Anda di halaman 1dari 3

Topik: PHOTOSHOP INSIDE!

Cara merakit, merekam dan proses kamar gelap untuk kamera lubang jarum
Menampilkan kesemua 5 kiriman.

Deni Latar sejarah Jauh sebelum fotografi rekaman permanen ditemukan di Prancis (Niepce/1826), metode ini sudah ada, dikenal dengan pinhole disebut juga lubang jarum. Pertama kali dikenal dalam penelitian bansa Cina, yaitu Mo Ti, 400 sebelum masehi, kemudian oleh seorang filsuf, Aristoteles 330 sebelum masehi. Beberapa abad kemudian digunakan untuk pengamatan astronomi-150 sebelum masehi oleh bangsa Yunani. Kemudian dikembangkan sebagai pengamatan matahari oleh Gemma Frisius tahun 1508-1555. Pada tahun 956-1039, diteliti oleh ilmuan optis bangsa Mesir, yang bernama Ibn al-Haitam, dalam buku ilmiahnya Kitab al-Manazir lubang jarum ini adalah metode ilmiah untuk mempelajari bias cahaya. Joseph Nicphore Nipce menggunakan kamera pinhole, berhasil merekam secara permanen pemandangan dari arah kamarnya, hasil karya ini membutuhkan waktu lebih dari delapan jam! Karena mentode perekaman yang digunakan adalah jenis kamera tidak berlensa, alias pinhole, pada masa itu disebut kamera obscura terbuat dari kayu. Beberapa puluh tahun berikutnya, jenis kamera obscura ini di produksi masal (1881) sebagai kamera sekali pakai (lihat kodak) karena tidak menggunakan lensa, kamerapun menjadi sangat murah dan bisa diproduksi masal. Pada abad ke-20, tahun 1940, teknik metode perekaman ini digunakan untuk merekam partikel enerji yang dilepaskan oleh bom atom. Selain itu, teknik inipun digunakan sebagai ekspresi seni fotografi dan sebagai pengantar ilmu optis dalam fotografi masa itu. Seiring dengan lahir aliran impresionism, aliran secession, pictorial dan straight fotografi, pinhole kehilangan penggemarnya. Hingga akhir tahun 1960-an, di Amerika menjadi trend kembali, yang diusung oleh Eric Renner. Lubang jarum dianggap sebagai ekpresi fotografi alternatif dan mempunyai genre khusus dan mampu bersanding dengan karya lukis di galeri kelas dunia. Di indonesia, gerakan komunitas lubang jarum ini dicetuskan di di Galeri I-see, Jakarta, tanggal 17 Agustus 2002, dalam pertemuan lintas kota; Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta dan Bali, oleh penggagasnya Ray Bachtiar Drajat dan kawankawan, mendirikan Komunias Lubang Jarum Indonesia/KLJI. Tahun sebelumnya, telah menerbitkan buku Memotret Dengan Kamera Lubang Jarum terbitan Graha Puspa. Tahun 2008, menerbitkan buku ke-dua, Ritual Fotografi diterbitkan oleh Gramedia, dalam bentuk majalah spesial edisi Chip Foto Video. Dibandung sendiri, setelah workshop pertama tahun 2002 lalu, kemudian menggeliat kembali, hadir bersama-sama Komunitas Lubang Jarum Indonesia-Bandung/KLJI Bandung dan kamerapinjaman.com/KAMPI, menamai dalam satu payung bersama Pinhole Bandung hingga kini telah merekrut lebih dari seratus lebih partisipan untuk workshop dasar lubang jarum. Kini lubang jarum di Indonesia ingin menapaki kreasi ini merupakan bagian dari