Anda di halaman 1dari 18

PENGAMATAN PERILAKU INDUK AYAM KAMPUNG (Gallus gallus domesticus) MENGERAMI TELUR

LAPORAN PENELITIAN Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Bidang Studi Zoologi Vertebrata Yang dibina oleh Sofia Ery Rahayu, S.Pd. M.Si

Oleh Kelompok 4/Offering G Hanifah Masaroh Lilik Hidayatul Mukminin Lupita Oktaviona Soya Desita Suci Ayu Maharani 120342400175 120342400174 120342422489 120342422490 12034241010519

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI Desember 2013

PENGAMATAN PERILAKU INDUK AYAM KAMPUNG (Gallus gallus domesticus) MENGERAMI TELUR
1)

Lilik Hidayatul Mukminin, 1)Hanifah Masaroh, 1)Lupita Oktaviona, 1) Suci Ayu Maharani, 1) Soya Desita 2) Sofia Ery Rahayu, S.Pd. M.Si

1)

Mahasiswa program studi Biologi jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang 2) Dosen program studi Biologi jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang
ABSTRAK Ayam kampung atau ayam buras (bukan ras) merupakan hasil domestikasi dari jenis ayam hutan merah. Nenek moyang ayam buras yang ada di Indonesia berasal dari ayam hutan merah (Gallus gallus). Ayam kampung memiliki perbedaan perilaku dari ayam lainnya dalam hal mengerami telur. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengamati karakteristik dan perilaku induk ayam kampung dalam hal mengerami telur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi secara langsung terhadap induk ayam kampung yang sedang mengerami. Pengamatan dilakukan mulai tanggal 24 November 02 Desember 2013. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa karakteristik ayam kampung yaitu memiliki ukuran tubuh dan bobot sedang, mudah kaget, ketakutan, dan berusaha untuk melarikan diri menjauh dari objek yang mendatangi, dan memiliki kebiasaan mengerami telurnya. Perilaku induk ayam kampung saat mengeram antara lain, sering menggeser posisi mengeram, bulu dada rontok, suara induk ayam menjadi berubah, aktivitas makan dan minum berkurang, dan lebih agresif. Kata kunci: ayam kampung (Gallus gallus domesticus), perilaku mengerami, karakteristik ayam kampung

ABSTRACT
Ayam kampung is the result of a type of domesticated red jungle fowl. The ancestors of the domestic poultry in Indonesia comes from the red jungle fowl (Gallus gallus). Chicken has a different behavior from the other in terms of incubating chicken eggs. The purpose of this experiment is to observe the characteristics and behavior of the parent in terms of incubating chicken eggs. The method used in this study is the direct observation of the parent who is incubating chicken. Observations were made starting from 24 November to 2 December 2013. The results showed that the characteristics of chicken that has moderate body size and weight, easily startled, frightened, and tried to escape away from the object came, and has a habit of incubating eggs. Parent behavior when incubate chicken among others, frequently shifting positions incubate, chest hair loss, voice hen be changed, reduced activity of eating and drinking, and more aggressive. Keywords: ayam kampung (Gallus gallus domesticus),brooding behavior, ayam kampungs characteristics

