Anda di halaman 1dari 12
Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 BAB II AMBANG LEBAR 2.1 PENDAHULUAN Aliran dalam saluran terbuka sering ditemui

Moch. Ihsan Rahmatulloh

2411121040

BAB II AMBANG LEBAR

2.1

PENDAHULUAN

Aliran dalam saluran terbuka sering ditemui dalam saluran terbuka yang bersifat alam ini bukan saluran prismatik, artinya penampang melintangnya berbeda-beda disetiap peninjauan, sehingga sulit untuk menganalisanya. Karena hal itu, maka pada praktikum ini yang akan diamati adalah aliran dalam saluran terbuka yang dianggap prismatik, agar dapat membantu di dalam mengamati dam menganalisanya. Di dalam saluran tersebut diletakkan

suatu pelimpah sehingga akan merubah profil aliran seperti dibawah ini :

Y1

t Y2 X
t
Y2
X

Dengan kemiringan yang sangat kecil O terjadi aliran melalui saluran, yang kemudian bergerak menumbuk pelimpah (ambang), sehingga profil dari aliran tersebut akan berubah sesuai dengan karakteristik dari aliran melaui pelimpah (ambang).

Kondisi profil pada aliran yang terjadi dibagi dalam tiga tingkatan yaitu : air loncat, peralihan dan tenggelam. Pada percobaan ini akan diamati serta digambarkan profil aliran pada ketiga kondisi di atas pada ujung saluran di tambahkan sekat. Untuk fase air loncat akan terjadi apabila penambahan sekat pada ujung saluran tidak mengakibatkan naiknya muka air di udik. Keadaan aliran yang terjadi adalah aliran yang sempurna (tanpa perubahan muka air)

( h i d r a u l i k a )

A m b a n g

L e b a r

Page 1
Page 1
Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 sedangkan kondisi tenggelam diperoleh jika pada penambahan sekat di ujung saluran mempengaruhi

Moch. Ihsan Rahmatulloh

2411121040

sedangkan kondisi tenggelam diperoleh jika pada penambahan sekat di ujung saluran mempengaruhi tinggi muka air di udik. Untuk kondisi peralihan berada diantara kedua tingkatan diatas (hingga sedikit sekali pengaruhnya terhadap muka air di udik). Untuk menggambarkan suatu profil dari aliran yang terjadi diambil titik-titik pada setiap keadaan tinggi aliran, yang mana titik-titik tersebut akan membentuk suatu garis-garus yang menunjukan profil pada aliran tersebut. Selain itu akan di peroleh suatu hubungan antara debit dengan tinggi muka air dari atas ambang, serta hubungan antara sebit dan ambang (He) dengan koefesien pengaliran (C), sehingga dapat di peroleh gambaran karakteristik aliran yang dipengaruhi oleh ambang tersebut.

  • 2.2 TUJUAN PRAKTIKUM

Tujuan praktikum ini adalah mempelajari karakteristerik suatu ambang

(pelimpah), meliputi antara lain :

  • 2.2.1 Pengaruh muka air di hilir (He2) terhadap muika air di udik (He1)

  • 2.2.2 Pengaruh tinggi muka air di atas pelimpah (He1) terhadap debit (Q)

  • 2.2.3 Pengaruh tinggi muka air di atas pelimpah terhadap koefesien pengaruh, kemudian di buat grafiknya untuk mengitung tinggi muka air diatas pelimpah yang du ujunkan H (desain) = Hd.

  • 2.2.4 Pengaruh koefesian pengaliran terhadap sebit air yang lewat.

  • 2.2.5 Hubungan antara C/Cd dengan He1/Hd.

  • 2.2.6 Profil aliran.

  • 2.3 ALAT-ALAT YANG DIPERGUNAKAN

    • 2.3.1 Pompa air yang dilengkapi dengan bak penampung.

    • 2.3.2 Saluran terbuka.

    • 2.3.3 Meteran/alat ukur jarak.

    • 2.3.4 Slang/pipa air.

    • 2.3.5 Alat ukur debit/senturimeter .

    • 2.3.6 Ambang lebar/bendung.

    • 2.3.7 Sekat pengatur (muka air di hilir bendung) .

