Anda di halaman 1dari 38

TE R IM A KAS IHTE LAHM E ND O W LO AD

Ajak teman2 anda dan kunjungi terus http://tugas2kuliah.wordpress.com

untuk mendapatkan kebutuhan dokumen anda

Jika Anda berkenan


Kami mengharapkan Donasi Anda sebagai sumbangan seikhlasnya untuk terus membangun website ini agar mampu sesuai kebutuhan dan semudah mungkin untuk terus di akses semua orang. Kami tunggu donasi anda ke rekening kami : Atas Nama : Andi Agussalim BANK BCA Cabang Panakukkang No. Rek : 7890548207 BANK BRI Unit Rappocini Somba Opu No. Rek : 3807-01-001414-50-2 Paypal / Credit Card Paypal ID : andiagussalim@gmail.com

0813 4209 2137


SMS kami jika membutuhkan sebuah dokumen..!!! akan kami upload

atau Donasi berupa Pulsa ke Nomor :

Hidup ini adalah memberi bukan menerima!!!

BAB I PENDAHULUAN

Kulit

merupakan

organ

tubuh

yang terletak paling luar dan

membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Kulit merupakan organ esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Salah satu penyakit kulit yang selalu menjadi masalah bagi remaja dan dewasa muda adalah jerawat. Penyakit ini tidak fatal namun merisaukan karena dapat mengurangi kepercayaan diri akibat berkurangnya keindahan wajah si penderita yang dapat menganggu kelancaran jalur komunikasi, baik dengan sesama teman, sesama karyawan, apalagi pacar atau suami. Meskipun kebanyakan jerawat pada masa remaja atau dewasa muda, ditempat peredileksi (muka, leher, lengan atas, dada, dan punggung), tetapi nyatanya jerawat dapat datang kapan saja, dimana saja, dan pada siapa saja. Jerawat dapat timbul sewaktu stress (menghadapi ujian), sesudah makan banyak lemak dan karbohidrat, atau sedang biasa-biasa saja. Dewasa ini terdapat ribuan kosmetik di pasar bebas. Kosmetika tersebut adalah produk pabrik kosmetika di dalam dan luar negeri yang jumlahnya telah mencapai angka ribuan. Preparat kosmetika yang tidak hanya dapat merawat, membersihkan, memperbaiki daya tarik dan mengubah rupa seperti tercanntum dalam defenisi kosmetika, tetapi juga dapat mempengaruhi struktur dan faal kulit seperti pada obat topikal disebut juga kosmetik medik. Dengan adanya kosmetik medik maka ada preparat 1

antara kosmetika medik dan obat topikal (medik) meskipun kemudian dipertanyakan mengenai batas antara ketiganya (kosmetik, kosmedik, dan obat). Untuk jalan keluarnya dilakukanlah pembatasan bahwa kosmetik medik terbatas pada penggunaan zat yang menguntungkan atau memberikan manfaat pada kulit badan si pemakai. Untuk tujuan tersebut dilakukan pemilihan bahan aktif dan prmbatasan kadarnya bila dimasukkan dalam kosmetik medik, diantaranya adalah asam salisilat < 2%, sulfur<3%, estrogen <1000 iu/ounce. Namun betapapun rendahnya dosis yang dipakai

penggunaan kosmetik medik ini masih selalu harus diperhitungkan karena besarnya dosis kumulatif yang di absorpsi kulit pada pemakaian kosmetik yang terus-menerus, tidak dapat diperkirakan. Ada bahan kosmetik yang sudah dapat diterima sebagai bahan yang aman bagi kosmetika, sebagian lagi masih dianggap perlu perhatian dan diberikan pembatasan

pemakaiannya dan sebagian lagi dilarang. (Wasitaatmadja., 1997) Senyawa-senyawa bersifa keratolistik dan antiseptik biasa digunakan untuk mencegah jerawat dan salah satu bahan yang paling sering digunakan adalah asam salisilat. Asam salisilat merupakan zat anti akne sekaligus keratolitik yang lazim diberikan secara topikal. Penggunaanya dalam kosmetika anti akne atau keratolitik (peeling) merupakan usaha untuk meningkatkan kemampuan kosmetik tersebut umpamanya dalam kosmetika perawatan yaitu akan mengurangi ketebalan intraseluler dalam selaput

tanduk dengan cara melarutkan semen interseluler dan menyebabkan

desintegrasi dan pengelupasan kulit. Asam salisilat dengan dosis yang tepat dapat memberikan efek terapeutik yang di inginkan, namun pada penggunaannya secara terus menurus dapat menyebabkan kerusakan pada kulit. Penggunaan topikal asam salisilat dengan konsetrasi tinggi, pada daerah kulit yang luas, pada kulit yang rusak dan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan keracunan sistemmik akut. Penggunaan kosmetik yang memungkinkan mengandung asam mercury dan asam salisilat , meskipun menjadikan kulit tampak mulus namun membuat kulit lebih sensitif terhadap paparan sinar matahari, pemakaian bertahun-tahun dapat mengendap di

