Anda di halaman 1dari 11

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Hubungan Administrasi Negara/Publik dengan Kebijakan Publik


Secara konseptual, kebijakan publik ( public policy ) itu dipelajari oleh 2 ilmu disiplin yaitu ilmu politik dan ilmu administrasi publik. Masing-masing disiplin ilmu tersebut memiliki sudut pandang yang berbeda-beda terhadap Kebijakan Publik. Hal ini dikarenakan masing-masing disiplin ilmu itu memiliki Locus dan Focus yang berbeda. Locus ilmu administrasi negara adalah organisasi dan manajemen, sedangkan focus ilmu adminiatrasi negara adalah efektifitas dan efisiensi. Menurut konsep ilmu administrasi negara, kebijakan publik itu berasal dan dibuat oleh pemerintah (manajemen) sebagai fungsi dinamis dari negara (organisasi), yang ditujukan untuk menciptakan efektifitas dan efisiensi pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan dan kenegaraan. ilmu administrasi negara itu memiliki delapan unsure (pilar) utama; yaitu o Organisasi o Manajemen o Personalia o Material o Financial o Human relation o Komunikasi o Ketatausahaan Kebijakan publik (public policy) adalah fungsi dari pilar organisasi dan manajemen. Unsur organisasi di dalam perspektif ini adalah 'Negara', sedang unsur manajemen adalah 'Pemerintahan'. Negara dipandang sebagai suatu wadah atau organisasi dalam arti statis. Unsur ini memerlukan mesin penggerak yang dapat mendinamisasikannya. Unsur dinamis itu adalah mana jemen, yang di dalam sistem

kenegaraan lebih dikenal sebagai pemerintahan. Dalam perspektif ini bertemunya unsur negara dan pemerintahan akan menghasilkan sebuah ketentuan, peraturan atau hukum yang lazim disebut kebijakan publik. Selanjutnya, kebijakan publik akan dilaksanakan oleh administrasi negara yang di jalankan oleh birokrasi pemerintah. Fokus utama kebijakan publik dalam negara modern adalah pelayanan publik, yang merupakan segala sesuatu yang bisa dilakukan oleh negara untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas kehidupan orang banyak. Menyeimbangkan peran negara yang mempunyai kewajiban menyediakan pelayan publik dengan hak untuk menarik pajak dan retribusi; dan pada sisi lain menyeimbangkan berbagai kelompok dalam masyarakat dengan berbagai kepentingan. Salah satu kasus implementasi hubungan administrasi publik dengan kebijakan publik adalah pemindahan pedagang kaki lima (PKL) tanah abang ke Blok G. Kebijakan tersebut dibuat dengan alasan para PKL dinilai telah menggangu kelancaran lalu lintas, dan membuat kemacetan yang cukup panjang. Seperti kebijakan yang dibuat oleh pemerintah lainnya, kebijakan tersebut juga menuai pro dan kontra. Setelah hampir dua bulan pro dan kontra, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah berhasil memindahkan pedagang kaki lima yang selama ini menjadi penyebab kemacetan dan kesemrawutan di sekitar pasar tekstil Tanah Abang. Hampir seribuan pedagang akan dipindah ke Blok G yang sebelumnya terbengkalai. Pemindahan pedagang kaki lima tampaknya bukan perkara mudah. Terbukti, gubernur-gubernur Jakarta sebelumnya tak berkutik, bahkan tak berani menyentuh lapak para pedagang di pasar tekstil terbesar di Asia Tenggara itu. Keberadaan preman yang dibekingi aparat keamanan dan sejumlah pejabat dan politisi dituding sebagai biang keladi mandulnya penegakan hukum terhadap para PKL. Padahal, para PKL itu jelas-jelas melanggar peraturan daerah dengan berjualan di trotoar dan badan jalan. Upaya yang dilakukan Pemprov Jakarta pun tak berjalan mulus. Rencana pemindahan PKL sempat ditentang oleh para pedagang, dengan alasan blok G yang sepi, kumuh, dan jauh dari jangkauan konsumen. Sikap keras pemerintah untuk tetap merelokasi pedagang sempat ditentang oleh anggota DPRD, yang disebut-sebut sebagai tokoh dan pengusaha di pasar Tanah Abang. Kantor pemprov pun sempat menjadi sasaran demontrasi para pedagang dan pemuda yang mengaku-aku mewakili warga Jakarta.

