Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN PRAKTIK PEMAGANGAN PROFESI AKUNTANSI (P3A)

ANALISIS PERUBAHAN PERATURAN PERPAJAKAN TERHADAP KEMUDAHAN WAJIB PAJAK DALAM PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PAJAK
Disusun Sebagai Syarat dalam Pencapaian Derajat Pendidikan Profesi Akuntansi

Disusun oleh: Faozan El Mufid 12/343229/EE/06293

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA 2013

PERSETUJUAN

DOSEN PEMBIMBING

Laporan

Praktik

Kerja

Profesi

berjudul

ANALISIS

PERUBAHAN

PERATURAN PERPAJAKAN TERHADAP KEMUDAHAN WAJIB PAJAK DALAM PEMBAYARAN DAN PELAPORAN PAJAK yang disusun oleh: Nama NIM Prodi : FAOZAN EL MUFID : 12/343229/EE/06293 : Akuntansi

Dapat disetujui untuk laporan P3A Program Profesi Akuntansi FEB UGM.

Yogyakarta, 11 Juli 2013

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Sony Warsono, MAFIS., Ak.

Mukh Nurkholis, Ak., BKP, CA

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan magang dengan judul Analisis Perubahan Peraturan Perpajakan terhadap Kemudahan Wajib Pajak dalam Pembayaran dan Pelaporan Pajak ini dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, para sahabatnya, keluarganya dan umatnya sampai akhir zaman. Untuk mewujudkan Program Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM menjadi penyelenggara Program Pendidikan Profesi Akuntansi terkemuka, serta untuk menciptakan lulusan yang unggul dan profesional, maka diperlukan latihan penerapan ilmu pengetahuan yang didapat di bangku kuliah pada dunia nyata (kerja). Praktek Pemagangan Profesi Akuntansi merupakan wahana yang tepat guna mewujudkan cita-cita tersebut, disamping sebagai wahana pembelajaran dan pelatihan, P3A juga menjadi wahana untuk mendapatkan pelajaran dan pengalaman baru bagi mahasiswa sebelum benar-benar trjun ke dunia kerja sesungguhnya. Oleh karena itu, dengan dilaksanakannya program P3A diharapkan lulusan Program Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM menjadi lulusan yang berkualitas, unggul dan mampu menjadi solusi di dunia kerja. Penyusunan laporan magang ini telah melibatkan banyak orang dalam penyelesaiannya. Penulis banyak mendapat bantuan, motivasi, saran, dukungan bahkan kritik dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat: 1. Allah SWT atas semua berkah yang diberikan pada penulis sampai terselesainya program studi ini, 2. Bapak Drs. Sugiarto, M.Acc., MBA., Ak., CPA selaku Ketua Pengelola Program Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM, 3. Bapak Dr. Sony Warsono, MAFIS, Ak. selaku dosen pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktu untuk membantu membimbing, mengarahkan, memberi masukan dan mengoreksi penulisan dalam penyusunan laporan magang ini, 4. Bapak Mukh Nurkholis, Ak., BKP, CA selaku komisaris TaxHouse MitraNata yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk magang sekaligus sebagai dosen pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu untuk membantu membimbing, mengarahkan, memberi masukan dan mengoreksi penulisan dalam penyusunan laporan magang ini, 5. Mas Hersona Bangun, S.H., S.E., selaku pengawas pelatihan magang di TaxHouse MitraNata, 6. Mas Tunggoro Widiandaru, S.E., Ak. selaku penanggung jawab kegiatan magang, iii

7. Seluruh staf Program Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM yang telah membantu guna kelancaran penyusunan laporan magang ini, 8. Seluruh staf TaxHouse MitraNata yang telah membantu guna kelancaran penyusunan laporan magang ini, 9. Bapak dan Ibu dosen Program Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM yang telah dengan sabar membimbing dan mentransformasikan ilmunya kepada penulis, 10. Kedua orang tua penulis, Bapak Suhadi dan Ibu Siti Muntamah yang selalu membantu, mendoakan, mendorong dan mendukung penulis untuk terus menuntut ilmu, 11. Kakak dan adik penulis, Uma (dan Uda) dan Muna, yang selalu mendoakan, mendorong dan mendukung penulis untuk terus semangat dalam menyelesaikan laporan magang ini, 12. Keponakan-keponakan penulis, Yayan, Ega, Farel, Tandez, Tyo dan Odi, yang mendorong penulis untuk tetap bersemangat untuk menyelesaikan laporan magang ini secepatnya, 13. My lovely Madilto II, without you, I will never be able to finish this project, thanks for all the beautiful time you share with me, 14. Angga, Tasya, Hani, Harum, Dewi, Alen, Ruly, Tia, Rina, Ade, Irna, Betsi, nCis, Sahala dan Rere, yang terus memberi semangat, 15. Teman-teman di Program Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM yang saling menyemangati dalam penulisan laporan magang, tanpa kalian laporan magang ini akan lebih lama lagi selesai, 16. Semua pihak yang telah membantu penyusunan laporan magang ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan magang ini masih banyak terdapat kesalahan, sehingga segala saran dan kritik yang membangun dengan senang hati akan penulis terima sebagai masukan guna penyempurnaan penyusunan laporan magang ini lebih lanjut.

Yogyakarta, 08 Juli 2013

Penulis

iv

DAFTAR ISI

Hal HALAMAN JUDUL ....................................................................................... LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ................................... KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... DAFTAR TABEL ........................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... ABSTRAK BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1 1 3 3 4 5 5 6 6 7 7 8 9 11 12 14 15 15 15 15 15 i ii iii v vii viii

A. LATAR BELAKANG ................................................................................ B. PERUMUSAN MASALAH ....................................................................... C. TUJUAN LAPORAN ................................................................................. D. KEGUNAAN DAN MANFAAT MAGANG ............................................ BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................

A. PENGERTIAN PAJAK ............................................................................. B. FUNGSI PAJAK ........................................................................................ C. JENIS PAJAK ............................................................................................ D. ASAS-ASAS PEMUNGUTAN PAJAK .................................................... E. UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN NEGARA .................................... F. SISTEM PEMUNGUTAN PAJAK ........................................................... G. TARIF PAJAK ........................................................................................... H. WAJIB PAJAK DAN PENGUSAHA KENA PAJAK .............................. I. FAKTUR PAJAK ....................................................................................... J. SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK ...................................................... BAB III PEMBAHASAN ............................................................................ A. METODE KERJA ...................................................................................... 1. LOKASI ................................................................................................. 2. WAKTU ................................................................................................ 3. CARA KERJA .......................................................................................

B. PROFIL TAXHOUSE MITRANATA ....................................................... 1. VISI DAN MISI .................................................................................... 2. LAYANAN ............................................................................................ 3. STRUKTUR ORGANISASI ................................................................. C. RINGKASAN KEGIATAN DI TEMPAT MAGANG .............................. D. PENYELESAIAN MASALAH ................................................................. BAB IV SIMPULAN DAN SARAN .......................................................... A. SIMPULAN ................................................................................................ B. SARAN ...................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... LAMPIRAN ....................................................................................................

15 16 16 17 18 18 25 25 25 27 28

vi

DAFTAR TABEL

Hal
1. Tabel 1: Tarif PPh Pasal 4 (2) .................................................................. 2. Tabel 2: Tarif PPh pasal 17 untuk Wajib Pajak Orang Pribadi ............... 3. Tabel 3: Besar Penghasilan Tidak Kena Pajak per Januari 2013 .............

