Anda di halaman 1dari 29

PENGANTAR STATISTIK PENDIDIKAN

doc/top/stat.pend/10

PENDAHULUAN

1. Pengertian Statistika Satistika adalah suatu cara atau metode untuk mengumpulkan, menyajikan dan menganalisis data yang bersifat kuantitatif, yang akan bermanfaat untuk mengambil kesimpulan atau inferensi. Jika datanya berupa data kualitatif maka harus diubah dulu menjadi data kuantitatif.
Statistika dapat dikelompokan: a. statistika murni yang membicarakan teori-teori dan rumusrumus secara rinci b. statistika terapan lebih menekankan pembahasannya pada penera-pan atau penggunaan rumus-rumus tersebut, contoh statistika pend.

doc/top/stat.pend/10

Statistika terapan dapat dikelompokan: a. statistika deskriptif yang tugasnya terbatas hanya menggambarkan atau menerapkan data yang terkumpul b. statistika inferensial adalah menarik kesimpulan atau inferensi dari data suatu penelitian. Statistika akan selalu terlibat dengan apa yang dinamakan pengukuran, contoh tugas guru sehari-hari adalah melaksanakan pengukuran dan penilaian. Dengan statistika pendidikan akan membantu tugas guru dalam melaksanakan pengukuran, karena tugas melaksanakan penilaian termasuk di dalam bidang teknik evaluasi. Skala pengukuran dalam statistika: Skala Nominal Dipergunakan untuk mengukur gejala-gejala yang bersifat terpisah, atau diskrit, atau gejala-gejala katagorik.
doc/top/stat.pend/10 3

Skala ordinal disebut juga skala jenjang, yaitu digunakan untuk mengukur, gejala-gejala yang mempunyai hubungan lebih dari, lebih sukar dari dll. Sebagai contoh menggolongkan status pekerjaan, status ekonomi dll. Skala ini lebih baik dari pada skala nominal, sebab disampaing memperhatikan persamaan dan urutannya, juga dilihat masalah jarak antara kedua katagori yang berbeda. Sebagai contoh mengukur temperatur dengan skala celsius dan farenheit, Skala Rasio Skala pengukuran yang digunakan mengukur berat menggunakan skala kilogram, panjang menggunakan skala meter, volume meng- gunakan skala liter dan sebagainya. Contoh berat benda A 10 kg, berat benda B 30 kg, dalam skala rasio dapat dikatakan bahwa berat benda B tiga kali berat benda A. 2. Ciri-ciri pokok statistika a). Bekerja berdasarkan angka-angka, maka apabila datanya berupa kualitatif maka harus diubah menjadi data kuantitaif
doc/top/stat.pend/10 4

b). Sifatnya obyektif, oleh karena itu digunakan sebagai alat penialai kenyataan c). Sifatnya universal, dimaksudkan bahwj statistika dapat digunkan hampir didalam semua bidang. DISTRIBUSI FREKUENSI 1. Distribusi Frekuensi Tunggal Distribusi frekuensi adalah menyusun data berdasar urutannya dalam frekuensi data tersebut. Dari data yang ada kemudian disusun dalam suatu tabel maka tabel tersebut dinamakan tabel distribusi frekuensi. Distribusi frekuensi tunggal dimana data yang disajikan tidak digolongkan atau dikelompokkan, jadi secara individu. Data disusun dalam suatu tabel maka tabel tersebut dinamakan tabel distribusi frekuensi tunggal. Contoh Nilai IPA Fisika SLTP Negeri 212 Balikpapan kelas 2 untuk 20 siswa sbb: 7, 7, 6, 8, 5, 7, 8, 7, 9, 7, 7, 6, 6, 5, 4, 6, 7, 8, 9, 10.
doc/top/stat.pend/10 5

