Anda di halaman 1dari 9

TUGAS TERSTRUKTUR HELMINTHOLOGI

PARASITOLOGI VETERINER: ENDOPARASIT


CYSTICERCOSIS PADA MANUSIA DAN BABI

Disusun oleh:
Kelompok Diroflriasis
1. Alamsah Firdaus

(B04110033)

(...........)

2. Rahajeng Harnastiti

(B04110035)

(...........)

3. Faris Makawaru S

(B04110036)

(...........)

4. Wuri Wulandari

(B04110037)

(...........)

5. Meiliana Puspita Utami (B04110038)

(...........)

6. Tyas Noormalasari H

(...........)

(B04110039)

BAGIAN PARASITOLOGI DAN ENTOMOLOGI KESEHATAN


DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT HEWAN
DAN KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Babi merupakan salah satu hewan yang diternakan di beberapa daerah di
Indonesia. Peternakan babi tersebar di Sumatera Utara, Flores, Maluku, dan
Papua. Selain untuk diternakan, babi di daerah-daerah tersebut dikonsumsi dan
digunakan untuk memenuhi kegiatan upacara adat setempat. Bahkan harga
daging babi di Papua sangat mahal, ini dikarenakan budaya masyarakat yang
sangat erat kaitannya dengan adat istiadat dan upacara ritual setempat yang
membutuhkan daging babi. Babi dipergunakan sebagai mas kawin, membayar
hutang, denda, sebagai pelunas sangsi atas suatu perkara, pelengkap upacara
kematian dan juga sebagai hidangan saat merayakan panen kebun. Sehingga
beternak babi menjadi pilihan utama penduduk Papua (Permadi et al 2012).
Di Papua, babi dipelihara dengan melepaskannya di sekitar rumah atau
pekarangan rumah, lantai tidak pernah dibersihkan sehingga tampak kotor dan
becek. Selain itu penduduk yang memelihara babi belum mengetahui sistim
perkandangan yang baik, gizi makanan tidak diperhitungkan, yang kesemuanya
sangat terkait dengan pengetahuan cara memelihara babi yang seharusnya.
Cara pemeliharaan babi seperti diatas, sangat memungkinkan kejadian infeksi
penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit, dan jamur (Permadi
et al 2012).
Salah satu penyakti yang dapat menjangkit di daerah sekitar peternakan
babi tersebut adalah Cysticercosis. Penyakit tersebut merupakan penyakit yang
disebabkan oleh larva cacing pita dari genus Taenia. Penyakit ini sampai
sekarang terutama ditemukan di tiga propinsi di Indonesia yaitu Bali, Sumatera
Utara dan Papua. Prevalensi tertinggi ditemukan di Propinsi Papua pada tahun
1997 yaitu 42,7% (Purba et al 2003).
Keberadaan penyakit ini menjadi masalah tersendiri mengingat tingkat
konsumsi daging babi yang cukup tinggi di beberapa daerah tersebut. Babi yang
terkena Cysticercosis dapat menularkannya ke manusia, salah satunya melalui
daging yang dikonsumsi karena Cysticercosis ini merupakan salah satu penyakit
zoonosis yang dapat ditularkan melalui pangan asal hewan khususnya daging
(Saleh 2010). Oleh karena itu studi tentang transmisi dari penyakit Cysticercosis
ini sangat diperlukan agar dapat mencegah terjadinya penularan.

Tujuan
Mengetahui bentuk morfologi, siklus hidup, gejala-gejala penyakit yang
ditimbulkan,

cara

penularan,

kasus-kasus

dan

cara

pengobatan

serta

penanggulangan dari penyakit Cysticercosis pada masyarakat yang berdekatan


dengan peternakan babi.
TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi
Kingdom

: Animalia

Sub Kingdom : Metazoa


Filum

: Platyhelminthes

Kelas

: Cestoda

Ordo

: Cyclophyllidea

Famili

: Taeniidae

Genus

: Taenia

Spesies

: Taenia saginata
Taenia asiatica
Taenia solium
Taenia crassiceps
Taenia pisiformis

