Anda di halaman 1dari 48

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Pemesinan

yang Diampu Oleh Dosen Pembimbing Bapak Danar Susilo W, S.T, M Eng.

Disusun Oleh:

1. 2. 3. 4.

Afifah Fuadillah Pangestu Ramadhan Ozzy F Yahya Dwi Putra N

K2512010 K2512036 K2512054 K2512072

Program Studi Pendidikan Teknik Mesin Jurusan Pendidikan Teknik dan Kejuruan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta 2013
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 1

KATA PENGANTAR

Assalaamualaikum Wr.Wb Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Cutting Tool dan Cutting Fluiddengan baik. Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah yakni Teori Pemesinan. Makalah ini ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari buku panduan dan referensi dari internet yang berkaitan dengan Cutting Tool dan Cutting Fluid, serta infomasi dari media massa yang berhubungan dengan judul makalah tersebut. Penulis berharap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita mengenai Cutting Tool dan Cutting Fluid, khususnya bagi penulis umumnya untuk pembaca yang budiman. Akhir kata, tiada gading yang tak retak, mungkin dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Kritik dan saran tentunya sangat kami harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Wassalaamualaikum Wr.Wb Tim

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bahan-bahan yang digunakan untuk cutting tool pada proses pemesinan merupakan faktor utama yang bisa mempengaruhi proses pemesinan itu sendiri. Pada saat proses pemesinan, cutting tool mengalami kenaikan temperatur dan tegangan akibat gesekan dengan benda kerja. Beberapa karakteristik dalam menentukan bahan cutting tool antara lain : 1. Kekerasan (hardness) Kekerasan merupakan karakteristik di mana bahan cutting tool harus lebih keras daripada bahan benda kerja yang dikerjakan. Kekerasan bahan cutting tool akan mempengaruhi kekuatan cutting tool pada saat proses pemesinan, khususnya pada temperatur tinggitinggi (>600 C) yang pada suhu tersebutmaterial logam akan mencapai suhu austenit .Bahan yang digunakan cutting tool hendaknya dipilih sesuai dengan temperatur saat proses pemesinan. 2. Ketangguhan (toughness) Ketangguhan merupakan suatu karakteristik di mana ketahanan suatu cutting tool dalam mengatasi gaya impak pada saat proses pemesinan, khususnya pada proses yang berlangsung secara terputus-putus, misalnya pada proses pembuatan poros spline dan roda gigi. 3. Ketahanan aus Ketahanan aus merupakan karakteristik yang mempengaruhi umur cutting tool pada proses pemesinan sebelum cutting tool tersebut diasah ataupun diganti. 4. Kestabilan kimiawi
3

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

Kestabilan kimiawi merupakan karakteristik yang harus dipenuhi oleh bahan benda kerja yang bisa menyebabkan keausan. Pada proses-proses pengerjaan logam, khususnya pekerjaan pemotongan akan terjadi panas yang tinggi sebagai akibat adanya gesekan antara cutting cool dan benda kerja yang dipotong. Jika temperatur kerja dan tekanan cutting tool pada benda kerja tidak diatur, maka permukaan keduanya cenderung akan menyatu. Untuk mengatur temperatur kerja dan tekanan cutting tool pada benda kerja, maka perlu digunakan media pendingin. Pemakaian cairan pendingin biasanya mengefektifkan proses pemesinan. Untuk itu ada beberapa kriteria untuk pemilihan cairan pendingin tersebut, walaupun dari beberapa produsen mesin perkakas masih mengijinkan adanya pemotongan tanpa cairan pendingin. B. Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan Cutting Tool? 2. Apa bahan yang digunakan untuk membuat Cutting Tool? 3. Bagaiamana gaya potong dan kecepatan potong Cutting Tool? 4. Bagaimana bentuk dan sudut Cutting Tool? 5. Apa saja jenis-jenis Cutting Tool? 6. Bagaimana keausan Cutting Tool? 7. Apa yang dimaksud dengan Cutting Fluid? 8. Apa saja jenis-jenis Cutting Fluid? 9. Bagaimana cara pemberian Cutting Fluid pada proses pemesinan? 10. Bagaimana cara perawatan dan pembuangan Cuting Fluid? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui apa itu Cutting Tool 2. Untuk mengetahui bahan yang digunakan untuk membuat Cutting Tool 3. Untuk mengetahui gaya potong dan kecepatan potong Cutting Tool 4. Untuk mengetahui bentuk dan sudut Cutting Tool 5. Untuk mengetahui jenis-jenis Cutting Tool 6. Untuk mengetahui bagaimana keausan Cutting Tool 7. Untuk mengetahui apa itu Cutting Fluid
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 4

8. Untuk mengetahui jenis-jenis Cutting Fluid 9. Untuk mengetahui cara pemberian Cutting Fluid pada proses pemesinan 10. Untuk mengetahui cara perawatan dan pembuangan Cutting Fluid

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Cutting Tool Pahat alat yang berfungsi untuk membantu proses pemesinan sebagai alat pemotong untuk memotong dan mengurangi ukuran benda kerja. umumnya pahat digunakan untuk memotong bidang geram benda kerja.

B.

Bahan Pembuatan Cutting Tool Pada proses produksi, bahan cutting tool sangat menentukan proses maupun

hasil proses, sehingga dalam perkembangannya muncul berbagai upaya untuk meningkatkan kemampuan cutting tool agar hasil yang diperoleh dari proses pemesinan semakin baik. Bahan-bahan yang biasanya digunakan sebagai cutting tool pada proses pemesinan antara lain : a. Baja karbon (Plain Carbon Steel) Baja karbon mengandung 0,5 % - 1,5 % karbon. Baja karbon jarang digunakan untuk cutting tool, karena kemampuannya yang terbatas. Kekerasan baja karbon akan berkurang padasuhu 250 0C (523 0K), sehingga dapat digunakan pada kecepatan pemotongan yang rendah. Baja ini biasanya digunakan untuk memotong bahan-bahan yang lunak seperti light metal. Baja karbon merupakan bahan yang paling tua yang digunakan sebagai cutting tool sejak abad ke-18. b. Baja perkakas paduan(Alloyed Tool Steels) Baja paduan merupakan baja karbon yang ditambah dengan unsur-unsur paduan seperti : Tungsten (T), Molybdenum (M), Vanadium (Va), Cobalt (Co), dan Chromium (Cr). Baja paduan memiliki kecepatan potong sedang. Baja paduan mengandung0,7% karbon. Baja paduan ini digunakan sejak awal abad ke19. Ada dua macam baja perkakas paduan, yaitu :
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 6

