Anda di halaman 1dari 22

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Kehamilan 1. Pengertian Kehamilan Kehamilan adalah penyatuan sperma dari laki-laki dan ovum dari perempuan. Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam tiga triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan ke-4 sampai ke-6, triwulan ketiga dari bulan ke7 sampai ke-9 (Adriaansz, Wiknjosastro dan Waspodo, 2007. p. 89). Kehamilan didefinisikan sebagai persatuan antara sebuah telur dan sebuah sperma, yang menandai awal suatu peristiwa yang terpisah, tetapi ada suatu rangkaian kejadian yang mengelilinginya. Kejadiankejadian itu ialah pembentukan gamet (telur dan sperma), ovulasi (pelepasan telur), penggabungan gamet dan implantasi embrio di dalam uterus. Jika peristiwa ini berlangsung baik, maka proses perkembangan embrio dan janin dapat dimulai (Bobak, 2005, p. 74). 2. Gravida dan Para a. Gravida adalah seorang ibu yang sedang hamil. b. Primigravida adalah seorang ibu yang sedang hamil untuk pertama kali. c. Multigravida adalah seorang ibu yang hamil lebih dari 1 sampai 5 kali.

10

d. Nulipara adalah seorang ibu yang belum pernah melahirkan bayi untuk pertama kali. e. Para adalah seorang ibu yang melahirkan bayi dan mampu hidup di luar kandungan. f. Primipara adalah seorang ibu yang pernah melahirkan bayi hidup untuk pertama kali. g. Multipara (pleura) adalah seorang ibu yang pernah melahirkan bayi beberapa kali (Prawirohardjo, 2008, p.180).

B. Konsep Persalinan Norma1 1. Pengertian Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan (Mochtar, 2003, p.91). Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik ibu maupun janin (Saifuddin, 2006, p.100). 2. Tanda-tanda Permulaan Persalinan Sejumlah tanda dan gejala memperingatkan yang akan meningkatkan kesiagaan bahwa seorang ibu sedang mendekati waktu

11

persalinan. Ibu tersebut akan mengalami beberapa kondisi sebagai berikut (Varney, 2007, p.672-674) : a. Lightening Lightening yang mulai dirasa kira-kira dua minggu sebelum persalinan, adalah penurunan bagian presentasi bayi ke dalam pelvis minor. Pada presentasi sevalik, kepala bayi biasanya menancap setelah lightening. Sesak nafas yang dirasakan sebelumnya selama trimester ketiga kehamilan akan berkurang karena kondisi ini akan menciptakan ruang yang besar di dalam abdomen atau untuk ekspansi paru. Namun, tetap saja lightening menimbulkan masa tidak nyaman yang lain akibat tekanan bagian presentasi tidak nyaman yang lain akibat tekanan

bagian presentasi pada struktur di area pelvis minor. Hal-hal spesifik berikut akan dialami ibu : 1) Ibu jadi sering berkemih karena kandung kemih ditekan sehingga ruang yang tersisa untuk ekspansi berkurang. 2) Perasaan tidak nyaman akibat tekanan panggul yang menyeluruh yang membuat ibu merasa tidak enak dan timbul sensasi terusmenerus bahwa sesuatu perlu dikeluarkan atau perlu defekasi. 3) Kram pada tungkai, yang disebabkan oleh tekanan bagian presentasi pada syaraf yang menjalar melalui foramen isiadikum mayor dan menuju ke tungkai. 4) Peningkatan statis vena yang menghasilkan edema dependen akibat tekanan bagian presentasi pada pelvis minor menghambat aliran balik daerah dari eksremitas bawah.

12

Ligthtening menyebabkan tinggi fundus menurun ke posisi yang sama dengan posisi fundus pada usia kehamilan 8 bulan. Pada kondisi ini, tidak dapat lagi melakukan pemeriksaan ballotte terhadap kepala janin yang sebelumnya dapat digerakkan di atas simpisis pubis pada palpasi abdomen. Pada langkah keempat pemeriksaan leopold ini, jari-jari yang sebelumnya merapat sekarang akan memisah lebar. b. Perubahan serviks Mendekati persalinan serviks menjadi matang, selama masa hamil serviks dalam keadaan menutup, panjang dan lunak. Selama proses persalinan serviks masih lunak dan mengalami sedikit penipisan (effacement) dan kemungkinan sedikit dilatasi. Evaluasi kematangan serviks akan tergantung pada individu ibu dan paritasnya. Perubahan serviks terjadi akibat peningkatan intensitas kontraksi Braxton Hiks. Serviks menjadi matang selama periode yang berbeda-beda sebelum persalinan. Kematangan serviks

