Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat Rahmat dan Hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Fisiologi yang berjudul Laporan Praktikum Fisiologi Blok Sistem Tubuh III Indera Rasa Kulit tanpa suatu kendala yang berarti. Laporan Praktikum ini saya buat sebagai salah satu sarana untuk lebih mendalami materi tentang Indera Rasa Kulit. Kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa, untuk itu saya mohon maaf apabila dalam laporan ini masih terdapat kesalahan baik dalam isi ataupun sistematika. Saya juga berharap laporan praktikum ini dapat bermanfaat untuk pendalaman materi pada Blok Sistem Tubuh III ini.

Jember, 20 Desember 2012

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ............................................................................................... Daftar isi ......................................................................................................... BAB I. INDERA RASA KULIT 1.1 Landasan Teori........................................................................... BAB II. HASIL PERCOBAAN 2.1 Rasa Panas dan Dingin ....................................................... ....... 2.2 Reaksi - Reaksi di Kulit ............................................................. 2.3 Neosensibilitas Lokalisasi Rasa Tekan ...................................... 2.4 Neosensibilitas Diskriminasi Rasa Tekan Dua Titik Simultan .. 2.5 Diskriminasi Kekuatan Rangsangan Hukum Weber-Fechner ... 2.6 Kemampuan Diskriminasi Kekasaran ........................................ 2.7 Kemampuan Diskriminasi Ukuran ............................................ 2.8 Kemampuan Diskriminasi Bentuk ............................................. BAB III. PEMBAHASAN 3.1 Paleo-sensibilities ...................................................................... 3.2 Neo-sensibilities ........................................................................ BAB IV. PENUTUP 4.1 Kesimpulan ................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

1 2

9 9 11 11 12 13 13 13

14 15

17 18

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Dasar Teori Pada kulit kita terdapat beberapa jenis reseptor rasa. Mekanisme sensoris pada reseptor-reseptor tersebut dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan philogenesis, jalur-jalur syaraf spinal, dan daerah korteks serebri tempat mekanisme ini diintergrasikan. Golongan pertama, yakni paleo-sensibilities, meliputi rasa-rasa primitif atau rasa-rasa vital, antara lain rasa raba, rasa tekan, nyeri, dingin, dan panas. Syaraf-syaraf afferen dari rasa-rasa ini bersinap dengan interneuroninterneuron yang bersinap lagi dengan motor-motor neuron dari medulla spinalis dan juga dengan thalamus dan korteks cerebri melalui

traktusspinotalamus. Indra somatik dapat digolongkan menjadi tiga jenis fisiologis yaitu indera somatik mekanoreseptor yang dirangsang oleh pemindahan mekanisme sejumlah jaringan tubuh, indera termoreseptor yang mendeteksi panas dan dingin, dan indera nyeri yang digiatkan oleh faktor apa saja yang merusak jaringan. Golongan kedua, yakni gnostic atau neo-sensibilities yang meliputi rasarasa yang sangat diferensiasikan, antara lain sensasi rada yang membutuhkan rangsangan dengan derajat lokalisasi tinggi, sensasi getaran, sensasi posisi tubuh, sensasi tekan yang berkaitan dengan derajat penentuan intensitas tekanan. Syaraf-syaraf afferen dari rasa-rasa ini mengahantarkan impulsimpuls yang terutama dialirkan melalui traktus dorso-spinal sensoris di dalam korteks serebri setelah diintergrasikan seperlunya. Temperatur reseptor / thermoreseptor merupakan free nerve ending yang terletak pada dermis,otot skeletal, liver, hipotalamus. Reseptor dingin tiga/ empat kali lebih banyak daripada reseptorpanas. Tidak ada strukur yang membedakan reseptor dingin dan panas.Sensasi temperature diteruskan pada jalur yang sama dengan sensasi nyeri. Mereka dikirim keformation

retikularis, thalamus dan korteks primer sensoris. Thermoreseptor merupakan phasicreseptor, aktif bila temperature berubah, tetapi cepat beradaptasi menjadi temperature yangstabil. Reseptor nyeri / nosiseptor terletak pada daerah superficial kulit, kapsul sendi, dalam periostestulang sekitar dinding pembuluh darah. Jaringan dalam dan organ visceral mempunyaibeberapa nosiseptor. Reseptor nyeri merupakan free nerve ending dengan daerah reseptifyang luas, sebagai hasilnya sering kali sulit membedakan sumber rasa nyeri yang