1. baja perkakas paduan rendah (low alloyed tool steels/ SS) yang memiliki kekerasan yang berkurang pada suhu400 0C (673 0K). 2. baja perkakas paduan tinggi (high alloyed tool steels/ HSS) yang kekerasannya akan berkurang pada 600 C (873 0K). c. Paduan tuang paduan bukan besi(Cast Nonferrous Alloy Tool Bits) Paduan ini terutama mengandung chrom, cobalt dan wolfram yang dibentuk dengan cara pengecoran. Paduan ini memiliki kecepatan potong 30% - 100% lebih tinggi daripada HSS, kekerasannya tinggi, ketahanan terhadap keausan tinggi, sehingga mampu digunakan sampai suhu 800 0C (1073 0K), tetapi sifatnya rapuh dan tidak seulet HSS. Baja paduan ini mengandung2% C. Nama yang biasanya digunakan antara lain : Stellite, Tantung Rex Alloy, J Metal. d. Karbida(Cemented Carbides/Sintered Tool) Karbida dihasilkan dengan teknik metalurgi serbuk (powder metallurgy), di mana serbuk logam wolfram karbida dan cobalt dikempa untuk membentuk, kemudian melalui proses sintering dalam tungku atmosfer hidrogen pada temperatur 1550 0C, dan diselesaikan dengan operasi penggerindaan. Perkakas karbida yang mengandung 94% wolfram karbide dan 6% cobalt sesuai digunakan untuk memotong besi cor dan semua bahan kecuali baja. Khusus untuk memotong baja, karbida yang digunakan mengandung 82 % tungsten carbide, 10 % titanium, 8 % cobalt dengan kekerasan 75 - 90 HR. Kecepatan potongnya tiga kali lebih cepat daripada HSS. Kekerasannya akan berkurang pada suhu 900 0C (11/3 0K). Tungsten carbide biasanya digunakan untuk besi tuang, logam nonferrous, plastik, karet. Sedangkan tungsten-titanium dan tantalum-titanium carbide biasanya digunakan untuk baja. Karbida mulai digunakan sejak tahun 1930 pada proses produksi dengan kapasitas tinggi. e. Keramik (Cutting Ceramics/Alumina Base Ceramic atau Cermet) Keramik dihasilkan melalui teknik metalurgi serbuk (powder metallurgy) aluminium oksida (Al2,O3) aengan titanium, kromium oksida atau magnesium oksida yang dicampurkan dengan bahan perekat kaca. Kecepatan potongnya dua
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 7

kali lebih cepat daripada karbida. Sifatnya sangat keras, rapuh, dan tahan aus. Kekerasannya akan berkurang pada suhu 1300 0C (1573 0K). Keramik biasanya digunakan pada proses pemesinan semi finishing dan finishing pada benda kerja besi tuang (besi cor) atau logam keras Iainnya. Keramik mulai digunakan sebagai bahan cutting tool sejaktahun 1950. f. Cubic Boron Nitride Cubic boron nitride merupakan bahan cutting tool yang memilikisifat ketahanan aus dan kekuatan potong yang sangat tinggi,mendekati kekerasan intan. Bahan ini biasanya digunakansebagai bahan pengasah pada batu gerinda. g. Intan (Diamona) Intan digunakan pada pahat mata tunggal untuk pemotongan ringan dan untuk mengerjakan benda-benda yang membutuhkan kecepatan tinggi (10 kali lebih cepat daripada pahat lain atau kecepatannya lebih dari 1000 m/menit) dan permukaannya yangsangat baik (kedalaman potong 0,02 - 0,06 mm).Sifatnya sangat keras, rapuh, tahan aus tetapi harganya sangat mahal. Kekerasannya akan berkurang pada suhu 900 0C (1173 0K). Intan digunakan untuk memotong benda kerja yang sulit dipotong dengan bahan cutting tool yang lain, ataupun untuk pemotongan ringan dengan kecepatan tinggi pada bahan yang lebih lunak dengan ketelitian dan mengutamakan penyelesaian permukaan (surface finishing) yang baik. Umumnya, intan digunakan untuk memproses plastik, karet keras, karbon tekan, dan alumunium dengan kecepatan potong 300 - 1500 m/men. Intan juga digunakan untuk melapisi roda gerinda, untuk cetakan penarikan kawat kecil, dan dalam operasi penggerindaan dan pemolesan. Tabel Karakteristik Material Cutting Tool
Material cutting tool Karakterist ik Baja karbon rendah Katangguh HSS Cubic Boron Nitride Intan

Sintered Carbide

HSS Coating

Carbide Coating

Cerami c

Semakin berkurang
8

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

an

Kekerasan Panas

Semakin tinggi

Kekuatan Impak

Semakin berkurang

Katahanan Aus

Semakin tinggi

Kecepatan Pemotonga n

Semakin tinggi

Harga Material

Semakin tinggi
60 HRC 65 HRC 65 HRC 90 HRC 93 HRC/1800 HK 2100 HK 5000 HK 8000 HK

Nilai Kekerasan

dimana : HRC = Nilai kekerasan Rockwell C. Gaya Potong dan Kecepatan Potong

HK = Nilai kekerasan Knoop

Gaya geser dan sudut bidang geser merupakan fungsi dari gaya gesek serpihan dengan permukaan pahat, sedangkan gaya gesek tergantung kepada beberapa faktor, antara lain kehalusan dan ketajaman pahat, ada tidaknya zat pendingin (coolant), material pahat, material benda kerja, kecepatan potong dan bentuk pahat nya. Secara umum dapat dikatakan, bila gaya gesek besar, geramnya tebal, sudut geser kecil. Untuk mengukur besarnya gaya-gaya tersebut, digunakan dinamometer elektronik, misalnya gaya potong tidak di ukur pada tempat pemotongan, tetapi reaksi pemotongan nya yang di ukur. Kombinasi transduser
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 9

dan platform, digunakan untuk mengukur 3- buah gaya dan momen puntir/torsi (pada proses penggurdian). Gaya-gaya yang bekerja pada ujung mata pahat mesin bubut, dapat di lihat pada gambar:

Gambar Gaya gaya yang bekerja pada cutting tool Keterangan:

FL = Gaya Longitudinal
FT = Gaya Tangensial FR = Gaya Radial
Dalam operasi permesinan, gaya terpenting adalahGaya Tangensialsebab secara persentase, gaya ini yang paling besar.Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan: 1. Gaya potong tidak berubah secara signifikan dengan berubahnya kecepatan potong. 2. Makin besar hantaran (feed) perkakas, makin besar gaya yang diperlukan. 3. Makin dalam pemotongan, makin besar gaya yang diperlukan. 4. Gaya tangensial meningkat dengan membesarnya serpihan. 5. Gaya longitudinal menurun, bila jari-jari ujung pahat dibuat lebih besar, atau kalau sudut tepi pemotongan sisi diperbesar. 6. Penggunaan media pendingin (coolant) Dibawah ini dapat dilihat gambar ilustrasi dari approksimasi persentase dari distribusi gaya-gaya potong yang terjadi pada pahat mata tunggal.
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 10

Gambar Distribusi gaya potong

Keterangan:

FL = 27 %

FT = 67 %
FR = 6 %
Terlihat bahwa Gaya Tangensial; FT , mempunyai kontribusi gaya yang paling besar, oleh karena itu gesekan dan panas akan lebih banyak timbul akibat gaya ini, sehingga atensi dalam hal pendinginan (coolant), harus lebih di fokuskan di daerah tersebut. Catatan:Terlihat bahwa ke-3 gaya tersebut seolah-olah mempunyai satuan persen (%), pada hal, ini ingin mengatakan bahwa persentase itu merupakan perbandingan gaya-gaya yang terjadi pada titik pusat pemotongan suatu benda kerja logam pada suatu proses pembubutan. Gaya pada cutting tool tergantung pada : 1. Gaya tangensial (FT) meningkat seiring dengan semakin besamya serpihan yang dihasilkan. 2. Gaya longitudinal (FL) semakin menurun jika jari-jari ujung pahat dibuat lebih besar atau jika sudut tepi pemotongan sisi diperbesar. 3. Semakin dalam pemotongan (feed), semakin besar gayanya.
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 11

4. Semakin besar hantaran cutting tool, semakin besar gayanya. Kecepatan potong adalah suatu harga yang diperlukan dalam menentukan kecepatan pada proses penyayatan atau pemotongan benda kerja. Harga kecepatan potong tersebut ditenyukan oleh jenis alat potong dan jenis benda kerja yang dipotong. Rumus dasar untuk menentukan kecepatan potong adalah :

Keterangan : Vs D S = kecepatan potong dalam m/menit = diameter pahat dalam mm = kecepatan putaran dalam rpm

Faktor yang mempengaruhi harga kecepatan potong : 1. Bahan benda kerja/material Semakin tinggi kekuatan bahan yang dipotong, maka harga kecepatan potong semakin kecil. 2. Jenis alat potong Semakin tinggi kekuatan alat potong maka harga kecepatan potong semakion besar 3. Besarnya kecepatan penyayatan Semakin besar jarak penyayatan maka kecepatan potong semakin kecil 4. Kedalaman penyayatan Berikut ini kecepatan potong standart untuk berbagai jenis logam :

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

12

D.

