Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum. Pemeriksaan urin terbagi menjadi dua jenis yaitu pemeriksaan kimiawi dan pemeriksaan sedimen. Sebagaimana namanya dalam pemeriksaan kimia yang diperiksa adalah pH urin/ keasaman, berat jenis, nitrit, protein, glukosa, bilirubin, urobilinogen,dll. Jenis zat kimia yang diperiksa merupakan penanda keadaan dari organ-organ tubuh yang hendak didiagnosa. Seperti penyakit kuning yang disebabkan oleh bilirubin darah yang tinggi biasan ya menghasilkan urin yang mengandung kadar bilirubin diatas normal. Begitu pula zat kimia lainnya yang dihubungkan dengan keadaan organ tubuh yang berbeda. Dalam pemeriksaan sedimen yang diperiksa adalah zat sisa metabolisme yang berupa kristal, granula termasuk juga bakteri. Dengan pemeriksaan sedimen maka keberadaan suatu benda normal ataupun tidak normal yang terdapat dalam urin kita akan dapat menunjukkan keadaan organ tubuh. Dalam urin yang ditemukan jumlah eritrosit jauh diatas angka normal bisa menunjukkan terjadinya perdarahan di saluran kemih bagian bawah. Begitu juga dengan ditemukannya kristal-kristal abnormal dapat diprediksi jika seseorang beresiko terkena batu ginjal, karena kristal-kristal dalam urin merupakan pemicu utama terjadinya endapan kristal dalam saluran kemih terutama ginjal yang jika dibiarkan berlanjut akan membentuk batu ginjal. Penting untuk mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat ringannya penyakit. Urin yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau urin yang dikumpulkan dengan pengawet formalin.

Pemeriksaan Sedimen Urine |

BAB II ISI

Pemeriksaan mikroskopis dari sedimen urin merupakan bagian integral dari urinalisis. Prinsip pemeriksaan sedimen urine adalah sejumlah sampel urine disentrifugasi dengan kecepatan rendah, lalu endapan (sedimen) yang terbentuk diperiksa dengan mikroskop. Adapun prosedur dalam pemeriksaan sedimen urin adalah sebagai berikut : a. Dituangkan 8 mL sampel urine ke dalam sebuah tabung sentrifuge. b. Dipusingkan pada kecepatan rendah (1500 rpm) selama 5 menit. c. Bagian supernatannya dibuang. d. Sedimen yang tersisa dihomogenkan dengan cara dikocok. e. Objek glass ditetesi 1 tetes sedimen urine, lalu ditutup dengan cover glass. f. Preparat tersebut diamati dengan mikroskop. Pada pemeriksaan sedimen urin, sampel urin harus dihomogenkan terlebih dahulu sebelum dituang ke tabung centrifuge, tujuannya agar unsur-unsur yang mengendap menjadi homogen kembali. Sampel urin dimasukkan ke dalam tabung centrifuge sebanyak 2/3 tabung (tidak sampai penuh) adalah untuk menghindari tumpahnya urin saat proses sentrifugasi (Zaman, et.al., 2010). Sampel urin disentrifugasi dengan kecepatan 1500 rpm selama 5 menit. Jika proses sentrifugasi terlalu cepat dan waktunya terlalu lama maka dapat merusak bentukan-bentukan tertentu yang terkandung dalam urin, sebaliknya jika kecepatan centrifuge terlalu lambat dan dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan tidak semua analit dapat mengendap menjadi sedimen. Hal tersebut harus dihindari agar tidak diperoleh hasil pemeriksaan yang negatif palsu (Zaman, et.al., 2010). Setelah urin melalui proses sentrifugasi, maka terbentuk 2 lapisan, yaitu sedimen urin dan supernatant. Lapisan supernatant dibuang karena pada bagian ini tidak terdapat kristal-kristal, leukosit, eritrosit, bakteri, maupun jamur karena unsur-unsur tersebut telah mengendap di dasar tabung. Jika lapisan supernatant tidak dibuang, kemungkinan menyebabkan kesalahan hasil pemeriksaan (negatif palsu) karena pemipetan yang tidak mencapai bagian sedimen (Zaman, et.al., 2010). Selanjutnya pada pemipetan sedimen yang telah dibuang supernatannya, sedimen dihomogenkan agar unsur-unsur pada sedimen menyebar rata (tidak bertumpuk-tumpuk)
Pemeriksaan Sedimen Urine |

