Anda di halaman 1dari 24

TOKSIKOLOGI

MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Hukum dan Undang-undang Kesehatan Yang dibina oleh Prof. DR. Mardji, M.Kes

Oleh Aisyah Rachmawati

(130612607828)

DR. Mardji, M.Kes Oleh Aisyah Rachmawati (130612607828) UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN PROGRAM

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN PROGRAM STUDI S1 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT Oktober 2013

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Toksikologi adalah ilmu yang menetapkan batas aman dari bahan kimia (Casarett and Doulls, 1995). Selain itu toksikologi juga mempelajari jelas/kerusakan/ cedera pada organisme (hewan, tumbuhan, manusia) yang diakibatkan oleh suatu materi substansi/energi, mempelajari racun, tidak saja efeknya, tetapi juga mekanisme terjadinya efek tersebut pada organisme dan mempelajari kerja kimia yang merugikan terhadap

organisme. Banyak sekali peran toksikologi dalam kehidupan sehari-hari tetapi bila dikaitkan dengan lingkungan dikenal istilah toksikologi lingkungan dan ekotoksikologi. Dua kata toksikologi lingkungan dengan ekotoksikologi yang hampir sama maknanya ini sering sekali menjadi perdebatan. Toksikologi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan menimbulkan pencemaran lingkungan (Cassaret, 2000) dan Ekotoksikologi adalah ilmu yang mempelajari racun kimia dan fisik pada mahluk hidup, khususnya populasi dan komunitas termasuk ekosistem, termasuk jalan masuknya agen dan interaksi dengan lingkungan (Butler, 1978). Dengan demikian ekotoksikologi merupakan bagian dari toksikologi lingkungan. Kebutuhan akan toksikologi lingkungan meningkat ditinjau dari :

Proses Modernisasi yang akan menaikan konsumsi sehingga produksi juga harus meningkat, dengan demikian industrialisasi dan penggunaan energi akan meningkat yang tentunya akan meningkatkan resiko toksikologis. Proses industrialisasi akan memanfaatkan bahan baku kimia, fisika, biologi yang akan menghasilkan buangan dalam bentuk gas, cair, dan padat yang meningkat. Buangan ini tentunya akan menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang mengakibatkan resiko pencemaran, sehingga resiko toksikologi juga akan meningkat.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian toksikologi dan racun?

2. Apa jenis-jenis toksikologi?

3. Bagaimana model masuk dan daya keracunan pada toksikologi?

4. Sasaran organ apa yang diserang dalam keracunan?

C.

TUJUAN PENULISAN

1. Mengetahui perngertian toksikologi dan racun.

2. Mengetahui jenis-jenis toksikologi.

3. Mengetahui model masuk dan daya keracunan pada toksikologi.

4. Mengetahui sasaran organ yang diserang dalam keracunan.

5. Mengetahui nilai ambang eksposur.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN TOKSIKOLOGI DAN RACUN

Secara sederhana dan ringkas, toksikologi dapat didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan system biologik lainnya. Ia dapat juga membahas penilaian kuantitatif tentang berat dan kekerapan efek tersebut sehubungan dengan terpejannya (exposed) makhluk tadi. Toksikologi merupakan studi mengenai efek-efek yang tidak diinginkan dari zat- zat kimia terhadap organisme hidup. Toksikologi juga membahas tentang penilaian secara kuantitatif tentang organ-organ tubuh yang sering terpajang serta efek yang di timbulkannya. Efek toksik atau efek yang tidak diinginkan dalam sistem biologis tidak akan dihasilkan oleh bahan kimia kecuali bahan kimia tersebut atau produk biotransformasinya mencapai tempat yang sesuai di dalam tubuh pada konsentrasi dan lama waktu yang cukup untuk menghasilkan manifestasi toksik. Faktor utama yang mempengaruhi toksisitas yang berhubungan dengan situasi pemaparan (pemajanan) terhadap bahan kimia tertentu adalah jalur masuk ke dalam tubuh, jangka waktu dan frekuensi pemaparan. Pemaparan bahan-bahan kimia terhadap binatang percobaan biasanya dibagi dalam empat kategori: akut, subakut, subkronik, dan kronik. Untuk manusia pemaparan akut biasanya terjadi karena suatu kecelakaan atau disengaja, dan pemaparan kronik dialami oleh para pekerja terutama di lingkungan industri-industri kimia. Interaksi bahan kimia dapat terjadi melalui sejumlah mekanisme dan efek dari dua atau lebih bahan kimia yang diberikan secara bersamaan akan menghasilkan suatu respons yang mungkin bersifat aditif, sinergis, potensiasi, dan antagonistik. Karakteristik pemaparan membentuk spektrum efek secara bersamaan membentuk hubungan korelasi yang dikenal dengan hubungan dosis-respons. Apabila zat kimia dikatakan berracun (toksik), maka kebanyakan diartikan sebagai zat yang berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap mekanisme biologi tertentu pada suatu organisme. Sifat toksik dari suatu senyawa ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun di reseptor “tempat kerja”, sifat zat tersebut, kondisi bioorganisme atau sistem bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk efek yang ditimbulkan.