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perilaku adalah tindakan atau aksi yang mengubah hubungan antara organisme dan lingkungannya. Hal itu merupakan kegiatan yang diarahkan dari luar dan tidak mencakup banyak perubahan di dalam tubuh yang secara tetap terjadi pada makhluk hidup (Suhara, 2010). Semua organisme memiliki perilaku, pada hewan hal tersebut terjadi secara alami dan naluriah. Perilaku pada hewan diakibatkan oleh faktor genetis, hormon, dan kebiasaan yang didapatkan dari proses belajar. Berarti perilaku hewan dilakukan karena adanya faktor internal maupun eksternal. Salah satu perilaku hewan yang menarik untuk diamati adalah perilaku induk dalam menjaga anak-anaknya. Perilaku tersebut dilakukan murni karena sifat naluriah induk yang keibuan. Pada beberapa hewan ovipar, perilaku induk dalam menjaga anak-anaknya diawali dengan mengerami telur yang dihasilkan. Salah satu hewan yang mengerami telurnya adalah ayam. Secara fisiologis, tingkah laku mengeram terutama dikontrol oleh peningkatan kadar prolaktin dalam tubuh ayam (El-Hawani dan Rozenboim 1993; March et al. 1994; Sharp 1997 dalam Mufti 2005). Penelitian ini difokuskan untuk mengamati perilaku induk ayam kampung (Gallus gallus domesticus) dalam mengerami telurnya. Selain itu dibutuhkan pengetahuan awal mengenai klasifikasi dan karakteristik ayam kampung yang akan diamati. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan data yang dapat dijadikan petunjuk mengenai situasi dan kondisi seperti apa yang dibutuhkan induk ayam kampung (Gallus gallus domesticus) selama masa mengerami telurnya. Selain itu dapat dijadikan referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya.

1.2

Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain.

1.2.1

Bagaimana klasifikasi dan karakteristik dari ayam kampung (Gallus gallus domesticus)?

1.2.2

Bagaimana perilaku induk ayam kampung (Gallus gallus domesticus) pada saat mengerami telur?

1.3

Tujuan Tujuan dari penelitian ini antara lain:

1.3.1 mengetahui klasifikasi dan karakteristik dari ayam kampung (Gallus galus domesticus) 1.3.2 mengetahui perilaku induk ayam kampung (Gallus gallus domesticus) pada saat mengerami telur

BAB II Kajian Teori

2.1

Klasifikasi domesticus)

dan

Karakteristik

Ayam

Kampung

(Gallus

gallus

Ayam kampung atau ayam buras (bukan ras) merupakan hasil domestikasi dari jenis ayam hutan merah. Nenek moyang ayam buras yang ada di Indonesia berasal dari ayam hutan merah (Gallus gallus). Pendapat tersebut didasarkan pada hasil penelusuran bahwa ayam buras Indonesia memiliki jarak genetik yang lebih dekat dengan ayam hutan merah (Gallus gallus) dibandingkan dengan ayam hutan hijau (Gallus varius). Namun demikian, adanya impor berbagai jenis bangsa ayam ke Indonesia, sejak zaman Hindia Belanda mengakibatkan keaslian genetik ayam lokal tercemar sehingga diperkirakan ayam Buras yang ada sekarang hanya memiliki gen asli sebanyak 50%. Ayam hutan merah di Indonesia ada dua macam yaitu ayam hutan merah Sumatera (Gallus gallus gallus) dan ayam hutan merah Jawa (Gallus gallus javanicus) (Mansjoer, 1981). Ayam kampung memiliki klasifikasi sebagai berikut: kingdom phylum subphylum class ordo family genus spesies : Animalia : Chordata : Vertebrata : Aves : Galliformes : Phasianidae : Gallus : Gallus gallus domesticus (Linnaeus, 1758) Ayam kampung atau ayam buras (bukan ras) merupakan ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam hutan merah yang dijinakkan. Ayam kampung telah beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga lebih tahan terhadap penyakit dan cuaca dibandingkan dengan ayam ras (Sarwono, 1991). Sifat genetik dari ayam ini umumnya tidak seragam. Warna bulu, ukuran tubuh, dan kemampuan produksi tidak sama. Ayam kampung umumnya memiliki ukuran tubuh dan bobot