Bentuk dan Sudut Cutting Tool Pahat mata tunggal dibuat dengan cara digerinda sehingga berbentuk baji, di

mana sudut yang tercakup dalam proses penggerindaan disebut sudut potong. Untuk mencegah terjadinya penggesekan pahat perlu dibuat sudut pengaman samping antara sisi pahat dengan benda kerja yang biasanya hanya sekitar 6 sampai 8 derajat. Sudut potong pada pahat harus tajam agar menghasilkan pemotongan yang baik dan tepinya harus kuat menahan gaya perkakas itu sendiri serta untuk mengarahkan agar panas yang timbul bisa keluar.

Gambar Geometri pahat bubut rata kanan Terdapat 6 sudut utama yang memegang peranan penting dalam pemesinan menggunakan pahat bubut. Sudut-sudut tersebut adalah: 1) Sudut Rake Sisi (Side Rake Angle)
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 13

Istilah Rake Sisi menunjukkan permukaan bagian atas yang digerinda miring dengan membentuk sudut terhadap permukaan potong sisi. Sudut rake menentukan sudut ketika tatal meninggalkan benda kerja dalam arah menjauhi permukaan potong sisi. 2) Sudut Rake Belakang (Back Rake Angle) Istilah Rake Belakang menunjukkan permukaan atas yang digerinda miring dengan membentuk sudut terhadap permukaan ujung. Sudut Rake Belakang secara total juga ditentukan oleh pemegang pahat bubut. Besar sudut ini mempengaruhi sudut dimana tatal meninggalkan benda kerja dalam arah menjauhi permukaan ujung. Fungsi utama dari Sudut Rake adalah mengarahkan aliran tatal meninggalkan permukaan benda kerja dan mengatur gaya potong. Gaya potong ini harus didistribusikan secara merata pada masingmasing permukaan sisi dan permukaan depan. 3) Sudut Bebas Sisi (Side Clearance Angle) Istilah Bebas Sisi (side relief) menunjukkan permukaan samping yang digerinda miring dengan membentuk sudut terhadap permukaan sisi potong. Bebas sisi ini mengkonsentrasikan gaya tusuk yang timbul pada suatu daerah kecil di dekat permukaan sisi potong. 4) Sudut Bebas Muka (Front Clearance Angle) Istilah Bebas Muka (end relief) berarti permukaan depan dari pahat yang digerinda miring dengan membentuk sudut terhadap permukaan ujung. Bebas muka mengkonsentrasikan gaya tusuk yang timbul di daerah ujung (nose) pada permukaan depan. 5) Sudut Sisi Potong Samping (Side Cutting Edge Angle) Istilah Sisi Potong Samping menunjukkan permukaan samping yang digerinda miring dengan membentuk sudut terhadap permukaan sisi dari pahat. Sudut Sisi Potong Samping membentuk sisi potong (cutting edge) dalam hubungannya dengan tangkai (shank) pahat. 6) Sudut Sisi Potong Depan (End Cutting Edge Angle) Istilah Sisi Potong Depan menunjukkan permukaan depan yang digerinda miring dari ujung membentuk sudut terhadap sisi tangkai bagian bawah. Sudut ini
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 14

membentuk sudut sisi potong dalam hubungannya dengan benda kerja. Sudut Sisi Potong ini mempunyai fungsi penting yaitu memungkinkan pahat bubut menusuk benda kerja dengan beban mula yang dijauhkan dari ujung pahat, yang merupakan bagian paling lemah pada pahat. Sudut ini secara bertahap melepaskan beban pada pahat ketika dilakukan proses pemakanan. Material Back Rake Aluminium And Magnesium Alloys Copper Alloys Steels Stainless Steels High Temperature Alloys Refractory Alloys Titanium Alloys Cast Irons Thermoplastics Thermosets 0 0 5 0 0 20 5 10 0 0 5 5 5 20-30 20-30 5 5 5 15-20 15-20 15 15 15 10 10 5 10 5 0 10 12 8-10 10 8 5 5 5 8 5 5 5 5 15 15 15 20 Side Rake 15 End Relief End Cutting Edge Back Rake

12

10

E.

Jenis-jenis Cutting Tool


Secara umum tipe pahat bubut dapat dibedakan menjadi dua tipe yakni : Solid tool, dan Tool bits.

Solid tool (pahat tunggal) ialah pahat bubut yang berukuran besar dibuat dari baja perkakas paduan (alloy tool steel) atau High Speed Steel (HSS). Seperti pada gambar 9.33. Pahat dari jenis ini digunakan
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 15

dalam pekerjaan penyayatan bahan-bahan lunak (seperti baja lunak /Mild Steel). Pemasangannya langsung dijepit pada tool post, namun terdapat pula ukuran yang kecil (1/4 ) ini dipasang pada tool holder, pahat ini termasuk solid tool.

Tool bit (pahat insert) ialah pahat yang hanya terdiri atas mata potongnya dan harus menggunakan tool holder, dengan spesifikasi khusus sesuai dengan bentuk tool bit itu sendiri, atau di brazing pada tangkainya (lihat gambar 9.34).

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

16

Jenis-jenis cutting tool atau pahat potong berdasar jenis mesinnya antara lain sebagai beikut: 1. Cutting Tool pada mesin bubut a. Pahat bubut rata kanan Pahat bubut rata kanan memilki sudut baji 80 dan sudut-sudut bebas lainnya sebagaimana gambar,dan pembubutan pahat ini dimulai dari kanan ke kiri mendekati cekam bubut.

Gambar Pahat bubut rata kanan Cara membentuk atau mengasah pahat rata kanan yang paling umum dipakai adalah sebagai berikut : 1. Pertama kita akan menggerinda bagian depan batang HSS ini (bagian yang berwarna kuning dari model diatas). Gunakan batu gerinda kasar.Posisikan pahat agak miring ke kiri 10-15O. Hal ini akan membuat sudut bebas,agar tidak semua bagian pahat bersentuhan dengan benda kerja nantinya.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

17

langkah 1.a

pahat menjadi panas

Pendinginan langkah 1.b

Proses pengerindaan membuat pahat menjadi panas,maka kita perlu sesekali mencelubkan ke cairan pendingin selama kurang lebih 15 detik. Di bawah ini adalah gambar setelah proses penggerindaan pertama.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

18

langkah 1.c 2. Langkah kedua,kita akan menggerinda sisi potongnya,karena pahat yang kita buat pahat kanan maka sisi potongnya ada di sebelah kiri(ditunjukkan warna merah pada model). Prosedur dasarnya adalah sama kecuali bahwa kita memegang alat dengan sisi sekitar sudut 10 derajat ke roda gerinda.

langkah 2.a

langkah 2.b

langkah 2.c

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

3. Langkah ketiga,kita akan membuat sudut pembuangan tatal pada sisi atas,pada model ditunjukkan warna biru. Pada langkah ini,kita harus lebih berhati-hati,jangan sampai bagian sisi potongnya yaitu pertemuan sisi kiri dan atas, ikut tersapu batu gerinda. Jika terjadi maka ketinggian sisi potongnya akan berkurang atau lebih rendah dari badan pahat itu sendiri,masih bisa dipakai memang,namun mungkin akan membutuhkan plat ganjal tambahan saat menyetel.

langkah 3.a

4. Langkah keempat atau terakhir adalah membulatkan ujung sisi potongnya. Untuk tugas membubut yang normal, ujung sisi potong yang terlalu tajam seperti gambar diatas tidak akan bertahan lama. Karena itu kita harus membuatnya memiliki radius kecil agar bisa digunakan dalam pemakanan yang cukup dalam. Kurang lebih bentuknya seperti gambar 4.b.

langkah 4.a

langkah 4.b

Hasil akhir

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

b. Pahat bubut rata kiri Sudut baji rata kiri sebesar 55, dan biasanya digunakan unutk pembubutan yang dimulai dari kiri ke kanan mendekati kepala lepas.