Sehingga apabila menggunakan istilah toksik atau toksisitas, maka perlu untuk mengidentifikasi mekanisme biologi di mana efek berbahaya itu timbul. Sedangkan toksisitas merupakan sifat relatif dari suatu zat kimia, dalam kemampuannya menimbulkan efek berbahaya atau penyimpangan mekanisme biologi pada suatu organisme. Toksisitas merupakan istilah relatif yang biasa dipergunakan dalam memperbandingkan satu zat kimia dengan lainnya. Adalah biasa untuk mengatakan bahwa satu zat kimia lebih toksik daripada zat kimia lain. Perbandingan sangat kurang informatif, kecuali jika pernyataan tersebut melibatkan informasi tentang mekanisme biologi yang sedang dipermasalahkan dan juga dalam kondisi bagaimana zat kimia tersebut berbahaya. Oleh sebab itu, pendekatan toksikologi seharusnya dari sudut telaah tentang berbagai efek zat kimia atas berbagai sistem biologi, dengan penekanan pada mekanisme efek berbahaya zat kimia itu dan berbagai kondisi di mana efek berbahaya itu terjadi.

Pada umumnya efek berbahaya / efek farmakologik timbul apabila terjadi interaksi antara zat kimia (tokson atau zat aktif biologis) dengan reseptor. Terdapat dua aspek yang harus diperhatikan dalam mempelajari interakasi antara zat kimia dengan organisme hidup, yaitu kerja farmakon pada suatu organisme (aspek farmakodinamik / toksodinamik) dan pengaruh organisme terhadap zat aktif (aspek farmakokinetik / toksokinetik) aspek ini akan lebih detail dibahas pada sub bahasan kerja toksik. Telah dipostulatkan oleh Paracelcius, bahwa sifat toksik suatu tokson sangat ditentukan oleh dosis (konsentrasi tokson pada reseptornya). Artinya kehadiran suatu zat yang berpotensial toksik di dalam suatu organisme belum tentu menghasilkan juga keracunan. Misal insektisida rumah tangga (DDT) dalam dosis tertentu tidak akan menimbulkan efek yang berbahaya bagi manusia, namun pada dosis tersebut memberikan efek yang mematikan bagi serangga. Hal ini disebabkan karena konsentrasi tersebut berada jauh dibawah konsentrasi minimal efek pada manusia. Namun sebaliknya apabila kita terpejan oleh DDT dalam waktu yang relatif lama, dimana telah diketahui bahwa sifat DDT yang sangat sukar terurai dilingkungan dan sangat lipofil, akan terjadi penyerapan DDT dari lingkungan ke dalam tubuh dalam waktu relatif lama. Karena sifat fisiko 3 kimia dari DDT, mengakibatkan DDT akan terakumulasi (tertimbun) dalam waktu yang lama di jaringan lemak. Sehingga apabila batas konsentrasi toksiknya terlampaui, barulah akan muncul efek toksik. Efek atau kerja toksik seperti ini lebih dikenal dengan efek toksik yang bersifat kronis.

Toksin Clostridium botulinum, adalah salah satu contoh tokson, dimana dalam konsentrasi yang sangat rendah (10-9 mg/kg berat badan), sudah dapat mengakibatkan efek kematian. Berbeda dengan metanol, baru bekerja toksik pada dosis yang melebihi 10 g. Pengobatan parasetamol yang direkomendasikan dalam satu periode 24 jam adalah 4 g untuk orang dewasa dan 90 mg/kg untuk anak-anak. Namun pada penggunaan lebih dari 7 g pada orang dewasa dan 150 mg/kg pada anak-anak akan menimbulkan efek toksik. Dengan demikian, resiko keracunan tidak hanya tergantung pada sifat zatnya sendiri, tetapi juga pada kemungkinan untuk berkontak dengannya dan pada jumlah yang masuk dan diabsorpsi. Dengan lain kata tergantung dengan cara kerja, frekuensi kerja dan waktu kerja. Antara kerja (atau mekanisme kerja) sesuatu obat dan sesuatu tokson tidak terdapat perbedaan yang prinsipil, ia hanya relatif. Semua kerja dari suatu obat yang tidak mempunyai sangkut paut dengan indikasi obat yang sebenarnya, dapat dinyatakan sebagai kerja toksik. Kerja medriatik (pelebaran pupil), dari sudut pandangan ahli mata merupakan efek terapi yang dinginkan, namun kerja hambatan sekresi, dilihat sebagai kerja samping yang tidak diinginkan. Bila seorang ahli penyakit dalam menggunakan zat yang sama untuk terapi, lazimnya keadaan ini manjadi terbalik. Pada seorang anak yang tanpa menyadarinya telah memakan buah Atropa belladonna, maka mediaris maupun mulut kering harus dilihat sebagai gejala keracuanan. Oleh sebab itu ungkapan kerja terapi maupun kerja toksik tidak pernah dinilai secara mutlak. Hanya tujuan penggunaan suatu zat yang mempunyai kerja farmakologi dan dengan demikian sekaligus berpotensial toksik, memungkinkan untuk membedakan apakah kerjanya sebagai obat atau sebagai zat racun.

Tidak jarang dari hasil penelitian toksikologi, justru diperoleh senyawa obat baru. Seperti penelitian racun (glikosida digitalis) dari tanaman Digitalis purpurea dan lanata, yaitu diperoleh antikuagulan yang bekerja tidak langsung, yang diturunkan dari zat racun yang terdapat di dalam semanggi yang busuk. Inhibitor asetilkolinesterase jenis ester fosfat, pada mulanya dikembangkan sebagai zat kimia untuk perang, kemudian digunakan sebagai insektisida dan kini juga dipakai untuk menangani glaukoma. Toksikologi modern merupakan bidang yang didasari oleh multi displin ilmu, ia dengan dapat dengan bebas meminjam bebarapa ilmu dasar, guna mempelajari interaksi antara tokson dan mekanisme biologi yang ditimbulkan (lihat gambar 1.1). Ilmu toksikologi ditunjang oleh berbagai ilmu dasar, seperti kimia, biologi, fisika, matematika.

