Anda di halaman 1dari 152

SAN PEK ENG TAY

Romantika Emansipasi Seorang Perempuan Diceritakan kembali oleh: OKT

KATA PENGANTAR
San Pek Eng Tay adalah cerita rakyat dari Tiongkok yang mengisahkan suatu episode kehidupan seorang pemudi intelektual bernama Ciok Eng Tay (disingkat, Eng Tay) dan seorang pemuda terpelajar bernama io !an "ek (disingkat, !an "ek) yang hidup di abad ke#$ %asehi& !eperti la'imnya cerita#cerita rakyat, kisah ini adalah anonim dan mempunyai beberapa (ersi& )ersi yang umum kenal adalah yang menampilkan citra yang telah terbalik itu& !ebagaimana anggapan umum dan saya juga, ia melukiskan hubungan percintaan antara Eng Tay dan !an "ek yang berakhir dengan kematian mereka yang sangat menyedihkan& *ingkasan ceritanya adalah sebagai berikut& Eng Tay, yang menyamar sebagai seorang lelaki agar dapat bersekolah di rantau, ternyata jatuh cinta pada !an "ek, teman sekolah dan bahkan teman sekamarnya di asrama& !an "ek yang pada mulanya menyayangi Eng Tay sebagai adik angkatnya yang dikenalnya sebagai seorang lelaki, membalas cinta Eng Tay ketika mengetahui bah+a Eng Tay sebenarnyalah seorang perempuan& Tetapi perjalanan cinta mereka tak dapat berlanjut hingga perka+inan karena orang tua Eng Tay telah menjodohkan anaknya itu dengan %a ,un Cay, putra seorang pembesar yang kaya#raya, dan memaksakan perka+inan itu& !an "ek pun patah#hati, jatuh sakit, lalu mati& amun Eng Tay menolak perka+inan tersebut dan tetap setia pada !an "ek& %aka dalam perjalanan menuju rumah mempelai lelaki (%a ,un Cay), Eng Tay men'iarahi kuburan !an "ek& Di tengah#tengah ratap tangis dan pernyataan kesetiaan Eng Tay di hadapan kuburan !an "ek, terjadilah keajaiban, kuburan itu merekah& Dan tanpa tedeng aling#aling lagi Eng Tay terjun ke dalamnya menyusul sang kekasih& ,elakangan dari kuburan mereka sering beterbangan sepasang kupu#kupu& Demikianlah, citra kisah San Pek Eng Tay, yang tertanam pada banyak orang dan juga pada diri saya adalah kisah percintaan yang tragis, atau kisah pasangan yang abadi, atau kisah seorang perempuan yang setia& !ehingga pada mulanya, ketika OKT, seorang penerjemah sastra Cina-Tiongkok sejak tahun ./01#an, mengajukan usul kepada saya untuk penerbitan San Pek Eng Tay (ersi sadurannya, yang katanya merupakan karya terjemahannya yang terakhir, terus terang saja saya kurang tertarik& "ada +aktu itu di benak saya timbul penolakan: 23pakah gunanya menerbitkan kisah ini4 ,ukankah ia hanyalah sebuah kisah percintaan, suatu tema yang sudah banyak dibuat orang, lagi pula ia telah

pernah disadur ke bahasa 5ndonesia46 Tak dapat dipungkiri bah+a San Pek Eng Tay #sering disebut Sam (sic) Pek Eng Tay- merupakan salah satu karya sastra Cina yang populer di tanah air kita untuk masa yang panjang, lebih dari satu abad& !ejak saduran ,oen !ing 7oo berjudul Tjerita Dahoeloe Kala di Negeri Tjina, Terpoengot dari Tjeritaan oekoe !enjanjian Tjina Sam Pik "ng Taij terbit di tahun .889, hingga sekarang telah ada tidak kurang dari .1 judul buku serupa& ,ahkan sebagian di antaranya, termasuk saduran ,oen !ing 7oo itu, mengalami cetak ulang beberapa kali&. Kisah ini pun
. :ihat

#la$dine Salmon, %iterat$e in !alay &y the #hinese o' "ndonesia( ) Pro*isional )nnotaled i&liography, "aris: 3rchipel& ./8., pada judul +%iang Shan&o ,$ -h$ ,ing Tay,. hlm/ 012-013/

pernah di;ilmkan dan kerap dipentaskan& Kepopulerannya tidak terbatas pada kalangan orang#orang etnis Cina saja, tetapi juga meresap sampai ke kalangan orang#orang bumiputera, khususnya orang#orang etnis <a+a, ,eta+i dan ,ali& 7al ini terbukti dari pengakulturasian kisah ini dalam ludruk dan ketoprak di <a+a, lenong di <akarta dan sekitarnya, drama tari 3rya dan tembang %acapat di ,ali& ,elakangan ini, di tahun ./8/ kisah ini juga dikasetkan oleh grup la+ak <ayakarta& Dan yang paling ramai diliput oleh media massa dan banyak ditonton orang adalah pergelaran drama San Pek Eng Tay (ersi & *iantiarno oleh Teater Koma, yang berlangsung selama .8 hari dalam bulan 3gustus#!eptember ./88 di =edung Kesenian <akarta&0 !ementara pementasan ulang di %edan pada tanggal 01#0. %ei ./8/, yang tidak jadi dipagelarkan karena dilarang oleh pejabat setempat, konon karciskarcisnya habis terjual&> Tetapi dalam kepopularitasannya, San Pek Eng Tay dicitrakan sebagai sekadar sebuah kisah percintaan atau kisah +anita yang setia, seperti halnya 4omeo 5 6$lie, %ayonsari dan 6ayaprana, atau 4oro !end$t dan Pronocitro/ ,eberapa subjudul saduran San Pek Eng Tay yang lain memang menegaskan citra ini& %isalnya, subjudul saduran The T(in) :(am) berbunyi +Tjerita doeloe kala di Negrie Tjina sa-orang lelakie njang terindoe pada sa-orang perempoean sampe djadi matinja.7 saduran <o Tjim =oan bersubjudul 2&&& satoe kor&an dari pertjintaan///.7 subjudul saduran Oei !oei Tiong adalah 2&&& katjintaan dari hidoep sampe mati,///.7 :ie Tek :ong memberi subjudul, 2&&&, satoe katjintaan jang soetji dari hidoep sampe mati,6? dan subjudul saduran !iloeman %engok berbunyi, +///sepasang merpati jang tiada &erdjodo.0& Kemudian, pada tahun ./9@ "rijana memasukkan kisah ini sebagai salah satu dari Empat D$kacarita Percintaan di negeri asalnya, bahkan setelah lahirnya *epublik *akyat Cina di tahun ./$/, yang konon sangat mendorong emansipasi kaum +anita, citranya begitu juga& "aling tidak, pada tahun ./9$, **C telah menerbitkan cerita bergambar %iang Shan o ,$ -h$ ,ing Tay sebagai sebuah kisah percintaan& Dari Kisah Cinta Menjadi Romantika Emansipasi Seorang Perempuan !elanjutnya, tatkala mengomentari pementasan San Pek

Eng Tay (ersi & *iantiarno, OKT menyatakan bah+a ada beberapa hal yang tidak ia sukai dalam (ersi itu& "ertama, sama dengan (ersi ,oen !in 7oo, *iantiarno menggambarkan bah+a Eng Tay membuka pakaiannya untuk menyadarkan !an "ek bah+a dirinya adalah perempuan& 7al ini, menurut pendapatnya, merendahkan martabat tokoh Eng Tay yang luhur& Dan kedua, !an "ek ditampilkan bertaucang atau berbuntut babi (5nggris, pigtail7 io <oe :an menerjemahkannya sebagai 2cacing6)& %enurut OKT dan io <oe :an,9 bagi banyak orang Cina, taucang merupakan simbol penjajahan bangsa Ching (%anchu) atas bangsa Cina yang berlangsung hampir tiga abad lamanya (.@$$#./..), sehingga ketika !un Aat !en dengan "artai Tung %eng 7ui yang didirikannya melancarkan re(olusi untuk menggulingkan kerajaan dinasti Ching dan berhasil mendirikan *epublik Tiongkok di tahun ./.., orang#orang Cina beramai#ramai memotong taucang mereka& <adi memakai atau memotong taucang merupakan hal yang sangat asasi bagi orang Cina di masa itu& Dengan komentar OKT itu saya jadi tertarik karena mulai terungkap mengapa ia, di usianya yang sudah 89 tahun, masih mau menerjemahkan San Pek Eng Tay dari bahasa Cina, suatu pekerjaan yang sudah sangat tidak mudah lagi baginya& %aka naskahnya pun saya baca secara serius& Dan aneh, selesai membaca, kesan saya tentang kisah ini pun berubah sama sekali: San Pek Eng Tay tidak lagi saya pandang sebagai sebuah kisah percintaan semata#mata, tetapi lebih dari itu, merupakan romantika emansipasi seorang peremp$an #ina di a&ad ke0/ !ejak dari a+al hingga akhir cerita, sebenarnyalah Eng Tay adalah seorang pelopor emansipasi +anita di bidang pendidikan dan perka+inan& 5nilah, menurut interpretasi saya, inti kisah ini, sedangkan aspek percintaan antara !an "ek dan Eng Tay adalah hal sekunder& Dengan perubahan citra ini saya jadi bertanya#tanya lebih lanjut: Tidakkah interpretasi saya salah4 Tetapi, beberapa kali saya membaca saduran OKT ini, yang berdasarkan pada (ersi Chang 7en !hui, %iang Shan o ,$ -h$ ,ing Tay, kesan ini tidak berubah& Tetapi kalau saya membaca (ersi saduran ,oen !ing 7oo maupun & *iantiarno, memang kesan yang timbul adalah kisah percintaan yang tragis dan bahkan agak (ulgar& amun bila kita mencari secara seksama inti cerita pada (ersi mereka ini, maka ia sebenarnya juga adalah romantika emansipasi seorang perempuan& :antas, mengapa terjadi pembalikan citra ini sehingga sisi percintaan menjadi yang primer, sedangkan sisi perjuangan emansipasi Eng Tay menjadi sekunder atau bahkan ditenggelamkan4 "adahal sejak a+al hingga akhir cerita, alur kisah ini mengacu pada emansipasi seorang perempuan yang perkasa& Aakni, mulai dari Eng Tay memutuskan untuk menyamar sebagai seorang lelaki selama > tahun agar dapat bersekolah (suatu hal yang tabu bagi kaum perempuan di +aktu itu) demi idealismenya yang tinggi, sampai ketika ia memutuskan

untuk memilih !an "ek, yang dikenal dan dicintainya, sebagai bakal suaminya (adat#istiadat pada masa itu tidak memberikan hak kepada perempuan untuk memilih suaminya, mereka dijodohkan oleh orangtua), dan menolak calon pilihan ayahnya, hingga akhirnya Eng Tay memilih menyatu dengan !an "ek di dalam kuburannya& Dan, bukankah sepasang kupu#kupu yang beterbangan dan hinggap di mana mereka suka, sebagai penutup kisah ini, tidak saja melambangkan sepasang kekasih yang setia, tetapi terlebih lagi, suatu kebebasan atau kemerdekaan, hasil dari perjuangan emansipasi Eng Tay yang sangat berani4 ,ila benar demikian, adakah kesengajaan untuk mendiskreditkan Eng Tay, yang sesungguhnyalah dapat dikategorikan sebagai pelopor emansipasi kaum +anita Cina pada 'amannya4 3taukah ini sekadar kesalahan yang tidak disengaja berhubung interpretasi para pengarang di Tiongkok dan para penyadurnya serta khalayak sasarannya dilakukan dalam konteks bangsa dan negara Cina yang ;eodal4 ,ukankah ini merupakan mani;estasi dominasi ideologi superioritas kaum lelaki atas perempuan yang ;eodalistis di dalam kesusastraan4 3taukah saya telah salah menginterpretasikannya4 !ayang, bukan tempatnya menja+ab soal ini di sini& amun apa pun ja+abannya, saya akhirnya berkesimpulan bah+a karya saduran OKT ini penting untuk diterbitkan& 3gaknya, tragedi terbesar dari San Pek Eng Tay bukanlah tragedi percintaan !an "ek dan Eng Tay, melainkan tragedi pemutarbalikan makna sehingga San Pek Eng Tay tidak dipandang sebagai kisah romantika emansipasi Eng Tay, melainkan sebagai kisah percintaan, pasangan abadi atau perempuan yang setia& Tragedi ini mungkin dapat menjadi topik penelitian yang menarik tentang emansipasi kaum perempuan& San Pek Eng Tay !eoda"isme dan Emansipasi San Pek Eng Tay adalah cerita rakyat sehingga tidaklah heran bila dijumpai banyak (ersinya& "aling tidak, sejak dinasti !ung (/@1 # .0B/), saat mulai berkembangnya ilmu cetak di Cina, sampai runtuhnya dinasti Ching pada tahun ./.., dapat dijumpai .. (ersi chih (catatan sejarah) yang menjadi sumber kisah ini& %enurut catatan#catatan sejarah itu, kisah ini terjadi pada masa pemerintahan raja ,ok Tee, raja kelima dinasti Chin Timur yang memerintah dari tahun >$9#>9B %asehi& Oleh karena kisah ini meliputi +aktu sekitar >#$ tahun saja dalam periode kehidupan Eng Tay dan !an "ek, yaitu sejak Eng Tay berusia sekitar .B hingga 01 atau 0. tahun, dan !an "ek, .8 hingga 0. atau 00 tahun, maka boleh jadi Eng Tay dan !an "ek lahir sebelum masa pemerintahan ,ok Tee& %asa kehidupan mereka masuk dalam 'aman yang oleh pujangga#pujangga Tiongkok disebut sebagai 2'aman yang amat gelap#gulita6 atau 2'aman Enam Dinasti,6 yang berlangsung dari tahun 001 hingga 98/& "ada 'aman itu peperangan dan perebutan kekuasaan terjadi silih berganti& Kerajaan#kerajaan dinasti Cei, Chin, !ung, Chi,

:iang dan ChDen berdiri dan runtuh dalam +aktu singkat& Di saat kisah ini berlangsung, daerah kekuasaan kerajaan Chin telah terbagi dua sebagai akibat serbuan suku Eiung u& !ebelah utara sungai Aang Ce berhasil dikuasai suku ini pada tahun >.B, dan raja dinasti Chin terusir dari ibukotanya, :o Aang, lari ke sebelah selatan sungai serta menjadikan an King sebagai ibukotanya& Dengan demikian Chin ,arat runtuh, dan Chin Timur berdiri, namun ia hanya bertahan sampai tahun $01& Kalau di bidang politik keadaan saat itu penuh dengan FkegelapanD, di bidang kebudayaan ada sedikit titik terang& "ada masa ini sekolah#sekolah telah mulai berkembang +alau terbatas untuk kaum lelaki& Kaum perempuan tidak diperkenankan bersekolah, mereka hanya boleh mendapat pengajaran les di rumah, itu pun hingga tingkat menengah saja (standar +aktu itu)& ,ahkan bila sudah remaja mereka tidak boleh bergaul dengan orang#orang yang bukan muhrimnya& <adi pada hakikatnya, kaum perempuan dipingit& Tetapi +aktu itu teknologi pembuatan kertas juga telah berkembang, sejak ditemukan oleh Tsai :un pada permulaan abad ke#0& Karya#karya penting diterbitkan sehingga sebagian kaum cendekia+an- terpelajar, termasuk !an "ek dan Eng Tay, diduga telah dapat membaca buah#buah pikiran besar seperti yang terekam dalam Ngo Keng (%andarin, Cu Ching, atau F:ima KlasikD), S$ Si (Empat Kitab), Tao Te #hing, dan lain#lain& F:ima KlasikD meliputi: .) Sh$ #hing yakni Kita& Sejarah yang disusun oleh Kong 7u Cu (99. !&%& # $B/ !&%&) yang menurutnya, memuat ucapan#ucapan tertulis dari para raja yang memerintah antara abad ke#0$ !&%& sampai abad ke#8 !&%&? 0) Shih #hing yaitu Kita& Syair susunan Kong 7u Cu yang memuat lagu#lagu dan syair#syair yang konon digubah sejak pemerintahan kaisar Au, 0019 !&%& hingga abad ke#@ !&%&? >) " #hing atau Kita& Per$&ahan, memuat ;ilsa;at moral, sosial dan politik yang diajarkan melalui ramalan oleh kaisar Gu 7si yang hidup sekitar >111 !&%&, dan Kaisar ,un (%andarin, Cen Cang) pendiri dinasti Ciu (%andarin, Chou, .10B !&%& # 00. !&%&) serta komentar Kong 7u Cu terhadap ;ilsa;at itu? $) %i #hi atau Kita& )dat yang disusun oleh dua bersaudara Tai? dan 9) #h$n #hi$ atau #atatan !$sim Semi dan !$sim 8$g$r, karya Kong 7u Cu yang memuat catatan kronologis tentang kejadiankejadian penting di negara :u, antara tahun B00 !&%& hingga $8$ !&%& S$ Si atau FEmpat ,ukuD terdiri dari %$n 8i (%andarin, %$n ,$) yang memuat ucapan#ucapan Kong 7u Cu mengenai berbagai soal? eng #$ (%andarin, !eng T9e) yang memuat pendapat#pendapat ,eng Cu, pendukung ajaran Kong 7u Cu yang besar yang hidup pada tahun >B0 !&%& sampai 08/ !&%&? Tai :ak (%andarin, Ta :s$eh, atau )jaran esar) memuat perbincangan singkat Kong 7u Cu tentang etika politik? dan Tiong ,ong (%andarin, #h$ng ,$ng) buah karya Kong Ci, cucu Kong 7u Cu, yang berusaha memperluas ;aham Kong 7u Cu tentang si;at dan tindakan manusia yang benar&

Tao Te #hing atau Kita& tentang 6alan dan Ke&ajikan merupakan ajaran :ao Cu, pendiri Taoisme yang hidup sekitar abad ke#@ !&%& Di samping karya#karya tersebut di atas, kaum terpelajar +aktu itu diduga juga mengenal syair#syair seperti yang digubah oleh Co "i, putra raja Co Coh, dari dinasti 7an dan kitab#kitab sejarah yang ditulis oleh misalnya keluarga "an, yaitu "an Chao (>0#.10 %&) dan putranya, "an Ku, serta putrinya, "an Ciao tentang dinasti 7an 3+al, atau kitab Nasehat-nasehat $nt$k Ka$m ;anita hasil karya "an Ciao, atau barangkali, Kita& "lm$ Perang (Ping <a) karya !un Tse di abad ke#@ !&%& 3gaknya, Eng Tay dan !an "ek telah mengenal ide#ide besar yang terkandung dalam karya#karya tersebut di atas& Tetapi Eng Tay tidak menelan begitu saja ajaran#ajaran yang diberikan guru#guru besar itu& 5a bersikap kritis dan menginterpretasikannya kembali& ,ahkan tidak berhenti pada ide saja, ia melangkah lebih jauh& 5a memberontak dan mendobrak ide dan adat#istiadat ;eodalistis yang membelenggu kemajuan dirinya dan kaumnya& Dengan keberanian yang luar biasa, ia menyamar sebagai lelaki selama tiga tahun agar dapat bersekolah? dengan kegagahan pula ia memilih !an "ek sebagai suaminya& Dua tabu besar masa itu telah dikoyaknya, dan dengan keceriaan ia terima konsekuensinya yang ;atal yaitu kematian& amun tragedi ini tidak berhenti dengan kematian Eng Tay, sebab roh#semangatnya tetap hidup& !uatu tragedi yang lebih besar harus diciptakan untuk mematikan roh semangat yang dapat membahayakan ;eodalisme Cina yang bersandarkan pada ideologi superioritas kaum lelaki itu& !elama .@ abad ia berhasil memutar#balikkan citra Eng Tay dan seakan#akan mengejek roh Eng Tay: benteng ;eodalisme sangat kukuh Eng Tay, sekukuh Tembok Cina yang dibangun oleh Kaisar Chin !ie 7ong (lahir 09/ !&%&) di atas penderitaan rakyatnya& !udah sejak 'aman purba, ribuan tahun sebelum lahirnya Eng Tay dan !an "ek, orang Cina menganggap derajat kaum perempuan lebih rendah dari kaum lelaki& Thian, Tuhan, Aang %ahakuasa, digambarkan sebagai lelaki& Kaisar dianggap sebagai putra Thian sehingga yang berhak menjadi kaisar adalah lelaki& 3nak lelaki mendapat hak lebih dari anak perempuan& 5a meneruskan margaklen- she ayah dan karenanya disebut pihak FdalamD& 3nak perempuan dianggap sebagai Fpihak luarD karena keturunannya akan menggunakan she suaminya& %aka tak mempunyai anak lelaki dianggap suatu kemalangan, sedangkan tak memiliki anak perempuan merupakan keberuntungan& Kon;usianisme, ;ilsa;at hidup yang diajarkan oleh Kong 7u Cu, menguasai alam pikiran dan tingkah#laku banyak orang dan masyarakat Cina selama masa yang panjang& !ebagai produk 'amannya, ia merupakan ideologi yang mendukung dan melestarikan ;eodalisme& <ejak#jejaknya bahkan masih terlihat hingga abad modern ini +alau sudah banyak berkurang kadarnya& Dalam soal hubungan antara lelaki dan perempuan,

Kon;usianisme menempatkan derajat lelaki lebih tinggi dari perempuan& ,ahkan, di kalangan yang disebut terpelajarH dalam hirarki struktur masyarakat Cina yang ;eodal, kaum terpelajar (Shih), yang meliputi kaum bangsa+an dan kaum birokrat, berada di paling atas, diikuti di ba+ahnya oleh kaum tani (N$ng), lalu kaum tukang- buruh (K$ng) dan yang paling rendah adalah kaum saudagar (Shang)Hkaum perempuan sangat didiskriminasi& Konon di antara beriburibu murid Kong 7u Cu, tak seorang pun +anita& %ereka tidak diperkenankan bersekolah, paling#paling hanya boleh belajar di rumah, karenanya mereka tidak dapat menjadi golongan shih dan dengan demikian tak mungkin menjadi penguasa, kecuali dengan cara yang tidak sah seperti pada kasus pemaisuri :u yang memerintah kerajaan 7an 3+al dari belakang layar sejak tahun .88 !&%& sampai .81 !&%&, atau kaisar perempuan ,oe Tjek Thian (%andarin, Cu T'e Tien) yang mengangkat dirinya menjadi kaisar dan memerintah dari tahun @/1 hingga B19 %&, atau Cu 7ie, seorang ibusuri yang berkuasa sejak tahun .88. sampai dengan tahun ./18 %& Ketika remaja, mereka tidak boleh bergaul dengan bebas, melainkan harus dipingit& Kebisaan mereka dibatasi pada urusan rumah tangga, mengurus anak, rumah, memasak, menyulam dan sekali#sekali bermain musik, kesemuanya dalam rangka mempersiapkan mereka sebagai ibu rumah tangga yang ber;ungsi melayani kaum lelaki& %ereka dilarang memilih sendiri pasangan hidup mereka& <odoh mereka ditentukan oleh orang tua (biasanya ayah), sehingga kerap kali mereka mendapatkan pasangan yang tidak cocok, namun harus patuh menerimanya& 7ak untuk menceraikan hanya ada pada pihak lelaki dan ia boleh berpoligami, serta bersenang#senang dengan perempuan penghibur, sedangkan hal ini terlarang bagi kaum perempuan& !ecara ;isik, mulai dari dinasti Tang (@.8 # /19 %&) perempuan Cina harus mengikat kaki mereka dengan kain agar tetap kecil, sebab kaki yang kecil adalah indah dan disenangi, sedangkan kaki yang besar adalah jelek dan tidak disukai oleh kaum lelaki, padahal kaki yang kecil sangat menyiksa pemiliknya& Kesemua diskriminasi ini demi mengabdi kaum lelaki, sesuai dengan ajaran Kong 7u Cu tentang kebajikan +anita, yang telah menjadi norma masyarakat Cina selama berabad#abad, yaitu: 2Di rumah patuhi ayahmu, sesudah menikah patuhi suamimu, bila menjanda patuhi putra sulungmu&6 Cajar saja bila diskriminasi terhadap +anita di Cina yang berlangsung lama itu menyebabkan sedikit sekali +anita Cina yang muncul menjadi ;igur masyarakat& Di antara yang sedikit itu, misalnya, pada masa dinasti 7an 3khir (09#001 %asehi) dapat disebutkan seorang pujangga +anita bernama "an Ciao& Dialah salah seorang inspirator Eng Tay, di samping Thay !u, istri Kaisar ,un dan ibu Kaisar ,u, dua kaisar agung Cina yang terkenal ari; bijaksana& Dan belakangan, semestinya adalah Eng Tay sendiri, melalui pemikiran, kata#kata dan sepak#terjangnya

yang emansipatoris& amun dobrakan Eng Tay di abad ke#$ dan beberapa yang lain tak mampu meruntuhkan ;eodalisme yang sekukuh tembok besar Cina, dan kedudukan kaum perempuan tak banyak mencapai kemajuan sampai pada akhir abad ke#./& ,ahkan roh#semangat Eng Tay dihempaskan olehnya seperti yang terjadi pada pemutarbalikan citra romantika kehidupannya yang berlangsung hingga abad ke#01& Tetapi bagaimanapun hebatnya suatu ideologi berusaha melestarikan stat$s =$o, roda sejarah terus bergerak tak tertahankan& "erubahan demi perubahan terjadi hingga meletuslah perubahan yang massal dan radikal& Di a+al abad ke#01, seiring dengan perjuangan re(olusioner bangsa Cina dalam menggulingkan kerajaan %anchu, benteng terakhir ;eodalisme, dan mendirikan negara republik, yang berasaskan San !in #h$ " (Tiga 3sas Kerakyatan), terjadilah kemajuan besar dalam emansipasi kaum +anita& ,ermunculanlah sekolah#sekolah yang terbuka bagi kaum perempuan, ka+in paksa semakin banyak mendapat tentangan, keharusan mengikat kaki perempuan dicabut& Dalam gerakan re(olusioner yang berasaskan demokrasi ini, yang tentu saja mencakup asas persamaan derajat antara perempuan dan laki#laki, mulai banyak +anita berperan#serta& !alah seorang di antara mereka adalah ChDiu ChDin, kepala sebuah sekolah putri& 5a mengorbankan ji+anya dalam rangka meruntuhkan ;eodalisme kerajaan %anchu& Kepalanya dipenggal sebagai hukuman atas keikutsertaannya dalam komplotan yang menembak gubenur anking ketika sang gubernur mengunjungi sekolahnya pada tanggal @ <uli ./1B& 5a boleh jadi telah kemasukan roh#semangat Eng Tay yang pernah bercitacita untuk menyelenggarakan sekolah perempuan untuk memajukan kaumnya, pada .@ abad sebelumnya& ,etapa panjang dan hebatnya kesengsaraan serta keterbelakangan kaum perempuan Cina, dan alangkah banyaknya Tiongkok telah membuang#buang energinya dengan merendahkan kaum +anitanyaHhal yang juga terjadi di hampir semua negara Dunia Ketiga termasuk 5ndonesiaHsehingga ia menjadi lemah, miskin, terbelakang dan kemudian dijajah oleh bangsa#bangsa asing& !uatu malapetaka besarI amun, di sisi malapetaka ada keberuntungan& Ternyata, persentuhan, eksploitasi oleh dan kon;lik dengan bangsa#bangsa asing yang lebih kuat, kaya, dan maju itu telah membantu membuka mata#hati dan pikiran rakyat Tiongkok akan pentingnya asas demokrasi yang berdasarkan pada persamaan derajat& Dengan asas ini mereka berhasil menggulingkan kerajaan %anchu, meruntuhkan ;eodalisme serta mendirikan *epublik Tiongkok di tahun ./.., serta akhirnya berhasil mengusir imperialisme dari bumi mereka dan mendirikan *epublik *akyat Tiongkok pada tahun ./$/& Dengan latar belakang sejarah ini dapatlah dimengerti mengapa citra kisah San Pek Eng Tay yang ditanamkan selama ini adalah kisah percintaan yang tragis, atau kisah

pasangan nan abadi, atau kisah +anita yang setia saja& Eng Tay tidak boleh dicitrakan sebagai pejuang emansipasi +anita karena hal itu akan mengancam stat$s =$o superioritas lelaki yang merupakan salah satu sokoguru ;eodalisme +aktu itu& %aka dengan pengertian ini pula, yang seharusnya bertambah jernih setelah lepasnya cengkeraman ;eodalisme, selayaknyalah ditambahkan subjudul pada kisah ini: 4omatika Emansipasi Seorang Peremp$an/ %alahan, bila kita ingin seadil#adilnya, mengingat nomenklatura yaitu protokoler urutan penyebutan suatu nama berdasarkan keutamaannya, judul San Pek Eng Tay pun seharusnya dibalik menjadi Eng Tay San Pek, sebab dalam kisah ini Eng Tay#lah yang lebih berperan atau lebih menonjol ketimbang !an "ek& !eiring dengan semakin merasuknya ;aham demokrasi, menjelang akhir abad ke#01 ini banyak kemajuan besar telah dicapai dalam masalah persamaan derajat antara +anita dan pria di dunia, termasuk di 5ndonesia& Di 5ndonesia, setelah kemerdekaan *epublik 5ndonesia, soal diskriminasi terhadap kaum perempuan di bidang pendidikan, pergaulan, perka+inan, seperti yang pernah dialami oleh *&3& Kartini (.8B/#./1$) H salah seorang tokoh emansipasi +anita kita, yang konon pernah juga membaca kisah San Pek Eng Tay H telah dihapuskan, paling tidak secara de j$re/ Di 5ndonesia dan di seluruh dunia dapat kita saksikan munculnya semakin banyak perempuan#perempuan yang berprestasi& ,ahkan di sebagian negara beberapa +anita telah dapat menjadi kepala negara& Kini telah ada prediksi yang memperkirakan bah+a abad ke#0. yang segera akan kita masuki itu, bakal merupakan abad kaum perempuan& Di 'aman itu, semoga sajalah subjudul kisah sejenis San Pek Eng Tay yang akan datang tidak berbunyi: 4omantika Emansipasi Seorang %elaki/ <uni, .//1 A#uan$ io <oe :an, Tiongkok Sepandjang )&ad, Djakarta: ,alai "ustaka, ./90 Catatan$ Dalam saduran OKT banyak dijumpai istilah dan gaya bahasa percakapan sehari#hari sehingga dirasa perlu untuk meredaksinya kembali agar sesuai dengan sasaran pembaca penerbitan ini& :a;al 7okian yang telah la'im dipakai pada terjemahan karya sastra Cina dalam bahasa 5ndonesia juga digunakan untuk nama#nama yang sudah umum dikenal di sini, tetapi di sana#sini tercampur dengan la;al %andarin&

% Ayah Keras &'u (emah)


!J3TJ hari nan cerah di bulan ketiga musim semi& Di pagi hari pula, saatnya sang surya masih bersinar lembut&

!emua pohon berdaun hijau dan segar, dan bungabunganya yang mekar bergerombol tampak ber+arna+arni merah dan jambon, putih dan kuning& %enarik hati pula bila menyaksikan cabang#cabang yang-li$ bergoyanggoyang lemah#gemulai dipermainkan angin yang berhembus sepoi#sepoi basah& !ebuah taman mungil tergelar asri dalam sebuah rumah bertembok besar berpekarangan luas di sekelilingnya& Di taman itu berdiri sebuah ayunan& Dan di atas ayunan itu seorang gadis remaja sedang bermain, tubuhnya terayun naik dan turun, maju dan mundur& =adis itu mengenakan baju panjang yang sempit, +arnanya merah, dan gaunnya ber+arna kuning& !epatunya, bersulam& !elagi berayun#ayun itu, ia tampak bagaikan seekor kupu#kupu yang sedang terbang melayang#layang&&&& ,erdiri di sebelahnya, seorang dara lain, usianya kirakira enam atau tujuh belas tahun& Dari caranya berdandan, jelas dia adalah seorang abdi perempuan& Dia mengenakan angkin, ikat pinggang dari kain, ber+arna hijau, sedangkan rambutnya, berkepang dua, tersanggul& Dia pun tergolong cantik& Tiba#tiba saja abdi itu menyapa majikannya: 2 on, turunlah, sudah cakup lama ona bermain ayunan, tentunya ona sudah letihI6 =adis itu terta+a manis& 27ari ini aku sedang gembira,6 sahutnya, suaranya lembut, 2main ayunan lama sedikit tidak melelahkan&&&&6 Dan ia pun menggerakkan tubuhnya lagi, membuatnya naik#turun bergantian& 23h, sudahlah, ona,6 kata si abdi pula& 2 on, abdimu ini sebetulnya hendak memberi tahu sesuatu&&&&6 23pakah itu46 tanya si gadis itu, agak tertarik& 2Cukup penting, ona& Kalau tidak, ona boleh tegur akuI6 =adis itu berhenti main ayunan, dia menatap abdinya& 23yolah, kaubicaraI6 perintahnya& =adis ini menggelung rambutnya dengan model poan liong ki, kundai 2naga melingkar,6 dan di sisi telinganya tersisip sekuntum bunga c$i/ Cajahnya berpotongan k+aci, sepasang alisnya lentik, hidungnya bangir, kulitnya halus& 5a tampak seakan#akan senantiasa tersenyum& 5a mengatakan belum letih akan tetapi kulit +ajahnya telah bersemu merah, sedikit berpeluh dan napasnya pun agak terengah#engah&&&& 2Eh, =in !im, bicaralahI6 katanya pula pada si abdi& 23da apa sebenarnya4 %engapa kau selalu menatapku46 !i gadis terta+a hingga tampak dua baris giginya yang rapih dan putih bersih& 5a mengusap dahinya dengan saputangannya& :antas ia membuka suara pula& 2=in !im, lekaslah bicaraI 3ku Ciok Eng Tay, mana ku tahu isi hatimu& Katakanlah, kabar apakah itu yang hendak kau sampaikan padakuI6 =in !im menoleh ke sekitarnya& 2 on, di sini, di dalam taman ini, kita tak dapat leluasa berbicara,6 katanya& 2%ari kita masuk ke dalam&

,agaimana46 Eng Tay menga+asi abdinya, ia mengangguk& 5a pun berjalan sambil diikuti abdinya& Di dalam kamar, ia lantas duduk, menghadap cermin kuningan& Tiba#tiba ia terta+a& 2 ah, bicaralahI6 katanya kemudian& 2Di sini tidak ada orang lain, hanya kita berempat&&&&6 =in !im heran hingga tercengang, ia pun menegaskan: 2,erempat, on4 Kita toh berdua sajaI !iapa dua orang lainnya46 !ang gadis majikan terta+a& 2Kau tak tahu46 tanyanya& Dia menunjuk ke cermin yang terbuat dari kuningan&@ 2 ah, bicaralahI6 =in !im bagaikan baru tersadar, tetapi segera dia berkata: 2,ukankah ona sering mengatakan bah+a ona berniat menyamar sebagai lelaki agar dapat menuntut ilmu di 7ang#ciu, supaya ona dapat menyenangkan hati ayahbunda ona4 ,ukankah sekarang ona sedang ragu#ragu lantaran tersiar berita bah+a guru di 7ang#ciu itu, guru Ciu yang sudah lanjut usianya, akan pindah tempat46 Diingatkan demikian, Eng Tay tersenyum& %emang dia telah lama berniat melanjutkan pelajarannya di kota 7angciu itu& ama kota itu, sebenarnya baru mulai dipakai di 'aman dinasti !hui& !ebelumnya, semasa dinasti 7an kota itu adalah kota kecamatan Cian#tong& =in !im berkata lebih lanjut: 2 ah, sekarang ada berita yang menggembirakan& ,aru saja Ong !un pulang dari 7ang#ciu dan dia memba+a kabar bah+a guru Ciu masih tinggal di i !an, beliau tidak jadi pindah& Ong !un mendapatkan berita ini dari sanak#saudaranya yang tinggal berdagang di sana&6 ,erita itu melegakan hati Eng Tay& 2Coba kaupanggil Ong !un ke mariI6 perintahnya kepada abdinya& 2!etelah memperoleh kepastian, akan kucoba bicara pada "apa dan %ama&6 =in !im segera berlalu& Tidak lama kemudian ia kembali bersama#sama Ong !un, salah seorang pega+ai keluarga Ciok& Dan Ong !un ini pun telah menegaskan keterangannya& Eng Tay berpikir beberapa lama, lalu siang hari itu, ia menemui ayah dan ibunya di ruang tamu& 2"aI %aI6 sapanya kepada kedua orangtuanya& Ciok Kong Can adalah pensiunan camat, ia tidak mempunyai anak lelaki, hanya Eng Taylah anak gadis
@ Di 'aman dinasti Chin semasa kisah ini berlangsung, belum ada kaca gelas&

satu#satunya& 5a pulang ke kampung halamannya untuk tinggal bersama istrinya, Teng#si& Tak heran jika ia dan istrinya sangat menyayangi anak tunggalnya itu& 2Kau habis bermain ayunan46 tanya sang ayah sambil menoleh kepada putrinya& 2:ihat, +ajahmu kemerahmerahanI Kau letih ya46 Eng Tay menggelengkan kepala& 2Tidak, "a,6 sahutnya& 2Kau tak pusing, ak46 tanya Teng#si, sang ibu& 2Tidak, %a,6 ja+ab putrinya&

Kong Can duduk di atas dipan kayu dan istrinya di kursi batu marmer di hadapannya& Keduanya menatap putri mereka, mereka tampak bahagia sekali& Eng Tay maju mendekat& 2 ak, duduklah,6 kata Teng#si kemudian& 2Kau tidak memetik dan memakai bunga ma+ar&&&&6 "utrinya tersenyum, ia menggelengkan kepala& 2Tidak,6 sahutnya& 27ari ini aku gembira sekali sehingga lupa memetik bunga ma+ar&&&&6 2Kau gembira karena apa46 tanya sang ayah seraya menyingkap janggutnya, yang hitam dan panjang& 2Karena suatu berita yang menggembirakan, "a& Ong !un sudah pulang dan kepada =in !im dia memberitahukan bah+a guru Ciu tidak jadi pindah dari 7ang#ciu dan tetap membuka sekolahnya di i !an&&&&6 2:alu apa hubungan berita itu dengan kau4 Kenapa kau jadi girang sekali46 tanya sang ayah& Eng Tay bangkit berdiri, hormat sikapnya& 2"a, aku hendak memberitahukan sesuatu&&&6 katanya perlahan& 2Kau hendak memberitahukan apa, ak46 tanya Tengsi& 23ku tahu, "ak Ciu memang guru tua yang pandai&6 2<ustru karena "ak Ciu pandai, aku jadi sangat menghormatinya,6 kata Eng Tay& 2"apa dan %ama ingat, sejak usia delapan tahun aku telah diberi guru sekolah untuk mempelajari ilmu budaya& Tetapi setelah aku berusia lima belas tahun, ketika "apa meletakkan jabatan dan pulang kampung aku harus berhenti& Karenanya sayang sekali, pelajaranku menjadi kepalang tanggung& ,ahkan sekarang, aku nyaris harus selalu berada di loteng& Aa, pelajaranku menjadi setengah matang& Jntuk seorang pelajar, keadaan seperti ini sangat menyedihkan& %aka dari itu, bagus sekali, "ak Ciu masih mengajar di 7ang#ciu, aku ingin pergi belajar padanya& ,ukankah aku sama saja dengan anak#anak muda lainnya4 !etelah beberapa tahun belajar di 7ang#ciu, pasti aku akan memiliki kepandaian yang memadai& Karena itu sekarang aku ingin minta agar "apa dan %ama mengi'inkan aku sekolah di ba+ah pimpinan pak guru Ciu itu& ah, bagaimana pendapat "apa dan %ama46 Ciok Kong Can terbelalak& 5a heran sekali& 2Kaubicara serius atau main#main46 tanyanya kemudian& 2"asti benar#benar, "a,6 sahut putrinya bersungguhsungguh& 2,elajar ke 7ang#ciu bukan urusan main#main&6 !ang ayah menga+asi putrinya, lalu ia terta+a terbahakbahak& 2 ak,6 katanya seraya menunjuk, 2kenapa kau bicara seakan#akan bermimpi di siang hari4 Kau tahu, abi Khong mempunyai murid tiga ribu orang lebih, adakah muridnya +anita4 "ak Ciu pasti tidak akan menyimpang dari nabi kita itu dengan menerima murid perempuanI Oh, anakku, andaikata pun papa mu mengi'inkan, di sana kau pasti akan membentur tembok penghalang, kau akan pulang sia#sia sajaI %aka dari itu, ak, ku anggap katakata mu itu sebagai igauanI6 7eran Eng Tay mendengar kata#kata ayahnya itu& 2"a, kata#kata "apa membuatku agak kurang paham,6

katanya& 23pakah sudah pasti bah+a di antara tiga ribu murid abi Khong tidak seorang pun +anita4 3tau, apakah tak ada +anita yang menyamar sebagai laki#laki di sana4 %aka dari itu, bila aku sekolah di 7ang#ciu, aku akan menyamar sebagai laki#lakiI Tentang hal ini, harap "apa tidak usah kha+atir&&&&6 Didesak secara demikian, sang ayah terta+a& 2Kau ini bicara apa, akI6 katanya& 2!abar, "a,6 kata putrinya& 2,ukankah "apa pun tahu, semasa permulaan dinasti Ciu (Chou), sudah ada +anita yang berperan#serta46 !ang ayah berpikir sejenak& 2Tidak,6 sahutnya& Kini Eng Tay terta+a& 2:ihat, "a,6 katanya, 2hal begini saja "apa sampai lupa sehingga "apa mengatakan aku mengigauI ,aiklah, akan ku jelaskan& ,ukankah dalam kitab %$n 8i B ada kisah tentang kaisar#kaisar dahulu kala yang mempunyai menteri#menteri yang terpelajar dan bijak sehingga pemerintahannya berjalan dengan sempurna4 %isalnya Kaisar ,un Ong (Cen Cang) dari dinasti Ciu (Chou)I ,ukankah di sana ada Thay !u, yang umum menyebutnya $n ;$ ;ang (istri ,un), istri ,aginda ,un Ong yang termasyhur46 Kong Can melengak& ,enar#benar ia lupa akan $n ;$ ;ang/ 2Aa, aku ingat sekarang& Tapi, adakah hubungan antara dia dengan kau46 2Tentu saja ada, "a,6 sahut putrinya& 23ku berniat menuntut ilmu lebih lanjut& ,ukankah dulu kala pun +anita sama dengan pria, ada +anita yang cerdik dan pandai, yang dapat ikut mengatur urusan negara4 7anya saja yang sekolah itu ada perbedaannya, ada yang maju dan ada yang tidak& Demikian pula dengan aku& !ekarang aku berdiam terus di kamar loteng, apakah itu untuk selamanya4 Tidak, bukan4 %aka sekarang, aku berniat melanjutkan pelajaran ke 7ang#ciu, agar kelak di kemudian hari, aku bisa melakukan sesuatu yang berarti bagi negara kita&&&&6 Kong Can berdiam diri sambil menga+asi putrinya itu& 2Tetapi, ak,6 Teng#si ikut bicara, 2Calaupun kau benar, namun kau harus tahu apakah guru Ciu menerima murid perempuan46
B :un =i: salah satu kitab ajaran Khong 7u Cu&

2Tapi, %a, telah aku katakan, aku akan menyamar sebagai seorang pria,6 kata Eng Tay& !ang ibu terdiam, ia hanya mengamati putrinya& Tidak demikian dengan Kong Can, sang ayah, yang telah berpikir beberapa lama& 2Eng Tay, kau berniat sekolah ke 7ang#ciu, maksudmu itu baik,6 kata ayahnya ini& 2Kau bilang hendak menyamar menjadi pria, tetapi, pernahkah kau pikir, berapa lama kau akan tinggal di 7ang#ciu4 ,ukankah, tidak untuk tiga atau lima hari saja4 Kalau sampai berbulan#bulan dan bertahun#tahun, siapa yang dapat memastikan tidak akan terjadi sesuatu atas dirimu4 :agi pula, penyamaran +anita menjadi pria banyak kelemahannyaI :ihat telingamu, lihat

dadamuI Dapatkah itu dipakai mengelabui orang untuk +aktu yang lama4 Di samping itu, kau harus ingat pada adat#istiadat, perbedaan antara +anita dan pria& Di sekolah, kau hidup bercampur#baur, dapatkah kau terusmenerus menjaga dirimu4 5ni yang harus kau ingat baikbaikI Aa, nama baik keluarga kitaI6 !ang ayah menatap +ajah putrinya, ia tampak bersungguh#sungguh& 2 ah, +alaupun niatmu itu baik, sulit untuk me+ujudkannya,6 kata ayahnya itu akhirnya& 2Tidak, ak, kau tidak boleh pergiI Tegasnya, jika kau tidak dengar kata papa mu ini, kau adalah anak yang tidak berbaktiI6 Eng Tay terperanjat& Tak ia sangka akan putusan yang demikian tegas dari ayahnya itu& 5ni bukanlah kebiasaan sang ayah, yang biasanya manis budi dan sangat menyayanginya& 5a tercengang menatap ayahnya itu& <uga Teng#si, si ibu, merasa heran sekali& !ejenak, kedua orangtua dan putrinya itu berdiri membungkam& Tetapi si ayah menga+asi putrinya dan si putri memandangi ayahnya& !esaat kemudian, barulah Eng Tay dapat menenangkan diri dan bicara, membuka suara& 2"a,6 demikian katanya perlahan, 23ku mengerti "apa sangat menyayangiku, akan tetapi, ku pikir, kekha+atiran "apa itu berlebihan& 3ku tahu kelemahanku sebagai +anita, tetapi akan ku jaga baik#baik& %engenai hal ini harap "apa tidak perlu kuatir& "apa menghendaki aku agar memperhatikan adat#istiadat, ini pun aku maklum& 3ku ingat sekali kata#kata Fpria dan +anita tak boleh bersentuh tanganD, tetapi itulah ucapan !un 5 Kun yang sangat, memojokkanI ,ukankah ,eng Cu menyanggah: FKalau mengetahui ipar +anita sendiri tenggelam namun tidak menolong, itu namanya kejamID ,ukankah !un 5 Kun sendiri kemudian mengatakan, kalau ipar sendiri yang tenggelam, sudah pasti dia harus ditolong4 Demikianlah makna sesungguhnya dari adat#istiadat& !ekarang ini kerajaan Chin kita sebagian negaranya telah dirampas hingga *aja harus mengungsi ke :am#khia& ,ukankah itu mirip dengan seorang ipar yang sedang tenggelam4 ,ukankah kita +ajib menolongnya4 %aka ucapan itu tak dapat seluruhnya dipatuhi& ,agaimana mungkin, karena aku hendak belajar ke 7ang#ciu, aku dikatakan tidak berbakti, padahal keinginanku justru ingin me+ujudkan rasa bakti yang paling besar& Kalau nanti telah ku peroleh kepandaian, aku berharap dapat melakukan sesuatu untuk negaraI ,ukankah itu juga harapan "apa46 Ciok Kong Can menggelengkan kepalanya& 2Kau hebat, akI Kau pandai bicaraI6 katanya& 2<adi dengan pikiranmu ini, kau hendak me+ujudkan adatistiadat sambil juga mengangkat diri4 7mI6 3yahnya itu bangkit berdiri, lalu berjalan mondarmandir& <elas ia tidak puas& Eng Tay bingung& 5a berdiri membungkam, tangannya mempermainkan angkinnya& Teng#si, sang ibu menjadi bingung juga& 5a bangkit berdiri, terus menghampiri anak gadisnya&

2Eng TayI6 tegurnya seraya menyentuh pundak putrinya& 2 benar, kau tak perlu bicara lebih jauh& %ari kau ikut %ama istirahat&&&&6 3nak gadis itu berpaling kepada ibunya& 2%a, aku juga benar,6 katanya perlahan& 23ku berbicara dengan mengutip kata#kata dari kitab tentang adatistiadat&&&&6 5bunya itu terdiam, ia berpaling, pada suaminya& Kong Can sedang berjalan mondar#mandir ketika mendengar perkataan putrinya itu& 5a segera berpaling, menghadap putrinya& %atanya membelalak& 23ku tidak mau bicara apa#apa lagiI6 katanya keras& 23ku larang kau pergi ke 7ang#ciuI6 2Tak apa kau bicara keras#keras, suamiku, di sini tidak ada orang luar,6 kata sang istri, menenangkan suaminya& 2Eng Tay, mari kau ikut %ama masukI6 !ambil berkata demikian, sang ibu mencekal hendak menarik tangan putrinya& amun, tubuh putrinya itu tidak bergeming& Ketika sang ibu melihat +ajah putrinya, gadis itu sedang berlinang air mata dan sedang mengusap airmatanya dengan sapu#tangannya& !ebenarnya, sejak ayahnya berbicara keras, anak gadis ini sudah merasa sedih, air matanya sudah mulai berlinang, +ajahnya pun pucat& 2Eh, ak, kau kenapa46 tanya sang ibu sambil menepuk pundak putrinya& !ekonyong#konyong saja Eng Tay menjerit dalam tangisnya dan tubuhnya bergerak sambil kedua tangannya terbentang& Dia menubruk dan memeluk ibunya& 5bu yang berhati lemah itu balas memeluk putrinya&

* +erhati +aja
,E:J% pernah Eng Tay menangis, ini untuk pertama kalinya& 5a merasakan hatinya sangat tertekan, hingga tak terlegakan kecuali oleh tangisannya itu& Kong Can membungkam, ia masih menga+asi putrinya& 2!udah, diamlah,6 kata Teng#si pada putrinya& 2Kalau mau bicara, mari kita bicara&&&&6 =adis itu tetap saja tersedu#sedu& !ang ayah masih juga menga+asi, dan akhirnya, menunjuk ke arah dalam& Teng#si melihat itu, ia mengerti& 2 ak, kau masuklah,6 katanya pada gadis itu& 2!ekalian ajak onamuI6 Kata#kata itu adalah perintah untuk =in !im serta ka+annya, abdi kecil bernama Kiok <i& Ketika itu Kong Can memberi isyarat pada istrinya& Eng Tay menoleh pada ayahnya, hingga si ayah melihat bagaimana +ajah putrinya penuh air mata& amun sang ayah diam saja, ia hanya menggelengkan kepala, lalu pergi ke luar& ,ersama ibu dan kedua abdinya, gadis itu melangkah ke dalam& !ebenarnya, kamar tidur Eng Tay terletak di ba+ah loteng& 5a berada di atas semata#mata untuk membaca

buku dan menyulam& 5a anak semata +ayang& Keluarga Ciok tidak mempunyai anak lelaki, tetapi kaya& %aka, segala keperluan gadis itu dapat dipenuhi& Kamar tidur Eng Tay berada di halaman belakang atau sebelah dalam& Jntuk pergi ke halaman depan, orang harus melintasi sebuah ruang dalam lainnya& Di halaman belakang terdapat sebuah halaman luar, di sana ada bukitbukitan tiga pohon cemara serta serumpun pohon bambu halus, yang dikenal sebagai Fbambu CinaD& :ainnya adalah tanaman bunga& 5tulah sebuah taman mungil dengan seluruh daun tanamannya ber+arna hijau segar hingga terasa sungguh nyaman bila berdiam di dalamnya& Tak sembarang orang bisa masuk ke halaman belakang& Kamar tidur itu pun terbagi atas tiga ruang dengan bagian luarnya merupakan sebuah beranda atau serambi yang berhampar#kan batu koral halus, hingga pun yang berjalan di sana akan memperdengarkan suara batunya& Eng Tay bersama ibunya, yonya Ciok Teng#si, yang juga dipanggil F yonya ,esarD, serta =in !im dan Kiok <i, berjalan melintasi beranda itu& Di dalam kamar, semua perabotan seperti meja, kursi dan pembaringan, terbuat dari kayu cendana dan terukir indah& !edangkan lantainya, bergelarkan permadani tebal dan cantik& =in !im memimpin nona majikannya masuk ke dalam kamar, mengantarnya ke kursi, akan tetapi gadis itu tak mau duduk, ia serta#merta menjatuhkan diri ke pembaringannya dan menutupi dirinya dengan selimut& 5a menangis tanpa bersuara& Teng#si menghampiri putrinya itu& 2Eng Tay, duduklah,6 katanya lembut& 2Kalau kau mau tidur, tidurlah yang benar&&&6 2!ekarang pun aku sudah tidur,6 kata putrinya& 2!ebaiknya %ama pergi beristirahat&&&&6 2Tetapi, ak,6 kata ibunya, 2+alaupun papa mu bersikap keras, ia sebenarnya menyayangimu&&&&6 Eng Tay tidak menyahut, ia hanya bergolek, terus tidur& Teng#si melengak, ia menghela napas& 2,iarlah dia tidur,6 katanya perlahan, lalu ia memesan =in !im agar mera+at nona majikannya, kemudian ia mengajak Kiok <i pergi& =in !im meng#iya#kan pesan nyonya majikannya itu& Teng#si masih berdiam sebentar dan mengamati putrinya, setelah itu barulah ia berlalu bersama abdi perempuannya& 5a menarik napas panjang perlahan& Eng Tay masih merebahkan diri, sampai =in !im menyapanya: 2,angun on, cuci muka&6 2Tak usahI6 sahut gadis itu& 2 yonya ,esar mana46 2 yonya ,esar sudah pergi bersama Kiok <i&6 =adis itu bangun dan duduk& 2!ebalI6 katanya, sengit& 2 amun ini baru permulaanI 3ku tak akan mundur sebelum berhasil pergi ke 7ang#ciuI6 =in !im terta+a& 2<adi ona bertekad mau sekolah ke 7ang#ciu46 katanya& 2AaI6 sahut gadis itu, yang ternyata berhati baja& 2!ekarang, aku mau tidur, kalau ada yang tanya, katakan

aku sakit& "ikiran %ama pasti akan berubahI6 2,aiklah, on,6 sahut =in !im& 2%ulai hari ini, kepada siapa pun akan aku katakan bah+a ona sakit, bah+a ona tak mau makan& Tetapi aku sendiri akan diam#diam membuatkan makanan yang ona suka dan ona boleh memakannya secara sembunyi#sembunyi& Aa, jangankan untuk beberapa hari, sampai setengah bulan pun, tidak apa&&&6 Eng Tay mengangguk& "uas ia mendengar perkataan abdinya yang setia itu& =in !im menepati ucapannya& 5a tidak beranjak dari kamar nona majikannya kecuali bila sedang bekerja di dapur, memasak ini dan itu untuk nona majikannya& ,esok siangnya, =im !im pergi menemui nyonya majikannya& Dia melaporkan: 2 yonya, ona Eng Tay tidak mau makan apa pun, mungkin pencernaannya tidak sehat& ona sendiri mengatakan bah+a ia merasa kepalanya agak pusing& %aka dari itu, sebaiknya yonya menjenguknya&6 Teng#si terkejut& Tidak ayal lagi segera dia pergi ke kamar anak gadisnya itu& =in !im mengikuti nyonya majikannya& !elagi mendekati kamar, ia segera berkata& 2 on, bangun, bangun, yonya ,esar datang menjengukI6 Di dalam kamar sesosok tubuh bergerak mirip bayangan, sebab kata#kata =in !im itu merupakan isyarat bah+a sang nyonya besar datang& Dari dalam kamar tidak terdengar suara ja+aban& Teng#si segera saja masuk ke kamar& 5a melihat anak gadisnya sedang rebah dengan tubuh berselimut& *ambut putrinya itu kusut, tanda tak tersisir, dan di +ajahnya tidak ada bekas#bekas bedak, hingga kulitnya tampak agak pucat dan kering& 5a menghampiri, menyingkap selimut yang menutupi tubuh putrinya itu& Tampaknya Eng Tay baru saja pulas, namun ia mendusin dengan agak terkejut& Dengan mata berkesap#kesip, ia memandang ibunya& 2%amaI6 panggilnya lemah& 5a bagaikan baru mengenali ibunya itu& !uaranya perlahan, lemah& Tatkala itu, di atas meja tampak asap hio +angi mengepul perlahan, baunya harum halus& 3sap itu melayang#layang naik& 23pakah kau merasa tak enak badan46 tanya Teng#si& 2,aru saja =in !im memberitahukan %ama bah+a kau sejak kemarin sampai hari ini belum sarapan sama sekali, kau pun tidak minum& %engapa4 !eharusnya kau makan sesuatu&&&&6 Eng Tay mengangguk, tetapi ia segera menggelengkan kepalanya& Dari mulutnya tidak terdengar suara apa pun& !ang 5bu terus mengamati, lantas duduk di atas pembaringan di sisi tubuh anak gadisnya itu& Diulurkannya tangannya, meraba dahi putrinya& 5a merasakan ha+a yang agak hangat& 5a bimbang& 7a+a hangat itu, tanda sakitkah4 23pakah kau merasa kurang enak badan, ak46 tanyanya kemudian& 23pa yang kau rasakan46 27anya sedikit pusing,6sahut putrinya, suaranya lemah sekali&

2Kalau demikian, kau perlu dipanggilkan tabib,6 kata si ibu pula& 2Tak perlu, %a,6 kata putrinya& 2Tidak usah&&&&6 2%engapa tidak usah46 tanya ibunya& 2Kenapakah46 !ambil berkata demikian, sang ibu mengusap rambut putrinya untuk dirapikan& Eng Tay diam saja, sedangkan ibunya menantikan ia bicara& =in !im menambahkan hio, lalu berkata: 2 yonya ,esar, apakah yonya ,esar masih belum tahu penyakit yang diderita ona4 5tu yang dinamakan pilu hati&&&&6 Teng#si menata putrinya, ia berpaling pada abdinya& 2Kalau benar pilu hati, aku tidak berdaya,6 katanya& 2Eng Tay, Eng Tay, kau tahu, pak guru Ciu tua itu tidak menerima murid +anita&&&&6 Eng Tay masih membungkam saja& ,ahkan kemudian ia menggolekkan tubuh, menghadap ke dalam, seakan#akan tidak menghiraukan ibunya& yonya Ciok juga membungkam& 5a agak bingung& 23ku punya biji teratai,6 katanya kemudian sambil menoleh pada =in !im, 2sebentar kusuruh Kiok <i memasaknya dan kemudian mengantarkannya ke sini&6 2,aik, yonya ,esar,6 ujar =in !im menyahuti& Teng#si bangkit berdiri, ia menoleh dan mengamati putrinya& 2!ebenarnya sekolah bukan hal yang tidak baik,6 katanya perlahan& 2!ebentar, kalau pulang mama akan bicara dengannya& %ama ingin tahu, bagaimana pikirannya&6 Eng Tay, masih saja diam& =in !im pun membungkam, ia hanya memandang nyonya majikannya itu& yonya Ciok menghela napas, lantas melangkah pergi& Kamar tidur itu menjadi sunyi& =in !im melongok untuk memastikan apakah sang majikan sudah pergi jauh atau belum, kemudian dia terta+a sendiri dan berkata: 2,enar saja, pikiran yonya ,esar telah berubah&6 Eng Tay bangun, lalu duduk& 5a merapikan rambutnya sambil tersenyum& 23ku ingin tahu, apa yang akan %ama bicarakan dengan "apa,6 katanya& 2,agiku sudah pasti, kecuali aku dii'inkan belajar ke 7ang#ciu, tak akan ku ubah sikapku iniI6 =in !im pun terta+a& Tidak begitu lama, Kiok <i pun muncul dengan memba+a semangkuk bubur biji teratai& 2!ebenarnya tak usah kau ba+akan bubur biji teratai ini,6 kata =in !im& 2Telah ku katakan, ona tidak mau makan apa pun& 5ni pesan ona&6 Kiok <i meletakkan mangkuk bubur biji teratai itu di meja, di atas piring tatakannya ada sebuah sendok terbuat dari perak& 5a berkata: 2 on, tak baik bila ona tidak makan sama sekali& yonya ,esar yang memerintahkan aku memasak bubur biji teratai ini& Kalau ona tidak mau makan, apa kata yonya ,esar nanti4 %ungkin abdimu ini akan dimaki&6

