Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Lansia adalah fase menurunnya kemampuan akal dan fisik, yang dimulai dengan adanya beberapa perubahan dalam hidup. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan tugas dan fungsi hidupnya, yaitu lanjut usia, kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapapun itu orangnya, tentu telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya (Darmojo, 2004). Menurut Nugroho (2008) Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki tahapan akhir dari fase

kehidupannya. Pada kelompok yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process. Ilmu yang yang mempelajari fenomena bersamaan dengan proses kemunduran. Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional / BKKBN (2008). Lansia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan, dalam mendifinisikan batasan penduduk lanjut usia, ada tiga aspek yang perlu di pertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi, dan aspek sosial.

Kurang imobilitas fisik merupakan masalah yang sering dijumpai pada pasien lanjut usia akibat berbagai masalah fisik, psikologis, dan lingkungan yang di alami oleh lansia (Lueckenote, 2006). Imobilisasi dapat menyebabkan komplikasi pada hampir semua sistem organ. Imobilitas atau menurunnya fungsi gerak pada lansia adalah karena ketidak mampuan lansia untuk bergerak secara aktif, diakibatkan karena proses lanjut usia, yang dapat ditandai dengan penurunan toleransi aktifitas, penurunan kekuatan otot, penurunan kemandirian pada lansia (Suyono, 2007). Menurut hasil penelitian Supriani A. tentang Tingkat Depresi Pada Lansia Di tinjau Dari Tipe Kepribadian dan Dukungan sosial di Panti Werdha Mojopahit Mojokerto pada tahun 2011, terdapat Subyek penelitian sebanyak 25 lansia. Hasil penelitian tipe kepribadian lansia yang berbeda-beda dapat mempengaruhi depresi pada lansia dengan signifikan (p=0,000). Untuk tipe kepribadian introvert sebanyak

(46,67%) dengan nilai mean sebesar 21,89 yang menunjukan tingkat depresi berat, dan yang paling banyak tipe kepribadian ekstrovert (53,33%) dengan mean 9,91 yang menunjukan tingkat depresi ringan. Dan sedangkan untuk dukungan sosial kurang, dan baik dapat mempengaruhi depresi pada lansia dengan signifikan (p=0,001).

Dukungan sosial kurang (40%) dengan nilai mean sebesar 22,00, nilai mean besar menunjukan tingkat depresi berat dan dukungan sosial

baik (60%) dengan nilai mean 11,17 menunjukan tingkat depresi ringan. Perkembangan fisik pada masa lansia terlihat pada perubahan perubahan fisiologis yang bisa dikatakan mengalami kemunduran. Perubahan-perubahan tersebut sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan dan terhadap kondisi psikologis (F.J Monk, 2009). Hal-hal tersebut yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis) sehingga membawa lansia ke arah kerusakan / kemerosotan (deteriosasi) yang progresif terutama aspek psikologis, misalnya bingung, panik, apatis dan depresif (Depkes. RI, 2005). Depresi merupakan kondisi umum yang terjadi pada lansia. Kondisi ini sering berhubungan dengan kondisi sosial, kejadian hidup seperti kehilangan, masuk rumah sakit, menderita sakit atau merasa teman dan keluarganya serta masalah fisik yang

ditolak oleh

dialaminya sakit atau merasa ditolak oleh teman dan keluarganya serta masalah fisik yang dialaminya (Amir N, 2005). Menurut Brodaty, 1991 dalam Depkes RI (2001), gangguan yang sering muncul pada orang yang mengalami depresi adalah anxietas atau kecemasan, preokupasi gejala fisik, perlambatan motorik, kelelahan,

mencela diri sendiri, pikiran bunuh diri, dan insomnia. Gangguan depresi pada lansia bisa terjadi dengan berbagai gejala, paling banyak dilaporkan adalah adanya gejala-gejala fisik seperti Insomnia atau sulit tidur, nyeri otot dan sendi, gangguan cemas dan kurang nafsu makan adalah gejala-

