Anda di halaman 1dari 85

KANDUNGAN LOGAM BERAT Hg, Pb DAN Cr PADA AIR, SEDIMEN DAN KERANG HIJAU ( Perna viridis L.

) DI PERAIRAN KAMAL MUARA, TELUK JAKARTA

DANDY APRIADI

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI

Dengan ini saya menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul KANDUNGAN LOGAM BERAT Hg, Pb DAN Cr PADA AIR, SEDIMEN DAN KERANG HIJAU (Perna viridis L.) DI PERAIRAN KAMAL MUARA, TELUK JAKARTA Adalah benar merupakan hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan oleh penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Skripsi ini

Bogor, Desember 2005

DANDY APRIADI C02400070

ABSTRAK
DANDY APRIADI. Kandungan Logam Berat Hg, Pb dan Cr Pada Air, Sedimen dan Kerang hijau (Perna viridis L.) di Perairan Muara Kamal, Teluk Jakarta. Dibimbing oleh ETTY RIANI dan HEFNI EFFENDI. Pencemaran di laut salah satunya disebabkan oleh logam berat. Logam berat merupakan bahan anorganik yang bersifat toksik dan dapat terakumulasi dalam tubuh biota air. Kerang hijau (Perna viridis L.) adalah biota yang digunakan sebagai bioindikator adanya pencemaran logam berat. Peneilitian ini dilaksanakan di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta dari bulan September hingga November 2004. peneiltian ini mengkaji kandungan logam berat Hg, Pb dan Cr dalam air, sedimen dan kerang hijau (Perna viridis L.) dan melihat peranan parameter kualitas air terhadap kandungan logam berat di dalam tubuh kerang hijau (Perna viridis L.). Pengambilan contoh air, sedimen dan kerang hijau (Perna viridis L.) dilakukan di 3 stasiun dengan selang waktu pengambilan contoh adalah selama 1 bulan. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata kualitas Perairan Kamal Muara masih berada pada kisaran normal. Kandungan logam Hg, Pb dan Cr di kolom air berfluktuatif antara 0,00004 0.056 ppm. Pada sedimen nilai rata-ratanya antara 0,019 13,15 ppm. Dan rata-rata nilai kandungan logam di dalam tubuh kerang hijau (Perna viridis L.) sebesar 0,062 47,813 ppm. Rata-rata nilai faktor konsentrasi dalam tubuh kerang hijau ( Perna viridis L.) 64,68 11270,40. logam Pb dan Cr cenderung diakumulatif tinggi dibanding dengan logam Hg oleh kerang hijau (Perna viridis L.). Hasil analisis PCA menunjukkan adanya peranan dari parameter kualitas perairan terhadap kandungan logam berat Hg, Pb dan Cr di dalam tubuh kerang hijau (Perna viridis L.). Kata kunci : Jakarta kerang hijau (Perna viridis L.), logam berat, akumulasi, Teluk

KANDUNGAN LOGAM BERAT Hg, Pb DAN Cr PADA AIR, SEDIMEN DAN KERANG HIJAU ( Perna viridis L.) DI PERAIRAN KAMAL MUARA, TELUK JAKARTA

DANDY APRIADI

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2005

SKRIPSI
Judul Skripsi : Kandungan Logam Berat Hg, Pb dan Cr pada Air, Sedimen dan Kerang hijau (Perna viridis L.) di Perairan Muara Kamal, Teluk Jakarta : Dandy Apriadi : C02400070

Nama NIM

Disetujui,

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Ir. Etty Riani. H, MS. NIP. 131 619 682

Dr. Ir. Hefni Effendi M.Phil. NIP. 131 841 731

Mengetahui, Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Dr. Ir. Kadarwan Soewardi NIP. 130 805 031

Tanggal Ujian : 9 Desember 2005

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala curahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Kandungan Logam Berat Hg, Pb dan Cr pada Air, Sedimen dan Kerang Hijau (Perna viridis L.) di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta. Penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Ibu Dr. Ir. Etty Riani, MS dan Bapak Dr. Ir. Hefni Effendi, M.Phil selaku komisi pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan, pengarahan dan perbaikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 2. Ibu Ir. Nurlisa A. Butet, M.Sc selaku pembimbing akademik yang telah banyak memberikan bimbingan, saran selama penulis menjalankan studi. 3. Bapak Ir. Agustinus Samosir M.Phil selaku dosen penguji tamu, dan Ibu Dr.Ir. Yunizar Ernawati, MS. Selaku dosen penguji dari Departemen MSP. 4. Papa, Mama , dan adik-adikku (Ary,Anggi) yang telah memberikan doa, perhatian, kasih sayang dan semangat selama dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Bang Iwan Mulyawan dan Pak Maga yang telah banyak membantu penulis selama menjalani penelitian. 6. Rekan-rekan Atheners di Rumah Kita (bram, fery, oliz, dodie, moko, rudi, zahid, dian, jimmy, heriman) atas segala saran, pendapat dan dukungan selama penelitian. All of MeSePers dan teman-teman kost selama di IPB . Penulis menyadari skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan, dan penulis berharap akan mendapat banyak masukan yang dapat digunakan untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Bogor, Desember 2005

Dandy Apriadi

DAFTAR ISI
Halaman DAFTAR TABEL .................................................................................... DAFTAR GAMBAR ................................................................................ DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ I. PENDAHULUAN ............................................................................... A. Latar Belakang .......................................................................... B. Perumusan Masalah ................................................................. C. Tujuan ....................................................................................... II. TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... A. Kerang Hijau (Perna viridis L.) .................................................. B. Logam Berat .............................................................................. 1. Air Raksa (Hg) ............................................................... 2. Timbal (Pb) .................................................................... 3. Khrom (Cr) ..................................................................... C. Pencemaran Logam Berat ........................................................ 1. Logam berat dalam perairan ......................................... 2. Logam berat dalam sedimen ......................................... 3. Logam berat dalam organisme air ................................. III. METODE PENELITIAN ................................................................... A. Tempat dan Waktu Penelitian ................................................... B. Bahan dan Alat .......................................................................... C. Prosedur Kerja .......................................................................... 1. Contoh air dan sedimen ................................................ 2. Contoh kerang hijau (Perna viridis L.) .......................... D. Analisa Data .............................................................................. 1. Deskriptif ....................................................................... 2. Faktor bioakumulasi/biokonsentrasi ............................. 3. Principal Component Analysis (PCA) ........................... IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... A. Hasil ........................................................................................... 1. Parameter fisika dan kimia ........................................... a. Suhu ...................................................................... b. Kekeruhan ............................................................ c. pH .......................................................................... d. Salinitas ................................................................ 2. Kandungan logam berat Hg, Pb dan Cr di air ............... 3. Kandungan logam berat Hg, Pb dan Cr di sedimen ..................................................................... 4. Kandungan logam berat Hg, Pb dan Cr di kerang hijau ............................................................... 5. Faktor konsentrasi ......................................................... 6. Analisis hubungan fisika-kimia dengan kandungan logam berat pada kerang hijau ( Perna viridis L.) .......... ix x xii 1 1 3 4 5 5 6 8 9 10 11 12 13 15 16 16 17 17 17 17 19 19 19 19 21 21 21 21 21 21 23 24 26 28 33 35

B. Pembahasan .............................................................................

39

V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. LAMPIRAN ............................................................................................

44 46 50

DAFTAR TABEL

Halaman 1. Logam di dalam Hidrosfer .............................................................. 2. Parameter-parameter kualitas air, sedimen dan biota air yang diamati ................................................................................... 3. Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) untuk logam Hg terhadap semua ukuran tubuh kerang hijau ............................ 4. Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) untuk logam Pb terhadap semua ukuran tubuh kerang hijau ............................ 5. Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) untuk logam Cr terhadap semua ukuran tubuh kerang hijau ............................. 6. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Hg pada kerang hijau ukuran besar .................................................... 7. Koefisien variabel l dalam fungsi linear sumbu utama logam Hg pada kerang hijau ukuran sedang ................................................. 8. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Hg pada kerang hijau ukuran kecil ...................................................... 9. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Pb pada kerang hijau ukuran besar .................................................... 10. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Pb pada kerang hijau ukuran sedang .................................................. 11. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Pb pada kerang hijau ukuran kecil ...................................................... 12. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Cr pada kerang hijau ukuran besar .................................................... 13. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Cr pada kerang hijau ukuran sedang ................................................. 14. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Cr pada kerang hijau ukuran kecil ...................................................... 13

18 35 37

38

64 65 66 67 68 69 70 71 72

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Alur perumusan masalah penelitian .............................................. 2. Kerang hijau (Perna viridis L.) ....................................................... 3. Peta lokasi pengambilan contoh air, sedimen dan kerang hijau ............................................................................. 4. Rata-rata suhu di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta ............. 5. Rata-rata kekeruhan (turbidity) di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta .................................................................................. 6. Rata-rata derajat keasaman (pH) di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta .................................................................................. 7. Rata-rata salinitas di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta ........ 8. Rata-rata kandungan logan berat Hg di kolom Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta ........................................... 9. Rata-rata kandungan logam berat Pb di kolom Perairan Muara Kamal, Teluk Jakarta ........................................... 10. Rata-rata kandungan logam berat Cr di kolom Perairan Kamal Muara Teluk Jakarta ............................................ 11. Rata-rata kandungan logam berat Hg di sedimen Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta ........................................... 12. Rata-rata kandungan logam berat Pb di sedimen Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta ........................................... 13. Rata-rata kandungan logam berat Cr di sedimen Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta ........................................... 14. Rata-rata kandungan logam berat Hg pada kerang hijau ukuran besar ( > 6 cm) ..................................... 15. Rata-rata kandungan logam berat Hg pada kerang hijau ukuran sedang ( 4 6 cm) ............................... 16. Rata-rata kandungan logam berat Hg pada kerang hijau ukuran kecil (< 4 cm) ........................................ 17. Rata-rata kandungan logam berat Pb pada kerang hijau ukuran besar ( > 6 cm) ..................................... 18. Rata-rata kandungan logam berat Pb pada kerang hijau ukuran sedang ( 4 6 cm) ............................... 19. Rata-rata kandungan logam berat Pb pada kerang hijau ukuran kecil (< 4 cm) ........................................ 20. Rata-rata kandungan logam berat Cr pada kerang hijau ukuran besar (> 6 cm) ...................................... 3 5 16 21 22 23 23 24 25 25 26 27 27 28 29 29 30 30 31 31

21. Rata-rata kandungan logam berat Cr pada kerang hijau ukuran sedang ( 4 6 cm) ............................... 22. Rata-rata kandungan logam berat Pb pada kerang hijau ukuran kecil (< 4 cm) ....................................... 23. Rata-rata faktor logam berat Hg pada kerang hijau ..................... 24. Rata-rata faktor logam berat Pb pada kerang hijau .................... 25. Rata-rata faktor logam berat Cr pada kerang hijau ...................... 26. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran besar (> 6 cm) ............................. 27. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran sedang (4 - 6 cm) ........................ 28. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran kecil (< 4 cm) ............................... 29. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran besar (> 6 cm) ............................. 30. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran sedang (4 - 6 cm) ........................ 31. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran kecil (< 4 cm) ............................... 32. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran besar (> 6 cm) ............................. 33. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran sedang (4 - 6 cm) ........................ 34. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran kecil (< 4 cm) ...............................

32 32 33 34 35 64 65 66 67 68 69 70 71 72

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1. Kandungan logam berat (Hg,Pb dan Cr) pada kerang hijau (Perna viridis L.) di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta ................ 2. Kualitas air fisika dan kimia di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta ...................................................................................... 3. Kandungan logam pada kolom air dan sedimen di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta ........................................... 4. Baku mutu air laut untuk biota laut berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 Tahun 2004 ................................. 5. Prosedur analisis logam berat pada kerang hijau (Perna viridis L.) ................................................... 6. Prosedur analisis logam berat pada air laut ...................................... 7. Prosedur analisis logam berat pada sedimen ................................... 8. Matriks korelasi dari analisa komponen utama (PCA) ...................... 9. Hasil analisis Principal Componet Analysis (PCA) ............................ 56 57 59 60 61 64

51 53 54

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Perkembangan industri yang demikian pesat dewasa ini selain

memberikan dampak yang positif juga memberikan dampak negatif. Dampak positif berupa perluasan lapangan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan hidup manusia, s edangkan dampak negatif yang muncul adalah penurunan kualitas perairan akibat buangan air limbah (pencemaran) yang melampaui ambang batas. Di suatu industri, limbah yang dihasilkan sangat bervariasi tergantung dari jenis dan ukuran industri, pengawasan pada proses industri, derajat penggunaan air, dan derajat pengolahan air limbah yang ada. Selain limbah cair, limbah Pada limbah industri padat (sampah) juga merupakan beban pencemaran yang dapat masuk ke perairan baik secara langsung maupun tak langsung. berat (Palar, 1994). Salah satu perairan laut yang kualitas perairannya sudah melewati batas ambang baku mutu kualitas perairan menurut kriteria Men LH (1988) adalah Teluk Jakarta. Sejak tahun 1972 Perairan Teluk Jakarta telah mengalami pencemaran bahan organik dan logam berat yang telah melampaui ambang batas (Kompas, 2004). Diduga penyebabnya adalah masukan (load) limbah ke dalam Perairan Teluk Jakarta yang dibawa oleh 13 sungai yang bermuara ke dalamnya. kegiatan Adapun limbah yang masuk ke dalam perairan ini berasal dari manusia yaitu kegiatan industri pengolahan (97,82 % yakni

seringkali terdapat bahan pencemar yang sangat membahayakan seperti logam

1.632.896,47 m3/tahun), domestik (2,17 % yakni 36.229,90 m3/tahun) dan limbah industri pertanian (0,01% yakni 232,25 m3/tahun) (KPPL, 1997). Namun bukan hanya limbah bahan organik saja yang dihasilkan dari kegiatan manusia tersebut, tetapi limbah bahan beracun (anorganik) seperti logam berat juga terkandung di dalamnya. Logam berat yang masuk ke dalam perairan akan mencemari laut. Selain mencemari air, logam berat juga akan mengendap di dasar perairan yang mempunyai waktu tinggal (residence time) sampai ribuan tahun dan logam berat akan terkonsentrasi ke dalam tubuh makhluk hidup dengan proses bioakumulasi

dan biomagnifikasi melalui beberapa jalan yaitu: melalui saluran pernapasan, saluran makanan dan melalui kulit (Darmono, 2001). Jenis kerang-kerangan merupakan bioindikator pencemaran yang efisien untuk menduga pencemaran lo gam berat, karena merupakan filter feeder dan mempunyai toleransi yang besar terhadap tekanan ekologis yang tinggi. Kerang hijau ( Perna viridis L.) merupakan salah satu jenis kerang-kerangan (moluska, kelas bivalvia) yang dapat bertahan hidup dan berkembang biak pada kondisi tekanan ekologis yang tinggi. Kemampuan dalam mengakumulasi logam berat di kerang hijau dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tingkat pencemaran logam berat pada lingkungan dimana kerang hijau itu hidup. Penelitian mengenai logam berat dengan kerang hijau (Perna viridis L) sebagai bioindikator telah banyak dilakukan, diantaranya adalah pendugaan tingkat akumulasi logam berat Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni pada kerang hijau berukuran kurang dari 5 cm (Akbar, 2002 ) dan pada kerang hijau berukuran lebih dari 4,7 cm (Suryanto, 2002). Selain itu, penelitian yang dilakukan adalah pendugaan logam berat pada air dan sedimen (Tresnasari, 2001). Namun penelitian baru relatif belum didapatkan padahal logam berat diakumulasi dalam tubuh mahluk hidup sehingga diperlukan informasi terbaru mengenai logam berat dalam tubuh kerang hijau. Penelitian ini dilakukan sebagai tindak lanjut dalam pendugaan kandungan logam berat pada kerang hijau dengan tiga jenis logam berat yang berbeda yaitu Hg, Pb dan Cr sehingga diharapkan dapat memberikan informasi yang baru dan melengkapi hasil penelitian-penelitian terdahulu. Selain itu, penelitian ini dilakukan untuk melihat kandungan logam logam berat di kolom perairan dan di sedimen. Penelitian ini bersifat pengamatan sesaat dan menginformasikan

kondisi yang terjadi pada saat itu. Penelitian ini diperlukan karena pengaruh atau efek yang ditimbulkan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia seperti kanker, penyakit itai-itai dan sebagainya. Seperti halnya kasus Buyat yang

menyebabkan masyarakat sekitar Pantai Buyat mengalami gangguan kesehatan yang tidak bisa dianggap enteng. Penelitian kandungan logam berat pada kerang hijau perlu dilakukan mengingat kondisi Teluk Jakarta yang telah tercemar berat oleh bahan beracun dan berbahaya seperti logam berat (Kompas, 2004).