Karakteristik
Taenia memiliki banyak spesies, namun ada tiga spesies yang penting
karena zoonosis terhadap manusia, yaitu Taenia solium, Taenie saginata dan
Taenia asiatica. Hal ini dikarenakan manusia menjadi induk semang definitif dari
ketiga spesies Taenia ini. Untuk induk semang antara Taenia solium dan Taenia
asiatica adalah babi, sedangkan Taenia saginata induk semangnya adalah sapi.
(Estuningsih, 2009).
Pada umumnya cacing dewasa Taenia solium Hidup di dalam usus
manusia, panjang dari cacing pita ini dapat mencapai 3 5 meter dan dapat
hidup selama 25 tahun. (SOULSBY, 1982). Induk semang definitive dari Taenia
solium adalah manuisa dengan induk semang perantaranya adalah babi
domestic dan babi liar. Untuk larva dari cacing ini bisa juga ditemukan di induk

semang antara lain, seperti anjing, kucing, rusa, domba, unta dan manusia (OIE,
2005). Taenia solium memiliki fase larva yang disebut dengan Cysticercus
cellulose yang biasanya dapat ditemukan pada otot daging dan jarang ditemukan
pada organ visceral babi (FAN et al, 1987).

Gambar 1. Cacing Dewasa T. soleum


(Sumber: bioweb.uwlax.edu)

Gambar 2. Cysticercus dari Taenia


(Sumber: www.stanford.edu)
Cacing Taenia saginata induk semang definitifnya adalah manusia
dengan induk semang antara sapi, kerbau, dan ruminansia lainnya. Hidup pada
usus halus dengan panjang dapat mencapai 3-8 meter dan hidup selama 5-20
tahun (SOULSBY, 1982). Sama halnya dengan Taenia solium,taenia saginata
juga memiliki fase larva yang disebut dengan Cysicercus bovis dan biasanya

ditemukan pada otot daging dan jarang ditemukan pada organ visceral. Hal ini
kemungkinan karena otot daging merupakan tempat dengan sirkulasi darah yang
banyak. (FAN et al, 1987).
Cacing Taenia asiatica mirip dengan cacing Taenia saginata dewasa dan
hidup di dalam usus manusia. Panjang cacing ini mencapai 341 cm, dengan
lebar 9,5 mm (EOM dan RUM, 1993). Induk semang perantaranya adalah babi
domestic dan babi liar. Bentuk larva dari cacing ini adalah Cysticercus
vicerotropika. (EOM et al.,2002).
Siklus Hidup dan Cara Penularan
Taenia spp. memiliki dua induk semang, yaitu induk semang definitif
(manusia) dan induk semang antara (sapi untuk T. saginata dan babi untuk T.
solium). Cacing dewasa yang hidup di usus manusia sudah mengandung
proglotid yang masak (mengandung embrio). Telur tersebut biasanya keluar
bersama dengan feses, jika termakan oleh induk semang antara maka akan
tumbuh menjadi onkoster (telur yang mengandung larva). Larva onkoster akan
menembus usus dan masuk ke dalam pembuluh darah atau pembuluh limpa lalu
akhirnya sampai ke otot/daging dan membentuk kista. Kista akan membesar dan
membentuk gelembung yang disebut sistiserkus. Kemudian akan menular ke
manusia apabila manusia memakan daging sapi ataupun babi yang masih belum
matang. Dinding sistiserkus akan dicerna lambung sedangkan larva dengan
skoleks menempel di usus manusia. Lalu larva akan berkembang menjadi cacing
dewasa

yang

memiliki

tubuh

bersegmen

disebut

proglotid

yag

dapat

menghasilkan telur. (Estuningsih, 2009). T. saginata menjadi dewasa dalam


waktu 10-12 minggu dan T. solium dewasa dalam waktu 5-12 minggu (OIE,
2005).

Gambar 3. Siklus hidup dan cara penularan Taeniasis dan Cysticerosis.