Gambar Pahat bubut rata kiri Proses penggerindaan untuk pembuatan atau pengasahan pahat bubut rata kiri secara analogi adalah sama hanya penggerindaan sudut bajinya saja yang berbeda, jika pada pahat bubut rata kanan sudut baji adalah 80O maka pada pahat bubut rata kiri adalah 55O dan arah geometrinya berlawanan dengan pahat rata kenan karena arah pemakanannya juga berlawanan. c. Pahat bubut muka Pahat bubut muka memiliki sudut baji 55O, pahat ini bisa digunakan baik dari kanan maupun kiri benda kerja.

Gambar Pahat bubut muka

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

12

Proses pembentukan dan pengasahan pahat muka sama persis dengan pahat rata kanan hanya saja sudut bajinya sebesar 55O . d. Pahat bubut ulir segi tiga Pahat bubut ulir memilki sudut puncak tergantung dari jenis ulir yang akan dibuat, sudut puncak 55 adalah untuk membuat ulir jenis whitwhort. Sedangkan untuk pembuatan ulir jenis metrik sudut puncak pahat ulirnya dibuat 60.

Gambar Pahat bubut ulir metris Proses penggerindaan pahat ulir adalah sebagai berikut : 1. Membentuk lebar mata pahat hingga menjadi 4mm sepanjang 15mm 2. Langkah kedua adalah membentuk sudut bebas muka sebesar 8O sudut ini yang akan berperan ketika pahat melakukan tusukan ke benda kerja. 3. Berikutnya adalah membentuk sudut ujung pahat, tahap ini tergantung pada jenis ulir yang akan dibuat, jika akan membuat ulir whitwhort maka sudut ujungnya sebesar 55O namun jika hendak membuat ulir metris maka sidut yang dibuat adalah sebesar 60O. Pada tahap ini sekaligus membentuk
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 13

sudut relief sisi, fungsinya agar pahat tidak terjepit di benda kerja ketika melakukan tusukan 4. terakhir adalah membentuk sudut rake sisi dan rake belakang dengan sudut yang sama yaitu sebesar 15O untuk mengalirkan tatal meninggalkan benda kerja e. Pahat bubut alur, potong, dan ulir segi empat Pahat bubut alur dan ulir memiliki kesamaan karakter yang sangat tinggi, baik dari segi geometri maupun pamakaiannya. Perbedaan keduanya hanya berada pada dimensi lebar ujung pahat, jika pada pahat alur dimensi lebar ujung pahat sebesar 3mm atau menyesuaikan besarnya alur yang akan dibuat, sedangkan pada pahatpotong lebar ujung pahat maksimal hanya 2mm, hal ini dipakai untuk mengefisienkan material yang terbuang selama proses pemotongan.

Gambar Pahat bubut alur

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

14

Proses pembentukan pahat bubut alur dan potong adalah sebagai berikut : 1. Membentuk lebar mata pahat hingga menjadi 3mm untuk pahat alur atau 2mm untuk pahat potong sepanjang 15mm 2. Langkah kedua adalah membentuk sudut bebas muka sebesar 8O sudut ini yang akan berperan ketika pahat melakukan tusukan ke benda kerja. 3. Berikutnya adalah membentuk sudut relief sisi sebesar 3O, fungsinya agar pahat tidak terjepit di benda kerja ketika melakukan tusukan 4. Terakhir adalah membentuk sudut belakang sisi sebesar 15O terhadap ujung pahat untuk mengalirkan tatal meninggalkan benda kerja Bentuk pahat bubut dan fungsinya: a. Pahat ISO 1(Staight Shank Tool) Biasa digunakan pada proses roughing memanjang b. Pahat ISO 2(Bent shank tool) Untuk proses roughing memanjang dan juga bias untuk membuka muka(fancing) dan membuat Chamfer c. Pahat ISO 3(Offset corner cutting tool) Untuk proses finishing memanjang dan facing dari arah dalam menuju luar d. Pahat ISO 4(Board edge tool) Untuk memebuat undercut yang lebar dan juga untuk finshing memanjang dengan kedalaman pemakanan yang kecil e. Pahat ISO 5(Offset face turning tool) Untuk proses facing dari arah luar menuju kedalam f. Pahat ISO 6(Offset side cutting turning tool) Untuk proses finishing memanjang dan proses facing tetapi pahat harus miring sedikit untuk facing kearah luar g. Pahat ISO 7(parting tool) Untuk membuat undercut,memotong ataupun untuk finshing memanjang h. Pahat ISO 8(Boring tool) Untuk boring dengan lubang tembus i. Pahat ISO 9(Corner boring tool)

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

15

Digunakan untuk proses boring, dengan lubang tidak tembus 2. Cutting Toolpada mesin frais Cutter pada mesin milling mempunyai bentuk silindris, berputar pada sumbunya dan dilengkapi dengan gigi melingkar yang seragam.Keuntungan cutter dibanding dengan pahat bubut dan pahat ketam adalah setiap sisi potong dari pisau frais mengenai benda kerja hanya dalam waktu yang pendek pada proses pemotongan selama 1 putaran pisau frais dan pendinginannya pada waktu sisi potong mengenai benda kerja, maka hasilnya cutter frais akan lebih tahan lama. Cutter biasanya terbuat dari HSS maupun Carbide Tripped. Gigi cutter ada yang lurus maupun ada yang mempunyai sudut, untuk yang bersudut (helix angle) dapat mengarah ke kanan dan ke kiri. Cutter mesin frais baik horisontal maupun vertical banyak sekali jenisnya antara lain : a. Cutter mantel Cutter jenis ini dipakai untuk mesin frais horizontal

b. Cutter alur Cutter ini digunakan untuk membuat alur-alur pada batang atau permukaan benda lainnya

c. Cutter modul Cutter ini dalam satu set terdapat 8 buah. Cutter ini dipakai untuk membuat roda-roda gigi.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

16

d. Cutter radius cekung Cutter ini dipakai untuk membuat benda kerja yang bentuknya memiliki radius dalam (cekung)

e. Cutter radius cembung Cutter ini dipakai untuk membuat benda kerja yang bentuknya memiliki radius dalam (cekung)

f. Cutter alur T Alat ini hanya digunakan untuk untuk membuat alur berbentuk T seperti halnya pada meja mesin frais.

g. Cutter ekor burung Cutter ini dipakai untuk membuat alur ekor burung. Cutter ini sudut kemiringannya terletak pada sudut-sudut istimewa yaitu : 300, 450 ,600
CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS 17

h. Cutter endmill Ukuran cutter ini sangat bervariasi mulai ukuran kecil sampai ukuran besar. Cutter ini biasanya dipakai untuk membuat alur pasak dan ini hanya dapat dipasang pada mesin frais vertical.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