mengindikasikan kesiapan untuk persalinan. 1) Persalinan palsu Persalinan palsu terdiri dari kontraksi uterus yang sangat nyeri, yang memberi pengaruh signifikan terhadap serviks. Kontraksi pada persalinan palsu timbul akibat kontraksi Braxton Hicks yang tidak nyeri, yang telah terjadi sejak enam minggu kehamilan. Persalinan palsu dapat timbul berhari-hari atau secara intermiten bahkan tiga atau empat minggu sebelum proses persalinan sejati. Persalinan palsu sangat nyeri dan ibu dapat

13

mengalami

kurang

tidur

dan

kekurangan

energi

dalam

menghadapinya. 2) Lonjakan energi Sebelum terjadi proses persalinan, ibu bersalin dalam waktu 24 jam atau 48 jam mengalami lonjakan energi selama alamiah. Hal ini dapat dimanfaatkan dalam proses persalinan. 3) Gangguan saluran cerna Saat menjelang persalinan beberapa ibu hamil

mengalami gejala seperti kesulitan mencerna, mual, dan muntah diduga hal-hal tersebut merupakan gejala menjelang persalinan. 3. Tahap persalinan Tahap persalinan menurut Prawirohardjo (2008, p.182) adalah : a. Kala 1 (kala pembukaan) Persalinan dibagi menjadi 4 tahap yaitu kala I (serviks membuka dari 0 sampai 10 cm), kala II (kala pengeluaran), kala III (kala urie), dan kala IV (2 jam post partum). Kala satu persalinan adalah permulaan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan serviks yang progresif yang diakhiri dengan pembukaan lengkap (10 cm) pada primigravida kala I berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multigravida kira-kira 7 jam (Varney, 2007, p.672).

14

Terdapat 2 fase pada kala satu, yaitu (Prawirohardjo, 2008, p.182) : 1) Fase laten Merupakan periode waktu dari awal persalinan

pembukaan mulai berjalan secara progresif, yang umumnya dimulai sejak kontraksi mulai muncul hingga pembukaan 3-4 cm atau permulaan fase aktif berlangsung dalam 7-8 jam. Selama fase ini presentasi mengalami penurunan sedikit hingga tidak sama sekali. 2) Fase Aktif Merupakan periode waktu dari awal kemajuan aktif pembukaan menjadi komplit dan mencakup fase transisi, pembukaan pada umumnya dimulai dari 3-4 cm hingga 10 cm dan berlangsung selama 6 jam. Penurunan bagian presentasi janin yang progresif terjadi selama akhir fase aktif dan selama kala dua persalinan. Fase aktif dibagi dalam 3 fase , antara lain: a) Fase Akselerasi, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm. b) Fase Dilatasi, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm. c) Fase Deselerasi, yaitu pembukaan menjadi lamban kembali dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap

15

b. Kala II (kala pengeluaran janin) Menurut Depkes RI (2007), beberapa tanda dan gejala persalinan kala II adalah : 1) Ibu merasakan ingin mengejan bersamaan terjadinya kontraksi 2) Ibu merasakan peningkatan tekanan pada rectum atau vaginanya 3) Perineum terlihat menonjol 4) Vulva vagina dan sfingter ani terlihat membuka 5) Peningkatan pengeluaran lendir darah Pada kala II his terkoordinir, kuat, cepat dan lama, kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadi tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflek timbul rasa mengedan. Karena tekanan pada rectum, ibu seperti ingin buang air besar dengan tanda anus terbuka. Pada waktu his kepala janin mulai terlihat, vulva membuka dan perineum meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin akan lahir kepala dengan diikuti seluruh badan janin. Kala II pada primi: 1 - 2 jam, pada multi - 1 jam (Mochtar, 2003, p.95). c. Kala III (kala pengeluaran plasenta) Menurut Depkes (2007) tanda-tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal dibawah ini : 1) Perubahan bentuk dan tinggi fundus. Sebelum bayi lahir dan miometrium mulai berkontraksi, uterus berbentuk bulat penuh (diskoit) dan tinggi fundus biasanya