    • 2.3.8 Alat ukur tinggi muka air.

( h i d r a u l i k a )

A m b a n g

L e b a r

Page 2
Page 2
Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 2.4 TEORI 2.4.1 Hukum kontinuitas : Q = A . V =

Moch. Ihsan Rahmatulloh

2411121040

  • 2.4 TEORI

    • 2.4.1 Hukum kontinuitas : Q = A . V = KONSTAN

    • 2.4.2 Aliran melaui ambang : Q = C . B . He 2/3

  • 2.5 PROSEDUR PERCOBAAN

    • 2.5.1 Menyiapkan peralatan yang diperlukan, kemudian pompa air dihidupkan.

    • 2.5.2 Mengatur mesin/alat, sehingga di dapatkan suatu debit tertentu (Q1) dan diperoleh profil aliran yang mengalami loncatan.

    • 2.5.3 Mengatur dan mencatat ketinggian muka air, serta menentukan koordinat titik-titik untuk menggambarkan profil aliran pada keadaan loncat satu.

    • 2.5.4 Menambah sekat di ujung saluran sehingga diperoleh profil aliran loncat dua, juga diadakan pencatatan terhadap koordinat titik-titik untuk penggambaran profil.

    • 2.5.5 Tumbuhkan lagi sekat, sehingga didapat aliran pada keadaan peralihan.

    • 2.5.6 Sekat di tambahkan lagi pada ujung saluran, sehingga aliran dalam kondisi tenggelam satu.

    • 2.5.7 Ditambahkan lagi sekat diujung saluran saluran, sehingga didapat profil aliran tenggelam dua.

    • 2.5.8 Langkah percobaan dari 1 s/d 7 untuk debit yang berbeda. Untuk percobaan yang mengambil nilai satu dan keduanya tetap, ditentukan koordinat titik-titik (delapan titik-titik), yang bertujuan untuk penggambaran profil aliran pada setiap kondisi aliran.

    • 2.5.9 Untuk debit ketiga sampau dengan debit kelima di lakukan langkah percobaan nomor 2 s/d 7, tetapi hanya padan pada dua titik, yaitu satu titik di udik dan satu titik terendah di hilir untuk masing-masing koordinat aliran.

  • ( h i d r a u l i k a )

    A m b a n g

    L e b a r

    Page 3
    Page 3
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 2.6 TEORI DAN PENURUNAN RUMUS 2.6.1 Penurunan Rumus : C  Q

    Moch. Ihsan Rahmatulloh

    2411121040

    • 2.6 TEORI DAN PENURUNAN RUMUS

      • 2.6.1 Penurunan Rumus :

    C

    Q

    B.Hc

    3 / 2

    Hukum Kontinuitas :

    t
    t
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 2.6 TEORI DAN PENURUNAN RUMUS 2.6.1 Penurunan Rumus : C  Q
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 2.6 TEORI DAN PENURUNAN RUMUS 2.6.1 Penurunan Rumus : C  Q

    h

    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 2.6 TEORI DAN PENURUNAN RUMUS 2.6.1 Penurunan Rumus : C  Q
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 2.6 TEORI DAN PENURUNAN RUMUS 2.6.1 Penurunan Rumus : C  Q

    Penampang = dF, jarak t dari ambang ke permukaan air.

    dV  2gt dQ  dF.dV
    dV 
    2gt
    dQ  dF.dV
     B.dt 2gt  B.dt 2gt 1/ 2 H Q B . dt 2 g .
     B.dt
    2gt
     B.dt
    2gt
    1/ 2
    H
    Q B . dt 2 g . t
    1/ 2

    0

    • 2.6.2 Penurunan rumus Q 623,076..

    H
    H
    D2 w ng
    D2
    w
    ng

    D1

    ( h i d r a u l i k a )

    A m b a n g

    L e b a r

    Page 4
    Page 4
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 a. Persamaan Energi : P 1  w  V 1 2

    Moch. Ihsan Rahmatulloh

    2411121040

    • a. Persamaan Energi :

    P

    1

    w

    V

    1

    2

    2 g

    P

    2

    w

    V

    2

    2

    2 g

    P P

    1

    2

    w

    V V 2 g

    2

    1

    2

    2

    ...........................................................................