2"andai bicara kauI6 kata =in !im terta+a& 2%emang, ona harus memakannya sekitar dua suap&&&6 5a pun melangkah menghampiri majikannya, katanya: 2 onI6 Eng Tay membuka matanya, ia bangun, lalu duduk& 5a mengangguk kepada Kiok <i dan berkata perlahan: 2*asanya aku mendengar kau memba+akan sesuatu, benarkah46 2,enar, on,6 sahut Kiok <i sambil menunjuk ke arah meja& 25tulah bubur biji teratai&6 Eng Tay mengangguk& 2Kau baik sekali&6 katanya& 23yo ba+a ke mari, aku ingin mencobanya&6 =in !im segera memba+akan bubur biji teratai itu dan menyerahkan sendoknya& ona Ciok menyendok bubur biji teratai, lalu memasukkannya ke mulutnya& Kiok <i menga+asi, ia merasa geli, tetapi dengan lengan bajunya ia menutupi +ajahnya& *upanya ia menganggap nona majikannya itu lucu& 23pakah tak cukup bila aku makan sesendok saja46 tanya Eng Tay yang melihat lagak abdi cilik itu& 2,aiklah, aku menyendok lagi&6 3gaknya ia sulit menelan bubur teratai itu, maka ia serahkan sendok itu pada =in !im& 23ku tak bisa makan terus,6 katanya seraya mengerutkan alisnya& 2"erutku terasa mual&&&&6 %elihat hal itu, Kiok <i berkata: 2Kalau begitu, ona sebaiknya mengundang tabib untuk memeriksa ona& ,ubur biji teratai saja tak masuk, bagaimana nanti, dua tiga hari kemudian, jika ona tidak makan sesuatu4 :apar itu berbahaya, on&&&&6 !eraya berkata demikian, abdi ini menerima bubur biji teratai itu dari tangan =in !im& Katanya pula: 2Kalau ona tidak mau makan, baiklah, abdimu ini akan memberitahu yonya ,esar& ,ubur biji teratai ini juga akan aku tunjukkan&6 Eng Tay mengangguk, dari hidungnya terdengar suara perlahan: 27m&&&&6 Kiok <i memberi hormat dan mengundurkan diri, kemudian ia kembali kepada nyonya majikannya& !etelah meletakkan mangkuk di atas meja, dia memberikan laporannya& Dituturkannya tentang keadaan nona majikannya itu sebagaimana dilihatnya& Teng#si duduk di bangku panjang& 5a menyendok bubur biji teratai itu dan mencicipinya& Kemudian katanya seorang diri: 2,ubur biji teratai sele'at ini tak dimakan, lalu apa yang disukainya46 2%ungkin ona sedang tidak sehat,6 kata Kiok <i& Teng#si berdiam diri, ia mengamati bubur biji teratai, lalu disuruhnya Kiok <i memba+anya pergi& 2Kalau begini, aku perlu bicara sama si tua bangka itu,6 katanya dalam hati menyebut suaminya& :alu ia duduk menanti dalam kamarnya& !ampai malam barulah Ciok Kong Can pulang& 5a heran melihat istrinya duduk termangu& 2,agaimana dengan Eng Tay hari ini46 tanyanya 23pakah dia belum juga mengubah pendiriannya46 2!ikapnya belum berubah,6 sahut sang istri, 2dia tidak

mau makan apa pun, air juga tidak barang setetes& ,agaimana sekarang46 23pakah kau tidak ba+akan makanan lainnya46 tanya sang suami& 2Coba kau tanya saja Kiok <iI6 sahut Teng#si singkat& Dia bagaikan enggan bicara& Kong Can menurut& 5a memanggil Kiok <i& 3bdi itu menjelaskan segalanya& 2 ah, kau dengarI6 kata Teng#si kemudian& 2,ahkan bubur biji teratai tak sudi dia makanI :alu, dia harus diberi makan apa46 Kong Can membungkam sambil berjalan mondarmandir& 23nak itu memang keras kepalaI6 katanya& 2,egini saja, besok pagi kau temui dia, katakan padanya aku akan menyuruh orang memanggil seorang guru guna mengajarinya di rumah saja& Dalam hal ini tak soal kalau kita mengeluarkan lebih banyak uang&6 2Kita sendiri yang mengundang guru itu46 tanya Tengsi& 2Aa& !udah kukatakan, tak mengapa bila kita mengeluarkan lebih banyak biayaI6 Teng#si hendak bicara tetapi ia melihat Kiok <i& 2Kau pergilah tidur, di sini sudah tidak ada urusan lagiI6 perintahnya& 3bdi itu menurut, ia mengundurkan diri& :alu ia pergi ke kamar nona majikannya& Di sana ketika mele+ati jendela, ia melihat bayangan dua orang& 2Kak =in !im46 tanyanya perlahan& 2Kiok <i di sana46 sahut suara dari dalam& 2Kau belum tidur46 Kiok <i melangkah memasuki kamar& 5a melihat nona majikannya itu duduk berselubung di atas pembaringan, =in !im sedang menjahit menghadap lampu& 2Kau sedang bikin apa, sudah tengah malam masih ada di sini46 tanya Eng Tay& 23dakah sesuatu yang hendak kau sampaikan padaku46 2Tidak ada, on, hanya Tuan ,esar sudah pulang,6 sahut sang abdi& 2,aiklahI6 kata Eng Tay& 2:ihat besok saja&6 Kiok <i heran melihat sikap nona majikannya& =adis itu tenang#tenang saja& amun ia tidak berkata apa#apa lagi& 7anya se+aktu mengundurkan diri, ia berpesan kepada =in !im: 23ku datang ke mari tanpa sepengetahuan yonya ,esar maka kalau besok Kakak bertemu yonya ,esar, harap jangan katakan bah+a aku telah datang ke mari&&&&6 23ku tahu,6 sahut =in !im terta+a& 5a pun mengangguk& Kepada nona majikannya, Kiok <i berkata: 2 on, harap ona mera+at diri baik#baik&&&&6 =adis itu mengangguk dan meng#iya#kan& 2 ona, bagaimana sikap ona perihal Tuan ,esar hendak mengundang seorang guru itu46 tanya =in !im kemudian& 23pakah ona dapat menerima hal itu46& 2Entah guru macam apa yang hendak "apa undangI6 kata Eng Tay& 23palah artinya belajar di ba+ah pimpinan guru semacam itu4 %ana ada guru semacam guru Ciu46 2Kalau demikian, bila besok pagi yonya ,esar datang,

akan repot jugaI 23ku akan bicara baik#baik supaya %ama tidak bersusah hati&6 %ereka berhenti bicara sampai di situ, lalu keduanya tidur& !i nona benar#benar kuat hatinya, ia dapat menenangkan diri& Keesokan paginya, benar saja, Teng#si muncul di kamar putrinya& =in !im sudah menyiapkan segala hal, ia juga telah membakar dupa yang harum baunya& Dengan cekatan ia menyambut si nyonya besar& 2!elamat pagi, yonya ,esar,6 sambutnya& 2 ona hari ini tidak mengalami perubahan, abdimu ini risau sekali&&&6 Teng#si menghampiri pembaringan& Eng Tay sudah mendusin, ia sedang duduk dengan separuh tubuhnya berkerudungkan selimut& *ambutnya tidak terkundai, masih kusut, terurai ke belakang& 5a tidak memakai bedak, kulit +ajahnya yang halus ber+arna agak kuning& 2%a&&&I6 panggilnya perlahan kepada ibunya& yonya Ciok duduk di sisi pembaringan, tangannya meraba sebelah tangan putrinya& 2Telah dua#tiga hari kau tidak makan apa pun, bagaimana kau rasakan tubuhmu46 tanya ibunya, lembut& 2"apa mu pun mengatakan, menuntut ilmu adalah baik sekali& !ekarang&&&6 2,agusI6 =in !im mendadak menyela& 2Kalau begitu pasti Tuan ,esar mengi'inkan ona pergi belajar ke 7angciuI6 %endengar hal itu Eng Tay tersenyum lemah& Tetapi Teng#si lekas meneruskan katanya& 2"apa mu telah memutuskan, tetapi hal itu bukan keputusan bah+a kau boleh belajar di 7ang ciu& "apa mu telah menetapkan untuk mengundang seorang guru datang ke rumah kita ini guna memberi mu pelajaran di rumah& %aka dari itu, ak, dengan belajar di rumah, kau tak perlu lagi berada jauh di lain kota hingga tak usah lagi kau keanginan dan kehujanan& Kau dapat tenang#tenang saja berdiam di rumah& ,ukankah itu baik sekali46 2%aksud "apa sangat baik, aku mengucapkan terima kasih,6 kata Eng Tay& Teng#si tersenyum, legalah hatinya& 2 amun, %a,6 kata Eng Tay, kemudian, 2Calaupun maksud "apa baik sekali, akan tetapi aku tak dapat menerimanya&&&&6 !ang ibu terkejut, dia heran& 2,ukankah itu baik sekali46 tanyanya& 2Kenapa kau tak dapat terima46 2%a, sebaiknya %ama dengar dulu keterangan ku,6 kata putrinya dengan sabar& 2"ertama hendak ku tegaskan, guru Ciu itu guru yang pandai sekali& Kedua, tentang guru yang "apa undang& 3pakah dia bermarga Thio atau :ieI !iapakah dia4 Ketiga, sekarang ini pelajaran putri %ama sudah cukup tinggi& 5tu berkat kebaikan "apa dan %ama, yang dulu telah memanggilkan seorang guru& amun sekarang lain& ,agaimana seandainya ada pertanyaan ku yang guru itu tak sanggup berikan penjelasannya4 ,agaimana pendapat %ama kalau sampai terjadi begitu46 Teng#si melengak& Tak ia sangka bah+a ia akan

mendapat pertanyaan semacam itu& 5a membungkam beberapa lama& 2<adi, tidak bisa lain kecuali kau berangkat ke 7angciu46 tanyanya kemudian& =adis itu diam& 2Kalau demikian, lain kali saja kita bicara lagi,6 kata sang ibu, akhirnya& 2Tetapi, ak, kau harus makan apa saja, +alau hanya sedikit&&&&6 Eng Tay terus membungkam, kepalanya menunduk&&&&

, Ke -ang.Ciu)
TE =#!5 tak dapat berdiam lama#lama di kamar putrinya itu& 5a tak tahu harus bicara apa, akhirnya ia bangkit dan berkata: 2<angan terus#terusan kau tidak makan, itu tak baik& %ama akan bicara dengan&6 Eng Tay tetap membungkam, sampai ibunya bangkit berdiri& Teng#si melihat ke sekeliling kamar, kemudian berkata pada =in !im: 2Kau harus berupaya agar ona mu mau makan& Tidak ada gunanya kalau kau hanya mera+at kamar ini&&&&6 2,aik, yonya ,esar,6 kata si abdi, tak lebih& Dengan pikiran kacau dan tubuh lesu, Teng#si keluar dari kamar putrinya& ,eberapa kali ia menghela napas& Ketika itu Ciok Kong Can sedang duduk di ruang dalam& %elihat istrinya muncul dengan +ajah muram, ia merasa gelisah& 2,agaimana dengan Eng Tay6 tanyanya cepat& 23pakah dia menyetujui maksud ku memanggilkan seorang guru untuk mengajarinya di rumah46 23nak itu, aku tak bisa mengurusnya,6 sahut Teng#si& 2"endiriannya tak dapat diubah, kecuali kalau dia mati kelaparanI6 2,agaimanakah sebenarnya46 tegas Kong Can& 23pa katanya46 Teng#si menceritakan segalanya& 23ku tidak berdaya,6 katanya akhirnya& 5a menjatuhkan diri di atas kursi& 2Dia terus tidak mau makan&&&&6 Kong Can menga+asi istrinya, kemudian ia mendekat& 2,enar#benar dia tidak mau makan apa#apa46 tanyanya menegaskan& 27abis, apa mau dikata4 !ekalipun bubur biji teratai, dia tak sudi makan&6 Kong Can berdiam diri, ia menarik napas& 23nak kita, kita ra+at sampai besar, biasanya dia sangat penurut, 2kata Teng#si kemudian, 2sekarang dia menjadi keras kepala seperti ini, kenapa4 %ungkinkah dia terkena kuasa jahat46 Kong Can pun membungkam& 5a berjalan mondarmandir, kedua tangannya berada di punggungnya& 2Entahlah&&&6 katanya kemudian& 2,agaimana kalau kita panggil tukang tenung untuk menanyakan keterangannya46 tanya Teng#si kemudian& Dia teringat akan juru tenung& 2,oleh jugalah&&&&6 kata Kong Can perlahan& Dia seperti putus asa& 2Kalau si penujum bisa membuat putri kita suka makan saja, akan kuberi dia imbalan yang besar&&&&6

2Tetapi penujum tak bisa mengobati orang sakit,6 ujar Teng#si mengingatkan& Kong Can tiba#tiba terta+a& 23h, aku lupaI6 katanya& 2%emang, penujum bukan tabib& "utri kita anak semata +ayang, kalau dia tetap tidak mau makan, itu bahaya& Kita berdua sudah berusia lanjut, kita mengandalkannya& 3palah artinya hidup kita ini4 3ku akan sangat berterima kasih pada siapa saja yang sanggup membuat putri kita mau makan&&&&6 !elama suami#istri itu bicara, Kiok <i hadir di sana, ia tidak berkata apa#apa& 3kan tetapi di lain saat, selagi berkesempatan, dia pergi ke kamar nona majikannya untuk menyampaikan padanya tentang pembicaraan kedua orang tuanya& Eng Tay berpikir keras setelah mendengar ibunya hendak mengundang penujum& 5a lalu dengan tegas bertanya pada Kiok <i& 3bdi itu memastikan apa yang didengarnya, kemudian menambahkan: 2Tetapi on, ona belum juga makan, kami semua bingung&&&&6 2<angan bingung, tidak apa#apa,6 kata Eng Tay& 2Terima kasih untuk berita mu ini&6 Kiok <i girang, setelah berpesan agar beritanya itu tidak diketahui orang lain, dia mengundurkan diri& ,erita itu, bagaimanapun juga, melegakan hati Eng Tay& !etelah berpikir sejenak ia berkata pada =in !im: 2Kau perhatikan datangnya si penujum itu& Kalau dia datang, segera temui dia dan beri dia sejumlah uang& Jtarakan maksud Tuan ,esar dan yonya ,esar mengundangnya& Kau jelaskan tentang akal kita ini, minta agar dia menyiasati Tuan ,esar dan yonya ,esar& Katakan, asal dia berhasil, akan kuberi dia imbalan yang akan memuaskan hatinya&6 =in !im terta+a& 2"eramal yang biasa datang ke mari adalah =o+ Ti#ka+, si %ulut ,esi, 2 katanya& 23ku mengenalnya, aku akan bicara denganya& amun, bagaimana dengan aku, ona46 Eng Tay tersenyum& 5a maklum abdinya itu bergurau& 2<angan kau tanyakan lagi,6 katanya, 2akan kuajak kau sertaI6 !ang abdi girang sekali, dia terta+a& !egera dia pergi ke luar& "etang hari itu Ciok Kong Can dan Teng#si sedang duduk bercakap#cakap di ruang dalam rumah mereka& %ereka membicarakan urusan anak gadis mereka, yang sedang membingungkan dan memusingkan mereka& ,eberapa kali tampak mereka hanya menghela napas panjang& Tiba#tiba saja, dari luar, dari ujung rumah, terdengar suara Fting#ting, tang#tangD& 5tulah suara yang mereka kenal baik, suara pertanda dari seorang penujum, ahli tenung, yang biasa le+at di tempat itu& 2Kebetulan sekali,6 kata Kong Can& 2Kita sedang berpikir akan mencari tukang tenung, eh, sekarang dia le+at di siniI6 2,ukankah tak ada halangannya bila kita

memanggilnya46 kata Teng#si& ,elum lagi Kong Can sempat menja+ab, sekonyongkonyong =in !im muncul& 2 yonya ,esar hendak memerintahkan sesuatu46 tanyanya pada sang majikan& 2Di luar ada tukang tenung, coba kau panggil ke mari,6 kata si nyonya& 23da yang hendak ku tanyakan&&&&6 =in !im menyahut 2Aa,6 tetapi ia tidak segera memutar tubuhnya untuk pergi ke luar, melainkan lebih dulu menoleh pada tuan besarnya, yang ketika itu sudah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mondarmandir dengan +ajah muram& %elihat hal itu, dia segera cepat#cepat ke luar& Tak lama kemudian dia telah kembali bersama seorang lelaki tua& Teng#si melihat, seorang tua berbaju abu#abu mengenakan ikat kepala, raut +ajahnya "anjang dan bere+ok& Di tangannya, orang itu memegang sebuah tangkeng 8 serta sepotong bumbung bambu& Di depan nyonya rumah, orang tua itu segera menjura, memberi hormat& 2 yonya ingin menghitung#hitung sesuatu46 tanyanya dengan hormat& 2!aya =o+ Ti#ka+, biasa meramalkan segala hal& "enduduk di sekitar sini kenal siapa aku&6 Kong Can sedang berdiri menga+asi tamunya itu& 2Aa, ada sesuatu yang ingin ku tanya,6 ja+abnya, mendahului istrinya& 2Dapatkah kau menerangkannya46 2Tentu, tentu, Tuan ,esarI6 kata si tukang tenung dengan cepat& 2Aang Tuan ,esar hendak tanyakan itu, anak laki#laki atau anak perempuan46 2Dia adalah putriku anak perempuan yang sedang sakit6 kata Kong Can& 23nak perempuan46 tegas si tukang tenung& !egera dia menurunkan tang-keng sambil memegangi bumbung bambunya& Dia menjurai ke langit tiga kali, kemudian menggoyang#goyangkan bumbung bambunya, dan akhirnya menuangkan isinya ke atas meja& !egera saja ke luar, terjatuh, enam batang bambu rautan, kecil dan pendek& Ke#enam batang bambu itu berjatuhan saling susun&
8 Tang#keng: semacam alat musik terbuat dari batu atau kuningan&

%elihat hal itu si tukang tenung terkesiap, bahkan dia berseru sendiri: 23h, ini ramalan tidak baikI Tuan ,esar mengatakan putri Tuan sedang sakit, maka aku kha+atir, tidak sampai seratus hari akan ada bencana sinar merah darah&&&&6 Ciok Kong Can terperanjat& Dia memang sedang bingung, sekarang dia mendengar ramalan mengerikan itu& 2%erah darahI6 katanya, suaranya tak jelas& 2:alu bagaimana H adakah daya untuk menangkisnya4 3pakah bisa diperoleh pertolongan&&&46 Dan sang ayah pun lantas mendongak ke langit& Di dalam hati, dia memuji, memohon pertolongan Tuhan Aang %aha kuasa& !i tukang tenung tidak segera menja+ab& Teng#si pun cemas sekali, dia bangkit berdiri& 23pakah ada daya untuk menghindarinya46 tanyanya

bingung& =o+ Ti#ka+ tidak segera menja+ab& Dia terus menga+asi ciam-si > batang#batang bambunya itu, dia tampak sedang berpikir keras& ,aru sesaat kemudian, terdengar suaranya& 2Aa, ada jalan untuk menghindarinya,6 katanya perlahan& 2"utri Tuan harus pergi dari sini, ke tempat sejauh tiga ratus li .1 dan di sana dia harus tinggal untuk jangka +aktu tertentu& %ungkin hal ini akan membuat dia menemukan jalan keselamatan, malapetaka bisa berubah menjadi keberuntungan& :ihat ramalan ini, enam saling susun dan melintang& Aa, apalagi mengenai orang perempuan, kepergiannya ke lain tempat tak boleh ditunda#tunda lagiI6 Teng#si bingung& 2Dia justru putriku&6 katanya& 2%enurut ramalan ini, apabila yang bersangkutan adalah anak perempuan, dia mestinya sudah mengerti
/ Ciam#si: ramalan& .1 . li K sekitar 9B/ meter&

ilmu budaya dan usianya sekarang di atas tujuh belas tahun& 5tu usia peralihan& ,ukankah dia sedang berbaring saja dan tidak mau makan atau minum4 ,ukankah dia anak tunggal kedua orang tuanya4 5nilah saat yang sangat berbahayaI Tuan ,esar dan yonya ,esar, aku bicara sebenar#benarnya, tetapi aku mengatakannya menurut ramalan& Cocokkah itu46 Teng#si menepuk meja& 2Aa, cocok ramalanmu ituI6 katanya& Kemudian ia berpaling pada suaminya dan berkata: 2!uamiku, bagaimana4 5tulah bunyi ramalannya, maka kita perlu bertindak cepat guna menghindari ancaman bahaya +alau untuk sementara +aktu& %enurutku, sebaiknya kita i'inkan putri kita pergi&&&&6 Ciok Kong Can mengusap#usap janggutnya& 2%engi'inkan pergi ke 7ang#ciu, bagaimana ya46 raguragu& 2,enar, pergi ke 7ang#ciuI6 ujar =o+ Ti#ka+ turut bicara& 2Di sana tidak ada ancaman Fcahaya darahD, bahkan tahun ini, di sana ada yang dinamakan FTahun ,udayaD& !elain itu, tindakan ini pun adalah tindakan menyingkirkan diri dari malapetaka untuk sementara +aktu saja&6 2Aa, suamiku, ku harap kau tidak ragu#ragu,6 sambung Teng#si& 2Kalau begitu, biarkanlah dia pergi&&&&6 kata Kong Can akhirnya, setelah bimbang beberapa lama& %au tak mau, hati kerasnya melunak& 2Aa, itu memang yang paling baik, Tuan ,esar,6 tegas, si juru ramal& Di dalam hatinya dia girang bukan kepalang& Kemudian ahli nujum ini mohon diri& Teng#si membekalinya imbalan sebesar lima tahil perak& %aka bukan main senang hatinya& Cepat luar biasa, berita baik itu telah sampai ke telinga Eng Tay& ,ahkan selagi ayah dan ibunya masih duduk membahas persiapan keberangkatan anak gadisnya ke 7ang#ciu, tiba#tiba putrinya itu telah muncul di ruang

tamu itu& Dua hamba sahaya +anita mengapitnya& Eng Tay sudah berdandan rapi, rambutnya telah tergelung, dan ia berbedak tipis& ,ukan main lega hati Teng#si& 5bu ini segera bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri putri gadisnya itu& 2Kau sudah sembuh, ak46 tanyanya& <elas ibu ini sangat menyayangi putrinya& 2,aru saja aku mendengar tentang datangnya penujum, maka aku paksakan diri datang ke mari,6 kata Eng Tay& 2Ketika aku mendengar kata#kata penujum itu dan "apa menyatakan mengi'inkan aku pergi, aku lantas sembuh sama sekali&6 Kong Can menga+asi putrinya itu& 2Aa, kau tampaknya sehat,6 katanya& Eng Tay segera mengucapkan terima kasih pada kedua orang#tuanya itu& 5a memberi hormat& !ekarang ia tak usah diapit lagi oleh kedua pembantunya& Tiba#tiba sikap Kong Can berubah menjadi dingin& 2Tadi kata#kata "apa itu hanya main#main sajaI6 katanya kaku& 2"erkataan =o+ Ti#ka+ tidak ada buktinya& "apa meng#iya#kan saja agar dia lekas#lekas pergi&&&&I6 Eng Tay terperanjat& 2Tetapi, "a,6 katanya, 2penujum itu tidak bicara mainmainI :agi pula tadi "apa mengatakan di depan orang banyak bah+a "apa sudah i'inkan aku pergi melanjutkan pelajaran ke 7ang#ciu, mengapa sekarang "apa bicara lain4 Oh, "apa, putrimu ini sedang pilu hati&&&&6 Teng#si, si ibu, juga terkejut& 5a mendekati anak gadisnya itu dan merangkulnya& 2 ak, bicaralah baik#baik,6 katanya membujuk& 2Tapi, %a, kata#kata tadi, main#main atau bukan46 tanya putrinya sambil menatap ibunya& Teng#si bersikap tenang, bahkan dia tersenyum& Kong Can menga+asi anak gadisnya itu, pikirannya bekerja keras& 23pabila kau sudah mantap hendak pergi, pergilah, %ama tidak menghalangimu,6 katanya kemudian& 2Tetapi sebaliknya, "apa mempunyai tiga syarat berat& 3sal kau setuju kau boleh pergi, kalau tidak, sukar sekali&&&&6 =adis itu mengamati ayahnya& 2,aiklah, "a, silakan "apa sebutkan tiga syarat itu,6 katanya cepat& Kong Can mengangguk& 5a berkata& 2Kau akan menyamar sebagai laki#laki, kau harus berhati#hati& 3pabila kau gagal, kau bisa merusak nama baik keluarga Ciok kitaI6 25tu mudah, "a,6 kata putrinya& 2"apa toh sudah mengetahui, sejak kecil aku gemar dandan sebagai anak lelaki& Tentang hal ini harap "apa jangan kha+atir&6 Ketika itu =in !im yang hadir bersama, maju ke depan& Dengan berani dia turut bicara& Katanya: 2 ona akan pergi ke 7ang#ciu, ia membutuhkan pelayan untuk disuruhsuruh& %aka dari itu, hambamu ini suka ikut serta& 7amba juga akan menyamar sebagai laki#laki&6 !ang majikan mengamati abdinya, ia bersikap kaku& Tetapi segera dia berkata: 2,aiklah, kau boleh turut serta&

Tapi kau harus berhati#hati melayani onamuI6 2Tentu, Tuan ,esar, tentuI6 sahut si abdi cepat& :alu ia mengundurkan diri& 2!yarat yang kedua, "a46 tanya Eng Tay dengan sabar& 2!ekarang ini sering sakit,6 kata sang ayah, 2maka dari itu dengan kepergianmu yang akan mengambil +aktu lama ini, andaikata jatuh sakit dan "apa mengirim surat padamu, kau harus segera pulangI6 2Aa, itu benar,6 ujar Teng#si ikut bicara& 2Kau tahu, kepergianmu membuat %ama selalu memikirkan kau& %ama memang ingin kau lekas pulangI6 Eng Tay mengangguk& 25tu pasti, %a6 katanya& Terus ia menoleh pada ayahnya: 2Aang ketiga, "a46 desaknya& 25ni agak sulit,6 katanya& 2!ebutkan saja, "aI6 tantang putrinya& 2<angankan baru agak sulit, asal aku dii'inkan berangkat ke 7ang#ciu, +alau harus menyerbu api, aku tak akan menolaknyaI6 LMCiok Kong Can mengangguk& 2,aikI6 katanya cepat& 2Kau boleh pergi ke 7ang#ciu, namun kau harus ingat, dengan berada di sana kau jadi terpisah jauh dengan "apa dan %amamu& Kami tak menjagamu, maka kau haruslah menjaga dirimu sendiri baik#baikI Kau berdua saja dengan abdimu, kalian harus saling membantuI anti, bila kau sudah pulang, akan ku panggil bidan untuk memeriksamu& 3ku harap bidan akan menyatakan bah+a kau masih pera+an& 5tulah yang akan membuat +ajah kita bercahayaI6 Eng Tay menatap ayahnya itu& 2Kalau sebaliknya, bagaimanakah, "a46 tanyanya& 23pabila demikian, tak usah kau tanyakan lagi, kau harus putuskan sendiriI6 ja+ab sang ayah& =adis itu tersenyum& 2Ku kira ada kesulitan apa, "a46 katanya& 25tu adalah urusanku sendiri, tak usah "apa pikirkan, tak usah "apa berpesan lagi& ah, "a, ketiga syarat "apa akan aku penuhiI6 Teng#si lega hatinya& !emula dia sangat kha+atir karena belum mengetahui apa ketiga syarat suaminya itu& !ekian lama ia mengerutkan dahi, namun tak berani dia turut bicara& !ekarang semuanya beresI 2 ah, kau baru putri "apa yang baikI6 katanya pada putrinya itu seraya memegang tangan Eng Tay& 2!ekarang, ak, kapan kau hendak berangkat46 2Tanggal keberangkatannya, terserah "apa,6 ja+ab putrinya& 2Karena "apa telah meluluskan kau pergi,6 kata Kong Can, 2kau boleh berangkat dua hari lagi, esok kau boleh ganti pakaian, lusa kau sudah bisa berangkat& !egala pakaian dan lainnya, esok boleh perintahkan Ong !un berangkat lebih dulu, jadi lusa kau bisa berangkat dengan leluasa& 3kan "apa sediakan seekor kuda& =in !im akan memba+a bungkusan barang#barang keperluan seharihari&6 2Terima kasih, "a,6 kata Eng Tay& 2Terima kasih, "apa sangat memperhatikan segala keperluanku& ,aiklah, lusa aku berangkatI6 !ehabis berkata, Eng Tay mengajak =in !im kembali ke

kamarnya untuk menyiapkan segala sesuatu& %aka, dua hari kemudian, majikan dan abdinya itu sudah bisa memulai perjalanannya& 7ari itu pun langit terang#benderang& !atu hari lebih a+al, Ong !un telah berangkat& =adis itu memohon doa restu selamat jalan kepada ayah#ibunya, demikian juga sang abdi kepada majikannya itu& ,erbeda dari hari#hari biasanya, kali ini Eng Tay tampak seperti seorang pemuda pelajar yang tampan& ,ajunya biru, sepatunya hitam& 5a tidak memakai bedak, +ajahnya terlihat putih bersih& =in !im juga menjadi seorang pemuda& 5a memakai kopiah hijau dan baju ketat ber+arna hijau juga, hingga mirip sekali pelayan anak sekolah& Di saat hendak berangkat, Eng Tay memberi hormat pada ayah#bundanya& Dan kedua orangtuanya itu menyampaikan pesan#pesan mereka& !ang ayah dan ibu hendak mengantar anak gadisnya, tetapi putrinya itu menolak& Eng Tay menunggang seekor kuda berbulu merahcoklat& Kong Can dan Teng#si menga+asi putrinya sampai ia dan =in !im lenyap dari pandangan& Di tengah perjalanan Eng Tay menanyakan abdinya, 2Kau kuat menggendong bungkusan itu atau tidak46 2Kuat, on,6 ja+ab si abdi& 2!aya kuat mengangkat barang seberat empat puluh kati .. sedangkan bobot bungkusan ini tak ada separuhnyaI6 Eng Tay terta+a& 2Kita berjalan santai saja,6 katanya& 2!ekarang musim ketiga, bunga#bunga sedang mekar dengan indahnya& Aa, kita berjalan seperti sedang pesiar saja& ,agaimana, kau setuju46
.. . kati sama dengan @,09 ons&

2Tentu, on,6 sahut sang abdi, sang kacung sekarang& 2Kita bisa berjalan perlahan#lahan, atau istirahat di ba+ah pohon yang rindang&&&&6 2Kau benar,6 kata gadis itu& Demikianlah, nona dan hambanya itu berjalan perlahan#lahan, namun sampai tengah hari mereka telah melalui kira#kira dua puluh ?/ 25ni adalah hari pertama kita& Kita jangan berjalan sampai terlalu letih,6 kata Eng Tay& 2Di depan, kalau ada rumah penginapan, sebaiknya kita singgah dulu&6 =in !im setuju, maka hari itu, sang malam dile+ati di tempat penginapan& Keesokan paginya, mereka berangkat lagi, masih saja dengan santai sehingga mereka tak merasa lelah& "ada suatu lohor, tiba#tiba saja majikan dan hambanya itu menjadi repot& Cuaca sekonyong#konyong berubah, langit mendadak mendungI 23hI6 seru =in !im& 27ujan akan turun, kita perlu segera mendapatkan rumah penginapanI6 Di atas kudanya, Eng Tay melihat ke sekeliling& %endung di mana#mana& 2,enar, hujan akan segera turunI6 katanya& 2Di mana ada pondokan4 3tau kita mampir saja di rumah

penduduk46 =in !im pun menoleh ke sekitarnya& 2Aa, kita cari rumah penduduk saja&&&&6 katanya& =adis itu mengangguk& Di arah selatan tampak sebuah tempat perhentian& !egera ia menggebah kudanya untuk berlari ke sana& =in !im lari mengikuti& Di tepi jalan mereka melihat sebuah teng/ .0 Ke tempat perhentian itu, mereka menuju& Di sisi teng itu ada beberapa pohon yang-li$ yang besar& 3da pula satu bukit kecil dengan sebuah susukan, atau kali kecil& Di pinggirnya, tumbuh rumput#rumput hijau&
.0 Teng: pa(iliun terbuka, dibuat menyerupai gubuk&

25ndah sekali pemandangan alam di sini,6 kata =in !im yang juga mengamati sekitarnya& 2!ungguh menarik kalau dibuatkan syair&6 2Kau benar,6 kata Eng Tay kepada abdinya itu& 2Coba kau dengar&6 Dan gadis itu langsung mengalunkan suaranya yang halus dan merdu: 23ngin besar berhembus dari arah selatan, %enggoyang#goyang pohon murbei di persa+ahan, "erjalanan jauh melelahkan si pelancong, 7ingga ingin ia singgah di antara pepohonan& Eh, tanpa terasa pa(iliun basah kehujanan&&&&6 2,agusI6 ujar =in !im memuji& Tetapi mendadak tangannya menunjuk ke jalan besar& 2:ihat di sanaI6 katanya& 23da seorang penunggang kuda dengan menggendong buntalannya sedang mendekat& Aa, dia sedang menuju ke mari& <elas dia pun ingin berlindung dari hujan&

/ Pertemuan Pertama
%E DE =3* suara abdinya, Eng Tay berpaling& ,enar saja, seorang anak muda sedang menuju teng itu& Dia menunggang seekor kuda berbulu dauk, putih#kelabu& Di belakangnya, berlari#lari seseorang sambil menggendong buntalan& 2Tuan %uda, di dalam teng sudah ada orang lainI6 kata pengikut itu, yang mendahului maju& Dia melihat Eng Tay dan =in !im& 2Aa,6 sahut si anak muda yang dipanggil 2Tuan %uda6 itu& !egera si anak muda juga meloncat turun dari kudanya& Dia mengenakan baju biru, berdandan sebagai seorang pelajar, hanya saja, bahan pakaiannya kasar, hingga jelas dapat diterka bah+a dia bukanlah dari keluarga berada& amun, dia tampan dan gerak#geriknya halus& Ketika memasuki teng, menghadap Eng Tay, dia memberi hormat seraya berkata dengan tenang: 2%aa;, hujan besar akan segera turun, aku mohon agar dapat ikut berlindung di sini6 Eng Tay membalas hormatnya& 2!ilakanI6 katanya& 2,enar, akan turun lebat& Kami pun sedang berlindung di sini&6

Caktu itu, masuklah kacung si anak muda& Dia mengenakan baju abu#abu& Jsianya baru sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun& Dia melangkah masuk sambil mengusap peluh di +ajahnya& !ementara itu kuda mereka, yang ditambat berdekatan, berkelahi hingga saling mendupak& Kacung si anak muda itu segera lari untuk memisahkan& =in !im pun cepatcepat memisahkan kuda nona majikannya& 2"enuntun kuda, kau datang dari mana46 tanya si kacung kepada =in !im& Aang ditanya menatap, tetapi tidak menja+ab& 23h, gagu barangkaliI 2 kata, kacung itu& 2Kau lah yang gaguI6 kata =in !im kemudian& Kacung itu menga+asi& Tampak dia heran& 2Kalau tidak gagu, kenapa kau diam saja46 tanyanya& 2Kau tahu, manis budi itu mendatangkan uangI6 kata =in !im keras& 2Kau menyapa orang, mengapa mendadak kau panggil orang dengan sebutan penuntun kuda4 3ku merasa tak enak mendengar kata#katamu itu, maka aku tidak menja+ab& Kau tak tahu sopan#santunI6 %endengar demikian, si kacung terta+a& 23h, maa;, aku benar#benar salah,6 katanya& 2Kak, terimalah hormat adikmu&&&&,6 dan dia pun terus menjura dalam& =in !im terta+a, dia membalas hormat& 2Dan kau, kau datang dari mana46 ia balas bertanya& 2Dari dusun io di 7+e#ke,6 sahut si kacung& 2:ain tujuanmu ke mana46 2Ke 7ang#ciu, untuk sekolah&6 2Kau pergi hendak belajar46 2,ukan aku, tetapi Tuan %udaku itu&6 25tukah tuan mudamu46 2,enar,6 sahut si kacung sambil menunjuk ke teng/ Di saat itu, si anak muda itu sedang memperhatikan langit, mengamati a+an& 23ku juga hendak bertanya kepadamu,6 kata si kacung kemudian& 2Kalian datang dari mana46 2Dari dusun Ciok&6 2Tujuannya46 2!ama dengan tuanmu, ke 7ang#ciu, untuk meneruskan pelajaran&6 2<adi kau lah yang hendak sekolah46 2,ukan, tetapi Tuan %udaku 2,agus sekaliI6 seru si kacung& 2!ekarang aku numpang tanya, siapa nama Kakak46 2 amaku =in !im& 8in, perak, Sim, hati& Kau sendiri46 23ku4 amaku !u Kiu& S$, empat, Kin, sembilan, sebab aku dilahirkan ketika ayahku berusia empat puluh sembilan tahun&&&&6 2Cukup sudah kita bicara,6 kata =in !im& 2%ari kita mendatangi majikan kita&6 2Aa,6 kata !u Kiu& %aka mereka bersama#sama memasuki teng/ 2Kalian bicara apa saja46 tanya si pemuda marga io pada kacungnya& 23pakah Tuan %uda tidak mendengar pembicaraan

kami46 2Dengar tetapi tidak jelas&6 2Tuan %uda itu juga sama seperti Tuan %uda, hendak sekolah di 7ang#ciu&6 2Kalau demikian, kebetulan sekali,6 kata si majikan& 2 anti ku temui dia&6 Dan segera dia menghampiri Eng Tay& 5a memberi hormat sambil terus berkata: 2Kak, tadi !u Kiu memberi tahu aku bah+a 3nda juga hendak sekolah di 7ang#ciu, benarkah46 2,enar,6 sahut& Eng Tay sambil memberi hormat& 2Dan Kakak sendiri46 2<uga mau sekolah di 7ang#ciu& Kakak sebenarnya dari mana46 23ku dari dusun Ciok& 3nda dari mana46 2Dari dusun io di 7+e#ke&6 2!ungguh kebetulanI6 kata Eng Tay& 25nilah yang dikatakan: senikmat#nikinatnya air dari dusunI6 2Aa,6 ujar si anak muda menimpali, 2seerat#eratnya sesama orang desaI6 %aka terta+alah keduanya& 2Di sana ada kursi batu, mari kita duduk,6 ajak Eng Tay& 2%ariI6 kata si pemuda bermarga io itu& %ereka menghampiri kursi batu itu& !ekali lagi mereka saling memberi hormat, baru mereka sama#sama duduk, berhadapan& 2Kakak siapa46 tanya Eng Tay kemudian& 23ku io !an "ek,6 sahut orang yang ditanya& 2!an, gunung dan "ek, paman#tua& Kakak sendiri46 23ku Ciok Eng Tay& #iok dari ciok-hok, beruntung, Eng dari eng-hiong, pendekar, dan Tay dari la@-tay, rumah susun& Kakak mau pergi ke 7ang#ciu, guru manakah yang kakak cari46 23ku hendak menemui pak guru tua Ciu !u Ciang di i !an& Kakak sendiri46 2Kebetulan, kita sama#sama mencari guru yang samaI Kata orang, guru Ciu mempunyai murid#murid dari tempat lain&6 2,egitulah kata orang,6 kata !an "ek& Ketika itu tampak a+an tebal bergerak, lalu berkelebat sinar kilat& !egera guntur menggelegar nyaring bertalutalu, diselang#selingi kilat& Dan akhirnya, turunlah sang hujan, lebat sekali& =in !im dan !u Kiu, yang berdiri di luar teng, segera berlari ke pinggir, berdiri di sisi teng/ 2!u Kiu, hujan begini besar, kau takut atau tidak46 tanya !an "ek pada kacungnya& 27ujan bagiku, tidak ku takuti, namun tadi baru saja, yang menggelegar memekakkan telinga, aku agak&&&&6 2Takut, ya46 sambung majikannya& 25tu +ajar& Tetapi kita ya kita, guntur ya guntur, tak ada sangkut#pautnya&6 23nda benar,6 kata Eng Tay& 2!iapa pun, pada saatnya, merasa takut& amun kita, karena hujan turun dengan lebat, kita jadi harus tinggal lebih lama di sini& Kak, di kota 7ang#ciu, apakah 3nda mempunyai sanak#saudara46

2Tidak ada& ,agaimana dengan Kakak sendiri46 23ku juga tidak punya kerabat di sana&6 2<adi, kita berdua sama saja,6 kata !an "ek lagi& 2Eh, ya, apakah 3nda mempunyai saudara46 23ku hanya sendiri& Tapi, 3nda, Kakak io46 2Kalau demikian, kembali kita sama saja& 3ku sebatang kara& Aa, sang hujan membuat kita bertemu satu sama lain& Kita bagaikan berjodoh&&&&6 !etelah berkata demikian, !an "ek menghela napas& 2Aa, memang kebetulan sekaliI 2 kata Eng Tay& !an "ek menoleh pula ke luar, hujan mulai reda& 2Kalau tidak keliru, sebentar lagi kita sudah bisa berangkat,6 katanya& Terus ia bangkit, berjalan ke luar dengan langkah perlahan& Kedua kuda mereka berteduh di ba+ah atap di samping teng/ 2:ihat,6 kata !an "ek terta+a& 2!ekalipun kuda, dia takut hujanI Dasar binatang dia pun punya perasaanI6 Eng Tay berdiam diri& 2:ihat,6 kata !an "ek pula, 2hujan semakin reda& Di barat#daya, langit sudah terang, gedangkan mega mulai bergeser ke tenggara& !ebentar lagi langit jernih dan kita bisa melanjutkan perjalananI6 !ambil berkata begitu, pemuda ini menunjuk ke arah a+an& Eng Tay bangkit dari duduknya, ia memandang ke arah yang ditunjuk si pemuda& 7ujan memang sudah berhenti dan langit sudah terang& %atahari mulai muncul& Daun pepohonan tampak hijau segar& ,unga#bunga pun kelihatan cantik, terlebih#lebih kembang sepatu& 2!ungguh suatu pemandangan yang indahI6 gadis itu memuji& 27ujan ini membangkitkan kesegaranI6 %endengar perkataan gadis itu, =in !im dan !u Kiu turut memandang ke luar& 2,enar#benar indahI6 kata !u Kiu& 2!ayang sekali aku tak dapat menguraikannya& Eh, ya, Tuan %uda,6 lanjutnya pada majikannya, 2kenapa Tuan %uda tidak mau bersyair4 Kebetulan di sini ada Tuan %uda Ciok, kalau Tuan %uda membuat satu bait, Tuan %uda Ciok dapat menanggapinya&&&&6 !an "ek terta+a& 2Tak kusangka kau gemar syairI6 katanya& 2Di sini ada Tuan %uda Ciok, jika aku bersyair, pasti akan jadi bahan terta+aanI6 2Kakak io, jangan bergurauI6 kata Eng Tay& 23ku justru ingin sekali belajar dari 3nda& Kakak io, silakan bersyair untuk membuka kepicikanku&6 23h, tak usahlah kita bersyair,6 kata !an "ek menolak 2Kalau 3nda tidak berkeberatan, sebaiknya kita bicara tentang Co Cu Kian&6 2Co Cu Kian si Co "i, putera yang pandai dari Co Coh semasa Dinasti 7an46 2,enar, Kakak Ciok& Co Cu Kian memang pandai sekali& 3nda lihat di hadapan kita, bukankah itu F<auh memandang ribuan li, seluruhnya hanya tampak tanah datarD46 5nilah salah&satu syair si Co "i itu& Eng Tay tertarik, tanpa terasa, ia menimpali& %aka berdua, muda#mudi itu bagaikan tenggelam dalam syair&

2Kakak Ciok, 3nda benar#benar&pandaiI6 ujar !an "ek akhirnya memuji& 2Kakak hanya menyanjungI6 kata Eng Tay terta+a& Kemudian ia menambahkan& 2Kita sekarang hendak sekolah, aku merasakan suatu kebimbangan&&&&6 23pakah itu, Kakak Ciok46 tanya !an pek, ia tak mengerti& 2Tentang guru Ciu di 7ang#ciu& 3ku tak mengerti mengapa dia tidak menerima murid perempuan4 Aa, bahkan di seluruh negeri kita sekarang ini tidak ada sekolah khusus +anitaI ,ukankah itu tidak adil46 2Kakak benar, namun itulah masalah umum& 7al itu bukan soal sehari semalam&6 2Tetapi, di 'aman dinasti 7an Timur, bukankah sudah ada guru yang menerima murid +anita46 kata Eng Tay& 25ngat saja pada "an Ciao, ia sangat terpelajar hingga ia mencoba mengarang kitab sejarah Kerajaan 7an& <uga ,oen Kie, putri Coa Aong, yang terdampar ke tangan suku 7iong#no+& Tetapi syukur dia dapat ditolong oleh Co Coh yang menebusnya dengan uang emas dalam jumlah besar& ,ahkan dia memahami juga ilmu musik& 7anya sayang, mereka itu tak tercatat luas dalam sejarah&&&&6 .>
.> "an Ciao ("an Chao) alias 7ui Chi, adik dari "an Ku& "an Ku menulis buku

sejarah Kerajaan 7an& !ayang sekali, sebelum selesai, ia telah tiada& Tetapi karyanya itu diteruskan oleh "an Ciao, adik perempuannya& !edangkan, Coa Aong (Tsai Aung) alias "ei Chiai, juga orang 'aman dinasti 7an Timur, berkat kepandaiannya, pernah

!an "ek terta+a& 2Kakak Ciok, bicaramu beralasan sekali,6 katanya& 2Ku pikir, kalau nanti Kakak sudah lulus, Kakak dapat membangun sekolah yang menerima muridmurid +anita&&&&6 !ehabis berkata, pemuda bermarga io itu segera mengalunkan syair Coa Aong H syair F%emberi minum kuda di kobakan jalanan Tembok ,esarD& ,egini bunyi syair yang dialunkan itu: 7ijau#hijau rumput di tepian sungai, Tak hentinya memikirkan perjalanan nan jauh, <alanan nan jauh tak bertepi, Tempat penginapan terlihat dalam mimpi&&&&6 Eng Tay pun terta+a& 2Kakak io,6 katanya, 27ebat, 3nda dapat menyanyikan syair Coa :ong#tiong& 3nda hapal sekaliI6 25tu karena tadi aku tertarik oleh syair 3nda,6 kata !an "ek& Di saat itu, hujan telah benar#benar berhenti& "epohonan tampak luar biasa segar& 7a+a hujan, bagaikan halimun menaungi teng/ ,erkat pengaruh daun pepohonan, pakaian orang bagaikan ber+arna hijau pula& Dengan berhentinya curahan air dari langit, mentari pun mulai muncul untuk menerangi jagat, untuk memudahkan orang yang sedang melakukan perjalanan& !a+ah ladang pun tampak hijau semua&&&& Diam#diam !an "ek mengagumi Eng Tay, sahabat baru yang ia anggap tampan, terpelajar dan pandai bersyair itu& :alu ia berkata: 2!ekarang langit cerah sekali, marilah kita lanjutkan perjalanan kita& Kakak Ciok, selama dalam perjalanan kita ini, aku sangat mengandalkan bantuan 3nda& Di 7ang#ciu

nanti, harap saja 3nda belajar dengan sungguh#sungguh


menjabat sebagai sekretaris suatu kementrian& !ayang sekali, karena ulah 2Durna,6 dia dihukum buang, namun setelah bebas dan kembali, oleh Tung Cho (Tang Toh) ia diberi pangkat bahkan gelar kebangsa+anan&

guna mencapai cita#cita 3nda& Aa, bantuan 3nda sangat ku butuhkanI Kak, pertemuan kita di tengah jalan ini sungguh luar biasa, bukan kebetulan belaka&&&&6 2Kakak io, 3nda benar,6 kata Eng Tay& 2namun 3nda terlalu memuji& !ebenarnya, aku tidak berbuat apa#apa&&&&6 io !an "ek diam sejenak, agaknya dia sedang berpikir& 2Kak, ada sesuatu yang tak dapat tidak, saya mesti mengatakannya,6 katanya kemudian& Eng Tay agak heran, ia menatap& 23pakah itu, Kak46 tanyanya& 2Kita baru bertemu tetapi kita sudah bagaikan sahabat lama, kalau ada yang ingin Kakak katakan, silahkan katakan&6 2*umah sekolah di i !an itu, pasti banyak muridnya,6 kata !an "ek, 2karenanya tak heran bila banyak orang banyak pikirannya, beda pendapatnya pula& Tidak demikian dengan kita berdua, kita sama dalam segala hal, maka esok lusa, jika Kakak hendak mengatakan sesuatu, katakan saja& 3ku senang menerimanya& Aa, kuharap bisa menerima lebih banyak petunjuk dari Kakak&6 %endengar demikian, Eng Tay tersenyum& 5a mengangguk& 2,agus, Kakak ioI6 katanya& 2,agus, pikiran 3nda sama dengan pikiranku& 2,aiklah, kelak kita tidak boleh sungkan& 7arap Kakak pun sudi mengajariku&6 !ementara itu, !u Kiu yang berada di luar berkata pada =in !im: 2Kak =in !im, kau dengar atau tidak4 %ajikan kita telah sama#sama memperoleh kecocokan, maka dari itu juga, kita harus bisa bekerja samaI ,agaimana kalau kita pun minta pak guru nanti mengajari kita&&&46 =in !im menoleh pada Eng Tay, agaknya ia ingin bicara, tetapi gagal& 2Kata#kata !u Kiu itu benar,6 kata !an "ek, mendahului Eng Tay& 2Aa, benar,6 kata Eng Tay& 2,elajar ilmu budaya adalah baik sekali& Tentang hal ini sebaiknya kita bicarakan nanti saja&&&&6 =in !im tidak berkata apa#apa, ia hanya repot mengurus buntalannya& !an "ek melihat buntalan Eng Tay kecil, ia heran& 2Kakak memba+a sedikit persediaan, apakah nanti di 7ang#ciu Kakak hendak belanja juga46 tanyanya& Eng Tay terta+a& 2!ebenarnya ketika berangkat ke sini, aku memba+a dua orang pembantu,6 ujarnya menerangkan& 2Aang seorang, Ong !un, sudah berangkat lebih dulu& Kalau tidak keliru, dia mungkin sudah sampai di 7ang#ciu& 3pa yang =in !im ba+a sekarang, hanya keperluan di tengah jalan&6 2!ekarang aku baru mengerti,6 sahut !u Kiu turut bicara& 2Tadinya aku heran dan hendak minta keterangan Kakak =in !im, kenapa dia memba+a barang sedikit saja& Oh, kiranya barang#barang Tuan %uda Ciok sudah diba+a lebih dulu&&&&6

2Kakak Ciok,6 kata !an "ek, 2jika kau merasa dingin, sebaiknya pakai saja bajuku&6 2Terima kasihI6 kata Eng Tay& 2Telah kusediakan bajuku&6 Ketika itu langit sudah jernih sekali, !an "ek lantas berkata pula pada sahabat barunya: 2Kak, mari kita berangkat& Dalam perjalanan kita dapat mengobrol lagi&6 Eng Tay menoleh ke sekitarnya& 23nda benar, Kakak io,6 katanya& 2 amun, di belakang hari, tak dapat ku lupakan teng ini& "emandangan alam di sekeliling ini indah sekali, segalanya tampak bagaikan baru&&&&6 !an "ek terta+a& 2Kakak Ciok, 3nda benar sekali6 ujarnya memuji& Eng Tay pun terta+a, ia berkata: 23ku mengatakan apa adanya&6 !an "ek terta+a pula& !ementara itu =in !im dan !u Kiu telah siap dengan kuda mereka& %ereka menanti di jalan besar, !an "ek dan Eng Tay menghampiri mereka& !etelah saling mengalah, !an "ek menaiki kudanya terlebih dulu, barulah Eng Tay menyusul& Kemudian, !u Kiu, dan =in !im menguntit dengan masing#masing gendongannya& %ereka berjalan di jalan besar, akan tetapi di kiri dan kanan mereka, masih sempat mereka saksikan sa+ah ladang dengan kelokannya, yang semuanya memberikan pemandangan yang melapangkan hati& %ereka melihat dan mendengar burung#burung sa+ah yang berterbangan& !an "ek memuji, saking riang hatinya& "erjalanan itu pun tidaklah terasa sunyi&

0 Menjadi Saudara
!ETE:37 perjalanan tiga hari lamanya, tibalah !an "ek dan Eng Tay serta para abdi mereka di kota 7ang#ciu, kota tujuan mereka& 7ati mereka pun lega& Kata Eng Tay kepada !an "ek& 2!eperti telah ku katakan, orangku, Ong !un, sudah berangkat terlebih dulu, maka sekarang aku hendak mencarinya& Ku pikir, sesudah kita tukar pakaian, kita dapat bersama#sama mengunjungi guru Ciu& ,agaimana menurut Kakak46 2Terserah 3nda, aku menurut saja,6 sahut !an "ek& Tidak sulit bagi Eng Tay mencari Ong !un di tempat penginapannya& !ekalian saja, ia juga memakai penginapan itu& !an "ek pun menginap di tempat yang sama& !isa hari itu, sampai malamnya, dile+ati dengan beristirahat& Keesokan paginya, setelah sarapan dan berdandan, !an "ek dan Eng Tay berangkat ke i !an, mencari rumah perguruan pak guru tua Ciu !u Ciang& %udah saja menemui sekolah yang dicari itu, temboknya yang putih sudah terlihat dari jauh& Di dalam pekarangan tampak banyak rumpun bambu, sampai di dekat pintu& "ersis ketika kedua anak muda itu sampai di depan pintu, dari dalam muncul seorang pria, yang segera

menanyakan siapa gerangan yang mereka cari& 23ku io !an "ek dan ini sahabatku, Ciok Eng Tay,6 ujar !an "ek memperkenalkan diri& 2Kami sengaja datang ke 7ang#ciu guna menemui pak guru Ciu, untuk sekolah& Dapatkah 3nda memberitahukan kedatangan kami ini46 23ku adalah penjaga pintu di sini,6 orang itu memperkenalkan diri& 2!udah lama pak guru Ciu membuka rumah perguruannya ini, muridnya seratus orang lebih, banyak yang datang dari lain tempat& %ajikanku orang yang baik budi, dia biasa tidak menampik kunjungan para tamu& !ekarang silakan Tuan berdua menanti di sini, akan aku beritahu dulu&6 !an "ek dan Eng Tay menunggu& "enjaga itu pergi sebentar, kemudian muncul lagi untuk mengundang kedua tamu ini masuk& Di ruang tengah terdapat sebuah meja panjang yang di atasnya dipenuhi berbagai kitab gulung, yang biasa disebut ch$an/ !ebuah rak buku pun terdapat di situ& Tuan rumah terlihat memakai kopiah serta baju biru, janggut putihnya terbelah tiga, panjangnya tiga atau empat inci& 5a sedang berdiri, memandang ke luar hingga abdinya bersama dua orang tamunya, tiba di hadapannya& 25nilah ,apak =uru kami,6 kata si penjaga kepada kedua tamunya, memperkenalkan majikannya& !etelah itu ia cepat mengundurkan diri& !egera juga !an "ek dan Eng Tay menjura, memberi hormat pada tuan rumahnya& %ereka pun lantas memperkenalkan diri& Tuan rumah membalas hormat& !etelah perkenalan itu, ia berkata dengan ramah: 2Dua !audara, silakan dudukI %ari kita bicara perlahan#lahan&6 5a menunjuk pada kursi, setelah itu ia pun mengambil tempat duduk, menghadap kedua tamunya itu& !an "ek dan Eng Tay mengucapkan terima kasih, lalu mereka mengambil tempat duduk& 2,apak =uru, kami berdua datang ke mari karena kami telah mendengar nama besar 3nda,6 kata !an "ek kemudian& 2!ebenarnya sudah sejak lama kami berniat berkunjung, tetapi baru hari ini kami tiba di sini& Kami datang untuk memohon agar 3nda sudi menerima kami sebagai murid& !audara Eng Tay ini, aku berjumpa dengannya di tengah jalan, ternyata maksud kami sama sehingga kami lantas berjalan bersama#sama& ,apak =uru, demikianlah maksud kunjungan kami ini&6 Ciu !u Ciang mengangguk sambil mengelus janggutnya& Dengan sorot matanya yang tajam, ia mendapat kenyataan, Eng Tay berbeda sedikit dari !an "ek& %ereka sama#sama muda dan tampan, tetapi yang bermarga Ciok agaknya lebih manis& 2!audara Ciok, jadi kau pun datang dengan maksud yang sama dengan !audara io ini46 tanyanya pada tamu yang tampan#manis itu& Eng Tay mengangguk, ia membenarkan& 23pakah !audara sekalian memba+a sesuatu naskah46 tanya !u Ciang kemudian& !an "ek dan Eng Tay merogoh saku masing#masing,

lalu mengeluarkan naskah tulisan yang telah mereka persiapkan sejak di rumah& %ereka menyerahkannya& Ciu !u Ciang menerima, terus ia membuka naskahnaskah itu bergantian untuk dibaca& Cepat sekali ia membacanya& 2,aiklahI6 katanya kemudian, 2ku terima kalian menjadi murid#muridku& %uridku seluruhnya ada seratus delapan orang dan kuliah diselenggarakan setiap hari kedua, keempat dan keenam& *uang kuliahnya ada di belakang sana, di sana pula letaknya asrama& 7ari#hari lainnya dipakai oleh para murid untuk belajar sendiri atau menanyakan segala sesuatu, dan aku akan senantiasa siap membantu kalian semua& 3kan ku ja+ab segala sesuatu sejauh yang ku ketahui& Kalau ada naskah, boleh ditinggal di sini diperiksa untuk nanti&6 Kedua anak muda itu girang bukan#kepalang& 2Terima kasih, "ak =uruI6 kata mereka, yang lalu mohon agar gurunya duduk karena mereka akan menunaikan penghormatan pertanda mereka telah diterima sebagai murid& %ereka menjura sebanyak empat kali& 2Karena kalian berdua sudah menjadi sahabat karib,6 kata guru Ciu kemudian, 2sebaiknya kalian mengambil dua kamar di belakang sana, yang satu untuk kamar tidur, yang lainnya untuk kamar belajar dan beristirahat&6 2Terima kasih, "ak =uruI6 kata !an "ek& 2Kami masing masing sebenarnya masih mempunyai seorang pengikut, mereka juga membutuhkan tempat&&&&6 2Kalau begitu, mereka boleh menempati dua kamar yang kecil di samping,6 kata sang guru lagi& 2Kedua kamar itu berhadapan dengan kamar kalian& Dengan dekatnya mereka, mudah bagi kalian nanti menyuruh mereka&6 Kembali !an "ek dan Eng Tay mengucapkan terima kasih& Karena pembicaraan sudah selesai, keduanya lalu mohon diri untuk kembali ke tempat penginapan mereka& Esok harinya mereka sudah bisa mulai pindah& Kedua ruang kamar yang disediakan sudah dibersihkan oleh pembantu Ciu !u Ciang sehingga para penghuni baru itu bisa datang, masuk dan mengatur hal yang lain tanpa perlu susah#payah& Di halaman depan kamar mereka, di bagian selatannya, terdapat dua pohon kamper yang besar sehingga kamar menjadi teduh& Di bagian belakang ada pintu serta jendela yang menghadap ke sebuah halaman#dalam yang kecil dan ditanami banyak sekali pohon bambu halus& ,ahkan ada dua pohon yang-li$ besar& "ekarangan itu dikelilingi dengan tembok putih& Dari luar tembok sering terdengar derap langkah kaki kuda, rupanya di sebelah luar itu adalah jalan umum& Di dalam kamar telah tersedia ranjang dan meja& 2Kak, kamar yang belakang itu baik sekali,6 kata Eng Tay& 2Kalau begitu, sebaiknya Kakak saja yang menempati,6 kata !an "ek, yang berdiri di belakang Eng Tay H ya, seorang pemuda ganteng di mata orang bermarga io ini& 2Kelihatannya "ak =uru sangat memperhatikan kita, beliau melihat kita saling akrab sehingga kita diberi kamar

ini&6 Eng Tay mengangguk, lantas ia melangkah ke kamar yang belakang itu& Tetapi tiba#tiba dia berseru perlahan: 23h&&&I6 !an "ek heran& 5a menghampiri ka+annya itu& 2Kak, ada apa46 tanyanya& 23nda agaknya kaget&&&&6 2Kakak io, apakah 3nda tidak merasakan sesuatu46 dia balik bertanya& 23pa itu, Kak46 2*uang belakang ini tidak punya pintu tembus ke luar&&&,6 ujar Eng Tay menjelaskan& io !an "ek terta+a lebar& 2Tidak aku tidak merasakan hal itu aneh,6 sahutnya& 25ni +ajar#+ajar saja& %enambah pintu di belakang berarti tambah berabe&&&&6 Eng Tay diam, agaknya ia sukar bicara lebih jauh& Tetapi toh akhirnya ia berkata juga& Katanya: 2%emang benar kita harus lebih berhati#hati sedikit, namun, ada pintu penghubung lebih baik, bukan46 2Kalau Kakak menganggap demikian, baiklah,6 kata !an "ek akhirnya& Eng Tay membungkam, akalnya bekerja& 5a seorang +anita, ini harus ia ingat baik#baik& 5a harus menyimpan baik#baik rahasia dirinya itu, tak boleh ia menimbulkan kecurigaan orang& %aka akhirnya ia terta+a, lalu berkata: 2Tidak apa#apa, Kak, aku sekedar berpikir saja& Aa, Kakak benar&6 !an "ek tidak tahu apa yang dipikirkan ka+annya itu, ia hanya terta+a& :antas ia menyuruh !u Kiu dan =in !im merapikan kamarnya itu& 5a pun menanyakan tentang kamar kacungnya& 25tu, di sebelah kiri,6 ja+ab !u Kiu& 2=in !im, apakah ada yang kurang tepat46 tanya Eng Tay pada abdinya& 2Tidak, tidak ada,6 sahut si abdi& 27anya tembok di sini banyak lubangnya, andaikata !u Kiu mengintai, rasanya kurang enak&&&&6 23h, kalau tembok banyak lubangnya, apakah kau takut ku intai46 tanya !u Kiu& 2Kalau demikian, apa yang hendak ku lihat4 !udah ada pintu, tak cukupkah itu46 Eng Tay turut bicara& Katanya: 2!u Kiu, kau tak kenal =in !im& !ejak kecil, dia punya penyakit& Dia takut diintip orang&&&&6 2Kalau begitu, baiklah, aku tak akan mengintip&&&&I6 kata !u Kiu& 7ingga di situ, kedua kacung itu segera bekerja, merapikan ini dan itu& ,elum sampai tengah hari mereka sudah selesai& %elihat hal itu, kedua tuan mereka merasa puas& 23h, aku teringat sesuatu,6 kata !an "ek suatu sore& Ketika itu, Eng Tay sedang memasang lilin, yang ditancapkannya di tempat lilin& !etelah itu, dia duduk& Tapi dia toh bertanya: 23pa itu, Kakak io46 2Tentang lilin,6 sahut !an "ek& 2Kamar kita dua, kita memasang lilin setiap kamar satu, itu kurang hemat& !elanjutnya, kecuali ada urusan penting, kita pasang lilin di satu kamar saja& Di +aktu belajar, kita belajar bersamasama,