Kimia analisis dibutuhkan untuk mengetahui jumlah tokson yang melakukan ikatan dengan reseptor sehingga dapat memberikan efek toksik.

dengan reseptor sehingga dapat memberikan efek toksik. Bidang ilmu biokimia diperlukan guna mengetahui informasi

Bidang ilmu biokimia diperlukan guna mengetahui informasi penyimpangan reaksi kimia pada organisme yang diakibatkan oleh xenobiotika. Perubahan biologis yang diakibatkan oleh xenobiotika dapat diungkap melalui bantuan ilmu patologi, immonologi, dan fisiologi. Untuk mengetahui efek berbahaya dari suatu zat kimia pada suatu sel, jaringan atau organisme memerlukan dukungan ilmu patologi, yaitu dalam menunjukan wujud perubahan / penyimpangan kasar, mikroskopi, atau penyimpangan submikroskopi dari normalnya. Perubahan biologi akibat paparan tokson dapat termanisfestasi dalam bentuk perubahan sistem kekebakan (immun) tubuh, untuk itu diperlukan bidang ilmu immunologi guna lebih dalam mengungkap efek toksik pada sistem kekebalan organisme. Mengadopsi konsep dasar yang dikemukakan oleh Paracelcius, manusia menggolongkan efek yang ditimbulkan oleh tokson menjadi konsentrasi batas minimum memberikan efek, daerah konsentrasi dimana memberikan efek yang menguntungkan (efek terapeutik , lebih dikenal dengan efek farmakologi), batas konsentrasi dimana sudah memberikan efek berbahaya (konsetrasi toksik), dan konstrasi tertinggi yang dapat menimbulkan efek kematian. Agar dapat menetapkan batasan konsentrasi ini toksikologi memerlukan dukungan ilmu kimia analisis, biokimia, maupun kimia instrmentasi, serta hubungannya dengan biologi. Ilmu statistik sangat diperlukan oleh toksikologi dalam mengolah baik data kualitatif maupun data kuantitatif yang nantinya dapat dijadikan sebagai besaran ekspresi parameter-parameter angka yang mewakili populasi.

Bidang yang paling berkaitan dengan toksikologi adalah farmakologi, karena ahli farmakologi harus memahami tidak hanya efek bermanfaat zat kimia, tetapi juga efek berbahayanya yang mungkin diterapkan pada penggunaan terapi. Farmakologi pada umumnya menelaah efek toksik, mekanisme kerja toksik, hubungan dosis respon, dari suatu tokson.

B. JENIS-JENIS TOKSIKOLOGI

Toksikologi Deskriptif

Melakukan uji toksisitas untuk mendapat informasi yang digunakan untuk mengevaluasi resiko yang timbul oleh bahan kimia terhadap manusia dan lingkungan

Toksikologi Mekanistik

Menentukan bagaimana zat kimia menimbulkan efek yang merugikan pada organisme hidup

Toksikologi Regulatif

Menentukan apakah suatu obat mempunyai resiko yang rendah untuk dipakai sebagai tujuan terapi

Toksikologi Forensik

Mempelajari aspek hukum kedokteran akibat penggunaan bahan kimia berbahaya dan membantu menegakkan diagnosa pada pemeriksaan postmortem

Toksikologi Klinik

Mempelajari gangguan yang disebabkan substansi toksik, merawat penderita yang keracunan dan menemukan cara baru dalam penanggulangannya

Toksikologi Kerja

Mempelajari bahan kimia pada tempat kerja yang membahayakan pekerja dalam proses pembuatan, transportasi, penyimpanan maupun penggunaannya

Toksikologi Lingkungan

Mempelajari dampak zat kimia yang berpotensi merugikan sebagai polutan lingkungan

Ekotoksikologi

Mempelajari efek toksik zat kimia terhadap populasi masyarakat

Toksikologi Ekperimental :

Pemakaian obat secara kronik (anti hipertensi, obat TBC, kontrasepsi), harus disertai data karsinogenik dan teratogenik dari obat tersebut

Pemakaian obat dalam waktu pendek (obat cacing), harus memenuhi sarat toksisitas akut

C. MODEL MASUK DAN DAYA KERACUNAN

Racun adalah zat yang ketika tertelan, terhisap, diabsorpsi, menempel pada kulit, atau dihasilkan di dalam tubuh dalam jumlah yang relative kecil dapat mengakibatkan cedera dari tubuh dengan adanya rekasi kimia (Brunner & Suddarth, 2001). Arti lain dari racun adalah suatu bahan dimana ketika diserap oleh tubuh organisme makhluk hidup akan menyebabkan kematian atau perlukaan (Muriel, 1995). Racun dapat diserap melalui pencernaan, hisapan, intravena, kulit, atau melalui rute lainnya. Reaksi dari racun dapat seketika itu juga, cepat, lambat, atau secara kumulatif. Keracunan dapat diartikan sebagai setiap keadaan yang menunjukkan kelainan multisystem dengan keadaan yang tidak jelas (Arif Mansjor, 1999). Keracunan melalui inhalasi (pengobatan dengan cara memberikan obat dalam bentuk uap kepada si sakit langsung melalui alat pernapasannya (hidung ke paru-paru)) dan menelan materi toksik, baik kecelakaan dank arena kesengajaan merupakan kondisi bahaya kesehatan. Jenis-jenis keracunan (FK-UI, 1995) dapat dibagi berdasarkan:

1. Cara terjadinya, terdiri dari:

a. Self poisoning Pada keadaan ini pasien memakan obat dengan dosis yang berlebih tetapi dengan pengetahuan bahwa dosis ini tak membahayakan. Pasien tidak bermaksud bunuh diri tetapi hanya untuk mencari perhatian saja.

b. Attempted Suicide Pada keadaan ini pasien bermaksud untuk bunuh diri, bisa berakhir dengan kematian atau pasien dapat sembuh bila salah tafsir dengan dosis yang dipakai

d.

