Anda di halaman 1dari 26

Punk

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak. Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal. Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker. Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

Gaya hidup dan Ideologi


Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni). Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avantgarde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas). Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat. Akibatnya punk dicap sebagai musik rock and roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka. Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata "ideas" dan "logos" yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek "jor-joran" yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.

Punk dan Anarkisme


Lihat juga Anarko-punk Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk pada saat itu. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja rock n roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (19721978), antara lain Sex Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.

Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri. Negara menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara. Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Punk etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri). Keterlibatan kaum punk dalam ideologi anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu sendiri, karena punk memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan gerakan Anarko-punk.

Kreativitas Anak Punk Jalanan

Kasar, berandalan, beringas, dan menakutkan itulah mungkin kesan pertama yang Anda peroleh ketika melihat sekumpulan anak punk jalanan yang memakai banyak anting besar di telinga, pelipis mata, hidung, bibir, ditambah tatanan rambut yang menyerupai duri landak. Model rambut yang biasanya ditata adalah gaya mohawk atau feathercut yang biasanya dilengkapi dengan pengecatan berwarna terang. Belum lagi penampilannya yang dilengkapi dengan sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit berwarna hitam, baju yang sudah bladus, dan celana jeans yang ketat. Kesan yang muncul bagi orang yang pertama melihat dan dibesarkan dalam norma yang konvensional pastilah negatif. Punk selalu ditafsirkan negatif, di Indonesia. Seseorang yang berdandan demikian selalu dicap sebagai perusuh, asosial, pemabuk, bahkan kriminal. Dalam kerangka berpikir masyarakat kita, dandanan seperti itu identik dengan anak punk jalanan. Bagaimana pun memang kita tidak bisa menyalahkan serta merta pikiran semacam itu sebab pikiran lahir secara wajar, secara alami, secara naluriah. Tidak ada yang bisa menghalangi pikiran dan imajinasi. Bahkan, diri kita sendiri pun tidak bisa menghalangi apa yang namanya pikiran dan imajinasi. Suatu pandangan yang telah mewabah bahkan telah menjadi semacam doktrin terhadap anak-anak kita. Tentu saja sepatutnya kita tidak bersikap demikian. Mengecilkan, menganggap remeh, mencemooh, atau berpandangan picik. Itu semua disebabkan kita tidak mengetahui apa itu punk sebetulnya. Kita hanya tahu dan itu pun dari omongan orang yang belum tentu kebenarannya bahwa punk identik dengan kekerasan, pemberontakan, dan tidak bisa diatur. Punk sesungguhnya merupakan subbudaya. Punk merupakan jenis musik, bisa juga ideologi hidup, ideologi dalam bidang sosial dan politik. Punk lahir di London, Inggris. Punk merupakan gerakan anak muda dari kaum pekerja yang mengkritik keadaan sosial, ekonomi, politik, ideologi, dan agama yang sedang mengalami kekacauan sehingga meningkatnya tingkat pengangguran dan kriminalitas. Punk mengkritik melalui lagu-lagu mereka yang berbau sindiran terhadap situasi yang ada dengan lirik yang apa adanya, sederhana, disertai beat notasi yang cepat dan menghentak. Anak punk jalanan sering mendapat cibiran dari masyarakat yang merasa lebih baik. Padahal sesungguhnya belum tentu mereka memiliki kepedulian dan kepekaan

terhadap berbagai permasalahan seperti anak punk menyikapinya. Gaya anak punk menyalurkan aspirasinya melalui lagu dirasa tidak menjual atau komersil dan tidak dapat diterima di masyarakat yang hidup dengan kenaifan. Itu sebabnya perusahaan-perusahaan rekaman enggan mengorbitkan grup musik anak punk. Padahal lirik-liriknya mampu menggugah kepeduliaan masyarakat dari sikap apatis terhadap persoalan-persoalan yang sedang dihadapi bangsa. Anak punk akhirnya tidak mendapat tempat di kalangan masyarakat. Stasiun televisi pun enggan menayangkan ekspresi mereka melalui lagu sebab lirikliriknya dinilai terlalu subversif. Akhirnya mereka hanya memiliki media di jalanan dengan cara mengamen. Inilah yang kemudian menyebabkan mereka disebut sebagai anak punk jalanan. Saat ini, anak punk jalanan telah mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka merupakan kelompok sosial yang patut diakui, dihargai, dan terintegrasi dalam lingkungan. Terbukti, di kota-kota besar, anak punk telah membuat usaha rekaman sendiri yang lazim disebut dengan indie label. Mereka merekam lagu-lagu mereka sendiri, mempromosikan dan mendistribusikannya secara sendiri pula melalui media toko kecil komunitas yang kita kenal sebagai distro. Oleh sebab itu, tak perlu heran jika distro-distro di kotakota besar banyak mengedepankan sisi fashion berbau aliran punk. Hal tersebut merupakan langkah agresif yang dilakukan anak punk jalanan untuk merubah stereotip masyarakat dan mengakbrabkan diri dengan masyarakat. Lebih dekat dan akrab menjadikan mereka tidak dikecam sebagai pembuat rusuh. Saat ini, fashion, khususnya distro telah identik dengan kreativitas anak punk yang menunjukkan bahwa anak punk bukanlah berandalan. Mereka tahu betul dengan pepatah yang menggema di Indonesia: Tak kenal maka tak sayang.
12940

