Anda di halaman 1dari 8

Soal : 1. a. Definisikan konsep Investasi? b. Apakah investasi itu benar- benar penting bagi sebagian besar individu? Kenapa?

c. Jelaskan 2 tahap proses dalam pengambilan keputusan investasi! d. Apa perbedaan aset keuangan dan aset riil? 2. Apakah yang dimaksud dengan return-risk trade off yang di hadapi oleh investor? 3. Apa perbedaan expexted-return dan realized-return? Dan apa yang di maksud dengan resiko? 4. Jenis- jenis investasi keuangan ada berapa? Jelaskan! 5. Apakah konsep efficient market bagi investor? Jelaskan! Jawaban : 1. a). Investasi adalah setiap wahana di mana dana ditempatkan dengan penundaan konsumsi di masa sekarang dengan harapan dapat memelihara atau menaikkan nilai dan atau memberikan hasil (return) yang positif. Harapan keuntungan di masa yang akan datang merupakan kompensasi atas waktu dan resiko yang terkait dengan investasi yang dilakukan.

b.) Investasi benar-benar penting bagi sebagian besar individu karena dengan investasi, harapan di masa depan dapat terpenuhi untuk tujuan jangka panjang seperti pensiun atau pendidikan perguruan tinggi melalui persiapan perencanaan kebutuhan yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan saat ini. Seperti kita tahu, sejalan dengan waktu nilai mata uang bisa berkurang karena adanya inflasi, yaitu misalnya kenaikan harga barang dan jasa. Inflasi inilah salah satu alasan utama mengapa kita perlu berinvestasi, baik atas dana atau aset yang sudah ada atau yang akan kita miliki agar nilai -nya dapat dipertahankan dan tentu saja diharapkan meningkat. Selain itu, tingginya biaya hidup dari tahun ke tahun dan fisik manusia yang tidak selalu sehat adalah hal yang tidak bisa dihindari. Sehingga dengan banyaknya alternative produk keuangan individu dapat mengurangi risiko yang akan diperoleh.

c.) Menurut Husnan (2003 : 47), salah satu karakteristik investasi pada pasar modal adalah kemudahan untuk membentuk investasi portofolio. Artinya pemodal dapat dengan mudah menyebar (melakukan diversifikasi)

investasinya pada berbagai kesempatan investasi. Oleh karena itu maka adapun taap-tahap dalam melakukan investasi portofolio adalah sebagai berikut (Husnan, 2003 : 454) : 1. Analisis Sekuritas Pada tahap ini akan diadakan analisis terhadap individual

(sekelompok) sekuritas. Ada dua filosofi dalam melakukan analisis sekuritas, yaitu sebagai berikut :

a. Pendapat

pertama

menyatakan

bahwa

sekuritas

mispriced

(harganya salah, mungkin terlalu tinggi, mungkin terlalu rendah). Dengan analisis ini akan dapat dideteksi sekuritas sekuritas tersebut. Ada berbagai cara untuk melakukan analisis ini. Cara tersebut dikelompokkan menjadi dua, yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental. harga Analisis masa teknikal yang menggunakan lalu sebagai data upaya

(perubahan)

pada

memperkirakan harga sekuritas di masa yang akan dating dengan melihat nilai transaksi yang terjadi. Sedangkan analisis

fundamental didasarkan pada informasi-informasi yang diterbitkan oleh emiten maupun administrator bursa efek.

b. Pendapat kedua menyatakan bahwa pasar modal adalah efisien. Dengan demikian, peralihan sekuritas tidak didasarkan atas frekuensi risiko para pemodal (pemodal yang bersedia

menanggung risiko tinggi akan memilih sekuritas yang berisiko tinggi), pola kebutuhan kas, dan sebagainya. Jadi, menurut pendapat ini keuntungan yang diperoleh pemodal sesuai dengan risiko yang ditanggung.

2. Manajemen Portofolio Dalam manajemen portofolio, ada beberapa tahapan yang akan dilakukan oleh seorang investor ketika akan mengambil keputusan dalam berinvestasi. Tahapan-tahapan tersebut antara lain :

a. Pembentukan Portofolio Tahap ini menyangkut identifikasi sekuritas mana saja yang akan dipilih untuk membentuk portofolio dan berapa proporsi dana yang akan ditanam pada tiap-tiap sekuritas tersebut. Adanya pemilihan sekuritas ini (dengan kata lain pemodal melakukan diversifikasi) dimaksudkan untuk

meminimalkan risiko yang ditanggung. Pemilihan sekuritas ini akan dipengaruhi oleh preferensi risiko, pola kebutuhan kas, dan status pajak.