18

i. Cutter heavy duty endmill Cutter ini mempunyai satu ciri khas yang berbeda dengan cutter yang lain. Pada sisinya berbentuk alur helik yang dapat digunakan untuk menyayat benda kerja dari sisi potong cutter, Sehingga cutter ini mampu melakukan penyayatan yang cukup besar

Berdasarkan material benda kerja Cutter type N ( normal ) 1. 2. 3. 4. Digunakan untuk material yang normal sampai 70 ( kg/mm2), Sudut potong ( ) tidak begitu besar 73o, Sudut spiral ( ) tidak begitu besar 30o, Kisarnya tidak begitu besar sehingga mempunyai jumlah gigi yang tidak begitu banyak, 5. Pemakan untuk tiap gigi tidak begitu besar. Cutter type H ( keras ) 1. Digunakan untuk material yang ulet dan keras ( baja panduan, baja tuang, Spk ) sampai 100 ( kg/mm2), 2. Sudut potong ( ) besar 81o, 3. Sudut spiral ( ) kecil 25o, 4. Kisarnya kecil sehingga mempunyai jumlah gigi yang banyak, 5. Pemakan untuk tiap gigi kecil. Cutter type W ( lunak ) 1. 2. 3. 4. 5. Digunakan untuk material lunak, Sudut potong ( ) kecil 57o, Sudut spiral ( ) besar 35o, Kisarnya besar sehingga mempunyai jumlah gigi sedikit, Pemakan untuk tiap gigi besar.

3. Cutting Toolpada mesin sekrap Macam-macam jenis cutting tool pada mesin sekrap adalah sebagai berikut: a. Pahat kasar lurus

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

19

b. Pahat kasar lengkung

c. Pahat sejrap datar

d. Pahat sekrap runcing

e. Pahat sekrap sisi

f. Pahat sekrap sisi kasar

g. Pahat sekrap datar

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

20

4. Cutting Toolpada mesin bor Macan-macam cutting tool pada mesin bor berdasarkan cara pemasangannya adalah sebagai berikut:

a. Bor dengan tangkai lurus (taper) langsung dimasukan pada lubang


sumbu mesin bor, tidak boleh menggunakn pemegang bor. Dengan demikian, lubang alur menerima ujung taper dan lubang taper diimbangi oleh selubang yang distandarisasi (dinormalisasikan). Ujung taper tidak digunakan untuk memegang tapi untuk mempermudah dilepas dari selumbung dengan menggunakan soket. Sebelum melepas bor, sepotong kayu harus diletakan dibawahnya, sehingga mata bor tidak akan rusak pada saat jatuh

b. Bor dengan tangkai selinder diguanakan Pemegang bor


berkonsentrasi sendiri dengan dua atau tiga rahang. Bor harus dimasukan sedalam mungkin sehinggan tidak selip pada saat berputar. Permukaan bagiaan dalam pemegang berhubungan dengan tangakai mata bor, sehingga menghasilkan putaran bor.

c. Bor dengan kepala bulat lurus diperguanakan pemegang/ penjepit


bor otomatis (universal), dimana bila diputar kuncinya, maka mulutnya akan membuka atau menjepit dengan sendirinya (otomatis).

d. Bor dengan kepala tirus dipergunakan taper atau sarung pangurang


yang dibuat sesuai dengan tingkatan dan kebutuhan, sehingga terdapat bermacam-macam ukuran.

e. Mata bor yang baik asahan mata potongnya akan mengebor dengan
baik dan akan menghasilkan tatal yang sama tebal dengan yang keluar melalui kedua belah alur spiral bor. Untuk bahan

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

21

memerlukan pendinginan, dipergunakan cerek khusus tempat bahan pendingin. 5. Cutting Toolpada mesin gerinda Struktur batu gerinda di pengaruhi dan di tentukan oleh perbandingan 2 faktor, yaitu ukuran butiran dan perekat yang digunakan. Perbandingan perekat dengan butir asah dalam batu gerinda berkisar antara 10-30 % dari volume total batu gerinda. Dilihat dari perbandingan tersebut, terdapat 2 jenis batu gerinda, yaitu: 1. Struktur terbuka/ batu gerinda lunak Jenis ini memiliki sifat mudah melepaskan butir asah dalam tekanan tertentu karena memiliki Jumlah perekat sedikit. Jenis ini di gunakan untuk menggerinda benda yang keras, karena sifat yang mudah melepas butir asah, maka permukaan benda kerja selalu mendapatkan butiran asah yang baru dan massih tajam. Percikan bunga api yang dihasilkan banyak karena selain partikel benda kerja, gesekan yang terjadi juga melepaskan butiran asah.

2.

Struktur tertutup/ batu gerinda keras Jenis ini memiliki sifat yang sulit melepaskan butir asah dalam tekanan tertentu karena memiliki perekat yang banyak. Jenis ini cocok di gunakan untuk menggerinda benda yang lunak, karena sifat benda kerja yang lunak, maka mata asah dapat lebih awet karena partikel benda kerja akan terkikis terlebih dahulu dari pada terlepasnya butiran asah. Percikan bunga api yang dihasilkan oleh penggerindaan sedikit.

6. Cutting Toolpada gergaji Pisau gergaji yang digunakan di work shop, sering disebut sebagai gergaji daya, mirip dengan gergaji tangan, bedanya, pada gergaji daya, jarak bagi dibuat lebih kasar, yakni berkisar antara (1,8 s/d 10) mm, lihat gambar berikut ini.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

22

KETERANGAN:

A = Pisau gergaji dengan gigi lurus B = Pisau gergaji dengan gigi pemotong bawah C = Pisau gergaji dengan gigi loncat

Misalkan akan menggergaji besi cor dan baja biasa, maka agar lebih efisien, maka digunakan gergaji dengan jarak bagi yang lebih kasar, agar ada terdapat ruang untuk pelepasan geram nya. Sedangkan untuk material baja karbon tinggi dan baja paduan nya, jarak bagi mata gergaji nya harus yang menengah, sedangkan untuk logam tipis, pipa dan kuningan, memerlukan jarak bagi yang lebih halus. Sebuah gergaji gigi lurus, memiliki satu deretan gigi agak dikanan, satu deretan lagi berada agak dikiri, yang biasanya digunakan untuk memotong kuningan, tembaga dan juga pelastik. Sementara itu, gegaji gigi prnggaruk mempunyai satu gigi lurus ber selang-seling dengan dua deretan gigi yang arah nya berlawanan, sering digunakan untuk memotong baja dan besi pada umum nya. Pada seluruh proses peng-gergajian daya, biasanya panas yang timbul tidak terlalu tinggi, namun tetap dianjurkan agar selalu menggunakan pelumasan, gunanya untuk melumasi perkakas dan sekaligus untuk membersihkan dari serpihan-serpihan yang sering dapat menumpuk diantara gigi-gigi. 7. Laser Cutting Laser cutting untuk industri dirancang untuk mengkonsentrasikan jumlah energi yang tinggi ke tempat yang kecil. Biasanya sinar laser cutting berdiameter sekitar 0,003-0,006 inci ketika menggunakan laser dengan panjang gelombang pendek. Energi panas yang dihasilkan oleh laser mencair, atau menguapkan bahan di daerah pengerjaan dan gas (atau campuran) seperti oksigen, CO2, nitrogen, atau