B. Perumusan Masalah
Aktivitas manusia berupa kegiatan industri, rumah tangga, pertanian dan pertambangan menghasilkan buangan limbah yang tidak digunakan kembali yang menjadi sumber pencemar bagi lingkungan (udara, air dan tanah). Bahan pencemar dari hasil kegiatan ini berupa bahan partikulat, bahan terlarut dan gasgas. Bahan pencemar ini akan bermuara pada suatu lingkungan perairan.

Lingkungan perairan yang tercemar bahan-bahan tersebut akan mengalami penurunan kualitas air yang selanjutnya dapat mengganggu kesetimbangan ekologis yang ada termasuk kehidupan biotanya. Logam berat termasuk salah satu bahan pencemar yang dihasilkan dari kegiatan yang disebutkan di atas. Bahan ini dikategorikan ke dalam limbah bahan beracun berbahaya (B3) karena efek samping yang ditimbulkannya apabila masuk ke dalam tubuh organisme juga kepada manusia. Teluk Jakarta merupakan salah satu perairan yang telah mengalami penurunan kualitas air, yang diduga disebabkan oleh masuknya 13 sungai yang bermuara ke dalamnya, dan salah satunya adalah Sungai Kamal. Untuk lebih jelas dapat dilihat dari Gambar 1.
Aktivitas manusia

Industri

Rumah tangga

Pertanian/pertambakan

LImbah

Udara

Perairan

Tanah

Kualitas air (peningkatan kadar logam Hg,Pb dan Cr)

Biota air (kerang hijau )

Gambar 1. Alur perumusan masalah penelitian

C. Tujuan Penelitian ini bertujuan : 1. Menentukan kandungan logam berat Hg, Pb dan Cr pada air, sedimen dan kerang hijau ukuran besar, sedang dan kecil . 2. Melihat peranan parameter kualitas air terhadap kandungan logam berat di dalam tubuh kerang hijau.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerang hijau ( Perna viridis L.)

Kerang hijau (Perna viridis L.) di Indonesia mempunyai nama yang berbeda-beda di setiap daerah, seperti Kijing (Jakarta), Kedaung (Banten) dan Kemudi Kapal (Riau). Di Malaysia dikenal dengan sebutan Siput Kudu, Chay Luan/Tham chay (Singapura), Ta Hong (Philipina) dan Hoi Mong Pong (Thailand) (Kastoro, 1988). Menurut Vakily (1989) kerang hijau ( Green Mussels ) diklasifikasikan sebagai berikut : Filum : Moluska Kelas : Bivalvia Subkelas : Lamellibranchia Ordo : Anisomyria Famili : Mytilidae Genus : Perna Spesies : Perna viridis L.

www.dnr.state.sc.us Gambar 2. Kerang hijau (Perna viridis Sumber : www.dnr.state.sc.us) L.)

Kerang hijau adalah organisme yang dominan pada ekosistem litoral (wilayah pasang surut) dan sublitoral yang dangkal. Kerang hijau dapat hidup dengan subur pada perairan teluk, estuari, perairan sekitar area mangrove dan muara, dengan kondisi lingkungan yang dasar perairannya berlumpur campur

pasir, dengan cahaya dan pergerakan air yang cukup, serta kadar garam yang tidak terlalu tinggi (Setyobudiandi, 2000). Persyaratan yang baik menurut Direktorat Jenderal Perikanan (1985) untuk kehidupan kerang hijau adalah perairan bersubstrat lumpur dengan metode bagan rakit tancap, kedalaman 3 -10 m, kecepatan arus 25 cm/detik, salinitas 27 - 35 dan suhu 26 - 32 C. Berdasarkan cara memperoleh makanannya, moluska bivalvia digolongkan dalam kelompok filter feeder. Apabila makanan diperoleh dengan menyaring fitoplankton dari perairan yang ditempati, maka disebut sebagai suspension feeder. Apabila makanan atau bahan organik diambil dari substratum tempat hidupnya maka disebut sebagai deposit feeder (Setyobudiandi, 2000). Kerang hijau (Perna viridis L.) de wasa dapat menghasilkan telur lebih kurang 1,2 juta. Pemijahan ini terjadi akibat adanya rangsangan alami seperti perubahan suhu dan salinitas. Sel telur yang telah dibuahi akan berkembang dan menetas menjadi larva. Larva kerang hijau bersifat planktonik, yaitu Pada akhir stadia larva,

melayang di air dan terbawa arus selama dua minggu. Larva akan mengalami beberapa kali perubahan bentuk (metamorphosa). kerang hijau akan mengalami perubahan cara hidup dari planktonik menjadi sessil (tinggal diam dan menempel). Pada saat itu apabila larva tidak mendapatkan substrat maka akan segera mati (Departemen Pertanian, 1985). Kecepatan tumbuh kerang hijau berkisar antara 0,7-1,0 cm per bulan (Direktorat Jenderal Perikanan, 1985). Menurut Roberts (1976) kelas bivalvia telah digunakan oleh ahli ekologi dalam menganalisis pencemaran air. Hal ini karena sifatnya yang menetap dan cara makan pada umumnya filter feeder , sehingga mempunyai kemampuan mengakumulasi bahan-bahan polutan seperti logam berat. B. Karakteristik Logam Berat Logam berasal dari kerak bumi berupa bahan-bahan murni organik dan anorganik. Secara alami siklus perputaran logam adalah dari kerak bumi ke lapisan tanah, ke mahluk hidup, ke dalam air, selanjutnya mengendap dan akhirnya kembali ke kerak bumi (Darmono, 1995). Istilah logam secara fisik mengandung arti suatu unsur yang merupakan konduktor listrik yang baik dan mempunyai konduktifitas panas, mempunyai rapatan, mudah ditempa, kekerasan dan keelektropositifan yang tinggi.

Meskipun demikian beberapa unsur (boron, silikon, germanium, arsen dan tellurium) yang diketahui sebagai metaloid, mempunyai satu atau lebih sifat-sifat tersebut. Tetapi dalam memisahkan tidak cukup dengan hanya membedakan kekhasan logam dan bukan logam. Lebih jauh, bentuk alotrofik dari beberapa unsur di garis batas mungkin juga memperlihatkan sifat-sifat yang berbeda (Wittman, 1979 in Connell dan Miller, 1995). Menurut Connell dan Miller (1995), logam berat adalah suatu logam dengan berat jenis lebih besar. Logam ini mem iliki karakter seperti berkilau, lunak atau dapat ditempa, mempunyai daya hantar panas dan listrik yang tinggi dan bersifat kimiawi, yaitu sebagai dasar pembentukan reaksi dengan asam. Selain itu logam berat adalah unsur yang mempunyai densitas lebih besar dari 5 gr/cm3, mempunyai nomor atom lebih besar dari 21 dan terdapat di bagian tengah daftar periodik. Logam berat adalah istilah yang digunakan secara umum untuk kelompok logam dan metaloid dengan densitas lebih besar dari 5 g/cm3, terutama pada unsur seperti Cd, Cr, Cu, Hg, Ni, Pb dan Zn. Unsur-unsur ini biasanya erat kaitannya dengan masalah pencemaran dan toksisitas. Logam berat secara alami ditemukan pada batu-batuan dan mineral lainnya, maka dari itu logam berat secara normal merupakan unsur dari tanah, sedimen, air dan organisme hidup serta akan menyebabkan pencemaran bila konsentrasinya telah melebihi batas normal. Jadi konsentrasi relatif logam dalam media adalah hal yang paling penting (Alloway dan Ayres, 1993). Berbeda dengan logam biasa, logam berat biasanya menimbulkan efek khusus pada mahluk hidup (Palar, 1994). Logam berat dapat menjadi bahan racun yang akan meracuni tubuh mahluk hidup, tetapi beberapa jenis logam masih dibutuhkan oleh mahluk hidup, walaupun dalam jumlah yang sedikit. Daya toksisitas logam berat terhadap makhluk hidup sangat bergantung pada spesies, lokasi, umur (fase siklus hidup), daya tahan (detoksikasi) dan kemampuan individu untuk menghindarkan diri dari pengaruh polusi. Toksisitas pada spesies biota dibedakan menurut kriteria sebagai berikut : biota air, biota darat, dan biota laboratorium. Sedangkan toksisitas menurut lokasi dibagi menurut kondisi

tempat mereka hidup, yaitu daerah pencemaran berat, sedang, dan daerah nonpolusi. Umur biota juga sangat berpengaruh terhadap daya toksisitas logam, dalam hal ini yang umurnya muda lebih peka. Daya tahan makhluk hidup

terhadap toksisitas logam juga bergantung pada daya detoksikasi individu yang bersangkutan, dan faktor kesehatan sangat mempengaruhi (Palar, 1994). 1. Air raksa (Hg) Logam merkuri bernomor atom 80, berat atom 200,59, titik didih 356,9
o

C, dan massa jenis 13,6 gr/ml ( Reilly, 1991). Merkuri dalam perairan dapat

berasal dari buangan limbah industri kelistrikan dan elektronik, baterai, pabrik bahan peledak, fotografi, pelapisan cermin, pelengkap pengukur, industri bahan pengawet, pestisida, industri kimia, petrokimia, limbah kegiatan laboratorium dan pembangkit tenaga listrik yang menggunakan bahan baku bakar fosil (Suryadiputra, 1995). Merkuri terdapat dalam bentuk Hg (murni), Hg anorganik dan Hg organik (Darmono, 1995). Merkuri di alam umumnya terdapat sebagai metil merkuri yaitu bentuk senyawa organik (alkil merkuri atau metil merkuri) dengan daya racun tinggi dan sukar terurai dibandingkan zat asalnya. Bila terakumulasi metil

merkuri dalam tubuh, akan mengakibatkan keracunan yang bersifat akut maupun kronis (Darmono, 1995). Akibat dari keracunan akut antara lain adalah mual, muntah-muntah, diare, kerusakan ginjal, bahkan dapat mengakibatkan kematian. Keracunan kronis ditandai oleh peradangan mulut dan gusi, pembengkakan kelenjar ludah dan pengeluaran ludah secara berlebihan, gigi menjadi longgar dan kerusakan pada ginjal. Kadar maksimum merkuri untuk keperluan air baku air minum kurang dari 0,001 mg/l dan untuk kegiatan perikanan yang diperbolehkan kurang dari 0,002 mg/l (Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001). Merkuri yang masuk ke dalam perairan dapat masuk dan terakumulasi pada ikan-ikan dan makhluk air lainnya, termasuk ganggang dan tumbuhan air. Mekanisme masuknya merkuri ke dalam tubuh hewan air adalah melalui penyerapan pada permukaan kulit, melalui insang dan rantai makanan, sedangkan pengeluaran dari tubuh organisme perairan bisa melalui pemukaan tubuh atau insang atau melalui isi perut dan urine. Merkuri dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui tiga cara yaitu pernafasan (inhalasi), permukaan kulit dan paling banyak melalui makanan. Hal ini terjadi karena ikan-ikan yang telah terkontaminasi senyawa merkuri tersebut dikonsumsi oleh manusia sehingga merkuri terakumulasi dalam tubuh manusia. Penyerapan merkuri dalam manusia cenderung terkonsentrasi di dalam hati dan ginjal, karena di

dalam organ tersebut terdapat protein yang terdiri dari asam amino sistein (Fardiaz, 1992). Logam berat Hg berbahaya karena bersifat biomagnifikasi sehingga dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh organisme melalui rantai makanan. Organisme yang berada pada rantai yang paling tinggi ( top carnivora) memiliki kadar merkuri yang lebih tinggi dibanding organisme di bawahnya. Logam berat dalam jumlah berlebihan dapat bersifat racun. Hal ini disebabkan karena terbentuknya senyawa merkaptida antara logam berat dengan gugus SH yang terdapat dalam enzim. Akibatnya aktifitas enzim tidak berlangsung. Toksisitas merkuri terhadap organisme perairan tergantung pada jenis, kadar efek sinergisantagonis dan bentuk fisika kimianya (Hutagalung, 1989). Merkuri yang paling toksik adalah bentuk alkil merkuri yaitu metil dan etil merkuri yang paling banyak digunakan untuk mencegah timbulnya jamur. Alkil merkuri, terakumulasi dalam hati dan ginjal yang dikeluarkan melalui cairan empedu. 2. Timbal (Pb) Timbal atau timah hitam adalah sejenis logam lunak berwarna cokelat dengan nomor atom 82, berat atom 207,19, titik cair 327,5 C, titik didih 1725 C, dan berat jenis 11,4 gr/ml (Reilly, 1991). Logam ini mudah dimurnikan sehingga banyak digunakan oleh manusia pada berbagai kegiatan misalnya

pertambangan, industri dan rumah tangga. berbentuk senyawa sulfida (PbS)

Pada pertambangan timbal

Timbal (Pb) secara alami banyak ditemukan dan tersebar luas pada bebatuan dan lapisan kerak bumi.
2+ +

Di perairan logam Pb ditemukan dalam

bentuk Pb , PbOH , PbHCO3, PbSO4 dan PbCO+ (Perkins, 1977 in Rohilan, 1992). Pb 2+ di perairan bersifat stabil dan lebih mendominasi dibandingkan dengan Pb 4+ (GESAMP, 1985). Masuknya logam Pb ke dalam perairan melalui proses pengendapan yang berasal dari aktivitas di darat seperti industri, rumah tangga dan erosi, jatuhan partikel-partikel dari sisa proses pemb akaran yang mengandung tetraetil Pb, air buangan dari pertambangan bijih timah hitam dan buangan sisa industri baterai (Palar, 1994). Logam Pb bersifat toksik pada manusia dan dapat menyebabkan keracunan akut dan kronis. Keracunan akut biasanya ditandai dengan rasa terbakar pada mulut, adanya rangsangan pada sistem gastrointestinal yang

disertai dengan diare. Sedangkan gejala kronis umumnya ditandai dengan mual, anemia, sakit di sekitar mulut, dan dapat menyebabkan kelumpuhan (Darmono, 2001). Fardiaz (1 992) menambahkan bahwa daya racun dari logam ini disebabkan terjadi penghambatan proses kerja enzim oleh ion-ion Pb 2+. Penghambatan tersebut menyebabkan terganggunya pembentukan hemoglobin darah. Hal ini disebabkan adanya bentuk ikatan yang kuat (ikatan kovalen) antara ion-ion Pb 2+ dengan gugus sulphur di dalam asam-asam amino. Untuk menjaga keamanan dari keracunan logam ini, batas maksimum timbal dalam makanan laut yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan RI dan FAO adalah sebesar 2,0 ppm. Pada organisme air kadar maksimum Pb yang aman dalam air adalah sebesar 50 ppb (EPA, 1973 in Hutagalung 1984). 3. Khrom (Cr) Logam kromium bernomor atom 24, berat atom 51,996, titik cair 1875 o C, titik didih 2665o C, dan massa jenis 7,19 gr/ml (Reilly, 1991). Kromium

merupakan logam yang keras, tahan panas, elektropositif, dan merupakan penghantar panas yang baik. Di alam unsur ini tidak ada dalam bentuk logam murni. Sumber alami kromium sangat sedikit, yaitu batuan chromite (FeCr 2O 4) dan chromic oxide (Cr 2O3) (Novotny dan Olem, 1994). dan kromium hexavalent (Cr 6+). Di perairan alami kromium jarang ditemukan dan biasanya dalam bentuk kromium trivalent (Cr 3+) Sumber Cr 6+ berasal dari industri pelapisan logam dan produksi pigmen. Cr 3+ banyak terdapat dalam limbah industri pencelupan tekstil, keramik gelas, dan dari kegiatan penyamakan kulit. Organisme akuatik dapat terpapar oleh Cr melalui media itu sendiri, sedimen maupun makanan (Effendi, 2003). Toksisitas unsur Cr terhadap organisme perairan tergantung p ada bentuk kromium, bilangan oksidasinya, dan pH (Hutagalung, 1991). Penurunan pH dan kenaikan suhu dapat meningkatkan toksisistas Cr6+ terhadap organisme air. Toksisitas Cr 6+ lebih besar daripada toksisitas Cr 3+. Cr 6+ yang larut di dalam air sebagian besar diserap oleh ikan melalui insang sehingga akumulasinya paling banyak didapatkan pada insang daripada organ lainnya. Kadar kromium pada perairan tawar biasanya kurang dari 0,001 mg/l dan pada perairan laut sekitar 0,00005 mg/l. Kromium trivalen biasanya tidak ditemukan pada perairan tawar; sedangkan pada perairan laut sekitar 50% kromium merupakan kromium trivalen (McNeely et al., 1979 in Effendi, 2003). Kadar kromium yang diperkirakan aman

