Anda di halaman 1dari 14

Oleh : Drh. Imbang Dwi Rahayu, Mkes. Staf Pengajar Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Peternakan !

ni"ersitas Muhamma#iyah Malang

$. Penyakit %a#a !nggas &kibat Parasit 'a(ing Penyakit kecacingan disebut juga helminthiasis akan menyebabkan kerugian secara ekonomis, karena unggas penderita mengalami hambatan pertumbuhan, penurunan produksi telur, berat telur tidak bisa mencapai maksimal dan awal waktu bertelur yang tidak semestinya. Helminthiasis pada unggas disebabkan oleh cacing, yang secara umum terdiri dari tiga klas, yaitu klas Nematoda, Trematoda dan Cestoda. Penyakit

helminthiasis akibat cacing Nematoda disebut Nnematodosis, yang disebabkan Trematoda disebut Trematodosis dan yang disebabkan oleh Cestoda disebut Cestodosis. 1.1. Nematodosis Telah banyak dikenal berbagai jenis cacing Nematoda yang menyerang unggas dengan berbagai lokasi penyerangan. Di bawah ini secara rinci dijelaskan masing-masing jenis Nematoda. a. 'a(ing Mata )*ye +,rm -Oxyspirura sp. Cacing Oxyspirura sp berukuran kira-kira cm, hidup di saccus conjuncti!a , sering menyebabkan conjuncti!itis, opthalmitis, dan protrusion membrana nictitans. Cacing jenis ini menyerang berbagai unggas, antara lain ayam, kalkun, merpati, burungburung liar dan burung-burung dalam sangkar.

b. Syngamus trakhea Syngamus trakhea hidup di trakhea, kadang-kadang pada bornkhus. Cacing hidup di darah dan menyebabkan trakheitis di""use atau "okal di tempat menempelnya. #kuran cacing lebih dari cm. Cacing menyerang berbagai unggas, antara lain ayam, kalkun, dengan gejala-gejala, seperti perna"asan cepat, dyspnoe, head shaking. (. Capillaria sp. Capillaria sp merupakan Nematoda yang mengin"eksi crop dan esophagus dan menyebabkan radang mukosa crop dan esophagus. $eberapa cacing memiliki panjang lebih dari % cm. #nggas yang diserang antara lain & ayam, kalkun, angsa, itik dan burungburung dalam sangkar. 'ejala yng ditimbulkan berupa anemia dan kelemahan. #. Dyspharynx, Tetrameres, Cyrnea. Dyspharynx, Tetrameres, Cyrnea merupakan Nematoda yang hidup di pro!entriculus ayam dan unggas lain. #kuran dewasa antara ( ) *+ mm, parasit bersembunyi di dalam mukosa dan sering penetrasi ke dalam kelenjar-kelenjar. 'ejala yang ditimbulkan, antara lain & diare, kelemahan dan anemia yang diserta dengan ulserasi mukosa, hemorrhagi, nekrosis, pembengkakan mukosa. Cacing ini menyerang berbagai unggas, antara lain & ayam, kalkun, merpati, puyuh dan itik. ,ortalitas paling tinggi terjadi pada merpati, yang biasanya disebabkan oleh Dyspharynx nasuta. Hospes intermediet cacing ini, antara lain & e. Cheilospirura dan Omidostomum. Cheilospirura dan Omidostomum menyerang gi--ard, cacing dewasa berukuran antara * ) . cm. /ebanyakan hidup di sebelah dalam gi--rd dan menyebabkan ulserasi dan nekrosis, muskulus gi--ard./edua cacing menyerang berbagai unggas, antara lain ayam, kalkun, itik, angsa, maupun puyuh. ". Ascaridia sp. $anyak spesies Ascaridia sp yang diketahui menyerang usus halus unggas. Cacing ini meyebabkan enteritis terutama pada unggas muda. #nggas yang diserang antara lain & ayam, kalkun, merpati, puyuh. 0iklus hidup cacing ini bersi"at langsung,

