Anda di halaman 1dari 25

BAB I LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Nyeri kepala atau cephalgia adalah nyeri atau rasa tidak enak di kepala, setempat atau menyeluruh dan dapat menjalar ke wajah, mata, gigi, rahang bawah dan leher. Struktur di kepala yang peka terhadap rasa nyeri adalah kulit, fasia, otot-otot, arteri ekstra dan intraserebral, meningen, dasar fossa anterior, fossa posterior, tentorium serebeli, sinus venosus, nervus V, VII, IX, X, radix posterior C2,C3, bola mata, rongga hidung, rongga sinus, dentin dan pulpa gigi. Sedangkan otak tidak sensitif terhadap nyeri. Pada struktur terdapat ujung saraf nyeri yang mudah dirangsang oleh : 1. 2. 3. 4. 5. traksi atau pergeseran sinus venosus dan cabang cabang kortikal traksi, dilatasi atau inflamasi pada arteri intra dan ekstrakranial traksi, pergeseran atau penyakit yan gmengenai saraf kranial dan servikal perubahan tekanan intrakranial penyakit jaringan kulit kepala, wajah, mata, hidung, telinga dan leher

Cephalgia akan menjadi masalah, baik bagi penderitanya maupun dokter yang mengobatinya, apabila terjadi secara menahun atau kronik berulang. Dalam hal ini sering sefalgia merupakan gejala tunggal atau gejala yang paling menyolok.

Manifestasi klinis Anamnesis khusus nyeri kepala meliputi : a. jenis nyeri berat, denyut, tarik, ikat, pindah pindah, rasa kosong b. awitan (onset) onset pada orang tua peningkatan TIK (hidrocephalus, tumor, perdarahan sub arachnoid) kronis tension headache, post trauma, neurosis, sinusitis akut perdarahan non trauma, meningitis, glaucoma c. frekuensi (periodisitas) terus-menerus tension headache
1

episode migren d. lama nyeri migren dalam jam tension headache hari-bulan neuralgia trigeminal menyengat, detik-menit e. kapan nyeri cluster headache: sewaktu tidur nyeri waktu bangun tidur tension headache: siang dan sore lebih sering, rangsangan emosi migren; pencetus cahaya, cuaca, alkohol neuralgia trigeminal: tercetus waktu menelan, bicara, sikat gigi f. kualitas dan intensitas migren: denyut hebat (susah kerja) cluster headache: denyut seperti bor tension headache: seperti memakai topi baja berat g. gejala penyerta migren: muntah, vertigo, diplopia cluster: ptosis ipsilateral, mioasis, konjungtiva merah tension headache: foto dan fonofobia.

Tanyakan pula tentang faktor presipitasi, faktor yang memperberat atau mengurangi nyeri kepala, pola tidur, faktor emosional/ stress, riwayat keluarga, riwayat trauma kepala, riwayat penyakit medik (peradangan selaput otak, hipertensi, demam tifoid, sinusitis, glaucoma dan sebagainya), riwayat operasi, riwayat alergi, prahaid (pada wanita), riwayat pemakaian obat (analgetik, narkotik, penenang, vasodilator dll). Pemeriksaan khusus meliputi palpasi pada tengkorak untuk mencari kelainan bentuk, nyeri tekan dan benjolan. Palpasi pada otot untuk mengetahui tonus dan nyeri tekan daerah tengkuk. Perabaan arteri temporalis superfisialis dan arteri carotis komunis. Pemeriksaan leher, mata, hidung, tenggorok, telinga, mulut dan gigi geligi perlu dilakukan. Pemeriksaan neurologis lengkap, ditekankan pada fungsi saraf otak termsuk funduskopi, fungsi motorik, sensorik serta koordinasi.