Tabel. 1 Tali Data


Nilai
10 9 8 7 6 5 4

Tabel Distribusi Frekensi Tunggal


Nilai
10 9 8 7 6 5 4

Tali
/ // /// //// // //// // /

Frekuensi
1 2 3 7 4 2 1 20

Frekuensi
1 2 3 7 4 2 1 20

2. Distribusi Frekuensi Bergolong/ Kelompok Distribusi bergolong, yaitu membagi data-data yang ada menjadi beberapa golongan. Contoh skor tes fisika 20 siswa SMU Negeri 117 Balikpapan : 3, 13, 7, 12, 8, 15, 9, 16, 10, 17, 11, 17, 13, 18, 12, 19, 14, 23, 14, 20. Skor terendah 3 dan skor tertinggi 23, maka jika akan disajikan tabel distribusi tunggal memerlukan 21 baris, maka dibuatlah tabel distribusi bergolong sebagai berikut:
doc/top/stat.pend/10 6

Untuk membuat distribusi bergolong perlu diperhatikan beberapa


Jumlah kelas atau Banyak elas Banyaknya kelas paling sedikit 5 dan paling banyak 15. Atau dengan menggunakan aturan Stugers dengan rumus ; banyak kelas = 1 +3,3 log n ,dimana n jumlah data. Nisal n= 20 maka banyak kelas = 1 + (3.3)(1,3010)= 4,2933 . Banyak kelas dapat diambil 4 atau 5 . Rumus ini jika n >200 Lebar kelas atau panjang kelas Mengurangi batas atas nyata dengan batas nyata bawah, atau dengan persamaan sbb : p = rentang/banyak kelas. P = ( 23 - 3) / 4 = 5 . Jika p=4 maka dapat dimulai dari data lebih kecil dari data terkecil. Dapat diambil p = 3 Tanda kelas Atau titik tengah adalah nilai yang berada ditengah interval kelas. Rentang kelas Contoh skor 15-17, interval kelas = 3, atau kelas, dan 15 batas bawah, 17 batas atas kelas, sedang batas nyata bawah 14,5 dan batas nyata atas 17,5
doc/top/stat.pend/10 7

Dari data di atas dapat dibuat tabel frekuensi sbb:


Tabel 3. Distribusi Frekuensi skor tes fisika
Kelompok Skor 21-23 18-20 15-17 12-14 9-11 6-8 3-5 Frekuensi 1 3 3 4 6 2 1 20

Tabel 4. Dist. Frek. relatif skor tes fisika


Skor Frekuensi Frekuensi Relatif

21-23
18-20 15-17 12-14 9-11

1
3 3 4 6

5
15 15 20 30

6-8
3-5

2
1

10
5 100

3. Distribusi Frekuensi Relatif Tabel ini mencantumkan kolom frekuensi relatif, yaitu frekuensi dalam presen, dengan cara menghitung membagi frekuensi kelas dengan jumlah frekuensi dan meng-alikannya dengan 100. Dari tabel 3 dibuat tabel Distribusi Frekuensi Relatif seperti tabel 4 di atas:
doc/top/stat.pend/10 8

4. Distribusi Frekuensi Kumulatif Distribusi Frekuensi Kumulatif atau Distribusi Frekuensi Meningkat: suatu tabel dengan menyajikan frekuensi dihitung secara meningkat dari frekuensi terbawah ke atas. Frekuensi kumulatif kelas teratas harus = frekuensi pada distribusi, contoh tabel 4 dpt di sajikan menjadi tabel Distribusi Frekuensi Relatif seperti pada tabel 5 dan tabel 6

Tabel 5 Distribuli Frek.Komulatif


Skor 21-23 18-20 Frekuensi 1 3 Frekuensi Relatif 20 19

Tabel 6 Distribuli Frek.Komulatif dalam persen


Skor Frekuensi Frekuensi Relatif

21-23
18-20

1
3

100
95

15-17
12-14 9-11 6-8

3
4 6 2

16
13 9 3

15-17
12-14 9-11 6-8
doc/top/stat.pend/10

3
4 6 2 1

80
65 45 15 5 9

3-5

3-5

PENYAJIAN GRAFIK Penyajian data secara visual dapat digunakan bermacam-macam grafik, dalam statistika terdapat empat macam grafik yaitu grafik Histogram, grafik Poligon, grafik Ogive dan grafik Serabi.