tepat.Nosiseptor sensitive terhadap temperature yang ekstrim, kerusakan mekanis dan kimiaseperti mediator kimia yang dilepaskan sel yang rusak. Bagaimanapun juga rangsangan yangkuat akan diterima oleh ketiga tipe reseptor. Untuk itu lah kita bisa merasakan sensasi rasa nyeriyang disebabkan oleh asam, panas, luka yang dalam. bila Rangsangan pada segmen akson

dendrite dinosiseptor

menimbulkan depolarisasi,

mencapai batas ambang danterjadi potensial aksi di susunan saraf pusat. Temperatur reseptor / thermoreseptor merupakan free nerve ending yang terletak padadermis, otot skeletal, liver, hipotalamus. Reseptor dingin tiga / empat kali lebih banyakdaripada reseptor panas. Tidak ada strukur yang membedakan reseptor dingin dan panas.Sensasi temperature diteruskan pada jalur yang sama dengan sensasi nyeri. Mereka dikirimke formation retikularis, thalamus dan korteks primer sensoris. Thermoreseptor

merupakanphasic reseptor, aktif bila temperature berubah, tetapi cepat beradaptasi menjadi temperatureyang stabil. Mechanoreseptor sangat sensitif terhadap rangsangan yang terjadi pada membrane sel.Membran sel memiliki regulasi mekanis ion channel dimana bisa terbuka ataupun tertutup bilaada respon terhadap tegangan, tekanan dan yang bisa menimbulkan kelainan padamembrane. Terdapat tiga jenis mechanoreseptor antara lain :

a) Tactile reseptor memberikan sensasi sentuhan, tekanan dan getaran. Sensasi sentuhanmemberikan inforamsi tentang bentuk atau tekstur, dimana tekanan memberikan sensasiderajat kelainan mekanis. Sensasi getaran memberikan sensasi denyutan / debaran. b) Baroreseptor untuk mendeteksi adanya perubahan tekanan pada dinding pembuluhdarah dan pada tractus digestivus, urinarius dan system reproduksi. c) Proprioseptor untuk memonitor posisi sendi dan otot, hal ini merupakan struktur danfungsi yang kompleks pada reseptor sensoris.

Spesialisasi pada neuron Chemoreseptor dapat dideteksi dari perubahan kecil dari konsentrasi kimia. Umumnya chemoreseptor berespon terhadap substansi water-soluble danlipid soluble yang larut dalam

cairan.Chemoreseptor tidak mengirim informasi pada korteks primer sensoris, jadi kita tidak tahuadanya sensasi yang diberikan kepada reseptor tersebut. Saat informasi datang laluditeruskan menuju batang otak yang merupakan pusat otonomik yang mengatur pusatrespirasi dan fungsi cardiovascular. Reflek mempunyai waktu reaksi yang terukur, waktu yang dibutuhkan dari saat perangsangansampai timbulnya respon tersebut disebut waktu refelks. Respon dari aksi reflex yang sederhanaakan lebih cepat ketimbang respons dari aksi reflex yang kompleks. Waktu reaksi dipengaruhioleh intensitas rangsangan dan kompleksitas aksi reflex. Pada umumnya makin kuat intensitasrangsangan maka waktu reaksi makin pendek sedangkan makin komleks aksi reflex maka waktureaksi makin lama. Reseptor taktil adalah Mekanoreseptor, Mekanoreseptor berespons terhadap perubahanbentuk dan penekanan fisik dengan mengalami

depolarisasi dan menghasilkan potensial aksi.Apabila depolarisasinya cukup besar, maka serat saraf yang melekat ke reseptor akanmelepaskan potensial aksi dan menyalurkan informasi ke korda spinalis dan otak. Reseptor