3nda setuju46 2!etujuI6 sahut Eng Tay yang tidak mau menolak& 2Aa, di mana saja, kita harus berhemat&6 !egera juga Eng Tay memindahkan lilin ke meja !an "ek& !etelah meniup padam lilin si ka+an, mereka berdua duduk berhadapan& Aa, mereka belajar bersama#sama dengan tekun& Demikianlah seterusnya, mereka berdua selalu belajar bersama& Di saat santai, mereka makan angin di luar, bersama lebih seratus murid lainnya& 3taupun mereka ke luar, melintas ke jalan besar& Dan, seperti umumnya para mahasis+a, mereka juga suka berkumpul guna saling bertanya atau membahas sesuatu masalah& 3tau juga soal cara hidup masing#masing penduduk, bahkan soal#soal ke+anitaan& 7anya mengenai masalah +anita, Eng Tay lebih banyak melayaninya dengan senyum atau terta+a saja, atau membungkam&&&& 3dalah kebiasaan !an "ek, setiap lohor mengajak Eng Tay ke luar berjalan#jalan& "ada suatu tengah hari, turun hujan rintik#rintik& =erimis& 27ari ini kita tak bisa ke luar, Kakak io, 2kata Eng Tay, 2pikiranmu ru+et, tidak46 2Aa,6 ja+ab !an "ek, yang menghampiri jendela hendak memandang ke luar& 2Di saat begini, aku sering teringat pertemuan kita yang pertama kali di persinggahan&6 Eng Tay mengangguk, ia juga memandang ke luar& 3gaknya ia memikirkan sesuatu& Kata !an "ek lagi: 2,eberapa teman sekolah mengatakan kita berdua bagaikan saudara, ku pikir mereka itu benar& Kita juga sama#sama anak tunggal, dan kita sekolah dengan satu tujuan, bahkan keadaan kita berdua di sini, sama segalanya& ,ukankah ini pertanda berjodoh4 amun, aku tak berani mengatakannya&6 2Aa, kita memang sama segalanya,6 kata Eng Tay& 2Kakak io, bila kau hendak mengatakan sesuatu, katakanlahI6 2Kupikir, Kakak Ciok, bagaimana kalau kita berdua menjadi saudara angkat46 tanya !an "ek akhirnya& 2Dengan demikian, hubungan kita menjadi tambah erat, kita dapat saling membantu secara sungguh#sungguh&&& ,agaimana menurut Kakak46 Eng Tay sedang menatap ke luar, pada serumpun pohon bambu& 5a mengangguk& 2Kakak benar,6 sahutnya& 23ku setuju sekali& ,erapa usia Kakak sekarang46 2Delapan belas tahun& Katanya kau tujuh belas, benarkah46 2,enarI6 sahut Eng Tay& 2Dengan demikian, aku lebih tua satu tahun&6 2<adi, kau lah KakakkuI ,agaimana caranya kita mengangkat saudara46 !an "ek menunjuk ke luar, ke arah pohon yang-li$/ 2Tempat kita ini tepat sekali,6 katanya& 2Di sana ada pohon yang-li$, ada juga pohon bambu, semua berdaun hijau segar& 5ni saat yang baik pulaI6

Eng Tay mengangguk& :antas ia memanggil =in !im dan !u Kiu, memerintahkan mereka agar menggeser meja serta menyediakan lilin dan hio, dupa harum& %aka di lain saat, keduanya sudah berdiri bersebelahan di depan meja, lantas berlutut& %ereka menjura dan berlutut tiga kali ke arah langit, pertanda bersumpah di hadapan Tuhan Aang %aha Esa& !etelah itu, Eng Tay menghadap !an "ek, lalu memberi hormat sambil menjura& 2Kak, terimalah hormat adikmuI6 katanya& 2Terima kasih, DikI6 kata !an "ek, yang juga membalas hormat sang adik& %aka dengan demikian, melalui upacara yang sangat sederhana itu, jadilah mereka kakak adik& Keduanya muda, tampan dan terpelajar, bahkan tujuannya juga samaI Dan bukan main girangnya mereka, +ajah mereka berseri#seriI 2=in !im, ke mariI6 teriak Eng Tay memanggil abdinya& 23yo kau beri hormat pada Tuan %uda !ulung&6 =in !im menurut, segera dia menjalankan penghormatan kepada !an "ek& 2!u Kiu, ke siniI6 !an "ek pun memanggil kacungnya& 23yo kau beri hormat pada Tuan %uda KeduaI6 !u Kiu memberi hormat pada Eng Tay& Kemudian !an "ek berpesan kepada kacungnya itu: 2%ulai hari ini kita adalah satu keluarga, maka kau harus melayani kami berdua seperti biasa kau layani aku& Kerja makin rajin, yaI6 !u Kiu mengangguk& Tetapi segera dia berkata: 2Tuan %uda berdua telah menjalin persaudaraan, bagaimana kalau aku dan =in !im juga mengikat persaudaraan, agar kami pun dapat saling membantu dengan lebih erat46 !an "ek dan Eng Tay tersenyum& Kemudian si anak muda bermarga io itu berpaling pada adik angkatnya, ia tersenyum seakan#akan menanyakan pendapat sang adik& Kata Eng Tay pada abdinya: 2Eh, =in !im, kau dengar ucapan !u Kiu atau tidak4 3ku rasa dia benar&6 2Tuan %uda berdua telah mengangkat saudara, aku rasa kami pun sama saja,6 sahut abdi itu& 2Eh, Kakak !u Kiu, berapa usiamu46 ia terus menanyai ka+annya& 23ku lebih tua satu tahun dari Tuan %uda, usiaku sembilan belas,6 ja+ab !u Kiu& 23ku sendiri baru tujuh belas tahun&6 2Kalau begitu, aku lah kakakmu&6 2<ika demikian, terimalah hormatkuI6 kata =in !im, yang terus memberi hormat dan dibalas oleh !u Kiu& Demikianlah, mereka juga menjadi saudara angkat& 2%asih ada lilin dan hio, ayo kalian menjalankan upacaraI6 ujar !an "ek menganjurkan& Kedua kacung itu menurut, mereka benar#benar bersembahyang, untuk satu kali lagi saling memberi hormat, sebagaimana tadi dilakukan oleh majikan mereka berdua& !an "ek berkata pula: 2!ebentar, di saat bersantap malam, kita makan dan minum bersama#samaI6 23ku tidak suka minum arak, tetapi nanti akan ku temani juga minum sedikit,6 kata Eng Tay& !an "ek benar#benar girang sekali& 5a memberi persen

uang pada !u Kiu dan =in !im sehingga kedua kacung itu pun senang bukan main& Dan benar saja, malam itu mereka berempat makanminum bersama#sama& 2Dik, mari minum,6 kata !an "ek pada Eng Tay& 23ku hendak memberi selamat padamuI6 2Kakak keliru,6 kata Eng Tay& 23ku lah justru yang harus memberi selamat lebih dulu pada KakakI6 Demikianlah kakak beradik itu saling mengalah& 23dikku, lihatlah,6 kata !an "ek, 2di dalam dunia kita ini, yang tidak ada, pada saatnya bisa menjadi ada& 5ni terbukti dengan kita& !iapa sangka kita, anak semata +ayang, bisa bertemu dan berkumpul di sini sebagai saudara angkat4 Kau punya kakak, aku punya adikI 5ni dia yang dinamakan takdir& Aa, inilah kegembiraan manusiaI6 Eng Tay tersenyum, ia membenarkan kata#kata sang kakak itu& %elihat si kakak gembira, dia pun tanpa terasa meneguk arak melebihi yang dia katakan sendiri& 2%ari, Dik, keringkan lagi satu ca+anl6 23h, sudah cukup&&&&6 2Tambah satu ca+an, tidak apa, bukan4 "aling juga kita mabuk&&&&6 Jcapan mudah dikeluarkan, tetapi kenyataannya lain& Eng Tay benar#benar terkena pengaruh arak, karena ketika dia hendak bangkit berdiri, tubuhnya sempoyonganI 23h, Dik, kau benar#benar mabukI6 kata !an "ek& 2%ari ku papahI6 Dan benar#benar dia memegangi tangan sang adik itu lalu mengajaknya pergi& Eng Tay sudah mabuk tetapi belum hilang seluruh kesadarannya, maka ia mengerti, tak boleh orang memeluk tubuhnya& Terpaksa ia mencoba berjalan, +alaupun dengan terhuyung#huyung, sehingga !an "ek harus berjaga#jaga agar ia tidak jatuh& ,egitu tiba di kamarnya, dia menjatuhkan diri ke atas pembaringannya& !an "ek membukakan sepatunya&6 Ketika ia pun hendak melepaskan baju panjang ka+an itu, ia heran mendapatkan baju#dalam ka+annya berkancing banyak& 23h, kenapa baju ini banyak sekali kancingnya46 kata sang kakak angkat& 25ni ada sebabnya,6 kata Eng Tay, yang terus berbohong dengan mengarang cerita bah+a jahitan semacam itu dibuat syarat kesembuhan tatkala dulu ibunya jatuh sakit& Karenanya, baju dalamya pun dijahit seperti itu& !ejak itu ibunya, selama tiga tahun, tak pernah sakit lagi&&&& 2Oh, begituI6 kata !an "ek& 2Kalau demikian, 3dikku, kau sungguh berbaktiI6 25ni tidak apa#apa,6 kata Eng Tay& 25ni termasuk kepercayaan belaka& !udah tiga tahun lamanya aku memakai ini&6 !an "ek percaya, lalu ia tak mengatakan apa#apa lagi& :ega hati Eng Tay& 5a percaya ka+annya itu jujur dan baik hati&

1 +e"ajar +ersama
E = Tay tertidur pulas& !e+aktu mendusin dan membuka

matanya, memandang ke arah jendela, langit tampak cerah, daun bambu hijau semua, ia terperanjat& 23h, aku terlalu pulasI Teman#teman sekolah pasti sudah bangun dari tidurnya,6 katanya dalam hati& :antas ia berkata pada !an "ek: 2Kakak io, kau sudah bangun&6 Orang yang diajak bicara tersenyum& 23ku telah bangun sejak tadi,6 sahutnya& 23ku lihat kau tidur nyenyak sekali, aku tak mau mengganggu& Dua kali sudah =in !im datang melongok, aku larang ia membangunkanmu& =in !im mengundurkan diri sambil tersenyum&&&&6 2:ain kali, kalau Kakak bangun, bangunkan aku juga,6 kata Eng Tay& 23ku kha+atir teman#teman nanti menerta+akan aku&&&&6 !eraya berkata begitu, putri Kong Can ini segera turun dari tempat tidur dan mengenakan bajunya& =in !im, yang telah muncul, segera menyediakan air untuk majikannya mencuci muka, menyisir dan merapikan pakaiannya& Kemudian langsung ke luar, menemui !an "ek yang sudah ke# luar terlebih dulu& 2Kak, tadi tengah malam aku mengganggumu atau tidak46 tanya si adik& 2Tidak, sama sekali tidak,6 sahut !an "ek, yang sedang menulis& 2%alah aku pernah memanggilmu tetapi kau tidak mendusin& Kau tidur lelap sekali&&&&6 Eng Tay menghampiri !an "ek, ia melihat tulisannya& 2Kak, tulisanmu indah sekali,6 ujarnya memuji& 23ku pun akan belajar seperti kau&6 !an "ek meletakkan mopitnya, ia menoleh pada si adik angkat& 2Dik, tulisanmu pasti indah,6 katanya& 2Kau jangan mengikuti aku& Kata orang, karena aku belajar menulis, aku dicap tolol&&&&6 Eng Tay terta+a mendengar nada suara sang kakak itu& 2!udah, kita jangan bergurau lagi,6 kata !an "ek kemudian& 2!ebentar sehabis bersantap tengah hari, pelajaran akan dimulai& !ebaiknya kau siapkan alat tulismu, Dik&6 !antapan !an "ek dan Eng Tay selalu disiapkan oleh !u Kiu dan =in !im& !esudah bersantap, mereka menuju ruang kuliah& 5ni pun merupakan kebiasaan hidup para murid lainnya& %ereka semua mempunyai kamar sendiri, dan tiada yang mengacau& :ama#kelamaan, !an "ek dan Eng Tay mempunyai banyak kenalan& ,ahkan mereka juga saling berkunjung& Dari luar, kakak#beradik itu tidak mempunyai lain teman& Demikianlah, tanpa terasa, tiga bulan sudah berlalu& !ekarang adalah saatnya musim panas, ha+a udara berubah, maka dari itu, Eng Tay dan =in !im sering menggunakan kipas& Tak pernah mereka melepaskan baju panjang mereka& ,egitulah pada suatu hari !an "ek dan Eng Tay sedang duduk bersantai, !an "ek berkata: 2!ekarang ini ha+a udaranya panas menyengat, kita juga tidak pergi ke luar& 3dikku, kenapa kau tidak melepas baju panjangmu46 2,ukan demikian kebiasaanku,6 ja+ab Eng Tay&

2*umah ini tinggi dan lebar, ha+a di sini tidak sepanas di tempat lain& 3ku pun bertubuh lemah ketika kecil, sering sakit, kalau ku buka baju panjangku, ha+a dingin segera menyerang&6 !an "ek mengira Eng Tay bicara sejujurnya, dia tidak mengatakan apa#apa lagi& %alam itu, di saat hendak tidur, !an "ek melihat Eng Tay membuka baju panjangnya, baju dalamnya banyak kancingnya& 5a tidak bertanya, ia mengira sang adik hanya menuruti pesan ibunya agar menjaga kesehatannya baikbaik& Di kesempatan yang lain, ketika tidak ada orang lain di dalam kamar, =in !im berkata pada majikannya: 2,agaimana kalau kita bermain#main di belakang4 Di sana, kalau ada s$-&o, kita bisa mengobrol& S$-&o baik sekali&6 Dengan +s$-&o. diartikan istri guru, istri pak guru Ciu& Eng Tay setuju& 5a memang sedang tidak belajar maka ia mengikuti =in !im ke belakang, ke halaman terbuka di mana tampak pemandangan bukit di kejauhan& 5tulah panorama bukit =ou+ !an& 3da persa+ahan, ada perkebunan, cantik pemandangannya& "uas Eng Tay memandangi keindahan alam sampai lohor, barulah ia mengajak =in !im pulang& !etibanya mereka di dekat pintu belakang, =in !im berkata: 2:ihat di sana& Orang yang sedang memba+a tahang air, bukankah ia istri guru4 %ari kita menemuinya untuk bercakap#cakap&6 =adis itu setuju& ,ersama#sama =in !im, ia melangkah mendekati istri guru itu& ,agian belakang itu merupakan suatu tempat terbuka, ada ladang sayurnya, ada sumurnya& Di sana, seorang +anita tua berbaju merah tua sedang mencuci pakaian& Dia habis memetik sayur& ,egitu datang di dekat 7o#si, sang istri guru, Eng Tay menyapa sambil memberi hormat& =in !im juga turut memanggil: +S$-&o///A. 3gak repot, 7o#si meletakkan tahangnya untuk membalas hormat& 2Oh, Tuan %uda CiokI6 katanya manis& 2,eberapa hari ini tak ku lihat Tuan %uda, repot dengan pelajaran barangkali46 25tulah bimbingan "ak =uru Ciu,6 ja+ab Eng Tay& 2Kami harus belajar dengan sungguh#sungguh, kalau tidak kami tak dapat mengikuti pelajaran yang diberikan&6 yonya Ciu mengangguk, lalu ia menatap =in !im dan majikannya itu, kemudian katanya pada Eng Tay: 2Kau masih muda sekali, tetapi kau sudah meninggalkan rumah hanya untuk belajar ilmu budaya, apakah kau tidak merasa susah46 =in !im, yang berdiri di belakang majikannya, segera menja+ab: 2Tidak&&&&6 Eng Tay segera memotong: 2!emuanya leluasa& =uru Ciu telah menyediakan segala sesuatu bagi kami semua&&&&6 7o#si terta+a& 5a masih menatap majikan dan kacungnya itu& 2Kalian berdua, ada kekurangan apa46 tanyanya ramah 2!ebutkan saja, semua dapat ku pinjamkan&6 Kembali =in !im mendahului majikannya&

2!ekarang ini yang kami butuhkan hanya jarum dan benang,6 katanya& 2Dapatkah S$-&o meminjamkannya kepada kami46 2Tentu saja, sebentar ku antarkan,6 kata istri guru itu& 2Tapi, benang dan jarum adalah kebutuhan orang perempuan, kau menghendaki itu, untuk apa46 =in !im hendak menja+ab, tetapi majikannya mendahuluinya& 2Kami orang desa, pria pun dapat menjahit,6 katanya& 2,erada di rantau, kami juga membutuhkan barangbarang itu&6 2Aa, benar juga,6 kata 7o#si& 2Kalau begitu, Tuan Ciok juga pandai menjahit46 2Aa, sebisanya saja&&&&6 sahut Eng Tay& Kembali yonya Ciu terta+a& 2,aiklah, sebentar aku tunggu kalian di kamarkuI6 katanya& Eng Tay mengucapkan terima kasih, terus ia memberi hormat, lalu bersama =in !im ia meninggalkan istri guru itu& Di dalam kamar, !an "ek sudah menunggu& Dia lalu bertanya, ke mana ka+annya telah pergi& 2Kami jalan#jalan di belakang, melihat pemandangan alam,6 ja+ab Eng Tay& 2"emandangan alam di sana cukup menarik&6 Di dalam hati gadis itu tidak berkata demikian& 5a justru sedang memikirkan sikap 7o#si tadi, nada suara sang istri guru& 5a kha+atir istri guru itu mencurigainya, maka pikirnya: 2:ain kali, kalau bicara dengan istri guru aku harus berhati#hati&&&&6 =in !im sebaliknya lega hatinya& Di pihak lain, dari 7o#si pun tidak ada isyarat apa#apa, meski ia heran juga ada seorang lelaki muda meminjam jarum dan benang&&&& !ementara itu, sang kala berjalan cepat& !egera tiba #itg@e, bulan ke#B& Tanggal B bulan ke#B, langit terangbenderang, dan malamnya, ,ima !akti bercahaya di langit, sedangkan rembulan muda, sedang turun ke ba+ah, membuat bayangan orang pun tampak doyong& Dari kejauhan, sayup#sayup terdengar suara seruling, melantun dari sela#sela pohon#pohon yang-li$/ %alam sunyi, si putri malam pun setengah bundar& Ketika itu, mengenakan baju panjangnya Eng Tay sedang rebah di atas bangku di halaman luar& 5a memandangi rembulan dengan berdiam saja& 2Eh, !audara Ciok, kau di mana46 terdengar suara !an "ek, dari dalam kamar, bertanya& 23ku sedang berangin#angin di sini,6 ja+ab Eng Tay& 23yo ke mari, ba+a bangku, kita duduk bersama dan bercakap#cakap&6 2,aikI6 sahut !an "ek menyetujui& %aka duduklah mereka mengobrol berdua& 2%alam ini #it-g@e cit-sek .$,6 kata Eng Tay, 2Kau ingat, bukan46 2Tentu saja aku ingatI6 sahut !an "ek& 2!etiap keluarga juga pasti tidak melupakannya, apalagi keluarga yang mempunyai anak#anak yang manis, pasti semua

menyediakan buah semangka sambil menantikan sang labah#labah menaikinya& <ika labah#labah sudah naik dan bermain di atasnya, itu artinya keberuntungan sang buah, pertanda kemakmuranI <adi buah#buahan itu merupakan daya penarik agar labah#labah bermain di atasnya& 5ni juga yang di buku disebut kit-ka@A. .9
.$ Cit#g+e#cit#sek: 2malam ke#B bulan ke#B,6 suatu hari raya menurut kepercayaan& .9 Kit#ka+ itu berarti 2menguji kepandaian,6 akan tetapi kenyataannya adalah

2Kau ingat itu, Kakak io, bagusI6 kata Eng Tay& 27anya masih ada satu yang Kakak tidak sebutkan&&&&6 23pakah itu, 3dikku46 Eng Tay terta+a lebar, merdu suaranya& Dia pun bangkit dan duduk& 2Kalau labah#labah naik dan bermain#main di atas buah,6 katanya, 2itu berarti si nona yang mengatur buahbuahan itu, di tahun itu akan mengalami kegembiraanI Aa, ia akan mendapatkan suami yang berada di lubuk hatinya& %aka dari itu, Kak, di rumah Kakak, kalian memakai penyuguhan buah atau tidak46 !an "ek bagaikan tersadar& 2Aa, aku lupaI6 katanya& 2%emang ada kebiasaan itu& amun, 3dikku, apakah kau sendiri pernah menyediakan buah#buahan itu46 23ku46 tanya Eng Tay terta+a& 2TidakI6 ja+abnya, 23pabila kita menyediakan buah#buahan, kita juga harus menyiapkan yang disebut Fjarum berlubang tujuhD serta benang lima +arna yang harus dililitkan pada buahbuahan itu& "ersiapan pun harus dilakukan di ruang tengah untuk menantikan datangnya sang labah#labah& ,ukankah itu hal yang tak mudah46 2Kau sangat teliti, Dik, kau ingat segalanyaI6 ujar !an "ek memuji& 2Karena mengatur buah#buahan bukan urusan yang mudah maka kami tidak melakukan aturan itu, apalagi itu adalah cerita belaka, mirip dongeng alias takhyul&6 2,agaimana sampai dinamakan takhyul46 tanya gadis itu sambil terta+a& 2!ebagaimana kau ketahui, yang dinamakan cit-g@e citsek itu, atau kit-ka@, adalah lakon atau dongeng tentang 8$ Neng dan #it %i B2, si pemuda penggembala kerbau dan si nona bidadari tukang tenun,6 kata !an "ek&
2mencari kepandaian jahit#menjahit atau menyulam di malam tanggal tujuh bulan tujuh&6 Dan menjahit adalah kepandaian setiap +anita, apalagi para gadis remaja& .@ Cit :i yang disebut penenun adalah sebuah bintang dalam gugusan bintang utara :yra&

2%enurut cerita orang tua,6 !an "ek menerangkan lebih lanjut, +#it %i itu, yang juga disebut Thian S$n, cucu Tuhan, adalah cucu perempuan luar dari Thian Tee, Kaisar :angit& Thian S$n ingin menikah dengan Cian =u Che, si bintang penggembala, sehingga ia telah melalaikan pekerjaan menenunnya& %aka itu oleh Thian Tee dia dihukum: dalam satu tahun, ia hanya boleh bertemu satu malam dengan #ian 8$ #he yaitu setiap malam tanggal tujuh bulan ke#tujuh& ah, coba pikir, bukankah kejadian itu hanya cerita takhyul belaka46 Eng Tay diam, ia mengangkat kepalanya memandang ke langit& Dengan perlahan, ia menghela napas, lalu katanya:

2:ihat di sana, Thian :o .B demikian tenang, bersahaja& !etiap hari dia dibiarkan mengamati saja, tak dapat melintas& 7ukuman demikian itu, bukankah melebihi segala#galanya4 ,etapa dia menderitaI Calaupun begitu, di dunia mungkin ada kejadian serupa H bertemu setahun sekaliI !ungguh, sang +aktu melintas terlalu lama&&&&6 !an "ek menga+asi ka+annya itu& "erkataannya membuatnya kurang mengerti& 5a juga lantas memandang langit& *embulan telah menghilang, yang tampak ialah ,ima !akti yang melintang di antara bintang#bintang yang terang#benderang& *upanya =u eng bersama Cit :i sedang dalam pertemuan setahun sekalinya& Aa, setahun sekali&&&& 2Kakak io, kau menatap langit, apa yang sedang kau lihat46 tanya Eng Tay kemudian& 23ku sedang memikirkan =u eng dan Cit :i,6 sahut orang yang ditanya& 2!atu tahun satu kali, itu terlalu lama, tetapi, satu tahun sekali pun boleh juga&&&&6 7ati Eng Tay terpukul mendengar perkataan sahabatnya itu& amun, ia diam saja duduk di atas bangkunya& 5a sedang berpikir& Tapi kemudian ia pun berkata& 2Kakak io,6 katanya, 2manusia itu, siapakah yang tak
.B Thian 7o diartikan llian !un, atau Cit :i si tukang tenun&

dapat bertemu46 2Kak, ini hanyalah perumpamaan,6 ja+ab !an "ek& 2,ukankah ada seseorang yang tak juga pulang selama empat atau lima tahun tetapi istrinya tidak kha+atir sama sekali46 Eng Tay terta+a& 2Kak, yang kaumaksud istri tentulah Cit :i, bukan4 !ekarang umpama saja seorang pembuat patung membikin sepasang boneka pria dan +anita, lalu orang yang memesannya tidak menikahkan muda#mudi itu, sebaliknya, muda#mudi itu justru telah menikah diamdiam& Karena itu si pemesan, katakan saja, sang majikan, menjadi sangat gusar hingga dua patung itu dia pendam terpisah di halaman depan dan belakang rumahnya agar untuk selama#lamanya muda#mudi itu tak dapat bertemu, bukankah itu sangat menyedihkan46 !an "ek terta+a& 23dik Ciok, kau bicara mirip bocah usia tiga tahunI6 katanya& 2"atung kayu tidak berji+a, mana mungkin mereka bisa menikah46 Eng Tay juga terta+a& 2Aa, itu hanya perumpamaan saja& amun di antara manusia, bukankah benar ada sepasang muda#mudi yang tak berjodoh itu4 %uda#mudi demikian itu, bukankah mereka sama saja dengan boneka46 23h, sudahlahI6 ujar !an "ek memutus pembicaraan& 2Tak usah kita bergurau terus& :ihat, putri malam sudah tenggelam di barat, ha+a pun sudah menjadi dingin, sebaiknya kita masuk dan istirahat& ,esok kita harus bangun pagi#pagiI6 Eng Tay bangkit dari bangkunya, ia mengangkat dan memba+anya sekalian ke kamarnya&

!an "ek tidak memikirkan kejadian tadi itu, ia menganggap Eng Tay hanya bergurau& Esok tengah hari, =in !im muncul sambil terta+a cekikikan& 5a memba+a dua piring buah, yang satu buah pir, yang lainnya teratai& :antas diletakkannya di atas meja, lalu ia berkata: 2Dua piring buah ini adalah buah yang tadi malam disuguhkan kepada =u eng dan Cit :i, silakan Tuan %uda makan&6 2Oh, kau juga menyuguh46 kata !an "ek terta+a& 2Tidak, Tuan %uda&&&&6 2!udah, pergilah kau,6 kata Eng Tay pada abdinya& 2<angan bergurauI6 amun nona majikan ini pun terta+a& 2Kalian berdua, majikan dan bujang, gemar bercanda,6 kata !an "ek& 23ku tak mengerti&&&&6 Eng Tay tidak berkata apa#apa, ia hanya tersenyum& !etelah itu, dua bulan pun telah berlalu& Kali ini tiba hari peringatan atau hari raya Tiong ,ang, hari besar ka+g@e ce-ka@ H tanggal / bulan / tahun imlek& Dengan lain nama, hari raya ini pun disebut hari raya Tiong Ki$/ 7ari ini berdasarkan anggapan atau kepercayaan bah+a tanggal / bulan / merupakan hari yang paling cerah sehingga cerah juga penghidupan manusia& 2,esok hari raya Tiong ,ang, sekolah libur satu hari& Kakak io, kau berniat pergi berlibur ke mana46 tanya Eng Tay pada kakak angkatnya& Orang yang ditanya terta+a& 5a mendorong buku di hadapannya& 2Dalam hal berlibur, aku tidak berpikir susah#susah,6 ja+abnya& 23ku akan menurut pikiran 3dik saja& 3ndaikata kau tidak berkeinginan mencari hiburan di luar, kita bisa berdiam di rumah saja sambil membaca buku&6 Eng Tay menggelengkan kepala& 2Tidak pergi berlibur, kurang tepat,6 katanya& 2Dalam satu tahun, berapa harikah saat#saat liburannya4 Kakak tahu, !u Kiu maupun =in !im sangat mengharapkan tibanya hari raya ini& %ereka telah berpikir akan menanyakanku ke mana kita akan pergi& ,ukankah tak berlibur berarti kurang kegembiraan46 2Kalau kau pikir demikian, baiklah,6 kata !an "ek& 2!ekarang katakan, ke mana kita akan pesiar46 !eraya berkata demikian, sang kakak menatap adiknya& 2,agaimana kalau kita pergi ke !e O+46 .8 tanya Eng Tay& 2Di sana kita dapat menyaksikan pemandangan alam dengan air dan pepohonannya&6 2,aikI6 kata !an "ek& 2,esok kita berangkat ke sana berbekal makanan, biar !u Kiu yang memba+a& Di sana kita nanti memilih tempat agar bisa menikmati keindahan alam&6 Eng Tay mengangguk sambil tersenyum& Keesokan paginya, !an "ek dan Eng Tay berangkat bersama#sama, diikuti oleh !u Kiu dan =in !im& !u Kiu memikul barang#barang ba+aan& :angit cerah& Keadaan !e O+ masih pera+an, belum terjamah tangan#tangan yang cekatan& "epohonan semua serba hijau dan airnya jernih sekali& "emandangan bukit itu melapangkan hati& 5tulah yang dinamakan keindahan

alam& *ombongan muda#mudi ini memilih satu tempat di tepi telaga& Dari situ selain tampak air telaga yang bening, juga panorama, pemandangan yang lapang di sekitarnya& 2Dik, di sini indah sekaliI6 kata !an "ek& 2!ayang belum ada olahan tangan#tangan manusia guna menambah ini dan itu&&&&6 2%emang indah sekaliI6 sahut Eng Tay& 2 anti juga akan ada tangan#tangan yang menyemarakkannya& 3h, Kak, manusia itu tak akan hidup lebih dari seratus tahun, keindahan semacam ini tak selayaknya dile+atkan&&&&6 !an "ek mengangguk& 2,enarI6 katanya& %ereka lalu berjalan bersama, melihat segala sesuatu di sekitarnya& 2Kak, di sana ada perahu, mari kita naik,6 ajak Eng Tay kemudian pada ka+annya itu& Dengan tangannya, ia menunjuk ke tepi telaga& !an "ek setuju, maka mereka berdua pergi ke
.8 !e O+ dulu tidak sama dengan !e O+ HTelaga ,aratH seperti de+asa ini&

ama

!e O+ pun baru dikenal mulai akhir dinasti Tang, selama tahun @.8#/1@ %asehi& !edangkan dinasti ChinHChin Timur, berlangsung dari tahun >.B#$./ %asehi&

pangkalan, kemudian menye+a perahu tambangan& Dan, keduanya pun sudah hilir#mudik di atas air& Ketika itu, !an "ek dan Eng Tay tidak berdua saja, ada orang#orang lain yang juga berpesiar& !u Kiu dan =in !im pun menikmati pemandangan alam itu& %ereka juga diajak oleh majikan mereka untuk turut naik perahu& "erahu itu memakai pelindung atap dan bilik bambu di kiri dan kanannya& <endelanya terbuka agar penumpang dapat memandang sekelilingnya& Demikianlah, selagi berjalan#jalan ada saja yang dibicarakan sepasang muda#mudi itu hingga mereka tidak merasa sepi& %alah sebaliknya, mereka bergembira dan terhibur& Kemudian tibalah saat sarapan, =in !im dan !u Kiu segera mengeluarkan bekal makanan dan mengaturnya untuk majikan mereka, dan juga untuk mereka berdua& %ereka pun membekal arak namun mereka telah berjanji untuk tidak minum sampai mabuk& !elagi mereka bersantap, !an "ek memetik bunga sh$yi/ ,unga itu berikut rantingnya biasa dipakai selama hari raya Tiong ,ang sebagai pengusir pengaruh jahat, pemba+a keselamatan& 2Dik, mari kupakaikan bunga ini padamu guna mengusir pengaruh jahatI6 kata !an "ek pada Eng Tay& 5a terta+a& Eng Tay mengangguk, ia pun terta+a& ,enar#benar !an "ek menyisipkan bunga itu, yang ber+arna merah, di sisi telinga Eng Tay& Di saat itu, paras gadis itu bersemu merah& 2Dik, tahun ini aku yang menyisipkan bunga ini,6 kata !an "ek, 2lain tahun&&&&6 2:ain tahun juga tetap KakakI6 kata Eng Tay, terta+a& "erkataan gadis ini ada artinya, tetapi si pemuda tidak dapat menangkapnya, maka dalam kegembiraannya, sambil terta+a ia pun berkata: 2,aiklah, lain tahun aku

juga&&&I %ari kita keringkan ca+an kitaI6 Keduanya lantas minum arak mereka& ,egitulah mereka bersantap, minum arak dan bergembira&

2 Ketika Sakit
:E"3! tengah hari, !an "ek dan Eng Tay mengajak !u Kiu dan =in !im pulang& %ereka merasa puas& !ementara itu, kedua muda#mudi itu telah mempunyai beberapa sahabat di antara teman sekolah mereka, malahan ada juga yang suka berkunjung ke kamar mereka untuk bercakap#cakap& %ereka disenangi ka+an#ka+an& Di antara mereka itu, seperti halnya !an "ek, tidak ada yang mencurigai Eng Tay, bahkan ia mendapat pujian sebagai ka+an yang manis budi& "ada suatu hari, selagi duduk di dalam kamar !an "ek menghela napas& Dia menatap ke luar, memandangi langit& 2Eh, Kak, kenapa kau46 tanya Eng Tay heran& Dia mengamati& Orang yang ditanya menggelengkan kepala& 2Entahlah,6 sahutnya dengan enggan& 27ari ini aku merasa gelisah&&&&6 Eng Tay menga+asi& 2Kak, mungkinkah karena aku telah melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hatimu46 tanyanya& !an "ek menggoyangkan tangannya& 23pa katamu, Dik46 katanya separuh menegur& 2!udah satu tahun kita bergaul, tidak pernah kau lakukan sesuatu yang tidak aku senangi& %alahan kau baik sekali& !eandainya kau lakukan sesuatu yang demikian, tentu aku akan menegurmu& Kau salah duga&6 23pakah mungkin pak guru Ciu menegurmu46 tanya Eng Tay lagi& 2Tidak, pak guru Ciu baik sekali& !ekiranya aku ditegur, aku malah akan sangat berterima kasih&6 2:alu, Kakak kenapa46 tanya si adik angkatnya lagi& 23pa mungkin Kakak sedang memikirkan orangtua di rumah46 2%emikirkan memang ya, akan tetapi itu bukan masalah,6 sahut !an "ek& 2,iasa saja kalau anak dalam perantauan senantiasa ingat ayah#bundanya yang jauh di rumah& Kau salah menerka, 3dikku& Orangtuaku sehat +ala;iat& Terkaanmu hanya tepat sebagian&&&&6 23h, aku mengerti sekarangI6 kata Eng Tay& 2"astilah karena ayah#bunda Kakak terlalu memikirkan Kakak&6 Kakak angkat itu menghela napas lagi !ang adik mengamati& 2!ebabnya begini, Dik,6 kata !an "ek kemudian, suaranya perlahan sekali& 2%aa;, aku bicara terusterang&&&&6 2!ilakan, Kak&6 2,aru saja aku menerima surat dari rumah yang mengabarkan bah+a kami kehabisan uang, karenanya 3yah menyuruhku pulang& Aa, aku tak perlu belajar di rantau&&&& Tak punya uang dan berhenti sekolah, itu satu masalah& amun aku sangat memikirkan hubungan kita&

Kita yang sudah seperti saudara kandung& Kita akan berpisah, betapa beratnya penderitaanku&6 2Oh, hanya ituI6 kata Eng Tay setelah mendengarkan beberapa lama& 2,enar juga, berat rasanya kalau kita berpisah& Kita pun baru satu tahun menuntut ilmu di ba+ah bimbingan pak guru Ciu, Kakak io&&&&6 2Kau benar, DikI6 sela !an "ek memotong& 2Dari rumah tak akan datang lagi uang, bagaimana4 3pa yang dapat ku lakukan&&&&46 2Kak, jangan kha+atirI6 kata Eng Tay& 2Tak usah dianggap sulitI Kak, perkara uang adalah hal yang mudah asal Kakak bersedia menerima bantuanku yang tidak berarti& Kiriman uang dari rumahku tidak akan putus setengah jalan, kiriman itu lebih dari cukup untuk kita berdua& %ulai sekarang, untuk segala keperluan Kakak, Kakak bisa ambil uang darikuI6 !an "ek heran, dia menatap sang adik angkat& 2Dik,6 katanya, 2kau baik sekali& 3kan tetapi&&&&6 2Kakak io, jangan pikirkan ituI Kita sudah seperti saudara sendiri& ,enar, bukan4 %aka selanjutnya, Kakak harap tenang#tenang saja& 3yo kita tetap belajar bersama di sini&6 3khirnya !an "ek mengangguk& 2,aiklah, Dik CiokI6 kalanya& 23ku terima kebaikanmu ini& 3kan ku tulis surat ke rumah untuk memberi kabar pada orangtuaku&6 2 ah, begitu baru benarI !elanjutnya kita belajar bersama seperti biasa& !ekarang musim semi, mari kita belajar dengan lebih giat&6 ,enar#benar !an "ek dapat berlega hati ia dapat gembira kembali seperti biasa& %alam itu, se+aktu belajar, !an "ek melihat Eng Tay mengantuk& 2Dik, kau letih, istirahatlah lebih dulu,6 katanya& Eng Tay bangkit& 2%alam ini aku benar#benar lelah,6 katanya& 2Aa, aku tidur lebih dulu&&&&6 =in !im, yang selalu menemani majikannya, segera bergerak untuk memasang lilin, merapikan pembaringan supaya majikannya dapat segera merebahkan diri& amun, sebelumnya, sang majikan minta abdinya memapahnya& !an "ek menyusul masuk ke kamar& 2Dik, apakah kau kurang sehat46 tanya& 2Kau sakit46 2%ungkin aku agak sakit,6 ja+ab Eng Tay& 2Tak apa, besok mungkin akan baik dengan sendirinya& <angan Kakak kha+atirkan&&&&6 !an "ek menghampiri& Dengan dibantu oleh =in !im, Eng Tay melepas baju luarnya, baju panjang& 5a berbaring, meletakkan kepalanya di atas bantal& =in !im menyelimutinya sampai ke kakinya& Kemudian abdi ini mengundurkan diri& 2Ku pikir, lebih baik aku memanggil tabib besok,6 kata !an "ek& 5a terus meraba dahi si adik angkat, yang terasa panas& 2Oh, 3dikku, kau benar#benar sakitI *upanya tadi kau masuk angin&&&&6 Eng Tay tidak menja+ab, tetapi ia tersenyum lemah& 2%alam ini kau tak usah ditemani =in !im,6 kata !an

"ek& 23ku akan menggantikan dia& 3ku bisa rebah di ujung kakimu& Kalau perlu, bangunkan aku&6 23h&&&&I6 kata Eng Tay terta+a& 2%ana bisa&&&&4 3ku menyusahkanmu saja& ,iarlah =in !im yang menemaniku&&&&6 2 ona benar,6 kata =in !im dalam hati, yang masih belum berlalu& !an "ek mengerutkan alisnya& 2Dik, kau terlalu keras kepala, katanya& 2Kau toh sedang sakitI <angankan baru semalam, dua hari pun aku menemanimu, masih tidak apa#apaI6 2Tetapi Kakak tidur di ujung kakiku&&&&6 !an "ek menggelengkan kepala& 23palah artinya itu46 ja+abnya& 23h, hebat&&&&I6 seru =in !im dalam hati& amun, apa yang dapat dikatakannya4 %aka ia berkata: 25nilah ke+ajiban saya sebagai pembantu&&&&6 2Kau benar, ini memang tugasmu, tetapi sekarang majikanmu sedang sakit, bila aku tidur di luar, kalau ada panggilan mana ku dengar4 !udah, jangan kau menjadi seperti tuanmuI ,iar aku tidur disini, +alaupun sampai tiga malamI6 %elihat demikian, Eng Tay tak dapat menolak lagi& %aka, ia pun berkata pada abdinya: 2=in !im, pergilah kau tidur di luar, kalau perlu, akan ku panggil& <angan kha+atirkan aku, aku tahu apa yang harus ku lakukan&&&&6 Kata#kata majikannya yang menghibur itu melegakan hati abdinya& 3khirnya =in !im tidak berkata apa#apa lagi& 2,agaimana kalau 3dik minum teh46 tanya !an "ek kemudian& 2,oleh juga,6 sahut Eng Tay, yang sehabis minum terus membalikkan tubuh agar dapat tidur pulas& 7anya selang setengah jam, ia berbalik pula& Di antara sinar lilin, samarsamar ia melihat !an "ek sedang duduk membaca buku& %endengar suara gerakan di pembaringan, !an "ek melepaskan bukunya dan memandang ke pembaringan& %aka sinar mata mereka berdua bertemu&&&& 2,agaimana Dik, rasanya lebih baik46 tanyanya& 2%asih sama saja,6 ja+ab Eng Tay& !an "ek bangkit, ia menghampiri& Dirabanya dahi Eng Tay, terasa ha+a yang panas sekali& 5a berkata: 2!ekarang sudah malam, kita tak dapat mengundang tabib, kita harus menunggu sampai besok pagi&6 2Aa, besok saja,6 kata Eng Tay& 2Kak, tolong panggilkan =in !im&6 2,uat apa memanggil dia46 tanya !an "ek& Eng Tay memandang ke langit#langit kelambu, berat ia membuka mulutnya& Tapi akhirnya, ia berkata perlahan: 2Kak, aku ingin buang air kecil&&&&6 2Kau sedang sakit, buang air kecil maupun air besar, kau perlu dipapah& Dik, bangunlah, nanti aku pegangi&6 Eng Tay menyingkap selimut, perlahan#lahan ia bangun untuk duduk& :antas ia berkata, 2Tak perlu&&&& 3yah pernah menasehatiku, minta bantuan orang untuk buang air kecil atau besar, itu perbuatan kurang sopan& !ekalipun =in sim, dia tak boleh turut masuk ke dalam

kakus dia menunggu di luar pintu saja&6 !an "ek menganggap alasan itu kuat, maka ia pergi memanggil =in !im& Dengan demikian, gadis itu jadi dibantu oleh abdinya& Kembali ke tempat tidur, Eng Tay tampak lemas sekali& %elihat hal itu, si kakak angkat mendekat, memegangi gadis itu& 2Dik, sakitmu tidak ringan,6 katanya& 2:ain kali jangan pergi ke kakus, pakai pispot saja&6 2Aa,6 sahut Eng Tay sambil mengangguk, terus ia tidur lagi& 2Kau boleh ke luar,6 ujar !an "ek menyuruh =in !im, yang masih menunggui majikannya& 2Kalau perlu, akan ku panggil lagi kamu&6 2Aa, Tuan %uda,6 sahut si abdi, akan tetapi kakinya tak bergeming& 2Kau keluarlah,6 kata Eng Tay& 2Kalau perlu, akan ku minta Tuan %uda io membangunkanmu&6 %endengar penegasan itu barulah =in !im mengundurkan diri& 2Kakak io, kau juga tidurlah,6 kata Eng Tay kemudian& 5a maksudkan agar pemuda itu kembali ke kamarnya& 2Tak apa, aku dapat tidur di ujung kakimu, Dik,6 kata !an "ek& 23h, lebih baik Kakak tidur di kamar Kakak&&&&6 2Tidak, malam ini aku harus menemanimu& Kau tahu sendiri, tubuhmu masih saja panas& 7arap kau jangan sungkan&6 Eng Tay kehabisan akal& Dia bingung juga, jantungnya berdebar kencang& 5a tetap ingat bah+a dirinya adalah seorang gadis, ia harus menyimpan rahasia& %ana bisa ia tidur seranjang dengan seorang pemuda4 3kan tetapi, bagaimana ia dapat menolak kehendak !an "ek4 %aka akhirnya, ia berkata dalam hatinya: 2Kakak io, rupanya aku memang berjodoh denganmu&&&&I6 Toh, ia masih bimbang&&& 2Eh, Dik, apa pula yang kau pikirkan46 tanya !an "ek heran& 2Kak, kau mau tidur di ujung kakiku,6 kata Eng Tay, 2tetapi&&&&6 !an "ek duduk di sisi pembaringan& 2Dik, bagaimana kau ini46 tanyanya& 2Kau sedang sakit, apa kau kha+atir aku ketularan4 Tak mungkinI Dik, aku harus menjagamuI6 Eng Tay terdesak, ia mengangguk& Tetapi ia berkata pula: 2Kakak benar, namun&&&& sejak kecil, aku dibiasakan tidur sendiri saja, maka kalau sekarang kita tidur berdua, aku kha+atir kita tidak bisa tidur pulas&&&&6 2Tak bisa pulas, tak apa,6 kata !an "ek yang bersikeras& 2,iar bagaimana, aku harus menemanimu, DikI6 Eng Tay terpojok& 5a memandangi ka+annya itu, lantas ia berkata: 2,aiklah kalau begitu& Kakak boleh tidur di ujung kakiku& 7anya saja, padaku ada suatu kebiasaan yang telah menjadi aturan&&&&6 23pakah itu, Dik4 !ebutkan sajaI6 23turannya,6 ujar Eng Tay menjelaskan, 2siapa yang tidur satu pembaringan denganku ada perjanjian seperti

ini: Kita harus menyediakan satu kotak berisikan abu, kotak itu diletakkan di luar selimut di tepi pembaringan& !elagi tidur pulas, kalau kotak itu sampai tumpah maka yang menumpahkannya dianggap bersalah, dan keesokan paginya, dia dihukum denda&&&&6 27ukuman denda4 7ukuman apakah itu46 2Dia diharuskan mengadakan pesta makan#makanI6 !an "ek terta+a& 2 ga+ur, lucuI6 katanya& 23turan macam apa itu46 2Tetapi itu bukan lelucon& Kalau tidak percaya, coba tanyakan =in !im& Dia pernah didenda ibukuI6 2<ika benar demikian, baiklah, akan kucoba& Tidak ada orang luar di sini, seandainya aku terdenda kita hanya berpesta berempat dengan !u Kiu dan =in !im& Tetapi, siapakah yang akan memastikan yang bersalah46 25ni mudahI Kita lihat saja letak tumpahannya&6 2,aiklah kalau begituI6 %aka segera disiapkan satu kotak terbuat dari kertas dan berisikan pasir halus, lalu kotak itu diletakkan diantara mereka& 2!ekarang apa lagi46 tanya si anak muda& Eng Tay menyesal sendiri& 5a hanya main#main, siapa sangka !an "ek bersungguh#sungguh& Tetapi hal ini meninggalkan kesan yang baik pada dirinya& "emuda itu ternyata polos sekali& Di lain pihak, ia tersenyum sendiri sebab !an "ek dianggapnya tolol, mudah ditipu& 2Tidak ada apa#apa lagiI6 ja+abnya kemudian& 2 ah, mari kita tidurI6 !an "ek menurut& %ereka pun tidak berkata#kata lagi Keduanya tidur dengan berselimut& 7anya terlebih dulu, si pemuda memandang +ajah gadis itu dan meraba tangannya, yang tidak lagi terasa panas seperti tadi& 5a rebah tak bergeming, kha+atir kalah bertaruh dan takut mengganggu tidurnya si ka+an&&&& Eng Tay sebaliknya, ia berdiam saja, berpura#pura pulas& Esok paginya, dua kali =in !im muncul, majikannya berdua masih pulas tetapi ia melihat kotak kertas yang terisi pasir& 5a melihat majikannya sedang tidur miring, sebelah tangannya terjulur ke luar selimut& 5a berkata di dalam hati: 2!yukurlah !an "ek tak tahu siapa majikannya itu, kalau tidak, pasti rahasia majikannya bocor&6 Ketika ia muncul untuk kedua kalinya, majikannya sudah mendusin, dan gadis itu menunjukkan padanya kotak berisi pasir itu& :alu keduanya pergi ke luar tetapi tak lama kemudian Eng Tay telah kembali& !an "ek sudah bangun& 5a melihat gadis itu& 2Dik, sakitmu sudah berkurang46 tanyanya& Eng Tay mengangguk& 2:ebih baik,6 sahutnya& !an "ek turun dari tempat tidur, disingkirkannya kotak yang tak bergeser itu& 5a merasa lega menyaksikan ka+annya tidak menderita seperti tadi malam& Toh ia merasa, masih perlu memanggil tabib dan Eng Tay membiarkannya& =uru Ciu menjenguk muridnya tatkala diberitahu bah+a si murid sakit&

Tabib datang, ia memeriksa dan membuat surat obat& !an "ek menjadi repot sebab segala sesuatu ditanganinya sendiri& !u Kiu menyediakan pispot dan !an "ek berpesan bah+a kalau Eng Tay ingin buang air, dia tak usah ke luar dari kamar& !elama empat malam, !an "ek terus tidur di ujung kaki Eng Tay& Dia tak berani bergolek& Di hari kelima, Eng Tay hampir sembuh& !ejak itu !an "ek kembali ke pembaringannya sendiri& !elang sepuluh hari, Eng Tay sudah sembuh sama sekali& 2Kakak io,6 kata gadis itu pada ka+annya, 2selama aku sakit, Kakak bersusah#payah mera+atku& !ekarang aku telah sembuh, bagaimana aku harus membalas budimu46 !an "ek tersenyum& 2Kau telah sembuh, ya sudah saja,6 sahutnya& 2Jntuk apa bicara tentang balas budi4 Kesembuhanmu adalah balasannya&&&&6 Eng Tay, yang berdiri di sisi meja berkata lagi: 2Kak, ibuku sekalipun tak dapat melayaniku seperti itu& ,eberapa kali Kakak meraba dahiku bahkan membantuku di saat minum obat, kau pegangi& Aa, Kakak pun menyuapkan obatku& 25tu +ajar saja,6 kata !an "ek& 2Kau sedang lemah sekali&6 23ku ingat, di saat hendak makan bubur, aku tak kuat bergeser ke tepi pembaringan, tetapi kau, kau pegangi aku serta menyuapi juga&&&&6 Kembali !an "ek terta+a& 25tu jamak bukan46 katanya& 2!elama sakit, sudah sepantasnya ka+an saling menolong& Kalau tidak demikian, itu bukannya ka+an& 5ngat, abi kita pun mengajarkan agar kita saling tolong#menolong&6 2Aa, tak kul upakan itu,6 kata Eng Tay& !ekali lagi !an "ek terta+a dan berkata: 2Dik, kau pernah mengatakan padaku, kecuali ibumu, belum pernah kau tidur bersama orang lain, namun kali ini, selama empat malam kau i'inkan aku menemanimu& !ungguh, kau baik sekali& Tak mudah itu terjadi&&&&6 Eng Tay tidak menja+ab, ia hanya tersenyum&

3 Mem'uka Rahasia
!E<3K mendapat pera+atan io !an "ek, kesan Ciok Eng Tay mengenai sang ka+an baik sekali& %aka apa pun kebutuhan si pemuda, tanpa diminta lagi, segera disediakan oleh gadis itu& Karenanya, bukan main rasa bersyukur si kakak angkat itu& 2Kau baik sekali, 3dikku,6 kata sang kakak suatu hari& 2,etapa bahagianya aku mendapatkan kau sebagai saudara&6 En Tay yang berdiri di samping !an "ek, berkata: 2Kak, itulah ke+ajibanku sebagai adik, maka jangan kau jadikan pikiran& ,ahkan ingin sekali aku, seumur hidupku dapat melayanimu& ,iarlah aku benar#benar menjadi adikmuI6

!an "ek terta+a& 2Aa, kita seperti saudara kandungI6 katanya& 23kan tetapi, jika kita sudah pulang ke rumah masing#masing, mana bisa kau mengikutiku untuk selama#lamanya46 23sal bisa terjadi, aku suka mengikuti Kakak seumur hidupI6 kata Eng Tay& !i anak muda terta+a lebar& 2Dik, kaubicara seperti bocah usia tiga atau lima tahunI6 katanya& 2Aa, kau seperti adik yang minta permen dari kakaknyaI amun, permintaan adik kecil itu keluar dari hati yang tulusI Eng Tay diam, tetapi ia tersenyum& Demikianlah kedua ka+an sekolah itu, kakak#beradik angkat, semakin erat hubungannya satu sama lain& Tanpa terasa, sang +aktu melintas terus& Tanpa terasa pula, dua tahun sembilan bulan telah berlalu& "ada suatu hari muda#mudi itu sedang berada dalam kamarnya& !an "ek sedang menekuni kaligra;i, dan Eng Tay, di sisinya, menggosok bak di atas &ak-hi/ ./ !an "ek melihat dahi Eng Tay berkeringat, ia menggunakan saputangan untuk mengusapnya perlahan#lahan& Ketika sedang mengusap, tiba#tiba !an "ek menjerit perlahan, lalu jatuh terduduk di kursinya& Eng Tay terperanjat, dia heran& 2Kau kenapa, Kak46 tanyanya, baknya ia letakkan& 2Dik, aku heran&&&&6 sahut sang kakak& 23ku melihat lubang kecil pada telingamu&&&& %engapa46 Eng Tay terkejut, tetapi ia bisa menenangkan diri& 2Oh itu, Kak, itu ada sebabnya,6 ja+abnya& 2!ebelum aku masuk usia sepuluh tahun, %ama menganggapku sebagai anak perempuan karena ia telah melepas kata#kata pada sang ,udha&&&&6 2Oh, begitu46 kata !an "ek& 2<elas sangat menyayangimu&6 2Aa, %amaku memang baik sekali,6 kata Eng Tay& !an "ek percaya keterangan gadis itu, ia tidak bicara lebih jauh& Tidak demikian dengan Eng Tay, hal itu membuatnya berpikir keras& 5a berniat bicara terus#terang, tetapi ia bimbang& ,egitulah, sampai sang +aktu berlalu lagi tiga bulan, di akhir bulan ketiga& 5ni berarti bah+a, tanpa terasa tiga tahun telah le+at& "ada suatu hari, selagi berjalan mondar#mandir di depan pintu, tiba#tiba Eng Tay dihampiri seorang lelaki yang segera saja memanggilnya: 2Tuan %udaI6 Ketika ia menoleh, terlihat Ong !un sudah berdiri di hadapannya& 2Eh, kau datang kembali,6 tanya gadis majikan itu& 2Kau#ba+a surat46 2Aa,6 ja+ab si pega+ai& 2 yonya ,esar sakit, Tuan %uda diminta lekas pulang& 5ni suratnya&6 !ambil berkata demikian, Ong !un mengeluarkan sepucuk surat dan terus menyampaikan kepada majikannya&
./ ,ak: batang tinta cina ber+arna hitam? bak#hi: tatakan bak&

!urat di 'aman dulu itu tak beramplop, hanya dilipat saja& Eng Tay menerimanya, terus membuka dan

membacanya& ,enar saja, mamanya sakit dan ia diminta lekas pulang& 2%ama sakit apa46 tanya Eng Tay sehabis membaca surat& Ong !ung menggelengkan kepalanya& 2!aya tidak tahu, hanya yonya ,esar tidur terus& 3pakah tidak dijelaskan di dalam surat46 Eng Tay merunduk, pikirannya bekerja& !egera ia memutuskan untuk lekas pulang& 5a pun sudah belajar cukup tiga tahun lamanya& Dulu pernah ia berjanji pada ibunya, 2kalau mama sakit, ia akan segera pulang&6 %aka sekarang telah tiba saatnya& 2,aiklah,6 katanya kemudian kepada Ong !un& 23ku hendak bersiap#siap dulu, besok pagi baru akan berangkat&6 Ong !un mengangguk ia menurut saja& 2Tapi kamu berangkat lebih dulu, memba+a barangbarang,6 kata gadis majikan itu lagi 23ku bersama =in !im akan menyusul6 2,aik, Tuan %uda&6 2!ekarang beristirahatlah dahuluI6 kata Eng Tay yang terus masuk ke dalam& Kepada =in !im diberitahukannya, tentang mamanya yang jatuh sakit dan abdi ini diperintahkan segera merapikan segala barang& Kemudian Eng Tay mendatangi !an "ek yang di saat itu sedang membaca buku& 7atinya terasa gelisah, toh ia berdiri di depan si kakak angkat dan menyapa: 2Kak&&I6 !an "ek meletakkan bukunya, ia menoleh& 23da apa, Dik46 tanyanya seraya menga+asi& !ang adik tampak lain& 2Coba Kakak katakan, sudah berapa lama kita belajar di sini46 tanya Eng Tay& 27itung#hitung, cukup lama,6 ja+ab !an "ek& 2!udah tiga tahun& Kau tanyakan hal ini, ada apa46 2Kakak benar& 3ku ingin memberitahu, baru saja aku menerima surat dari rumah yang mengatakan bah+a %amaku sakit, maka aku diminta lekas pulang& %ungkin sakit %ama ringan tetapi aku harus pulang& Tiga tahun sudah aku meninggalkan rumah& Kakak pikir bagaimana46 2Tentu saja kau harus pulang, hanya&&&&6 !ambil berkata begitu !an "ek bangkit berdiri& 5a menatap ka+annya itu& Eng Tay bisa menerka perasaan si pemuda& 23ku juga berat meninggalkan kau, Kak,6 katanya& 2 amun&&& kalau nanti Kakak juga pulang, bila ada kesempatan sebaiknya Kakak cepat#cepat datang ke rumahku&&&6 2Kapan 3dikku berangkat46 tanya !an "ek& 23ku ingin mengantarmu selintas&6 23ku akan berangkat besok& Kakak io, tak sanggup ku terima kebaikan hatimu untuk mengantarkan aku&6 Caktu itu, !u Kiu muncul& 5a lantas berkata kepada majikannya: 2,arusan =in !im mengatakan bah+a Tuan %uda Ciok hendak berangkat pulang besok, tak dapatkah Tuan %uda minta agar keberangkatannya ditunda46 yata abdi ini pun merasa berat untuk berpisah&

