Anda di halaman 1dari 23

BAB I PENDAHULUAN

I.1. LATAR BELAKANG Torsio testis adalah suatu keadaan dimana funikulus spermatikus terpeluntir yang mengakibatkan oklusi dan strangulasi dari vaskularisasi vena atau arteri ke testis dan epididimis. Torsio testis merupakan suatu keadaan yang termasuk gawat darurat dan butuh segera dilakukan tindakan bedah. Kondisi ini, jika tidak segera ditangani dengan cepat dalam 4 hingga 6 jam setelah onset nyeri maka dapat menyebabkan infark dari testis yang selanjutnya akan diikuti oleh atrofi testis. Kelainan testis yang cukup sering salah satunya adalah torsio testis. Di mana torsio testis, epididimitis dan torsi dari appendix testis merupakan 3 penyebab tersering nyeri skrotum akut. Torsio testis juga merupakan kegawat daruratan urologi yang paling sering terjadi pada laki-laki dewasa muda, dengan angka kejadian 1 diantara 4000 orang dibawah usia 25 tahun dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun). Janin yang masih berada di dalam uterus atau bayi baru lahir tidak jarang menderita torsio testis yang tidak terdiagnosis sehingga mengakibatkan kehilangan testis baik unilateral ataupun bilateral. Torsio testis harus selalu dipertimbangkan pada pasien-pasien dengan nyeri akut pada skrotum dan kondisi tersebut juga harus dibedakan dari keluhan-keluhan nyeri pada testis lainnya agar tidak terjadi kesalahan diagnosis yang dapat berujung pada kesalahan terapi. Penatalaksanaan torsio testis menjadi tindakan darurat yang harus segera dilakukan karena angka keberhasilan serta kemungkinan testis tertolong akan menurun seiring dengan bertambahnya lama waktu terjadinya torsio. Adapun penyebab tersering hilangnya testis setelah mengalami torsio adalah keterlambatan dalam mencari pengobatan (58%), kesalahan dalam diagnosis awal (29%), dan keterlambatan terapi (13%).

I.2. TUJUAN Penulisan Referat ini bertujuan untuk mengetahui tentang penyakit Torsio Testis yang mencakup definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis serta penatalaksanaanya. Selain itu juga sebagai syarat untuk dapat mengikuti ujian kepaniteraan klinik di bagian Bedah RST Tingkat II 04.05.01, Dr. Soedjono Magelang.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1. ANATOMI SCROTUM, TESTIS, DAN FUNICULUS SPERMATICUS

A. ANATOMI SCROTUM Scrotum adalah sebuah kantong kulit yang terdiri dari dua lapis: kulit dan fascia superficialis. tidak Fascia

superficialis

mengandung

jaringan lemak, tetapi pada fascia superficialis terdapat selembar otot polos yang tipis, dikenal sebagai tunica dartos, yang berkontraksi

sebagai reaksi terhadap dingin, dan dengan demikian mempersempit luas permukaan kulit. Ke arah ventral fascia superficialis dilanjutkan

menjadi lapis dalamnya yang berupa selaput pada dinding abdomen

ventrolateral, dan ke arah kaudal dilanjutkan menjadi fascia superficialis perineum.7 Arteri untuk skrotum ialah : 1. Ramus perinealis dari arteria pudenda interna. 2. Arteriae pudendae externae dari arteria femoralis. 3. Arteria cremasterica dari arteria epigastrica inferior.7 Vena scrotales mengiringi arteri-arteri tersebut. Pembuluh limfe ditampung oleh nodi lymphoidei inguinales superficiales.7 Saraf scrotum ialah : 1. Ramus genitalis dari nervus genitofemoralis (L1,L2) yang bercabang menjadi cabang sensoris pada permukaan scrotum ventral dan lateral.

