Anda di halaman 1dari 7

AIR DAN KEHIDUPAN ORGANISME

Disusun oleh : Nama NIM Fakultas/ Jurusan : Muhammad Zulfikrie : 12/329765/BI/08825 : Biologi/Biologi

FAKULTAS BIOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Air merupakan substansi yang paling melimpah dalam system kehidupan, menyusun 70% atau lebih dari berat tubuh organisme. (Lehninger, ). Di alam, air merupakan penyusun

utama dari lapisan bumi. Secara umum aktivitas metabolism dapat berlangsung pada sel ketika jumlah air sekitar 65%. Kemampuan air ini bukan merupakan hal yang mudah untuk dibahas, namun dapat dijelaskan melalui struktur kimia dari H2O. (Garret, 2006) Sayangnya seiring dengan perkembangan jaman berlimpahnya air di muka bumi dirasa masih sangat kurang akibat sering terjadinya perubahan musim dari musim kemarau ke musim hujan, disamping itu efek global warming juga mempengaruhi ketersediaan air.

B. Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui sifat dan fungsi air dalam mendukung kehidupan organisme.

BAB II ISI

A. Sifat dan Struktur Air Jika dibandingkan dengan senyawa kimia yang memiliki struktur kimia, ukuran molekul hamper sama, air menggambarkan sesuatu yang tidak dapat diduga. Sebagai contoh, dibandingkan dengan Amonia (NH3), Hidrogen Flourida (HF) yang memiliki struktur hydrogen hamper sama, atau dengan H2S yang mempunyai struktur mirip. Air memiliki titik didih yang lebih tinggi, tekanan uap, dan tegangan permukaan. (Garrett, 2006). Air juga merupakan suatu larutan yang universal, zat-zat yang alami maupun buatan manusia mampu terlarut di dalamnya (Linsley, 1991). Dua atom hydrogen dari air berikatan kovalen dengan atom Oksigen membentuk molekul air. (gambar 1). Kebengkokan bentuk molekul Air merupakan hal penting, jika berbentuk linear maka akan termasuk larutan non-polar. Selain itu, iktan air ini sangat kooperatif (Garrett, 2006), memiliki elektronegatifitas yang tinggi sekitar 3,5 serta mampu melarutkan senyawa-senyawa polar (Campbell, ). B. Fungsi air dalam mendukung kehidupan organisme Ikatan Hidrogen

Fungsi Biomedis

Moderasi suhu Moderasi suhu adalah mengurangi perubahan suhu yang ekstrem. Air melakukannya dengan cara menyerap panas dari udara yang lebih hangat dan melepaskan panas yang tersimpan ke udara yang lebih sejuk. Insulasi badan air oleh es yang mengapung Air mulai membeku ketika molekulnya tidak lagi bergerak dengan cukup gesit untuk memutuskan ikatan hidrogennya. Pada suhu 0oC, air terkunci dalam kisi kristalin dimana setiap molekul air berikatan hidrogen dengan empat molekul air lainnya.

Peraga 4.

Ikatan hidrogen molekul air di dalam es. Dalam es, masing-masing molekul

air berbentuk maksimal empat ikatan hidrogen dan menciptakan sebuah kisi kristalin. Secara kontran, didalam air yang bersifat cair pada suhu kamar dan tekanan atmosfer, masing-masing ikatan hidrogen molekul air berikatan dengan molekul air lainnya dengan kisaran rata-rata 3,4 ikatan. Kemampuan es untuk mengapung akibat pemuaian air ketika memadat merupakan faktor penting dalam kecocokan lingkungan bagi kehidupan. Jika es tenggelam, maka pada akhirnya semua kolam, danau, dan bahkan samudera akan membeku, sehingga kehidupan di Bumi pun akan menjadi mustahil.

Zat Hidrofilik dan Zat Hidrofobik Zat apa pun yang memiliki afinitas terhadap air disebut hidrofilik (hydrofhilic, dari kata Yunani hydro, air, dan philios, mencintai). Contoh zat hidrofilik yang tidak larut adalah katun, sejenis produk tumbuhan. Katun terdiri atas molekul-molekul raksasa selulosa, senyawa dengan banyak wilayah bermuatan positif parsial dan negatif parsial yang dapat membentuk ikatan hidrogen dengan air. Air beradhesi dengan serat selulosa. Dengan demikian, handuk katun bagus sekali untuk mengeringkan tubuh, namn tidak larut untuk dicuci. Tentu ada zat-zat yang tidak memiliki afinitas dengan air (zat-zat non-ionik dan nonpolar (atau karena suatu alasan tidak dapat membentuk ikatan hidrogen) sebenarnya tampak menolak air), zat-zat ini disebut hidrofobik (hydrophobic dari kata Yunani phobos takut). Salah

satu contohnya adalah miyak sayur. Dimana minyak sayur tidak bercampur secra stabil dengan zat berbasis air seperti cuka.

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

2. Saran

Daftar Pustaka Arsyad,sitanala.2006.(http://www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf_thesis/unud-330-401738002bab%20ii.pdf) diakses tanggal 28 September 2013 Campbell, Neil A. & Reece, Jane B., 2008, Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1, Erlangga, Jakarta. Nelson, David L. & Michael M. Cox, 1982, Lehninger Principles of Biochemistry fourth edition, University of Wincoustin-Madison Winarno, F. G. 1991. Kimia pangan dan Gizi Gramadia, Jakarta.