taktilyang berbeda memiliki kepekaan dan kecepatan mengirim impuls yang berbeda pula.Kemampuan membedakan rangsangan kulit oleh satu ujung benda dari dua ujung disebutdiskriminasi dua titik. Tubuh bervariasi dalam kemampuan membedakan dua titik pada tingkatderajat pemisaha bervariasi. Normalnya dua titik terpisah 2-4mm. Dapat dibedakan pada ujung jari tangan, 30-40 mm dapat dibedakan pada dorsum pedis. Sensasi taktil dibawa ke korda-spinalis oleh satu dari tiga jenis neuron sensorik, yaitu : serat tipe A beta yang besar, serat tipe A deltayang kecil, dan serat tipe C yang paling kecil. Kedua jenis serat tipe A mengandungmielin danmenyalurkan potensial aksi dengan sangat cepat; semakin besar serat semakin cepattransmisinya dibanding serat yang lebih kecil. Informasi taktil yang dibawa dalam serat Abiasanya terlokalisasi baik. Serat C yang tidak mengandung mielin dan menyalurkan potensialaksi kekorda-spinalis jauh lebih lambat daripada serat A. Hampir semua informasi mengenaisentuhan, tekanan, dan getaran masuk kekorda spinalis melalui akar dorsal saraf spinal yangsesuai. Setelah bersinap di spina, informasi dengan lokalisasi dibawa oleh serat-serat A

yangmelepaskan potensial aksi dengan cepat (beta dan delta) di kirim ke otak melalui sistemlemniskus kolumna dorsalis . Serat-serat saraf dalam sisitem ini menyebrang dari kiri ke kanan dibatang otak sebelum bersinaps ditalamus . Informasi mengenai suhu dan sentuhan yanglokalisasi kurang baik di bawa ke korda spinalis melalui serat-serat C yang melepaskan potensialaksi secara lambat. Info tersebut dikirim ke daerahretikularis di batang otak dan kemudian kepusat-pusat yang lebih tinggi melalui serat di

sistemanterolateral . Indera raba (taktil): reseptor taktil adalah alat indera yang paling luas, terletak diseluruhpermukaan kulit dan beberapa selaput lendir. Ada dua fungsi penting yaitu untuk survival; denganmengidentifikasi sentuhan ringan secara umum, temperatur, dan rasa nyeri. Sedangkan fungsidiskriminasi yang berkembang kemudian, penting untuk mengenal tekstur, bentuk, lokasi akuratdari suatu sentuhan dan berperan penting dalam perkembangan persepsi tubuh, keterampilanmotorik halus dan praksis.Reseptor indera taktil terletak
6

pada kulit dan beberapa lokasi selaput lendir. Inderataktil memberikan informasi tentang kualitas benda-benda yang diraba (keras, halus, dsb), arahgerak dari input taktil dan lokasi dari input tersebut (= fungsi diskriminatif). Selain itu system taktil juga menerima rasa raba halus, nyeri dan temperatur (=fungsi protektif).Reseptor taktil, terdapat paling sedikit 6 jenis reseptor, tapi sebenrnya masih banyak reseptortaktil yang serupa. 1. Beberapa ujung saraf bebas, yang terdapat di jumpai di semua bagian kulit dan jaringan- jaringan lain,dapat mendeteksi rabaan dan tekanan. 2. Reseptor raba dengan sensitivitas khusus,yakni badan meisner,

yang meupakan juluran sarafbermeilin dari sensorik besar meilin jenis (A&B). Reseptor ini terutama peka terhadappergerakkan objek di atas permukaan kulit seperti juga terhadap getaran berfrekuensirendah. 3. Ujung jari dan daerah-daerah lainnya yang mengandung banyak sekali badan meissnerbiasanya juga mengandung reseptor taktil yang ujung nya meluas, yang salah satu jenisnyadiskus Merkel. Berperan penting dalam melokalisasi sensasi raba di daerah permukaan tubuhyang spesifik dan menentukan bentuk apa yang dirasakan. 4. Pergerakkan sedikit saja pada setiap rambut tubuh

akan merangsang serabut saraf yangpangkalnya melilit. Jadi setiap rambut, dan bagian dasar serabut saraf yang disebut organujung rambut. Reseptor ini dapat mendeteksi, pergerakkan objek pada permukaan tubuh ataukontak awal dengan tubuh. 5. Ruffini reseptor ini berguna untuk menjalarkan sinyal perubahan bentuk jaringan yang terus-menerus, misalnya sinyal raba dan tekan yang besar dan berkepanjangan. 6. Badan paccini. Reseptor ini hanya dapat dirangsang oleh penekanan lokal jaringan yangcepat karena reseptor ini beradaptasi dalam waktu sepersekian detik.