badan dewasa berkisar 1,01,7kg (betina) dan 1,52,5 kg (jantan) (Iskandar, 2006). Ayam kampung mudah kaget, ketakutan, dan berusaha untuk melarikan diri menjauh dari objek yang mendatangi, bahkan tidak jarang melukai dirinya dengan mengepakkan sayap, lari, dan terbang bertabrakan dengan sesamanya. Tingkah laku ini diturunkan dalam upaya perlindungan diri dari serangan pemangsa ketika masih hidup liar (Iskandar, 2006). Ayam kampung saat makan lebih suka menyebarkan pakan ke arah samping dengan patukannya atau patukan ke arah badannya (Appleby et al., 1992). Perilaku ayam kampung saat makan dipengaruhi oleh panjangnya hari terang dan lingkungan sosial di sekitarnya. Ayam termasuk hewan diurnal. Ayam tidak bisa makan dalam keadaan gelap atau jika panjang siang hari pendek (Morris, 1967). Ayam kampung sebagaimana ayam lokal lain memiliki sifat mengeram yang menunjukkan bahwa sebagian besar belum melewati suatu seleksi alam atau seleksi oleh manusia. Sifat mengeram ini masih bertahan dalam upaya mempertahankan keturunan. Sifat-sifat lain yang berhubungan dengan tingkah laku reproduksi, yaitu ketika ayam betina akan bertelur, mereka gelisah mencari tempat yang nyaman untuk bertelur. Selain itu dapat dilihat sifat menyerang ketika induk ayam sedang mengasuh anak-anaknya. Perilaku bertelur dan mengeram ayam lokal juga sering terjadi menggunakan sarang yang sama dengan induk yang lain (Iskandar, 2006). Karakter lain pada ayam kampung yaitu kerentanannya terhadap penyakit, sehingga pencegahan terhadap penyakit perlu dilakukan dengan baik dan teratur. Beberapa penyakit yang sering menyerang ayam lokal disebabkan oleh virus (Newcastle desease, Avian influenza, fowl pox, Mareks, infectious bronchitis, laringotracheitis, avian encephalomyelitis, gumboro). Adapun penyakit lain disebabkan oleh bakteri (Salmonella, kolera, coryza, colibacillosis, omphalitis, hepatitis), mikoplasma (cronic respiratory desease), protozoa (coccidiosis), jamur (aspergilosis), kapang (mycotoxocosis), parasit (cacing) dan serangga kecil (kutu) (Iskandar, 2006).

2.2

Perilaku Ayam Kampung Saat Mengerami Telur Untuk menjaga kestabilan dan kemerataan suhu telur pada saat

pengeraman induk ayam selalu bergerak atau bergeser dari posisinya mengeram. Induk ayam melakukan pergeseran posisi tubuhnya ini untuk menyamakan suhu setiap butir telur. Hal ini dimaksudkan agar metabolisme seluruh telur berlangsung dengan baik sehingga seluruh telur dapat menetas menjadi anak ayam. Adapun sifat mengeram pada ayam kampung berhubungan dengan upaya mempertahankan keturunannya. Sifat lain yang berhubungan dengan tingkah laku reproduksi misalnya ketika ayam kampung betina akan bertelur, ayam tersebut akan gelisah mencari tempat yang nyaman untuk bertelur. Selain itu, induk ayam akan lebih agresif ketika mengasuh anaknya (Iskandar, 2006). Secara fisiologis, tingkah laku mengeram ini terutama dikontrol oleh peningkatan kadar prolaktin dalam tubuh ayam (El-Hawani dan Rozenboim 1993; march et al. 1994; sharp 1997 dalam Mufti 2005). Ayam kampung memiliki sifat mengeram, yang merupakan sifat alami yang diwariskan, serta merupakan sifat keindukkan yang sangat menguntungkan bagi masyarakat pedesaan dalam upaya menetaskan telur dan mengasuh anak ayam yang masih kecil (Mansjoer dalam Mufti, 2005). Lama waktu yang diperlukan untuk mengerami telur pada berbagai spesies unggas tidak sama. Waktu untuk mengeram pada ayam, itik, angsa, dan burung unta secara berturut-turut adalah 21, 28, 35, dan 42 hari (Neshiem et al. dalam Mufti 2005). Dua hari menjelang mengeram, induk mulai meningkatkan tingkah laku bersarang, serta konsumsi ransum dan air menurun. Selama masa mengeram, konsumsi ransum dan air menurun sampai ke tingkat yang sangat rendah, bobot badan menurun, bulu rontok serta terjadi bercak pengeraman di daerah dada yang penting untuk transfer panas dari tubuh induk ke telur yang sedang dierami (Etches 1996 dalam Mufti 2005). Setelah bertelur antara 15 dan 20 butir, ayam kampung biasanya memperlihatkan tanda-tanda tingkah laku mengeram. Sepanjang hari induk berada di dalam sarang dengan posisi mengeram. Tandatanda lainnya adalah bulu dadanya rontok, ayam menjadi gelisah, mengeluarkan suara khas, dan bila didekati bulu di bagian depannya berdiri. Selama mengeram, bobot badannya menurun, serta jengger dan capingnya kisut dan pucat. Sifat