Belakangan setelah Gubernur Jokowi berulang kali berkunjung ke Tanah Abang, para penentang relokasi melunak. Apalagi Jokowi menjanjikan pembenahan Blok G dan memindahkan rumah jagal yang menyebarkan bau tak enak di sana. Saat ini, Blok G Pasar Tanah Abang telah diresmikan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo(Jokowi), Senin 2 september 2013 kemarin. Blok G yang terdapat sebanyak 2.272 kios dibagi berdasarkan peruntukannya. Untuk pedagang tekstil berada di lantai 3, pedagang kelontong di lantai 2, pedagang sayur, makan dan minuman berada di lantai 1 dan lantai dasar untuk pedagang yang berjualan daging dan ikan. Semua berharap, tempat baru para PKL ini dapat menjadi sumber perekonomian potensial bagi PKL sekaligus pengembangan Pasar Tanah Abang sebagai destinasi belanja. Selain itu, pemindahan PKL juga berdampak bagi kelancaran lalu lintas di area pusat tekstil terbesar di Asia Tenggara ini. Selain kepiawian Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dalam merangkul PKL, kesadaran para PKL yang tidak lagi berjualan di badan jalan, yang cukup menggangu ketertiban umum pantas mendapatkan apresiasi.

II.2

Paradigma Administrasi Negara, Politik Administrasi (1900-1926)


Administrasi Negara/publik adalah suatu bahasan ilmu sosial yang mempelajari tiga elemen penting kehidupan administrasi bernegara yang meliputi lembaga legislatif, yudikatif, dan eksekutif. Hal- hal yang berkaitan dengan masalah publik meliputi kebijakan publik, manajemen publik, administrasi pembangunan, tujuan negara, dan etika yang mengatur penyelenggara negara, serta organisasi. Lokus dan Fokus Ilmu Administrasi Publik Lokus adalah tempat atau lokasi yang menggambarkan di mana ilmu pengetahuan tersebut berada. Dalam hal ini lokus dari ilmu administrasi publik adalah: kepentingan publik (public interest) dan urusan publik (public affair). Sementara fokus adalah apa yang menjadi pembahasan penting dalam mempelajari ilmu administrasi publik. Fokus dari ilmu administrasi publik itu sendiri adalah teori organisasi dan ilmu manajemen.

Dwiyanto (2007) menyebutkan setidaknya ada empat faktor yang menjadi sebab semakin menurunnya dominasi peran negara, yaitu: 1. Dinamika ekonomi, politik dan budaya yang membuat kemampuan pemerintah semakin terbatas untuk dapat memenuhi semua tuntutan masyarakat; 2. Globalisasi yang membutuhkan daya saing yang tinggi di berbagai sektor menuntut makin dikuranginya peran negara melalui debirokratisasi dan deregulasi; 3. Tuntutan demokratisasi mendorong semakin banyak munculnya organisasi kemasyarakatan yang menuntut untuk dilibatkan dalam proses perumusan kebijakan dan implementasinya; 4. Munculnya fenomena hybrid organization yang merupakan perpaduan antara pemerintah dan bisnis. Berbagai fenomena tersebut menimbulkan gugatan di antara para mahasiswa maupun ilmuwan Ilmu Administrasi Negara: Apakah masih relevan menjadikan pemerintah sebagai lokus studi Ilmu Administrasi Negara? Paradigma administrasi merupakan suatu teori dasar atau ontologi

administrasi dengan cara pandang yang relatif fundamental dari nilai-nilai kebenaran, konsep, dan metodologi serta pendekatan-pendekatan yang dipergunakan. Perubahan paradigma disebabkan oleh perkembangan pemikiran para ilmuwan administrasi atas bantahan-bantahan karena keraguan kebenaran yang dikandungnya itu telah mengalami pergeseran makna. Paradigma ini muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap trikotomi dalam trias politika, dan kemudian menggantinya dengan dwi fungsi yaitu politik dan administrasi. Politik (Ilmu politik merupakan cabang ilmu sosial yang membahas teori dan praktik politik serta deskripsi dan analisis sistem politik dan perilaku politik. Ilmu ini berorientasi akademis, teori, dan riset) sebagai penetapan kebijaksanaan, sedangkan administrasi sebagai pelaksanaan kebijakan. Fokus paradigma dikotomi administrasi publik adalah pemisahan urusan politik dari urusan administrasi dalam fungsi pokok pemerintah, dimana substansi ilmu politik hanya meliputi masalah-masalah politik, pemerintahan, dan kebijakan. Substansi administrasi publik pada masalah-masalah organisasi, kepegawaian, dan penyusunan anggaran dalam sistem birokrasi pemerintah. Paradigma dikotomi