2Tak bisa, !u Kiu,6 ja+ab sang majikan 2%ama Tuan %uda sakit, beliau memangilnya, ia harus pulang& %emang, berat rasanya untuk kita berpisah& ,esok kita berdua akan mengantarkan Tuan %uda&6 2Tuan %uda hendak mengantar, itu baik sekali,6 kata =in !im& 2Tapi Tuan %uda saya ingin bicara dengan Tuan %uda&6 2=in !im, barangmu serahkan aku, aku yang ba+aI6 kata !u Kiu& 23ku tak pandai bicara, ini saja yang bisa kulakukan&&&&6 2,oleh saja,6 ja+ab Eng Tay me+akili abdinya& 23ku sekarang hendak menemui pak guru Ciu& =in !im, ayo ikut aku, kau pun perlu pamit&6 2,aik Tuan %uda,6 sahut sang abdi& %aka mereka berdua pergi mencari pak guru Ciu& !an "ek mendampingi& 2 ak, apa ada sesuatu yang hendak kalian tanyakan padaku46 tanya "ak =uru Ciu ketika melihat kedatangan murid#muridnya& 2,ukan, "ak =uru,6 sahut Eng Tay, masih di luar pintu, 2murid hanya ingin bicara&&&&6 2Kalau begitu, mari masukI6 undang Ciu !u Ciang, sang guru, yang sedang duduk di dalam kamarnya& Eng Tay dan !an "ek masuk, keduanya memberi hormat& 2,aru saja murid menerima surat dari rumah,6 kata Eng Tay kemudian& 2Katanya, %ama saya sakit dan saya diminta pulang, maka dari itu, murid datang untuk memberitahu sekalian mohon pamit&6 2<ika yonya ,esar sakit, memang kau harus pulang,6 kata sang guru& 2Kapan kau berangkat46 2,esok, "ak =uru,6 ja+ab Eng Tay& 2!ekarang murid ingin menemui S$-&o/. 2Kau ingin bertemu S$-&o-m$, baiklah, akan kupanggil dia ke luar& Tunggu sebentar&6 =uru itu berdiri, terus ia masuk& 7anya sebentar, ia sudah ke luar pula bersama 7o#si, istrinya& 2Kau hendak pulang, ak46 tanya sang istri guru mendahului murid suaminya& 2Aa, S$-&o,. sahut Eng Tay, yang terus menyambut dan memberi hormat& 2%urid mohon pamit& %urid mengucapkan terima kasih, sebab selama tiga tahun saya dii'inkan mengganggu S$-&o/. !ang istri guru itu terta+a& 2<angan kau ucapkan itu, ak, itu tidak ada artinya,6 katanya& +S$-&o, =in !im juga ingin pamit,6 ujar Eng Tay menambahi& 2%aa;kan dia yang sering re+el& 5a mengatakan, S$-&o sangat baik terhadapnya&6 5stri guru yang baik hati itu terta+a& 2Dia hanya meminjam ini dan itu yang tidak berarti,6 katanya& 2!ekarang, ak, kau hendak bicara apa denganku4 !ilakan&6 Eng Tay menga+asi istri guru itu, ia tampak ragu#ragu hingga 7o#si menganjurkannya untuk berbicara saja&

Eng Tay masih juga bimbang, baru saat kemudian ia minta untuk berbicara di dalam& 7o#si heran, namun ia mengajak murid itu masuk& !egera Eng Tay, membuka rahasianya sehingga sang istri guru menjadi terkesima& 5a mengamati gadis itu dalam penyamarannya& 2!ekarang murid mau pulang, murid minta agar rahasia ini tidak dibuka, mohon pengertian S$-&o////. 7o#si menga+asi, ia tersenyum& 2 ak, kau jangan kuatir,6 katanya 2Kau tahu, sudah dari a+al aku menerka siapa kalian berdua& Ternyata kalian pandai memba+a diri, aku tadinya kuatir& Kalian boleh berlega hati, aku tahu apa yang harus ku lakukan& ah, kau hendak bicara apa lagi4 DuduklahI6 Eng Tay tidak duduk, melainkan mendekati nyonya rumah& 2!aya ingin bicara mengenai kakak io !an "ek,6 katanya perlahan& 25a baik dan jujur, dengan saya ia seperti saudara kandung& Tiga tahun kami sekolah bersama, dia tak tahu siapa diri saya sesungguhnya 7o#si mengangguk& 2!ungguh luar biasaI6 katanya& 2Calaupun demikian, saya merasa tak enak,6 kata Eng Tay lagi& 2!ekian lama saya telah mendustainya&&&&6 2:alu sekarang, apa yang ingin kau lakukan46 tanya 7osi& 2,ukankah lebih baik kalau bicara terus#terang saja padanya46 25tu sulit& ,eberapa kali saya ingin bicara, tetapi selalu gagal, demikian juga kali ini& %aka sekarang saya berpikir S$-&o////. !ang istri guru terta+a& 25ni tidaklah sukar,6 katanya& 23kan ku jelaskan padanya& 3da pesan lainnya46 2!aya mohon bantuan S$-&o lagi& Tolong katakan padanya tentang hubungan kami yang akrab selama tiga tahun seperti kakak#beradik& !aya minta S$-&o sampaikan padanya bah+a sejak hari ini, saya tak bisa dijodohkan, dengan orang lain, siapa pun juga& %aka saya berharap dia segera datang&&&&6 ona Ciok tak bisa meneruskan kata#katanya, ia jengah dengan sendirinya& 3kan tetapi 7o#si sudah maklum maka ia berkata: 2,aiklahI Kau jangan kuatirI 3ku akan menjadi perantara jodoh kalian berdua& Kau akan memberikan tanda mata apa46 Eng Tay merogoh sakunya, ia mengeluarkan kupu#kupu terbuat dari batu kemala yang indah& Diserahkannya itu pada istri gurunya lalu ia berkata: 25nilah permata milikku sejak kecil& Karena permata ini, ayah dan ibuku memanggilku Kiu %oy& Kalau nanti S$-&o menemui dia, biarlah dia menggunakan kupu#kupu kemala ini sebagai tanda mata&6 7o#si menga+asi batu kemala itu, ia terta+a& 2,aiklah, akan ku serahkan kemala ini padanya,6 janjinya& 2Terima kasih, S$-&oA. kata Eng Tay sambil memberi

hormat& 2!emoga rahasia ini bisa tertutup rapat& !ekarang murid hendak menemui "ak =uru kembali, murid hendak mengucapkan selamat berpisah&6 7o#si yang baik hati dan manis budi itu, terta+a lagi& !egera ia memanggil suaminya, dan pak guru Ciu segera muncul& Eng Tay lantas menjura pada guru dan nyonya gurunya itu, lalu mengucapkan selamat berpisah dengan berat hati& ,apak guru dan istrinya itu sangat baik terhadapnya& !etelah itu, bersama =in !im ia kembali ke kamarnya& 5a melihat barangnya telah disiapkan& 2Kakak io,6 kata adik ini, 2kita telah sekolah bersamasama, kita benar#benar seperti kakak#adik, maka dari itu barang#barang kita tak bisa dipisah#pisah, semua sudah tercampur menjadi satu& Aa, tak bisa kita membedakannya&&&&6 !an "ek menggoyangkan tangannya& 5a pun terta+a& 2Tidak demikian halnya, !audaraku,6 katanya& 2!ingkatnya, apa yang kau sukai itulah milikmu&6 2Kak, jelas Kakak menyanjung#nyanjung akuI ,ukankah segala hal yang ku sukai juga disukai olehmu4 %aka dari itu, janganlah Kakak membeda#bedakan&&&&6 %emang, di atas meja segala barang telah dipisahpisahkan, kecuali seekor burung#burungan +alet dan bebek mandarin atau belibis Tiongkok yang terbuat dari kuningan, masih terletak di sisi &ak-hi/ 2Dik,6 kata !an "ek seraya menunjuk burung#burungan itu, 2apa yang kau sukai menjadi kesukaanku pula, demikian pula belibis ini 2Kakak io, jadi Kakak menyukai burung#burungan ini&&&46 kata Eng Tay& 2,agiku, melihat burung#burungan ini seperti juga melihatmu,6 kata !an "ek& Eng Tay mengambil burung#burungan itu, dimainmainkannya dengan kedua belah tangannya& 2Kak, burung ini berdekatan denganmu,6 katanya& 2 anti setelah aku pergi, Kakak bisa sering#sering bermain dengannya&6 !an "ek menga+asi si adik yang tampan& 23h, Dik,6 katanya, 2jadi kau hendak serahkan burung kuningan ini padaku4 Tetapi, kata#katamu tadi membuatku tidak mengerti&&&&6 Eng Tay tidak mengatakan apa#apa, ia hanya memperhatikan barang#barang lainnya di atas meja itu& 2Dik, coba lihat isi keranjang itu,6 kata !an "ek& Eng Tay menurut, ia melongok ke dalam keranjang, terus ia mengambil satu sarung mopit yang terbuat dari tembikar& 01 !arung mopit itu berlukiskan setangkai buah delima& 2Kakak io, dapatkah sarung mopit ini Kakak berikan
01 Di 'aman Chin Timur itu belum ada sarung mopit dari porselen&

padaku46 tanya Eng Tay& 23dikku, tak usah ku jelaskan lagi,6 ja+ab !an "ek tersenyum& 2!arung mopit itu bermakna&6 23pa maknanya46 2Delima, adalah salah satu tanaman buah yang mudah

beranak, mudah tumbuh dan berbuah,6 ujar !an "ek menjelaskan& 23dikku semata +ayang, kelak di belakang hari 3dik akan mudah memperoleh turunan&&&&6 Eng Tay terta+a& 2Kalau Kakak, anak tunggal atau bukan46 ia balik bertanya& !an "ek turut terta+a& 23ku sama dengan kau, DikI6 Keduanya lalu terta+a bersama& Eng Tay menga+asi sarung mopit di tangannya, ia melihat si buah delima yang sudah merekah dan bijibijinya tampak nyata& 5a terta+a pula: 2Delima ini hendak diserahkan kepada siapa, kepada sang tuan atau sang nyonya46 2Tentu saja pada sang tuanI6 sahut !an "ek& !i adik mengangguk& 23ku ingat sekarang,6 katanya, 2Ketika dulu aku beli sarung mopit ini, aku telah menghadiahkannya pada Kakak dengan harapan nanti berbuah dan beranak&&&6 25tulah tanda kebaikan hati 3dik& amun, Dik, kenapa kau sendiri tidak menghendakinya46 Eng Tay melihat sekelilingnya, di situ tidak ada orang ketiga& 5a berpikir cepat, lantas ia berkata di dalam hati: 25nilah saatnya aku harus sadarkan diaI6 %aka segera ia berkata: 23ku4 Tentu saja aku, mengingininya, asal bersama kau, Kak&&&&6 Tampak si pemuda bingung& 2Dik, apakah arti perkataanmu ini46 tanyanya& 23pa artinya4 3pakah Kakak masih belum tahu46 23ku memang belum mengerti&&&&6 23ku telah bicara jelas, kau masih belum mengerti, baiklahI6 pikir Eng Tay dalam hati& %aka lantas ia meletakkan sarung mopit itu bersebelahan dengan dua burung#burungan, burung +alet dan belibis mandarin, kemudian ia menghadap ke pria di hadapannya seraya berkata: 2Tunggu, hendak ku lihat#lihat dulu&6 2!ilakan, Dik6 Eng Tay mengamati barang#barang di hadapannya itu& ia melihat sepotong tembikar yang merupakan alat penindih buku, berukuran lebar kira#kira @ atau B inci, demikian juga panjangnya& Di atasnya, yaitu bagian depannya, ada relie; sepasang kupu#kupu besar ber+arna+arni indah& %elihat itu, ia tertarik, segera diambilnya, terus ia perlihatkan pada si anak muda sambil berkata: 2<adi ini juga Kakak hadiahkan padaku46 2,enarI6 ja+ab !an "ek lekas& 2,ukankah 3dik sangat menyukainya4 Telah ku lihat, selama membaca buku, 3dik tak pernah terpisah dari tatakan ini& Aa, 3dik selalu memakainya untuk menindih bukuI6 2%emang aku menyukai kupu#kupunya,6 sahut gadis itu& 2!engaja aku memilih ini untuk diberikan pada Kakak&6 !an "ek menatap tajam ka+an yang tampan itu& 2,agaimana, Dik46 katanya& 2,agaimana bisa kau berikan barang ini padaku4 3ku melihat tiada barang lain selain ini yang 3dik sangat sukai& Kalau aku terima ini, bukankah kau seperti telah kehilangan sesuatu46

2%emang benar, barang ini sangat ku sukai,6 ujar Eng Tay menjelaskan, 2tetapi kalau sekarang ku berikan pada Kakak itu karena ada maksudnya& anti, setelah aku pulang, bila Kakak melihat penindih kupu#kupu ini, Kakak pasti akan merasa, ada Kakak juga ada aku, dengan demikian, pastilah hati Kakak akan tergugah untuk mengenang kita berdua&6 2Kata#katamu kurang tepat, Dik& Kau lihat, kupu#kupu itu toh sepasang, satu jantan, satu betina& Aa, bukan kupu#kupu jantan semua& %ana bisa kau samakan dengan kita berdua&&& Eng Tay menga+asi penindih dari tembikar itu, ia pun menoleh pada pria muda dan tampan di hadapannya& 5a mendapatkan pemuda itu agak kurang senang, ia bisa memakluminya& amun, ia mendapat harapan& <elas !an "ek tidak menduga bah+a dia sedang berhadapan dengan seorang gadis jelita& :alu tiba#tiba ia terta+a sendiri& !an "ek heran, dia menatap +ajah Eng Tay& 2Eh, Dik, kenapa terta+a46 tanyanya polos& 2Karena aku melihat Kakak lugu sekaliI6 ja+ab Eng Tay& 2Tidak apa#apa, aku hanya menghendaki kau terima baikbaik penindih buku ini&6 !ambil berkata begitu, gadis itu meletakkan sarung mopit dan penindih itu menjadi satu di atas meja& !an "ek terpaksa menerima& 2,aiklah kalau demikian,6 katanya& 2 ah, apa lagi yang hendak 3dik katakan46 Kembali Eng Tay berkata di dalam hatinya: 23pa lagi yang harus ku utarakan4 3ku, seperti telah membuka pintu hingga gunung pun terlihat&6 3kan tetapi ia toh memberikan ja+abannya: 2Tidak, tidak ada lagi& ,esok Kakak hendak mengantarku satu lintasan, di sepanjang jalan mungkin kita akan bisa melihat orang atau menyaksikan sesuatu& 3tau, kita bercakap#cakap lagi&&&&6 !an "ek masih tidak menyangka bah+a EngTay adalah seorang +anita, dia belum curiga mungkin karena ia terlalu memikirkan: besok mereka berdua akan berpisah& Keduanya lantas membenahi barang#barang itu dan Ong !un datang untuk memba+anya pergi& =in !im hanya memba+a barang yang akan dibutuhkan dalam perjalanan& %alam itu, kedua muda#mudi itu duduk mengobrol& %ereka duduk berhadapan& 2Kakak io,6 pesan Eng Tay, 2kalau nanti Kakak selesai sekolah, ku harap Kakak lekas#lekas datang ke rumahku& 3ku tidak bekerja, aku hanya mengharap Kakak&&&&6 2Dik, pasti aku akan mengunjungimuI6 kata !an "ek& 2,arangkali telah ada kabar gembira untuk 3dik46 %endengar kata#kata 2kabar gembira6 itu, tiba#tiba +ajah Eng Tay bersemu merah& 5a tahu, pasti !an "ek menduga ia akan segera menikah& !ahabat itu tak tahu bah+a ia adalah seorang gadis& amun ia bertanya: 2Kak, ada kabar gembira apakah untukku46 23dik mengharap aku lekas#lekas datang, bukankah itu berarti 3dik akan segera menemui mertua4 3ku girang kalau kau mempunyai nyonyaI6

%au tidak mau, Eng Tay terta+a& 2Kak, terkaanmu ini jauh melesetI6 katanya& 2Tetapi nanti, setelah aku pulang Kakak tentu akan mengerti&6 2Aa, aku pasti akan mengertiI6 kata !an "ek, yang masih belum sadar bah+a dirinya sebenarnya sangat lugu&&&& !eterusnya mereka berbincang#bincang lagi, dan Eng Tay senantiasa tersenyum#senyum& %ereka seperti tidak peduli bah+a sang kala merayap terus& 3khirnya =in !im muncul dengan kedua matanya kesap#kesip& 2Tuan %uda berdua, sudah saatnya beristirahat,6 katanya pada majikan serta tamunya& 2,esok pagi kita akan berangkat, dan Tuan %uda io, bukankah akan mengantar selintas4 !ekarang sudah larut malam, nanti besok terlambat bangun&6 %endengar itu, muda#mudi ini seperti tersadar, lantas saja mereka pergi tidur&

4 Perpisahan
%E=3 indah di +aktu pagi perlahan#lahan bergerak dihembus angin tenggara yang sepoi#sepoi basah& !ang surya juga sudah terbit, tampak menyinarkan cahayanya yang masih lembut& Keadaan demikian itu bagaikan menganjurkan, barangsiapa hendak melakukan perjalanan, seyogyanya berangkat pagi#pagi sebelum panas terik& 5tulah hari#hari di bulan ketiga& !u Kiu bersama =in !im sudah siap, =in !im memba+a buntalannya& %ereka berdua berjalan di depan, perlahanlahan& Di belakang mereka, Eng Tay dan !an "ek menunggang kuda masing#masing bersebelahan& %ereka pun berjalan santai, setelah keduanya berpamitan pada bapak guru dan istri guru mereka, yang mengharapkan keselamatan mereka di perjalanan& 2Kakak io, kita harus mengenang "ak =uru yang telah membimbing kita dengan baik sekali,6 kata Eng Tay di tengah jalan& 2Kita terpaksa harus meninggalkan rumah sekolah kita yang bagus ini&6 2%emang,6 kata !an "ek& 2,uktinya kau, Dik& Kau pandai dan mendapat pujian dari ka+an#ka+an, bahkan ada yang mengatakan bah+a kau mirip salah seorang di antara :an Kee Sam Kiat, tiga sastra+an di 'aman dinasti 7an& Thio :iang yang muda dan ke+anita#+anitaan, kau dapat disamakan dengannya&6 Eng Tay tersenyum& 2Tak mungkin, KakI %ana bisa aku disamakan dengan Thio :iang yang pandai dan ternama itu46 23dik merendah saja,6 kata sang kakak angkat& Ketika itu mereka tiba di jalan yang di kiri dan kanannya ditumbuhi pohon#pohon kaya yang besar, bercabang banyak dan berdaun rindang& Di sebuah cabang pohon kebetulan ada sepasang burung kucica sedang berkicau berdua&&&& Eng Tay berkata: 23ku sekarang sedang dalam perjalanan pulang, burung#burung itu bernyanyi, berita

sukacita apakah yang mereka ba+a46 Terus saja gadis kita ini mengalunkan syairnya: 2!ungguh, cabang#cabang lebat membentuk rimba, %ega tebal nan hitam memenuhi lembah yang hampa, Di ranting burung kucica bernyanyi, ,ernyanyi#nyanyi gembira untuk menyenangkan hati& ,ukankah itu angin baik yang datang menyambut4 %aka kita berdua, jangan kita berkhayal#khayalan, %enyulut api bunga tunjung, teratai emasI !an "ek sangat gembira, dia kagum& 2Dik, kau pandai sekaliI6 katanya memuji& 2,aru saja kita melihat pohon#pohon, kau sudah lantas dapat membuat syairnya& amun, tak aku mengerti makna syairmu ituI 3pakah artinya F%aka kita berdua, jangan kita berkhayal#khayalan& %enyulut api lilin bunga tunjung, teratai emasD& Aa, apa artinya itu46 23rtinya&&&46 kata Eng Tay, yang tersenyum dan terus terta+a& !i anak muda heran, +alaupun demikian ia tidak bertanya lagi& Tanpa terasa, keduanya telah tiba di batas tembok kota& Di situ, orang#orang yang berlalu#lalang sudah berkurang& Kelihatan tujuh atau delapan buah rumah, juga terdapat pepohonan& 3da orang#orang yang berjalan terus, ada yang berhenti dan berteduh di ba+ah pohon& Di situ pun terdapat kedai makan& 3da pula beberapa orang sedang memanggul kayu dan rumput& Eng Tay tidak mengerti, dia bertanya: 2,iasanya pemba+a kayu masuk ke kota di malam hari, mengapa mereka ini justru di siang hari46 25tu kebiasaan saja,6 ujar !an "ek menerangkan& 2<elas mereka penduduk di dekat sini, mereka pergi ke gunung mencari kayu lalu mereka ba+a itu ke kota untuk dijual& %ereka ke kota siang hari dan lohornya pulang sehabis membeli berbagai barang& !ebaliknya dari kebiasaan penduduk kota&6 Eng Tay paham& 2<adi mereka melakukan pekerjaan itu untuk hidup mereka sehari#hari,6 katanya& 2Kak, tak samakah cara hidup mereka dengan Kakak46 2<elas tidak, Dik& %ereka mondar#mandir mencari na;kah untuk istri dan anak#anak mereka, untuk makan dan pakaian& 3ku4 3ku hanya sedang mengantar kau yang berangkat pulang kampung&6 Keduanya berjalan terus memasuki kota& %ereka tetap menunggang kuda mereka perlahan#lahan& !emua hijau di sekitar mereka, maklum ini bulan ketiga& Di hadapan mereka tampak sebuah bukit kecil, di sana ada sebuah liok-kak-teng, bangunan tempat perhentian berbentuk segi enam& Ke sana mereka menuju& 2Kakak io,6 kata Eng Tay, 2ingatkah kau ketika dulu kita bertemu dan singgah di perhentian4 5tu namanya jodohI !ekarang kita akan berpisah& Tanpa terasa tiga tahun telah berlalu& !ungguh pesat le+atnya sang hariI "erhentian ini mengingatkan kita pada masa lalu, bagaimana kalau kita singgah di sana46

!an "ek setuju& 2,aikI6 sahutnya& Eng Tay segera meneriaki !u Kiu dan =in !im agar mereka singgah& 7anya sebentar, mereka sudah tiba di perhentian itu& !elagi menurunkan buntalan, !u Kiu terta+a& 5a berkata pada =in !im: 2=in !im, bungkusan ini ringan sekali, aku merasa seperti tidak memba+a barang apa pun& Ka+anmu si Ong !un, sungguh baik sekali& !ekiranya aku menjadi Ong !un, pada majikanmu pasti aku berkata: kalau saudara =in !im menikah, aku akan menjadi tamu pertama untuk makan dan minum biar puas& ,agiku, =in !im adalah bagaikan saudarakuI6 %endengar ka+annya bergurau, =in !im terta+a& 2:alu bagaimana dengan arakku4 Kau minum atau tidak46 tanyanya& !u Kiu terlihat heran& 23pa katamu46 Eng Tay mendengar dua abdi itu bergurau, ia menyela: 2!u Kiu, jangan kau tanya pada =in !im atau aku, tanya saja Tuan#%udamuI ah, kau lihat tanda petunjuk jalan di tepi jalan ituI6 %emang di tepi jalan ada selembar papan pemberitahuan& ,unyinya: Kalau mau mendaki =unung 7ong 7ong, aikilah dari depan, menuju ke barat& 2Aa,6 kata !an "ek, 2di atas bukit itu ada taman mungil yang dinamakan 7ong Ciat, di sana banyak pohon bunga &o@-tan yang indah#indah& !ayang kita tak dapat mengambil bunga itu untuk dihadiahkan kepada orang&&&&6 2Kakak benar,6 kata Eng Tay& 2Kalau Kakak gemar bunga &o@-tan di rumahku, di kebunku, aku tanam banyak& Coba Kakak datang, sebaiknya +aktunya dipercepat, lebih a+al lebih baik& "endek kata, asal Kakak datang, jangankan bunga &o@-tan akan menjadi milik Kakak, juga semua lainnya yang berada di dalam kebun ituI6 %endengar kata#kata sang adik, !an "ek benar#benar menjadi tidak mengerti, sia#sia belaka ia berpikir dan berjalan mondar#mandir& %aka ia membungkam saja& Eng Tay terta+a, ia merasa lucu karena sahabatnya itu tetap tak dapat menerka maksud sebenarnya dari ucapannya& ,agi !an "ek, hal itu terlalu kabur& 2Kakak io, perlahan#lahan saja Kakak memikirkannya,6 katanya& 2%ariI6 =adis ini mendahului melangkah ke luar dari perhentian& %ereka kembali ke jalan besar& Tetapi di sepanjang jalan, gadis itu terus berpikir: 2Kakak io ini benar#benar polos& 3ku telah bicara begitu jelas, masih saja dia belum dapat menerka&6 !ambil berjalan dengan kepala merunduk, otak Eng Tay terus bekerja& Ketika kemudian ia melihat ke depan, tampak sebuah selokan yang airnya mengalir deras, hingga di tempat dangkal di mana air itu mengalir, pasirnya memperdengarkan suara nyaring& 3ir itu mengalir terus sampai menjadi sebuah empang kecil& Di tengah empang

itu seka+anan angsa putih sedang berenang kian ke mari& 2:ihat, air itu bening laksana kaca,6 kata Eng Tay sambil menunjuk ke empang& 2:ihat, ka+anan angsa itu bagaikan berada di dalam cerminI6 2Aa,6 sahut !an "ek membenarkan& 23ir jernih, angsa yang sedang bermain, sungguh suatu pemandangan yang mempesonaI6 2 ah, angsa itu bersuara, apakah Kakak dengar46 tanya Eng Tay& 2Tentu sajaI6 sahut sang ka+an& 27anya saja, suaranya kurang enak didengar&&&&6 2Tidak benar, Kak,6 kata si adik& 2Ka+anan itu bagaikan memperdengarkan syair pujian& Aang di depan adalah yang jantan, yang betina mengiringi di sebelah belakang& Aang betina itu kha+atir nanti semua mengeluarkan suaranya& Aa, semuanya bagaikan mengatakan: KakI Kak&&&I6 %endengar itu, !an "ek tersenyum& Tengah mereka berjalan, =in !im berkata pada !u Kiu: 2!u Kiu, majikanmu itu jalan di depan, dia mirip ayam jagoI6 !an "ek mendengar gurauan abdi itu, ia terta+a, malah ia berkata: 2%ajikanmu justru dapat bicara seperti angsa memanggil FKakI KakID Eh, =in !im, kau terlaluI Kau samakan aku dengan angsaI Kau ngacoI6 Eng Tay berjalan di depan, kepalanya menunduk& 5a merenung mengapa !an "ek masih belum juga sadar& %elihat sahabatnya membungkam saja, !an "ek pun menegur: 2Dik, kau sedang memikirkan apa46 Eng Tay menoleh, tetapi tak sepatah pun keluar dari mulutnya& Di hadapan mereka sekarang tampak sebuah kali kecil, airnya mengalir deras sekali& :ebar kali kira#kira tiga tombak, airnya dangkal& :e+at menerjang banyak bebatuan, air itu berbunyi keras juga& Jntuk menyeberangi kali, yang mirip kanal, penduduk mengatur rapi batu#batu besar untuk pijakan kaki& Eng Tay tak berani menggunakan cara penyeberangan itu maka !an "ek mengajaknya menggunakan jembatan kayu yang beralaskan daun serta papan& Ketika mereka sedang berjalan, suatu barang Eng Tay terjatuh& 2Dik, barangmu jatuhI ,arang apakah itu46 tanya !an "ek memberitahu& Ternyata satu kupu#kupu kemala, yang biasa diikat dengan pita merah sebagai gantungan kipas& 2Kakak io, tolong ambilkan,6 pinta Eng Tay& 23yo pegangi aku&&&&6 <embatan kayu itu sempit, gadis itu merasa ngeri& %aka !an "ek segera memegangi tangannya& Tubuh mereka hampir merapat& 2Kakak io, perlahan#lahan jalannya,6 kata Eng Tay& %ereka berjalan perlahan sekali& 2<angan takut,6 kata !an "ek& !egera juga mereka sampai di seberang& 2Terima kasih, Kakak ioI6 kata gadis itu setibanya di seberang itu& 2Tidak apa#apa, Dik,6 kata si pemuda terta+a& 2:ain kali

kau harus memberanikan diri&&&&6 2:ain kali pun aku masih perlu mengandalkan bantuanmu, Kak&&&&6 =adis itu terta+a& !an "ek juga terta+a, bahkan dia berkata: 2Dik, lain kali kau justru harus menjadi pelindung yonya CiokI %ana bisa aku terus menjadi pelindungimu4 ah, ini kupu#kupumu&6 !ambil berkata begitu, si pemuda menyerahkan gantungan kupu#kupu yang tadi dipungutnya& Eng Tay, menga+asi pemuda itu, ia tidak mengulurkan tangan untuk menerimanya& %alah kemudian ia berkata: 2Kakak io, ku berikan kupu#kupu kemala itu padamu& Tak lama lagi, kupu#kupu ini akan berpasangan, maka harap kau simpan baik#baik&6 !an "ek heran& %engapa di tengah jalan, ia dihadiahi kemala itu& amun ia terima saja sambil mengucapkan terima kasih& 5a tidak berkata apa#apa sehubungan dengan pesan agar menyimpan baik#baik kemala itu& 5a lantas menyimpannya di pinggangnya& =in !im dan !u Kiu berhenti di ba+ah sebuah pohon& 2Tuan %uda Ciok takut menyeberang bahkan ia minta Tuan#%udaku menjadi pelindungnya,6 kata !u Kiu pada ka+annya& 27usI6 bentak !an "ek& 2Kamu tahu apa4 7ayo jalanI6 !u Kiu membungkam, ia berjalan bersama =in !im& Di hadapan mereka, kini tampak banyak pohon cemara, besar dan tingginya tujuh atau delapan kaki, cabangnya banyak, daunnya rimbun& 2Entah siapa pemilik pohon#pohon cemara ini,6 kata Eng Tay& 2*indang sekaliI6 2Dan itu di sana, entah kuburan siapa,6 kata !an "ek& tangannya menunjuk& 2Coba kita lihat batu nisannya,6 ujar Eng Tay mengajak& *amai#ramai mereka menghampiri makam itu& 2Oh, rupanya ini adalah kuburan sepasang suami#istriI6 kata Eng Tay& 2:etak kuburannya baik sekali, ada pepohonan dan bagian depannya terbuka& %enurutku, nanti seratus tahun kemudian, Kakak dan aku, oleh turunan kita akan dikubur seperti ini supaya kelak siapa, saja yang le+at dapat melihat dan mengetahuinya&&&&6 !an "ek heran& 2Dik,6 katanya sambil menggelengkan kepala, 2kau dan aku adalah saudara angkat yang berlainan nama keluarga, mana bisa kita dikubur bersama46 2,isa saja,6 ja+ab Eng Tay& 23ku bilang bisa, tentu bisa&6 !an "ek bingung, maka ia berkata: 2Dik, kali ini aku sedang mengantarkan 3dik pulang kampung, sebaiknya kita bicara hal#hal yang baik saja& Jrusan seratus tahun kemudian, lebih baik tak usah kita bicarakan sekarang&&&&6 Dengan urusan Fseratus tahun kemudianD dimaksudkan Fsetelah meninggal duniaD& Eng Tay tidak berkata apa#apa, mereka bersama#sama meninggalkan kuburan itu, kembali ke jalan besar& ,erdua mereka menyusul !u Kiu dan =in !im& :e+at kira#kira dua

li, mereka berhenti di sebuah tempat yang banyak pohon serta jalannya terbuat dari batu hijau& 2Kak, di sini tentunya ada rumah penduduk,6 kata Eng Tay& 2Kita istirahat di sini sebentar&6 !an "ek setuju& %aka berhentilah ia di ba+ah sebuah pohon t$ngching/ 0. !u Kiu dan =in !im lantas saja duduk di ba+ah sebuah pohon& 2!ebaiknya kita mencari air minum,6 kata !an "ek& 5a haus& Eng Tay mengangguk, lantas ia melihat ke sekeliling& !egera ia melihat seorang petani yang sedang memikul dua tahang, muncul dari samping pepohonan yang lebat& 5a cepat menghampiri orang itu& 2Kak, kami sedang dalam perjalanan, kami mau mencari air minum, di manakah bisa kami dapat46 2%au minum4 Oh, ada,6 sahut petani itu& Dari sini jalan ke sana, di situ ada sebuah sumber air serta ada gayungnya juga&6 Eng Tay mengucapkan terima kasih, lantas ia mengajak ka+annya maju ke depan& ,enar saja, di tepi jalan ada sebuah mata air yang jernih sekali& %ata air itu hidup, airnya selalu bergolak naik& ,enar pula, di sisi itu tersedia gayung piranti menyendok air yang terbuat dari kulit labu& 2,agus,6 kata !an "ek, 2kita bisa minumI !u Kiu, =in !im, kalian juga boleh membasahi kerongkongan kalianI !ementara itu, Eng Tay berpikir&
0. "ohon tung#ching, nama :atinnya 7eN =edunculosa&

2!ebaiknya sekarang aku bicara lebih jelas, mungkin dia mengerti,6 demikian pikirnya, dan terus ia maju mendekat dua langkah& 5a pun lalu bertanya: 23pakah airnya segar46 !an "ek memegang gayung, ia sedang hendak menyendok air& 2"asti segar, Dik,6 katanya& 2 ah, coba Dik minun&6 5a menyendok air dan memberikan itu kepada ka+annya& Eng Tay menerimanya, terus ia minum& Di saat itu, !u Kiu dan =in !im sudah selesai minum dan berada sedikit jauh dari majikan mereka& Eng Tay melihat mereka, lalu ia berkata pada !an "ek: 2Kak, mari kita lihat mata airnya& 3yo kita berkaca di air, melihat bagaimana +ajah kita setelah melakukan perjalanan sampai di sini&&&&6 2,aik, Dik,6 ja+ab !an "ek& 23yoI6 %aka bersama#sama, mereka menghampiri mata air yang berkubang& %ereka berdiri bersebelahan, menghadap ke air yang jernih sekali hingga bayangan mereka berdua terlihat jelas& 2,ayangan kita di dalam air, bagus sekali,6 kata Eng Tay& 23h, tidak terlalu mirip,6 kata !an "ek polos& Cajah Eng Tay mendekati telinga sahabatnya& 2,ukankah bayangan kita itu tegas sekali46 katanya& 2!eorang tampan, seorang lagi lemah#lembut& Dua bayangan berdiri rapat, sekali, sungguh sedap dipandangI 2,iar bagaimana, itu hanya bayangan6 kata !an "ek& 2,ayangan tinggal bayangan, tetap parasnya lain&&&&6

23h, sudahlah,6 kata !an "ek sambil menolak tubuh gadis itu& 2Kau agak aneh, Dik& 3pakah pikiranmu kacau karena kita akan segera berpisah4 %ari, kita berjalan selintas lagiI6 Eng Tay menurut& Kemudian, dengan sebelah tangan memegang sebatang cabang yang-li$, ia menoleh pada pria di sisinya sambil berkata& 2Kak, aku hendak berteka#teki, coba kau terkaI6 23pakah itu, Dik46 2<ernihnya mata air, di depanku dia memancarkan +ajah yang cantik bagaikan batu kemala& !yair itu tidak mudah, bagaikan hanyutnya batang yang-li$/ 3ngin halus meniup rambut indah, membuat orang terperanjat dan terta+a& 3pakah yang disebut gunung nan bersih dan jernih4 Coba terkaI6 =adis itu terta+a, !an "ek pun terta+a& 2Dik6 katanya, 2itu syair, bukannya teka#tekiI Kau sungguh cerdas, begitu kau buka mulut, jadilah sebait kata#kata yang puitisI6 Demikianlah si anak muda, ia menja+ab tetapi tidak menerka& Eng Tay jengkel sekali& 2TololI6 katanya dalam hati& 5a tak bisa terta+a, juga tidak bisa juga ia menghilangkan kemasygulan, kekece+aannya& "emuda itu teramat polos&&&& 2=in !imI6 panggilnya& 5a melemparkan ranting yang-li$nya& !ang abdi menyahuti, ia muncul dari sela#sela pohon kayu& =adis itu masih membungkam beberapa lama, hingga akhirnya ia berkata: 23yo kita berangkatI6 Dan ia melangkah& 2Cuacanya baik sekaliI6 ,erempat, mereka memulai lagi perjalanan mereka& Kemudian&&& <auh di depan, Eng Tay melihat sebuah perhentian& 2Kita sudah sampai di "erhentian Delapan ,elas %i, ayo kita singgah,6 kata gadis itu& !egera juga mereka sampai di perhentian itu& %ereka memasukinya untuk menghilangkan lelah& "erhentian itu bertiang empat& 3tap gentengnya terbuka di empat penjuru& :antainya berundak#undak& Di bagian dalam terdapat meja dan kursi batu untuk duduk beristirahat& =in !im melangkah memasuki perhentian untuk meletakkan buntalannya, sedangkan !u Kiu menambatkan kuda majikannya agar kudanya bisa merumput& !an "ek tampak tidak bergembira bahkan +ajahnya tampak kecut& 5a berdiri diam saja, matanya memandang ke empat penjuru& 5a termenung, memandang jauh&&&& Eng Tay juga turut melihat ke sekitarnya& Di saat sesunyi itu, dialah yang membuka pembicaraan& Katanya: 2Kakak io, kita telah sampai di "erhentian Delapan ,elas %i ini, maka dari itu, sebaiknya kau tak usah mengantarkan aku lebih jauh&&&&6 !an "ek mengangguk& 2Aa,6 sahutnya lesu& 2Tiga tahun kita sekolah bersamasama, sekarang kita berpisah& Tak ada kata#kata yang

dapat melukiskan perasaan kita ini&&&&6 Eng Tay menga+asi ka+annya juga itu& Tiga tahun mereka tinggal bersama, selama ini di tengah perjalanan, semua itu lebih dari cukup baginya untuk mengenal pribadi !an "ek sebenarnya& !eorang pemuda yang baik dan polos, tulus& :agi pula, jelas dia tidak pernah mengira bah+a pemuda tampan di hadapannya adalah seorang gadis& 2Aa, benar,6 ia pun berkata& 2Di dalam hati kita ada perasaan yang sulit, yang sukar dikemukakan, akan tetapi aku mempunyai suatu jalan& Kakak io, jika kau menyayangiku, adikmu, kau tentu dapat mengingatnya selama#lamanya&&&&6 !an "ek heran, ia tertarik& %aka ia menatap ka+annya itu& 2<alan apakah itu, Dik46 tanyanya& 2,ukankah Kakak pernah mengatakan tentang sikap ayah#bunda Kakak mengenai jodoh Kakak46 kata Eng Tay& 2Karena Kakak adalah anak tunggal, dalam hal memilih gadis menantu, ayah#bunda Kakak bersikap sangat hatihati, karenanya, sampai sekarang Kakak masih belum mempunyai pasangan& 3pakah masih ingat ucapan Kakak itu46 2Tidak salah, aku pernah mengatakan hal ituI Kenapa 3dik mengingatkan ucapanku itu46 Eng Tay melihat pemuda itu menatapnya& 23ku&&&6 katanya tertahan& 23ku apa, Dik46 Eng Tay memegangi pilar erat#erat& 2!oalnya begini, Kak,6 sahutnya kemudian& 23ku punya seorang adik perempuan, namanya Kiu %oy, aku berpikir akan menjalin rapat antara si dan lo///CC Entah bagaimana pendapat Kakak46 !an "ek menatap ka+annya itu& 2Oh, jadi 3dik masih punya adik46 ujarnya menegaskan& 2,e&&& benar&&&6 sahut Eng Tay& :uar biasa sambutan !an "ek si pendiam yang polos itu& 23dikku sudi menjadi perantara untuk jodohku, mana mungkin aku tidak setujuI6 katanya cepat& 2 amun, karena aku belum pernah melihat orangnya, aku masih merasa sedikit bimbang&&&&6 2Tentang hal ini, harap Kakak jangan kha+atir,6 sahut Eng Tay memastikan& 23ku dan Kiu %oy adalah anak kembar, parasnya dan parasku sama, sangat mirip satu sama lain& !edangkan tentang pelajarannya dan kepintarannya sama dengan aku yang pernah sekolah di rantau, tidak ada bedanya& 3ku telah mengeluarkan katakataku, itu sudah sama juga dengan kata#kata Kiu %oy sendiriI6 2"erkataanmu, Dik, pasti tidak salah,6 kata !an "ek& 27anya, bagaimana dengan sikap ayah dan ibu46 2Tentang ayah dan ibuku, itu mudah,6 ja+ab Eng Tay& 2 anti setelah tiba di rumah, akan ku beritahu pada kedua beliau& Aang paling perlu ialah Kakak sendiri& 3ku harap Kakak lekas#lekas datang ke rumahku agar pembicaraan dapat segera dikukuhkan& Dengan begitu, aku tak usah memikirkan lagi siang dan malam&6

2Kalau demikian, 3dikku, baiklah kau tetapkan saja harinya&6 2,aik, Kak,6 kata Eng Tay, yang menatap lagi si anak
00 Dua kata FsiD dan FloD adalah singkatan dari Ftoh#siD dan Fli#lo&D 5tulah nama dua

macam pohon rumput merambat, yang merapat sangat erat& Karenanya, kedua rumput itu biasa diandaikan satu pasangan hingga berarti suatu pepohohan& Katakata ini terdapat dalam suatu syair tua&

muda& 2Kita main teka#teki saja& 3ku janjikan: satu tujuh, dua delapan, tiga enam, empat sembilan&6 !an "ek tercengang& 2Oh&&&I6 serunya tertahan 2!atu tujuh, dua delapan, tiga enam dan empat sembilan ia diam sejenak, ia berpikir& 23pakah artinya itu46 Eng Tay berkata: 2!ekarang ini, tak usah Kakak menerka#nerka& Tetapi nanti, setelah Kakak pulang dan tiba di rumah, asal Kakak ingat dan memikirkannya, segera Kakak akan mengerti dan dapat menebaknyaI6 2OhI6 kata si anak muda heran& 2!etelah sampai di rumah, setelah aku memikirkannya, aku dapat menerka&&&&6 Eng Tay tersenyum& 5a hanya berkata: 2:ihat di sana, a+an putih sudah mulai naikI 3ku akan pergi menuju ke arah sanaI ah, di sini saja kita berpisahI6 ,erkata begitu, gadis yang dalam penyamaran itu lantas menjura pada !an "ek, memberi hormat& 3gak repot, si anak muda menjura juga membalas hormat itu& 2,aiklah, DikI6 sambutnya& 2%aa;kan aku, aku tak dapat mengantar lebih jauh lagi& !emoga 3dik selamat dalam perjalananI6 2Terima kasih, KakI6 Kemudian gadis itu menggapai ke luar perhentian& 2=in !im, ke siniI Kau beri hormat pada Tuan %udaI6 !i kacung menghampiri, segera dia memberi hormat pada !an "ek sambil berkata: 2Tuan %uda, harap Tuan %uda tidak melupakan Tuan %uda saya iniI6 2"asti tidakI6 !an "ek menja+ab& Kemudian ia memanggil: 2!u Kiu, kemariI Kau beri hormat pada Tuan %udaI6 !u Kiu dari luar lari mendatangi, ia lantas menjura pada Eng Tay seraya berkata: 2Tuan %uda, le+at sedikit +aktu Tuan %uda akan pergi berkunjung& !u Kiu akan ikut serta sebab saya ingin menjenguk adik =in !im& Di sana nanti? harap Tuan %uda menyambut baik Tuan %uda saya&&&&6 25tu pastiI6 sahut Eng Tay, yang terus memberi hormat sekali lagi pada !an "ek, setelah itu ia menghampiri =in !im yang sudah siap dengan kudanya& %aka ia lantas menunggang kudanya itu dan mulai berangkat& =in !im mengikuti dari belakang& !an "ek berdiri diam, menga+asi ka+annya itu berlalu& 5a masih melihat Eng Tay menoleh kepadanya& ,ersama !u Kiu, ia memandang terus, sampai ka+an serta kacungnya itu lenyap di balik pepohonan&&&& 2Tuan %uda,6 kata !u Kiu pada majikannya, 2mari kita pulangI6 !an "ek tidak menja+ab, tetapi ia bergerak, menaiki kudanya, dan terus berjalan pulang dengan dibuntuti

abdinya& 2%engantar !ejauh Delapan ,elas %?. kata sebuah syair& 5tulah artinya perpisahan: "ergi berempat, pulang masing#masing berduaI ,erpisahI

%5 Pu"ang
!33T lohor, !an "ek tiba kembali di asrama sekolah& :enyap kegembiraannya, sebab kini ia tak berka+an& Aa, ia sendiri saja& Tiga tahun dan sekarang terasa hampa& 7anya kenangan saja yang masih tinggal, bagaikan bayangan& 3da banyak teman sekolah, tetapi mereka bukan Eng Tay& 7ambar rasanya& Tak lagi ada ka+an, dengan siapa ia bisa keluar berjalan#jalan& !aking kesepian, ia mendadak teringat teka#teki Eng Tay, teka#teki perpisahan& 2Kata Eng Tay, setelah pulang aku akan dapat menerkanya,6 katanya dalam hati& 2!ekarang baiklah aku coba#coba&&&&6 Terus saja ia mengulangi: 2satu tujuh, dua delapan, tiga enam, empat sembilan Dalam berpikir, pemuda ini berkata di dalam hati: 2!atu kali tujuh: tujuh& Dua kali delapan: enam belas& Tiga kali enam: delapan belas& Empat kali sembilan: Tiga puluh enam&&&&6 !elagi membaca itu, !an "ek menggerak#gerakkan jarijari tangannya untuk menghitung, tetapi tak juga ia memperoleh ja+aban& 2Kata 3dik Ciok, setibanya, asal aku berpikir, aku akan dapat menebaknya,6 katanya dalam hati& 2 yatanya, masih sulit&&&&6 "emuda ini bingung beberapa lama& 23h, sudahlahI6 pikirnya& 27ari ini gagal, besok akan aku pikirkan lagi&&&&6 %alam itu, !an "ek tak bisa tidur dengan tenang& Kemudian ia teringat kata#kata Eng Tay tentang Kiu %oy, si adik kembar, yang segala sesuatunya, paras dan kepandaiannya persis sama dengan sang ka+an& 2Kenapa sebelumnya Eng Tay tak pernah menyebutnyebut adiknya itu46 pikir si anak muda& Dia heran& 2,agaimana sebenarnya +ajah Kiu %oy46 Tiba#tiba tampak seorang berjalan mendatangi, langkahnya perlahan& Dia seorang +anita muda, parasnya mirip Eng Tay, jalannya lemah#gemulai& !an "ek segera menyambut gadis itu dan memberi hormat& !ang dara membalas hormat, sikapnya +ajar sekali& 2 ona, maa;, aku ingin bertanya,6 kata si anak muda kemudian& 23ku lihat, kau mirip sekali dengan Ciok Eng Tay hian-te/. Dengan Dhian-te si pemuda maksudkan Fadik laki#lakiD& !i gadis melipat kedua tangannya ketika menja+ab: 23ku adalah Kiu %oy& Kami anak#anak kembar maka kami mirip satu sama lain&6 2Oh, kiranya 3dik Kiu %oyI6 kata !an "ek tertegun& 2Ketika itu Kakak Eng Tay pulang,6 lanjut Kiu %oy, 2ia mengutarakan tentang soal pernikahanku, katanya aku

telah dijodohkan denganmu, Kakak io&6 !an "ek mengangguk& 23ku dengan kakakmu adalah seperti saudara kandung,6 ujarnya menerangkan, 2maka dari itu, apa katanya ku turuti saja& !ekarang aku melihat kau, Dik, nyata penjelasan adik Eng Tay benar sekali& 5ni dia yang dikatakan, Fkebahagiaan tiga kali reinkarnasiID ,agaimanakah pikiran ona sendiri46 Kiu %oy tersenyum manis& 5tulah ja+abannya& !an "ek melipat kedua tangannya& 2Dan bagaimana dengan 3yah dan 5bu46 tanyanya& 2Kakak Eng Tay telah memberitahukan bah+a Kakak io adalah seorang budiman dan sangat rajin belajar,6 ja+ab gadis itu, 2mendengar hal itu, 3yah dan 5bu senang sekali dan menyetujui& !ekarang ini Kakak io diminta segera datang melamar&6 2 amun,6 kata !an "ek perlahan, 23dik Eng Tay dan 3yah serta 5bu demikian baik, juga 3dik sendiri, bagaimana dengan aku4 3ku ini dari keluarga miskin, mana aku pantas&&&&6 Kiu %oy menunjuk dengan kedua tangannya ke arah tembok, kemudian ia menghadap anak muda di depannya dan berkata serius: 2Jang bukan masalahI 3sal pihak lakilaki dan pihak perempuan bersatu hati, jendela kuningan dan tembok besi pun dapat ditembusI6 !an "ek kagum sekali& 2Oh&&&I6 serunya& 2<endela kuningan dan tembok besi pun dapat ditembusI6 !e+aktu pemuda ini mengutarakan keheranan atau kekaguman itu, tubuh gadis itu bergerak cepat sekonyongkonyong ia telah menghilang&&&& 2Kiu %oyI6 seru si anak muda, memanggil nama gadis itu& 3tau ia lantas diam, bagaikan orang terkesima& !ebab&&&& ternyata ia telah bermimpi dan lenyapnya gadis itu membuatnya mendusin dari tidurnyaI ,eberapa lama anak muda ini masih diam saja& 5a sedang memikirkan mimpinya itu& 5mpian itu aneh& 3neh juga kata#kata gadis itu: asal pria dan +anita bersatu hatiI 5tulah ucapan yang jelas sekali& 2Tidak, aku tak bisa menyia#nyiakan +aktu lagiI6 kemudian ia berkata dalam hati& 23ku harus segera menemuinya untuk memberi penjelasan guna memperoleh kepastian, khususnya untuk menemui ayah#bundanya&&&&6 ,erpikir sampai di situ, anak muda ini jadi teringat lagi dengan teka#teki Eng Tay tentang Fsatu tujuhD, yang masih tetap belum sanggup ia pecahkan& Kemudian ia pun mengeluarkan dari sakunya cenderamata dari Eng Tay, untuk dimain#mainkan&&&& %asih le+at beberapa lama, setelah letih berpikir, !an "ek tertidur& Esok paginya, ia sekolah seperti biasa& Di +aktu, lohor, tidak seperti biasanya, ia diundang 7o#si, si nyonya guru& 5a heran tetapi segera ia pergi menemuinya& 7o#si terta+a dan bangkit dari kursinya atas kedatangan si anak murid& ,ahkan ia segera mendahului berkata& 2Keponakan io, aku hendak bicara dengan kau&

!ilakan dudukI6 !ebagai murid dari suaminya, 7o#si memanggil !an "ek FkeponakanD& !an "ek memberi hormat, dalam rasa herannya ia duduk& Kemudian ia memandang, menga+asi saja sang istri guru& 2Kau belajar rajin sekali, ini aku tahu,6 kemudian 7o#si berkata lagi& 2Karena kau terlalu rajin, agaknya kau sampai kurang perhatian atas cara hidupmu setiap hari& 5tu kurang tepat&6 !an "ek berdiam, ia tidak mengerti& 5a hanya mengangguk& 7o#si menga+asi si anak muda, ia berkata lagi: 2Kau sekolah bersama Eng Tay, sekarang dia sudah pulang, maka kini aku bisa bicara terus#terang& 5jinkan aku bertanya: sesudah sekian lama berkumpul bersama, coba ja+ab pertanyaanku: dia itu sebenarnya pria atau +anita46 !an "ek tercengang& 5tu pertanyaan aneh, di luar dugaan sama sekali& 2Dia seorang pria,6 ja+abnya sambil memberi hormat& 23pakah S$-&o melihat sesuatu46 !ang istri guru terta+a& 2,ukan, kau keliruI6 katanya& 2Eng Tay itu +anitaI ,ukan hanya dia, pengikutnya juga +anitaI6 !an "ek tercengang, ia sungguh heran& +S$-&o,. tanyanya kemudian, 2bagaimanakah S$-&o tahu hal ini46 23ku mengetahui hal ini ketika dia pamit untuk pulang,6 ujar 7o#si menerangkan& 25a telah menjelaskan segalanya padaku&6 7eran atau tidak, sekarang !an "ek tidak sangsi lagi& Aang bicara pun istri gurunya& 7o#si berkata pula: 2Eng Tay mengatakan juga, setelah tiga tahun sekolah dan berkumpul bersama, ia ketahui dengan baik sekali bah+a kau lah seorang laki#laki sejati, maka dari itu dia rela menyerahkan dirinya padamu& ,ahkan dia telah menitipkan kupu#kupu kemala, untuk diserahkan padamu sebagai tanda mata&6 !ambil berkata begitu, nyonya guru itu merogoh sakunya, mengeluarkan kupu#kupu kemala yang disebutkannya tadi& :antas saja ia berikan pada si anak muda itu& !an "ek menerimanya dengan hormat& !ebagai seorang terpelajar, ia kenal baik adat#istiadat& !ambil menga+asi cenderamata itu ia bolak#balik di tangannya& !ekarang barulah ia sadar benar& 2Terima kasih, S$-&oA. katanya kemudian 23h, sungguh tidak saya sangka ia adalah seorang +anita& Tiga tahun kami sekolah bersama, bahkan juga sama#sama tinggal di satu rumah, saya sama sekali tidak duga& Ketika perpisahan, dia menjodohkah saya dengan Kiu %oy& !iapakah gadis itu4 ,ukankah yang disebut adiknya itu, dia sendiri&&&46 2Kiu %oy adalah Eng TayI6 kata 7o#si& 2!ekarang, setelah kau ketahui segalanya, kau harus lekas pergi menemui ,apak#5bu Ciok supaya bisa diajukan lamaran resmiI6

!i anak muda itu mengangguk& 2,enarI 2ja+abnya& 23pakah "ak =uru juga tahu urusan ini46 2Tadinya tidak, sekarang sudah,6 sahut 7o#si& 2Tapi, aku akan menemuinya lagi untuk menjelaskan bah+a kau sudah mengetahui hal#ih+al kalian berdua& =uru justru yang menganjurkan agar kau lekas pergi menyusul Eng Tay untuk menemui ayah#bundanya&6 2,aiklahI6 kata !an "ek& 2 anti sore akan saya temui "ak =uru agar beliau bisa pilihkan hari yang baik untuk keberangkatan saya& S$-&o, !an "ek mengucapkan terima kasih pada S$-&oA. !ambil berkata begitu, anak muda ini lantas memberi hormat& !ambil tersenyum, 7o#si menyambut hormat itu& !an "ek pamit, terus kembali ke kamarnya& "ertamatama, kupu#kupu kemala itu ia persatukan dengan kupukupu kemala yang lain, miliknya, hingga keduanya menjadi sepasang& 2DikI6 katanya kemudian seorang diri, 2mengapa sekian lama kau tidak menunjukkan tanda apa pun hingga aku tidak tahu sama sekali46 "emuda ini lantas duduk berdiam diri saja, namun pikirannya bekerja& 2!ebenarnya akulah yang kurang perhatian,6 katanya kemudian seorang diri& 2Coba aku berprasangka, aku pasti mengetahui juga akhirnya& Aa, ku ingat sekarangI Ketika itu aku sedang berlatih kaligra;i, ia berada di sampingku, sedang menggosok bak& Ketika kebetulan aku menoleh, kulihat liang kecil di cuping telinganya& 3ku hanya terkejut karena heran, tetapi dia mengatakan kepadaku bah+a kupingnya dilubangi oleh ibunya yang membayar kaul& 3ku tidak curiga, aku mempercayainya& Dasar aku terlalu luguI %asih ada lagi suatu pertanda& Tatkala dia sakit, aku berbaik hati dengan menemani tidur di ujung kakinya& !aat itu dia menolak namun akhirnya ia setuju juga setelah ada perjanjian tentang penghalang yang ditaruh di tengah tempat tidur& %engenai hal ini, ia pun menyebutnyebut kebiasaannya sejak kecil bersama ibunya& !ebenarnya, bagaimana masuk akal alasan ibunya itu4 Aang jelas dia hendak mengekang aku& Aa, mengapa aku terlalu polos hingga aku dibohonginya46 %erenung sampai di situ, !an "ek berhenti berpikir dengan sendirinya& 5a menghampiri pembaringannya untuk merebahkan diri& amun beberapa lama, matanya masih terbuka terus, dan hanya menatapi langit#langit pembaringan&&&& !ekonyong#konyong, langit#langit kelambu terbelah dua, muncullah Eng Tay berdandan +anita dan gadis itu segera berkata: 23sal pria dan +anita bersatu hati, tembok kuningan dan besi pun dapat ditembus&&&&6 :alu, mendadak saja gadis itu lenyapI Tembok kuningan dan besi pun dapat ditembus4 !an "ek sadar dan bangun, ia berdiri& <ustru itu, !u Kiu muncul untuk berbenah& Tak ia

sangka, majikannya sedang berdiri dengan +ajah berseriseri hingga ia menjadi heran& 2!u Kiu, kau sudah lama tinggal bersama =in !im, kau tahu atau tidak bah+a dia&&&&6 !i abdi tercengang, dia menatap tuannya itu& !an "ek pun segera meneruskan pertanyaan: 2Tahukah kau, macam apa dia itu46 2Dia orang yang baik sekali,6 ja+ab !u Kiu& 2!emenjak dia dan majikannya berkumpul bersama kita, kami berdua belum pernah bermuka merah&6 3rtinya, !u Kiu dan =in !im belum pernah bertengkar& 2,agusI6 kata sang majikan& 2Dua atau tiga hari lagi kita akan pergi ke dusun Ciok untuk menjenguknyaI6 !u Kiu heran, namun dia terta+a& 25tu bagus, Tuan %udaI6 katanya& !an "ek tak berkata apa#apa lagi, kemudian ia berjalan mondar#mandir dalam kamarnya itu& Otaknya bekerja, mengiringi langkah kakinya& 2!atu tujuh, dua delapan, tiga enam, empat sembilan&&&&6 Otaknya bekerja hingga ia tak tahu bah+a kacungnya sudah berlalu& !eorang diri, ia masih mondar#mandir sampai tiba#tiba ia berkata sendiri: 2!atu tujuh, dua delapan&&&& Di samping satu dua, ada tujuh delapan, dan tujuh tambah delapan ialah lima belas& Tiga enam, empat sembilan& Di samping tiga dan empat, enam tambah sembilan ialah lima belas jugaI !atu, dua, tiga dan empat, itulah nomor urut& 5ni bukan masalah& 7anya dua kali lima belas, itulah artinya satu bulan& 3h, apakah itu berarti adik Eng Tay menghendaki agar aku mendatanginya, jangan le+at dari satu bulan46 ,erhenti sejenak, !an "ek berkata pula: 23pakah aku tidak salah ta;sir46 Kembali, di dalam hati dia mengulangi menyebut 2satu tujuh, dua delapan, tiga enam, empat sembilan&6 2Tak salah, ada satu, ada dua, ada tiga, ada empat& :alu, apakah maksudnya itu46 demikian ia bertanya#tanya sendiri, suaranya keras& Di luar dugaan, di halaman luar ada beberapa orang teman sekolah sedang berkumpul& %ereka heran mendengar !an "ek bersuara keras seorang diri, mereka lari menghampirinya dan bertanya: 23da apa&&&46 23h, tidak ada apa#apa,6 ja+ab !an "ek yang merasa jengah sendiri& 5a pun terta+a: 2,aru saja ada kelabang, aku terperanjat, setelah ku usir, dia kabur&&&&6 Ka+an#ka+an itu maklum, mereka pun bubar& !an "ek duduk, ia memainkan lagi kupu#kupu kemala itu& 5a mengamatinya, ya, ia termenung& 5a pun tersenyum simpul& Aa, otaknya bekerja terus&&&& 2!ikap 3dik Eng Tay ada maksudnya,6 pikirnya kemudian& 2!epasang kupu#kupu kemala ini, dua kali ia serahkan padaku& ,ukankah itu ada artinya4 Tiga kali dia mengembalikan barang#barangku: +alet, delima dan kupukupuI, Dia pun mengingatkan aku agar dalam +aktu tiga puluh hari, aku harus menyusulnya& Aa, aku harus segera mendatanginyaI6