mengeram dan mengasuh anak (broodiness) adalah sifat yang diwariskan dari tetuanya (Sugionohadi dan Setiawan dalam Mufti, 2005). Pemunculan tingkah laku mengeram pada ayam disebabkan oleh interaksi antara lingkungan, genetik dan sistem endokrin (Sharp dalam Mufti, 2005). Prolaktin disekresikan oleh adenohipofise bagian distalis. Pada ayam yang sedang mengeram, terlihat adanya sel-sel pengeraman yang mendominasi bagian tersebut (Tumer dan Bagnara, dalam Mufti 2005). Selama mengeram, kadar prolaktin meningkat terus sampai mencapai puncaknya menjelang telur menetas (Wentworth 1980 dalam Mufti 2005), sedangkan tiroksin (T4) dan triiodotiroksin (T3) mengalami penurunan (Lien dan Siopes 1993 dalam Mufti 2005). Menurut Jones 1987 dalam Mufti (2005), melihat benda asing yng dianggap membahayakan mengakibatkan ayam berlarian tak terkendali (panik). Lebih lanjut dikatakan pula bahwa reaksi negatif ayam yang merasa ketakutan antara lain berjalan ke sana kemari, mengengokkan kepala dan mematuk benda di sekelilingnya. Pada ayam yang sedang mengeram, peningkatan prolaktin dalam darah mengakibatkan sifat keindukkan (maternal characteristic) meningkat, sehingga ayam selalu berusaha untuk melindungi telur yang sedang dierami, dan menyerang setiap obyek yang dianggap membahayakan. Scanes dalam Mufti (2005) menyebutkan bahwa peningkatan prolaktin pada ayam mengeram berkaitan dengan kondisi tidak tangggap cahaya atau photorefractoriness, karena ayam yang dipelihara pada pencahayaan konstan semakin lama menjadi tidak tanggap cahaya (Morris et al. 1995; Lewis et al. 1993 dalam Mufti, 2005). Peningkatan prolaktin selama mengeram sebagai penyebab penurunan gonadotrofin dalam darah serta penyusutan ovarium. Prolaktin mempunyai spectrum yang luas, baik yang bersifat metabolik, morfologis maupun perilaku, antara lain sekresi susu tembolok (pada merpati), pembentukan bercak pengeraman, lipogenesis dan deposisi lemak, anti gonadal, tingkah laku bersarang dan peletakan telur, mengeram, mengasuh anak serta pertumbuhan. Prolaktin dikenal juga juga sebagai hormone keindukan (parental hormon), karena berperan penting dalam pengaturan tingkah laku keindukan (Turner dan Bagnara dalam Mufti, 2005).

