Anda di halaman 1dari 7

Tugas

BIOPSI PROSTAT ALFA BLOKER

Disusun oleh:

Vitya R. Mardiah 0908113616

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ILMU BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU PEKANBARU 2014

BIOPSI PROSTAT
Biopsi prostat merupakan gold standar untuk menegakkan diagnosis kanker prostat. Pemeriksaan biopsi prostat menggunakan panduan transurectral ultrasound scanning (TRUSS) sebagai sebuah biopsi standar. Namun seringnya penemuan mikroskopis prostat ini terjadi secara insidentil dari hasil TURP atau pemotongan prostat pada penyakit BPH.1,2 Prosedur ini diindikasikan jika:2
1.

Pada pemeriksaan colok dubur (rectal touche) dijumpai nodul atau benjolan pada prostat

2.

Pemeriksaan kadar PSA (Prostate Specific Antigen) darah > 10ng/dl. PSA adalah sejenis protein tubuh yang dapat digunakan sebagai penanda tumor untuk kanker prostat.

3.

Perhitungan PSAd (Prostate Specific Antigen Density) > 0,15 pada kadar PSA yang berada diantara nilai 4-10ng/dl. PSAd adalah nilai yang didapat setelah membagi kadar PSA dengan volume prostat.

4.

Pada pemeriksaan TRUS-P (Transrectal Ultrasound of Prostate) ditemukan lesi atau tanda yang dicurigai sebagai tanda kanker prostat. Satu hari sebelum tindakan biopsi, pasien diminta untuk meminum obat

antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi dan juga pencahar untuk membersihkan saluran pencernaan karena proses biopsi dilakukan melalui rektum. Pasien juga sudah diberitahukan sebelumnya tentang kepentingan dilakukan biopsi, prosedur pelaksanaan, komplikasi yang mungkin terjadi, pencegahan beserta terapinya.2

Pada waktu tindakan biopsi, pasien akan dijelaskan ulang mengenai prosedur tindakan. Prosedur biasanya membutuhkan waktu kurang lebih 10-15 menit. Pasien berbaring kesamping dengan posisi seperti meringkuk dan kedua lutut dilipat kearah perut. Pemeriksaan dimulai dengan pemeriksaan prostat dengan jari yang dilumuri dengan jelly. Lalu selanjutnya dimasukkan alat khusus untuk USG (ultrasonografi) prostat melalui anus, berbentuk tongkat ukuran diameter sekitar 3cm, untuk melihat kelenjar prostat pada layar USG.2 2

Gambar 1. Pemeriksaan USG prostat

Gambar 2. TRUSS

Sebelumnya, struktur prostat dilihat, volume prostat dan PSAd dihitung menggunakan USG. Selanjutnya dilakukan pembiusan lokal pada lokasi yang akan dilakukan. Biopsi lalu dilakukan dengan menggunakan biospy gun, sebanyak 8-12 titik.2

Gambar 3. Biopsi prostat

Pada pemeriksaan mikroskopis ini sebagian besar karsinoma prostat adalah jenis adenokarsinoma dengan derajat diferensiasi berbeda-beda. 70% adenokarsinoma prostat terletak di zona perifer, 20% di zona transisional dan 10% di zona sentral. Kelenjar pada kanker prostat invasif sering mengandung fokus atipia sel atau Neoplasma Intraepitel Prostat (PIN) yang diduga merupakan prekursor kanker prostat.1,2

ALFA BLOKER
Prostat manusia serta dasar kandung kemih memiliki alfa-1 adenoreseptor (-1a). Sementara itu, prostat dapat menunjukkan respon kontraktil terhadap agonis yang terkait. Pemberian obat yang secara selektif menghambat reseptor tersebut bisa mengurangi resiko efek samping pada pemberian obat menggunakan -bloker. lfa bloker dapat diklasifikasikan berdasarkan selektivitas reseptor serta waktu paruhnya.1,2 Klasifikasi -bloker sebagai berikut :1,2 a. Non selektif : Fenoksibenzamin 10 mg 2x/hari b. Alfa-1 short acting : Prazosin 2 mg 2x/hari c. Alfa-1 long acting : Terazosin 5 atau 10 mg/hari ; Doxazosin 4 atau 8 mg/hari d. Alfa-1a selective : Tamsulosin 0,4 - 0,8 mg/hari ; Alfuzosin 10mg/hari Alfa bloker yang long acting memungkinkan untuk membuat dosis satu hari, tetapi titrasi dosis tetap dibutuhkan. Pada permulaan, terazosin diberikan 1 mg/hari selama 3 hari lalu ditingkatkan menjadi 2 mg/hari selama 11 hari dan kemudian menjadi 5 mg/hari. Bahkan, dosis bisa dinaikkan sampai 10 mg/hari jika dibutuhkan. Sementara itu, terapi dengan menggunakan doxazosin dimulai dari 1 mg/hari selama seminggu dan dinaikkan menjadi 2 mg/hari selama seminggu juga kemudian menjadi 4 mg/hari. Kenaikan dosis bisa mencapai 8 mg/hari jika dibtuhkan.2 Fenoksibenzamin adalah obat -bloker yang digunakan pertama kali dalam pengobatan BPH. Obat tersebut adalah -bloker non selektif yang ternyata mampu memperbaiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi. Sayangnya, obat tersebut menyebabkan komplikasi sistemik yang tidak diharapkan yaitu hipotensi postural dan kelainan kardiovaskular lainnya.2 Ditemukannya obat 1-bloker, dapat mengurangi efek sistemik akibat efek penghambatan pada adrenergik- 2 seperti pada fenoksibenzamin. Beberapa diantaranya adalah prazosin yang diberikan dua kali sehari, terazoin, afluzoin dan doxazosin yang diberikan sekali sehari. Sebagaimana fenoksibenzamin, obat-obat tersebut dapat memperbaiki keluhan miksi dan laju pancaran urin. Namun, tetap

saja ada efek samping yng mungkin muncul seperti hipotensi ortostatik, pusing, lelah, ejakulasi retrograde, rhinitis dan sakit kepala.2 Akhir-akhir ini juga ditemukan obat golongan pemnghambat adrenergik1a yaitu tamsulosin yang sangat selektif terhadap otot polos prostat. Obat ini dikatakan mampu memperbaiki keluhan miksi tanpa menimbulkan efek berlebih terhadap tekanan darah maupun denyut jantung.2 Dosis awal untuk tamsulosin adalah 0,4 mg/hari yang bisa dinaikkan hingga 0,8 mg/hari. Tidak perlu dilakukan titrasi dosis pada obat jenis ini karena efek samping yang minimal. Begitu juga afluzosin, tidak diperlukan titrasi dosis untuk memberikan resep hingga 10 mg bila dibandingkan dengan prazosin yang membutuhkan titrasi dosis dan dosis dua kali perhari.2

REFERENSI
1. Purnomo, BB. Dasar-Dasar Urologi. Edisi 2. Jakarta : Sagung Seto, 2008. Hal. 77-79. 2. Tanagho EA, McAnich JW. Smith`s General Urology. United States of America : The McGraw-Hill Companies, 2008. p.352-353.