2. Cabang nervus ilioinguinalis (L1), juga untuk permukaan skrotum ventral. 3. Ramus perinealis dari nervus pudendalis (S2-S4) untuk permukaan scrotum dorsal. 4. Ramus perinealis dari nervus cutaneus femoris posterior (S2,S3) untuk permukaan scrotum kaudal.7

B. ANATOMI TESTIS Kedua testis terletak dalam scrotum dan menghasilkan spermatozoon dan hormone, terutama testosterone. Permukaan masingmasing testis tertutup oleh lamina visceralis tunicae vaginalis, kecuali pada tempat perlekatan epididimis dan funiculus

spermaticus. Tunica vaginalis ialah sebuah kantong peritoneal yang membungkus testis dan berasal dari Lamina processus parietalis vaginalis tunicae

embrional.

vaginalis berbatasan langsung pada fascia spermatica interna dan lamina visceralis tunicae vaginalis melekat pada testis dan epididimis. Sedikit cairan dalam rongga tunica vaginalis memisahkan lamina visceralis terhadap lamina parietalis dan memungkinkan testis bergerak secara bebas dalam scrotum.7 Epididimis adalah gulungan pipa yang berbelit-belit dan terletak pada permukaan kranial dan permukaan dorsolateral testis. Bagian-bagian epididimis yaitu : 1. Bagian cranial yang melebar, yakni caput epididimis terdiri dari lobul-lobul yang dibentuk oleh gulungan sejumlah ductuli efferentes.

2. Ductuli efferentes membawa spermatozoon dari testis ke epididimis untuk ditimbun. 3. Corpus epididimis terdiri dari ductus epididimis yang berbelit-belit. 4. Cauda epididimis bersinambung dengan ductus deferens yang mengangkut spermatozoon dari epididimis ke ductus ejaculatorius untuk dicurahkan ke dalam pars prostatica urethrae.7 Arteria testicularis berasal dari pars abdominalis aortae, tepat kaudal arteria renalis. Venavena meninggalkan testis dan berhubungan dengan plexus

pampiniformis yang melepaskan vena testicularis dalam canalis inguinalis. Limfe dari testis disalurkan ke nodi lymphoidei lumbales dan nodi lymphoidei pre-aortici. Saraf autonom testis berasal dari plexus testicularis sekeliling arteria testicularis. Saraf ini mengandung serabut parasimpatis dari nervus vagus dan serabut simpatis dari segmen medulla spinalis.7

C. ANATOMI FUNICULUS SPERMATICUS Funiculus spermaticus menggantung testis dalam scrotum dan berisi struktur-struktur yang melintas ke dan dari testis. Funiculus spermaticus berawal pada anulus inguinalis profundus, lateral dari arteria epigastrica inferior, melalui canalis inguinalis, dan berakhir pada tepi dorsal testis dalam scrotum. Funiculus spermaticus diliputi oleh fascia pembungkus yang berasal dari dinding abdomen.7

Pembungkus funiculus spermaticus dibentuk oleh tiga lapis fascia dari dinding abdomen ventral sewaktu masa vetal : 1. Fascia spermatica interna dari fascia

transversalis. 2. Fascia cremasterica dari fascia penutup

musculus obliquus internus abdominis. 3. Fascia spermatica externa dari aponeurosis musculus obliquus externus abdominis.7 Pada fascia cremasterica terdapat ikal-ikal (loops) musculus cremaster yang secara refleks mengangkat testis ke atas ke dalam scrotum, terutama sewaktu dingin. Musculus cremaster, yang berasal dari musculus obliquus internus abdominis, memperoleh persarafan dari ramus genitalis nervi genitofemoralis (L1,L2).7 Komponen funiculus spermaticus ialah : 1. Ductus deferens (vas deferens), pipa berotot dengan kepanjangan sekitar 45 cm yang menyalurkan mani dari epididimis. 2. Arteria testicularis yang berasal dari permukaan lateral aorta, dan memasok darah kepada testis dan epididimis. 3. Arteri untuk ductus deferens dari arteria vesicalis inferior. 4. Arteria cremasterica dari arteria epigastrica inferior. 5. Plexus pampiniformis, anyaman pembuluh balik yang dibentuk melalui anastomosis beberapa sampai dua belas vena. 6. Serabut saraf simpatis pada arteri, dan serabut simpatis dan parasimpatis pada ductus deferens. 7. Ramus genitalis nervi genitofemoralis mempersarafi musculus cremaster. 8. Pembuluh limfe untuk menyalurkan limfe dari testis dan struktur berdekatan ke nodi lymphoidei lumbales dan nodi lymphoidei pre-aortici.7