gejala depresi yang sering timbul pada lansia. Gejala-gejala fisik ini akan menjadi sulit dibedakan dengan gejala fisik pada kondisi medis umum karena sering kali mirip dan merupakan bagian yang mempengaruhi (Hurlock, 2006). Faktor penyebab depresi pada lansia antara lain adalah faktor biologi, psikologi, stres kronis, penggunaan obat. Adapun faktor biologi antara lain adalah genetik, perubahan struktural otak, risiko vaskular, dan kelemahan fisik dan faktor psikologi penyebab depresi pada lansia antara lain adalah tipe kepribadian dan dukungan sosial (Kaplan, 2010). Hasil penelitian Avritania. M I tentang Hubungan Perawatan dan Dukungan Sosial Keluarga Dengan Depresi Pada Lansia di Kelurahan Kembang Arum Semarang pada tahun 2011, menunjukkan dari 100 lansia dihasilkan, bahwa 41 orang (44,6%) tidak depresi, 43 orang (46,7%) beresiko mengalami depresi, dan 8 orang (8,7%) depresi. Hasil studi pendahuluan di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal terdapat 35 lansia yang mengalami penurunan fungsi gerak. Hasil wawancara pada bulan september 2013 terhadap 10 responden diantaranya 5 laki-laki dan 5 perempuan di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal. Pada saat diberikan pertanyaan dalam bentuk kuesioner DASS (Depression Anxiety and Stres Scale) dihasilkan 4 lansia mengalami mengalami depresi depresi ringan dengan score score 0-30, 3 lansia 2 lansia saling

sedang dengan

31-60, dan

mengalami depresi berat dengan score 61-90, mereka mengatakan depresi karena tidak dapat melakukan fungsi gerak dengan baik. Fenomena dan studi pendahuluan diatas, membuat peneliti tertarik untuk mengambil judul Tingkat depresi pada lansia yang mengalami penurunan fungsi gerak di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal. B. Perumusan Masalah Studi pendahuluan di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal terdapat 35 lansia yang mengalami penurunan fungsi gerak. Hasil wawancara pada bulan september 2013 terhadap 10 responden

diantaranya 5 laki-laki dan 5 perempuan di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal. Pada saat diberikan pertanyaan dalam bentuk kuesioner DASS (Depression Anxiety and Stres Scale) dihasilkan 4 lansia mengalami mengalami depresi depresi ringan dengan score score 0-30, 3 lansia 2 lansia

sedang dengan

31-60, dan

mengalami depresi berat dengan score 61-90, mereka mengatakan depresi karena tidak dapat melakukan fungsi gerak dengan baik. Sehingga dapat dirumuskan masalah Gambaran tingkat depresi pada lansia yang mengalami penurunan fungsi gerak di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan umum Mengetahui gambaran tingkat depresi pada lansia yang mengalami penurunan Kendal. 2. Tujuan khusus a. Mengetahui karakteristik lansia yang mengalami penurunan fungsi gerak pada lansia di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal. b. Mengetahui tingkat depresi pada lansia yang mengalami fungsi gerak di Panti Wredha Rindang Asih III

penurunan fungsi gerak di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi responden Sebagai pengetahuan bagi lansia tentang tingkatan depresi pada lansia yang mengalami penurunan fungsi gerak di Panti Wredha

Rindang Asih III Kendal. 2. Bagi peneliti Peneliti juga mendapatkan pengalaman baru dalam hal melakukan penelitian yang nantinya dapat menjadi pengalaman dan bekal yang berharga untuk kemajuan ilmu peneliti tentang tingkat depresi pada lansia yang mengalami penurunan fungsi gerak di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal. 3. Bagi institusi keperawatan Dapat menjadi masukan dalam melengkapi konsep-konsep

keperawatan yang berkaitan dengan tingkat depresi pada lansia yang mengalami penurunan fungsi gerak di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal. . 4. Bagi Pelayanan Keperawatan Hasil penelitian yang ini dapat sebagai masukan dalam di pelayanan memberikan

keperawatan

diharapkan

berguna

informasi khususnya yang berkaitan dengan tingkat depresi pada lansia yang mengalami penurunan fungsi gerak di Panti Wredha Rindang Asih III Kendal.