Nyeri kepala dapat primer berupa migren, nyeri kepala cluster, nyeri kepala tegang otot, dan sekunder seperti nyeri kepala pasca trauma, nyeri kepala organik sebagai bagian penyakit lesi desak ruang (tumor otak, abses, hematom subdural dll), perdarahan subarachnoid, neuralgia trigeminus pasca herpetik, penyakit sistemik (anemia, polisitemia, hipertensi, hipotensi dll), sesudah pungsi lumbal, infeksi intrakranial sistemik, penyakit hidung dan sinus paranasal, akibat bahan toksis dan penyakit mata. Nyeri kepala yang menunjukkan tanda bahaya dan memerlukan evaluasi penunjang: nyeri kepala hebat pertama kali yang timbul mendadak nyeri kepala yang paling berat yang pernah dialami nyeri kepala berat yang progresif selama beberapa hari atau minggu nyeri kepala yang timbul bila latihan fisis, batuk, bersin, atau membungkuk. Nyeri kepala yang disertai penyakit umum atau demam, mual, muntah atau kaku kuduk Nyeri kepala yang disertai gejala neurologis (afasia, koordinasi buruk, kelemahan fokal atau rasa baal, mengantuk, fungsi intelek menurun, perubahan keperibadian dan penurunan visus).

Pemeriksaan Tambahan 1. Ro foto kepala melihat struktur tengkorak 2. Ro foto servikal menentukan adanya spondiloartrosis dan fraktur servikal 3. CT Scans/ MRI pada nyeri kepala yang menunjukkan kemungkinan penyakit intrakranial (tumor, perdarahan subarachnoid, AVM dll) 4. EEG dilakukan bila ada riwayat kejang, kesadaran menurun, trauma kepala atau presinkop 5. Foto sinus paranasal melihat adanya sinusitis 6. Angiografi untuk kasus spesifik seperti aneurisma 7. LP infeksi, perdarahan intrakranial 8. EMG kontraksi otot yang terus menerus pada tengkuk, belakang dan depan kepala 9. Labor pemeriksaan kimia darah MIGRAIN Migrain atau sering juga disebut sakit kepala atau pusing sebelah adalah nyeri kepala berdenyut yang kerapkali disertai mual, muntah. Penderita biasanya sensitif terhadap cahaya, suara, bahkan bau-bauan. Sakit kepala ini paling sering hanya mengenai satu sisi kepala saja, kadang-kadang berpindah ke sisi sebelahnya, tetapi dapat mengenai kedua sisi kepala sekaligus. Migrain kadang kala agak sulit dibedakan dengan sakit kepala jenis lain. Sakit kepala akibat gangguan pada sinus atau akibat ketegangan otot leher mempunyai gejala yang hampir sama dengan gejala migrain. Migrain dapat timbul bersama penyakit lain misalnya asma dan depresi. Penyakit yang sangat berat, misalnya tumor atau infeksi, dapat juga menimbulkan gejala yang mirip migrain. Namun kejadian ini sangat jarang.

BAB II PERMASALAHAN

MIGRAIN 2.1 Penyebab Migrain Penyebab pasti migrain masih belum begitu jelas. Diperkirakan, adanya hiperaktiftas impuls listrik otak meningkatkan aliran darah di otak, akibatnya terjadi pelebaran pembuluh darah otak serta proses inflamasi. Pelebaran dan inflamasi ini menyebabkan timbulnya nyeri dan gejala yang lain, misalnya mual. Semakin berat inflamasi yang terjadi, semakin berat pula migrain yang diderita. Telah diketahui bahwa faktor genetik berperan terhadap timbulnya migrain. 2.2 Gejala Migrain Gejala Awal: Satu atau dua hari sebelum timbul migrain, penderita biasanya mengalami gejala awal seperti lemah, menguap berlebih, sangat menginginkan suatu jensi makanan (mislanya coklat), gampang tersinggung, dan gelisah. Aura: Hanya didapati pada migrain klasik. Biasanya terjadi dalam 30 menit sebelum timbulnya migrain. Aura dapat berbentuk gangguan penglihatan seperti melihat garis yang bergelombang, cahaya terang, bintik gelap, atau tidak dapat melihat benda dengan jelas. Gejala aura yang lain yaitu rasa geli atau rasa kesemutan di tangan. Sebagian penderita tidak dapat mengucapkan katakata dengan baik, merasa kebas di tangan, pundak, atau wajah, atau merasa lemah pada satu sisi tubuhnya, atau merasa bingung. Penderita dapat mengalami hanya satu gejala saja atau beberapa macam gejala, tetapi gejala ini tidak timbul bersamaan melainkan bergantian. Suatu gejala aura biasanya menghilang saat nyeri kepala atau gejala aura yang lain timbul. Namun kadang-kadang gejala aura tetap bertahan pada permulaan sakit kepala. Sakit kepala dan gejala penyerta: Penderita merasakan nyeri berdenyut pada satu sisi kepala, sering terasa di belakang mata. Nyeri dapat berpindah pada sisi sebelahnya pada serangan
5

