Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN JURNAL :

Lard (minyak babi), salah satu jenis lemak hewan, sering digunakan dengan minyak nabati lain seperti minyak zaitun dan minyak sawit untuk menghasilkan shortening, margarin dan minyak makanan khusus lainnya (Marikkar et al., 2005). Lard dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu dari sisi ekonomi dan agama. Di negara-negara tertentu, para produsen produk makanan lebih memilih untuk mencampur minyak nabati dengan lemak babi dengan tujuan mengurangi biaya produksi (Rohman dan Che Man 2010). Namun, jika dilihat dari sisi agama, ada beberapa agama seperti Islam, Yahudi dan Hindu yang tidak diperbolehkan pengikut mereka untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak babi dalam produk apapun (Regenstein et al, 2003.). Oleh sebab itu, metode analisis untuk mendeteksi lard sangat diperlukan agar dapat mencegah kecurangan-kecurangan dari produsen makanan yang akan merugikan konsumen. Minyak kelapa sawit adalah salah satu minyak utama yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Kelapa sawit terdiri lebih dari 90% trigliserida, 2-7% diacylglycerols, 0,1% monoacylglycerols, 3-5% asam lemak bebas dan 1% komponen minor. Komponen minor adalah campuran kompleks karotenoid, tocols (tokoferol dan tokotrienol), squalene, sterol, dan fosfolipid (Puah et al., 2007). Untuk mengurangi biaya produksi, lemak babi kadang-kadang ditambahkan ke minyak sawit untuk menghasilkan minyak khusus untuk makanan seperti mentega dan margarin. Oleh karena itu, metode pendeteksi lemak babi dalam minyak sawit diperlukan untuk menjamin kehalalan (syarat khusus dan wajib bagi umat muslim) makanan yang mengandung lemak babi. Analisis lemak dan minyak dalam makanan biasanya dilakukan dengan menentukan komponenkomponen tertentu seperti asam lemak, trigliserida, dan tocols dibandingkan menganalisis bagian lemak babi dari seluruh campuran makanan (Rohman dan Che Man, 2012). Transformasi Fourier inframerah (FTIR) spektroskopi dapat menganalisis sampel secara keseluruhan. Teknik ini mampu menentukan analit (s) berdasarkan kedekatannya, terutama ketika di kombinasikan dengan teknik kemometrika kalibrasi multivariat (parsial least square, PLS). Selain itu, spektroskopi FTIR dengan kombinasinya mengrurangi total reflektansi yang tidak melibatkan

persiapan sampel yang berlebihan dan tidak menghabiskan banyak bahan kimia dan reagen. Oleh karena itu, spektroskopi FTIR adalah alat yang digunakan untuk menganalisis lemak dan minyak dalam makanan dapat dianggap sebagai "metode analisis hijau" (Namies'nik , 2001). Dalam persiapan sampelnya minyak babi yang didapatkan dari jaringan adiposa yang kemudian dipotong menjadi kecil-kecil lalu di campur dan dipanaskan dengan suhu 90o 100o C. Lemak cair di tuangkan dan dikeringkan dengan penambahan Na2SO4 anhidrat, dan disentrifugasi pada 3000 rpm selama 20 menit. Lapisan lemak didekantasi lalu dikocok kuat dan disentrifugasi lagi sebelum disaring melalui kertas saring Whatman yang mengandung natrium sulfat anhidrat untuk menghilangkan kandungan air. Sampel disaring secara langsung untuk langsung dianalisis atau disimpan dalam wadah tertutup rapat di kantung berisi nitrogen pada suhu -20oC. Analisis kuantitatif lemak babi dalam minyak sawit perlu dilakukan kalibrasi sampel. satu set standar yang terdiri dari lemak babi dalam minyak sawit dibuat dengan mencampurkan keduanya pada rentang konsentrasi 1 - 60% (v / v) dari lemak babi dalam minyak sawit. Untuk validasi/prediksi, dibuat sejumlah sampel lainnya, yang berbeda dari sampel kalibrasi. Lemak babi, kelapa sawit serta campuran keduanya dalam bentuk murni dianalisis dengan menggunakan spektrofotometer FTIR. Daerah-daerah spectral dimana variasi diantaranya diamati, dipilih untuk mengembangkan analisis multivariat. Hasil dan Pembahasan Spektro FTIR dapat digunakan sebagai instrument yang potensial yang dapat membuat perbedaan antara minyak dan lemak. Gambar 2 menunjukan spectra FTIR dari minyak babi dan minyak sawit dilihat dari karakteristik peak dari spectra minyak dan lemak seperti yang dijelaskan oleh Guillen dan Cabo karena komponen utama dari lemak dan minyak adalah triasilgliserol. Minyak babi dapat dibedakan dengan minyak sawit dengan melihat posisi dari asam lemak, tingkat kejenuhan dari rantainya dan komponen minor yang spesifik yang ada pada minyak dan lemak. Tabel 1 memperlihatkan komposisi asam lemak dari minyak babi dan minyak sawit. Gambar 1 memperlihatkan spectrum FTIR dari minyak babi dan minyak sawit yang diamati pada daerah pertengahan inframerah yaitu 4000-650 cm-1. Analisis dari gugus