Polisi Aceh tangkap anak Punk

Punk dikenal dengan gaya berpakaian dan rambut yang nyentrik. Aparat kepolisian Aceh melakukan penangkapan terhadap puluhan remaja penggemar musik punk di ibukota Banda Aceh dengan alasan pembinaan. Sekitar 60 orang remaja pengggemar musik punk atau biasa dijuluki "anak punk" tersebut menggelar konser amal bertajuk " Aceh for the Punx" di Taman Budaya, Banda Aceh, Sabtu (10/12) malam. Namun di tengah acara, polisi dari Kepolisian Daerah Nanggro Aceh Darussalam membubarkan konser dan menangkap para peserta serta penonton. Para remaja punk itu kemudian dibawa ke Sekolah Polisi Nasional Seulawah Aceh, Selasa (13/12).

'Pembinaan'
Evi Narti Zain dari Koalisi Hak Asasi Manusia Aceh mengatakan, anak-anak punk yang berasal dari Aceh dan sejumlah kota lain seperti Batam dan Medan itu dibawa ke Sekolah Polisi Nasional untuk dibina. " Polisi mengatakan, anak-anak punk itu dirazia karena masyarakat merasa terganggu dengan kehadiran mereka," kata Evi. "Jangan dianggap melanggar HAM, tapi untuk mendidik agar mereka kembali seperti manusia normal" Iskandar Hasan Ia menambahkan polisi melakukan pembinaan dengan cara menjemur mereka di bawah terik matahari dan menggunduli kepala mereka. Menurut Ervi, tindakan polisi tersebut tidak bisa disebut sebagai unsur pembinaan. " Apakah polisi puas dengan menggunduli anak anak itu? Pembinaan anak punk tidak bisa dilakukan dengan cara kekerasan," tutur Evi.

Ia mengatakan tindakan polisi merazia anak punk di Aceh sangat tidak kooperatif dan tidak menyelesaikan permasalahan. Dasar hukum yang digunakan oleh polisi adalah pasal perbuatan tidak menyenangkan dan meresahkan masyarakat. Dalam pemberitaan media lokal, Kepala Kepolisian Daerah Aceh, Irjen Pol Iskandar Hasan membantah penangkapan tersebut dianggap sebagai pelanggaran HAM. ''Jangan dianggap melanggar HAM, tapi untuk mendidik agar mereka kembali seperti manusia normal. Mereka akan dibina, kami berorientasi pada pendidikan di komunitas kita, bangsa kita,'' kata Iskandar. Menurut Iskandar, para punk yang memang dikenal dengan dandanan yang nyentrik, rambut ugal-ugalan dan pakaian hitam dekil ini telah mengganggu kenyamanan masyarakat. Iskandar menambahkan bahwa pihaknya juga akan mengundang ulama Muslim untuk berpartisipasi ''mengembalikan pemikiran dan moral mereka.'' Aceh merupakan provinsi di Indonesia yang menjalankan syariat Islam. Melalui perda syariat ini polisi Aceh sering kali melakukan razia terhadap orang yang dianggap melanggar aturan. Sejumlah razia yang pernah dilakukan adalah razia penggunaan jilbab, celana jeans dan pasangan mesum.