    (1)

    • b. Prinsip pembacaan Manometer :

     

    P

    1

    w

    (

    X H

    P P

    1

    2

    (

    Hg

    P P Hg

    1

    w

    2

    (

    w

    )

    P

    2

    w

    1).

    H

    w

    ).

    H

    .

    X Hg H

    .

     

    = 12.6 H

     

    (2)

     

    Persamaan (1) dan (2) dan

     

    4

    Q

     

    V

    1

    D

    1

    2

     

    Dan

    V

    2

    4

    Q

    D

    2

     

    Maka :

     

    2

    12,6 H

    (4

    q

    )

    .(

    1

    1

    )

    2

    .2 g

     

    D

    2

    4

    D

    4

    1

    ……………………………………

    ..

    (

    3 )

    Diketahui ;

     

    D 1 = 5,710

    cm

     
     

    D 2 = 3,776

    cm

    g

    = 980,6

    cm/det 2

     

    Harga-harga tersebut dimasukan pada persamaan (3) maka didapat :

     

    12,6 H

    (4

    q

    )

    1

     

    1

    )

     

    2

    .2 g

    .(

    D

    2

    4

    D

    1

    4

    12,6 H

    16 Q

    2

     

    (

    1

    1

    )

     
     

    2

    .1961,20

     

    3,776

    4

    5,710

    4

    12,6 H

    0,0636517. Q

    2

     

    2

    .1961,20

     

    2

     

    2

     

    0,0636517 .

    Q

     

    12,6

    H

    .

    .1961,20

    ( h i d r a u l i k a )

    A m b a n g

    L e b a r

    Page 5
    Page 5
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 2 12.6 H .  .1961,20 2 Q  0,0636517 2 2

    Moch. Ihsan Rahmatulloh

    2411121040

    2 12.6 H .  .1961,20 2 Q  0,0636517 2 2 Q  388224,04. H
    2
    12.6
    H
    .
    .1961,20
    2
    Q 
    0,0636517
    2
    2
    Q
     388224,04.
    H
    .
    2
    Q
    388224,04.
    H
    .
    Q
     623,076.
    .
    H
    • 2.7 ANALISA PERHITUNGAN

      • 2.7.1 Langkah Perhitungan

        • 1. Menghitung Debit (Q)

    Q  C... H Q  623,076.  .. H ( cm 3 ) det
    Q 
    C...
    H
    Q 
    623,076.
    ..
    H
    ( cm
    3
    )
    det
    • 2. Menghitung He

    He

    y

    t

    He

    1

    y

    1

    t

    He

    2

    y

    2

    t

    dimana : t = tinggi ambang (-) = loncat

    • 3. Menghitung Koefesian Pengaliran (C)

    C

    Q

    B.He

    3 / 2

    • 4. Menghitung Hd Hd = 1 didapat dari grafis hubungan He 1 Vs C diambil nilai Hd = 1 Maka didapat nilai C = Cd

    • 2.7.2 Tugas

      • 1. Buat grafik He 1 Vs He 2

      • 2. Buat grafik He 1 Vs C He = tinggi air diatas ambang

      • 3. Buat grafik C Vs Q

      • 4. Buat grafik H/Hd Vs C/Cd

      • 5. Buat grafik He 1 Vs Q

    ( h i d r a u l i k a )

    A m b a n g

    L e b a r

    Page 6
    Page 6
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 2.8 DATA PERCOBAAN AMBANG LEBAR ΔH Y 1 Loncat I Loncat II

    Moch. Ihsan Rahmatulloh

    2411121040

    • 2.8 DATA PERCOBAAN AMBANG LEBAR

     

    ΔH

    Y 1

    Loncat I

    Loncat II

    Peralihan

    Tenggelam

    Tenggelam

     

    I

    II

    No.