3nak muda ini menggebrak meja seraya berseru perlahan: 2Aa, berangkatI6 %alam itu !an "ek menemui gurunya untuk mohon diri& "ak guru Ciu mengetahui hal#ih+al anak muda itu, ia menasihatinya& 5a pun menetapkan hari keberangkatan si anak muda: :usa& 7ari itu tiba dengan cepatnya& !an "ek sudah siap& "agi#pagi ia berpamitan dengan guru dan istrinya& 7anya kali ini ia harus berjalan kaki, kudanya telah mati karena sakit& !u Kiu mengikuti dari belakang dengan memba+a buntalan#nya& !etelah berada, di jalan besar dan melihat pepohonan, !an "ek terkenang pertemuannya semula dengan Eng Tay dan bagaimana gadis itu bersyair& 5a ingat benar bunyi syair itu& Aa, ia ingat segala pengalamannya berdua dengan gadis itu& 2Aa, Kiu %oy adalah Eng TayI6 pikirnya kemudian& 5a girang hingga sering ia tersenyum dan terta+a sendiri, sampai#sampai !u Kiu si abdi, menjadi heran& 23neh, mengapa aku tidak sadar juga&&&&6 kata si anak muda itu, sendirian& 2Tuan %uda,6 tanya !u Kiu, heran, 2apa yang tak sadar juga46 2Tidak apa#apaI6ja+ab sang majikan& Keduanya berjalan terus, sampai suatu hari tibalah mereka di kampung halaman mereka& Kebetulan sang ayah, io Ciu "o, sedang berada di ambang pintu, dan ia melihat dua orang sedang mendatangi& 2Tuan ,esarI6 seru !u Kiu sambil menghampiri, terus dia memberi hormat& 2Oh, !an "ek pulangI6 kata sang ayah girang& !egera juga !an "ek memberi hormat pada ayahnya, dan menanyakan kesehatannya& 2%ari, ak, temui I6 kata ayah itu& %aka masuklah mereka ke dalam& !ang ayah berseru: 2%a, !an "ek pulangI yonya io, atau Kho#si, ibu !an "ek, pun sangat girang& !an "ek segera memberi hormat pada ibunya itu& 2Oh, anakkuI6seru ibunya& 2%ama baik#baik saja46 tanya pemuda itu& 2Kau baik, ak4 3ku baik#baik saja&6 %aka gembiralah keluarga io itu& %aklumlah, tiga tahun ayah#bunda berpisah dari putranya, dan sekarang, mereka bertemu dan semua sehat#+ala;lat& !u Kiu memberi hormat pada nyonya majikan itu sesudah meletakkan buntalannya& %alam itu selagi si putri malam bertengger di langit, ayah dan ibu serta sang putra duduk berkumpul di ruang dalam& "emuda itu menceritakan segala sesuatu yang berlangsung selama ia sekolah, dan kedua orangtua itu menanyakan berbagai hal& %ereka senang dan puas, terutama karena mereka dapat berkumpul bersama dalam keadaan segar#bugar& 7anya ayahnya tampak lebih tua dan ibunya +ajahnya sedikit keriput&

Kemudian pembicaraan sampai pada masalah Ciok Eng Tay, gadis itu bernyali besar, yang berani menyamar sebagai pemuda dan merantau menuntut ilmu bertahuntahun dengan penyamaran yang sempurna sekali& 2 amun ternyata dia bukan pria melainkan +anita,6 kata !an "ek akhirnya& Tentu saja, penyamaran =in !im pun turut disebut#sebut& Ciu "o dan Kho#si senang mendengar kisah putranya, yang menemui pengalaman yang luar biasa itu& %ereka memuji Eng Tay& 2,agaimana asal#mulanya sampai ketahuan bah+a dia +anita46 kemudian tanya sang ayah& !an "ek menjelaskan, mulai dari pertemuannya di tengah jalan, hingga mereka sekolah dan tinggal sekamar? bagaimana mereka bergaul erat, sampai akhirnya mereka berpisah sebab gadis itu dipanggil pulang berhubung ibunya sakit& !epulangnya gadis itu barulah rahasia penyamaran itu dibuka atau terbuka& Tentu saja !an "ek menerangkan bagaimana Eng Tay, secara samar#samar telah menyatakan sudi menyerahkan dirinya sebagai istri& Kemudian putranya ini mohon maa; kepada ayah dan ibunya karena ia telah lancang menerima 2lamaran6 Eng Tay& 3yah dan ibu itu tidak berkurang senangnya, bahkan sebaliknya, mereka girang& 2,agaikan dongeng sajaI6 kata ayahnya& 2Tetapi sekarang, bagaimana pikiranmu tentang kau dan Eng Tay selanjutnya46 2!aya pikir, sebaiknya segera pergi mengunjungi Eng Tay,6 ja+ab !an "ek& 2,esok atau lusa&&&&6 2"ergilah, kau memang harus pergi, ak,6 kata Kho#si, sang ibu, 2hanya di sana, bagaimanakah nanti sikap ,apak dan 5bu Ciok46 2%enurut Eng Tay, sikap ayah#bundanya nanti sudah tidak menjadi soal,6 ja+ab !an "ek& Ciu "o bangkit berdiri& 2Kepergianmu bukannya soal lagi,6 katanya kemudian& 27anya kita, bagaimana dengan pihak kita4 Kita orang miskin&&&&6 2%asalah sebenarnya sulit, bagaimana nanti saja&6 2Kalau begitu, berangkatlah lusa,6 kata si ayah akhirnya& 2,aik, "a,6 kata !an "ek&

%% Dua Perantara 6odoh


:5%3 hari setelah berpisah dengan io !an "ek, Eng Tay yang sedang menunggang kudanya mendapatkan bah+a dia segera akan tiba di rumah& Caktu itu siang hari& 2Ong !un pasti sudah sampai di rumah kemarin,6 kata gadis itu pada abdinya& 2Tentu sudah ada orang yang menantikan kita di depan pintu&&&&I6 2Aa, on,6 sahut =in !im& 2!ekarang kita mudah pulang, tetapi dulu, +aktu hendak berangkat, betapa sulitnya&&&&6 2!udahlah, lain dulu lain sekarang,6 kata Eng Tay& 2Tak

heran kalau "apa semula menentang& Tak mudah buat kita menyamar dan harus menjaga diri di rantau& !emoga beberapa ratus tahun kemudian, kaum +anita bisa mencari ilmu pengetahuan secara bebas merdeka& !ayang kita lahir terlalu pagiI6 ona majikan dan abdinya masih asyik bicara, tanpa terasa mereka sudah sampai di muka pintu rumah mereka& ,enar saja, di depan pintu sudah ada orang yang menantikanI ,ahkan ada yang lantas menyambut kuda dan buntalan mereka& 23pakah aku berubah46 tanya Eng Tay& 2TidakI6 terdengar ja+aban& =adis itu terta+a& 23ku telah tukar pakaian selama tiga tahun, mana mungkin tidak ada perubahan46 katanya& 27anya diriku saja yang tetap, tidak berubahI6 "ara penyambut itu tersenyum& !egera juga Eng Tay berada di dalam& Di sana ayah dan ibunya sudah menantikannya sebab mereka ini telah mendapat kabar tentang tibanya putri mereka& 2"apaI %amaI6 teriak Eng Tay memanggil, girangnya tiada kepalang& 5a maju mendekat dan memberi hormat, menjura dalam#dalam& Teng#si, sang ibu, terta+a& 2Jntuk apa kau menjalankan adat penghormatan besar,6 katanya dengan senang sekali& Ciok Kong Can, sang ayah pun terta+a& 2Dia masih dandan sebagai seorang pemuda, pantas saja penghormatannya iniI6 katanya, gembira bukan kepalang& 3palagi putri mereka pun sehat +ala;iat, tak kurang sesuatu pun& =in !im segera menghampiri guna memberi hormat pada majikannya itu& 2%ama sakit, apakah sekarang sudah sembuh betul46 tanya Eng Tay seraya menatap ibunya& !ang ibu tersenyum& 25tu hanya ulah I6 katanya& 25a mendustaimu agar kau lekas pulangI6 =adis itu, juga abdinya, tersenyum& %ereka tak kece+a& %ereka senang karena orangtua dan majikan itu segarbugar& 2Kau baru tiba, ak, pergilah kau ke kamarmu dulu dan tukar pakaian,6 kata Kong Can pada putrinya& 2!etelah tiga tahun, sebentar kita bicara lagi ceritakan pengalamanmu&6 Eng Tay menurut, bersama abdinya ia masuk ke kamarnya, terus mereka beristirahat& %alam itu, selesai bersantap Eng Tay berdiri di depan ayah dan ibunya dan berkata: 2"apa, %ama, ketika akan berangkat, aku diberi tiga macam syarat dan itu tak dapat kul upakan& !ekarang silakan "apa memanggil bidan untuk memeriksa dirikuI6 23h, akI6 kata orangtua itu, yang agak terperanjat& 2Kata#kataku di saat keberangkatanmu, kau masih ingat&&&&6 2Tentu saja, "a,6 sahut sang putri& 2Tak berani aku melupakannya&6

2,aiklah kalau begitu& Dua hari lagi, akan kupanggilkan bidan&6 Teng#si melihat, sang ayah dan putrinya agak likat, ia menyelak: 2!udahlah, kenapa mesti terburu#buru sekali& "utri kita sudah bicara, ya, sudah saja& Cukup asal kita tahu&6 !etelah bicara yang lain sebentar, Eng Tay kembali ke kamarnya& Dalam keadaan senggang, segera ia terkenang !an "ek& %aka ia merasa: Dalam berjanji, +aktu satu bulan rasanya pendek sekali, akan tetapi sekarang, +aktu itu terlalu lambat, terlalu lama& Aa, ia memikirkannya setiap saat senggang, baik di kala siang maupun malam tatkala rembulan terang#benderang& Aa, ia menanti&&&& "ada suatu siang, di saat angin selatan silir#semilir, sekonyong#konyong berhembus angin utara& !aat itu Ciok Kong Can sedang berada di taman bunganya, dan =in !im& sedang menyapu di halaman taman itu& Tiba#tiba, sambil mengusap janggutnya dan terta+a, Kong Can berkata pada abdinya itu: 25ni, di sini, juga harus disapu& Eh, ya, bagaimana dengan onamu4 Di saat#saat begini, selain baca buku, biasanya ia datang ke taman, bukan46 ,elum lagi =in !im menja+ab, tampak Ong !un datang dengan langkah lebar seraya terus saja melapor pada majikannya: 2Tuan, di luar ada pega+ai :i Tiang-s$, katanya dia hendak menyampaikan pesan&6 2,aik,6 sahut sang majikan& 2!uruh dia tunggu sebentar&6 !elagi bujangnya mengundurkan diri, majikan itu pun pergi ke luar, ke ruang tamu& Ong !un kemudian menyusul, bersama seorang tamunya& !ang tamu segera memberi hormat seraya berkata: 2:i Tiang-s$, atasanku, tadi pagi kedatangan seorang tamu, yaitu Tian #i-s$/ Katanya tamu itu minta diperkenalkan dengan Tuan Ciok&6 2,oleh, boleh saja,6 kata tuan rumah& 2!ayang di sini aku tidak punya sesuatu untuk disuguhkan pada tamutamuku&&&&6 2Tian #i-s$ sekarang sedang dalam perjalanan ke mari,6 kata si pega+ai pula& 2!aya diperintahkan mengabarkan terlebih dulu& !ekarang saya ingin kembali untuk memberitahukan :i Tiang-s$/. !etelah berkata demikian, pega+ai itu memberi hormat lagi, terus dia pergi& !e+aktu berjalan, Kong Can girang& 5a ingat dulu, semasa ia menjadi camat, Tian #i-s$ itu, seorang gubernur, adalah atasannya& !ekarang, pensiunan gubernur itu berkunjung padanya, pasti itulah suatu kehormatan baginya& Di pihak lain, dalam hatinya, ia berpikir bah+a ia harus berhati#hati menyambut tamunya itu& 5a hanya tidak dapat menduga, apa maksud kunjungan itu& "aling#paling, ia berpesan agar segera disiapkan suguhan untuk jamuan penyambutan& Tidak lama kemudian, penga+al di depan mengabarkan tentang tibanya sang tetamu& Tuan rumah ini segera pergi ke depan untuk menyambut& "ara tamu datang dengan tiga buah kereta yang

dihentikan tepat di depan pintu& Dari kereta pertama muncul seorang berkopiah hijau, berjubah sulaman biru, janggutnya belah tiga& Dialah :i Tiang-s$ atau :i Au !eng yang dikenal baik oleh tuan rumah& Dari kereta kedua turun seorang berkopiah sastra+an, jubahnya tersulam dan ber+arna merah& 5a pun berjanggut tiga tetapi ber+arna putih& 5a bermuka lebar& Tangannya mencekal tim-&@e, semacam pengebut& Cajahnya agak ber+iba+a& Dialah Tian Ci#su& Kereta yang ketiga adalah kereta untuk penga+al& Kong Can segera menghampiri menyambut tamutamunya sambil memberi hormat dengan menjura& !etelah itu, ia mengundang mereka untuk masuk ke dalam, dan duduk di ruang tamu& !elagi menyambut, ia berkata sebagai orang desa, merupakan suatu kehormatan besar karena ia mendapat kunjungan kedua tamu agung itu& 2Kami merepotkan saja,6 kata :i Au !eng, merendah& 2Kami cuma ingin bercakap#cakap&6 %ereka lantas saja disuguhkan teh& !egera juga Tian #i-s$ menanyakan jumlah anak lakilaki Kong Can& 2Tidak, saya tidak punya anak lelaki, hanya seorang anak perempuan,6 sahut Kong Can menerangkan& 2,enar,6 ujar :i Tiang-s$ turut bicara& 2,ahkan kabarnya putrinya itu cantik dan pintar sekaliI6 5a tersenyum sambil mengusap j anggutnya& 23h, tidak,6 Kong Can merendah& 2Tapi benar ia telah belajar mirip anak lelaki&6 2,erapakah usianya sekarang46 tanya Tian #i-s$/ 2Tahun ini genap dua puluh,6 sahut tuan rumah& 23pakah dia masih terus bersekolah46 Kong Can terta+a& 5a menja+ab: 2 iat putriku itu terus sekolah, tetapi a+al tahun ini ia berhenti& Tak leluasa baginya meneruskan sekolah&&&&6 2%emang,6 kata :i Au !eng, 2kalau anak perempuan terus bersekolah, kurang leluasa& !ekarang ini, %eng-ay CE sudah berjodoh atau belum46 %endengar pertanyaan itu, Kong Can segera dapat menerka maksud kunjungan tamu#tamunya ini jelas pihak lelaki meminta :i Tiang S$ dan Tian #i-s$ menjadi perantara jodoh& +Siao-li C0 belum ada jodohnya,6 sahut Kong Can terusterang& 2"utriku itu semata +ayang, dia anak perempuan, tak apa dia berdiam lama sedikit di rumah&&&&6 2Kalau demikian, biar kujelaskan saja maksud kedatanganku bersama !audara Au !eng ini,6 kata Tian :eng ,o+, si #i-s$ atau pembesar berkedudukan sebagai gubernur sipil& 23pakah kau kenal Thay-si$ %a Cu ,eng46 Kong Can melipat kedua belah tangannya& 2!aya telah lama mendengar namanya,6 sahutnya& 2,eliaukah yang tinggal di :ang#ta+ kecamatan =in#koan46
0> :eng#uy: kata halus untuk menghormat anak gadis tuan rumah& Kira#kira, 2"utri

3nda,6 bukan 23nak Tuan&6 0$ !iao#li berarti 2anak perempuan yang tak berarti6&

2,enar,6 kata :eng ,o+ sambil mengangguk& 2%a Thaysi$ punya seorang putra bernama ,un Cay, dia sekolah di rumah di ba+ah bimbingan guru khusus& !ebagai pelajar,

namanya sangat terkenal& Thay-si$ dengar, 3nda mempunyai seorang cian-kim sio-cia,09 yang cantik dan pintar sekali, maka dari itu ia mengutus kami berdua ke mari untuk menjalin kedua keluarga menjadi satu, yaitu agar gadis itu dijodohkan dengan %a ,un Cay& 3ku sendiri merasa kha+atir tidak bisa menjelaskan maka aku datang bersama :i Au !eng& 3ku percaya !audara Ciok tidak akan menampik&&&&6 !ambil berkata demikian, pak comblang ini terus saja terta+a& !egera juga Ciok Kong Can tertarik dengan lamaran itu, apalagi kedua perantara jodoh itu bukan sembarang orang& Tambahan pula, keluarga %a adalah keluarga termasyhur& Calaupun demikian, ia masih bertanya: 2Kata#katamu tadi tak berani aku menolaknya& amun, dapatkah aku diberitahu, berapa usia %a ,un Cay sekarang, dan bagaimana perilakunya4 !emua ini belum ku ketahui&6 Tian :eng ,o+ terta+a mendengar pertanyaan tuan rumahnya itu& 2%aa;, kata#kata kami tadi kurang jelas,6 katanya, menja+ab tuan rumah& 2,un Cay sekarang berusia dua puluh dua tahun& ,egini&&&&6 ,elum lagi #i-s$ itu selesai, Au !eng sudah memotong: 2Aa, sama#sama dua&&&I6 Dia mau maksudkan cocok, Eng Tay dua puluh, %a ,un Cay dua puluh dua& Ciok Kong Can mengangguk& 2Kata#kata Tuan berdua sudah jelas,6 katanya, 2tetapi kami mohon diberi i'in untuk berpikir dulu sekitar, tiga hari, setelah itu, akan kami berikan ja+aban kami& Keluarga Ciok, hanya mempunyai satu anak perempuan
09 Cian#kim sio#cia: har;iah, gadis bernilai seribu emas, artinya, 2 ona yang

Terhormat6&

yang sangat kami sayangi, selain itu, ibu si anak pun harus diberitahu lebih dulu& !aya mohon maa;&6 Au !eng agak heran& 23pakah masih ada yang kurang jelas46 tanyanya& Tetapi Tian :eng ,o+ menyela, katanya: 2Caktu tiga hari tidak terlalu lama& ,aiklah, dalam tiga hari, kami akan menanti beritaI6 2Terima kasih,6 kata tuan rumah& 2%aa;, istri saya perlu diberitahu lebih dulu&6 !ambil berkata begitu, Kong Can bangkit dari tempat duduk& 5a membungkuk, memberi hormat sambil meminta agar kedua tamunya maklum akan keterangannya itu& Kedua tamu itu berdiri, dan membalas hormat& Kemudian kedua belah pihak, duduk pula& Dengan berbicara lebih jauh, :eng ,o+ mengatakan bah+a keluarga %a adalah keluarga harta+an sehingga apa saja yang dibutuhkan keluarga Ciok dimintanya agar dikatakan saja, karena pasti akan dipenuhi& !ebaliknya Kong Can menyatakan bah+a pihaknya tidak membutuhkan apaapa, karena ia pun berkecukupan& !etelah itu, Kong Can pamit untuk memberi tahu istrinya, sementara kedua tamu itu menunggu& Tatkala Kong Can masuk ke dalam, ia mendapati

istrinya sedang duduk di dekat jendela& !ang istri sebaliknya melihat +ajah suaminya itu agak gembira, ia bertanya: 23pakah para tamu sudah pulang46 2,elum,6 ja+ab suaminya, yang terus menjura pada istrinya sambil mengucapkan: 2!elamat, yonya ,esar, selamatI6 5strinya menjadi heran& amun ia berdiri membalas hormat sang suami& 5a menatapnya& 23da apa4 3pakah maksud kegiranganmu ini46 2Coba kau terka, mau apa kedua tamu itu datang jauhjauh46 2%ana kutahu&&&&6 2%ereka datang untuk melamar Eng Tay, putri kitaI6 2Oh, begituI6 kata sang istri& 2Jntuk keluarga siapa46 2Jntuk putra %a Thay-si$ yang bernama ,un Cay,6 ja+ab suaminya& 23nak itu baru berusia dua puluh dua tahun& %ereka berdua di utus sebagai perantara jodoh& :ihat, perantaranya saja bukan sembarang orang&6 2%a Thay-si$ itu memang ternama,6 kata yonya Ciok, 2akan tetapi putranya itu, kita berdua belum pernah melihatnya& %aka dari itu, ku pikir, kita perlu bersabar dulu& :agi pula, +alau keluarga itu kaya, putranya masih sekolah& ,ukankah kita perlu melihat dulu kepandaiannya46 2"ikiranmu sama dengan pikiranku, istriku& 3kan ku sampaikan keinginan kita ini pada kedua perantara itu& 3pakah kaup unya pikiran yang lain46 2%asih ada,6 sahut istrinya& 2Aa, tentang Eng Tay, putri kita& 5a sangat terpelajar, orang biasa saja tak nanti ada di matanya& %aka dari itu, perlu kita tanyakan dulu pendapatnya& ,ukankah baik sekali kalau dia diperlihatkan karya tulis pihak sana46 Ciok Kong Can duduk di sisi istrinya& Tetapi, mendengar kata#kata terakhir istrinya, ia menjadi geram bahkan +ajahnya tampak merah& 2 ah, inilah kekeliruanmuI6 katanya tiba#tiba dengan keras& 2Dulu ketika Eng Tay mau pergi belajar ke 7ang#ciu, aku tidak setuju, kemudian karena segala ucapanmu, aku memberikan i'in& Coba pikir, selama tiga tahun itu, betapa berat perasaan kita, kecemasan kita& Aa, itu masih perkara kecil& Tapi sekarang, urusan pernikahan, ini urusan besar& Kita tidak bisa berikan lagi kebebasan seperti duluI Dalam hal ini ada keluarga %aI %ana bisa kita mendapatkan keluarga lain4 !edangkan kedua perantara itu, mana kita mencari mereka4 Kau mau tanya dulu pikiran Eng Tay, itu terlalu memusingkan kepala& Di samping itu, juga tidak ada alasan baginya untuk menampik&6 Teng#si heran mendapatkan suaminya mendadak saja bicara sedemikian rupa& 5a menga+asi& Karena tahu si;at suaminya, ia bersabar& 23ku juga tahu keluarga %a terkenal,6 katanya, sabar& 23kan tetapi putranya, bagaimana4 !elain tentang kepandaiannya, juga perihal paras +ajahnyaI ,agaimana kalau dia macam Ftiga bagian manusia dan tujuh bagian hantuD4 3pakah Eng Tay pantas dijodohkan dengan dia4 Eng Tay pasti tidak setuju& :agi pula, bagi Eng Tay ilmu budaya adalah bagaikan ji+anya&6

2Aa, pulang#pergi, pikiranmu sama sajaI :alu, apa lagi katamu46 2Tidak ada lagi,6 sahut istrinya& 2,aiklah kalau begitu,6 kata suaminya& 2!ekarang hendak ku layani tamu#tamu kita&6 Kembali ke ruang tengah, Kong Can mendapatkan tamunya sedang berjalan#jalan di taman& 5a lantas menyuruh pelayan memanggil mereka& Tatkala bertemu, Tian :eng ,o+ menggeleng#gelengkan kepala, terus dia terta+a dan berkata: 2"utrimu itu benarbenar bukan sembarang orangI 3ku telah melihat syairnya di papan ayunan& !ayang sekali tidak ada mopit hingga aku tidak dapat mengutipnya, tetapi kira#kira begini: F,enang merah me+arni para tamu, satu kali menantang orang pandaiID Aang lainnya ialah F*embulan terang mengantarkan kepergian mega, angin lembut jatuh ke bumiD& 5tulah lukisan mengenai gerak#gerik ayunan& Tanda tangannya ialah: FEngD, maka aku menduga, itulah tulisan putrimu& !eorang gadis berusia dua puluh tahun sudah bisa bersyair demikian indah, sungguh luar biasaI6 %endengar pujian itu, Kong Can terta+a& :i Au !eng juga berkata: 2Tidak sembarang orang bisa menulis begituI6 !egera Tian :eng ,o+ menanyakan bagaimana pendapat yonya Ciok& Kong Can pun menjelaskan sikap istrinya& 2Kalau demikian, tujuh atau delapan bagian, urusan akan berhasilI6 kata :eng ,o+& 2Kau bagaimana, saudara Au !eng46 Orang yang di tanya mengangguk& 2,enar, urusan akan segera berhasilI6 katanya& 2!ekarang tinggal tulisan dari %a ,un Cay& 5tu bukan soal lagi& ,un Cay sekarang ada di rumah asal ku temui dan bicara dengannya, pasti dia bersedia& ,esok aku akan kirim orang untuk mengambil karya tulis ,un Cay& ,ukan hanya satu karya, semuanya pun boleh& Dengan demikian aku berharap, urusan ini tak menemui kesulitan& Kak :eng ,o+, kalau begini akan beres seluruhnya& !ekarang kita tinggal menanti le+atnya dua hari lagiI6 Orang bermarga :i ini sangat gembira& Tian :eng ,o+ pun terta+a& 2,enar juga, tak ada hal yang sukar lagiI6 katanya& 2!audara Ciok, bukankah urusan sudah dapat di anggap selesai46 2Aa, sudah selesaiI6 ja+ab Kong Can terta+a& 27anya tinggal istri saya, ia ingin sekali dapat melihat Tuan %uda %a sendiri serta dua buah naskah karangannya& %engenai hal ini, saya harap perhatian !audara berdua& !ekarang, sesudah lama kita bicara, saya mengundang !audara sekalian menikmati jamuan seadanya bersama#sama&6 Kedua tamu terhormat itu menerima baik undangan perjamuan itu, mereka mengucapkan terima kasih& %aka di lain detik, ketiganya sudah duduk berkumpul, bersantap dan minum bersama& !etelah itu, mereka masih mengobrol di ruang tamu dan kedua orang perantara itu, menegaskan pula agar sang tuan rumah bersedia

menerima lamaran keluarga %a& Kemudian :i Au !eng berkata: 2,egini sajaI Enam atau tujuh hari lagi, akan ku suruh istriku memba+a naskah karya Tuan %uda %a ke sini, asal saja yonya sudi menerimanya, agar naskah itu dapat diperiksa& 3ku percaya, sesama +anita, bicaranya lebih mudah& %engenai kehendak yonya melihat bakal menantunya, kita lihat saja belakangan& ah, bagaimana, cocok, bukan46 Kong Can tidak berani banyak bicara lagi, ia mengangguk& %aka sampai di situ kedua tamu itu lantas minta diri untuk pulang&

%* Gadis (uar +iasa


C5OK Eng Tay sedang berada di ruang belakang tatkala ia mendapat kabar tentang kedatangan dua orang tamu ayahnya& 5a tidak memperhatikan hal itu& !esudah lima hari, ia mendengar laporan dari seorang abdi perempuan bah+a ibunya sedang menerima kunjungan :a+#si, istri :i Au !eng& Kali ini ia merasa agak curiga, bukankah tamu itu belum pernah mendatangi rumahnya4 !ekarang tibatiba dia muncul, mau apakah dia4 2=in !im, coba kau selidiki,6 katanya pada abdinya& !ebenarnya Ciok Kong Can, sesudah menerima kunjungan dua orang tamunya itu, pernah berpesan pada orang#orangnya agar tidak sembarangan memba+a cerita& <uga Teng#si, si ibu, tidak memberitahukan putrinya mengenai kedatangan kedua tamu itu serta maksud kedatangannya& %aka ketika :a+#si datang, ia menyambut sendiri& yonya :i Tiang-s$ berusia empat puluh lebih, dia mengenakan baju ber+arna merah tua& ,erhadapan dengan nyonya rumah, dia menghormat& Kemudian Teng#si mengundangnya duduk di ruang tamu& !etelah berbasa#basi, :a+#si berkata& 2Kedatanganku ini menyambung kunjungan suamiku beberapa hari yang lalu, maka yonya tentu sudah tahu maksudnya&6 2"asti urusan putriku,6 sahut Teng#si& 2Kami merasa berterima kasih sekali6 2Aa, inilah urusan keluarga Ciok dengan keluarga %a,6 kata :a+#si& 2!emoga kedua keluarga nanti berjalin menjadi satuI6 Teng#si mendapat kesan baik mengenai sang tamu, yang apik bicaranya& 2Terima kasih,6 katanya terta+a& 2Kabarnya Tuan %uda %a itu baik sekali, maka kami ingin sekali melihatnya&6 !ang tamu tersenyum& 2%emang, paling tidak mesti bertemu satu kali,6 kata :a+#si& 2Jmpama barang, harus di lihat dulu burukbaiknya& Terus#terang, Tuan %uda %a sekarang berada di rumahku, asal yonya setuju, pertemuan akan segera terlaksana& ,agaimana pendapat yonya46 Teng#si tidak menyangka akan ja+aban tamunya itu, karenanya ia menja+ab: 2%engenai hal ini, tak berani aku mengambil keputusan, perlu ku tanyakan dulu pendapat suamiku& ,aiklah, nanti saja ku beri kabar lebih lanjut&6

23pakah Tuan Ciok ada di rumah46 tanya :a+#si& 23da,6 ja+ab Teng#si& 2,agusI6 kata :a+#si yang tampak girang sekali& 2,aiklah aku akan duduk menanti disini& Tanyakanlah kepada Tuan di mana pertemuan dapat dilakukanI6 yonya rumah terta+a& 2Kulihat di antara dua perantara, yang +anita lebih mendesak daripada yang priaI 7anya sayang, pembicaraan tidak bisa segera diputuskan& %emangnya sudah sangat ingin minum arak kebahagiaan, ya46 2AaI6 kata :a+#si secara polos& 2Terus#terang saja, tak ada lagi keluarga lain yang lebih serasi dari dua keluarga Ciok dan %aI H Oh ya, aku lupa akan sesuatu&&&&6 !ambil berkata begitu, si tamu merogoh sakunya& 5a mengeluarkan segulung pita merah dan sambil memberikannya pada nyonya rumah, ia berkata: 25ni naskah Tuan %uda %a untuk Tuan Ciok lihat dan periksa& ah, dengan ini telah kami kabulkan permintaan Tuan& %aka sekarang, kami tinggal menanti saja sepatah kata dari TuanI6 Teng#si berdiri, menyambut gulungan naskah itu& 2Terima kasihI6 katanya& !aat itu, =in !im muncul, melintas di ruang tamu itu& 2Eh, =in !imI6 ujar si nyonya majikan memanggil, 2pergilah kau temui Tuan ,esar dan katakan, sebentar aku mau bicara dengannya&6 =in !im meng#iya#kan, terus ia berjalan pergi& 23bdi siapa itu46 tanya nyonya tamu& 2Dia abdi putriku,6 sahut nyonya rumah& 2Kebetulan sekaliI6 kata :a+#si lagi& 23ku ingin bicara dengannya& Dapatkah dia dipanggil kembali46 2=in !im, ke mariI6 Teng#si lantas memanggil abdinya itu& !ebenarnya ia tidak setuju tetapi ia malu hati kepada tamunya& 2Kau beri hormat pada yonya :i ini&6 3bdi itu belum sampai di luar, segera ia kembali& 5a menjura pada tamunya itu& yonya :i terta+a, ia berkata: 2Ku dengar ona majikanmu itu pandai ilmu budaya, beberapa pemuda tidak sanggup menyaingi dia& 7ari ini kebetulan aku beruntung dapat berkunjung ke sini& !udah seharusnya aku menemui dia, paling tidak satu kali& ah, coba kau temui onamu dan katakan padanya bah+a ada seorang +anita dari keluarga :i yang sangat ingin bertemu dengannya&6 2,aik, yonya,6 ja+ab =in !im& 3kan tetapi dia tidak lantas mengundurkan diri, melainkan berpaling pada nyonya majikannya untuk menunggu perintah& Teng#si maklum, ia tak dapat menolak kehendak tamunya itu& 25ni yonya :a+#si, istri :i Tiang-s$,. katanya pada abdinya, 2 yonya ini sedang melakukan kunjungan kehormatan pada kita& !ekarang beritahukan onamu agar bersiap#siap, kami hendak menemui dia&6 23h, tak usah bersiap#siap6 kata :a+#si terta+a& 2,iasabiasa sajalah&&&&6 =in !im mengangguk, terus ia mengundurkan diri&

:ebih dulu ia menghampiri Ciok Kong Can untuk menyampaikan pesan Teng#si, kemudian baru ia kembali pada nona majikannya untuk menyampaikan berita& 5a berjalan sangat cepat& 27ei, kau berlari#lari, ada apa46 tegur Eng Tay pada abdinya itu& 2Kabar baik apa yang kau ba+a46 2Kabar luar biasa, onI6 sahut abdi itu& 2Ketika, saya le+at di ruang tengah, yonya ,esar melihat saya& !e+aktu yonya :i mengetahui siapa saya, saya dipanggil kembali, terus yonya ,esar mengatakan bah+a tamu itu ingin bicara dengan ona& !aya diperintahkan memberi kabar agar ona bersiap#siap di sini& yonya ,esar beserta tamunya hendak menemui ona&6 Eng Tay heran, dia berpikir: 2!eorang tamu perempuan datang, lalu dia ingin bertemu denganku, mau apa dia46 Kemudian dia mengangguk dan berkata pada abdinya: 2Ku tunggu di loteng, jika tamunya datang, persilakan dia naik ke atas&6 !etelah berkata, gadis itu tersenyum dan terus naik ke loteng& =in !im mengangguk dia diam, tapi di dalam hati dia menerka#nerka: 2%estinya ona sudah dapat menduga maksud kedatangan tamu itu& Tunggu saja sebentar untuk mendengarkan bagaimana ona dan tamunya bersilat, lidahI6 :antas, abdi itu tetap di tempat, menantikan tamunya& 7anya seketika, terdengar suara langkah kaki, lalu Teng#si muncul, memandu :a+#si& Tamu itu kagum melihat keadaan ruang dalam ini, hingga ia memuji: 2Tak usah melihat orangnya, menyaksikan saja segala pohon bambu dan cemara beserta bayangannya, lantas sudah dapat diduga bah+a nona rumahnya bukan sembarang orangI6 Di dalam, terlihat kursi meja dan perabot rumah lainnya, semua teratur rapi dan serasi, sederhana tetapi menarik hati& :ain lagi meja tulis dan rak bukunya& =im !im tidak menanti sang tamu menyapanya, ia mendahului: 2 yonya, silakan menaiki tangga, ona kami berada di atas sedang membaca buku, tetapi tahu akan ada tamu, ia sudah menanti&6 2Oh, onamu menanti di loteng46 kata :a+#si agak heran& 2Kamar ini sudah luar biasa, masih ada loteng pulaI ,aik, mari kita naikI6 =im !im mendahului tamunya, tiba di atas, ia bersuara: 2 on, tamunya sudah sampaiI6 :a+#si mengikuti naik, tiba di atas, kembali ia menjadi kagum& Di tembok tergantung sekeping papan bertuliskan tiga huru; D:@e Sim %a@, artinya, F:oteng %enemui 7atiD atau F7ati ,ertemuD& %emandang ke luar jendela, tampak taman mungil serta pohon yang-li$ yang seakan#akan menaungi loteng itu& !uasana tenang tetapi menarik hati& *ak buku itu ada dua buah, berisikan buku#buku dan gulungan#gulungan gambar serta kaligra;i yang besarbesar dan indah& Di situ terdapat juga alat musik yang dinamakan kim, sejenis kecapi& Aa, segala sesuatunya lengkap sebagai kamar seorang pelajar& Tanaman bunga

dalam pot menambah kesemarakan loteng itu& :a+#si kagum karena ia juga mengerti sedikit ilmu budaya& 23h, aku harus berhati#hati&&&&6 kata yonya :i Au !eng dalam hati& !ementara itu Eng Tay telah muncul di ambang pintu, karena ia telah mendengar suara =im !im tadi& !egera ia menyambut tamunya sambil memberi hormat, pertanda selamat datang& !egera juga :a+#si melihat seorang nona dengan rias rambut Poan-liong-ki, gelung 2 aga %elingkar6 yang berparas sangat ayu, hidungnya bangir, +ajahnya bagaikan selalu tersenyum& Kedua belah pipinya berlesung pipit pulaI Tamu ini membalas hormat seraya tersenyum manis dan berkata: 2Telah lama aku mendengar bah+a ona berilmu budaya yang sangat tinggi, aku kha+atir selamanya aku tak akan dapat menemui ona, siapa nyana hari ini aku sangat beruntung, bisa bertemu mukaI6 2Tetapi saya hanya belajar beberapa tahun saja,6 kata Eng Tay, 2semua itu belum ada artinya& !ilakan dudukI6 Tamu itu duduk, maka duduklah mereka berdua berhadap#hadapan& Teng#si lantas berkata pada putrinya: 23ku hendak bicara dengan papamu, maka ku tinggalkan yonya :i di sini, kau layani dia baik#baik, ak&6 2,aik, %a,6 sahut putrinya& !ang ibu lalu memohon diri dari tamunya, terus ia mengundurkan diri& :a+#si masih melihat#lihat sekitarnya, ia tertarik dengan rak buku& %aka ia bertanya: 2!emua buku itu pasti sudah ona ,esar baca& !ebenarnya, buku apa saja di rak itu46 2 ah, nah, rupanya kau hendak mengujikuI6 kata Eng Tay dalam hati& 2Tapi, aku tak peduliI 3ku hendak lihat lagakmu&&&I6 %aka ia lantas menja+ab: 25tu buku#buku sejarah karya pujangga !uma Cien dan beberapa buku yang lain&6 2!eluruh buku ini adalah modal kaum cendekia+an, harus dibaca,6 kata si tamu& 2!ayang sekali aku sekolah tidak lama? mengenai sejarah, sedikit sekali yang ku ketahui, maka buku#buku itu belum pernah ku baca habis seluruhnya& ona, bukumu begini banyak kau hebat sekali& Karena itu, ku kira, mengenai pekerjaan +anita, kau tak perlu turun tangan, bukan46 Kata terakhir itu bersayap& 3rtinya, 2Kau tentu tak becus masuk dapurI6 Eng Tay mengerti, maka ia berkata dalam hati: 2Kau mau main#main, ya4I6 Terus saja ia tersenyum dan berkata: 2"ekerjaan +anita, jahit#menjahit, sulam#menyulam, itu sudah ke+ajiban anak perempuan dan kebanyakan telah saya lakukan +alaupun sedikit kasar& Tidak apa, bukan4 Dalam hal ini, "apa dan %ama tidak begitu mempersoalkan& Tapi inilah bukti bah+a pekerjaan +anita, saya dapat melakukannya&6 2Oh, kalau begitu, pekerjaan di dapur pun termasuk di dalamnya&&&&6 Eng Tay kembali dapat menerka maksud kata#kata itu,

ia mengangkat +ajahnya dan terta+a& %aka berkatalah ia: 2,ibi :i tentu punya anak perempuan, maka kalau nanti ,ibi pulang, tolong tanyakan saja padanya, pasti ,ibi akan memperoleh ja+abannya&&&&6 :a+#si terdesak, namun ia terta+a& 5a tidak bertanya lagi& =adis itu tidak mau terlalu menyudutkan tamunya, maka ia tersenyum saja& :a+#si melihat kecapi, ia tertarik& 2 ona tentu suka bermain musik,6 katanya& 5a menunjuk ke arah kim/ 2Aa, pada empat atau lima tahun yang lampau, pernah saya pelajari,6 ja+ab Eng Tay, 2tetapi sekarang ini, saya telah meninggalkannya&6 :a+#si masih berpikir untuk menanyakan lagi sesuatu, namun ketika melihat munculnya Kiok <i, si abdi itu segera berkata padanya: 2!ekarang ini yonya ,esar sedang menantikan di ruang tamu, kalau pembicaraan di sini sudah selesai, yonya :i dipersilakan menemuinya&6 Tamu itu belum sempat menja+ab, Eng Tay sudah mendahului bangkit berdiri, siap sedia mengantarkan tamunya pergi& %enyaksikan gerak#gerik gadis itu, :a+#si mengerti, maka ia berpamitan sambil berjanji bah+a lain +aktu ia akan datang lagi untuk 2memohon pengajaran&6 2%emberi pelajaran, itu saya tidak sanggup,6 kata Eng Tay, terta+a& 2,olehlah bila saya mengundang ,ibi untuk datang berbincang#bincang&6 :a+#si mengangguk, terus ia turun dari loteng dan menuju ruang tamu& ,egitu melihat sang nyonya rumah, lantas saja ia memberikan pujian: 2!ungguh hebat, gadis luar biasaI !ayang anak#anakku semua sudah keluar pintu, jika tidak, gadis yang demikian cantik dan pandai, siapakah yang tidak menyukainya4 !ungguh tepat bila dia dipasangkan dengan Tuan %uda %aI yonya tentu telah bicara dengan Tuan Ciok& 3pa katanya46 2 askah itu telah dibaca,6 sahut nyonya rumah, 2katanya boleh juga& 7anya&&&&6 2%emang, kalau dibandingkan dengan putrimu, tentu beda,6 kata si tamu& 2!ekarang ini Tuan %uda %a ada di rumahku, dia ditemani oleh suamiku& %aka, andaikata yonya mau menemuinya, silakan datang saja ke rumahku&6 2Kalau bisa, itu lebih baik lagi,6 kata Teng#si& 2<ika demikian, datanglah ke rumahI 2 kata :a+#si pula& 27endaknya yonya datang beserta Tuan agar bersamasama dapat menemui Tuan %uda %aI6 Teng#si puas dengan sikap tamunya itu, ia pun berjanji bah+a lain hari ia akan berkunjung& !etelah itu, ia mengundang sang tamu bersantap tengah hari& !elesai perjamuan, pulanglah si tamu& ,enar saja, keesokan pagi Teng#si bersama Ciok Kong Can pergi berkunjung& yonya itu tampak senang sekali& Di rumah, para pega+ai lantas ramai membicarakan kepergian kedua majikan mereka& =in !im si pencari berita segera saja menemui

majikannya untuk menyampaikan kabar& Katanya: 2 on, Tuan ,esar bersama yonya ,esar telah pergi ke rumah keluarga :i, katanya ada soal baru, yaitu ingin menemui calon menantu laki#laki&&&&6 Eng Tay yang biasa berada di loteng, ketika itu sedang membaca buku& %endengar berita si abdi, ia meletakkan bukunya, terus ia berkata padanya: 2Tentang hal itu aku sudah tahu, tetapi ku anggap tiada artinya& !ejak kedatangan ,ibi :i kemarin, aku telah dapat menduga maksudnya, hanya dia tidak berani bicara terus#terang padaku& %engenai kepergian 3yah dan 5bu, aku juga maklum& Tetapi ini bukan soal yang dapat diselesaikan dalam tempo dua#tiga hari, maka itu sebaiknya kita jangan bingung tidak keruan& 7anya anehnya, tentang janji yang ku berikan pada Tuan %uda io H harinya akan segera tiba, mengapa dia masih belum muncul juga4 5ni membuatku prihatin&6 2Aa, seharusnya ia sudah sampai,6 kata =in !im& 2%enurut perhitungan saya, setelah kita berangkat, lima atau enam hari kemudian, ia pun seharusnya sudah berangkat juga& !ekiranya dia memerlukan perjalanan lima#enam hari dan di rumah tiga#empat hari, sekarang seharusnyalah sudah tiba&&&&6 Eng Tay duduk sambil bertopang dagu& 5a diam saja, agaknya ia sedang termenung& 2!udahlah, on, tak usahlah terlalu dipikirkan,6 kata =in !im kemudian& 2!aya hendak ke luar mencari berita&6 Eng Tay diam terus, ia membiarkan abdinya berlalu& Ketika =in !im kembali, ia tidak memba+a berita penting& 5a tahu kedua majikannya sudah pulang, tetapi tidak tahu hasil kepergian mereka ke rumah keluarga :i& Aang jelas para pega+ai lainnya menunjukkan +ajah gembira& Ketika Eng Tay menerima laporan abdinya itu, ia berkata: 2Kalau "apa dan %ama tidak menjelaskan apaapa, jelas ada sesuatu yang tidak +ajar& Tetapi biarlah, tak perlu dicari tahu&6 =in !im sebaliknya masih saja berpikir& 5a merasakan adanya kejanggalan& 2%engapa paras semua orang tampak girang46 tanyanya, seakan#akan pada dirinya sendiri& 2!udahlah, tak usah menduga#duga,6 kata Eng Tay& 2Kalau benar ada berita penting, pastilah "apa memberitahu aku&6 %endengar suara majikannya itu, =in !im barulah diam& Di luar dugaan, setelah le+at lima hari, Ciok Kong Can memberitahukan bah+a dia sudah menerima baik lamaran keluarga %a, yaitu: Ciok Eng Tay dipertunangkan dengan %a ,un Cay, putra %a Thay-si$ dan bah+a emas ka+in akan segera diantarI %aka, tak ada +aktu lagi untuk menentang keputusan itu&&&&

%, Ayah Kontra Anak

!J3TJ hari di a+al bulan, langit jernih sejak ;ajar& Tatkala Ciok Kong Can melihat matahari muncul dan angkasa di u;uk timur mulai terang#benderang, ia memerintahkan para pega+ai di rumahnya untuk, berbenah, membersihkan segala perabot rumah tangga& Eng Tay mengetahui persiapan pembersihan di rumahnya itu, ia mengira akan diadakan upacara, entah upacara sembahyang apa& 5a tidak mengacuhkan hal itu dalam pikirannya& Tiba saatnya sarapan, Kiok <i menerima perintah majikan tuannya& Ciok Kong Can berkata : 2,eritahu ona Eng Tay bah+a "apa dan %ama sedang menantikannya& 5a diharap lekas datang karena ada urusan penting yang hendak dibicarakan dengannya&6 Kiok <i menuruti perintah itu& Cepat ia pergi ke dalam, ke halaman belakang& Di sana ia memperdengarkan suaranya: 23pakah ona sudah bangun tidur4 on, Tuan ,esar dan yonya ,esar sedang menanti di ruang dalamI6 !esudah berkata demikian, abdi ini terus masuk ke kamar majikannya& Ketika itu Eng Tay sedang duduk di sisi jendela, matanya memandang jauh ke luar& Kala itu, hujan turun rintik#rintik& 5a sedang termenung& !uara Kiok <i membuatnya tersadar dari lamunannya, sehingga ia juga menegaskan: 23pa4 "apa memanggilku46 2,enar, on&6 23pakah ada upacara sembahyang4 3pakah aku harus tukar pakaian46 tanya gadis itu& 5a merasa heran& 2Entahlah, on,6 ujar Kiok <i menjelaskan& 2Tidak ada upacara apa#apa& Tuan ,esar hanya mengatakan bah+a ona sedang ditunggu&6 2,aiklahI6 kata gadis itu, yang terus berpikir: 2%asa bodoh ada urusan apa pun, aku keluar begini saja, tak usah tukar pakaianI6 Dan ia terus berjalan, mengikuti si abdi& *uang tengah tampak bersih dan rapi, meja abu leluhur dilengkapi buah#buahan untuk sembahyang& Di kiri#kanan terdapat meja panjang, meja itu kosong, tanpa isi& Di kiri dan kanannya kursi#kursi tampak teratur& Tuan dan nyonya rumah sedang duduk bersebelahan& 2"apa, %amaI6 kata Eng Tay segera memanggil& Ciok Kong Can memandang putrinya& 2!elamat, 3nakkuI6 katanya& 2!elamatI6 "utrinya heran& 2,ukankah hari ini adalah hari sembahyang leluhur46 tanyanya& 23da selamatan apakah46 Kong Can mengusap janggutnya& 2!embahyang ini ada hubungannya dengan selamatan untukmu, ak,6 ja+abnya& 25nilah soalnya, akan ku beritahukan padamu&6 Eng Tay diam, ia menga+asi papanya sambil memasang telinga& Ciok Kong Can tanpa ayal lagi lantas memberikan keterangannya& 2,eberapa hari yang lalu,6 demikian ia mulai, +Tiang-s$ :i Au !eng bersama #i-s$ Tian :eng ,o+ telah datang ke

rumah kita& %ereka ternyata sama#sama menjadi perantara %a Thay-si$ untuk mengajukan lamaran bagi anak sulungnya yang bernama %a ,un Cay& "apa lihat kedua keluarga itu sederajat, "apa setuju sekali& Tetapi "apa belum pernah melihat Tuan %uda %a itu, maka "apa janjikan, setelah berkesempatan melihatnya, barulah keputusan akan diambil&6 2:e+at beberapa hari& yonya :i Au !eng telah datang berkunjung ke rumah kita ini,6 sambung sang ayah, setelah berhenti sejenak& 25a memberitahukan bah+a Tuan %uda %a sudah berada di rumahnya dan karenanya setiap saat kita bisa datang melihat dan menemuinya& yonya :i juga memba+a karya tulis pemuda itu& !etelah membacanya, "apa anggap karyanya bagus& %aka "apa menyatakan pada yonya :i bah+a "apa akan datang menengok Tuan %uda %a&6 Kembali ayahnya berhenti bicara sejenak, tetapi segera ia meneruskan keterangannya, 2Kami melihat pemuda itu,6 ujar ayahnya, melanjutkan& 2%enurut "apa, pemuda itu berparas cakap dan dandanannya rapi& ,uat seorang anak lelaki, asal dia rajin belajar, sudah cukup, kelak dia dapat membangun diri& :ainnya adalah soal nanti& Demikianlah, "apa telah menerima baik lamaran keluarga %a itu& 7ari ini pihak sana akan menyampaikan emas ka+in, maka dari itu sekarang "apa menyiapkan sembahyang bagi leluhur kita untuk merestui pernikahan ini& Eng Tay, kau telah menjadi anggota, keluarga %a& Keluarga %a itu berpangkat Thaysi$, itu sudah cukup&&&&6 Eng Tay berdiri di sisi ayahnya& %endengar keterangan ayahnya itu, ia terkesima& 5a berdiri terpaku, tubuhnya seakan#akan tertikam beberapa golok tajam& Cajahnya, dari merah menjadi pucat pasi& Calaupun demikian, ia berhati keras dan kuat& %aka juga, sebelum ayahnya selesai bicara, ia memotong& 2"a, ini adalah urusan hidupku seumur hidup, mengapa "apa tidak terlebih dulu memberitahu aku4 %a, %ama juga tahu tabiatku, mengapa %ama juga mendustaiku46 =adis yang biasa berbakti dan lemah#lembut itu, mendadak berubah tingkahnya, ia berani bicara sedemikian rupa pada ayah dan ibunya& Teng#si tercengang menga+asi putrinya& 3kan tetapi ia masih bisa membatasi diri& Katanya sabar: 2!ebenarnya %ama mau memberitahukan kau, ak, juga di saat sepulangnya %ama dan papa dari rumah keluarga :i& amun ketika :a+#si datang dan bicara denganmu, dia memujimu sebagai seorang anak yang baik& Katanya pula, meskipun Tuan %uda %a masih sekolah sekarang, dalam hal kepandaian dia mungkin tidak sama denganmu& %alah dia menerangkan juga tentang kau, 3nakku, mungkin kau tidak sudi atau tidak suka& 5a mengatakan agar lamaran diterima dulu, barulah kau diberitahu& Dengan demikian, tidak akan terjadi penolakan& %ama setuju +alau mulanya ragu#ragu& :agi pula, kalau keluarga %a ini kita tolak, di mana ada keluarga %a yang kedua seperti ini& Karena hanya soal beberapa hari, terpaksalah kami

membohongimu& Keluarga %a itu kaya#raya, harta+an pertama di kota ini& Kau tahu, calon mertuamu itu berpangkat Thay-si$, pangkatnya jauh lebih tinggi dari pangkat dulu& %aka itu %ama pikir, kau tentu setuju&&&&6 Eng Tay menjadi sangat bingung, terutama tak tahu alasan apa yang bisa ia ajukan untuk menyatakan penolakannya& 5a tak dapat membuka rahasia hatinya& 7ingga akhirnya, ia berkata: 2Jrusan jodoh ini, aku tidak setuju H seribu kali tidak setuju, selaksa kali tidak setujuI6 !etelah berkata demikian, Eng Tay berdiri tegak, kedua tangannya dan sepuluh jarinya terlipat menjadi satu, dan diletakkan di depan dadanya& 5a menga+asi ayahbundanya& Cajahnya Ciok Kong Can, ayahnya, mendadak berubah menjadi merah& 2Kau kira ini urusan apa sehingga kau tidak setuju46 katanya& 2Kenapa mesti menyebut#nyebut seribu dan selaksa kali tidak setuju4 ,ukankah cukup dengan mengatakan saja, satu kali tidak setuju4 %ari "apa tanya kau: 3pakah pangkat thay-si$ itu kecil4 Kekayaan keluarga %a, di sekitar sini, adalah yang paling tersohor, apakah itu masih kurang juga4 %engenali Tuan %uda %a, dia sekarang memang sedang sekolah& !iapa tahu kalau kemudian hari dia juga akan berpangkat, pangkat yang lebih tinggi dari ini4 3pakah kau tidak memikirkan hari kemudianmu H hari keberuntunganmu46 =adis itu terta+a terbahak#bahak tatkala mendengar papanya berulang kali menyebut#nyebut keluarga %a sebagai keluarga harta+an besar dan berpangkat tinggi& Tanpa terasa ia terta+a& Ciok Kong Can heran& Dia menatap putrinya itu& 2Kenapa kau terta+a46 tanyanya& 2Kau terta+akan siapa4 3pakah kau kira bohong46 23ku tidak mengatakan "apa dan %ama mendustaiku,6 kata gadis itu kemudian& 2"apa dan %ama memang sangat menyayangiku, akan tetapi sekarang ternyata, itu berlebihan& "a, %a, aku hendak bertanya: "apa dan %ama masih menyayangi aku atau tidak46 Teng#si, yang sedari tadi diam saja, mengangguk& 2!ayang tidak sayang, untuk apa kau tanyakan lagi46 katanya& 2"apa dan mama ini tidak punya anak lain lagiI "apa dan %ama, seumur hidup hanya punya kau seorang, dan untukmu&&&&6 Kong Can, sang ayah, turut berkata& 2Ketika tiga tahun yang lalu "apa i'inkan kamu menyamar sebagai lelaki sekolah ke 7ang#ciu, itu karena "apa menyayangimuI "apa sudah tua, kau berada jauh di lain kota, "apa senantiasa memikirkan kesehatanmu, sampai#sampai duduk dan tidur pun tidak tenang& Kau sekarang sudah ada di rumah, betapa girangnya "apa dan mama I6 2,aiklah, "a,6 kata gadis itu& 2!ekarang aku ingin bicara terus#terang& Dulu dalam perjalanan ke 7ang#ciu, di tengah jalan aku bertemu dengan io !an "ek, pemuda yang usianya lebih tua setahun dari aku& Dia terpelajar dan sopan#santun& Dia tahu aku adalah seorang gadis tetapi dia sedikit pun dia tidak berniat jahat, malahan

kami berdua sudah mengangkat sumpah menjadi saudara angkat& !elama tiga tahun, setelah mempelajari dirinya aku mengetahui si;atnya& !elama belajar, dia sangat banyak membantuku& Ketika aku pulang, dia mengantarku sampai sejauh delapan belas li/ Tatkala kami berpisah, kuberikan dia teka#teki, namun dia tak dapat menebaknya& Karena itu, aku percaya bah+a dia adalah orang jujur& Kemudian padanya ku beritahukan, bah+a aku mempunyai seorang saudara perempuan bernama Kiu %oy, yang belum menikah& 3ku ingin dia menikah dengan adik itu& Ku katakan bah+a Kiu %oy, segala#galanya, sama denganku& io !an "ek percaya perkataanku, dia girang sekali& "ada istri guru 7o#si, aku telah membuka rahasia dan padanya ku titipkan kupu#kupu kemala sebagai tanda mata dan sekalian minta ia menjadi perantara& 5a sangat setuju dan bersedia membantuku& Demikianlah duduk persoalannya& Ku kira, tidak lama lagi, io !an "ek akan datang ke mari& !ekarang, "apa dan %ama, aku mohon pertimbangan&&&&6 =adis itu bercerita panjang#lebar, ayah dan ibunya mendengarkan saja& !etelah putrinya itu selesai bicara, sang ayah berjingkrak& 2Kau gilaI6 teriaknya& 2Tiga tahun kau sekolah, kau perempuan tetapi kau tak tahu bah+a dirimu perempuan, sungguh kau sangat jujurI Dan, di saat berpisahan, seorang perempuan menyerahkan adiknyaI ,enar#benar gilaI 2Tidak, "a, aku tidak gilaI6 kata Eng Tay& 2:alu, bagaimana dengan Kiu %oy46 2Kiu %oy adalah Eng Tay&6 2Karena perbuatanmu ini, bagaimana sekarang dengan "apa dan mama46 tanya ayahnya& !aking gusarnya, tubuh orangtua ini gemetar& 5a berpegangan pada jendela& 2,ukankah sekarang aku telah minta i'in "apa dan %ama46 kata putrinya& 2Kamu meminta i'in "apa dan mama4 ,agusI6 kata ayahnya& 2,agus, tapi aku tidak mengi'inkan kamu menikah dengan io !an "ekI !atu kali tidak mengi'inkan, seribu kali juga tidakI6 ,eda dari biasanya, sebagai anak Eng Tay sangat penurut& 3kan tetapi kali ini, si;atnya berubah garang sekali& Tampak dia tidak takut sama sekali& 5a hendak bicara, tetapi ibunya segera maju mencegah& Teng#si melihat gelagat tidak baik, sambil memegangi tangan putrinya, ia berkata: 2 ak, kau tahu aturan atau tidak4 Kau sedang bicara dengan papamuI %engapa sikapmu begini keras46 23ku tidak bersikap keras, %a,6 kata putrinya& 2"apa bertanya, aku menja+ab& 3pa salahnya4 %emangnya tidak boleh46 2,ukan itu masalahnya,6 kata ibunya& 2%ama mau tanya kau& !ekarang tentang lamaran keluarga %aI ,agaimana kita harus menja+abnya4 Emas ka+in akan segera tiba, bagaimana kita menyambutnya4 ak, kau jangan bersikeras tidak keruan&&&&6

Eng Tay melepaskan diri dari pelukan ibunya& 25tu bukan masalahI6 katanya dengan keras& 2!uruh orang mencegat di tengah jalan, katakan bah+a keluarga Ciok tidak dapat menerimanya, suruh dia ba+a pulang&6 2Kau dengarI6 teriak Kong Can& Tangannya pun menuding anak gadisnya& 5a menambahkan: 2Kaudengar, apa kata anak iniI Dia sudah gilaI6 23ku tidak gila "a, sedikit pun tidakI6 kata Eng Tay& 2Aa, emas ka+in itu harus ditolak, dikirim pulangI6 23h, apa maksud perkataan anak ini46 kata Kong Can bingung& 5a terus menjatuhkan diri, duduk di kursinya& 2!udahlah, kau kembali dulu ke kamarmu,6 kata Tengsi& 2Di sini&&&&6 5a menolak tubuh putrinya, disuruhnya gadis itu mengundurkan diri& =adis itu tidak mempedulikan ibunya, malah ia berkata: 2Di sini ada banyak orang, biar kita bicara supaya semua pun tahuI 5ni lebih baik lagiI 3ku justru ingin supaya semua orang mendengar dengan jelasI6 Tubuh Kong Can bergetar, tangannya menunjuk ke atas, ke langit& 2TidakI TidakI6 serunya& Tetapi, ia tidak melanjutkannya& Ketika itu langit mendung, hujan pun, turun, angin menyusul& Teng#si menggapai& 2Kalian ke mari6 katanya, 2kalian ajak onamu ke kamar& Kalau ada yang mau dibicarakan, kita bicarakan lain kali saja&&&&6 Kata#kata majikan itu ditaati, maka para abdinya lantas membujuk Eng Tay& %elihat kepergian ibunya, Eng Tay berkata seorang diri: 23ku pun tidak mau bertengkar dengan %ama dan "apa, maka aku tidak sudi mengadu mulut lebih lama lagiI Tapi aku telah mengambil keputusan: 3ku lebih baik mati, aku tak mau menjadi anggota keluarga %a&&&I6 !elesai berkata demikian, gadis ini lantas berjalan seorang diri kembali ke kamarnya& =in !im sudah menanti di ba+ah tangga, ia menyambut nona majikannya itu dan terus menaiki tangga, masuk kamar& 2!ayang sekali tidak dari a+al kita memperoleh kabar&6 kata Eng Tay pada abdinya, 2sekarang, +alaupun, menolak, sudah terlambat&&&&6 !e+aktu berkata demikian, gadis ini berdiri bersandar pada pembaringannya, matanya memandang kosong menga+asi lantai& 2!udah terlambat, on, lalu ona hendak berbuat apa46 tanya =in !im& 2,ukankah telah ku katakan,6 katanya sengit, 2+alaupun harus mati, aku bukan anggota keluarga %aI "utusanku sudah pasti, itu tak akan berubahI6 2Kalau demikian, ona sebaiknya bersabar dulu,6 kata =in !im& 2Kita tunggu dua hari ini, sampai tibanya Tuan io& "ada saat itu, barulah kita pikirkan lagi&6 Eng Tay menghela napas&