II.2. TORSIO TESTIS A. DEFINISI Torsio testis adalah suatu keadaan dimana funikulus spermatikus terpeluntir yang mengakibatkan oklusi dan strangulasi dari vaskularisasi vena atau arteri ke testis dan epididimis.12

Testis dapat terputar dalam kantong skrotum (torsio) akibat perkembangan abnormal dari tunika vaginalis dan funikulus spermatikus dalam masa perkembangan janin. Insersi abnormal yang tinggi dari tunika vaginalis pada struktur funikulus akan mengakibatkan testis dapat bergerak seperti anak genta di dalam genta, sehingga testis kurang melekat pada tunika vaginalis viseralis. Testis yang demikian mudah memuntir dan memutar funikulu spermatikus. Jenis torsio ini disebut sebagai torsio funikulus spermatikus intravaginalis.9

Pada masa janin dan neonatus lapisan parietal yang menempel pada muskulus dartos masih belum banyak jaringan penyanggahnya sehingga testis, epididimis, dan tunika vaginalis mudah sekali bergerak dan memungkinkan untuk terpluntir pada sumbu funikulus spermatikus. Terpluntirnya testis pada keadaan ini disebut torsio testis ekstravaginal.12

B. EPIDEMIOLOGI Torsio testis merupakan kelainan yang cukup sering. Di mana torsio testis, epididimitis dan torsi dari appendix testis merupakan 3 penyebab tersering nyeri skrotum akut. Torsio testis juga merupakan kegawat daruratan urologi yang paling sering terjadi pada laki-laki dewasa muda, dengan angka kejadian 1 diantara 4000 orang dibawah usia 25 tahun dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun).2 Trauma dapat menjadi faktor penyebab pada sekitar 50% pasien, torsio timbul ketika seseorang sedang tidur karena spasme otot kremaster. Kontraksi otot ini karena testis kiri berputar berlawanan dengan arah jarum jam dan testis kanan berputar searah dengan jarum jam. Aliran darah terhenti, dan terbentuk edema, kedua keadaan tersebut menyebabkan iskemia testis.9

C. ETIOLOGI Adanya kelainan sistem penyanggah testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang menyebabkan pergerakan yang berlebihan itu, antara lain adalah perubahan suhu yang mendadak (seperti pada saat berenang), ketakutan, latihan yang berlebihan, batuk, celana yang terlalu ketat, defekasi, atau trauma yang mengenai skrotum.10 Faktor predisposisi lain terjadinya torsio meliputi peningkatan volume testis (sering dihubungkan dengan pubertas), tumor testis, testis yang terletak horizontal, riwayat kriptorkismus, dan pada keadaan dimana spermatic cord intrascrotal yang panjang.11 Trauma dapat menjadi faktor penyebab pada sekitar 50% pasien, torsio timbul ketika seseorang sedang tidur karena spasme otot kremaster. Kontraksi otot ini karena testis kiri berputar berlawanan dengan arah jarum jam dan testis kanan berputar searah dengan jarum jam. Aliran darah terhenti, dan terbentuk edema. Kedua keadaan tersebut menyebabkan iskemia testis.9

D. PATOFISIOLOGI Terdapat dua jenis torsio testis berdasarkan patofisiologinya yaitu intravagina dan ekstravagina torsio. Torsio intravagina terjadi di dalam tunika vaginalis dan disebabkan oleh karena abnormalitas dari tunika pada spermatic cord di dalam scrotum. Secara normal, fiksasi posterior dari epididimis dan investment yang tidak komplet dari epididimis dan testis posterior oleh tunika vaginalis memfiksasi testis pada sisi posterior dari scrotum. Kegagalan fiksasi yang tepat dari tunika ini menimbulkan gambaran bentuk bell-clapper deformitas, dan keadaan ini menyebabkan testis mengalami rotasi pada cord sehingga potensial terjadi torsio. Torsio ini lebih sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda.6