       

    (cm)

    (cm)

    (cm)

    (cm)

    (cm)

    (cm

    (cm)

    X

     

    X

                 

    Hg)

    y 2

    y 2

    x

    y 2

    x

    y 2

    x

    y 2

    1

    0,5

    19,4

    30

    2,8

    16,7

    5,5

    21

    8

    18,2

    10

    18,4

    12,4

    2

    1

    20,2

    33,5

    4

    20,5

    6

    22

    8,5

    17,8

    10,8

    22,5

    13,3

    3

    1,2

    20,5

    33,7

    4

    17,2

    6,5

    15

    8,5

    18

    11,5

    18

    13,5

    4

    1,5

    20,2

    32,4

    4

    18

    6

    19,1

    8,4

    18

    10,6

    18,3

    13,5

    5

    2

    20,2

    33

    4

    24,3

    6,3

    21,8

    8,4

    22,5

    11

    23

    13,6

    2.9

    PERHITUNGAN

     

    A. Contoh perhitungan ambang lebar

    Diketahui :

    ΔH

    = 0,5

    Y

    1

    = 19,4 cm

    Y

    2

    =

    2,8 cm

    T

    B

    • 1. Menghitung Debit (Q)

    Q

    = C . π .

    Q

    = 623,076 . π .

    • 2. Menghitung He

     

    He

    = y t

    H 1

    = y 1 t

    He 2

    = 19,4 17,6 = 1,8 cm = y 2 t

    cm Hg

    = 17,6 cm (tinggi ambang)

    = 8,2 cm (lebar saluran)

    = 623,076 . π . = 1383,42517 Cm 3 /det

    = 2,8 17,6 = - 14,8 cm Dimana : t = tinggi ambang

    ( - ) = loncat

    • 3. Menghitung Koefisien Pengaliran ( c )

    ( h i d r a u l i k a )

    A m b a n g

    L e b a r

    Page 7
    Page 7
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 C  Q B . He 3 / 2 = = 69,86072098
     
     

    Moch. Ihsan Rahmatulloh

    2411121040

       
     

    C

    Q

    B.He

    3 / 2

    =

    =

    = 69,86072098

     

    Perhitungan dilanjutkan dengan menggunakan tabel sebagai berikut :

    • B. Tabel Perhitungan

    • 1. Harga Debit (Q)

     

    Q = 623,076

    .

    .

     

    ΔH (cm Hg)

    Debit (cm 3 /det)

     

    0,5

    1383,42517

     

    1

    1956,45864

     

    1,2

    2143,19306

     

    1,5

    2396,16269

     

    2

    2766,85034

    • 2. Perhitungan koefisien pengaliran (C)

    C

    Q

    B.He

    3 / 2

    Debit (cm 3 /det)

    He 1 (cm)

    C

    1383,42517

    1,8

    69,86072098

    1956,45864

    2,6

    56,91107602

    2143,19306

    2,9

    52,92372999

    2396,16269

    2,6

    69,70154848

    2766,85034

    2,6

    80,48441556

    • 3. Perhitungan He Perhitungan sebagai berikut :

    He He   y y   t t

    1

    2

    1

    2

    ( h i d r a u l i k a )

    A m b a n g

    L e b a r

    Page 8
    Page 8
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 Perhitungan dilanjutkan dalam bentuk tabel : Loncat I Loncat II Peralihan Tenggelam

    Moch. Ihsan Rahmatulloh

    2411121040

    Perhitungan dilanjutkan dalam bentuk tabel :

         

    Loncat I

    Loncat II

    Peralihan

    Tenggelam

    Tenggelam

    ΔH

    Q

     

    I

     

    II

    No.

     

    (cm)

     

    (cm)

     

    (cm)

    (cm)

    (cm)

    (cm

    (cm 3 /det)

    He 1

    He 2

    He 1

    He 2

    He 1

    He 2

    He 1

    He 2

    He 1

    He 2

    Hg)

    1

    0,5

    1383,42517

    1,8

    -14,8

    1,8

    -12,1

    1,8

    -9,6

    1,8

    -7,6

    1,8

    -5,2

    2

    1

    1956,45864

    2,6

    -13,6

    2,6

    -11,6

    2,6

    -9,1

    2,6

    -6,8

    2,6

    -4,3

    3

    1,2

    2143,19306

    2,9

    -13,6

    2,9

    -11,1

    2,9

    -9,1

    2,9

    -6,1

    2,9

    -4,1

    4

    1,5

    2396,16269

    2,6

    -13,6

    2,6

    -11,6

    2,6

    -9,2

    2,6

    -7

    2,6

    -4,1

    5

    2

    2766,85034

    2,6

    -13,6

    2,6

    -11,3

    2,6

    -9,2

    2,6

    -6,6

    2,6

    -4

    Keterangan :