Tingkah laku mengeram, prolaktin tidak bekerja sendirian, tetapi berinteraksi dengan hormone steroid yang berasal dari ovarium (Mufti, 2005). Tingkah laku mengeram juga dirangsang melalui indera peraba, terutama yang berasal dari material sarang. Efektivitas rangsangan yang berasal dari material sarang meningkat dengan adanya bercak pengeraman (brood patch), yaitu rontoknya bulu di daerah dada unggas yang sedang mengeram yang diikuti dengan vaskularisasi sehingga menjadi sensitive terhadap rangsangan rabaan (tacticle stimulation) (Hinde, 1966 dalam Mufti, 2005). Ayam berkembang biak dengan bertelur dan induk ayam mengerami telurnya selama 21 hari sampai telurnya menetas. Induk ayam hanya dapat menghasilkan 8-10 butir sekali bertelur sehingga induk ayam hanya dapat menetaskan 8-10 telur dalam sekali penetasan (Sukanto dan Sugeng H. R., 2001). Selama proses pengeraman, tempat pengeraman telur terbuat dari rumput kering atau jerami kering. Suhu pada saat pengeraman berlangsung kira-kira berkisar antara 43-44o C. Sedangkan ketika didinginkan sekitar 28-32o C (Pratiwi, 2011). Menurut Sastroamidjojo (1971) gelaja ayam ketika akan mengeram adalah ayam tetap berada di dalam sangkar pada siang hari maupun pada malam hari, dada ayam agak gundul dikarenakan bulunya rontok, ayam mengeluarkan suara khas (kluk-kluk-kluk), menegakkan bulunya bila didekati orang atau apapun juga serta siap mematuk, berat badan ayam berkurang, tahi agak encer, cuping telinga menjadi pucat warnanya, dan gelisah serta berkotek terus menerus. Sifat lain yang berhubungan dengan tingkah laku reproduksi misalnya ketika ayam kampung betina akan bertelur, ayam tersebut akan gelisah mencari tempat yang nyaman untuk bertelur. Selain itu, induk ayam akan lebih agresif ketika mengasuh anaknya (Iskandar, 2006). Kejadian atau kebiasaan mengeram pada ayam kampung ditandai dengan menyarang yang terus menerus, menjaga telurnya dan karakter clucking (sifat defensif pada ayam mengeram disertai bunyi suara yang khas) (Romanov et al., dalam Sartika, 2005). Ayam lokal jika dipelihara secara ekstensif atau semi intensif, setelah ayam tersebut bertelur kurang lebih sebanyak 12-15 butir biasanya dilanjutkan dengan mengerami telurnya selama 21 hari sampai telur menetas. Setelah menetas

induk ayam tetap mengerami dan menjaga anaknya serta masih terdapat karakter clucking. Secara keseluruhan, kebiasaan mengeram selama masa inkubasi dan setelah menetas (selama masa brooding) dinamakan sifat mengeram (Sharp, 1997; Romanov et al., 2002). Akan tetapi, fenomena sifat mengeram yang dipelajari adalah sifat mengeram selama masa inkubasi. Pada pemeliharaan secara intensif atau kondisi komersial dengan kandang batere, walaupun telurnya diambil setiap hari, masih dijumpai ayam kampung yang menunjukkan gejala sifat mengeram dan bahkan ada yang mengeram lebih dari 21 hari bahkan sampai 100 hari (Sartika, 2005).

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian bersifat deskriptif dengan didukung oleh data yang diperoleh dari pengamatan pada induk ayam yang sedang mengerami telurnya yang dilakukan dalam kondisi alami. Bila rancangan ini dibuat dalam bentuk gambar akan terlihat sebagai berikut.

Karakteristik Induk Ayam Kampung yang Memiliki Kebiasaan Mengerami Telurnya

Induk Ayam Kampung Bertelur dengan Jumlah Telur yang Banyak

Setiap Telur Menetas jika Suhu Sesuai

Perilaku Induk Ayam Saat Mengerami Telur

Gambar 3.1 Rancangan Penelitian 3.2 Populasi dan Sampel Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh ayam yang berada di kandang rumah salah satu warga di Jalan Terusan Ambarawa Nomor 20. Sedangkan sampel yang diambil adalah satu induk ayam yang sedang mengerami telur. 3.3 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan cara observasi yang dilaksanakan mulai tanggal 24 November hingga 2 Desember 2013. Penelitian dilakukan pagi hari dari jam 05.0006.00 WIB dan sore hari dari jam 17.0018.00 WIB.

3.4 Instrumen Penelitian Alat yang digunakan pada pengamatan ini sebagai berikut: 3.4.2 alat tulis tabel pengamatan kamera.