Nasional

Kisah Anak Punk Aceh Dibina Polisi


Ada yang mengaku sedih dan ada yang ingin berubah menjadi lebih baik.
Sabtu, 17 Desember 2011, 07:10 WIB Arry Anggadha

Razia penertiban anak Punk di Aceh (REUTERS/ Stringer )

Sebanyak 65 orang anggota komunitas Punk di Banda Aceh yang ditangkap usai menggelar konser musik akhir pekan lalu, mendapatkan bimbingan di Sekolah Kepolisian Negara (SPN) Aceh Besar. Ada yang mengaku sedih dan ada yang ingin berubah menjadi lebih baik saat mengikuti bimbingan yang digelar sejak Selasa 13 Desember 2011. Mengenakan pakaian polisi, selama 10 hari mereka dilatih baris berbaris. Mereka juga mendapatkan bimbingan mental dan dilatih kedisiplinan. Saat pertama masuk kamp pelatihan, rambut mereka telah dicukur dan mereka diwajibkan mandi teratur. M Fauzi, salah seorang pelatih dari SPN Seulawah mengatakan, selama di tempat latihan polisi itu, mereka dididik kedisiplinan dan latihan fisik untuk menjaga kebugaran. Mereka juga mendapat pelajaran dan pendalaman aqidah dengan mendatangkan ustadz dan pendeta dari luar sekolah polisi itu. "Tadi pagi, tim dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) juga datang membimbing mereka. Ada 18 orang yang non-muslim dan kami panggil pendeta untuk membimbing mereka," kata Fauzi, di SPN Seulawah, Aceh Besar, saat berbicang dengan VIVAnews.com, Jumat malam 16 Desember 2011. Dari 65 orang yang ditangkap dan dididik di SPN Seulawah, 30 orang di antaranya berasal dari sejumlah daerah di Aceh seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, Bireun, Tamiang, dan

Takengon. Selebihnya berasal dari provinsi lainnya seperti Sumatera Utara, Lampung, Palembang, Jambi, Batam, Riau, Sumatera Barat, Jakarta, Bali, dan Jawa Barat. Anggota komunitas Punk ini juga telah diperiksa kesehatannya. Tiga di antaranya dideteksi menderita gejala hepatitis. "Tiga yang gejala hepatitis dan satu orang positif. Setiap pagi kami periksa kesehatan mereka, kalau kesehatannya tidak memungkinkan, dia tidak kami perkenankan mengikuti kegiatan," kata Fauzi. Arismunadar,15 tahun, salah seorang anak punk yang juga mengikuti pelatihan itu mengaku sedih karena sejak ditangkap dia tidak bisa bersekolah. Arismunandar berasal dari Medan, Sumatera Utara dan datang ke Banda Aceh untuk berpartisipasi dalam konser amal yang digelar Punkers Aceh. Saat berangkat ke Banda Aceh, dia juga meminta izin orang tuanya. Tetapi sejak ditangkap, dia tidak dapat mengabarkan kondisinya kepada orang tuanya karena handphone-nya disita sementara selama proses pembinaan. Saya tidak tahu bagaimana reaksi orang tua kalau tahu saya dibawa ke sini, saya mau menghubungi orang tua. Tapi, bagaimana caranya sebab handphone saya diambil, katanya. Anggota Punk lainnya, Sarah, 18 tahun, selama mengikuti pelatihan mengaku dirinya mendapat banyak pengetahuan tentang kedisiplinan dan agama. Dara asal Kabupaten Bireun ini mengaku memilih bergabung dalam komunitas punk karena kurang mendapatkan kasih sayang orang tuanya. "Setelah dari sini saya mau sekolah lagi, saya ingin berubah dan menjadi lebih baik," ujarnya.

Dunia Kecam Aceh Soal Anak Punk, Gubernur Aceh: Apa Urusan Dunia?
Politik Hukum Peristiwa Kriminal Opini Anda Info Anda Forum Foto TV

detikNews Berita

Dunia Kecam Aceh Soal Anak Punk, Gubernur Aceh: Apa Urusan Dunia?
Laurencius Simanjuntak - detikNews Selasa, 20/12/2011 14:45 WIB Browser anda tidak mendukung iFrame

Penggundulan (AFP) Jakarta Dunia mengecam keras tindakan polisi Aceh yang menggunduli anak punk dengan alasan pembinaan karena dianggap melanggar HAM. Gubernur Aceh Irwandi Yusuf pun angkat bicara dengan tetap membela tindakan pembinaan itu. "Apa urusan malunya? Apa urusan dunia? Bukan saya katakan boleh langgar HAM. Di mana-mana tidak boleh langgar HAM. Jangan kita demi nilai-nilai yang dibuat orang luar kita dan kita pun menjadi budak," katanya di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (20/12/2011). Irwandi tak masalah pemerintah dan kepolisan Aceh menuai kecaman demi masa depan anak-anak di daerahnya. Lebih baik dikecam daripada anak muda Aceh tak jelas masa depannya. "Pikir saja di Aceh ada 700 orang punk yang tidak mau pulang ke rumah orang tua, hidup di taman-taman. Mau jadi apa mereka mungkin nge-punk nya masa muda saja," katanya.