(Sumber : http:// www.dpd.cdc.gov)
Pembahasan
Bahri (2008) menyatakan salah satu penyakit ternak utama yang perlu
mendapat perhatian adalah Cysticercosis. Penyakit ini merupakan salah satu
penyakit yang bersifat zoonosis, artinya dapat menular kepada manusia.
Kejadian Cysticercosis ini erat kaitannya dengan pemeliharaan atau peternakan
babi. Seperti yang telah dijelaskan pada tinjauan pustaka, babi ini merupakan
transmitor penularan Cysticercosis.
Di Indonesia, propinsi Papua (Irian Jaya) adalah daerah yang
hiperendemis Cysticercosis. Prevalensi Cysticercosis pada manusia yang tinggal
di daerah pedesaan Kabupaten Jayawijaya sebesar 41,3%-66,7%. Prevalensi
Cysticercosis pada babi (porcine cysticercosis) berkisar antara 62,5% sampai
77,8%, sedangkan prevalensi Taeniasis solium sebesar 15% (Subahar dkk,
2001). Selain Papua, daerah endemik lainnya adalah Sumatera Utara Bali, Bali,
dan NTT (Sutisna (1999) dalam Saleh (2010)). Tidak heran daerah-daerah
tersebut menjadi daerah yang paling banyak terjadinya Cysticercosis, mengingat
kebiasaan dan adat masyarakat-masyarakatnya yang suka mengkonsumsi
daging babi dan memeliharanya.
Pemeliharaan babi yang kurang baik dapat menyebabkan babi mudah
terserang agen penyakit seperti parasit. Parasit pada babi ini yang paling sering
ditemukan adalah T. soleum. Parasit ini selain dapat menyebabkan masalah

terhadap babi itu sendiri, tetapi juga menimbulkan masalah bagi masyarakat di
sekitarnya. Subahar et al (2001) menyatakan bahwa orang yang menderita
Cysticercosis memperlihatkan tanda-tanda dan gejala klinis seperti benjolan di
bawah kulit, mengalami serangan kejang-kejang dan sakit kepala. Di samping
itu, penderita Cysticercosis otak seringkali mengalami luka bakar.
Cacing ini menempel kuat pada mukosa atas usus kecil melalui pengisap
dan kait. Cacing pita dewasa hanya menyebabkan peradangan ringan pada
tempat implantasi, tanpa kerusakan besar pada usus halus . Taeniasis ditandai
dengan gejala ringan atau subklinis. Nyeri perut, kembung, diare, dan mual yang
disebabkan infestasi cacing pita, namun tidak ada data dari penelitian terkontrol
yang menunjukkan hubungan apapun, dan kebanyakan pasien terlihat bebas
dari gejala. Identifikasi infeksi T solium penting karena risiko Cysticercosis
berbahaya bagi pembawa atau berbahaya langsung ke lingkungannya (Garcia et
al 2003).
Sebuah studi kasus yang berhubungan dengan kejadian Cysticercosis di
Kecamatan Wamena, Kabupaten Jawawijaya telah dilakukan pada bulan Januari
sampai dengan Februari 2002.

Dari seluruh variabel yang diteliti didapatkan

beberapa faktor yang secara statistik berhubungan bermakna dengan kejadian


Cysticercosis setelah dikontrol secara bersamaan yaitu cuci tangan, jenis
pekerjaan, frekuensi mandi, jenis sumber air bersih dan tempat buang air besar.
Perlu dilakukan pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang hal-hal
sebagai berikut: kebiasaan mencuci tangan, pentingnya mandi dengan
menggunakan air bersih serta membuang air besar pada tempat yang terlindung.
Pemerintah daerah perlu mengadakan sarana air bersih dan sarana umum untuk
tempat buang air besar (Purba et all. 2003) Selain itu, cara pemeliharaan babi
yang tidak dikandangkan dan pakan babi yang tidak dimasak merupakan faktor
risiko yang penting terhadap terjadinya Cysticercosis pada babi ( Assa et all.
2012).
Perundingan putaran Uruguai mengenai GATT yang diikuti oleh 125
negara pada tahun 1994 mencakup kesepakatan mengenai aplikasi tindakan
sanitary

andphytosanitary

(SPS).

Kesepakatan

ini

mengatur

tindakan

perlindungan terhadap keamanan pangan dalam bidang kesehatan hewan dan


tumbuhan yang perlu dijalankan oleh negara-negara anggota WTO. Tujuannya
adalah untuk melindungi manusia dari risiko yang ditimbulkan oleh bahan
makanan tambahan (aditif) dalam pangan, cemaran (kontaminan), racun (toksin)