kulit dan menyebabkan kulit tampak biru kehitaman dan dapat memicu timbulnya kanker melanocyt atau kanker kulit. Oleh sebab itu, untuk melindungi masyarakat dari bahaya penggunaan asam salisilat dengan konsetrasi tinggi dalam kosmetik maka BPOM telah menetapkan kadar maksimun yang di izinkan terkandung dalam produk kosmetik, termasuk anti produk jerawat tidak boleh lebih dari 2 %. (Wasitaatmadja M.S, 1997 dan Anief M, 1997 dan City74.wordpress.com, tanggal 15 desember 2008) Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang timbul adalah apakah kosmetik terutama krim anti jerawat yang beredar di pasaran telah memenuhi standar kesehatan yang telah ditetapkan oleh Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI No.HK.00.05.4.1745 tanggal 5 Mei 2003 tentang kosmetika, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai kadar asam salisilat yang terkandung dalam krim anti jerawat, sedangkan tujuannya

adalah untuk menentukan kadar asam salisilat yang terkandung dalam krim anti jerawat yang beredar di kota Makassar. Adapun maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data mengenai kadar asam salisilat yang terkandung dalam krim anti jerawat yang beredar di kota Makassar. Dengan demikian penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang kadar kandungan asam salisilat dalam krim anti jerawat agar terhindar dari produk-produk yang membahayakan kesehatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Uraian tentang kosmetik 1. Pengertian Kosmetika (Wasitaatmadja M.S, 1997) Kosmetika berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias. Bahan yang dipakai dalam usaha mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang terdapat disekitarnya. Sekarang kosmetika dibuat manusia tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan buatan untuk maksud meningkatkan kecantikan. Kosmetika merupakan komoditi yang mempunyai kesan kurang berbahaya di banding dengan obat sehingga pembuatanya,

pemasaran atau pengawasannya mempunyai tata cara yang lebih mudah dibandingkan dengan obat. Kosmetika adalah bahan atau campuran bahan yang dikenakan pada kulit manusia untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik serta mengubah rupa, karena terjadi kontak antara kosmetik dengan kulit, maka ada kemungkinan kosmetik diserap oleh kulit dan masuk ke bagian yang lebih dalam dari tubuh. Kontak kosmetika dengan kulit menimbulkan akibat positif berupa manfaat kosmetik, dan akibat negatif atau merugikan berupa efek samping kosmetik.

2. Uraian Krim Krim didefenisikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi yang mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Ada dua tipe krim, krim tipe minyak dalam air ( M/A) dank rim tipe air

dalam minyak ( A/M). Istilah krim secara luas digunakan dalam farmasi dan industri kosmetik. Krim biasa digunakan sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit atau skin care dan perawatan pada rambut atau hair care. (Depkes RI., 1979, Ansel,C,H.,2005 dan Syarifah., 2007). 3. Uraian Jerawat ( Wasitaatmadja M.S, 1997 ) Jerawat merupakan salah satu penyakit umum di dunia. Jerawat adalah penyakit kulit akibat peradangan menahun dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya erupsi komedo, papul, pustule, nodus dan kista pada tempat predileksi : muka, leher, lengan atas, dada, dan punggung. Jerawat disebabkan oleh aktivitas kelenjar minyak di bawah kulit yang memproduksi minyak secara berlebihan dan bersama sel-sel kulit mati yang menutupi pori-pori. Hal ini mengundang bakteri sehingga mengakibatkan peradangan atau inflamasi. Aktivitas kelenjar minyak meningkat karena adanya rangsangan hormon-hormon yang mulai aktif selama pubertas.

Ada empat hal penting yang berhubungan dengan terjadinya akne : a. Kenaikan ekskresi sebum b. Adanya keratenisasi folikel c. Bakteri d. Peradangan ( Inflamasi ) Usaha pengobatan akne dapat dilakukan dengan cara topikal, sistemik dan pengobatan bedah bila diperlukan. a. Pengobatan topikal Prinsip pengobatan topikal adalah mencegah pembentukan komedo, menekan peradangan dan mempercepat penyembuhan akne. Obat topikal terdiri dari : 1) Bahan iritan / pengelupas, misalnya sulfur ( 4-8%), resorsinol ( 1-5% ), Asam salisilat ( 2-5% ), Benzoil peroksida ( 2,5-10% ), asam vitamin A ( 0,025-0,1% ), dan asam aseleat ( 15-20%

). Efek samping obat iritan dapat dikurangi dengan pemakaian hati-hati yang dimulai dari konsentrasi yang paling rendah. 2) Bahan lain, misalnya kortikosteroid topikal atau suntukan intralesi dapat dipakai untuk mengurangi radang yang terjadi b. Pengobatan sistemik Pengobatan yang sistemik ditujukan terutama untuk

menekan aktivitas jasad renik di samping dapat juga menekan reaksi radang, menekan produksi sebum dan mempengaruhi

keseimbangan

hormonal.

