Anda di halaman 1dari 11

BAB I STATUS PASIEN

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Usia : Tn. I : 72 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Pekerjaan Agama Status : Purn. Letnan Kolonel : Islam : Menikah

II.

ANAMNESIS Dilakukan autoanamnesis pada Rabu, 23 Oktober 2013

A. Keluhan Utama Koreng-koreng gatal pada kedua kaki

B. Keluhan Tambahan Tidak ada

C. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengaku gatal-gatal sejak 4 hari yang lalu pada kedua kaki. Awalnya pada tungkai kanan bawah sisi luar terdapat bintil-bintil merah berisi cairan yang terasa sangat gatal lalu digaruk kemudian bintil-bintil tersebut pecah dan keluar cairan seperti air kemudian menjadi koreng-koreng basah berwarna kehitaman berbentuk bulat seperti koin yang meluas. Gatal menyebar hingga ke tungkai kiri bagian bawah sisi luar. Pasien sudah mengkonsumsi obat penghilang gatal dan salep tetapi tidak membaik, hanya koreng menjadi lebih kering. Pasien mengaku bahwa gatal terasa hilang timbul sepanjang hari terutama malam hari. Gatal membaik jika pasien mengkonsumsi obat. Pasien mengaku mandi menggunakan sabun detol dan tidak pernah menggunakan pelembab. Pasien menyangkal adanya alergi ataupun penyakit kulit lainnya. 1

D. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengaku tidak pernah mengalami keluhan serupa sebelumnya. Pasien memiliki riwayat hipertensi dengan pengobatan amlodipine.

E. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga maupun lingkungan sekitar yang memiliki keluhan serupa.

III. PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis Keadaan Umum : Baik Kesadaran Tekanan Darah Laju Nadi : Compos mentis : 150/80 mmHg : 80 x/menit

Laju Pernapasan : 18x/menit Temperatur Tinggi Badan Berat Badan Status Gizi Kepala Mata Leher Thoraks : 36.7 C : 174 cm : 76 kg : Baik : Normocephali : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik : KGB tidak membesar : Suara nafas vesikuler, ronchi tidak (-), wheezing (-), Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen Genitalia Ekstremitas Kuku : Datar, super, nyeri tekan (-) : Tidak diperiksa : Lihat status dermatologik : Normal, sianosis (-)

B. Status Dermatologikus

Efloresensi : Pada tungkai kanan dan kiri bawah sisi luar tampak lesi eksoriasi ditutupi krusta berwarna hitam diatasnya dengan ukuran numularis sampai plakat, berbatas tegas dengan dasar eritema.

IV. DIAGNOSIS A. Diagnosis Kerja Dermatitis Numularis

B. Diagnosis Banding Dermatitis kontak Dermatofitosis

V.

RESUME Pasien laki-laki berusia 72 tahun datang ke Poliklinik Kulit dan Kelamin RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan koreng-koreng gatal pada kedua kaki sejak 4 hari yang lalu. Awalnya berbentuk bintil-bintil merah berisi cairan berwarna putih lalu digaruk hingga pecah dan menjadi koreng yang meluas. Pasien sudah mengkonsumsi obat penghilang gatal dan salep tetapi tidak membaik. Pada pemeriksaan status generalis dalam batas normal, pada status dermatologi pada tungkai bawah kanan dan kiri sisi luar, didapatkan beberapa lesi eksoriasi ditutupi krusta berwarna hitam diatasnya dengan ukuran numularis sampai plakat, berbatas tegas dengan dasar eritema.

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan KOH

VII. PEMERIKSAAN ANJURAN Pemeriksaan patch test

VIII. TATALAKSANA A. Non-medikamentosa Menggunakan sabun dengan pH netral Menggunakan pelembab Hindari menggaruk dan memegang luka

B. Medikamentosa Kompres NaCl 0,9% pada lesi yang basah Betamethasone dipropionate krim 0,05% 3 x sehari Hidroksisin tab 2 x 25 mg

IX. PROGNOSIS Quo ad Vitam Quo ad Functionam Quo ad Sanationam : bonam : bonam : dubia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DERMATITIS NUMULARIS

I.