23ndaikata pun Tuan %uda io datang hari ini, sudah terlambat katanya& 2Tetapi, on, sebaiknya kita bersabar,6 kata =in !im lagi& 2Kita tunggu saja tibanya Tuan io& !ekarang, aku hendak mencari berita&6 2!udahlah, tak usahI6 kata Eng Tay& 2Kita pasrah sajaI6 %engetahui sikap nona majikannya, =in !im diam& 5a mengundurkan diri& Di luar dan di depan rumah suasana ramai, tetapi Eng Tay menganggap seperti tidak ada apa#apa& 5a terus mengunci diri di dalam kamarnya& 7ari itu hujan turun, sebentar deras, sebentar berkurang& Di latar, di halaman, terdengar bunyi daundaun bambu dan cemara yang dipermainkan sang bayu& Tuan rumah, Ciok Kong Can, sudah selesai mengatur rumahnya& Tetapi selanjutnya, satu hari itu ia tak melihat putrinya& ,agaimanapun juga, ia menjadi gelisah& 3khirnya ia perintahkan untuk memanggil =in !im& 3bdi Eng Tay itu segera muncul& 23pakah onamu baik#baik saja46 tanya si tuan rumah pada abdinya& =in !im melihat majikan tua itu duduk di kursi batu dengan +ajah muram& 23gaknya ona kurang enak badan,6 sahut abdi ini& 2 ona terus tidur dengan menutup pintu kamarya&6 Kong Can diam, beberapa lama kemudian barulah ia mengangguk& Kemudian ia melambaikan tangannya& =in !im mengerti, ia mengundurkan diri& %ajikan itu diam terus, tetapi otaknya bekerja& %alam itu Eng Tay tidak bersantap, tidak juga esok paginya& Kong Can mengetahui hal itu, tetapi ia tidak berkata apa#apa& Tidak demikian dengan Teng#si, si ibu kandung& !ang ibu segera pergi melihat putrinya& Eng Tay sedang duduk di bangku, sebelah tangannya ditegakkan di atas meja, sedang bertopang dagu& Di atas meja ada sejilid buku tetapi buku itu tidak disentuhnya& 5a duduk, tak bergeming +alau Teng#si, ibunya, telah melangkah di ambang pintu dan dia berdiri menga+asi putrinya& 2Eng Tay,6 akhirnya ibunya berkata, 2apakah kau sakit4 %ama berdiri sekian lama, kau masih tidak tahu&&&I6 %endengar suara ibunya, Eng Tay menoleh& 2Oh, %amaI6 katanya&,6!ilahkan dudukI6 2!udah dua kali kau tidak makan, tidak seharusnya begitu,6 kata ibunya, yang sangat menyayangi putrinya& 2Caktu makan, makanlah, kalau ada yang ingin dibicarakan, bicaralah& 5tu baru caranya gadis remaja&6 =adis itu berdiri di tepi meja, ia tersenyum& 2Aa, ada nasi, makan? ada kata#kata, bicara,6 katanya& 25tu memang paling benarI 3kan tetapi, ada nasi tak dapat dimakan, ada kata#kata tak dapat diucapkan, itu juga caranya gadis yang de+asa&&&&6 2Kau bilang kau punya kata#kata tetapi tidak dapat diucapkan46 kata ibunya& 25tu tidaklah tepat& !uaramu nyaring, di dalam dan di luar, semua orang mendengarnya&&&&6

2!eandainya semua orang mendengar, apalah artinya bagiku46 tanya putrinya& 25ni&&&& ah, sudahlahI6 kata ibunya yang tampak ke+alahan& 2 ak, kau harus bisa menenangkan hatimu& Kau harus makan +alaupun sedikit& Kemudian&&&&6 2Kemudian46 tanya putrinya& 5a mendesak& 2!udahlahI6 kata Teng#si terta+a& 23pa yang bisa menyenangkan hati, hayo, mari kita bicarakanI6 2Dua kali %ama menyebutkan, kita tak perlu bicarakan masalah,6 kata Eng Tay& 2%emang benar, kecuali masalah itu tidak ada lagi yang patut dibicarakan& !ebenarnya mudah saja untuk menenangkan kegelisahanku& 3ku jangan dipandang sebagai orang hukumanI 7anya dengan demikian barulah hatiku tenang& %a, kita sudah cukup bicara, silakan %ama keluar dari kamarku ini&6 Teng#si terperanjat& 2Oh, 3nakku,6 katanya, hatinya tersentak, 2jadi kau tidak menginginkan lagi "apa dan %ama46 23ku tidak bermaksud demikian,6 kata Eng Tay& 23ku hanya mohon agar %ama sudi keluar dari kamarku ini&&&&6 Teng#si berdiri, agaknya dia hendak berjalan pergi, tetapi tiba#tiba ia tidak bergerak& 5a menghadap ke putrinya dan terus bertanya: 2 ak, %ama ingin menjelaskan& Ketika kemarin ini yonya :i datang memba+a naskah, telah melihat naskah itu dan katanya, karya itu bagus& askah itu telah diberikan kepada %ama untuk diteruskan kepadamu, supaya kau periksa dan kemudian utarakan pendapatmu& !aat itu %ama lihat kau agaknya kurang setuju, maka %ama belum serahkan padamu& askah itu masih ada padaku, %ama tak berani serahkan padamu&6 23pa yang ku katakan, demikianlah adanya,6 kata Eng Tay& 23ku bukan sanak atau kenalan pihak %a, bukan juga sahabat sejati, maka dari itu, buat apa aku membaca tulisan orang46 Teng#si menga+asi putrinya, ia mengerti gadis itu masih saja mendongkol& 5a menghela napas& Tak kurang herannya si ibu, anak gadisnya yang lemah#lembut, yang biasanya penurut, sekarang menjadi demikian keras sikapnya& 3khirnya Teng#si berkata: 2,aiklahI Kau tahu, %ama pernah memberitahukan bah+a kau, 3nakku, bersi;at seperti lelaki, dan menasehatkan agar dalam urusan pernikahanmu nanti, agar berhati#hati& !ejak kau kembali dari 7ang#ciu, gerak#gerikmu berubah mirip laki#laki& Karenanya, dalam urusan jodohmu, %ama menjadi lebih prihatin& !ekarang muncul lamaran keluarga %a& %ama melihat keluarga itu keluarga berpangkat, lagi pula kayaraya, maka %ama pikir, keluarga semacam itu pantas menjalin hubungan keluarga dengan kita& Tuan %uda %a juga tidak bercela& !iapa sangka selama kau di 7ang#ciu, kau telah berkenalan dengan io !an "ek, bahkan dengan caramu sendiri kau telah jodohkan dia dengan Kiu %oy& 3h, sungguh sulit&&&&6 =in !im berada di tepi jendela mendengar suara majikan tuanya itu, ia ikut bicara& Katanya: 2Keluarga %a

itu datang belakangan, bukankah mudah untuk membatalkan urusan lamarannya46 27ei, kau mengerti apa46 tegur sang majikan& 2:amaran keluarga %a itu sudah tidak bisa dibatalkan lagiI6 Eng Tay mendengarkan kata#kata ibunya, juga dampratan si ibu pada =in !im& 5a tidak menanggapi, tetapi ia berkata pada ibunya: 2%a, silakan %ama kembali& Tak usah %ama bicarakan lagi urusan iniI6 Teng#si kembali memandang putrinya, sukar rasanya untuk bicara lagi, maka ia kembali menghela napas panjang, lantas berjalan pergi, terus ke depan& Tetapi di ruang tengah ia berhenti& 2=in !imI6 ujarnya memanggil& !ang abdi segera muncul& 2Aa, yonya ,esar, ada apa46 tanyanya& 2 onamu sedang dongkol, kau layani dia baik#baik,6 kata Teng#si& 23pa yang onamu kehendaki, segera kausediakan& !ebentar tengah hari, se+aktu makan siang, kau sediakan segala hal yang diinginkannya, apa pun juga&6 =in !im mengangguk& 2,aik, yonya&6 katanya& Teng#si lantas berjalan terus, perlahan#lahan& 7ari itu cuacanya terang sekali& %atahari bertengger di tengah#tengah langit& Daun#daun pohon bambu dan cemara, semua terbayang di permukaan bumi& Di ba+ah pepohonan, nyaman rasanya& !eorang diri Eng Tay berjalan perlahan#lahan di ba+ah keteduhan pepohonan itu& 7anya pohon#pohon bambu halus yang selalu menghadangnya& Di belakangnya, tampak =in !im mengikuti dari belakang& %enghadapi abdinya itu, gadis itu berkata: 2"ohonpohon bambu ini berdiri tegak lurus& Calau kau telah menebangnya, mereka tetap saja lurus& Karenanya aku sangat menyukai pohon bambu& Demikian pula manusia: %anusia harus lurus seperti pohon bambu, dengan demikian, manusia pun tidak akan menjadi keroposI Kau mengerti atau tidak46 =in !im menja+ab: 2!etelah ona mengucapkannya sekarang, aku baru maklum&6 2Orang yang bermarga %a itu tidak bersalah padaku,6 kata Eng Tay lagi kemudian& 2Dia boleh turunan bangsa+an dia boleh berpangkat besar, dia boleh berhartaI Tetapi aku, aku tidak menghiraukan itu semuaI Kalau kini keluargaku menjadi kacau#balau itu hanya disebabkan ulahku sendiriI Aa, akulah penyebabnyaI 5ngat =in !im, mulai hari ini ku larang kamu menyebut#nyebut nama keluarga %a& Calau sepatah kata punI 5tu pertanda bah+a aku tidak jodoh dengan merekaI6 =in !im memaklumi amarah majikannya itu& 2,aik onI6 sahutnya sambil mengangguk& !ejak hari itu, Eng Tay menutup pintu halaman belakang rumahnya& 5a tetap berada di belakang& !etiap hari ia hanya berka+an dengan pohon#pohon cemara dan bambunya itu& Dengan demikian, lambat#laun ia merasa agak

tenang&&&&

%/ Pertemuan di (oteng
TE*5K A3 matahari siang di a+al musim panas itu sangat menyengat para musa;ir& <ustru saat itulah, setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, io !an "ek dan !u Kiu tiba di dusun Ciok, kampung halaman keluarga Ciok& Dari jauh sudah tampak rumpun pohon bambu yang seakan#akan mengurung sebuah rumah besar berloteng tinggi& !egera majikan dan abdinya itu tiba di depan rumah dan !an "ek menyuruh !u Kiu mengetuk pintu& 2%encari siapa46 tanya seorang tua, yang muncul di ambang pintu& 2Kami dari 7+e#ke, hendak menemui Tuan ,esar Ciok Kong Can,6 ujar !u Kiu memberitahu& 2Kalian datang tak pada +aktunya,6 kata orang tua itu, 2Tuan ,esar kami sedang bepergian sejak kemarin&6 !an "ek menghampiri orang tua itu& 2Kalau Tuan %uda Ciok Eng Tay ada di rumah, aku ingin bertemu dengannya,6 katanya& %endengar itu, si orang tua tercengang& 2Di sini tidak ada Tuan %uda Ciok,6 katanya heran& 25tu&&&& Tuan %uda yang dulu sekolah di 7ang#ciu,6 ujar !an "ek menjelaskan& 5a pun heran dan, tidak menyadari kekeliruannya& 23ku io !an "ek, dulu selama tiga tahun sekolah bersama Tuan %uda& Tak mungkin dia tak ada di sini&&&&6 Orang tua itu tertegun, dia menatap si anak muda di hadapannya& 2Oh, Tuan io46 katanya kemudian& 2 yonya ,esar ada di dalam, tunggu sebentar#saya memberitahukannya&6 2Kalau yonya Ciok ada di rumah, kebetulan, aku pun hendak menjumpainya,6 kata !an "ek& 5a ingat, si nyonya besar yang dimaksud adalah ibu Eng Tay& !i orang tua mencari majikannya yang sedang berada di taman& 5a memberitahu kedatangan tamu bermarga io yang ingin menjumpai tuan besar, nona Eng Tay, dan juga sang nyonya& Teng#si terperanjat& 2 io !an "ek datang46 tanyanya menegaskan& 23pakah dia seorang diri46 25a datang bersama seorang abdinya&6 yonya rumah berpikir sejenak& 2Dia datang dari tempat yang jauh, sudah seharusnya diterima,6 katanya kemudian& 2Kau ajak dia ke ruang tamu&6 "ega+ai tua itu menurut, tetapi lebih dulu ia pergi ke kamar nona majikannya& Di dalam hati ia berkata& 2 ona sangat baik padaku, teman sekolahnya datang, mau tidak mau aku mesti memberitahukannya&&&&6 Demikianlah, sampai di :oteng 7ati ,ertemu, ia memanggil: 2=in !imI6 2!iapa ya4 3da berita apa46 tanya =in !im, yang muncul di jendela&

23da kabar pentingI6 2Kabar penting apa46 23da tamu berpakaian biru datang, ia bermarga io&6 2Oh, dia datang&&I6 seru =in !im tertahan& 2Tunggu&&&I6 3bdi ini pun berlari turun& 2Dia menyebut dirinya io !an "ek46 tanyanya setelah menghampiri si pega+ai tua& 2,enar, karena Tuan ,esar tidak ada di rumah, ia minta bertemu dengan yonya ,esar& yonya ,esar mengi'inkan dia masuk&6 =in !im mengangguk pada pega+ai tua itu& 2Terima kasih, "amanI6 2:ekas beritahu onaI Dan ada kacungnya, dia itu mau bertemu dengan kau, =in !imI6 =in !im terta+a& 2,aiklah, aku hendak menyambut tamu dulu&&&&6 dan si abdi tua berlari ke luar, sedangkan =in !im masuk& 2,agusI ,agusI6 katanya sambil berjalan cepat& Ketika itu Eng Tay sedang hendak naik ke lotengnya& %endengar suara =in !im, ia berhenti, bahkan langsung bertanya: 23da apa, bagus#bagus46 !ang abdi berdiri di depan nonanya, dia terta+a& 2Tadi penjaga pintu mengabarkan, Tuan io datang,6 ja+abnya& 2Dia sekarang sedang mengundangnya masuk&6 Eng Tay diam, ia menunduk& 2 on, bagaimana sekarang46 tanya =in !im& 5a tak bergurau lagi& 2<angan#jangan %ama melarangku menemuinya& 3ku&&&&6 2Aa, habis bagaimana46 desak =in !im& 2,aiklah, mari kita ke ruang tamu& ,iar ibuku tahu bah+a aku sudah tahu& %ama mau mempertemukan kami atau tidak, masa bodoh, aku tetap akan menemuinya jugaI6 =in !im mengangguk& %aka mereka pergi berdua ke ruang tamu& Ketika itu !an "ek sudah berada di ruang tamu, !u Kiu mengikutinya& 2,ibi, terimalah hormat dari keponakan ,ibiI6 kata !an "ek selekasnya begitu ia melihat seorang nyonya sedang menantikannya& 5a memberi hormat karena percaya bah+a nyonya itu pasti ibu Eng Tay& Teng#si menyambut& 2Tak perlu menjalankan adat penghormatan,6 katanya& 2!etelah melakukan perjalanan jauh, tentunya kau lelah&6 !an "ek tetap memberi hormat dengan menjura sebanyak empat kali, lalu disuruhnya !u Kiu memberi hormat juga& 5a tidak berani duduk +alau nyonya rumah telah mempersilakannya& :antas ia bertanya, mengapa tuan rumah, tidak ada di rumah& 25a sedang menemui sahabatnya,6 ujar Teng#si menerangkan& 2%ungkin dua hari lagi, baru pulang&6 !an "ek menoleh ke sekitarnya& 23dik Eng Tay tentu ada di rumah,6 katanya, 2saya mohon bertemu dengannya&6 Teng#si menga+asi anak muda di depannya itu, baru saja ia mau menja+ab 2Eng Tay tak ada di rumah,6

muncullah =in !im& 5a terperanjat& ,ahkan segera pelayan gadisnya itu menghampiri si anak muda tamunya itu, dan menyapa: 2Tuan io, apa kabar46 !an "ek menoleh, ia terkejut& 5a melihat seorang pelayan muda berkundai sepasang bajunya hijau, +ajahnya lonjong& 3bdi Eng Tay kiranya telah berganti +ajahI 2=in !imI6 seru !an "ek kemudian yang telah mengenali gadis remaja itu& !u Kiu berdiri di sisi majikannya, ia pun heran sekali, hingga ia melotot menga+asi sahabatnya itu& 2Kakak !u Kiu, kau baik#baik saja46 tanya =in !im mendahului menegur sambil terta+a manis& Dia tak malumalu lagi +alau sekarang ia telah menjadi seorang perempuan&&&& 23h, kau adik =in !im46 kata !u Kiu sambil tetap menatap& =in !im mengangguk, ia tersenyum& %enyaksikan pemandangan di hadapannya itu, untuk sementara Teng#si tercengang, tetapi kemudian ia berkata: 2Eng Tay adalah putriku, pasti Keponakan sudah tahu& Tiga tahun kalian sekolah bersama, tentu sekali kalian mau bertemu muka& =in !im, mana onamu46 yonya ini terpaksa harus mengubah niatnya, ia tak dapat berdusta& ,elum sempat =in !im menja+ab nyonya majikannya itu, dari balik sekesel, muncullah Eng Tay sebagai seorang gadis nan ayu, bukan lagi seorang pemuda tampan& 5a memakai baju merah hingga kecantikannya bertambah& 5a berkundai F aga %elingkarD tetapi bedaknya tipis, sedang alisnya lancip dan menantang& 5a lantas menghampiri !an "ek dan memberi hormat sambil menjura dalam, ia pun tak canggung#canggung lagi& 2Kakak io, apa kabar46 sapanya, suaranya merdu& !i anak muda repot membalas hormat& 2Kau Eng Tay46 tanyanya& 2CahI6 2,enar,6 sahut gadis itu& 2"anggil saja aku Sio-moy////. C2 +:ian-moy, 0B kakakmu baik#baik, saja,6 ja+ab !an "ek& 2Kau pun baik#baik saja46 23ku, ya, baik,6 ja+ab gadis itu tetapi ia lantas merunduk& 2!u Kiu, ke siniI6 kata !an "ek pada abdinya& 25ni 6i siocia dari keluarga Ciok, ayo kau beri hormat kepadanyaI6 6i sio-cia ialah F ona yang keduaD& 3bdi itu segera menghampiri ia memberi hormat seraya menyapa: +6i siang-kongA. Eng Tay terta+a& 2Aa, sapaan ji siang-kong pun baikI6 katanya menggoda& !an "ek turut terta+a& !u Kiu kembali ke sisi majikannya, ia jengah sendiri& Teng#si puas melihat tamunya itu: muda dan tampan serta tahu sopan#santun& Dia pun terpelajar seperti anak gadisnya sendiri& Kata#kata si anak muda juga halus& Coba tidak ada Tuan %uda %a, pasti pilihannya jatuh pada pemuda ini& 5a juga memperhatikan suasana di hadapannya, ia merasa bah+a ia harus tahu diri maka

terpaksa ia berkata: 2Keponakan io, saya masih punya urusan, maa; saya tak dapat menemanimu lama#lama& Eng Tay, baik#baik saja kau layani Kakak iomu&&&&6 2,ibi, silakanI6 kata !an "ek& Teng#si mengangguk, terus ia berjalan, tetapi sambil berkata: 2Eng Tay, ke mari, %ama ingin bicara denganmuI6 Eng Tay menga+asi ibunya, lantas ia mengikuti& Dimintanya !an "ek untuk menanti sebentar& Terpisah agak jauh dari ruang tamu itu, Teng#si lantas berkata pada putrinya& 2!ebenarnya %ama hendak beritahukan bah+a kau sedang tak ada di rumah, tak disangka =in !im tiba#tiba muncul& Karenanya %ama
0@ !io#moy berarti perempuan& 0B 7ian#moy aninya 2adik perempuan yang bijaksana6&

duga, kau tentu sudah mengetahui tentang kedatangan !an "ek ini, hingga %ama tak dapat membohonginya& Terpaksa %ama mempertemukan dia denganmu& !ayang ayahmu tidak ada di rumah& <ika beliau berada di rumah, beliau girang sekali karena kalian berdua telah bertemu setelah berpisah sekian lama& !ekarang layani dia baikbaik, %ama akan menyuruh agar disediakan hidangan untuk kalian berdua&6 2Dulu kami adalah dua saudara angkat,6 kata Eng Tay, 2tetapi sekarang kami adalah kakak dan adik perempuan, +alau dari lain keluarga& ,ukankah aku boleh bicara lama dengannya46 2,oleh#boleh saja, tetapi kau harus ingat bah+a sekarang ini kau adalah anggota keluarga %a,6 kata ibunya, mengingatkan& 2Kau harus jaga agar urusan kau ini jangan sampai terdengar orang luar& ah, kalau sudah mengerti, pergilah kau temani diaI6 !ehabis berkata demikian ibunya berlalu dengan cepat& Eng Tay jadi sangat berduka& amun hanya sebentar, ia lantas memperlihatkan +ajah gembira& !aat itu !an "ek sedang mendengarkan !u Kiu dan =in !im yang sedang asyik berbicara& !i pemuda membiarkan keduanya bercakap#cakap, bahkan ia turut mendengarkan& 2Kakak io, mari ikut aku,6 ajak Eng Tay& 2Di sini bukan tempat untuk bicara& 3ku punya kamar baca di loteng, di sana kita dapat leluasa bicara&6 !an "ek mengangguk& 2,aik sekali,6 katanya& !ekarang tak lagi ia sungkan seperti semula& Eng Tay lantas berkata pada =in !im: 2=in !im, pergilah ke ba+ah loteng sana, kau temani !u Kiu istirahat&6 3bdi itu meng#iya#kan, lalu ia berkata pada sahabat lamanya itu: 2Kakak !u Kiu, ayo ikut akuI6 "elayan !an "ek mendekati majikannya, ia bertanya perlahan: 2,olehkah saya pergi ke sana46 2,oleh, asal kau hati#hatiI6 pesan sang majikan& %endengar demikian, abdi ini lantas mengikuti =in !im& 2Kakak io, mariI6 ujar Eng Tay mengajak sahabatnya& !an "ek berjalan mengikuti& %ereka melangkah perlahan sekali& !i anak muda puas menyaksikan keadaan sebelah dalam rumah gadis sahabatnya ini& !egala

sesuatunya tampak indah, sedap dipandang mata& Tiba di muka tangga loteng, ada sebuah papan bertuliskan tiga huru; besar& :@e Sim %a@ # 7ati ,ertemu&&&& !ampai di atas, mereka menghadapi sebuah meja panjang& Eng Tay lantas mengundang: 2Kakak io, silakan dudukI Di sini kita dapat bebas mengobrol&6 <uga di sini, sang tamu mengagumi segala sesuatu di sekitarnya& 5tulah bukti dari pera+atan yang teliti dan sempurna& !ungguh tepat untuk seorang sastra+anI 2!ungguh indah :@e Sim %a@ iniI6 akhirnya si pemuda memuji& 2%emang menyenangkan sekali bila berbincangbincang di sini&6 2Kakak hanya memuji,6 kata Eng Tay tersenyum& Kemudian ia bertanya: 2Kak, kau datang ke mari hanya untuk bercakap#cakap46 25tu hanya salah satu alasannya,6 ja+ab !an "ek& 2Aang terutama ialah aku hendak menyatakan hormat pada "aman dan ,ibi, kemudian barulah mengenai janjimu, Dik& Kau tahu, aku tak berani berlambat#lambat lagi& Aa, aku ingin menengok Kiu %oyI6 2Oh, Kiu %oy&&&&I6 2,enarI Terima kasih, 3dikku yang cerdik, yang telah menunangkan dia denganku& !ekarang aku datang dengan maksud untuk memastikan jodoh kita ituI6 Eng Tay tersenyum& 2Di sini, mana aku punya Kiu %oy46 katanya& 2Kiu %oy adalah Eng TayI6 !ambil berkata begitu, gadis ini mencabut bunga dari kundainya& !an "ek "un terta+a, malah dia bertepuk tangan& 25ni telah ku ketahui sejak a+alI6 katanya& 25nilah jodoh kitaI6 ,etapa berbunga#bunga hati si pemuda& %endadak saja Eng Tay bangkit berdiri& 2Kakak io&&&&6 katanya, perlahan, sekali bagaikan kehabisan tenaga& !i anak muda heran, dia menatap gadis di hadapannya ini 2Dik, ada apa46 tanyanya& 2Kenapa kau tampak raguragu4 3ku tak mengerti&&&&6 23h, Kakak ioI6 kata gadis itu lagi& 2Kak&&&6 Tiba#tiba Eng Tay mundur dua langkah, tampak pucat +ajahnya& !an "ek bingung& 23da urusan yang membuat kedatanganku terlambat dua hari,6 katanya& 2,ukankah keterlambatan itu tak menjadi masalah46 2Kedatangan Kakak tidak terlalu terlambat,6 kata Eng Tay, 2akan tetapi orang lain tak dapat menanti, dia telah mendahului&&&&6 !an "ek benar#benar heran, hingga dia pun bangkit berdiri& 2Orang lain tidak dapat menanti46 katanya& 23pakah artinya itu46 2!etelah adikmu pulang dari 7ang#ciu,6 kata Eng Tay, 2telah datang dua orang pembesar negeri& %ereka itu mengaku diri sebagai perantara jodoh& "apaku melihat yang datang itu bukan sembarang orang, ia tidak berdaya&

:alu "apa menerima lamaran itu, aku dijodohkan dengan keluarga %a&&&&6 !ehabis berkata demikian, tiba#tiba muka gadis itu berubah menjadi pucat#pasi, namun dengan kedua tangannya ia memegang rak buku kuat#kuat& <elas ia berusaha menjaga agar dirinya tidak roboh& 2Eh, kau mengapa46 tanya !an "ek kaget, +alau hatinya pun tergetar mendengar bah+a sang adik sudah ditunangkan dengan orang lain& Eng Tay tidak menja+ab, sebaliknya, ia mengeluh, menyusul kemudian, tubuhnya bergoyang sempoyongan seperti hendak jatuh, tetapi, ternyata ia masih dapat menguatkan hatinya& Tiba#tiba saja ia melangkah cepat, turun dari lotengnya itu& <ustru di saat itu =in !im sedang menaiki loteng sambil memba+a dua mangkuk teh, ia kaget sekali& 5a mendapatkan !an "ek sedang berpegangan pada rak buku, matanya memandang kosong ke ba+ah loteng& 5a sadar, ia maklum apa arti perubahan itu& 5a cepat#cepat meletakkan mangkuknya& !an "ek menoleh pada abdi itu, dia masih sempat berkata: 2,aru saja onamu menyebut tentang keluarga %a, +ajahnya lantas menjadi pucat#pasi& Tanpa berkata apa#apa, ia lari turun dari lotengI =in !im, kau tentu tahu sebabnya46 23h, sudahlah, jangan Tuan %uda tanyakan itu,6 sahut =in !im& 5a melihat +ajah si tuan muda pun pucat sekali& !an "ek dapat menguatkan hati, tetapi ia masih memegang ujung meja& Dengan mata sayu, ia memandang& =in !im, lalu ia berkata: 2!aat ini adalah saatnya mati dan hidup, mana boleh aku tidak bertanya46 =in !im tidak menja+ab, ia hanya mengambil mangkuk untuk diba+a turun dari loteng& 3kan tetapi !an "ek segera menghadang& %au tidak mau, terpaksa ia menja+ab juga& Katanya: 2 onaku telah diserahkan oleh Tuan ,esar kepada putra keluarga %a&&&&6 2Oh, %a ,un Cay46 kata !an "ek, separuh menjerit& :alu ia memegang keras#keras ujung meja& !aat itu, Eng Tay kembali& 2Kakak io, sekarang ini aku sudah tidak menguasai diriku lagi&&&&6 katanya perlahan, suaranya sangat lemah& 2,aiklah, Dik, aku mengerti,6 kata !an "ek& 25ni bukan lagi soalmu sendiri& 3ku tak dapat tinggal lebih lama lagi di sini, itu tidak baik& %aka, i'inkanlah aku pamit&&&&6 !ambil berkata begitu, anak muda ini lantas menjura kepada gadis itu& 2Kakak io, tunggu sebentar,6 kata, Eng Tay, yang berdiri di depan tangga, 2+alaupun kedatanganmu ini siasia belaka, tetapi mengingat persahabatan kita selama tiga tahun, hal itu tak dapat dile+atkan dengan cara begitu saja& 3ku telah menyiapkan hidangan sebagai balasan cintamu&&&&6 !an "ek menga+asi, ia mengangguk& 2,aiklah,6 katanya perlahan& 5a tak jadi pergi, bahkan ia duduk lagi&

Eng Tay benar#benar menyiapkan hidangan, semua itu diba+a oleh =in !im dari ba+ah loteng ke atas, lantas diatur di atas meja& %uda#mudi itu duduk berhadapan, untuk sesaat mereka membungkam& Kemudian, Eng Tay#lah yang lebih dulu memecah kesunyian& 2Kakak io, ingatkah kau akan %alam #it SekF 2demikian tanya gadis itu& 2Aa, tentang pembicaraan Thian 7o& 5ngatkah kau akan pembahasan tentang Daun 7ijau di hari Tiong ,angF. Dengan FDaun 7ijauD dimaksudkan perjamuan yang menggembirakan selama perayaan Tiong ,ang itu, suatu perayaan di 'aman dahulu& !an "ek menarik napas panjang& 2Aa, aku tahu itu,6 sahutnya& 27anya dulu itu, mana ku tahu bah+a kau adalah seorang +anita&&&&6 23pakah Kakak masih ingat saat aku sakit46 tanya Eng Tay lagi& !i anak muda mengangguk lesu& 2Tentu saja,6 sahutnya perlahan& 2Kakak io, kau benar#benar lelaki sejati& Kau tidur bersamaku di satu pembaringan, tetapi kau sama sekali tidak bermaksud untuk berbuat sesat& 3kan tetapi aku&&&&6 Tiba#tiba gadis itu berhenti bicara, sebaliknya, air matanya berlinang& 5a merunduk tetapi segera pula ia mengangkat +ajahnya, memandang pemuda di hadapannya, lalu memandang =in !im, abdinya, yang di saat itu muncul dengan memba+a hidangan yang baru matang, yang segera diatur di atas meja& Eng Tay bangkit berdiri, air matanya telah diusapnya& 2Kakak io, ayo, ku berikan kau tiga ca+an arak,6 katanya& =in !im yang cerdik pun turut berkata: 2Tuan %uda io, silakan minum& 5nilah tanda rasa hormat yang tulus dari ona saya&6 !an "ek kemudian berdiri, kepada =in !im dia mengangguk& !ang abdi segera mengundurkan diri, turun dari loteng& 2Kakak io, silakan duduk,6 kata Eng Tay menyilakan& 23ku tak usah duduk lagi,6 sahut si anak muda& 2!esudah minum, aku hendak segera pulang&6 Eng Tay mengangkat ca+an arak, lantas diletakkannya di depan si anak muda, kemudian ia mengangkat juga guci arak untuk menuangkan isinya& 5a hampir tidak kuat mengangkat dan menuangkan isinya& 2Kakak io, mari minum&&&&6 ujarnya mengajak, suaranya lemah& 2!emoga kau memperoleh kemajuan&&&I6 !an "ek menyambut ca+an itu, bahkan ia segera mengeringkan isinya& ,egitu meletakkan ca+an di atas meja, ia berkata: 23dikku, Kakakmu berangkat&&&I6 2Kakak io, jalan perlahan#lahan,6 kata Eng Tay& 5a melangkah di depan si anak muda& 2<alan perlahan#lahan,6 kata si anak muda& 2Oh, adikku masih mau berjalan bersama#sama4 ,aiklah&&&&6 2Tidak, aku tak dapat pergi bersamamu,6 ja+ab Eng Tay& 2!ekeliling kampung ini berada dalam kekuasaan

"apa& ,egitu ada perintah tangkap, nanti Kakak tak dapat ke luar dari sini& ,elum lagi di sana, pengaruh keluarga %a besar sekali&6 2Kalau demikian, 3dikku hendak bicara apa lagi46 2Telah ku persembahkan kupu#kupu kemala, apa itu masih ada46 23h, aku lupaI 5ni, ada di sakuku& %emang harus ku kembalikan padamu&6 Eng Tay menggoyangkan tangannya& 2,ukan, bukan, bukan itu maksudkuI 3ku justru mau minta agar Kakak bersedia menyimpannya baik#baik&6 !an "ek merogoh sakunya& 2!udah menjadi keluarga %a, buat apa kemala ini46 23ku&&&& ku mohon, Kak, ku mohon Kakak sudi menyimpannya& ,iarlah itu menjadi tanda kenanganku bagimu&&&&6 23dikku, apa arti ucapanmu ini4 Kenapa 3dik ucapkan itu46 2Kak, selama kita di sekolah, aku telah banyak bicara ku harap kau mengerti, tetapi sayang sekali, kau malah sebaliknya& Kau sangat baik& !elama aku sakit, sekalipun saudaraku sendiri, tak mungkin dia bisa menjagaku sepertimu& %aka, sejak itu aku diam#diam telah mengambil keputusan, kecuali dengan Kakak, aku tak akan menikah? maka juga di saat perpisahan, telah ku serahkan barang yang paling ku sukai& !ayang sekali, masih saja Kakak tidak mengerti& Dan di perhentian Delapan ,elas %i, telah ku utarakan seluruh isi hatiku, tetapi Kak, masih saja Kakak tidak mengerti& Karenanya, aku sampai menyerahkan Kiu %oy, supaya kita menjadi satu&&&& !iapa sangka, hanya dalam +aktu satu bulan, perubahan besar telah terjadi&&&& Calaupun demikian, hatiku tidak berubahI6 ,erkata sampai di situ, merahlah +ajah gadis ini, tetapi segera berubah menjadi pucat lagi& 5a pun mesti berpegang erat#erat pada meja& !an "ek menga+asi, ia bingung sekali& 23dikku, aku terlalu lugu, terlalu bodoh hingga aku&&&&6 kata si anak muda& :alu tiba#tiba ia berhenti bicara, ia batuk#batuk, dan lekas#lekas merogoh sakunya untuk mengeluarkan sapu#tangan& Dengan itu, dengan kedua tangannya, ia menutup mulutnya& 5a pun tak dapat berdiri terus, lalu ia jatuh terduduk di kursinya, terus merunduk& %ulutnya masih ditutup dengan sapu#tangannya& ,eberapa kali ia batuk#batuk pula& Eng Tay tertegun, lalu ia terkejut sekali hingga berteriak: 2Eh, kenapa sapu#tanganmu merah4 3pakah kau muntah darah46 Ditanya begitu, !an "ek tidak bersuara, ia diam saja& Eng Tay menghampiri, tangannya diulur& 5a memegang sapu#tangan berdarahI Dengan sendirinya tangan itu gemetarI 23h, kau benar#benar batuk darah&&&I Oh, adikmu telah mencelakaimu&&&I6seru Eng Tay kemudian& 5a menjadi sangat bingung& !an "ek mencoba menenangkan diri&

2Tidak apa,6 katanya lemah& 2%endadak saja hatiku sakit dan muntah darah& !ebentar tentu sudah baik&&&6 Eng Tay meletakkan sapu#tangan itu di atas meja, lantas ia mengambil semangkuk kuah, terus diserahkan pada si anak muda& 2Kak, ayo minum,6 katanya& !an "ek menga+asi gadis itu& 2Terima kasihI6 katanya& 5a menerima mangkuk itu dan menghirup dua kali& Terus dikumurnya, air kumur itu dimuntahkannya pada sapu#tangannya& :alu ia bangun berdiri seraya berkata: 23ku tak boleh sakit di sini, aku mesti pulang sekarang&&&&6 Eng Tay meletakkan mangkuk sup itu dengan perlahan sekali, dan ia mengangguk& 2,aiklah, Kak,6 katanya kemudian& 23kan ku antar Kakak selintasan&&&&6 Di mulut gadis itu berkata demikian, tetapi airmatanya ternyata berlinang tak tertahankan& 5a tak mampu bicara lebih jauh& !an "ek menghela napas panjang& 2Dari jauh aku datang ke mari, semata#mata untuk menjengukmu, Dik,6 katanya kemudian, 2tetapi sekarang&&&&6 !ambil berkata demikian, si anak muda menuruni tangga loteng, jalannya sempoyongan& Eng Tay kha+atir ka+annya roboh, ia mengiringi tetapi tak berani ia memegangi& !ambil berjalan ia berkata: 2!etiap hari aku membaca buku, kapan saja aku mendengar suara langkah kaki, ku kira Kakak datang? sekarang, Kakak datang, tetapi Kakak justru muntah darah merah&&&6 2Tetapi tak apa, Dik& ,agiku cukup asal 3dik senantiasa mengingatku&&&&6 Ketika itu =in !im dan !u Kiu berada di ba+ah loteng& %elihat si anak muda berjalan turun, perlahan#lahan, dengan tubuh yang agak goyah hingga perlu didampingi Eng Tay, mereka terperanjat saking herannya& 2Tuan %udaI6 ujar mereka memanggil& %ereka pun cepat mendekati& 2=in !im, siapkan kudakuI6 kata Eng Tay pada pembantunya& 23ku hendak mengantarkan Tuan %udaI6 =in !im menyahut, terus ia berlari ke luar, untuk menyediakan kuda yang diminta& 2!udahlah, Dik, 3dik tak usah mengantarkan aku,6 kata !an "ek sambil memberi hormat pada Eng Tay& Eng Tay menga+asi pemuda itu, kedua matanya tergenang airmata& 5a membalas hormatnya& 2!etelah sampai di rumah, Kak, kau baik#baik mera+at dirimu,6 pesannya& 2Kalau nanti kau sudah sembuh, harap kau datang lagi menjengukku&&&&6 23sal aku tidak sakit, aku pasti akan datang lagi,6 sahut si anak muda& 2Tetapi, kalau sakitku bertambah parah, aku kha+atir tidak berumur panjang, mungkin aku tidak akan sanggup datang lagi&6 Ketika itu, mereka sudah turun dari loteng& Kala itu, matahari sudah doyong ke barat&

2<angan kau ucapkan kata#katamu itu, Kak,6 kata Eng Tay perlahan& 23kan tetapi, jika toh terjadi hal yang tidak baik, kau ingat dusun O+#kio#tin di tepi sungai Aong#kang bukan4 ah, itulah tempat di mana kita nanti tinggal bersama#sama selama ribuan tahun& !emoga di sana dipasang sepasang batu nisan, yang satu bertuliskan F io !an "ekD, dan yang satu lagi FCiok Eng TayD& 3ku&&&&6 Tiba#tiba, air#mata gadis itu mengucur deras& 5a tak sanggup meneruskan kata#katanya& Di saat itu, dari luar terdengar ringkik kuda& 7ati !an "ek bagaikan hancur#luluh& 5a berkata: 2Oh, dusun O+#kio#tin menjadi tempat kediaman abadi kita selama ribuan tahun4 <adi 3dikku sudi pergi ke sana&&&46 2AaI6 ja+ab gadis itu& 2Telah ku putuskan, kecuali dengan Kakak, aku tidak akan menikah, sampai mati punI Keputusanku ini tidak akan berubahI 3sal Kakak telah memastikan memilih tempat itu, ke sana 3dikmu akan pergiI Di sana kita akan terkubur bersama&&&I6 2"esanmu, Dik, akan pasti terlaksanaI6 sahut !an "ek memberi kepastian& 2Kalau benar aku tidak beruntung, akan ku pesan orang di rumahku agar membuatkan dua batu nisan di dusun itu, untuk menantikan kedatangan 3dik di sana&&&&6 Eng Tay menangis terus, ia tak mampu lagi bicara& 2Tuan %uda, mari kita pulang,6 kata !u Kiu& 2Tuan %uda tidak sehat&&&&6 !an "ek pun melipatkan kedua tangannya kepada Eng Tay& 2Dik, aku berangkat katanya seraya memberi hormat& Eng Tay mengangguk, ia menyahut, 2Aa,6 suaranya lemah& 2Kak&&&&6

%0 Sepu#uk Surat
D5 luar pintu pekarangan, =in !im sudah menyiapkan dua ekor kuda lengkap dengan pelananya& 5a menuntun kuda itu masing#masing di tangan kiri dan kanannya& !u Kiu, mendampingi !an "ek, melangkah menghampirinya& 23dik =in !im, kau siapkan dua ekor kuda, untuk apa46 tanya !u Kiu& 2Tuan %uda sedang tidak sehat, ia mesti lekas tiba di rumah,6 sahut orang yang ditanya, 2maka itu kau dan Tuan %uda masing#masing naik seekor kuda& Kakak jadi tak usah berlari#lari mengikutinya&6 2Terima kasihI 2 kata !an "ek seraya menerima seekor kuda& 2%emang, dengan menunggang kuda, aku akan cepat sampai di rumah&6 2Kau baik sekali, Dik, terima kasihI6 kata !u Kiu juga& 2:ain hari aku akan mengantarkannya kembali&6 =in !im mengangguk& 5a tidak berani terta+a karena dilihatnya !an "ek pucat#pasi, lemah sekali& Tetapi ia berpesan: 2Tuan %uda, setibanya di rumah harap kirim surat memberi kabar&6 3nak muda itu hanya mengangguk& 2!elamat jalanI6 kata =in !im& Dan di lain saat, ia melihat mereka sudah pergi jauh&

Tanpa banyak bicara, io !an "ek bersama !u Kiu melakukan perjalanan pulang& !aat itu pertengahan bulan, perjalanan dapat dilakukan juga di+aktu malam& Dini hari !an "ek sudah tiba di rumah& !u Kiu segera minta dibukakan pintu agar majikan mudanya bisa segera masuk ke dalam rumah& io Ciu "o, sang ayah, heran mendapatkan anaknya pulang di saat itu& 5a menduga telah terjadi sesuatu& :ekas#lekas ia keluar, untuk menemui putranya& Dan, !an "ek pun segera merebahkan diri di dalam kamarnya, +ajahnya pucat sekali& 23h, kau sakit, ak46 tanya orang tua itu, bingung& "emuda itu mengangguk& 2Tidak apa#apa, "a,6 sahut !an "ek perlahan& 23ku masuk angin, besok pagi tentu sembuh&6 3yah itu meraba kepala putranya, terasa panas sekali& 5a heran& 2 ak, apakah kau pulang sebelum tiba di dusun Ciok46 tanyanya& 2!udah, sudah sampai, "a&6 23pa mungkin keluarga Ciok itu tidak ada di rumah46 tanya ayahnya& 23da, "a& %alahan aku telah bertemu dengan adik Eng Tay itu& Eng Tay sekarang sudah ganti +ajah sebagai seorang +anita& 5a menyambutku dengan baik sekali&6 2Terus, apakah ada pembicaraan tentang perjodohan46 2Tentang perjodohan, panjang ceritanya, "a& ,esok saja kita bicarakan&6 Ciu "o sudah duduk di sisi tempat tidur, segera ia bangkit berdiri& 5a tidak bertanya secara rinci lagi karena tahu anaknya sedang sakit& 2,aiklah,6 katanya& 2Ku dengar ringkik kuda yang ramai # itu toh bukan seekor46 2Aa, dua ekor& Aang satu dipakai !u Kiu atas kebaikan adik Eng Tay&6 7ati ayah itu lega juga& :antas ia bertanya, putranya ingin makan apa, tetapi !an "ek menggelengkan kepala& Tak lama muncullah Kho#si, sang ibu& 23h, anakku sakitI6 katanya, melihat putranya yang lemas dan pucat& 2Tidak apa#apa, %a, besok pagi juga sudah baik,6 kata putranya& 5a masih mencoba tersenyum& Ketika itu !u Kiu muncul, segera ia berkata pada kedua majikan tuanya: 2,apak dan 5bu berdua sebaiknya kembali ke dalam saja, Tuan %uda sekarang perlu istirahat& ,esok pagi kesehatan Tuan %uda tentu akan pulih kembali6 3yah dan ibu itu menurut, mereka mengundurkan diri& !eberlalunya kedua majikannya itu, !u Kiu menggeser bangku ke tepi pembaringan majikannya, untuk menemaninya tidur& !aking letihnya, !an "ek tertidur, tetapi ia diganggu mimpi& Dalam mimpinya, ia bertemu dengan Ciok hianmoy, si adik perempuan yang cantik jelita dan berbudipekerti halus& 27al#ih+alku ini harus ku jelaskan pada "apa dan %amaku,6 pikirnya setelah mendusin& Karena bisa

memutuskan demikian, hatinya menjadi lapang dan ia dapat tidur pulas& 5a tidak bermimpi lagi& 7anya, tidak lama kemudian ia sudah terbangun pula karena ;ajar telah tiba& 5a pun merasakan tubuhnya lemas, ia kagetI !e+aktu hendak duduk di ranjang, ia roboh pulaI 2"ulang dengan menunggang kuda, aku masih bisa,6 pikirnya, heran sekali& 2%engapa sekarang, setelah beristirahat dengan tidur, tenagaku habis4 Aa, kepalaku pusing&&&& !u Kiu mendusin, ia mendengar suara keras robohnya sang majikan& Dilihatnya sang majikan itu sudah mendusin tetapi masih berbaring saja& 2Tuan %uda kenapa46 tanyanya heran& 23ku tak bisa bangun,6 ja+ab sang majikan& 2Coba kau ba+akan aku air panas&6 !u Kiu lantas menggeser bangkunya, terus ia berlalu& !ementara itu, Ciu "o pun sudah bangun& Terlebih dulu ia melihat anaknya& 23nakku, bagaimana46 tanya ayahnya& 2%ungkin aku sakit, "a,6 ja+ab putranya& 2!ungguh cepat&&&& 3yah itu menga+asi putranya, yang masih saja rebah, +ajahnya pucat bahkan agak mengerut, kedua matanya suram& "emuda itu tidak memakai baju panjang, hanya baju dalam +arna putih& 2Kalau begitu, perlu panggil tabib,6 kata ayahnya kemudian& 2,oleh juga, "a,6 kata pemuda itu, 2tetapi mungkin tak ada gunanya&&&& 23pa katamu46 tanya ayahnya menegaskan& 2%engapa4 3nehI6 2!ebentar, setelah %ama bangun, akan ku jelaskan,6 kata !an "ek& Ciu "o tidak bisa menunda lagi& Di satu pihak ia menyuruh orang memanggil tabib, di lain pihak 5a membangunkan istrinya, memberi tahu bah+a putra mereka sakit& !u Kiu sementara itu telah siap dengan air panas& !an "ek segera minum, namun, baru dua teguk, ia sudah menggoyangkan kepala& Diletakkannya ca+an di atas meja& Caktu itu, Ciu "o dan istrinya muncul& %ereka segera duduk menghadap putra mereka, menga+asi dengan hati gelisah& 2 ak, coba kau ceritakan sekarang,6 pinta ayahnya& !an "ek, sambil berbaring, memperhatikan kedua orang#tuanya itu& 25ni benar#benar soal sulit, "a,6 demikian pemuda itu mulai menutur& 27al ini menyangkut kedua orangtua Eng Tay, tetapi keduanya tak dapat disalahkan& Di sini terlibat suatu kekuasaan&&&&6 !eterusnya !an "ek menceritakan perihal Eng Tay telah dijodohkan dengan anak keluarga %a dan bagaimana pertemuannya dengannya& !ebagai penutup ia berkata: 2%aa;kan aku, "a, %a& Kalau terjadi sesuatu atas diriku, sia#sia "apa dan %ama memeliharaku& 3ku belum pernah menunaikan baktiku, aku sangat berdosa& !emoga di lain

kehidupan aku dapat membalas budi "apa dan %ama&&&&6 Kedua orangtua itu tercengang, mereka sangat heran dan sekaligus berduka& 2*upanya demikian,6 kata ayahnya kemudian& 2Tapi, ak, kau jangan bersedih hati& !ekarang kau ra+at saja dirimu, nanti setelah kau sembuh, kita akan pikirkan bagaimana baiknya&6 2,enar, ak,6 ujar ibunya turut bicara& 5bunya pun sangat cemas seperti suaminya& 2%ama akan membantumu sedapat#dapatnya& !ekarang jangan berpikir terlalu banyak& ,ila terjadi sesuatu atas dirimu, bagaimana dengan "apa dan %ama ini4 5ngat, kau masih muda, jangan sekali#kali kau putus asa&6 !an "ek tak ingin ayah dan ibunya bersedih, ia mengiya# kan saja& amun apa mau dikata, hari demi hari penyakitnya bertambah parah& !ia#sia saja obat dari tabib, obat itu bagaikan tenggelam dalam samudera& ,ahkan sele+at lima hari kemudian, Ciu "o menyaksikan sakit putranya bertambah parah& 2Kuda keluarga Ciok sudah dikembalikan atau belum46 tanya !an "ek suatu kali& 2Kuda itu harus dipulangkan& 3ku pun ingin menyuruh !u Kiu pergi ke dusun Ciok& 3ku ingin menyampaikan pesan pada adik Eng Tay&6 2,oleh saja kau sampaikan pesanmu itu, ak,6 kata Ciu "o& 2Kuda keluarga Ciok akan dikirim pulang&6 !an "ek masih melayap, tetapi ia senang mendengar kata#kata ayahnya itu& !ejenak, ia dapat tersenyum& Kemudian ia berkata: 2"a, aku hendak menulis surat&&&&6 2Kau sedang sakit, ak, tak perlu menulis surat,6 ujar ayahnya menasihati& 2Cukup kalau !u Kiu saja disuruh untuk menyampaikan pesan&6 2Tidak apa, "a,6 kata !an "ek, yang terus menggerakkan tubuhnya untuk tengkurap& 23ku harus menulis surat&6 Ciu "o heran sekali, hingga ia hanya menga+asi putranya& !u Kiu cerdas, segera dia menyiapkan alat#alat tulis& 5a senang melihat majikannya sudah bisa duduk& !ebagai meja, ia sediakan sekeping papan& :antas saja !an "ek menulis& Demikian bunyi suratnya itu: +Kakakm$, San Pek, menyampaikan s$rat ini pada )dik, Eng Tay/ )k$ ingin meng$tarakan ses$at$/ Pertem$an kita di :@e Sim %a@ mem&$atk$ merasa sangat &er$nt$ng/ Tiga tah$n kita sekolah &ersama, tak tah$ ak$ &ah@a ka$lah seorang @anita sejati/ Dasar kakakm$ yang tolol/ ar$ sekarang ak$ sadar/ Di l$ar d$gaaank$, telah datang lamaran kel$arga !a it$/ Sat$ di selatan, sat$ di $tara, mana &isa &ertem$, &ersat$F Demikianlah kesedihan, nasi& man$sia/ Kesedihan kita, tak ada yang mele&ihinyaA )dikk$, ka$ menangis, tetapi Kakakm$ hanya &isa mer$nd$k, &ersedih saja/ )dikk$, sekarang ini Kakakm$ sedang sakit, dia tidak &erdaya/ !engapa nasi& kita &egini menyedihkanF Empat hari sep$langk$, setiap malam ak$

memimpikanm$, )dikk$/ Sia-sia &elaka ak$ min$m o&at, o&at &agaikan &at$ terce&$r ke s$ngai dan tenggelam/ !aka dari it$, Kakakm$ kira, tak akan lama lagi Kakakm$ hid$p di d$nia/ )dikk$, ak$ tah$ adik memp$nyai resep o&at yang sangat m$jara&, maka dari it$ ak$ mengirim S$ Ki$ padam$, akan mohon resep o&at it$/ Semoga saja resep o&atm$ it$ dapat menolong Kakakm$ ini/ Nah, )dikk$, sekian saja s$ratk$/ )k$ meng$capkan terima kasih sekali padam$/ Kakakm$, San Pek !ehabis menulis, !an "ek mengulang membaca suratnya itu, kemudian ia berkata: 2!uratku ini, tolong kirimkanI6 5a meminta kertas tebal untuk menggulung suratnya& Kemudian surat tersebut diserahkan pada !u Kiu, yang dipesankan untuk menyampaikannya pada Eng Tay& 3bdinya itu sudah tahu ke+ajibannya, ia tak perlu dinasihati lagi& Tetapi io Ciu "o, sang ayah, berkata: 23pakah surat ini dapat sembarang disampaikan4 Tadi aku telah turut membaca isinya& ,agaimana kalau surat ini diketahui oleh ayah#bunda ona Eng Tay4 3pakah tak dikha+atirkan akan terjadi sesuatu nanti46 2<angan kha+atir,6 kata !u Kiu& 23bdimu tahu bagaimana surat ini harus disampaikan pada ona Eng Tay&6 2,aiklah kalau begitu,6 kata Ciu "o, yang terus berpesan pada abdinya: 2Kau harus berlaku hati#hati& !etelah dapat resep obat itu, simpanlah baik#baik& 3pabila nanti Tuan %udamu sembuh, kami sangat berterima kasih padamuI6 !u Kiu mengangguk, ia berjanji& Kho#si, sang ibu, girang sekali mendapatkan putranya bisa menulis surat& 5a sampai tersenyum& 2Kau harus menunggang kuda,6 kata Ciu "o pada !u Kiu& 2"asti ona Eng Tay akan menulis surat balasan, kau simpan itu baik#baik, terutama resep obatnya& %ungkin esok pagi kau sudah akan tiba kembaliI6 !u Kiu meng#iya#kan, lantas saja ia berangkat& %ajikan itu mengantarkan abdinya sampai di luar pintu& !u Kiu pergi dan segera menuntun dua ekor kuda& !eekor, yakni kudanya sendiri ia tunggangi, sebab ia harus pulang dengan cepat& Tak perlu dikatakan lagi bah+a ia bekerja dengan baik sekali& 5a mengenal si penga+al pintu keluarga Ciok, begitu bertemu ia memberitahukan bah+a majikannya sudah sampai di rumah dan sekarang ia mengembalikan kuda yang telah dipinjamkan oleh ona Eng Tay yang baik hati itu& "enga+al itu menerima kuda tersebut, terus ia bertanya, apakah ada pesan buat nona majikannya& !u Kiu berdiri diam, ia tidak segera menja+ab& "enga+al itu, yang sudah tua, mengerti& %aka ia berkata: 2!ekarang ini Tuan ,esar ada di rumah, tak baik kalau beliau mengetahui kedatanganmu ini& !ebaiknya aku langsung mengajakmu menemui =in !im, dan kemudian

biarlah ia mengajakmu masuk menemui ona&6 !u Kiu setuju, ia mengucapkan terima kasih sambil memberi hormat& 2Kamu tunggu sebentar,6 kata si penga+al itu lagi,yang terus saja masuk& !egera ia telah kembali bersama =in !im& 2Oh, Kakak !u Kiu, kau datang46 tanya nona pembantu itu& Dia girang sekali& 2,agaimana dengan sakit Tuan %uda46 2!akit Tuan %uda bertambah parah, tetapi hari ini lebih baik,6 sahut !u Kiu& 2,agaimana dengan ona46 2 ona justru sedang menantikanmu untuk mendengarkan keteranganmuI6 kata =in !im, yang terus mengajak sahabatnya itu masuk ke dalam, langsung ke loteng& %aka segera !u Kiu bertemu dengan Ciok Eng Tay& 23pakah keadaan Tuan %uda io baik46 gadis itu langsung bertanya& !u Kiu memberi hormat dulu, baru ia menyahut: 2!etibanya di rumah, Tuan %uda terus tidur& Tabib telah dipanggil, setiap hari Tuan %uda makan obat, akan tetapi tidak ada hasilnya, bahkan keadaannya semakin parah& Kali ini majikanku memerintahkan aku memulangkan kuda& Tatkala majikan tuaku menanyakan niatnya untuk mengirimkan pesan atau tidak, mendadak saja Tuan %uda dapat menulis surat untuk ona&&&&6 2Oh, ada surat46 kata Eng Tay cepat& 2Aa inilah suratnya,6 !u Kiu, yang terus mengeluarkan, surat majikannya dan diserahkannya pada gadis itu& Eng Tay mengenali surat !an "ek, segera ia buka gulungannya dan membacanya& %endadak saja, airmatanya berlinang& Tak sempat ia mengucapkan apa#apa& !u Kiu menga+asi gadis itu, 5a berdiri terpaku& =in !im pun diam di tempat& Eng Tay memperhatikan kedua pelayan itu& 2=in !im, kau ajak !u Kiu makan,6 perintahnya& 2!ebentar, setelah bersantap, kau ajak dia ke mari untuk mengambil surat dariku&6 3bdi itu mengangguk, lantas saja ia ajak !u Kiu mengundurkan diri& Eng Tay membaca lagi surat kekasihnya, lalu ia diam termenung matanya masih basah& ,erulang kali ia menghela napas& 3khirnya ia pergi ke meja dan menulis surat& ,eginilah bunyi suratnya: +)dikm$, Eng Tay, menghat$rkan s$rat ini pada Kakak, San Pek/ egit$ mem&aca s$rat kakak, airmatak$ mengalir/ )k$ mengerti setiap kata-kata Kakak/ !engenai kesehatan Kakak, ak$ hanya &isa mengharapkan semoga lekas sem&$h/ Tentang nasi& kita lihat saja nanti/ Kita pasrahkan kepada T$han ,ang !aha Esa/ Nam$n mengenai dirik$, ak$ pasti tidak akan menikah dengan orang lain/ )k$ &ers$mpahA Kak, andaikata Kakak mesti meninggalkan )dikm$ ini, selagi perjalananm$ &el$m ja$h, t$ngg$lah ak$/ )k$ akan pergi meny$s$l, sampai di alam &aka/ )dikm$ &icara, malaikat menjadi saksinya/

Kak, hatik$ risa$ sekali, ak$ tak &isa men$lis &anyak&anyak/ !aka k$ harap Kakak &erlak$ tenang mera@at diri &aik-&aik/ Kak, terimalah hormat )dikm$ ini, Eng Tay/. !elesai menulis, ona Ciok melipat dan menggulung suratnya itu& Ketika itu sudah +aktunya menyalakan api& =in !im segera muncul untuk memasang lilin& =adis itu lantas berkata padanya: 23jaklah !u Kiu ke mari, aku hendak bicara dengannya&6 =in !im menurut, ia cepat turun dari loteng, tetapi segera kembali lagi beserta !u Kiu, si sahabat abadi 23ku telah selesai menulis surat,6 kata Eng Tay pada abdi sahabatnya& 25ni surat balasanku& !etelah tiba di rumah kau serahkan suratku ini pada Tuan %udamu, katakan juga bah+a aku sangat memperhatikan sakitnya, mengharapkan agar ia mera+at diri baik#baik& !etelah sembuh, kita akan bertemu lagi& Tetapi kalau&&&&6 %endadak saja gadis itu menghentikan ucapannya& 5a duduk terpaku& Ketika sesaat kemudian ia berdiri, ia berpegangan pada meja, tubuhnya bergetar& ,ahkan lantas saja airmatanya menitik&&& !u Kiu hanya menga+asi gadis itu, ia tak berani berkata& =in !im sangat terharu, ia menghampiri nona majikannya& 5a berkata perlahan: 2 on, Tuan ,esar baru saja pulang, kita tak boleh bicara keras#keras& ona mau berpesan, apa lagi pada Kakak !u Kiu, agar dia bisa cepatcepat pulang46 Tidak ada lagi pesanku,6 ja+ab Eng Tay sambil mengusap airmatanya& 2!emua telah ku tulis dalam suratku&6 !ambil berkata#begitu, Eng Tay menyerahkan suratnya pada abdi sahabatnya& !u Kiu menerima surat itu, terus ia simpan dalam bajunya& 23da pesan apa lagi, Tuan %uda Ciok46 tanyanya& 2!aya hendak segera pulang&6 2!ebaiknya berangkat nanti saja setelah kau istirahat dulu,6 kata Eng Tay& 2Kau telah melakukan perjalanan jauh, kau pasti letih sekali&6 !u Kiu lantas memberi hormat, terus ia mengundurkan diri& =in !im mengantarkan ke luar karena ia kha+atir sahabatnya itu salah jalan& !ambil berjalan, melihat tidak ada orang di tempat itu, perlahan !u Kiu berkata pada pengantarnya itu: 2Kalau Tuan %udaku tidak beruntung, bagaimana dengan Tuan %uda Ciok, eh, ona Ciok46 2Entahlah, sukar dikatakan,6 kata =in !im& 2Tapi aku tahu +atak onaku&6 23ku dapat mengerti sikap onamu,6 kata !u Kiu& 2:alu, bagaimana dengan kita46 =in !im terta+a& 2Tidak apa#apaI6ja+abnya& 2Eh, aku bicara sungguh#sungguhI6 2 onaku sedang dalam kesulitan, mana ada +aktu buat kita bicara46

2Kalau sampai ada +aktu, aku kha+atir kau sudah tidak berkuasa lagi atas dirimu&6 2Terus bagaimana sekarang46 !u Kiu menggelengkan kepala, ia menarik napas panjang& Ketika itu mereka sudah sampai di pintu depan, penjaga pintu mengundang !u Kiu agar bersantap lebih dulu& Katanya, hidangan sudah sedia& 3bdi !an "ek itu menampik, tetapi ia minta diberi kesempatan untuk berbaring guna istirahat sejenak& 27us, perlahanI6 kata =in !im mengingatkan& 23dik =in !im, masuklah, mungkin onamu memerlukanmu&6 3bdi itu menga+asi !u Kiu, ia tidak berkata apa#apa, hanya sambil merunduk, ia lantas kembali ke dalam& !u Kiu mendapat tempat untuk berbaring, tetapi ia kepulasan hingga si penga+al membangunkannya& !ehabis minum, segera ia berangkat& !eperti +aktu pergi, +aktu pulangnya ini ia melarikan kudanya dengan kencang& %aka dengan cepat ia pun tiba di rumah& ,aru saja ia sampai, io Ciu "o,majikannya sudah menemuinya sambil bertanya: 23pa ada surat balasan dari ona Ciok46 3bdi itu menyahut 2Aa6 sambil segera mengeluarkan surat Eng Tay& Ciu "o menerima surat itu, terus ia buka dan membacanya& :antas saja ia menarik napas dan berkata perlahan: 2=adis itu benar#benar baik sekali, tetapi !an "ek, anakku&&&&6 Tepat pada saat itu dari jendela terdengar suara putranya: 2"a, "apa bicara dengan siapa4 3pakah !u Kiu sudah kembali46 2Aa, Tuan %udaI6ja+ab sang abdi mendahului majikan tuanya& 2Aa, ona Ciok juga membalas surat&&I6 Ciu "o menggulung lagi surat Eng Tay dan menyerahkannya pada !u Kiu, dan abdi ini segera berlari masuk ke dalam, langsung ke kamar !an "ek& Ketika itu si tuan muda sedang rebah dengan separuh berselimut& 5a segera mengulurkan sebelah tangannya seraya mengucapkan pertanyaan yang lemah dari mulutnya: 2%ana suratnya46 Cepat sekali !u Kiu menyerahkan surat Eng Tay& !an "ek menerima surat itu, bahkan dengan sangat cepat ia membukanya untuk dibaca& !etelah itu dia menghela napas, lalu mengeluh: 25nilah kehendak Tuhan Aang %ahakuasa, apa mau dikata46