politik-administrsi

juga

mengindikasikan

pentingnya

manajemen

untuk

menyumbangkan analisis ilmiahnya kepada ilmu administrsi publik, perlunya administrasi publik menjadi bebas nilai, dan bahwa misi ilmu administrasi ekonomis dan efisiensi. Locus politik meliputi badan-badan legislatif dan yudikatif dengan tugas pokok membuat kebijakan-kebijakan atau melahirkan keinginan-keinginan negara, sementara locus administrasi pada badan eksekutif tugasnya menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan-kebijakan tersebut (Goodnow, 1900 :10-11). Para ilmuwan dan cendikiawan yang dapat digolongkan dalam paradigma ini adalah , Woodrow Wilson, Leonard White, Frank Goodnow, dan Dwight Waldo. Dari buku yang diterbitkan oleh Leonard D. White mencerminkan kepercayaan masyarakat yang menjadi ciri dan karakter pokok pada bidang administrasi negara, yaitu Politik tidak tercampur dengan Administrasi, manajemen dapat menjadi bidang studi tersendiri, administrasi negara dapat menjadi ilmu yang bebas nilai. Periode ini memiliki misi administrasi yaitu ekonomi dan efisiensi. Hasil paradigma I memperkuat pemikiran dikotomi politik atau

administrasi yang berbeda, dengan menghubungkannya dengan dikotomi nilai atau fakta yang berhubungan. Sehingga segala sesuatu yang diteliti dengan cermat oleh para ahli administrasi negara dalam lembaga eksekutif akan memberi warna dan legitimasi keilmiahan dan kefaktualan administrasi negara, sedangkan studi pembuatan kebijakan publik menjadi kajian para ahli ilmu politik. Dikotomi politik administrasi juga disebut dengan netralitas aparat pemerintah. Masalah netralitas aparat pemerintah telah lama menjadi perdebatan yang ramai. Hal ini disebabkan karena posisi aparat yang mendua seringkali bersifat dilematis. Dualisme itu ditunjukkan dengan peran ganda aparat pemerintah di mana di satu sisi ia berperan sebagai warga negara biasa. Sebagai pegawai pemerintah ia harus bertanggung jawab dalam menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan baik dan tanpa memihak (bersikap netral). Dan sebagai warga negara biasa di masyarakat yang demokratis ia berpartisipasi dalam proses politik. Posisi dilematis aparat pemerintah tersebut seringkali merugikan aparat itu sendiri, negara dan masyarakat. Keterlibatan pegawai pemerintah dalam kegiatan-kegiatan politik dapat berakibat

timbulnya bias administratif di mana mereka akan "mengabaikan" kewajibannya untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat luas tanpa memihak dan cenderung hanya memberi pelayanan kepada segolongan masyarakat tertentu yang menjadi anggota salah satu partai politik di mana ia juga berada didalamnya. Namun melarang pegawai pemerintah terlibat dalam proses politik sama halnya dengan mencabut hak-hak sipil mereka sebagai warga negara. Bagaimanakah sebaiknya menyeimbangkan kedua peran pegawai pemerintahan tersebut ? Konsep netralitas politik (political neutrality) bagi aparat pemerintah di negaranegara Barat secara tradisional sebenamya dianggap sebagai bagian tidak terpisahkan dari pelaksanaan efektif konsep pemerintahan demokratis. Tetapi kemudian pengimplementasian mengalami pasang surut, dan produksi kontra sampai sekarang. Konsep netralitas politik ini pada awalnya berkembang akibat adanya paradigma dikotomi politik administrasi, kemudian memudarnya paradigma. Di Amerika Serikat misalnya, sejak dikeluarkannya Pendleton Act di tahun 1883 pemerintah di bawah Presiden Roosevelt ia telah melarang pegawai pemerintah sebagai pengurus partai dan aktif dalam kampanye politik (shall take no active part in political management and political campaigns), yang kemudian dipertegas lagi ketika konggres A.S mengeluarkan "The hatch Political Activities Act pada tahun 1939 yang setahun kemudian dikeluarkan beberapa amandemen. Dalam Hatch Act ini dinyatakan bahwa pegawai pemerintahan boleh mendaftar untuk ikut memilih, memberikan sumbangan untuk kampanye, membantu panitia pendaftaran calon pemilih dan memberikan pendapat tentang kandidat-kandidat pemimpin politik serta isu-isu politik. Tetapi mereka dilarang mendukung kandidat pemimpin politik, mencari calon penyumbang dana untuk kegiatan politk partai, berpartisipasi dalam pendaftaran calon pemilih partainya, mendistribusikan bahan-bahan kampanye para kandidat, berperan sebagai delegasi dalam konvensi partai, membuat pidato kampanye dan menyediakan kantor pemerintah untuk kegiatan memilih pendukung partai (Denhart, 1991). Pemerintah Australia dengan Public Service Board nya mendiskripsikan konsep netralitas aparat pemerintah sebagai berikut: 'The principle of public service neutrality does not imply that public servants have no political views or associations. Rather, it is government of the day inrespective of its political complexion. This implies that public servants should make clear the various policy options and advise impartially on how they might be