Homicidal poisoning Keracunan akibat tindakan kriminal yaitu seseorang dengan sengaja meracuni orang lain.

2. Mulai waktu terjadi

a. Keracunan kronik Keracunan yang gejalanya timbul perlahan dan lama setelah pajanan. Gejala dapat timbul secara akut setalah pemajanan berkali-kali dalam dosis relative kecil ciri khasnya adalah zat penyebab diekskresikan 24 jam lebih lama dan waktu paruh lebih panjang sehingga terjadi akumulasi. Keracunan ini diakibatkan oleh keracunan bahan-bahan kimia dalam dosis kecil tetapi terus menerus dan efeknya baru dapat dirasakan dalam jangka panjang (minggu, bulan, atau tahun). Misalnya, menghirup uap benzene dan senyawa hidrokarbon terkklorinasi (spt. Kloroform, karbon tetraklorida) dalam kadar rendah tetapi terus menerus akan menimbulkan penyakit hati (lever) setelah beberapa tahun. Uap timbal akan menimbulkan kerusakan dalam darah.

b. Keracunan akut Biasanya terjadi mendadak setelah makan sesuatu, sering mengenai banyak orang (pada keracunan dapat mengenai seluruh keluarga atau penduduk sekampung ) gejalanya seperti sindrom penyakit muntah, diare, konvulsi dan koma. Keracunan ini juga karena pengaruh sejumlah dosis tertentu yang akibatnya dapat dilihat atau dirasakan dalam waktu pendek. Contoh, keracunan fenol menyebabkan diare dan gas CO dapat menyebabkan hilang kesdaran atau kematian dalam waktu singkat.

3. Menurut alat tubuh yang terkena Pada jenis ini, keracunan digolongkan berdasarkan organ yang terkena, contohnya racun hati, racun ginjal, racun SSP, racun jantung.

4. Menurut jenis bahan kimia Golongan zat kimia tertentu biasanya memperlihatkan sifat toksik yang sama, misalnya golongan alcohol, fenol, logam berat, organoklorin dan sebagainya. Keracunan juga dapat disebabkan oleh kontaminasi kulit (luka bakar kimiawi), melalui tusukan yang terdiri dari sengatan serangga (tawon, kalajengking, dan laba- laba) dan gigitan ular, melalui makanan yaitu keracunan yang disebabkan oleh

perubahan kimia (fermentasi) dan pembusukan karena kerja bakteri (daging busuk)

pada bahan makanan, misalnya ubi ketela (singkong) yang mengandung asam sianida

(HCn), jengkol, tempe bongkrek, dan racun pada udang maupun kepiting, dan

keracunan juga dapat disebabkan karena penyalahgunaan zat yang terdiri dari

penyalahgunaan obat stimultan (Amphetamine), depresan (Barbiturate), atau

halusinogen (morfin), dan penyalahgunaan alcohol.

Racun yang sering menyebabkan keracunan dan simptomatisnya:

Asam kuat (nitrit, hidroklorid, sulfat)

Terbakar sekitar mulut, bibir, dan hidung

 

Kebiruan *gelap* pada kulit wajah dan

Anilin (hipnotik, notrobenzen)

leher

Asenik (metal arsenic, mercuri, tembaga,

 

dll)

Umumnya seperti diare

Atropine (belladonna), Skopolamin

Dilatasi pupil

Basa kuat (potassium, hidroksida)

Terbakar sekitar mulut, bibir, dan hidung

Asam karbolik (atau fenol)

Bau seperti disinfektan

Karbon monoksida

Kulit merah cerry terang

 

Kematian yang cepat, kulit merah, dan

Sianida

bau yang sedap

Keracunan makanan

Muntah, nyeri perut

Nikotin

Kejang-kejang *konvulsi*

Opiat

Kontraksi pupil

Asam oksalik (fosfor-oksalik)

Bau seperti bawang putih

Natrium Florida

Kejang-kejang “konvulsi”

Striknin

Kejang “konvulsi”, muka dan leher kebiruan “gelap”

Jika kita sehari hari bekerja, atau kontak dengan zat kimia, kita sadar dan tahu bahkan

menyadari bahwa setiap zat kimia adalah beracun, sedangkan untuk bahaya pada

kesehatan sangat tergantung pada jumlah zat kimia yang masuk kedalam tubuh.

Seperti garam dapur, garam dapur merupakan bahan kimia yang setiap hari kita

konsumsi namun tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Namun, jika kita terlalu

banyak mengkonsumsinya, maka akan membahayakan kesehatan kita. Demikian juga

obat yang lainnya, akan menjadi sangat bermanfaat pada dosis tertentu, jangan terlalu banyak ataupun sedikit lebih baik berdasarkan resep dokter.