1. Grafik Histogram
Grafik histogram ( diagram Bar), grafik yang terdiri dari segi-segiempat panjang pada sebuah absis, dimana lebar segi empat menunjukkan lebar kelas, dan tinggi segi empat menunjukkan frekuensi. Langkah-langkah membuat grafik histogram a. Membuat absis clan ordinat yang panjangnya kurang lebih 3 x 2 b. Absis memuat batas nyata tiap kelas, ordinta menyatakan frekuensi c. Membuat skala pada absis clan ordinat d. Mengarsir pada segiempat yang menyatakan frekuensi e. Memberi niomor clan nama grafik
doc/top/stat.pend/10 10

TABEL 7 DISTRIBUSI TES FISIKA

NILAI 21-23 18-20

BATAS NYATA 20,5-23,5 17,5 -20,5

FREKUENSI 1 3

15-17 12-14 9-11 6-8 3-5

14,5-17,5 11,5-14,5 8,5-11,5 5,5-8,5 2,5-5,5

3 4 6 2 1 20

doc/top/stat.pend/10

11

Contoh grafik histogram kita ambil dari tabel 3 sebagai berikut:


8 7 6 5 4 3 2 1 0 2.5 5.5 8.5 11.5 14.5 17.5 20.5 23.5

Grafik. 1 : Grafik Histogram Skor Fisika


doc/top/stat.pend/10

12

2. Grafik Poligon
Grafik poligon pada prinsipnya hampir sama dengan grafik histogram, pada tabelnya batas nyata diganti titik tengah. Dari tabel 3 kita nyatakan dalam grafik poligon sbb:
Grafik Poligon Skor Fisika Tabel 8 Tabel Kerja Poligon Skor 7 6 5 4 3 2 1 0 4 7 10 13 16 19 22 Skor Tengah Frek.

21-23

22

18-20
15-17 12-14 9-11 6-8 3-5
25

19
16 13 10 7 4

3
4 6 3 2 1

doc/top/stat.pend/10

13

4. Grafik Serabi
Berbentuk lingkaran yang terbagi menjadi beberapa bagian ,dimana jari jarinya membatasi luas atau banyaknya data yang dihasilkan. Contoh suatu rukun tetangga didapat data sebagai berikut:pendidikan tinggi 5 orang, SMA/SMK 25 orang, SMP 10 orang, SD 50 orang dan belum sekolah 20 orang, grafik serabi berikut ini:

PT SMA SMP SD BS

doc/top/stat.pend/10

14

5. Tendensi sentral
Atau harga tengah adalah suatu nilai atau bilangan dalam suatu dimensi yang menjadi pusat dari nilai-nilai yang lain, terdiri dari: a.Mean, Adalah rata-rata, dalam statistika disebut mean aritmatik, ( M), yang didapatkan dari menjumlahkan seluruh nilai dalam distribusi yang dituliskan dalam rumus: X M= .. (1) N

X : jumlah skor/data

N : Banyak data

M : Mean

Contoh: data nilai fisika siswa SMA kelas 7 sbb: 8, 9, 7, 6, 5 35 =7 M= 5


doc/top/stat.pend/10 15

Pers. 1 untuk rumus kasar, jika data disusun dalam daftar distribusi maka fX pers.seperti berikut: .. (2) M= N
Contoh : Tinggi badan siswa 80 orang yang telah disusun dalam tabel distribusi tabel 10 berikut: Tabel 10 Distribusi Frekunsi tinbgi badan
KELAS 125-129 120-124 115-119 110-114 105-109 100-104 95-99 90-94 85-89 80-84 TANDA KELAS(X) 127 122 117 112 107 102 97 92 87 82 FREKUENSI (F) 2 3 7 10 16 12 15 9 4 2 80 doc/top/stat.pend/10 fx (FREK(X) 254 366 819 1120 1712 1224 1455 828 348 164 8290 16