bagi kehidupan akuatik adalah sekitar 0,05 mg/l (Moore, 1991 in Effendi, 2003). Kadar kromium 0,1 mg/l dianggap berbahaya bagi kehidupan organisme laut (Effendi, 2003). Kadar maksimum kromium untuk keperluan air baku air minum dan kegiatan perikanan menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 adalah sebesar 0,05 mg/l. C. Pencemaran Logam Berat Menurut keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No.02/MENKLH/I/1988 yang dimaksud dengan polusi atau pencemaran air dan udara adalah masuk dan dimasukannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air/udara dan atau berubahnya tatanan ( komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas air/udara turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air/udara menjadi kurang atau tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Bahan pencemar (polutan) adalah material atau energi yang dibuang ke lingkungan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan baik abiotik maupun biotik (Quano, 1993). Berdasarkan sumber, pencemaran dapat dibagi menjadi dua kelompok (Soegiharto, 1976), yakni : a. Dari laut, misalnya tumpahan minyak baik dari sumbernya langsung maupun hasil pembuangan kegiatan pertambangan di laut, sampah dan air ballast dari kapal tanker. b. Kegiatan darat melalui udara dan terbawa oleh arus sungai yang akhirnya bermuara ke laut. Berdasarkan sifatnya pollutan dibagi menjadi zat yang mudah terurai (biodegradable). Contoh zat yang mudah terurai adalah seperti sampah organik sedangkan zat yang sukar terurai (non biodegradable) contohnya adalah minyak dan logam berat (Odum, 1971). Pencemaran logam berat terhadap lingkungan perairan terjadi karena adanya suatu proses yang erat hubungannya dengan penggunaan logam tersebut dalam kegiatan manusia, dan secara sengaja maupun tidak sengaja membuang berbagai jenis limbah beracun termasuk di dalamnya terkandung logam berat ke dalam lingkungan perairan. Sumber utama pemasukan logam berat berasal dari kegiatan pertambangan, cairan limbah rumah tangga, limbah dan buangan industri, limbah pertanian (Wittmann, 1979 in Connell dan Miller, 1995).

Menurut Bryan (1976) secara alamiah logam berat juga masuk ke dalam perairan dapat digolongkan sebagai: (1) pasokan dan daerah pantai, yang meliputi masukan dari sungai-sungai dan erosi yang disebabkan oleh gerakan gelombang dan gletser, (2) pasokan dari laut dalam, yang meliputi logam-logam yang dilepaskan gunung berapi di laut dalam dan dari partikel atau endapan oleh adanya proses kimiawi, (3) pasokan yang rnelampaui lingkungan dekat pantai yang meliputi logam yang diangkut ke dalam atmosfer sebagai partikel-partikel debu atau sebagai aerosol dan juga bahan yang dihasilkan oleh erosi gletser di daerah kutub dan diangkut oleh es-es yang mengambang. Logam berat termasuk sebagai zat pencemar karena sifatnya yang tidak dapat diuraikan secara biologis dan stabil, sehingga dapat tersebar jauh dari tempatnya semula (Dewi, 1996). Selanjutnya dikatakan bahwa ada dua hal yang menyebabkan logam berat digolongkan sebagai pencemar yang berbahaya, yaitu (1) tidak dihancurkan oleh mikroorganisme yang hidup di lingkungan dan (2) terakumulasi dalam komponen-komponen lingkungan, terutama air dengan membentuk senyawa kompleks bersama bahan organik dan anorganik secara adsorpsi dan kombinasi. 1. Logam berat dalam perairan Banyak logam berat yang bersifat toksik maupun esensial terlarut dalam air dan mencemari air tawar maupun air laut. Sumber pencemaran ini banyak berasal dari pertambangan, peleburan logam dan jenis industri lainnya, dan juga dapat berasal dari lahan pertanian yang menggunakan pupuk atau anti hama yang mengandung logam (Darmono, 2001). Pencemaran logam berat dapat

merusak lingkungan perairan dalam hal stabilitas, keanekaragaman dan kedewasaan ekosistem. Dari aspek ekologis, kerusakan ekosistem perairan akibat pencemaran logam berat dapat ditentukan oleh faktor kadar dan kesinambungan zat pencemar yang masuk dalam perairan, sifat toksisitas dan bioakumulasi. Pencemaran logam berat dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur komunitas perairan, jaringan makanan, tingkah laku, efek fisiologi, genetik dan resistensi ( Moriarty, 1987 in Racmansyah et al., 1998). Logam-logam berat yang terlarut dalam badan perairan pada konsentrasi tertentu akan berubah fungsi menjadi sumber racun bagi kehidupan perairan. Meskipun daya racun yang ditimbulkan oleh satu logam berat terhadap semua biota perairan tidak sama, namun hilangnya sekelompok organisme tertentu

dapat menjadikan terputusnya satu mata rantai kehidupan. Pada tingkat lanjutan, keadaan tersebut tentu saja dapat menghancurkan satu tatanan ekosistem perairan ( Palar, 1994). Secara alamiah, unsur logam berat terdapat di seluruh alam, namun dalam kadar yang sangat rendah (Hutagalung,1984). Kadar logam dapat meningkat bila limbah perkotaan, pertambangan, pertanian dan perindustrian yang banyak mengandung logam berat masuk ke dalam perairan alami melalui saluran pembuangan. Logam berat yang sangat beracun ini tahan lama dan sangat banyak terdapat di lingkungan. Logam berat tersebut adalah raksa (Hg), timah hitam (Pb), Arsen (As), Kadmium (Cd), kromium (Cr) dan Nikel (Ni). Tabel 1. Logam di dalam Hidrosfer Logam Hg Pb Cr As Cd Ni Air Tawar ( g/l) 0,001 3,5 0,02 27 0,1 6 0,001 3,5 0,01 3 0,03 - 10 Air laut (g/l) 0,03 2,7 0,13 13 0,2 50 0,03 2,7 0,01 4 4 10

Sumber : Bowen, 1979 in Alloway dan Ayres, 1993 2. Logam berat dalam sedimen Sedimen berasal dari kerak bumi yang diangkut melalui proses hidrologi dari suatu tempat ke tempat lain, baik secara vertikal ataupun horizontal (Friedman dan Sanders, 1978). Sedimen terdiri dari beberapa komponen dan

banyak sedimen merupakan pencampuran dari komponen-komponen tersebut. Komponen tersebut bervariasi, tergantung dari lokasi, kedalaman dan geologi dasar (Forstner dan Wittman, 1983). Sedimen terdiri dari bahan organik dan bahan anorganik yang berpengaruh negatif terhadap kualitas air. Bahan organik berasal dari biota atau tumbuhan yang membusuk lalu tenggelam ke dasar dan bercampur dengan lumpur. Bahan anorganik umumnya berasal dari pelapukan batuan. Sedimen hasil pelapukan batuan terbagi atas : kerikil, pasir, Lumpur dan liat. Butiran kasar banyak dijumpai dekat pantai, sedangkan butiran halus banyak di perairan dalam atau perairan yang relatif tenang.

Hutabarat dan Evans (1985), telah membagi sedimen berdasarkan ukuran diameter butiran, yaitu batuan (boulders) , kerikil ( (gravel), pasir sangat kasar (very coarse sand) , pasir kasar (coarse sand), pasir halus (fine sand), pasir sangat halus (very fine sand), pasir (medium sand) , lumpur (silt), liat (clay) dan bahan terlarut (dissolved material). Bahan partikel yang tidak terlarut seperti pasir, lumpur, tanah dan bahan kimia anorganik dan organik menjadi bahan yang tersuspensi di dalam air, sehingga bahan tersebut menjadi penyebab pencemaran tertinggi dalam air. Keberadaan sedimen pada badan air mengakibatkan peningkatan kekeruhan perairan yang selanjutnya menghambat penetrasi cahaya yang dapat menghambat daya lihat (visibilitas) organisme air, sehingga mengurangi kemampuan ikan dan organisme air lainnya untuk memperoleh makanan, pakan ikan menjadi tertutup oleh lumpur. Kekeruhan yang tinggi dapat mengakibatkan terganggunya kerja organ pernapasan seperti insang pada organisme air dan akan mengakumulasi bahan beracun seperti pestisida dan senyawa logam. Pada sedimen terdapat hubungan antara ukuran partikel sedimen dengan kandungan bahan organik. Pada sedimen yang halus, presentase bahan organik lebih tinggi dari pada sedimen yang kasar. Hal ini berhubungan dengan kondisi lingkungan yang tenang, sehingga memungkinkan pengendapan sedimen lumpur yang diikuti oleh akumulasi bahan organik ke dasar perairan. Sedangkan pada sedimen yang kasar, kandungan bahan organiknya lebih rendah karena partikel yang lebih halus tidak mengendap. Demikian pula dengan bahan pencemar, kandungan bahan pencemar yang tinggi biasanya terdapat pada partikel sedimen yang halus. Hal ini diakibatkan adanya daya tarik elektrokimia antara partikel sedimen dengan partikel mineral (Boehm, 1987). 3. Logam berat dalam organisme air Organisme air sangat dipengaruhi oleh keberadaan logam berat di dalam air, terutama pada konsentrasi yang melebihi batas normal. Organisme air Akumulasi

mengambil logam berat dari badan air atau sedimen dan memekatkannya ke dalam tubuh hingga 100-1000 kali lebih besar dari lingkungan.

melalui proses ini disebut bioakumulasi. Kemampuan organisme air dalam menyerap (absorpsi) dan mengakumulasi logam berat dapat melalui beberapa cara, yaitu melalui saluran pernapasan (insang), saluran pencernaan dan difusi permukaan kulit (Mandibelli, 1976 in Hutagalung, 1991 ; Darmono, 2001).

Namun sebagian besar logam berat masuk ke dalam tubuh organisme air melalui rantai makanan dan hanya sedikit yang diambil air (Waldichuck, 1974). Akumulasi dalam tubuh organisme air dipengaruhi oleh konsentrasi bahan pencemar dalam air, kemampuan akumulasi, sifat organisme (jenis, umur dan ukuran) dan lamanya pernapasan.

III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Perairan Kamal Muara , Teluk Jakarta Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dari bulan September sampai dengan bulan Desember 2004. Kegiatan penelitian meliputi pengamatan di lapang dari bulan September sampai dengan bulan November 2004 dan analisa laboratorium dilaksanakan pada bulan Desember 2004. Kegiatan analisis contoh dilakukan di Laboratorium Proling dan Laboratorium Lingkungan Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, serta Laboratorium Terpadu, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Pengambilan contoh air, sedimen serta kerang hijau (Perna viridis L.) dlakukan di tiga stasiun Perairan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Stasiun-stasiun tersebut adalah stasiun I berada 1000 m (06 05' 12.0" S dan 106 43' 51.9" E) dari muara sungai, stasiun II berada 2000 m (06 05' 01.9" S dan 106 45' 10.2" E) dari muara sungai dan stasiun III berada pada jarak 3000 m (06 04' 26.6" S dan 105 45' 11.6" E) dari muara sungai (Gambar 3).

Gambar 3. Peta lokasi pengambilan contoh air, sedimen dan kerang hijau

B. Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah biota air berupa kerang hijau berukuran kecil (< 4 cm), sedang (4 - 6 cm) dan besar (> 6 cm) yang diambil dari setiap stasiun pengamatan, contoh air, sedimen, air destilasi, dan bahan kimia, baik untuk analisis logam berat, analisis kualitas air maupun untuk keperluan pengawetan. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian adalah botol Van Dorn , botol sampel, freezer, peralatan analisis kimia di laboratorium, pH meter, thermometer Hg, alat bedah dan AAS (Atomic Absorption Spectroscopy). C. Prosedur Kerja 1. Contoh air dan sedimen Pengambilan contoh air dilakukan dengan menggunakan perahu nelayan yang disesuaikan dengan stasiun pengamatan di lokasi budidaya kerang hijau. Contoh air diambil pada lapisan permukaan dengan menggunakan botol Van Dorn kemudian dimasukkan ke dalam botol polyetilen. Contoh air yang telah diambil dibagi dua botol yaitu botol pertama untuk analisa kekeruhan dan salinitas. Sedangkan botol kedua untuk logam berat yang ditambahkan dengan pengawet HNO 3 pekat sebanyak 10 tetes hingga pH contoh air laut berada di bawah 2. Pada setiap stasiun pengamatan, selain dilakukan pengambilan contoh air, juga dilakukan pengambilan contoh sedimen. Pengambilan sedimen dilakukan dengan menggunakan Petersen Grab , sedimen yang diambil dibagian tengah dari sisi dinding grab untuk menghindari adanya kontaminasi logam dari penggunaan Petersen Grab. Sedimen dasar diambil sebanyak 200 gr dari tiap stasiun. Kemudian sampel tersebut dimasukan ke dalam kantong plastik dan selanjutnya diukur kandungan logam berat (Hg, Pb dan Cr) dengan menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectroscopy) . 2. Contoh kerang hijau Selain dilakukan pengambilan sampel air dan sedimen, pada penelitian ini juga dilakukan pengambilan sampel biota air berupa kerang hijau. Pengambilan contoh kerang hijau dilakukan tiga kali dalam selang waktu satu bulan. Contoh kerang hijau diambil pada satu tali tempat kerang hijau di setiap stasiun dan

dimasukkan ke dalam kantong plastik untuk mencegah kontaminasi logam selama pengangkutan ke laboratorium dan dimasukkan kedalam ice box. Kerang hijau dibagi atas tiga kelompok ukuran panjang yaitu, ukuran kecil (< 4 cm), sedang (4 6 cm) dan besar (> 6 cm). Penetapan ini berdasarkan pada ukuran kerang yang dikelompokkan di pasar. Pengambilan sampel biota air ini dilakukan untuk melihat kandungan logam berat. Untuk keperluan ini dibutuhkan kerang hijau sebanyak 25 gr daging kerang yang telah dibedah dan dibungkus dengan alumunium, kemudian dimasukkan kedalam freezer pada suhu -29 C sampai siap untuk dianalisa. Pengeringan pada suhu rendah bertujuan untuk menghindari penguapan logam berat dan menjaga daging kerang hijau dari kerusakan. Analisis kandungan logam Hg, Pb dan Cr dilakukan di laboratorium dengan menggunakan AAS. Untuk lebih jelasnya parameter-parameter kualitas air, sedimen dan biota yang diamati, alat yang digunakan dan tempat dilakukan analisis pada penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Parameter-parameter kualitas air, sedimen dan biota air yang diamati. PARAMETER SATUAN Kualitas Air Fisika Air o 1. Suhu air C 2. Kekeruhan NTU 3. Salinitas Kimia Air 1. pH 2. Hg mg/l 3. Pb mg/l 4. Cr mg/l Sedimen Kimia Sedimen 1. Hg mg/l 2. Pb mg/l 3. Cr mg/l Biota Kimia Biota 1. Hg mg/l 2. Pb mg/l 2. Cr mg/l METODE ANALISIS TEMPAT ANALISIS

Pemuaian Nephelometrik Ion-ion terlarut Komparasi warna Serapan atom Serapan atom Serapan atom

Lapangan Lapangan Lapangan Lapangan Laboratorium Laboratorium Laboratorium

Serapan atom Serapan atom Serapan atom

Laborator ium Laboratorium Laboratorium

Serapan atom Serapan atom Serapan atom

Laboratorium Laboratorium Laboratorium

D. Analisis Data 1. Deskriptif Penggambaran perubahan nilai parameter fisika-kimia dan kandungan logam berat di dalam perairan, di sedimen dan di dalam tubuh kerang hijau yang diperoleh selama pengamatan berlangsung. 2. Faktor bioakumulasi/biokosentrasi Pendugaan kandungan logam berat d alam daging kerang hijau dengan kandungan logam berat di air, dilakukan dengan mencari Indeks Faktor Kosentrasi (FK) (Van Esch, 1977 in Prartono, 1985) :

Kadar logam berat daging kerang hijau (mg/l)

FK =

Kadar logam berat dalam air laut (mg/l)

3. Principal Component Analysis (PCA) Untuk melihat peranan faktor-faktor fisika dan kimia terhadap kandungan logam berat di dalam tubuh kerang hijau digunakan analisis komponen utama (PCA). Analisis komponen utama adalah suatu teknik ordinasi yang

memproyeksikan dispersi matriks data multidimensional dalam suatu bidang datar dengan cara mereduksi ruang, maka diperoleh sumbu-sumbu baru yang mempresentasikan secara optimal sebagian besar variabilitas data matriks dimensional, sehingga dapat ditemukan hubungan antara variabel dan hubungan antar objek (Legandre dan Legandre, 1983). Analisis ini membagi matrik korelasi parameter menjadi beberapa komponen, kemudian menyusun keragaman komponen yang bersangkutan dari yang terbesar pada sumbu komponen utama sehingga didapatkan distribusi spasial parameter fisika dan kimia pada stasiun atau lokasi pengamatan.