Bahan-bahan kimia atau zat racun dapat masuk ke dalam tubuh melewati tiga saluran, yakni:

1. Melalui mulut atau tertelan bisa disebut juga per-oral atau ingesti. Hal ini sangat jarang terjadi kecuali kita memipet bahan-bahan kimia langsung menggunakan mulut atau makan dan minum di laboratorium.

2. Melalui kulit. Bahan kimia yang dapat dengan mudah terserap kulit ialah aniline, nitrobenzene, dan asam sianida.

3. Melalui pernapasan (inhalasi). Gas, debu dan uap mudah terserap lewat pernapasan dan saluran ini merupakan sebagian besar dari kasus keracunan yang terjadi. SO 2 (sulfur dioksida) dan Cl 2 (klor) memberikan efek setempat pada jalan pernapasan. Sedangkan HCN, CO, H 2 S, uap Pb dan Zn akan segera masuk ke dalam darah dan terdistribusi ke seluruh organ-organ tubuh.

4. Melalui suntikan (parenteral, injeksi)

5. Melalui dubur atau vagina (perektal atau pervaginal) (Idris, 1985)

a) Daya Keracunan Meliputi Sangat-Sangat Toksik, Sedikit Toksik Dan Lain-Lain.

1. Super Toksik

2. Sangat Toksik

3. Cukup Toksik

4. Kurang Toksik

: Struchnine, Brodifacoum, Timbal, Arsenikum, Risin, Agen Oranye, Batrachotoxin, Asam Flourida, Hidrogen Sianida.

:Aldrin, Dieldrin, Endosulfan, Endrin, Organofosfat

:Chlordane, DDT, Lindane, Dicofol, Heptachlor

:Benzene hexachloride (BHC)

Dalam obat-obatan, penggolongan daya racun yaitu:

No.

Kriteria Toksik

Dosis

1.

Super Toksik

> 15 G/KG BB

2.

Toksik Ekstrim

5

15 G/KG BB

3.

Sangat Toksik

0,5 5 G/KG BB

4.

Toksisitas Sedang

50 500 MG/KG BB

5.

Sedikit Toksik

5

50 MG/KG BB

6.

Praktis Non Toksik

< 5 MG/KG BB

D.

SASARAN ORGAN YANG DISERANG

 

Untuk mengerahkan efek toksik, agen harus dapat mencapai jaringan rentan, organ, sel, atau kompartemen selular sub atau struktur dalam konsentrasi yang cukup pada waktu yang memadai pula. Artinya, suatu paparan atau dosis yang tepat diperlukan. Dosis kecil alkohol tidak akan ada pengaruhnya, tetapi dosis besar selama waktu yang lama dapat mempengaruhi organ rentan seperti hati dan akhirnya menyebabkan sirosis. Dosis optimal dari parasetamol akan menghilangkan rasa sakit, tetapi dosis yang melebihi jumlah ini dapat menyebabkan kerusakan hati. Di sisi lain, jumlah yang jauh lebih rendah daripada dosis yang optimal tidak akan memberikan berpengaruh sama sekali. Gangguan toksik (keracunan) dari bahan kimia terhadap tubuh berbeda-beda. Misalnya CCL 4 dan benzene dapat menimbulkan kerusakan pada hati ; metal isosianat dapat menyebabkan kebutaan dan kematian ; senyawa merkuri dapat menimbulkan kelainan genetic atau keturunan ; dan banyak senyawa organic yang mengandung cincin benzene, senyawa nikel dan krom dapat bersifat karsinogenik atau penyebab kanker. Gangguan-gangguan tersebut diatas sangat tergantung pada kondisi kesehatan orang yang terpaparnya. Kondisi badan yang sehat dan makan yang bergizi akan mudah mengganti kerusakan sel-sel akibat keracunan. Sebaliknya kondisi badan yang kurang gizi akan sangat rawan terhadap keracunan.

Dalam

sebuah

buku

forensik

medis

yang

ditulis

oleh

JL

Casper,

racun

diklasifikasikan menjadi 5 golongan, yaitu:

a) Racun iritan, yaitu racun yang menimbulkan iritasi dan radang. Contohnya asam mineral, fungi beracun, dan preparasi arsenik.

b) Racun penyebab hiperemia, racun narkotik, yang terbukti dapat berakibat fatal pada otak, paru-paru, dan jantung. Contohnya opium, tembakau, konium, dogitalis, dll.

c)

Racun yang melumpuhkan saraf, dengan meracuni darah, organ pusat saraf dapat lumpuh dan menimbulkan akibat yang fatal seperti kematian tiba-tiba. Contohnya asam hidrosianat, sianida seng, dan kloroform.

d) Racun yang menyebabkan marasmus, biasanya bersifat kronis dan dapat berakibat fatal bagi kesehatan secara perlahan. Contohnya bismut putih, asap timbal, merkuri, dan arsenic. Marasmus adalah salah satu bentuk kekurangan gizi yang buruk paling sering ditemui pada balita penyebabnya antara lain karena masukan makanan yang sangat kurang, infeksi, pembawaan lahir, prematuritas, penyakit pada masa neonatus serta kesehatan lingkungan. Marasmus sering dijumpai pada anak berusia 0 - 2 tahun dengan gambaran sbb: berat badan kurang dari 60% berat badan sesuai dengan usianya, suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang, dinding perut hipotonus dan kulitnya melonggar hingga hanya tampak bagai tulang terbungkus kulit, tulang rusuk tampak lebih jelas atau tulang rusuk terlihat menonjol, anak menjadi berwajah lonjong dan tampak lebih tua (old man face)), Otot-otot melemah, atropi, bentuk kulit berkeriput bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan, perut cekung sering disertai diare kronik (terus menerus) atau susah buang air kecil.

e) Racun yang menyebabkan infeksi (racun septik), dapat berupa racun makanan yang pada keadaan tertentu menimbulkan sakit Pyaemia (atau pyemia) dan tipus pada hewan ternak.