berikutnya, atau mengenai kedua belah sisi. Rasa nyeri berkisar antara sedang sampai berat. Gejala lain yang sering menyertai nyeri kepala antara lain: * Kepekaan berlebihan terhadap sinar, suara, dan bau * Mual dan muntah * Gejala semakin berat jika beraktifitas fisik Tanpa pengobatan, sakit kepala biasanya sembuh sendiri dalam 4 sampai 72 jam. Gejala Akhir: Setelah nyeri kepala sembuh, penderita mungkin merasa nyeri pada ototnya, lemas, atau bahkan merasakan kegembiraan yang singkat. Gejala-gejala ini menghilang dalam 24 jam setelah hilangnya sakit kepala 2.3 Pencetus Migrain Migrain dapat dicetuskan oleh makanan, stres, dan perubahan aktivitas rutin harian, walaupun tidak jelas bagaimana dan mengapa hal tersebut dapat menyebabkan migrain. Pencetus migrain antara lain: * Konsumsi makanan tertentu, seperti coklat, MSG, dan kopi * Tidur berlebihan atau kurang tidur * Tidak makan * Perubahan cuaca atau tekanan udara * Stres atau tekanan emosi * Bau yang sangat menyengat atau asap rokok * Sinar yang sangat terang atau pantulan sinar matahari. Di seluruh dunia, migrain mengenai 25% wanita dan 10% pria. Wanita dua sampai tiga kali lebih sering terkena migrain dibanding laki-laki. Migrain paling sering mengenai orang dewasa (umur antara 20 sampai 5o tahun), tetapi seiring bertambahnya umur, tingkat keparahan dan keseringan semakin menurun. Migrain biasanya banyak mengenai remaja. Bahkan, anak-anak pun dapat mengalami migrain, baik dengan atau tanpa aura. Resiko mengalami migrain semakin besar pada orang yang mempunyai riwayat keluarga penderita migrain.

2.4 Aspek Genetik Migren Adanya hubungan genetik pada migren telah lama dikenal, meskipun tidak ditemukan pola pewarisan secara Mendel yang konsisten. Hal ini menunjukkan adanya pola pewarisan yang bervariasi dan kemungkinan adanya gen-gen multipel yang berinterkasi dengan factor lingkungan dalam pola multifaktorial. Pola pewarisan yang jelas terdapat pada migrain hemiplegik familial, yakni subtipe yang langka dari migraine dengan aura, yang memiliki pola autosom dominant. 2.5 Klasifikasi Nyeri kepala migren adalah suatu sindrom nyeri rekuren episodik yang diklasifikasikan menjadi 3 tipe yaitu migren tanpa aura, migren dengan aura, dan varian migren.