DEFINISI Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pegaruh faktor eksogen, misalnya bahan kimia maupun faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik, eritema, edema, papul, vesikel, skuama, linefikasi dan keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan bahkan mungkin hanya beberapa (oligomorfik). Dermatitis cenderung residif dan menjadi kronis1,3,4. Dermatitis numularis adalah suatu gambaran morfologi tunggal yang nonspesifik, yaitu plak lingkaran atau oval dan eksem dengan tepi berbatas jelas. Numular atinya adalah coin-shaped atau mata uang logam. Dermatitis numularis juga dikenal dengan nama ekzem numular1.

II.

EPIDEMIOLOGI Dermatits numularis merupakan penyakit yang terjadi pada orang dewasa. Lebih sering terjadi pada pria dibandungkan perempuan. Usia puncak awitan pada kedua jenis kelamin antara 55 65 tahun dan pada wanita usia puncak terjadi juga pada usia 15 25 tahun. dermatitis numularis jarang sekali terjadi pada bayi dan anak-anak, bila terjadi usia awitannya usia 5 tahun1,3.

III. ETIOLOGI Penyebab dermatitis numularis sampai saat ini belum diketahui. Namun demikian banyak faktor predisposisi, baik predisposisi primer maupun sebagai predisposisi sekunder telah diketahui sebagai agen etiologi. Staphylococcus dan mikrokokus diketahui sebagai penyebab langsung melalui mekanisme

hipersensitivitas. namun demikian, perannya secara patologis belum juga diketahui. Dalam beberapa kasus, adanya tekanan emosional, trauma lokal seperti gigitan serangga dan kontak dengan bahan kimia mungkin dapat mempengaruhi timbulnya

dermatitis numular, tetapi bukan merupakan penyebab utama. Penyakit ini umumnya dihubungkan dengan kondisi kulit yang kering dan frekuensi mandi yang sering dalam sehari akan memperburuk kondisi penyakit ini1.

IV. DIAGNOSIS Diagnosis dermatitis numularis didasarkan atas anamnesis, gambaran klinis dan pemeriksaan penunjang. A. Anamnesis Mengeluh sangat gatal, berulang dan waktu malam, kadang bervariasi gatalnya1,3,4.

B. Gejala Klinis Lokasi tersering pada bagian ekstremitas sisi ekstensor Tampak lesi plak ukuran koin (1-3 cm), vesikel berdinding tipis pada dasar eritematus Bentuk papulovesikel yang mudah pecah sehingga basah (oozing) Pada fase akut lesi warna merah gelap, bentuk polimorf Kulit sekitarnya normal tetapi kadang-kadang kering Penyembuhan ditengah dapat ada membentuk anular Plak kronis kering, berskuama dan likenifikasi Diskoid eksudatif dan dermatitis likinoid merupakan variasi dermatitis nummular

Gambar 3. Dermatitis Numularis

C. Pemeriksaan Penunjang a. Patch Tes Dilakukan untuk mengidentifikasi kasus kronis yang tidak kunjung sembuh dan menghilangkan diagnosis dermatitis kontrak sebagai diagnosis banding. Pada dermatitis numularis, pemeriksaan IgE cenderung normal1,3.

b. Biopsi Dilakukan bila ada kondisi lain yang sangat mirip dengan penyakit ini sehingga sulit untuk menentukan diagnosis, contohnya tinea dan psoriasis1.

c. Histopatologis Pada lesi akut ditemukan spongiosis, vesikel intraepidermal, sebukan sel radang limfosit dan makrofag disekitar pembuluh darah. Sedangkan pada kronis ditemukan akantosis teratur, hipergranulosis dan hiperkeratosis dan mngkin spongiosis ringan1.

V.

DIAGNOSIS BANDING A. Dermatitis Kontak Morfologi klinis primer antara dermatitis kontak dan dermatitis nummular sering sulit dibedakan. Pada dermatitis kontak biasanya lokal dan ditemukan riwayat kontak sebelumnya. Untuk membedakan dapat dilakukan pemeriksaan patch test atau prick test1,3.