meskipun bisa juga melalui cacing tanah. 0alah satu contoh spesies yang sering menyerang ayam adalah Ascaridia galli. 1nak ayam lebih peka terhadap cacing Ascaridia galli daripada ayam dewasa. 2hite 3eghorn lebih peka daripada ayam ras yang lain. 3ewat umur tiga bulan ayam akan lebih tahan, hal ini berkaitan dengan meningkatnya sel-sel goblet dalam usus. Cacing muda lebih banyak menimbulkan kerusakan pada mukosa usus, karena lar!a cacing cenderung membenamkan diri pada mukosa sehingga sering menyebabkan perdarahan dan enteritis. 'ejala klinis yang terjadi pada in"eksi cacing A. galli tergantung pada tingkat in"eksi. Pada in"eksi berat akan terjadi mencret berlendir, selaput lendir pucat, pertumbuhan terhambat, kekurusan , kelemahan umum dan penurunan produksi telur. Penyakit cacing oleh Ascaridia galli menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi peternak. Cacing dewasa hidup di saluran pencernaan, apabila dalam jumlah besar maka dapat menyebabkan sumbatan dalam usus. Penjelasan selanjutnya menyebutkan bahwa kerugian disebabkan oleh karena cacing menghisap sari makanan dalam usus ayam yang ditumpangi sehingga ayam akan menderita kekurangan gisi. Ascaridi galli mempunyai ciri-ciri berwarna putih, bentuk bulat, tidak bersegmen dan panjang % - *( cm. Ascaridia galli umumnya yang jantan berukuran lebih besar daripada betina. Pada cacing jantan diameter berukuran (4 - +4 mm, sedangkan pada betina berdiameter 4,5 - *, mm. 'ambar . , memperlihatkan cacing Ascaridia galli. 0iklus hidup Ascaridia galli pada ayam berlangsung (5 hari. Telur cacing akan keluar lewat tinja ayam dan menjadi in"ekti" dalam waktu 5 hari pada suhu optimum, yaitu ( - (.4C. 0ewaktu ayam sedang makan, telur in"ekti" tertelan yang kemudian menetas di lumen usus. 3ar!a cacing melewati usus pindah ke selaput lendir. Periode perpindahan terjadi antara *4 - *6 hari dalam masa perkembangan. Dalam waktu (5 hari cacing menjadi dewasa dan mulai bertelur. 0esudah cacing menjadi dewasa akan meninggalkan selaput lendir dan tinggal di dalam lumen usus. 1yam yang masih muda paling peka terhadap kerusakan yang disebabkan oleh cacing ini. 1pabila cacing genus Ascaris yang ditemukan dalam usus halus terlalu banyak, ayam akan menjadi kurus. Hal ini terjadi karena cacing yang memenuhi usus akan

menghambat jalannnya makanan, bahkan cacing mengeluarkan -at antien-im yang menyulitkan pencernaan makanan. g. Heterakis gallinarum Cacing Heterakis gallinarum bertanggung jawab terhadap kejadian blackhead pada ayam, karena o!um cacing bisa mengandung proto-oa yang disebut Histomonas meleagridis yang menyebabkan blackhead. Cacing berukuran panjang *,5 cm dan bisa dalam jumlah sangat banyak di sekum, sehingga menyebabkan radang sekum dan nodulnodul kecil di dinding sekum. #nggas yang diserang antara lain & ayam, kalkun, puyuh, itik, angsa. 1.2. Cestodosis aillietina spp. Cestodosis merupakan penyakit cacing pita yang menyerang ayam pada semua umur. Penyebarannya melalui kotoran ayam yang sakit atau alat-alat yang digunakan. 'ejala yang terlihat antara lain lesu, pucat, kurus dan diikuti dengan sayap yang menggantung serta kondisi yang berangsur-angsur menurun dan selanjutnya diikuti kematian akibat komplikasi. Cacing Cestoda yang sering hidup pada ayam yaitu aillietina spp. 7n"eksi Cestoda memiliki tingkat penyebaran lebih luas daripada in"eksi oleh Nematoda dan trematoda. Pada usus ayam buras rata-rata ditemukan *( , 6 ekor cacing yang antara lain terdiri dari cacing Cestoda aillietina spp. Cacing aillietina spp tergolong dalam phylum !latyhelmintes, Class Cestoidea, Sub Class Cestoda, 8rdo Cyclophyllidea, 9amili Da"aineidea, #enus 0pesies aillietina spp. M,rf,l,gi Raiilietina spp Terdapat ( spesies cacing aillietina spp, yaitu masing spesies cacing Raiilietina spp diterangkan. a. Raiilietina tetragona aillietna tetragona, aillietina ailietina dan

echinobothrida dan aillietina cesticillus. Di bawah ini secara rinci mor"ologi masing-