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

23

helium digunakan untuk membuang bahan yang menguap yang keluar dari goresan. Energi cahaya yang diterapkan langsung tempat yang membutuhkan, meminimalkan panas zonadi sekitar area yang dipotong. Laser cutting bekerja dengan mengarahkan output dari laser dengan daya tinggi, oleh komputer, pada bahan yang akan dipotong. Bahan akan mencair, terbakar, menguap, atau tertiup oleh jet gas, meninggalkan tepi dengan finishing permukaan yang berkualitas tinggi. Presisi pemotongan laser lebih populer dan efektif daripada proses pemotongan tradisional. Alasannya jelas, akurasi yang memegang kunci keberhasilan pemotongan presisi laser. Kelebihan dari pemotongan laser : 1) Fleksibel dan cepat tetapi mekanisme hemat biaya. 2) Dalam presisi laser cutting , materi tidak bersentuhan dengan alat pemotong. 3) Presisi pemotongan laser digunakan untuk berbagai jenis bahan dengan berbagai macam ketebalan. 8. Laser Drilling Sistem pengeboran laser menyediakan lubang yang akurat dengan tingkat presisi yang maksimum dan juga waktu pengerjaan yang sangat cepat. Jika semisal tidak mempertimbangkan kualitas, kemudian melakukan pengeboran sesuai laser yang berdasarkan kebutuhan industri, maka itulah yang menjadi solusi industri manufaktur dalam jangka panjang.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

24

9. Laser Engraver Laser engraving adalah praktek menggunakan laser untuk mengukir atau tandai objek.Laser beroperasi dengan memfokuskan seberkas cahaya, atau laser, di situs menunjuk pada objek untuk memotongnya daripada menggunakan benda padat. Sebuah sistem komputer dengan perangkat lunak grafis vektor juga akan diperlukan. Instruksi diberikan kepada pemotong laser melalui perangkat lunak yang deciphers geometri desain untuk kode mesin CNC numerik. Laser juga dapat mengambil data dari gambar yang dibuat dengan bantuan komputer-aided software desain (CAD). Meskipun kompleksitas ini, ukiran yang sangat tepat dan bersih dapat dicapai pada tingkat tinggi. Ada tiga genre utama ukiran mesin: a. Yang paling umum adalah tabel XY dimana, benda kerja (permukaan) diam dan laser bergerak di dalam arah X dan Y gambar vektor . Kadangkadang benda kerja bergerak di sumbu Y dan laser di sumbu X. b. Sebuah genre kedua adalah untuk benda kerja silindris (atau benda kerja dipasang datar di sekitar silinder) dimana laser efektif melintasi sebuah heliks baik on /off laser berdenyut menghasilkan gambar yang diinginkan pada raster dasar. c. Pada metode ketiga, baik laser dan benda kerja yang diam dan galvo mirror memindahkan sinar laser pada permukaan benda kerja. 10. Plasma Cutting Plasma cutting adalah proses yang digunakan untuk memotong baja dan lainnya logam dari ketebalan yang berbeda (atau kadang-kadang bahan lain) dengan menggunakan obor plasma. Dalam proses ini, suatu gas inert (di beberapa unit, udara tekan) ditiup dengan kecepatan tinggi dari nozel, pada saat yang sama busur listrik terbentuk melalui gas yang dari nozel ke permukaan dipotong, mengubah sebagian dari gas itu untuk plasma. Plasma cukup panas untuk mencairkan logam yang dipotong dan bergerak cukup cepat untuk meniup logam cair jauh dari memotong. Busur plasma sangat panas dan berada di kisaran 25.000 C (45,000 F).

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

25

Plasma (arc) cutting dikembangkan pada tahun 1950 untuk memotong logam yang tidak bisa nyala api dipotong, seperti baja stainless aluminium, dan tembaga. Proses pemotongan plasma busur konduktif menggunakan gas elektrik untuk mentransfer energi dari sumber daya listrik melalui pemotongan plasma obor ke dipotong material. Gas plasma termasuk argon, hidrogen, nitrogen dan campuran, ditambah udara dan oksigen. Biasanya, sebuah sistem pemotongan busur plasma memiliki catu daya, rangkaian mulai busur, dan obor. Sumber daya dan sirkuit starter busur tersambung ke obor memotong memimpin dan kabel yang menyediakan aliran gas yang tepat, arus listrik, dan frekuensi tinggi untuk obor untuk memulai dan mempertahankan proses dan. The busur aliran plasma difokuskan oleh sangat sempit lubang nozzle. Suhu busur plasma meleleh logam dan menembus benda kerja sementara aliran gas kecepatan tinggi menghilangkan bahan cair dari bagian bawah dipotong, atau goresan. Selain itu untuk radiasi energi tinggi (Ultraviolet dan terlihat) yang dihasilkan oleh plasma busur pemotongan. F. KeausanCutting Tool Umurpahat merupakan salah satu faktor penting dalam proses produksi, karena waktu yang diperlukan untuk penggantian pahat dan penyetelan kembali menyebabkan berkurangnya kemampuan pahat. Umur pahat adalah ukuran lamanya suatu pahat yang mampu memotong dengan baik. Umur pahat dapat diukur dengan beberapa cara, antara lain : 1. Pada sisi pahat, yaitu suatu tepi yang kecil yang menonjol dari ujungnya terampelas hilang. Kerusakan pahat terjadi jika tepi ini telah aus 1,58 mm dan pada pahat HSS dan 0,76 mm pada pahat karbida. 2. Pada muka pahat dalam bentuk kawah kecil (depresi) di belakang ujungnya. Depresi disebabkan adanya aksi pengampelasan dari serpihan sewaktu melewati permukaan pahat. Untuk pahat didefinisikan sebagai umur pahat dalam menit terhadap kecepatan memotong dalam meter tiap menit atau dalam cm3 dari logam yang

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

26

dipotong, karena umur pahat akan berkurang seiring dengan meningkatnya kecepatan memotong pahat. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan umur pahat antara lain : 1. Penggerindaan tepi sudut pahat yangtidak tepat Penggerindaan hendaknya disesuaikan dengan sudut potong pahat, di mana sudut potong pahat tergantung pada bahan yang dipotong, dan nilainya sudah tercantum pada buku acuan, literatur perusahaan, dan sumber-sumber lain. 2. Kekerasan pahat hilang Hilangnya kekerasan pahat disebabkan timbulnya panas yang berlebihan pada tepi pemotongan. Keadaan ini bisa dicegah dengan penggunaan media pendinginan secara efektif atau pengurangan kecepatan potong. 3. Pematahan atau penyerpihan tepi pahat Pematahan ini disebabkan oleh pemotongan yang terlalu berat atau karena sudut potong yang terlalu kecil. 4. Aus alamiah dan pengampelasan Semua pahat secara bertahap akan tumpul karena proses pengampelasan. Dalam beberapa kasus, kejadian ini dipercepat dengan adanya pembentukan depresi di belakang tepi potong. Dengan meningkatnya ukuran depresi yang terjadi akan mengakibatkan tepi potong semakin lemah dan akhirnya pahat akan patah. 5. Pahat retak karena beban berat Kejadian ini bisa diatasi dengan penggunaan pahat sesuai dengan kapasitasnya dan pemasangan pahat secara tepat G. Pengertian Cutting Fluid Pada proses-proses pengerjaan logam, khususnya pekerjaan pemotongan akan terjadi panas yang tinggi sebagai akibat adanya gesekan antara cutting tool dan benda kerja yang dipotong. Jika temperatur kerja dan tekanan cutting tool