( Wasitaatmadja

M.S,

1997

dan

www.blogspot.com tanggal 08 februari 2009 ). B. Uraian Tentang Kulit (Harahap, M., 2000) 1. Pengertian kulit Kulit merupakan pembungkus yang elastis yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan. Kulit juga merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas ukurannya, yaitu 15% dari berat tubuh dan luasnya 1,50-1,75 m2. Rata-rata tebal kulit 1-2 mm. Paling tebal ( 6mm ) terdapat ditelapak tangan dan kaki dan paling tipis ( 0,5 mm) terdapat di penis. 2. Susunan kulit manusia Kulit terbagi atas 3 lapisan pokok, yaitu epidermis, dermis atau korium dan jaringan subkutan atau subkutis. a. Epidermis Epidermis terdiri dari empat lapisan yaitu: 1) Lapisan basal atau stratum germinativum Lapisan basal terdiri dari satu lapis sel-sel yang kuboid yang tegak lurus terhadap dermis. Lapisan basal merupakan lapisan paling bawah dari epidermis dan berbatas dengan dermis. 2) Lapisan malpighi atau stratum spinosum Lapisan malpighi merupakan lapisan epidermis yang paling tebal dan kuat. 3) Lapisan granular atau stratu granulosum

Lapisan granunal terdiri dari satu sampai empat baris sel-sel berbentuk intan, berisi butir-butir (granul) keratohilialin yang basofilik. 4) Lapisan tanduk atau stratum korneum Lapisan tanduk korneumterdiri dari 20-25 lapis sel-sel tanduk tanpa inti, gepeng, tipis dan mati. c. Dermis Dermis atau korium merupakan lapisan dibawah epidermis dan diatas lapisan subkutan. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang dilapisan atas terjalin rapat ( Pars papillaris), Sedangkan dibagian bawahnya terjalin lebih longgar ( pars reticularis ). b. Jaringan subkutan ( Subkutis atau hipodermis ) Jaringan subkutan merupakan lapisan yang langsung di bawah dermis. Batas antara jaringan subkutan dan dermis tidak tegas. Sel-sel yang terbanyak adalah lopisit yang menghasilkan banyak lemak. 3. Fungsi kulit Kulit mempunyai fungsi bermacam-macam untuk menyesuaikan tubuh dengan lingkungan. Fungsi kulit adalah sebagai : a. Pelindung b. Pengatur suhu c. Penyerap d. Indera perasa

e. Faal pergetahan ( Faal sekretoris ) C. Uraian Tentang Asam Salisilat 1. Sifat asam salisilat Secara kimia asam salisilat disintesis pada tahun 1860 dan telah di gunakan secara luas dalam terapi dermotologis sebagai suatu agen keratolitik. Digunakan pada bagian luar tubun yang pada kulit sebagai antiseptik lemah serta keratolitikun (melarutkan sel-sel kulit mati). Agen ini berupa bubuk berwarna putih yang mudah larut dalam alkohol tetapi sukar larut dalam air. Asam salisilat merupakan zat anti akne sekaligus keratolitik yang lazim diberikan secara topikal. Penggunaanya dalam kosmetik anti akne atau karatolitik merupakan usaha untuk meningkatkan kemampuan kosmetika tersebut

umpamanya dalam kosmetika perawatan kulit yang berjerawat. Asam salisilat berkhasiat keratolotis dan sering digunakan sebagai obat ampu terhadap kutil kulit, yang berciri penebalan eidermis setempat dan disebabkan oleh infeksi dengan virus papova. Asam salisilat sangat iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derifatnya yang dapat dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dan asam organik dengan subtitusi pada gugus hidroksil misalnya asetosal. ( Katzung, B. G., 2004, Gennaro, A. R., 1990, Wasitatmadjo M.S.1997 Tjay, H, T., 2005, dan Ganiswara.,S.1995 ) 2. Kegunaan asam salisilat

Asam salisilat dapat digunakan untuk efek keratolitik yaitu akan mengurangi ketebalan interseluler dalam selaput tanduk dengan cara melarutkan semen interseluler dan menyebabkan desintegrasi dan pengelupasana kulit. Asam organis ini berkhasiat fungisit terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6% dalam salep. Di samping itu, zat ini juga bekerja keratolitis, yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi 5-10%. 2002) 3. Toksisitas asam salisilat Salisilat sering digunakan untuk mengobati segala keluhan ringan dan tidak berarti sehingga banyak terjadi penggunasalahan atau penyalahgunaan obat bebas ini. Keracunan salisilat yang berat dapat menyebabkan kematian, tetapi umumnya keracunan salisilat bersifat ringan. Gejala saluran cerna lebih menonjol pada intoksikasi asam salisilat. Efek terhadap saluran cerna, perdarahan lambung yang berat dapat terjadi pada dosis besar dan pemberian contoh kronik. Salisilisme dan kematian terjadi setelah pemakaian secara topikal. Gejala keracunan sistemik akut dapat terjadi setelah penggunaan ( Anief.,M.,1997 dan Tjay, H, T.,

berlebihan asam salisilat di daerah yang luas pada kulit, bahkan sudah terjadi beberapa kematian. Pemakaian asam salisilat secara topikal pada konsetrasi tinggi juga sering mengakibatkan iritasi lokal, peradangan akut, bahkan ulserasi. Untuk mengurangi absorpsinya pada penggunaan topikal maka asam salisilat tidak digunakan dalam

penggunaan jangka lama dalam konsentrasi tinggi, pada daerah yang luas pada kulit dan pada kulit rusak. (Katzung, B. G., 2004, Gennaro, A. R., 1990, Ganiswara, S., 1995) Persyaratan kadar asam salisilat dalam krim anti jerawat berdasarkan Surat keputusan Kepala Badan POM RI No.