Raiilietina tetragona merupakan cacing pita ayam yang terpanjang, mencapai 5 cm dan lebar proglottidnya * - . mm. 3ebar skoleksnya *65 - (54 mikron dan memiliki rostellum yang diameternya 44 - (44 mikron. Pada rostellumnya terdapat atau ( barisan yang terdiri dari :4 - * 4 duri yang panjangnya % - + mikron. 1lat penghisapnya juga dilengkapi dengan + - * baris duri yang panjangnya ( - + mikron. 3ubang kelaminnya biasanya unilateral, kadang-kadang saja berselang seling tak teratur, letaknya di depan tengah-tengah sisi proglottid yang matang. Terdapat *+ - ( testes pada setiap ruas. uterus berisi kapsul yang masing-maisng mengandung % - * telur yang berukuran 5 - 54 mikron ;0oulsby, *:+ <. /antong sirrusnya kecil, dengan panjang 65 - *44 mikron ;=eid, *:+.<. 'ambar * menunjukkan skoleks dan segmen serta lubang genital aillietina tetragona. b. Raillietina echinobothrida Raillietina echinobothrida, panjangnya mencapai 54 mm dengan lebar * - . mm. 0koleksnya bergaris tengan 54 - .54 mikron, sedang rostelum bergaris tengah *44 - 54 mikron yang dilengkapi dengan dua baris kait-kait sebanyak 44 - 54 yang panjangnya *4 - *( mikron. 1lat penghisapnya juga dilengkapi dengan + - *5 baris duriduri dengan ukuran 5 - *5 mikron. 3ubang kelaminnya hampir selalu unilateral, terletak di tengah-tengah atau sedikit di belakang tengah-tengah sisi proglottid. #terus berakhir dengan kapsul yang mengandung % - * telur. /antong sirrus berjarak sepertiga dari saluran ekskretori dan relati" besar, panjang *(4 - *:4 mikron. Testes berjumlah antara 4 -.5 buah dalam tiap segmen. Ciri khas cacing ini yaitu segmen posterior akan melepaskan diri pada suatu bentukan yang mirip jendela terletak di pertengahan segmen. 1kan tetapi bentukan tersebut tidak selalu ditemukan pada setiap indi!idu. (. Raiilietna cesticillus. Panjangnya Raiilietna cesticillus berkisar antara *44 - *(4 mm dan lebarnya *,5 ( mm, lebar skolek (44 - %44 mikron. =ostellumnya cukup besar dengan diameter *44 mikron, dilengkapi dengan dua baris terdiri dari .44 - 544 duri yang berukuran + - *4 mikron. 1lat penghisapnya tidak berduri kait. Dalam tiap proglottid yang matang terdapat 4 - (4 testes. 3okasi lubang kelaminnya berselang seling tidak teratur. /apsul telur, masing-masing mengandung satu telur, mengisi seluruh proglottid yang matang.