Pengumpulan Data

3.4.2.1 Tahap Persiapan Membuat dan menyusun tabel pengamatan. Menentukan lokasi dan sampel pengamatan. 3.4.2.2 Tahap Pelaksanaan Mengamati objek amatan mengidentifikasi perilaku yang terlihat pada objek amatan dan mencatat hasil amatan pada tabel pengamatan yang telah dibuat. 3.4.2.3 Analisis Data Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis data deskriptif dengan mengandalkan hasil pengamatan yang dibandingkan dengan teori yang telah ada.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Klasifikasi dan Karakteristik Ayam Kampung (Gallus gallus domesticus) Berdasarkan pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa induk ayam yang diamati merupakan ayam kampung (Gallus gallus domesticus), karena memiliki karakteristik sebagai berikut: a. memiliki ukuran tubuh dan bobot yang relatif lebih kecil dibandingkan

dengan ayam ras pedaging dan relatif lebih besar daripada ayam kate. Menurut Iskandar (2006), ayam kampung umumnya memiliki ukuran tubuh dan bobot badan dewasa berkisar 1,0-1,7 kg pada ayam betina dan 1,5-2,5 kg pada ayam jantan. b. mudah kaget, ketakutan, dan berusaha untuk melarikan diri menjauh dari

objek yang mendatangi. Iskandar (2006) menuturkan bahwa ayam kampung lebih mudah kaget, ketakutan, dan berusaha untuk melarikan diri menjauh dari objek yang datang, bahkan tidak jarang melukai dirinya sendiri dengan mengepakkan sayap, lari, dan terbang bertabrakan dengan sesamanya. Tingkah laku ini diturunkan dalam upaya perlindungan diri dari serangan pemangsa ketika masih hidup liar. c. memiliki kebiasaan mengerami telurnya. Iskandar (2006) menyatakan

bahwa ayam kampung sebagaimana ayam lokal lain memiliki sifat mengeram yang menunjukkan bahwa sebagian besar belum melewati suatu seleksi alam atau seleksi oleh manusia. Sifat mengeram ini masih bertahan dalam upaya mempertahankan keturunan. Sifat-sifat lain yang berhubungan dengan tingkah laku reproduksi, yaitu ketika ayam betina akan bertelur, mereka gelisah mencari tempat yang nyaman untuk bertelur. Selain itu dapat dilihat sifat menyerang ketika induk ayam sedang mengasuh anak-anaknya. Perilaku bertelur dan mengeram ayam lokal juga sering terjadi menggunakan sarang yang sama dengan induk yang lain. d. aktif bergerak dan lincah bahkan ketika selesai makan, berbeda dengan

ayam ras yang langsung minum dan tidur sesaat setelah selesai makan,

e.

saat makan lebih suka menyebarkan pakan ke arah samping dengan

patukannya atau patukan ke arah badannya. Hal ini sesuai dengan pernyataan Appleby et al. (1992) bahwa ayam kampung saat makan lebih suka menyebarkan pakan ke arah samping dengan patukannya atau patukan ke arah badannya. Ditinjau dari perilaku makan dan minum pada ayam kampung, maka ayam kampung seperti halnya unggas yang lain merupakan hewan diurnal. Ayam tidak bisa makan dalam keadaan gelap atau jika panjang hari pendek (Morris, 1967).

3.2

Perilaku Ayam Kampung (Gallus galus domesticus) Saat Mengerami Telur Berdasarkan pengamatan yang dilakukan didapatkan hasil seperti tabel di

bawah ini. Tabel 3.1 Hasil Pengamatan Perilaku Induk Ayam Mengerami Telurnya No. 1. Hari, tanggal Minggu, 24 November 2013 Perilaku Pagi Induk ayam mengerami telur dengan menghadap ke arah Barat. Aktivitas makan berkurang dan lebih jarang turun dari kandang Induk ayam mengerami telur dengan menghadap ke arah Timur Induk ayam mengerami telur dengan tubuh mengembang melingkupi seluruh telurnya. Mengahadap ke arah Barat daya Induk ayam mengerami telur dengan menghadap ke arah Timur. Induk ayam mengerami telur dengan menghadap ke arah Barat. Induk ayam mengerami telur menghadap ke arah Barat. Sore Induk ayam mengerami telur dengan menghadap ke arah Timur

2.