HK.00.05.4.1745 tanggal 5 Mei 2003 yaitu tidak boleh lebih dari 2%.

D. Uraian Spektrofotometri UV-Vis Spektrofotometri adalah cabang analisis instrumental yang

mencakup seluruh metoda pengukuran berdasarkan interaksi antara suatu spektrum sinar (Radiasi Elektro Magnetik/REM) dengan larutan molekul atau atom. Spektrofotometri uv-vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga

spektrofotometri uv-vis lebih banyak dipakai untuk analisis, sehinga spektrofotometri uv-vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibanding kualitatif. ( Suharman, 1995 dan Depkes RI, 1995) 1. Prinsip dasar Apabila radiasi elektromagnetik pada daerah ultraviolet dan sinar tampak melalui senyawa yang memiliki ikatan-ikatan rangkap, sebagian dari radiasi biasanya diserap oleh senyawa. Jumlah radiasi yang diserap tergantung pada panjang gelombang radiasi dan struktur senyawa. Penyerapan seinar radisi disebabkan oleh pengurangan

energi dari sinar radiasi pada saat elektron-elektron dalam orbital berenergi rendah tereksitasi ke orbital berenergi lebih tinggi. Ada empat kemungkinan radiasi elektromagnetik pada molekul atau atom akan mengalami perubahan energi eksitasi yang dikenakan dengan : energi translasi, energi rotasi, energi vibrasi, dan energi elektronik. Radiasi cahaya UV-Vis pada molekul atau atom akan menyebabkan energi elektronik, oleh sebab itu spektra UV-Vis disebut juga spektra elektronik sebagai akibat transisi antara dua tingkat energi elektron dari molekul atau atom. 1990). Hubungan antara kadar dengan intensitas sinar yang diserap oleh sampel yang di analisis dinyatakan oleh hukum Lambert-Berr dalam bentuk persamaan sebagai berikut : (Sediaoetama, 1987) Log Io/I = A=a.b.C (Mulia, M., Achmad S.,

Dimana: Io= intensitas sinar sebelum melewati sampel I = intensitas sinar setelah melewati sampel A = absorban a = absopsifitas molekul b = ketebalan kuvet C = konsentrasi larutan

Oleh karena a dan b nilainya tetap (wadah yang dipakai spesifik), maka A berbanding llurus dengan C (konsentrasi larutan). Dalam penurunan hukum ini dianggap bahwa, (1) radiasi yang masuk adalah monokromatik, (2) spesies penyerap berkelakuan tidak tergantung satu terhadap lainnya dalam proses penyerapan, (3) penyerapan terjadi dalam volume yang mempunyai luas penampang yang sama, (4) dengan radiasi tenaga adalah cepat (tidak terjadi

fluorosensi), dan (5) indeks bias tak tergantung pada konsentrasi (tidak berlaku pada konsentrasi yang tinggi). (Sastrohamidjojo, H., 1985 ) Spektrofotometer UV-Vis mempunyai keuntungan yaitu

mengadakan interaksi (serapan) yang selektif dan karakteristik terhadap gugus-gugus dalam molekul-molekul yang sangat kompleks.

2. Serapan oleh Senyawa Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum

ultraviolet dan terlihat tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra ultraviolet dan visible dari senyawa-senyawa organik berkaitan erat transisi-transisi diantara tingkatan-tingkatan tenaga elektronik. Oleh karena itu, serapan radiasi ultraviolet/visible sering dikenal sebagai spektroskopi elektron. Transisi-transisi biasanya antara orbital ikatan atau orbital pasangan bebas dan orbital non ikatan tak jenuh atau orbital anti ikatan. Panjang gelombang serapan merupakan

ukuran dari pemisahan tingkatan-tingkatan tenaga dari orbital-orbital yang bersangkutan. Pemisahan tenaga yang paling tinggi diperileh bila elektron-elektron dalam ikatan- tereksitasi yang menimbulkan

serapan dala daerah dari 120 sampai 200 nm. Daerah ini dikenal sebagai daerah ultraviolet vakum dan relatif tidak kebanyakan memberikan keterangan. Diatas 200 nm, eksitasi elektron dari orbitalorbital p dan d dan orbital terutama sistem terkonjugasi - segera dapat diukur dan spektrum yang diperoleh memberikan banyak keterangan. Meskipun demikian, terd apat keuntungan yang selektif dari serapan ultraviolet yaitu gugus-gugus karasteristik dapat dikenal dalam molekul yang relatif kompleks. Sebagian besar dari molekulmolekul yang sangat kompleks mungkin transparan dalam ultraviolet sehingga kita mungkin memperoleh spektrum yang semacam dari molekul yang sederhana. (Mulia, M.,Achmad S.,1990) Spektrum ultaviolet adalah gambar antara panjang gelombang atau transisi serapan lawan intensitas serapan (transmitasi atau absorbansi). Sering juga data ditunjukkan sebagai gambar grafik atau tabel yang menyatakan panjang gelombang lawan serapan molar atau log dari serapan molar. (Mulia, M.,Achmad S.,1990)