Gambar 4. Dermatitis kontak

B. Dermatofitosis Merupakan penyakit jamur yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofita yang menyerang kulit pada jaringan yang mengandung zat tanduk pada, misalnya stratum korneum epidermis, rambut dan kuku. Pada dermatofitosis tampak sebagai tinea dengan pinggir lebih aktif dibandingkan daerah tengah. Secara klinis dermatitis numularis berbeda dengan tinea, karena pada dermatitis nuularis bagian tepi lebih vesikuler dengan batas kurang tegas dibandingkan tinea. Pada tinea dapat dicari hifa dair sediaan langsung untuk menegakkan diagnosis1,3.

Gambar 5. Tinea korporis

VI. PENATALAKSANAAN A. Non-medikamentosa1,3 a. Menghindari allergen terutama pada pasien yang berkaitan dengan dermatitis kontak. b. Melindungi kulit dari trauma karena dermatitis nummular berawal dari trauma kulit ringan. Jika pada tangan, gunakan sarung tangan supaya tidak teriritasi. c. Pemberian pelembab untuk mengurangi kekeringan kulit. Sebaiknya disertai dengan penggunaan sabun dengan pH netral

B. Medikamentosa a. Steroid topikal Untuk menghilangkan peradangan pada kulit dan mengurangi iritasi kulit dengan potensi tinggi efektif dalam pengobatan dermatitis, dapat digunakan betamethasone krim 0,05%1,2.

b. Steroid sistemik Digunakan pada kasus dermatitis nummular yang berat, dapat diberikan prednisolone 40-60 mg 4 x sehari1,2.

c. Antibiotik oral maupun topikal Bila terjadi infeksi sekunder, dapat digunakan cefadroxil 125-500 mg selama 7 10 hari1,2.

d. Antihistamin oral Untuk mengurangi rasa gatal dan sangat berguna pada malam hari, dapat digunakan hidroksisin 50-100 mg1,2.

VII. KOMPLIKASI Bila tidak diobati dengan baik, maka dapat terjadi infeksi sekunder1.

VIII. PROGNOSIS Dari suatu pengamatan sejumlah penderita yang dikuti selama berbagai interval sampai dua tahun, didapati bahwa 22% sembuh, 25% pernah sembuh untuk beberapa minggu sampai tahun, 53% tidak pernah bebas dari lesi kecuali masih dalam pengobatan1.

IX. KESIMPULAN Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan/atau faktor endogen yang menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik dan keluhan gatal. Dermatitis numularis termasuk dalam pembagian dermatitis berdasarkan bentuk. Dermatitis numularis adalah dermatitis berupa lesi berbentuk mata uang (koin) dan agak lonjong, berbatas tegas dengan efloresensi berupa papulovesikel, mudah pecah sehingga basah (oozing). Bentuk dermatitis ini lebih sering pada pria dibandingkan wanita dan sering menyerang usia dewasa dan sensitive dengan alergi. Penyebabnya tidak diketahui. Bentuk-bentuk infeksi lainnya pada dermatitis, seperti kolonisasi S.aureus dapat memperberat kondisi penyakit walaupun tidak ada gejala klinis. Untuk menegakkan diagnosis perlu dilakukan pemeriksaan penunjang seperti patch test, pemeriksaan histopatologis dan biopsi. Penatalaksaan awal, penderita perlu diberikan edukasi untuk menghindari allergen, menghindari trauma kulit dan menggunakan pelembab karena pada umumnya kulit penderita dermatitis nummular cenderung kering. Kemudian untuk terapi medikamentosa dapat diberikan antibiotic, kortikosteroid dan antihistamin. Umumnya prognosis penyakit ini baik dan dapat sembuh dengan pemberian pengobatan topikal.

10

DAFTAR PUSTAKA
1. Sularsito SA, Djuanda S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin: Bab Dermatitis. Edisi Keenam. Cetakan Pertama. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010. 2. Gunawan S. Farmakologi dan Terapi Edisi Kelima, Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2008. 3. Burgin S. Nummular eczema . In : Wolff.K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS and Leffell DJ. Fitzpatricks Dermatology in General medicine 7th ed. New York: Mc Graw Hill; 2008 4. James WD, Buger TG and Elston DM. Andrews Diseases of the Skin Clinical Dermatology 11ed . Philadelphia: Saunders Elsevier; 2011

11