Menurut Bengen (1998) data matriks (baris = stasiun, kolom = parameter) ditransformasikan dengan rumus,

a ij = X ij X

(X ij X ) j =1
N

Keterangan

aij = elemen matriks A (setelah sdistandarisasi)


Xij = elemen matriks X (sebelum distandarisasi) X = rata rata baris i = stasiun pengamatan (1, 2 dan 3) j = nilai parametr fisika-kimia dan kandungan logam berat di di dalam tubuh kerang hijau

Prinsip Analisa Komponen Utama adalah mentransformasi parameter kuantitatif inisial yang berkorelasi dalam parameter kuantitatif baru yang disebut komponen utama (Bengen, 1998). Analisa Komponen Utama ( Principal Component

Analysis) ini menggunakan software stastistika 6.0.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Parameter fisika dan kimia a. Suhu Nilai rata-rata suhu perairan (Gambar 4) di tiap stasiun menunjukkan kisaran antara 31,33 31,67 C, dengan suhu tertinggi 32 C dan terendah 31 C. Pengukuran suhu dilakukan mengingat pentingnya parameter ini dalam mempelajari proses-proses fisika, kimia dan biologi. Pada biota atau organisme yang hidup di suatu perairan, suhu mempengaruhi proses-proses metabolisme yang terjadi dalam tubuh kerang hijau. Peningkatan suhu dapat menyebabkan penurunan daya larut oksigen terlarut dan juga akan menaikkan daya racun bahan-bahan tertentu. Suhu air terutama di lapisan permukaan ditentukan oleh pemanasan matahari yang intesitasnya berubah terhadap waktu, oleh karena itu suhu air laut akan seirama dengan perubahan intensitas penyinaran matahari.

32.50 32.00

Suhu ( C)

31.50 31.00 30.50 30.00

31.67 (St 1) 31.33 (St 2)

31.67 (St 3)

1000

2000

3000

Jarak (m)

Gambar 4. Rata-rata suhu di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta b. Kekeruhan Nilai rata-rata kekeruhan ( turbidity) pada Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta selama pengamatan berkisar antara 2,75 5,63 NTU. Nilai kekeruhan tertinggi terdapat pada stasiun 2 yaitu sebesar 5,99 NTU dan terendah pada stasiun 1 yaitu sebesar 2,2 NTU. Pada umumnya perairan laut mempunyai nilai kekeruhan yang rendah dibandingkan dengan perairan tawar (Effendi, 2003).

Kekeruhan menggambarkan sifat optis perairan dalam menyerap sinar matahari yang masuk kedalam perairan. Kekeruhan biasanya disebabkan oleh partikel tersuspensi, partikel koloid, fitoplankton.
7.00

Turbidity (NTU)

6.00 5.00 4.00 3.00 2.00 1.00 0.00 1000

5.63 (St 2)

3.45 (St 3) 2.75 (St 1)

2000

3000

Jarak (m)

Gambar 5. Rata-rata kekeruhan (turbidity) di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta c. pH Secara umum nilai derajat keasaman (pH) pada Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta di tiap stasiun selama pengamatan tidak berbeda secara signifikan. Hal ini disebabkan sifat dari air laut yang mempunyai sistem buffer atau penyangga, sehingga mampu mengendalikan sifat asam atau basa yang masuk ke dalam perairan. Kisaran nilai derajat keasaman yang diperoleh antara 7 8 . Nilai derajat keasaman (pH) ini masih berada pada kadar alamiah untuk perairan laut yaitu 7,0 8,0. Kondisi pH pada perairan dapat dijadikan sebagai indikator kualitas perairan. Batasan nilai pH telah ditentukan oleh kantor Kementerian

Negara Kependudukan dan Lingkungan hidup No. 51 Tahun 2004 yakni 6,5 8.

8.4 8.2 8 7.8 7.6 7.4 7.2 7 6.8 6.6 6.4

8 (St 1) 7.8 (St 2)

pH

7 (St 3)

1000

2000

3000

Jarak (m)

Gambar 6. Rata-rata derajat keasaman (pH) di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta d. Salinitas Rata-rata nilai salinitas (Gambar 7 ) pada Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta selama pengamatan adalah 33 35 . Nilai salinitas tertinggi terdapat pada stasiun 2 dan 3 yang letaknya 3000 m dan 4000 m dari muara yakni 35 . Sedangkan nilai salinitas terendah selama pengamatan adalah 33 . Dilihat dari nilai salinitasnya selama pengamatan Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta masih berada pada kisaran normal salinitas untuk air laut yaitu 30 35 . N ilai salinitas di perairan tersebut masih baik untuk perkembangan biologis kerang hijau yaitu 27 35 .
35.5 35 35 (St 2) 35 (St 3)

Salinitas ( )

34.5 34 33.5 33 32.5 32 1000 2000 3000 33 (St 1)

Jarak (m)

Gambar 7. Rata-rata salinitas di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta

3. Kandungan logam berat Hg, Pb dan Cr di air Kandungan logam berat Hg, Pb dan Cr di kolom air selama pengamatan dapat di lihat pada Gambar 8 hingga Gambar 10

Konsentrasi logam Hg (mg/l)

0.0002

0.00015 0.0001 0.00005 0 1000

0.000133 (S t 2) 0.000093 (St 3)

0.00009 (St 1)

2000

3000

Jarak (m)

Gambar 8. Rata-rata kandungan logan berat Hg di kolom Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta

Selama pengamatan kandungan logam berat Hg di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta mempunyai berkisar antara 0,00004 0,00021 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat Hg di stasiun 1 sebesar 0,00009 mg/l, di stasiun 2 sebesar 0,000133 mg/l dan di stasiun 3 sebesar 0,000093 mg/l. Pada Gambar 8 terlihat adan ya peningkatan rata-rata kandungan logam berat dari stasiun 1 ke stasiun 2, kemudian mengalami penurunan di stasiun 3. Jika dibandingkan dengan baku mutu yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004 nilai ambang batas untuk logam berat Hg di perairan, khususnya untuk biota adalah 0,001 mg/l, maka kandungan logam berat Hg di Perairan Kamal Muara masih di bawah ambang batas.

Konsentrasi logam Pb (mg/l)

0.04 0.035 (St 2) 0.03

0.02

0.01 0.006 (St 1) 0 1000 2000 Jarak (m) 3000 0.006 (St 3)

Gambar 9. Rata-rata kandungan logam ber at Pb di kolom Perairan Muara Kamal, Teluk Jakarta Pada Gambar 9 terlihat bahwa kandungan nilai logam berat Pb di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta berkisar antara 0,004 0,056 mg/l. Rata-rata

kandungan logam berat Pb di stasiun 1 sebesar 0,006 mg/l, di stasiun 2 sebesar 0,035 mg/l dan di stasiun 3 sebesar 0,006 mg/l. Dari Gambar 8 rata-rata kandungan logam Pb menunjukkan pola yang mirip dengan kandungan logam berat Hg, yakni adanya peningkatan kandungan dari stasiun 1 menuju stasiun 2, kemudian mengalami penurunan pada stasiun 3. Jika dibandingkan dengan baku mutu yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, nilai ambang batas untuk logam berat Pb di perairan, khususnya untuk biota laut adalah 0,008 mg/l. Kandungan Pb yang melampaui ambang batas yaitu pada stasiun 2 dengan nilai rata-rata 0,035 mg/l.

Konsentrasi logam Cr (mg/l)

0.024 0.018
0.015 (St 2) 0.018 (St 3)

0.012 0.006 0

0.011 (St 1)

1000

2000

3000

Jarak (m)

Gambar 10. Rata-rata kandungan logam berat Cr di kolom Perairan Kamal Muara Teluk Jakarta

Pada penelitian ini didapatkan kandungan Logam berat Cr pada kolom Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta seperti yang tercantum pada Gambar 10 berkisar nilai antara ttd 0,032 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat Cr di stasiun 1 sebesar 0,011, di stasiun 2 sebesar 0,015 mg/l dan di stasiun 3 sebesar 0,018. Berbeda dengan logam berat Hg dan Pb, logam Cr mempunyai kecenderungan yang meningkat secara rata-rata dari stasiun 1 menuju stasiun 3. Jika dibandingkan dengan baku mutu yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004, nilai ambang batas untuk logam berat Cr di perairan, khususnya untuk biota laut adalah sebesar 0,005 mg/l, kandungan logam berat C r di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta ini secara umum telah melampaui nilai ambang batas baku mutu Kementerian Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004. 3. Kandungan logam berat Hg, Pb, dan Cr di sedimen. Kandungan logam berat Hg, Pb, dan Cr di sedimen selama pengamatan dapat dilihat pada Gambar 11 hingga Gambar 13 di bawah ini.

Konsentrasi logam Hg (mg/l)

0.24 0.18

0.12 0.06

0.09 (St 1)

0.099 (St 2) 0.05 (St 3)

0 1000 2000 3000

Jarak (m)

Gambar 11. Rata-rata kandungan logam berat Hg di sedimen Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta Selama penelitian ini, kandungan logam berat Hg di sedimen pada Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta berkisar antara 0,019 0,182 mg/l. Ratarata kandungan logam berat Hg di stasiun 1 sebesar 0,09 mg/l, di stasiun 2 sebesar 0,099 mg/l dan di stasiun 3 sebesar 0,05 mg/l. Ada pola peningkatan kandungan di sedimen pada stasiun 1 menuju stasiun 2, kemudian menurun pada stasiun 3.

Konsentrasi logam Pb (mg/l)

4,000
3,342 (St 1)

3,000 2,000 1,000 0 1000 2000


Jarak (m) 1,853 (St 2) 1,539 (St 3)

3000

Gambar 12. Rata-rata kandungan logam berat Pb di sedimen Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta Kandungan logam berat Pb di sedimen Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta mempunyai kisaran 0,101 5,555 mg/l. stasiun 3 sebesar 1,539 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat Pb di stasiun 1 sebesar 3,342 mg/l, di stasiun 2 sebesar 1,853 mg/l dan di Dari data terlihat bahwa terdapat perbedaan

kecenderungan antara kandungan logam berat Pb dengan logam Pb, yaitu kecenderungan yang terus menurun dari stasiun 1 ke stasiun 3.

Konsentrasi logam Cr (mg/l)

10,000 7,500 5,000


4,155 (St 3) 7,992 (St 2) 8,129 (St 1)

2,500 0 1000 2000 Jarak (m) 3000

Gambar 13. Rata-rata kandungan logam berat Cr di sedimen Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta Kandungan logam berat Cr di sedimen Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta mempunyai kisaran 0,087 13,15 mg/l. Rata-rata kandungan logam

berat Cr di stasiun 1 sebesar 8,129 mg/l, rata rata stasiun 2 sebesar 7,992 mg/l dan rata-rata pada stasiun 3 sebesar 4,155 mg/l. Pada Gambar 12 pada pola yang mirip dengan logam berat Pb, yaitu kecenderungan untuk menurun dari stasiun 1 ke stasiun 3.

4. Kandungan logam berat Hg, Pb dan Cr pada kerang hijau (Perna viridis L.) Hasil pengamatan nilai kandungan logam berat Hg, Pb dan Cr pada kerang hijau ( Perna viridis L.) ukuran kecil, sedang dan besar selama pengamatan, yakni dari bulan September hingga November dapat dilihat pada Gambar 14 hingga Gambar 22. Kandungan logam berat Hg pada kerang hijau ukuran besar (Gambar 14) berkisar antara 0,0062 0.02 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat Hg pada stasiun 1 sebesar 0,010 mg/l, stasiun 2 sebesar 0,015 dan pada stasiun 3 sebesar 0,009 mg/l. Ada kecenderungan peningkatan kandungan logam Hg dari stasiun 1 ke stasiun 2 dan terjadi penurunan kandungan logam Hg pada stasiun 3.

Konsentrasi logam Hg (mg/l)

0.025 0.02 0.015 0.01 0.005 0 1000 2000 Jarak (m) 3000 0.010 (St 1) 0.015 (St 2) 0.009 (St 3)

Gambar 14. Rata-rata kandungan logam berat Hg pada kerang hijau ukuran besar ( > 6 cm)

Kandungan logam berat Hg pada kerang hijau ukuran sedang (Gambar 15) berkisar antara 0,0070 0,04 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat Hg pada stasiun 1 sebesar 0,020 mg/l, stasiun 2 sebesar 0,013 mg/l dan pada stasiun 3 sebesar 0,013 mg/l. Terlihat pada Gambar 15 di bawah ini ada kecenderungan penurunan kandungan logam Hg dari stasiun 1 hingga ke stasiun 3.

Konsentrasi logam Hg (mg/l)

0.04 0.035 0.03 0.025 0.02 0.015 0.01 0.005 0 1000 2000 Jarak (m) 3000

0.020 (St 1) 0.013 (St 2) 0.012 (St 3)

Gambar 15. Rata-rata kandungan logam berat Hg pada kerang hijau ukuran sedang ( 4 6 cm) Kandungan logam berat Hg pada kerang hijau ukuran kecil (Gambar 16) berkisar antara 0,0035 0,0078 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat pada stasiun 1 sebesar 0,006 mg/l, stasiun 2 sebesar 0,005 mg/l dan pada stasiun 3 sebesar 0,007 mg/l. Berbeda dengan kedua ukuran kerang di atas, pada ukuran kerang kecil terlihat adanya kecenderungan peningkatan kandungan logam berat Hg dari stasiun 1 hingga ke stasiun 3, meski penurunan pada stasiun 2 relatif lebih kecil.

Kosentrasi logam Hg (mg/l)

0.008 0.007 0.006 0.005 0.004 0.003 0.002 0.001 0

0.006 (St 1) 0.005 (St 2)

0.007 (St 3)

1000

2000 Jarak (m)

3000

Gambar 16. Rata-rata kandungan logam berat Hg pada kerang hijau ukuran kecil (< 4 cm) Kandungan logam berat Pb pada kerang hijau ukuran besar (Gambar 17) berkisar antara 40,407 47,813 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat Pb

pada stasiun 1 sebesar 45,019 mg/l, stasiun 2 sebesar 46,471 mg/l dan pada stasiun 3 sebesar 40,802 mg/l. Seperti pada logam Hg di atas, untuk kerang hijau ukuran besar pada logam Hg terlihat adanya tendensi peningkatan

kandungan logam berat Pb dari stasiun 1 hingga stasiun 2, dan selanjutnya terjadi penurunan kandungan Logam Pb yang cukup tajam pada stasiun 3.

Kosentrasi logam Pb (mg/l)

50 48 46 44 42 40 38 36 1000 2000 Jarak (m) 3000 40.802 (St 3) 45.019 (St 1) 46.471(St 2)

Gambar 17. Rata-rata kandungan logam berat Pb pada kerang hijau ukuran besar ( > 6 cm) Kandungan logam berat Pb pada kerang hijau ukuran sedang (Gambar 18) berkisar antara 33,699 36,829 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat pada stasiun 1 sebesar 34.248 mg/l, stasiun 2 sebesar 34,745 mg/l dan pada stasiun 3 sebesar 35, 688 mg/l. Berbeda dengan logam Hg di atas, untuk kerang hijau ukuran sedang pada logam Pb ini cenderung terjadi peningkatan kandungan logam berat Pb dari stasiun 1 hingga stasiun 3.