3. Tahapan-tahapan untuk Analisis Kuantitatif a. Pemilihan pelarut

Pelarut yang digunakan pada spektofotometer UV-Vis harus memenuhi persyaratan yaitu tidak mengabsorpsi radiasi pada panjang gelombang pengukuran sampel. Oleh sebab itu, pelarut harus memenuhi persyaratan : 1. Tidak mengandung sistem terkonjugasi pada struktur

molekulnya atau tidak berwarna. 2. Tidak berinteraksi dengan molekul senyawa yang diukur. 3. Harus mempunyai kemurnian yang tinngi

b. Pemilihan panjang gelombang Pengukuran absorpsi pada analisis kuantitatif dengan metode spektrofotometer baik zat tunggal maupun zat campur pada prinsipnya harus dilakukan pada panjang gelombang maksimum ( maks). Alasan dilakukan pengukuran absorpsi pada panjang gelombang maksimum adalah: 1. Perubahan absorpsi untuk setiap satuan konsentrasi adalah paling besar pada panjang gelombang maksimal akan diperoleh kepekaan analisis yang maksimal. 2. Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva

serapannya adalah datar, sehingga hukum Lambert-Beer akan dipenuhi dengan baik. 3. Panjang gelombang maksimal dapat dicari dengan membuat kurva serapan dengan berbagai panjang gelombang pada

sistem koordinat Cartesian pada konsentrasi yang tetap. Panjang gelombang masimum adalah panjang gelombang dimana terjadi serapan maksimum. 4. Peralatan Spektrofofmeter Komponen-komponen pokok dari Spektrofotometer meliputi : 1. Sumber tenaga radiasi yang stabil 2. Sistem yang tediri atas lensa-lensa, cermin, cela-cela, dll. 3. Monokromator untuk mengubah radiasi menjadi komponen-komponen panjang gelombang tunggal. 4. Tempat cuplikan yang transparan 5. Detektor radiasi yang dihubungkan dengan sistem meter atau pencatat.

Diagram sederhana dari Spektrofotometer UV-Vis adalah sebagai berikut: (Satrohamidjojo, H, 1985)

sampel

Sumber radiasi

Monokromator

Detektor

Meter atau pencatat

Blanko

Uraian bagan spektrofotometri UV-Vis (Satrohamidjojo, H, 1985) yaitu sebagai berikut :

1. Sumber radiasi Sumber-sumber radiasi ultraviolet kebanyakan digunakan adalah lampu hidrogen dan lampu deuterium. Sumber radiasi cahaya tampak yang paling umum dipakai adalah lampu pijar tungsten. Lampu tungsten merupakan campuran dari filament tungstein dan gas iodine (halogen). Sumber radiasi ini dapat memancarkan radiasi kontinyu antara 380-780 nm.

2. Monokromator Monokromator merupakan serangkaian alat optic yang

menguraikan radiasi polikromatik menjadi jalur-jalur yang efektif atau panjang gelombang-gelombang tunggalnya dan memisahkan panjang gelombang-gelombang tersebut menjadi jalur-jalur yang sangat sempit. 3. Tempat cuplikan Culipkan yang dipakai pada daerah ultraviolet atau terlihat yang biasa berupa gas atau larutan ditempatkan dalam sel atau cuvet. Untuk daerah ultraviolet biasanya digunakan quartz atau sel dari silika yang lebur, sedangkan untuk daerah terlihat digunakan gelas biasa atau quarzt. Sel yang digunakan untuk cuplikan yang berupa gas mempunyai panjang lintasan dari 0,1 hingga 100 nm, sedangkan sel untuk larutan mempunyai panjang lintasan tertentu dari 1 hingga 10 cm.

4. Detektor atau pencatat Setiap detektor menyerap tenaga foton yang mengenainya dan mengubah tenaga tersebut untuk dapat diukur secara kualitatif seperti sebagai arus listrik atau perubahan-perubahan panas. Kebanyakan detektor menghasilkan sinyal listrik yang dapat mengaktifkan meteran atau pencatat, setiap pencatat harus menghasilkan yang secara kualitatif berkaitan dengan tenaga cahaya yang mengenainya. 5. Penetapan Kadar Dengan Spektrofotometri Ada empat cara menentukan kadar zat tunggal dengan metode spektrofotometri: a. Membandingkan serapan atau transmisi zat yang dianalisis dengan zat murni. Dalam hal ini dilakukan pengukuran serapan zat (A X) serapan zat standar (A S), pada panjang gelombang yang sama yaitu maks, sehingga kadar zat X sebagai: CX =

Persyaratan diusahakan pembacaan A x dan A s tidak berbeda jauh. b. Dengan membuat kurva baku. Kurva baku dibuat pada sistem koordinat Carstein dimana sebagai absis adalah konsentrasizat standar, dan sebagai ordinat adalah serapannya. Pengamatan serapan dilakukan pada maks.