16

turun sampai di bawah pusat. Setelah uterus berkontraksi dan uterus terdorong ke bawah, uterus menjadi bulat dan fundus berada di atas pusat (sering kali mengarah ke sisi kanan). 2) Tali pusat memanjang Tali pusat terlihat keluar memanjang atau terjulur melalui vulva dan vagina (tanda Ahfeld). 3) Semburan darah tiba-tiba Darah yang terkumpul di belakang plasenta akan membantu mendorong plasenta keluar dan dibantu oleh gaya gravitasi. Semburan darah yang secara tiba-tiba menandakan darah yang terkumpul diantara melekatnya plasenta dan permukaan maternal plasenta (darah retroplasenter) ke luar melalui tepi plasenta yang terlepas. Setelah bayi lahir kontraksi rahim istirahat sebentar. Uterus teraba keras dengan fundus uterus setinggi pusat, dan berisi plasenta yang menjadi tebal 2x sebelumnya. Beberapa saat kemudian timbul his pelepasan dan pengeluaran plasenta. Dalam waktu 5-10 menit plasenta terlepas, terdorong ke dalam vagina akan lahir spontan atau sedikit dorongan dari atas simfisis atau fundus uteri. Seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc (Mochtar, 2003, p.97).

17

d. Kala IV Kala pengawasan selama 2 jam setelah plasenta lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama bahaya perdarahan postpartum. 4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Persalinan Faktor yang mempengaruhi persalinan menurut Bandiyah, (2009, p.13-26) adalah : a. Power Power adalah kekuatan-kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan His dan mengejan yang dapat menyebabkan serviks membuka dan mendorong janin keluar. His yang normal mulai dari salah satu sudut di fundus uteri yang kemudian menjalar merata simetris ke seluruh korpus uteri dengan adanya dominasi kekuatan pada fundus uteri dimana lapisan otot uterus paling dominan, kemudian mengadakan relaksasi secara merata dan menyeluruh, hingga tekanan dalam ruang amnion kembali ke asalnya. b. Passage Passage adalah keadaan jalan lahir, jalan lahir mempunyai kedudukan penting dalam proses persalinan untuk mencapai kelahiran bayi. Dengan demikian evaluasi jalan lahir merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah persalinan dapat berlangsung pervaginam atau sectio sesarta. Pada jalan lahir tulang dengan panggul ukuran normal kelahiran pervaginam janin dengan berat badan yang normal tidak akan mengalami kesukaran, akan tetapi karena pengaruh gizi,

18

lingkungan atau hal-hal lain. Ukuran panggul dapat menjadi lebih kecil daripada standar normal, sehingga biasa terjadi kesulitan dalam persalinan pervaginam. Pada jalan lahir lunak yang berperan pada persalinan adalah segmen bawah rahim, servik uteri dan vagina. Disamping itu otot-otot jaringan ikat dan ligamen yang menyokong alat-alat urogenital juga sangat berperan pada persalinan. c. Passanger Passanger adalah janinnya sendiri, bagian yang paling besar dan keras pada janin adalah kepala janin, posisi dan besar kepala dapat mempengaruhi jalan persalinan, kepala janin ini pula yang paling banyak mengalami cedera pada persalinan, sehingga dapat

membahayakan hidup dan kehidupan janin kelak, hidup sempurna, cacat atau akhirnya meninggal. Biasanya apabila kepala janin sudah lahir, maka bagian-bagian lain dengan mudah menyusul kemudian. d. Psikis Psikis adalah kejiwaan ibu, ada keterkaitan antar faktorfaktor somatic (jasmaniah) dengan faktor-faktor psikis, dengan demikian segenap perkembangan emosional dimasa dari ibu yang bersangkutan ikut berperan dalam kegiatan mempengaruhi mudah sukarnya proses kelahiran bayinya. Pada proses melahirkan bayi, pengaruh-pengaruh psikis bisa menghambat dan memperlambat proses kelahiran, atau bisa juga

19

mempercepat kelahiran. Maka fungsi biologis dari reproduksi itu amat dipengaruhi oleh kehidupan psikis dan kehidupan emosional ibu yang bersangkutan. e. Penolong Penolong adalah dokter, bidan yang mengawasi ibu inpartu sebaik-baiknya dan melihat apakah semua persiapan untuk persalinan sudah dilakukan, memberikan obat atau melakukan tindakan hanya apabila ada indikasi untuk ibu maupun janin. 5. Perubahan fisiologis pada kala satu persalinan normal Menurut Varney (2007, p.686), perubahan fisiologis pada kala satu persalinan normal adalah : a. Tekanan darah 1) Meningkat selama kontraksi disertai peningkatan sistolik rata-rata 15 (10-20) mmHg dan sistolik rata-rata 5-10 mmHg. 2) Dengan mengubah posisi tubuh dari terlentang ke posisi miring, perubahan tekanan dan selama kontraksi dapat dihindari. 3) Nyeri, rasa takut, dan kekhawatiran dapat semakin meningkatkan tekanan darah. b. Metabolisme 1) Selama persalinan, metabolisme karbohidrat baik aerob maupun anaerob meningkat dengan kecepatan tetap. Peningkatan terutama disebabkan oleh ansietas dan aktifitas otot rangka.

