Anda di halaman 1dari 12
Pogram Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu NAMA : HENDRA PANGARIBUAN NPM : E1J012075 Co-Ass :

Pogram Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu

NAMA

: HENDRA PANGARIBUAN

NPM

: E1J012075

Co-Ass

: RETNO SYAFITRI

Dasar-dasar Perlindungan Tanaman Acara VI

‘’MENGUKUR BERAT SERANGAN

2013

  • 1.1 Dasar Teori

BAB I

Pendahuluan

Tindakan pengendalian dimaksudkan sebagai usaha untuk mencegah atau membatasi kerugian ekonomis akibat terganggu. Tindakan harus dilandasi dengan pertimbanganpertimbagan ekonomis, sehingga tindak tersebut benar-benar menguntungkan bagi kita.Oleh karena itu, sebelum melakukan tindakan pengandalian , terlebih dahulu perlu dilakukan pengamatan untuk menentukan tingkat kerusakannya.

Prinsip tingkat kerusakan ditentukan dengan berapa besar tanaman atau bagian tanaman yang rusak oleh suatu pengganggu dibandingkan dengan besaran seluruh pertanaman atau bagian tanaman yang ada. Tingkat kerusakan dapat dinyatakan dalam persen (5), proporsi (bagian), atau sekarang. Penggunaan skoring hanya sesuai dengan kenyataan jika pertimbangan antara tingkat kerusakan dengan tingkat kerugian tanaman. Metode penentuan berat seranggan sulit dibuat secara umum semua jenis gangguan,karena banyaknya faktor yang mempengaruhinya, misalnya ; jenis tanaman dan bagian tanaman yang sakit, penganggu yang menyerang, cara serangannya, ligkungan yang membantu dan yang menghambat. Metode penentu menjadi tepat jika nilai berat serangan setara dengan yang kerugian. Pada prinsipnya menggunakan rumus umum bahwa berat serangan sama dengan ratio antara kuantitas bagian yang rusak dengan kuantitas seluruh bagan X = bk/bt x 100% dengan hati lambang X= berat serangan, bk = besaran kerusakan, dan bt = besaran tanaman atau bagiannya yang diamati.

Kerusakan yang sulit diukur secara langsung besarnya dapat dilakukan uji pendekatan dengan cara skoring kemudian dihitungberdasarkan indeks serangan McKinney (1923) yang dipopulerkan oleh Townsed dan Humberger (1943) sehingga dikenal sebagai rumus Townsend dan Huberger, yaitu sebagai berikut :X = Σ nv Zn dengan arti simbol : X = berat serangan; n = jumlah anggota sample tiap kategori

skoring, ; V = nilai numerik tiap kategori yang diamati ; N = jumlah keseluruhan anggota sample Z; Z = nilai numerik tinggi pada kategori skoring yang dibuat. Contoh skoring akibat serangan berupa bercak daun dengan toleransi 1-2 bercak per tanaman

SKOR

KRITERIA

0

Tidak ada gejala */keruskaan smaa sekali atau ada hanya 1-2 bercak pada seluruh daun pada tanaman

1

Kurang dari separuh daun *bergejala**/rusak

2

kurang lebih dari separuh daun bergejala/rusak

3

kurang dari separuh daun tidak bergejala/tidak rusak

4

Hanya 1-2 daun saja yang tidak bergejala/tidak rusak

5***

Seluruh daun bergejala / rusak atau tanaman mulai menunjukkan kematian

Ket. • Dalam praktek, kata daun sebagai anggota sample dapat diganti dengan kata

cabang, buah, tanaman dan lan-lain tergantung unit samplingnya. ** Dalam praktek kata gejala dapat diganti dengan nama gejala penyakit atau kerusakan hama yang diamati, misalnya : bercak, berlubang, menggulung, busuk, layu, keriting dan lainnya. *** Nilai numerik tertinggi tida harus 5 tetapi dipertimbangkan dengan perbedaan nyata antara perubahan fisik tanaman dengan nilai kerugian tanaman.

  • 1.2 Tujuan Praktikum

Pelaksanaa pratikum ini bertujuan untuk dapat menaksirkan berat serangan atau tingkat kerusakan pada suatu pertanaman yang mengalami gangguan.

BAB II Tinjauan Pustaka

Jenis hama yang biasa menyerang tanaman kedelai relatif banyak, baik yang berpotensi merusak tanaman dalam katagori ringan hingga berat, mengakibatkan penurunan produksi, dan bahkan mengakibatkan tanaman fuso (tidak menghasilkan). Berdasarkan waktu timbulnya gangguan, perlindungan tanaman pada dasarnya dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu secara preventif dan kuratif. Perlindungan tanaman secara preventif dilakukan untuk pencegahan sebelum tanaman terganggu, sedangkan perlindungan secara kuratif dilakukan untuk mengurangi kerugian selama tanaman terganggu. Perlindungan tanaman yang baik dilakukan secara preventif terlebih dahulu dan jika tanaman mengalami gangguan dilakukan perlindungan secara kuratif. (Purnomo, B, 2011 hal 28).

