Anda di halaman 1dari 4

SEJARAH MIKROFINANCE

Perjuangan 30 tahun lebih mengentaskan kemiskinan kini telah menampakkan hasil. Itulah gambaran perjuangan tanpa kenal lelah yang dilakukan Muhammad Yunus, seorang dosen ekonomi yang kemudian mengabdikan hidupnya dengan mendirikan bank untuk mengentaskan kemiskinan di negaranya, Bangladesh, dengan nama Grameen Bank atau bank desa. Berkat perjuangan tanpa kenal lelah dan penuh ketulusan, ia telah mendapat penghargaan Nobel Perdamaian tahun 2006 lalu, meski ia bukanlah seorang negarawan atau politikus, sebagaimana yang selama ini mendominasi penerima Nobel tersebut. Ia mendapatkan penghargaan tersebut bukan pada upayanya mendamaikan peperangan yang berkecamuk di dunia, tapi berkat perjuangannya memenangkan peperangan melawan kemiskinan. Sebab, menurut pihak pemberi hadiah Nobel, perdamaian yang berkesinambungan tidak akan dapat dicapai kecuali populasi dalam jumlah besar menemukan cara untuk keluar dari kemiskinan, dan itulah yang dirintis Yunus sejak tahun 1974 silam.

Kelahiran Bankir untuk Orang Miskin Muhammad Yunus dilahirkan di Bathua, sekitar 11 km dari Chittagong, Bengali Timur pada tahun 1940 yang pada saat itu masih termasuk wilayah India, dan baru pada tahun 1947 menjadi bagian dari Pakistan. Baru pada tahun Desember 1971 Bangladesh memerdekakan diri. Muhammad Yunus adalah seorang muslim, merupakan anak ke 3 dari 14 bersaudara dari pasangan Dula Mia dan Sofia Khatun. Ayah Yunus adalah pengrajin dan pedagang ornamen permata. Yunus dibesarkan di Jalan Baxirhat, di jantung kawasan perajin perhiasan Sonapotti Chittagong. Ayah Yunus adalah seorang muslim yang saleh sepanjang hayatnya. Ia telah tiga kali naik haji ke mekah. Ayah Yunus biasa berpakaian putihputih, dengan sandal putih, pantolan putih, jubah putih, dan peci haji putih. Ibu Yunus adalah seorang perempuan yang keras dan tegas. Ialah penegak disiplin dalam keluarga. Diakui oleh Yunus, ibunya mungkin yang paling kuat mempengaruhi Yunus. Perhatian ibu kepada kaum miskin dan tak beruntung sangat besar, sehingga membuat Yunus tertarik mempelajari ekonomi dan perubahan sosial. Muhammad Yunus belajar di Chittagong Collegiate School dan Chittagong College. Kemudian ia melanjutkan ke jenjang Ph.D. di bidang ekonomi di Universitas Vanderbilt pada tahun 1969. Kemudian menjadi Lektor di Middle Tennessee State University, Amerika

Serikat. Dan kemudian pada tahun 1974 ia kembali ke Bangladesh setelah sebelumnya berhenti dari posisi lektornya.

Perjuangan Memperbaiki Keadaan Masyarakat Di Bangladaseh mulanya Muhammad Yunus bekerja sebagai anggota Komisi Perencanaan Pemerintah, tapi hanya sebentar hingga kemudian ia menerima jabatan sebagai Ketua Departemen Ekonomi di Universitas Chittagong. Ia mengaku senang mengajar dan berharap pada karier akademik. Hingga pada tahun 1974-1975 Bangladesh mengalami kelaparan hebat yang disebabkan bencana alam hebat yang banyak menghancurkan infrastrukur negara. Desa Jobra, desa yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari Muhammad Yunus mengajar tentang teori ekonomi canggih dan pasar bebas yang seolah-olah berjalan sempurna didalam kelas, adalah satu desa termiskin di Bangladesh. Mayoritas tempat tinggal penduduknya berupa pondok berlantai tanah dengan atap daun yang bocor. Penghasilan mereka tidak lebih dari 2 sen sehari. Pertanyaan yang selalu membuat Yunus gundah adalah mengapa orang yang bekerja 12 jam sehari, 7 hari seminggu tidak punya cukup makanan untuk makan? Kegeraman muncul di hati Yunus karena ilmu yang dipelajarinya tak mampu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Akhirnya, Yunus memutuskan untuk belajar dengan orang miskin untuk memaha-mi masalah mereka. Selama 2 tahun dari tahun 1975 hingga 1976, Yunus mengajak mahasiswanya berkeliling di desa Jobra. Kegundahan Yunus semakin menjadi-jadi ketika masalah kemiskinan cukup mudah untuk dimengerti namun tidak mudah untuk menemukan solusinya. Muhammad Yunus menemukan pencerahan ketika pada salah satu acara berkeliling ke desa bertemu dengan seorang wanita pembuat bangku dari bambu. Namun, karena ketidaaan modal wanita tersebut meminjam kepada rentenir untuk membeli bambu sebagai bahan baku. Setelah bangku tersebut jadi harus dijual kepada rentenir dan dia hanya mendapatkan selisih keuntungan sekitar 1 penny. Dengan bantuan mahasiswanya, Muhammad Yunus menemukan 42 keluarga lainnya yang mengalami permasalahan serupa. Karyanya diawali dengan memberikan kredit sejumlah US$17 kepada 42 orang miskin. Pinjaman yang diberikan kurang dari US$ 1 per orang. Namun dengan jumlah pinjaman yang kecil dan tanpa agunan tersebut, meningkatkan omset seorang pembuat bangku dari sekitar 2 penny perhari menjadi US $ 1,25 per hari. Pada tahap awal ini, dana yang dipinjamkannya diambil dari uang pribadi Muhammad Yunus.