10

Ekstravagina torsio terjadi bila seluruh testis dan tunika terpuntir pada axis vertical sebagai akibat dari fiksasi yang tidak komplet atau non fiksasi dari gubernakulum terhadap dinding scrotum, sehingga menyebabkan rotasi yang bebas di dalam scrotum. Kelainan ini sering terjadi pada neonatus dan pada kondisi undesensus testis.6

11

ETIOLOG I Kelainan sistem penyangga testis Faktor predisposisi lain

Testis berotasi

Funiculus spermaticus terpeluntir Aliran darah terhenti Iskemia testis

Nekrosis

Nyeri menjalar ke abdomen

Pembengkakan pada testis

Mual dan muntah

Demam

E. MANIFESTASI KLINIK Nyeri akut pada daerah testis disebabkan oleh torsio testis, epididimitis atau orchitis akut atau trauma pada testis. Nyeri ini seringkali dirasakan hingga ke daerah abdomen sehingga dikacaukan dengan nyeri karena kelainan organ intraabdominal. Sedangkan nyeri tumpul disekitar testis dapat disebabkan karena varikokel.10 Pada torsio testis, pasien mengeluh nyeri hebat di daerah skrotum, yang sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis. Keadaan itu disebut akut skrotum. Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atau perut sebelah bawah sehingga jika tidak diwaspadai sering dikacaukan dengan apendisitis akut.10

12

Gejala lain yang juga dapat muncul adalah mual dan muntah, kadang-kadang disertai demam ringan. Gejala yang jarang ditemukan pada torsio testis ialah rasa panas dan terbakar saat berkermih, dan hal ini yang membedakan dengan orchio-epididimitis.9

F. DIAGNOSA Penegakan diagnosa pada torsio testis dapat dilakukan dengan cara : 1. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik dapat membantu membedakan torsio testis dengan penyebab akut scrotum lainnya. Testis yang mengalami torsio pada scrotum akan tampak bengkak dan hiperemis. Eritema dan edema dapat meluas hingga scrotum sisi kontralateral. Testis yang mengalami torsio juga akan terasa nyeri pada palpasi. Jika pasien datang pada keadaan dini, dapat dilihat adanya testis yang terletak transversal atau horisontal. Seluruh testis akan bengkak dan nyeri serta tampak lebih besar bila dibandingkan dengan testis kontralateral, oleh karena adanya kongesti vena. Testis juga tampak lebih tinggi di dalam scotum disebabkan karena pemendekan dari spermatic cord. Hal tersebut merupakan pemeriksaan yang spesifik dalam menegakkan dianosis. Biasanya nyeri juga tidak berkurang bila dilakukan elevasi testis (Prehn sign).11 Pemeriksaan fisik yang paling sensitif pada torsio testis ialah hilangnya refleks cremaster. Dalam satu literatur disebutkan bahwa pemeriksaan inimemiliki sensitivitas 99% pada torsio testis.11 2. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan urin dilakukan untuk menyingkirkan diagnosa infeksi traktus urinarius pada pasien dengan nyeri akut pada skrotum. Piuria dengan atau tanpa bakteri mengindikasikan adanya suatu proses infeksi dan mungkin mengarah kepada epididimitis. Selain itu perlu juga dilakukan pemeriksaan darah dan sediment urin.10

13

b. Pemeriksaan Radiologis Color Doppler Ultrasonography :10 1) Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat aliran darah pada arteri testikularis. 2) Merupakan Gold Standar untuk pemeriksaan torsio testis dengan sensitivitas 82-90% dan spesifitas 100%. 3) Pemeriksaan ini menyediakan informasi mengenai jaringan di sekitar testis yang echotexture. Ultrasonografi dapat menemukan abnormalitas yang terjadi pada skrotum seperti hematom, torsio appendiks dan hidrokel. 4) Pada torsio testis, akan timbul keadaan echotexture selama 24-48 jam dan adanya perubahan yang semakin heterogen menandakan proses nekrosis sudah mulai terjadi.