b. Melakukan Revisi Portofolio Tahap ini merupakan pengurangan terhadap ketiga tahap sebelumnya dengan maksud jika diperlukan akan diadakan perubahan terhadap portofolio yang telah dimiliki. Jika portofolio yang dimiliki sekarang dirasakan tidak lagi optimal atau tidak sesuai dengan prefensi risiko pemodal, maka pemodal dapat melakukan perubahan terhadap sekuritassekuritas yang membentuk portofolio tersebut.

c. Evaluasi Kinerja Portofolio Dalam tahap ini pemodal mengadakan penilaian terhadap kinerja portofolionya, baik dalam aspek tingkat keuntungan yang diperoleh maupun risiko yang ditanggung. Tidak benar bahwa suatu portofolio yang memberikan keuntungan yang lebih tinggi mesti lebih baik daripada portofolio lainnya karena adanya faktor risiko yang perlu dimasukkan juga.

d. Aset riil adalah aset yang memiliki wujud (tangible assets). Contohnya aset riil ini adalah properti (tanah & rumah), emas, dan logam mulia lainnya. Berinvestasi pada aset riil merupakan hal yang umum dilakukan.

Yang kedua adalah Aset Finansial. Aset finansial merupakan aset yang wujudnya tidak terlihat, tetapi tetap memiliki nilai yang tinggi. Umumnya aset finansial ini terdapat di dunia perbankan dan juga di pasar modal, yang di Indonesia dikenal dengan Bursa Efek Indonesia. Beberapa contoh dari aset finansial adalah instrumen pasar uang, obligasi, saham, dan reksa dana. 2. Secara definisi konsep risk-return tradeoff merupakan hubungan antara risiko dan return yang biasanya depegang, dimana ketika seseorang akan menerima risiko yang lebih besar bila ingin memperoleh return yang lebih besar.

3. Return realisasi (realized return) adalah return yang telah terjadi (return aktual) yang dihitung berdasarkan data historis (ex post data). Return historis ini berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi (expected return) dan risiko di masa datang (conditioning expected return). Jika Return Yang Diharapkan (Expected Return) adalah return yang diharapkan akan diperoleh oleh investor di masa mendatang. Berbeda dengan return realisasi yang bersifat sudah terjadi (ex post data), return yang diharapkan merupakan hasil estimasi sehingga sifatnya belum terjadi (ex ante data). Risiko merupakan kemungkinan perbedaan antara return aktual yang diterima dengan return yang diharapkan. Semakin besar kemungkinan perbedaannya, berarti semakin besar risiko investasi tersebut.

4. Jenis-jenis investasi keuangan

Financial Assets

Direct Investing

Indirect Investing (e.g., mutual funds/ dana gotong royong)

Money Market Instruments

Capital Market Instruments

Derrivative Instruments

Fixed Income Instruments

Equity Instruments

Jenis investasi keuangan ada dua, yaitu : Direct Investment dan indirect Investment. 1. Investasi tidak langsung (Indirect investment) adalah investasi yang tidak terlibat secara langsung atau pembelian aktiva keuangan yang cukup hanya dengan memegang dalam bentuk saham atau obligasi saja. Contohnya pembelian sekuritas dilakukan melalui perusahaan investasi (reksadana)

2. Investasi langsung (direct investing) adalah investasi dimana investor secara langsung dapat memilih salah satu dari sejumlah sekuritas yang ada, yang terdiri dari berbagai jenis entitas baik perusahaan swasta maupun perusahaan milik Negara. Instrumen-instrumen yang diperdagangkan diantaranya : a. Pasar uang (Financial Market): Sekuritas yang dipasarkan merupakan surat hutang jangka pendek yang diterbitkan oleh pemerintah, lembaga keuangan, dan perusahaan. Jenis-jenis instrument pasar uang: deposito, tabungan, treasury bills, sertifikat deposito yang dapat dinegosiasi. b. Pasar Modal (Capital Market): sekuritas yang dipasarkan meliputi instrument dengan nilai jatuh tempo lebih dari satu tahun maupun yang tidak mempunyai jatuh tempo sama sekali. Instrumen di pasar modal dibagi menjadi dua :

1. Instrumen pendapatan tetap (Fixed Income Instruments) seperti: T-bill yang jatuh temponya 30 tahun, Sekuritas pemerintah yang digunakan untuk pendanaan dalam utang pemerintah (treasury notes and bonds), surat hutang dari perusahaan-perusahaan dan agen-agen untuk mendukung program pemerintah Negara bagian di Amerika (Federal agency securities and munipal securities) 2. Instrumen ekuitas (Equity Instruments) seperti: Saham (preferred stock, common stock), Obligasi yang dijamin dengan hipotek tanah dan bangunan (Mortage-backed serucities)

c. Bursa Berjangka (Derrivative Instruments) adalah sekuritas yang berasal dari nilai turunan dari nilai asset acuannya (underlying). Jenis-jenis instrument bursa berjangka, seperti: opsi, futures contract, forward contract, Swaps.