1.Migren tanpa aura Migren tanpa aura adalah tipe yang paling sering dijumpai, ditemukan pada sekitar 80% dari semua pengidap migren. Migren tanpa aura mungkin dimulai di neuron-neuron nosiseptif di pembuluh darah. Sinyal nyeri berjalan dari pembuluh ke aferen primer dan kemudian ke ganglion trigeminus, dan akhirnya mencapai nucleus kaudalis trigeminus, suatu daerah pengolah nyeri di batang otak. Neuron-neuron aktif di SSP kemudian mengekspresikan gen c-fos yang ditekan oleh butabarbital di dalam nucleus kaudatus.1 Selama serangan migren, banyak fungsi fisiologik yang terganggu seperti gangguan pemrosesan sensorik yang menyebabkan fotofobia atau fonofobia, gangguan motilitas GI yang menyebabkan mual dan muntah, gangguan otonom, atau gangguan serebrum yang bisa menyebabkan perubahan kognitif dan suasana hati. 2.Migren dengan aura Migren dengan aura lebih besar kemungkinannya mengalami rangkaian perubahan neurobiologik 24-48 jam sebelum awitan nyeri kepala. Biasanya perubahan neurobiologik tersebut dimulai dan berakhir sebelum awitan nyeri kepala. Kualitas penyebaran gejala neurologik fokal khas mengisyaratkan bahwa aura serupa dengan spreading depression korteks yang terjadi saat suatu gelombang depolarisasi listrik berjalan melintasi korteks dan merangsang neuron-neuron sehingga fungsi neuron tersebut terganggu dan terjadi pengaktifan trigeminus. Diketahui bahwa spreading depression tersebut memerlukan aktivitas reseptor N-metil-Daspartat glutamat. Gejala aura yang khas mencakup perubahan penglihatan dan sensorik abnormal lainnya seperti kilatan atau cahaya tajam atau merasa mengecap atau membaui sesuatu, serta defisit motorik dan bicara (afasia). Aura juga bisa bersifat somatosensorik seperti rasa baal di satu tangan atau satu sisi wajah. 3.Varian Migrain Migren Oftlamoplegik

Jenis ini jarang terjadi. Gejalanya berupa serangan nyeri periorbital yang disertai muntahmuntah, berlangsung 1 sampai 4 hari. Setelah nyeri hilang, terjadi ptosis ipsilateral kemudian dalam beberapa jam terjadi palsi N. III keseluruhan sehingga terjadi dilatasi pupil dan respon terhadap cahaya hilang. Oftalmoplegia bertahan dalam beberapa hari sampai 2 bulan. Setelah mengalami banyak serangan, oftalmoparesis menjadi menetap. Sindrom ini biasanya bermula sejak anak-anak, berbeda dengan sindrom Tolosa Hunt (oftalmoplegia yang nyeri) yang terjadi pada dewasa. Penyangatan pada N. III pada MRI menunjukkan bahwa terdapat proses peradangan neuropati cranial dibandingkan penyakit migren. Migren Retinal Serangan monookuler skotoma atau kebutaan yang berlangsung kurang dari 1 jam dan dapat berulang dan diikuti nyeri kepala tanpa dijumpai adanya kelainan okuler maupun gangguan structural pembuluh darah. Komplikasi Migren 1. Status Migrenosus; Serangan migren dengan nyeri kepala yang berlangsung lebih dari 72 jam. (interval bebas nyeri kepala kurang dari 4 jam). 2. Migren infark/migren komplikata; Satu atau lebih gejala aura migren yang tidak pulih sempurna dalam 7 hari dan/atau dapat dihubungkan dengan konfirmasi kelainan infark iskemik pada pemeriksaan neuroimajing. 2.6 Patogenesis Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti faktor penyebab migraine. Dari penyelidikan yang sudah ada, diduga sebagai ganguan neurologis, perubahan sensitivitas system saraf dan aktivasi system trigeminal vaskular1. 1. Gangguan neurologis Setiap orang mempunyai ambang migraine yang berbeda-beda, sesuai dengan reaksi neurovaskular terhadap perubahan mendadak dalam lingkungan. Dengan tingkat kerentanan

