Anda di halaman 1dari 2

1.

1 LATAR BELAKANG

Masalah gizi di Indonesia saat ini memasuki masalah gizi ganda (Double Burden Nutrition). Artinya, masalah gizi kurang masih belum teratasi sepenuhnya, sementara sudah muncul masalah gizi lebih. Masalah gizi lebih masalah pada anak- anak merupakan salah satu

yang mendapat perhatian banyak negara. Setengah dari anak yang mengalami

kelebihan berat badan atau obesitas akan tumbuh menjadi orang dewasa yang obesitas dan obesitas merupakan faktor risiko berbagai masalah kesehatan kronis.. Kegemukan disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah energi yang masuk dengan yang dibutuhkan oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis seperti pertumbuhan fisik, perkembangan, aktivitas, pemeliharaan kesehatan.1 Jika keadaan ini berlangsung terus menerus (positive energy balance) dalam jangka waktu cukup lama, maka dampaknya adalah terjadinya obesitas. Prevalensi obesitas meningkat dari tahun ke tahun, baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2007, prevalensi obesitas pada anak-anak usia 6 dan 14 tahun mencapai 9,5% untuk pria, sedangkan pada perempuan mencapai 6,4%. Kondisi ini meningkat dari tahun 1990-an yang berkisar 4% (RISKESDAS 2007). Menurut RISKESDAS (2010) secara nasional masalah kegemukan pada anak umur 6-12 tahun masih tinggi yaitu 9,2% atau masih di atas 5,0%. Lalu menurut data Riskesdas (2010) didapatkan bahawa angka kegemukan pada anak umur 6-12 tahun d Jakarta mencapai 12,8%. Kegemukan pada anak juga sering terjadi pada usia awal sekolah. Menurut Lucas (2004), sekitar usia 6-7 tahun anak-anak akan mengalami adiposity rebound yaitu fenomena pertumbuhan normal yang terjadi pada usia 6 tahun, dimana lemak tubuh pada anak-anak mengalami penambahan atau terjadi peningkatan berat badan sebagai persiapan untuk pertumbuhan optimal pada masa pubertas (masa remaja). Faktor yang sering dihubungkan dengan kegemukan pada anak adalah faktor

psikologis. Yaitu, terdapatnya masalah ketidakstabilan emosi, masalah dalam lingkungan sosial, masalah dalam pergaulan, masalah hiperaktif dan juga tingkah laku. Dalam banyak kasus, sukar dibedakan apakah faktor psikologis ini merupakan suatu penyebab atau efek dari obesitas. Faktor lain adalah adanya ketidakseimbangan asupan energi dengan keluaran

energi. Asupan energi tinggi bila konsumsi makanan berlebihan, sedangkan keluaran energi menjadi lebih rendah bila metabolisme tubuh dan aktivitas fisik rendah. Hal tersebut banyak

dialami oleh golongan masyarakat tingkat menengah ke atas. Di Indonesia, terutama di kotakota besar, dengan adanya perubahan gaya hidup yang menjurus ke westernisasi dan sedentary lifestyle berakibat pada perubahan pola makan atau konsumsi masyarakat yang merujuk pada pola makan tinggi kalori, tinggi lemak, dan kolesterol, terutama terhadap penawaran makanan siap saji (fast food) yang berdampak meningkatkan risiko obesitas. Selain itu kebiasaan makan anak yang gemar terhadap makanan cepat saji (fast food) yang umumnya mengandung lemak dan minuman ringan (soft drink) yang mengandung gula yang tinggi juga merupakan penyebab obesitas pada anak. Selain karena masalah konsumsi pangan, aktivitas fisik pada anak juga mempengaruhi terjadinya obesitas pada anak. Dulu permainan anak yang umumnya dilakukan adalah permainan fisik yang mengharuskan anak berlari, melompat, atau gerakan lainnya, namun kini digantikan dengan permainan anak yang kurang melakukan gerak badannya seperti game elektronik, komputer, internet, atau televisi yang cukup dilakukan dengan hanya duduk di depannya tanpa harus bergerak. Kegemukan tidak hanya disebabkan oleh kebanyakan makan dalam hal karbohidrat, lemak, maupun protein, tetapi juga karena kurangnya aktivitas fisik). Dengan demikian kegemukan pada anak memerlukan perhatian yang serius dan penanganan yang sedini mungkin, dengan melibatkan peran serta orang tua.