20

2) Peningkatan aktifitas metabolic terlihat dan peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, pernafasan, curah jantung dan cairan hilang. c. Suhu 1) Sedikit meningkat selama persalinan, suhu tertinggi selama dan segera setelah melahirkan. 2) Suhu yang dianggap normal adalah peningkatan suhu yang tidak lebih dari 0,5 atau 1 derajat celcius, yang mencerminkan penigkatan metabolisme selama persalinan. d. Denyut nadi (frekuensi jantung) 1) Perubahan yang mencolok selama kontraksi disertai peningkatan selama fase peningkatan, penurunan selama titik puncak sebagai frekuensi lebih rendah dari pada frekuensi diantara kontraksi, dan peningkatan selama fase penurunan hingga mencapai frekuensi lazim diantara kontraksi. 2) Penurunan yang mencolok selama puncak kontraksi sedikit lebih tinggi dibandingkan selama periode menjelang persalinan. Hal ini mencerminkan peningkatan metabolisme yang terjadi selama persalinan. e. Pernapasan Sedikit peningkatan frekuensi pernapasan masih normal selama persalinan dan mencerminkan peningkatan metabolisme yang terjadi.

21

C. Nyeri Persalinan 1. Pengertian Nyeri persalinan adalah nyeri kontraksi uterus yang dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas system syaraf simpatis, perubahan tekanan darah, denyut jantung, dan apabila tidak segera diatasi maka akan meningkatkan rasa khawatir, tegang, takut dan stress (Yanti, 2010, p.61). Pada kala satu persalinan, nyeri timbul akibat pembukaan servik dan kontraksi uterus. Sensasi nyeri menjalar melewati syaraf simposis yang memasuki modula spinalis melalui segmen posterior syaraf spinalis torakalis10, 11 dan 12. Penyebaran nyeri pada kala satu persalinan adalah nyeri punggung bawah yang dialami ibu disebabkan oleh tekanan kepala janin terhadap tulang belakang, nyeri ini tidak menyeluruh melainkan nyeri disuatu titik. Akibat penurunan janin, lokasi nyeri punggung berpindah ke bawah, ke tulang belakang bawah serta lokasi denyut jantung janin berpindah ke bawah pada abdomen ibu ketika terjadi penurunan kepala (Varney, 2007, p.720). 2. Tingkat dan Intensitas Nyeri Persalinan Rentang intensitas nyeri dapat ditentukan dengan 4 cara yaitu dengan menggunakan skala intensitas nyeri baik yang berupa skala intensitas nyeri diskriptif sederhana, skala intensitas nyeri numerik 0 sampai dengan 10, dengan skala analog visual dan dengan menggunakan kuesioner McGill. Penggunaan skala intensitas nyeri ini didasarkan pada pertimbangan bahwa individu merupakan penilai terbaik dari nyeri yang

22

dialaminya dan karenanya individu diminta untuk memverbalkan atau menunjukkan tingkat nyerinya. skala intensitas nyeri numerik yaitu :

10

Tidak nyeri

Nyeri ringan

Nyeri sedang

Nyeri berat terkontrol

Nyeri berat tidak terkontrol

Bagan 2.1. Skala Intensitas Nyeri Sumber : Smeltzer & Bare, 2001, p.217 Keterangan : 0 1-3 : Tidak nyeri. : Nyeri ringan (Secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik). 4-6 : Nyeri sedang (Secara obyektif klien mendesis, menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik). 7-9 : Nyeri berat (Secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi). 10 : Nyeri sangat berat (Pasien sudah tidak mampu lagi

berkomunikasi, memukul). 3. Faktor-faktor yang mempengaruhi respon nyeri persalinan Faktor yang mempengaruhi respon nyeri menurut Smeltzer dan Bare (2001, p.220) adalah :