Prinsip tingkat kerusakan ditentukan dengan menghitung berapa besar tanaman atau bagian tanaman yang rusak oleh suatu pengganggu dibandingkan dengan besarnya seluruh pertanaman atau bagian tanaman yang ada. Tingkat kerusakan tanaman dapat dinyatakan dalam persen (%), proporsi (bagian), atau skoring. Penggunaan skoring hanya sesuai dengan kenyataan jika dipertimbangkan antara tingkat kerusaan dengan tingkat kerugian tanaman. (Nn, 2011 hal 17). Metode penentuan berat serangan sulit dibuat secara umum untuk semua jenis gangguan, karena banyaknya faktor yang mempengaruhinya, misalnya: jenis tanaman dan bagian tanaman yang sakit, pengganggu yang menyerang, cara serangannya, lingkungan yang membantu dan menghambat. Metode menjadi penentuan menjadi tepat jika nilai berat serangan setara dengan tingkatkerugian. Pada prinsipnya menggunakan rumus umum bahwa berat serangan sama dengan ratio antara kuantitas bagian yang rusak dengan kuantitas seluruh bagian. (Nn, 2011 hal 17). X = bk x 100 % bt

dengan arti lambang : X

=

berat serangan

 

bk

=

besar kerusakan

bt

=

besar

tanaman

atau

bagian

yang

diamati.

(Nn, 2011 hal 17).

Kerusakan yang sulit diukur secara langsung besarnya dapat dilakukan uju

pendekatan dengan cara skoring kemudian dihitung berdasarkan indeks serangan McKinney (1923) yang dipopulerkan oleh Townsend dan Humberger (1943) sehingga dikenal dengan rumus Townsend dan Humberger, yaitu X = ∑Nv zN

Dengan arti simbol

X

=

berat serangan

n =

jumlah anggota sampel tiap kategori skoring

V

=

nilai numerik tiap kategori yang diamati

N

=

jumlah keseluruhan anggota sampel

z =

nilai numerik pada kategori skoring yang dibuat

(Nn, 2011 hal 17).

Secara matematis, model perkembangan penyakit dapat diperkirakan menggunakan rumus van der Plank (1963), yakni X t = X 0 .e rt dengan arti lambang bahwa X t = berat serangan pada waktu t, X 0 = berat serangan pada waktu awal, e = kontante bilangan normal (2,71828), r = laju penyakit, dan t = waktu. Perlindungan tanaman menggunakan pendekatan matematis ini pada prinsipnya adalah mengusahakan nilai X t sekecil mungkin. Nilai X t akan menjadi kecil jika serangan awal (X 0 ) kecil, laju penyakit (r) lambat, dan waktu (t) interaksi sebentar. Oleh karena itu, van der Plank juga membedakan perlindungan tanaman menjadi dua tujuan, yaitu mengurangi penular (X 0 ) danmenurunkan laju penyakit (r). (Purnomo, B, 2011 hal 28).

1.2.1. Cara-cara pelaksanaan perlindungan tanaman (Roberts, 1978)

  • 1 .Cara kultur teknis atau budidaya tanaman. Kultur teknis merupakan cara perlindungan dengan memanfaatkan kondisi lingkungan yang dimanipulasi supaya tidak sesuai dengan kondisi lingkungan yang dibutuhkan pengganggu, tetapi sesuai dengan kondisi lingkungan yang dibutuhkan oleh tanaman. Beberapa contoh perlindungan tanaman menggunakan cara kultur teknis, yaitu :

  • 2. Penggunaan tanaman tahan. Varietas tahan banyak dilakukan dalam perlindungan tanaman karena cara ini sangat mudah dilakukan dengan memanfaatkan hasil-hasil penelitian. Selain itu cara ini tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan dapat dikombinasikan dengan cara-cara perlindungan yang lain. Kelemahan cara ini yaitu biayanya tinggi untuk penemuan tanaman tahan, sulit mendapatkan sumber gen, sering menimbulkan biotipe atau ras baru pada pengganggu, bahkan tanaman-tanaman tahan hasil transgenik masih dipertanyakan pengaruhnya terhadap perilaku manusia sebagai konsumen. (Purnomo, B, 2011 hal 30).

  • 3. Cara fisik. Perlindungan tanaman menggunakan cara fisik dilakukan dengan memanfaatkan faktor-faktor fisik, misalnya suhu, kelembaban, sinar atau radiasi. Perlindungan tanaman dengan tujuan untuk mempertahankan rasa manis jagung muda dapat dilakukan dengan merebus (suhu tinggi berair), sayuran maupun buah-buahan supaya awet segar perlu disimpan dalam almari pendingin (suhu rendah), biji-bijian supaya tidak mudah berjamur perlu dikeringkan (kelembaban atau kandungan air rendah). (Purnomo, B, 2011 hal 30).

  • 4. Cara mekanik. Perlindungan tanaman menggunakan cara mekanik dilakukan dengan menggunakan alat dan tenaga. Contoh cara mekanik, yaitu kondomisasi atau pembungkusan buah menggunakan kantong (plastik, kertas), lelesan atau memetik dan mengumpulkan buah terserang, pemangkasan atau memotong cabang, ranting yang terserang, gropyok atau mencari dan membunuh hama, driving mengusir menggunakan bunyi. (Purnomo, B, 2011 hal 30).

