Anda di halaman 1dari 3

Masa Kekhalifahan Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, muncullah para khalifah (wakil pengganti)

Rasul Allah. Para khalifah ini hanya menggantikan dalam hal mengatur hidup kaum Muslimin menurut agama Islam. Masa kekhalifahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq sampai Khalifah Ali bin Abi Thalib biasa disebut dengan Khulafaur Rasyidin (Pengganti Rasulullah yang bijaksana). Khalifah yang pernah berkuasa diantaranya, adalah:

1. -

Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq merupakan khalifah pertama setelah wafatnya Nabi

Muhammad SAW. Masa kepempininannya hanya 2 tahun (632-634). Terjadi perang Riddah (perang yang dilakukan kaum muslimin melawan kemurtadan). Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq berhasil mengembalikan suku-suku Arab ke jalan Islam

dan membasmi nabi-nabi palsu, seperti Tulaiha. Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq mulai mengumpulkan lembaran surat-surat Al-Quran.

Kisah abu bakar as siddiq - Khulafaur Rosyidin Pengertian Khulafaur Rosyidin adalah para kholifah yang arif bijaksana. Mereka adalah keempat sahabat yang terpilih menjadi pemimpin kaummuslim setelah Nabi Muhammad Rosulullah saw. wafat. Keempat kholifah tersebut ialah: a) Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.; b) Umar bin Koththob; c) Utsman bin Affan ra.; dan d) Ali bin Abi Tholib ra. Keempat kholifah itu selain berhasil melanjutkan perjuangan Rosulullah saw. menegakkan ajaran tauhid, juga sukses memperluas penyebaran dan mengharumkan nama Islam. Berikut ini kami uraikan sekelumit riwayat hidup dan jasa keempat kholifah tersebut.

Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra (11-13 H/632-634) Nama Aslinya adalah Abdul Ka'bah. Lalu Nabi Muhammad saw mengganti namanya dengan Abdullah. Lengkapnya Abdullah bin Abi Quhafah at-Tamimi. Ia terlahir dari pasangan Usman (Abu Quhafah) bin Amir dan Ummu Khoir Salma binti Sakhr, yang berasal dari suku Taim, suku yang melahirkan tokoh-tokoh terhomat.

Sejak kecil ia terkenal sebagai anak yang baik. Perilakunya yang lemah-lembut, jujur, dan sabar, membuatnya disenangi masyarakat. Karena sifat-sifatnya yang mulia itulah sejak masa remajanya ia sudah bersahabat dengan Nabi Muhammad saw.

Ia dilahirkan dua tahun satu bulan setelah kelahiran Nabi Muhammad saw. kemudian terkenal dengan julukan Abu Bakar, sedangkan gelar Shiddiq diberikan oleh para sahabat karena ia sangat membenarkan Rosulullah saw. dalam segala hal. Ialah yang menemani Nabi Muhammad saw. di gua Hiro, dan yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan orang tua terhormat.

Tentang Abu Bakar ra., Rosulullah saw. bersabda, "Sungguh orang yang paling dekat kepadaku persahabatan dan hartanya, ialah Abu Bakar. Andaikata aku boleh memilih teman di antara umatku, maka akan kupilih Abu Bakar. Tetapi kecintaan dan persaudaraan dalam Islam cukup memadai. Tidak satu pun pintu dalam masjid yang terbuka, kecuali pintu Abu Bakar". (HR. Bukhori) Sampai saat ini di masjid Madinah masih ada sebilah pintu yang disebut pintu Abu Bakar ra. Yakni pintu yang selalu beliau lalui semasa hidupnya jika masuk ke masjid melalui rumah beliau.

Tidaklah mengherankan jika sewaktu Nabi saw sakit, ia dipercaya oleh para sahabat menjadi Imam sholat. Juga pantaslah apabila kaum muslimin kemudian memilihnya sebagai kholifah/ pemimpin setelah Rosulullah saw. wafat.

Keagungan kepribadian Abu Bakar dapat disimak dari penggalan-penggalan pidatonya ketika dilantik menjadi kholifah, antara lain beliau katakan, "Saya bukan orang yang terbaik di antara kalian, tetapi saya akan memelihara amanah yang telah kalian serahkan kepada saya. Kalau saya mengikuti ajaran Allah SWT dan petunjuk Rosul-Nya, maka ikutilah saya. Sebaliknya jika saya menyimpang, luruskanlah (koreksilah) saya. Kebenaran adalah kejujuran, dan kebohongan adalah ketidakjujuran.

Orang yang paling kuat dalam pandangan saya, adalah orang-orang yang lemah di antara kalian oleh sebab itu saya akan menjamin hak-hak mereka. Dan orang-orang yang paling lemah dalam

pandangan saya, adalah orang-orang yang kuat di antara kalian, dan saya akan mengambil sebagian dari hak-hak mereka (zakatnya)."

Program pertama yang dicanangkan Abu Bakar setelah ia menjadi kholifah, adalah meredam pemberontakan, memerangi orang-orang yang membangkang tidak mau membayar zakat, orangorang murtad yang saat itu terjadi di mana-mana dan menimbulkan kekacauan. Sepeninggal Muhammad Rosulullah saw., memang banyak umat Islam yang kembali memeluk agamanya semula.

Mereka merasa berhak berbuat sekehendak hati. Bahkan lebih tragis lagi, muncul orang-orang yang mengaku nabi, antara lain Musallamah Al-Kadzdzab, Tulaiha Al-Asadi, dan Al-Aswad AlAnsi. Untuk meluruskan akidah orang-orang murtad tersebut, Abu Bakar mengirim sebelas pasukan perang ke sebelas daerah tujuan, di antaranya Pasukan Kholid bin Walid ditugaskan menundukan Thulaiha Al Asadi, Pasukan Amer bin Ash ditugaskan di Qudho'ah, Suwaid bin Muqrim ditugaskan ke Yaman, dan Kholid bin Said ditugaskan ke Syam.

Program Abu Bakar selanjutnya, memproyekkan pengumpulan dan penulisan ayat-ayat AlQur'an. Program ini dicanangkan atas usulan Umar bin Khoththob, sedangkan pelaksanaannya di percayakan kepada Zaid bin Tsabit.

Pengumpulan dan penulisan ayat-ayat Al-Qur'an itu dilakukan dengan pertimbangan: 1. banyak sahabat yang hafal Al-Qur'an gugur dalam perang penumpasan orang-orang murtad; 2. ayat-ayat Al-Qur'an yang ditulis pada kulit-kulit kurma, batu-batu dan kayu-kayu sudah banyak yang rusak sehingga perlu dilakukan usaha penyelamatan; 3. penulisan ayat-ayat Al-Qur'an dan membukukannya ini bertujuan agar dapat dijadikan pedoman bagi umat Islam sepanjang zaman.

Semasa pemerintahannya, Abu Bakar juga berhasil memperluas daerah dakwah Islamiyah, antara lain ke Irak yang ketika itu termasuk wilayah jajahan Kerajaan Persia, dan ke Syam yang di bawah jajahan Romawi.