Racun dapat dikelompokkan atas dasar organ yang diserangnya. Klasifikasi ini

digunakan oleh para ahli superspesialis organ target tersebut. Dalam klasifikasi ini, racun dinyatakan sebagai racun yang,

- Hepatotoksik atau beracun bagi hepar/hati

- Nefrotoksik atau beracun bagi nefron/ginjal

- Neurotoksik atau beracun bagi neuron/saraf

- Hermatotoksik atau beracun bagi darah/sistem pembentukan sel darah

- Pneumotoksik atau beracun bagi pneumon/paru-paru

Klasifikasi atas dasar organ target ini sering digunakan karena sifat kimia-fisika racun

yang berbeda dengan racun biologis ataupun kuman patogen.

Racun pada Sistem Saraf Pusat (neurotoksik)

Beberapa substansi dapat mengganggu respirasi sel, dapat menyebabkan gangguan ventilasi paru-paru atau sirkulasi otak yang dapat menjadikan kerusakan irreversible dari saraf pusat. Substansi itu antara lain : Etanol, antihistamin, bromide, kodein.

Racun Jantung (kardiotoksik) Beberapa obat dapat menyebabkan kelainan ritme jantung sehingga dapat terjadi payah jantungatau henti jantung.

Racun Hati Hepatotoksik menyebabkan manifestasi nekrosis lokal ataupun sistemik. Dengan hilangnya sebagian sel hati, menyebabkan tubuh lebih rentan terhadap aksi biologi senyawa lain. Kelainan hati lain yang sering ditemui adalah hepatitis kholestatik.

PENGGOLONGAN AGEN-AGEN TOKSIS

Zat-zat toksis digolongkan dengan cara-cara yang bermacam-macam tergantung pada minat dan kebutuhan dari yang menggolongkannya. Sebagai contoh, zat-zat toksis dibicarakan dalam kaitannya dengan organ-organ sasaran dan dikenal sebagai racun liver, racun ginjal penggunaannya dikenal sebagai pestisida, pelarut, bahan additif pada makanan dan lain-lain dan kalau dihubungkan ke sumbernya dikenal sebagai toksin binatang dan tumbuhan kalau dikaitkan dengan efek-efek mereka dikenali sebagai karsinogen, mutagen dan seterusnya. Agent-agent toksis bisa juga digolongkan berdasarkan:

Sifat fisik : gas, debu, logam-logam, radiasi, panas, debu, getaran dan suara.

Kebutuhan pelabelan : mudah meledak, mudah terbakar, pengoksidir

Kimia : turunan-turunan anilin, Hidrokarbon dihalogenasi dan seterusnya

Daya racunnya : sangat-sangat toksik, sedikit toksik dan lain-lain.

Penggolongan agent-agent toksik atas dasar mekanisme kerja biokimianya (inhibitor- inhibitor sulfhidril, penghasil met Hb) biasanya lebih memberi penjelasan dibanding penggolongan oleh istilah-istilah umum seperti iritasi dan korosif, tetapi penggolongan- penggolongan yang lebih umum seperti pencemar udara, agen yang berhubungan dengan tempat kerja, dan racun akut dan kronis dapat menyediakan satu sentral yang berguna atas satu masalah khusus.

Agen kimia dapat berupa alami atau sintetik. Bahan kimia sintetik dikategorikan ke dalam beberapa kelas-biasanya terkait dengan kegiatan atau termasuk paparan zat farmasi, bahan tambahan makanan, pestisida, bahan kimia industri, dan bahan kimia dalam negeri. Bahan kimia alami meliputi berbagai zat yang biasanya ditemukan di lingkungan, seperti arsenik, timbal dan biologi berasal dari tumbuhan, hewan atau racun mikrobiologi . Contoh racun tanaman alkaloid pyrrolizidine dihasilkan dari berbagai spesies seperti komprei, glikosida jantung pada oleander dan morfin dalam tanaman opium. Contoh racun hewan adalah racun-racun yang dihasilkan oleh berbagai spesies hewan darat dan laut, seperti platypuses, ular, laba-laba, lebah dan ikan batu. Botulinum toksin dan enterotoksin stafilokokal adalah contoh dari racun mikroba, sedangkan aflatoksin adalah contoh dari racun jamur.

Pra-Kondisi Untuk Efek Toksik Untuk mengerahkan efek toksik, agen harus dapat mencapai jaringan rentan, organ, sel, atau kompartemen selular sub atau struktur dalam konsentrasi yang cukup pada waktu yang memadai pula. Artinya, suatu paparan atau dosis yang tepat diperlukan. Dosis kecil alkohol tidak akan ada pengaruhnya, tetapi dosis besar selama waktu yang lama dapat mempengaruhi organ rentan seperti hati dan akhirnya menyebabkan sirosis. Dosis optimal dari parasetamol akan menghilangkan rasa sakit, tetapi dosis yang melebihi jumlah ini dapat menyebabkan kerusakan hati. Di sisi lain, jumlah yang jauh lebih rendah daripada dosis yang optimal tidak akan memberikan berpengaruh sama sekali.