6. Teori Efficient Market Hypothesis menyatakan bahwa harga saham yang terbentuk merupakan refleksi dari seluruh informasi yang ada, baik fundamental ditambah insider information. Statman (1998, p.18) menyatakan bahwa investor tidak dapat mengalahkan return pasar secara sistematis dan harga saham adalah rasional. Yang dimaksud rasional adalah harga saham mencerminkan fundamental seperti nilai risiko dan tidak mencerminkan aspek psikologis seperti sentimen dari para investor.

Efficient Market Hypothesis memiliki tiga asumsi, yaitu (Shleifer, 2000, p.2): 1. Investor diasumsikan akan berlaku rasional sehingga akan menilai saham secara rasional. 2. Beberapa investor akan berlaku tidak rasional tetapi perilaku mereka dalam melakukan transaki perdagangan bersifat acak (random) sehingga

pengaruhnya adalah saling menghilangkan dan tidak mempengaruhi harga. 3. Investor arbiter yang berlaku rasional akan mengurangi pengaruhdari perilaku investor yang tidak rasional pada harga di pasar modal.

Investor yang berlaku rasional akan menilai saham berdasarkan nilai fundamental yaitu nilai sekarang (net present value) dari pengembalian kas masa depan (future cash flows) dengan mendiskontokan sebesar tingkat risiko

saham tersebut. Ketika investor mengetahui adanya informasi baru yang akan mempengaruhi nilai fundamental saham maka mereka akan cepat bereaksi terhadap informasi tersebut dengan melakukan bid pada harga tinggi ketika informasi bagus (good news) dan melakukan bid pada harga rendah harga saham ketika informasi buruk (bad news). Implikasinya adalah harga saham akan selalu mencerminkan semua informasi yang tersedia secara cepat dan harga saham akan bergerak ke level harga sesuai nilai fundamental yang baru sehingga bisa dikatakan bahwa harga saham akan bergerak secara acak (random) dan tidak bisa diprediksi.

Ada tiga bentuk hipotesa dari teori Pasar yang Efisien (Efficient Market Hypothesis Theory), teori ini sangat berhubungan erat dengan ketersedian informasi di Pasar Modal dan hubungannya terhadap Kondisi harga-harga saham di Pasar Modal. Bentuk-bentuk tersebut antara lain adalah:

1. Hipotesis Efisiensi Pasar Bentuk Lemah Hipotesis ini menjelaskan bahwa harga saham telah mencerminkan semua informasi masa lalu yang tersedia di pasar seperti data harga, volume perdagangan, atau short interest. Data perdagangan masa lalu tersebut telah tersedia di pasar dan tidak membutuhkan biaya untuk mendapatkannya. Semua investor akan berusaha mengambil keuntungan dengan cara membaca pola data dari data masa lalu jika data masa lalu tersebut mengandung sinyal yang dapat dipercaya mengenai hasil masa depan. Implikasinya adalah semua investor akan mengeksploitasi sinyal tersebut sehingga sinyal tersebut akan kehilangan nilainya dan akan segera tercermin dalam harga (Bodie et al, 2008, p. 348). 2. Hipotesis Efisiensi Pasar Bentuk Setengah Kuat Hipotesis ini menyatakan bahwa semua informasi yang tersedia di pasar termasuk informasi potensi pertumbuhan perusahaan harus telah tercermin di dalam harga saham seperti data lini produk, kualitas manajemen, komposisi laporan keuangan seperti neraca, paten, proyeksi laba, dan perlakuan akuntansi. Jadi, ketika seluruh informasi telah diketahui oleh para investor maka refleksinya sudah ada pada harga saham (Bodie et al, 2008, p. 348). 3. Hipotesis Efisiensi Pasar Bentuk Kuat

Hipotesis ini menjelaskan bahwa harga saham telah mencerminkan semua informasi yang relevan bagi perusahaan termasuk informasi yang hanya tersediauntuk pihak internal perusahaan (insider) sehingga walaupun pihak manajemen dan karyawan perusahaan mempunyai akses untuk mengetahui informasi sebelum informasi tersebut tersedia di pasar, hal itu tidak memungkinkan mereka untuk mengambil keuntungan dengan melakukan perdagangan berdasarkan informasi tersebut karena semua informasi tersebut akan langsung dipublikasi (Bodie et al, 2008,p. 349)