Anda di halaman 1dari 6

Membangun Budaya Akademik Dua tahun yang lalu, masalah budaya akademik yang cenderung sulit berkembang di perguruan

tinggi Indonesia, telah menjadi topik perbincangan. Beberapa pakar pendidikan meyakini bahwa kemunduran kultur akademik bukan hanya karena pengaruh birokrasi pendidikan tetapi juga akibat keadaan internal perguruan tinggi itu sendiri. Di antaranya yang menjadi bahan polemik adalah masalah mataramisme yang mendarah daging dalam interaksi sosiologis di setiap perguruan tinggi. "Teori" mataramisme tampaknya belum terkikis habis meskipun era reformasi telah mengharu biru masyarakat. Budaya ewuh pakewuh yang menyebabkan individu enggan untuk berbeda pendapat, berdebat, bersaing, dan berambisi dalam kemajuan. tmosfir tata nilai seperti itu menyebabkan kampus cenderung statis, tidak lagi menjadi pergulatan inovasi bagi kaum intelektual guna menemukan teori!teori baru. "rang kampus justru menghindari penemuan!penemuan baru karena takut dicap arogan, ambisius, dan sejenisnya. #erubahan generasi intelektual di kampus kita tidak ditandai dengan ukuran output karya ilmiah yang dihasilkan. $tratifikasi sosial lebih banyak ditentukan oleh dimensi senioritas, yang diukur dengan kepangkatan akademik. $isi lain dari "budaya keraton" dalam lingkungan perguruan tinggi otomatis diikuti hilangnya intelektual yang bersikap kritis. rief Budiman ketika dipecat dari %niversitas &risten $atya 'acana menulis tentang kekritisan dengan pengakuan yang luas, "$aya tetap ingin mengabdikan diri di dunia akademik, karena di dunia inilah saya merasa bisa mengekspresikan diri secara jujur sambil menggunakan daya pikir dan kreativitas (&ompas, ))! )*!)++,-. Dosen!dosen yang kritis ini menjadi semakin langka. .ika pun di beberapa kampus muncul dosen kritis (terhadap sosial maupun keilmuannyajumlahnya pastilah bisa dihitung dengan jari. Dan mereka itu adalah orang! orang yang rela memperoleh predikat tidak mengenakkan, seperti dosen mbalela, dosen vokal, dan sebagainya. /ereka ini cenderung dirugikan dalam karier karena hal!hal semacam itu termasuk indikator tingkat loyalitas pada lembaga. $edangkan tingkat loyalitas mempunyai bobot paling tinggi dalam item D#& (daftar penilaian karyawan- yang dipergunakan sebagai rekomendasi promosi pekerjaaan. #engamat pendidikan, #rof Dr $oenjono Dardjowidjojo, berpendapat bahwa kultur akademik akan berkembang apabila perguruan tinggi benar!benar memiliki kebebasan akademik secara komplet. $eorang akademikus harus berani menyatakan apa adanya tanpa memperhatikan apakah ada yang akan dirugikan. &alangan perguruan tinggi sebenarnya sudah melihat persoalan! persoalan seperti ini, tetapi menghadapi kenyataan temboknya terlalu tebal. .adilah semacam orang!orang yang munafik, karena tahu tetapi tidak berani berbicara. $ituasi demikian (kampus tanpa pengembangan tradisi akademik- terus berjalan. #emerintah yang memiliki otoritas membangun sistem yang

MASYARAKAT BERADAB, PERAN UMAT BERAGAMA, HAK ASASI MANUSIA DAN DEMOKRASI Masya aka! Be adab dan Se"a#!e a /asyarakat adalah sejumlah individu yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu, bergaul dalam jangka waktu yang lama sehingga menimbulkan kesadaran pada diri setiap anggotanya sebagai suatu kesatuan. sal usul pembentukan masyarakat bermula dari fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa membutuhkan orang lain. Dari fitrah ini kemudian mereka berinteraksi satu sama lain dalam jangka waktu yang lama sehingga menimbulkan hubungan sosial yang pada gilirannya menumbuhkan kesadaran akan kesatuan. %ntuk menjaga ketertiban daripada hubungan sosial itu, maka dibuatlah sebuah peraturan. Dalam perkembangan berikutnya,seiring dengan berjumlahnya individu yang menjadi anggota tersebut dan perkembangan kebudayaan, masyarakat berkembang menjadi sesuatu yang kompleks. /aka muncullah lembaga sosial, kelompok sosial, kaidah!kaidah sosial sebagai struktur masyarakat dan proses sosial dan perubahan sosial sebagai dinamika masyarakat. tas dasar itu, para ahli sosiologi menjelaskan masyarakat dari dua sudut0 struktur dan dinamika. /asyarakat beradab dan sejahtera dapat dikonseptualisasikan sebagai civil society atau masyarakat madani. /eskipun memeliki makna dan sejarah sendiri, tetapi keduanya, civil society dan masyarakat madani merujuk pada semangat yang sama sebagai sebuah masyarakat yang adil, terbuka, demokratis, sejahtera, dengan kesadaran ketuhanan yang tinggi yang diimplementasikan dalam kehidupan sosial. #rinsip masyarakat beradab dan sejahtera (masyarakat madani- adalah keadilan sosial, egalitarianisme, pluralisme, supremasi hukum, dan pengawasan sosial. &eadilan sosial adalah tindakan adil terhadap setiap orang dan membebaskan segala penindasan. 1galitarianisme adalah kesamaan tanpa diskriminasi baik etnis, agama, suku, dll. #luralisme adalah sikap menghormati kemajemukan dengan menerimanya secara tulus sebagai sebuah anugerah dan kebajikan. $upremasi hukum adalah menempatkan hukum di atas segalanya dan menetapkannya tanpa memandang 2atas3 dan 2bawah3.