10 11 12

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Hal 1. Lampiran 1: Jurnal Kegiatan Magang ....................................................... 2. Lampiran 2: Contoh Kegiatan Pembuatan SPT dan SSP PPh Orang Pribadi ................................................................................... 3. Lampiran 3: Contoh Kegiatan Pembuatan Faktur Pajak dan SPT PPN .... 4. Lampiran 4: Kartu Bimbingan Laporan Praktik Pemagangan Profesi Akuntansi UGM .................................................................... 51 31 45 29

viii

ABSTRAK

Laporan magang ini bertujuan untuk mengetahui dampak penggantian jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak bagi Wajib Pajak orang pribadi, dampak adanya penggantian sistem penomoran faktur pajak bagi pengusaha kena pajak, dan dampak adanya penggantian sistem penyampaian SPT Masa PPN 1111. Hasil magang menunjukkan bahwa penggantian peraturan baru untuk PTKP berupa kenaikan PTKP diharapkan dapat membuat Wajib Pajak mulai sadar akan pentingnya untuk membayar pajak, karena kenaikan PTKP tersebut berarti pajak yang harus dibayarkan oleh Wajib Pajak relatif lebih kecil, penggantian peraturan baru untuk Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak diharapkan mampu mencegah timbulnya manipulasi Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak oleh PKP berupa penerbitan Faktur Pajak fiktif, selain itu juga diharapkan agar pengusaha yang belum menjadi PKP tidak lagi bisa menerbitkan Faktur Pajak, dan penggantian peraturan baru untuk penggunaan e-SPT diharapkan dapat membuat PKP lebih mudah dan cepat dalam pembuatan SPT, dan bagi Dirjen Pajak dapat melacak kebenaran Faktur Pajak PKP dengan lebih mudah dan cepat. Kata kunci: Penghasilan Tidak Kena Pajak, Faktur Pajak, SPT Masa PPN

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Kondisi perekonomian Indonesia saat ini dapat dikatakan masih jauh dari harapan, hal ini dikarenakan berbagai permasalahan yang dihadapi sekarang ini. Salah satu permasalahan yang ada adalah kesenjangan sosial antara masyarakat kalangan menengah atas dengan masyarakat kalangan bawah, karena ketidakmerataan yang diakibatkan oleh lambatnya

pertumbuhan perekonomian negara saat ini. Menteri Keuangan Agus Martowardojo memaparkan bahwa realisasi penerimaan pajak penghasilan pada tahun 2012 mencapai Rp464,7 triliun atau 90,3 persen dari target Rp513,7 triliun dan bea keluar mencapai Rp21,2 triliun atau 91,5 persen dari target Rp23,2 triliun. Penerimaan pajak pada tahun 2013 sangat bergantung pada kondisi perekonomian nasional. Sementara, perekonomian nasional banyak dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia. Perekonomian dunia pada awal tahun 2013 dinilai belum begitu baik. Dampak terhadap Indonesia yakni, ekspor yang tak hanya melambat tetapi sudah turun. Selain itu, penurunan juga terjadi pada impor. Kontribusi perpajakan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dalam lima tahun terakhir selalu di atas 70% dari total pendapatan negara. Demikian juga kontribusi penerimaan pajak tidak termasuk bea dan cukai meningkat setiap tahunnya. Dalam APBN 2013, pajak ditargetkan sebesar Rp1.042 triliun atau 68,2% dari total pendapatan negara. Walaupun dikoreksi sebesar Rp40 triliun dalam RAPBN-P 2013, target penerimaan pajak tetap menembus angka di atas seribu triliun. Ini berarti, untuk mencapai target tersebut, pajak harus tumbuh minimal 20%. Sementara itu, realisasi penerimaan pajak sampai dengan 15 Mei 2013 mencapai Rp312,67 triliun atau 30% dari target APBN 2013. Pertumbuhan penerimaan pajak hanya mencapai 4,35% dari target 20% lebih. Kondisi ini 1

merupakan lampu kuning untuk penerimaan pajak 2013 ini. Penyebab utama lambatnya pertumbuhan penerimaan pajak sampai saat ini adalah perlambatan ekonomi global yang mulai terasa sejak semester II 2012. Selama ini, permasalahan utama yang dihadapi Dirjen Pajak dalam menggali potensi pajak adalah kurangnya ketersediaan data eksternal. Walaupun sudah ada ketentuan bahwa setiap instansi pemerintah dan swasta wajib menyampaikan data atau informasi terkait perpajakan ke Dirjen Pajak, dalam implementasinya, hal ini masih ditemukan hambatan. Untuk itulah, pada level menteri seharusnya kondisi ini didiskusikan dan dicarikan solusinya. Karena, mau tidak mau, persoalan pajak menjadi tanggung jawab bersama. Dengan aliran data berlimpah, maka Dirjen Pajak dapat dengan mudah menjalankan program kerjanya. Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada yang menghasilkan para sarjana akuntansi, menyelenggarakan Program Pendidikan Profesi Akuntansi untuk menghasilkan para akuntan yang professional dalam bidangnya. Untuk itu, Program Pendidikan Profesi Akuntansi membuat sebuah kegiatan kurikuler berupa pemagangan profesi akuntansi. Pemagangan Profesi Akuntansi adalah kegiatan kurikuler yang diwajibkan bagi seluruh mahasiswa Program Pendidikan Profesi Akuntansi sebagai sarana pelatihan untuk mempersiapkan kesiapan mahasiswa sebelum terjun langsung dalam dunia pekerjaan sekaligus sebagai sarana mahasiswa untuk mengaplikasikan semua ilmu yang telah dipelajari selama di bangku perkuliahan. Pemagangan profesi akuntansi yang penulis lakukan berada di Kantor Konsultan Pajak di Yogyakarta. Kantor Konsultan Pajak penulis pilih karena penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang dunia perpajakan di Indonesia. Di sini, penulis mencoba untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah penulis peroleh di perkuliahan reguler, sambil belajar lebih lanjut tentang bagaimana kerja di dunia perpajakan, yaitu berupa peraturan tentang perpajakan yang terbaru, penghitungan pajak, pembayaran pajak, dan pelaporan pajak ke Kantor Pelayanan Pajak.

Setelah menjalani pemagangan di Kantor Konsultan Pajak, penulis menyadari bahwa terdapat beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam perpajakan. Meskipun begitu, pemerintah sudah berusaha untuk memberikan berbagai kemudahan kepada Wajib Pajak, sehingga Wajib Pajak dapat membayar pajaknya dengan benar. Untuk itu, pemerintah selalu membuat peraturan-peraturan baru, yang beberapa di antaranya dapat memudahkan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajibannya. Penulis tertarik untuk mengupas lebih lanjut tentang beberapa peraturan tersebut, dan mengambil judul Analisis Perubahan Peraturan Perpajakan terhadap Kemudahan Wajib Pajak dalam Pembayaran dan Pelaporan Pajak untuk laporan magang ini. B. PERUMUSAN MASALAH Dari latar belakang di atas, penulis mengambil beberapa pokok permasalahan sebagai berikut: 1. Apakah dampak penggantian jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi? 2. Apakah dampak penggantian sistem penomoran faktur pajak bagi Pengusaha Kena Pajak? 3. Apakah dampak penggantian sistem penyampaian SPT Masa PPN 1111? C. TUJUAN LAPORAN Adapun tujuan dari pembuatan laporan magang ini adalah: 1. Untuk mengetahui dampak adanya penggantian jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi. 2. Untuk mengetahui dampak adanya penggantian sistem penomoran faktur pajak bagi pengusaha kena pajak. 3. Untuk mengetahui dampak adanya penggantian sistem penyampaian SPT Masa PPN 1111.