     

    He 1 = Muka air di hulu He 2 = Muka air di udik

    • 4. Perhitungan antara He/Hd dengan C/Cd

    He/Hd

    C/Cd

    1,8

    0,409078

    2,6

    0,33325

    2,9

    0,309901

    2,6

    0,408146

    2,6

    0,471286

    ( h i d r a u l i k a )

    A m b a n g

    L e b a r

    Page 9
    Page 9
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 2.10 PENGGAMBARAN GRAFIK Hubungan He Vs He HUBUNGAN He Vs He He

    Moch. Ihsan Rahmatulloh

    2411121040

    • 2.10 PENGGAMBARAN GRAFIK

    Hubungan He 1 Vs He 2

    HUBUNGAN He 1 Vs He 2

    He 1

    loncat 1 -14.8 -13.6 -13.6 -13.6 -13.6 tenggelam 1 tenggelam 2 peralihan loncat 2 16
    loncat 1
    -14.8
    -13.6
    -13.6
    -13.6
    -13.6
    tenggelam 1
    tenggelam 2
    peralihan
    loncat 2
    16
    0
    2
    4
    6
    8
    10
    12
    14

    He 2

    Hubungan He 1 dengan C

    He1 Vs C 3.5 2.9 3 2.6 2.6 2.6 2.5 y = -0,0143x + 3,4421 dengan
    He1 Vs C
    3.5
    2.9
    3
    2.6
    2.6
    2.6
    2.5
    y = -0,0143x + 3,4421
    dengan Hd=1,
    maka Cd didapat 170,776
    1.8
    2
    He1 Vs C
    1.5
    Linear (He1 Vs C)
    1
    0.5
    0
    0
    20
    40
    60
    80
    100
    C
    A m b a n g
    L e b a r
    ( h i d r a u l i k a )
    Page 10
    He1
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 Hubungan Q dengan C hubungan Q Vs C 0 90 80 70

    Moch. Ihsan Rahmatulloh

    2411121040

    Hubungan Q dengan C

    hubungan Q Vs C

    0 90 80 70 60 50 C 40 30 20 10 2766.85034 2143.19306 2396.16269 1956.45864 1383.42517
    0
    90
    80
    70
    60
    50
    C
    40
    30
    20
    10
    2766.85034
    2143.19306
    2396.16269
    1956.45864
    1383.42517

    Series 1

    Q

    Hubungan He 1 dengan Q

    He1 Vs Q 3.5 3 2.5 2 1.5 He1 Vs Q 1 0.5 0 1383.42517 1956.45864
    He1 Vs Q
    3.5
    3
    2.5
    2
    1.5
    He1 Vs Q
    1
    0.5
    0
    1383.42517
    1956.45864
    2143.19306
    2396.16269
    2766.85034
    Q
    He1

    ( h i d r a u l i k a )

    A m b a n g

    L e b a r

    Page 11
    Page 11
    Moch. Ihsan Rahmatulloh 2411121040 Hubungan H/Hd dengan C/Cd C/Cd Vs H/Hd 0.35 1.8 2.9 2.6 2.6

    Moch. Ihsan Rahmatulloh

    2411121040

    Hubungan H/Hd dengan C/Cd

    C/Cd Vs H/Hd

    0.35 1.8 2.9 2.6 2.6 2.6 C/Cd 0.15 0.25 0.05 0.45 0.4 0.1 0.2 0.5 0.3
    0.35
    1.8
    2.9
    2.6
    2.6
    2.6
    C/Cd
    0.15
    0.25
    0.05
    0.45
    0.4
    0.1
    0.2
    0.5
    0.3
    0

    He1 Vs Q

    H/Hd

    ( h i d r a u l i k a )

    A m b a n g

    L e b a r

    Page 12
    Page 12