atau organisme penyebab penyakit dalam makanan atau dari penyakit zoonosis.
Keadaan ini semakin mendesak dengan diberlakukannya Undang- undang No. 8
tahun 1998 tentang Perlindungan Konsumen (Bahri 2008).
Edukasi serta sosialisasi tentang bahaya Cysticercosis dan teknik
pemeliharaan ternak yang baik kepada masyarakat yang tinggal di daerah
endemik mutlak diperlukan sebagai salah satu pengendalian dari penyakit
tersebut. Pemerintah setempat yang telah memberikan fasilitaspun hendaknya
mengontrol secara rutin keberhasilan upayanya tersebut. Penerapan higiene dan
sanitasi yang baik juga merupakan pengendalian yang cukup efektif. Selain itu,
sosialisasi memasak dengan matang daging babi yang akan di konsumsi pun
akan mengurangi penularan dari Cysticercosis ini.
Dua obat yang disarankan dalam upaya pengobatan Cysticercosis
diantaranya adalah niklosamida dan praziquantel. Dosis umum adalah 2 g
secara oral dalam dosis tunggal untuk niklosamida, dan 5-10 mg / kg secara oral
dalam dosis tunggal untuk praziquantel. Namun kedua obat memiliki pemasaran
yang terbatas dan sulit ditemukan (Garcia et al 2003).
SIMPULAN
Cysticercosis merupakan penyakit yang disebabkan larva dari cacing pita
T. soleum. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang bersifat zoonosis
dan berbahaya terhadap manusia. Kejadian Cysticercosis terjadi di daerahdaerah yang masyarakatnya suka mengkonsumsi dan memelihara babi seperti di
Sumatera Utara, Bali, NTT, dan Papua. Faktor resiko yang menyebabkan
banyaknya kejadian tersebut adalah cara pemeliharaan yang tidak baik dan
kebiasaan masyarakat yang buruk dalam buang air besar, kebersihan diri dan
lingkungan, serta cara pemasakan daging babi yang akan di konsumsi.
DAFTAR PUSTAKA
Assa, Inriyanti et all. 2012. Faktor risiko babi yang diumbar dan pakan mentah
mempertinggi prevalensi Cysticercosis. Jurnal Veteriner. Vol. 13 No. 4:
345-352.
Bahri, Sjamsul. 2008. Beberapa aspek keamanan pangan asal ternak di
Indonesia. Pengembangan Inovasi Pertanian. 1(3): 225-242
Estuningsih, Sarwitri Endah. 2009. Taeniasis dan Cysticercosis Merupakan
Penyakit Zoonosis Parasiter. Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor.
WARTAZOA Vol. 19 No. 2 Th. 2009.

EOM, K.S. and H.J. RUM. 1993. Morphologic descriptions of Taenia asiatica sp.
Korean J. Parasitol. 31(1): 1 5.
EOM, K.S., H.K. JOEN, Y. KONG, U.W. HWANG, Y. YANG and X. LI. 2002.
Identification of Taenia asiatica in China: Molecular, morphological and
epidemiological analysis of a Luzhai isolates. J. Parasitol. 88: 758 764
FAN, P.C., W.C. CHUNG, C.H. CHAN, M.M. WONG, C.C. WU, M.C. HSU, S.H.
HUANG and Y.A. CHEN. 1987. Studies on Taeniasis in Taiwan. III.
Preliminary report on experimental infection of Taiwan Taenia in
domestic animals. Proc. of the First Sino American Symposium on
Biotechnology and Parasitic Diseases. Department of Parasitology,
National Yangming Medical College, Taipei. pp. 65 77.
Garcia et al. 2003. Taenia solium cysticercosis. THE LANCET Vol 361
OIE.

2005.
Taenia
Infection.
[terhubung
http://www.cfsph.iastate.edu/Factsheets/pdf/taenia.pdf. (27
2013)

berkala]
Oktober

Permadi et al. Prevalensi Cacing Nematoda pada Babi. Indonesia Medicus


Veterinus 1(5) : 596 606
Purba, Wilfried H. et all. 2003.Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian
Cysticercosis pada penduduk Kecamatan Wamena,Kabupaten
Jayawijaya, Propinsi Papua tahun 2002. Makara Kesehatan. Vol. 7,
No. 2, 56.
Saleh, Umi Siti Aisyah. 2010. Faktor Risiko Kejadian Sistiserkosis pada Babi di
Flores Timur, NTT. Tesis. Bogor : Sekolah Pasca Sarjana IPB
SOULSBY, E.J.L. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated
Animals Seventh Edition. Balliere, London, UK. 809 p.
Subahar, Rizal et al. 2001. Taeniasis/Sistiserkosis Di Antara Anggota Keluarga
Di Beberapa Desa, Kabupaten Jayawijaya, Papua. MAKARA,
KESEHATAN VOL. 9, NO. 1, JUNI 2005: 9-1