8290 M= 80 M = 103,5

b. Mean kerja Untuk menghindari angka-angka yang lebih besar dan mengurangi kemungkinan melakukan kesalahan, digunakan persamaan berikut: jumlah data dari frekuensi kelas terbanyak : 2 frekuensi tertinggi 16 dan tanda kelas 105 - 109, Mo = (105 + 109) : 2 = 107
fx M = MK + i N MK : mean kerja: titik tengah kelas yang digunakan sebagai x' : devisiasi atau penyimpangan dari MK i : lebar kelas, yaitu banyak nilai dalam setiap kelas landasan kerja

Langkah2 yang perlu diperhatikan memakai Mean Kerja sbb: Menentukan landasan kerja pada tengah2 distribusi sebagai tanda kelas atau titik tengah kelas merupakan MK, dan berikan angka 0 (nol) Diatas angka 0 diberi angka +1, +2, +3 dst, dan dibawah angka 0 Jiberi angka -1, -2, -3 dst
doc/top/stat.pend/10 17

11 Distribusi Frekuensi Tinggi Badan Siswa


Kelas 125-129 120-124 115-119 110-114 105- 109 10O - 104 95-99 90-94 85-89 80-84 f 2 3 7 10 16 12 15 9 4 2 80 X +5 +4 +3 +2 +1 0 -1 -2 -3 -4 Fx + 10 12 21 20 16 0 -15 -18 -12 -8 26

M = 102 + 5 ( 26/80) = 102 + 26/16 = 102 + 1,6 = 103,6


doc/top/stat.pend/10 18

c. Median Adalah suatu nilai yang membatasi 50% bagian bawah dengari 50% bagian atas suatu distribusi frekuensi diberi simbul Me. Jika datanya ganjil seperti 1, 3, 5, 7, 9, :" maka Me = 5, tetapi jika datanya genap: 1, 3, 5, 7, 9,11,13,15, maka Me = ( 7 + 9 ) : 2 = 8
d. Modus Suatu nilai dalam distribusi frekuensi yang mempunyai frekuensi yang tertinggi diberi simbul Mo. Jika kita perhatikan tabel 11 maka Mo = 107, karena frekuensi terbanyak 16 dan tanda kelas 105 109, maka Mo = ( 105 + 109 ) / 2 = 107

doc/top/stat.pend/10

19

6. Kuartil
Nilai dalam distribusi frekuensi yang membagi jumlah individu men jadi beberapa perempat bagian, sehingga dalam satu distribusi freku ensi terdapat 4 kuartil, yaitu Kl, K2, K3 dan K4. K1 adalah kuartil ke-1 yaitu suatu nilai yang membatasi 25% nilai bagian bawah dng 75% frekuensi bagian atas distribusi, K2 adalah 50% nilai bagian bawah dng 50% frekuensi bagian atas distribusi dan seterusnya.

doc/top/stat.pend/10

20

7. Desil
Seluruh distribusi ada 10 desil, DI, Dz, Dio, D1 adalah desil ke I yaitu suatu nilai yang membatasi 10% nilai bagian bawah dengan 90% fre kuensi bagian atas distribusi, D2 adalah 20% nilai bagian bawah dng 80% frekuensi bagian atas distribusi dan seterusnya.

8. Persentil.
Sama halnya dengan kuartil, desil, maka persentil dimulai dari persentil ke-1 (Pi) s/d persentil ke-100 (Pioo). Pi yaitu suatu nilai yang membatasi 1% nilai bagian bawah dengan 99% frekuensi bagian atas distribusi, dan seterusnya. Cara menentukan persentil dapat dicari, misalnya kita lihat kembali tabel.7, ingin mencari persentil ke-25: 25% dari N= 25/100 x 20 = 5. 7 pada kelas 6-8 frekuensinya baru mencapai 3, maka kurang 2, maka dapat ditentukan dalam kelas 9-11 dengan lebar kelas 3. Jadi persentil ke-25 = 8,5 + 2 = 10,5, yang membatasi 5 siswa yang memiliki nilai 2,5 sampai 10,5, dengan 15 siswa yang mempunyai nilai di atas 10,5.
doc/top/stat.pend/10 21