seni fotografi, yang mampu duduk satu meja dengan karya-karya seni lainya. Apa itu lubang jarum? Dan mafaatnya? Adalah metode perekaman dasar dalam ilmu fotografi. Kamera yang bekerja berdasarkan teori optis, cahaya yang lolos melalui lubang kecil, kemudian diproyeksikan pada bidang datar, terbalik. Dalam tata cara perekaman gambar ini, sama dengan teknik dalam fotografi digital, namun sensor cahaya perekam gambar pada kamera digital, dilubang jarum menggunakan kertas foto ukuran 9x14 cm peka cahaya. Gambar akan permanen pada kertas foto karena cahaya dari luar kemudian diloloskan melalui lubang kecil. Cahaya yang diproyeksikan tersebut direkam kertas foto; kertas foto yang terkena cahaya akan menjadi hitam dan sebaliknya, yang tidak terkena cahaya tetap putih. Proses ini disebut ekspos dan setela h kertas foto tersebut di proses di kamar gelap, disebut negatif foto. JANGAN PERNAH MEMBUKA KOTAK KERTAS DITEMPAT TERANG! Beberapa artis menggunakan negatif warna, teknik salt print ataupun jenis ortho film. Apa manfaat dari proses kamera lubang jarum? Banyak sekali, diantaranya berkenalan dengan teori dasar fisika tentang optis, dasar-dasar fotografi, kreatifitas membuat kamera dan proses imajinatif serta tantangan apresiasi seni fotografi. (1) Merakit kamera itu menuntut daya kreatif, mencari bentuk yang pas yang sesuai dengan efek yang dihasilkan; silinder akan membentuk gambar menjadi cembung, seperti penggunaan pada lensa jenis fish eye atau lensa sudut sangat lebar. Posisi kertas miring, gambar akan menjadi distorsi/skew. (2) posisi-jarak kertas terhadap lubang akan menentukan lebar-sempit sudut cahaya yang diproyeksikan; semakin dekat terhadap lubang, sudut akan menjadi lebar, sehingga cahaya yang jatuh pada permukaan kertas film akan lebar (wide) sebaliknya, disebut tele. Perihal ini disebut focal length, prinsip dasar lensa vario/zoom. (3) Lubang tunggal dan multi akan memberikan efek yang berbeda. Lubang lebih dari satu akan membentuk gambar menjadi bertumpuk seperti multi ekspos. Seorang artis pinhole Amerika, Chris Peregoy menamainya blender pinhole (4) Olah imajinasi; yang membedakan manusia dengan hewan (meskipun manusia juga tergoleng dalam spesies hewan) adalah imajinasi karena kebebasan berangan-angan itu adalah hak kemerdekaan individu. Pada kamera lubang jarum tidak dilengkapi deng an view finder atau lubang intip untuk menentukan komposisi. Jadi bagaimana menentukan ruang bidik? Yang pasti adalah imajinasi! (5) Secara teknis, untuk jarak 5 cm dari lubang ke permukaan kertas foto, lubang yang digunakan adalah berukuran 0.03mm. Bahasa teknis tentu saja bisa dipelajari, namun bila bersandarkan persoalan teknis, yang terjadi adalah berlomba menghitung, jadi merekam gambar tidak penting lagi. Melubangi secukupnya adalah nilai toleransi yang harus dicari jaraknya. Yang pasti berada di minimum ke maksimum-alias yang sedang-sedang saja. Jadi setiap kamera yang dibuat akan bersifat personal bagi ia yang merakitnya.