D. KEGUNAAN DAN MANFAAT MAGANG Dengan adanya program pemagangan Program Profesi Akuntansi FEB UGM, diharapkan mahasiswa dapat memperoleh beberapa kompetensi yang digariskan oleh Program Profesi Akuntansi FEB UGM. Adapun garis besar kompetensi tersebut adalah sebagai berikut: 1. Kompetensi Profesional Kompetensi profesional merupakan kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan, seperti: pemahaman tugas, kecekatan bekerja, kreativitas bekerja, dan pengambilan keputusan. 2. Kompetensi Personal Kompetensi personal adalah kemampuan dalam hal sikap dan kepribadian meliputi: kejujuran, kedewasaan berpikir, tanggung jawab, kemandirian, disiplin dan antusiasme. 3. Kompetensi Sosial Kompetensi sosial menitikberatkan kepada kemampuan mahasiswa dalam berinteraksi dengan lingkungan kerja meliputi: kerja sama dan empati.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN PAJAK Pengertian pajak menurut Adriani yang diterjemahkan oleh R. Santoso Brotodiharjo (1991: 2) adalah sebagai berikut: Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung ditunjuk, yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintahan. Pengertian pajak berdasarkan Undang-undang Nomor 28 tahun 2007: Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sedangkan menurut Rochmat Soemitro dalam bukunya Dasar-dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan (1990: 5) menyatakan: Pajak adalah iuran kepada kas negara berdasarkan Undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Dari pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak, adalah sebagai berikut: 1. Pajak dipungut berdasarkan Undang-undang. Asas ini sesuai dengan perubahan ketiga UUD 1945 pasal 23A yang menyatakan "pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dalam Undang-undang." 2. Tidak mendapatkan jasa timbal balik (kontraprestasi perseorangan) yang dapat ditunjukkan secara langsung. Misalnya, orang yang taat membayar pajak kendaraan bermotor akan melalui jalan yang sama kualitasnya dengan orang yang tidak membayar pajak kendaraan bermotor.

3. Pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan umum pemerintah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin maupun pembangunan. 4. Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pajak dapat dipaksakan apabila Wajib Pajak tidak memenuhi kewajiban perpajakan dan dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. 5. Pajak juga berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan negara dalam lapangan ekonomi dan sosial (fungsi

mengatur/regulatif). B. FUNGSI PAJAK Sebagaimana unsur-unsur dari pengertian pajak di atas, terlihat adanya dua fungsi pajak yaitu: 1. Fungsi Penerimaan (budgeter) Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran-pengeluaran pemerintah. Sebagai contoh:

dimasukkannya pajak dalam APBN sebagai penerimaan dalam negeri. 2. Fungsi Mengatur (reguler) Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang sosial dan ekonomi. Sebagai contoh: dikenakannya pajak yang lebih tinggi terhadap minuman keras, atau pajak terhadap barang mewah. C. JENIS PAJAK Menurut pemungut dan pengelolanya, pajak dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok sebagai berikut: 1. Pajak pusat, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh: Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan dan perkebunan, dan Bea Materai. 2. Pajak daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah.

Contoh: pajak reklame, pajak hiburan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, Pajak Bumi dan Bangunan sektor perkotaan dan pedesaan. D. ASAS-ASAS PEMUNGUTAN PAJAK Asas-asas pemungutan pajak sebagaimana dikemukakan oleh Adam Smith dalam buku An Inquiry into the Nature and Cause of the Wealth of Nations menyatakan bahwa pemungutan pajak hendaknya didasarkan pada asas-asas berikut: 1. Equality Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu pajak dikenakan kepada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak (ability to pay) dan sesuai dengan manfaat yang diterima. Adil dalam pengertian bahwa setiap Wajib Pajak menyumbangkan uang untuk pengeluaran pemerintah sebanding dengan kepentingannya dan manfaat yang diminta. 2. Certainty Penetapan pajak itu tidak ditentukan sewenang-wenang. Untuk itu, Wajib Pajak harus mengetahui secara jelas dan pasti besarnya pajak yang terutang, kapan harus dibayar, serta batas waktu pembayaran. 3. Convenience Kapan Wajib Pajak itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai dengan saat-saat yang tidak menyulitkan Wajib Pajak. 4. Economy Secara ekonomi bahwa biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiban pajak bagi Wajib Pajak diharapkan seminimal mungkin, demikian pula beban yang ditanggung Wajib Pajak. E. UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN NEGARA Masalah perpajakan tidak boleh terlepas dari Undang-undang yang mengaturnya. Terdapat beberapa Undang-undang yang mengatur masalah perpajakan di Indonesia. Selain itu terdapat juga peraturan-peraturan lain yang mengatur masalah-masalah perpajakan yang lebih khusus. Berikut ini adalah

Undang-undang yang mengatur perpajakan negara, sekaligus perubahan terakhir dari Undang-undang tersebut: 1. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dengan perubahan terakhir Undang-undang Nomor 16 Tahun 2009 2. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan dengan perubahan terakhir Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 3. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah dengan perubahan terakhir Undang-undang Nomor 42 Tahun 2009 4. Undang-undang Nomor 10 tahun 1995 tentang Kepabeanan dengan perubahan terakhir Undang-undang Nomor 17 Tahun 2006 5. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai dengan perubahan terakhir Undang-undang Nomor 39 Tahun 2007 F. SISTEM PEMUNGUTAN PAJAK Pada dasarnya, sistem pemungutan pajak dibagi menjadi tiga seperti berikut ini: 1. Sistem Official Assessment Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang. Ciri-cirinya adalah wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang berada pada fiskus, Wajib Pajak bersifat pasif, dan utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus. 2. Sistem Self-Assessment Sistem ini merupakan sistem pemungutan yang digunakan di Indonesia, yaitu pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada Wajib Pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.

3. Sistem Withholding Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak. G. TARIF PAJAK Di Indonesia, tarif pajak yang digunakan cukup bervariasi, yaitu tarif pajak tetap, tarif pajak progresif, dan tarif pajak proporsional. Adapun beberapa tarif tersebut adalah sebagai berikut: 1. Tarif tetap Tarif tetap adalah tarif berupa jumlah yang tetap (sama besar) terhadap berapa pun jumlah yang menjadi dasar pengenaan pajak. Contoh: tarif bea materai, yaitu sebesar Rp3.000,00 dan Rp6.000,00. 2. Tarif proporsional Tarif proporsional adalah tarif pajak berupa persentase tetap terhadap jumlah berapapun yang menjadi dasar pengenaan pajak. Contoh: a. Tarif PPN: 1) 10%; atau 2) 0%, khusus PPN atas ekspor Barang Kena Pajak atau ekspor Barang Kena Pajak tidak berwujud atau ekspor Jasa Kena Pajak. b. Tarif PPh pasal 17 untuk Wajib Pajak badan: 1) Tarif PPh pasal 17 ayat 1 huruf b, yaitu untuk Wajib Pajak badan dengan peredaran usaha di atas atau sama dengan Rp50 miliar, sebesar 25%. 2) Tarif PPh pasal 17 ayat 2b, yaitu untuk Wajib Pajak badan dalam negeri yang berbentuk PT yang paling sedikit 40% jumlah keseluruhan saham yang disetor diperdagangkan di bursa efek di Indonesia dan memenuhi persyaratan lainnya, sebesar 20%. 3) Tarif PPh pasal 31E ayat 1 untuk Wajib Pajak badan dengan peredaran usaha di bawah Rp50 miliar, sebesar 12,5% untuk yang mendapat fasilitas, dan sisanya 25%.