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

27

pada benda kerja tidak diatur, maka permukaan keduanya cenderung akan menyatu. Untuk mengatur temperatur kerja dan tekanan cutting tool pada benda kerja, maka perlu digunakan media pendingin. Dalam proses pemotongan logam, media pendingin memiliki fungsi sebagai berikut sebagai berikut : 1. Mengurangi gesekan yang terjadi antara cutting tool, benda kerja, dan geram yang timbul sehingga menghasilkan umur cutting tool yang tinggi dan surface finish yang baik khususnya pada kecepatan potong rendah. 2. Mengurangi temperatur pada ujung cutting tool dan benda kerjasehingga menghindarkan terjadinya thermal deformation. 3. Membersihkan geram yang timbul akibat proses pemotongan atau sebagai media flush untuk membawa chip hasil dari proses machining keluar dari cutting zone. 4. Memperbaiki penyelesaian permukaan benda kerja yang dihasilkan. 5. Memperpanjang umur cutting tool. 6. Mengurangi terjadinya korosi pada mesin perkakas (khususnya cutting tool) dan benda kerja. 7. Mencegah terjadinya penyatuan geram dengan cutting tool. 8. Mendinginkan benda kerja khususnya padakecepatan potong tinggi. 9. Memudahkan pengambilan benda kerja, karenabagian yang panas telah didinginkan. Pemakaian cairan pendingin biasanya mengefektifkan proses pemesinan. Untuk itu ada beberapa kriteria untuk pemilihan cairan pendingin tersebut, walaupun dari beberapa produsen mesin perkakas masih mengijinkan adanya pemotongan tanpa cairan pendingin. Kriteria utama dalam pemilihan cairan pendingin pada proses pemesinan adalah : 1. Unjuk kerja proses a. Kemampuan penghantaran panas (Heat transfer performance) Cutting fluid harus mampu memindahkan panas dari benda kerja dan cutting tool

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

28

b. Kemampuan pelumasan (Lubrication performance ) Cutting fluid harur mampu melumasi cutting tool untuk mengurangi tingkat keausan c. Pembuangan beram (Chip flushing) Aliran cutting fluid harus mampu menyingkirkan beram hasil pemotongan menjauh dari benda kerja dan cutting tool d. Pembentukan kabut fluida (Fluid mist generation) Pembentukan kabut fluida harus memenuhi timming yang tepat agar berguna sesuai fungsinya dan tidang mengganggu penglihatan operator e. Kemampuan cairan membawa beram (Fluid carry-off in chips) Aliran cutting fluid harus mampu menyingkirkan beram hasil pemotongan menjauh dari benda kerja dan cutting tool f. Pencegahan korosi (Corrosion inhibition) Cutting fluid harus bisa mencegah korosi baik yang terjadi di benda kerja atau cutting tool g. Stabilitas cairan/Fluid stability (untuk emulsi) Komposisi cutting fluid denan solvent-nya harus teratur, agar stabilitas pendinginan ataupun pelumasan tetap terjaga h. Tidak merusakkan mesin (khususnya cutting tool) dan benda kerja Bahan cutting fluid tidak bersifat reaktor terhadap material benda kerja, cutting tool, maupun mesin. i. Temperatur didih dan titik uap. Cutting fluid harus memiliki titik didih yang tinggi agar volumenya tidak cepat berkurang j. Tidak berbuih Cutting fluid dipilih yang tidak bisa berbusa karena akan mengganggu sirkulasinya sendiri maupun pandangan operator

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

29

2. Harga Pemilihan cutting fluid hendaknya disesuaikan dengan biaya operasional suatu mesin Keamanan terhadap kesehatan (Health Hazard Performance) Tidak menimbulkan kendala secara fisiologis terhadap operator H. Jenis-jenis Cutting Fluid Cuttingfluid merupakan bagian dari Metal Working Fluid

(MWF).Umumnya media pendingin yang digunakan pada proses pemesinan berbentuk cairan, karena dapat diarahkan pada cutting tool pada posisi yang sesuai dengan yang diharapkan dan mudah disirkulasikan kembali namun pada aplikasinya cutting fluid ada berbagai jenis dan bentuk. Berdasarkan cara pengaplikasiannya, MWF ini sebenarnya dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu: 1. Neat oil, penggunaannya tidak perlu dicampur dengan air. Penggunaannya langsung, tanpa dicampur air. Oli jenis ini biasanya digunakan pada peralatan potong yang membutuhkan fungsi pelumasan dari oli yang lebih tinggi dibandingkan dengan untuk fungsi pendinginan.Umumnya proses

penggunaannya

pengerjaanmetalyanglebihekstrim(dalamhalkekerasanmetalyangdikerjakan). 2. Water mixable cutting fluid, penggunaannya dicampur dengan air. Penggunaannyadengandicampurair.Perbandinganpencampuranberbedabedatergantungproses pengerjaannya.Masalah yang umum dihadapi dengan menggunakan oli jenis ini adalah timbulnya bau yang tidak sedap akibat dari bakteri yang bisa hidup pada media oli mineral jenis ini. Jenis bakteri ini adalah anaerob yang mampu hidup tanpa oksigen, sehingga mudah berkembang bila kondisi ruangan kurangterbuka(ventilasi/sirkulasiudarakurangbaik) Untukmengantisipasimasalahbauyangtidaksedap,adabeberapacarayangbis adilakukanantara lain: Buatsirkulasiudarayangbaikdisekitarlokasiperalatanpotong

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

30

Jikabautelahterjadibisadilakukanprosespenghilanganbakteridenganmengg unakandesinfektan khusus. Untuk mengantisipasi jangan sampai terjadi masalah bau tak sedap maka gunakan oli dari seri sintetik.

Meskipun umumnya berbentuk cairan, tetapi ada beberapa bahan media pendingin yang juga dapat digunakan pada proses pemesinan, antara lain : 1. Bahan padat, Bahan padat merupakan unsur tertentu dalam benda kerja yang memperbaiki kemampuan memotong cutting tool terhadap benda kerja, misalnya grafit dalam besi cor kelabu. 2. Bahan cair Bahan cair terutama dalam bentuk larutan air atau larutan minyak dengan bahan tambahan tertentu untuk meningkatkan efektivitas media pendingin itu. Bahan cair yangbiasanya digunakan antara lain : a. Minyak murni (Straight Oils) adalah minyak yang tidakdapat diemulsikan dan digunakan pada proses pemesinan dalambentuk sudah

diencerkan.Minyak ini terdiri dari bahan minyakmineral dasar atau minyak bumi, dan kadang mengandungpelumas yang lain seperti lemak, minyak tumbuhan, dan ester.Selain itu bisa juga ditambahkan aditif tekanan tinggi sepertiChlorine, Sulphur dan Phosporus. Minyak murni

menghasilkanpelumasan terbaik , akan tetapi sifat pendinginannya paling jelekdiantara cairan pendingin yang lain. b. Minyak mineral: merupakan bahan yang memiliki lapisan film tipis di antara cutting tool dan permukaan benda kerja yangdipotong. Lapisan ini mengurangi gesekan dan keausan permukaan cutting tool dan benda kerja. Minyak ini berasal dari minyak tumbuhan, minyak hewan dengan ditambah zat aditif. c. Minyak sintetik (Synthetic Fluids): merupakan minyak yang tidak mengandungminyak bumi atau minyak mineral dan sebagai gantinya