23

a. Pengalaman masa lalu Cara ibu merespon terhadap nyeri adalah akibat dari banyak kejadian nyeri selama rentang kehidupannya. Bagi beberapa orang nyeri masa lalu dapat saja menetap dan tidak terselesaikan, seperti nyeri berkepanjangan dapat menjadi mudah marah, menarik diri, depresi. Efek yang tidak diinginkan diakibatkan oleh pengalaman sebelumnya menunjukan pentingnya perawatan untuk waspada terhadap pengalaman masa lalu ibu terhadap nyeri tersebut. Jika nyeri teratasi dengan cepat dan dengan adekuat, ibu lebih sedikit ketakutan terhadap nyeri dimasa mendatang dan mampu mentoleransi lebih baik. b. Budaya Budaya dan etnik mempunyai pengaruh pada bagaimana seseorang berespon terhadap nyeri (bagaimana nyeri diuraikan atau seseorang berperilaku dalam berespon terhadap nyeri). Namun, budaya dan etnik tidak mempengaruhi persepsi nyeri. Harapan budaya tentang nyeri yang ibu pelajari sepanjang hidupnya jarang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang berlawanan dengan budaya lainnya. Akibatnya, ibu yakin bahwa persepsi dan reaksi terhadap nyeri dapat diterima oleh ibu itu sendiri. c. Usia Ibu yang melahirkan pertama kali pada usia tua umumnya akan mengalami persalinan yang lebih lama dan merasakan lebih nyeri dibandingkan ibu yang masih muda.

24

d. Efek Plasebo Efek plasebo terjadi ketika seseorang berespon terhadap pengobatan atau tindakan lain karena suatu harapan bahwa pengobatan atatu tindakan tersebut akan memberikan hasil bukan karena tindakan atau pengobatan tersebut benar-benar bekerja. Menerima pengobatan atau tindakan saja dapat memberikan efek positif. e. Paritas Menurut Bobak (2000, p.253) paritas sebelumnya juga dapat mempengaruhi respon ibu terhadap nyeri. Bagi ibu primigravida belum mempunyai pengalaman melahirkan dibandingkan ibu multigravida. Ibu yang pertama kali melahirkan akan merasa stres atau takut dalam menghadapi persalinan. Ibu multigravida sudah pernah melahirkan sehingga sudah punya pengalaman nyeri saat melahirkan. Ibu yang sudah mempunyai pengalaman melahirkan akan mampu merespon rasa nyeri tersebut. 4. Penyebab Nyeri Persalinan a. Penyebab Fisik 1) Luka parut servik dari pembedahan sebelumnya dapat

meningkatkan resistensi servik untuk penipisan dan pembukaan awal beberapa centimeter. Kontraksi dan intensitas besar selama berjam-jam atau berhari-hari diperlukan untuk mengatasi resistensi ini kemudian pembukaan baru bisa terjadi.

25

2) Ukuran janin Persalinan dengan ukuran janin yang besar akan menimbulkan rasa nyeri yang lebih kuat dari persalinan dengan ukuran janin normal. Karena itu dapat disimpulkan bahwa semakin besar ukuran janin semakin lebar diperlukan peregangan jalan lahir sehingga nyeri yang dirasakan semakin kuat. b. Penyebab Psikologis 1) Ketakutan, kecemasan, dan stess yang berlebihan Dapat menyebabkan pembentukan katekolamin dan menimbulkan kemajuan persalinan melambat. Ibu yang tidak didukung secara emosional atau mengalami kesulitan dalam persalinan yang lalu dapat meningkatkan nyeri. 2) Kelelahan dan perasaan putus asa Merupakan akibat dari pra-persalinan atau fase laten yang panjang. 5. Penanganan Nyeri Persalinan Secara Non Farmakologis Menurut Henderson (2006, p.353), penanganan nyeri persalinan secara non farmakologis adalah : a. Teknik Pernapasan Teknik pernapasan dapat mengendalikan nyeri karena dapat meminimalkan fungsi simpatis dan meningkatkan aktifitas komponen parasimpatik. Demikian ibu dapat mengurangi nyerinya dengan cara mengurangi sensasi nyeri dan dengan mengontrol intensitas reaksi terhadap nyeri (Mander, 2003, p.159).