c. Dengan memakai sostem ekstingsi spesifik

. cara ini

sebagai salah satu usaha analisis kuantitatif zat tunggal dengan metode spektrofotometri yang dalam hal ini tidak mempunyai zat standar. Dengan jalan membandingkan dari zat yang tertera

dalam pustaka, maka kadar zat tersebut akan dapat diketahui. d. Dengan memakai nilai ekstingsi molar(). Cara ini akan

memberikan hasil yang lebih tepat dan pada prinsipnya sama dengan cara ketiga. Harga dapat dinyatakan sebagai: 6. Kesalahan Pengukuran Secara Spektrofotometri Pengukuran secara spektrofotometri dari konsentrasi zat berwarna didasarkan pada validitas hukum Lambert-Beer. Dampak praktek, hasil pengukuran memperlihatkan beberapa penyimpangan, diantaranya

penyimpangan nyata dan aktual (sebenarnya). Penyimpangan nyata pada prinsipnya berasal dari ketidaksempurnaan. Penyimpangan ini

disebabkan oleh ketidakmampuan monokromator untuk memberikan cahaya yang benar-benar monokromatis sehingga menyebabkan

peristiwa seperti transmisi, pemantulan, dan serapan pada medium. Penyimpangan yang disebabkan oleh ketidaksemprnaannya caha

monokromatik pada prinsipnya disebabkan oleh absorpsifitas yang berbeda sesuai dengan panjang gelombang dari sumber cahaya yang diserap atau tergantung dari spektrum serapannya. Sedangkan

penyimpanan sebenarnya disebabkan oleh perubahan konsentrasi zat

pengabsorpsi

cahaya

yang

berlangsung

akibat

tercapainya

kesetimbangan kimia dibawah pengaruh gaya interion atau intermolekul. Tetapi, ada kalanya dipengaruhi oleh rasio konsentrasi komponen berwarna dan tak berwarna dari larutan yang dianalisis. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisis dengan spektrofotometri uv-vis terutama untuk senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis dengan spektrofotometri visibel, karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi senyawa yang berwarna. Berikut ini adalah tahap-tahap yang harus diperhatikan : a. Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar uv-vis b .Waktu operasional c. Pemilihan panjang gelombang d. Pembuatan kurva baku e. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan ( Gholib Gandjar, 2007) Beberapa perbedaan yang juga merupakan keunggulan dari spektrofotometer uv-vis dibanding dengan spektrofotometer uv-vis yang lainnya adalah : 1. Memakai sumber radiasi tunggal yaitu lampu D2 (Dauterium) 2. Radiasi yang diukur adalah radiasi polikromatis, sehingga sampel kompartemen benda dalam keadaan terbuka 3. Wavelenght reproducibility karena tidak ada gerakan mekanisme untuk mengatur panjang gelombang.

4. Kecepatan

scanning, keseluruhan daerah

pengukuran panjang

gelombang sangat tinggi. Pada spektrofotometer uv-vis ada beberapa macam sumber radiasi yang dipakai yakni lampu deuterium, lampu tungsten dan lampu merkuri. Setiap bagian peralatan optik dari spektrofotometer uv-vis memegang fungsi dan peranan tersendiri yang saling terkait fungsi dan peranannya. Setiap fungsi da peranan tiap bagian dituntut ketelitian dan ketepatan yang optimal, sehingga akan diperoleh hasil pengukuran yang tinggi tingkat ketelitian dan ketepatannya. ( Suharman, 1995)

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian observasi laboratorik yang merupakan penelitian laboratorium dengan menggunakan rancangan eksperimental sederhana, yakni untuk menganalisis kadar asam salisilat dalam krim anti jerawat yang beredar di kota Makassar secara Kromatografi Lapis Tipis dan spektrofotometri UV-Vis. B. Waktu dan Tempat Penelitian Rencana penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juli sampai Agustus 2009. Penelitian akan dilakukan di POM di Makassar. C. Alat dan Bahan 1. Alat-alat yang digunakan a. Bejana kromatografi b. Corong c. Erlemeyer d. Gelas kimia e. Gelas ukur f. Lampu UV g. Lempeng kromatografi 24 Laboratorium Balai Besar

h. Labu takar 10 ml, 25ml, 200 ml i. j. Neraca analitik Pipet volume

k. Pipet tetes l. Spektrofotometer UV-VIS

m. Timbangan analitik 2. Bahan-bahan yang digunakan a. Aquadest b. Asam asetat glasial c. Asam salisilat murni d. Etanol absolut e. Etanol 95 % f. Lempeng silika gel F 254 g. Natrium Hidroksida 0,5 N h. Sampel krim anti jerawat i. Toluene

D. Prosedur kerja 1. Pengambilan Sampel Sampel penelitian adalah krim anti jerawat, diambil dari swalayan di kota Makassar, lalu dilakukan pengumpulan data semua merek krim anti jerawat kemudian diambil sebanyak 3 merek sampel yang

dilakukan secara acak yaitu sampel A, sampel B, dan sampel C.