10

c. Tarif PPh pasal 4 ayat 2: Tabel 1: Tarif PPh Pasal 4 (2) No. Jenis Penghasilan Tarif Dasar Pengenaan 1 Bunga Deposito, Tabungan, 20% Jumlah bruto penghasilan dan Diskonto SBI bunga/diskonto 2 Hadiah Undian 25% Jumlah bruto penghasilan harga pasar hadiah berupa barang/kenikmatan 3 Bunga Simpanan Anggota 10% Jumlah penghasilan bunga (di Koperasi atas Rp240.000) 4 Bunga/Diskonto Obligasi yang 20% Jumlah bruto penghasilan dijual di Bursa Efek bunga/diskonto 5 Penjualan Saham di bursa 0,10% Jumlah bruto nilai transaksi efek penjualan 0,50% Tambahan untuk penjualan saham pendiri 6 Penyalur/dealer/agen produk 0,30% Penjualan Premium/Solar/ Pertamina dan Premix Premix/Minyak Tanah/Gas LPG/Pelumas 7 - Penghalihan hak atas Tanah 5% Nilai tertinggi antara nilai dan/atau Bangunan, pengalihan dan Nilai Jual - Pengalihan Hak Tanah dan 1% Objek Pajak PBB Bangunan Rumah Sederhana dan Rusun Sederhana oleh Perusahaan Real Estat 8 Dividen diterima Wajib Pajak 10% Jumlah imbalan bruto orang pribadi 9 Persewaan Tanah dan/atau 10% Jumlah bruto nilai sewa Bangunan 10 Jasa Konstruksi - Pelaksana (kualifikasi usaha 2% Jumlah imbalan bruto kecil) - Pelaksana (kualifikasi usaha 3% Jumlah imbalan bruto menengah dan besar) - Pelaksana (tanpa kualifikasi 4% Jumlah imbalan bruto usaha) - Perencana dan Pengawas 4% Jumlah imbalan bruto (memiliki kualifikasi usaha) - Perencana dan Pengawas 6% Jumlah imbalan bruto (tanpa kualifikasi usaha)

11

d. Tarif PPh pasal 23: 1) 2% dari jumlah bruto atas sewa, jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan dan jasa lain. 2) 15% dari jumlah bruto atas dividen, bunga, royalti dan hadiah. 3. Tarif progresif Tarif progresif adalah tarif pajak yang persentasenya menjadi lebih besar apabila jumlah yang menjadi dasar pengenaannya semakin besar. Contoh: tarif PPh pasal 17 untuk Wajib Pajak orang pribadi: Tabel 2: Tarif PPh pasal 17 untuk Wajib Pajak Orang Pribadi Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif s.d. Rp50.000.000 5% Di atas Rp50.000.000 s.d. Rp250.000.000 15% Di atas Rp250.000.000 s.d. Rp500.000.000 25% Di atas Rp500.000.000 30% H. WAJIB PAJAK DAN PENGUSAHA KENA PAJAK Menurut Undang-undang Nomor 28 tahun 2007, Wajib Pajak adalah orang atau badan yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan. Sedangkan menurut Undang-undang Nomor 42 tahun 2009, Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenai pajak berdasarkan Undang-undang ini. Berdasarkan sistem self-assessment, setiap Wajib Pajak yang memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri untuk memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. Sedangkan pengusaha dengan penghasilan bruto dalam satu tahun pajak mencapai Rp600.000.000, wajib mengukuhkan diri sebagai Pengusaha Kena Pajak. Fungsi Nomor Pokok Wajib Pajak adalah sebagai sarana dalam administrasi perpajakan, tanda identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya, dan menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan pengawasan administrasi perpajakan. Sementara, fungsi

12

pengukuhan Pengusaha Kena Pajak adalah sebagai identitas Pengusaha Kena Pajak yang bersangkutan, dan sebagai pengawasan dalam melaksanakan hak dan kewajiban Pengusaha Kena Pajak di bidang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. Dalam melaporkan kewajibannya, Wajib Pajak memperoleh

keringanan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak. Adapun besar Penghasilan Tidak Kena Pajak per Januari 2013 dalam satu tahun pajak adalah sebagai berikut: Tabel 3: Besar Penghasilan Tidak Kena Pajak per Januari 2013 Keterangan PTKP Diri Wajib Pajak Rp 24.300.000 Tambahan untuk Wajib Pajak kawin Rp 2.025.000 Tambahan untuk setiap orang keluarga sedaran dan Rp 2.025.000 semenda dalam garis keturunan lurus, serta anak angkat yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling banyak 3 (tiga) orang untuk setiap keluarga Tambahan untuk seorang istri yang mempunyai Rp 24.300.000 penghasilan, yang harus digabung dengan penghasilan suami untuk penghitungan pajak I. FAKTUR PAJAK Menurut Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER - 24/PJ/2012, Faktur Pajak adalah bukti pungutan pajak yang dibuat oleh Pengusaha Kena Pajak yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak atau penyerahan Jasa Kena Pajak. Faktur Pajak harus dibuat pada: 1. saat penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak; 2. saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau sebelum penyerahan Jasa Kena Pajak; 3. saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap pekerjaan; 4. saat Pengusaha Kena Pajak rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendahara Pemerintah sebagai Pemungut Pajak Pertambahan Nilai; atau

13

5. saat lain yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Bentuk dan ukuran Faktur Pajak disesuaikan dengan kepentingan Pengusaha Kena Pajak, dan pengadaannya juga dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak. Faktur Pajak paling sedikit dibuat dalam 2 (dua) rangkap, yaitu untuk pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak, dan untuk arsip Pengusaha Kena Pajak yang menerbitkan Faktur Pajak. Dalam hal Faktur Pajak dibuat lebih dari yang ditetapkan, maka harus dinyatakan secara jelas peruntukannya dalam lembar Faktur Pajak yang bersangkutan. Faktur Pajak harus memuat keterangan tentang penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau penyerahan Jasa Kena Pajak yang paling sedikit mencantumkan: 1. nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak; 2. nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak; 3. jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga; 4. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut; 5. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut; 6. kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak; dan 7. nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak. Pengusaha Kena Pajak harus membuat Faktur Pajak dengan menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER - 24/PJ/2012. Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak terdiri dari 16 (enam belas) digit yaitu: 1. 2 (dua) digit Kode Transaksi; 2. 1 (satu) digit Kode Status; dan 3. 13 (tiga belas) digit Nomor Seri Faktur Pajak yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

14

J. SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK Dalam Undang-undang Nomor 28 tahun 2007, Surat Pemberitahuan adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Surat Pemberitahuan dibagi menjadi dua, yaitu Surat Pemberitahuan Masa yang merupakan Surat Pemberitahuan untuk suatu Masa Pajak, dan Surat Pemberitahuan Tahunan yang merupakan Surat Pemberitahuan untuk suatu Tahun Pajak atau Bagian Tahun Pajak. Fungsi Surat Pemberitahuan bagi Wajib Pajak adalah: 1. Bagi Pengusaha Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan berfungsi sebagai sarana melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah pajak yang sebenarnya terutang. 2. Bagi Pengusaha Kena Pajak Surat Pemberitahuan berfungsi sebagai sarana untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang sebenarnya terutang. 3. Bagi Pemotong atau Pemungut Pajak Surat Pemberitahuan berfungsi sebagai sarana melaporkan dan

mempertanggungjawabkan pajak yang dipotong atau dipungut dan disetorkannya. Bentuk Surat Pemberitahuan, baik Surat Pemberitahuan Masa maupun Surat Pemberitahuan Tahunan dapat berbentuk formulir kertas; atau e-SPT, yaitu data Surat Pemberitahuan Wajib Pajak dalam bentuk elektronik yang dibuat oleh Wajib Pajak dengan menggunakan aplikasi e-SPT yang disediakan oleh Dirjen Pajak.