%1 Permintaan Terakhir
5O Ciu "o menyusul masuk ke dalam dan sempat melihat putranya melemparkan surat Eng Tay& 5a sangat berduka dan menghela napas& Tapi toh ia bertanya: 2,agaimana isi surat itu46 25si suratnya46 putranya balik bertanya& 23h, sudah terlambat&&&& Kasihan diaI Karena di 'aman ini sudah tiada harapan, biarlah kami menanti di 'aman lain saja&6 7abis berkata demikian, sambil berbaring si tuan muda memperhatikan !u Kiu&

Ciu "o memungut surat itu lantas ia berpaling pada pelayannya& 2Kau telah pergi ke dusun Ciok, sekarang coba ceritakan semuanya&&&&6 Ketika itu Kho#si muncul, ia pun ingin sekali mendengar penuturan abdinya& 2"enyambutan di sana baik sekali,6 kata !u Kiu, yang terus saja dengan sabar menyampaikan ceritanya, khususnya tentang kesedihan Eng Tay& 2%emang, kecuali "aman Ciok, semua orang di sana baik sekali,6 kata !an "ek& 2Tetapi, "aman Ciok juga tidak dapat disalahkan& !iapa suruh dia lahir di 'aman seperti ini, hingga ia terpengaruh oleh harta dan kekuasaanI !elesai berkata demikian, !an "ek menutupi tubuhnya dengan selimut& 5a pun bergolek miring& 2Oh, 3nakku,6 kata Kho#si 2Kau tulis surat, kau harapkan surat ja+aban, sekarang surat balasan sudah datang, kenapa kau tidak gembira& %engapa46 2!urat balasannya ada di sini, akan ku bacakan supaya kau tahu,6 kata io Ciu "o& 2!u Kiu juga boleh turut mendengar&6 Tuan majikan ini membaca, di dekat jendela& 23h, gadis itu bisa berpikir demikian, sungguh luar biasaI6 kata Khosi& Tetapi, ketika mendengar 2janji6 Eng Tay yang akan 2menyusul ke alam baka,6 nyonya ini menangis& 5a sangat terharu, ia kagum terhadap Eng Tay& amun kemudian ia berkata pada putranya: 2!an "ek, Eng Tay benar& Kau harus baik#baik mera+at dirimu&6 !an "ek mengangguk seraya menyahut 2Aa&6 Tetapi, kemudian ia terus tidur& !ementara itu, !u Kiu berdiri terpaku, airmatanya berlinang& Ciu "o menggulung surat itu, lalu diselipkannya di ba+ah bantal& 2!an "ek sudah tidur, mari, kita pun beristirahat,6 katanya kemudian mengajak istrinya& 2Di sini biar %i-so 08 yang menjaga&6 Ternyata mereka tak bisa beristirahat& Kho#si gelisah& Dia tak tenang, ada saja yang dirisaukannya& !ering ia menatap langit atau melongok pemandangan alam di luar, bahkan juga pergi ke dapur, memikirkan masakan untuk putranya& Kemudian ia teringat sesuatu, maka dipanggilnya !u Kiu agar datang padanya& 2Tuan %udamu sekolah bersama Ciok Eng Tay, sekolah bersama selama tiga tahun, apakah benar ia tak tahu sama sekali bah+a ka+annya itu perempuan46 tanyanya kepada abdinya itu& 2 ona itu menyamar dengan sempurna sekali, kami benar#benar tidak tahu,6 ja+ab !u Kiu& 2,ahkan aku pun, tak tahu bah+a si =in !im pun ternyata perempuan&&&&6 23pa mungkin Tuan %udamu tak tahu sama sekali46 2%emang Tuan %uda tidak tahu sedikit pun&6& 2Tuan %udamu adalah anakku, pasti aku percaya dia,6 kata Kho#si kemudian& 2!ekarang ia sakit begini rupa, bagaimana jadinya4 3pa dayaku&&&46 23bdimu ini orang bodoh, bagaimana kalau kita tulis

08 7ian#moy aninya 2adik perempuan yang bijaksana6&

surat pada %a Thay-si$F. kata !u Kiu& 2Kita jelaskan tentang hubungan Tuan %uda dan ona Ciok, lalu kita minta pihaknya membatalkan lamarannya supaya Tuan %uda bisa menikah dengan ona Ciok& 3tau kalau dia menolak, kita tegaskan saja bah+a ona Ciok sudah bersumpah tidak akan menikah dengan siapa pun, hingga kalau pernikahan putranya dilangsungkan juga, akhirnya akan sia#sia saja46 Kho#si ragu#ragu& <ustru saat itu muncul Ciu "o seraya menggoyangkan tangan& 2Tidak, mana bisaI6 katanya& 2Tidak mungkin pihak %a mau mundur& Kita harus berusaha sendiri& "aling benar bila kita ra+at dulu !an "ek, setelah ia sembuh, baru kita pikirkan lagi bagaimana baiknya& Kita bujuk saja anak kita agar dia bersabar& !urat ona Ciok pun masih memberi sedikit harapan&&&&6 Kho#si tidak bisa berbuat lain& %aka ia terus mera+at dan menjagai putranya& ,antuan tabib telah diusahakan& Tetapi, sia#sia saja !an "ek minum obat& Dia terus tidur, tetapi otaknya bekerja, terus mengenang Eng Tay& 5a bermimpi& !ebuah perhentian berbentuk segi enam, terlindung oleh daun#daun dan cabang#cabang pepohonan& Di sana, !an "ek berjalan#jalan seorang diri& Di situ ada sebuah pohon ma+ar berbunga merah muda, indah sekali di antara daun#daunnya yang hijau tua& Dijalan besar, beberapa orang sedang berlalu#lalang& !an "ek ingat, itulah kampung "aman Ciok, hanya bedanya, di sana ada tanaman ma+ar itu& <ustru ketika ia menga+asi pohon bunga itu, tiba#tiba Eng Tay muncul berdandan seorang +anita& 5a heran hingga ia berseru: 2Dik, 3dikI6 2Kakak ioI6 ja+ab gadis itu&6 3dikmu sangat memikirkanmu, maka, +alau penjagaan sangat keras, aku toh ke luar juga dan datang ke mari&&&& 2Kau hebat, Dik,6 kata !an "ek& 2:alu, sekarang bagaimana4 Kini kau akan pergi ke mana46 2:ebih jauh meninggalkan rumah, lebih baik,6 ja+ab Eng Tay& 2!ekalipun ke gunung dan laut, harus pergi jugaI6 !an "ek terta+a& 2,agusI6 serunya& 2Tempat ini, kau lihat, tempat apakah, dan di mana46 2%asa aku tidak ingat,6 sahut gadis itu& 25ni tempat dulu kita bertemu dan menjalin persahabatan&6 2Tetapi telah bertambah dengan tanaman ini,6 kata si pemuda& 25nilah pohon yang ku tanam dengan tanganku sendiri& Tunggu, akan ku petik dua kuntum&6 7abis berkata demikian, Eng Tay lantas menghampiri pohon ma+ar itu, yang tumbuhnya di luar tempat perhentian, di ba+ah undak#undakan& amun apa lacur, ia berjalan cepat, tanpa terasa ia salah menaruh kaki& Tidak ampun lagi, ia terjatuhI !an "ek kaget bukan#kepalang, dia menjerit keras& 5a

maju, ia lari menghampiri, maksudnya untuk menolong& Disambarnya tangan si gadis, terus ditariknya dengan sekuat tenaga& ,ersamaan dengan itu, telinga si anak muda mendengar, suara keras di sisinya: 2!an "ekI !an "ekI <angan kau tarik#tarik tanganmu sendiriI6 5tulah suara Kho#si, sang ibu& !an "ek membuka matanya, ia tercengang& Ternyata ia telah bermimpi bertemu dengan Eng Tay, sang kekasih& 5a memegang dengan keras dan menarik tangan kirinya sendiri& !ang ibu sedang duduk di sisi ranjang& 5a menga+asi putranya& 2Kau kenapa, ak46 tanyanya& 2Tak apa#apa, %a,6 ja+ab putranya& 23ku hanya bermimpi&&&&6 2Kau bermimpi apa46 23nak mimpikan Eng Tay,6 ja+ab putranya, terusterang& 2%impi itu karena hati, karena kenangan, sebaiknya jangan terlalu kau pikirkan,6 kata ibunya yang sangat menyayangi putranya itu& Tepat di saat itu, !u Kiu muncul& 5a mengabarkan perihal datangnya utusan keluarga Ciok& 2%a, ada orang suruhan keluarga Ciok datangI6 kata !an "ek& 2!iapakah dia4 :ekas tengokI6 5a pun segera menyingkap selimutnya, lalu duduk& Kho#si tahu bagaimana kerasnya keinginan putranya, ia lantas pergi ke luar& Di ruang dalam, !u Kiu terlihat bersama seseorang yang sedang memba+a barang, yang telah diletakkannya& !aat itu juga, Ciu "o muncul sesudah diberitahu& :antas saja sang abdi memperkenalkan: 2Tuan ,esar&&&& 5ni kakak Ong !unI6 "esuruh dari keluarga Ciok itu, memang Ong !un& 5a memberi hormat seraya berkata: 2 ona kami tahu bah+a Tuan %uda io sakit& 5a mengirim saya, Ong !un, untuk menjenguk& ona telah bicara dengan ibunya, terus saya diperintahkan memba+a barang ini kesini& 7arap ,apak sudi menerimanya&6 2Oh, yonyamu baik sekali6 kata Ciu "o& 2%ana berani aku menolaknya&6 !e+aktu Kho#si pun muncul, !u Kiu memperkenalkan Ong !un kepadanya& Ong !ung sebaliknya segera memberi hormat pada sang nyonya rumah& Kho#si lantas melihat barang kiriman Ciok Eng Tay, yang terdiri dari buah eng-toh, buah pipa, buah pir, daging asin, ayam panggang asap serta tujuh atau delapan bungkusan yang lain& 5a kagum hingga berseru: 2Oh, semua ini makanan untuk orang sakitI Terima kasihI6 2!emua ini tidak berarti, yonya,6 kata Ong !un& 2Di mana Tuan %uda io sekarang4 ona saya berpesan agar saya menjenguknya&6 2Oh, ia masih menghendaki kamu menjenguknya46 kata Kho#si& 2%ari ikut akuI6 Dan sang nyonya mengajak Ong !un masuk ke kamar !an "ek& !i anak muda sedang duduk di atas pembaringannya&

2Oh, kau, Ong !unI6 dia mendahului menyapa& 2Aa, Tuan %uda,6 ja+ab Ong !un sambil memberi hormat& Di dalam hati ia sangat terharu& !i anak muda sangat kurus, +ajahnya pucat, bibirnya kering& 2 ona berpesan agar Tuan %uda mera+at diri baik#baik& ona pun menyampaikan beberapa jenis buah#buahan dan makanan untuk Tuan %uda&6 !u Kiu pun lantas muncul bersama barang#barang kiriman Eng Tay, untuk diperlihatkan pada majikannya& 2!ampaikan terima kasihku pada onamu,6 kata !an "ek& 2,arangkali ada pesan lainnya46 2!emua barang ini dikirim sepengetahuan yonya ,esar kami,6 kata Ong !un& 2 ona minta agar Tuan %uda mera+at diri baik#baik& Tetapi ketika saya hendak berangkat, =in !im menitipkan sepotong sapu#tangan merah, katanya dari ona, buat Tuan %uda& Katanya juga, kalau Tuan %uda menerima ini, Tuan %uda akan mengerti sendiri&6 !ambil berkata begitu, Ong !un merogoh sakunya untuk mengeluarkan barang tersebut yang segera diangsur#kannya pada si anak muda& !an "ek menyambut sapu#tangan itu yang jelas adalah barang lama tetapi masih baru& 23ku maklum,6 katanya perlahan& 2!ampaikan pada ona, penyakitku ini mungkin tak akan sembuh& 3ku ingin menulis surat balasan, namun hari ini aku tak dapat menulis, tubuhku lemas sekali, maka itu sampaikanlah pada ona bah+a aku sudah mengerti& Aa, kami tahu sama tahu&&&&6 Ong !un meng#iya#kan& 5a mengerti keadaan si anak muda, terus ia mohon diri& !etelah memberi hormat, ia mengundurkan diri& ,arang antaran tadi diba+a ke luar lagi oleh !u Kiu& Di dalam kamarnya, !an "ek bermain#main dengan sapu#tangan Eng Tay& !elama itu ia tidak berkata apa#apa& Tidak lama kemudian&&&& Ong !un muncul lagi& Tadi, di luar, ia disuguhi hidangan tengah hari, setelah itu ia datang lagi untuk pamit& !an "ek mengangguk padanya& 5a mengerti, sulit bagi si anak muda berkata#kata, maka segera ia memberi hormat, terus mundur untuk segera pulang& %alam itu, sehabis makan bubur, !an "ek tampak agak segar& !aat itu ia ditemani ayah dan ibunya& 5a berkata pada kedua orangtuanya: 2"a, %a, penyakitku ini sudah parah sekali& 3ku mohon maa;, inilah tanda tidak berbaktinya aku& !udah tidak ada jalan untuk sembuh, maka itu, harap "apa dan %ama memaa;kan putramu ini& "a, setelah aku menutup mata, ku minta dikuburkan di O+#kio#tin dan kuburannya menghadap ke sungai Aong& Di samping itu, anak minta dibuatkan dua batu nisan, yang satu berbunyi F%akam io !an "ekD, yang lainnya, F%akam Ciok Eng TayD& "ercayalah, tidak lama lagi, kata#kataku ini akan ada buktinya& %engenai barang#barangku, hanya ada satu yang harus ku ba+a& 5tulah sepasang kupu#kupu kemala hadiah dari Ciok Eng Tay& !ekarang kupu#kupu kemala itu ada di tubuhku&&&&6

23nakku, sungguh kau tidak beruntung,6 kata Ciu "o, ayahnya& 2,agaimana jadinya, orang berambut putih mengantarkan orang berambut hitam4 5nilah nasib yang harus disesalkan dalam kehidupan manusia&&&& ,aiklah, ak, pesanmu akan "apa +ujudkan, tetapi mengenai kedua batu nisan, rasanya sukar dilaksanakan& Ciok Eng Tay adalah anak gadis keluarga Ciok, ia juga masih berada di antara kita, maka kalau kita membuatkan nisannya, apa kata orang banyak nanti4 ,ukankah itu janggal4 :agi pula, pihak Ciok barangkali tidak senang&&&&6 27al itu tidak ada halangannya, "a,6 kata !an "ek& 2"apa buatkan saja& anti, di saat batu nisan itu dipasang di kuburanku, batu nisan atas nama Ciok Eng Tay, "apa pendam saja di samping kuburanku&&&&6 2Kalau nisan dikubur, apa artinya itu4 3pa gunanya46 2Tentang itu, tak usah "apa pusingkan&&&&6 2,aiklah, ak6 kata ayahnya dengan tegas& 23kan "apa jalankan pesanmuI6 !elagi ayah dan anak itu berbicara, Kho#si diam saja, ia hanya mendengarkan, akan tetapi kedua matanya berkaca#kaca, airmatanya berlinang& 5a tidak dapat menangis ataupun berkata#kata& 2%a, jangan menangis,6 kata !an "ek& 2%a, anak belum lagi pergi&&&&6 !ang ibu mengusap air#matanya& 2Aa,6 katanya perlahan& 2Tetapi kau harus tahu, %ama hanya mengharap, agar kau hidup terus& ak, dengan kata#katamu ini, apakah masih ada harapan bagi yang sudah tua ini&&&46 "ilu rasa hati !an "ek mendengar keluhan ibunya itu, airmatanya lantas saja mengalir hingga membasahi bantalnya& 5a menutupi +ajahnya dengan bantal itu& Ciu "o menyelimuti tubuh putranya& Dengan saputangan diusapnya airmata putranya itu& 2 ah, ak, sekarang tidurlah,6 kata ayahnya kemudian sambil menepuk#nepuk pembaringan dengan perlahan& 5tu sama saja dengan menepuk#nepuk tubuh anaknya& 2!emoga kau dapat tidur nyenyak agar besok keadaanmu lebih baik& ,iarlah !u Kiu menemanimu&6 !an "ek meng#iya#kan sambil mengangguk& Kho#si turut bicara, tetapi dia hanya bertanya: 2Ketika !u Kiu menemani tidur, aku pernah dua atau tiga kali menengok ke mari, !u Kiu tahu atau tidak46 !u Kiu yang berada di luar kamar, terdengar menja+ab: 2"ernah juga saya tidak tahu, yonya ,esar&6 3bdi ini jujur, ia mengaku terus#terang& 2Kalau begitu, mulai malam ini kau harus berjaga,6 pesan Ciu "o si majikan& 2,aik, Tuan ,esar,6 ja+ab sang abdi& 3yah dan ibu itu pun lantas ke luar dari kamar& 7ari#hari le+at tanpa ada perubahan pada diri io !an "ek, ia tetap tidak mengalami kemajuan& Tidak demikian halnya di hari keempat, di saat jauh tengah hari, di kala sinar sang surya telah condong ke tembok sebelah timur rumah keluarga io& Di saat itu !an "ek sedang tidur melayap& 5a melihat

seberkas cahaya pelangi ber+arna lima, yang serta#merta berubah menjadi apa yang dinamakan +Thay G@ #io. -,atu Telaga Thay# dan yang segera berubah lagi& Di bagian tengah batu itu, yang sangat tinggi dan besar, mendadak terbuka sebuah pintu bagaikan mulut gua& %ula#mula tampak segumpal a+an, yang perlahan#lahan mengapung naik& !ekonyong#konyong, dari pintu itu muncul +anita+anita berdandanan dayang keraton& %ereka itu menggapai#gapai seraya memanggil: 2%ari, mariI %ari lekas naik ke langitI6 !an "ek, di sana, melihat seorang +anita mirip Ciok Eng Tay& 5a menatapnya dengan tajam& Kemudian hendak ia panggil gadis itu, tetapi tiba#tiba ia mendusin& Aang ada di depannya sekarang hanyalah ayah#ibunya, bertiga bersama !u Kiu& 5a merasa heran sekali& 2"ukul berapa sekarang46 tanyanya& Ciu "o menengok ke luar& 2!udah lohor,6 sahutnya& !an "ek memperhatikan ayahnya itu& 2"apa,6 katanya, 2dapatkah aku memperoleh keikhlasan "apa dan %ama berdua, bila aku menutup mata, agar dikubur di O+#kio#tin46 io Ciu "o tertegun& 3irmatanya mendadak berlinang& 2Dapat, ak,6 sahutnya cepat& 2Dapat "apa lakukan itu&&&&6 2Terima kasih, "aI6 kata !an "ek& 2%aa;kan aku, aku tidak dapat turun dari ranjang untuk menjalankan penghormatan, aku mengangguk saja dari atas ranjang ini&&&&6 !elesai berkata demikian, benar saja ia miringkan kepalanya& Kho#si tidak dapat berkata#kata, hanya airmatanya bercucuran& 5a mendekati pembaringan, menga+asi putranya dengan airmata berlinang#linang& 5a menangis tersedu#sedu&&&& 2!u Kiu, ke mari&&&&6 ujar !an "ek memanggil abdinya& 23da apa, Tuan %uda46 tanyanya& 23ku menyesal, selama tujuh#delapan tahun kamu mengikutiku, aku tidak dapat berbuat apa#apa untukmu,6 kata sang majikan& 2Tetapi aku percaya "apa dan %amaku tidak akan menyia#nyiakanmu, maka, kau jangan kha+atir&&&&6 2Aa, Tuan %uda&&&&6 ja+ab abdi itu& Tangisannya membuat ia tak dapat berkata lebih jauh& 2!ekarang aku hendak berpesan satu kali lagi,6 kata !an "ek lagi& 2Kalau aku telah tiada maka kau tak usah membantu mengurus hal lain di sini, tetapi kau harus segera pergi ke dusun Ciok untuk menyampaikan berita& Kau katakan pada gadis itu, jena'ahku tidak akan segera dira+at, akan menunggu kedatangannya untuk pertemuan sekali lagi, pertemuan yang terakhir& Kalau ona Ciok mendengar berita ini, dia pasti akan datang&&&&6 !u Kiu tidak dapat menja+ab, ia hanya tersedu#sedan, tetapi ia mengangguk& !an "ek berkata pula dengan lemah& 2"apa&&& %ama&&& "a, tadi "apa mengatakan bah+a sekarang sudah lohor,

maka sekarang aku hendak pergi&&&&6 !ang ibu kaget sekali& 5a menubruk& 2TidakI Tidak&&&I6 teriaknya& 2Kau tidak boleh pergi&&&&6 !an "ek mengulurkan kedua tangannya, memegangi tangan ayah dan ibunya, ia memegangnya erat#erat& ,eberapa detik, ia tak dapat membuka mulutnya& Tetapi kemudian, dengan lemah, dapat juga ia, berkata: 23ku menyesal tidak dapat berbuat apa#apa untuk "apa dan %ama, aku sangat menyesal& %engenai pernikahanku, harap "apa dan %ama ikhlaskan, itu bukan hanya urusan "apa dan %ama saja, itu adalah masalah anak laki#laki dan anak perempuan& Ku harap "apa dan %ama memaklumi& "apa dan %ama dapat mengerti, tidak demikian dengan kedua orangtua keluarga Ciok& "a, %a, mereka itu kalah dengan kekuasaan, mereka mencintai kemasyhuran yang kosong& "a, %a, sekian saja kata#kata putramu&&&&6 !uara terakhir !an "ek hampir tak terdengar, tenaga di sekujur tubuhnya berangsur#angsur lenyap, napasnya pun perlahan#lahan menghilang& Ciu "o dan Kho#si memegangi tangan putranya itu sampai mereka merasakan denyut nadinya berhenti&&&&

%2 Pertemuan Terakhir
5O !an "ek telah berpulang, keluarga io tenggelam dalam duka yang amat sangat& Tetapi Ciu "o teringat pesan putranya, segera ia berkata pada !u Kiu: 2Kau jangan pikirkan urusan di sini, segera kamu naik kuda dan pergi ke dusun Ciok untuk menyampaikan pesan Tuan %udamu& Katakan padanya, ini soal pertemuan terakhir, karenanya jena'ah !an "ek tidak segera ku urus&&&&6 !u Kiu, dalam kedukaannya, menerima perintah itu& 2,ila kamu naik kuda, mungkin kamu tiba di sana tengah malam,6 kata sang majikan pula& 2Kalau demikian, jangan segera mengetuk pintu, tetapi tunggu sampai terang tanah& :ihat saja, kapan kau dapat pulang kembali&6 2,aik, Tuan ,esar, besok malam pasti abdimu sudah dapat pulang,6 kata !u Kiu, yang terus saja mengundurkan diri untuk segera memulai pejalanannya& 3bdi ini menjalankan tugasnya dengan sungguhsungguh dan cerdik& 5a tiba di dusun Ciok mendekati ;ajar& 5a beristirahat dulu di perhentian& !etelah terang, barulah ia menghampiri pintu rumah keluarga Ciok& 5a dikenal baik oleh penga+al pintu maka segera saja ia diajak masuk, sedang kudanya diurus oleh orang lain& 5a pun diantar sampai ke ba+ah loteng 7+e !im :a+, persis di saat =in !im muncul dengan memba+a setangkai bunga& =in !im tertegun& 2Eh, Kakak !u KiuI6 tegurnya& 2Kau datang pagi sekaliI 2Aa, sejak tadi, menjelang ;ajar,6 ja+ab !u Kiu& 2,agaimana dengan Tuan %uda io46 tanya =in !im segera& 23pakah dia baik#baik saja46 !u Kiu memperhatikan paras sangat berduka& 25a telah tiada,6 sahutnya perlahan& 25nilah sebabnya aku datang ke mari&&&&6

=in !im terperanjat hingga bunga di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai& 2Oh&&&,6 serunya& 2Tuan %uda io meninggal&&&&6 !u Kiu menjalankan tugasnya, segera ia minta =in !im menyampaikan pesan kepada majikannya& Tetapi =in !im masih berkata: 27ari ketika Tuan %uda io muntah darah, aku telah mendapat ;irasat buruk sedangkan tadi malam sesudah pukul tiga pagi, onaku tiba#tiba mendusin dalam keadaan kaget, hingga aku turut terbangun& 3ku berharap hari ini akan datang berita bah+a Tuan %uda io sudah sembuh& Oh, tak disangka, ia justru meninggalkan kita semua untuk selama#lamanya&&&&6 23h, sudahlah, lebih baik lekas kabarkan onamu, kata !u Kiu& 2!abar,6 sahut si ka+an, 2sebentar setelah aku mengajak ona naik ke loteng, baru kau bicara dengannya& Kau bicara dengan tenang& <ika tidak, ona bisa kaget, roboh serta menangis& Kalau Tuan ,esar dan yonya ,esar tahu, itu tidak baik&&&&6 !u Kiu mengerti, ia menurut dan menunggu& =in !im mengusap air#matanya, terus ia berlalu& !etiba ia di kamar si majikan, Eng Tay persis akan ke luar& =adis ini heran melihat abdinya tidak memba+a apa#apa& 2%ana bunganya46 tanyanya, kemudian& =in !im menggelengkan kepala& 2%ari kita naik ke loteng, on,6 katanya& 23da kabar penting&6 ,ahkan abdi ini segera berjalan mendahului& Eng Tay heran, ia menerka#nerka& Tak biasanya abdinya berlaku seperti ini, namun ia mengikuti& !etibanya di loteng, =in !im memandang si majikan, yang sikapnya masih biasa#biasa saja& 23da berita mengenai Tuan %uda io,6 kata abdi ini kemudian& 23pakah dia sudah sembuh46 tanya gadis itu& 2!ekarang !u Kiu ada di ba+ah loteng, kalau ona tanyakan dia, ona akan mengerti,6 kata abdi itu, yang tidak mau sembarang bicara& 2Kalau begitu, suruh dia naik ke mari,6 perintah Eng Tay, sepasang alisnya berkerut& =in !im pergi ke mulut tangga& 2!u KiuI6 panggilnya& !u Kiu muncul dengan cepat& Di depan Eng Tay, ia berlutut memberi hormat& 23pakah Tuan %uda io sudah sembuh46 tanya nona rumah tak sabar& 2Tenang, Tuan %uda,6 ja+ab !u Kiu& 2!ebenarnya, Tuan %uda io kami telah berpulang tadi malam&&&&6 Eng Tay kaget bukan main, hingga ia harus memegang meja erat#erat& Cajah pun lantas berubah menjadi pucatpasi& 25a meninggal46 tanyanya, menegaskan& 2,enar Tuan %uda, tadi malam,6 ja+ab !u Kiu& Eng Tay jatuh terduduk di kursi, airmatanya segera mengucur deras& 5a menangis tersedu#sedu& ,eberapa lama, ia diam saja& !u Kiu bangkit dan berdiri terpaku, ia pun menangis&

=in !im, dengan air#mata berlinang#linang, menghampiri majikannya& 2!udahlah ona, tenanglah,6 katanya& 2%asih ada yang ingin disampaikan !u Kiu&&&&6 Eng Tay mengusap airmatanya, ia mencoba menenangkan diri& 2Katakanlah, apa pesan Tuan %uda io sebelum tiada46 2Di saat Tuan %uda menghembuskan napas terakhir, aku ada bersamanya,6 kata !u Kiu, 2tetapi setelah ia tiada, aku segera berangkat ke mari untuk menyampaikan kabar& Tuan %uda hanya berpesan, sebelum jena'ahnya diurus, dia menantikan kedatangan ona untuk pertemuan yang terakhir&6 %endadak saja, Eng Tay bangkit berdiri& 2Aa, aku pergiI 3ku pergiI6 katanya& 2:ekas siapkan kereta&&&I6 2Tetapi, on,6 kata =in !im, 2kalau kita pergi, Tuan ,esar dan yonya ,esar perlu diberi tahu lebih dulu&&&&6 2Tetapi,6 kata Eng Tay, 2bagaimana kalau "apa dan %ama melarangku&&&46 2 amun, on,6 kata =in !im, 2tanpa memberitahu Tuan ,esar dan yonya ,esar, siapa berani menyiapkan kereta ataupun joli46 2,aiklah, aku mengerti,6 kata Eng Tay& 2!ekarang juga aku akan menemui "apa dan %ama& Kalau "apa dan %ama mengi'inkan, aku pergi, jika tidak, aku rela mati demi Kakak ioI6 2Tenanglah, on 2 kata =in !im& 2Kita lihat dulu&&&&6 2Kalau begitu, baiklah, mari kita pergi bersama,6 kata Eng Tay, yang masih dapat menenangkan diri& 2!u Kiu, kau tunggu di ba+ah loteng&6 !u Kiu meng#iya#kan, ia menuruni loteng& Eng Tay yang didampingi =in !im segera pergi ke kamar kedua orangtuanya& Kong Can dan Teng#si baru selesai berdandan& Teng#si heran melihat kedatangan putrinya, bahkan gadis itu tampak habis menangis& 23da apa, ak, pagi#pagi kau kelihatannya tidak senang46 tegur ibunya 2,aru saja datang utusan keluarga io yang mengabarkan bah+a io !an "ek telah meninggal dunia,6 sahut Eng Tay langsung& Teng#si terperanjat& <uga Kong Can& 23h, dia meninggal dunia46 tanya ayah dan ibunya itu& 2,ersama !an "ek aku tinggal selama tiga tahun, kami sudah seperti saudara,6 kata putrinya, 2maka dari itu sekarang, setelah ia meninggal dunia, aku hendak pergi menjenguknya& Kini aku datang memberitahu&6 Kong Can dan Teng#si, yang duduk bersebelahan, tampak heran& 23pa4 Kau hendak menjenguknya46 tanya ayahnya& 2,enar, "aI6 ja+ab putrinya, singkat& 2 ak, janganlah berpikir yang tidak#tidak,6 kata ayahnya lagi& 2Kau harus ingat, kau adalah anakku, kau adalah seorang gadis terhormat, bahkan, kau adalah calon menantu keluarga %a Thay-si$A <uga, tidak seharusnya kau sembarang keluar rumahI Di samping itu, putra

keluarga io itu mati muda, itulah pertanda keluarga yang tidak beruntung& Tidak, ak, kau tidak boleh pergiI6 2Tetapi, "a, 3ku ini senasib,6 kata Eng Tay& 2Dia tidak beruntung, aku lebih malang lagiI "a, terpaksa aku harus pergiI6 !uara gadis itu keras dan mantap& 2 ak, apakah kau tidak takut jika keluarga %a nanti menyalahkan kita46 kata ayahnya lagi& Eng Tay menga+asi ayahnya& 5a melihat di jendela tergantung sebuah gunting yang tajam, disambarnya gunting itu dengan tangan kanannya, dan digunakannya untuk mengancam& 5a berkata& 2!ebaiknya "apa i'inkan aku pergiI Kalau tidak, gunting yang ada di tanganku ini akan ku tikamkan ke tubuhku, di hadapan "apaI6 Teng#si kaget bukan kepalang& 2<angan akI6 jeritnya& 2:etakkan gunting ituI Kalau kau mau juga pergi, pergilahI <angan kau gunakan gunting itu&&&&6 2Tetapi "apa belum memberi i'in,6 kata gadis itu seraya berpaling pada papanya bagaikan orang yang menantikan keputusan hakim& 2,aiklahI6 kata Kong Can& 2Kau boleh pergi tetapi ada tiga syaratI6 23pa tiga syarat itu, "a46 2"ertama#tama ku larang kau berpakaian berkabung,6 kata ayah yang kolot itu& 2Kedua, kau harus memba+a beberapa pengikut& Dan ketiga, kau harus lekas pergi dan lekas pulangI 2,aik "a, ketiga syarat "apa ku terima semuaI6 kata putrinya, yang hatinya lega& 2Tetapi aku hendak mengajak =in !im& Aang lainnya, boleh "apa kirim siapa saja&6 2,agus, akI6 kata Teng#si, si ibu yang juga lega hatinya& 2!ekarang pergilah tukar pakaianI Kau, =in !im, kau ikut onamu& Di sepanjang jalan, kau harus melayani dan menjaganya baik#baikI6 2,aik, yonya ,esar,6 janji si abdi& Eng Tay melepaskan guntingnya, terus ia kembali ke kamarnya& !u Kiu, yang menanti di ba+ah loteng, segera juga memperoleh berita& !ambil menunggu, ia pergi bersantap& Eng Tay bertukar pakaian, lalu ia siapkan pakaian lainnya& 5a tidak memakai kembang dan pita merah di rambutnya, juga tidak memakai bedak& !egera saja ia telah ke luar dan terus naik kereta yang sudah tersedia& =in !im turut serta dengan memba+a sebuah buntalan& 3da dua orang lain yang ikut, yaitu kusir kereta, dan Ong !un yang menunggang kuda& !u Kiu, dengan kudanya, berjalan di depan& "erjalanan dilakukan terus#menerus tanpa istirahat, malah diusahakan secepat mungkin& %aka, tidak lama kemudian sampailah mereka di depan pintu rumah keluarga io& Eng Tay, sebelum turun dari kereta, mengenakan lebih dulu pakaian putih dan juga membungkus rambutnya dengan sapu#tangan putih& =in !im turun lebih dulu untuk membantu nona majikannya turun dari kereta&

!u Kiu sudah berlari mendahului untuk memberi kabar tentang datangnya tamu& %aka, pintu depan pun lantas dibentangkan dan beberapa bujang sudah menantikan untuk menyambut& %ereka kagum melihat sang tamu, seorang gadis ayu sekalipun berdandan serba putih, pakaian berkabung& io Ciu "o dan Kho#si menyambut tamunya di depan pintu& !u Kiu mendekati Eng Tay sambil berkata: 2Kedua orang tua ini adalah Tuan ,esar dan yonya ,esar&6 Eng Tay melihat tuan rumah yang berbaju biru dan berjanggut putih serta parasnya mirip paras !an "ek& Khosi mengenakan baju abu#abu, dia tidak menangis tetapi pada +ajahnya tampak bekas airmata& !uami#istri tua itu menyambut tamunya dengan ramah& Di pihak lain, mereka kagum menyaksikan kecantikan si gadis& 2 ona, kau sediakan diri untuk datang dari tempat yang jauh, banyak terima kasihI6 kata Ciu "o& Demikian juga kata#kata nyonya rumah& Eng Tay segera memberi hormat, bahkan ia memegang erat#erat tangan Kho#si sambil berkata perlahan: 2Kedatanganku tidak ada gunanya, "aman dan ,ibi& Terima kasih, "aman dan ,ibi telah menyambut aku&6 25ni sudah seharusnya, ona,6 kata Ciu "o& 2,ahkan kau kenakan pakaian berkabung, ona,6 kata Kho#si juga& 2Kalau !an "ek di dunia sana mengetahui hal ini, betapa bersyukurnya dia& %ari, mari kita masuk ke dalamI6 yonya rumah ini melangkah masuk sambil memegangi tangan tamunya& Eng Tay mengikuti& Ciu "o dan =in !im mengiringi mereka& Tiba di dalam, Eng Tay melepaskan tangannya dari pegangan nyonya rumah& 2%aa;kan Eng Tay yang telah lancang masuk ke mari,6 katanya& 2!ilakan "aman dan ,ibi duduk, aku hendak memberi hormatI6 Ciu "o dan Kho#si hendak menolak, tetapi tidak dapat& ,ahkan !u Kiu sudah lantas memba+akan guderi kecil untuk orang berlutut guna menjalankan penghormatan& !uami#istri itu pun duduk dan Eng Tay lantas menyembah, menjalankan penghormatannya& ,eberapa bujang yang menyaksikan upacara itu berkata: 2"antas, pantas, tamu datang dari tempat sejauh seratus li, dia demikian tulus, selayaknya dia memperlihatkan hormatnyaI6 Eng Tay menyembah empat kali, setelah berdiri, ia menyuruh =in !im melakukan hal yang sama& Ciu "o dan Kho#si sangat terharu dan bersyukur sekaligus kagum& ona tamu itu sangat tahu tata cara& %ereka sangat menyukainya& !etelah itu Eng Tay bicara& 2Kakak io !an "ek tiada sejak kemarin, ia belum dira+at, bukan46 demikian tanyanya& 2%emang belum, ona,6 ja+ab Ciu "o& 2!egala sesuatunya sudah siap, kami hanya menantikan kedatangan ona& !an "ek ingin sekali melihat ona sekali

lagi&&&&6 2,apak, panggil saja aku tit-li. kata Eng Tay, yang lebih suka dipanggil tit-li, atau Fkeponakan perempuanD, daripada dipanggil FnonaD& 2<angan panggil aku nona& !ekarang aku ingin melihat Kakak !an "ek, siapa yang akan mengantarkan aku46 2,aik, tit-li6 kata Ciu "o& 2%ari ikut aku&6 Eng Tay mengangguk, ia lantas mengikuti& !etibanya di ruang dalam, di luar dan di dalam kamar serta di lantai, banyak lilin putih menyala sebagai pengganti pelita penerang jalan& Di lantai, tubuh !an "ek rebah kaku, ia mengenakan baju biru& Di sekitarnya terhampar daun pisang, bahkan seprei dan bantal kepalanya juga memakai lapisan daun serupa& 7anya kopiahnya, tetap kopiah kaum pelajar& Cajahnya tampak seperti orang hidup dan matanya masih terbuka& <ari#jari kedua tangannya yang dilonjorkan, menggenggam sepasang kupu#kupu kemala& !egera juga Eng Tay lari menghampiri tubuh yang sudah tak dapat bergerak itu& 5a malah menjerit& 2Kakak !an "ek, aku datang menemuimuI Kau tahu apa tidak&&&46 suaranya parau& !etelah itu airmatanya bercucuran& 5a berlutut di samping tubuh sang FkakakD, ia mengangguk#angguk empat kali& =in !im, tanpa disuruh lagi, turut membungkuk empat kali juga& Ketika itu Kho#si datang menyusul& 3irmatanya berlinang#linang& Dengan suara parau ia berkata: 2!an "ek, 3nakku, bagaimana kau bisa mendapatkan adik angkat seperti Ciok :ian-tnoy ini4 ak, ia datang menjengukmu&&&I6 Kata#kata nyonya rumah ini membuat semua orang yang berada di situ menangis tersedu#sedu& Tak dapat lagi mereka menahan rasa haru hati, mereka& %ereka juga sangat mengagumi sang tamu itu&&&& 2Kakak !an "ek, mengapa matamu masih menatap saja46 tanya Eng Tay& 25nilah yang membuat kami bingung dan berduka,6 kata Ciu "o, sang ayah& 23ku rasa, tit-li, ia tentu sedang menantikan kedatanganmu& 5a ingin bertemu satu kali lagi&&&&6 2Kakak io, Kakak ioI6 kata Eng Tay memanggilmanggil, seraya berlutut di sisi tubuh si pemuda& 5a pun lantas menangis& 2Kakak io, pertemuan kita di tempat perhentian dan bersekolahnya kita bersama#sama selama tiga tahun, ku anggap sebagai saat#saat yang paling bahagia selama hidup kita, maka siapa sangka bah+a dalam ,uku "ernikahan tak ada nama kita berdua& 3ku pernah membayangkan bah+a pada suatu hari di depan kita, ada barisan musik berkumandang, di belakang kita ada iring#iringan kereta terhias kembang, mengantarkan kita dengan segala kebahagiaan ke rumahmu& !iapa duga sekarang, aku datang dengan pakaian berkabung? dalam satu malam seratus li aku jalani hanyalah untuk menyembahyangimu& Oh, Kakak mengapa kedua matamu masih belum dirapatkan juga4 %ungkinkah kau masih berat berpisah dari ayah dan ibumu, kau belum ikhlas

meninggalkan mereka46 !ambil berkata begitu, dengan gerakan tangan yang lemah#lembut, Eng Tay meraba dan mengusap mata sang kekasih& 5a pun menangis dengan sangat berduka& 2Kalau benar demikian, Kak, baiklah kau tak usah kha+atirkan,6 kata si gadis pula& 2,ukankah Kakak masih punya sanak#keluarga, keponakan umpamanya4 "asti mereka dapat mera+at kedua orangtuamu itu&&&&6 %asih saja gadis itu menangis dan tetap saja kedua mata !an "ek terbuka& Kembali Eng Tay mengusap#usap mata kekasihnya itu& 2Oh, Kakak,6 kata gadis itu lagi, 2mungkinkah kau tak dapat meninggalkan guru kita serta teman#teman sekolah di i !an4 3tau, apakah kau menyesal tidak akan ada orang yang berkabung untukmu4 3tau, apakah mungkin karena kepandaianmu yang kau ba+a pergi secara sia#sia belaka&&&46 Tidak ada ja+aban apa pun juga untuk keluh#kesah itu& Aa, !an "ek telah berpulang& %ana ia dengar, mana ia tahu4 ,etapa pilu hati Eng Tay& 5a tersedu#sedan& 2Kak&&& Oh, Kakak,6 ratapnya lagi, kemudian, 2Kak, apakah kau tidak rela meninggalkan Ciok Eng Tay, 3dikmu ini4 Oh, Kakak&&&6 "ersis gadis itu berkata demikian, tangannya merasakan gerakan lembut kelopak mata !an "ek, dan terus saja mata itu menutup& Eng Tay kaget, ia menjerit, ia menangis kencangkencang& 2Oh, KakakI6 teriaknya& 2Kak, kau tak ikhlas meninggalkan 3dikmu iniI 3ku juga, si adik, mana rela ditinggal#kanmu4 "antas bila untuk kuburanmu di O+kio# tin kau siapkan dua buah batu nisan& 5tulah jalan untuk umum, di tepi sungai yang mengalir& Kak, suatu hari 3dikmu ini akan menemui kau di sana&&&& Di dalam ,uku "ernikahan tidak tercantum nama kita berdua, akan tetapi nama kita akan kekal abadi beribu#ribu tahun? sampai mati pun, akan ku perjuangkanI Aa, pasti nama kita akan tercatat juga dalam buku ituI Kak, hendak ku beritahukan, aku pasti bukan orang keluarga %a, juga tak sudi aku tinggal di rumah keluarga %a ituI Kak, rohmu masih belum pergi jauh, kau tahu, para malaikat menjadi saksi dan Kakak mendengarnya sendiri&&&&6 ,egitu gadis itu mengakhiri kata#katanya, kedua mata !an "ek pun terpejam rapat& <elas rohnya mendengar dan mengetahui, maka rela juga ia pergi&&&& Eng Tay menangis, meratap, namun ia masih dapat menguasai diri& 3khirnya ia menoleh pada nyonya rumah, dan berkata: 2 ah, ,ibi, Kakak !an "ek telah memejamkan matanya& 3dakah yang masih ,ibi inginkan lagi46 Kho#si menahan kesedihannya& 2Kau baik sekali, tit-li,6 katanya&6Dari jauh kau sengaja datang ke mari& Kau pasti letih sekali, mari kita istirahat sebentar&&&&6 2Tidak, ,ibi, tidak, tit-li tidak letih6 ja+ab Eng Tay& 27anya hatiku gelisah melihat kupu#kupu kemala pemberianku masih tergenggam di tangan Kakak !an

"ek&&&& %ana bisa aku istirahat46 Kembali gadis itu menangis& 2,iar bagaimana, tit-li. kata Ciu "o, 2kau harus beristirahat dulu barang sejenak, kau telah melakukan perjalanan jauh dan menahan kantuk& !ekarang kami akan menukar pakaian !an "ek agar ia bisa lekas dimasukkan ke peti jena'ah& !ebentar, setelah selesai upacara, tit-li sekalian boleh terus pulang&&&&6 %elihat sikap tuan dan nyonya rumah yang demikian prihatin, akhirnya Eng Tay menurut& 5a melihat =in !im, dan juga !u Kiu, yang berdiri di luar pintu, maka ia berkata pada abdi !an "ek itu: 2!u Kiu, pergilah kau ajak =in !im melihat#lihat rumahmu iniI6 2,aiklah, on,6 kata !u Kiu& 2=in !im, ke mariI6 =in !im menurut& 5a telah mendengar perkataan nona majikannya& 2!ayang Tuan %uda io telah tiada& Kalau tidak, aku senang tinggal di sini,6 kata =in !im setelah ia diajak berjalan#jalan mengelilingi rumah& 2Eh, ya, di mana itu O+#kio#tin46 !u Kiu menja+ab pertanyaan itu, ia menerangkannya& 2,aiklah,6 kata =in !im kemudian& 2 anti kita bicara lagi, sekarang aku hendak melayani nonaku&6 !u Kiu meng#iya#kan& 5a mengantarkan sang sahabat ke dalam, kemudian ia sendiri pergi beristirahat& Di dalam, =in !im melihat nona majikannya sedang duduk terpaku disisi jendela& Kho#si menemaninya sambil berbaring di ranjang& 3irmata keduanya masih belum juga kering& 2Ke mana saja !u Kiu mengajakmu46 tanya Eng Tay kepada abdinya& 2Ke sekitar rumah ini,6 sahut si abdi& 2,agaimana pendapatmu46 2!empurna segala pengaturan Tuan ,esar&6 Eng Tay menarik napas& 2 on, sebaiknya ona istirahat,6 kata =in !im& 2!egera akan ;ajar&&&&6 2Aa, aku tahu& ,ibi pun telah menasihati& Tetapi, bagaimana aku bisa istirahat46 2=in !im, pergilah bersantap dulu,6 kata Kho#si& 2!etelah itu, kau pun boleh istirahat&6 2,ibi benar,6 kata Eng Tay& 2%emang kita perlu istirahat&6 Caktu itu, si %i-so muncul& %aka Kho#si menyuruhnya mengantarkan Eng Tay beristirahat& =adis itu mengikuti setelah ia bicara dengan Kho#si perihal !u Kiu dan =in !im& !ang kala berjalan terus, segera tiba saatnya jip-&ok, upacara pemasukan jena'ah !an "ek ke dalam keranda& Kho#si dan Eng Tay muncul dengan mata yang basah& !aat itu, mereka tampak benar seperti mertua dan menantu& !emua anggota rumah telah berkumpul& Tubuh !an "ek masih berada di lantai& Eng Tay, dengan pakaian berkabungnya, berlutut di sisi !an "ek& 2Kak, hari ini hari pertemuan kita yang terakhir,6 kata gadis itu sambil menangis, 2kalau sebentar Kakak masuk

dalam peti, kita tak akan dapat bertemu pula& %aa;, Kak, aku tak dapat berbuat apa#apa untukmu& !edih aku melihat Kakak tak rela meninggalkan ayah dan ibumu& Dan kepandaianmu, kau tinggalkan setengah jalan&&&&6 ,erkata demikian, EngTay mendekam seraya menggenggam erat#erat tangan !an "ek yang didekatkannya ke bibirnya untuk diciumi, seraya berkata pula dengan sedih: 2Kak, mengapa kau membungkam saja, sepatah kata pun tak ke luar dari mulutmu46 Tepat di +aktu itu pemimpin upacara berkata: 2 ona Ciok, silakan mengundurkan diri, sudah tiba saatnya jena'ah masuk petiI6 !egera juga tiga orang tamu +anita menghampiri Eng Tay untuk membantu membangunkannya dan mengundurkan diri& %ereka berkata: 2!udahlah, ona janganlah kau terlalu bersedih&&&&6 Empat orang pun maju akan mengangkat tubuh !an "ek dan memasukkannya ke dalam peti jena'ah& %aka di saat itu riuhlah tangisan para hadirin, khususnya Ciu "o dan Kho#si, terlebih#lebih lagi Eng Tay& !elang beberapa saat, barulah ruang itu menjadi sepi dan sunyi& %asih satu kali lagi, Eng Tay menjerit: 2Kakak !an "ek&&&I6

%3 -a'is Sa'ar
,JK3 kepalang kaget dan repotnya ketiga tamu +anita yang mendampingi ona Ciok& Tak kuat hati Eng Tay, ia jatuh pingsan& ,eberapa +aktu barulah ia sadarkan diri& %asih saja ia memanggil#manggil: 2Kakak !an "ek, Kakak !an "ek&&&&6 Kho#si menghampiri gadis itu untuk menghiburnya& +Tit-li sudahlah,6 katanya, 2jangan kau terlalu bersedih& 5ngat, kau pun masih harus melakukan perjalanan pulang sejauh seratus li///. 23pakah Kakak !an "ek sudah masuk keranda46 tanya gadis itu& Dia telah lupa karena pingsannya itu& 2!udah, ak,6 ja+ab Kho#si& 2!an "ek tidak beruntung, jangan kau pikirkan dia&&&&6 2!ekarang tit-li hendak menghormatinya untuk yang terakhir kali,6 kata Eng Tay kemudian& 2!etelah itu, saya hendak pulang& =in !im siapkan bungkusan kita&6 2Telah saya serahkan pada Ong !un, on,6 ja+ab si abdi& 2Dalam bungkusan kita itu ada dua gulung kertas putih,6 kata Eng Tay& 25tulah syair yang ku buat selama di 7ang#ciu untuk Kakak !an "ek, ba+alah ke mari& %ulai hari ini, aku tak akan menggubah syair lagiI6 =in !im menurut, ia menghampiri Ong !un untuk mengambil syair itu& Eng Tay kemudian menanyakan Kho#si, apakah segala persiapan untuk sembahyang sudah selesai& 2!udah,6 ja+ab Kho#si& Ciu "o pun membenarkan kata istrinya itu& Orang tua ini sangat cemas ketika tadi menyaksikan gadis itu,

tamunya, pingsan& !egera juga semua orang berkerumun di ruang depan, ruang tempat jena'ah !an "ek disemayamkan& %eja sembahyang pun sudah siap& %aka Eng Tay segera memasang hio, ia bersembahyang sambil berlutut& 2Kak,6 kata gadis itu kemudian, 2selesai sembahyang, 3dikmu akan segera berangkat pulang& Tak dapat aku berdiam lama#lama di sini& 3kan tetapi di 7+e !im :a+ sana, aku harap rohmu suka sering berkunjung& Di saat hujan dan angin, maupun langit cerah dan terangbenderang, aku akan selalu berdoa untukmu&&&&6 !etelah gadis itu berdiri, =in !im menyerahkan syair yang diambilnya& Eng Tay menerimanya, lantas diba+anya ke api lilin untuk disulut, sambil berkata lagi: 2Kakak !an "ek, 3dikmu membakar syair ini untukmu& Di dalam syair ini, masih ada kata sambutanmu& Kak, mulai hari ini, 3dikmu tidak akan mengarang syair lagiI6 Demikianlah, dua gulung syair itu segera berubah menjadi abu& Kemudian Eng Tay menoleh pada abdinya seraya bertanya: 2=in !im, apakah kereta sudah#siap46 2!udah, on,6 sahut =in !im#& Eng Tay mengangguk& !egera ia menghampiri Ciu "o dan Kho#si& Dipegangnya erat#erat tangan yonya io dan berkata: 2,ibi, saya bendak pulang& 7arap ,ibi jangan terlalu bersedih dan ra+atlah diri baik#baik&&&&6 Kho#si mengangguk, ia tak dapat berkata#kata saking terharunya& Eng Tay menghadapi meja sembahyang, jena'ah !an "ek, untuk kembali memberi hormat sambil menjura lagi& Katanya, perlahan, suaranya serak: 2Kakak !an "ek, aku pulang&&&&6 Kembali ia menangis& +Tit-li sudahlah, jangan menangis lagi,6 ujar Ciu "o menghibur& 2Kereta sudah menanti di luar&6 Eng Tay mengusap airmatanya dengan sapu#tangan, terus ia menghadapi semua orang, memberi hormat, untuk berpamitan& !etelah itu, ia melangkah ke luar& Ciu "o dan Kho#si mengantarkan& +Tit-li, maa;, kami tidak menyuruh !u Kiu mengantarmu,6 kata Ciu "o& 2%emang tidak perlu, "aman,6 kata Eng Tay& +Tit-li pun didampingi dua orang saya& ,ila ada kesempatan, !u Kiu boleh se+aktu#+aktu datang berkunjung& ah, "aman dan ,ibi, harap baik#baik mera+at diriI6 Kedua orangtua itu, tuan dan nyonya rumah, mengangguk sambil menyahut: 2Aa&6 %ereka menga+asi, terharunya bukan kepalang& %ereka merasa kasihan, mereka menyesalkan karena sang dara tak beruntung menjadi menantunya&&&& Eng Tay dan =in !im menghampiri kereta mereka, lalu mereka menaikinya& !ebentar kemudian, mereka sudah menghilang dari pandangan& !e+aktu kereta mulai berangkat, =in !im melihat !u Kiu masih berdiri terpaku di ba+ah pohon, menga+asi keberangkatannya&&& Ong !un, di atas kuda, mengikuti kereta&

Di tengah perjalanan, kereta berhenti sejenak& Eng Tay turun dari kereta untuk menukar pakaian berkabungnya& !etelah itu, perjalanan pulang dilanjutkan& "erjalanan pulang ini berlangsung lebih lambat daripada perjalanan pergi& %aka, ketika tiba di rumah, tiba saatnya kentongan yang kedua& Ong !un masuk lebih dulu, dengan demikian Ciok Kong Can dapat menyambut kedatangan putrinya& 5a melihat bagaimana +ajah sang putri tampak bekas airmata tetapi ia tak menanyakan apaapa& Eng Tay langsung masuk ke kamarnya& Keesokan paginya, setelah bangun tidur, ia membersihkan diri dan berdandan seperti biasa& Tetapi akhirnya, ia duduk termenung saja& !elanjutnya, selama tiga hari ia terus berdiam diri& Kong Can dan istrinya tidak dapat berbuat apa#apa, mereka membiarkan putri mereka menanggulangi sendiri pikirannya yang berat itu& !uatu kali, =in !im berkata pada nona majikan: 2,erdiam secara begini tidak ada gunanya, lebih baik ona pergi ke loteng, membaca buku di sana& 3tau, ona membuka jendela, memandangi taman atau kolam&&&& !ekarang musim panas, di +aktu tengah hari ha+a udara kering sekali&6 Eng Tay setuju, maka ia naik ke loteng& ,enar saja, dengan membentangkan jendela, hatinya menjadi agak lapang& Di kejauhan, ia melihat pemandangan yang luas& "ada suatu lohor, Eng Tay membuka jendelanya dan melihat ke luar& un jauh disana, tampak dua orang sedang berjalan: satu laki#laki, satu perempuan& %ereka menapaki jalan kecil& Jsia mereka mungkin baru tiga puluh tahun& %ereka memikul kayu bakar& !elagi berjalan mendatangi, terdengar, suara si lelaki: 27ari mulai panas, kita harus cepat tiba di pasar& !etelah menjual kayu kita membeli kacang hijau, untuk dimasak dengan nasi& Kau setuju46 !i +anita menja+ab: 2,aikI Kita harus membeli juga dua potong kue buat kedua mustika kita di rumahI6 Eng Tay terkesan sekali mendengar ucapan kedua orang itu, yang jelas adalah suami#istri, bahkan mempunyai dua anak yang mereka sebut 2mustika&6 ,etapa rukun dan beruntungnya pasangan itu, sekalipun mereka berasal dari keluarga miskin& =adis itu berpikir keras, dan akhirnya ia merebahkan diri di ranjangnya& %asih saja ia merenung& 5a terkenang pertemuannya dengan !an "ek di lotengnya, F7+e !im :a+D yang berarti F7ati ,ertemuD& ,ukankah itu bermakna, pertemuan hatinya dengan hati si pemuda4 Tiba#tiba&&&& !an "ek, berjubah biru, tampak mendaki loteng& Cepatcepat Eng Tay bangkit dan menyambutnya, ia terta+a dan berkata: 2Kakak io, aku justru sedang mengenangmuI Kau dari mana saja46 !an "ek menghampiri, ia menggenggam tangan gadis itu dan berkata& 23dikku telah meminta agar rohku sering berada di sini& Ketika 3dikku sedang mengenangku aku sedang berjalan#jalan di luar 7+e !im :a+&&&&6

!ekonyong#konyong Eng Tay teringat bah+a !an "ek sudah meninggal dunia& 5a lantas berkata: 2Calaupun Kakak telah meninggal dunia, akan tetapi Kakak tetap seperti masih hidup&&&I6 !an "ek bertepuk tangan& 5a berkata: 2%ana aku mati4 3ku mati hanya untuk mengelabuhi kamu, Dik& 3ku sedang membangun sebuah rumah loteng yang indah di luar dusun Ciok&&&&6 Eng Tay tercengang menga+asi si pemuda& 2Oh, kau sedang membangun loteng yang indah46 tanyanya& 2,enarI6 Eng Tay berkata: 23ku hanya kha+atir banyak orang yang mengetahui sehingga mereka bisa menghalangimu& 3ntara lain&&& keluarga %aI6 !an "ek terta+a& 5a berkata: 23da banyak orang pun tidak mengapaI %ari, ikutlah akuI6 Eng Tay membiarkan sebelah tangannya dipegangi dan ditarik si pemuda& Tetapi justru ketika ia mau melangkah, tiba#tiba ia mendengar: 2 on, airnya sudah dinginI6 5a terkejut, ia menoleh, dan ia mendusin& Ternyata ia telah bermimpi, ia masih berbaring di ranjang& Di sisinya, =in !im sedang berdiri dengan seca+an air teh di tangannya& 23ku bermimpi,6 kata sang nona majikan& 2Tuan %uda io dengan setangkai bunga sedang menantikan aku&&&&6 ,erkata begitu, nona majikan ini menerima ca+an teh dan lantas meneguk isinya& 5a menghirup dua kali& !etelah mengembalikan ca+an itu pada abdinya, ia duduk berdiam diri& 3kan tetapi, otaknya bekerja& 2%impi ini aneh,6 katanya lagi, kemudian& 2%ungkin besok !u Kiu datang&6 2Tidak aneh, on, mimpi itu biasa saja,6 kata si abdi& 5a tahu bah+a nona majikan itu terlalu banyak berpikir karena bersusah hati& Eng Tay membungkam, namun ia berpikir& :ohor hari berikutnya, benar#benar !u Kiu muncul& =in !im menyambutnya dengan berkata: 2Kakak !u Kiu, ona berkata bah+a esok lusa kau akan datang, eh, hari ini kau benar#benar munculI6 !u Kiu membuka tudungnya, ia berkata: 25ni mungkin adalah kedatanganku yang terakhir& Tolong sampaikan pada ona, aku datang untuk menyampaikan kabar&6 5a kemudian merogoh sakunya& =in !im mengangguk, lantas ia ajak tamunya masuk, terus naik ke loteng& Ketika itu& Eng Tay sedang duduk berdiam diri& 5a tergerak melihat !u Kiu& 2Oh, !u Kiu, kau datangI6 tegurnya& 2Aa, sengaja untuk menjenguk Tuan %uda,6 ja+ab abdi itu& 23pakah penguburan Tuan %udamu sudah selesai46 2!udah&6 2Di mana dikuburnya46 2Tentu saja di O+#kio#tin&6 23pakah mudah membeli tanah di O+#kio#tin46 2Kami punya sanak di sana sehingga pembelian tanah

mudah saja&6 2Di sebelah manakah letak makamnya46 2Di ujung timur laut,6 sahut !u Kiu& 2Di situ ada satu tempat yang disebut Ki$-liong-hi #eng-to-g$an. 0/ 2,ukankah Kiu#liong#hi itu berdekatan dengan !ungai Aong46 2,enar& :etak kuburan di sebelah barat laut& Kalau kita berbicara di makam, orang di atas perahu dapat mendengarnya&6 2Aa, aku tahu& 3da berita apa lagi46 2!eusai penguburan, setelah pulang, Tuan ,esar memerintahkan hambamu ini segera berangkat ke mari guna memberi kabar pada Tuan %uda& :ainnya tidak&6 Eng Tay diam sejenak& 2,aiklah, aku sudah tahu semua& !ekarang kau ikut
0/ %enurut kitab Kang 7ie Kin Koan, sebelum meninggal dunia, !an "ek berpesan

agar dikuburkan di Kiu#liong#hi, !ekarang di tempat tersebut, Kiu#liong#hi, ada kuburan serta juga kuil !an "ek dan Eng Tay&