fungsional yang berkaitan untuk absorbsi IR dalam sampel lemak dan minyak dapat ditemukan dimanapun. Kedua spektrum terlihat sangat mirip, namun keduanya memperlihatkan sedikit perbedaan dalam hal intensitas pita dan frekuensi yang tepat pada absorbansi maksimum yang umum pada tiap lemak dan minyak, disebabkan dari perbedaan alam dan komposisi dari minyak dan lemak, khususnya pada daerah panjang gelombang 3006, 1117, dan 1098 cm-1. Daerah frekuensi 3006 cm-1 menandakan gugus cis-olefinic C-H sedangkan frekuensi 1117 dan 1098 cm-1 dihasilkan dari perluasan getaran dari eter yang berhubungan dengan triasilgliserol. Penentuan dari komposisi asam lemak dari sampel (minyak sawit dan minyak babi) menandakan kedua minyak tersebut memiliki jumlah asam oleat yang cukup tinggi. Bagaimanapun, jika dibandingkan dengan minyak sawit, minyak lemak yang mengandung gugus asil linoleat dua kali lipat dari minyak sawit. Hal ini terlihat dari spektrum minyak babi, dimana pita terlihat lebih tajam berada pada frekuensi 3006 cm-1 jika dibandingkan dengan spectrum minyak sawit. Lemak dengan kandungan gugus linoleat dan asil linoleat yang tinggi menunjukan pita yang lebih tinggi dibanding dengan konsentrasi tinggi gugus asil oleat sendiri. Spektrum minyak babi dan minyak sawit menunjukan dua peak yang memiliki absorbansi maksimal pada 1119 dan 1100 cm-1, tepatnya pada daerah frekuensi 1117 dan 1098 cm-1. Tinggi peak ini menunjukan kebalikan jika dikaitkan proporsi gugus asil jenuh dengan proporsi gugus asil oleat masing-masing. Minyak babi mempunyai proporsi yang hampir sama antara gugus asil jenuh dnegan gugus asil oleat yang dapat terlihat pada spektrum minyak babi tersebut, pada 1119 dan 1100 cm-1 menunjukan tinggi yang sama. Minyak sawit mempunyai konsentrasi gugus asil jenuh yang lebih besar dibandingkan gugus asil oleat, diperlihatkan dengan tinggi yang tidak sama pada peak 1119 dan 1100 cm-1 pada spektrum minyak sawit. Pada panjang gelombang ini memperlihatkan perbedaan yang jelas sehingga ini dijadikan analisis yang optimal untuk membedakan minyak babi dengan minyak sawit. Analisa kuantitatif lard pada minyak sawit Analisa kuantitatif untuk mendeteksi lemak babi dalam minyak sawit adalah dengan menggunakan regresi Partial least square (PLS). Pada model kalibrasi PLS, absorbansi lemak babi dengan level konsentrasi 0,0-60% (v/v) dalam minyak sawit digambarkan pada daerah pertengahan inframerah yaitu 4000-650 cm-1. Kalibrasi PLS digunakan untuk membuat

hubungan antara nilai sebenarnya dari lemak babi (x-axis) dan prediksi nilai lemak babi dengan FTIR (y-axis) dalam minyak sawit. Lard dalam minyak sawit dapat dicirikan pada panjang gelombang 1480-1085 cm-1. Pemiihan daerah frekuensi dilakukan dengan cara yang dapat memberikan nilai tinggi untuk R2 dan nilai rendah RMSEC dengan memasukan ke dalam akun yang sesuai, yang dapat menempati tempat selama kalibrasi PLS. menggunakan model kalibrasi PLS, hubungan antara nilai sebenarnya dan nilai prediksi FTIR dari lemak babi dalam minyak sawit ditunjukan dari gambar 2. Sisa analisis diperlihatkan bahwa kesalahan yang terjadi selama analisis adalah kesalahan yang acak, dan tidak ada kesalahan yang sistematis. Pelaksanaan dari model kalibrasi PLS adalah menaksir lebih lanjut dengan validasi silang menggunakan teknik leave one-out. Validasi silang menggunakan teknik leave one-out digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan dari model PLS. jumlah faktor atau kompoen penting (PCs) digunakan untuk membangun model PLS berdasarkan dari nilai predicted residual error sum square (PRESS). Nilai PRESS adalah pengukuran langsung mengenai seberapa baiknya sebuah kalibrasi mampu memprediksikan jumlah konsentrasi yang tertinggal selama validasi silang, nilai minimal dari PRESS yang diperoleh adalah 99,04, digunakan menggunakan 6 faktor atau komponen pokok (gambar 4). Nilai Root mean square error of cross validation (RMSECV) yang diperoleh dari validasi silang dari model kalibrasi PLS adalah 2,87% (v/v). hal ini mengindikasikan bahwa spektroskopi FTIR cukup dapat diandalkan untuk menganalisa lard dalam minyak sawit. Kesimpulan : Spektroskopi FTIR dikombinasikan dengan kalibrasi multi variasi yaitu kalibrasi partial least square (PLS) berhasil digunakan untuk memperlihatkan lard dalam minyak sawit. Daerah frekuensi optimisasi adalah 1480-1085 cm-1. Koefisien penentuan yang didapat mengenai hubungan antara kenyataan dan prediksi FTIR adalah 0,998. Kesalahan selama kalibrasi dan validasi silang rendah, dapat disebutkan berturut-turut 1,69% dan 2,87% (v/v). metode ini adalah cepat, preparasi sampel tidak berlebihan, dan tidak melibatkan pelaut dan reagen yang berbahaya.