BAB III PEMBAHASAN

A. METODE KERJA 1. LOKASI Pemagangan dilaksanakan di TaxHouse MitraNata yang terletak di Jl. Palagan Tentara Pelajar No. 77A, Yogyakarta. 2. WAKTU Pemagangan dilaksanakan selama 20 kali pertemuan dari pukul 09.00 sampai pukul 15.00 setiap hari Senin-Jumat, atau menyesuaikan jadwal kuliah penulis ketika penulis sedang kuliah. Pemagangan ini dilaksanakan dari tanggal 8 Mei 2013 sampai dengan tanggal 14 Juni 2013. 3. CARA KERJA Pemagangan ini dibagi menjadi beberapa tahapan. Selain perkenalan dan tes kemampuan pada awal pemagangan, dalam pemagangan ini, penulis masih tetap mendapatkan berbagai teori tentang perpajakan yang berupa pelatihan, dan mengerjakan beberapa permasalahan perpajakan seperti penghitungan PPh Orang Pribadi, penghitungan PPh Badan, penghitungan PPh Pasal 21, penghitungan PPN, pembuatan Faktur Pajak, pembuatan SPT, pembuatan SSP, pembayaran pajak yang terutang, dan pelaporan pajak ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sleman. Dalam mengerjakan beberapa permasalahan perpajakan tersebut, pihak TaxHouse MitraNata membagi pemagang dalam beberapa kelompok untuk mempermudah dan mempercepat proses pengerjaan. Sementara, pihak TaxHouse MitraNata selalu bersedia untuk dimintai pendapat dan bimbingan baik secara tatap muka, maupun lewat jaringan komunikasi seperti SMS atau e-mail. B. PROFIL TAXHOUSE MITRANATA TaxHouse MitraNata, merupakan sebuah perusahaan yang

menyediakan jasa akuntansi dan perpajakan. Jasa Akuntansi bertujuan untuk menyajikan laporan keuangan yang handal yang bermanfaat bagi pengambil

15

16

keputusan. Sedangkan Jasa Perpajakan memberikan jasa manajemen perpajakan yang memiliki integritas dan kapabilitas yang telah teruji dalam penanganan berbagai masalah perpajakan yang terjadi dalam dunia bisnis. Berbagai kasus akuntansi dan Perpajakan yang dihadapi menjadikan nilai tambah bagi kekuatan, kecerdasan dan tanggung jawab TaxHouse MitraNata dalam menyelesaikan suatu permasalahan terutama di bidang akuntansi dan perpajakan melalui jalur yang legal. Tidak hanya itu, sebagai wujud sikap kooperatif MitraNata terhadap peraturan maupun kebijakan pemerintah khususnya mengenai akuntansi dan perpajakan, MitraNata juga melakukan pembinaan akuntansi mengenai peraturan perpajakan terhadap para klien MitraNata dan masyarakat umum, menanamkan kesadaran bahwa akuntansi dan pajak bukan merupakan sebuah pilihan namun merupakan kewajiban perusahaan. Hal ini dilakukan sebagai langkah cadangan sehingga meminimalisir kesalahan persepsi maupun interpretasi terhadap pengertian aturan perpajakan dan standar akuntansi yang berlaku. 1. VISI DAN MISI Visi dari TaxHouse MitraNata adalah menjadi perusahaan di bidang akuntansi dan perpajakan yang terbesar dan terpercaya. Sedangkan misi dari TaxHouse MitraNata adalah: a. Membantu kemandirian perusahaan dalam mengelola informasi keuangan dan perpajakan, b. Mewujudkan kesetaraan hak dan kewajiban antara perusahaan dan pemerintah, c. Membantu menumbuhkan kesadaran dan kemandirian perpajakan masyarakat. 2. LAYANAN Layanan yang diberikan oleh TaxHouse MitraNata adalah: a. Accounting Service, yang berupa penyusunan atas laporan keuangan termasuk di dalamnya memilih kebijakan akuntansi yang sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan agar dapat menyajikan laporan

17

keuangan yang handal dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan bagi investor, kreditur, maupun pihak lain yang

membutuhkan informasi keuangan. b. Accounting Review, yang berupa review atas laporan keuangan dan analisis laporan keuangan untuk memberikan informasi mengenai kinerja perusahaan dan bagaimana meningkatkan kinerja perusahaan. c. Tax Service, yang berupa penyusunan laporan pajak bulanan dan tahunan berdasarkan transaksi yang terjadi dalam aktivitas usaha Wajib Pajak. Dalam jasa ini juga termasuk pembuatan surat-surat yang diperlukan dalam hal terdapat surat teguran/himbauan atau surat lainnya dari Kantor Pajak. d. Tax Review, yang berupa evaluasi/review atas kewajiban pajak yang telah dilakukan selama satu bulan/triwulan/setahun. e. Tax Consultant, yang berupa pemberian nasihat atau jawaban atas kasus-kasus yang menimpa Wajib Pajak selama menjalani aktivitas usahanya. f. Tax Planning, yang berupa penyusunan kebijakan pajak perusahaan untuk memberikan efek penghematan pajak yang ditanggung. g. Technical Assistance, yang berupa pendampingan segala kasus yang berkaitan dengan sengketa pajak atau pemeriksaan pajak. h. Financial Audit, yang mencakup proses audit atas laporan keuangan yang disusun oleh perusahaan apakah memenuhi kriteria wajar atau tidak wajar. Pernyataan opini akan dibuat oleh Kantor Akuntan Publik yang terdaftar. i. In house training, yang mencakup pelatihan akuntansi dan pajak yang dibutuhkan perusahaan. j. MitraNata Recruitment Centre, yang merupakan jasa perekrutan tenaga akuntansi yang memiliki kompetensi di bidang akuntansi dan pajak. 3. STRUKTUR ORGANISASI Adapun struktur organisasi dari TaxHouse MitraNata adalah: Komisaris : Mukh Nurkholis, Ak., BKP., CA

18

Direktur Utama Direktur Keuangan

: Hersona Bangun, SH., S.E. : Arif Nurman Hakim, S.E. : Jumiana, SE., Ak Ria Kurnia Dwi Jayanti, A.Md

Staf

: Fatmawati, SE., Ak Kamadie Sumanda Syafis, S.E. Elindia Swandari, S.E., M.Acc Andri Wibianto