Kosentrasi logam Pb (mg/l)

38 37 36 35 34.745 (St 2) 34 33 32 1000 2000 3000 34.248 (St 1) 35.688 (St 3)

Jarak (m)

Gambar 18. Rata-rata kandungan logam berat Pb pada kerang hijau ukuran sedang ( 4 6 cm) Kandungan logam berat Pb pada kerang hijau ukuran kecil (Gambar 19) berkisar antara 12,135 13,656 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat pada stasiun 1 sebesar 12,756 mg/l, stasiun 2 sebesar 13,265 mg/l dan pada stasiun 3 sebesar 12,470 mg/l. Pada Gambar 19 di bawah ini pada kerang hijau ukuran

kecil terlihat adanya kecenderungan peningkatan kandungan logam berat Pb dari stasiun 1 hingga stasiun 2, namun terjadi penurunan kandungan logam berat Pb pada stasiun 3.

Kosentrasi logam Pb (mg/l)

14.000 13.500 13.000 12.500 12.000 11.500 11.000 1000 2000 Jarak (m) 3000 12.756 (St 1) 12.470 (St 3) 13.265 (St 2)

Gambar 19. Rata-rata kandungan logam berat Pb pada kerang kerang hijau ukuran kecil (< 4 cm) Kandungan logam berat Cr pada kerang hijau ukuran besar (Gambar 20) berkisar antara 19,039 21,195 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat Cr pada stasiun 1 sebesar 19,696 mg/l, stasiun 2 sebesar 20,710 mg/l dan pada stasiun 3 sebesar 20,998 mg/l. Berbeda dengan logam Hg dan logam Pb di atas, pada kerang hijau ukuran besar untuk kandungan logam Cr terlihat adanya cenderung terjadi peningkatan kandungan logam berat Cr dari stasiun 1 hingga ke stasiun 3.

Kosentrasi logam Cr (mg/l)

21.5 21 20.5 20 19.5 19 18.5 18 17.5

20.998 (St 3) 20.710 (St 2) 19.696 (St 1)

1000

2000 Jarak (m)

3000

Gambar 20. Rata-rata kandungan logam berat Cr pada kerang hijau ukuran besar (> 6 cm)

Kandungan logam berat Cr pada kerang hijau ukuran sedang (Gambar 21) berkisar antara 21,258 24,826 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat Cr pada stasiun 1 sebesar 22,693 mg/l, stasiun 2 sebesar 23,946 mg/l dan pada stasiun 3 sebesar 21,692 mg/l. Berbeda dengan logam Hg dan logam Pb di atas, pada kerang hijau ukuran sedang, terlihat ada kecenderungan peningkatan kandungan logam berat Cr dari stasiun 1 hingga stasiun 2, namun selanjutnya terjadi penurunan kandungan logam berat Cr pada stasiun 3.

Kosentrasi logam Cr (mg/l)

26 25 24 23 22 21 20 19 1000 2000 Jarak (m) 3000 22.693 (St 1) 21.692 (St 3) 23.946 (St 2)

Gambar 21. Rata-rata kandungan logam berat Cr pada kerang hijau ukuran sedang ( 4 6 cm) Kandungan logam berat Cr pada kerang hijau ukuran kecil (Gambar 22) berkisar antara 1,597 3,524 mg/l. Rata-rata kandungan logam berat Cr pada stasiun 1 sebesar 3,214 mg/l, stasiun 2 sebesar 3,033 mg/l dan pada stasiun 3 sebesar 1,691 mg/l. Pada Gambar 22 terlihat adanya pola penurunan kandungan logam berat Cr dari stasiun 1 hingga ke stasiun 3.

Kosentrasi logam Cr (mg/l)

4 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0

3.214 (St 1) 3.033 (St 2)

1.691 (St 3)

1000

2000 Jarak (m)

3000

Gambar 22. Rata-rata kandungan logam berat Pb pada kerang hijau ukuran kecil (< 4 cm)

5. Faktor konsentrasi Faktor konsentrasi adalah suatu ukuran nilai dari kemampuan biota atau organisme air dalam mengambil bahan pencemar langsung dari lingkungan yang ada disekitarnya, yaitu kolom air. Faktor konsentrasi logam berat pada kerang hijau menunjukkan adanya kecenderungan biota air tersebut mengakumulasi logam berat. Adapun faktor konsentrasi yang diamati dari September hingga November 2004 ditunjukkan pada Gambar 23 hingga Gambar 25. Ada tiga kategori yang dikemukakan Van Esch (1977) in Pratono (1985) untuk faktor konsentrasi yaitu, tingkat akumulasi rendah, jika faktor konsentrasi kurang dari 100. Tingkat akumulasi sedang, jika faktor konsentrasi antara 100 hingga 1000. Dan tingkat akumulasi tinggi, jika faktor konsentrasi lebih dari 1000. Rata-rata faktor konsentrasi pada logam berat Hg (Gambar 23) tertinggi pada kerang hijau yang berukuran sedang (4 6 cm), dengan kisaran nilai 133,90 288,7. Hal ini menunjukkan bahwa kerang hijau yang berukuran sedang (4 6 cm) mempunyai tingkat akumulatif yang sedang terhadap logam berat Hg. Kerang hijau yang berukuran besar (> 6cm) juga mempunyai tingkat akumulatif yang sedang terhadap logam berat Hg dengan nilai kisaran rata-rata 97,66 210,01. Untuk kerang hijau yang berukuran kecil (< 4 cm) rata-rata nilai faktor konsentrasi kurang dari 100, yaitu berkisar antara 64,68 76,09. Hal ini menunjukkan kerang hijau yang berukuran kecil (< 4 cm) mempunyai tingkat akumulatif yang rendah terhadap logam berat Hg.

Faktor konsentrasi

400 300 200 100 0 1 122.13 288.47 76.09 2 210.01 201.14 64.68 3 97.66 133.90 73.11

Besar Sedang Kecil

Stasiun pengamatan

Gambar 23. Rata-rata faktor logam berat Hg pada kerang hijau

Faktor konsentrasi logam berat Pb (Gambar 24) cenderung fluktuatif dari stasiun pengamatan 1 hingga stasiun pengamatan 3, namun menurun pada stasiun pengamatan 1 ke stasiun pengamatan 2 dan meningkat dari stasiun pengamatan 2 ke stasiun pengamatan 3. Faktor konsentrasi pada kerang hijau ukuran besar (> 6 cm), rata-rata nilainya melebihi 1000, yaitu berkisar antara 2003,22 8396,23. Artinya pada kerang hijau berukuran besar (> 6 cm) mempunyai tingkat akumulasi yang tinggi terhadap logam berat Pb. Pada kerang hijau berukuran sedang (4 6 cm) rata-rata nilainya melebihi 1000, yaitu berkisar 1483,17 6404,36. Artinya pada kerang hijau ukuran sedang (4 6 cm) Pada

mempunyai tingkat akumulatif yang tinggi terhadap logam berat Pb.

kerang hijau berukuran kecil (> 4 cm), rata-rata nilai faktor konsentrasi berkisar antara 570,96 2396,76, dan mempunyai kecenderungan tingkat akumulatif yang tinggi terhadap logam berat Pb, meskipun pada stasiun 2 nilainya kurang dari 1000, yaitu 570,96.
Faktor konsentrasi
10000 8000 6000 4000 2000 0 Besar Sedang Kecil 1 8396.23 6404.36 2396.76 2 2003.22 1483.17 570.96 3 6920.03 6089.77 2124.41

Stasiun pengamatan

Gambar 24. Rata-rata faktor logam berat Pb pada kerang hijau Faktor logam berat Cr (Gambar 25) cenderung menurun nilainya dari

stasiun pengamatan 1 hingga stasiun pengamatan 3. Faktor pada kerang hijau berukuran besar (> 6 cm), rata-rata nilainya melebihi 1000, yaitu berkisar antara 2003,22 8396,23. Artinya pada kerang hijau ukuran besar (> 6 cm) mempunyai tingkat akumulatif yang tinggi terhadap logam berat Cr. Pada kerang hijau ukuran sedang (4 6 cm) juga rata-rata nilai faktornya melebihi 1000, yaitu berkisar 7841,05 11270,40. Artinya pada kerang hijau ukuran sedang (4 6 cm) Pada

mempunyai tingkat akumulatif yang tinggi terhadap logam berat Cr.

kerang hijau ukuran kecil (< 4cm) juga mempunyai tingkat akumualtif yang

cenderung tinggi pula terhadap logam berat Cr. konsentrasinya berkisar antara 559,14 1035,06.

Adapun rata-rata faktor

Fakotr konsentrasi

12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 Besar Sedang Kecil 1 9861.53 11270.40 1506.05 2 7337.82 8428.41 1035.06 3 7552.81 7841.05 559.14

Stasiun pengamatan

Gambar 25. Rata-rata faktor logam berat Cr pada kerang hijau 6. Analisis hubungan fisika kimia dengan kandungan logam berat pada kerang hijau (Perna viridis L.) Menurut Darmono (2001) faktor-faktor lingkungan ikut mempengaruhi konsentrasi kandungan logam berat dalam tubuh kerang hijau, dalam hal ini konsentrasi kandungan logam berat pada tubuh kerang hijau tergantung pada konsentrasi kandungan logam pada kolom air, konsentrasi kandungan logam pada sedimen, konsentrasi garam, suhu dan pH air serta turbidity (kekeruhan). Untuk melihat pengaruh dari faktor-faktor tersebut digunakan Principal

Component Analysis (PCA). Tabel 3. Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) untuk logam Hg terhadap semua ukuran tubuh kerang hijau
Logam Hg Kerang Besar F1 suhu, kekeruhan, Hg di air, Hg di kerang suhu,kekeruhan , Hg di air, Hg dikerang suhu, kekeruhan, Hg di air, Hg di kerang F2 salinitas, pH, Hg di sedimen Korelasi positif kekeruhan,Hg di air, Hg di sedimen pH Korelasi negatif suhu

Kerang Sedang Kerang Kecil

salinitas, pH, Hg di sedimen salinitas, pH, Hg di sedimen

salinitas

suhu,

kekeruhan, Hg di air, Hg di sedimen

Hasil analisis komponen utama (AKU) atau Principal Component Analysis (PCA) logam Hg pada kerang hijau ukuran besar didapatkan nilai akar ciri (eigen value ) pada sumbu utama (F1) sebesar 68,42 %, sumbu kedua (F2) sebesar 31,58 %. Pada sumbu utama (F1) dicirikan oleh variabel suhu, kekeruhan, konsentrasi logam Hg di air, konsentrasi logam Hg di sedimen dan konsentrasi logam Hg di kerang hijau dan untuk sumbu kedua dicirikan oleh variabel salinitas dan pH (Lampiran 9). Pada kerang hijau ukuran besar, parameter kekeruhan, Hg di air dan Hg di sedimen memberikan peranan positif terhadap kandungan logam berat di d alam tubuh kerang hijau (Lampiran 8). Sedangkan parameter suhu memberikan peranan yang negatif terhadap kandungan logam berat di dalam tubuh kerang hijau besar. Hasil analisis PCA untuk kerang hijau berukuran sedang nilai akar ciri yang di peroleh dapat menjelaskan sumbu utama (F1) 56,27 % dan pada sumbu kedua (F2) sebesar 43,73 %. Variabel suhu, kekeruhan dan konsentrasi logam Hg di air mencirikan pada sumbu utama (F1), sedangkan pada sumbu kedua (F2) di cirikan variabel salinitas, pH, konsentrasi logam Hg di sedimen dan konsentrasi logam Hg pada kerang hijau (Lampiran 9). Dari matriks korelasi yang diperoleh menunjukkan adanya peranan negatif untuk parameter salinitas terhadap kandungan logam Hg di dalam tubuh kerang hijau ukuran sedang (Lampiran 8). Pada kerang hijau berukuran kecil hasil analisis PCA nilai akar ciri yang diperoleh pada sumbu utama (F1) sebesar 68,55 % dan untuk sumbu kedua (F2) sebesar 31,45 %. Pada sumbu utama (F1) dicirikan oleh variabel suhu, kekeruhan, konsentrasi logam Hg di air, konsentrasi logam Hg di sedimen dan konsentrasi logam Hg di kerang hijau, dan untuk sumbu kedua dicirikan oleh variabel salinitas dan pH (Lampiran 9). Berbeda dengan kedua ukuran kerang hijau di atas, dari analisis PCA matriks korelasi diperoleh dapa t terlihat adanya peranan parameter suhu yang positif terhadap kandungan logam Hg, sedangkan untuk parameter Hg di air dan kekeruhan memberikan peranan yang negatif terhadap kandungan logam di dalam tubuh kerang hijau (Lampiran 8) .

Tabel 4.
Logam Pb Kerang Besar

Hasil a nalisis Principal Component Analysis (PCA) untuk logam Pb terhadap semua ukuran tubuh kerang hijau
F1 suhu, kekeruhan, diair, Pb kerang salinitas, Pb sedimen, Pb kerang suhu, kekeruhan, di air, Pb kerang Pb di di di F2 salinitas, pH, Pb di sedimen Korelasi positif pH, Pb di air, Pb di Sedimen, kekeruhan salinitas Korelasi negatif suhu

Kerang Sedang Kerang kecil

suhu, kekeruhan, Pb di air, pH salinitas, pH, Pb di sedimen

pH, Pb di sedimen suhu

Pb di

kekeruhan, Pb di air, pH

Pada logam Pb dari hasil analisis PCA yang dilakukan untuk kerang hijau berukuran besar diperoleh nilai akar ciri (eigenvalue) sumbu utama (F1) dapat menjelaskan sebesar 55,92 %, sumbu kedua (F2) dapat menjelaskan sebesar 44,07 %. Pada sumbu utama dicirikan oleh variabel suhu, kekeruhan, konsentrasi Pb di air dan konsentrasi Pb di kerang hijau. Sumbu kedua dicirikan oleh variabel salinitas, pH dan konsentrasi Pb di sedimen (Lampiran 9). Matriks korelasi yang diperoleh terhadap kerang hijau ukuran besar memperlihatkan adanya peranan parameter pH terhadap kandungan dalam tubuh kerang hijau tersebut (Lampiran 8). Hasil analisis PCA untuk kerang hijau berukuran sedang nilai akar ciri yang diperoleh dari analisis PCA dapat menjelaskan sebesar 52,51 % pada sumbu utama (F1) dan 47,49 % pada sumbu kedua (F2). Pada sumbu utama (F1) dicirikan oleh variabel salinitas, konsentrasi Pb di sedimen dan konsentrasi Pb di kerang hijau dan untuk sumbu kedua (F2) dicirikan oleh variabel suhu, kekeruhan, pH dan konsentrasi Pb di air (Lampiran 9). Terhadap kerang hijau

ukuran sedang matriks korelasi yang didapat menunjukkan adanya peranan yang positif oleh parameter salinitas terhadap kandungan logam Pb di dalam tubuh kerang hijau tersebut. hijau (Lampiran 8). Pada kerang hijau berukuran kecil hasil analisis PCA diperoleh nilai akar ciri pada sumbu utama (F1) dapat menjelaskan sebesar 60,93 % dan pada sumbu kedua (F2) sebesar 39,07 %. Untuk sumbu utama (F1) dicirikan oleh Sedangkan untuk parameter pH dan Pb di sedimen

memberikan peranan yang negatif terhadap kandungan Pb dalam tubuh kerang

variabel suhu, kkeruhan, koinsentrasi Pb di air, konsentrasi Pb di sedimen dan konsentrasi Pb di kerang hijau dan pada sumbu kedua dicirikan oleh variabel salinitas dan pH (Lampiran 9). Pada kerang hijau ukuran kecil matriks korelasi yang diperoleh memperlihatkan adanya peranan yang positif oleh parameter kekeruhan dan Pb di air, sedangkan parameter suhu memberikan peranan yang negatif (Lampiran 8). Peranan dari parameter-parameter tersebut mempengaruhi kandungan Pb di dalam tubuh kerang hijau kecil. Tabel 5.
Logam Cr Kerang Besar

Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) untuk logam Cr terhadap semua ukuran tubuh kerang hijau
F1 salinitas, pH, di air, Cr sedimen,Cr kerang pH, Cr di a ir, di sedimen, di kerang pH, Cr di air, di sedimen, di kerang Cr di di Cr Cr Cr Cr F2 suhu, kekeruhan Korelasi positif suhu, Cr di air Korelasi negatif pH, Cr di sedimen

Kerang Sedang Kerang Kecil

suhu, salinitas,kekeruha n suhu, salinitas , kekeruhan

kekeruhan, Cr di sedimen, pH pH, Cr di Sedimen

suhu

Cr di air

Hasil analisis PCA pada logam Cr untuk kerang hijau berukuran besar nilai akar ciri yang di peroleh dapat menjelaskan sumbu utama (F1) sebesar 61,66 %, sumbu kedua (F2) dapa menjelaskan sebesar 38,34 %. Adapun variabel-variabel yang mencirikan sumbu utama (F1) antara lain salinitas, pH, konsentrasi Cr di air, konsentrasi Cr di sedimen dan konsentrasi Cr di kerang hijau. Sumbu kedua (F2) dicirikan oleh variabel suhu dan kekeruhan (Lampiran 9). Pada logam Cr, analisis matriks korelasi yang diperoleh menunjukkan

peranan yang positif oleh parameter suhu dan Cr di air terhadap kandungan Cr di dalam tubuh kerang hijau ukuran besar (Lampiran 8). Pada kerang hijau ukuran sedang nilai akar yang di peroleh dapat menjelaskan sumbu utama sebesar 58,79 %, sumbu kedua sebesar 41,20 %. Variabel yang mencirikan pada sumbu utama (F1) adalah pH, konsentrtasi Cr di air, konsentrasi Cr di sedimen dan konsentrasi Cr di kerang hijau dan pada sumbu kedua (F2) dicirikan oleh variabel suhu, salinitas dan kekeruhan (Lampiran 9). Untuk kerang hijau ukuran sedang, parameter kekeruhan dan Cr di sedimen pada matriks korelasi menunjukkan adanya peranan positif terhadap kandungan Cr di dalam tubuh kerang h ijau ukuran sedang. Sebaliknya untuk

parameter suhu memberikan peranan yang negatif terhadap kandungan Cr di dalam tubuh kerang hijau ukuran sedang (Lampiran 8). Hasil analisis PCA. untuk kerang hijau berukuran kecil nilai akar ciri yang diperoleh dapat menjelaskan sumbu utama (F1) sebesar 63,46 % dan pada sumbu kedua sebesar 39,07 %. Variabel pH, konsentrasi Cr di air, konsentrasi Cr di sedimen dan konsentrasi Cr di kerang hijau terdapat pada sumbu utama (F1) dan variabel suhu, salinitas dan kekeruhan pada sumbu kedua (F2). Pada kerang hijau ukuran kecil, peranan positif ditunjukkan oleh parameter pH dan Cr di sedimen terhadap kandungan Cr di dalam tubuhnya dan peranan negatif ditunjukkan oleh logam Cr di air (Lampiran 8). B. Pembahasan Pada pengamatan parameter fisika dan kimia yaitu, suhu, kekeruhan, pH dan salinitas secara keseluruhan masih menunjukkan kondisi yang

memungkinkan untuk kerang hijau melakukan proses-proses biologis dalam hidupnya, baik untuk pertumbuhan maupun untuk kebutuhan reproduksi. Suhu air selama pengamatan masih menunjukkan kisaran yang normal bagi perkembangan kerang hijau. Hal ini sesuai dengan persyaratan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan (1985) yang mengatakan bahwa untuk keperluan budidaya kerang hijau disarankan agar suhu perairan ada dalam kisaran 26 32 C. Kisaran salinitas pada Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta juga sesuai dengan persyaratan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Perikanan (1985) yaitu dalam kisaran 27 35 . Salinitas m erupakan faktor yang penting bagi kerang hijau untuk melakukan adaptasi terhadap kondisi perairan, karena salinitas berhubungan langsung dengan proses osmoregulasi yang dilakukan biota yang ada di dalamnya, termasuk kerang hijau. Logam berat yang masuk ke dalam suatu perairan, baik di sungai ataupun dilaut, akan dipindahkan dari badan air melalui tiga proses, yaitu pengendapan, adsorbsi dan absorpsi oleh organisme p erairan (Bryan 1976). Logam -logam dalam lingkungan perairan umumnya berada dalam bentuk ion-ion seperti ion ion bebas, pasangan ion organik, ion-ion kompleks dan bentuk-bentuk ion lainnya (Palar, 1994). Kondisi kandungan logam berat (Hg, Pb dan Cr) di kolom perairan selama pengamatan dari bulan September hingga November nilainya

cenderung berfluktuatif. Hal ini diduga karena adanya pengaruh masukan dari sungai yang bermuara di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta yang membawa limbah-limbah logam berat dan bergantung pada besar kecilnya konsentrasi logam logam tersebut yang terbuang ke dalam sungai hingga mencapai Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta. Limbah logam berat ini diduga berasal dari limbah industri dan limbah rumah tangga. Jika dibandingkan dengan baku mutu untuk biota air yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004 kondisi kandungan logam berat di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta untuk logam berat Pb dan Cr telah melampaui ambang batas. Untuk logam berat Pb nilai ambang batasnya adalah 0,008 mg/l dan untuk logam berat Cr nilai ambang batasnya adalah 0,005 mg/l. Berbeda dengan kandungan logam Pb, kandungan logam berat Hg nilainya masih di bawah ambang batas yaitu 0,001 mg/l. Namun demikian konsentrasi yang rendah ini tetap harus diwaspadai karena logam -logam berat yang terlarut dalam kolom perairan pada konsentrasi tertentu dapat berubah fungsi menjadi sumber racun bagi kehidupan perairan (Palar, 1994). Meskipun daya racun yang ditimbulkan oleh satu jenis logam berat terhadap semua biota perairan tidak sama, namun kehancuran dari suatu kelompok dapat menjadikan terputusnya satu mata rantai kehidupan Kondisi nilai kandungan logam berat (Hg, Pb dan Cr) di dalam sedimen selama pengamatan, nilainya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan yang terdapat pada kolom perairan. Hal ini diduga karena adanya laju proses

pengendapan atau sedimentasi yang dialami logam berat. Dalam hal ini logam berat yang terdapat pada kolom air akan mengalami proses penggabungan dengan senyawa-senyawa lain, baik yang berupa bahan organik maupun bahan anorganik, sehingga berat jenisnya menjadi lebih besar yang akan mempengaruhi laju proses pengendapan atau sedimentasi. Hal ini menunjukkan bahwa sedimen merupakan tempat proses akumulasi logam berat di sekitar perairan laut. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Mance (1987) yang

mengatakan bahwa konsentrasi logam berat di sedimen jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan yang ada pada kolom perairan. Hal ini disebabkan logam berat yang masuk ke dalam kolom perairan akan diserap oleh partikel-partikel tersuspensi. Apabila konsentrasi logam berat lebih besar dari daya larut terendah komponen yang terbentuk antara logam dan anion yang ada di dalam air,seperti karbonat, hidroksil atau khlorida, maka logam tersebut akan

diendapkan (Lindquist et.al, 1984). Dari hasil pengamatan sedimen di lokasi penelitian jenis sedimen yang didapat berupa lumpur berpasir. Namun hingga saat ini belum ada baku mutu logam berat pada sedimen, sehingga hasil penelitian ini belum bisa dibandingkan dengan standar baku mutu. Nilai kandungan berat (Hg, Pb dan Cr) yang ada pada kerang hijau lebih tinggi dibanding pada kolom air dan sedimen. Hal ini disebabkan kerang hijau mempunyai kemampuan untuk mengakumulasi logam berat di dalam tubuhnya. Sifat hidupnya yang sessil dan filter feeder, mengakibatkan kerang hijau dapat menyerap logam berat di kolom air dan sedimen melalui proses makan memakan. Hal ini terlihat dari nilai faktor konsentrasi yang telah disebutkan di atas, dalam hal ini kerang hijau mampu menyerap logam berat di kolom air hingga ratusan kali dan bahkan untuk logam berat Pb dan Cr menunjukkan nilai hingga ribuan kali, yang artinya mempunyai tingkat akumulatif yang tinggi terhadap kedua logam tersebut. Kecenderungan kerang hijau untuk menyimpan atau mengakumulasi logam berat dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama yakni bisa berlangsung selama hidupnya. Hal ini juga dipengaruhi oleh proses fisiologis dalam tubuh kerang hijau itu sendiri. Dalam proses metabolisme tubuhnya akan mengolah atau mentransformasi setiap bahan racun (log am berat) yang masuk, sehingga akan mempengaruhi daya racun atau toksisitas bahan tersebut (logam berat). Logam berat yang telah mengalami bio-transformasi dan tidak dapat diekskresikan atau dikeluarkan oleh tubuh umumnya akan tersimpan dalam organ-organ t ertentu seperti hepatopankreas, ginjal dan gonad. Faktor ukuran kerang hijau juga dapat mempengaruhi kandungan logam berat di dalam tubuh organisme (Lampiran 2). Berdasarkan data yang didapat selama penelitian ini terlihat adanya kecenderungan peningkatan kandungan logam berat dari ukuran kecil (< 4 cm) sampai dengan ukuran besar (> 6 cm ). Hal ini disebabkan kerang hijau mempunyai kemampuan untuk menyerap logam di lingkungan perairan tempat biota tersebut hidup. Semakin besar ukuran

tubuhnya (makin tua) maka kandungan logam berat dalam tubuh juga akan semakin meningkat. Terjadinya peningkatan ini disebabkan logam berat yang masuk dalam tubuhnya akan terus diakumulasi. Pada ukuran kerang besar (> 6 cm) dan sedang (4- 6 cm) kandungan logam berat untuk logam berat Pb dan Cr sudah sedemikian tingginya dan sudah melampaui batas yang diperbolehkan

untuk dikonsumsi oleh manusia. Menurut Suwirma et. al (1981) standarisasi kandungan logam berat pada ikan dan hasil perikanan lainnya, yaitu untuk logam berat Hg 0,5 mg/l, Pb 2,0 mg/l dan Cr 0,4 mg/l. Dengan melihat standar tersebut, maka dapat dikatakan bahwa untuk logam Hg pada semua ukuran kerang hijau masih dibawah ambang batas yang diperbolehkan untuk dikonsumsi. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa tingk at toksisitas logam Hg lebih bersifat toksik dari logam lainnya dan bila terakumulasi dalam tubuh manusia dapat mengakibatkan keracunan akut maupun kronis (Darmono, 1995) Hasil analisis PCA menunjukkan adanya perbedaan peranan parameter kualitas air yang diukur dengan kandungan logam berat dalam tubuh kerang hijau. Hal ini dapat dilihat dari nilai keeratan antara parameter kualitas air

dengan kandungan logam berat dalam tubuh kerang hijau pada Lampiran 8 . Masing-masing parameter kualitas yang terukur memberikan peranan yang berbeda-beda terhadap jenis logam Hg, Pb dan Cr yang terkandung dalam tubuh kerang hijau. Hal ini diduga karena tiap jenis logam tersebut mempunyai

karakteristik yang berbeda satu sama lainnya, sehingga logam-logam tersebut akan memberikan reaksi yang berbeda terhadap peranan kualitas air tersebut, dan tentunya akan mempengaruhi kandungan logam berat di dalam tubuh kerang hijau. Darmono (2001) menyatakan bahwa pada jenis kepiting

(Paragrapsus gaimardi ) yang hidup di muara sungai , menunjukkan dengan semakin tinggi suhu air, daya toksisitas logam semakin meningkat, sebaliknya semakin rendah suhu air maka daya toksisitas logam juga menurun. Di samping itu pada kadar garam yang semakin tinggi, daya toksisitas logam semakin menurun. Pada kolom perairan yang mempunyai derajat keasaman (pH) mendekati normal (7 8) kelarutan dari bentuk persenyawaan logam ini cenderung stabil (Palar, 1994). Akumulasi logam berat dalam tubuh kerang hijau juga dipengaruhi oleh hadirnya logam lain yang terlarut dalam air (Darmono, 2001). Seperti penelitian yang telah dilaporkan oleh Ahsanullah et. al , 1981 in Darmono, 2001 bahwa udang laut Callianasa australiensis yang dipelihara dalam air yang mengandung kadmium dan seng, ternyata akumulasi kedua logam terus meningkat. Apabila seng (Zn) dicampur dengan tembaga (Cu), akumulasi logam Cu terhambat dan akumulasi Zn tetap meningkat. Sedangkan bila Cd dicampur Cu, akumulasi menjadi terhambat dan akumulasi Cd tetap meningkat. Bila ketiga logam tersebut (Cd, Cu, Zn) dicampur, ternyata akumulasi Cd dalam jaringan tetap tidak terpengaruh dan terus meningkat, sedangkan akumulasi Cu dan Zn

hampir seimbang. Palar (1994) menambahkan bahwa keberadaan logam -logam lain dalam kolom perairan dapat menyebabkan logam -logam tertentu menjadi sinergis atau sebaliknya, menjadi antagonis bila telah membentuk suatu ikatan. Disamping itu, interaksi antara logam-logam tersebut bisa juga gagal atau tidak terjadi sama sekali. Logam -logam berat yang bersifat sinergis, apabila bertemu dengan pasangannya dan membentuk suatu persenyawaan dapat berubah fungsi menjadi racun yang sangat berbahaya atau mempunyai daya racun yang berlipat ganda. Sebaliknya, untuk logam-logam berat yang bersifat antagonis, apabila terjadi persenyawaan dengan pasangannya maka daya racun yang ada pada logam tersebut akan berkurang atau semakin kecil. Ukuran kerang tubuh kerang hijau juga memperlihatkan adanya perbedaan peranan kualitas air terhadap kandungan logam berat dalam tubuh kerang hijau. Kondisi biota berkaitan dengan fase-fase kehidupan yang dilalui oleh organisme air dalam hidupnya. Pada fase-fase tertentu, dalam kehidupan suatu biota atau organisme mungkin merupakan fase yang sensitif. Sebagai contohnya adalah, fase telur. Namun demikian ada pula fase dimana biota memiliki daya tahan yang kuat dan biasanya pada fase dewasa (Palar, 1994). Nilai korelasi yang positif menunjukkan peranan parameter kualitas air yang signifikan terhadap kandungan logam berat dalam tubuh kerang hijau. Sebaliknya nilai korelasi yang negatif menunjukkan peranan yang berlawanan atau menurunkan terhadap kandungan logam berat dalam tubuh kerang hijau. Sebagai contohnya adalah, matriks korelasi antara variabel kekeruhan dengan kandungan logam kerang hijau memiliki kecenderungan peranan yang positif. Artinya setiap kenaikan nilai kekeruhan akan di perairan akan meningkatkan kandungan logam di dalam tubuh kerang hijau. Hal ini menunjukkan bahwa logam berat merupakan salah satu bagian dari komposisi kekeruhan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Secara umum parameter kualitas air seperti suhu, pH, salinitas berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk perkembangan biologis kerang hijau, kecuali untuk parameter kekeruhan pada stasiun 2 (5,63 NTU) telah melampaui ambang batas dari baku mutu yang dikeluarkan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup no 51 tahun 2004. 2. Kandungan logam berat di perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta Pb dan Cr nilainya telah melampaui ambang batas. Sedangkan logam Hg masih dibawah baku mutu. Kisaran nilai logam Hg selama pengamatan sebesar 0,00004 0,00021 mg/l. Logam Pb 0,004 0,056 mg/l, dan logam Cr ttd 0,032 mg/l. 3. Kandungan logam berat di dasar perairan (sedimen) Kamal Muara, Teluk Jakarta selama pengamatan logam Hg 0,019 0,182 mg/l. Logam Pb 0,101 - 5,555 mg/l, dan logam Cr 0,087 13,15 mg/l. 4. Kandungan logam berat di dalam tubuh kerang hijau pada berbagai ukuran nilainya bervariatif. Kandungan Hg untuk kerang ukuran besar berkisar

