Anda di halaman 1dari 8

IMUNOLOGI

Pemeriksaan Aviditas dan Titer Antisera

Oleh : Naila Husna( 1001060 ) Kelompok : 3

Tanggal Praktikum: 21-11-2013 Dosen : Silvia Hasti M.Farm,Apt Asisten : Ulfathurrohmah Thahriani C Program Studi S1 Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau 2013

Pemeriksaan Aviditas dan Titer Antisera 1. TUJUAN PERCOBAAN


Mengetahui pemeriksaan aviditas dan titer antisera Mengetahui kemampuan antibody mengikat antigen

2. TINJAUAN PUSTAKA
Aviditas (avidity) adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan kekuatan gabungan dari interaksi ikatan ganda (sebagai kontras dari afinitas, yang menggambarkan kekuatan ikatan tunggal). Aviditas menggambarkan interaksi antigen-antibodi, di mana ikatan lemah terbentuk antara antigen dan antibodi. Secara individual mungkin lemah, namun ketika hadir pada saat yang sama, efek keseluruhan mengikat kuat antigen dan antibodi.
REAKSI ANTIGEN-ANTIBODI YANG DIGUNAKAN PADA SEROLOGI DIAGNOSTIK

1. Uji Presipitasi

Presipitasi terjadi antara molekul Ab dan Ag pada bentuk solubel. Pada pengujian ini antigen berbentuk koloidal. Laju presipitasi sangat tergantung pada proporsi antigen dan antibodi pada campuran. Terdapat beberapa cara pengujian pada metode presipitasi, yakni:

a.

Uji tabung Dengan mencampur pada tabung, masukkan dilusi antigen atau antibodi dengan jumlah tertentu. Dilusi dilakukan dari konsentrasi tinggi (tabung pertama) sampai konsentrasi terendah (tabung terakhir). Presipitat timbul pada tabung yang mengandung Ag dan Ab secara proporsional.

b.

Presipitasi Cincin Antigen dilapiskan pada serum (antibodi), terjadi difusi setelah mencapai ikatan proporsional dengan antibodi akan menghasilkan presipitasi berbentuk cincin.

c.

Difusi Gel

Pada pengujian ini memungkinkan antigen dan antubodi berdifusi perlahan dari arah tertentu melalui gel. Pada cara ini homogenitas dan derajat kemurnian dari berbagai antigen dapat diuji. Pita presipitasi terbentuk pada setiap antigen dapat saling bertemu, atau bersilangan menunjukkan: bersambungan, antigen identik secara imunologik (terhadap serum uji) bercabang, antigen berhubungan sebagian bersilangan, menunjukkan antigen tidak berhubungan

Metode difusi tunggal Di sini anti serum dalam agar semi solid, zona buffer dari agar dan antigen terpisah secara vertikal dalam tabung. Garis presipitasi terbentuk dalam zona buffer.

Metode difusi ganda Agar dituang pada plat. Di bagian tengah diisi antigen atau antiserum sedangkan sera atau ekstrak di bagian tepi. Pita presipitasi terbentuk dalam gel pada posisi Ag dan Ab mencapai proporsi optimal setelah berdifusi. Dapat dimodifikasi dengan uji mikrodilusi menggunakan obyek gelas

Immunoelektroforesis Jika terdapat sejumlah Ag dalam larutan seperti serum, sulit memisahkan pita presipitasi yang timbul pada setiap reaksi Ab-Ag, bila hanya menggunakan cara difusi di atas. Komponen serum dipisahkan dengan elektroforesis dalam agar gel dan antiserum dibiarkan berdifusi melalui komponen yang dihasilkan pada pita-pita yang terbentuk.

Elektroforesis "roket" Merupakan metode kuantitatif, dilakukan elektroforesis antigen ke dalam gel yang telah mengandung antibodi. Presipitasi yang terjadi berbentuk roket, panjang masingmasing roket menunjukkan konsentrasi antigen.

Immunodifusi radial tunggal Antiserum monospesifik ditambahkan ke dalam gel, kemudian dituang pada slide petridisk atau lempeng plastik. Dibuat lubang gel, larutan antigen dimasukkan pada lubang. Terjadi difusi sehingga terbentuk zona sirkuler yang menunjukkan jarak proporsional dengan jumlah antigen yang ditambahkan pada setiap lubang. Kuantitasi

antigen yang diperiksa diketahui dari perbandingan cincin presipitasi dibandingkan dengan cincin presipitasi kontrol.

2. Uji aglutinasi Digunakan untuk antigen berukuran besar, pada reaksi ini antibodi dikontakkan dengan antigen yang merupakan bagian permukaan suatu material misalnya eritrosit,

mikroorganisme atau partikel anorganik (polystyrenelatex) yang telah dicoated dengan Ag. Reaksi Ab-Ag membentuk agregat yang dapat diamati atau aglutinasi.