2. Pembuatan pereaksi NaOH 0,5 N Natrium Hidroksida (NaOH) ditimbang sebanyak 2,5 gram, kemudian dilarutkan dengan aquadest, diaduk sampai NaOH larut kemudian dicukupkan volumenya hingga 200 ml dengan aquadest. 3. Pembuatan larutan uji Sejumlah cuplikan setara dengan lebih kurang 25 mg asam salisilat ditimbang seksama, ditambah etanol, diaduk, dan dibiarkan, lalu disaring dan filtratnya ditampung dalam labu ukur 25 ml. Endapan ditambah etanol 95 %, kemudian diaduk lalu disaring dan filtratnya dimasukkan kedalam labu ukur sampai tanda batas. (Larutan A). 4. Identifikasi asam salisilat dalam krim anti jerawat secara KLT a. Pembuatan larutan baku Dibuat larutan dari 25 mg baku pembanding asam salisilat yang dilarutkan dalam 25 ml etanol 95 %. (Larutan B ) b. Pembuatan eluen Cairan pengelusi atau eluen yang digunakan adalah asam asetat glasial : toulene (80:20) dibuat sebanyak 100 ml dengan mencampur 80 ml asam asetat glasial dengan 20 ml toulene dalam botol, lalu dokocok hingga homongen. c. Penjenuhan chamber Cairan pengelusi yang akan digunakan sebagai fase gerak dimasukkan kedalam chamber yang tertutup. Kedalam eluen tersebut kemudian dimasukkan potongan kertas saring. Jika semua

bagian kertas saring sudah basah, maka itu menunjukkan bahwa chamber tersebut sudah jenuh dan siap digunakan.

5. Analisis kadar asam salisilat secara Spektrofotometri UV-VIS a. Analisis kualitatif Analisis kualitatif adanya asam salisilat, dilakukan secara kromatografi lapis tipis. Larutan uji (larutan A) dan larutan baku pembanding (larutan B) masing-masing ditotolkan secara terpisah ada lempeng KLT, kemudian dielusi dengan cairan pengelusi toluene dan asam asetat glasial (80 : 20) dan noda dihasilkan dengan penampak noda cahaya lampu UV 254 nm. b. Analisis kuantitatif Noda baku dan noda senyawa yang dihasilkan yang

mempunyai harga Rf sama, ditandai dan dikerok. Hasil kerokan dikocok secara terpisah dengan 5 ml NaOH 0,5 N sampai tanda

batas, dan diukur secara spektrofometri UV-Vis pada panjang gelombang 300 nm.

E. Pengumpulan data . Data hasil identifikasi dengan menggunakan kromatografi lapis tipis dan spektrofometri UV-Vis diperoleh dari hasil penelitian yang telah dilakukan.

F. Pembahasan Hasil Penelitian Pembahasan diuraikan berdasarkan hasil pengumpulan data. G. Pengambilan Kesimpulan Pengambilan kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan dan analisa data.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Hasil Analisis Kualitatif Tabel 1 : hasil analisis asam saksilat dalam krim anti jerawat dengan 3 merek yaitu clean & clear, garnier, dan verille dengan metode kromatografi lapis tipis. Sampel A B C D Keterangan : A B : Larutan sampel A : Larutan sampel B Hasil RF 0,57 0,57 0,57 0,57 Pengamatan Pustaka Warna violet violet violet violet violet violet violet violet Ket + + + +

C : Larutan sampel C D : Baku pembanding asam saksilat (+) : Positif mengandung asam saksilat

29

2. Analisis kuantitatif Tabel 2 : Hasil analisis asam saksilat dalam krim anti jerawat dengan 3 merek yaitu clean & clear, verille dan Garnier dengan metode spektrofotometri UV-VIS Berat Kandungan Kandungan Sampel Serapan Rata-rata (%) (Gr) (%) 0,713 5,05 0,726 0,726 0,715 5,05 0,722 0,724 0,623 5,05 0,626 0,629 0,604 % 0,532 % 0,604 % 0,612 % 0,604 % 0,613 %

No.

Sampel

Larutan sampel A

Larutan sampel B

Larutan sampel C

Tabel 3 : Hasil pengukuran serapan larutan baku asam salisilat secara spektrofotometri pada panjang gelombang 291,9 nm Volume Baku 100 ml 0,02412 Serapan (A) 0,563

B. Pembahasan Analisis kandungan asam salisilat dalam 3 jenis merek krim anti jerawat yaitu merek Clean & Clear, Garnier, dan Verille yang diambil dari beberapa swalayan yang ada di Makassar dilakukan dengan analisis kualitatif secara spektrofotometri UV-VIS. Hasil analisis kualitatif asam salisilat dari sampel krim anti jerawat lapis tipis dengan menggunakan cairan glacial Toulene : asam asetat glacial (80 : 20) dengan penampak noda sinar UV 300 nm asam salisilat pembanding diperoleh noda warna ungu muda. Adapun noda yang didapat mempunyai RF 0,8 dan warna yang saka yakni ungu dengan pembanding, hal ini menunjukkan bahwa pada masing-masing sampel mengandung asam salisilat. Badan pengawas obat dan makanan (BPOM) menetapkan kadar asam salisilat maksimum yang diisinkan terkandung dalam produk kosmetik, khususnya produk anti jerawat yaitu tidak lebih dari 6 % setelah melakukan analisa kualitatif pada krim anti jerawat yang diuji, diperoleh bahwa etiket sampel krim A yang mencantumkan kadar asam salisilat 0,5 %, setelah dilakukan penelitian kadar asam salisilat 0,5 %, setelah dilakukan penelitian, kadar asam salisilat yang terkandung adalah 0,613 % untuk etiket sampel krim B yang kadarnya pada etiketnya 0,5 %, setelah dilakukan penelitian, kadarnya yang terkandung yaitu tidak berbeda jauh dari kadar pada sampel A yaitu 0,612 %.