=in !im, seusai bersantap, kau boleh pulang&6 !u Kiu meng#iya#kan, ia mengucapkan terima kasih, kemudian memberi hormat dan terus mengundurkan diri& Eng Tay melangkah ke samping lotengnya& 5a membuka jendela lebar#lebar dan memandang ke sebelah timur& 3+an putih tampak mengapung di segala penjuru, pohonpohon semua berdaun hijau& 2Aa, kuburan Kakak !an "ek berada di sebelah sana,6 katanya dalam hati& 25a tentu sedang menantikan orang membukakan pintunya&6 Aa, Eng Tay termenung, termenung terus&&&& 7an#hari musim panas terasa lebih panjang& "ada suatu hari& Teng#si teringat akan anak gadisnya& 5a menduga#duga, apa saja yang sedang dilakukan putrinya& Eng Tay terbiasa mengurung diri di loteng& 3pakah dia selalu membaca bukunya4 3pakah dia masih suka membentang jendela menatap langit4 %usim gugur akan segera tiba, maka keluarga %a akan segera datang menyambut gadis menantunya&&&& 2,aiklah, akan ku lihat dia,6 pikir sang ibu& :antas ia mengajak Kiok <i naik ke 7+e !im :a+ untuk menemui putrinya& Ternyata putrinya itu tidak sedang menyulam atau menjahit, tidak juga membaca buku atau menulis& !ebaliknya gadis itu sedang berdiri di depan jendela, matanya menatap hampa ke depan&&&& 2 ak, kau sedang menga+asi apa46 tegur Teng#si& Eng Tay menoleh& %endengar suara ibunya, barulah ia tahu bah+a ibunya datang menengoknya& 2Oh, %ama datang,6 katanya& 2Tidak, %a, tidak ada apaapa yang dapat dipandang& 7ari ini ha+a udara menyengat sekali, pikiranku tidak tenang, maka ku buka jendela, berharap akan mendapat angin segar&6 !ang ibu mendekati, ia duduk di sisi jendela, turut memandang jauh ke luar& %atahari sedang memancarkan cahayanya yang putih& 27a+a begini panas, ak,6 kata ibunya kemudian, 2kalau kau tidak membaca buku, kenapa kau tidak menjahit atau menyulam46 2%enjahit atau menyulam, %a46 tanya gadis itu& 27ari

demikian panas, mana bisa46 Tiba#tiba ia terta+a dan berkata lagi: 2!ulamanku sudah cukup banyak&&&&6 5bu itu terkejut& 23ku mengerti pikiranmu, ak,6 kata ibu ini kemudian& 2"astilah kau selalu terkenang akan io !an "ek, teman sekolahmu selama tiga tahun& 3kan tetapi, sudah berselang dua bulan io !an "ek meninggal dunia& Kau hendak menemui dia, kau telah dii'inkan pergi& Tetapi sekarang, kau tidak boleh lagi mengingat dia&&&&6 Eng Tay masih saja berdiri, bersandar pada jendela& 2Tidak, %a, tidak bisa,6 ja+abnya& 2,enar ia sudah meninggal dunia, akan tetapi teman sekolahku ini masih hidup, belum mati&&& =unung boleh tinggi, air boleh panjang, namun gunung dan air akan hidup bersama selama#lamanya&&&&6 %elihat putrinya masih tetap berdiri, Teng#si berkata pada Kiok <i: 23mbilkan kursi buat duduk onamu& Kami hendak bicara lebih jauh&&&&6 "elayan itu menurut, ia memba+a kursi yang ditaruhnya di belakang gadis itu& 2 on, silakan duduk,6 katanya perlahan& Eng Tay berpaling, menga+asi abdi itu& 5a mengangguk tetapi tidak mau duduk& Kiok <i tidak berani berkata apaapa, ia berdiri saja di samping jendela& Teng#si memperhatikan putrinya itu lalu berkata: 2Di luar jendela itu, apa ada yang bagus dipandang4 Kau masih berdiri saja, ak&6 %endengar kata#kata majikannya itu, Kiok <i tersenyum& 2%ari kita bicara, ak,6 kata Teng#si lagi kemudian& 2Tidak lama lagi ha+a udara akan berubah menjadi sejuk& !etelah perubahan ha+a itu, keluarga %a akan datang menyambut gadis menantunya& %aka, jika nanti, keadaannya akan tetap begini 3nakku, rasanya ada kekurangannya&&&& 23ku tidak kenal keluarga %a, %amaI6 !ang ibu menatap putrinya& 2 ah, inilah yang kurang tepat dari kau, ak,6 katanya& 2Kalau tiba hari yang ditentukan nanti, keluarga %a mengirim kereta pengantin, apakah kau masih tetap tidak mau pergi46 Di luar dari kebiasaannya yang lemah#lembut, Eng Tay memperdengarkan suara di hidung& 27m, apa masih ada yang ingin ditanyakan lagi6 katanya& 23ku tidak kenal keluarga %a, sekiranya mereka mengirim kereta berhias untuk menyambut pengantin, peduli apa4 Karena tidak ada hubungan antara aku dan mereka, maka pasti aku tidak akan mempedulikannyaI Kalau mereka tidak berhasil menyambut orang, biar mereka cari majikannya sendiriI6 "anas hati sang ibu mendengar perkataan putrinya itu, kedua matanya terbelalak& Ditatapnya gadis itu tetapi akhirnya ia bisa juga menguasai dirinya& %alahan ia terta+a& 2,enar, memang mereka dapat mencari majikannya sendiri,6 katanya& 2Tetapi majikannya itu adalah kepala

sebuah keluarga, dan si kepala keluarga itu dapat memperlihatkan pengaruhnya& %ulutnya itu dapat mengeluarkan perintah#perintah untuk memaksamu pergiI6 Eng Tay mengebut debu di papan jendela dengan ujung bajunya& ,ersamaan dengan suara kebutannya itu, dari mulutnya pun keluar kata#kata ini: 23ku tidak mau pergiI Kalau si majikan mau menggunakan aturan rumahtangganya, menghendaki aku mati, aku boleh segera mati karenanyaI Tetapi untuk memaksaku pergi ke rumah keluarga %a, sekalipun raja mengeluarkan ;irmannya, aku masih tetap tidak mau pergiI6 Teng#si bangkit berdiri& 25nikah kata#katamu46 2Aa, kata#katakuI6 ja+ab Eng Tay& Ketika itu =in !im berada di ba+ah loteng& %endengar pembicaraan antara ibu dan anak itu, ia merasa gelisah& !egera ia naik tangga loteng& Dari jauh ia sudah mengedipngedipkan mata pada Kiok <i, maka mereka berdua menghampiri ibu yang sedang naik pitam itu& %ereka menghadang di depan si nyonya& 2 yonya ,esar, jangan marah,6 kata =in !im& 2 ona masih muda, ia tidak bisa bicaraI6 Teng#si berdiam, tetapi dengan sorot matanya yang tajam ia menatap putrinya itu& 2%ama tidak mau bicara lagi denganmuI6 kata ibunya& 2Dua hari lagi, akan menemui kau untuk bicara dengamuI %ama mau pergiI6 ,enar saja, dengan mengajak Kiok <i, sang ibu berlalu, menuruni loteng& =in !im segera mengamati nona majikan itu& Eng Tay bersikap +ajar saja, ia masih memandang ke luar jendela, memandangi langit& ,ahkan kemudian, ia tersenyum& Tong#si berlalu dengan hati masih panas& 5ngin ia segera bicara dengan suaminya untuk menceritakan tentang kekerasan hati putrinya, tetapi kemudian ia berubah sikap& 5a kha+atir, kalau ia bicara dengan suaminya, urusannya nanti menjadi kacau#balau& %aka, pikirnya, lebih baik ia menunggu saja mendekatnya hari pernikahan, barulah masalah itu dimunculkan lagi& 5a ingin menyaksikan, apakah putrinya masih terus membangkang atau tidak&"ada saat itu, suaminya tentu akan turun tangan juga& Demikianlah, ia segera berpesan pada semua orang agar menga+asi Eng Tay&

%4 Naik Perahu
:3%,3T#laun, Eng Tay mengetahui sikap ibunya yang selalu menga+asi gerak#geriknya& 5a tidak peduli& %alahan sekarang, ia telah berpikir untuk kalau tiba saatnya, ia akan menghabisi nya+anya sendiri&&&& Demikianlah, hari#hari telah berlalu dengan tenang sampai pada a+al bulan ke#sembilan& Jdara kini berubah menjadi sejuk& <ustru itu, keluarga Ciok tampak sibuk& "akaian untuk gadis pengantin sedang disiapkan& Jntuk

pesta, segala barang yang diperlukan pun sedang dibeli& !emua orang tampak repot, akan tetapi Eng Tay bersikap masa bodoh& "ada suatu hari, Ciok Kong Can menemui istrinya di kamarnya& Teng#si sedang mengukur kain untuk membuat baju pengantin putrinya& 2,eberapa hari ini aku tidak melihat Eng Tay,6 kata suaminya& 2%ungkinkah karena hari pernikahannya semakin mendekat, dia tidak mau ke luar46 2Aa, mungkin itu sebabnya,6 ja+ab Teng#si, si istri& 5a memang sedang kurang memperhatikan putrinya itu karena sekian lama tidak ada laporan apa pun dari para abdi yang diperintahkan untuk mengamat#amati putrinya& 2,agaimana dengan pakaian pilihan kita46 tanya Kong Can& 23pakah Eng Tay setuju46 !ang istri melepaskan jarumnya, ia menghadapi suaminya& 2,elakangan ini, adat Eng Tay semakin keras,6 katanya& 2!emua bahan pakaian pilihan kita adalah istime+a, tetapi anak itu, melihat pun tidak sudiI6 2Eh, kenapa begitu46 2Dia sangat tidak puas berkenaan pernikahannya dengan putra keluarga %a& %engenai ini, aku pernah bicara padanya, memberinya nasihat, tetapi dia, dia tak sudi memperhatikanI6 27abis, apa maunya46 2%ana aku tahu4 Dia bahkan bicara semakin kasarI Katanya, meskipun ada perintah raja, dia tak sudi menikahI6 Kong Can menghentakkan kaki& 2=ilaI6 serunya& 2Kapan ia ucapkan itu46 2Kira#kira dua bulan yang lalu&&&&6 2,egitukah4 ,ukankah itu tak pantasI6 2Aa, begitulah&&&&6 3yah ini menjadi sangat kece+a& 2Coba panggil dia, akan ku tegur diaI6 2!ikapmu ini tidak akan menyelesaikan persoalan,6 kata Teng#si& 2,ila kau panggil dia, kau harus bicara dengan sabar& 3nak itu tabiatnya keras, tetapi dia tak akan tidak acuh&6 Kong Can melipat kedua belah tangannya, ia berjalan mondar#mandir, otaknya bekerja keras& Kemudian dia mengangguk dan berkata: 2,aiklah, akan ku turuti pikiranmu& Kiok <i, pergilah kau undang nonamu datang ke mariI6 Teng#si terta+a& 2!ungkan, ya46 katanya& 2Keluar juga kata mengundang&&&&6 Kiok <i berada di luar jendela, di saat ia hendak berlalu, nyonya majikannya berkata padanya: 2<angan pergi dulu, sini, kau dengar perkataanku&6 3bdi itu menurut, ia menghampiri majikannya& 2,ila nanti bertemu dengan onamu,6 pesan Teng#si, 2jangan kau katakan hal lainnya, cukup bah+a tadi ketika kau berada di luar, Tuan ,esar menyuruhmu memanggilnya& 5ni penting sekali, kau jangan sembarang bicaraI6

2Tak perlu dipesan lagi, yonya ,esar, hambamu sudah tahu,6 kata Kiok <i yang segera saja berjalan cepat menuju 7+e !im :a+, bahkan ia langsung mendaki tangga loteng& ,egitu bertemu dengan Eng Tay, ia berkata: 2Tuan ,esar sedang berada di kamar yonya ,esar, ona diminta lekas datang menemuinya&6 =adis itu menga+asi abdi itu& 2Ketika Tuan ,esar menyuruhmu, dia tampak gusar atau tidak46 tanya Eng Tay& 23bdimu berada di luar tatkala Tuan ,esar memanggil,6 kata Kiok <i& 2!e+aktu aku masuk, Tuan ,esar lagi marah atau tidak, aku&&&&6 2,enar#benar kau tidak tahu46 tanya si nona menegaskan& =in !im juga berada di loteng, ia terta+a& Eng Tay segera berkata: 2!aat begini Tuan ,esar memanggilku, pasti ia sedang marahI6 2Tidak, on,6 kata Kiok <i, 2kalau Tuan ,esar bicara, ia pasti bicara dengan haik#baik&&&&6 2,enar itu46 23ku berada di luar jendela saat mendengar panggilan, on&6 2,ukankah kau sedang berada di luar maka barulah kemudian kau masuk46 tanya gadis itu lagi& Kiok <i terta+a& 5a menganggap nona majikannya itu lucu&&&& =in !im pun turut terta+a& 2,aiklah, on, aku akan berterus#terang,6 kemudian kata Kiok <i lagi& 2!ekiranya Tuan ,esar tahu, paling juga aku dirangket&&&&6 Dan pelayan ini menceritakan apa yang ia lihat dan dengar perihal gerak#gerik Ciok Kong Can, sang majikan& 2 ah, bagaimana ya46 kata Eng Tay& 2%emang aku telah menduganyaI !ekarang, ayo jalan, aku tak akan memberitahukan Tuan ,esarI6 Kiok <i mengangguk, lantas ia pergi, nona majikannya mengikuti& Kong Can sedang berjalan mondar#mandir ketika ia melihat kedatangan anak gadisnya& !egera ia terta+a dan berkata: 2!elamat, 3nakku, selamatI6 Eng Tay tidak segera menanggapi& 23da apa, "a46 tanyanya& 23ku biasa diam di dalam kamar, apa yang harus diberi selamat46 23da kabar baik, akI6 ja+ab ayahnya& 2!ekarang ha+a udara sedang nyaman& Keluarga %a telah memberi kabar bah+a pada akhir bulan ini akan dilakukan penyambutan guna menjalankan upacara pernikahanI 5ni soal hidup seratus tahun, masalah andalan bagimu seumur hidupI ,ukankah itu kebahagiaan yang harus diberi selamat46 Tetapi Eng Tay menggoyangkan tangannya& 2Tentang lamaran keluarga %a, aku belum pernah menyetujuinyaI6 katanya& 2Katanya dia memberi kabar hendak melakukan penyambutan mempelai, mempelai siapakah yang hendak disambut46 %endadak Kong Can berdiri tegak, dengan tajam ia

menga+asi putrinya& %asih dapat dia menguasai diri lalu diusapnya janggutnya& Dia pun terus berkata dengan sabar: 2Ketika io !an "ek masih hidup, kau hendak menikah dengannya, ini menolak& "apa justru menghendaki kau menikah dengan %a ,un Cay, +aktu itu kau menolak sekeras#kerasnya& 5tu masih masuk di akal, ada alasannya, tetapi sekarang setelah io !an "ek meninggal "apa mau menikahkan kau dengan keluarga %a, maka kau, ak, tidak beralasan lagi untuk menolak&&I6 23pakah beralasan dan tidak beralasan itu46 putrinya balik bertanya& 2%eskipun !an "ek sudah tiada tetapi aku, aku telah bersumpah bah+a seumur hidupku tidak akan menikahI 5nilah kehendak Tuhan Aang %ahakuasaI6 25tu alasanmu yang tidak masuk akalI %emangnya siapa yang mengi'inkan kau dijodohkan dengan keluarga io46 Eng Tay mengangguk& 2!iapa yang mengi'inkan, yang menerima baik lamaran keluarga io46 ia balik bertanya& 25tulah akuI %ustahilkah kalau aku menyerahkan diri sendiri, itu tidak boleh4 Kalau demikian, dengan kekuasaan "apa sebagai orangtua, apakah aku bisa dijual#belikan4 ,olehkah itu46 Ciok Kong Can mengusap janggutnya& 2"apa bilang kau nga+ur, malah lebih lagiI6 kata ayahnya& 2 menjodohkan kau dengan keluarga %a, itu berarti kemuliaan bagimuI 7al itu tidak ada jeleknyaI 3da berapa banyak gadis, yang memimpikannya pun tidak bisaI Kalau demikian, apakah dapat dikatakan si ayahbunda menjual putrinya46 2Kenapa tidak46 kata Eng Tay menyahut& 2%emang, keluarga %a itu sangat penting dan berpengaruh, tetapi hanya "apa yang dapat meminjam pengaruhnya itu&6 Tiba#tiba saja, Kong Can tak dapat lagi menguasai amarahnya, ia sampai menggebrak meja& 23nak kurang ajarI6 teriaknya& 2,agaimana kamu berani mela+an %ama#46 Teng#si kaget, ia menarik baju putrinya& 2 ak, kau tidak selayaknya berkata bah+a meminjam pengaruh keluarga %a,6 kata si ibu& 2Kau tahu, "apa dan %ama ini cukup kaya, mana mungkin kami menjual anak4 !udah, sekarang semua harus tenang saja& Kita bicara sampai di sini saja, besok kita sambung lagi&&&&6 Eng Tay menga+asi ayahnya, ia maklum sikap keras ayahnya, maka ia lantas berkata& 2,aiklah, aku pergi dulu& Tapi, biar bagaimana juga, kapan pun, aku tidak mau menikahI6 !etelah berkata demikian, gadis yang tiba#tiba menjadi keras kepala ini, lantas meninggalkan ayah#bundanya itu begitu saja& =in !im segera mengikuti nona majikannya itu kembali ke kamarnya& 5a merasa lega melihat ggdis itu bersikap tenang#tenang saja& %aka ia berkata: 2 on, hari ini Tuan ,esar bersikap tidak seperti biasa&&&& =adis itu lantas duduk di kursinya, bahkan dia terta+a& 2Kejadian ini telah ku duga,6 katanya& 2Dan aku telah memikirkan pemecahannya, tak usah kau kha+atir&6

=in !im bingung, namun ia tidak mau bertanya lagi& !ikap nona majikannya kali ini luar biasa, pikirnya& ,iasanya, majikannya itu tak pernah merahasiakan apa pun padanya, tetapi kali ini lain& %alahan gadis itu bisa tersenyum selagi suasana sangat tegang& amun toh, ia bertanya juga: 2 on, besok pasti yonya ,esar datang ke mari, bagaimanakah sikap ona46 2Kapan tiba saatnya yang paling sukar, aku mempunyai dayaku,6 ja+ab majikannya& 2Tapi apa dayaku itu, sekarang kau tak usah tanyakan&6 Terpaksa =in !im menutup mulutnya, hanya ia menerka#nerka di dalam hati& Tengah hari keesokan harinya, sehabis bersantap, Tengsi masuk ke kamar putrinya sesudah ia mencari tahu dulu apakah putrinya itu berada di loteng& 5a heran se+aktu melihat bah+a tidak terjadi perubahan apa#apa pada anak gadisnya itu& Eng Tay tampak tenang#tenang saja membaca buku& !ang ibu batuk#batuk untuk memberi tanda kedatangannya& %endengar suara ibunya, Eng Tay meletakkan bukunya dan menoleh& 2%aI6 panggilnya& Teng#si lantas saja duduk di depan putrinya itu& 5a melihat ke sekitarnya& 5a tidak mendapatkan =in !im di situ, lantas ia mulai bicara: 2!aat ini bagus sekali, enak buat kita bercakap#cakap&&&&6 Eng Tay tidak menanggapi& 5a mengangkat bukunya tetapi segera diletakkannya pula& Kelihatannya ia hendak membaca, namun batal& 2%ama ingin bicara denganmu, ak,6 kata Teng#si lagi& 2:etakkan bukumu dulu supaya kita enak bicara& ,isa, bukan46 2Tetapi, %a, aku tak tahu maksud kedatangan %ama ini,6 kata putrinya& 2,ukankah %ama hendak mengulangi pembicaraan kita kemarin4 Jrusan itu sudah cukup dibicarakan, apakah sekarang hendak diulangi lagi46 2%ama belum bicara, ak, kau sudah menghalangi,6 kata ibunya& 2!ebenarnya juga, %ama ingin bicara&6 =adis itu mengangguk& 2 ah, bicaralahI6 ia menganjurkan& 2Keluarga %a itu&&&&6 23h, sudahlah, %aI6 gadis itu memotong& 2<angan %ama sebut#sebut itu pula, janganI %endengarnya saja, aku sudah muak&&I6 2Oh&&&I6 si ibu gugup& 2Katamu tidak mau menikah, ak, lalu, di rumah saja, kau hendak melakukan apa46 2%era+at "apa dan %ama&&&&6 23h&&&&I6 kata ibunya, yang menepuk pahanya& 2,agaimana kalau "apa dan %ama sudah meninggal&&&46 2Di saat itu aku juga sudah tua, maka selanjutnya aku akan menutup pintu, membaca buku saja, untuk menenteramkan hati&6 25tu pikiran yang bukan#bukan& Kami orangtua tidak punya anak lelaki, maka menantu lelaki menjadi separuh anak juga& Kalau kau menikah dengan %a ,un Cay, jika

nanti kau memperoleh anak lelaki, anak itu bisa diambil menjadi turunan keluarga Ciok& ,ukankah itu baik sekali46 2!udahlah, %a, tak usah %ama bicarakan lagi& Kalau %ama bicara juga, aku tidak mau mendengarnyaI6 ,erkata begitu, gadis ini mengambil bukunya, terus ia membaca& Ketika ibunya berkata#kata lagi, ia seperti tidak mendengarnya& Teng#si ke+alahan& Tatkala ia masih mencoba bicara lagi, ia tetap tidak mendapat tanggapan& %aka akhirnya ia benar#benar ke+alahan& !egera ia bangkit berdiri dan akhirnya berkata: 2,aiklahI Kau bicara saja nanti dengan&&&&6 5bu ini berjalan ke luar, ia menarik napas panjangpendek& !e+aktu Kong Can, suaminya, menanyakan, ia membungkam& 3yah itu penasaran, ia suruh beberapa pelayan perempuannya mendatangi putrinya untuk dibujuk, tetapi sia#sia belaka, mereka itu kembali tanpa hasil& <a+aban gadis itu singkat saja: 2Disuruh menikah, tidak mauI Disuruh mati, ya, rela matiI6 Kong Can bingung sekali& Tentu saja ia tidak menghendaki kematian putrinya itu& Dua hari telah berlalu tanpa penyelesaian apa pun& Tetapi mendadak ia memperoleh suatu pikiran, maka ia lantas bicara dengan istrinya& 23nak kita tidak mau menikah, bukankah itu disebabkan oleh !an "ek46 katanya pada istrinya& 2!ekarang coba kau tanyakan dia, apa yang hendak dilakukannya untuk !an "ek, supaya ia dapat melupakan kekasihnya itu& 3sal ja+abannya masuk akal, akan ku turuti dia& !etelah maksudnya kesampaian, dia tentu mau menikah&&&&6 Teng#si ragu#ragu, akan tetapi karena demikianlah kemauan suaminya, ia mau mencoba juga& ,egitulah, ia kembali ke dalam, menemui putrinya& amun, sesaat kemudian, ia kembali dengan tangan hampa&&&&6 23pa ja+aban Eng Tay46 tanya sang suami mendahului bertanya& !ang istri menggelengkan kepala, ketika menyahut, ia tampak lesu sekali& 5a berkata& 2Kata Eng Tay, !an "ek sudah mati, dia sudah tidak punya kehendak apa#apa lagi, kalau "apa dan %ama masih punya perasaan sayang padanya, dia minta dibiarkan saja hidup menyendiri untuk menjaga kesuciannya, dan dapat mera+at orangtua saja&&&&6 2=ilaI6 seru Kong Can& 23ku tidak percayaI %ustahil seorang perempuan seperti dia sanggup melayani orangtuanya4 !udah, kau jangan campur#tangan, saat tiba harinya, akan ku ringkus dia dan ku paksa naik kereta pengantinI6 Teng#si bungkam& !uaminya sudah marah sekali& Kong Can juga selanjutnya tidak berkata apa#apa lagi& 3kan tetapi keesokannya, dua orang perantara jodoh muncul secara mendadak tanpa memberi kabar terlebih dulu& %ereka adalah :i Au !eng dan Tian :eng ,o+I

Tuan rumah segera menyambut tamunya itu& !etelah bicara sebentar, dia masuk ke dalam menemui istrinya, dan berkata pada si istri: 2Dua +akil keluarga %a telah tiba, mereka sudah menetapkan hari nikah yaitu tanggal delapan belas& Karena itu, bagaimanapun juga, kita harus beritahu tanggal ini pada Eng Tay& <uga masih ada satu hal, yaitu masalah perjalanan& Kita memilih jalan darat atau jalan air4 Kalau jalan darat, harus menginap dua malam& %empelai laki#laki akan menyongsongnya di tengah jalan& Kereta pengantin berjalan di jalan umum, tampaknya kurang serasi& !ebaliknya kalau kita memilih jalan air, kita harus mengambil +aktu tiga hari& "engantin laki#laki pun akan menyambutnya dengan perahu& Di dalam perahu pengantin perempuan, segala sesuatunya akan disiapkan selengkap#lengkapnya, seperti persiapan di rumah& %elalui jalan air, mempelai laki#laki, tak usah datang ke rumah kita& Dijalan air, sejauh dua li, ada pelabuhan tempat mempelai laki#laki akan datang menyambut& Demikianlah, soal perjalanan ini, pihak kita diminta memilih dan mengambil keputusan& Karenanya, kita harus tanyakan pendapat anak kita sebab dia gadis yang luar biasa& Demikianlah pertanyaan keluarga %a& %aka, istriku, kau harus menemui anak kita untuk menanyakan pendapatnya&6 5ni masalah agak ru+et, tetapi Teng#si toh masuk ke dalam, untuk menemui putrinya& Tetapi lebih dulu ia menanyakan suaminya, bagaimana kalau Eng Tay tetap menolak& 2Kalau sampai begitu, aku mempunyai dayakuI6 kata Kong Can& Teng#si sampai di 7+e !im :a+& !eperti biasa, ia melihat putrinya sedang membaca buku& =adis itu diam saja, dia seperti tidak mempedulikan ibunya& 23h, ak, %ama datang lagi mengganggumu,6 kata ibunya, memulai pembicaraannya& 23kan tetapi %ama datang dengan kabar baikI Kau tahu, keluarga %a sudah memilih dan menetapkan tanggal pernikahan& Tanggal delapan belas tahun ini kau akan disambut mereka&6 Eng Tay menoleh, menga+asi ibunya, tetapi ia tidak menanggapi& !ang ibu berdiri di sisi meja& Katanya lagi: 2!ekarang tinggal soal perjalanan, yaitu, jalan darat atau jalan air& %engenai hal ini, kita yang diminta memilihnya&6 Di luar dugaan, mendengar tentang jalan darat atau jalan air itu, hati gadis itu tergerak& !egera juga ia bertanya: 2,agaimana kalau jalan air, dengan naik perahu4 3pakah perahunya akan mele+ati O+#kio#tin46 23h, itu %ama tidak tahu,6 sahut ibunya& 2Kalau demikian, tolong %ama minta "apa tegaskan, pihak sana, jalan air akan mele+ati O+#kio#tin atau tidak,6 pinta Eng Tay& 2!ebentar tolong beritahu aku&6 Kembali Teng#si heran& "utrinya tidak marah, malah tertarik& Tapi ia toh bertanya& 2Kalau mele+ati O+#kio#tin, kau berarti suka naik perahu46 2,enar, %aI6 sahut putrinya& 2,arangkali tidak ada halangannya kalau aku memberikan keterangan& %akam

io !an "ek ada di sebelah timur laut O+#kio#tin, di makam Kiu#liong#hi di Ceng#to#goan&6 Teng#si diam sejenak& 5a berpikir cepat& 2<adi kau ingin menemui kuburan keluarga io46 tanyanya kemudian& 2Aa, %aI6 sahut putrinya& 25tu sudah semestinyaI6 Teng#si diam, ia bimbang& amun akhirnya ia berkata: 2,aiklah, nanti %ama tanyakan&&&&6 Dan terus saja ia pergi ke luar& !ekarang ini, +ajah si nyonya tidak lagi memperlihatkan kebingungan seperti tadi& 2,agaimana ja+abannya46 Kong Can mendahului menanyakan istrinya& 2Dia setuju46 23nehI6 ja+ab si istri& 2Dia tidak menolak, juga dia tidak menerima, hanya dia bertanya, kalau jalan air, perahunya mele+ati O+#kio#tin atau tidak& Ketika ku tanya, apa perlunya dengan O+#kio#tin yang tiada sangkut#pautnya dengan keluarga Ciok, dia berkata kuburan !an "ek#ada di sana&&&&6 Kong Can membelai#belai janggutnya& 2Oh, begitu46 katanya& Dia pun heran& 2Tapi, mele+ati O+#kio#tin atau bukan, mana ada aturan untuk memberitahu dia atau tidak&&&&I6 2Kau tololI6 kata Teng#si& 2,ukankah cukup asal kau dapat menipu dia hingga dia suka menaiki perahu4 "eduli apa dengan kuburan keluarga io atau bukan46 Kong Can merunduk, ia berpikir& 2Kalau begitu, beritahu dia, perahunya mele+ati O+kio# tinI6 katanya akhirnya& Teng#si menggoyangkan tangan& 2Kita tak boleh mendustai diaI6 katanya& 2Kau tahu adat Eng TayI6 2,aiklah, nanti ku tanya dulu,6 kata Kong Can& Terus saja ia kembali ke ruang tamu, menemui dua perantara itu& Tidak lama kemudian, ia sudah kembali pada istrinya& 5a berkata: 2,enar, perahunya akan le+at O+#kio#tin& 3ku ditanya, pertanyaan ini datang dari Eng Tay atau ada hal lainnya, aku menja+ab dengan berdusta& Ku katakan bah+a putri kita mempunyai sahabat di O+#kio#tin dan putri kita itu hendak mengunjunginya& Kedua tamu itu mengatakan tak soal bila perahu singgah di O+#kio#tin& ah, sekarang kau pergi kabarkan padanya& 3ku mau tahu, apa lagi tanggapannya&6 Teng#si terpaksa menurut, ia masuk lagi ke dalam& %elihat ibunya, tanpa menanti si ibu berkata, gadis itu sudah mendahului: 23pakah akan mele+ati O+#kio#tin46 2,enar, ak,6 ja+ab ibunya& 2 ah, apa lagi pertanyaanmu46 2!ekarang aku hanya mau minta bertemu dengan "apa, untuk mendengar dari "apa sendiri apakah "apa menerima baik atau tidak permintaanku& 3sal "apa terima, segala hal mengenai diriku seumur hidup, kupasrahkan pada "apa& Kalau malah sebaliknya, sampai mati pun aku tidak akan ke luar dari rumah keluarga Ciok iniI6 Teng#si melengak sejenak& 2<adi kau mau bicara sendiri dengannya46 tanyanya& 2,aiklahI %ari kita menemuinyaI6

!i ibu segera berjalan, dan putri itu mengikuti& Di dalam kamar, Kong Can tampak sedang membenahi kain untuk keperluan pernikahan& 5a tampak tidak gembira& ,egitu masuk, melangkahi pintu, Eng Tay segera memanggil: 2"a&&&I6 Kong Can melepaskan kain di tangannya, dia menoleh& Dia pun mengangguk, 2Oh, kau, akI6 sahutnya& 2Kau hendak bicara apa46 =adis itu mengangguk pada ayahnya& 23yo, duduklahI6 kata Teng#si menyelak& 2Kau baru tiba, kau ini mirip tamu saja&&&&6 2Tak usah, %aI6 kata Eng Tay& 23ku ingin tanya "apa, kalau kita naik perahu, apakah kita akan mele+ati O+#kiotin atau tidak46 2,enar, ak& Kita akan mele+ati O+#kio#tin,6 ja+ab ayahnya& 2Di O+#kio#tin itu, di timur lautnya ada makam Kiuliong# hi,6 kata Eng Tay& 2Di sana ada kuburan io !an "ek& Ku harap, setibanya di sana, aku dapat mendarat sebentar saja& Aa, aku hendak ber'iarah ke makam io !an "ek untuk menyampaikan kerinduanku, kerinduan yang terakhir kali&&&&6 25ni&&&6 kata Kong Can tertahan& 2"apa jangan ragu#ragu,6 kata Eng Tay memotong& 2<ika "apa i'inkan aku mendarat, aku akan memberi hormatku yang terakhir pada Kakak !an "ek, seandainya tidak boleh, ya sudah, aku pun tidak akan naik perahuI6 Kong Can tercengang& "ertanyaan yang sangat menyulitkan, jelas putrinya memaksakan permintaannya& %enerima salah, menolak juga salah, bagai buah simalakama& Teng#si yang berada di sisi mereka tahu kebimbangan suaminya& Dalam keadaan seperti itu, ia memberanikan diri berkata& 2!udah, i'inkan sajaI6 demikian katanya& 2%enghormati pihak io pun ada baiknya&6 Kong Can masih berpikir, barulah kemudian ia mengibaskan tangannya& 2,aiklah, "apa i'inkan kau memberikan penghormatanmuI6 katanya akhirnya& 2Tetapi masih ada satu permintaan, "apaI Kau tak boleh mengenakan pakaian berkabungI6 2,aik, "a, ku turuti perintah "apaI6 kata gadis itu cepat& 2 amun, sekali seorang terhormat mengeluarkan katakatanya, dia tak dapat menyesali dan menariknya kembaliI6 Tanpa tedeng aling#aling gadis ini mendesak ayahnya yang dianggapnya orang terhormat& 2Kalau "apa menolak, "apa tetap menolak,6 kata ayahnya& 2!etelah "apa i'inkan bagaimana "apa bisa menariknya kembali4 Tetapi "apa ingin bertanya, dengan kepergianmu ini, kau akan pergi ke rumah keluarga %a atau tidak46 Orang tua ini pun masih ragu#ragu, kha+atir diperdayai putrinya yang cerdik ini& =adis itu menja+ab dengan cepat&

2"erahu itu milik keluarga %a, lalu aku hendak kabur ke mana46 demikian ja+abannya, yang mirip pertanyaan pula& !ampai di situ, Teng#si menyelak lagi& 2"utri kita sudah bicara, perkataannya sepatah ya sepatahI6 demikianlah sang istri ini mencoba menengahi& 2"utri kita ini sudah memberikan ja+aban, pasti dia tidak akan mengingkarinyaI6 2,aiklahI6 kata suaminya akhirnya& 23ku mau pergi ke depanI6 Eng Tay tidak mempedulikan apa#apa lagi, langsung ia kembali ke lotengnya& =in !im mengikuti nona majikannya itu& 23pakah ona bersedia menikah dengan keluarga %a46 tanya abdi itu, heran& 2Kalau aku menolak, bagaimana46 gadis itu balik bertanya& 2!eandainya ona tetap menolak, mustahil Tuan ,esar memaksa dengan mengikat ona&6 2Ternyata kau berani, =in !im& Tetapi hal ini lebih baik tidak kau campuri& Tetap sudah keputusanku untuk naik perahuI amun, bagaimana pendapatmu46 !i abdi membungkam, ia tak dapat menja+ab, maka ia menga+asi majikannya itu& Eng Tay menatap pelayannya ini& 27ayo bicaraI6 desaknya& 25ni adalah saat kritis terakhirI6 2 on, aku hanya mengikutimu saja& Ke mana ona pergi, ke sana aku turut jugaI 25tu aku sudah tahu& 3ku tanya tentang perasaan hatimu sendiriI6 2!aya sudah mengambil keputusan seperti ona& !aya tak mau menikahI6 25tu baru separuh bunyi hatimu,6 kata nona majikannya itu& 2,aiklah, yang sebagian lagi aku yang katakan padamu& 3ku ingin menyerahkan kau pada !u Kiu supaya kalian dapat hidup bersama seratus tahun&&&&6 =in !im tertegun, tetapi ia tersenyum#simpul& Eng Tay mengangguk& 2"asti itu dapat terlaksana,6 kata si majikan& 2Tiba saatnya nanti tentu ada orang yang menggenapinya& 3ku akan naik perahu, kau tetap ikuti aku& Kau akan mengerti bila nanti tiba saatnya&&&I6 =in !im menerima baik perkataan majikannya itu, meski ia masih belum jelas& 5a mencoba untuk tidak memikirkannya& !ejak hari itu, semua orang di rumah keluarga Ciok mengetahui bah+a nona mereka telah menerima lamaran pernikahan dengan keluarga %a& !emua pun lantas bekerja, mengerjakan ini dan itu dengan hati gembira& !ebaliknya dengan Eng Tay sendiri, dia tidak mempedulikan apa pun juga& Demikianlah, pada tanggal 0$, perahu yang dikirim keluarga %a untuk menyambut pengantin telah tiba, terus berlabuh di tempat sejauh satu li dari rumah keluarga Ciok& Telah datang dua buah perahu dengan dua puluh

anak buahnya& Ciok Kong Can lantas memeriksa perahu, terus ia mengatur barang#barang yang hendak diba+a#serta oleh beberapa orang pengikutnya& 5a sendiri bersama istrinya akan mengantarkan putrinya, sebab tak tenteram hatinya membiarkan Eng Tay pergi tanpa pengantar sebagai +akilnya& %engenai =in !im, abdi ini tetap ikut dan bertempat di perahu nona majikannya& "ada tanggal 09, semua orang sudah berada di atas perahu& Eng Tay tidak mengenakan pakaian baru, hanya baju hijau& 5a pun tidak berhias atau memakai bedak& %elihat demikian, Teng#si, si ibu tidak puas, akan tetapi mengingat masih ada +aktu dua hari untuk berhias, ia melegakan hatinya, ia membiarkan saja& "erahu yang ditumpangi Eng Tay berada di sebelah belakang, perahu ayah#bundanya di depan& <endela perahu gadis itu dirintangi dengan sejenis jala yang tertutup dedaunan hingga tangan pun sukar dijulurkan& %elihat itu, Eng Tay tersenyum dalam hati& Kamarnya diperlengkapi dengan ranjang, meja dan kursi batu& Di atas meja terdapat beberapa jilid buku& <elas lengkaplah persediaan yang dibutuhkan& 2"erahu ini bagus sekali,6 kata Eng Tay& 2Kalau "apa tidak memanggilku, aku tidak mau pergi ke perahu "apa&6 Kedua orangtuanya meng#iya#kan& !elama dua hari pelayaran tidak terjadi hal yang tidak menyenangkan& Di hari ketiga, perahu itu pun mulai memasuki sungai Aong& Tetapi hari itu, mendadak saja angin berhembus kencang hingga air sungai bergelombang, tidak seperti biasanya& 3nak buah perahu dengan cepat menurunkan layar& 3ir sungai naik setinggi tiga kaki, suaranya berdebur keras& Tentu saja, tubuh perahu pun oleng, naik#turun& Ombak putih datang dan pergi bergantian& Kalau ombak muncrat di tepi kiri dan kanan sungai, orang tak dapat melihat dengan jelas +ujud rumah yang teraling pepohonan& Daun#daun tua ber+arna kuning, terbang berhamburan tertiup sang bayu& !udah pasti, di atas perahu pun, orang tak dapat berdiri tenang& 2Tempat ini, apa namanya46 tanya Eng Tay pada anak buah perahu& 25nilah O+#kio#tin,6 gadis itu mendapat ja+aban& 2Di sana itu adalah tempat yang disebut Kiu#liong#hi&6 2OhI6 seru gadis itu& 23yo cepat kau berlabuhI6 2Tak usah 3nda perintahkan, on,6 kata si tukang perahu& 2Kita memang mesti singgah di sini& =elombang terlalu besar dan berbahaya bagi kita&6 Eng Tay melongok ke luar jendela, ke sebelah kanan& 23ku ingin kalian berlabuh di dekat Kiu#liong#hi, bisakah46 tanya lagi& 2,isa, onI6 demikian ja+ab si tukang perahu& "erahu pun mulai menuju Kiu#liong#hi&

*5 Sepasang Kupu.kupu
%E J*JT keterangan anak buah perahu, tempat yang disinggahi itu benar adalah Kiu#liong#hi, di dalam daerah O+#kio#tin& Ciok Kong Can merasa gelisah, setibanya di O+#kio#tin ini, mendadak saja datang angin besar hingga air bergelombang& 3khirnya, ia menanyakan seorang tukang perahu: 23ngin dan gelombang ini akan bertahan sampai berapa lama46 2%ungkin tak lama,6 ja+ab orang yang ditanya& Kong Can menjadi tenang, ia mengusap#usap janggutnya lalu berdiam diri& 3nak buah perahu pun menurunkan jangkar, maka berlabuhlah kedua perahu itu& :antas Eng Tay menghadap ke perahu ayahnya, dan berkata pada ayahnya: 2"a, kita sudah sampai di O+#kiotin, sekarang aku mau mendarat untuk ber'iarah ke kuburan io !an "ek& ,erapa orang kiranya boleh ku ajak46 Kong Can tidak segera menja+ab, jelas ia berpikir dulu& 2Cukup kau ajak =in !im seorang saja,6 demikian ja+abannya& amun ia menambahkan: 2Tetapi di sini semua orangnya keluarga %a, kalau mereka mau turut, aku tidak dapat melarangnya&&&&6 2Terima kasih, "a&6 Kalau mereka mau turut, biarkan sajaI6 Teng#si tidak berkata apa#apa, akan tetapi dengan kedua matanya, ia menga+asi kepergian putrinya itu& Eng Tay bergelung T$i in-ki - 3+an ,ersusun& 5a bersalin pakaian serba merah, ia pun mengenakan dengan lengkap perhiasan rambutnya& ,ajunya bersulamkan seekor kupukupu ber+arna#+arni serta bunga &o@-tan atau peony& !epatunya bersulamkan kepala burung :ong, phoeniN& 5a pun berbedak secara serasi hingga tampak sangat ayu& !ang ibu heran melihat dandanan putrinya itu, hingga ia berkata: 2 ak, dandananmu kurang tepat& Kau toh hendak pergi ke makam, mengapa kau berpakaian begitu bagus46 2Tetapi, %a,6 ja+ab putrinya, 2"apa telah melarangku mengenakan pakaian berkabung, maka dari itu sekarang aku berpakaian seperti iniI6 Teng#si membungkam, ia melengak& Tetapi, tidak demikian dengan suaminya& Kong Can menuding putrinya: 2"apa melarangmu mengenakan pakaian berkabung, tetapi bukan mengi'inkan pakaian macam iniI6 23h, sudahlahI6 ujar Teng#si akhirnya menengahi& 2"akaian apa juga, sama saja& Kita tak perlu menarik perhatian orang banyak&&&&6 Eng Tay berjalan perlahan#lahan& 2"a, %a, aku berangkat,6 katanya tenang& 2,aiklah, ak,6 kata ibunya& 2Tapi kau harus lekas pergi lekas pulang&6 Eng Tay mengangguk& Tadinya ia mau berhenti sebentar

untuk mengatakan sesuatu, namun ia batalkan& 5a kha+atir nanti ayahnya bicara lagi& Dengan langkah hatihati, ia berjalan di papan jembatan sampai tiba di darat, di tepian& Di tepian itu tampak orang#orang keluarga %a bertebaran& Eng Tay mengetahui hal itu, ia diam saja& =in !im mengiringi nona majikannya, ia pun melihat orang#orang keluarga %a, ia juga tidak mengatakan sesuatu& 5a bungkam seperti nona majikannya itu& Keduanya berjalan dengan tenang& <alanan di depan terpecah dua, barat dan utara& <alan yang di tengah, di depan, tampak banyak pepohonan, lebat, hingga tak tampak orang berlalu#lalang& ,erjalan lebih jauh, di antara dua baris pepohonan, tampak segundukan tanah # tumpukan tanah yang baru diuruk& Di sisi gundukan itu, terdapat sebuah batu nisan dengan sebaris huru; berbunyi: Kuburan io !an "ek& Tak ragu lagi, itulah tempat io !an "ek beristitahat untuk selama#lamanyaI Eng Tay mempercepat langkahnya hingga ia tepat berada di depan kuburan yang lantainya terbuat dari batu hijau itu& !egera ia menjatuhkan diri, berlutut, dari mulutnya pun serta#merta ke luar suaranya yang parau: 2Kakak !an "ek, inilah 3dikmu, Eng Tay&&& 3ku ingat janji kita dulu, kau akan menantikanku di jalan ke dunia yang lain& ah, sekarang aku le+at di sini, maka inilah saatnya kita berkumpul bersama&&&I6& Tangisan sedih menyusuli ratapan gadis itu& Tepat pada saat itu, sekonyong#konyong saja, bertiuplah angin kencang, melintas, terdengar di antara pepohonan& !ebaliknya dipucuk pohon, di atas, tampak sinar kuning bagaikan kilau emasI =in !im terkejut, ia menghampiri nona majikannya yang sedang berlutut di depan kuburan& Di saat mendekat, ia mendengar suara majikannya: 2Kakak !an "ek, aku ingat janji kita dulu& Di kuburan ini akan dipasang dua batu nisan, satu atas nama io !an "ek, yang lain atas nama Ciok Eng Tay, tetapi sekarang, mengapa cuma satu batu dengan nama io !an "ek saja&&&6 !ehabis berkata demikian, Eng Tay bangkit, untuk memeluk nisan sang kekasih& Tangisannya yang keras pun menyusul& Tiba#tiba saja, a+an hitam bergulung#gulung di angkasa, disusul dengan kilat yang menyambar#nyambar, bergerak#gerak bagaikan seekor naga kuning, berkelapkelip, bersuara nyaring, kemudian diikuti dengan suara guntur yang menggelegarI =in !im terkejut, ia takut hingga tubuhnya menciut, dan kedua tangannya dipakai untuk menutupi matanya& 7ujan pun segera turun, butirnya besar#besar& 7ingga dalam sekejap saja, basah#kuyuplah tubuh semua orangI 5tu belum lengkapI Di saat menegangkan semacam itu, tiba#tiba tanah kuburan !an "ek terbuka, merekah, sambil memperdengarkan suara nyaring, dan mencuatlah sebuah

batu nisan bercacahkan lima kata besar: Ciok Eng Tay #i ok, artinya, Kuburan Ciok Eng Tay& 3neh luar biasa, selagi hujan turun demikian derasnya, tubuh Eng Tay tidak basah& 5a berdiri di samping batu nisan ituI %enyaksikan hal itu, dari kaget dan gugup, Eng Tay menjadi girang tiada#kepalang& 5a segera berteriak: 2Kakak !an "ek, lekas buka pintu, 3dikmu sudah datangI6 7ebat teriakan gadis itu& !uaranya bagaikan menggetarkan bumi& Dan, luar biasa, segera terjadilah keajaiban: Tanah kuburan itu merekah, dengan memperdengarkan suara nyaring? terbuka lebar#lebar, seperti dua daun pintu yang dibentang& Dari liang lahat terlihat cahaya terang api lilin& Tanah bongkaran itu bertumpuk di kedua sisi& %enyaksikan hal itu, Eng Tay menjerit lagi: 2Kakak !an "ek, 3dikmu, datang&&&I6 %enyusul ucapannya itu, tubuh gadis itu bergerak, melompat, masuk ke dalam liang kubur&&&& =in !im kaget bukan#kepalang, cepat ia menyambar tubuh nona majikannya itu, akan tetapi sudah terlambat& 5a cuma dapat menggenggam ujung bajunya yang robek, tinggal secuil di tangannya& Tubuh gadis itu telah masuk ke dalam liang lahat, dan kuburan itu pun segera tertutup dengan sendirinya, tanpa bekas#bekas terbukaI !emua kejadian itu susul#menyusul dengan cepat sekali, secepat kilauan sang kilat& ,egitu berkelebat, begitu lenyap& =in !im tertegun, ia terperanjat dan juga takut& 5a sangat heran& ,ukan main menyesalnya ia& Kini ia hanya memegangi sobekan baju nona majikannya& =adis itu sendiri lenyap entah ke mana&&&& !ekian lama =in !im berdiri tercengang, ia seakan#akan lumpuh& !etelah itu hujan pun berhenti, langit terang kembali seperti sediakala& !egalanya sunyi& Tiada jalan lain, =in !im berpikir untuk kembali ke perahu& Tetapi saat itu juga, satu kejadian lain menyusul& !obekan baju di tangannya itu, bukan lagi cuilan baju, dan tijba#tiba berubah menjadi seekor kupu#kupu ber+arna+arni, indah sekali& Kupu#kupu itu terbang di antara rerumputanI ,ersamaan dengan rasa herannya, =in !im berniat menangkap binatang itu, namun ia gagal& !ang kupu#kupu terbang, tak dapat ditangkap& 5a penasaran, ia mengejar, namun sia#sia saja& Kupu#kupu itu terlalu gesit dan lincah& !etelah terbang di atas kepala abdi yang setia itu, terus dia terbang tinggi, menghilang&&&& =in !im membelalak, menga+asi, sampai ia tersadar& !elang sesaat, selagi abdi ini berniat kembali ke perahu, tiba#tiba ia mendengar suara bertanya: 2=in !im, baru saja hujan lebatI %ana onamu46 Ternyata orang yang menegur itu, yang baru tiba adalah Teng#si& Di samping si nyonya, juga ada Ciok Kong Can, sang majikan& %ereka itu datang karena telah terlalu lama menantikan kembalinya putri mereka&

!ejenak =in !im bingung& 5a bicara atau tidak4 ,agaimana kalau ia membungkam4 %ana tanggung ja+abnya4 Kalau ia bicara sebenarnya, apakah ia akan dipercaya4 Tetapi jelas, nona majikannya telah lenyap&&&& 3khirnya, mau tidak mau, hamba ini menja+ab yang sebenarnya& Kong Can dan Teng#si kaget bukan main, mereka tercengang& 7al itu teramat anehI !ulit untuk mempercayainyaI 2=ila kauI6 damprat Kong Can& 2,agaimana mungkin manusia hidup bisa lompat masuk ke dalam liang kubur46 2Tetapi itu benar, Tuan ,esar,6 kata si abdi& 2Di sana, ada orang#orang keluarga %a yang turut menyaksikan&6 !aat itu enam orang keluarga %a, dengan tubuh basah kuyup datang mendekat& %ereka mendengar pembicaraan antara majikan dan hambanya itu, maka tanpa diminta lagi, mereka menegaskan: 2,enar, Tuan ,esar, benar apa yang dikatakan nona ini& Kami menyaksikannya sendiriI Kami berada sedikit jauh, kami tak dapat menolong& Kuburan itu merekah dan tertutup dengan sangat cepat, terjunnya gadis itu lebih cepat lagiI6 Teng#si menga+asi mereka itu& 2,enar demikian46 tanyanya& 2!ungguh anehI6 Kong Can dan istrinya masih ragu#ragu, bersama#sama mereka melangkah cepat menuju kuburan& %ereka memeriksa kuburan yang tanahnya masih baru itu& Jrukannya baru& %ereka pun menyaksikan kedua batu nisan yang berukiran nama#nama !an "ek dan Eng Tay, bukan main herannya mereka& !ejenak, mereka berdiri terpaku, mata mereka tertuju pada kuburan& !egera juga Teng#si menjerit menangis& 2Ketika masih berada di perahu, hujan besar membuatku sangat cemas,6 katanya sambil menangis& 23ku memikirkan Eng Tay, aku mengkha+atirkan keselamatannya maka aku sungguh tidak duga, dia justru lenyap secara begini aneh&&&I Oh ak, di mana kau&&&&46 Kong Can yang berhati keras juga mengucurkan airmata& ,iar bagaimanapun, ia menyayangi putrinya& =in !im menangis dengan sangat pilu& 5a pun takut disalahkan majikannya& 5a mohon maa;, tetapi ia menambahkan bah+a dirinya tidak bersalah& 2Kau memang tidak bersalah, kami tidak menyalahkanmu,6 ujar Teng#si menenangkannya& Tiba#tiba tangan =in !im menunjuk dan dari mulutnya terdengar suara yang menyatakan keheranannya: 2:ihat, kupu#kupu itu muncul lagi&&&I6 !emua orang heran, dengan sendirinya semua menoleh ke arah yang ditunjuk si abdi itu& !eekor kupu#kupu muncul, terbang perlahan#lahan& ,inatang itu cantik sekali& !ayapnya ber+arna lima macam, bergemerlapan dan terang, bercahaya gemilang& Dia lantas turun ke atas kuburan dan hinggap di rumput& amun itu belum lengkap& %endadak juga, dari belakang kuburan, muncul pula seekor kupu#kupu yang lain& Dia ini melayang, terus hinggap di sisi kupu#kupu yang pertama& !ayapnya juga indah& !etelah itu, keduanya

terbang lagi& 3kan tetapi kali ini, keduanya mengapung turun dan naik, bersamaan dan bergantian& !elang sesaat, keduanya terbang tinggi, melayang sampai di atas kepala Ciok Kong Can dan Teng#si yang saking herannya berdiri terpaku menga+asi kedua binatang itu sejak tadi& Di atas kedua suami#istri itu, kedua kupu#kupu itu terbang berputar#putar&&&& 2!ungguh kupu#kupu nan besar dan indahI6 puji beberapa orang keluarga %a& Kedua kupu#kupu itu terbang lagi ke atas kuburan, ke antara beberapa orang itu, agaknya keduanya mengerti bah+a mereka dipuji, rupanya mereka hendak mengucapkan terima kasih&&&& Tetapi kali ini, sesudah mengapung berputar#putar, keduanya semakin lama semakin tinggi, tanpa terasa mereka telah terbang jauh dan lantas lenyap dari pandangan mataI Kong Can memandang kosong menga+asi kuburan !an "ek, akhirnya ia berkata pada istrinya: 2!udahlah, mari kita pulangI Kita perlu mengetahui sikap keluarga %a& Ku pikir, kejadian ini tak perlu membuat kita mengalami kesukaran& Kejadiannya pun disaksikan oleh orang#orang keluarga itu, sedangkan kita, kita tidak tahu apa#apa& !aksi kita hanya =in !im seorang, mungkin kesaksiannya tidak cukup kuat, tetapi bersama kesaksian pihak sana sendiri&&&&6 Teng#si mengusap airmatanya& ,eberapa lama ia berdiam saja& !esaat kemudian, barulah ia berkata& 23yo kita pulang&&&&6 suaranya berat& 27arap saja kalau nanti orang#orang keluarga %a ini pulang, mereka bisa memberikan kesaksian dan hal itu diterima baik oleh keluarga %a&&&&6 Kong Can lantas menggapai =in !im& 2=in !im, mari kita pulangI %asih ada beberapa pertanyaan kami untukmu&6 !ang abdi membungkam, tetapi ia ikut pulang& 5a masih memikirkan nona majikan, orang yang ia andalkan& !esaat itu, ia bingung memikirkan dirinya, tentang masa depannya&&&& Orang#orang keluarga %a pun turut pulang, mereka tidak berkata apa#apa& %asing#masing balik ke perahu mereka& Kong Can tidak memperoleh keterangan lebih jauh, sebab peristi+a itu pun tidak diketahui oleh orang lain& Tiba dirumah, benar juga, Kong Can menanyakan =in !im, akan tetapi hamba ini tidak dapat memberikan keterangan lebih banyak& Calaupun aneh, sederhana sekali terjadinya peristi+a itu& Di lain hari, se+aktu malam gelap dan sunyi, diam#diam =in !im membuka pintu, pergi ke luar tanpa sepengetahuan siapa pun& Ternyata ia tak dapat tinggal lebih lama pula di dusun Ciok, maka ia menjauhkan diri& !ang Kala berlalu, tibalah pertengahan bulan kedua& Caktu itu, di Kang-lam selatan sungai Aang T'e, ratusan bunga bermekaran& Dan pada suatu hari, di kuburan io !an "ek, tampak !u Kiu bersama =in !imI

"epohonan dan rerumputan di sekitar kuburan, semua tampak hijau dan segar& !u Kiu bersama =in !im menjalankan penghormatan dengan berlutut dan membungkuk di depan kuburan !an "ek& Di hati mereka, itu juga kuburan Eng Tay& Kemudian mereka berdiri diam, mata mereka menatap kuburan& !e+aktu mereka menga+asi, mendadak dari antara pepohonan yang lebat muncul dua ekor kupu#kupu yang indah sayapnya, beterbangan berpasangan di depan kuburan& 25tulah kedua Tuan %uda kita, io !an "ek dan Ciok Eng TayI6 seru muda#mudi itu, girang dan kagum serta heran&&&& =in !im gembira karena ia merasa yakin, itulah reinkarnasi nona majikannya serta sang Tuan %uda& 5a mengagumi kedua pasangan itu& !u Kiu terpesona akan agung dan indahnya kedua kupu#kupu itu, yang Fri+ayatDnya telah ia dengar dari ka+annya itu, yang kini telah menjadi istrinya& Kedua abdi ini terus menga+asi sepasang kupu#kupu yang indah itu, yang sedang terbang berdampingan, mengapung turun#naik, berputar#putar di atas rerumputan kuburan yang baru itu, lalu perlahan#lahan, terbang naik, sampai ke pucuk pohon#pohon cemara yang besar dan tinggi, dan akhirnya, lenyap&&& tak tampak lagi&&&&

TENTANG PEN7(&S
8KT alias Oey Kim Tiang, lahir di Tangerang pada tahun ./1>, seorang peranakan Cina generasi ke#0, dan berbahasa 2%elayu pasar6 dalam keluarganya& 5a mendapat pendidikan ;ormal bahasa Cina di sekolah dasar& Di ba+ah bimbingan gurunya, yaitu Ong Kim Tiat (.8/>#./@$), yang juga menggunakan initial O&K&T&, OKT#muda bergelut dalam penerjemahan berbagai karya dari bahasa Cina& !ejak tahun ./01#an ia telah dikenal sebagai penyadur cerita#cerita silat dan kerajaan dari Cina dalam bentuk cerita bersambung di surat kabar dan majalah maupun dalam ;ormat buku& !adurannya sangat banyak dan amat digemari, dan sering dibajak sampai sekarang (untuk da;tar sebagian karya terjemahan atau sadurannya, lihat Claudine !almon, %iterat$re in !alay &y the #hinese o' "ndonesia( ) Pro*isional )nnotated i&liography, pada judul 2Oey Kim Tiang6 dan 2Ong Kim Tiat6)& Ketika muda, selain menyadur, ia juga terjun dalam pers sebagai korektor atau editor, suatu kegiatan yang hingga kini masih dilakukan bila membaca surat kabar, majalah, buku atau menonton tele(isi& Calau telah lanjut usia, OKT masih bersemangat tinggi untuk menyumbangkan apa saja yang dapat dilakukannya& !aduran !an "ek Eng Tay ini merupakan sumbangsihnya kepada masyarakat 5ndonesia dalam usia yang ke#89& ASA (3chmad !etia+an 3bad) lahir di ,angka pada tahun ./9.& %antan dosen Jni(ersitas 5ndonesia (J5) (./B@#./88) dan Jni(ersitas asional, mantan peneliti pada :embaga *iset Kebudayaan asional :embaga 5lmu "engetahuan 5ndonesia, mantan anggota ,adan Komunikasi

"enghayatan Kesatuan ,angsa "usat, mantan pengurus 7impunan "erserikatan ,angsa#,angsa # 5ndonenesia, ia mendapat pendidikan ;ormalnya antara lain dari Gakultas Garmasi =ajah %ada (J=%), Gakultas 7ukum Jni(ersitas Kristen 5ndonesia, Gakultas !osial dan "olitik J=%, Gakultas 5lmu#ilmu !osial Jni(ersitas 5ndonesia (J5), !ekolah Tinggi Gilsa;at Driyarkara, Gakultas Ekonomi J5, Gakultas Komunikasi serta Gakultas "olitik Jni(ersitas 7a+aii& "endidikan non#;ormal diperolehnya antara lain dari East Cest Center Communication 5nstitute& Telah menerjemahkan buku#buku antara lain, non#;iksi: !enjangka$ D$nia( !eng$ak Kek$asaan Per$sahaan !$ltinasional, 8eogra'i Keter&elakangan, Pengantar )nalisis Politik, "slam di )sia Tenggara, Pem&ang$nan erdimensi Kerakyatan7 ;iksi antara lain: No*el atas )ir (Sh$i :$ #h$an) dan Sang )yatollah/