14

Nuclear Scintigraphy :10 1) Pemeriksaan ini menggunakan technetium-99 tracer dan dilakukan untuk melihat aliran darah testis. 2) Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengkonfirmasi hasil pemeriksaan aliran darah yang meragukan dengan memakai ultrasonografi. 3) Memiliki sensitivitas dan spesifitas 90-100% dalam menentukan daerah iskemia akibat infeksi. 4) Pada keadaan skrotum yang hiperemis akan timbul diagnosis negatif palsu 5) Adanya daerah yang mengandung sedikit proton pada salah satu skrotum merupakan tanda patognomonik terjadinya torsio.

G. DIAGNOSA BANDING Torsio testis harus selalu dibedakan dengan kondisi-kondisi lain sebagai penyebab dari akut scrotum, antara lain :10,12 1. Epididimitis akut. Penyakit ini secara umum sulit dibedakan dengan torsio testis. Nyeri scrotum akut biasanya disertai dengan kenaikan suhu, keluarnya nanah dari uretra, adanya riwayat coitus suspectus (dugaan melakukan senggama dengan selain isterinya), atau pernah menjalani kateterisasi uretra sebelumnya. Pada pemeriksaan, epididimitis dan torsio testis, dapat dibedakan dengan Prehns sign, yaitu jika testis yang terkena dinaikkan, pada epididmis akut terkadang nyeri akan berkurang (Prehns sign positif), sedangkan pada torsio testis nyeri tetap ada (Prehns sign negative). Pasien epididimitis akut biasanya berumur lebih dari 20 tahun dan pada pemeriksaan sedimen urin didapatkan adanya leukosituria dan bakteriuria. 2. Hernia scrotalis incarserata 3. Hidrokel 4. Tumor testis

15

H. KOMPLIKASI Torsio testis dan spermatic cord akan berlanjut sebagai salah satu kegawat daruratan dalam bidang urologi. Nekrosis tubular pada testis yang terlibat jelas terlihat setelah 2 jam dari torsi. Keterlambatan lebih dari 6-8 jam antara onset gejala yang timbul dan waktu pembedahan atau detorsi manual akan menurunkan angka pertolongan terhadap testis hingga 55-85%. Putusnya suplai darah ke testis dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan atrofi testis. Atrofi testikular dapat terjadi dalam waktu 8 jam setelah onset iskemia. Insiden terjadinya atrofi testis meningkat bila torsio telah terjadi 8 jam atau lebih. Komplikasi klinis dari TT adalah kesuburan yang menurun dan hilangnya testikular apabila torsi tersebut tidak diperbaiki dengan cukup cepat. Tingkat yang lebih ekstrim dari torsi testis mempengaruhi tingkat iskemia testikular dan kemungkinan penyelamatan.5 Komplikasi torsi testis yang paling signifikan adalah infark gonad. Kejadian ini bergantung pada durasi dan tingkat torsi. Analisis air mani abnormal dan apoptosis testikular kontralateral juga merupakan sekuele yang diketahui mengikuti ketegangan testis. Oleh karena itu, resiko subfertilitas harus dibicarakan dengan pasien. Testis yang telah mengalami nekrosis jika tetap dibiarkan berada di dalam skrotum akan merangsang terbentuknya antibodi antisperma sehingga mengurangi kemampuan fertilitas dikemudian hari. Komplikasi lain yang sering timbul dari torsio testis meliputi yaitu hilangnya testis, infeksi, infertilitas sekunder, deformitas kosmetik.4

I. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan torsio testis dibagi menjadi dua yaitu : 1. Non-operatif Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis ke asalnya, dengan jalan memutar testis kearah berlawanan dengan arah torsio. Karena arah torsio biasanya ke medial maka dianjurkan untuk memutar testis kearah lateral dahulu, kemudian