Kemampuan panca indra untuk membedakan keberadaan 2 titik yang mendapat rangsangansangat dipengaruhi oleh mekanismeinhibisi lateralyang meningkatkan derajat kontras padapola spasial yang disadari.Setiap jaras sensorik bila dirangsang, secara simultan akan menghasilkan sinyal inhibitoriklateral; sinyal ini menyebar ke sisi sinyal eksitatorik dan menghambat neuron yang berdekatan.Sebagai contoh, ingat lah neuron yang dirangsang di nukleus kolumna dorsalis. Selain dari pusatsinyal eksitatorik, jaras lateral pendek juga menjalarkan sinyal inhibitorik ke neuron di sekitarnya.Jadi, sinyal ini lewat melelui interneuron tambahan yang mensekresi transmitter inhibitorik.Pentingnya inhibisi lateral adalah bahwa inhibisi ini menghambat penyebaran sinyal eksitatorik kelateral sehingga meningkatkan derajat kontras dalam pola sensorik yang dirasakan di korteksserebralis.

BAB II HASIL PERCOBAAN 2.1 Rasa Panas dan Dingin 2.1.1 Jari Tangan
Lokasi Kanan (dingin) Kiri (panas) Uraian rasa Dingin, nyeri, kaku Panas, tidak nyeri, sakit, tidak kaku Kanan-kiri (normal) Ka = Hangat, nyeri hlng ki = nyeri, kaku

2.1.2

Punggung Tangan
Lokasi Kondisi kering Basahi alkohol Olesi alkohol Uraian rasa Dingin Lebih Dingin Semakin dingin

2.2 Reaksi-reaksi di Kulit Telapak tangan Lengan bawah

Kuduk

Pipi

Keterangan : Nyeri : merah Tekan : biru Suhu dingin : hijau Suhu panas : coklat Jumlah Reseptor Rasa-rasa Kulit No Perlakuan Telapak Lengan tangan 1 2 3 4 Nyeri Tekan Suhu dingin Suhu panas 6 2 6 2 bawah 5 6 5 5 5 4 7 3 6 5 2 7 Kuduk Pipi

10

2.3 Neosensibilitas Lokalisasi Rasa Tekan


Lokasi Ujung Jari Telapak Tangan Lengan Bawah Lengan Atas Pipi Kuduk Taruh Titik Tekan dan Tunjuk I II III Rerata 0 3 5 8/3 0 10 5 5 1 7 10 18/3 0 18 7 8,3 4 8 10 22/3 1 2 1 4/3

2.4 Neosensibilitas Diskriminasi Rasa Tekan Dua Titik Simultan


N o 1 2 3 4 5 6 7 8 Dari kecil ke besar Jarak dua titik (mm) Rerata I II II 22 13 14 16,33 30 25 23 26 10 10 8 9,33 15 10 13 12,6 15 20 10 15 8 6 8 7,35 5 6 3 4,6 10 12 12 11,3 Dari besar ke kecil Jarak dua titik (mm) Rerata I II III 15 5 7 9 11 9 6 8,6 10 20 20 16.6 8 10 15 11 12 23 13 16 2 4 2 2,67 1 2 2 1,7 9 8 13 10

Perlakuan
Telapak Tangan Lengan Bawah Lengan Atas Pipi Kuduk Bibir Lidah Depan Telinga

B. Deskriminasi Rasa Tekan Dua Titik Berurutan


N o 1 2 3 4 5 6 7 8 Dari kecil ke besar Jarak dua titik (mm) Rerata I II II 19 15 18 17,33 25 30 23 26 55 45 40 46,6 12 18 18 16 15 23 25 21 4 8 3 5 5 6 3 4,6 32 26 30 29,33 Dari besar ke kecil Jarak dua titik (mm) Rerata I II III 7 11 14 10,66 14 24 20 19,33 27 15 15 19 7 10 16 12 25 20 17 23,6 2 4 2 2,67 1 2 2 1,7 12 7 9 9,3

Perlakuan
Telapak Tangan Lengan Bawah Lengan Atas Pipi Kuduk Bibir Lidah Depan Telinga

11

2.5 Diskriminasi Kekuatan Rangsangan Hukum Weber-Fechner

no.