yang berbeda-beda maka akan ada sebuah ketergantungan keseimbangan antara eksitasi dan inhibisi pada berbagai tingkat saraf. 2.Perubahan sensitivitas sistem saraf Proyeksi difus locus ceruleus ke korteks sereri dapat mengalami terjadinya oligmia kortikal dan mungkin pula terjadinya spreading depresision 3. Aktivasi trigeminal vaskular Mekanisme migraine berwujud sebagai refeks trigeminal vaskular yang tidak stabil dengan cacat segmental pada jalur nyeri. Cacat segmental ini yang memasukkan aferen secara berlebihan yang kemudian akan terjadi dorongan pada kortibular yang berlebihan. Dengan adanya rangsangan aferen pada pembuluh darah, maka menimbulkan nyeri berdenyut. Kemungkinan lain terntang patogenesis migraine didasarkan atas inflamasi neurogenik di dalam jaringan intrakanal. Terdapat beberapa hal yang dapat memperberat keluhan migraine. Berikut ini adalah jenis keadaan yang dapat memperberat keluhan migraine, diantaranya adalah : 1.Stress, diburu waktu, marah atau adanya konflik 2. Bau asap atau uap, asap rokok, perubahan udara dan cahaya yang menyilaukan 3.Menstruarsi, pil KB, pengobatan hormon estrogen 4. Kurang tidur atau terlalu lama tidur 5. Lapar dan minuman keras 6. Latihan fisik yang teralu banyak 7. Pemakaian obat-obatan tertentu 2.7 Faktor Pemicu Banyak orang dengan nyeri kepala migren dapat mengenali satu atau lebih pemicu yang memulai serangan nyeri. Pemicu yang sering adalah anggur merah, coklat, bau yang tajam, cahaya
10

berkedip-kedip, stres emosi, daur hidup tak teratur, alkohol, kafein, nikotin, dan makanan yang banyak mengandung gula murni menyerupai gejala sakit kepala lainnya. Pemeriksaan standard yang dilakukan adalah dengan menggunakan kriteria International Headache Society yaitu, seseorang didiagnosis migraine jika mengalami 5 atau lebih serangan sakit kepala tanpa aura (atau 2 serangan dengan aura) yang sembuh dalam 4 sampai 72 jam tanpa pengobatan dan diikuti dengan gejala mual, muntah, atau sensitif terhadap sinar dan suara. 2.8 Pemeriksaan Gejala migraine yang timbul perlu diuji dengan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain dan kemungkinan lain yang menyebabkan sakit kepala. Pemeriksaan lanjutan tersebut adalah6: 1. MRI atau CT Scan, yang dapat digunakan untuk menyingkirkan tumor dan perdarahan otak. 2. Punksi Lumbal, dilakukan jika diperkirakan ada meningitis atau perdarahan otak. 2.9 Medikamentosa Yang digunakan untuk menghentikan serangan migraine, meliputi2, 3, 5 : 1.Anti-Inflamasi Non Steroid (NSAID), misalnya aspirin, ibuprofen, yang merupakan obat lini pertama untuk mengurangi gejala migraine. 2.Triptan (agonis reseptor serotonin). Obat ini diberikan untuk menghentikan serangan migrain akut secara cepat. Triptan juga digunakan untk mencegah migrain haid. 3.Ergotamin, misalnya Cafegot, obat ini tidak seefektif triptan dalam mengobati migrain.
11

4.Midrin, merupakan obat yang terdiri dari isometheptana, asetaminofen, dan dikloralfenazon. 5. Analgesic, mengandung butalbital yang sering memuaskan pada terapi 6. Opioid analgesics, pada umumnya lapang perantaranya memberikan hasil yang mengecewakan. 2.10 DATA PASIEN

2.10.1 Data Administrasi Pasien a. Nama / Umur b. No. register : M / 49 tahun : Kr.Suci

c. Status kepegawaian : d. Status sosial : ibu dengan 3 orang anak

2.10.2 Data Demografis a. Alamat b. Agama c. Suku d. Pekerjaan e. Bahasa Ibu f. Jenis Kelamin : Kr.Suci : Islam : Jawa : Pedagang : Indonesia : Perempuan