Sedikitnya 60 anak punk ditangkap polisi syariah di Nangroe Aceh Darussalam usai menonton konser pada Sabtu, 10 Desember 2011. Polisi lalu melakukan pembinaan mereka dengan cara menggunduli dan memandikan mereka. "Mereka itu kan kerjaannya tukang palak, ada yang memakai narkotika. Nah ini kan meresahkan masyarakat, bagaimana kalau masyarakat mengambil tindakan. Selama ini sudah banyak laporan yang masuk," jelas Kabid Humas Polda Aceh, AKBP Gustav Leo, saat dihubungi detikcom, Jumat (16/12/2011). Polda Aceh dan Pemkot Banda Aceh pun mengambil langkah pembinaan. Usai penangkapan anak punk pada Sabtu (12/12) lalu, mereka dibina di sekolah polisi. Anak punk ini digunduli dan dimandikan. Kemudian di sekolah polisi itu, 65 anak punk dibina dan mendapatkan pelatihan olahraga serta outbond. Tidak ada kekerasan.

13 Anak Punk di Binjai 'Digundul' Massal

Ilustrasi, Anak punk melakukan aksi demo di Mabes Polri (Foto: Heru H/okezone)

BINJAI- Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Binjai, Sumatera Utara, menjaring 13 anak punk yang dinilai meresahkan warga. Mereka diamankan dalam razia yang digelar pada Senin sore kemarin. Banyak warga mengeluh ada sekelompok orang berkumpul dengan pakaian kumuh dan menimbulkan aroma bau tak sedap. Sesaat setelah sampai di kantor Satpol PP, para anak punk tersebut dipisahkan antara pria dan perempuan. Kemudian satu per satu rambut para mereka dipotong. Beberapa di antara anak punk itu memelas iba agar rambut mereka tak dipangkas petugas, namun petugas tetap memangkasinya. Bahkan mereka punya cara agar tidak dipotong rambutnya. Seperti Eka, dia mengaku rambutnya sengaja dibiarkan panjang karena kalau dipangkas akan sakit. Namun dalih Eka sia-sia, rambutnya tetap dipangkas petugas dengan menggunakan gunting rambut. Beberapa di antara mereka nekat melawan, bahkan mengancam petugas Satpol PP. Petugas akhirnya mengalah dan memberikan kesempatan anak punk untuk memangkas rambut mereka sendiri. Anak punk yang terjaring razia berasal dari luar kota Binjai. Mereka datang dari Aceh, Tanjung Pura, Langkat, dan Tebingtinggi. Fahri, salah seorang anak punk, mengaku selama di Binjai mereka tidur di kolong jembatan. Sementara malam hari, melakukan aktivitasnya sebagai pengamen jalanan.