sehingga lebih memudahkan proses pengamatan bentukan-bentukan yang ada pada mikroskopis urin (Zaman, et.al., 2010). Endapan pertama kali diperiksa di bawah mikroskop dengan perbesaran rendah menggunakan lensa obyektif 10X, disebut lapang pandang kecil (LPK) atau low power field (LPF) untuk mengidentifikasi benda-benda besar seperti silinder dan kristal. Selanjutnya, pemeriksaan dilakukan dengan kekuatan tinggi menggunakan lensa obyektif 40X, disebut lapang pandang besar (LPB) atau high power field (HPF) untuk mengidentifikasi sel (eritrosit, lekosit, epitel), ragi, bakteri, Trichomonas, filamen lendir, sel sperma. Jika identifikasi silinder atau kristal belum jelas, pengamatan dengan lapang pandang kuat juga dapat dilakukan (Zaman, et.al., 2010). Karena jumlah elemen yang ditemukan dalam setiap bidang dapat berbeda dari satu bidang ke bidang lainnya, beberapa bidang dirata-rata. Berbagai jenis sel yang biasanya digambarkan sebagai jumlah tiap jenis ditemukan per rata-rata lapang pandang kuat. Jumlah silinder biasanya dilaporkan sebagai jumlah tiap jenis yang ditemukan per lapang pandang lemah. Lazimnya unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu unsur organik dan tak organik. Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel,eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan, sperma, bakteri, parasit dan yang tak organik tidak berasal dari sesuatu organ atau jaringan seperti urat amorf dan kristal. Beberapa bentuk yang mungkin ditemukan: 1. Eritrosit Eritrosit dalam air seni dapat berasal dari bagian manapun dari saluran kemih. Secara teoritis, harusnya tidak dapat ditemukan adanya eritrosit, namun dalam urine normal dapat ditemukan 0 3 sel/LPK. Hematuria adalah adanya peningkatan jumlah eritrosit dalam urin karena: kerusakan glomerular, tumor yang mengikis saluran kemih, trauma ginjal, batu saluran kemih, infeksi, inflamasi, infark ginjal, nekrosis tubular akut, infeksi saluran kemih atas dan bawah, nefrotoksin, dll (Aprilia, 2010). Eritrosit dapat terlihat berbentuk normal, membengkak, krenasi, mengecil, shadow atau ghost cells dengan mikroskop cahaya. Spesimen segar dengan berat jenis 1,010-1,020, eritrosit berbentuk cakram normal. Eritrosit tampak bengkak dan hampir tidak berwarna pada urin yang encer, tampak mengkerut (crenated) pada urine yang pekat, dan tampak mengecil sekali dalam urine yang alkali. Selain itu, kadang-kadang eritrosit tampak seperti ragi (Aprilia, 2010).
Pemeriksaan Sedimen Urine |

Eritrosit dismorfik tampak pada ukuran yang heterogen, hipokromik, terdistorsi dan sering tampak gumpalan-gumpalan kecil tidak beraturan tersebar di membran sel. Eritrosit dismorfik memiliki bentuk aneh akibat terdistorsi saat melalui struktur glomerulus yang abnormal. Adanya eritrosit dismorfik dalam urin menunjukkan penyakit glomerular seperti glomerulonefritis (Aprilia, 2010).

Eritrosit normal

eritrosit dismorfik

2. Leukosit Lekosit berbentuk bulat, berinti, granuler, berukuran kira-kira 1,5 2 kali eritrosit. Lekosit dalam urine umumnya adalah neutrofil (polymorphonuclear, PMN). Lekosit dapat berasal dari bagian manapun dari saluran kemih (Aprilia, 2010). Lekosit hingga 4 atau 5 per LPK umumnya masih dianggap normal. Peningkatan jumlah lekosit dalam urine (leukosituria atau piuria) umumnya menunjukkan adanya infeksi saluran kemih baik bagian atas atau bawah, sistitis, pielonefritis, atau glomerulonefritis akut. Leukosituria juga dapat dijumpai pada febris, dehidrasi, stress, leukemia tanpa adanya infeksi atau inflamasi (Aprilia, 2010).