Dengan meminjamkan uang tersebut, beliau tidak menganggap dirinya sebagai seorang bankir tetapi pembebas bagi 42 keluarga miskin di Bangladesh. Akhirnya, Yunus menemukan sebuah revolusi dalam pemikirannya, kemiskinan terjadi bukan karena kemalasan tetapi karena permasalahan struktural, ketiadaan modal. Sistem ekonomi yang berlangsung membuat kelompok masyarakat miskin tidak mampu menabung bahkan hanya 1 penny sehari. Akibatnya, orang miskin tidak dapat melakukan investasi bagi pertumbuhan usahanya. Rentenir memberikan bunga sekitar 10% bagi pinjaman yang diberikannya. Sehinga, bagaimanapun juga orang miskin bekerja keras dirinya tak dapat keluar dari garis kemiskinan. Muhammad Yunus pun mencoba menyakinkan bank dekat universitas agar bersedia meminjamkan uang pada orang miskin. Namun bank menolaknya, bank mengatakan orang miskin tidak layak mendapatkan pinjaman. Upaya-upaya lain pun dilakukan tapi tetap gagal. Ia mencoba cara baru, yaitu menjadi penjamin pinjaman untuk orang miskin. Bank setuju, pinjaman pun mulai mengalir dan hasilnya luar biasa, orang miskin mengembalikan pinjaman mereka selalu tepat waktu. Bantuan lebih besarpun datang, 1977 MR. A.M Anisuzzaman direktur Bank Pertanian Bangladesh mendirikan cabang khusus di Jobra untuk menguji gagasan Muhammad Yunus. Bank tersebut diberi nama Bank Grameen (Desa), dan bank ini menikmati keberhasilan serupa. Tapi kritikanpun mulai berdatangan, para bankir mengatakan bahwa Bank Grameen bukanlah perbankan tapi pengasuhan, karena Muhammad Yunus dan para mahasiswanya terlibat terlalu jauh. Kebijakan yang dibuat Bank Grameen pun banyak yang dianggap bertentangan dengan aturan perbankan Bangladesh. Mengetahui hal ini Muhammad Yunus memutuskan mendirikan bank terpisah bagi masyarakat miskin, bank yang memberikan pinjaman tanpa agunan, tanpa mensyaratkan periwayatan peminjaman bank sebelumnya, tanpa instrumen legal apapun. Dan pada tahun 1983 Muhammad Yunus akhirnya berhasil membujuk pemerintah membuat peraturan khusus untuk konsep bank grameennya ini.

Bank Grameen: Bank Kaum Miskin Pada bulan Mei 2009, Bank Grameen telah mempunyai cabang sebanyak 2.556 di 84.388 senter (jumlah desa di Bangladesh 68.231), dengan total anggota lebih dari 7,86 juta orang. Bank Grameen juga telah direplikasikan di 52 negara (hanya di Indonesia yang belum ada), dengan anggota mencapai 102 juta orang. Dana disalurkan dari tahun 1983 s/d 2005 kumulatif mencapai US $ 5.17miliar, atau lebih kurang US $ 238 juta per tahun. Jumlah

modal yang dimiliki Bank Grameen berkembang menjadi US $ 563,2 juta, sebanyak 92 % adalah milik anggota. Yang menarik perhatian dari 7,86 juta orang anggota Bank Grameen, sebanyak 97 % jiwa adalah wanita. Pilihan wanita untuk menjadi anggota Bank Grameen didasarkan pada pemikiran bahwa tanggung jawab wanita terhadap keluarga lebih besar dan wanita cenderung mengutamakan membelanjakan uangnya hanya untuk kepentingan keluarga. Satu program terobosan yang cukup menggemparkan, yaitu pada tahun I997 Yunus memberikan pinjaman US $ 147.000 kepada 40.000 orang pengemis di Bangladesh, untuk melakukan usaha yang dapat dilakukan sambil mengemis, seperti membuat anyaman, sulaman, jualan korek api dan permen. Kepada mereka diberikan lencana nasabah Grameen. Pada tahun 2005 ternyata 7.843 orang berhenti mengemis. Alasannya, mereka malu mengemis karena mempunyai lencana yang membangkitkan harga diri dan mempunyai lapangan usaha baru dari modal yang diberikan Bank Grameen. Berikut adalah tujuh prinsip dari Bank Grameen:

1. Bank Grameen adalah milik anggotanya (92 % saham milik anggota)

2. Bank Grameen hanya akan memberikan pinjaman kepada orang yang paling miskin dari masyarakat miskin atau yang tidak memiliki harta untuk dijadikan agunan (termasuk para pengemis)

3. Sasaran Bank Grameen terutama adalah perempuan.

4. Pinjaman ini diberikan tanpa jaminan/agunan

5. Para peminjam sendiri dan bukan Bank Grameen yang menentukan jenis kegiatan usahanya yang akan dibiayai dengan pinjaman dari Bank Grameen.

6. Bank Grameen membantu informasi dan sarana agar peminjam berhasil.

7. Para peminjam membayar tingkat bunga sesuai keperluan untuk menjaga agar Bank Grameen tetap mandiri (tidak tergantung hibah atau donasi)