3.

Senin, 25 November 2013 Selasa, 26 November 2013

Induk ayam mengerami telur dengan menghadap ke arah Barat Induk ayam mengerami telur dengan menghadap ke arah Timur. Mengeluarkan suara yang aneh

4.

5.

6.

Rabu, 27 November 2013 Kamis, 28 November 2013 Jumat, 29 November 2013

Induk ayam mengerami dengan menghadap ke Barat Induk ayam mengerami dengan menghadap ke Timur Induk ayam mengerami dengan menghadap ke Timur

telur arah telur arah telur arah

7.

Sabtu, 30 Induk ayam turun dari Induk ayam mengerami telur November tempat pengeraman, mandi dengan menghadap ke arah 2013 tanah, setelah kembali ke Barat. tempat pengeraman. Minggu, 1 Induk ayam mengerami November telur dengan menghadap ke 2013 arah Barat. Tidak terlihat aktivitas makan Senin, 2 Induk ayam mengerami November telur dengan menghadap ke 2013 arah Barat Daya. Sesekali turun dan memperhatikan telur-telurnya kemudian mengeram kembali Induk ayam mengerami telur dengan menghadap ke arah Barat. Induk ayam membolakbalik telur dengan lehernya. Induk ayam mengerami telur dengan menghadap ke arah Timur. Saat di dekati menakutnakuti dengan mengembangkan bulu-bulunya.

8.

9.

Berdasarkan tabel 3.1 diketahui bahwa induk ayam kampung menggeser posisi tubuhnya secara periodik. Ayam kampung (Gallus gallus domesticus) merupakan salah satu hewan yang berkembang biak dengan cara bertelur. Setelah bertelur, ayam akan mengalami proses pengeraman agar telur berkembang menjadi embrio dan kemudian embrio berkembang menjadi anak ayam (DOC/day old chick). Ayam berkembang biak dengan bertelur dan induk ayam mengerami telurnya selama 21 hari sampai telurnya menetas. Induk ayam hanya dapat menghasilkan 8-10 butir sekali bertelur sehingga induk ayam hanya dapat menetaskan 8-10 telur dalam sekali penetasan (Sukanto dan Sugeng H. R., 2001). Menurut Sastroamidjojo (1971), ayam ketika akan mengeram adalah ayam tetap berada di dalam sarang pada siang hari maupun pada malam hari, dada ayam gundul dikarenakan bulunya rontok serta mengeluarkan suara khas (kluk-klukkluk). Selain itu induk ayam juga menegakkan bulunya bila didekati apapun serta siap mematuk, berat badan ayam berkurang, tahi agak encer, cuping telinga menjadi pucat warnanya, dan gelisah serta berkotek terus menerus. Untuk menjaga kestabilan suhu pada saat pengeraman ayam selalu bergerak atau bergeser. Hal ini terjadi saat 5-6 hari pertama pengeraman. Berdasarkan pengamatan dari tanggal 24 November 2013 sampai tanggal 30 November 2013 induk ayam yang mengerami telur menghadap ke arah Barat dan ke arah Timur secara bergantian tiap harinya. Sedangkan pada hari berikutnya