Beban Awal (g) I

Ulangan (mm) II 12 25 30 170 150 III 10 9 120 100 170

Rerata

1 beban awal 5 g 2 beban awal 10 g 3 beban awal 50 g 4 beban awal 100 g 5 beban awal 200 g

15 20 30 100 100

12,3 18 60 123,3 140

Hubungan antara beban awal terhadap beban yang dirasakan


140 120 100 80 60 40 20 0 0 50 100 150 200

Bagaimana bunyi hukum Weber-Fechner? Kemampuan untuk membedakan kekuatan rangsang rasa-rasa, pada umumnya tidak tergantung pada kekuatan mutlak dari rangsangan tersebut, tetapi pada perbedaan relatifnya Sesuaikah hukum ini dengan hasil percobaan? Sesuai, karena menurut hukum tersebut didapatkan bahwa sebuah rangsang yang didapatkan akan lebih rendah daripada stimulus yang diberikan sehingga beban akan terasa lebih ringan dari beban asalnya.

12

2.6 Kemampuan Diskriminasi Kekasaran


N o 1 2 3 4 Kekasaran Kertas Gosok 0 1 2 3 Jari Tangan Ulangan I II III + + + + + + + Telapak Tangan Ulangan I II III + + + + + + Lengan Bawah Ulangan I II III + + + + + + + + Kuduk Ulangan I II + + + +

III +

2.7 Kemampuan Diskriminasi Ukuran


N o 1 2 3 4 Ukuran Jari Tangan Ulangan I II + + + + + + Telapak Tangan Ulangan I II III + + + + + + + + Lengan Bawah Ulangan I II III + + + + + + + Kuduk Ulangan I II + + +

1 2 3 4

III + + +

III + + -

2.8 Kemampuan Diskriminasi Bentuk


No Bentuk Jari tangan Ulangan I II + + + + + + + + Telapak Tangan Ulangan I II III + + + + + + + + + + + + Lengan Bawah Ulangan I II III + + + + + + + + + + Kuduk Ulangan I II + + + + + + + +

1 2 3 4

balok Kubus Limas Bulat

III + + + +

III + + + +

13

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Paleo-sensibilities Percobaan untuk mendeteksi rasa panas dan dingin dilakukan dengan memasukkan telunjuk kedalam air es (50C), air panas (400C), dan air dengan suhu kamar (300C). Jari telunjuk yang dimasukkan kedalam air se lalu dimasukkan ke dalam air dengan suhu kamar (300C) terasa lebih hangan, sedangkan jari telunjuk yang dimasukkan ke dalam air panas (400C) terasa lebih dingin saat dimasukkan ke dalam air dengan suhu kamar (300C). Hal ini disebabkan karena adanya perbandingan atau perbedaan relatif indera rasa kita saat merasakan panas dingin, bukan kekuatan mutlak dari suhu suatu benda. Pada percobaan meniup punggung tangan, orang coba merasa dingin karena terjadi penguapan pada permukaan punggung tangan dengan mengambil panas dari kulit. Saat punggung tangan dibasahi oleh air kemudian ditiup, air akan menyerap kalor untuk menguap, tetapi proses penguapan air lebih lama dibandingkan dengan proses penguapan alkohol. Maka dari itu, saat orang coba mengoleskan alkohol terlebih dahulu, tiupan akan terasa lebih dingin dibanding saaat diberi air. Hal ini disebabkan karena titik penguapan alkohol lebih rendah dari air sehingga mengambil kalor lebih banyak dari permukaan kulit dan orang coba merasa lebih dingin. Pada percobaan dengan alkohol pada kulit, mula-mula timbul rasa dingin lalu disusul rasa panas. Rasa dingin ini disebabkan oleh penguapan alkohol, tetapi karena proses penguapan alkohol berlangsung cepat, maka lamakelamaan alkohol menguap habis dan suhu permukaan kulit kembali normal. Saat permukaan kulit kembali ke suhu normal, orang coba merasakan panas karena kulit mengalami kenaikan suhu.