  • 5. Penggunaan peraturan atau undang-undang karantina. Sasaran perlindungan tanaman menggunakan peraturan adalah manusia. Cara ini lebih bersifat mencegah masuk, berkembang, dan menyebarnya suatu pengganggu dari dan ke daerah atau negara. Secara umum ada tiga bidang, yaitu karantina asing yang mengatur antar negara, karantina domestik yang mengatur antar wilayah yang dibatasi faktor alam, dan sertifikasi atau pemberian keterangan bebas pengganggu yang membahayakan pada suatu komoditi pertanian.(Purnomo, B, 2011hal 30).

6. Penggunaan bahan kimia. Pada kenyataan sehari-hari, kita sering mendengar istilah-sitilah pembrantasan, pengendalian, dan pengelolaan hama penyakit tanaman (PHT). Kata

pembrantasan berasal dari bahasa Belanda ‘bestrijding’ yang artinya dibersihkan atau dibebaskan, sedangkan kata pengendalian berasal dari bahasa Inggris ‘control’ yang artinya

mengatur dan kata pengelolaan berasal dari kata ‘management’ yang artinya mengatur secara kontinyu. Pestisida berasal dari dua kata yakni pest (=pengganggu) dan cide (= racun).

BAB III

Metodelogi

3.1 Alat dan Bahan Bahan Adapun bahan yang di pergunakan pada pengukuran berat serangan ini adalah Petak pertanaman dengan macam-macam serangan Alat Sedangkan alat yang dipergunakan adalah :

1.Pena

2.Kertas

3.Penggaris

3.2.Cara kerja

  • Tipe kerusakan pada petak pertanaman ditentukan apakah proposional dengan tingkat kerugian atau tidak.

  • Pada kerusakan yang tidak proporsional dengan kerugian dibuat skoring dan kriteria sesuai dengan gejala/kerusakan tanaman yang proporsional dengan tingkat kerugian dengan melakukan pengukuran secara langsung dengan membandingkan kualitasnya.

  • Unit sampling (tanaman sampel) ditentukan secara acak atau statum.

  • Diamati dan dicatat kerusakannya menurut tipe kerusakannya serta jenis pengganggunya.

  • Berat serangan ditentukan dengan perhitungan berdasarkan hasil pengamatan.,

BAB IV HASIL PENGAMATAN

4.1Hasil Pengamatan Berat Serangan

Sampling

Skor pertanaman Ke-

 

ke

  • 1 2

   
  • 3 5

4

 

6

7

A

  • 0 0

 
  • 0 0

       

B

  • 0 3

   
  • 3 2

2

 

0

2

C

  • 1 1

   
  • 3 2

2

     

Perhitungan A.Pada setiap sampel

XA =

0

× 100%

0

= 0%

XB =

12

× 100%

21

= 57,1 %

 

XC =

9

× 100%

15

= 60 % B.Pada total sampel

Xtot = Σnv

X 100%

zn

Xtot =

21

= 47,75%

48

:

4.2 Pembahasan Dalam melakukan pratikum di lahan tanaman jahe IHPT(Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan) tentang pengukuran berat serangan maka didapatkan hasil bahwa serangan hama yang terjadi pada setiap tanaman dalam satu polibet tanaman serangan hamanya sangat berbeda-beda meskipun setiap tanaman itu berdekatan. Dimana pada pengamatan dan perhitungan terhadap serangan yang sudah dilakukan pada satu polibet pertanaman didapatkan hasil berupa serangan yang cukup berat karena tingkat serangan mencapai 47,75 % pada 3 batang tanaman ,yang artinya sangat perlu dilakukan pengendalian karena dikawatirkan tanaman lain akan sampai pada persentase kerusakan yang sama,sedangkan 1 batang tanaman yang lain masih dalam kondisi sehat,artinya belum ada Nampak serangan hama yang ditimbulkan.

BAB V

PENUTUP

Kesimpulan Dari pelaksanaan pratikum tentang mengukur berat serangan didapatkan kesimpulan bahwa:Tingkat kerusakan tanaman memiliki batas standar kerusakan yang ditimbulkan oleh hama pengganggu dan metode yang digunakan dalam penentuan berat serangan pada semua jenis gangguan tergantung pada jenis tanaman dan bagian tanaman yang mengalami gangguan, jenis atau kelompok pengganggu yang menyerang pertanaman, cara pengganggu dalam mengganggu pertanaman, serta keadaan lingkungan sekitar tempat terdapatnya pertanaman dan apbila persentase sudah menyentuh level 50 % sudah harus dilakukan pengendalian ..

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Penuntun Pratikum Dasar Dasar Perlindungan Tanaman. Anonym,2011.mengukur berat serangan.wikipedia Purnomo, B. 2011. Dasar Dasar Perlindungan Tanaman. Bengkulu.

Bengkulu