related to the apparent; and that within the law they should implement the Governments and the Minister's policy concerns as best they can, even in the absence of clear guildenes in a particular area, and irrespective of any personal views they may hold . Berdasarkan gambaran tersebut dapat dikatakan bahwa pegawai pemerintah Australia diminta untuk memberikan kesetiaan penuh kepada pemerintahannya yang ada sekarang tanpa memandang corak politiknya dan kesetiaan itu direfleksikan dalam pemberian pelayanan yang objectif dan tidak memihak. Netralistis aparat pemerintah juga merupakan perilaku profesional aparat yang ditunjukkan dengan tindakan-tindakan yang terampil dalam memberikan pelayanan dengan penuh kesetiaan kepada pemerintah dan menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak loyal seperti membocorkan rahasia negara. Bagaimana dengan Indonesia? Kita telah mengalami penyimpangan terhadap konsep netralitas aparat pemerintah yaitu dari pemberian pelayanan yang tidak memihak menjadi memihak. Pada rezim Orde Baru yang lalu semua pegawai pemerintah dipaksa untuk hanya memiliki kesetiaan tunggal (mono loyalitas) yaitu kepada pemerintahan saja. Mereka semua digiring untuk taat, setia dan membela satu kekuatan politik saja yaitu Golkar sebagai partainya pemerintah. Sangat kecil peluang pegawai negeri untuk mempunyai pilihan selain partai pemerintah karena akan mempunyai implikasi kepegawaian yang bisa mempersulit mereka. Asas monoloyalitas di bidang politik itu harus dibuang jauh. Dalam hal ini, terdapat kasus mengenai dikotomi politik administrasi, yaitu kasus dwifungsi ABRI/TNI pada masa Orde Baru. Dwifungsi adalah suatu doktrin di lingkungan militer Indonesia yang menyebutkan bahwa TNI memiliki dua tugas, yaitu pertama menjaga keamanan dan ketertiban negara dan kedua memegang kekuasaan dan mengatur negara. Dengan peran ganda ini, militer diizinkan untuk memegang posisi di dalam pemerintahan. Pada masa pemerintahan Soeharto, konsep ini mengalami perubahan dan menjadikan TNI secara organisatoris (bukan perorangan) menduduki jabatan-jabatan strategis di lingkungan pemerintahan seperti menteri, gubernur, bupati, serta lembagalembaga legislatif dalam wadah Fraksi ABRI/TNI.

Dwifungsi ABRI secara perlahan-lahan dihapuskan menyusul runtuhnya rezim Soeharto. Pada rapat pimpinan ABRI tahun 2000, disepakati untuk menghapus doktrin ini yang akan dimulai setelah Pemilu 2004 dan diharapkan selesai pada Pemilu 2009.