3. Uji Litik Uji ini tergantung pada proses lisis dari darah atau bakteri dari suatu sistem yang mengandung antigen, direaksikan dengan antibodi dan komplemen. Antigen yang digunakan berupa : a. b. Sel (uji litik langsung) Bahan yang diadsorbsikan pada eritrosit atau lekosit (uji litik tidak langsung)

4. Serological Inhibition Test Untuk mendeteksi netralisasi antigen dan antibodi dengan mendemonstrasikan hambatan pada reaksi tertentu yang secara normal terjadi pada antigen atau organisme. Aplikasi: Deteksi antistreptolisin O Animal protection test Viral haemagglutination inhibition Viral neutralization test menggunakan CPE pada kultur

5. Immunoflourescence Cat flourescence atau rhodamin diikatkan pada antibodi tanpa merusak spesifitasnya. Suatu konjugat dikombinasi dengan antigen (misalnya potongan jaringan) dan diikat oleh antibodi akan tampak dengan mikroskop UV, distribusi Ag pada jaringan atau sel

6. Skin Test

Memanfaatkan reaksi kulit sebagai indikator sistem. Ada dua cara: Pasif, bila antigen dan serum diinokulasikan, misalnya menguji toksin-antitoksin Aktif, bila status immunologik diuji

Skin test digunakan untuk mengetahui adanya: Antibodi terhadap bakteri Reaksi alergi

7. Antigen Binding Techniques Metode ini digunakan untuk mengethui level antibodi dengan menentukan kapasitas antiserum dalam kompleks dengan antigen radioaktif, atau dengan mengukur jumlah immunoglobulin yang mengikat larutan antigen yang diberikan. Ada dua macam cara pada metode ini: Radioimmunoassay Teknik sandwich

3. BAHAN DAN ALAT


Bahan
Larutan eritrosit 5% golongan A, B, AB dan O Larutan NaCl fisiologis

Alat
Pipet tetes Tabung reaksi Stopwatch Kaca pembesar

4. CARA KERJA
a. Uji aviditas antisera pengujian aviditas dilakukan terhadap antisera yang memberikan reaksi aglutinasi terhadap antigen eritrosit reaksi positif pada uji spesifitas

pengerjaan pengujian sama dengan uji spesifitas, tapi disini yang dihitung berapa lama waktu yang diperlukan mulai ditetesi larutan eritrosit 5%sampai terbentuk aglutinasi

tabelkan waktu yang diperoleh untuk terjadinya aglutinasi tersebut

b. Uji titer antisera pada rak, letakkan secara berurutan 10 buah tabung reaksi kecil yangmasingmasingnya telah ditandai dengan , sampai dengan 1/512 dan K(kontrol) pada tabung reaksi ke-1 () sampai dengan ke-9 (1/512) dimasukkan NaCl fisiologis sebanyak 0,2 ml (4 tetes) dan pada tabung K 8 ml pada tabung reaksi ke-1 ditambahkan antisera (cairan plasma golongan darah [O]) sebanyak 0,2 ml (4 tetes), lalu aduk ambil 0,2 ml (4 tetes) larutan tabung reaksi ke-1 dan masukkan ke tabung reaksi ke2, aduk dan begitu seterusnya sampai pada tabung reaksi ke-9dan pada tabung reaksi ke-9 ini dibuang 0,2 ml (4 tetes) pada masing-masing tabung reaksi (termasuk tabung kontrol)ditambahkan suspensi eritrosit 5% golongan [AB] sebanyak 0,005 ml (1 tetes) biarkan selama 10 menit, lalu disentrifusi dengan kecepatan 1000 rpm selama 5 menit amati pengencaran yang tertinggi yang masih mengalami aglutinasi. Untuk memudahkan pengamatan gunakan tabung reaksi ke-10 (K) catatan : 1) Cairan plasma golongan A dilakukan terhadap eritrosit golongan B &AB 2) Cairan plasma golongan B dilakukan terhadap eritrosit golongan A &AB 3) Cairan plasma golongan O dilakukan terhadap eritrosit golongan A, B &AB 4) Bandingkan hasil yang diperoleh tabelkan hasil pengamatan

5. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil


+ + + + + 1/4 + + + + + 1/8 + + + + + 1/16 + + + + + 1/32 + + + + + 1/64 + + + + + 1/128 + + + + + 1/256 + + + + + 1/512 + + + + + K + -

Keterangan : [+] menggumpal [-] tidak menggumpal

Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan uji aviditas dan titer antisera, hal ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan antibody dalam mengikat antigen. Hal ini ditandai dengan adanya aglutinasi. Bila antibodinya banyak maka akan terjadi aglutinasi hingga pengenceran terkecil sekalipun(1/512). Namun apabila antibody sedikit, aglutinasi akan terhenti pada pengenceran tertentu. Untuk kelompok 3, menggunakan plasma O dan eritrosit AB, terjadi penggumpalan sampai pengenceran terkecil sehingga dapat kita katakan pemilik darah mempunyai antibody yang baik.

6. KESIMPULAN
Bila aglutinasi terjadi hingga pengenceran terkecil, berarti antibody yang dimiliki banyak Bila aglutinasi terjadi hingga pengenceran tertentu, berarti antibody yang dimiliki sedikit

7. DAFTAR PUSTAKA
Yovita Lisawati. 1993. Pembuatan dan Evaluasi Antisera Penentuan Golongan Darah ABO. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas, Padang. Suryo. 1996. Genetika. Departemen P dan K Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. Jakarta.