Pemeriksaan Sedimen Urine |

3. Sel Epitel Sel Epitel Tubulus Sel epitel tubulus ginjal berbentuk bulat atau oval, lebih besar dari leukosit, mengandung inti bulat atau oval besar, bergranula dan biasanya terbawa ke urin dalam jumlah kecil. Namun, pada sindrom nefrotik dan dalam kondisi yang mengarah ke degenerasi saluran kemih, jumlahnya bisa meningkat. Jumlah sel tubulus 13 / LPK atau penemuan fragmen sel tubulus dapat menunjukkan adanya penyakit ginjal yang aktif atau luka pada tubulus, seperti pada nefritis, nekrosis tubuler akut, infeksi virus pada ginjal, penolakan transplnatasi ginjal, keracunan salisilat (Fogazzi, et.al. 2008).

Oval fat bodies Sel epitel tubulus dapat terisi oleh banyak tetesan lemak yang berada dalam lumen tubulus (lipoprotein yang menembus glomerulus), sel-sel seperti ini disebut oval fat bodies / renal tubular fat / renal tubular fat bodies. Oval fat bodiesmenunjukkan adanya disfungsi disfungsi glomerulus dengan kebocoran plasma ke dalam urin dan kematian sel epitel tubulus. Selain sel epitel tubulus, oval fat bodies juga dapat berupa makrofag atau hisiosit (Fogazzi, et.al. 2008).

Pemeriksaan Sedimen Urine |

Sel epitel transisional Sel epitel ini berbentuk bulat atau oval, gelendong dan sering mempunyai tonjolan. Besar kecilnya ukuran sel epitel transisional tergantung dari bagian saluran kemih yang mana dia berasal (Fogazzi, et.al. 2008).

Sel epitel skuamosa Sel epitel skuamosa adalah sel epitel terbesar yang terlihat pada spesimen urin normal. Sel epitel ini tipis, datar, dan inti bulat kecil. Mereka mungkin hadir sebagai sel tunggal atau sebagai kelompok dengan ukuran bervariasi. Signifikansi utama mereka adalah sebagai indikator kontaminasi (Fogazzi, et.al. 2008).

4. Silinder Silinder (cast) adalah massa protein berbentuk silindris yang terbentuk di tubulus ginjal dan dibilas masuk ke dalam urine. Silinder dibagi-bagi berdasarkan gambaran morfologik dan komposisinya (Fogazzi, et.al. 2012).

Pemeriksaan Sedimen Urine |

Silinder hialin Silinder hialin atau silinder protein terutama terdiri dari mucoprotein (protein Tamm-Horsfall) yang dikeluarkan oleh sel-sel tubulus. Silinder ini homogen (tanpa struktur), tekstur halus, jernih, sisi-sisinya parallel, dan ujung-ujungnya membulat. Sedimen urin normal mungkin berisi 0 1 silinder hialin per LPL. Jumlah yang lebih besar dapat dikaitkan dengan proteinuria ginjal (misalnya, penyakit glomerular) (Fogazzi, et.al. 2012).

Silinder Eritrosit Silinder eritrosit bersifat granuler dan mengandung hemoglobin dari kerusakan eritrosit. Adanya silinder eritrosit disertai hematuria mikroskopik memperkuat diagnosis untuk kelainan glomerulus. Cedera glomerulus yang parah dengan kebocoran eritrosit atau kerusakan tubular yang parah menyebabkan sel-sel eritrosit melekat pada matriks protein (mukoprotein Tamm-Horsfall) dan membentuk silinder eritrosit (Fogazzi, et.al. 2012).

Silinder Leukosit Silinder lekosit atau silinder nanah, terjadi ketika leukosit masuk dalam matriks Silinder. Kehadiran mereka menunjukkan peradangan pada ginjal, karena silinder tersebut tidak akan terbentuk kecuali dalam ginjal. Silinder lekosit paling khas untuk pielonefritis akut, tetapi juga dapat ditemukan pada penyakit glomerulus

(glomerulonefritis) (Fogazzi, et.al. 2012). Silinder Granular Silinder granular adalah silinder selular yang mengalami degenerasi. Disintegrasi sel selama transit melalui sistem saluran kemih menghasilkan perubahan membran sel, fragmentasi inti, dan granulasi sitoplasma. Hasil disintegrasi awalnya granular kasar, kemudian menjadi butiran halus (Fogazzi, et.al. 2012). Silinder Lilin (Waxy Cast) Silinder lilin adalah silinder tua hasil silinder granular yang mengalami perubahan degeneratif lebih lanjut. Silinder lilin umumnya terkait dengan penyakit ginjal berat dan amiloidosis ginjal. Kemunculan mereka menunjukkan keparahan penyakit dan dilasi nefron dan karena itu terlihat pada tahap akhir penyakit ginjal kronis (Spinelli, 2013).