II.2.1 Dwifungsi ABRI


A. Sejarah Munculnya Dwifungsi ABRI Ranah tentang perkembangan fungsi ABRI sebagai kekuatan sosial politik tidak dapat dilepaskan dari sejarah lahir dan tumbuhnya ABRI dalam perjuangan bangsa Indonesia. ABRI lahir bersama-sama dengan meletusnya revolusi rakyat, ia lahir dari anak-anak rakyat sendiri. ABRI adalah angkatan bersenjata yang lahir dan tumbuh dengan kesadaran untuk melahirkan kemerdekaan. ABRI pertama-tama adalah angkatan bersenjata perjuangan dan baru setelah itu adalah angkatan bersenjata profesional. Setiap prajurit ABRI pertama-tama adalah pejuang prajurit dan baru kemudian adalah prajurit pejuang. Kelahiran dan pertumbuhan ABRI yang demikian itu membuat ABRI juga berhak dan merasa wajib ikut menentukan haluan negara dan jalannya pemerintahan. Inilah sebab pokok mengapa ABRI memiliki dua fungsi, yakni sebagai kekuatan militer (pertahanan dan keamanan) yang merupakan alat negara, dan sebagai kekuatan sosial politik yang merupakan alat perjuangan rakyat. Untuk dapat memahami fungsi sosial politik ABRI dalam konteks kehidupan politik dan ketatanegaraan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, maka akan diuraikan perkembangan fungsi sosial politik ABRI khususnya dalam kerangka perkembangan kehidupan politik dan kenegaraan bangsa Indonesia, sejak Perang kemerdekaan (1945-1949), zaman demokrasi Liberal (1949-1959), masa demokarasi Terpimpin (1959-1966), masa orde baru (1966-perkembangannya). B. Pelaksanaan Dwifungsi ABRI Dwifungsi ABRI, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya diartikan bahwa ABRI memiliki dua fungsi, yaitu fungsi sebagai pusat kekuatan militer Indonesia dan juga fungsinya di bidang politik. Dalam pelaksanaannya pada era Soeharto, fungsi utama ABRI sebagai kekuatan militer Indonesia memang tidak dapat dikesampingkan, namun pada era ini, peran ABRI dalam bidang politik terlihat lebih

signifikan seiring dengan diangkatnya Presiden Soeharto oleh MPRS pada tahun 1968. Hal ini dipandang wajar karena pada saat itu sektor militer memiliki kekuatan yang paling besar. Sebenarnya, sejak awal milliter ikut ambil peran dalam mengurusi urusan sipil telah muncul suatu indikasi dimana kekuatan militer Indonesia dianggap akan memegang peran penting dalam sejarah perpolitikan Indonesia. Indikasi ini muncul sesuai dengan teori Hunnington dan Finner yang mengatakan bahwa penyebab paling penting dari intervensi militer dalam bidang politik adalah sistem kebudayaan politiknya, struktur politik, serta institusinya. Oleh karena itulah, tidak heran jika partisipasi politik dari kekuatan militer Indonesia sangat kental pada masa itu mengingat masih rendahnya level sistem budaya politik pada masa itu serta tidak mampunya membatasi kegiatan militer pada bidang non-politis saja. Secara umum, intervensi ABRI dalam bidang poilitik pada masa Orde Baru yang mengatasnamakan Dwifungsi ABRI ini salah satunya adalah dengan ditempatkannya militer di DPR, MPR, maupun DPD tingkat provinsi dan kabupaten. Perwira yang aktif, sebanyak seperlima dari jumlahnya menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPRD), dimana mereka bertanggung jawab kepada komandan setempat, sedangkan yang d di MPR dan DPR tingkat nasional bertanggung jawab langsung kepada panglima ABRI. Selain itu, para ABRI juga menempati posisi formal dan informal dalam pengendalian Golkar serta mengawasi penduduk melalui gerakan teritorial diseluruh daerah dari mulai Jakarta sampai ke dareah-daerah. Keikutsertaan militer dalam bidang politik secara umum bersifat antipartai. Militer percaya bahwa mereka merupakan pihak yang setia kepada modernisasi dan pembangunan. Sedangkan partai politik dipandang memiliki kepentingankepentingan golongan tersendiri. Lebih jauh, Harold Crouch dalam bukunya Militer dan Politik di Indonesia menerangkan bahwa pandangan pihak militer terpecah menjadi dua kelompok, namun keduanya tetap menganut sifat antipartai. Hal ini juga disampaikan oleh A.H. Nasution. Kelompok pertama adalah kelompok berhalauan keras yang ingin mengubah struktur politik dengan sistem dwipartai. Berbeda dengan kelompok tersebut, kelompok kedua adalah kelompok moderat yang cenderung tetap ingin mempertahankan sistem politik saat itu, dan menginginkan perubahan dilaksanakan secara bertahap dan alami.