16

jika tidak terjadi perubahan, dicoba detorsi kearah medial. Hilangnya nyeri setelah detorsi menandakan bahwa detorsi telah berhasil. Jika detorsi berhasil, operasi harus tetap dilaksanakan.10 Dalam pelaksanaannya, detorsi manual sulit dan jarang dilakukan. Di unit gawat darurat, pada anak dengan scrotum yang bengkak dan nyeri, tindakan ini sulit dilakukan tanpa anestesi. Selain itu, testis mungkin tidak sepenuhnya terdetorsi atau dapat kembali menjadi torsio tak lama setelah pasien pulang dari RS. Sebagai tambahan, mengetahui ke arah mana testis mengalami torsio adalah hampir tidak mungkin, yang menyebabkan tindakan detorsi manual akan memperburuk derajat torsio.3 2. Operatif Dilakukan untuk reposisi dan setelah itu dilakukan penilaian apakah testis yang mengalami torsio masih viable (hidup) atau sudah mengalami nekrosis. Jika testis masih hidup, dilakukan orchidopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos kemudian disusul orchidopeksi pada testis kontralateral.10

17

Torsio testis merupakan kasus emergensi, harus dilakukan segala upaya untuk mempercepat proses eksplorasi dan pembedahan. Hasil pembedahan tergantung dari lamanya iskemia, oleh karena itu, waktu sangat penting. Biasanya waktu terbuang untuk pemeriksaan pencitraan, laboratorium, atau prosedur diagnostik lain yang mengakibatkan testis tak dapat dipertahankan.3 Tujuan dilakukannya eksplorasi yaitu :3 a. Untuk memastikan diagnosis torsio testis b. Melakukan detorsi testis yang torsio c. Memeriksa apakah testis masih viable d. Membuang (jika testis sudah nonviable) atau memfiksasi jika testis masih viable e. Memfiksasi testis kontralateral Perbedaan pendapat mengenai tindakan eksplorasi antara lain disebabkan oleh kecilnya kemungkinan testis masih viable jika torsio sudah berlangsung lama (>24-48 jam). Sebagian ahli masih mempertahankan pendapatnya untuk tetap melakukan eksplorasi dengan alasan medikolegal, yaitu eksplorasi dibutuhkan untuk membuktikan diagnosis, untuk menyelamatkan testis (jika masih mungkin), dan untuk melakukan orkidopeksi pada testis kontralateral. Saat pembedahan, dilakukan juga tindakan preventif pada testis kontralateral. Hal ini dilakukan karena testis kontralaeral memiliki kemungkinan torsio di lain waktu.3 Jika testis masih hidup, dilakuakn orkidopeksi tunika (fiksasi testis) pada disusul

dartos

kemudian

orkidopeksi pada testis kontralateral. Orkidopeksi dilakukan dengan

mempergunakan benang yang tidak diserap pada 3 tempat untuk mencegah agar testis tidak terpluntir kembali, sedangkan pada testis yang sudah mengalami nekrosis dilakukan pengangkatan

18

testis (orkidektomi) dan kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral. Testis yang telah mengalami nekrosis jika tetap dibiarkan berada dalam skrotum akan merangsang terbentuknya antibodi antisperma sehingga mengurangi kemampuan fertilitas dikemudian hari.10

J. PROGNOSIS Penatalaksanaan torsio testis menjadi tindakan darurat yang harus segera dilakukan karena angka keberhasilan serta kemungkinan testis tertolong akan menurun seiring dengan bertambahnya lama waktu terjadinya torsio. Bila dilakukan penanganan sebelum 6 jam hasilnya baik, 8 jam memungkinkan pulih kembali, 12 jam meragukan, 24 jam dilakukan orkidektomi. Viabilitas testis sangat berkurang bila dioperasi setelah 6 jam. Adapun penyebab tersering hilangnya testis setelah mengalami torsio adalah keterlambatan dalam mencari pengobatan (58%), kesalahan dalam diagnosis awal (29%), dan keterlambatan terapi (13%).