C. RINGKASAN KEGIATAN DI TEMPAT MAGANG Pada tahap pertama, penulis melakukan perkenalan dengan beberapa staf TaxHouse MitraNata, sambil membahas tentang jadwal pemagangan yang akan penulis jalankan selama beberapa hari ke depan. Tahap kedua, penulis mengerjakan ujian awal untuk mengetahui sejauh apa pengetahuan penulis tentang perpajakan. Selanjutnya, penulis memperoleh beberapa materi tentang perpajakan untuk lebih memahami masalah perpajakan di Indonesia. Tahap berikutnya adalah pelatihan untuk mengerjakan beberapa permasalahan perpajakan. Dan tahap terakhir adalah mengerjakan permasalahan perpajakan pada beberapa perusahaan di Yogyakarta, dalam tahap ini pemagangan dibagi menjadi beberapa kelompok sehingga mempermudah dan mempercepat pengerjaannya. Selain itu, penulis juga belajar untuk melakukan pelaporan pajak ke Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sleman. Untuk ringkasan lebih lengkap dari kegiatan yang penulis lakukan, penulis melampirkan kegiatan tersebut di lampiran 1. D. PENYELESAIAN MASALAH Setelah melakukan pemagangan selama lebih dari satu bulan, ada banyak isu-isu yang muncul yang mengusik benak penulis. Beberapa dari isuisu tersebut akan penulis kupas satu per satu, yaitu isu tentang Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk Wajib Pajak Orang Pribadi, Faktur Pajak yang terbaru, dan e-SPT untuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

19

1. Dampak adanya penggantian jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak bagi Wajib Pajak Orang Pribadi. Seiring perkembangan perekonomian ekonomi makro Indonesia, dan mempertimbangkan perkembangan kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia setiap tahunnya sebagaimana di ukur dengan Upah Minimum Provinsi (UMP), besaran PTKP sudah selayaknya disesuaikan. Dalam Pasal 7 ayat (3) UU No. 36 Tahun 2008 dinyatakan: Penyesuaian besarnya PTKP ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan, setelah dikonsultasikan dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Mulai tanggal 01 Januari 2013, pemerintah menaikkan PTKP dari semula Rp15.840.000 menjadi Rp24.300.000. Kenaikan PTKP ini sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 162/PMK.011/2012 tentang Penyesuaian Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober 2012. Dengan kenaikan ini, berarti masyarakat Indonesia yang memiliki penghasilan di bawah Rp24.300.000 dalam satu tahun (atau Rp2.025.000 dalam satu bulan), tidak perlu membayar pajak. Apalagi jika mereka sudah memiliki keluarga, PTKP yang akan mereka peroleh akan semakin besar, dimana setiap tanggungan keluarga diberikan tambahan PTKP sebesar Rp2.025.000 setiap tahunnya. Dengan semakin bertambahnya PTKP tersebut, diharapkan bahwa masyarakat Indonesia semakin sadar akan kewajiban mereka untuk membayar pajak, karena dengan bertambahnya PTKP, hal itu berarti bahwa pajak yang harus mereka bayarkan kepada pemerintah relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan sebelum adanya kenaikan PTKP. Kenaikan PTKP juga diharapkan dapat meningkatkan daya beli konsumen, yang berdampak pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Hal tersebut disebabkan dengan kenaikan PTKP tersebut, take home pay Wajib Pajak akan semakin besar, karena seperti yang dipaparkan di atas, pajak yang dibayarkan oleh Wajib Pajak relatif lebih kecil. Dalam iklim dunia usaha, daya beli konsumen adalah kunci utama dalam pertumbuhan ekonomi. Pengeluaran konsumen yang lancar akan

20

berimbas pada kenaikan penjualan barang. Dan kenaikan penjualan barang berarti akan bertambahnya output manufaktur, sehingga pertumbuhan bisnis dan investasi akan tercapai. Dampak lain yang di harapkan dari peningkatan PTKP adalah peningkatan tabungan atau saving masyarakat. Sehingga dengan adanya kenaikan tabungan, maka akan berdampak pada investasi riil dengan pembiayaan perbankan. Dalam jangka panjang, hal tersebut diharapkan akan dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Meskipun begitu, kenaikan PTKP, ceteris paribus, akan berdampak pada penurunan penerimaan pajak, terutama PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 atas penghasilan karyawan, meskipun pemerintah tetap akan mendapat peningkatan pajak berupa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) jika dengan kenaikan PTKP tersebut tingkat konsumsi masyarakat juga meningkat. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan telah memproyeksikan short fall (kekurangan) penerimaan atas penetapan PTKP tersebut, yaitu sekitar Rp13,3 triliun. Tetapi, pengaruh terhadap penurunan penerimaan PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25/29 Orang Pribadi tersebut hanya bersifat sementara, yaitu hanya terjadi dalam kurun waktu 1-2 tahun, dan selanjutnya akan mengalami pertumbuhan normal kembali. Hal ini dikarenakan ke depan, penghasilan masyarakat tentu juga akan mengalami peningkatan, seiring dengan peningkatan ekonomi Indonesia. 2. Dampak adanya penggantian sistem penomoran faktur pajak bagi pengusaha kena pajak. Seperti yang sudah dipaparkan dalam tinjauan pustaka, Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor: PER - 24/PJ/2012 tentang Bentuk, Ukuran, Tata Cara Pembetulan atau Penggantian dan Pembatalan Faktur Pajak. Penerapan peraturan tersebut, karena banyak Nomor Seri Faktur Pajak ganda yang dikeluarkan Pengusaha Kena Pajak (PKP). Peraturan tersebut sebenarnya sudah keluar sejak tahun 2012, tapi karena perlu persiapan, maka peraturan tersebut baru dilaksanakan mulai tanggal 1

21

April 2013. Persiapan itu berupa sosialisasi kepada PKP sebagai pemungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan petugas pajak. Berbeda dengan sebelumnya, Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak diatur sedemikian sehingga setiap PKP akan mendapatkan Nomor Seri Faktur Pajaknya masing-masing. Jika sebelumnya 10 Nomor Seri Faktur Pajak yang digunakan biasanya terdiri dari 2 digit pertama adalah tahun penerbitan dan 8 digit berikutnya adalah nomor urut yang dimulai dari nomor 00000001 dan seterusnya sebanyak kegiatan transaksi penjualan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) dari PKP. Namun sekarang, 8 digit terakhir dari Nomor Seri Faktur Pajak tersebut sudah ditentukan oleh Dirjen Pajak, dan setiap PKP harus mengajukan surat permohonan untuk mendapatkan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak tersebut untuk mendapatkan password aktivasi Faktur Pajak PPN. Untuk memudahkan pengecekan bila terjadi nomor seri yang sama pada perusahaan yang berbeda, maka pengaturan dalam

menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak didukung oleh sistem informasi teknologi. Selain itu, Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak akan diberikan kepada PKP sesuai dengan permintaan sebanyak 120 persen dari jumlah faktur pajak yang diterbitkan 3 bulan terkahir berturut turut. Seandainya Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak mereka akan habis, PKP bisa meminta kembali dengan mengajukan permohonan kode aktivasi, selanjutnya Dirjen Pajak akan memberikan password untuk kode aktivasi tersebut melalui email dalam tiga hari. Dalam rangka pembenahan administrasi PPN, Dirjen Pajak telah mencabut 400.000 status PKP. Pencabutan tersebut salah satunya adalah dengan menerapkan registrasi ulang PKP. Setelah dilakukan registrasi ulang terbukti beberapa PKP tidak memiliki kegiatan, tidak ada pengurus, dan alamat perusahaannya tidak jelas. Pembenahan administrasi PPN terhadap PKP tersebut disebabkan penerimaan PPN di tahun 2011 dan sebelumnya tidak optimal, hanya berkisar 98 persen. Bahkan antara PPN dan GDP Indonesia perbandingannya hanya 67 persen, padahal di negara