E. Keaslian Penelitian 1. Ishak Nur (2013 ), penelitian tentang Gambaran Tingkat Depresi Pada Lansia Di Dusun Saukeng Desa Singa Kecamatan Herlang Kabupaten Bulukumba. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi survey deskriptif dengan menggunakan rancangan penelitian data primer yang di ambil dari hasil kuesioner yang telah diisi oleh responden. Jumlah populasi pada penelitian ini adalah semua penduduk lansia yang bedomisili di dusun Saukeng desa Singa Kecamatan Herlang Kabupaten Bulukumba sebanyak 30 orang lansia. Pengambilan sampel dalam penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel jenuh. Dalam pengumpulan data, menggunakan teknik angket berupa lembar observasi. Hasil penelitian ini adalah terdapat 19 responden yang mengalami depresi sedang dengan persentase 63%, sedangkan 8 responden yang mengalami depresi berat dengan

persentase 27%, dan 3 responden yang mengalami depresi ringan dengan persentase 10%. 2. Dianingtyas Agustin (2008), Penelitian tentang Perbedaan Tingkat Depresi Pada Lansia Sebelum dan Sesudah Dilakukan Senam Bugar Lansia Di Panti Wredha Wening Wardoyo Ungaran. Jenis penelitian yang digunakan Pra eksperimen tanpa kelompok pembanding

dengan desain penelitian pretest posttest one group design. Jumlah populasi di penelitian ini lansia yang tinggal di Panti Wreda Wening Wardoyo Ungaran, subyek penelitian sebanyak 22 lansia dengan

17 responden (80,9 %) berusia 60-74 tahun dan 5 responden (9,1%) yang berusia 75-90 tahun. Menunjukan sebelum dilakukan senam bugar, 12 responden (57,1%) kategori depresi ringan, 9 responden (42,9 %) kategori depresi sedang-berat. Setelah diberikan perlakuan, 10 responden (47,6%) tidak terdiagnosis mengalami depresi, responden yang mengalami depresi ringan berkurang menjadi 7 orang (33,4%) dan responden yang mengalami depresi sedang-berat berkurang menjadi 4 orang (19%). Selanjutnya dilakukan uji Kolmogorov-Smirov dan didapatkan hasil bahwa kedua variabel tidak berdistribusi normal. Demikian juga setelah dilakukan tranformasi data, sebaran data tetap tidak berdistribusi normal sehingga data

terseut tidak memenuhi syarat untuk diuji menggunakan uji 1 sampel berpasangan. Sebagai alternatif digunakan uji Wilcoxon dan diperoleh hasil bahwa 14 responden (66,7 % ) mengalami penurunan tingkat depresi dan sebanyak 7 responden (33,3%) tidak mengalami

perubahan tingkat depresi setelah diberikan perlakuan. Tidak ada responden yang bertambah depresi stelah diberikan perlakuan. Nilai p = 0,001 dan uji Wiloxon menunjukan bahwa terdapat perbedaan

tingkat depresi yang bermakna sebelum dan sesudah diberikan senam bugar lansia. Pada senam aerobik low impact yang dilakukan selama 2 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu mampu menurunkan tingkat depresi, dimana 64 % pasien mengalami penurunan tingkat depresi, 29 % tidak menunjujakan perubahan dan

10

7 % depressi meningkat. Sebanyak 5 orang responden (23,8%) tidak mengalami penurunan tingat depresi setelah mengikuti senam bugar lansia dan didominasi oleh responden laki-laki. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada variabel, metode penelitian, populasi dan sampel penelitian, serta tempat dan waktu penelitian.