SASARAN ORGAN

Kepekaan Organ

Neuron dan otot jantung sangat bergantung pada adenosis trifosfat (ATP), yang dihasilkan oleh oksidasi mitokondria; kapasitasnya dalam metabolisme anaerobik juga kecil, dan ion bergerak dengan cepat melalui membran sel. Maka jaringan itu sangat peka terhadap kekurangan oksigen yang timbul karena gangguan sistem pembuluh darah atau hemoglobin (misalnya, keracunan CO).

Sel-sel yang membelah cepat, seperti sel-sel di sumsum tulang dan mukosa usus, sangat peka terhadap racun yang mempengaruhi pembelahan sel.

Penyebaran

Saluran napas dan kulit merupakan organ sasaran bagi toksikan yang berasal dari industri dan lingkungan karena di sinilah terjadi penyerapan. Berdasarkan satuan berat, volume darah di hati dan ginjal paling tinggi. Akibatnya mereka paling banyak terpajan toksikan. Lagi pula, fungsi metabolisme dan ekskresi pada kedua organ ini lebih besar, sehingga keduanya lebih peka terhadap toksikan.

Ambilan Selektif

Beberapa sel tertentu mempunyai afinitas yang tinggi terhadap zat kimia tertentu. Contohnya, pada saluran napas, sel-sel epitel alveolus tipe I dan II yang mempunyai sistem ambilan aktif untuk poliamin endogen, akan menyerap parakuat, yang struktur kimianya mirip. Proses ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan alveoli walaupun parakuat masuk secara oral.

Biotransformasi

Akibat bioaktivasi, terbentuk metabolit yang reaktif. Proses ini biasanya membuat sel- sel di dekatnya menjadi lebih rentan. Karena merupakan tempat utama biotransformasi, hati rentan terhadap pengaruh bermacam-macam toksikan.

Untuk beberapa toksikan, bioaktivasi pada tempat-tempat tertentu mempengaruhi efeknya. Contohnya, berbagai insektisida organofosfat, seperti paration. Mereka terutama mengalami bioaktivasi di hati, namun banyaknya enzim detoksikasi di tempat itu serta banyaknya tempat pengikatan yang reaktif, mencegah munculnya tanda-tanda keracunan yang nyata. Di sisi lain, jaringan otak memiliki enzim-enzim bioaktivasi yang jauh lebih sedikit, akan tetapi karena bioaktivasi tersebut terjadi di dekat tempat sasaran yang kritis, yakni sinaps, manifestasi toksik yang paling menonjol dalam kelompok toksikan ini tampak pada sistem saraf.

Mekanisme pemulihan

Suatu toksikan dapat mempengaruhi organ tertentu akibat tidak adanya mekanisme pemulihan. Contohnya MNU menyebabkan berbagai tumor pada tikus terutama di otak, kadang-kadang di ginjal, tetapi tidak di hati.

E. NILAI AMBANG EKSPOSUR Eksposur bisa dikatakan akut, kronis, sub akut dan sub kronis. Tingkatan akut mengacu pada eksposur tunggal, seperti overdosis obat kronis yang sementara berlaku paparan untuk eksposur yang berulang-ulang selama jangka waktu lama (lebih dari tiga bulan). Sub akut berlaku untuk paparan berulang (sampai satu bulan), dan kronis sub selama periode antara (yaitu, satu sampai tiga bulan).

Contoh:

untuk paparan berulang (sampai satu bulan), dan kronis sub selama periode antara (yaitu, satu sampai tiga

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang racun. Pengertian lain yaitu semua subtansi yang digunakan dibuat, atau hasil dari suatu formulasi dan produk sampingan yang masuk ke lingkungan dan punya kemampuan untuk menimbulkan pengaruh negatif bagi manusia.

Toksikologi merupakan studi mengenai efek-efek yang tidak diinginkan dari zat-zat kimia terhadap organisme hidup. Toksikologi juga membahas tentang penilaian secara kuantitatif tentang organ-organ tubuh yang sering terpajang serta efek yang di timbulkannya.

B. SARAN

Semoga makalah ini bisa memberi pengetahuan yang mendalam kepada para mahasiswa khususnya pengetahuan mengenai Toksikologi

Semoga makalah ini bisa dimanfaatkan dan dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

A. DAFTAR RUJUKAN Loomis, T.A. 1978. Toksikologi Dasar, Donatus, A. (terj.). Semarang: IKIP Semarang Press B, Immaduddin. 2008. Bahan Kimia Beracun atau Toksik. Diakses 24 Oktober 2013 (http://imadanalyzeartikelkesehatan.blogspot.com/2008/07/bahan-kimia- beracun-atau-toksik.html) Rimantho. 2012. Konsep Dasar Toksikologi. Diakses 24 Oktober

(http://bushido02.wordpress.com/2012/01/23/konsep-dasar-toksikologi-2/)

Saintzz Brogethz, Yudi. 2011. Definisi Keracunan. Diakses 23 Oktober 2013

(http://www.scribd.com/doc/49637307/Definisi-Keracunan)

Wikipedia. Diakses 23 Oktober 2013 (http://id.wikipedia.org/wiki/Racun)

Prismasari, Septika. 2012. Klasifikasi Keracunan. Diakses 24 Oktober 2013

(http://id.scribd.com/doc/88461728/Klasifikasi-keracunan)