Siklus /i#u% Raiilietina spp Penyebaran cacing Cestoda pada ayam sangat dipengaruhi oleh adanya inang antara.. Telur cacing Cestoda yang termakan oleh inang antara akan menetas di dalam saluran pencernaannya.Telur yang menetas berkembang menjadi onkos"ir yaitu telur yang telah berkembang menjadi embrio banyak sel yang dilengkapi dengan % buah kait. 8nkos"ir selanjutnya berkembang menjadi sistiserkoid dalam waktu ( minggu setelah telur termakan oleh inang antara. 0istiserkoid tetep tinggal di dalam tubuh inang antara sampai dengan inang antara tersebut dimakan oleh inang de"initi" yaitu ayam. 0etelah ayam memakan inang antara yang mengandung sistiserkoid, maka sistiserkoid terbebaskan oleh adanya akti!itas en-im pencernaan. 0egera setelah sistiserkoid bebas, skoleksnya mengalami e!aginasi dan melekatkan diri pada dinding usus. 0egmen muda terbentuk di daerah leher dan akan berkembang menjadi segmen yang matang dalam waktu ( minggu. Pada saat segmen atau strobila berproli"erasi di dinding leher, dinding sistiserkoid akan mengalami degenerasi dan menghilang. 0elanjutnya sistiserkoid berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus ayam dalam waktu 4 hari $erdasarkan beberapa penelitian diperoleh hasil bahwa masing-masing spesies cacing dari genus aillietina spp mempunyai inang antara yang berbeda-beda. aillietina tetragona menggunakan semut dari genus tetramorium dan !heidole serta lalat $usca domestica sebagai inang antara. semut jenis yang sama dengan Pat,genesis Cacing yang hidup dalam saluran pencernaan akan mengambil makanan dengan cara menyerap sari makanan dari induk semangnya pada mukosa usus. 1pabila tingkat in"eksi cukup berat, induk semang akan mengalami hypoglicemia dan hypoproteinemia yang nyata. 0ejala 1linis 'ejala klinis akibat cacing Cestoda pada ayam dipengaruhi antara lain oleh status pakan atau keadaan gi-i ternak, jumlah in"eksi dan umur ayam. Pada beberapa jenis in"eksi, gejala umum pada ayam muda biasanya ditunjukkan oleh adanya penurunan aiilietina echinobothrida menggunakan inang antara aiilietina tetragona. 0edangkan aillietina cesticillus

mempunyai inang antara berupa kumbang dan lalat ,usca domestica.

bobot badan, hilangnya napsu makan, kekerdilan, diare dan anemia. Penurunan produksi telur dan kesehatan secara umum juga merupakan gejala umum akibat in"eksi cacing Cestoda. Cacing Cestoda dalam jumlah besar akan banyak mengambil sari makann dari tubuh inangn sehingga tidak jarang menyebabkan hypoglicemia dan hypoproteinemia. . cesticillus menyebabkan degenerasi dan in"lamasi !illi selapit lendir usus di tempat menempel ujung kait rostellum dan dalam keadaan in"eksi berat dapat menyebabkan kekerdilan. Cacing Cestoda ini paling umum didapati pada ayam dengan kerusakan berupa enteritis haemorrhagia. Cacing ini menyebabkan degenerasi dan peradangan pada !ili-!illi selaput lendir usus. aillietina echinobothrida menyebabkan diarre berlendir tahap dini. aillietina echinobothrida dan aillietina tetragona menyebabkan pembentukan nodul-nodul pada dinding saluran pencernaan. Diantara kedua jenis cacing Cestoda tersebut, yang paling banyak meninmbulkan kerusakan adalah ayam tertentu. Diagn,sis Diagnosis penyakit didasarkan atas gejala klinik yang tampak dan sejarah timbulnya penyakit. selain itu dapat pula dengan melakukan pemeriksaan tinja secara mikroskopis dimana akan ditemukan proglottid masak yang lepas atau telur cacing yang keluar bersama tinja. /elemahan pemeriksaan ini adalah tidak selalu berhasil karena progolttid masak tidak dikeluarkan bersama tinja terus-menerus. Pada pemeriksaan pasca mati akan didapat diagnosis yang memuaskan karena ditemukan spesies cacingnya. Teknik diagnosis yang lain adalah dengan melihat bungkul-bungkul pada mukosa usus dimana cacing mengkaitkan diri pada in"eksi serta pengelupasan selaput lendir usus. 1.3.Trematodosis Penyakit parasit cacing oleh cacing trematoda pada unggas yang terkenal adalah %chonostoma re"olutum. Cacing ini hidup di rektum dan sekum ayam, itik, angsa, dan . echinobothrida, %nteritis Catharallis chronica, hyperplasia dinding usus pada tempat cacing melekatkan diri dan perdarahan aillietina echinobothrida. aiillietina tetragona dapat menyebabkan penurunan bobot badan dan produksi telur pada ras-ras

unggas air lainnya, burung merpati dan berbagai burung lain serta mamalia, termasuk tikus air bahkan manusia di seluruh dunia.