2.10.3 Data Biologik a. Tinggi Badan b. Berat Badan c. Habitus : 155 cm : 50 kg :-

2.10.4 Data Klinis a. Anamnesis Keluhan Utama : Nyeri kepala hilang timbul sejak 2 hari yang lalu
12

Riwayat Penyakit Sekarang : Nyeri kepala sejak 2 hari yang lalu, nyeri terutama di kepala sebelah kanan, nyeri seperti ditarik dan berdenyut-denyut, hilang timbul. Nyeri sampai mengganggu aktivitas sehari-hari. Nyeri kepala disertai mual. Tidak disertai muntah. Nyeri bertambah dengan melihat cahaya silau dan tidak bertambah mendengar suara ribut. Keluhan nyeri biasanya timbul jika telat makan, stress, saat membaca, menonton tv, ataupun pekerjaan lain yang membutuhkan konsentrasi. Rasa nyeri semakin terasa berat bila pasien beraktivitas dan sedikit berkurang bila pasien berbaring atau beristirahat. Keluhan tidak dipengaruhi oleh siklus menstruasi pasien dan makanan (seperti indomie, coklat,dll). Keluhan telinga berdenging (-), penglihatan buram (-), penglihatan ganda (-), penglihatan kabur (-), silau (-). Sakit gigi (-). Pusing berputar disangkal. Pasien mengaku tidak ada tanda-tanda khusus sebelum serangan nyeri datang. Tidak ada riwayat trauma kepala. Demam (-) Riwayat kebiasaan merokok tidak ada Kebiasaan minum kopi tidak ada. Kebiasaan minum alkohol tidak ada.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengaku sudah sering sakit kepala seperti ini sejak 3 tahun yang lalu. Nyeri dirasakan hilang timbul. Setiap keluhan timbul intensitas bervariasi dari ringan ke berat, dan saat keluhan timbul, keluhan menetap pada lokasi yang sama. Lamanya setiap serangan tidak menentu. Nyeri rata-rata 2x/bulan dan tiap sakit kepala muncul, pasien membeli obat di warung. Riwayat hipertensi tidak ada.

13

Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini b. Pemeriksaan Jasmani Tanda Vital : - Kesadaran - TD - Nadi - Nafas - Suhu : cmc : 130/80 mmHg : 88 x/menit : 22 x/menit : 37 0C

Status Generalisata : Kepala Kulit Mata THT Leher Dada : tidak ditemukan kelainan : teraba hangat, turgor baik, ikterik (-) : konjungtiva tak anemis, sklera tak ikterik : tidak ada kelainan : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening : Paru I : normochest, simetris kiri kanan, retraksi dinding dada tidak ada Pa Pe A Jantung I : Iktus tidak terlihat Pa : Iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V Pe : batas jantung dalam batas normal A : Bunyi jantung murni, irama teratur, bising tidak ada Abdomen I : tidak membuncit Pa : supel, hepar dan lien tidak teraba.
14

: fremitus kiri=kanan : sonor : napas vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

Pe: timpani A: Bising Usus (+) normal Genitalia Ekstremitas : tidak diperiksa : akral hangat, refilling kapiler baik, reflek fisiologis +/+, reflek patologis -/-