Sedangkan untuk sampel krim C yang mencantumkan kadar 0,5 % pada etiket, setelah dilakukan penelitian, maka kadar yang diperoleh yaitu 0,532 %. Meskipun tidak sesuai dengan etiket tetapi memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh BPOM. Dari penelitian ini diperoleh bahwa kadar asam salisilat dari

semua produk krim anti jerawat persyaratan yang ditentukan oleh BPOM yaitu kadar asam salisilat dalam krim anti jerawat tidak lebih dari 2 %.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan : 1. Analisis kualitatif secara kromatografi lapis tipis pada sampel krim anti jerawat merek A, B, dan C. 2. Analisis kuantitatif secara spektrofotometri sinar tampak, yaitu kandungan asam salisilat pada krim anti jerawat merek Clean & clear dan Garnier tidak berbeda jauh yaitu dengan perbandingan 0,613 %, 0,612 % sedangkan merek Verille kandungan asam salisilat lebih sedikit dibanding kedua jenis merek diatas yaitu 0,532 %. B. Saran Disarankan kepada BPOM agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap produk-produk krim anti jerawat yang mengandung asam salisilat yang beredar di Makassar.

33

DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., (1997), Formulasi Obat Topikal dengan Dasar Penyakit Kulit, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. Anonim, (2008), Kesehatan dan Kecantikan, http://City 74, Wordpress.com. Ansel, C, H., (2005), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi IV, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta.

Depkes RI., (1997), Farmakope Indonesia, Edisi III, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, Jakarta. Depkes RI, (1995), Instrumen Laboratorium Kesehatan, Departemen Kesehatan Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Jakarta. Depkes RI, (2000), Metode Analisa Pusat Pengujian Obat dan Makanan, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, Jakarta. Depkes, (2004), Perundang-Undangan Bidang Kosmetik, Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan RI, Jakarta. Ganiswara, S., (1995), Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran UI, Jakarta. Gennaro, A. R, (1990), Remingtoris Pharceuhcal Science 18 Tahun Ed. Mack Publishng Company, Pensylvania 786. Gholib, Ibnu Ganddar., dkk., 2007, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Jakarta. Harahap, M, Dr, Prof, (2000), Ilmu Penyakit Kulit, Hipokrates, Jakarta. Katzung, B, G., (2009), Farmakologi Dasar dan Klinik, buku 3 Edisi VIII, Medica, Jakarta. Mulja, Suharman, (1995), Analisis Instrumen, Airlangga University Press, Surabaya. Reynds, S. E. F, (1993), Marhudale The Extra Pharmacopela, th Ed. Departemen, Of Pharmaceutical sance. Mack Phublising Company, Pensylvarnia.

Sastroharmidjojo, H., (1985), Spektroskopi, Liberty, Yogyakarta. Tjay, H, T., dkk., (2002), Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, EfekEfek Sampingnya, Edisi VI, PT Elax Media Komputindo Gramedia, Jakarta. Tjay, H,T., dkk., (2007), Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, EfekEfek Sampingnya, Edisi IV, PT Elax Media Komputindo Gramedia, Jakarta. Wadiaatmadja, M, S., (1997), Penuntun Ilmu Kosmetik Medik, UI Press, Jakarta

Lampiran 1 : perhitungan Nilai RF Rumus : Nilai RF =

Nilai RF A =

= 0,57 cm

Nilai RF B =

= 0,57 cm

Nilai RF C =

= 0,57 cm

Nilai RF D = Keterangan :

= 0,57 cm

Noda A = Krim anti jerawat merek Clean & clear Noda B = Krim anti jerawat merek Garnier Noda C = Krim anti jerawat merek Verille Noda D = Baku Pembanding asam salisilat murni

Lampiran 2 :

Contoh perhitungan kadar asam salisilat sampel secara spektrofotometri

Kode contoh : A Serapan zat uji (Au) = 0,713 Serapan Baku (Ab) = 0,563 Berat baku yang ditimbang (Bb) = 0,02412 g Berat contoh yang ditimbang (Bu) = 5,05 g Rumus : = x x 100 %

x 100 %

= 0,604 %

TE R IM A KAS IHTE LAHM E ND O W LO AD


Ajak teman2 anda dan kunjungi terus http://tugas2kuliah.wordpress.com

untuk mendapatkan kebutuhan dokumen anda

Jika Anda berkenan


Kami mengharapkan Donasi Anda sebagai sumbangan seikhlasnya untuk terus membangun website ini agar mampu sesuai kebutuhan dan semudah mungkin untuk terus di akses semua orang. Kami tunggu donasi anda ke rekening kami : Atas Nama : Andi Agussalim BANK BCA Cabang Panakukkang No. Rek : 7890548207 BANK BRI Unit Rappocini Somba Opu No. Rek : 3807-01-001414-50-2 Paypal / Credit Card Paypal ID : andiagussalim@gmail.com

0813 4209 2137


SMS kami jika membutuhkan sebuah dokumen..!!! akan kami upload

atau Donasi berupa Pulsa ke Nomor :

Hidup ini adalah memberi bukan menerima!!!