Anak Punk Demo, Tuntut Hentikan Kebrutalan Polisi


Selasa, 27 Desember 2011 14:33 WIB REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG Puluhan anak punk menggelar aksi unjuk rasa di Jalan Pahlawan, Semarang. Aksi ini terkait penangkapan rekan mereka yang dilakukan di Aceh oleh aparat kepolisian. Mereka menuntut aparat berwajib tak bersikap sewenang-wenang terhadap komunitas punk dan menghentikan brutalitas polisi dalam menghadapai masyarakat sipil. Koordinator Aksi, Adib Fauzi, mengatakan perlu ada pembenahan dalam tindakan represif aparat kepolisian. Kalau mau ditangkap, ya jangan menggunakan tindakan sewenangwenang, ujarnya saat ditemui di sela-sela aksi, Selasa (27/12). Adib menyebut, rekan-rekannya di Aceh ditangkap saat menggelar konser amal untuk anak yatim Punk for Aceh pada (10/12) lalu. Anak-anak punk dipukuli dan dipaksa naik ke truk polisi, ungkapnya. Tercatat 65 anak punk ditangkap. Enam diantaranya perempuan dan dua diantaranya masih dalam kategori anak-anak. Penangkapan tidak disertai surat resmi. Padahal anak-anak punk yang malam itu berkumpul di tengah kota tidak didapati satu pun melakukan tindakan pelanggaran hukum, ujarnya. Penangkapan dan pembubaran tersebut juga dihadiri Walikota Banda Aceh dan wakilnya. Tak hanya itu, anak punk yang tergabung dalam Semarang Punk Movement ini pun melihat sikap aparat kepolisian terhadap dua kasus di Mesuji dan Bima juga telah melebihi batasbatas tugas dan kewenangannya, bahkan melebihi batas-batas kemanusiaan. Tindakan aparat kepolisian tersebut mencerminkan arogansi dan keterasingan kepolisian dari masyarakat, kata Adib. Aparat kepolisian, lanjutnya, harus tetap melakukan upaya persuasif terhadap masyarakat sipil. Untuk itu, komunitas yang terbiasa mengenakan pakaian hitam ini menilai penanganan peristiwa-peristiwa tersebut telah melanggar berbagai prinsip dan standar HAM yang diakui dan berlaku di Indonesia. Semarang Punk Movement mendesak pemerintah menghentikan stigmatisasi buruk terhadap punk. Tak hanya itu, mereka pun mendesak agar Kapolda Aceh, Lampung dan NTB diberhentikan dari jabatannya sebagai penanggung jawab utama dalam operasional kepolisian di wilayahnya masing-masing.

Mengulik Kasus Penangkapan Anak Punk di Aceh


Posted by Woro_Lintang on Jan 02, 2012 | 0 comments Satu lagi kasus yang menjadi kado istimewa untuk Indonesia menyambut akhir tahun 2011. Pada 10 Desember 2011 di Aceh, terjadi penangkapan 65 anak Punk di Aceh. Pembubaran dan penangkapan ini diawali dari diselenggarakannya konser musik. Seperti yang diketahui kebanyakan orang, komunitas Punk adalah komunitas yang bergaya aneh, dengan simbolsimbol seram, memakai anting-anting, berpakaian hitam, rambut mohawk, mabuk-mabukkan, anarkis, dsb. Padahal menurut pengakuan beberapa anak Punk yang saya kenal, arti sebenarnya dari Punk bukan seperti itu. Punk adalah komunitas contra culture, kata mereka, dan kesalahan besar jika punk diidentikkan dengan apa yang kita indera selama ini bergaya aneh, anting-anting, dan anarkis tadi-. Apalagi ketika Punk diidentikkan dengan atheis, karena dalam komunitas punk tidak ada aturan untuk harus menjadi atheis, masih kata mereka. Punk yang ada sekarang bukanlah punk yang sama maknanya dengan punk dalam kelahiran awalnya. Jadi bisa dikatakan, Punk saat ini adalah Punk jadi-jadian. Ada beberapa hal yang bisa dikritisi dari adanya kasus penangkapan anak Punk ini, terlepas dari pendistorsian arti Punk yang dijelaskan di atas. Hal pertama yang bisa dikritisi adalah pemberitaan yang menyebutkan penangkapan anak Punk tersebut melanggar HAM atau sejenisnya. Memang betul fenomena penangkapan, pemukulan, penggundulan, dan bentuk pelecehan lainnya yang dilakukan oleh polisi (atau siapapun) adalah tindakan yang semena-mena karena tak ada manusia yang layak diperlakukan demikian. Namun ketika mengamati berita mengenai penangkapan anak Punk tersebut, tidak terlihat adanya perlawanan yang signifikan yang dilakukan oleh anak-anak Punk yang tertangkap. Ketika mereka dirazia, digunduli, dimasukkan ke kolam, mereka nrimo saja. Padahal sebagai anak Punk seharusnya mereka melawan, berontak, dan seperti yang biasa anak-anak Punk lakukan demi mempertahankan pilihan hidupnya sebagai Anak Punk yang biasanya mereka cukup keras ketika masyarakat mempertanyakan identitas itu-. Cukup aneh melihat mereka terima nasib. Nah, ada apa dibalik penangkapan ini? Bisa dicermati, kasus penangkapan Punk ini terjadi di Aceh. Sebagaimana masyarakat awam ketahui, Aceh adalah representasi dari penerapan Syariat Islam. Ketika isu yang di-blow-up di media adalah isu pelanggaran HAM, maka masyarakat awam akan menilai beginilah ketika Syariat Islam diterapkan, yang terjadi adalah pelanggaran HAM. Hal ini diperkuat dengan adanya beberapa media diskriminatif yang menggunakan berita penangkapan anak Punk ini berhubungan dengan penerapan Syariat Islam. Jadi, ada upaya untuk mendiskreditkan Islam melalui kasus penangkapan anak Punk di Aceh ini. Hal kedua yang bisa dikritisi adalah mengenai proses pembentukkan karakter atau kepribadian dalam diri pemuda-pemuda Indonesia. Punk jadi-jadian ini adalah sebuah