0,0062 0.02 mg/l, ukuran s edang 0,0070 0,04 mg/l dan ukuran kecil 0,0035 0,0078 mg/l. Kandungan Pb untuk kerang ukuran besar berkisar 40,407 47,813 mg/l, ukuran sedang 33,699 36,829 mg/l dan ukuran kecil 12,135 13,656 mg/l. Kandungan Cr untuk ukuran besar berkisar 19,039 21,195 mg/l, ukuran sedang 21,258 24,826 mg/l dan ukuran kecil 1,597 3,524 mg/l. 5. Faktor konsentrasi kerang hijau terhadap kandungan logam berat di perairan nilainya bervariasi menurut ukuran tubuh. Rata-rata faktor konsentrasi Hg pada kerang ukuran besar 97,66 210,01, ukuran sedang 133,90 288,7 dan ukuran kecil 64,68 76,09. Rata-rata faktor konsentrasi untuk logam berat Pb pada ukuran besar 2003,22 8396,23, ukuran sedang 1483,17 6404,36 dan ukuran kecil 570,96 2396,76. Rata-rata faktor konsentrasi Cr untuk kerang ukuran besar 2003,22 8396,23, ukuran sedang 7841,05 11270,40 dan ukuran kecil 559,14 1035,06. 6. Beberapa parameter kualitas air seperti kekeruhan, kandungan logam berat di kolom perairan dan kandungan logam berat di dasar perairan atau sedimen

perairan memberikan peranan yang cukup signifikan terhadap kandungan logam berat di dalam tubuh kerang hijau. B. Saran 1. Perlu dilakukan penelitian pada organ tubuh kerang hijau seperti

hepatopankreas, ginjal dan insang. 2. Adanya monitoring kualitas air khususnya logam berat di perairan Teluk Jakarta minimal dilakukan setahun sekali. 3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai interaksi antarlogam Hg, Pb dan Cr terhadap kerang hijau. 4. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai peranan parameter kualitas air terhadap kandungan logam berat di dalam tubuh kerang hijau. 5. Upaya pelarangan mengkonsumsi kerang hijau yang berasal dari Perairam Teluk Jakarta pada masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, H.S. 2002. Pendugaan tingkat akumulsi logam berat Cd, Pb, Cu, Zn dan Ni pada kerang hijau (Perna viridis L.) ukuran >5 cm di perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta. Skripsi. Progam Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pert anian Bogor. Alloway, B.J. dan D.C. Ayres. 1993. Chemical principles of environmental pollution. Chapman & Hall, London. Bengen, D.G. 1998. Sinopsis analisis stastistik multivariabel/multidimensi. Program Pasca sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Boehm, P. D. 1987. Transport and transformation process regarding hydrocarbon and metal pollution in offshore sedimenary environment in: Long term effect of shore oil and gas development. D. F. Boesch and N. N. Rabalai. Elsivier applied science. London. Bryan, G.W. 1976a. Heavy metal contamination in the sea. In R. Johnston (Ed.) Effects of pollutants on aquatic organisms. Cambridge university press, Cambridge. Connell, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan ekotoksikologi pencemaran. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Darmono. ------------. 1995. Logam dalam sistem mahluk hidup. Indonesia, Jakarta. Penerbit Universitas

2001. Lingkungan hidup dan pencemaran : Hubungan dengan toksikologi senyawa logam. Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.

Departemen Pertanian. 1985. Buku petunjuk budidaya kerang hijau (Perna viridis L) Seri ke-4. Mariculture research dan development project (ATA-192). Kerjasama antara Departemen Pertanian dan Japan International Coorporation Agency (JICA). Dewi, K. S. P. 1996. Tingkat pencemaran logam berat (Hg, Pb dan Cd) di dalam sayuran, air Minum dan rambut di Denpasar, Gianyar dan Tabanan. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (Tesis). Direktorat Jenderal Perikanan. 1985. Petunjuk teknis budidaya kerang hijau. INFIS manual seri No. 6. Jakarta. Effendi, H. 2003. Telaah kualitas air : Bagi pengelolaan sumberdaya dan lingkungan perairan. Penerbit kanisius. Yogyakarta. EPA. 1973. Water qualitiy criteria. Environmental protection agency. Ecology research series. Washington. Fardiaz, S. 1992. Polusi air dan udara. Penerbit kanisius. Yogyakarta.

Forstner, U. dan G.T.W. Wittman. 1983. Metal pollution in the aquatic environment. Springer verlag. Berlin Heidelberg, New York, Tok yo, Germany. Friedman, G.M. dan J. E. Sanders. 1978. Principles of sedimenology. John Wiley and Sons, New York. GESAMP. 1985. Review of potentially harmful substances : Cadmium, Lead and Tin. IMO/FAO/UNESCO/WMO/IAEA/UNEP/Un join group of experts. Hamidah. 1980. Pengaruh logam berat terhadap lingkungan. Pewarta Oceana. Http://www.dnr.state.sc.us/marine/sertc/images/photo/%20gallery/perna%20viridi s 2.jpg. Tanggal 5 September 2005. Hutabarat, S. dan S. Evans. Indonesia, Jakarta. 1985. Pengantar oseanografi. Universitas

Hutagalung, H.P. 1984. Logam berat dalam lingkungan Laut. Pewarta oceana IX No. 1 tahun 1984. Hutagalung, H.P. 1989. Mercury and cadmium content in green mussels, Mytilus viridis L from Onrust Waters, Jakarta Bay. Environ. Contam. Toxicol. Hutagalung, H.P. 1991. Jakarta. Pencemaran laut oleh logam berat in P3O LIPI.

Kantor Pengkajian Perkotaan dan Lingkungan Hidup. 1997. Laporan Tahunan Prokasih PEMDA DKI Jakarta. Kastoro, W. 1988. Beberapa aspek biologi kerang hijau (Perna viridis L) dari Perairan Binaria, Ancol Teluk Jakarta. Jurnal penelitian perikanan laut. No.45. Balai penelitian perikanan laut. Balai penelitian dan perkembangan pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta. Kompas, 2004. Pencemaran Teluk Jakarta lampaui www.kompas.com. Tanggal 5 September 2005. ambang batas.

Legandre, L dan P. Legandre. 1983. N umerical ecology. Elsevier Scientific Publishing Company. New York. Lindquist, O.A, K.J, Jarnelov, dan J, Rhode. 1980. Mercury in swedish environment. Global and local source. Report of the workshop held at Lerum, Sweden, November 1983, S.N.R.P.M. 1816. National Swedish environment protection guard, Solna, Sweden (Cited in Linberg 1987). Mance, G. 1987. Pollutan threat of heavy metals in aquatic environmentals. Elsevier applied science. New York.

MENKLH.

1988. Keputusan Menteri Kependudu kan dan Lingkungan Hidup Nomor : 02/MENKLH/1988, tentang pedoman penetapan baku mutu lingkungan. Sekretariat MENKLH. Jakarta.

MENLH. 2004. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor : 51/MENLH/2004 Tahun 2004, tentang penetapan baku mutu air laut dalam himpunan peraturan di bidang lingkungan hidup. Jakarta Odum, E. P. 1971. Fundamental of ecology. W.B. Sounders Co. Philadelphia. Palar, H. 1994. Pencemaran dan toksikologi logam berat. Jakarta. Rineka cipta,

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 82 tahun 2001. Tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran perairan. Prartono, T. 1985. Kandungan logam berat timbal (Pb), tembaga (Cu) dan Seng (Zn) dalam tubuh kerang hijau ( Mytilus viridis, L.) yang dibudidayakan di Pe rairan Ancol, Teluk Jakarta. Skriosi. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan IPB. Bogor. Quano. 1993. Training manual on assesment of the quality and type of land based pollution discharges into the marine and coastal environment. UNEP. Bangkok. Racmansyah, P.R, Dalfiah, Pongmasak dan T, Ahmad. 1998. Uji toksisitas logam berat terhadap benur udang windu dan nener bandeng. Jurnal Perikanan Indonesia. Reilly, C. 1991. Metal contamination food. Second edition. Elsevier science Publisher LTD. London and New York. Roberts, D. 1976. Mussel and pollution in B. L. Bayne (ed), marine mussel: their ecology and physiology. Cambridge University Press. Cambridge. Rohilan, I. 1992. Keadaan sifat fisika dan kimia perairan di Pantai Zona Industri Krakatau Steel Cilegon. Skripsi. Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor Setyobudiandi, I. 2000. Sumberdaya hayati moluska kerang Mytilidae. Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perikanan. Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Soegiharto, A. 1976. Sumber-sumber pencemaran. Seminar pencemaran laut. LON LIPI. ISOI. Jakarta. Suryadiputra, I. N.N. 1995. Pengolahan air limbah dengan metode biologi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Suryanto, D. 2002. Pendugaan laju akumulasi Pb, Cd, Cu, Zn dan Ni pada kerang hijau (Perna viridis L) ukuran > 4,7 cm di perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta. Skripsi. Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Suwirma, S., S, Surtipanti, S. Yatim. 1981. Studi Kandungan Logam Berat Hg, Pb, Cd dan Cr dalam B eberapa Janis Hasil Laut Segar. Majalah Batan. Tresnasari, S. W. 2001. Kandungan logam berat Pb dan Cd pada kerang hijau (Perna viridis L.), air dan sedimen di perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta. Skripsi. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Vakily, J.M. 1989. The biological and culture of mussels of the genus Perna. ICLARM studies and reviews No.17. Manila. Waldichuck, M. 1974. Some biological concern in heavy metals pollution. In Venberg, F. J. and W. B. Venberg (ed). Pollution and physiology of marine organism. Academic Press, Inc. New York.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Kandungan logam berat (Hg,Pb dan Cr) pada kerang hijau (Perna viridis L.) di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta.

Logam Hg satuan dalam (mg/l) Jenis Pengamatan Pengamatan I (ST1) Pengamatan I (ST2) Pengamatan I (ST3) Jenis logam Hg Hg Hg K S B 0.006114 0.013438 0.011673 0.003572 0.010157 0.017332 0.007116 0.013038 0.009714 satuan dalam (mg/l) Jenis Pengamatan Pengamatan II (ST1) Pengamatan II (ST2) Pengamatan II (ST3) Jenis logam Hg Hg Hg K 0.00712 0.007806 0.006816 S B 0.007657 0.009362 0.00826 0.007123 0.007088 0.006226 satuan dalam (mg/l) Jenis Pengamatan Pengamatan III (ST1) Pengamatan III (ST2) Pengamatan III (ST3) Logam Pb satuan dalam (mg/l) Jenis Pengamatan Pengamatan I (ST 1) Pengamatan I (ST 2) Pengamatan I (ST 3) Jenis logam Pb Pb Pb K 12.573 13.372 12.821 S 34.308 34.156 36.829 B 45.483 46.517 40.407 Jenis logam Hg Hg Hg K 0.00609 0.005 0.0059 S 0.04 0.02 0.015 B 0.01 0.02 0.01

satuan dalam (mg/l) Jenis Pengamatan Pengamatan II (ST 1) Pengamatan II (ST 2) Pengamatan II (ST 3) Jenis logam Pb Pb Pb K 13.089 12.768 12.453 S 34.282 35.461 36.537 B 44.398 47.813 40.505

satuan dalam (mg/l) Jenis Pengamatan Pengamatan III (ST1) Pengamatan III (ST2) Pengamatan III (ST3) Jenis logam Pb Pb Pb K 12.605 13.656 12.135 S 34.153 34.618 33.699 B 45.177 45.084 41.495

Logam Cr satuan dalam (mg/l) Jenis Pengamatan Pengamatan I (ST 1) Pengamatan I (ST 2) Pengamatan I (ST 3) Jenis logam Cr Cr Cr K 3.524 3.160 1.940 S 22.195 23.953 22.072 B 19.039 20.837 21.008

satuan dalam (mg/l) Jenis Pengamatan Pengamatan II (ST 1) Pengamatan II (ST 2) Pengamatan II (ST 3) Jenis logam Cr Cr Cr K 3.134 3.120 1.597 S 23.403 24.826 21.258 B 20.277 21.195 21.066

satuan dalam (mg/l) Jenis Pengamatan Pengamatan III (ST1) Pengamatan III (ST2) Pengamatan III (ST3) Jenis logam Cr Cr Cr K 2.984 2.819 1.536 S 22.480 23.057 21.746 B 19.773 20.097 20.920

Keterangan : B = kerang hijau berukuran besar (> 6 cm) S = kerang hijau berukuran sedang (4 - 6 cm) K = kerang hijau berukuran kecil (< 4 cm)

Lampiran 2. Kual itas air fisika dan kimia di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta. Parameter Fisika Suhu Satuan Stasiun 1
C

Stasiun 2 32 31 31
31.33

Stasiun 3 32 31 32
31.67

32 32 31
31.67

Rata - rata Kekeruhan

NTU

2.2 3.01 3.05


3.03

5.5 5.4 5.99


5.69

3.8 3.4 3.15


3.28

Rata - rata Salinitas

/oo

33 33 33
33

35 35 35
35

35 35 35
35

Rata - rata Kimia pH

8 8 8
8

7,5 8 8
7.83

7 7 7
7

Rata - rata

Lampiran 3. Kandungan logam pada kolom air dan sedimen di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta. Logam Hg
Parameter ST I 0.00011 0.0001 Air 0.00006 Rata-rata Std. deviasi 0.00009 2.64575E- 05 0.147 Sedimen Rata-rata Std. deviasi 0.101 0.023 0.09 0.062684395 ST II 0.00021 0.00015 0.00004 0.000133 8.62168E- 05 0.182 0.095 0.019 0.099 0.081561837 ST III 0.00012 0.00009 0.00007 0.000093 2.5166E-05 0.07 0.032 0.047 0.05 0.01913984 0,001 mg/l

satuan dalam (mg/l)


Baku Mutu (KepMen LH No, 51 Thn 2004)

Logam Pb
Parameter ST I 0.009 0.004 Air Rata-rata Std. deviasi 0.005 0.006 0.002645751 5,555 4,371 Sedimen Rata-rata Std. deviasi 0.101 3,342 2925.847939 ST II 0.012 0.036 0.056 0.035 0.022030282 2,983 2,261 0.314 1,853 1556.084882 ST III 0.005 0.006 0.007 0.006 0.001 2,029 2,011 0.578 1,539 1165.94857 0,008 mg/l Baku Mutu (KepMen LH No, 51 Thn 2004)

Logam Cr
Parameter ST I 0.032 0.0022 ttd Rata-rata Std. deviasi 0.011 0.021071782 12.79 11.51 Sedimen Rata-rat a Std. deviasi 0.087 8,129 6.993920431 ST II 0.026 0.019 ttd 0.015 0.004949747 13.15 10.73 0.096 7,992 6.944365486 ST III 0.037 0.018 ttd 0.018 0.01343503 7.26 5.12 0.085 4,155 3.68355467 Baku Mutu (KepMen LH No, 51 Thn 2004)

Air

0,005 mg/l

Lampiran 4. Baku mutu air laut untuk biota laut berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan hidup No. 51 Tahun 2004. No. Parameter 1. Suhu(c) Satuan C Baku Mutu Alami 3(c) coral : 28 30(c) mangrove : 28 - 32(c) lamun : 28 32(c) <5 7 8.5(d) alami (e) coral : 33 34(e) mangrove : s/d 34 (e) lamun : 33 34(e) 0.001 0.008 0.005

2. 1. 2.

Kekeruhan (a) KIMIA pH(d) Salinitas (e)

NTU

1. 2. 3.

Logam terlarut Raksa (Hg) Timbal (Pb) Khromium (Cr)

mg/l mg/l mg/l

Keterangan : 3. alami adalah kondisi normal suatu lingkungan, bervariasi setiap saat (siang, malam dan musim). a. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10 % kedalamam euphotic. c. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <2 C dari suhu alami. d. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan<0,2 satuan pH. e. diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <5 salinitas rata-rata musiman.