*ti,l,gi %chinostoma re"olutum &%. re"olutum' tergolong dalam "ilum !latyhelminthes, klas Trematoda, subklas Digenea, 8rdo >chinostomata, "amili >chinostomatidae, sub"amili >chinostomatinae, genus %chinostoma, dan spesies %chinostoma re"olutum . Cacing jenis ini merupakan cacing trematoda yang paling terkenal dan serkaria dapat ditemukan dengan mudah pada berbagai siput air tawar. Panjang cacing kira-kira *4 ) * mm dan lebar , 5 mm. ,emiliki spina kerah ;head coller< yang terdiri dari (6 spina, dimana 5 diantaranya membentuk spina kutub dan kutikulanya membentuk spina di bagian anterior. Testisnya tandem, memanjang, lonjong atau sedikit berlobus, terletak di pertengahan badan dan di belakang o!ari. /antong sirrus terletak di antara percabangan sekum dan batil isap !entral. Telur berukuran panjang :4)* % m dan lebar sampai 5:)6* m. Siklus /i#u% Telur di luar tubuh inang akan menetas menjadi mirasidium dalam air setelah berkembang selama lebih kurang ( minggu pada kondisi yang sesuai. ,irasidium kemudian masuk ke dalam inang antara, yaitu siput antara lain & Stagnicola palustris, Helisoma tri"ol"is, !hysagyrina coccidentalis, !. oculans, !lanorbis tenuis, (ymnaea stagnalis, (. s)inhoei, *ulimus stagnicola dan (ymnaea rubiginosa. ,irasidium menembus bagian tubuh siput yang lunak untuk menuju ke ginjal dan berubah menjadi sporokista yang berbentuk kantong dengan panjang sekitar 4,5 mm. /ira-kira mulai : ) * hari setelah in"eksi, sporokista memproduksi satu atau dua redia induk setiap hari selama dua minggu. =edia induk ini mulai menghasilkan redia anak *: ) ( hari setelah in"eksi. =edia anak berpindah ke organ distal dan memproduksi serkaria yang mulai keluar dari siput .% ) % metaserkaria dan mengkista. 0erkaria bisa keluar dari siput asal dan masuk ke siput lain yang memiliki spesies sama atau berlainan. 7nang de"initi" akan terin"eksi apabila memakan siput ini dan cacing akan berkembang menjadi dewasa di dalam saluran pencernaan tubuh inang dalam jangka waktu *5 ) *: hari. hari pasca in"eksi. 0erkaria akan membentuk

0ejala 1linis 7n"eksi yang berat dari %. re"olutum menyebabkan kekurusan, kelemahan dan diare pada unggas. Perubahan Pas(a Mati Pada anak ayam menyebabkan perdarahan bercak-bercak pada tempat perlekatan acetabulum dengan permukaan mukosa usus. Pada angsa dilaporkan menyebabkan enteritis katarrhalis. Pada tikus menyebabkan hiperplasia kripta usus, atro"i !ili-!ili dan "ibrosis pada jaringan subepithelial., pada hamster menyebabkan diare encer dan kehilangan berat badan. Pen(egahan #paya pencegahan helminthiasis yang bisa dilakukan adalah melakukan sanitasi kandang, menghindarkan kandang dari !ektor ;induk semang antara< dan ternak liar dan mengusahakan pengelolaan peternakan sebaik mungkin, seperti mencegah kepadatan kandang yang berlebihan, mengusahakan !entilasi kandang yang cukup dan menerapkan sistim all in all out. Peng,batan Pengobatan terhadap parasit cacing harus dilakukan seawal mungkin, karena jika keadaan sudah parah, maka pengobatan menjadi sia-sia. 8bat-obatan yang bisa digunakan adalah ?ermi-in, ?ermi@on sirup, Cacing >@itor untuk membasmi Ascaridia galli. Tri 2orm juga bisa digunakan untuk mengatasi A. galli dan Heterakis gallinarum. Pada ayam yang dipelihara dalam kandang postal maka pemberian obat cacing bisa dilakukan mulai umur satu bulan dan diulang setiap bulan sekali. 0edangkan pada ayam yang dipelihara di kandang baterai pemberian obat cacing setiap tiga bulan sekali. Pemberian obat cacing akan lebih e"ekti" jika diberikan dua hari berturut-turut. 1yam dipuasakan terlebih dahulu kira-kira selama satu jam sebelum pemberian obat.

