENETAPAN
PELAKSANAAN KSP

PENYERAHAN
PERJANJIAN BMN KEMBALI

MONITORI
NG

66 66
Prosedur KSP Tanah/Bangunan pada Pengguna
Barang
PENGGUNA PENGELOLA PIHAK KETIGA
BARANG BARANG
PENGAJUAN USULAN PENGKAJIAN
PERJANJIAN

TENDER
PEMBENTUKAN TIM
PELAKSANAAN KSP
PENETAPAN
MITRA PENILAIAN
PERPANJANGAN
PERSETUJUAN
PERJANJIAN
KSP SELESAI
PENYERAHAN
BMN KE MITRA
PENYERAHAN
BMN KEMBALI

MONITORIN
G
MONITORIN
G

67 67
Prosedur KSP Selain Tanah/Bangunan
PENGGUNA PENGELOLA PIHAK KETIGA
BARANG BARANG
PENGAJUAN USULAN PENGKAJIAN PERJANJIAN

PEMBENTUKAN TIM
PERSETUJUAN
PELAKSANAAN
KSP
PENELITIAN,
PENGHITUNGAN
KONTRIBUSI TETAP DAN
PEMBAGIAN KEUNTUNGAN PERPANJANGAN

TENDER PENETAPAN
MITRA KSP SELESAI

PERJANJIAN
PENYERAHAN
PENYERAHAN BMN KE
BMN KEMBALI
MITRA

LAPORAN

MONITORI
NG

68 68
Dokumen Pendukung Permohonan KSP BMN:

Untuk sebagian tanah dan Untuk selain tanah dan


bangunan: bangunan:

1.Bukti kepemilikan; 1.Pertimbangan kerjasama


pemanfaatan;
2.Gambar lokasi;
2.Nilai perolehan;
3.Luas yang akan di KSP kan;
3.Fotocopy dokumen
4.Nilai
perolehan dan NJOP tanah
kepemilikan;
dan atau bangunan;
4.Kartu identitas barang;
5.Pertimbangan yang mendasari
usulan kerjasama pemanfaatan; 5.Jangka waktu kerjasama
pemanfaatan.
6.Jangka
waktu kerjasama
pemanfaatan.

69 69
Naskah Perjanjian KSP memuat:
1. Subyek & Obyek
2. Besaran kontribusi tetap & Pembagian
keuntungan
3. Hak & kewajiban
4. Jangka Waktu
5. Mekanisme pembayaran
6. Sanksi mis: denda

70 70
71 71
BGS adalah pemanfaatan tanah pemerintah pusat oleh pihak
lain dengan mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut
fasilitasnya, kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut
dalam jangka tertentu yang telah disepakati dan selanjutnya
diserahkan kembali kepada Pengelola Barang setelah jangka
waktu berakhir.

BSG adalah pemanfaatan tanah milik pemerintah pusat oleh


pihak lain dengan mendirikan bangunan dan/atau sarana berikut
fasilitasnya, kemudian diserahkan kepada Pengelola Barang
untuk kemudian didayagunakan oleh pihak lain tersebut dalam
jangka yang telah disepakati.

72
72
Mendukung
Dilakukan untuk menyediakan bangunan dan
Fungsi
fasilitasnya dalam rangka menyelenggarakan
Pelayanan
tugas pokok dan fungsi kementerian
negara/lembaga, yang dana pembangunannya
tidak tersedia dalam APBN.

73
73
1. Tanah yang berada pada
Pengelola Barang;
2. Tanah yang berada pada
Pengguna Barang (harus
diserahkan terlebih dahulu
kepada Pengelola barang).

74
74
BUMN BUMD

Badan Hukum
Lainnya

75
75
Selama masa pengoperasian BGS/BSG, Pengguna barang
harus dapat menggunakan langsung objek BGS/BSG untuk
menyelenggarakan tugas pokok dan fungsinya paling sedikit
10% dari luas objek BGS/BSG;
Jangka waktu BGS/BSG paling lama 30 tahun ;
Kewajiban Mitra BGS/BSG:
Membayar kontribusi ke Rekening Kas Umum Negara;
Tidak menjaminkan, menggadaikan dan/atau
memindahtangankan objek BGS/BSG;
Memelihara objek BGS/BSG.
Pemilihan mitra BGS/BSG dilakukan melalui tender dengan
peserta sekurang-kurangnya 5 (lima) peserta;
IMB harus atas nama Pemerintah RI.
76
76
Pembayaran kontribusi:
Pembayaran pertama dilakukan saat ditandatangani
perjanjian
Berikutnya paling lambat tgl 31Januari setiap tahunnya
Denda 1 (satu perseribu) per hari keterlambatan

Tunggakan selama masa pengoperasian 3 kali


berturut-turut, pengelola secara sepihak dpt
mengakhiri perjanjian
Pelaksanaan dituangkan bentuk perjanjian antara pengelola
dg mitra
Sebelum penyerahan dari mitra ke pengelola obyek
BGS/BSG di audit aparat pengawas fungsional
77
77
Dokumen Pendukung BGS & BSG:

1. Usulan BGS/BSG
2. Dokumen pendukung lokasi dan alamat
3. Status dan bukti kepemilikan
4. Luas
5. Harga perolehan/NJOP
6. Rencana pembangunan gedung yang
diinginkan

78
78
Prosedur BGS/BSG Tanah Yg Status
Penggunaan pd Pengguna Barang:

1. Pengguna menyerahkan tanah obyek


BGS/BSG ke pengelola
2. Disertai usulan BGS/BSG ke pengelola

79
79
TERIMA KASIH

DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA


KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

80