Status Neurologikus Tanda rangsangan selaput otak : kaku kuduk laseque : (-) : (-) kernig brudzinski I : (-) : (-)

brudzinski II : (-) Tanda peningkatan TIK muntah proyektil : (-)

sakit kepala progresif : (-) Saraf - saraf otak 1. Nervi Kranialis NI N II : : Penciuman baik tajam penglihatan N/N, lapangan penglihatan N/N melihat warna +/+ N III, IV, VI : pupil isokor, diameter 3 mm, reflek cahaya +/+, gerakan mata ke lateral +/+ NV N VII : : motorik dan sensorik baik raut muka simetris, plika nasolabialis simetris, menutup mata +/+ , menggerakkan dahi +/+,
15

mencibir (+), bersiul (+) N VIII N IX NX N XI N XII 2. Koordinasi : : : : : : tidak ada kelainan Reflek muntah (+) bias menelan, artikulasi jelas menolehkan kepala (+), mengangkat bahu (+) lidah tak ada deviasi Cara Berjalan : Normal, Tes supinasi (+), Tes jari hidung (+), tes hidung jari (+), Disartri (-) 3. Motorik : Dekstra aktif 5/5/5 eutonus eutrofi Sinistra aktif 5/5/5 eutonus eutrofi

Ekstremitas superior Pergerakan Kekuatan Tonus Trofi

Ekstremitas inferior Pergerakan Kekuatan Tonus Trofi 4. Sensorik :

Dekstra aktif 5/5/5 eutonus eutrofi

Sinistra aktif 5/5/5 eutonus eutrofi

Sensibilitas halus dan kasar baik BAB dan BAK terkontrol, sekresi keringat (+)

5. Fungsi otonom;

16

6. Reflek fisiologis Biseps Triseps APR KPR : : : : +/+ +/+ +/+ +/+

7. Reflek patologis Babinski Chaddock Oppenheim Gordon Schaffer Hoffman Trommer Fungsi luhur : -/: -/: -/: -/: -/: -/: baik

2.10.5 Pemeriksaan Penunjang Anjuran Pemeriksaan Penunjang : -

2.10.6 Diagnosis Migrain tanpa aura

17

BAB III PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

3.1 Metode Penyuluhan Metode penyuluhan yang dilakukan adalah metode penyuluhan berkelompok. Penyuluhan dilakukan dengan diskusi 2 arah, juga diberikan leaflet.

Dilaksanakannya penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya penanganan pada sakit kepala

3.2 Intervensi

Memberi edukasi kepada pasien tentang penyakitnya serta pencegahan yang bisa dilakukan.

18

Menganjurkan kepada pasien untuk memanajemen stressnya dan melakukan olahraga.

Menghindari pencetus serangan (terlambat makan, stress, membaca dan menonton tv terlalu lama)

Istirahat yang cukup dan mengurangi aktifitas yang berat. Hindari menggunakan obat tanpa resep dokter.

19

BAB IV PELAKSANAAN
4.1 Strategi Penanganan Masalah Seorang pasien perempuan berusia 49 tahun datang ke Puskesmas Gunung Alam dengan keluhan nyeri kepala dan didiagnosa dengan migraine tanpa aura. Dari anamnesis, berdasarkan kriteria diagnostik, pasien ini bisa dikategorikan ke dalam migraine tanpa aura. Kriteria diagnostik yang mendukung adalah lokasi yang unilateral, berdenyut, bertambah dengan aktivitas fisik, dan disertai mual dan tidak ada muntah, fotofobia (+) serta tidak disertai dengan aura. Faktor pencetus pada pasien adalah telat makan, stress, saat membaca, menonton tv dalam waktu lama, ataupun pekerjaan lain yang membutuhkan konsentrasi. Keluhan tidak dipengaruhi oleh siklus menstruasi pasien dan makanan (seperti indomie, coklat, dll). Pasien tidak mempunyai kebiasaan merokok dan minum kopi yang merupakan faktor risiko untuk timbulnya migraine. Terapi yang diberikan adalah NSAID yaitu ibuprofen. Terapi lebih diutamakan pada preventif dan promotifnya, yaitu menghindarkan faktor pencetus dan hindari pemakaian obat tanpa resep dokter. Jadi, untuk terapi tetap diberikan ibuprofen saja walaupun pasien sudah mengalaminya sejak 3 tahun yang lalu.