19

BAB III PENUTUP

III.1. KESIMPULAN Torsio testis adalah suatu keadaan dimana funikulus spermatikus terpeluntir yang mengakibatkan oklusi dan strangulasi dari vaskularisasi vena atau arteri ke testis dan epididimis. Adanya kelainan sistem penyanggah testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang menyebabkan pergerakan yang berlebihan itu, antara lain adalah perubahan suhu yang mendadak, ketakutan, latihan yang berlebihan, batuk, celana yang terlalu ketat, defekasi, atau trauma yang mengenai skrotum. Faktor predisposisi lain terjadinya torsio meliputi peningkatan volume testis, tumor testis, testis yang terletak horizontal, riwayat kriptorkismus, dan pada keadaan dimana spermatic cord intrascrotal yang panjang. Pada torsio testis, pasien mengeluh nyeri hebat di daerah skrotum, yang sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis. Keadaan itu disebut akut skrotum. Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atau perut sebelah bawah. Gejala lain yang juga dapat muncul adalah mual dan muntah, kadang-kadang disertai demam ringan. Penegakan diagnosa pada torsio testis dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang meliputi pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologi scintigraphy. Penatalaksanaan torsio testis dibagi menjadi dua yaitu non-operatif dengan detorsi manual dan tindakan operatif. Bila dilakukan penanganan sebelum 6 jam hasilnya baik, 8 jam memungkinkan pulih kembali, 12 jam meragukan, 24 jam dilakukan orkidektomi. dengan color doppler ultrasonography dan nuclear

20

III.2. SARAN 1. Perlu ditingkatkan kerja sama lintas sektoral dalam rangka penanganan penyakit torsio testis ini. 2. Kepada tenaga kesehatan untuk lebih memperhatikan penatalaksanaan torsio testis dengan menghindari keterlambatan dalam mencari pengobatan, kesalahan dalam diagnosis awal, dan keterlambatan terapi. 3. Kepada masyarakat diharapkan ikut berperan serta aktif dalam penerapan pencegahan program penyakit torsio testis ini dan lebih khusus memperhatikan dan melaksanakan pola hidup bersih dan sehat.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Blandy,J., 1992. Lecture Notes on Urology. Oxford : Blackwell Scietific Publication 2. Cuckow,P.M., Frank,J.D., 2001. Torsion of The Testis. Didapat dari : http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1046/j.1464-410x.2000.00106.x/full diakses pada tanggal 15 Juli 2013 3. Govindarajan. 2011. Pediatric Testicular Torsion. Didapat dari : http://emedicine. medscape.com/article/2035074-overview diakses pada tanggal 15 Juli 2013 4. Graham, et al. 2009. Testicular Torsion. Didapat dari : http://connection. ebscohost.com/c/articles/52796608/testicular-torsion diakses pada tanggal 15 Juli 2013 5. Greenberg,M. 2005. Testicular Torsion in Greenberg's Text Atlas of Emergency Medicine. USA : Lippincott Williams & Wilkins 6. Kusbiantoro. 2007. Torsio Testis. Didapat dari : http://bedahunair.hostzi. com/web_documents/torsio_testis.doc diakses pada tanggal 15 Juli 2013 7. Moore,K.L., Agur,A.M.R., 2002. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta : Hipokrates 8. Prekumnar,K. 2004. The Massage Connection Anatomy and Physiology. USA : Lippincott Williams & Wilkins 9. Price,S.A., Wilson,L.M., 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta: EGC 10. Purnomo,,B.P., 2003. Dasar-dasar Urologi. Jakarta : Sagung Seto 11. Ringdahl,E., Teague,L., 2006. Testicular Torsion. Didapat dari : http://www.aafp. org/afp/2006/1115/p1739.html diakses pada tanggal 15 Juli 2013 12. Sjamsuhidajat,R., DeJong,W., 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC

22

LAMPIRAN

23