Persiapan merakit kamera jenis silinder Dibagi tiga tahap; merakit, memotret dan proses di kamar gelap. Baiknya dipersiapkan terlebih dahulu kebutuhan untuk

merakit kamera. (1) Kaleng dengan tinggi ukuran 9cm diameter 6 hingga 10 cm. (2) Almunium foil bekas kue, ketebalan 0.03mm, bisa juga menggunakan bekas tutup kaleng susu 500gram. (3) Karton hitam, plakban, jarum pentul, plastik hitam tebal dan bor untuk melubangi Pastikan kaleng sudah bersih, kalau perlu dicuci terlebih dahulu. Gunakan bor untuk melubangi tepat di tengan-tengah kaleng, dengan diameter 1cm. perhatikan, jangan sampai bekas bor tadi membentuk lubang yang tidak rata. Pukul dengan benda keras/palu kecil, sehingga lubang tersebut benar-benar rata dan rapih. Potong karton hitam seukuran kaleng dan sisipkan didalam kaleng. Tujuannya agar tidak ada refleksi-defraksi karena kilau kaleng bagian dalam akan memantulkan cahaya, sehingga gambar yang dihasilkannya seperti berkabut. Almunium tersebut dicoblos dengan menggunakan jarum. Pastikan lubang tersebut rapih dan pasang lubang yang menonjol menghadap luar kaleng. Lubang almunium dipasang menutupi lubang di kaleng dan pastikan lubang jarum tersebut tepat di tengah lubang kaleng yang dimaksud. Tempel dengan menggunakan plakban di sekeliling alumunium foil tersebut. Setelah rapih ditempel, arahkan kaleng tersebut dengan lubang menghadap sumber cahaya. Pastikan tidak ada cahaya lain kecuali berasal dari lubang tersebut. Buat shutter atau penutup lubang jarum dari plakban, dengan ukuran menutupi lubang dan bisa dibuka untuk proses pencahayaan/pengambilan gambar. Di kamar gelap, masukan kertas film ke dalam kamera kaleng. Pasang kertas bagian mengkilap/emulsi menghadap lubang (bira diraba tangan agak lengket) JANGAN PERNAH MENGISI KERTAS DALAM KALENG DITEMPAT TERANG! Memotret Pastikan kamera sudah diam pada posisinya, kalau perlu diganjal menggunakan benda keras agar tidak bergoyang. Kemudian buka shutter nya, bukan sebaliknya. (1) Untuk intensitas siang hari terang benderang, butuh waktu kurang lebih 30 detik. Bila matahari tertutup awan 50 detik. Sore hari agak mendung 1 hingga 2 menit. Benda tidak bergerak akan lebih baik, sedangkan benda yang bergerak tidak akan terekam. Misalnya mobil yang berlalu lalang tidak akan terekam, hanya bayangannya saja yang terekam. (2) Ruang tajam/Depht of Field kamera ini adalah paling dekat titik fokus untuk jarak 30cm hingga jarak tidak terhingga/infinity dan sangat lebar. (3) Pastikan, benda yang direkam, langsung terkena sinar matahari. Gambar tidak akan muncul bila menggunakan lampu flash, meskipun dengan kekuatan besar. Perekaman ini membutuhkan cahaya yang berlanjut/continue. (4) Posisi kaleng berdiri dan tidur akan menentukan orientasi format kertas foto. Persiapan kamar gelap Berikut perlengkapan teknis penunjang yang harus dipersiapkan sebelum masuk kamar gelap. (1) Ruang kamar gelap bisa menggunakan kamar mandi, kamar tidur atau kotak kardus ukuran besar (bekas lemari es besar misalnya). Setelah memastikan tidak ada cahaya yang masuk. Gunakan lampu pijar 5 watt warna merah, atau bisa menggunakan lampu tungsten 15 watt, kemudian dibungkus dengan plastik mika warna merah lima rangkap. (2) Developer, sebagai larutan pengembang. Merek yang bisa ditemui dipasaran adalah SUPERBROM, dilarutkan untuk satu liter. (Harga pasaran Rp. 5.000., per kotak) (3) Stopbath, larutan penghenti dan penetral residu developer. Bisa menggunakan air mineral/suling, dengan 3 tetes cuka dapur untuk satu liter. (4) Larutan penetap, atau fixer. Di pasaran, hanya ada satu merek saja yang bisa ditemui, ACIFIX (Rp. 7.500., per kotak) dilarutkan untuk satu liter air. Gunakan air mineral. (5) Tray, atau tatakan gelas ukuran 20cm x 15cm. Siapkan tiga tatakan untuk developer, stopbath dan fixer. (6) Print tong, atau penjepit kertas. Untuk menghindari kontak langsung dengan tangan/kulit, gunakan penjepit. Bisa dibuat sendiri dari bambu yang dipipihkan, persis seperti sumpit berbentuk pipih. Didalam kamar gelap, pastikan tangan tidak basah, kemudian keluarkan kertas dari dalam kamera. Dalam posisi emulsi kertas foto menghadap ke bawah, kemudian tenggelamkan segera ke dalam larutan developer, hingga tenggelam. Kemudian balikan dengan bantuan penjepit, jangan gunakan tangan. HINDARI TANGAN BERSENTUHAN LANGSUNG DENGAN LARUTAN DEVELOPER. Balikan kertas tersebut, tunggu beberapa detik (3-5 detik) kemudian gambar akan muncul. Bila gambar telah muncul, ambil dengan jepitan, kemudian masukan pada larutan berikutnya; stopbath. Tenggelamkan dan biarkan 5 detik. Ambil dan pastikan air tidak menetes lagi, kemudian masukan pada tray terakhir; larutan fixer dan tenggelamkan. Tunggu hingga minimal 30 detik hingga 2 menit. Pastikan benar-benar tenggelam semua permukaan kertas dalam larutan fixer. Bila terlalu sebentar, maka kertas foto tersebut akan berubah menjadi merah, karena proses penetapan-fixing belum sempurna. Langkah terakhir bilas menggunakan air mengalir selama satu menit, sehingga kertas bila diraba terasa kesat. Gantung di tempat bebas debu dan keringkan. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, bisa melihat: http://www.kljibandung.blog.com/ & http://pinholeindonesia.net/ atau http://kljindonesia.org/