Manajemen a. Preventif :

Menghindari pencetus serangan (terlambat makan, stress, membaca dan menonton tv terlalu lama)

Istirahat yang cukup. Hindari menggunakan obat tanpa resep dokter.

b. Promotif :

20

Memberi edukasi kepada pasien tentang penyakitnya serta pencegahan yang bisa dilakukan.

Menganjurkan kepada pasien untuk memanajemen stressnya.

c. Kuratif : Ibuprofen 3 x 400 mg d. Rehabilitatif : Kontrol teratur ke Puskesmas untuk memeriksa perkembangan sakit kepalanya.

21

Migrain atau sering juga disebut sakit kepala atau pusing sebelah adalah nyeri kepala berdenyut yang kerapkali disertai mual, muntah

Pentingnya melakukan aktifitas seperti berolahraga dan kebiasaan minum air putih untuk mencegah terjadinya sakit kepala

22

BAB V MONITORING DAN EVALUASI


5.1 Monitoring Banyak orang dengan nyeri kepala migren dapat mengenali satu atau lebih pemicu yang memulai serangan nyeri. Pemicu yang sering adalah anggur merah, coklat, bau yang tajam, cahaya berkedip-kedip, stres emosi, daur hidup tak teratur, alkohol, kafein, nikotin, dan makanan yang banyak mengandung gula murni menyerupai gejala sakit kepala lainnya. Pemeriksaan standard yang dilakukan adalah dengan menggunakan kriteria International Headache Society yaitu, seseorang didiagnosis migraine jika mengalami 5 atau lebih serangan sakit kepala tanpa aura (atau 2 serangan dengan aura) yang sembuh dalam 4 sampai 72 jam tanpa pengobatan dan diikuti dengan gejala mual, muntah, atau sensitif terhadap sinar dan suara. 5.2 Evaluasi

Migrain atau sering juga disebut sakit kepala atau pusing sebelah adalah nyeri kepala berdenyut yang kerapkali disertai mual, muntah. Penderita biasanya sensitif terhadap cahaya, suara, bahkan bau-bauan. Sakit kepala ini paling sering hanya mengenai satu sisi kepala saja, kadang-kadang berpindah ke sisi sebelahnya, tetapi dapat mengenai kedua sisi kepala sekaligus. Migrain kadang kala agak sulit dibedakan dengan sakit kepala jenis lain. Sakit kepala akibat gangguan pada sinus atau akibat ketegangan otot leher mempunyai gejala yang hampir sama dengan gejala migrain. Migrain dapat timbul bersama penyakit lain misalnya asma dan depresi Terapi lebih diutamakan pada preventif dan promotifnya, yaitu menghindarkan faktor pencetus dan hindari pemakaian obat tanpa resep dokter. Jadi, untuk terapi tetap diberikan ibuprofen saja walaupun pasien sudah mengalaminya sejak 3 tahun yang lalu.

23

Sakit kepala akibat gangguan pada sinus atau akibat ketegangan otot leher mempunyai gejala yang hampir sama dengan gejala migrain

24

DAFTAR PUSTAKA 1. Aminoff MJ, Greenberg DA, Simon RP. Clinical neurology. 6th ed. USA McGrawHill.

2005. p.85-7. 2. Raskin NH, Green MW. Migraine and other headache. In Rowland PL (editor). Merritts

neurology. 11th ed. USA Lippincot William & Wilkins. 2005. p. 982-6. 3. Singh MK. Muscle Contraction Tension Headache. cited from

www.emedicine.medscape.com. 2009. 4. Sastrodiwijo S, Kusuma P, Markam S, Nyeri Kepala Menahun. Bagian Neurologi: FKUI.

Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. 1986. 5. Nyeri Kepala : Gangguan Kesadaran di Bidang Penyakit Syaraf. Bagian Neurologi FK

UNAND Padang. 6. Nyeri Kepala. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Editor Mansjoer A. Penerbit Media

Ausclapius. FKUI. Jakarta . 2000 : hal 34 36

25