Pemeriksaan Sedimen Urine |

5. Mikroorganisme Bakteri Bakteri yang umum dalam spesimen urin adalah mikroba flora normal vagina atau meatus uretra eksternal. Bakteri juga dapat disebabkan oleh kontaminan dalam wadah pengumpul, atau memang dari infeksi di saluran kemih. Oleh karena itu pengumpulan urine harus dilakukan dengan benar. Ragi Sel-sel ragi bisa merupakan kontaminan atau infeksi jamur sejati. Mereka sering sulit dibedakan dari sel darah merah dan kristal amorf, membedakannya adalah bahwa ragi memiliki kecenderungan bertunas. Paling sering adalah Candida, yang dapat menginvasi kandung kemih, uretra, atau vagina. Trichomonas vaginalis Trichomonas vaginalis adalah parasit menular seksual yang dapat berasal dari urogenital laki-laki dan perempuan. Ukuran organisme ini bervariasi antara 1-2 kali diameter leukosit. Organisme ini mudah diidentifikasi dengan cepat dengan melihat adanya flagella dan pergerakannya yang tidak menentu.

6. Kristal Kristal yang sering dijumpai adalah kristal calcium oxallate, triple phosphate, asam urat. Penemuan kristal-kristal tersebut tidak mempunyai arti klinik yang penting. Namun, dalam jumlah berlebih dan adanya predisposisi antara lain infeksi, memungkinkan timbulnya penyakit kencing batu (French, et.al., 2010). Kalsium Oksalat Kristal ca-oxallate bervariasi dalam ukuran, tak berwarna, dan bebentuk amplop atau halter. Kristal dapat muncul dalam specimen urine setelah konsumsi makanan tertentu (mis. asparagus, kubis, dll) dan keracunan ethylene glycol. Adanya 1 5 ( + ) kristal Ca-oxallate per LPL masih dinyatakan normal, tetapi jika dijumpai lebih dari 5 ( ++ atau +++ ) sudah dinyatakan abnormal (French, et.al., 2010). Triple Fosfat Kristal terlihat berbentuk prisma empat persegi panjang seperti tutup peti mati (kadang-kadang juga bentuk daun atau bintang), tak berwarna dan larut dalam asam
Pemeriksaan Sedimen Urine |

cuka encer. Kristal dapat muncul di urin setelah konsumsi makan tertentu (buahbuahan). Infeksi saluran kemih dengan bakteri penghasil urease (mis. Proteus vulgaris) dapat mendukung pembentukan kristal (dan urolithiasis) dengan meningkatkan pH urin dan meningkatkan amonia bebas (French, et.al., 2010). Asam Urat Kristal asam urat tampak berwarna kuning ke coklat, berbentuk belah ketupat (kadang-kadang berbentuk jarum atau mawar). Dengan pengecualian langka, penemuan kristal asam urat dalam urin sedikit memberikan nilai klinis, tetapi lebih merupakan zat sampah metabolisme normal; jumlahnya tergantung dari jenis makanan, banyaknya makanan, kecepatan metabolisme dan konsentrasi urin (French, et.al., 2010). Sistin (Cystine) Cystine berbentuk heksagonal dan tipis. Kristal ini muncul dalam urin sebagai akibat dari cacat genetic atau penyakit hati yang parah. Kristal dan batu sistin dapat dijumpai pada cystinuria dan homocystinuria. Sistin crystalluria atau urolithiasis merupakan indikasi cystinuria, yang merupakan kelainan metabolisme bawaan cacat yang melibatkan reabsorpsi tubulus ginjal tertentu termasuk asam amino sistin (French, et.al., 2010). Leusin dan Tirosin Leusin dan tirosin adalah kristal asam amino dan sering muncul bersama-sama dalam penyakit hati yang parah. Tirosin tampak sebagai jarum yang tersusun sebagai berkas atau mawar dan kuning. Kristal leucine dipandang sebagai bola kuning dengan radial konsentris (French, et.al., 2010). Kristal Kolesterol Kristal kolesterol tampak regular atau irregular , transparan, tampak sebagai pelat tipis empat persegi panjang dengan satu (kadang dua) dari sudut persegi memiliki takik. Kehadiran kristal kolesterol sangat jarang dan biasanya disertai oleh proteinuria (French, et.al., 2010). Kristal lain Berbagai macam jenis kristal lain yang dapat dijumpai dalam sedimen urin misalnya adalah :

Pemeriksaan Sedimen Urine |

Kristal dalam urin asam :

Natirum urat : tak berwarna, bentuk batang ireguler tumpul, berkumpul membentuk roset.