potret generasi pemuda Indonesia zaman sekarang. Dan sejatinya karakter awal dalam diri individu manusia dibangun di dalam keluarga. Maka bisa kita perkirakan, pendidikan seperti apa yang diterapkan di dalam keluarga mereka. Pendidikan seperti apa yang diberikan oleh orangtua mereka. Padahal mereka akan menjadi generasi penerus bangsa dan generasi pembangun peradaban yang menggantikan peradaban kapitalisme yang kusut carut marut njlimet ini. Maka perlu kita pahami, peran keluarga atau orangtua dalam membentuk kepribadian generasi muda adalah hal yang sangat penting. Dan yang tak kalah penting, Aqidah sebagai landasan berpikir dan bertindak harus ditanamkan sejak dini dan mengakar pada diri-diri pemuda Indonesia, sehingga tidak akan ada lagi pemuda yang melenceng dari aturan-aturan yang sudah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Ketikapun mereka menyadari bahwa sekarang ini terjadi ketidakseimbangan di dalam kehidupan mereka (baca: akibat sistem kapitalisme), maka mereka bisa menempatkan perlawanan mereka itu dalam koridor yang benar menurut aturan Allah SWT.

Anak punk dipulangkan ke daerah asal


Rabu, 21 Desember 2011 00:39 WIB | 2402 Views

Anak punk yang sedang mendapatkan pembinaan menumpang kendaraan polisi seusai melaksanakan ibadah shalat jumat di Saree, Kabupaten Aceh Besar, Jumat (16/12). Sebanyak 65 orang anak punk dari berbagai provinsi di pulau Sumatera dan Jawa yang terjaring penertiban tim gabungan dari Polresta dan Pemerintah Kota Banda Aceh mendapat pembinaan mental dan rohani selama 10 hari di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah. (FOTO ANTARA/Irwansyah Putra) Berita Terkait

Aparat TNI/Polri bantu korban banjir Pidie Operasi Sikat Rencong Aceh, 13 senjata api terkumpul Malaysia-Banda Aceh jajaki kerja sama pariwisata Gempa 5,4 SR guncang Banda Aceh AJI Banda Aceh pilih ketua baru

Video Terkait

Sidang Gugatan Pilkada Aceh

Bantuan Gempa Aceh Dari ... Banda Aceh (ANTARA News) - Puluhan anak punk yang sedang mengikuti pembinaan mental dan rohani di Sekolah Polisi Negara (SPN) Seulawah Kabupaten Aceh Besar akan dipulangkan kembali ke daerah asal. "Setelah mendapat pembinaan di SPN Seulawah mereka akan kita pulangkan ke daerah asal, kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi Aceh," kata Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa`aduddin Djamal di Banda Aceh, Selasa. Sebanyak 65 anak punk yang terdiri atas 59 laki-laki dan enam perempuan dari berbagai kabupaten/kota di Aceh dan provinsi di pulau Sumatera dan Jawa sejak 13 Desember 2011 mendapat pembinaan mental dan rohani di SPN Seulawah. Menurutnya, Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Muspida dan Dinas Sosial sudah melakukan rapat koordinasi untuk menindak lanjuti pembinaan terhadap anak punk yang terjaring penertiban tim gabungan pada 10 Desember lalu. "Khusus untuk anak-anak yang telah bergabung dengan komunitas punk dari kota Banda Aceh akan dikembali kepada orang tuanya dan kita rencanakan untuk memberikan pembinaan lanjutan," katanya. Ia berharap setelah mendapatkan pembinaan di sekolah polisi itu, anak-anak punk tersebut tidak lagi hidup dijalanan dan berprilaku sesuai dengan ajaran agama.