Wikipedia. 2013. Toksikologi. Diakses 23 Oktober 2013 (http://id.wikipedia.org/wiki/Toksikologi)

Yasmina, Alfi. 2011. Toksikologi. Diakses 23 Oktober 2013

(http://farmakologi.files.wordpress.com/2011/02/toksikologi.pdf)

Zainal Azman Wan Abdullah, Wan. 1995. Racun Organoklorin Bahayakan Kesihatan. Diakses 26 November 2013

(http://www.prn.usm.my/bulletin_articles_racun.php?Id=25)

A. Multiple Choice

PERTANYAAN

1. Menghirup uap benzene dan senyawa hidrokarbon terkklorinasi (spt. Kloroform,

karbon tetraklorida) dalam kadar rendah tetapi terus menerus akan menimbulkan penyakit hati (lever) setelah beberapa tahun akan menyebabkan keracunan …

a)

Akut

b)

Kronis

c)

Parah

d)

Ringan

e)

Gabungan

2. Menentukan bagaimana zat kimia menimbulkan efek yang merugikan pada

organisme hidup disebut …

a)

Toksikologi Forensik

b)

Toksikologi Deskriptif

c)

Toksikologi Regulatif

d)

Toksikologi Mekanistik

e)

Toksikologi Klinik

3. Gas, debu dan uap mudah terserap lewat pernapasan dan saluran ini merupakan sebagian besar dari kasus keracunan yang terjadi, unsur-unsur tersebut masuk ke dalam tubuh melalui …

a)

Ingesti

b)

Kulit

c)

Inhalasi

d)

Makanan

e)

Sentuhan

4. Etanol, antihistamin, bromide, dan kodein adalah beberapa substansi dapat mengganggu respirasi sel, dapat menyebabkan gangguan ventilasi paru-paru atau sirkulasi otak yang dapat menjadikan kerusakan irreversible dari saraf pusat atau disebut racun .…

a)

Pneumotoksik

b)

Neurotoksik

c)

Nefrotoksik

d)

Hermatotoksik

e) Hepatotoksik

5. Bidang yang paling berkaitan dengan toksikologi adalah .…

a)

Imunologi

b)

Patologi

c)

Fisiologi

d)

Kesehatan Masyarakat

e)

Farmakologi

6. Dibawah ini yang merupakan agen toksikologi menurut sifat fisik adalah …

a)

Debu

b)

Turunan Anilin

c)

Hidrokarbon dihalogenasi

d)

Pengoksidir

e)

Asam-Basa Kuat

7. Tempat utama biotransformasi sehingga rentan terhadap pengaruh bermacam-

macam toksikan adalah …

a)

Ginjal

b)

Hati

c)

Lambung

d)

Otot

e)

Jantung

8. Contoh racun hewan adalah

a)

Aflatoksin

b)

Botulinum Toksin

c)

Enterotoksin Stafilokokal

d)

Alkaloid Pyrrolizidine

e)

Batrachotoxin

9. Keracunan akibat tindakan kriminal yaitu seseorang dengan sengaja meracuni

aorang lain disebut …

a)

Self poisoning

b)

Attempted Suicide

c)

Homicidal poisoning

d)

Accidental poisoning

e)

Time poisoning

10. Keracunan yang gejalanya timbul perlahan dan lama setelah pajanan dan gejala dapat timbul secara akut setalah pemajanan berkali-kali dalam dosis relatif kecil disebut keracunan …

a)

Akut

b)

Ringan

c)

Parah

d)

Kronis

e)

Gabungan

B. Essay Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!

1. Apa yang dimaksud dengan toksikologi? Secara sederhana dan ringkas, toksikologi dapat didefinisikan sebagai kajian tentang hakikat dan mekanisme efek berbahaya (efek toksik) berbagai bahan kimia terhadap makhluk hidup dan system biologik lainnya. Ia dapat juga membahas penilaian kuantitatif tentang berat dan kekerapan efek tersebut sehubungan dengan terpejannya (exposed) makhluk tadi.

2. Jelaskan bagaimana zat kimia dapat masuk ke dalam tubuh?

Untuk mengerahkan efek toksik, agen harus dapat mencapai jaringan rentan, organ, sel, atau kompartemen selular sub atau struktur dalam konsentrasi yang cukup pada waktu yang memadai pula. Artinya, suatu paparan atau dosis yang tepat diperlukan. Dosis kecil alkohol tidak akan ada pengaruhnya, tetapi dosis besar selama waktu yang lama dapat mempengaruhi organ rentan seperti hati dan akhirnya menyebabkan sirosis

3. Racun dapat dikelompokkan atas dasar organ yang diserangnya, sebutkan!

Hepatotoksik atau beracun bagi hepar/hati

Nefrotoksik atau beracun bagi nefron/ginjal

Neurotoksik atau beracun bagi neuron/saraf

Hermatotoksik atau beracun bagi darah/sistem pembentukan sel darah

Pneumotoksik atau beracun bagi pneumon/paru-paru

Tingkatan akut mengacu pada eksposur tunggal, seperti overdosis obat kronis yang sementara berlaku paparan untuk eksposur yang berulang-ulang selama jangka waktu lama (lebih dari tiga bulan).

5. Apa yang dimaksud dengan Self Poisoning? Pada keadaan ini pasien memakan obat dengan dosis yang berlebih tetapi dengan pengetahuan bahwa dosis ini tak membahayakan. Pasien tidak bermaksud bunuh diri tetapi hanya untuk mencari perhatian saja.