Pe an Uma! Be agama da$am Me%u"udkan Masya aka! Be adab dan Se"a#!e Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural di mana bangsa ini terdiri dari pelbagai macam suku, bahasa, etnis, agama, dll. meskipun plural, bangsa ini terikat oleh kesatuan kebangsaan akibat pengalaman yang sama0 penjajahan yang pahit dan getir. &esatuan kebangsaan itu dideklarasikan melalui $umpah #emuda )+*4 yang menyatakan ikrar0 satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa0 Indonesia. &esatuan kebangsaan momentum historisnya ada pada #ancasila ketika ia dijadikan sebagai falsafah dan ideologi negara. .ika dibandingkan, ia sama kedudukannya dengan #iagam /adinah. &eduanya, #ancasila dan #iagam /adinah merupakan platform bersama semua kelompok yang ada untuk mewujudkan cita!cita bersama, yakni masyarakat madani. $alah satu pluralitas bangsa Indonesia adalah agama. &arena itu peran umat beragama dalam mewujudkan masyarakat madani sangat penting. #eran itu dapat dilakukan, antara lain, melalui dialog untuk mengikis kecurigaan dan menumbuhkan saling pengertian, melakukan studi!studi agama, menumbuhkan kesadaran pluralisme, dan menumbuhkan kesadaran untuk bersama!sama mewujudkan masyarakat madani.

Hak Asasi Manusia dan Dem&k asi 5ak sasi /anusia (5 /- adalah wewenang manusia yang bersifat dasar sebagai manusia untuk mengerjakan, meninggalkan, memiliki, mempergunakan atau menuntut sesuatu baik yang bersifat materi maupun immateri. $ecara historis, pandangan terhadap kemanusiaan di Barat bermula dari para pemikir 6unani &uno yang menggagas humanisme. #andangan humanisme, kemudian dipertegas kembali pada 7aman 8enaissance. Dari situ kemudian muncul pelbagai kesepakatan nasional maupun internasional mengenai penghormatan hak!hak asasi manusia. #uncaknya adalah ketika #erserikatan Bangsa!Bangsa mengeluarkan Declaration of 5uman 8ight, disusul oleh ketentuan!ketentuan lain untuk melengkapi naskah tersebut. $ecara garis besar, hak asasi manusia berisi hak!hak dasar manusia yang harus dilindungi yang meliputi hak hidup, hak kebebasan, hak persamaan, hak mendapatkan keadilan, dll. .auh sebelum Barat mengonseptualisasikan hak asasi manusia, terutama, sejak masa 8enaissance, Islam yang dibawa oleh 8asulullah telah mendasarkan hak asasi manusia dalam kitab sucinya. Beberapa ayat suci al!9ur:an banyak mengonfirmasi mengenai hak! hak tersebut0 hak kebebasan, hak mendapat keadilan, hak kebebasan, hak mendapatkan keamanan, dll. #uncak komitmen terhadap hak asasi manusia dinyatakan dalam peristiwa haji 'ada di mana 8asulullah berpesan mengenai hak hidup, hak perlindungan harta, dan hak kehormatan. $ama halnya dengan hak asasi manusia, demokrasi yang berarti pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, secara historis telah ada sejak 7aman 6unani &uno sebagai respons terhadap pemerintahan otoriter yang tidak menutup partisipasi rakyat dalam setiap keputusan!keputusan publik. /elalui sejarah yang panjang, sekarang demokrasi dipandang sebagai sistem pemerintahan terbaik yang harus dianut oleh semua negara untuk kebaikan rakyat yang direalisasikan melalui hak asasi manusia. 5ak asasi manusia hanya bisa diwujudkan dalam suatu sistem yang demokrasi di mana semua warga memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan berbangsa dan bernegara. $ama halnya dengan hak asasi manusia, prinsip!prinsip demokrasi seperti kebebasan, persamaan, dll. terdapat juga dalam Islam. Beberapa ayat al!9ur:an mengonfirmasi prinsip!prinsip tersebut. $elain itu juga, praktik 8asulullah dalam memimpin /adinah menunjukkan sikapnya yang demokratis. ;aktanya adalah kesepakatan #iagam /adinah yang lahir dari ruang kebebasan dan persamaan serta penghormatan hak!hak asasi manusia.