Menurutnya, selama ini prilaku yang ditunjukkan anak-anak yang tergabung dalam komunitas punk di Kota Banda Aceh dinilai menyimpang kultur Aceh dan melanggar Syariat Islam. "Kami ingin mereka mendidik mereka menjadi lebih baik sehingga berguna bagi keluarga, bangsa dan negara," kata Illiza Sa`aduddin Djamal. Wakil Wali Kota Banda Aceh itu juga berharap kepada pihak-pihak tertentu tidak mempolitisir pembinaan terhadap anak punk yang dilakukan Kepolisian Aceh dan Pemerintah Kota itu. "Jangan hanya mendengar isu negatif terhadap pembinaan yang kami lakukan, silahkan datang dan menyaksikan sendiri, kami hanya ingin mereka menjadi lebih baik," katanya menambahkan. (IRW/Z002)

Ini dia Komunitas Anak Punk dengan ungkapan PUNK NOT DEAD.!!
Di era globalisasi, banyak sekali kebudayaan yang masuk ke Indonesia, sehingga tidak dipungkiri lagi muncul banyak sekali kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Salah satu dari kelompok tersebut adalah kelompok Punk, tentu yang terlintas dalam benak kita kelompok dengan dandanan liar dan rambut dicat dengan potongan ke atas dengan anting-anting dan tatto. Mereka biasa berkumpul di beberapa titik keramaian pusat kota dan memiliki gaya dengan ciri khas sendiri.

Komunitas yang satu ini memang sangat berbeda sendiri dibandingkan dengan komunitas pada umumnya. Banyak orang yang menilai bahwa komunitas yang satu ini termasuk salah satu komuitas yang urakan, berandalan dan sebagainya. Namun jika dicermati lebih dalam banyak sekali yang menarik yang dapat Anda lihat di komunitas ini. Punk sendiri terbagi menjadi beberapa komunitas-komunitas yang memiliki ciri khas tersendiri, terkadang antara komunitas yang satu dengan komunitas yang lain juga sering terlibat masalah. Walaupun begitu mungkin beberapa komunitas Punk di bawah ini dapat mempengaruhi kehidupan

Anda sehari-hari.

Anarcho Punk Komunitas Punk yang satu ini memang termasuk salah satu komunitas yang sangat keras. Bisa dibilang mereka sangat menutup diri dengan orang-orang lainnya, kekerasan nampaknya memang sudah menjadi bagiandari kehidupan mereka. Tidak jarang mereka juga terlibat bentrokan dengan sesama komunitas Punk yang lainnya. Anarcho Punk juga sangat idealis dengan ideologi yang mereka anut. Ideologi yang mereka anut diantaranya, Anti Authoritarianism dan Anti Capitalist.Crass, Conflict, Flux Of Pink Indians merupakan sebagian band yang berasal dari Anarcho Punk. Crust Punk Jika Anda berpikir bahwa Anarcho Punk merupakan komunitas Punk yang sangat brutal, maka Anda harus menyimak yang satu ini. Crust Punk sendiri sudah diklaim oleh para komunitas Punk yang lainnya sebagai komunitas Punk yang paling brutal. Para penganut dari faham ini biasa disebut dengan Crusties. Para Crusties tersebut sering melakukan berbagai macam pemberontakan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Musik yang mereka mainkan merupakan penggabungan dari musik Anarcho Punk dengan Heavy Metal. Para Crusties tersebut merupakan orang-orang yang anti sosial, mereka hanya mau bersosialisasi dengan sesama Crusties saja. Glam Punk Para anggota dari komunitas ini merupakan para seniman. Apa yang mereka alami dalam kehidupan sehari-hari sering mereka tuangkan sendiri dalam berbagai macam karya seni. Mereka benar-benar sangat menjauhi perselisihan dengan sesama komunitas atau pun dengan orang-orang lainnya. Hard Core Punk Hard Core Punk mulai berkembang pada tahun 1980an di Amerika Serikat bagian utara. Musik dengan nuansa Punk Rock dengan beat-beat yang cepat menjadi musik wajib mereka. Jiwa pemberontakan juga sangat kental dalam kehidupan mereka sehari-hari, terkadang sesama anggota pun mereka sering bermasalah. Nazi Punk Dari sekian banyaknya komunitas Punk, mungkin Nazi Punk ini merupakan sebuah komunitas yang benar-benar masih murni. Faham Nazi benar-benar kental mengalir di jiwa para anggotanya. Nazi Punk ini sendiri mulai berkembang di Inggris pada tahun 1970an akhir dan dengan sangat cepat menyebar ke Amerika Serikat. Untuk musiknya sendiri, mereka menamakannya Rock Against Communism dan Hate Core.