C. Dampak dari Implementasi Dwifungsi ABRI Setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah tentu memiliki dampak yang akan dirasakan secara luas, tidak terkecuali Dwifungsi ABRI. Dalam hal ini, kita akan mengetahui bahwa Dwifungsi ABRI tidak hanya menimbulkan dampak negatif sebagaimana yang berkembang di masyarakat selama ini, namun juga dampak positif bagi system politik di Indonesia yang seringkali tidak diekspos pada masyarakat. Diantara berbagai dampak negatif yang muncul sebagai konsekuensi pelaksanaan Dwifungsi ABRI, berkurangnya jatah kaum sipil di bidang pemerintahan adalah hal yang paling terlihat. Pada masa Orde Baru, pelaksanaan negara banyak didominasi oleh ABRI. Dominasi yang terjadi pada masa itu dapat dilihat dari: (a). Banyaknya jabatan pemerintahan mulai dari Bupati, Walikota, Gubernur, Pejabat Eselon, Menteri, bahkan Duta Besar diisi oleh anggota ABRI yang dikaryakan, (b). Selain dilakukannya pembentukan Fraksi ABRI di parlemen, ABRI bersama-sama Korpri pada waktu itu juga dijadikan sebagai salah satu tulang punggung yang menyangga keberadaan Golkar sebagai partai politik yang berkuasa pada waktu itu, (c). ABRI melalui berbagai yayasan yang dibentuk diperkenankan mempunyai dan menjalankan berbagai bidang usaha dan lain sebagainya. D. Penghapusan Dwifungsi ABRI/TNI di era Reformasi Sejalan dengan runtuhnya rezim Orde Baru, Publik yang terutama diprakarsai oleh tokoh-tokoh intelektual dan mahasiswa menginginkan adanya reformasi di seluruh lapisan, yang dikenal dengan tuntutan reformasi. Dalam tuntutan reformasi terdapat 6 hal pokok yang harus direformasi oleh pemerintahan B.J Habibie yaitu: 1. Penegakan supermasi hukum 2. Pemberantasan KKN 3. Pengadilan Presiden Soeharto dan Kroninya 4. Penghapusan Dwifungsi Abri 5. Amandemen Konstitusi 6. Pemberian Otonomi Daerah seluas-luasnya.

Disini penulis akan membahas lebih lanjut tentang penghapusan dwifungsi ABRI, sebagai salah satu kasus yang sesuai dengan pokok bahasan Paradigma Administrasi Negara dalam Politik Administrasi. Dalam agenda reformasi pemerintahan B.J Habibie akan dilakukannya, Penghapusan Dwifungsi Abri dikarenakan dimasa pemerintahan Orde Baru ABRI memiliki kekuatan penuh dan mempunyai dua kewenangan yaitu Abri yang saat itu bisa menjadi pembuat kebijakan (politik) serta bertugas menjalankan Kebijakan Administrasi, yang jelas-jelas hal tersebut harus dipisahkan karena nantinya akan membuat kekacauan di dalam tubuh pemerintahan. Karena di dalam membuat kebijaksanaan adalah kewenangan dari fungsi politik untuk merumuskan keinginan rakyat dan tidak boleh sedikitpun adanya campur tangan dari pihak administrasi, sebab fungsi dari administrasi adalah melaksanakan kebijaksanaan oleh pihak politik. Karena apabila keduanya digabung maka akan membuat tumpang tindihnya suatu kebijaksanan yang nantinya kebijakan yang akan menguntungkan sebagian golongan saja. Setelah dilakukanya penghapusan dwifungsi ABRI dalam pemerintahan B.J Habibie mengharapkan Netralisasi politik (political neutrality) bagi aparat pemerintah dimana Kedudukan ABRI di dalam pemerintahan murni sebagai Penegak hukum, tanpa ikut campur tangan dalam politik, serta dilakukannya pemisahan antara TNI dan Polri. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa para anggota militer untuk dapat ikut berpartisipasi dalam perpolitikan , sebab setiap warga negara berhak mengikuti setiap kegiatan politik sesuai dengan azas demokrasi tidak terkecuali para elit militer.

Anda mungkin juga menyukai