26

Teknik ini mempunyai efek bagi ibu karena dapat membantu ibu. Demikian ibu dapat menyimpan tenaga dan menjamin pasokan oksigen untuk bayi. b. Pengaturan Posisi Ibu yang menjalani persalinan harus mengupayakan posisi yang nyaman baginya. Posisi yang dapat diambil antara lain: terlentang, rekumben lateral, dada lutut terbuka, tangan lutut, berjalan dan jongkok. Posisi tersebut dapat membantu rotasi janin dari posterior ke anterior. Setiap posisi yang mengarahkan uterus ke depan (anterior) membantu gravitasi membawa posisi yang lebih berat pada punggung janin ke depan, ke sisi bawah abdomen ibu. Posisi tersebut mencakup membungkuk ke depan, jika berbaring di atas tempat tidur posisi tangan lutut, posisi lutut dada. Posisi rekumben lateral atau sim atau semi telungkuk akan membantu janin berotasi ke arah anterior dari posisi oksipital posterior kiri. c. Massage Massage adalah memberikan tekanan tangan pada jaringan lunak biasanya otot, tendon atau ligamentum, tanpa menyebabkan gerakan atau perubahan posisi sendi untuk meredam nyeri,

menghasilkan relaksasi dan memperbaiki sirkulasi. Massage dapat menghambat perjalanan rangsangan nyeri pada pusat yang lebih tinggi pada sistem syaraf pusat. Selanjutnya rangsangan taktil dan perasaan positif yang berkembang ketika

27

dilakukan bentuk perhatian yang penuh sentuhan dan empati, bertindak memperkuat efek massage untuk mengendalikan nyeri. d. Konseling Dalam kemampuan memberikan dan informasi, bidan menggunakan untuk

interpersonal

keterampilan

kebidanan

mendukung ibu, hal tersebut bertujuan untuk membantu seseorang mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang di hadapi menentukan jalan keluar atau upaya untuk mengatasi masalah tersebut dengan mengajarkan ibu untuk tidak pesimis adanya kemungkinan para ibu mampu mengendalikan, memilih cara pengendalian nyeri untuk mengendalikan rasa nyeri yang dideritanya (Henderson, 2006, p.353). e. Kehadiran Pendamping Kehadiran pendamping selama proses persalinan, sentuhan, penghiburan, dan dorongan orang yang mendukung sangat besar artinya karena dapat membantu ibu saat proses persalinan. Pendamping ibu saat proses persalinan sebaiknya adalah orang yang peduli pada ibu dan yang paling penting adalah orang yang diinginkan ibu untuk mendampingi ibu selama proses persalinan (Pastuty, 2009, p.58). 6. Nyeri Persalinan Primigravida dan Multigravida Menurut Bobak (2000, p.253) pengalaman melahirkan

sebelumnya juga dapat mempengaruhi respon ibu terhadap nyeri. Bagi ibu primigravida belum mempunyai pengalaman melahirkan dibandingkan ibu

28

multigravida. Ibu yang pertama kali melahirkan akan merasa stres atau takut dalam menghadapi persalinan. Stres atau rasa takut ternyata secara fisiologis dapat

menyebabkan kontraksi uterus menjadi terasa semakin nyeri dan sakit dirasakan. Ibu dalam kondisi inpartu tersebut mengalami stress maka tubuh merangsang tubuh mengeluarkan hormon stressor yaitu hormon Katekolamin dan hormon Adrenalin. Katekolamin ini akan dilepaskan dalam konsentrasi tinggi saat persalinan jika ibu tidak bisa menghilangkan rasa takutnya sebelum melahirkan. Akibatnya tubuh tersebut maka uterus menjadi semakin tegang sehingga aliran darah dan oksigen ke dalam otot otot uterus berkurang karena arteri mengecil dan menyempit akibatnya adalah rasa nyeri yang tak terelakkan. Ibu multigravida sudah pernah melahirkan sehingga sudah punya pengalaman nyeri saat melahirkan. Ibu yang sudah mempunyai pengalaman melahirkan akan mampu merespon rasa nyeri tersebut. Ibu yang melahirkan dalam keadaan rileks, semua lapisan otot dalam rahim akan bekerja sama secara harmonis sehingga persalinan akan berjalan lancar, mudah dan nyaman.

29

D. Kerangka Teori Kehamilan 1. Pengalaman masa lalu 2. Budaya 3. Usia 4. Efek plasebo 5. Paritas

Persalinan : Nyeri persalinan kala I

Keterangan : : tidak diteliti : diteliti Bagan 2.2 : Kerangka Teori Sumber : Smeltzer dan Bare (2001, p.220)

E. Kerangka Konsep

Variabel independen Primigravida

Variabel dependen

Nyeri Persalinan Kala I Multigravida

Bagan 2.3 : Kerangka konsep

30

F. Hipotesis Ha : Ada perbedaan tingkat nyeri persalinan kala I pada ibu bersalin normal primigravida dan multigravida di RB Nur Hikmah Desa Kuwaron Gubug Kabupaten Grobogan.