induk ayam mengerami telur dengan menghadap ke arah Barat ataupun jika terdapat pergeseran hanya sedikit. Pergeseran posisi induk ayam serah jarum jam. Induk ayam melakukan pergeseran posisi tubuhnya ini untuk menyamakan suhu setiap butir telur. Hal ini dimaksudkan agar metabolisme seluruh telur berlangsung dengan baik sehingga seluruh telur dapat menetas menjadi anak ayam. Faktor lain yang menyebabkan induk ayam menggeser posisi tubuhnya searah jarum jam, saat mengerami telur belum diketahui. Namun, hal tersebut mungkin dapat dikaitkan dengan penyesuaiannya terhadap arah sinar matahari. Menurut Pratiwi (2011) tidak sampai 5 jam induk ayam akan bergeser atau bergerak lagi untuk menyamakan suhu telur. Apabila suhu terlalu panas maka telur yang dierami akan dibalik dengan kepala dan leher induk ayam supaya setiap bagian telur memiliki suhu yang sama. Selain itu, proses pembalikan telur ini bertujuan untuk melawan gaya gravitasi sehingga embrio di dalam telur tetap baik. Proses pembalikan telur ini biasanya dilakukan tiga kali dalam sehari. Proses pembalikan telur ini bergantung kepada peningkatan suhu di dalam telur. Ayam turun dari sarang atau tempat pengeraman untuk mencari makan. Hal ini biasa terjadi pada hari ke-15 atau hari ke-16 ke atas. Ayam turun dari tempat pengeraman juga untuk mendinginkan telur-telur yang sedang mengalami tingkat metabolisme tinggi akibat perkembangan embrio. Tingginya tingkat metabolisme yang dialami oleh telur ini mengakibatkan suhu telur menjadi tinggi sehingga telur menjadi panas. Semakin lama proses pengeraman maka tingkat metabolisme telur akan semakin meningkat. Dengan meningkatnya suhu akibat dari proses metabolisme telur ini maka menjelang hari-hari akhir pengeraman induk ayam semakin sering turun dari tempat penetasan untuk mendinginkan suhu telur. Karena jika suhu telur terlalu tinggi, embrio yang ada di dalam telur bisa mati. Suhu pada saat pengeraman biasanya berkisar antara antara 43-44o C. Sedangkan ketika didinginkan suhunya turun dan menjadi sekitar 28-32o C (Pratiwi, 2011).

BAB V PENUTUP

4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: induk ayam yang diamati merupakan ayam kampung (Gallus gallus domesticus) yang memiliki karakteristik ukuran tubuh dan bobot sedang, mudah kaget, ketakutan, dan berusaha untuk melarikan diri menjauh dari objek yang mendatangi, dan memiliki kebiasaan mengerami telurnya. Perilaku induk ayam kampung saat mengeram antara lain, sering menggeser posisi mengeram, bulu dada rontok, suara induk ayam menjadi berubah, aktivitas makan dan minum berkurang, dan lebih agresif. 4.2 Saran Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dapat disarankan: Pengamatan secara intensif seharusnya dilakukan selama masa perkawinan, bertelur, hingga penetasan telur dan menjadi anak ayam (DOC/day old chick). Perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut tentang pergeseran posisi tubuh saat mengerami.

DAFTAR RUJUKAN Appleby, M.C., B. O. Huges and H. A. Elson. 1992. Poultry Production System: Behavior, Management and Welfare. Redwood Press Ltd., Melksham. Mansjoer, S.S. 1989. Pengembangan ayam lokal di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional tentang Unggas Lokal. Fakultas Peternakan UNDIP, Semarang. Morris, T.R. 1967. Light Requirement of the Fowl. Dalam : Appleby, M. C., B. O. Hughes dan H. A. Elson (Editor). Poultry Production System; Behavior, Mnagement and Welfare. Redwood Press Ltd, Melksham. Mufti, Mochamad. 2005. Tingkah Laku Mengeram dan Pengendaliannya Guna Meningkatkan Produksi Telur Ayam Kampung. Disertasi diterbitkan. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Pratiwi, K.A. 2011. Laporan Resmi Praktikum Biologi Umum Perilaku Induk Ayam Mengerami Telur. (Online), http://kristinagustina.blogspot.com/2012/03/laporan-resmi-praktikumbiologi-umum.html), diakses tanggal 29 November 2013. Sarwono, B. 1991. Beternak Ayam Buras. Cetakan ke 3. Penebar Swadaya, Jakarta Sastroamidjojo, Seno. 1971. Beternak Ilmu Ayam. Bandung: Massa Baru. Suhara. 2010. Modul Pembelajaran Ilmu Kelakuan Hewan (Animal Behavior). Bandung: UPI. Sukanto dan Sugeng H. R. 2001. Mari Beternak Ayam. Semarang: Aneka Ilmu.

Anda mungkin juga menyukai