2. Penyakit %a#a !nggas &kibat Pr,t,3,a 2.$. 1,ksi#i,sis Penyakit terkenal pada unggas yang disebabkan oleh proto-oa adalah koksidiosis atau berak darah. Penyakit ini ditemukan hampir di seluruh peternakan dunia. ,eskipun penyakit ini bisa diatasi namun biaya yang diperlukan untuk pengobatan sangat besar. /oksidiosis disebabkan oleh proto-oa dengan "amili %imeriidae, yang terdiri dari empat genus, antara lain Cryptospororidium, +sospora, %imeria dan Ty,,aria. Diantara keempat genus tersebut maka %imeria menduduki posisi paling penting bagi unggas. Pada kebanyakan unggas, menyerang ginjal. /ematian ayam akibat koksidiosis bisa mencapai +4 ) :4A jika penyakit tidak diobati. /erugian lain selain kematian ternak, maka koksidiosis menyebabkan penurunan berat badan, penghambatan masa bertelur, penurunan produksi telur dan penurunan e"isiensi penggunaan pakan. *ti,l,gi Dikenal banyak spesies >imeria, namun tidak semuanya patogen. >imeria yang sering menyerang ayam, antara lain & %. tenella, %. necatrix, %. acer"ulina, %. brunetti, %. hagani, %. mitis, %. praecox, %. mi"ati, %. tyssarni dan %. myonella. Fakt,r fakt,r Pre#is%,sisi /ejadian koksidiosis akan mudah mewabah karena beberapa "aktor, yaitu kandungan air yang tinggi dalam litter yang melenihi (4A, adanya penyakit lain yang menekan kekebalan tubuh, seperti ,arek, 7$D atau mikotoksin. Penggunaan antikoksidia dalam pakan yang kurang merata pencampurannya, juga bisa berperan sebagai "aktor predisposisi. 9aktor yang lain adalah stres lingkungan dan menejemen, seperti kepadatan yang terlalu tinggi, kurangnya kualitas dan kuantitas pakan, !entilasi udara yang jelek. 0ejala 1linis /oksidiosis berjalan secara akut dan ditandai dengan depresi, bulu kusut dan diare dengan tinja berwarna hijau, napsu makan hilang, muntah darah, paralisa dan diikuti kematian akibat kolaps. #nggas yang terin"eksi %. tenella memperlihatkan gejala kepucatan pada balung ;jengger< dan pial disertai sekum yang bercampur darah. Pada %imeria menyerang usus, kecuali pada angsa, %imeria

penyakit yang tidak menunjukkan gejala klinis, maka ditandai oleh penurunan produksi telur dan daya tetas serta bobot badan. 3esi-lesi yang ditimbulkan oleh koksidia memiliki kekhasan tergantung dari spesies yang menyerang. /ekhasan tersebut sebagaimana dijelaskan di bawah ini. %. acer"ulina dan %. $i"ati, meyebabkan daerah perdarahan * ) belakang ;distal< dan yeyunum bagian depan ;proksimal<. %. necatrix, lumen usus. %. maxima, menyebabkan penggembungan pada bagian tengah yeyunum dengan perdarahan pada lapisan mukosa. %. Tenella, menimbulkan radang perdarahan sekumBusus buntu. %. brunetti, menimbulkan perdarahan mukosa bagian distal yeyunum dan kolon. menimbulkan penggembungan yang berlebihan pada bagian tengah yeyunum dengan perdarahan pada mukosa dan cairan berwarna kemerahan di dalam cm yang diselingi

"okus berwarna putih yang terlihat di sepanjang lapisan serosa duodenum bagian

'ara Penularan 8okista yang bersporulasi merupakan stadium in"ekti" dari siklus hidup %imeria sp. 8okista dapat ditularkan secara mekanik melalui pekerja, peralatan yang terkontaminasi, terbawa oleh angin dengan jarak yang pendek. Siklus /i#u% Temperatur, pH dan kelembaban yang optimum untuk sporulasi ookista masingmasing spesies berbeda-beda . $iasanya temperatur yang cocok ber!ariasi * oC ) ( tergantung spesies koksidia. Pada suhu tersebut sporulasi berlangsung * )
o