9. Simpang rata
Simpang rata terjemahan dari mean deviation, yang merupakan ratarata harga mutlak semua penyimpangan nilai-nilai individu, yang disimbulkan dengan huruf kecil misal x, y, z, dst, dengan persamaan: x = X - M (4) X : nilai seorang siswa yang diketahui x : besar simpang suatu nilai dari rata-rata kelompok M : mean atau rata-rata nilai

10. Simpang baku (SB)


Simpang haku atau standar deviation (SD), dengan rumus sbb:
fx2
SB = N N > 100
doc/top/stat.pend/10

fx2 SB = N-1 N kecil


22

Pada rumus digunakan jika N merupakan jumlah yang besar > 100, jika N kecil, para pakar statistik menggunakan pembaginya n - l, sehingga rumusnya menjadi rumus sbb: Tabel 11. Tabel Distribusi N>100 Tabel 12. Tabel Distribusi N kecil
N0.Res X x x2

X
10 9 6 7 6 5

f
1 2 3 1 2 1 10

x
2,4 1,4 0,4 -0,6 -1,6 -2,6

fx
2,4 2,8 1,2 -0,6 -3,2 -2,6 0

fx2
4,76 3,92 0,48 0,36 5,12 6,76 21,40

1
2 3 4 5 6 7 8 9 10

10
9 9 8 8 8 7 6 6 5

2,4
1,4 1,4 0,4 0,4 0,4 -0,6 -1,6 -1,6 -2,6

4,76
1,96 1,96 0,16 0,16 0,16 0,36 2,56 2,56 6,76

76

21,40

doc/top/stat.pend/10

23

Dari tabel 11 dapat dihitung SB:


fx2
SB = N SB = 10 21,40

SB = 1,46

Dari tabel 12 dapat dihitung SB:


fx2 21,40 SB =

SB =
N-1

10 - 1

SB = 1,54

Disamping rumus kedua di atas ada rumus lain sbb:


X2
SB = N X N

2
SB =

fX2 N
doc/top/stat.pend/10

fX N

24

Contoh menentukan SB dng persamaandiatas Perhatikan tabel 13 dan tabel 14 sbb:


Tabel.13 Tabel Distribusi
Res X X2

Tabel.14 Tabel Distribusi

1
2 3 4 5 6 7 8 9 10

10
9 9 8 8 8 7 6 6 5

100
81 81 64 64 64 49 36 36 25

X
10 9 8 7 6 5

f
1 2 3 1 2 1 10

f.X
10 18 24 7 12 5 76

f.X2
100 162 192 49 72 25 600
25

76

600

doc/top/stat.pend/10

Tabel. 13 menggunakan rumus:


X2 SB = X 2 SB = 600 10 76 10 2

SB =1,53

Tabel. 14 menggunakan rumus:


fX2 SB = fX 2 SB = 600 10 76 10 2

SB =1,53

Ada rumus satu lagi untuk mencari SB sbb:


fX2 SB = i N fX N 2

i : lebar kelas (7)


doc/top/stat.pend/10 26

Tabel.15 Skor Kemampuan Dasar Fisika Mahasiswa Baru


Kelas f X fx fx2

Penerapan Rumus 7 mencari SB:


fX2

fX
N 200 10

33-37
28-32 23-27 18-22 13-17

2
13 32 106 32

3
2 0 -1 -2

4
13 0 -106 -64

8
13 0 106 128

SB = i
N 404 SB = 5 10

8-12
3-7

13
2 200

-3
-4

-39
-8 200

117
32 404

SB=5,05

doc/top/stat.pend/10

27

doc/top/stat.pend/10

28

doc/top/stat.pend/10

29