Lampiran 5. Prosedur analisis logam berat pada kerang hijau (Perna viridis L.) A. Prinsip Daging kerang hijau yang dibutuhkan untuk dapat digunakan dalam analisis AAS sebesar 5 gram. Kemudian ditimbang, dan dilakukan pengabuan kering. Sesudah penghilangan bahan-bahan organik dengan pengabuan kering, residu dilarutkan dalam asam encer. Larutan disebarkan dalam nyala api yang ada didalam alat AAS sehingga absorpsi atau emisi logam dapat dianalisa dan diukur pada panjang gelombang tertentu. B. Cara Kerja a. Larutan abu berasal dari pengabuan basah 1. Pindahkan larutan abu ke dalam labu takar. Pilih labu takar yang sesuai sehingga diperoleh konsentrasi logam yang sesuai dengan kisaran kerjanya. 2. Tepatkan smapai tanda tera dengan air, campur merata b. Abu berasal dari pengabuan kering 1. Tambahkan 5-6 ml HCl 6N ke dalam cawan/pinggan berisi abu, kemudian dengan hati-hati panaskan diatas hot plate (pemanas) dengan pemanasan rendah samapi kering. 2. Tambahkan 5 ml HCl 3N, panaskan cawan diatas pemanas sampai mulai mendidih. 3. Dinginkan dan saring melalui kertas saring, masukkan filtrat ke dalam labu takar yang sesuai. mungkin ke dalam cawan. 4. Tambahkan 10 ml HCl 3N ke dalam cawan, kemudian panaskan sampai larutan mulai mendidih. 5. Dinginkan, saring dan masukkan filtrat ke dalam labu takar. 6. Cuci cawan dengan air sedikitnya tiga kali, saring air cucian lalu masukkan ke dalam labu takar. 7. Cuci kertas saring dan masukkan air cucian ke dalam labu takar. c. Kalibrasi alat dan penetapan sampel 1. Set alat AAS sesuai dengan instruksi dalam manual alat tersebut. 2. Ukur larutan standar logam dan blanko. 3. Ukur larutan sampel. Selama penetapan sampel, periksa secara periodik apakah nilai standar tetap konstan. Usahakan padatan tertinggi sebanyak

4.

Buat kurva standar untuk masing-masing logam (nilai absorpsi/ emisi vs konsentasi logam dalam g/ml).

Sumber : (Lab. Terpadu FKH IPB, 2004)

Lampiran 6. Prosedur analisis logam berat pada air laut 1. 2. 200 ml air laut ditambahkan 2 ml 1% APDC (Ammonium Pyrolidin Dichtio Carbamat). Dinginkan, kemudian tambahkan 7 ml MIBk, di kocok dengan shaker kurang lebih 25 menit 3. Masukkan ke dalam corong pemisah, pisahkan larutan MIBK, larutan tersebut ditambahkan 5 ml NHO 3 4N kocok dalam shaker selama kurang lebih 20 menit. 4. 5. masukkan ke dalam corong pemisah, untuk memisahkan larutan asamnya, diamkan selama kurang lebih 20 menit. larutan asam ini digunakan untuk di analisis dengan AAS

Sumber : (Lab. FTDC FATETA IPB, 2004)

Lampiran 7. Prosedur analisis logam berat pada sedimen 1. 2. Di timbang 2 - 5 gr contoh sedimen Tambhakan 1ml asam sulfat (H2 SO4) dan 5 ml asam nitrat (HNO 3) pekat 3. 4. 5. 6. Destruksi pada suhu 400 - 450 C sampai semua bahan organik hilang (endapan menjadi putih, larutan jernih). Endapan putih didinginkan, kemudian larutkan dengan HCL 5N encerkan dengan aquades 50 ml larutan jernih lalu diukur dengan AAS (Atomic Absorption

Spektrophotometer) Sumber : (Lab. FTDC FATETA IPB, 2004)

Lampiran 8. Matriks korelasi dari Principal Component Analysis (PCA)


Variabel Suhu Salinitas Turbidity pH Hg di air Hg di sedimen Kerang besar Variabel Suhu Salinitas Turbidity pH Hg di air Hg di sedimen Kerang sedang Variabel Suhu Salinitas Turbidity pH Hg di air Hg di sedimen Kerang kecil Suhu 1.000000 -0.500000 -0.996373 -0.356076 -0.997570 -0.631279 -0.963875 Suhu 1.000000 -0.500000 -0.996373 -0.356076 -0.997570 -0.631279 0.395816 Salinitas -0.500000 1.000000 0.571883 -0.631226 0.559122 -0.356012 0.251269 Salinitas -0.500000 1.000000 0.571883 -0.631226 0.559122 -0.356012 -0.993205 Turbidity -0.996373 0.571883 1.000000 0.275265 0.999880 0.562991 0.937713 Turbidity -0.996373 0.571883 1.000000 0.275265 0.999880 0.562991 -0.472527 pH Hg di air -0.356076 -0.997570 -0.631226 0.559122 0.275265 0.999880 1.000000 0.290106 0.290106 1.000000 0.949507 0.575711 0.592109 0.942976 pH -0.356076 -0.631226 0.275265 1.000000 0.290106 0.949507 0.717199 Hg di air -0.997570 0.559122 0.999880 0.290106 1.000000 0.575711 -0.458835 Hg di sedimen -0.631279 -0.356012 0.562991 0.949507 0.575711 1.000000 0.815046 Hg di sedimen -0.631279 -0.356012 0.562991 0.949507 0.575711 1.000000 0.462346 Kerang besar -0.963875 0.251269 0.937713 0.592109 0.942976 0.815046 1.000000 Kerang sedang 0.395816 -0.993205 -0.472527 0.717199 -0.458835 0.462346 1.000000

Suhu 1.000000 -0.500000 -0.996373 -0.356076 -0.997570 -0.631279 0.990685

Salinitas -0.500000 1.000000 0.571883 -0.631226 0.559122 -0.356012 -0.377410

Turbidity -0.996373 0.571883 1.000000 0.275265 0.999880 0.562991 -0.975503

pH -0.356076 -0.631226 0.275265 1.000000 0.290106 0.949507 -0.480010

Hg di air -0.997570 0.559122 0.999880 0.290106 1.000000 0.575711 -0.978790

Hg di sedimen -0.631279 -0.356012 0.562991 0.949507 0.575711 1.000000 -0.731010

Kerang kecil 0.990685 -0.377410 -0 .975503 -0.480010 -0.978790 -0.731010 1.000000

Variabel Suhu Salinitas Turbidity pH Pb di air Pb di sedimen Kerang besar Variabel Suhu Salinitas Turbidity pH Pb di air Pb di sedimen Kerang sedang Variabel Suhu Salinitas Turbidity pH Pb di air Pb di sedimen Kerang k ecil

Suhu 1.00000 -0.50000 -0.99637 -0.35608 -1.00000 0.14722 -0.69808 Suhu 1.00000 -0.50000 -0.99637 -0.35608 -1.00000 0.14722 0.17584 Suhu 1.00000 -0.50000 -0.99637 -0.35608 -1.00000 0.14722 -0.93495

Salinitas -0.500000 1.000000 0.571883 -0.631226 0.500000 -0.930201 -0.271058

Turbidity -0.996373 0.571883 1.000000 0.275265 0.996373 -0.230861 0.634611

pH -0.356076 -0.6 31226 0.275265 1.000000 0.356076 0.871851 0.917662

Pb di air -1.00000 0.50000 0.99637 0.35608 1.00000 -0.14722 0.69808 Pb di air -1.00000 0.50000 0.99637 0.35608 1.00000 -0.14722 -0.17584 Pb di air -1.00000 0.50000 0.99637 0.35608 1.00000 -0.14722 0.93495

Pb di sedimen 0.147225 -0.930201 -0.230861 0.871851 -0.147225 1.000000 0.605448 Pb di sedimen 0.147225 -0.930201 -0.230861 0.871851 -0.147225 1.000000 -0.947802 Pb di sedimen 0.147225 -0.930201 -0.230861 0.871851 -0.147225 1.000000 0.213259

Kerang besar -0.698075 -0.271058 0.634611 0.917662 0.698075 0.605448 1.000000 Kerang sedang 0.175844 0.764609 -0.091435 -0.982510 -0.175844 -0.947802 1.000000 Kerang kecil -0.934952 0.160234 0.901371 0.664434 0.934952 0.213259 1.000000

Salinitas -0.500000 1.000000 0.571883 -0.631226 0.500000 -0.930201 0.764609

Turbidity -0.9 96373 0.571883 1.000000 0.275265 0.996373 -0.230861 -0.091435

pH -0.356076 -0.631226 0.275265 1.000000 0.356076 0.871851 -0.982510

Salinitas -0.500000 1.000000 0.571883 -0.631226 0.500000 -0.930201 0.160234

Turbidity -0.996373 0.571883 1.000000 0.275265 0.996373 -0.230861 0.901371

pH -0.356076 -0.631226 0.275265 1.000000 0.356076 0.871851 0.664434

Variabel Suhu Salinitas Turbidity pH Cr di air Cr di sedimen Kerang besar Variabel Suhu Salinitas Turbidity pH Cr di air Cr di sedimen Kerang sedang Variabel Suhu Salinitas Turbidity pH Cr di air Cr di sedimen Kerang kecil

Suhu -0.500000 1.000000 0.571883 -0.631226 0.876912 -0.526066 0.977474 Suhu 1.000000 -0.500000 -0.996373 -0.356076 -0.022200 -0.473473 -0.896433 Suhu 1.000000 -0.500000 -0.996373 -0.356076 -0.022200 -0.473473 -0.402868

Salinitas 1.000000 -0.500000 -0.996373 -0.356076 -0.022200 -0.473473 -0.305959 Salinitas -0.500000 1.000000 0.571883 -0.631226 0.876912 -0.526066 0.064413 Salinitas -0.500000 1.000000 0.571883 -0.631226 0.876912 -0.526066 -0.591202

Turbidity -0.996373 0.571883 1.000000 0.275265 0.107196 0.396801 0.385866 Turbidity -0.996373 0.571883 1.000000 0.275265 0.107196 0.396801 0.855468

pH -0.356076 -0.631226 0.275265 1.000000 -0.926322 0.991670 -0.780700 pH -0.356076 -0.631226 0.275265 1.000000 -0.926322 0.991670 0.733330

Cr di air -0.022200 0.876912 0.107196 -0.926322 1.000000 -0.870080 0.958602 Cr di air -0.022200 0.876912 0.107196 -0.926322 1.000000 -0.870080 -0.423168 Cr di air -0.022200 0.876912 0.107196 -0.926322 1.000000 -0.870080 -0.906089

Cr di sedimen -0.473473 -0.526066 0.396801 0.991670 -0.870080 1.000000 -0.693706 Cr di sedimen -0.473473 -0.526066 0.396801 0.991670 -0.870080 1.000000 0.814792 Cr di sedimen -0.473473 -0.526066 0.396801 0.991670 -0.870080 1.000000 0.996914

Kerangbesar -0.305959 0.977474 0.385866 -0.780700 0.958602 -0.693706 1.000000 Kerang sedang -0.896433 0.064413 0.855468 0.733330 -0.423168 0.814792 1.000000 Kerang kecil -0.402868 -0.591202 0.323521 0.998721 -0.906089 0.996914 1.000000

Turbidity pH -0.996373 -0.356076 0.571883 -0.631226 1.000000 0.275265 0.275265 1.000000 0.107196 -0.926322 0.396801 0.991670 0.323521 0.998721

Lampiran 9. Hasil analisis Principal Componet Analysis (PCA) Tabel 6. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Hg pada kerang hijau ukuran besar F1 0,980931 -0,322149 -0,960834 -0,530902 -0,965007 -0,769974 -0,997263 F2 0,194355 -0,946689 -0,277124 0,847433 -0,262225 0,638075 0,073941

Variabel Suhu Salinitas Kekeruhan pH Logam Hg di air Logam Hg di sedimen Logam Hg di kerang besar

Gambar 26. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisik -kimia dengan kerang hijau berukuran besar (> 6 cm)

Tabel 7.

Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Hg pada kerang hijau ukuran sedang F1 0,989001 -0,622594 -0,988000 -0,213944 -0,996903 -0,509623 0,527293 F2 0,147910 0,782545 -0,063212 -0,976846 -0,078646 -0,860398 -0,849684

Variabel Suhu Salinitas Kekeruhan pH Logam Hg di air Logam Hg di sedimen Logam Hg di kerang sedang

Gambar 27. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran sedang (4 - 6 cm)

Tabel 8.

Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Hg pada kerang hijau ukuran kecil F1 0,989585 -0,370129 -0,973746 -0,486881 -0,977151 -0,736344 0,999969 F2 0,143949 -0,928980 -0,227637 0,873468 -0,212544 0,676607 0,007850

Variabel Suhu Salinitas Kekeruhan pH Logam Hg di air Logam Hg di sedimen Logam Hg di kerang kecil

Gambar 28. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran kecil (< 4 cm)

Tabel 9.

Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Pb pada kerang hijau ukuran besar F1 0,987005 -0,308366 -0,956708 -0,543154 -0,978005 -0,062322 -0,832070 F2 0,208581 -0,951268 -0,291050 0,839633 -0,208581 0,998056 0,554670

Variabel Suhu Salinitas Kekeruhan pH Logam Pb di air Logam Pb di sedimen Logam Pb di kerang besar

Gambar 29. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran besar (> 6 cm)

Tabel 10. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Pb pada kerang hijau ukuran sedang Variabel Suhu Salinitas Kekeruhan pH Logam Pb di air Logam Pb di sedimen Logam Pb di kerang sedang F1 -0,527753 0,999477 0,598120 -0,605806 0,527753 -0,917840 0,743360 F2 0,849398 0,032348 -0,801407 -0,795613 -0,849398 -0,396949 0,668891

Gambar 30. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran sedang (4 6 cm)

Tabel 11. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Pb pada kerang hijau ukuran kecil Variabel Suhu Salinitas Kekeruhan pH Logam Pb di air Logam Pb di sedimen Logam Pb di kerang kecil F1 1,000000 -0,499427 -0,996316 -0,356694 -1,000000 0,146571 -0,935187 F2 0,000661 -0,866356 -0,085756 0,934221 -0,000661 0,989200 0,354155

Gambar 31. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran kecil (< 4 cm)

Tabel 12. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Cr pada kerang hijau ukuran besar Variabel Suhu Salinitas Kekeruhan pH Logam Cr di air Logam Cr di sedimen LogamCr di kerang besar F1 -0,049990 0,889938 0,134799 -0,915489 0,999613 -0,856039 0,966149 F2 0,998750 -0,456082 -0,998750 -0,402344 0,027805 -0,516912 -0,257984

Gambar 32. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran besar (> 6 cm)

Tabel 13. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Cr pada kerang hijau ukuran sedang Variabel Suhu Salinitas Kekeruhan pH Logam Cr di air Logam Cr di sedimen Logam Cr di kerang sedang F1 0,645766 0,338371 -0,578438 -0,943437 0,749020 -0,978284 -0,917263 F2 0,763544 -0,941013 -0,815727 -0,331551 -0,662547 0,207270 -0,398281

Gambar 33. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran sedang (4 - 6 cm)

Tabel 14. Koefisien variabel dalam fungsi linear sumbu utama logam Cr pada kerang hijau ukuran kecil Variabel Suhu Salinitas Kekeruhan pH Logam Cr di air Logam Cr di sedimen Logam Cr di kerang kecil F1 0,324634 0,656804 -0,242969 -0,999441 0,938399 -0,986809 -0,996472 F2 0,945840 -0,754061 -0,970034 -0,033434 -0,345552 -0,161888 -0,083925

Gambar 34. Hasil analisis PCA (F1xF2) parameter fisika-kimia dengan kerang hijau berukuran kecil (< 4 cm)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 24 April 1980 dari pasangan Djaenuddin Sardi dan Ismiati Sardi. merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Tahun 1999 penulis lulus dari SMU 13 Jakarta. Pada tahun 2000 penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan memilih program studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Selama di IPB penulis mengikuti Penulis

beberapa kegiatan kepanitian di IPB, aktif pada kegiatan keorganisasian yaitu staf anggota BEM-C, ketua Departemen Hubungan Luar HIMASPER, anggota perguruan seni bela diri Hikmatul Iman. Penulis aktif sebagai asisten limnologi (2003-2004, 2004-2005). Penulis juga ikut serta memenangkan gelar juara II bola basket putra PORIKAN bersama tim bola basket putra MSP (2001-2002). Untuk menyelesaikan studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, penulis melaksanakan penelitian yang berjudul Kandungan Logam Berat Hg, Pb dan Cr pada Air, Sedimen dan Kerang Hijau (Perna viridis L.) di Perairan Kamal Muara, Teluk Jakarta, dan dinyatakan lulus pada tanggal 9 Desember 2005