Amorf urat : warna kuning atau coklat, terlihat sebagai butiran, berkumpul.

Kristal dalam urin alkali :

Amonium urat (atau biurat) : warna kuning-coklat, bentuk bulat tidak teratur, bulat berduri, atau bulat bertanduk.

Ca-fosfat : tak berwarna, bentuk batang-batang panjang, berkumpul membentuk rosset.

Amorf fosfat : tak berwarna, bentuk butiran-butiran, berkumpul. Ca-karbonat : tak berwarna, bentuk bulat kecil, halter.

Banyak obat diekskresikan dalam urin mempunyai potensi untuk membentuk kristal, seperti, kristal Sulfadiazin dan sulfonamide. Secara umum, tidak ada intepretasi klinis, tetapi jika terdapat dalam jumlah yang banyak, mungkin dapat menimbulkan gangguan.

Gambar hasil temuan laboratorium pada sedimen urine Sumber : Urine Sediment Atlas, 2010

Silinder hyaline

Pemeriksaan Sedimen Urine |

10

Silinder granula

Silinder lilin

Silinder lemak

Silinder eritrosit

Silinder leukosit

Makrofag

Pemeriksaan Sedimen Urine |

11

Kristal

Kristal Cystine

kristal cholesterol

kristal 2-8dihydroxyadenine

kristal bilirubin

Kristal Hemosiderin

kristal calcium oxalate

Kristal phosphate

kristal asam urat


Pemeriksaan Sedimen Urine |

12

Cara pelaporan hasil pemeriksaan sedimen urine : 1. Sel darah dan epitel Negatif, jika tidak ditemukan sel dalam seluruh lapang pandang (LP) Positif 1, jika ditemukan <4 sel/LPK Positif 2, jika ditemukan 5-9 sel/LPK Positif 3, jika ditemukan 10-29 sel/LPK Positif 4, jika ditemukan >30 sel/LPB Positif 5, jika ditemukan sel sebanyak setengah bagian LPB 2. Silinder Negatif, jika tidak ditemukan silinder dalam seluruh lapang pandang (LP) Positif 1, jika ditemukan 1 silinder dalam 100 LPK Positif 2, jika ditemukan 1-10 silinder dalam 1 LPK Positif 3, jika ditemukan 10-100 silinder/LPK Positif 4, jika ditemukan >100 silinder/LPK 3. Bakteri Negatif, jika tidak ditemukan bakteri dalam seluruh lapang pandang (LP) Positif 1, jika ditemukan sedikit bakteri/LPK Positif 2, jika ditemukan banyak bakteri/LPK Positif 3, jika pada 1 LPK dipenuhi oleh bakteri 4. Protozoa Negatif, jika tidak ditemukan bakteri dalam seluruh lapang pandang (LP) Positif 1, jika ditemukan 1-4 protozoa/LPB Positif 2, jika ditemukan 5-9 protozoa/LPB Positif 3, jika ditemukan >10 protozoa/LPB 5. Kristal Negatif, jika tidak ditemukan bakteri dalam seluruh lapang pandang (LP) Positif 1, jika ditemukan 1-4 kristal/LPB Positif 2, jika ditemukan 5-9 kristal/LPB Positif 3, jika ditemukan >10 kristal/LPB