The Oi The Oi atau Street Punk ini biasanya terdiri dari para Hooligan yang sering membuat keonaran dimana-mana, terlebih lagi di setiap pertandingan sepak bola. Para anggotanya sendiri biasa disebut dengan nama Skinheads. Para Skinheads ini sendiri menganut prinsip kerja keras itu wajib, jadi walaupun sering membuat kerusuhan mereka juga masih memikirkan kelangsungan hidup mereka. Untuk urusan bermusik, para Skinheads ini lebih berani mengekspresikan musiknya tersebut dibandingakan dengan komunitas-komunitas Punk yang lainnya. Para Skinheads ini sendiri sering bermasalah dengan Anarcho Punk dan Crust Punk. Queer Core Komunitas Punk yang satu ini memang sangat aneh, anggotanya sendiri terdiri dari orang-orang sakit, yaitu para lesbian, homoseksual, biseksual dan para transexual. Walaupun terdiri dari orangorang sakit, namun komunitas ini bisa menjadi bahaya jika ada yang berani mengganggu mereka. Dalam kehidupan, anggota dari komunitas ini jauh lebih tertutup dibandingkan dengan komunitaskomunitas Punk yang lainnya. Queer Core ini sendiri merupakan hasil perpecahan dari Hard Core Punk pada tahun 1985. Riot Grrrl Riot Grrrl ini mulai terbentuk pada tahun 1991, anggotanya ialah para wanita yang keluar dari Hard Core Punk. Anggota ini sendiri juga tidak mau bergaul selain dengan wanita. Biasanya para anggotanya sendiri berasal dari Seattle, Olympia dan Washington DC. Scum Punk Jika Anda tertarik dengan Punk, mungkin ini salah satu komunitas yang layak untuk diikuti. Scum Punk menamakan anggotanya dengan sebutan Straight Edge Scene. Mereka benar-benar mengutamakan kenyamanan, kebersihan, kebaikan moral dan kesehatan. Banyak anggota dari Scum Punk yang sama sekali tidak mengkonsumsi zat-zat yang dapat merusak tubuh mereka sendiri. The Skate Punk Skate Punk memang masih erat hubungannya dengan Hard Core Punk dalam bermusik. Komunitas ini berkembang pesat di daerah Venice Beach California. Para anggota komunitas ini biasanya sangat mencintai skate board dan surfing. Ska Punk Ska Pun merupakan sebuah penggabungan yang sangat menarik antara Punk dengan musik asal Jamaica yang biasa disebut reggae. Mereka juga memiliki jenis tarian tersendiri yang biasa mereka sebut dengan Skanking atau Pogo, tarian enerjik ini sangat sesuai dengan musik dari Ska Punk yang memilikibeat-beat yang sangat cepat.

Punk Fashion Para Punkers biasanya memiliki cara berpakaian yang sangat menarik, bahkan tidak sedikit masyarakat yang bukan Punkers meniru dandanan mereka ini. Terkadang gaya para Punkers ini juga digabungkan dengan gaya berbusana saat ini yang akhirnya malah merusak citra dari para Punkers itu sendiri. Untuk pakaiannya sendiri, jaket kulit dan celana kulit menjadi salah satu andalan mereka, namun ada juga Punkers yang menggunakan celana jeans yang sangat ketat dan dipadukan dengan kaos-kaos yang bertuliskan nama-nama band mereka atau kritikan terhadap pemerintah. Untuk rambut biasanya gaya spike atau mohawk menjadi andalan mereka. Untuk gaya rambut ini banyak orangorang biasa yang mengikutinya karena memang sangat menarik, namun terkadang malah menimbulkan kesan tanggung. Body piercing, rantai dan gelang spike menjadi salah satu yang wajib mereka kenakan. Untuk sepatu, selain boots tinggi, para Punkers juga biasa menggunakan sneakers namun hanya sneakers dari Converse yang mereka kenakan. Gaya para punkers tersebut nampaknya semakin marak dikenakan akhir-akhir ini, Apakah anda setuju dengan dengan ungkapan PUNK NOT DEAD.!!, coba liat dulu gaya mereka nih :