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

31

dibuatdari campuran organik dan inorganik alkaline bersama-samadengan bahan penambah (additive) untuk penangkal korosi.Minyak ini biasanya digunakan dalam bentuk sudah diencerkan(biasanya dengan rasio 3 sampai 10%). Minyak sintetikmenghasilkan unjuk kerja pendinginan terbaik diantara semuacairan pendingin. d. Emulsi (water soluble fluid atau minyak larut air) : merupakan media pendingin yang tersusun dari dua bahan cair yang bersifat imisible (tidak terlarut satu sama lain) seperti minyak dan air. Media ini sangat efektif digunakan untuk pemotongan benda kerja dengan kecepatan tinggi. e. Sintesis : merupakan larutan kimia yang tersusun dari senyawa anorganik yang terlarut dalam air. f. Grease : merupakan senyawa semisolid dengan viskositas tinggi. g. Waxes : merupakan senyawa yang tersusun dari minyak hewan tumbuhan yang biasanya digunakan untuk proses pemotongan stainless steel dan bahan paduan temperatur tinggi. h. Soluble Oil : pendingin ini akan membentuk emulsi ketika

dicampurdengan air. Konsentrat mengandung minyak mineral dasar danpengemulsi untuk menstabilkan emulsi. Minyak ini digunakandalam bentuk sudah diencerkan ( biasanya konsentrasinya = 3sampai 10%) dan unjuk kerja pelumasan dan penghantaranpanasnya bagus. Minyak ini digunakan luas oleh industrypemesinan dan harganya lebih murah diantara cairan pendinginyang lain. i. Cairan semi sintetik (Semi-synthetic fluids) adalahkombinasi antara minyak sintetik dan soluble Oil dan memilikikarakteristik kedua minyak pembentuknya. Harga dan unjuk kerjapenghantaran panasnya terletak antara dua buah cairanpembentuknya tersebut. 3. Bahan gas, termasuk uap air, karbon dioksida, dan udara tekan Selain bahan-bahan tersebut di atas, juga digunakan media pendingin kimia. Media pendingin kimia merupakan paduan antara zat kimia yang dilarutkan dalam air. Media pendingin ini berfungsi sebagai pendingin dan pelumas (coolant-cutting fluid). Zat kimia yang biasa digunakan antara lain : 1. amina dan nitrit untuk mencegah karat

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

32

2. bahan sabun sebagai pelumas 3. chlorin sebagai pelumas 4. glikol sebagai bahan pengaduk dan pembasah, dan 5. germisida sebagai pengendali pertumbuhan bakteri.

Dalam aplikasinya, media pendingin yang digunakan tergantung pada bahan yang akan dipotong dan jenis operasi pemotongan yang akan dilakukan. Hal ini perlu dilakukan karena semakin cepat pemotongan yang dilakukan dan meningkatnya daya mesin perkakas akan mengakibatkan semakin tingginya temperatur yang dihasilkan, sehingga akan mempengaruhi keadaan cutting tool, benda kerja, dan lingkungan di sekitar proses pemotongan itu sendiri. Pemilihan media pendingin secara efektif bisa dilakukan sebagai berikut : 1. Besi cor Media pendingin yang digunakan adalah udara tekan, minyak larutan, atau dipotong dalam kondisi kering. 2. Aluminium Media pendingin yang digunakan adalah kerosin, minyak larutan, atau air soda (air dengan persentase kecil dengan beberapa alkali yang berfungsi sebagai pencegah karat). 3. Besi mampu tempa Media pendingin yang digunakan adalah dalam kondisi kering atau minyak larut air. 4. Kuningan Media pendingin yang digunakan adalah dalam kondisi kering, minyak parafin atau campuran minyak hewan. 5. Baja Media pendingin yang digunakan adalah minyak larutan, minyak

tersulfurisasi, atau minyak mineral. 6. Besi tempa

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

33

Media pendingin yang digunakan adalah lemak hewan atau minyak larut air. I. Cara Pemberian Cutting Fluid Pada Proses Pemesinan 1. Dibanjirkan ke benda kerja (Flood Application of Fluid),pada pemberian cairan pendingin ini seluruh benda kerja disekitar proses pemotongan dibanjiri dengan cairanpendingin melalui saluran cairan pendingin yangjumlahnya lebih dari satu

2. Disemprotkan (Jet Application of Fluid), pada prosespendinginan dengan cara ini cairan pendingindisemprotkan langsung ke daerah pemotongan (pertemuanantara pahat dan benda kerja yang terpotong). Sistem pendinginan benda kerja adalah dengan cara menampungcairan pendingin dalam suatu tangki yang dilengkapidengan pompa yang dilengkapi filter pada pipapenyedotnya. Pipa keluar pompa disalurkan melaluipipa/selang yang berakhir di beberapa selang keluaran yangfleksibel. Cairan pendingin yang sudahdigunakan disaring dengan filter pada meja mesinkemudian dialirkan ke tangki penampung.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

34

3. Dikabutkan (Mist Application of Fluid), pemberian cairanpendingin dengan cara ini cairan pendingin dikabutkandengan menggunakan semprotan pemotongan. udara dan kabutnyalangsung diarahkan ke daerah

Gambar Pemberian cairan pendingin dengan cara mengabutkan cairan pendingin J. Perawatan Dan Pembuangan Cutting Fluid Perawatan cairan pendingin meliputi pemeriksaan : Konsentrasi dari emulsi soluble oil (menggunakan refractometer) pH ( dengan ph meter) Kuantitas dari minyak yang tercampur (kebocoran minyak hidrolik ke dalam sistem cairan pendingin) Kuantitas dari partikel (kotoran) pada cairan pendingin.

Hal yang dilakukan pertama kali untuk merawat cairan pendingin adalah menambah konsentrat atau air, membersihkan kebocoran minyak, menambah biocides untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan menyaring partikel-partikel kotoran dengan cara Centrifuging.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

35

Gambar Peralatan centrifuing untuk cairan pendingin Cairan pendingin akan menurun kualitasnya sesuai dengan lamanya waktu pemakaian yang diakibatkan oleh pertumbuhan bakteri, kontaminasi dengan minyak pelumas yang lain, dan partikel kecil logam hasil proses pemesinan. Apabila perawatan rutin sudah tidak ekonomis lagi maka sebaiknya dibuang. Apabila bekas cairan pendingin tersebut dibuang di sistem saluran pembuangan, maka sebaiknya diolah dulu agar supaya komposisi cairan tidak melebihi batas ambang limbah yang diijinkan.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

36

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah tertera di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Cutting tools merupakan pahat alat yang berfungsi untuk membantu proses pemesinan sebagai alat pemotong untuk memotong dan mengurangi ukuran benda kerja. umumnya pahat digunakan untuk memotong bidang geram benda kerja. B. Saran Diharapkan para mahasiswa mampu memahami materi cutting tools dengan baik dan benar. Mampu menerapkan materinya dalam kehidupan sehari-hari serta diharapkan dapat menyalurkan ilmu tersebut kepada para siswa-siswi SMK.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

37

DAFTAR PUSTAKA http://mprabowo19.blogspot.com/2013/06/komponen-komponen-mesin-danfungsinya.html http://riedwancr.blogspot.com/2013/02/mesin-frais-pengertian-mesin-frais.html Suhardi. 1997. BPK Teknologi Mekanik II. Surakarta : Universitas Sebelas Maret SW, Danar. Estriyanto, Yuyun. Teknologi Mekanik Mesin Perkakas.

Surakarta:UPT Penerbitan dan Percetakan UNS Widarto. 2008. Teknik Pemesinan Jilid 2 untuk SMK.Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah,Departemen Pendidikan Nasional.

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

38

Lampiran Pertanyaan: ISO?? Dan komposisinya? (tungsten, cobalt) Endmill? Keausan pahat? Pahat tunggal dan pahat insert? Pahat insert dengan sambungan tetap (las) dan tidak tetap (baut)

CUTTING TOOL DAN CUTTING FLUID/PTM/PTK/FKIP/UNS

39