Pemeriksaan Sedimen Urine |

13

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan sedimen urin: 1. Pada wanita yang haid dan pasien dengan perdarahan berat pada saluran kemih tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan sedimen urine karena akan terjadi kesalahan dalam penafsiran hasil. Cukup dilaporkan pada makroskopis Blood gross (+) disertai keterangan lain. 2. Kadang-kadang kristal-kristal, bakteri, jamur dapat berukuran kecil sehingga perlu dilihat pada lensa objektif pembesaran 40x. 3. Kontaminan sedimen seperti : pollen grain, serat rambut, cotton fiber, gelembung udara, lipid droplet, fecal material contaminant dan anticoagulant EDTA tidak perlu dilaporkan. 4. Adanya lendir secara makroskopis dan benang lendir secara mikroskopis dilaporkan sebagai : Mucus Thread (+) dan ikut serta dalam pelaporan. 5. Epitel transisional merupakan epitel yang berasal dari ureter, kandung kemih dan uretra baik pada wanita maupun pria. Dapat dilaporkan sebagai epitel transisional atau dapat pula dibedakan menurut asalnya (trans caudatus, female uretra, dll). 6. Kristal dalam sedimen yang dilaporkan harus mengacu pada pH urine sehingga tidak salah dalam pelaporan. Seperti tripel phosphat dan calcium carbonat yang ditemukan pada pH diatas 7,5. 7. Apabila berat jenis urin rendah, maka eritrosit akan cenderung mengembang sedangkan bila berat jenis urin tinggi maka eritrosit cenderung mengkerut. 8. Bila pH urine tinggi (lindi) maka leukosit cenderung mengumpul dan mengembang sedangkan pH rendah maka leukosit cenderung menyebar dan mengkerut. 9. Pada hematuria penghancuran eritrosit dengan Asam cuka dapat dilakukan untuk mempermudah pengamatan terhadap unsur sedimen lain.

Pemeriksaan Sedimen Urine |

14

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan : 1. Pemeriksaan mikroskopis dari sedimen urin merupakan bagian integral dari urinalisis. Prinsip pemeriksaan sedimen urine adalah sejumlah sampel urine disentrifugasi dengan kecepatan rendah, lalu endapan (sedimen) yang terbentuk diperiksa dengan mikroskop. 2. Adapun prosedur dalam pemeriksaan sedimen urin adalah sebagai berikut : a. Dituangkan 8 mL sampel urine ke dalam sebuah tabung sentrifuge. b. Dipusingkan pada kecepatan rendah (1500 rpm) selama 5 menit. c. Bagian supernatannya dibuang. d. Sedimen yang tersisa dihomogenkan dengan cara dikocok. e. Objek glass ditetesi 1 tetes sedimen urine, lalu ditutup dengan cover glass. f. Preparat tersebut diamati dengan mikroskop. 3. Unsur-unsur yang dapat ditemukan pada sedimen urine dibagi atas dua golongan yaitu unsur organik dan anorganik. Unsur organik berasal dari sesuatu organ atau jaringan antara lain epitel, eritrosit, leukosit, silinder, potongan jaringan, sperma, bakteri, parasit dan yang anorganik tidak berasal dari sesuatu organ atau jaringan, misalnya: urat amorf dan kristal.

3.2 Saran Pemeriksaan sedimen urine dengan menggunakan mikroskop sebaiknya dilakukan dengan intensitas cahaya yang rendah, dengan cara menurunkan kondensor dan diafragma agak tertutup agar morfologi unsur-unsur mikroskopis yang ditemukan dapat diamati dengan jelas sehingga dapat dibedakan antara unsur yang satu dan yang lainnya.

Pemeriksaan Sedimen Urine |

15

DAFTAR PUSTAKA

Aprilia, Dianika Rohmah. 2010. Korelasi antara kejadian leukosituria dan volume prostat penderita pembesaran prostat jinak pada pemeriksaan ultrasonografi. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Fogazzi, Giovanni B., et.al. 2008. Urinalysis. American Journal of Kidney Diseases. Elsevier, Milano. Fogazzi, Giovanni B., et.al. 2012. Urinary Sediment Findings in Acute Interstitial Nephritis. American Journal of Kidney Diseases. Elsevier, Milano. French, et.al. 2010. Urine Sediment Atlas. Cornell University, New York. Spinelli, Diana. 2013. Waxy casts in the urinary sediment of patients with different types of glomerular diseases: Results of a prospective study. Elsevier, Milano. Utami, Koni Atikah. 2010. Hubungan antara gagal ginjal kronis dengan gambaran sedimen urine di kandung kemih pada pemeriksaan ultrasonografi. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Zaman, Zahur, et.al. 2010. Urine sediment analysis: Analytical and diagnostic performance of sediMAX A new automated microscopy image-based urine sediment analyser. Elsevier, Belgium.

Pemeriksaan Sedimen Urine |

16