C,

hari. Cika

ookista yang telah sporulasi tertelan oleh ayam, maka sporo-oit akan dibebaskan dan berkembang menjadi ski-on. 0ki-on yang telah dewasa akan pecah dan menghasilkan mero-oit yang akan berkembang menjadi mikrogametosit dan makrogametosist yang keduanya akan bertemu menghasilkan secara berturut-turut, -ygot, ookinet, ookista. 8okista akan dilepaskan bersama "eses. 1elainan Pas(a Mati Terlihat bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan hampir di seluruh organ, misalnya hati, paru-paru, limpa, timus, ginjal, pankreas, usus, pro!entrikulus, bursa

"abricius, otak, otot dada dan paha. 'umpalan darah juga sering ditemukan dalam rongga perut dan saluran pernapasan bagian atas. Pen(egahan Tindakan pencegahan terhadap penyakit koksidiosis yang penting dilakukan adalah pengaturan sistim !entilasi udara yang baik, pengaturan kepadatan kandang yang sesuai dengan kapasitasnya, penyediaan tempat pakan dan minum yang cukup. /husus untuk pengaturan tempat air minum, sebaiknya diusahakan menggunakan model nipple drinker, sehingga tidak banyak air yang tumpah ke litter. Hal ini akan mengurangi resiko kelembaban yang tinggi dalam litter. Disarankan juga memberikan koksidiostat. Peng,batan Pengobatan terhadap koksidiosis bisa diusahakan dengan pemberian larutan amprolium atau sul"onamida dalam air minum, pemberian air yang dapat mensuspensi suplemen !itamin 1 dan / akan mempercepat proses kesembuhan. 4. Penyakit Pa#a !nggas &kibat Parasit *ksternal 'angguan parasit luar disebabkan oleh beberapa jenis insektaBserangga, seperti lalat, kutu, caplak, gurem, tungau dan sebagainya. 'angguan parasit luar akan menimbulkan rasa tidak enak, tidak tenang, gatal, kerusakan bulu, pertumbuhan terhambat, gangguan produksi dan yang lebih berbahaya lagi apabila parasit luar tersebut berperan sebagai !ektor penyakit bakteri, !irus, cacing atau koksidiosis. 1utu $erbagai jenis kutu terdapat pada bulu ayam dan mungkin ditemukan juga di bawah sayap, pada leher dan di sekitar perut dekat kloaka. $iasanya telur kutu tersebut terkumpul pada pangkal bulu. 5ungau Ornithonyssus dan Dermanyssus merupakan tungau penghisap darah pada ayam. 7n"estasi yang hebat akan menyebabkan anemia. Tungau kudis yang menyerang kaki ayam dikenal dengan -nemidocoptes mutans yang menyebabkan dermatitis yang bisa melanjut menjadi scaly leg.

'a%lak &rgasi# Caplak berkulit lunak ;Argas spp< hidup di daerah tropis dan menyerang ayam-

ayam petelur yang dipelihara dalam kandang panggung atau di atas litter. Caplak menyukai lokasi di bawah sayap dan menyerang di malam hari. #nggas penderita menampakkan bercak perdarahan ;hematoma<. Caplak ini dapat menularkan penyakit spirokhetosis. Pengen#alian Tindakan pengendalian terhadap serangan parasit eksternal antara lain berupa ;*< dusting, adalah penggunaan serbuk atau powder untuk mengatasi gangguan ayam terhadap parasit luar. Pada ayam penderita dapat diberikan 0odium 9luorida pada pangkal sayap, bulu pada kepala, ekor, dada, kedua sayap, kedua kakiBpaha, dasar ekor, bawah lubang kloaka dan punggung. $isa juga digunakan DDT antara 5 ) *4A ; < dipping, adalah penggunaan larutan yang mengandung racun untuk pemberantasan serangga dan dilakukan dengan cara mencelupkan ayam pada larutan tersebut. Dipping sebaiknya dilakukan pada saat matahari bersinar, tidak hujan, sehingga bulu cepat kering. $ahan kimia yang digunakan untuk dipping berupa 0odium 9luorida atau 0odium 9lousilikat ;(< "umigasi, dengan pengasapan seperti yang diusahakan untuk memberantas adanya mikroorganisme dan biasanya untuk telur-telur yang akan ditetaskan. $ahan kimia yang digunakan adalah kombinasi antara "ormalin dengan /,n8 . atau dengan Nicotine 0ul"at .4A.