22

OECD (Organization Economic Cooperation Development ) mencapai 11 persen. Selain itu, terdapat beberapa kasus dimana beberapa PKP memalsu Kode dan Nomor Seri Pajak untuk mendapatkan restitusi pajak, yaitu dengan memperbesar Pajak Masukan dibandingkan dengan Pajak Keluaran mereka. Dengan diberlakukannya peraturan tersebut, diharapkan tidak ada lagi kasus-kasus Nomor Seri Faktur Pajak palsu, yang biasanya dibuat oleh beberapa oknum PKP. Selain itu dengan adanya surat permohonan untuk mendapatkan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak tersebut, pengusaha yang belum menjadi PKP tidak akan bisa membuat Faktur Pajak. 3. Dampak adanya penggantian sistem penyampaian SPT Masa PPN 1111. PPN pada dasarnya dikenakan pada setiap proses produksi BKP maupun JKP, mulai pembelian bahan baku hingga penjualan. Mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN dibebankan pada penjual yang disebut sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP). Penjual menerbitkan Faktur Pajak, disebut sebagai Pajak Keluaran (PK), dan dikreditkan oleh pembeli sebagai Pajak Masukan (PM). PKP akan menyetorkan PPN dari Pajak Keluarannya sekaligus merestitusikan Pajak Masukannya. Dengan mekanisme ini, pajak yang dipungut oleh Negara adalah sebesar PK dikurangi PM, dan jika PM lebih besar dibandingkan dengan PK, maka PKP berhak untuk mendapatkan restitusi atas kelebihan tersebut. Dalam Undang-Undang Nomor 42/2009 tentang PPN, pada pasal 16F dinyatakan bahwa pembeli Barang Kena Pajak dan penerima Jasa Kena Pajak bertanggung jawab secara renteng atas pembayaran pajak jika tidak bisa menunjukkan bukti pajak telah dibayar. Dengan adanya tanggung jawab renteng ini, penerbit maupun pengguna faktur pajak harus berhati-hati dalam setiap transaksinya. Sesuai dengan prinsip beban pembayaran pajak untuk Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah adalah pada pembeli atau konsumen barang atau penerima jasa. Oleh karena itu sudah seharusnya apabila

23

pembeli atau konsumen barang dan penerima jasa bertanggung jawab renteng atas pembayaran pajak yang terutang apabila ternyata bahwa pajak yang terutang tersebut tidak dapat ditagih kepada penjual atau pemberi jasa dan pembeli atau penerima jasa tidak dapat menunjukkan bukti telah melakukan pembayaran pajak kepada penjual atau pemberi jasa. Dalam mempertanggungjawabkan perhitungan jumlah PPN yang sebenarnya terutang, maka PKP harus menyampaikan Surat

Pemberitahuan (SPT) ke Kantor Pelayanan Pajak tempat PKP terdaftar. Selain itu, SPT digunakan untuk melaporkan pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran, dan melaporkan pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan oleh PKP dan atau melalui pihak lain dalam satu Masa Pajak. SPT dapat disampaikan langsung ke Kantor Pelayanan Pajak, atau melalui Kantor Pos dengan pos tercatat. Jika PKP menyampaikan SPT melalui Kantor Pos, maka tanda bukti dari Kantor Pos dianggap sebagai tanda bukti dan tanggal penerimaan SPT, sepanjang SPT tersebut telah lengkap. Berdasarkan Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE 17/PJ/2013, terdapat peraturan yang mengatur penyampaian SPT Pajak Pertambahan Nilai dengan menggunakan e-SPT. Kewajiban penggunaan e-SPT tersebut adalah untuk: a. Setiap Pengusaha Kena Pajak badan, dan b. Pengusaha Kena Pajak orang pribadi yang: 1) melaporkan lebih dari 25 (dua puluh lima) dokumen (Faktur Pajak/dokumen tertentu yang kedudukannya dipersamakan dengan Faktur Pajak dan/atau Nota Retur/Nota Pembatalan) pada salah satu Lampiran SPT dalam 1 (satu) Masa Pajak; atau 2) jumlah seluruh penyerahan barang dan jasanya dalam 1 (satu) Masa Pajak Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah) atau lebih. Dengan adanya surat edaran tersebut, diharapkan PKP akan lebih mudah dalam membuat dan melaporkan pajak mereka, karena semuanya sudah dikomputerisasi dengan aplikasi e-SPT yang telah disediakan oleh

24

Direktorat Jenderal Pajak, sehingga setiap aturan dalam kode-kode Faktur Pajak akan dapat lebih mudah diterapkan oleh PKP. Selain itu, perhitungan dari jumlah Pajak Masukan dan Pajak Keluaran serta selisih dari Pajak Masukan dan Pajak Keluaran akan secara otomatis dihitung oleh aplikasi. Hal tersebut selain membuat pembuatan SPT menjadi lebih mudah, juga akan menjadi lebih cepat. Sementara untuk Induk SPT Masa PPN 1111 yang tetap disampaikan dalam bentuk formulir kertas (hard copy), dapat dicetak dari aplikasi e-SPT tersebut. Dengan penggunaan e-SPT, Dirjen Pajak juga akan lebih mudah dalam melacak Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak yang digunakan oleh PKP. Aplikasi e-SPT yang digunakan oleh PKP adalah aplikasi yang dibuat oleh Dirjen Pajak, sehingga setiap PKP akan menggunakan aplikasi yang sama. Dengan begitu, Dirjen Pajak dapat melacak Pajak Masukan dengan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak tertentu dibandingkan dengan Pajak Keluaran dengan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak yang sama. Jika Pajak Masukan dan Pajak Keluaran memiliki Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak tersebut, maka Faktur Pajak yang dimasukkan sudah benar, tetapi jika salah satu tidak ada, maka Dirjen Pajak dapat mengetahui bahwa salah satu dari Faktur Pajak tersebut tidak benar, atau salah satu dari PKP belum membayar kewajiban pajaknya. Hal tersebut, akan dapat dilakukan dengan mudah dan cepat menggunakan Teknologi Informasi, dalam hal ini setelah PKP menggunakan e-SPT.