14

Dari hasil percobaan tersebut dapat disimpulkan, bila suatu rangsang tetap diberikan secara terus menerus pada suatu reseptor, frekuensi potensial aksi di saraf sensorik lama-kelamaan akan menurun. Hal ini yang dinamakan adaptasi. Dengan adanya proses adaptasi pada tubuh seseorang, rasa panas yang dirasakan pada percobaan meniup punggung tangan dengan

mengoleskan alkohol sebelumnya akan hilang dan tidak berlangsung terusmenerus. 3.2 Neo-sensibilities Dari percobaan yang telah dilakukan, dibuktikan bahwa tubuh memiliki tingkat kepekatan yang berbeda-beda pada tiap bagiannya. Hal ini disebabkan kepadatan titik-titikreseptor di setiap bagian kulit tidaklah sama. Pada hasil percobaan kami, dapat dilihat bahwa daerah yang memiliki kepekatan paling tinggi adalah pipi, diikuti dengan kuduk, lengan bawah, dan telapak tangan. Pada pemberian rangasangan dingin, lengan bawah terdapat 21 titik reseptor, dengan kata lain rangsangan dingin paling dirasakan oleh lengan bawah pada percobaan ini. Pada pemberian rangsangan panas, kuduk memiliki titik reseptor rasa panas yang lebih banyak. Sedangkan pada pemberian rangsangan nyeri, pipi dan telapak tangan lebih terasa. Pada semua pemberian rangsangan tersebut juga dirasakan rasa tekan. Reseptor dingin dan reseptor hangat terletak tepat di bawah kulit, yakni pada titik-titik yang berbeda dan terpisah-pisah, dengan diameter perangsangan kira-kira 1mm. Pada sebagian besar daerah tubuh jumlah reseptor bervariasi, 3-5 titik dingin pada jari-jari, dan kurang bdari satu titik dingin persentimeter persegi pada daerah permukaan dada yang luas. Sedangkan jumlah titik hangatnya lebih sedikit. Alat indera untuk nyeri adalah ujung saraf telanjang yang terdapat di hampir semua jaringan tubuh. Rangsangan raba, tekan, dan getaran dideteksi oleh jenis reseptor yang sama. Satu-satunya perbedaan dari ketiga jenis sensasi ini adalah sensasi raba umumnya disebabkan oleh perangsang reseptor taktil di dalam kulit, sensasi

15

tekanan biasanya disebabkan oleh perubahan bentuk jaringan yang lebih dalam, dan sensasi getaran disebabkan oleh isyarat sensoris yang berulang dengan cepat, tetapi menggunakan beberapa jenis reseptor yang sama seperti yang digunakan untuk raba dan tekanan, terutama jenis reseptor yang cepat beradaptasi. Reseptor taktil terdapat di beberapa ujung saraf bebas yang dapat ditemukan di dalam kulit dan di dalam banyak jaringan lain serta dapat mendeteksi raba dan tekanan. Reseptor raba dengan kepekata khusus adalah korpuskulus Meissner, suatu ujung saraf berkapsul yang merangsang serabut saraf sensoris besar bermielin. Reseptor ini terutama banyak di dalam ujung jari, bibir, dan daerah kulit lain, tempat kemampuan seseorang untuk membedakan sifat-sifat ruang dari sensasi raba sangat berkembang. Reseptorreseptor ini terutama bertanggung jawab bagi kemampuan untuk mengenali dengan tepat letak tubuh bagian mana yang disentuh dan untuk mengenali tekstur benda yang diraba. Guyton menyebutkan golongan paleo-sensibilities dengan golongan sistem anterolateral. Sedangkan untuk golongan noe-sensibilities, guyton menyebut dengan golongan sistem kolumna dorsalis-lemnikus medialis. Sistem anterolateral atau paleo-sensobilities mempunyai kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh sistem dorsalis, yaitu kemampuan untuk menjalarkan modalitas sensasi yang sanfat luas.

16

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Mekanisme sensoris di kulit dibedakan menjadi dua macam berdasarkan pilogenesisnya, yaitu paleosensibilitas dan neosensibilitas. Setiap bagian tubuh memiliki sensibilitas dan diskriminasi yang berbeda terhadap setiap rangsangan.

17

DAFTAR PUSTAKA

Ganong,F.William. 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran ed.20. Jakarta:EGC Kimball,John W.1990.Biologi jilid 1. Jakarta:Gramedia Sloane, Ethel. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC

18