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN Dari pemaparan yang sudah penulis sampaikan di atas, penulis mengambil simpulan sebagai berikut: 1. Penggantian peraturan baru untuk PTKP berupa kenaikan PTKP diharapkan dapat membuat Wajib Pajak mulai sadar akan pentingnya untuk membayar pajak, karena kenaikan PTKP tersebut berarti pajak yang harus dibayarkan oleh Wajib Pajak relatif lebih kecil. 2. Penggantian peraturan baru untuk Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak diharapkan mampu mencegah timbulnya manipulasi Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak oleh PKP berupa penerbitan Faktur Pajak fiktif, selain itu juga diharapkan agar pengusaha yang belum menjadi PKP tidak lagi bisa menerbitkan Faktur Pajak. 3. Penggantian peraturan baru untuk penggunaan e-SPT diharapkan dapat membuat PKP lebih mudah dan cepat dalam pembuatan SPT. Selain itu, penggunaan e-SPT juga dapat mempermudah Dirjen Pajak untuk melacak Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak yang digunakan oleh PKP. B. SARAN Adapun saran-saran yang bisa penulis sampaikan setelah melakukan pemagangan dan membuat laporan magang, serta menelaah isu-isu yang ada adalah: 1. Meskipun terdapat kenaikan PTKP, tetapi sebaiknya pemerintah juga mempertimbangkan adanya kenaikan upah yang dituntut oleh masyarakat (buruh), sehingga kenaikan PTKP tersebut tetap dapat membuat Wajib Pajak lebih sadar untuk membayar pajak. 2. Sebaiknya adanya peraturan untuk Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak yang baru benar-benar disosialisasikan dengan baik, karena selama

25

26

pemagangan penulis masih mendapati beberapa perusahaan yang belum menggunakan Kode dan Nomor Seri Faktur Pajak yang baru. 3. Perlu adanya pelatihan khusus dalam penggunaan e-SPT, sehingga PKP tidak bingung dalam menjalankan aplikasi e-SPT tersebut, dan aplikasi tesebut benar-benar membantu PKP dalam membuat dan menghitung SPT mereka. Selain itu, sedikit masalah ketika PKP harus mencetak e-SPT menjadi SPT formulir kertas (hard copy) harus mulai diperbaiki untuk aplikasi e-SPT selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org http://www.investor.co.id http://www.ortax.org http://www.pajak.go.id Pendidikan Profesi Akuntansi FEB UGM. 2011. Panduan Praktek Pemagangan Profesi Akuntansi. Yogyakarta: P3A FEB UGM. Penelitian dan Pelatihan Ekonomika dan Bisnis FEB UGM. 2013. Modul Short Course Perpajakan Brevet A dan B. Yogyakarta: P2EB FEB UGM. TaxHouse MitraNata. 2013. Modul 1 Pelatihan Pajak Aplikatif Brevet A dan B. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pelatihan Pajak TaxHouse MitraNata. _______. 2013. Modul 2 Pelatihan Pajak Aplikatif Brevet A dan B. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pelatihan Pajak TaxHouse MitraNata. Waluyo, Dr., M.Sc., Ak. 2011. Perpajakan Indonesia Edisi 10 Buku 1. Jakarta: Salemba Empat.

27

LAMPIRAN

28

29

Lampiran 1: Jurnal Kegiatan Magang

No. Tanggal Jam Kegiatan 1 10 Mei 2013 09.00-12.00 Pemahaman Materi tentang proses magang dan gambaran umum tentang TaxHouse MitraNata 2 13 Mei 2013 09.00-15.00 Pretest, pembahasan dan pemberian tugas untuk mencari daftar alamat perusahaan3 14 Mei 2013 09.00-15.00 Penjelasan materi PPN dan latihan pembuatan Faktur Pajak Afafa Batik 4 15 Mei 2013 09.00-15.00 Penyelesaian pembuatan Faktur Pajak PT Powercon dan PT Daya Gagas Komunika 5 16 Mei 2013 09.00-18.00 Penyelesaian pembuatan Faktur Pajak PT Powercon dan PT Daya Gagas Komunika, dan latihan pembuatan SPT PPh Badan BPR 6 17 Mei 2013 09.00-18.00 Penjelasan materi PPh Orang Pribadi dan penyelesaian pembuatan SPT PPh Badan BPR 7 20 Mei 2013 09.00-15.00 Latihan pengerjaan PPh OP Adi Anggarwijaya, Fatma, Gery Sukamta, Desi Marsadianti, Hendra Gusrizal, Amaulina Pohan dan M. Yusuf dan mencari daftar alamat perusahaan8 21 Mei 2013 09.00-15.00 Pratik pelaporan pajak ke KPP Pratama Sleman dan Pengerjaan latihan pembuatan SPT 9 22 Mei 2013 09.00-15.00 Lanjutan pengerjaan PPh OP Adi Anggarwijaya, Fatma, Gery Sukamta, Desi Marsadianti, Hendra Gusrizal, Amaulina Pohan 10 23 Mei 2013 09.00-15.00 Lanjutan pengerjaan PPh OP Adi Anggarwijaya, Fatma, Gery Sukamta, Desi Marsadianti, Hendra Gusrizal, Amaulina Pohan 11 24 Mei 2013 09.00-15.00 Penyelesaian pengerjaan PPh OP Adi Anggarwijaya, Fatma, Gery Sukamta, Desi Marsadianti, Hendra Gusrizal, Amaulina Pohan 12 27 Mei 2013 09.00-15.00 Penjelasan materi PPh 21 dan latihan pengerjaan PPh 21 Budi, Cantika, Deni, dan 13 03 Juni 2013 09.00-15.00 Latihan dan penyelesaian pengerjaan PPh 21 Budi, Cantika, Deni, dan Edo 14 04 Juni 2013 09.00-15.00 Penjelasan materi PPh Badan dan pengerjaan PPh Badan Perusahaan Kreta Product 15 05 Juni 2013 09.00-15.00 Penyelesaian dan penyusunan SPT Tahunan PPh Badan Perusahaan Kreta Product 16 07 Juni 2013 09.00-15.00 Pengerjaan tugas PPh Badan dan penyusunan SPT Tahunan PPh Badan Perusahaan PT Sinar

30

17 10 Juni 2013 09.00-15.00 Diskusi kasus dan pengerjaan kasus PPN Perusahaan CV Mitra Prima Utama 18 11 Juni 2013 09.00-15.00 Penyelesaian kasus PPN Perusahaan CV Mitra Prima Utama 19 12 Juni 2013 09.00-15.00 Pembuatan Faktur Pajak Masukan Bulan April dan Mei Perusahaan Ar RazaaQ (K-24) 20 13 Juni 2013 09.00-16.00 Penyelesaian pembuatan Faktur Pajak Masukan Bulan April dan Mei Perusahaan Ar Yang Bersangkutan, Pengawas, .

Faozan El Mufid

Hersona, SH, SE

31

Lampiran 2: Contoh Kegiatan Pembuatan SPT dan SSP PPh Orang Pribadi Catatan: 1. Nama-nama dan alamat-alamat yang tertera pada pelaporan ini sudah diganti karena alasan kerahasiaan, 2. Penulis memberikan contoh untuk SPT PPh OP 1770 SS, SPT PPh OP 1770 S, dan SPT PPh OP 1770, 3. Penggunaan kertas menggunakan ukuran A4, disesuaikan dengan ukuran yang digunakan untuk pembuatan pelaporan ini, sehingga tidak sama dengan yang seharusnya (menggunakan F4).

45

Lampiran 3: Contoh Kegiatan Pembuatan Faktur Pajak dan SPT PPN Catatan: 1. Transaksi pada contoh ini bersifat dummy, 2. Penulis memberikan contoh satu Faktur Pajak masing-masing sebelum April 2013 dan setelah April 2013, dan SPT PPN 1111DM dan SPT PPN 1111, 3. Penggunaan kertas menggunakan ukuran A4, disesuaikan dengan ukuran yang digunakan untuk pembuatan pelaporan ini, sehingga tidak sama dengan yang seharusnya (menggunakan F4).

51

Lampiran 4: Kartu Bimbingan Laporan Praktik Pemagangan Profesi Akuntansi UGM